Connect with us

Classic Prose

Kenzaburo Oe: Kekasih Himiko

mm

Published

on

Kenzaburo Oe*

Larut malam itu, dalam posisi lamban yang membuat beban tubuh mereka berkurang, Bird dan Himiko bercinta dalam kegelapan yang lembab selama sejam tanpa terputus. Bagaikan binatang yang sedang melakukan pembuahan, mereka melakukannya dalam keheningan hingga selesai. Lagi dan lagi Himiko terpekik saat mencapai puncak, dengan selang waktu pendek diselingi jeda yang meletihkan.

Bird setiap kali teringat pada sensasi menerbangkan sebuah pesawat terbang mainan pada senja hari di lapangan permainan sekolahnya. Himiko melengkungkan tubuhnya sehingga membentuk lingkaran lebar, bergetar, dan mengerang saat meniti jalan ke langit orgasme bagaikan sebuah pesawat terbang mainan yang bekerja oleh sebuah motor yang terbebani. Lalu dia turun kembali ke landasan pacu di mana Bird telah menunggu dan saat hening yang berulang pun tercipta.

Seks bagi mereka kini telah berakar dalam sensasi ketenangan sehari-hari;Bird merasa seolah-olah telah bercinta dengan gadis itu selama lebih dari seratus tahun. Kelaminnya kini terasa begitu sederhana, dan tentunya, tak lagi menyembunyikan kecurigaan atas ketakutan-ketakutannya yang paling mendasar. Baginya kini, vagina Himiko adalah kesederhanaan itu sendiri, sekantong dammar buatan yang lembut. Dia amat merasa damai karena Himiko secara terbuka dan tanpa syarat membatasi hubungan seksual mereka hanya untuk objek kesenangan belaka.

Bird teringat bagaimana rasanya saat dia melakukannya dengan istrinya dan perasaan-perasaan ketakutan mereka. Bahkan kini, setelah bertahun-tahun perkawinan, mereka terperosok pada perasaan muram setiap kali bersenggama. Kaki dan tangan Bird akan mendesak tubuh istrinya, layu dan kaku dalam pertarungan mengatasi rasa jijik, dan istrinya menerimanya sebagai sebuah serangan. Lalu dengan merasa marah, dia akan memaki Bird, bahkan mencoba untuk balas menyerang. Akhirnya, ujungnya selalu sama: dia akan terlibat dalam sebuah pertengkaran tak berarti, menarik diri dari tubuh istrinya dan terus menjauh hingga sepanjang malam, atau dia menyelesaikan ketergesaannya dengan sebuah kepahitan. Bird sempat menggantungkan harapan akan terjadinya revolusi dalam kehidupan seks mereka setelah kelahiran seorang anak dan…

Karena Himiko secara berulang meremas penis Bird bagaikan sebuah tangan memerah susu pada saat gadis itu memutarkan langit-langit pribadinya, Bird memilih orgasme paling bernafsu Himiko sebagai saat yang tepat bagi dirinya sendiri. Tapi ketakutan pada malam panjang yang mengikuti setiap akhir persetubuhan mereka menahannya. Dengan dungu Bird bermimpi tentang tidur yang paling melenakan, menggapai lekukan lembut menuju puncak kenikmatan.

Tapi Himiko terus terbang, jatuh menukik ke landasan dalam sebuah liukan lembut dan tiba-tiba menari kembali ke angkasa bagaikan layang-layang yang terperangkap. Saat kembali mendarat di landasan yang salah, Bird mendengar bunyi telepon bordering. Dia mencoba bangkit, namun Himiko menjepitkan tangan melingkari punggungnya. “Teruskan, Bird,” katanya sesaat kemudian, seraya mengendorkan pelukannya. Bird melompat ke arah telepon yang masih berdering di ruang tengah. Terdengar suara lelaki muda menanyakan ayah seorang bayi yang sedang dirawat di rumah sakit universitas. Bird mengejang, menjawabnya dengan suara seperti dengungan nyamuk. Telepon itu membawa pesan dari dokter.

“Maaf, kami terlambat memberi tahu, tapi kami sangat sibuk di sini,” kata suara itu dari kejauhan. “Saya meminta Anda untuk hadir pada pembedahan otak jam sebelas besok pagi. Ini dari kantor Asisten Direktur. Dokter bermaksud menelepon Anda secara langsung, tapi dia berhalangan. Kami sangat sibuk sehingga terlambat memberi tahu!”

Bird menarik napas panjang dan berpikir: bayi itu mati, Asisten Direktur akan melakukan otopsi.

“Aku paham. Aku akan datang besok jam sebelas. Terima kasih.”

Bayi itu makin lemah dan mati! Bird berkata pada dirinya sendiri saat meletakkan kembali gagang telepon. Tapi kunjungan macam apa yang dilakukan oleh maut pada bayi itu sehingga dokter perlu memperingatkannya terlebih dahulu? Bird merasakan pahitnya empedu yang meluap dari perutnya. Sesuatu yang besar dan luar biasa menatap padanya dari kegelapan tepat di hadapan matanya. Seperti seorang entomolog yang terperangkap hidup-hidup di dalam gua dengan seekor kalajengking, Bird berjingkat ke ranjang, gemeteran dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ranjang itu, sebuah sarang yang aman: dalam hening Bird terus gemetar. Lalu, seolah-olah berusaha menggali kepuasan di kedalaman sarang itu, dia mencoba memasuki tubuh Himiko. Dengan tak sabar ia mengulangi kegagalannya dan hanya separuh ereksi. Jari-jemari Himiko membimbing Bird. Dengan cepat rangsangannya membangkitkan gerakan binal gadis itu. Saat pasangannya mencapai klimaks, Bird mundur, dan terpuruk dalam masturbasi hampa. Menyadari pukulan godam di belakang dadanya sebagai rasa sakit, Bird tergeletak lunglai di samping himiko dan merasa percaya tanpa alasan bahwa suatu hari dia akan mati karena serangan jantung.

“Bird, kamu benar-benar tampak ngeri,” kata Himiko, mengeluh seraya menatap aneh wajah Bird melalui kegelapan.

“Ah, maafkan aku,”

“Bayi itu?”

“Ya,” sahut Bird, ketakutan.

“Apakah itu tentang kantor Asisten Direktur?”

“Mereka ingin aku ada di sana besok pagi.”

“Sebaiknya kamu minum pil tidur dengan wiski lalu tidur, kamu tak perlu menunggu telepon itu berdering lagi.” Suara Himiko terdengar lembut.

Saat Himiko hendak menyalakan lampu di sisi ranjang dan pergi ke dapur, Bird menutup matanya untuk menghindari cahaya lampu, menghalanginya dengan tangannya, dan mencoba menyingkirkan kerikil tajam yang menancap di otaknya – mengapa bayi sekarat itu membuat dokter sibuk hingga selarut ini? Bird segera diserang oleh rasa takut. Dengan membuka sedikit matanya, dia meraih gelas dari tangan Himiko yang sepertiganya berisi wiski dan memungut beberapa butir pil tidur, menelannya dalam sekali helaan, dan kembali memejamkan matanya.

“Itu bagianku juga,” kata Himiko.

“Ah, maafkan aku,” ulang Bird dengan tolol.

“Bird?” Himiko berbaring di atas ranjang dengan mengambil jarang dari sisi Bird.

“Ya?”
“Aku akan menceritakan padamu sebuah dongeng sampai wiski dan pil itu bekerja – satu bagian dari sebuah novel Afrika. Apakah kamu pernah membaca tentang hantu perompak?”

Bird menggelengkan kepalanya dalam kegelapan.

“Ketika seorang perempuan mengandung, hantu perompak memilih salah satu di antara mereka untuk menyelinap ke dalam rumah perempuan itu. Sepanjang malam, hantu ini mengganyang janin yang sesungguhnya dan masuk ke dalam rahim. Saat hari kelahiran, hantu itu lahir ke dunia sebagai janin yang tak berdosa…”

Bird mendengarkan dalam hening. Sejak dulu kala, banyak bayi yang terserang penyakit. Saat ibu mereka memberi sesajen dan berharap dapat menolong anaknya, hantu perompak diam-diam menyembunyikan diri dalam lubang rahasia. Bayi-bayi ini tak akan pernah sembuh. Apabila bayi itu mati dan tiba saatnya untuk dikubur, hantu itu kembali ke wujud asalnya dan kabur dari kuburan, kembali ke sarang para hantu perompak dengan membawa serta sesajen dari lubang persembunyiannya.

“ … janin itu lahir sebagai bayi yang lucu sehingga membuat ibunya jatuh hati dan tak ragu-ragu memberikan semua yang dia minta. Orang-orang Afrika menamakan bayi-bayi itu ‘anak-anak yang lahir ke dunia untuk mati’, namun bukankah indah sekali membayangkan betapa lucunya mereka, bahkan bayi-bayi mungil sekalipun!”

Barangkali Bird akan menceritakan kisah itu pada istrinya. Dan karena bayi kami dilahirkan untuk mati, perempuan itu akan membayangkannya sebagai seorang bayi yang amat cantik. Aku bahkan akan meralat memoriku sendiri. Dan itu akan menjadi penipuan terbesar seumur hidupku. Bayiku yang aneh mati tanpa perbaikan pada kepala kembarnya yang buruk, bayiku adalah bayi yang aneh dengan dua buah kepala hingga waktu tak berbatas setelah kematiannya. Dan jika ada sesosok raksasa muncul sebagai algojo saat itu, bayi dengan dua kepala itu pasti akan terlihat olehnya, dan ayah bayi itu juga.

Merasakan perutnya mual, Bird membenamkan diri dalam tidurnya seperti sebuah pesawat terbang yang jatuh dari angkasa, tidur bisa membuat kita tertutup dengan cahaya impian. Dalam sisa-sisa ingatan kesadarannya, Bird mendengar bayang-bayang suara mendiang ibunya berbisik:”Bird, kau benar-benar akan merasa ngeri!” Bird melemparkan tubuhnya ke belakang seolah-olah sebuah beban berat tergantung di kepalanya dan, seraya mencoba menutup kedua lubang telinganya dengan ibu jari, dia membenturkan sikunya pada mulut Himiko. Dengan meneteskan air mata karena kesakitan, Himiko menatap melalui kegelapan pada kawan tidurnya yang mengejag tak wajar. Himiko bertanya-tanya apakah Bird telah salah menafsirkan telepon dari rumah sakit. Mungkin bayi itu telah benar-benar mati; lagi pula, bagaimana mungkin dia menyembuhkannya dengan hanya memberi susu terus-menerus? Dan tidakkah mereka ingin agar Bird ada di rumah sakit untuk merundingkan soal operasi?

Kawannya tertidur di sampingnya dengan tubuh terlentang tak nyaman bagaikan seekor orangutan dalam kandang. Bau wiski yang menyengat tercium dari dengus napasnya, terasa konyol dan menyedihkan bagi Himiko. Tapi tidur akan menjadi istirahat sejenak sebelum kehebohan esok pagi. Himiko bangkit dari ranjang dan menyentakkan tangan dan kaki Bird; dia begitu berat seperti raksasa, namun tubuh itu tak melawan. Ketika Bird terbaring terlentang dengan leluasa di atas ranjang sehingga dia bisa tidur lebih nyaman, Himiko menyelimuti dirinya dengan sehelai seprai dengan gaya seperti seorang filosuf Yunani dan beranjak ke ruang tengah. Dia hendak mempelajari peta Afrika hingga saat matahari terbit. (*)

———————————-

*Kenzaburo Oe (大江 健三郎 Ōe Kenzaburō?, lahir di Uchiko, Prefektur Ehime, Jepang, 31 Januari 1935; umur 82 tahun) adalah tokoh besar dalam sastra Jepang modern. Karyanya, yang banyak dipengaruhi oleh sastra Perancis dan Amerika serta teori sastra, sarat dengan isu-isu politis, sosial, dan filosofis seperti senjata nuklir, non-konformisme sosial dan eksistensialisme. Oe dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra pada tahun 1994. (Wikipedia)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Classic Prose

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Classic Prose

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Classic Prose

Camilo Jose Cela : Tukang Foto Keliling Bernama Sanson Garcia

mm

Published

on

SANSON GARCIA CERCEDA Y EXPOSITO DE ALBACETE menggunakan mata kenangannya ketika mengintip lewat corong dalam kerudung alat pemotretnya. Mata kirinya, karena suatu kejadian tak terelakkan, tercampak di Sorihuela Provinsi Jaen pada hari San Claudio di awal maas kediktatoran, dalam pertengkaran dengan seorang Prancis tak berprinsip—Juanito Clermond—yang dijuluki orang Aristides Briand II.

Sejak kecil Sanson Garcia sudah menyenangi fotografi yang menyebabkan ayahnya, Don Hibrido Garcia Exposito Y Machado Coscuelluela, memukulnya sampai lebam sambil berkata—tentulah karena ia tahu kenapa—bahwa fotografi bukanlah pekerjaan yang layak buat laki-laki.

“Tapi Ayah, saya ragu,” sanggah Sanson untuk mengatasi rasa sedihnya, “Mana ada tukang foto perempuan yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya.”

“Diam, kataku! Lebih hormatlah pada bapakmu, anak cacing! Lebih hormatlah pada orangtua!”

Dan Don Hibrido, seorang penganut dialektika, tak pernah beranjak dari pendiriannya. Melihat ayahnya bersikeras seperti keledai, Sanson diam, karena kalau tidak keadaan akan bertambah buruk.

“Tenang, Ayah, tenang! Saya akan memikirkan usul Ayah.”

“Bagus begitu…..”

Don Hibrido Garcia Exposito dulu seorang pemilik penginapan. Selama kurang lebih empat puluh tahun ia memiliki sebuah penginapan yang hasilnya kecil tapi teratur di Cabezarados, daerah La Mancha di kaki Sierra Gorda, tidak jauh dari Telaga Carrizoca dan Perdiguera. Pada masa itu Don Hibrido adalah seorang bos yang mandiri, seperti yang selalu dibanggakannya.

“Aku senantiasa menyukai orang mandiri, yang jika bilang begini diikuti semua orang, baik mereka senang atau tidak. Orang seperti itulah yang kusebut lelaki sejati. Sialnya sekarang tak ada lagi orang seperti itu. Contoh telaki sejati adalah kardinal Cisneros dan Agustine de Aragon. Bandingkan dengan cacing-cacing yang sudah jatuh pingsan hanya karena menyaksikan setengah lusin orang yang luka. Tak tahulah aku mau jadi apa dunia ini.”

Dengan sikap mandiri yang tegar itulah Don hibrido mengaggap enteng semua orang, kecuali istrinya yang berasal dari lalin, yang satu hari setelah kawin menggosok satu telinga suaminya dengan setrika, hingga telinga itu keriput seperti kol Brussel.

Sanson yang agak urakan—sehingga terus-menerus menggelisahkan Don hibrido—banyak menderita. Setelah perang berakhir ia membaca pernyataan Sekretaris Departemen Industri dan Perdagangan tentang kewajiban mandiri yang membuatnya gemetar, gelisah, dan sedih.

Apa jadinya kita ini, pikirnya. Air sudah sampai ke leher!

            Sanson Garcia yang sangat alergi pada kata mandiri, dengan mata sebelah, kamera berkaki tiga dan kerudung seperti akordion itu, telah melengkapi klub fotografi Spanyol dengan gambar anak-anak manis berambut-jurai memakai sandal, anggota pasukan infanteri yang menyerahkan tanda mata pada buah hati, para babu berambut kelabu di kuduk, dan sekelompok gadis kota kecil yang kecantikan alamiahnya tiba-tiba bertukar dengan terima kasih pada segelas anggur putih dan pawai perkawinan yang sumbang.

Sanson Garcia sebenarnya sangat liris; ia penyair sejati yang merasa sangat bahagia dengan pekerjaannya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Aku puas,” kadang-kadang ia berpikir setelah menyantap makanan hangat, “dapat bekerja sambil melihat orang-orang tersenyum. Aku pikir tak ada pekerjaan seperti ini di seluruh dunia. Bahkan tidak tukang goreng pastel!”

Sansom menyukai alam, anak-anak kecil laki-perempuan, hewan dan pohon-pohon. Matanya hilang dalam pertengkaran dengan Aristides Briand II, karena orang Prancis itu hendak mencoba guillotine tipe barunya pada beberapa ekor kucing yang malang.

Aristides Briand Ii berkata, “Aku menyukai kemajuan dan aku gembira dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi teknik. Lagi pula aku ini orang asing dan memerintah diriku menurut hukum Prancis.”

Sanson Garcia menjawab, meskipun Aristides orang asing tapi kucing-kucing itu tetap Spanyol, dan ia tak akan tenggang rasa terhadap kezaliman. Sebagai jawabannya, Aristides menghardik, “Babi! Keledai kampung tak makan sekolah!” Dan sanson langsung menyambung dengan dua kali babi, dua kali keledai kampung dan dua kali tak makan sekolah. Lalu si Perancis memberi tinju yang menyebabkan mata sanson tingggal satu untuk seumur hidupnya.

Setelah sembuh, Sanson menempelkan kain hitam pada bagian matanya yang hilang, sedangkan Aristides Briand II kabur bersama guillotine tipe barunya untuk bereksperimen di tempat lain, karena kecuali beberapa orang, penduduk Sorihuela memihak Sanson Garcia dan hendak menghukum orang Perancis itu.

***

“YANG Anda lihat ini,” kata Sanson sambil memperlihatkan foto seorang gadis sintal pada saya, “Genovevita Munoz, penyanyi asal Valencia del Mombuey, provinsi Badajos dekat sempa dan Portugal, tepat di depan Cerro Mentiras, Saya mencintai nona ini sedikit.”

Dengan gaya seorang Don Juan yang berpengalaman, Sanson meneguk anggur dan melanjutkan, “Meskipun menggairahkan kalau ia mau, Genovevita agak cepat naik darah, kenyal-liat seperti tak bertulang-tengkorak, sehingga kalau lagi datang anginnya—biasanya sebulan sekali—hindarilah dia seperti menghindari wabah. Sungguh, siapa pun yang dekat akan celaka, karena Genovevita menyimpan penyodok tukang sepatu dalam tasnya. Coba lihat ini!”

Lekukan yang ditunjukkan Sanson di tengkuknya cukup untuk sebuah mata uang logam.

“Tetapi perlu juga anda tahu, Genovevita sangat memikat dan berbakat, perempuan yang selalu dirindukan lelaki. Tak pernah dipersoalkannya berapa tebal dompet Anda seperti yang biasa dilakukan perempuan lain, tapi yang pertama dia tanyakan adalah lelaki macam apa Anda. Sebelum mulai bicara, dia memastikan dulu apakah lawan bicaranya itu orang Spanyol atau bukan. Dia selalu bilang, ‘Saya ini Spanyol, seperti Sang Perawan dari Pilar. Dan saya tak mau tahu tentang orang Prancis.’ Barangkali dia benar.”

Sanson meneguk habis anggur di gelasnya dan memanggil pelayan.

“Dua anggur putih.”

“Baik, baik!”

Apabila Sanson merasa sedih dan sentimentil, penutup hitam matanya berubah dari warna sayap terkembang menjadi hijau berkabung.

“Dan lanjutan ceritanya, Genovevita Munoz pada usia sangat muda sudah menjadi pembantu rumah tangga di Barcarrota, tempat arena pertandingan sapi yang berada dalam puri seperti kaki di dalam kaus. Karena gajinya kecil, banyak kerja dan tafsiran sang majikan untuk istilah babu-penuh sudah melampaui batas, Genovevita pun terbang pada kesempatan pertama; ia terdampar di Valverde del Carmino di wilayah Huelva, di bawah naungan bukit-bukit Sedundaralejo, tempat dia bergabung dengan kelompok Seni Pertunjukan Rakyat Oriflamas de Andalucia yang menyebabkan dia terombang-ambing antara berkeringat dan menahan lapar dari satu peristiwa ke peristiwa lain sepanjang ciptaan Tuhan. Karena pada mulanya ia tidak pandai menyanyi  dan menari, sang manajer menyuruhnya berjalan hilir-mudik di atas panggung memakai rok dalam. Baru dalam lakon Para Pemandi New York, La Genovevita menjadi tenar dan disukai umum, sehingga terbukalah harapan pekerjaan yang lebih baik.”

Pelayan berkemeja kotor, celana cururoy dan celemek bergaris hijau dan hitam meletakkan dua gelas anggur putih di atas meja, dan sebuah piring kecil berisi dua butir limau yang sudah kisut.

“Saya berjuma La Genovevita di San Martin de Valdeiglesias, sebuah kota subur-makmur di antara Avila dan Toledo. Dia sudah menjadi anggota paduan suara dalam lakon Gema Panas Karibia, menarikan rumba dan danzon sedikit sebelum bagian kedua berakhir. Sebenarnya dia mencoba meniru Suara Api Camaguey yang dinyanyikan Belan Baracoa, gadis mulatto dari Betanzoz yang terkenal dengan aksen Galisia itu. Menonton La Genovevita dan jatuh cinta padanya, saya lalu bersumpah demi semua yang penting dalam hidup ini. Itu saya katakan degnan cara terbaik menurut saya, dan dia menjawab dengan ya yang penuh gairah; dan karena tak ada tempat buah saya dalam Gema Panas Karibia kami pun pergi ke ibukota, tinggal di alam terbuka seperti pasukan jalan-kaki, sambil berpikir alangkah malangnya kami, karena di ibukota anjing-anjing ditambat dengan sosis. Segera kami menyadari kekhilafan itu—jika anjing-anjing ditambat dengan sosis, sosis itu tentu rapat di perut majikannya—lalu setelah berpikir masak-masak, kami pun pergi dari situ dengan kesimpulan lebih baik mati di hutan seperti kelinci daripada seperti kucing di tempat terbuka. Dua anggur putih!”

“Apa?”

“Bukan, bukan kepada Anda. Saya memanggil pelayan. Ia tidur. Oi, dua anggur putih!”

“Ya, ya.”

“Seperti sudah kukaktakan tadi, saya ini berbakat pencemburu dan tidak terlalu ambil pusing soal profesi La Genovevita sebagai artis, sebab seperti Anda tahu para artis biasanya punya reputasi buruk—begitulah pada suatu hari saya bangkitkan keberanian, pergi kepadanya dan berkata, ‘Dengarkan, Genovevita sayang. Cinta dalam kehidupan tak boleh disamakan dengan yang di atas panggung.’ Dia lalu menggeliat, siap menyerang. Darahnya mendidih, lalu menghamburkan diri sambil menghadiahkan satu pukulan yang kalau tak segera dihentikan—saya tidak malu mengakui ini—pastilah menyebabkan saya tak dapat mengisahkan cerita ini pada Anda.”

Wajah Sanson bersinar dengan senyuman tipis.

“Bukan main cantiknya La Genovevita dengan rambut merebang dan mata seperti harimau! Maafkan saya karena tak dapat mengingat hal itu tanpa rasa pilu. Jika Anda punya perasaan sama seperti saya, kita lanjutkan cerita ini lain kali.”

“Terserah.”

“Terima kasih. Hari ini saya tak bisa melanjutkannya. Pelayan, empat ya.!”

***

ESOKNYA, Sanson Garcia tampak seperti enggan melanjutkan cerita tentang La Genovevita.

“Bagaimana sambungan cerita perempuan kemarin?”

Sanson menyeringai.

“Lebih baik kita tinggalkan saja kisah itu. Penutupnya tidak bagus, artinya cerita itu buruk di ujung. La Genovevita memang cantik, itu tidak saya sangkal, tapi rasa pemarahnya tak tertanggungkan. Dia sendiri heran dan selalu bertanya pada saya, ‘Sanson, tololkah saya ini?” Tentu saja saya menyangkal, “Tidak, Sayang. Kau sama seperti orang lain. ‘Tapi itu tidak benar. Percayalah, La Genovevita lebih tolol dari kebanyakan orang. Lebih baik kita cerita yang lain saja.”

“Terserah.”

Sanson Garcia terdiam.

“Terima kasih. Maukah Anda jika saya ceritakan tentang Senorita Tiburcia del Oro Y Gomis, juru rawat lautan kasih yang menggantikan tempat la Genovevigta di hati saya?”

“Ceritakan saja.”

Sanson menggeser kursinya ke belakang sedikti dan berkata, “Ya, begitulah. La Tiburcia del Oro, meskipun namanya seperti matador perempuan, adalah seorang gadis yang punya prinsip, terdidik, rajin, terpelajar. La Tiburcia del Oro—maaf, menyebutnya Tiburcia saja rasanya kurang sopan—saya jumpai di Cuenca, ibukota provinsi tempat dia mengurus anak-anak orang kaya, yang makan sup dengan tangan dan sehari suntuk berjingkrak di atap rumah. ‘Tak ada yang dapat melarang mereka,’ kata Tiburcia pada saya. ‘Paling-paling hanya membiarkan dan melihat mereka jatuh. ‘Beberapa hari sesudah itu saya bertemu dia dengan rasa iman yang mendalam. Anda dengar tidak?”

“Ya, tentu. Teruskan!”

“Begitulah. Beberapa hari setelah berkenalan, seorang di antara anak-anak yang diurusnya, bernama Julito, jatuh dari atap dan meninggal. Ah, si bandel cilik!”

Sanson diam sebentar.

“Lalu orangtua si anak menendang La Tiburcia del oro sampai ke jalan raya dan tidak membayarnya satu sen pun. Kemudian, setelah terlunta-lunta sendirian, La Tiburcia del oro tiba di tempat saya menginap di gang del Clavel; di situlah kami bertemu; saya, La Tiburcia del oro, ibu pemilik penginapan bernama Donna Ester, dan pedagang keliling berwajah bopeng bekas cacar. Simeoncito namanya, yang meskipun tubuhnya seperti raksasa, ia sudah berpisah dengan istrinya dan diam bersama kami. Dengan bersimbah airmata, La Tiburcia del oro hanya dapat berkata, ‘Malapetaka! Malapetaka!’ Untuk menenangkan dia, kami semua berkata, ‘Jangan berduka. Julito itu memang bandel.’ Anda pasti tahu tak banyak kata-kata yang dapat kami keluarkan dibanding sedih-pedih yang ditanggung La Tiburcia del Oro.”

Sanson Garcia berhenti dan melihat orang-orang yang naik ke atas atap.

“Mereka seperti anak-anak kecil, bukan? Anak-anak yang jatuh dari atap.”

“Hah?”

Sanson melanjtukan ceritanya.

“Polisi, yang banyak tahu soal hukum, menyarankan jalan terbaik bagi la Tirbucia; lari dari situ. ‘Kalau kau suka, kau boleh pergi bersamanya,’ kata polisi itu, ‘tapi yang penting dia harus segera bergi sebelum keadaan bertambah buruk.’ Ibu pemilik penginapan dan Simeoncito setuju pada usul itu. Begitulah. La Tirbucia dan saya membeli dua karcis kereta kelas tiga dan tiba di Calencia, sebuah kota di Turia kata orang, tempat saya mendapat pekerjaan di studio foto El Arco Iris; dan membuat foto-foto besar dan berwarna tentang orang-orang yang meninggal dalam perang. Ketika itu perang baru saja usai dan kenangan pada si mati masih mencengkeram banyak keluarga, dan pesanan pun banyak dan saya mendapat banyak keuntungan.”

“Ck, ck, ck.”

“Demikianlah, di kota Turia itu, seperti saya katakan tadi, La Tiburcia del oro dan saya sangat bahagia. Dia menjajakan saputangan dan renda, dan hasilnya disatukan dengan pendapatan saya hingga banyak; sehingga kadang-kadang kami dapat pergi ke bioskop, meneguk berliter anggur putih tanpa meminta potongan harga yang merendahkan derajat. Itulah hari-hari bahagia itu. Setiap detik menjadi kenangan. Percayalah, badan saya menggelenyar oleh ingatan terhadap dia.”

“Apa yang kemudian terjadi dengan Tiburcia del oro?”

“Apa yang terjadi? Saya tak mau mengingatnya. Kami sedang berada di puncak bahagia; tak seorang pun, tak satu pun yang dapat merusak cinta kami, tapi tiba-tiba La Tiburcia dipukul seorang bajingan busuk—terkutuklah bajingan yang penuh jumbai di bahu itu—tapi orang busuk itu kemudian jadi fanatikus sukses, sendangkan La Tiburcia justru meninggal di rumah sakit karena dijangkiti penyakit yang obatnya ditemukan oleh Pasteur. Perempuan malang, sangat memalukan akhir hidupmu!”

“Betul. Maafkan saya, saya sudah mengingatkan Anda pada cerita sedih ini.”

“Oh, tak apa. Semuanya sama saja akhirnya.”

Sanson Garcia berdiri, meraih tasnya, dan meletakkan tiga lusin lebih foto Tiburcia del Oro di atas meja.

“Lihat, begitu bergaya, alangkah tenang pandangan matanya!”

***

ESOKNYA Sanson Garcia mengais-ngais lagi foto-foto miliknya.

“Lelaki ini lucu sekali Ha, ha, ha. Orang bisa mati ketawa karena ulahnya. Anda kenal orang ini?”

“Mana saya tahu. Siapa?”

“Anda benar-benar tidak mengenalnya?”

“Sama sekali tidak. Siapa orang ini?”

Sanson meneguk anggurnya perlahan-lahan, mengecap lidahnya beberapa kali dan berkumur sedikit.

“Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan …….” (*)

 

| Penerjemah: Fransiskus Asmana

______________________

CAMILO JOSE CELA (Nobel Prize for Literature 1989)

Lahir di Madrid, Spanyol tahun 1917, Cela pernah  menjadi anggota parlemen Spanyol, menggeluti pekerjaan sebagai matador, pengawai negeri, pelukis, dan aktor sebelum mencurahkan perhatiannya pada dunia sastra. Sebagai sastrawan, ia dikenal biasa bicara blak-blakan, dengan logat yang khas, bahasa yang lugas dan mudah dicerna; di mana di dalam karya-karyanya ditemukan “situasi” yang kelabu, yang ditulis dengan simpati sangat besar terhadap orang-orang “terkutuk” (pelacur, orang-orang miskin, dan bodoh).

Cela lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Karya-karyanya yang banyak dibicarakan antara lain La Familia de Pascual Duarte (1942), La Colmena (1951), Viaje a la Alcarria (1958), San Camilo 1939 (1969), dan Mazurca Para Dos Muertos (1984).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Cela dengan pertimbangan: “…untuk kekayaan dan intensitas prosanya yang dengan bentuk rasa kasih yang tertahan, menghasilkan visi yang menantang atas integritas kemanusiaan ….

Cela adalah sastrawan kelima Spanyol (setelah Jose Echegaray Y Eizaguirre tahun 1904, Jacinto Benavente tahun 1922, Juan Ramon Jimenez tahun 1956, dan Vicente Aleixandre tahun 1977) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

Continue Reading

Trending