Connect with us

Inspirasi

Kemenangan Jurnalisme (Investigasi) Sekali Lagi…

mm

Published

on

Kesuksesan Spotlight meraih gelar Best Picture dalam ajang Academy Awards (Oscar) 2016 menjadi pembelajaran penting untuk dunia jurnalistik di Indonesia. Merebaknya isu senjakala media cetak dan semakin berkembangnya media berbasis daring tidak selayaknya menjadi suatu premis yang diperdebatkan. Isu-isu sentral seperti kualitas pemberitaan yang dimuat, penelusuran data, hingga teknik wawancara sejatinya tidak bergantung pada media apa yang digunakan, akan tetapi seperti apa metode yang diterapkan wartawan dalam memburu berita.

Film yang berangkat dari kisah nyata para reporter The Boston Globe ini seolah mengingatkan kembali akan pentingnya metode dalam penggalian data untuk berita. Film arahan sutradara Tom McCarthy tersebut secara gamblang menggambarkan betapa heroiknya Tim Spotlight – tim investigasi di koran The Boston Globe- membongkar kasus pedofilia yang melibatkan lebih dari 90 pastur di Gereja Katolik di sekitar Boston.

Pemberitaan yang dipublikasikan Tim Spotlight sejak tahun 2002 itu bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga membuka fakta bobroknya sistem hukum dan agama di Boston yang ditutup-tutupi selama beberapa dekade. Tercatat, tim Spotlight telah menulis 600 artikel dalam kurun waktu setahun mengenai kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh pastur dari berbagai sudut pandang. Melalui metode jurnalisme investigasi serta mengedepankan jurnalisme data, tim reportase yang dimotori Marty Baron dkk ini menunjukkan bagaimana seharusnya media menyampaikan informasi secara akurat, jujur dan lengkap. Nilai-nilai itulah yang perlahan memudar di beberapa media-media Indonesia.

Tuntutan masyarakat akan kebutuhan konsumsi berita yang paling update disinyalir sebagai biang keladi terjadinya kompetisi antarmedia untuk menyajikan informasi secara cepat. Harus diakui, saat ini distribusi informasi relatif sangat mudah. Setiap orang bisa menjadi jurnalis untuk pengikutnya di portal media sosial atau website atau disebut mekanisme citizen journalism. Sayangnya, informasi yang super kilat itu tidak diimbangi dengan tingkat akurasinya. Bahkan, kerapkali terjadi media besar dan ternama menyebarkan informasi hoax atau yang belum tentu jelas kebenarannya.

Jurnalisme investigasi seperti apa yang dilakukan oleh tim Spotlight menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Hanya saja dibutuhkan spirit yang lebih tinggi demi mendapatkan fakta-fakta yang peculiar. Hugo de Burgh dalam Investigative Journalism (2008) memaparkan peliputan investigasi sangat berisiko karena berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, hal-hal yang sengaja disembunyikan, manipulasi laporan anggaran, serta sederet hal-hal yang bersifat memalukan.

Liputan investigasi tentu berseberangan dengan jargon jurnalisme kilat ‘yang penting cepat, biar salah nanti juga bisa diralat’. Seperti halnya ditunjukkan dalam film Spotlight, jurnalisme investigasi menekankan pada penguatan konsep berita serta kemampuan dalam analisis data. Oleh karena itu, sudah selayaknya para wartawan investigasi bekerja tanpa ada tekanan deadline. Wartawan investigasi seharusnya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas sebuah berita. Akan tetapi bekerja di dunia media dengan berbagai dinamikanya, apakah mungkin profesi wartawan tidak dibebani deadline?

Mark Ruffalo (Michael Rezendes) dan Rachel McAdams (Sacha Pfeiffer) dalam adegan Spotlight. (getty image)

Merujuk pada Dandhy Laksono (2010), jurnalisme investigasi sebetulnya sudah familiar di Indonesia semenjak tahun 1949. Kala itu, harian Indonesia Raya menjadi pionir terbitnya tulisan bertema investigatif. Mereka mengangkat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun sayangnya, budaya peliputan investigasi itu luntur ketika memasuki zaman orde baru. Jurnalisme pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mati suri lantaran dibungkam, media-media hanya menjadi kepanjangan tangan penguasa. Setelah tahun 1998, barulah kebebasan pers di Indonesia benar-benar bisa diraih. Media massa mulai berani mengabarkan carut marut pemerintahan pada masa itu.

Seiring dengan kecanggihan teknologi serta terbukanya akses informasi publik, maka seyogyanya proses investigasi berjalan lebih mudah. Keberadaan laporan investigasi ini sangat menarik karena menyajikan narasi yang bukan sekadar fakta tapi ada analisis dari berbagai aspek. Budaya investigasi inilah yang patut dipertahankan oleh media massa di Indonesia. Sebab seperti apa yang diutarakan Stephen Doig, jurnalisme investigasi menghindarkan para jurnalis dari anekdot serta menyandarkan jurnalis pada fakta dan data.

Di lain sisi, risiko dan tantangan untuk melakukan investigasi tetap tidak berubah dari masa ke masa. Mereka dihadapkan pada dilema akan adanya bahaya jika mengungkapkan sebuah kebenaran. Barangkali hal tersebut menjadi pertimbangan para pekerja media untuk tetap berada di zona nyaman. Belum lagi masih adanya invisible hand yang serta merta bisa memberikan rasa was-was bagi para pekerja media maupun orang-orang yang siap menjadi whistle blower. Beruntungnya, masih banyak wartawan media maupun jurnalisme warga yang berani berbicara menegakkan kebenaran. Maka apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan bagi pekerja media yang menggeluti jurnalisme investigasi. (*)

———————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Alice Munro: Menulis Harus Disiplin dan Percaya Diri

mm

Published

on

foto: The New York Times

“Saya tidak pernah menunjukkan karya yang masih dalam tahap penyelesaian kepada siapapun”. Hal itu bisa jadi salah satu ungkapan paling rahasia dalam proses kreatif  penerima Penghargaan Nobel Sastra (2013) Alice Munro.

Alice termasuk penulis yang sangat prolifik dengan reputasi tinggi. Seperti Anton Chekhov, Alice tidak pernah menulis novel utuh—namun setiap ceritanya mengandung elemen-elemen novel yang membuatnya terkesan ‘penuh’. Meski karyanya telah diganjar Nobel Sastra, ia kerap mengaku bahwa setiap penulis membutuhkan rasa percari diri lebih. Juga bagaimana menghadapi kritik yang kerap membuat sakit hati.

Edit dan Kritik

Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, Alice mengisahkan pengalaman pentingnya terkait pengeditan yang ‘serius’. Moment itu terjadi ketika cerpennya akan diterbitkan dalam majalah The New Yorker. Menurutnya itu adalah pengalaman sangat serius ketimbang sekedar copyediting yang biasanya sangat sedikit usulan.

“Karena harus ada kesepakatan antara si editor dan saya tentang apa-apa saja yang perlu diganti, dikeluarkan serta ditambahkan ke dalam sebuah karya. Editor saya yang pertama di The New Yorker bernama Chip McGrath dan dia adalah seorang editor handal. Saya sangat terkejut mendapati betapa besar komitmen yang dia berikan terhadap karya saya. Terkadang kami tidak melakukan perubahan besar, tapi ada juga saat di mana dia memberikan arahan yang cukup signifikan kepada saya. Suatu kali saya pernah menulis ulang sebuah cerita pendek berjudul The Turkey Season yang sudah ia beli untuk diterbitkan di The New Yorker. Saya pikir dia akan menerima perubahan yang saya berikan begitu saja, tanpa banyak protes. Namun saya salah. Katanya, ‘Ada beberapa hal dalam revisian ceritamu yang saya suka dan ada juga hal lain yang menurut saya lebih menarik dalam versi draft sebelumnya. Kita lihat saja nanti ya’. Dia tidak pernah memberikan kepastian yang mutlak, karena sebuah cerita selalu punya potensi untuk dikembangkan. Saya rasa metode pendekatan seperti itu cukup manjur dalam menghasilkan versi akhir yang lebih menarik.” Kisah Alice sebagaimana ditayangkan dalam wawancara khususnya bersama Paris Review.

Hal paling penting dalam menulis salah satunya, menurut pengarang Friend of My Youth ini adalah kepercayaan diri. Ia sendiri sering merasa, sebagai penulis perempuan, profesi menulis dianggap tabu.

“Karenanya dalam menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi—tapi saya juga punya kekhawatiran bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri. Karena karya saya bukan karya populer, saya tidak pernah tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum wanita ataupun mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah. Bila kita tahu kita bisa menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial.” Ujar penulis Too Much Happiness tersebut.

Sementara itu terkait opini kritikus atas karya penulis, ia berpendapat bahwa hal itu bisa jadi penting bisa jadi tidak. “Sebagai penulis, tak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; tapi kita bisa menuai perasaan sakit hati dengan mudah dari kritik. Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu. Jadi…” katanya dengan nada ambigu.

Disiplin

Menulis membutuhkan disiplin tinggi. Alice mengaku bahwa ia menulis sepanjang hari. Pada pagi hari, hampir 5 jam dan itu berlangsung tanpa libur.

Ia mengisahkan bahwa ketika anak-anak saya masih kecil, ia selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah. Bisa dibilang ia bekerja sangat giat di masa tersebut. Ia bersama suaminya memiliki sebuah toko buku, dan bahkan jika gilirannya tiba untuk jaga toko, ia takkan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis.” Kisahnya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia tidak lagi bekerja di toko buku, ia akan menulis sampai keluarga pulang untuk makan siang, dan disambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 2.30 siang. Setelah itu ia akan minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang pada malam.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat.” Jelas Alice.

Ketika ditayanyakan padanya apakah dia menulis dengan kerangka tulisan dan akan menepatinya sampai tulisan selesai, Alice tegas menjawab sebaliknya. “Dalam menulis sebuah cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi. Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan.” Katanya.

Contohnya, menurut Alice sendiri,  saat ia sedang memulai sebuah cerita ia menulisnya setiap pagi dan meski menurutnya tulisannya sudah sangat rapi, kerap ada perasaan ia belum sepenuhnya menyukai hasil akhirnya; dan ia berharap, entah kapan, akan mulai menyukainya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya. Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu.” Ujar Alice.

Untuk hal itu ia mengaku menuliskan ketidaksukaanya pada tulisannya dalam sebuah buku catatan.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas. Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali.” Kisahnya. (GBJ/ SC)

Continue Reading

Inspirasi

Kesusastraan Rusia Dan Maxim Gorky Di Mata Soesilo Toer

mm

Published

on

“Tradisi kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual”.

Begitulah komentar Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba yang juga merupakan adik kesayangan sastrawan besar indonesia (alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lalu apa pandangannya dengan sastra realisme? Ia menuturkan kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis.

Tentu saja ia juga mengajukan pendapat penting tentang proses kreatif dan kesadaran yang terbangun dalam diri dan karya-karya kakaknya Pramoednya, ia menyebut Pram Menerima karyanya sebagai realisme sosialis, namun demikian Soesilo menuturkan Pram dalam gaya menulis banyak belajar pada Multatuli dan Hemingway.

“Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”.

Bagaimana pendapatnya tentang dunia sastra, politik dan kemanusiaan lebih luas? Simak wawancara berikut yang dikerjakan oleh Ladinata Jabarti dan kawan-kawan, selengkapnya:

Bagaimana karakter kesusastraan Rusia menurut Pak Soesilo sebagai pengelola Pataba?

Kalau zaman saya itu ‘kan sedang populernya realisme sosialis, jadi buku-bukunya Dostoyevsky itu tidak dianjurkan untuk dibaca karena berbau pesimisme. Tapi belakangan, semua boleh dibaca, nggak ada batasan. Kalau di sini (Indonesia) ‘kan Bumi Manusia dilarang, dianggap mengandung ajaran marxisme-leninisme, kalau di sana (Rusia) nggak ada.

Saya membaca Multatuli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, yang bahkan Lenin memberi komentar untuk buku itu. Saya membeli buku itu di pinggir jalan. Buku-buku yang di pinggir jalan dan di toko besar itu isinya sama. Orang-orang Rusia sangat menghargai buku. Di mana-mana, misalnya di bus, mereka membaca buku atau koran. Kalau sedang istirahat juga rata-rata buku yang dipegang. Jadi (tradisi) kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual.

Kesusastraan Rusia yang bersangkutan dengan Maxim Gorky, bagaimana (Maxim Gorky) menurut Bapak?

Gorky menganggap sastra Rusia itu harus melihat kepada rakyat. Yang utama bagi mereka kalau secara perabadan, peradaban dari yang pertama, taruhlah perbudakan sampai yang terakhir, kapitalisme-imperialisme terbentuk dengan sendirinya. Dari sana kemudian lahir berbagai teori seperti Adam Smith, Malthus, jadi fakta menghasilkan teori. Peristiwa dulu, baru timbul teori. Nah ini oleh Marx dan Lenin dibalik: teori menciptakan fakta. Mereka jalan seperti di dalam lubang hitamnya Hawking. Walaupun disebut sebagai ajaran ilmiah, tapi tetap utopia, berjalan di dalam gelap. Jadi kalau menurut saya, nantinya, kalau terjadi perubahan setelah imperialisme itu nggak mesti sosialisme atau komunisme. Apa saja namanya, yang penting terjadi perubahan lanjutan yang melawan kapitalisme maupun imperialisme. Dan akan terjadi perubahan dengan sendirinya secara alami. Bagi saya, fakta dulu baru teori.

Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba

Soal realisme sosialis Gorky, itu bagaimana?

Kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis. Seperti (contohnya) Kuprin itu ‘kan banyak menulis kejelekan-kejelekan di masyarakat, itu masih realisme sosial. Tapi kalau sudah campur tangan seperti bukunya Gorky Mother atau Mat’ (dalam bahasa Rusia)”, itu ‘kan tokohnya, Pavel, tadinya peminum seperti ayahnya. Anak-bapak itu peminum berat, yang ditindas adalah ibunya. Nah, suatu kali anak ini punya kesadaran, “orang tua saya kok saya perlakukan seperti budak.” Dalam buku itu sudah masuk campur tangan negara, karena dia pegawai di pabrik (yang berkaitan dengan pemerintah). Dilibatkannya unsur-unsur negara di dalam karya, itu sudah masuk realisme sosialis, bedanya di situ.

Dalam Cinta Pertama, Maxim Gorky memiliki semacam prinsip dalam kesusastraan. Pandangan dunia Gorky sangat kuat, seperti juga dalam Mother yang (digambarkan) begitu kuat. Menurut Bapak, apa yang membuat Gorky jadi sedemikian tangguh dalam berprinsip dan berkesusastraan?

Gorky itu ‘kan menderita waktu kecil, nama sebenarnya Aleksey Peshkov, Peshkov itu artinya pasir atau debu. Kemudian Gorky itu artinya getir, pahit. Dia merasa kuat karena pengalamannya banyak. Ditinggal ibunya, ditinggal ayahnya. Ia menjadi kuat karena pengalaman hidupnya sendiri. Luntang-lantung keliling Rusia selama lima tahun. Gorky pernah mencoba bunuh diri, tapi gagal. Maka dari itu ia pernah istirahat di Italia untuk menyembuhkan luka tembaknya, sambil menulis cerita anak-anak. Gorky menjadi kuat karena proses hidup yang dijalaninya begitu.

Kenali hidup sendiri. Dari mana Anda bisa kuat? Semakin besar dan berat penderitaan Anda, semakin berat Anda merenung. Bukan berputus asa, tapi merenung. Makanya setiap hinaan yang saya terima (pun) saya pakai sebagai kekuatan.

Lalu bagaimana pada akhirnya Gorky menjadi beraliran realisme sosialis?

Pada awalnya realisme sosial. Setelah terjun ke dunia politik baru kemudian menjadi realisme sosialis, walaupun ia bukan anggota partai komunis. Ia hanya mendukung pembangunan negara sosialis dan mengerti tujuan sosialisme itu untuk apa.

Pramoedya (Ananta Toer) terlihat sekali terpengaruh Maxim Gorky…

(Dia) Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”. Berkarya disimbolkan oleh Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Nah, saya, saya ikuti lagi, “supaya Anda hidup, harus bekerja”.

Bagaimana realisme sosialis Gorky itu bagi Pak Soesilo?

Saya membaca buku dia, tapi ya saya bukan seorang sastrawan yang dari mula kepengin jadi sastrawan, hanya suka membaca saja. Gorky tidak seberapa memengaruhi pemikiran saya, karena saya sudah bandingkan dengan yang lain-lain, kebetulan pendidikan saya cukup ada, sehingga tidak begitu tergila-gila terhadap sesuatu.

Pada saat Bapak kuliah di Rusia (berkisar pada tahun 60-an), bagaimana nama Gorky dalam ingatan masyarakat ketika itu?

Di sana itu Gorky bacaannya para tokoh muda sosialis, diwajibkan untuk mahasiswa Rusia, apa lagi untuk institute yang berkaitan dengan sastra. Tapi secara umum itu dianggap sebagai bacaan standar untuk semua anak sekolah.

_________________________________

*) Team Pewancara:

Ladinata Jabarti

Mochamad Luqman Hakim

Randolph Jordan

Muhammad Yunus Musthofa

Firmansyah

**) Wawancara penuh mengenai diri Soesilo Toer Ph.D, M.Sc (sebagai Direktur Perpustakaan Pataba), Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky. Kami mengambil penggalan wawancara mengenai Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky.

Setelah salat asar dan magrib, dengan sajadah yang dipinjamkan oleh keluarga Toer, di dalam perpustakaan,  setelah juga menyantap sate Blora, yang ditraktir oleh seorang kawan baik, yang pernah bekerja di Athan di Moskow, dan sekarang menjadi Lurah Pojokwatu, Pak Suwondo, wawancara dilakukan dengan dikawani oleh Benee Santoso, pemilik Penerbitan Pataba Press, putra tunggal dari Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc.

Continue Reading

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Classic Prose

Trending