© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Keberanian Yang Hakiki Masihkah Ada?

Keberanian menjadi fenomena, ia mengemuka belakangan ini, meski tak hakiki dan tak seberapa dipedulikan orang. Lihat betapa beraninya orang-orang berjalan dari Garut menuju Jakarta, meski di tengah jalan kandas juga. Lihatlah, betapa beraninya orang-orang luar Pulau Jawa berangkat ke Jakarta demi demo semata. Yang utama, pasti sudah dilihat, betapa beraninya Joko Widodo menghampiri massa demo yang konon katanya membencinya.

Cerita tidak sampai di situ. Coba tengok, betapa beraninya sekelompok massa membubarkan ritual keagamaan di Sabuga ITB Bandung, padahal mereka bukan termasuk seagama. Tak usah jauh ke luar, di Yogyakarta, coba tengok betapa beraninya FUI meminta pengelola UKDW menurunkan spanduk yang sebenarnya bukan wewenangnya.

Keberanian yang janggal? Absurd? Atau sesungguhnya bukan selayaknya kita namai dan masukkan dalam kategori keberanian? Apakah layak mereka (pelaku) dikategorikan pemberani? Mungkin, layak atau tidaknya, mari tengok dialog Lakhes, Sokrates, dan Nikias dalam buku Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes).

Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan subjek yang menurutnya berani. Misalnya, ada prajurit berbaris di depan masuh dalam perangnya. Bagi Lakhes, prajurit itu berani karena berhadap-hadapan dengan musuh. Bayangkan, bila musuh membawa senjata? Dengan seketika, bukan tidak mungkin prajurit itu mati.

Lakhes: Demi Zeus, Sokrates, tidak sulit untuk merumuskannya. Setiap orang yang menjaga teguh posisi dalam barisannya, siap menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri, kamu boleh yakin bahwa orang itu adalah pemberani. (halaman 110).

Sokrates membantahnya. Ia menawarkan subjek lain, bahwa ada juga prajurit-prajurit yang berlari di medan tempur. Bagaimana dengan orang lain yang bertempur melawan musuh dengan melarikan diri, dan tidak tetap tinggal di barisannya? (paparan Sokrates, halaman 110). Bukan tidak mungkin di luar medan tempur sudah banyak musuh yang bersembunyi. Pada saat itu juga, prajurit bisa mati. Malah, mati tanpa diketahui teman sendiri. Bagi Sokrates, prajurit yang melarikan diri itu juga layak dinyatakan berani.

Sokrates, Lakhes, dan Nikias terus berdialog. Berdialektika. Ada yanb mengusul lalu ada yanb membantah. Mencari pada nilai esensi, apa keberanian? Jika Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan untuk mengidentifikasi keberanian, Sokrates membantahnya. Lakhes menyatakan dengan pendekatan dimensi psikologi. Tetapi di sisi lain, Lakhes tak berhenti pada defenisi psikologinya, dan menawarkan kembali dimensi lainnya, hingga lainnya. Sokrates membantah, dengan menawarkan subjek yang lainnya. Sokrates membantah, membantah, dan membantah.

Begitulah dialog wacana keberanian tersebut, hingga Sokrates menanyakan simpulan defenitif kepada Lakhes, “cobalah berbicara tentang tentang keberanian dengan cara seperti tadi, Lakhes. Daya apakah itu, yang selalu sama dalam hal kenikmatan, kesakitan, dan apa saja yanb sudah kita katakan tadi, yang diberi nama keberanian?” (halaman 113).

Lakhes memberi pernyataannya bahwa keberanian ialah ihwal keteguhan jiwa, “Jadi, keberanian adalah semacam keteguhan jiwa. Seperti itulah memang harus mengatakan keberanian sebagai hal secara kodratiah tampak dalam semua contoh tadi.” (halaman 113).

Nikias menambah sudut pandang lain, di luar pemahaman keberanian dari Sokrates dan Lakhes. Menurut Nikias, keberanian adalah ilmu tentang apa yang harus ditakuti dan apa yang harus dipercayai. Tentu ini dibangun atas pendidikan agar menjadi bijaksana, sehingga memahami mana yang ditakuti dan mana yang dipercayai.

Di pengujung dialog, ketiganya sepakat, keberanian yang hakiki belum dapat dinyatakan. Sokrates akhirnya berujar kepada Nikias bahwa keberanian belum ditemukan. Bukan keberanian pemahaman yang sederhana. Lebih dari itu, yang sifatnya kekal.

Keberanian bukan semata menghadapi risiko. Keberanian bukan semata mengambil keputusan yang bertanggungjawab. Apalagi, keberanian bukanlah semangat yang menggebu-gebu. Bukan aspek psikologis semata. Bukan aspek ide semata. Bukan aspek nilai benar-salah semata. Keberanian lebih dari itu, yang hakiki. Yang jelas, pada akhirnya, tanpa memberi defenisi yang pasti, Sokrates dan Nikias memahami, keberanian dibangun atas ilmu.

Keberanian merupakan daya, sesuai konteksnya. Daya menghadapi risiko juga daya memahami ketakutan dan kepercayaan.. Namun, dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, menunjukkan bahwa ada keberanian yang hakiki di atas daya tersebut. Jika Sokrates, Lakhes, dan Nikias tidak bisa mendefinisikannya, mungkin juga kita.

***

Buku yang berjudul Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes) merupakan terjemahan oleh Setyo Wibowo. Terjemahan tidak berasal dari teks aslinya, Yunani, melainkan dari teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sehingga memungkinkan adanya ‘miss-link’ dalam aspek budaya, seperti persoalan penerjemahan pada umumnya. Proses penerjemahan bukan semata proses menerjemahkan teks atau bukan semata menerjemahkan bahasa, melainkan juga sebagai linguistic hospitality (meminjam istilah Alois A. Nugroho) yang kompleks. Setyo memaparkan hal itu seperti berikut: Penulis mengikuti terjemahan yang sudah dibuat dalam teks Yunani-Inggris dari W. R. B. Lamb M.A. Plato: Laches, Protagoras, Meno, Euthydemus, The Loeb Classical Library, London: William Heinemann Ltd, edisi cetakan 1967 (hal. 83).

Lakhes, judul teks asli Yunani, adalah teks yang dihasilkan dari dialog antara Lakhes, Nikias, Sokrates (filsuf yang sangat berpengaruh bagi filsuf-filsuf setelahnya seperti Hegel, Heideger, Nietzsche, Marx, Freud, hingga filsuf-filsuf postmodern), dan dua kaum awam. Dialog ini diperkirakan terjadi pada masa 418 SM kemudian ditulis oleh Platon semasa mudanya pada 399-387 SM. Dialog diawali dengan mempertanyakan persoalan mendidik anak kepada Lakhes dan Nikias, dan pada saat itu Sokrates berada di dalamnya yang mendampingi Lakes dan Nikias. Lebih lanjut, dialog pun mengalir membicarakan persoalan pendidikan, khususnya menanamkan pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai medium keberanian anak-anak sebelum memasuki fase dewasa dalam menentukan kehidupannya, menentukan kebijakan-kebijakan, menentukan keputusan-keputusan secara mandiri. Seperti adigum “berani karena benar, takut karena salah” yang telah kita kenal sejak di bangku sekolah dasar, pendidikan dijadikan proses pemberian pengetahuan (logos) sehingga kelak dengan pengetahuan anak-anak akan menjadi berani.

***

Coba renungkan kembali, apakah fenomena sosial-agama belakangan ini sebuah keberanian? Kalau ya, apakah mereka membangun epistemologi dan merefleksikan ontologinya sebagai menata ilmunya?

Mungkin benar mereka yang rela mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan dari luar Jakarta ke Monas disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit di depan musuh. Mungkin benar juga mereka yang membubarkan kegiatan agama di Sabuga ITB disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit yang melarikan diri dengan sejuta risiko kematiannya yang tidak terduga.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri. Tak ubahnya binatang juga yang mampu melarikan diri saat menghadapi binatang pemburu. Mereka hanyalah contoh keberanian daya (semangat) belaka, tanpa dibangun melalui ilmu (pengetahuan).

Untuk mendekati keberanian yang hakiki, jalannya ialah ilmu (pengetahuan) dengan sikap kebijaksanaan. Mungkin, subjek yang membangun ilmu pengetahuannya dan bersikap bijaksana tidak akan rela mengeluarkan uangnya hanya untuk demo ke Monas, tidak akan melakukan pembubaran acara keagamaan di Sabuga ITB, dan juga tidak akan meminta pengurus UKDW menurunkan spanduk perempuan berjilbab. Ini hanyalah mungkin, karena keberanian yang hakiki itu tidak terdefinisikan. (*)

Fredy Wansyah

Mahasiswa Magister Filsafat UGM

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT