Connect with us

Tabloids

Kate Chopin (1894)—Kisah Satu Jam

LaurieBromConversing / Getty Image
mm

Published

on

Nyonya Mallard adalah seorang wanita muda, dibalik wajahnya yang cantik dan tenang, ia memiliki ekspresi yang menunjukan karakter dengan kemauan besar dan tangguh. Tapi, kini tatapan matanya seolah kosong, terpaku pada langit biru yang membentang luas di atas sana. Namun, pandangannya bukan sebuah lamunan, melainkan ia sedang berpikir keras akan sesuatu.

Kate Chopin (1894)—Kisah Satu Jam

Penterjemah: Anjani Poetry

____

Mengingat bahwa Nyonya Mallard memiliki riwayat penyakit jantung, maka kabar mengenai kematian suaminya pun harus disampaikan secara hati-hati.

Saudarinya yang bernama Josephine, menyampaikan berita itu kepadanya dengan kalimat yang terbata-bata. Teman suaminya—Richards juga di sana, di dekatnya. Dia pula yang saat itu sedang berada di kantor surat kabar ketika berita kecelakaan kereta api disampaikan dan mendengar bahwa nama Brently Mallard berada diurutan teratas daftar korban yang dinyatakan tewas. Namun, untuk memastikan kebenaran yang akurat mengenai berita tersebut, ia menunggu sejenak sampai telegram kedua menginformasikan berita yang sama. Setelah itu, ia bergegas pergi menuju kediaman keluarga Mallard dan berharap tidak akan ada orang lain yang menyampaikan berita duka itu dengan informasi yang salah.

Saat berita duka itu sampai di telinga Nyonya Mallard, ia tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana yang akan bereaksi dengan kebisuan dan sulit untuk menerima kenyataan. Nyonya Mallard justru langsung menangis histeris dan jatuh dipelukan saudarinya, Josephine. Beberapa saat kemudian, usai tangis histerisnya mereda, ia pergi ke kamarnya, mengurungkan diri.

Di dalam kamar, terdapat sebuah kursi yang nyaman dengan menghadap ke arah jendela yang terbuka. Nyonya Mallard menjatuhkan tubuhnya di kursi tersebut dan mencoba menghempaskan segala tekanan yang ada. Kelelahan telah menyelimuti jiwanya.

Dari tempatnya, ia memandang ke luar pada alun-alun di depan rumah, di mana ia menikmati pepohonan rindang menjulang diiringi dengan ritme dedaunan segar yang melambai indah, menyambut datangnya musim semi. Aroma teduh setelah hujan menyeruak di udara. Seorang pedagang di luar sana terlihat menjajakan barang dagangannya. Serta sayup-sayup terdengar lantunan nada sebuah lagu diiringi kicauan merdu burung-burung pipit yang bertengger di atap rumah.

Pancaran langit biru di antara gumpalan awan yang saling menumpuk dan merapat di arah barat menghadap ke jendela kamarnya. Dalam duduknya, ia menyandarkan kepala pada bantal kursi, bergeming, kecuali jika tangisan lirihnya telah mencekat tenggorokannya hingga tubuhnya terguncang, seperti seorang anak kecil yang  menangis hingga terlelap dan berlanjut di dalam mimpi.

Nyonya Mallard adalah seorang wanita muda, dibalik wajahnya yang cantik dan tenang, ia memiliki ekspresi yang menunjukan karakter dengan kemauan besar dan tangguh. Tapi, kini tatapan matanya seolah kosong, terpaku pada langit biru yang membentang luas di atas sana. Namun, pandangannya bukan sebuah lamunan, melainkan ia sedang berpikir keras akan sesuatu.

Sesuatu merasuki dirinya, ia memiliki sebuah firasat bahwa akan ada yang terjadi padanya dan dengan cemas ia menanti. Apa yang akan terjadi?  Dia sama sekali tidak tahu, terlalu sulit untuk dijelaskan. Tapi, ia merasakannya, sesuatu yang seolah menjalar turun dari bilik-bilik langit, lalu berjalan mendekatinya melalui getaran suara, semerbak aroma, dan warna yang menyatu pada udara di sekitarnya.

Sekarang, dadanya naik-turun tak beraturan, desahan napasnya memburu. Ia mulai menyadari sesuatu yang merasuki jiwanya. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia berusaha melawan namun tiada berhasil.

Saat ia terdiam membiarkan sesuatu itu merasukinya, sebuah bisikan meluncur mulus dari bibirnya yang sedikit terbuka. Berulang-ulang ia katakan dengan napas memburu “Bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong yang semula terpancar di mata Nyonya Mallard perlahan sirna dan tergantikan oleh tatapan tajam penuh semangat dan melukiskan sinar harapan. Ritme nadinya bergerak cepat dan darah hangat menjalar ke seluruh tubuh, menenangkan jiwanya.

Nyonya Mallard terus bertanya-tanya mengenai apakah nama dari perasaan ini. Tapi firasat lain mengatakan untuk mengabaikannya, karena hal itu tidaklah penting untuk dipikirkan.

Dia tahu bahwa dia akan kembali dirundung perasaan berkabung saat melihat jasad suaminya, menyaksikan lengan kokoh yang dulu melipat lembut memeluknya, kini terlipat tanpa daya bersama kematian. Wajah yang ia rasa tak pernah memancarkan rona penuh cinta kepadanya, terbujur kaku, pucat pasi dan mati. Namun, Nyonya. Mallard juga melihat sisi baik dibalik peristiwa pahit ini bahwa ia akan dihadiahi sebuah kebahagiaan sejati berupa tahun-tahun penuh kebebasan yang akan dirasakannya. Dan ia siap menyambutnya dengan tangan hangat dan terbuka.

Di tahun-tahun yang akan mendatangkan itu, tidak ada lagi orang lain yang memasuki hidupnya, ia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri. Takkan ada lagi kekuasan lain yang dapat mengekang segala keinginannya yang mana aturan-aturan tersebut ada dalam ikatan antara suami-istri pada umumnya. Situasi yang ada membuat Nyonya Mallard meyakini dengan pasti bahwa apa yang dirasakannya kini bukanlah sebuah kejahatan tanpa hati nurani, melainkan merupakan sebuah reaksi yang wajar dan masuk akal.

Ya, tentunya Nyonya Mallard juga mengakui bahwa dia memang mencintai suaminya—sesekali. Namun seringkalinya tidak. Ah, sudahlah, itu tidak penting! Tidak ada gunanya membahas cinta, perasaan itu sama sekali tidak berpengaruh untuk menahan dirinya pada hasrat besar dalam meraih kebebasan hidup yang akan dimilikinya sebentar lagi.

“Bebas! Ya, tubuh dan jiwaku akhirnya bebas!” Nyonya Mallard terus berbisik.

Sementara itu di luar kamarnya, Josephine membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke arah lubang kunci, memohon agar ia diizinkan masuk. “Louise, bukalah pintunya! Aku mohon bukalah, nanti kau akan sakit. Apa yang kau lakukan di dalam sana! Demi Tuhan! Bukalah pintunya!”

“Pergilah Josephine. Tak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan sakit, ” tentu saja dia tidak. Sebab kini Mrs. Mallard merasa lebih hidup, ia tengah meminum ramuan mujarab¾menghirup udar segar kebebasan yang bersumber dari jendela kamar.

Bayangan akan masa depan yang indah dan menyenangkan menyeruak di kepalanya, musim semi, musim panas dan musim-musim lain yang akan menjadi miliknya sendiri. Dia pun melantunkan doa singkat, memohon agar ia diberikan hidup yang lebih lama untuk bisa menikmati hari-hari itu. Padahal, baru kemarin Nyonya Mallard berpikir bahwa setelah ini dia akan hidup dalam penderitaan panjang sampai akhir hayatnya.

Akhirnya, setelah cukup lama mengurung diri, Nyonya Mallard pun beranjak dari duduk, melangkah ke pintu dan membukakannya untuk menghilangkan kecemasan Josephine. Dia memandang saudarinya dengan pancaran api kemenangan yang membara di matanya, gerak-geriknya seperti Dewi Kemenangan. Lalu Nyonya Mallard merangkul saudarinya dan bersama-sama menuruni anak tangga menuju lantai satu. Yang dimana sudah ada Richards yang berdiri menunggunya sejak tadi.

Tiba-tiba terdengar suara seperti seseorang yang mencoba membuka pintu depan. Pintu terbuka dan munculah sosok Brently Mallard dengan tampilan yang lusuh selepas dari perjalanan jauh dengan menggenggam tas jinjing dan payungnya. Rupanya, Tuan Mallard sudah turun lebih dulu dari kereta yang ia tumpangi dan berada jauh dari tempat terjadinya kecelakaan, ia bahkan mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya peristiwa itu. Dengan tatapan yang heran ia memandangi reaksi Josephine yang histeris, lalu Richards yang dengan gerakan cepat mengalihkan pandangan ia ke istrinya.

Tapi, Richards sudah terlambat.

Saat para dokter tiba, mereka menyatakan bahwa Nyonya Mallard telah meninggal akibat serangan jantung—akibat kegembiraan berlebihan yang dirasakannya.

________

  1. Kate Chopin adalah seorang cerpenis dan novelis asal Amerika Serikat. Semasa hidupnya, ia telah dianggap oleh beberapa ahli sebagai pelopor penulis feminis abad ke-20 Amerika.
  2. Teks asli dari cerita pendek ini berjudul “The Story of an Hour” yang ditulis oleh Kate Chopin pada 19 April, 1984. Diterbitkan pertama kali oleh Majalah Vogue pada 06 Desember 1984 dengan judul “The Dream of an Hour”. kemudian ditulis ulang di St. Louis Life pada 05 Januari 1985.
  3. Teks sumber dari : http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/

______

*) Anjani Poetry, gadis berdarah Sunda yang lahir dan dibesarkan di ibukota 19 tahun yang lalu. Saat ini tengah aktif dalam kegiatan di Palang Merah Indonesia Cabang Jakarta Timur. Menyukai sastra  sejak kecil, namun baru beberapa tahun belakangan ini mulai semakin giat menggeluti dunia tersebut. Tulisan-tulisanku yang lainnya dapat ditemui melalui laman blogku di sini : https://anjaniwpoetry.wordpress.com juga di salah satu media sosial di https://www.instagram.com/dandeliona_ap/

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Kiat Menulis dari Emily Ruskovich, penulis Idaho

mm

Published

on

Kami tahu bahwa pembaca biasanya juga merupakan penulis, jadi kami menampilkan kiat-kiat menulis dari penulis kami. Siapa yang lebih baik menawarkan saran, wawasan, dan inspirasi daripada penulis yang anda kagumi? Mereka akan menjawab beberapa pertanyaan tentang kerja mereka, berbagi teknik andalan mereka dan banyak lagi. Sekarang, mulailah menulis!

Writing Tips from Emily Ruskovich, author of Idaho by The Perch

 _________________
(p) by Affan Firmansyah

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Marilynne Robinson pernah berkata di sebuah kelas yang saya hadiri bahwa “semua karakter hanyalah sebuah rasa dari karakter tersebut”. Hal ini sangat terasa dalam pengalaman saya menulis fiksi. Saya tidak secara aktif menciptakan karakter saya; sebagai gantinya, saya mendapatkan perasaan tentang mereka, jadi saya akan mengejar perasaan ini dan menepatkannya dalam sebuah adegan agar bisa mengenal dan menghabiskan waktu dengannya, dan berharap perasaan itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang dapat saya lihat dan pahami. Saya tidak membangun karakter dengan memikirkan fakta tentang karakter tersebut, seperti apa yang mereka inginkan, seperti apa rupa mereka, apa yang mereka minati. Detil itu datang setelahnya. Saya tahu bahwa membuat profil dari sebuah karakter adalah metode yang bekerja sangat baik untuk banyak penulis, tetapi ketika saya mencoba mengenal sebuah karakter, rasanya seperti saya mencoba mengenal bayangan yang dibuat oleh seseorang yang tidak bisa saya lihat, dan mungkin tidak akan pernah saya lihat, bahkan ketika cerita sudah selesai. Dan satu-satunya cara yang berhasil bagi saya — satu-satunya cara — adalah dengan membangun adegan di sekitar bayangan itu, hanya “rasa” saja. Bahkan ketika sebuah cerita atau novel selesai, saya tidak pernah benar-benar melihat wajah karakter saya. Ketika saya memikirkan mereka, perasaan yang saya dapatkan dari mereka berbeda dan sangat, sangat nyata, tetapi saya tidak membayangkan struktur wajah mereka, tangan mereka, pakaian mereka. Meskipun hal-hal itu penting namun agak tidak berarti bagi saya ketika saya menulis; saya merasa hal-hal itu seperti adalah satu-satunya hal yang serta merta saya “buat”. Bahkan, kadang-kadang saya lupa fakta dasar tentang karakter itu dan harus kembali dan memeriksa warna mata untuk memastikan konsisten, atau bahkan memeriksa usia karakter saya. Fakta-fakta semacam itu terasa sangat terpisah dari siapa sebenarnya karakter itu. Ada beberapa aspek tertentu yang bisa saya lihat. Sikap tubuh mereka sering sangat mudah dibedakan. Begitu juga penampilan sepatu mereka. Suara mereka, dan cara mereka berbicara. Dan terkadang warna rambut juga jelas bagi saya, tetapi tidak selalu. Seperti ketika saya mencoba memvisualisasikannya, mereka memalingkan wajah mereka. Mereka selalu bergerak. Baru-baru ini saya menyadari bahwa ini juga cara saya dalam membaca. Ketika saya membaca sebuah novel, saya tidak benar-benar “menggambarkan” orang-orang di kepala saya, bahkan jika wajah mereka digambarkan dengan sangat detil. Saya hanya merasakannya. Tidak ada yang bisa saya bandingkan dengan pengalaman ini, karena tidak ada pengalaman yang sama bagi saya seperti membaca kecuali menulis. Dan mungkin bermimpi, ketika Anda memiliki perasaan yang kuat di pagi hari tentang apa yang terjadi, dan itu benar-benar memengaruhi Anda, tetapi Anda tidak dapat mengingat detailnya. Wajah-wajah itu kabur. Saya tidak tahu apakah ini berguna atau tidak. Saya kira intinya adalah: Ketika Anda mencoba mengenal karakter, cobalah untuk tidak melihat mereka secara tepat. Percayalah pada insting Anda, betapapun cepat dan membingungkannya, dan cobalah untuk membangun adegan di sekitar perasaan anda, atau lebih tepatnya, biarkan perasaan itu membangun adegan itu untuk Anda. Ini satu-satunya cara karakter saya terasa nyata dan jujur. Saya harap ini tidak terlalu “abstrak” untuk menjadi saran yang bermanfaat. Tentu saja, ada banyak cara untuk mengenal karakter Anda, dan saya pikir penulis lain memiliki cara yang lebih mudah untuk mengenal mereka. Saya merasa sangat sulit menerjemahkan perasaan ke dalam bentuk manusia. Saya pikir itu sangat sulit.

Emily Ruskovich

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya suka menulis dengan hewan di sekitar saya. Kelinci saya memiliki kandang besar yang kami buat tepat di depan jendela saya, jadi saya selalu melihat, mengawasinya dan juga tupai-tupai yang mengunjunginya. Di pagi hari, sebelum saya mulai menulis, saya pergi ke sungai dan memanggil bebek peliharaan saya. Biasanya, mereka terbang langsung ke arah saya dan makan langsung dari tangan saya. Saya menetaskan mereka di inkubator, jadi mereka sangat jinak, meskipun mereka telah memilih untuk hidup di alam liar sekarang. Ketika mereka masih kecil, mereka akan tidur di pangkuan saya, atau di kaki saya, ketika saya bekerja dengan komputer saya. Ketika bebek-bebek saya memutuskan untuk tinggal di sungai, saya mengadopsi anak-anak kucing, sebagian alasannya agar saya memiliki sesuatu untuk dipanggil ke pangkuan saya ketika saya menulis. Bahkan hanya dengan memiliki pengumpan burung di luar jendela saya akan sangat membantu. Seringkali, saya mulai dengan membaca bagian-bagian indah dari penulis yang saya kagumi. Ruang kerja suami saya berada di sisi lain dari ruang saya, dan seringkali kita memulai hari kita dengan saling membacakan apa yang telah kita tulis sehari sebelumnya, untuk membuat kita bergerak, untuk meningkatkan kepercayaan diri kita. Sangat membantu memiliki seseorang yang mengejar hal yang sama dengan saya. Kami banyak saling membantu. Dia juga selalu punya kucing di pangkuannya.

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Baca Juga:

Ya, saya sudah tertarik untuk menulis sejak saya masih sangat muda. Sebelum saya bisa menulis, saya sering mendikte cerita atau puisi kepada ibu dan ayah saya, dan mereka akan menuliskannya untuk saya. Saya ingat itu sepertinya merupakan hal yang paling ajaib bagi saya, bahwa hal-hal yang saya katakan dapat disimpan selamanya hanya dengan orang tua saya membuat goresan di selembar kertas. Saya sangat beruntung dibesarkan di sebuah rumah dimana menulis adalah bagian alami dari kehidupan. Ayah saya adalah penulis yang sangat produktif. Bahkan dengan semua yang harus dia kerjakan ketika saya tumbuh dewasa — mengajar, bertani, berkebun, merawat anak-anak, memotong kayu, membangun lumbung, mengelola masalah uang — dia masih punya waktu hampir setiap hari untuk menulis, bahkan ketika dia kelelahan. Dan itu adalah bagian yang sangat alami dari keberadaan saya. Saya memahami menulis sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan orang-orang, bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun lalu, ayah saya memberi saya satu koper penuh dengan puisi. Lima puluh pon puisi! Saya tahu persis beratnya lima puluh pon, karena kami tidak ingin membayar biaya tambahan di bandara ketika saya menerbangkan puisi-puisi ini dari Idaho ke Colorado, jadi kami menimbangnya dengan sangat hati-hati dan harus meninggalkan beberapa untuk menurunkan beranya. Mengangkut koper itu dari satu negara bagian ke negara bagian lain, setiap kali saya pindah, membuat saya merasa sangat sentimental, seperti saya diberi hadiah untuk benar-benar menyimpan beban imajinasinya. Sebagian besar puisi itu ditulis tangan. Banyak dari puisi itu adalah soneta. Banyak merupakan puisi yang sangat indah. Lima puluh pon puisi itu adalah harta favorit saya. Saya selalu ingin mengikuti jejaknya, jadi saya juga menulis sepanjang waktu. Dia mengajarkan saya sejak usia sangat dini. Jadi saya merasa karir saya tidak pernah memiliki titik awal. Dari awal menulis adalah sesuatu yang selalu dan akan saya lakukan, karena itu adalah apa yang ayah saya lakukan.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

*) Artikel lain dari topik ini bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Saya memiliki daftar klise yang saya berikan kepada siswa menulis kreatif tingkat intro saya. kami menyebutnya “The List.” Sebagai sebuah kelas, kami menyusunnya sepanjang semester. daftar ini sangat panjang, dan saya harap para siswa menganggapnya lucu sekaligus bermanfaat. daftar itu dibuat dengan humor. Berisi semua tema atau situasi yang saya temui berkali-kali dalam tulisan siswa. Beberapa item dalam daftar termasuk: “Tidak boleh ada kedai kopi; tidak ada bangun untuk memulai hari; tidak ada pesta anak kuliahan atau SMA; tidak ada Thanksgiving yang canggung; tidak ada badai yang mematikan listrik; tidak ada tempat tidur rumah sakit; tidak ada pembunuh bayaran; tidak ada anak yang menendang kaleng; tidak ada amnesia; tidak ada agen FBI; tidak ada eksekutif CEO yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaan mereka dan menjadi makhluk bebas yang hidup di jalanan bermain musik; tidak ada pembunuh berantai; tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan jika pusat konfliknya adalah apakah mempertahankan bayi atau tidak; tidak ada cerita berkemah atau hiking jika pusat konfliknya hilang atau diserang oleh binatang buas; tidak ada cerita yang energinya sepenuhnya berasal dari suara getir atau sarkastik; tidak ada yang menyeringai. Seringai jauh lebih sederhana daripada senyuman.” Daftar ini terus berlanjut. Tak satu pun dari hal-hal ini mutlak, tentu saja. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Tetapi ini adalah tantangan yang ingin saya sampaikan di kelas menulis saya. Saya pikir siswa menikmatinya. Saya berharap begitu. Tentu saja, saya terkadang melanggar aturan itu sendiri. Salah satu aturan yang saya langgar adalah, “Tidak ada cerita dari sudut pandang binatang.” Dan saya benar-benar melanggar aturan itu dalam novel saya. Juga, novel saya memiliki badai yang mematikan listrik di semua tempat. Dan juga berisi tempat tidur rumah sakit.

Apakah Anda pernah membuat karakter berdasarkan orang yang Anda kenal? Kenapa atau kenapa tidak?

Ya dan tidak. Karakter saya adalah diri mereka sendiri, berbeda dari siapa pun yang saya temui. Tetapi saya menemukan bahwa saya memberikan karakter saya banyak kualitas dari orang yang saya cintai. Dalam novel saya, karakter utamanya menyerupai anggota keluarga saya. Tidak dalam tindakan mereka, atau dalam cerita mereka, hanya perasaan yang saya dapatkan dari mereka. Bagian terbaik dari karakter saya Wade mengingatkan saya pada ayah saya. Ada adegan di bab pertama ketika Wade mengetukan buku jarinya di atas piano seolah-olah untuk menguji kualitas kayunya, dan itu adalah tepat ayah saya. Tentu saja, mereka juga sangat-sangat berbeda.

Demikian pula, saya melihat ibu saya dalam kedua karakter perempuan utama saya, Jenny dan Ann. Ini mungkin hal yang aneh untuk dikatakan, mengingat saya melihat ibu saya sebagai orang yang paling lembut di Bumi, namun saya memberikan beberapa sifatnya yang paling baik kepada Jenny, yang telah melakukan tindakan kekerasan yang mengerikan. Tapi meminjamkan Jenny beberapa sifat ibu saya adalah cara berempati dengan Jenny, cara membuatnya kompleks, cara mencintainya terlepas dari apa yang dia lakukan, yang menurut saya sangat penting. Dan saya memang mencintai Jenny. Saya perlu, untuk melanjutkan kisah yang cukup menyedihkan ini. May juga terinspirasi dari saudari saya Mary. Karakter itu adalah yang paling dekat yang saya tulis tentang seseorang secara langsung, meskipun itu sama sekali bukan niat saya. Mary menjadi hidup dalam diri Mei begitu cepat. Saya hampir tidak mengubah satu kata pun dari bab tentang Mei sejak naskah pertamanya, karena bab-bab itu hampir seperti ditulis untuk saya, oleh suara masa kecil Mary. Saya memiliki foto saudara perempuan saya ketika dia masih muda “berenang” di tempat sampah yang diisi dengan air yang telah dihangatkan di bawah sinar matahari. Ketika saya melihat foto itu, saya melihat Mary dan May, sama. Itu membuat menuliskan perspektif May sangat alami dan sangat menyakitkan. Saya merasakan perasaan May bahkan lebih dalam karena kemiripannya dengan saudara perempuan saya. Karena itulah menyakitkan bagi saya untuk kembali ke beberapa bagian dari novel itu. June juga banyak mengingatkan saya tentang diri saya sendiri ketika saya masih muda.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Progress of Love oleh Alice Munro, dan juga semua bukunya. Beloved oleh Toni Morrison. Never Let Me Go oleh Kazuo Ishiguro. Lila oleh Marilynne Robinson. Dan Watership Down oleh Richard Adams.

Continue Reading

Tabloids

Nasihat Bagi yang Ingin Menjadi Penulis Lepas

mm

Published

on

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Setelah mengajarkan materi menulis nonfiksi kepada mahasiswa selama lebih dari 10 tahun, saya menyadari sejumlah masalah yang kerap membuat banyak karya penulis pemula ditolak redaksi majalah. Bukan karena mereka pemula dan kemudian disepelekan, yang saya persoalkan. Yang jadi perhatian saya adalah banyak penulis pemula melupakan hal-hal mendasar, penentu nasib karya mereka.

Sejumlah poin dalam artikel saya ini didasarkan pada pembacaan ratusan naskah karya para mahasiswa usia 19 hingga 67 tahun. Banyak dari mereka sempat berpikir bekerja sebagai penulis lepas. Tetapi hanya sedikit yang merealisasikan niatnya. Berikut ini adalah daftar lima hal yang membuat—dan mungkin anda—gagal menjadi penulis nonfiksi dengan status freelancer sukses.

  1. Anda tidak bisa menulis nonfiksi hanya dengan berdiam diri di rumah

Pekerjaan tersulit saya di beberapa kelas adalah meyakinkan para mahasiswa bahwa mereka tidak bergantung pada pengalaman pribadi, keluarga dan teman untuk mendapat bahan tulisan nonfiksi.

Sebagian dari mereka ragu dan takut menghubungi orang asing untuk wawancara, alih-alih bersikap ramah dan akrab. Akibatnya, mereka menulis artikel hanya dengan mengandalkan wawancara dengan kolega dekatnya atau atas dasar pengalaman pribadi.

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Tetapi, yang sering tidak disadari oleh para penulis pemula ialah pengalaman pribadi hanya sesekali saja bisa menjadi sumber ide tulisan. Padahal, penulisan nonfiksi menuntut pencarian materi seluas mungkin. Begitu punya ide, penulis harus pergi ke mana pun fakta berada. Mungkin harus melakukan wawancara dengan selusin orang asing di banyak tempat yang berbeda.

“Cobalah wawancara,” begitu saya mendorong para mahasiswa. “Tidak sesulit yang kamu pikirkan. Begitu kamu memecahkan kebekuan dengan satu atau dua pertanyaan, sisanya sering berjalan dengan mudah.”

  1. Jangan menulis topik yang terlalu luas

Suatu kali, saya meminta mahasiswa saya datang ke kelas dengan membawa ide soal topik tulisan nonfiksi. Sebagian dari mereka mengusulkan topik soal “Lingkungan,” “Berkemah,” “Pengungsi Perang Vietnam,” “Krisis Pangan” dan “Berselancar.”

“Bagaimana dengan topik Lingkungan?” Saya bertanya ke salah satu mahasiswa. Dia mengangkat bahu dan mengakui tidak benar-benar memahami topik ini. Kesalahan dia adalah mengajukan topik dengan cakupan tertalu luas, tidak fokus. Ia contoh korban sindrom esai: ambil topik gagah dan buat tulisan panjang untuk sekedar memuaskan dosen mereka.

Baca Juga:

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Tabloids

Riset Untuk Penulisan Fiksi

mm

Published

on

Salah satu nasihat banyak penulis berpengalaman kepada para pemula, yang kerap disalahpahami, ialah: “Tulislah tentang apa yang kamu ketahui.”

Banyak pemula salah paham karena mengira harus mengarang cerita soal hal-hal yang dekat dengan kehidupannya, sehingga menjauhi tema-tema asing dengan konteks yang belum pernah mereka temui. Akibatnya, mereka pun percaya, harus menulis soal kisah-kisah di perkotaan saja, jika tempat bermukim selama hidupnya adalah di kota. Sebaliknya, jika mereka besar di perdesaan, cerita karangan mereka juga harus melulu memiliki latar belakang kehidupan di desa.

Tentu saja, banyak penulis profesional tak mengikuti saran seperti itu. Jika mereka mematuhi saran“sesat” itu, tak akan ada penulis novel sejarah dan fiksi ilmiah. Ini karena maksud sebenarnya dari nasihat di atas ialah: “Ketahuilah apa yang kamu tulis.”

Memang benar, pengarang harus mampu membubuhkan banyak detail yang memuat informasi akurat meski ceritanya fiksi. Pembaca bisa gampang mencela si pengarang jika saja di karangannya ada cerita soal penjahat yang menarik pistol jenis x, tapi ia tidak menulis kaliber pelurunya secara akurat.

Baca Juga:

Namun, apakah penulis perlu hidup lama di penjara untuk menulis cerita soal kehidupan para napi dan sipir? Tentu saja, pengarang hanya perlu bicara dengan satu atau dua sipir dan napi untuk menulis fiksi dengan latar kehidupan di bui.

Hanya saja, ada teknik tertentu untuk mengumpulkan bahan cerita seperti ini. Tanpa tahu teknik yang tepat, orang yang tinggal puluhan tahun di penjara pun bisa gagal menulis kisah yang bagus dan menarik dengan latar kehidupan di balik jeruji besi?

Saya dulu punya teman yang bekerja sebagai polisi selama 20 tahun dan setelah pensiun mencoba peruntungan dengan mengarang cerita fiksi. Cukup mudah dimengerti, dia memilih fiksi kriminal, karena berharap dengan latar belakang pengalamannya, bisa mengarang cerita fiksi yang terkesan otentik.

Dia lalu mengirim karya pertamanya soal cerita polisi dan perampok ke salah satu agen yang sengaja memburu karangan penulis pemula dengan alasan harganya murah.

Kecuali untuk surat-surat pribadi, teman saya tidak pernah menulis sepatah kata pun, termasuk saat ia masih duduk di bangku sekolah. Tak heran, si agen dengan mudah menemukan banyak kesalahan di karangan teman saya. Bahkan catatan si agen hampir sama panjangnya dengan fiksi karya teman saya itu.

Semula teman saya menerima dengan lapang saat membaca catatan kritis dari si agen. Akan tetapi, ketika dia tahu si agen meragukan latar belakangnya sebagai polisi, dia mulai emosi.

“Tunggu saja, aku akan menulis untuk si brengsek itu dan memberitahunya bahwa aku bekerja sebagai polisi selama dua puluh tahun,” katanya.

“Itu jelas kesan kamu pernah jadi polisi tidak muncul dalam ceritamu,” kataku padanya. Dan, faktanya ia tidak pernah membuktikan omangannya.

Sebenarnya, teman saya itu salah memahami maksud si agen. Tak ada yang meragukan pengetahuannya soal kisah polisi dan perampok. Si agen hanya mengkritik cara teman saya tadi dalam mengisahkan fiksi soal polisi dan perampok. Karena meski kaya detail, karangan teman saya kering dan terkesan dibuat-buat. Ini sebenarnya kesalahan umum di kalangan penulis pemula yang merasa sudah menulis fiksi berkualitas karena isinya terkait dengan hal yang sangat mereka ketahui.

Padahal, mereka perlu mengetahui teknik untuk membuat fiksi yang terkesan otentik dan menarik. Tanpa tahu tekniknya, si pengarang hanya seolah-olah menulis ensiklopedia, bukan cerita yang memikat pembaca.

Menaburi Cerita Dengan Detail Menarik

Ada teknik cukup mudah untuk menggambarkan latar dalam kisah secara menarik meski tidak sesederhana dalam praktiknya. Pada dasarnya, teknik ini soal cara memasukkan banyak detail yang tepat pada naskah cerita, sehingga keberadaannya tidak mengganggu alur kisah.

Agar detail-detail itu tidak mengganggu cerita, harus dimunculkan saat alur cerita memang membutuhkannya. Jika detail-detail itu terlalu berlebihan dalam menjelaskan latar cerita, pembaca akan mudah menemukan keanehan.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Trending