Connect with us

Inspirasi

Kemenangan Jurnalisme (Investigasi) Sekali Lagi…

mm

Published

on

Kesuksesan Spotlight meraih gelar Best Picture dalam ajang Academy Awards (Oscar) 2016 menjadi pembelajaran penting untuk dunia jurnalistik di Indonesia. Merebaknya isu senjakala media cetak dan semakin berkembangnya media berbasis daring tidak selayaknya menjadi suatu premis yang diperdebatkan. Isu-isu sentral seperti kualitas pemberitaan yang dimuat, penelusuran data, hingga teknik wawancara sejatinya tidak bergantung pada media apa yang digunakan, akan tetapi seperti apa metode yang diterapkan wartawan dalam memburu berita.

Film yang berangkat dari kisah nyata para reporter The Boston Globe ini seolah mengingatkan kembali akan pentingnya metode dalam penggalian data untuk berita. Film arahan sutradara Tom McCarthy tersebut secara gamblang menggambarkan betapa heroiknya Tim Spotlight – tim investigasi di koran The Boston Globe- membongkar kasus pedofilia yang melibatkan lebih dari 90 pastur di Gereja Katolik di sekitar Boston.

Pemberitaan yang dipublikasikan Tim Spotlight sejak tahun 2002 itu bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga membuka fakta bobroknya sistem hukum dan agama di Boston yang ditutup-tutupi selama beberapa dekade. Tercatat, tim Spotlight telah menulis 600 artikel dalam kurun waktu setahun mengenai kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pastur dari berbagai sudut pandang. Melalui metode jurnalisme investigasi serta mengedepankan jurnalisme data, tim reportase yang dimotori Marty Baron dkk ini menunjukkan bagaimana seharusnya media menyampaikan informasi secara akurat, jujur dan lengkap. Nilai-nilai itulah yang perlahan memudar di beberapa media-media Indonesia.

Tuntutan masyarakat akan kebutuhan konsumsi berita yang paling update disinyalir sebagai biang keladi terjadinya kompetisi antarmedia untuk menyajikan informasi secara cepat. Harus diakui, saat ini distribusi informasi relatif sangat mudah. Setiap orang bisa menjadi jurnalis untuk pengikutnya di portal media sosial atau website atau disebut mekanisme citizen journalism. Sayangnya, informasi yang super kilat itu tidak diimbangi dengan tingkat akurasinya. Bahkan, kerapkali terjadi media besar dan ternama menyebarkan informasi hoax atau yang belum tentu jelas kebenarannya.

Jurnalisme investigasi seperti apa yang dilakukan oleh tim Spotlight menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Hanya saja dibutuhkan spirit yang lebih tinggi demi mendapatkan fakta-fakta yang peculiar. Hugo de Burgh dalam Investigative Journalism (2008) memaparkan peliputan investigasi sangat berisiko karena berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, hal-hal yang sengaja disembunyikan, manipulasi laporan anggaran, serta sederet hal-hal yang bersifat memalukan.

Liputan investigasi tentu berseberangan dengan jargon jurnalisme kilat ‘yang penting cepat, biar salah nanti juga bisa diralat’. Seperti halnya ditunjukkan dalam film Spotlight, jurnalisme investigasi menekankan pada penguatan konsep berita serta kemampuan dalam analisis data. Oleh karena itu, sudah selayaknya para wartawan investigasi bekerja tanpa ada tekanan deadline. Wartawan investigasi seharusnya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas sebuah berita. Akan tetapi bekerja di dunia media dengan berbagai dinamikanya, apakah mungkin profesi wartawan tidak dibebani deadline?

Mark Ruffalo (Michael Rezendes) dan Rachel McAdams (Sacha Pfeiffer) dalam adegan Spotlight. (getty image)

Merujuk pada Dandhy Laksono (2010), jurnalisme investigasi sebetulnya sudah familiar di Indonesia semenjak tahun 1949. Kala itu, harian Indonesia Raya menjadi pionir terbitnya tulisan bertema investigatif. Mereka mengangkat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun sayangnya, budaya peliputan investigasi itu luntur ketika memasuki zaman orde baru. Jurnalisme pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mati suri lantaran dibungkam, media-media hanya menjadi kepanjangan tangan penguasa. Setelah tahun 1998, barulah kebebasan pers di Indonesia benar-benar bisa diraih. Media massa mulai berani mengabarkan carut marut pemerintahan pada masa itu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi serta terbukanya akses informasi publik, maka seyogyanya proses investigasi berjalan lebih mudah. Keberadaan laporan investigasi ini sangat menarik karena menyajikan narasi yang bukan sekadar fakta tapi ada analisis dari berbagai aspek. Budaya investigasi inilah yang patut dipertahankan oleh media massa di Indonesia. Sebab seperti apa yang diutarakan Stephen Doig, jurnalisme investigasi menghindarkan para jurnalis dari anekdot serta menyandarkan jurnalis pada fakta dan data.

Di lain sisi, risiko dan tantangan untuk melakukan investigasi tetap tidak berubah dari masa ke masa. Mereka dihadapkan pada dilema akan adanya bahaya jika mengungkapkan sebuah kebenaran. Barangkali hal tersebut menjadi pertimbangan para pekerja media untuk tetap berada di zona nyaman. Belum lagi masih adanya invisible hand yang serta merta bisa memberikan rasa was-was bagi para pekerja media maupun orang-orang yang siap menjadi whistle blower. Beruntungnya, masih banyak wartawan media maupun jurnalisme warga yang berani berbicara menegakkan kebenaran. Maka apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan bagi pekerja media yang menggeluti jurnalisme investigasi. (*)

———————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Inspirasi

Meniti Bahagia, Menapaki Jalan Sunyi Siddhartha

mm

Published

on

Kebahagian adalah ketika seseorang dapat mengalahkan egonya sendiri, demikian intisari utama moralitas yang diajarkan Siddhartha Gautama.

Siddharta Gautama, atau kemudian lebih terkenal dengan nama ‘Buddha’ adalah pribadi ‘Yang Tercerahkan’ jiwanya, setelah melewati jalan panjang dalam kesunyian. Gautama hidup di masa di mana agama dan mitologi dipertanyakan. Di Yunani, pemikir seperti Pythagoras menguji kosmos menggunakan akal, dan di China, Laozi dan Confucius melepaskan etika dari dogma agama.

Buddhisme sebagai filsafat

Brahmanisme, agama yang telah berevolusi dari Vedaisme—kepercayaan kuno berdasarkan teks suci Veda—adalah kepercayaan yang paling banyak dianut di India pada abad ke 6 sebelum masehi, dan Siddharta Gautama adalah orang pertama yang menantang ajarannya dengan nalar filosofis.

Gautama, meskipun dipuja oleh para penganut ajaran Buddha karena kebijaksanaannya, bukanlah seorang mesias atau seorang nabi, dan dia tidak bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan Manusia. Ide-idenya datang melalui penalaran, bukan wahyu ilahi, dan inilah yang menandai buddhisme sebagai filsafat dari pada sebuah agama. Pencariannya adalah suatu proses yang filosofis – untuk menemukan kebenaran–dan Gautama percaya bahwa kebenaran yang dia usulkan tersedia bagi kita semua melalui kekuatan nalar.

Seperti kebanyakan filsuf timur, dia tidak tertarik pada pertanyaan metafisik yang tak terjawab dan hanya sebatas menyibukkan orang-orang Yunani. Gautama menilai bahwa manusia yang bersikeras berurusan dengan entitas di luar pengalaman yang dimiliki sebagai manusia, dapat berujung pada spekulasi yang tidak masuk akal. Gautama sendiri percaya, kesibukan mencari sesuatu yang ada ‘di luar’ dirinya akan menegasikan hal penting yang seharusnya dilakukan oleh manusia; yaitu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang tujuan hidup yaitu merumuskan bagaimana sejatinya konsep kebahagiaan, kebajikan, dan kehidupan yang ‘baik’.

Jalan Tengah

Di kehidupan awal, Gautama menikmati kemewahan dan semua kesenangan indra. Namun, Gautama menyadari bahwa apa yang dimiliki pada saat itu tidak cukup untuk membawa dirinya pada kebahagiaan sejati. Dia sangat sadar akan penderitaan di dunia, dan melihat bahwa penderitaan manusia datang dari beragam bentuk, mulai dari penyakit, menjadi tua, kematian, dan kemiskinan.

Gautama mengakui bahwa kesenangan indra yang kita nikmati untuk menghilangkan penderitaan sejatinya jarang memberikan rasa puas yang utuh, ia percaya bahwa kesenangan itu bersifat sementara. Gautama kemudian menemukan pengalaman asketisisme ekstrim, dalam bentuk kesederhanaan dan berpantang. Namun apa yang ditempuh Gautama saat itu tidak membawa pada titik yang lebih dekat dengan pemahaman tentang kebahagiaan itu sendiri.

Akhirnya Gautama sampai pada kesimpulan bahwa harus ada ‘jalan tengah’ antara kesenangan diri dan penyiksaan diri. Jalan tengah ini, menurutnya, harus mengarah pada kebahagiaan sejati, atau ‘pencerahan’ dan untuk menemukannya, ia menggunakan penalaran berdasarkan pada pengalamannya sendiri.

Gautama menyadari bahwa penderitaan bersifat universal. Di mana penderitaan itu sendiri adalah bagian integral dari keberadaan, dan akar penyebab penderitaan kita adalah kefrustrasian manusia antara keinginan dan harapan.

Keinginan-keinginan ini dia sebut ‘keterikatan’, dan keterikatan yang dimaksud tidak hanya keinginan-keinginan indra dan ambisi duniawi kita, tetapi naluri kita yang paling dasar untuk mempertahankan diri kita sendiri. Memuaskan keterikatan ini, menurutnya, dapat membawa kepuasan jangka pendek, tetapi bukan kebahagiaan dan kedamaian pikiran.

Bukan Kehendak Diri

Langkah berikutnya dalam penalaran Gautama adalah bahwa penghapusan keterikatan akan mencegah kekecewaan, dan menghindari penderitaan. Namun untuk mencapai hal ini, dia menyarankan menemukan akar penyebab dari keterikatan kita, yaitu keegoisan itu sendiri. Gautama percaya bahwa keegoisan lebih dari sekedar kecenderungan kita untuk mencari kepuasan dan membuat kita terikat.  Jadi membebaskan diri kita dari keterikatan yang menyebabkan kita kesakitan tidak cukup hanya dengan meninggalkan hal-hal yang kita inginkan—kita harus mengatasi keterikatan kita dengan apa yang diinginkan oleh “diri kita sendiri”.

Tapi bagaimana kita bisa mencapai titik itu? Keinginan, ambisi, dan harapan adalah bagian dari sifat manusia, dan bagi sebagian besar manusia merupakan alasan untuk hidup. Jawabannya, bagi Gautama, bahwa dunia ego adalah ilusi—sebagaimana ia tunjukkan, sekali lagi, oleh proses penalaran. Dia berpendapat bahwa tidak ada di alam semesta yang disebabkan oleh diri sendiri, karena semuanya adalah hasil dari beberapa tindakan sebelumnya, dan masing-masing dari kita hanyalah bagian sementara dari proses kekal lainnya—yang pada akhirnya tidak kekal dan tanpa substansi.

Pada kenyataannya, tidak ada ‘diri’ yang bukan bagian dari entitas yang lebih besar—atau dari ‘bukan kehendak diri’—dan penderitaan disebabkan oleh kegagalan kita untuk mengenali hal ini. Namun, bukan berarti kita mengingkari keberadaan atau identitas pribadi, sebaliknya kita harus memahami diri sendiri apa adanya, bahwa manusia atau ‘diri’ hanya bersifat sementara dan insubstansial.

Dalam pada itu, menuju jalan Gautama, manusia sejatinya memahami konsep ‘bukan kehendak diri’ dimana  tidak ada yang abadi dari hasrat, ambisi dan ekspetasi, alih-alih melekat pada gagasan menjadi “pribadi” yang unik, adalah kunci untuk kehilangan keterikatan itu, dan menemukan pelepasan dari penderitaan.

Jalan Berunsur Delapan

Gautama menelaah sebab-sebab penderitaan yang dialami manusia dengan melihat lebih dalam ke dalam filosofi “Empat Kebenaran Mulia”. Lewat ajaran tersebut, Gautama menelaah bahwa penderitaan itu bersifat universal; keinginan adalah penyebab dari penderitaan; penderitaan dapat dihindari dengan menghilangkan hasrat atau keinginan; dan cara terbaik untuk menghilangkan hasrat adalah dengan mengikuti ‘Jalan Berunsur Delapan’.

Kebenaran terakhir ini mengacu pada apa yang menjadi panduan praktis untuk mencapai “jalan tengah” yang diberikan oleh Gautama bagi para pengikutnya untuk mencapai pencerahan. Jalan Berunsur Delapan (tindakan yang benar, niat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, konsentrasi yang benar, ucapan yang benar, pemahaman yang benar, dan perhatian yang benar) adalah kode etik—resep untuk kehidupan yang baik dan resep kebahagiaan yang pertama kali ditemukan oleh Gautama.

Menuju Nirwana

Gautama melihat tujuan akhir kehidupan di Bumi adalah untuk mengakhiri siklus penderitaan (kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali) di mana kita dilahirkan. Dengan mengikuti Jalan Berunsur Delapan, seseorang dapat mengatasi egonya dan menjalani kehidupan yang bebas dari penderitaan dan menikmati pencerahannya. Terpenting, melalui Jalan Berunsur Delapan, sesorang dapat menghindari rasa sakit dari reinkarnasi ke dalam kehidupan dan penderitaan yang lain. Orang yang memahami filosofi dari Jalan Berunsur Delapan akan lebih menyadari nilai “bukan kedirian” dan menjadi satu dengan yang kekal. Pada titik itu, orang telah terlepas dari hal ‘kedirian’ telah mencapai titik Nirwana—yang secara beragam diterjemahkan sebagai “ketidakterikatan”, “tidak-menjadi”, atau secara harfiah “menerangi” (baca: sebagai lilin).

Dalam brahmanisme sewaktu masa Gautama, Nirwana dipandang sebagai satu dengan Tuhan, tetapi Gautama secara hati-hati menghindari penyebutan Tuhan atau tujuan akhir untuk hidup. Dia hanya menggambarkan Nirwana sebagai “tidak dilahirkan, tidak beradab, tidak diciptakan dan tidak berbentuk”, dan melampaui segala pengalaman inderawi.

Setelah melewati masa pencerahannya, Gautama menghabiskan bertahun-tahun berkeliling India, ia berkhotbah dan mengajar. Selama masa hidupnya, ia memperoleh banyak pengikut dan Buddhisme menjadi mapan sebagai agama sekaligus filsafat. Ajarannya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh para pengikutnya, sampai abad ke-1, para pengikutnya mulai menulis ajaran Gautama untuk pertama kalinya. Berbagai aliran mulai muncul ketika Buddhisme tersebar di seluruh India, dan kemudian menyebar ke timur ke Cina dan Asia Tenggara. Buddhisme kemudian menyaingi popularitas Confusianisme dan Taoisme.

Ajaran Gautama menyebar hingga ke kekaisaran Yunani pada abad ke-3 SM, tetapi memiliki pengaruh kecil pada filsafat barat. Namun, ada kesamaan antara pendekatan Gautama terhadap filsafat dan filsafat orang-orang Yunani, yaitu  penekanan Gautama pada penalaran sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan, dan disiplinnya menggunakan dialog filosofis untuk mendidik ajaran-ajarannya.

Pemikiran Gautama akhirnya menemukan gema dalam ide-ide filsuf barat kemudian, seperti dalam konsep David Hume tentang diri dan pandangan Schopenhauer tentang kondisi manusia. Tetapi baru pada abad ke-20, Buddhisme memiliki pengaruh langsung terhadap pemikiran Barat. Sejak saat itu, semakin banyak orang Barat yang beralih ke Buddhisme sebagai pedoman tentang cara hidup. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Inspirasi

Kreativitas Tanpa Batas Bersama Warga Lapas dan Muhidin M Dahlan

mm

Published

on

Oleh: Danang Pamungkas *)

Dari dulu saya paling takut dengan penjara, isinya adalah bangunan kotak kosong, dinding yang tinggi membatasi interaksi, dan besi yang menutupi ruangan. Penjara selalu identik dengan kelompok kriminal, penjahat, dan tempat terburuk bagi manusia. Namun di hari sabtu tepatnya tanggal 5 Mei 2018, saya menginjakkan kaki di tempat yang saya takuti. Saya melihat dengan jelas jeruji paku yang panjangnya melingkari luas tahanan seperti stadion sepak bola. Dinding lapas lebih tinggi ketimbang apa yang saya bayangkan dalam mimpi, sementara puluhan petugas keamanan sudah mengawasi beserta kamera tersembunyi di balik dinding dan jeruji. Saya seperti orang yang diawasi oleh mata di setiap sudut lokasi, gerak-gerik tubuh, dan sorot mata-pun bisa dianalisa oleh piranti canggih era-milenial.  Terbersit dipikiran saya ketika membayangkan bagaimana tokoh utama di dalam  Novel George Orwell berjudul “1984” yang diawasi ketat oleh sistem keamanan yang canggih dan membuat pikirannya di penjara oleh sistem.

Lalu pertanyaan saya muncul, bagaimana bisa warga lapas disini malah membuat pameran literasi, komunitas baca, dan membuat karya?

Saya pun berjalan lebih cepat, melewati pintu demi pintu untuk sampai di gedung pameran. Benar saja, ruangan lapas di dipenuhi lukisan, komik, kata-kata mutiara, kerajinan tangan, dan puisi. Ruangan ini mirip dengan pamertan arsip ketimbang lapas narkotika. Entah ruangan ini yang mendesain adalah warga lapas atau petugas, yang jelas hampir mustahil mendesain ruangan sedemikian rupa tanpa ide, kreatifitas, dan kerja keras.

Saya-pun bertemu dengan warga lapas yang saya lupa namanya. Ia yang mendirikan merek dagang “Patub-Porx” di bidang ukiran kulit, sablon kaos, drawing gambar, dan aneka seni rupa. Merek ini bisa dilihat di Instgram @patub_porx. Berperawakan tatoan di sekujur badan dan tindik di dua telinganya, dibalut pakaian biru-kuning, saya agak canggung untuk ngobrol dengannya. Maklum lingkungan saya adalah kumpulan orang-orang yang tidak tau seni.

Mas Patub-Porx bercerita bagaimana tahun 2017 lalu, , ia membantu temannya yang menjadi warga lapas – mendesain ruangan, dan memamerkan karya. Namun pada 2018 ini ia malah masuk menjadi penghuni lapas bersama temannya. Ia tertawa tak habis pikir, bagaimana nasibnya kini sama dengan temannya.

“Kalau pameran ini saya bersama teman-teman saling sharing dan belajar bareng untuk membuat pameran. Kalau disini semua orang bisa belajar apapun mas. Sudah lihat lukisan saya di lantrai dua belum? Kalau saya melukis bisanya dengan metode Drawing. Nah Mas Danto itu yang menggerakkan teman-teman untuk membuat komunitas baca Kopiku, dan berkesenian disini,” Ucapnya sambil tertawa.

Saya pun berjalan ke ruang pameran lantai dua untuk melihat lukisan Mas Patub_Porx, sekaligus mengikuti workshop penulisan tanpa batas yang dipandu oleh Muhidin M Dahlan (Gus Muh). Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Pecinta Buku Lapas (Kopiku), Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas, Kemenkumham Yogyakarta, dan Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta.

Lukisan dari Patub_Porx mempunyai kesan dan pesan yang dalam akan religiusitas dan moral. Ia seperti sedang mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa ke-egoisan, kemunafikan, dan kejahatan adalah sifat keduniawian yang harus dihindari. Enam buah lukisannya memiliki ciri khas, dan pesan yang kuat. Orang awam-pun pasti paham makna yang ingin disampaikan oleh si pelukis.

Diskusi-pun dimulai. Banyak orang yang berkumpul termasuk warga lapas, penjaga, pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, orang tua, dan aktivis. Saya sebenarnya takut untuk duduk bersebalahan dengan warga lapas, entah pengaruh stereotype lingkungan saya yang diskriminatif atau memang pikiran saya  yangcselalu negatif. Suasana gembira tanpa beban terlihat dari wajah para warga lapas, mereka minum kopi seperti sedang duduk di Cafe Legend, Kota Baru Jogja.

Warga lapas dengan antusias mendnegarkan ceramah Gus Muh  yang berdiri sambil mengerakkan tubuhnya untuk mempraktekkan cara penulis dalam mengimajinasikan subjek dan benda. Gelak tawa tahanan pun pecah, melihat Gus Mus dengan semangat memberikan trik dan tips dalam proses menulis.

“Jangan selalu ingin menulis  tokoh besar seperti Sukarno atau Pramoedya Ananta toer. Menulislah dengan cara kalian sendiri. Materi disekitar kita itulah yang paling mudah untuk kita tulis. Saya pernah membaca pernyataan Pram, bahwa ia tak mungkin bisa produktif menulis menghasilkan banyak buku kalau tidak di penjara. Nah di penjara inilah daya kreatifitas bisa dimaksimalkan lebih jauh. Saya selalu menolak anggapan bahwa biografi selalu identik dengan tokoh besar, saya kemudian menulis biografi tokoh yang bukan siapa-siapa, dan banyak orang yang meremehkan tokoh tersebut, buku saya itu berjudul “Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur.” Dan ternyata benar cerita tokoh tersebut dipahami dan dianggap berharga oleh banyak orang, sampai sekarang bisa tercetak hingga 100 ribu eksemplar. Setelah itu saya yakin semua individu memliki cerita yang unik dan rahasia. Sebenarnya  semua orang bisa dijadikan bahan untuk menulis, jadi menurut saya sekarang ini teman-teman (warga lapas) bisa belajar menulis biografi temannya di satu ruangan atau beda ruangan, bayangkan berapa puluh cerita yang akan bisa di tulis dan diterbitkan.”

“Kalau saya ketemu teman-teman saya, hal yang paling saya sukai adalah melakukan wawancara. Saya selalu mencatat, dan catatan itu saya jadikan bahan cerita untuk buku-buku saya. Nah mungkin teman-teman bisa mencobanya, tulis saja pengalaman teman kalian, bahkan sedetil  mungkin sampai bentuk wajah, hidup, sifat, dan karakternya. Saya yakin itu akan menjadi tulisan yang luar biasa menarik.”

Ia juga membahas bagaimana benda-benda disekitar lapas bisa ditulis menjadi beragam tema. Bagaimana batu, besi, jeruji, dinding, dan baju bisa dibuat tulisan sederhana yang bisa menguraikan kata-kata menjadi tulisan.

Setelah diskusi selesai, saya pun menyapanya untuk berdiskusi mengenai kegiatan literasi penjara. Ia duduk santai sambil menandatangani buku-bukunya, dan sesekali berbincang dengan warga lapas. Saya mearsa beruntung bisa ngobrol dengannya.

“Penjara itu kan batasan, tapi menulis membuatnya tidak terbatas. Tapi harus tahu caranya, menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa. Bagi mereka benda-benda di dalam lapas itu sudah biasa, sehingga pikiran mereka sudah terstruktur (merasa biasa saja). Itulah yang membuat mereka merasa biasa sekali. Nah bagaimana cara membuat itu tidak biasa. . . kita belajar sastra itu tidak di dapatkan, dari SD dan SMP itu – kita hanya belajar Bahasa Indonesia bukan Sastra Indonesia. Kita belajar menulis sastra kan hanya di luar (komunitas) bagaimana menulis sejak kecil hanya di suruh menulis pergi ke rumah nenek atau kenakalan remaja, sebenarnya kan ada banyak tema yang bisa di eksplorasi. Menulis itu  pekerjaan jalan-jalan dan senang-senang. . . Menurut saya (Literasi penjara) merupakan terobosan, ternyata buku dan kreatifitas bisa masuk dalam penjara – untuk pembekalan mereka bagaimana nanti keluar.”

Gus Muh adalah seseorang yang sangat menginsiprasi banyak anak muda di generasi saya.  Ia banyak menulis buku, dan esai di beberapa media online. Ketika ia bersama  pegiat literasi mendirikan Radio Buku dan Warung Arsip, teman-teman saya merasa terwadahi dan sering nongkrong disana. Meskipun begitu, sampai sekarang saya belum pernah nongkrong di Radio Buku karena  faktor kemalasan.

Pameran literasi pun resmi di tutup oleh penampilan Band Reggae yang membuat suasan begitu berkesan. Beberapa warga lapas ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, gelak tawa, dan candaan begitu bising di ruangan. Saya pun juga ikut menggerakkan badan sambil berfoto selfie dengan mereka. Sehari berada di dalam lapas, membuat pandangan saya tentang warga lapas berubah. Lapas bukanlah tempat haram, dan  bukanlah sarangnya penjahat. Lapas hanya tempat yang kebetulan dibuat oleh pemerintah untuk menampung sahabat kita yang sedang tidak beruntung dan butuh perhatian. Di dalam lapas ini semua kreativitas muncul dan terwadahi dengan baik, meskipun terbatas dengan fasilitas maupun aturan.

Saya menjadi heran mengapa di dunia yang lebih bebas, saya seperti berada di penjara dan kehilangan kebebasan. Benar memang kata pepatah Jawa, urip kui mung sawang sinawang[1]!

_______________

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

[1] Kosakata Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang atau melihat sebuah kehidupan

Continue Reading

Trending