Connect with us

Inspirasi

Kemenangan Jurnalisme (Investigasi) Sekali Lagi…

mm

Published

on

Kesuksesan Spotlight meraih gelar Best Picture dalam ajang Academy Awards (Oscar) 2016 menjadi pembelajaran penting untuk dunia jurnalistik di Indonesia. Merebaknya isu senjakala media cetak dan semakin berkembangnya media berbasis daring tidak selayaknya menjadi suatu premis yang diperdebatkan. Isu-isu sentral seperti kualitas pemberitaan yang dimuat, penelusuran data, hingga teknik wawancara sejatinya tidak bergantung pada media apa yang digunakan, akan tetapi seperti apa metode yang diterapkan wartawan dalam memburu berita.

Film yang berangkat dari kisah nyata para reporter The Boston Globe ini seolah mengingatkan kembali akan pentingnya metode dalam penggalian data untuk berita. Film arahan sutradara Tom McCarthy tersebut secara gamblang menggambarkan betapa heroiknya Tim Spotlight – tim investigasi di koran The Boston Globe- membongkar kasus pedofilia yang melibatkan lebih dari 90 pastur di Gereja Katolik di sekitar Boston.

Pemberitaan yang dipublikasikan Tim Spotlight sejak tahun 2002 itu bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga membuka fakta bobroknya sistem hukum dan agama di Boston yang ditutup-tutupi selama beberapa dekade. Tercatat, tim Spotlight telah menulis 600 artikel dalam kurun waktu setahun mengenai kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pastur dari berbagai sudut pandang. Melalui metode jurnalisme investigasi serta mengedepankan jurnalisme data, tim reportase yang dimotori Marty Baron dkk ini menunjukkan bagaimana seharusnya media menyampaikan informasi secara akurat, jujur dan lengkap. Nilai-nilai itulah yang perlahan memudar di beberapa media-media Indonesia.

Tuntutan masyarakat akan kebutuhan konsumsi berita yang paling update disinyalir sebagai biang keladi terjadinya kompetisi antarmedia untuk menyajikan informasi secara cepat. Harus diakui, saat ini distribusi informasi relatif sangat mudah. Setiap orang bisa menjadi jurnalis untuk pengikutnya di portal media sosial atau website atau disebut mekanisme citizen journalism. Sayangnya, informasi yang super kilat itu tidak diimbangi dengan tingkat akurasinya. Bahkan, kerapkali terjadi media besar dan ternama menyebarkan informasi hoax atau yang belum tentu jelas kebenarannya.

Jurnalisme investigasi seperti apa yang dilakukan oleh tim Spotlight menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Hanya saja dibutuhkan spirit yang lebih tinggi demi mendapatkan fakta-fakta yang peculiar. Hugo de Burgh dalam Investigative Journalism (2008) memaparkan peliputan investigasi sangat berisiko karena berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, hal-hal yang sengaja disembunyikan, manipulasi laporan anggaran, serta sederet hal-hal yang bersifat memalukan.

Liputan investigasi tentu berseberangan dengan jargon jurnalisme kilat ‘yang penting cepat, biar salah nanti juga bisa diralat’. Seperti halnya ditunjukkan dalam film Spotlight, jurnalisme investigasi menekankan pada penguatan konsep berita serta kemampuan dalam analisis data. Oleh karena itu, sudah selayaknya para wartawan investigasi bekerja tanpa ada tekanan deadline. Wartawan investigasi seharusnya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas sebuah berita. Akan tetapi bekerja di dunia media dengan berbagai dinamikanya, apakah mungkin profesi wartawan tidak dibebani deadline?

Mark Ruffalo (Michael Rezendes) dan Rachel McAdams (Sacha Pfeiffer) dalam adegan Spotlight. (getty image)

Merujuk pada Dandhy Laksono (2010), jurnalisme investigasi sebetulnya sudah familiar di Indonesia semenjak tahun 1949. Kala itu, harian Indonesia Raya menjadi pionir terbitnya tulisan bertema investigatif. Mereka mengangkat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun sayangnya, budaya peliputan investigasi itu luntur ketika memasuki zaman orde baru. Jurnalisme pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mati suri lantaran dibungkam, media-media hanya menjadi kepanjangan tangan penguasa. Setelah tahun 1998, barulah kebebasan pers di Indonesia benar-benar bisa diraih. Media massa mulai berani mengabarkan carut marut pemerintahan pada masa itu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi serta terbukanya akses informasi publik, maka seyogyanya proses investigasi berjalan lebih mudah. Keberadaan laporan investigasi ini sangat menarik karena menyajikan narasi yang bukan sekadar fakta tapi ada analisis dari berbagai aspek. Budaya investigasi inilah yang patut dipertahankan oleh media massa di Indonesia. Sebab seperti apa yang diutarakan Stephen Doig, jurnalisme investigasi menghindarkan para jurnalis dari anekdot serta menyandarkan jurnalis pada fakta dan data.

Di lain sisi, risiko dan tantangan untuk melakukan investigasi tetap tidak berubah dari masa ke masa. Mereka dihadapkan pada dilema akan adanya bahaya jika mengungkapkan sebuah kebenaran. Barangkali hal tersebut menjadi pertimbangan para pekerja media untuk tetap berada di zona nyaman. Belum lagi masih adanya invisible hand yang serta merta bisa memberikan rasa was-was bagi para pekerja media maupun orang-orang yang siap menjadi whistle blower. Beruntungnya, masih banyak wartawan media maupun jurnalisme warga yang berani berbicara menegakkan kebenaran. Maka apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan bagi pekerja media yang menggeluti jurnalisme investigasi. (*)

———————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Icha Planifolia: Buku Memberi Saya Banyak Perjalanan Tanpa Batas

mm

Published

on

“Rumah saya berjarak sekitar 38 KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar”. Cerita Icha Planifolia yang kini bekerja sebagai Biomarker Science Liaison.

Perempuan penggerak “Malam Puisi Bandung” yang kini tinggal di Yogya ini, memiliki banyak cerita lain dengan buku-buku dan dunia membaca. Buku baginya seperti anugerah perjalanan tanpa batas. Dengan buku-buku ia menjelajah perjalanan, dunia, tempat-tempat yang tak bisa ia jajaki sebelumnya.

Kini ia ingin menulis buku dan anda tahu buku apa yang ingin ditulis dan dikerjakannya dengan sangat keras? Simak sendiri jawabannya berikut: “Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama”.

Kami menayankan beberapa pertanyaan lain pada Icha. Dan setiap jawaban sungguh layak kita simak. Begitu kaya inspirasi dan kisah. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

ICHA PLANIFOLIA

Bagi saya yang berasal dari dusun dan keluarga yang biasa saja, pada mulanya buku adalah pengantar untuk mengenal apa pun yang tidak pernah saya bayangkan dalam kehidupan saya. Kejadian-kejadian yang tidak ada di sekitar saya.

Buku mengantar saya merasakan perjalanan-perjalanan yang tidak pernah saya tempuh. Mengunjungi tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi. Memahami persoalan-persoalan yang mulanya bahkan tidak pernah melintas di kepala saya.

Karena itulah saya terus membaca. “Keep reading. It’s one of the most marvelous adventures that anyone can have.” (Lloyd Alexander)

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment berkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

ICHA PLANIFOLIA

Moment yang menjadi titik tolak saya berkenalan dengan buku adalah ketika usia 12 tahun, saya masuk sekolah menengah pertama. Pada masa orientasi siswa saya ditunjuk kakak kelas untuk maju menampilkan apa pun yang bisa saya tampilkan di hadapan seluruh siswa baru. Teman-teman lain ada yang bernyanyi, menari, bahkan pencak silat. Rasanya saya tidak punya keterampilan khusus semacam itu. Kakak pendamping saya mengusulkan pembacaan puisi. Ia bahkan berbaik hati meminjamkan puisi karyanya untuk saya bacakan, karena tentu saja saya tidak punya puisi karya saya sendiri sekaligus tidak hapal puisi karya penyair-penyair besar. Saya bahkan belum mengenal penyair kala itu.

Saya masih ingat puisi yang saya bacakan untuk pertama kalinya itu berjudul “Ziarah”, karya kakak kelas saya: Vincen Genera. Sejak hari itu, ada perasaan yang unik terhadap puisi. Semacam sebuah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya mulai mencari pinjaman bacaan yang berisi puisi. Majalah, buku, apa saja. Pelan-pelan saya menabung uang jajan saya. Waktu kenaikan kelas saya meminta Mama mengantar saya ke Gramedia. Betapa takjub saya, Gramedia itu besar sekali! Maklum rumah saya berjarak sekitar 38KM dari pusat kota. Dan orang tua saya tidak bisa mengajak saya terlalu sering berjalan-jalan ke pusat kota karena keterbatasan biaya. Itulah kali pertama saya memiliki buku  selain buku pelajaran sekolah. Kumpulan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.

INTERVIEWER

Beri tahu kami dimana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit –yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari, atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

ICHA PLANIFOLIA

Dulu, saya selalu suka menghabiskan waktu membaca buku di kamar tidur. Di atas ranjang saya, sembari berbaring. Kini, saya sudah memiliki ruang baca khusus.

Di ruangan itu, sebuah karpet merah saya gelar, bantal-bantal berbagai ukuran saya letakan di sana, lengkap dengan lampu baca kekuningan. Dengan rak buku dari kayu yang dibuat kekasih saya membatasi sisi utara karpet itu. Beberapa rak buku lain dipasang menggantung di dinding. Jadi saya membaca dinaungi buku-buku dan cahaya kekuningan. Sebelum mulai membaca, saya akan menyalakan dupa. Perjalanan pun dimulai…

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

ICHA PLANIFOLIA

Jika pertanyaan ini tidak dibatasi jumlah: satu, saya akan menjawab semua buku yang saya baca memengaruhi saya. Namun jika harus memutuskan satu buku, saya kira jawabannya adalah Bumi Manusia. Saya menjadi begitu gelisah usai membaca buku itu. Bukan saja mengenal sejarah, saya menyelami kemanusiaan, harga diri, perjuangan, dan kesetaraan dengan pemaknaan yang berbeda.

INTERVIEWER

Menurut anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang Indonesia? Kenapa?

ICHA PLANIFOLIA

Sayang sekali saya tidak bisa memikirkan lima buku. Yang terlintas di benak saya hanya empat buku: Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Bagi saya, membaca buku-buku itu adalah mempelajari sejarah dengan cara yang sangat menyenangkan. Sebab gaya bertutur Pram yang ‘showing’ bukan ‘telling’ membuat saya membayangkan setiap detil peristiwa dan pergolakan di masa kolonial. Tetralogi Buru bisa menjadi pemantik untuk mencari kebenaran peristiwa sejarah. Bagaimanapun, karya tersebut merupakan fiksi. Untuk mencari kebenaran sejarah buku fiksi tidak dapat menjadi landasan, sehingga kita perlu membaca lebih banyak buku lain untuk mengetahui mana peristiwa yang benar-benar terjadi, mana yang merupakan imajinasi penulis.

Selain itu, kita memang memiliki sejarah kelam dalam hal intoleransi. Buku-buku ini –bagi saya- sungguh-sungguh menyadarkan saya bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak layak disakiti atau direndahkan. Bahwa tidak ada pilihan lain dalam memperlakukan manusia kecuali memanusiakannya.

Berbicara peranan literasi, dalam buku itu kita dapat melihat bagaimana pergerakan perlawanan dapat dilakukan dengan menulis. Maka, membacanya menjadi sangat layak!

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

ICHA PLANIFOLIA

Saya coba jabarkan dalam kategori perubahan yang terjadi terhadap diri saya.

Pertama, yang begitu berpengaruh terhadap sisi kemanusiaan saya. Bumi Manusia. Selengkapnya sudah saya sampaikan pada jawaban nomor 4 dan 5.

Kedua, yang merangsang saya untuk berpetualang. Melihat Indonesia dan semua tempat lain lebih dekat. Berkenalan dengan masyarakat lokal. Belajar dari mereka. Belajar dari perjalanan. Belajar menjadi pemberani. Balada Si Roy karya Gol A Gong. Di kemudian hari, buku ini sungguh banyak mengubah saya. Mengantar saya menyambangi banyak tempat asing, mempelajari hidup di tempat-tempat yang jauh dari rumah.

Ketiga, yang mengubah persepsi saya tentang hal-hal yang demikian personal dan intim di hidup saya seperti ketuhanan, pernikahan, dan kesetaraan gender. Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami. Banyak dialog muncul di kepala saya, antara saya dan diri saya sendiri. Saya lebih banyak mengajak diri saya berbicara usai membaca buku ini.

Sebenarnya perubahan dalam sisi ini juga sangat dipengaruhi oleh buku Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Namun, saya membacanya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya masih belum siap dengan keliaran isi kepala saya ketika itu. Sehingga banyak pemikiran yang saya tepis. Banyak kegelisahan saya abaikan ketika itu.

INTERVIEWER

Misalnya anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beritahu kami apa judul yang akan anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali anda memang akan memulai menulisnya!

ICHA PLANIFOLIA

Hahaha…pertanyaannya provokatif sekali! Pertanyaan cerdas! Barangkali setelah ini banyak dari orang yang telah berpartisipasi dalam interview ini sungguh-sungguh mulai menulis. Memberikan kontribusi untuk dunia literasi. Sungguh jeli!

Saya ingin menulis sebuah kumpulan cerpen, merangkum banyak peristiwa tentu saja. Tema besarnya adalah bagaimana jika Tuhan menghapus konsep evil dalam kehidupan? Kisah-kisah di dalam buku itu akan menggambarkan kemungkinan dan waktu berjalan paralel. Intinya sebetulnya tentang efek domino. ‘Jika A maka B’ dan di saat yang sama terjadi ‘jika C maka D’. Isu yang dibawa sendiri yang terpikirkan dibenak saya sekarang adalah kemanusiaan, kesetaraan gender, dan fanatisme beragama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya Indonesia, dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir mengatasi ‘krisis’ literasi di Indonesia?

ICHA PLANIFOLIA

Saya begitu percaya bahwa semua berawal dari rumah. Kita bisa saja berkata apa pun tentang ‘kesalahan’ pemerintah atau siapa pun sehingga kita mengalami ‘krisis’ literasi. Tetapi saya selalu lebih suka membangun sesuatu daripada mengeluhkan apa yang ada. Maka, dimulai dari diri kita, rumah kita.

Menyuguhkan anak-anak dengan bacaan, mendampingi mereka membaca, mengajak mereka menulis buku harian sejak dini adalah hal-hal yang tampak sederhana namun saya yakin akan berdampak besar bagi diri anak yang suatu hari tumbuh menjadi manusia dewasa dan generasi penerus.

Sebab membaca dan menulis akan membuat setiap kita banyak berpikir, menganalisis, memahami setiap peristiwa tidak terbatas dari satu sudut pandang, dan paling penting tergerak membuat solusi untuk sesuatu hal yang dirasa sebagai sebuah persoalan. (*)

__________________________________________________________________________________________________________________

ICHA PLANIFOLIA: Karyawan swasta/ Biomarker Science Liaison. Menghabiskan masa kecil hingga meraih gelar apoteker di Bandung. Sempat tergabung dengan beberapa komunitas menulis, juga sempat menjadi penggerak Malam Puisi Bandung. Kini tinggal di Yogyakarta.

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Continue Reading

Inspirasi

Apa Dasar Pelukis Menentukan Harga Lukisan “Pesanan”?

mm

Published

on

Oleh: Guruh Ramdani*

Mula-mula mari kita nyatakan bahwa tulisan ini adalah tentang “Lukisan Pesanan”, sehingga seyogya dan sebijaknya untuk tidak lebih dulu mencampur-adukkan dengan andaian bahasan tentang “lukisan idealis”, karena hal itu tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir.

Ini bermula tatkala beberapa orang bertanya kepada saya mengenai dasar penentuan harga lukisan pesanan. Sebetulnya saya pribadi tidak punya pengetahuan khusus soal itu, semuanya hanya karena pengalaman bertahun tahun saja, itu pun sebetulnya saya jarang menerima pesanan, karena memang tidak secara terbuka saya umumkan atau sengaja saya cari, berhubung saya disibukkan dengan hal atau pekerjaan lain, utamanya mengajar, termasuk aktifitas melukis atas dorongan pribadi (juga), atau mungkin juga pertimbangan lain dari calon konsumen. Walau pun kalau ada pesanan dan harganya cocok ya saya kerjakan juga. Beberapa informasi didapat juga karena merupakan hasil diskusi (tidak langsung) dengan beberapa teman perupa. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Kualitas Karya
Tidak bisa dihindari, yang yang menjadi dasar pertimbangan pertama dan utama tentunya adalah kualitas karya. Untuk itu wajib bin kudu seorang seniman menguasai berbagai teknik secara maksimal, dalam hal ini tentunya adalah kemampuan teknis melukis realis, karena suka tidak suka, mayoritas orang yang memesan lukisan adalah “ingin dilukis secara realistis dan indah”, walaupun ada beberapa pengecualian kasus pesanan di dunia seni rupa yang pernah terjadi. Penguasaan teknis di sini adalah menyangkut ilmu melukisnya itu sendiri, maupun pengetahuan dan penggunaan alat dan bahan. Kuasai teknik semua alat dan bahan untuk melukis, jangan hanya terpaku akan satu alat saja. Semakin luas teknik yang kita kuasai akan semakin besar peluangnya. Karena biasanya permintaan konsumen itu suka ada yang ingin dilukis dengan alat dan bahan tertentu.

Kwalitan serta Harga Alat dan Bahan yang Dipergunakan
Seperti yang diketahui bersama bahwa alat dan bahan untuk melukis tidaklah murah. Hal ini harus dipisahkan sebagai indikator memberikan biaya, apakah menggunakan pensil atau cat, di atas kertas atau kanvas, menggunakan pigura atau tidak, harus dihitung dari awal. Sehingga komponen ini bisa menjadi pertimbangan argumentasi kita ketika meminta DP di muka.Kwalitas alat dan bahan pun harus menjadi pertimbangan yang penting dan tidak boleh diabaikan atau sembarangan. Karena perlu diketahui, melukis menggunakan alat dan bahan yang berkualitas secara visual pun akan terlihat lebih keluar kualitas warnanya, dan (justru) penggarapannya pun lebih mudah. Penggunaan alat dan bahan yang berbeda pun (berdasarkan sifatnya masing masing), akan menentukan lamanya waktu pengerjaan, dan itu pun harus diperhitungkan.

Ukurannya
Karena harus diingat, ukuran akan menentukan juga lamanya waktu pengerjaan berikut banyaknya alat dan bahan yang dipergunakan.

Jumlah Kepala Orang yang Akan Dilukis
Hal ini tentunya sudah jadi pengetahuan umum teman teman, karena jika lukisan potret wajah, yang menjadi titik sentral jualannya adalah kemiripan wajahnya. Namun sebaiknya jumlah kepala ini harus dibedakan antara satu orang dengan beberapa orang, jika satu orang nilai jualnya adalah misalkan 600 ribu, maka harus dibagi menjadi dua indikator, yang tiga ratus ribu adalah cat, kanvas, dan kwas yang akan aus; dan yang tiga ratus ribu berikutnya adalah nilai pekerjaan atau jasanya. Sehingga jika harus mengerjakan sebanyak tiga orang dalam satu kanvas, nilai lukisannya adalah 600 ribu ditambah 300 ribu kali dua orang (tambahan), atau satu juta dua ratus ribu rupiah. Tentu biaya ini pun di luar biaya pigura.

Tingkat Kesulitan Pengerjaan
Misalkan, apakah pakaiannya polos atau bermotif rumit (seperti batik)? Apakah background harus digambar secara utuh atau boleh dibuat polos? Kalau memang rumit, baiknya dikenakan saja biaya tambahan, misalkan dari tiga orang, yang menggunakan batik yang rumit satu orang, maka yang satu orang ini dikenakan biaya tambahan misalkan 150 ribu sendiri.

Pengiriman dan Packaging
Seperti yang kita ketahui bahwa pihak jasa pengiriman paket akan menghitung biaya berdasarkan, panjang kali lebar kali berat. Apabila si pemesan ingin dipigura sendiri alias lukisannya dikirim dengan cara digulung, saya tidak membebankan biaya pengiriman apabila masih dalam lingkup pulau Jawa, namun apabila harus ke luar Jawa apalagi ke luar negeri, ya suka tidak suka harus ditanyakan dulu kepada pihak jasa pengiriman. Apabila menggunakan Pigura, apalagi jika menggunakan kaca, maka ukuran lukisan pun akan menjadi lebih besar dari ukuran aslinya, karena jika pinggirannya saja 10 cm, maka lukisan yang berukuran 30 X 40 cm saja akan menjadi 50 X 50 cm, belum lagi beratnya. Belum lagi (kalau pakai kaca) harus dipacking kayu, tentunya akan bertambah berat lagi. Maka bisa dipastikan, efek dari biaya pengiriman semacam ini ini akan membuat rasa terkejut dengan jumlahnya kalau tidak diantisipasi dari awal.

Lamanya Waktu Pengerjaan
Sebaiknya untuk soal ini dihitung berdasarkan jumlah jam, bukan hari, karena bisa saja ada hari yang kosong, dan kita pun harus beristirahat atau mengerjakan soal lain. Atau bisa saja secara teknis jumlah harinya satu bulan, namun jumlah pengerjaannya adalah 60 jam. Maka jika (seandainya) seorang buruh bangunan dibayar 120 ribu per delapan jam kerja, tentunya kita bisa menghitung kapasitas kita, apakah mau dihargai lebih atau kurang dari itu. Kalau selama delapan jam saya dibayar mengajar sekian rupiah, maka saya bagi delapan, dan (kalau saya pribadi) saya naikan menjadi 150 persen dari bayaran yang biasa saya terima tersebut. Karena bagi saya hal tersebut hitungannya adalah lembur.

Sekali tersebut, biaya tersebut hanyalah menyangkut jasa atau waktunya saja, di luar biaya alat dan bahan, apalagi pigura.

Sampai poin di atas harus dibicarakan atau ditanyakan di muka dengan pihak pemesan secara terbuka sebelum menentukan biayanya. Jangan tergesa gesa menentukan harga sebelum dihitung dengan cermat. Lihat dulu fotonya sebelum dilukis, karena dari sana akan bisa ditebak tingkat kesulitannya. Minimal kita bisa menghitungnya dalam kisaran satu atau dua jam. Apalagi untuk pengiriman yang sifatnya di luar kebiasaan atau jauh harus ditanyakan dulu ke pihak jasa pengiriman sebelum diputuskan. Jangan sampai kita merasa nilai pekerjaan kita besar tapi setelah selesai dan dihitung ulang, malah lebih banyak kerja baktinya.

Lingkup Pergaulan (Relasi) dan Citra yang Ditampilkan
Dalam ilmu ekonomi dinyatakan bahwa barang yang sama (misalkan Coca Cola) jika dijual di tempat yang berbeda (di pinggir jalan, di Supermarket, atau di Hotel) akan berbeda pula nilainya. Maka bagi adik adik yang masih sekolah dan lingkup pergaulannya mayoritas adalah teman teman sebaya, mungkin jika mendapat order dari teman teman, sudah bisa ditebak uang saku temannya itu berapa, dan nilai apresiasinya pun terukur. Namun bagi mereka yang cenderung sudah berumur, dan teman temannya sudah banyak yang sukses, apalagi jika orangnya supel, teman dari temannya tersebut juga bisa menjadi pelanggannya. Walau pun demikian, di era teknologi informasi ini, asalkan kita konsisten berkarya, hal hal semacam itu bisa cepat diatasi, yang penting adalah kembali ke poin pertama di atas, “kualitas karya”. Lingkup pergaulan pun bisa dibentuk dengan berpameran, yang akan membuka akses serta kepercayaan publik baik itu masyarakat awam maupun kolektor (akan kesungguhan kita) sebagai perupa, atau juga mengunjungi pameran dan bersilaturahmi dengan sesama seniman biasanya akan membuka akses ke soal ini.

Nilai Inflasi
Kita tahu bahwa semakin lama harga barang juga semakin naik tiap tahunnya. Maka dengan penuh kesadaran kita pun harus memperhitungkan soal ini, dan secara berkala kita harus menaikkan harga setiap tahun secara berkala, entah 5 atau 10%, sehingga tidak terseret perekonomian global. Harus diwaspadai pula kenaikan harga yang terlalu melonjak, karena bisa jadi dalam waktu sesaat anda bisa dapat order dengan nilai sangat besar, tapi puasa dalam jangka panjang.

Atau harga kita di satu sisi sangat tinggi, namun pada saat lain banting harga, sehingga bisa menimulkan ketidakpercayaan di mata konsumen yang pernah memesan. Kenaikan harga itu harus, tapi sedikit demi sedikit dan wajar.

Tingkat Keterkenalan dan Jam Terbang si Pelukisnya.
Suka tidak suka faktor ini akan sangat menentukan nilai jual. Karena tidak mudah juga membentuk nama ini, jadi kita tidak bisa dengan mudah mengatakan, “kok karya saya lebih bagus dari si anu, tapi dia bisa laku mahal sementara saya tidak?” Menyangkut soal ini yang harus dilakukan adalah harus konsisten berkarya dan berpameran, ada atau tidak ada order. Karena tentunya orang yang punya nama itu juga menikmati hasilnya setelah melalui berbagai macam fase perjuangan. Kualitas atau level pameran yang diikuti pun tentunya harus menjadi bahan pertimbangan yang penting pula.

Guruh Ramdani dan karya lukisanya. /Getty Image/ adm/ FB 2016

Jumlah Cadangan Devisa (si Seniman) dan Tingkat Kebutuhannya.
Artinya, jika cadangan devisa, asset atau tabungan) si seniman aman (misalkan si seniman punya tabungan 50 juta rupiah di Bank) maka jadi logis saja jika dia memberikan nilai 5-10 juta untuk satu buah pekerjaannya, karena kira kira, sekian bulan ke depan hidup dia aman. Masa sih dalam satu bulan tidak ada kerjaan sama sekali? Kan kecil kemungkinannya. Atau bisa saja malah dalam satu bulan ada tiga pekerjaan. Maka dari itu, sang seniman pun seharusnya secara berkala menabung penghasilannya, dan secara bertahap (juga) membeli peralatan yang lebih berkualitas.

Hukum Pasar (Menyangkut Permintaan dan Penawaran)
Jika nama kita sudah di atas dan permintaan tinggi, tentunya secara otomatis harga pun akan naik dengan sendirinya.

Sekian mudah mudahan ada manfaatnya. Apa yang ditulis di atas bukan satu satunya dasar pertimbangan atau ketentuan yang tidak bisa ditawar tawar. Dalam prakteknya tentu tidak bisa dihindari adanya negosiasi. Belum lagi pertimbangan lainnya berdasarkan pengalaman masing masing.

“Pak kalau setelah dipraktekkan yang di atas dirasa kemahalan sehingga konsumen nolak, bagaimana?” Kalau saya sih biasanya bertahan, ndak jadi juga tidak masalah. Karena ya itu, menyangkut cadangan devisa tersebut. Lagi pula saya punya penghasilan dan pekerjaan tetap, tidak bergantung dari situ. Di sisi lain, pemesan kita pun mayoritas biasanya sudah bisa mengukur nilai atau kualitas kita. Jadi saran saya anda tetaplah berkarya, ada atau tidak ada pesanan, karena hal tersebutlah yang akan memancing pekerjaan. Syukur syukur (dan ini tidak mustahil) karya yang bukan pesanan tersebut malah dibeli orang dengan nilai lebih tinggi dari karya pesanan. Jika kita baru berkarya satu atau dua buah, namun berharap mendapatkan harga yang tinggi tentu hanya akan berakhir sebagai mimpi, walau pun karya kita bisa dibilang bagus atau luar biasa. Atau dengan kata lain, setelah punya bakat bagus, kita pun harus punya konsistensi berkarya.

Akhirnya seperti saya nyatakan pada awal tulisan ini; yang mau berkomentar, atau urun saran, tolong bingkai diskusinya adalah “Lukisan Pesanan”, sehingga tidak dicampur-adukkan dengan “lukisan idealis”, karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir. Terima kasih.. (*)

————————————

*Guruh Ramdani, Pelukis.

Continue Reading

Trending