Connect with us

Cerpen

Keripik

mm

Published

on

 

Oleh: Etgar Keret[1]

Cewek pertama yang kucium bibirnya bernama Vered, yang berarti bunga dalam bahasa Hebrew. Itu ciuman yang panjang. Kalau saja bisa semauku, pasti sudah kucium selamanya, atau paling tidak sampai kami tua dan kisut dan mati, tapi Vered duluan yang menyudahi. Kami sama-sama diam sebentar, kemudian kuucapkan terima kasih. Ia bilang, “Kau mengacaukannya.” Dan setelah diam sebentar lagi, ia berkata, “’Terima kasih’mu itu loh, paham, kan? Kita berciuman, aku bukan tante-tante yang memberimu hadiah liburan.” Dan kujawab, “Jangan marah, itu cuma terima kasih.” Dan ia bilang, “Diam.” Maka aku diam. Aku tidak mau membuatnya kesal, ia cewek pertama yang menciumku. Aku hanya ingin membuatnya senang, tapi tidak tahu caranya. Ia juga diam saja, melihatku sesaat, kemudian melepas ikat pinggangku dan mulai mengoral. Tiba-tiba saja, di apartemen orangtuanya. Mereka lagi keluar. Aku tetap mengunci mulutku. Aku tidak tahu mesti bagaimana jadi aku mencoba untuk tidak banyak bereaksi.

Setelah ia mengoralku, kami begituan di sofa ruang tamu. Aku keluar, kami istirahat sejenak lalu begituan lagi. Ia tidak klimaks-klimaks, bahkan sampai yang kedua. Katanya tidak masalah ia tidak keluar, yang penting ia suka. Kemudian ia bilang ia haus, dan kubawakan segelas air dari dapur buat kami berdua. “Baru pertama ya?” ia bertanya sambil mengelus wajahku. Aku mengangguk. “Sebetulnya lumayan juga,” ujarnya, “hanya ‘terima kasih’ itu yang.. untunglah kau nggak kuusir. Tapi sebagai pemula, kau boleh juga.”

“Kata ibuku, ‘terima kasih’ satu-satunya kalimat yang nggak pernah membuat orang terluka,” ujarku.

“Kalau begitu suruh ibumu yang isap,” Vered berkata dan tersenyum, dan terlintas di pikiranku: hari ini gila juga. Ciuman pertamaku. Oral seks pertamaku. Seks pertamaku. Semua terjadi di waktu yang sama dan rasanya agak ajaib. Umurku 19 waktu itu, masih jadi tentara, jelas terlambat untuk ciuman pertama, atau malah oral seks pertama. Tapi aku merasa beruntung. Karena meskipun telat, akhirnya kejadian juga, dengan seorang cewek baik yang punya nama bunga.

Vered mengaku sudah punya pacar. Ia tidak mengatakannya sebelum kami ciuman karena ciuman hanya masalah sepele, bahkan sekalipun ia punya pacar, dan ia juga tidak bilang waktu mengoralku sebab anuku lagi di dalam mulutnya. Saat akhirnya ia berterus terang, ia berharap aku tidak tersinggung, karena aku kelihatan sedikit terlalu sensitif. Kukatakan aku terkejut, tapi tidak tersinggung sama sekali. Justru sebaliknya, mengetahui ia sudah punya pacar tapi mau main denganku malah membikin aku tersanjung. Ia tertawa dan berkata, “Omonganmu lebay. Aku punya pacar, tapi orangnya brengsek, dan kau.. sejak pertama menciummu, aku tahu kau masih perawan, dan jujur saja, perawan itu menarik.”

Ia bercerita, waktu kecil, orangtuanya sering mengirimnya ke perkemahan selama liburan, dan di sana, sehabis makan malam, para pembimbing melempar sekantung besar keripik ke udara dan semua orang berebutan mengambil. “Kau harus mengerti,” katanya sambil mengelus rambut tipis di dadaku, “keripik itu cukup buat semuanya, kami tahu itu, tapi nggak ada yang mengalahkan sensasi jadi yang pertama membuka dan memakannya.”

“Jadi sekarang aku sudah terbuka,” aku berkata sedikit tercekat, “aku sudah nggak berharga lagi?”

“Jangan lebay,” tukas Vered, “tapi anggaplah, hargamu sudah turun.” Aku bertanya padanya kapan orangtuanya pulang, dan ia jawab, paling tidak satu setengah jam lagi. Aku bertanya, apakah ia setuju untuk begituan lagi denganku, dan ia menamparku. Tidak terlalu keras, tapi sakit juga, dan ia bilang, “Jangan pakai kata ‘setuju’, pakai saja ‘ingin’, bodoh.” Selepas jeda sesaat, ia melanjutkan lagi, “Kau ini macam unta ya? Kau pikir begitu kau pulang dari sini, ada gurun pasir menantimu di luar, dan kau nggak tahu kapan menemukan air lagi.” Ia memegang burungku dan melanjutkan ucapannya, “Jangan khawatir. Nggak ada gurun apa pun. Di dunia ini semua orang bercinta dan bercinta terus. Semua. Bahkan kau.”

Setelah kami begituan lagi, ia mengantarku sampai pintu, lalu setelah membukanya, ia berkata, “Kalau kita nggak sengaja ketemu di penjual falafel[2] atau di bioskop atau di mal waktu aku bersama pacarku, jangan pura-pura nggak kenal, oke?” Kutanya, apa kita bisa ketemu lagi, dan ia membelai wajahku dan memintaku untuk tidak kecewa, ia tidak bisa karena ada Asi dan masalah lain. Dari sana aku tahu nama pacarnya Asi.

Aku tidak bermaksud menangis, tapi aku menangis, dan ia bilang, “Kau, kau pasti dari dunia lain. Aku belum pernah bertemu orang seanehmu.” Kukatakan, ini air mata bahagia, tapi ia tidak percaya. “Tidak ada gurun di luar sana,” katanya. “Lihat saja, kau akan dapat pengalaman bercinta yang hebat.”

Aku tak pernah melihatnya lagi. Tidak di bioskop. Tidak di penjual falafel. Tidak di mal. Tapi kalau ia baca tulisan ini, aku ingin berterima kasih padanya lagi. (*)

*Etgar Keret adalah penulis cerita pendek asal Israel yang dipuji sebagai jenius, serta dianggap salah satu sastrawan kontemporer terbaik saat ini. Buku-bukunya yang sudah terbit dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories, The Nimrod Flipout, Missing Kissinger, The Girl On The Fridge, Suddenly, a Knock on the Door, serta memoir Seven Good Years: A Memoir

**Tentang penerjemah: Rizaldy Yusuf lahir di Tangerang 21 Oktober 1991. Menyukai sastra, seni rupa, serta isu komunikasi, media, dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah seni di Jakarta.

[1] Diterjemahkan oleh Rizaldy Yusuf dari versi bahasa Inggris

[2] Makanan khas timur tengah yang terbuat dari gilingan kacang-kacangan yang dibentuk bola. Sering juga dianggap makanan khas Israel

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Christin, dan Senja yang Hilang

mm

Published

on

Senja selalu memungut hal-hal yang berbeda tentang orang-orang yang berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda. Senja kali ini mengisah sekaligus mencatat kisah tentang umat Tuhan di sebuah kampung. Dia, nama kampung itu. Silvano sedang duduk dengar kisah om Anselmus, Om Lazarus, om Bone, om Matius, dan om Don di sebuah Compang (Mesbah) di tengah kampung Dia. Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan…

by Melki Deni *) 

Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan dalam agama, umat kampung Dia sangat antusias terhadap kegiatan-kegiatan gereja. Entah bagaimana sampai umat kampung Dia berikan sebidang tanah untuk bangun tempat ibadat. Itu kurang terlalu penting. Sekitar tahun 1970-an mereka mendirikan kapela kecil, rumah Tuhan di dekat jalan raya dan kali besar, sumber batu dan pasir. Ekskavator dan truk belum tampak. Apalagi gerobak. Umat harus pikul batu dan pasir dari kali menuju tempat dirikan kapela kecil. Umat abaikan kesibukan di kebun masing-masing demi Tuhan dan kemudahan bagi pelayan Tuhan melayani umat Tuhan di satu tempat saja. Tak terhitung jumlah babi, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain mati karena tak terurus baik selama berminggu-minggu. Ibu-ibu dan nenek-nenek hanya mengurusi anak-anak yang terbaring lemah karena gizi buruk, penyakit kulit dan serangan dukun santet di rumah bergubuk bambu reyot.

Malam selalu tuli bisu. Terang pelita bermerah tua dan tidak meluas. Kakus belum terbayang-bayang. Jika mau buang air malam-malam, bawa obor bersumbu besar dan ditemani dua atau lebih orang. Sebab, setan-setan berkeliaran menari-nari di bawah kolong dan di sekeliling rumah. Malam-malam terdengar suara bayi-bayi setan menangis di atas atap rumah, setan tua menghantui lewat jendela, dan seringkali mencekik manusia dalam mimpi. Iya, malam memang telanjur mati rasa.

Subuh pun seringkali gagap kata. Tak jarang subuh memberitakan orang-orang kerasukan setan yang tinggal di hulu air. Sebab waktu itu semua warga di kampung Dia harus timba air, mandi, dan cuci di satu pancuran. Itulah alasan mereka membutuhkan dan mencari Tuhan di dalam agama. “Manusia sekarang memang tidak percaya akan adanya setan dan kekuatan destruktifnya. Sekarang setan hadir berupa rupa-rupa teknologi.” Lanjut om Lazarus. Memang sebelumnya mereka bertuhan dalam agama Islam. Namun entah mengapa sejak sekitar tahun 1990-an mereka beriman kepada Yesus Kristus dalam agama Katolik. Om Anselmus bertutur bahwa sebelum nenek moyang mereka beragama Islam, mereka beragama Katolik. “Pokoknya mereka selalu pindah masuk agama.” katanya. “Tapi ‘kan Tuhan tetap satu?” tanya om Bone sambil membuang asap rokok.

Dua tahun kemudian.

Senja membalikkan kisah damai yang menteramkan relasi mesrah antara Tuhan dan umat kampung Dia. Senja itu seorang anak kecil menangis di sudut tempat tidur. Namanya Chirstin. Ia tak mau makan seusai pulang sekolah, tidak belajar dan tidak bantu orangtuanya. Ibu mulai pikir yang tidak-tidak menimpa anak yang manis itu.  Sedangkan sang ayah sedang berpikir tentang anggaran dana syukuran atas Penerimaan Komuni Pertama anaknya. Biasanya bulan Oktober itu masih musim panen jambu mete. Namun kali ini jambu mete tidak berbuah banyak seperti setahun lalu. Malam terus berlarut mereka bertanya mengapa anaknya menangis sejak pulang sekolah. Dia menangis karena dengar berita pastor paroki sudah keluarkan surat sanksi pastoral terhadap umat kampung Dia bahwa tidak akan ada pelayanan pastoral, tentu termasuk Sakramen sakramentali. Padahal mereka sudah siapkan semuanya, termasuk penagakuan dosa sudah dijalankan sehari sebelumnya. Mereka tentu mau seperti umat yang sudah terima Komuni Suci, bisa masuk seminari setelah tamat SD, jadi frater, pastor, bruder, suster, dan bisa mendapat status beragama.

Apa masalahnya sampai keluarkan surat sanksi pastoral seperti itu?

Kapela dan tanah di sekitarnya!

Ada apa dengan tanah itu?

Saya dengar samar-samar saja, masalahnya kita umat kampung Dia sudah bongkar kapela dan rebut kembali tanah di sekitar kapela.”

Memangnya kamu lihat kapela sudah dibongkar?

Tidak!”

Christin ketiduran seusai ceritakan masalah itu, sedangkan orangtuanya sibuk memikirkan masalah itu. Mereka juga bingung mengapa diadakan sanksi tanpa ada permasalahan.

Tuhan kita sedang lumpuh?

Christin mengigau. Orangtaunya sadarkan dia.

Kata siapa? Kau jangan omong seperti itu! Cukup kali ini berkata begitu. Itu penistaan agama.

Kata seorang kakek di dalam mimpi tadi. Kakek itu tinggal di sebuah gua kumal yang saya tidak pernah kenal sebelumnya di dunia nyata.”

Mustahil Tuhan lumpuh, nak! Itu takkan pernah terjadi. Jika itu benar, cakrawala dan bumi lenyap serentak. Dan kita pun tentu musnah sebelum cakrwala dan bumi runtuh total.”

Itu tidak berlebihan, ma pa.”

Sekali lagi, jangan katakan itu, nak. Awas orang-orang dengar dan viralkan itu melalui media. Lalu engkau akan melanjutkan sekolahmu di dalam penjara.”

Terserah. Lebih baik tinggal di penjara daripada hidup di luar, pa. Tapi di manakah Tuhan lumpuh ketika masalah ini sedang terjadi ? Saya mau mengobati Tuhan di mana saja. Tuhan tidak adil betul.

Tuhan tidak lumpuh. Hanya pikiran, sikap iman dan penghyatan iman kita yang lumpuh, nak!” sahut ibunya.

Oh iya. Kakek itu bilang Tuhan dilumpuhkan di mimbar-mimbar, ma. Tuhan dilumpuhkan demi kepentingan-kepentingan para pengkhotbah, ma.”

Tidak nak. Tuhan menghindar saat mau dilumpuhkan.”

Terus, di mana Tuhan sekarang, ma?

Ibunya mulai menjelaskan dengan peunuh kesabaran. Mengkin saja Tuhan sedang pesiar di Roma, Israel, Jerman atau Rusia. Tidak mustahil Tuhan sedang mendengar pengakuan dosa para perampok, koruptor, penculik, pemerkosa, investor kapitalis, cendikiawan idealis dan para pengobral murah gadis-gadis di pasar-pasar. Dapat terjadi Tuhan sedang mendengar baca mazmur para nabi sekuler materialis. Boleh saja jadi Tuhan sedang menangisi para imam feodalis yang sedang meraup tanah-tanah para petani miskin lagi melarat di kampung. Atau Tuhan sedang hitung jumlah oknum-oknum mati karena bunuh diri, obesitas, keracunan, stunting, kelaparan, perubahan iklim, dan penyakitan di dunia yang bisu. Barangkali Tuhan sedang jalan-jalan ke rumah-rumah para wakil rakyat, mencatat jumlah perut yang terlampau buncit akibat menelan mentah-mentah uang pajak tanah rakyat yang tak mampu dikelola. Tidak menutup kemungkinan Tuhan sedang melawati umat yang menderita sakit, miskin papa, tersingkirkan, terbuang, pengemis, gelandangan, tawanan, dan kaum buruh kasar.

Tapi, kok selalu mungkin, ma. Tuhan tinggal dalam kemungkinan begitu, ma?

Sudahlah. Itu kurang penting. Yang terpenting, nanti kita kerja sama dengan semua umat,  tanyakan ke pihak keuskupan tentang masalah apa saja yang dapat diberikan sanksi pastoral terhadap umat. Lalu kita coba laporkan masalah ini ke pihak pemerintah, karena ini termasuk pencemaran nama baik umat.

Sudah satu tahun masalah pelik nan sedih ini tidak kunjung usai. Pihak paroki (baca: pihak keuskupan) tidak bertanggung jawab terhadap sensus fidelium umatnya. Pemerintah setempat juga memalingkan diri dari antusias religiositas masyarakat. Setahun umat Tuhan tak bertemu Tuhan dalam Misa Kudus, Ibabat, Pengakuan Dosa, anak-anak tidak menerima Permandian Suci, tidak diberi kesempatan menerima Komuni Pertama, dan  pernikahan umat tidak direstui secara gereja. Dosa-dosa umat menumpuk dan mau tumpah di atas tanah yang gersang. Tuhan, Engkau di mana? Semoga Tuhan tidak dipasungkan di dalam gulungan uang merah. Semoga Tuhan tidak dilumpuhkan di dalam khotbah- khotbah panjang para nabi modern yang kapitalis-materlis. Tuhan. (*)

Catatan: Mohon maaf bila ada persamaan nama dan kisah.

___
*) Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, berasall dari Reo-Manggarai. Ia bergabung dalam kelompok sastra ALTHEIA, KMK-L, dan penyair lepas pada beberapa media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Pasung

mm

Published

on

Perempuan yang memasung kaki di rumahnya sendiri itu memberikan anda keberanian untuk menjadi penjaga. Ibu anda pernah meninggalkan pesan sebelum berpulang, bahwa ia tidak pernah menyesal duduk di sisi ayah anda—Oh. Lelaki yang pandai menyanyikan lagu – lagu moyang dan itu jadi bahan komedi seantero negeri. Apakah anda ingin meneruskan cerita? Apakah keberanian yang selama ini anda cari sudah anda temukan?

By; Dee Hwang *)

Kekasih anda datang dengan ancaman yang satu. Katanya, kalau anda pergi, ia akan memutuskan hubungan. Anda tidak tahu apakah ia takut kehilangan anda atau ia takut menyandang predikat gadis tua atau ia cuma takut kehilangan tambang uangnya saja. Gampang nian keputusan itu meluncur, sampai – sampai sudah kebal anda dengan penyakit jenis ini. Anda bahkan tidak menggubris ketika terakhir kali ia melakukan hal yang sama—ia menolak gagasannya tentang konsep berumah tangga dan ia merusak akuarium anda.

Ia tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam rumah anda. Di tangannya, sebuah koran yang beritanya baru saja anda tunjukkan ada di sana. Kekasih anda menolak ikut serta. Ia tak mau miskin. Ia pun sudah mengakarkan dirinya pada hal – hal baru, termasuk pada yang kian hari kian melancipkan bulu mata dan meruncingkan dagunya. Anda mengangkat tangan—sekat antara anda dan kekasih anda jadi jelas. Oh. Kekasih anda jadi punya banyak waktu untuk mencercah keputusan anda. Anda sudah bisa menebak apa yang ada di kepalanya. Meski berulang kali anda menjelaskan bahwa anda punya alasan untuk kembali ke tanah kelahiran anda, di akhir perbincangan nanti, ia akan merusak koran itu jadi beberapa bagian.

***

Anda menemukan berita itu pagi ini. Judulnya, seorang perempuan dari dusun anda sedang memasung dirinya sendiri. Anda yakin ia tidak gila, tapi orang – orang menganggapnya gila. Ia tentu tidak miskin, meski orang – orang menganggapnya tak punya apa – apa. Dunia menertawakannya, sementara anda tahu betul apa yang membekukan garis senyum anda. Hati anda terluka, meski anda yakin perasaan tak seimbang apapun di dunia ini tak akan menggoyahkan keputusan si punya berita.

Anda mengemas satu koper pakaian. Cukup. Anda berencana kembali ke tanah kelahiran anda, menemui perempuan itu, mengajaknya berbincang – bincang, mungkin tinggal dalam waktu lama. Kekasih anda uring-uringan. Ia merasa punya alasan mengapa harus memutuskan hubungan. Katanya, anda bisa saja selingkuh. Siapa menjamin? Lagi, apakah anda tahu apa yang membuat seseorang berlaku tidak maju? Mereka cenderung kolot. Apakah anda tahu apa yang membuat orang-orang itu kolot? Mereka tidak tahu apa-apa tentang dunia. Apakah anda mau diletakkan di belakang?

Kata Ibu anda, setiap manusia diciptakan berpasang – pasangan, namun setiap manusia diciptakan dengan pasungnya sendiri – sendiri. Tidak semua orang memahaminya apa yang harus mereka lakukan dengan pasung pasangannya, kecuali, bila sudah berbagi pikiran dan bisa menerima.  Apakah kisah dari Ibu anda—yang menyatakan bahwa ia juga orang yang memahami bagaimana menjadikan pasung menjadi pasang—akan sama dengan masa depan anda? Anda tidak tahu. Anda hendak melakukan perjalanan dengan hati lapang bukan karena anda menginginkan sesuatu. Mungkin, karena perempuan yang memasung kakinya itu, maksud saya, ia yang mau menanamkan kaki ke dasar rumahnya sendiri, mencintai asalnya. Orang lain menganggapnya bodoh. Mengapa perempuan itu mau meninggalkan peluang di bidang yang lebih maju, lebih mentereng gaulnya, lebih lagi duitnya?

Mana yang lebih berlian ketimbang melakukan sesuatu yang dicintai?

Perempuan itu menetap dengan kesederhanaan dan terus menjaga apa yang jadi identitasnya sebagai—

Ayah anda pernah memasung kakinya sendiri. Dengan kesukarelaan, ia berikan tubuh dan pikirannya untuk meneruskan tanggung jawab sebagai putra daerah. Ayah anda adalah pohon yang sedang membesarkan daun pertamanya. Sambil mengedarkan pandang ke rumah – rumah tetangga yang mengilap tapi gersang, kata Ibu anda, apa yang ayah anda sedang lakukan akan memberikan kerindangan dan buah manis. Nanti bukan hanya anda yang akan merasakannya, tapi semua orang. Buah dari rasa cinta ayah anda pada tanah kelahirannya itu cukup untuk mengobati rasa rindu pada kebersamaan.

Sayangnya, harapan itu tidak pernah tercapai. Orang-orang jaman sekarang pandai merubuhkan pohon ayah anda. Rasa sia-sia yang mereka pupuk mengeringkan dahannya, memendekkan akarnya, menggugurkan daunnya. Ayah anda rubuh, orang-orang melunturkan identitas dan berlomba mempercantik rumahnya dengan segala pembaharuan di sana – sini.

Perempuan yang memasung kaki di rumahnya sendiri itu memberikan anda keberanian untuk menjadi penjaga. Ibu anda pernah meninggalkan pesan sebelum berpulang, bahwa ia tidak pernah menyesal duduk di sisi ayah anda—Oh. Lelaki yang pandai menyanyikan lagu – lagu moyang dan itu jadi bahan komedi seantero negeri. Apakah anda ingin meneruskan cerita? Apakah keberanian yang selama ini anda cari sudah anda temukan?

Rasa rindu akan kerindangan yang anda miliki sewaktu kecil membuat anda bergegas menuju pintu depan. Anda menyudahi pertengkaran. Anda mengatakan bahwa anda tak masalah menjadi seniman kampung atau jadi orang miskin, ketimbang hidup dengan kekasih yang tidak tahu apa – apa karena tidak pernah mau selesai membaca sesuatu. Kekasih anda memutar kepalanya. Ia mencari barang pecah belah buat dihancurkan. Tidak ketemu. Maka ketika anda meninggalkannya, kekasih anda merobek kertas koran menjadi beberapa bagian. (*)

____ 

*) Dee Hwang, Kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 9 September 1991. Lulusan Universitas Sriwijaya. Terakhir ini aktif sebagai deklamatris dalam kanal youtube “Secarik Pesan di Saku Bajumu”.

 

 

Continue Reading

Cerpen

Sebuah Paket Berisikan Kematian

mm

Published

on

Malam-malamku adalah kedamaian. Namun tidak bagi sebagian orang. Malam adalah ketakutan bagi mereka. Malam adalah neraka yang mengerikan. Namun bagiku, malam adalah surga yang tak satupun tahu akan hal itu.

Oleh: Fian N *)

Setiap kali hari bernama Jumat tiba, Sita selalu menerima sebuah paket. Paket yang model ukuran dan warnanya tidak pernah sama. Kadang berukuran sangat kecil. Dan tidak jarang, Sita menerima paket yang ukurannya sangat besar dan warnanya hitam bertuliskan namanya tapi tidak pernah dicantumkan nama pengirim.

0/

Sita tetap menerimanya meski tanpa nama pengirim atau mungkin pengirim lupa mencantumkan namanya sendiri. Dan siapakah Sita? Sita adalah anak seorang tukang kayu. Hari-harinya tak pernah sebahagia seperti anak-anak seumurannya. Dan Sita sering sakit-sakitan. Ibunya akan selalu kerepotan jika malam telah tiba. Ibunya harus mengurus segala kebutuhannya seperti air hangat yang disimpan dalam termos dan juga ember berisikan air hanya untuk berjaga-jaga kalau Sita merasa buang air kecil tengah malam.

Ada ketakutan-ketakutan yang dirasakan ibunya seirama jeritan binatang-binatang malam yang keberadaannya tidak jauh dari rumah. Setiap jam 09:00, Sita akan terjaga dan berjalan keliling rumah. Ibunya tidak pernah tahu akan hal itu. Ayahnya akan selalu tidur lebih awal jika terlalu lelah.

Suatu kali, di langit malam ada rembulan yang tak utuh, ibunya terjaga dari tidur pada jam yang sama seperti Sita. Ia mendapati Sita sedang tertawa dan bermain-main di halaman rumah di bawah terang bulan. Terkadang Sita tertawa dan menunjuk-nunjuk sesuatu yang ada di depan, samping, dan belakangnya. “Sita, anakku. Apa yang kau lakukan di sini, Nak?” Sita berhenti dari permainannya. Sita seperti tidak peduli akan kehadiran ibunya. Tanpa banyak kata, ia pergi tinggalkan ibunya sendirian dan masuk melalui pintu belakang lalu duduk di ruang tamu sendirian tanpa menyalakan pelita. Ibunya masih di luar. Ibunya tak mampu menduga-duga tentang semua yang sedang dialami putrinya. “Apakah setiap malam Sita selalu begini tanpa sepengetahuan diriku dan Danu? Apakah aku harus menceritakan hal ini kepada Danu? Danu harus tahu akan hal ini. Iya, harus!”

Halaman lengang. Pertanyaan-pertanyaan heran pun masih bergejolak dalam kepala. Dan Ibu masuk ke dalam kamar tanpa memeriksa kamar Sita. Sita mendengar derap kaki ibunya. Ia menahan nafasnya sampai terdengar derit ranjang ayah dan ibunya. Sita masih duduk diam dan tidak melakukan apa-apa di tengah kegelapan. Hanya suara nafas dan dingin yang menjadi teman paling setia. Sita mulai memainkan jarinya sendiri seperti sedang menghitung sesuatu. Kadang ia hanya mengangkat satu jari dan juga tiba-tiba ia mengangkat sepuluh jari utuh. Ia sedang memainkan dan meramalkan nasibnya sendiri melalui jari. Lalu ia melihat garis-garis pada telapak tangannya.

1/

Satu minggu berikutnya, Sita mendapatkan lagi sebuah paket. Datang tanpa alamat. Paket itu selalu ditemukannya di depan pintu rumah. Tidak ada orang lain yang bisa menerima paket tersebut selain dirinya. Sebab, yang tahu dan bisa melihat hanyalah dirinya. Sita tidak akan kaget atau bertanya-tanya. Sebab, takdirnya adalah menerima segala sesuatu yang telah dipercayakan padanya meski hal itu tidak akan dipercaya oleh orang lain dan orang-orang terdekatnya, seperti ayah dan ibunya.

Malam-malamku adalah kedamaian. Namun tidak bagi sebagian orang. Malam adalah ketakutan bagi mereka. Malam adalah neraka yang mengerikan. Namun bagiku, malam adalah surga yang tak satupun tahu akan hal itu. Aku lebih suka menyendiri dan mencintai kemerdekaanku. Kemerdekaan yang tak tergantikan. Aku memerdekakan diriku. Ayah dan ibu serta orang-orang di sekitar adalah neraka yang paling mengerikan. Mereka mengajarkanku pelajaran-pelajaran yang pada akhirnya membuatku membohongi sesama. Oleh karena pelajaran itulah manusai-manusai di dunia ini bisa saling membohongi satu sama lain. Manusia pandai bersandiwara sesukanya. Melalui pelajaran, manusia itu seperti kota yang menggiurkan yang dipenuhi kemunafikan serta kebejattan. Aku memilih sendiri kebebasanku dan tanpa harus bosan dengan semuanya ini. Sebab, aku adalah kebosanan yang tak pernah kau tahu. Bingungkan? Itulah aku yang penuh dengan sejuta tanya yang tak pernah usai.

“Halo, Sita. Mengapa belum tidur?”

“Iya, Ma. Mengapa ibu juga belum tidur?”

Lho, kok balik bertanya? Kenapa belum tidur, Nak?”

“Aku tak bisa tidur jika ibu juga belum tidur. Aku tak bisa tidur jika ibu terus mengintaiaku. Dan aku tak akan bisa tidur jika ibu telah bertanya begitu. Sebab,  bagiku, malam belum benar-benar gelap, Ma. Jangan takut akan kesendirianku. Justru aku yang takut dan cemas akan keberadaan ibu dan bapak.”

“Sudah. Ayo tidur!”

Sita beranjak pergi dan tinggalkan ibunya sendirian. Danu datang menghampiri istrinya. Tak ada suara lain selain suara hati keduanya yang diam-diam sedang mencari segala muasal kecemasan dalam diri masing-masing.

“Apa yang sedang terjadi pada Sita, Ma?”

“Aku juga tak tahu, Pak.”

“Aku takut, Ma. Takut jika sesuatu terjadi pada anak kita. Aku takut jika Sita tidak mampu bersaing dengan kota yang meriap bagai rumput liar. Aku takut dia mati dikoyak-koyak segala loba dan dengki, Ma.”

2/

“Mengapa bicara seperti itu, Pak? Sita akan baik-baik saja! Aku yakin, Sita sudah siap menerima segala kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah diduganya. Aku yakin, Sita pasti bisa keluar dari segala kebalauan yang menimpa kota akhir-akhir ini, Pak.”

“Tapi, Sita masih terlalu polos untuk mengerti semua itu!”

“Pak, ini bukan waktu yang tepat untuk kita diskusikan hal ini. Dan tak ada yang menjadi hakim di antara kita. Semuanya Sita yang jalani. Tidak ada keputusan dan kebenaran yang mutlak! Biarkan waktu yang memberikan Sita jawaban! Biarkan Sita jalani semua itu. Tapi, mengapa Sita selalu terjaga malam hari?”

Sejak malam itu, tak ada lagi percakapan-percakapan yang terjadi antara Sita, Ibu, dan Danu, ayah Sita. Tetapi Sita, masih setia menemani malam. Pagi dan siang adalah ketakutan yang paling mengerikan. Karena ia sering menyaksikan langit hitam dipenuhi kepulan asap dan menyaksikan elang besi beterbangan melintasi atap rumahnya.

Jumat menjelang sore, Sita mendapatkan sebuah paket. Modelnya sederhana. Berwarna cerah dan ukurannya sedang, tidak seperti biasanya. Sita tidak langsung beranjak masuk ke dalam rumah. Mengamati paket itu lama-lama. Lalu, Sita memandang jauh pada ujung jalan tak beraspal. Seperti ada bayang-bayang hitam yang kian jelas. Sita mengusap matanya. Bayang itu seperti menuju ke arahnya berdiri. Sita tak bisa berdiri lebih lama. Sita berlari kecil ke dalam rumah dan diam dalam kamar.

Pada malam hari, Sita bermimpi dikejar seekor harimau di padang yang luas dan tempat itu terasa baru baginya. Dalam pengejaran itu, tiba-tiba harimau berubah wujud menjadi sosok manusia berkelebat hitam dan tak mampu berlari. Sita terbangun dari mimpinya. Ia ingat akan bayang-bayang hitam pada sebuah jalan yang berjalan menuju ke arahnya berdiri. Kelebat hitam itu, Sita langsung teringat akan ayah dan ibunya. Sita masuk kamar mereka dan melihat mereka masih ada di sana. Ia masih mendengar dengkur ayahnya dan melihat dada ibunya yang turun naik pertanda masih hidup.

4/

Ia ke luar dari kamar dan menuju halam rumah. Seperti biasa, sebelumnya ia berjalan mengelilingi rumah. Sebelum sampai pada putaran terakhir, Sita terjatuh dan tak bisa bangun lagi. Seluruh tubuhnya dingin. Nadinya tak lagi berdenyut. Tubuhnya kaku dan diselimuti kegelapan yang paling ngeri. Pada saat itu, sita ingin berteriak. Namun apa daya, ia tak mampu. Mengedipkan matanya saja tak bisa. Sita merasakan bumi juga ikut berhenti berputar. Angin-angin diam dalam posisi tak beraturan. Bintang-bintang berjatuhan dalam kegelapan.

“Sita, Sita, kamu di mana, Nak?”

Tak ada suara yang menjawab panggilan itu. Ibu keluar menuju halam rumah. Ia tak mendapati siapa-siapa di sana. Ia membangunkan Danu. Danu tak segera bangun. Dengkurnya memenuhi segala ruang.

Tiba-tiba Sita sudah berdiri di belakang ibunya.

“Dari mana dirimu, Nak?”

“Apakah bapak baik-baik saja? Tadi aku mendengar suara tangisan orang-orang memenuhi ruangan ini. Aku dengar tangisan ibu yang paling besar.”

“Kamu tidak sedang bercanda, kan?”

“Bila tiba saatnya, ibu akan mengerti dengan candaanku ini. Saat ini ibu tidak mengeri semua ini. Tinggal menunggu waktu, siapa yang lebih dahulu. ayah, ibu, atau aku.”

Percakapan itu terjadi setelah Sita tersadar dari mati surinya. Sita juga sadar bahwa ia tidak menerima paket di Jumat ketiga. Apakah pengirimnya lupa? Itu bukan urusanku. Namu akhir-akhir ini, aku selalu merasa takut. Bahkan ketakutanku terus menjadi-jadi.

Lalu, di sore ini, Jumat keempat, Sita menerima sebuah paket yang ukurannya lebih besar dari paket sebelum-sebelumnya. Sita memangil ayah dan ibunya untuk memindahkan paket tersebut ke ruang tamu. “Siapa yang membawanya ke sini? Apakah dia datang seorang diri? Semua yang ada tidak bisa bergerak dengan sendiri jika tidak ada yang menggerakkannya. Tangan dan kaki tidak bisa bergerak jika si aku tidak memerintahkannya bergerak.”

“Kiriman dari siapa? Dan apa isinya”

Sita tak menjawab pertanyaan yang diberikan bersamaan oleh ayah dan ibunya. Sita memilih pergi dari hadapan keduanya dan tinggalkan paket tersebut pada ruang tamu lurus pintu masuk.

5/

Lima Jumat berlalu setelah kepergian kedua orangtuanya, Sita tidak pernah membuka paket yang selalu diterimanya pada setiap hari Jumat. Sita tidak pernah cari tahu apa isi paket tersebut serta siapa pengirmannya. Apakah seorang malaikat pencabut nyawa, atau? Bukankah malaikat itu baik? (*)

Maumere, 2019

____

Fian N, lahir di Olakile pada 03 Desember 1995. Sekarang menetap di Maumere. Pencinta club sepak bola Barcelona. Penulis buku puisi Musafir (Rose Book, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending