Connect with us

Classic Prose

Katakan kepada Mereka Jangan Membunuhku!

mm

Published

on

Dia bahkan tidak mengizinkan istrinya pergi dan meninggalkannya? Hari ketika dia mengetahui istrinya sudah meninggalkannya, gagasan untuk pergi mencarinya bahkan tidak terlintas di dalam benaknya. Dia membiarkan istrinya pergi tanpa berusaha menemukan samasekali istrinya pergi dengan siapa atau ke mana..

Terjemahan Iwan Nurdaya-Djafar |

*) Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke bahasa Inggris oleh George D. Schade

___

“Katakan pada mereka jangan membunuhku, Justino! Pergilah dan katakan itu kepada mereka. Demi Tuhan! Katakan kepada mereka. Katakan kepada mereka demi Tuhan, tolonglah.”

“Aku tak bisa. Di sana ada seorang sersan yang tak ingin mendengar apapun tentang dirimu.”

“Buat dia mendengarkanmu. Gunakan akalmu dan katakan padanya bahwa bekas lukaku sudah cukup. Katakan padanya demi Tuhan, tolonglah.”

“Tapi itu bukan sekadar menggoresimu. Itu tampaknya mereka benar-benar bermaksud membunuhmu. Dan aku tak ingin kembali ke sana.”

“Pergilah sekali lagi. Sekali saja, untuk melihat apa yang bisa kau lakukan.”

“Tidak. Aku tak merasa seperti ingin pergi. Karena jika aku pergi mereka akan tahu aku adalah putramu. Jika aku tetap menyusahkan mereka, mereka akhirnya akan tahu siapa aku dan akan memutuskan untuk menembakku juga. Lebih baik tinggalkan jauh peralatan mereka sekarang.”

“Pergilah, Justino. Katakan kepada mereka untuk bersikap sedikit kasihan terhadapku. Katakan saja itu kepaa mereka.”

Justino menggemeretukkan giginya dan menggelengkan kepalanya sembari mengatakan tidak.

Dan dia terus menggelengkan kepalanya selama beberapa waktu.

“Katakan kepada sersan itu untuk mengizinkanmu bertemu kolonel. Dan katakan padanya betapa tuanya aku – Betapa tak berharganya aku. Apa yang dia inginkan dengan membunuhku? Tak ada apapun. Bagaimanapun juga dia pasti memiliki jiwa. Katakan padanya untuk melakukan itu demi keselamatan nan diberkahi atas jiwanya.”

Justino beranjak dari gundukan batu tempat dia duduk di atasnya dan berjalan ke gerbang sebidang tanah berpagar kayu tempat ternak.Lalu dia berpaling untuk mengatakan, “Baiklah, aku akan pergi. Tapi jika mereka memutuskan untuk menembakku juga, siapa yang akan merawat istri dan anak-anakku?”

“Tuhan1 yang akan memelihara mereka, Justino. Kau pergi ke sana sekarang dan lihat apa yang bisa kau lakukan untukku. Itulah masalanya.”

Mereka menangkapnya pada saat subuh. Pagi itu kira-kira sebaik sekarang dan dia masih di sana, diikat pada sebuah tonggak, sedang menunggu. Dia tetap tak bisa tenang. Dia berusaha tidur sejurus untuk menenangkan diri, tapi dia tak bisa. Dia pun tidak lapar. Yang dia inginkan hanayalah tetap hidup. Sekarang dia tahu bahwa mereka benar-benar bermaksud membunuhnya, dia hanya bisa merasakan hasrat besarnya untuk tetap hidup, seperti seorang pria yang disadarkan2 baru-baru ini.

Siapa yang akan berpikir bahwa perkara lama yang terjadi sudah begitu lama dan yang menurutnya sudah dikubur dalam-dalam akan muncul? Perkara itu ketika dia membunuh Don Lupe. Pun bukan untuk apapun, seperti the Alimas coba untuk pahami, melainkan karena dia memiliki alasan-alasannya. Dia teringat: Don Lupe Terreros, pemilik Puerta de Piedra—dan di samping itu, mitra pendirinya – adalah orangnya, Juvencio Nava, yang sudah dibunuh, karena dia menolak dirinya menggembalakan  hewan-hewannya, ketika dia merupakan pemilik Puerta de Piedra dan  mitra pendirinya juga.

Semula dia tidak melakukan apapun karena dia merasa berkompromi. Tapi kemudian, saat kemarau datang, saat dia melihat hewan-hewannya mati satu demi satu, terganggu oleh kelaparan, dan betapa mitra pendirinya Lupe terus menolak mengizinkannya memanfaatkan padang rumputnya, selanjutnya saat dia mulai menerobos pagar dan menggembala kawanan hewan yang menghasilkan bulu di padang rumput tempat hewan-hewan itu bisa mendapatkan tempat merumputnya. Dan Don Lupe tidak menyukainya dan memerintahkan pagar itu diperbaiki, sehingga dia, Juvencio Nava, mesti memotong untuk membuka lagi lubang itu.

Jadi, selama siang itu lubang itu ditutup dan pada malam hari lubang itu dibuka kembali, sementara ternak3 tetap tinggal persis di depan pagar itu, selalu menunggu – ternaknya sebelum  ditempatkan hanya membaui rumput itu tanpa bisa merasakannya.

Dan dia dan Don Lupe terus-menerus bertengkar tanpa tiba pada kesepakatan manapun.

Sampai suatu hari Don Lupe berkata padanya, “Lihat kemari,  Juvencio, jika kau biarkan hewan lain di padang rumputku, aku akan membunuhnya.”

Dan dia membalasnya, “Lihat kemari, Don Lupe, itu bukan salahku karena hewan-hewan itu menjaga dirinya sendiri. Mereka tak bersalah. Kau yang harus membayar untuknya, jika kau membunuh hewan-hewan itu.”

Dan dia membunuh salahsatu dari anak-anak kuda milikku yang berumur antara satu atau dua tahun.4

Ini terjadi tiga puluh lima tahun yang lalu pada bulan Maret, karena pada bulan April aku sudah di atas pegunungan, melarikan dari dari surat-surat perintah panggilan itu. Sepuluh ekor sapi yang aku berikan kepada hakim  tidak memberiku kebaikan apapun, atau hak gadai5 pada rumahku pun tidak, untuk membayar diriku ke luar dari penjara. Mereka kemudian tetap menghabiskan apa yang tersisa untuk membayar sehingga mereka tidak akan menahanku sesudah itu, tapi mereka menahanku sesudah itu seperti biasa. Itulah kenapa aku datang untuk tinggal bersama putraku di potongan lain dari tanah milikku ini yang disebut Palo de Venado. Dan putraku tumbuh dewasa dan menikah dengan menantu perempuanku Ignacia dan sudah memiliki delapan anak sekarang. Jadi itu sudah lama terjadi dan pasti sudah dilupakan sekarang. Tapi aku kira tidak.

Aku hitung waktu itu bahwa dengan sekitar seratus peso segala sesuatunya bisa diperbaiki. Kematian Don Lupe hanya meninggalkan istrinya dan dua anak kecil yang masih merangkak. Dan jandanya meninggal segera setelah itu juga – mereka bilang karena kesedihan yang mendalam. Mereka membawa jauh anak-anak itu  kepada beberapa kerabat. Jadi di sana tidak ada yang perlu ditakuti oleh mereka.

Tetapi orang-orang lainnya yang mengambil posisi itu sehingga aku tetap dipanggil untuk diadili hanya untuk menakutiku sehingga mereka bisa tetap memerasku. Setiap kali seseorang datang ke desa itu menuturkan padaku, “Ada beberapa orang baru di kota, Juvencio.”

Dan aku akan melarikan diri ke pegunungan, bersembunyi di tengah semak-semak madrone6 dan melewati hari-hari tanpa memakan apapun selain tumbuh-tumbuhan bumbu. Kadangkala aku mesti ke luar pada tengah malam, seolah-olah kawanan anjing ada di belakangku. Begitulah seluruh jalan hidupku. Bukan hanya satu atau dua tahun. Seluruh hidupku.

Dan sekarang mereka sudah datang untuknya saat dia tak lagi mengharapkan siapapun, percaya diri bahwa orang-orang sudah melupakan semua tentang itu, percaya bahwa dia sudah menghabiskan sedikitnya hari-ahri terakhirnya dalam damai. “Setidaknya,” dia kira, “aku sudah memiliki suatu kedamaian di usia tuaku. Mereka akan meninggalkan diriku sendirian.”

Dia berpegang teguh pada harapan ini dengan segenap hatinya. Itulah kenapa sulit untuknya membayangkan bahwa dia mesti mati seperti ini, secara tiba-tiba, pada waktu hidup ini, setelah begitu banyak berjuang menghindari kematian, setelah menghabiskan tahun-tahun terbaiknya dengan melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain karena khawatir, sekarang ketika tubuhnya sudah menjadi benar-benar kering dan kasar karena hari-hari buruk ketika dia berada di dalam persembunyian dari semua orang.7

Dia bahkan tidak mengizinkan istrinya pergi dan meninggalkannya? Hari ketika dia mengetahui istrinya sudah meninggalkannya, gagasan untuk pergi mencarinya bahkan tidak terlintas di dalam benaknya. Dia membiarkan istrinya pergi tanpa berusaha menemukan samasekali istrinya pergi dengan siapa atau ke mana, sehingga dia tidak ingin datang ke dusun itu. Dia biarkan istrinya pergi seperti dia membiarkan segala sesuatu yang lain pergi, tanpa memberikan suatu perlawanan. Semua yang sudah dia tinggalkan untuk memedulikan istrinya, dan dia sudah melakukan hal itu, jika tidak ada yang lain. Dia tidak bisa membiarkan mereka membunuh dirinya. Dia tidak bisa. Setidaknya sekarang.

Tetapi itulah kenapa mereka membawanya dari sana, dari Palo de Venado. Mereka tidak perlu mengikatnya sehingga dia mengikuti mereka. Dia berjalan sendirian, diikat oleh rasa takutnya. Mereka sadar dia tak bisa lari dengan tubuh tuanya, dengan kaki-kaki kurusnya seperti kulit kayu yang kering, kejang dengan rasa takut akan kematian. karena itulah tempat dia menuju. Menuju kematian. Begitulah mereka mengatakan padanya.

Begitulah ketika dia tahu. Dia mulai merasa bahwa rasa perih di dalam perutnya yang selalu datang dengan mendadak ketika dia melihat kematian mendekat, membuat matanya terbelalak oleh rasa takut dan mulutnya bengkak  dengan suapan-suapan air asam itu yang mesti dia telan dengan segan. Dan hal itu yang membuat kakinya berat sementara kepalanya merasa ringan dan jantungnya berdetak dengan semua kekuatannya menentang tulang iganya. Tidak, dia tidak bisa terbiasa dengan gagasan bahwa mereka akan membunuh dirinya. Pasti ada suatu harapan di sana. Di manapun juga pasti masih ada harapan tersisa. Mungkin mereka sudah melakukan suatu kesalahan. Mungkin mereka mencari Juvencio Nava yang lain tapi bukan dirinya.

Dia berjalan di dalam kebisuan di antara orang-orang ini, dengan kedua tangannya terjatuh pada sisi-sisinya. Saat dinihari itu gelap, tanpa bintang. Angin bertiup perlahan, mondar-mandir mendera bumi yang kering, yang dipenuhi dengan bau seperti air kencing yang dimiliki jalanan-jalanan berdebu.

Matanya, yang sudah menjadi juling bersama tahun-tahun itu, memandang ke bawah ke tanah, di sini di bawah kakinya, meskipun gelap. Di atas tanah itu adalah seluruh hidupnya. Enam puluh tahun hidup di atasnya, memegangnya kuat-kuat dengan tangannya, merasakannya seperti seseorang merasakan rasa makanan. Untuk suatu waktu yang lama dia sudah ambruk bersama matanya, menikmati setiap potongan seolah-olah itu adalah yang terakhir, nyaris mengetahui itu akan menjadi yang terakhir.

Kemudian, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, dia memandang orang-orang itu yang berbaris maju di sebelahnya. Dia ingin mengatakan kepada mereka untuk membiarkan dirinya lepas, untuk mengizinkannya dirinya pergi; “Aku tidak melukai siapapun, bung,” dia dia ingin mengatakan kepada mereka, tapi dia tetap membisu. “Sebentar lagi aku akan mengatakannnya kepada mereka,” dia berpikir. Dan dia hanya memandang pada mereka. Dia bahkan bisa membayangkan mereka adalah para sahabatnya, tapi dia tak ingin membayangkannya. Mereka bukan sahabatnya. Dia tidak tahu siapa mereka. Dia memandang mereka sedang bergerak di sampingnya dan membungkuk dari waktu ke waktu untuk melihat ke mana jalan itu membentang terus.

Dia melihat mereka untuk kali pertama pada senjakala, saat kehitam-hitaman ketika segala sesuatu tampak gosong. Mereka melintasi parit-parit7 sembari melangkah di atas jagung yang empuk. Dan dia turun karena itu – untuk mengatakan kepada mereka bahwa jagung baru mulai tumbuh di sana. Tapi itu tidak menghentikan mereka.

Dia melihat mereka pada waktunya, Dia selalu beruntung melihat segala sesuatu pada waktunya. Dia bisa bersembunyi, lari ke atas pegunungan untuk beberapa jam sampai mereka pergi dan kemudian turun lagi. Sudah saatnya hujan turun, namun hujan tidak turun dan jagung itu mulai layu. Segera jagung itu akan benar-benar mengering.

Jadi itu bahkan tidak menjadi bermanfaat, dia turun dan menempatkan diri di tengah orang-orang itu seperti sebuah lubang, tak pernah ke luar lagi.8

Dan sekarang dia terus di samping mereka, menahan betapa ia ingin menuturkan kepada mereka agar membiarkannya pergi. Dia tidak melihat wajah mereka, dia hanya melihat tubuh mereka, yang mengayun ke arahnya dan kemudian menjauh darinya. Jadi ketika dia mulai berbicara dia tidak tahu apakah mereka mendengarnya. Dia berkata, “Aku tak pernah melukai siapapun.” Itulah apa yang dikatakan. Tapi tidak mengubah apapun. Tak satu pun dari tubuh-tubuh itu terlihat memberi perhatian. Wajah mereka tidak menoleh kepadanya, Mereka tetap terus berjalan, seolah-olah mereka sedang berjalan di dalam tidurnya.

Lalu dia berpikir bahwa di sana tak ada apapun yang lain yang bisa dia katakan, yang dia akan miliki untuk mencari harapan di suatu tempat yang lain. Dia membiarkan tangannya jatuh lagi di sisi-sisinya dan pergi mendekati perumahan pertama dusun itu, di tengah empat orang itu, digelapi oleh warna hitam malam.

“Kolonel, orang itu ada di sini.”

Mereka berhenti di depan pintu masuk yang sempit. Dia berdiri dengan topinya di tangannya, dengan hormat, menunggu untuk melihat seseorang ke luar. Tapi hanya suara yang muncul, “Orang yang mana?”

“Dari Palo de Venado, kolonel. Orang yang kau perintahkan pada kami untuk dibawa masuk.”

“Tanya dia apakah dia pernah tinggal di Alima,” datang suara dari sebelah dalam itu lagi.

“Hei, kau. Pernah tinggal di Alima?” sersan itu menghadapnya mengulangi pertanyaan.

“Ya. Katakan kepada kolonel dari situlah aku berasal. Dan bahwa aku tinggal di sana sampai tidak lama yang lalu.”

“Tanyakan padanya apakah dia mengenal Guadalupe Terreros.”

“Dia bilang apakah kau mengenal Guadalupe Terreros?”

“Don Lupe? Ya. Katakan padanya bahwa aku mengenalnya. Dia sudah meninggal.”

Lalu suara dari arah dalam itu berubah nada, “Aku tahu dia meninggal,” itulah yang dikatakan. Dan suara itu terus berbicara, seolah-olah suara itu bercakap-cakap dengan seseorang di sisi lain dari dinding bambu itu.9

“Guadalupe Terreros adalah ayahku. Ketika aku tumbuh dewasa dan mencarinya mereka mengatakan padaku dia sudah mati. Adalah sulit untuk mengetahui bahwa hal yang kita miliki untuk bergantung padanya demi mengambil akar-akar daripadanya sudah mati. Itulah apa yang terjadi pada kami.

“Selanjutnya aku tahu bahwa dia tewas oleh sabetan pertama dengan sebilah pisau besar10 dan kemudian sebuah galah lembu jantan11 menikam ke dalam perutnya. Mereka mengatakan padaku dia sekarat lebih dari dua hari dan bahwa ketika mereka menemukannya, tergeletak di sebuah arroyo12, dia masih berada di dalam penderitaan mendalam dan memohon agar keluarganya memerhatikannya.

“Tatkala waktu berlalu rupanya kau melupakan ini. Kau mencoba melupakannya. Apa yang tak bisa kau lupakan adalah mendapati bahwa orang yang melakukan hal itu tetap hidup, memberi makan jiwanya yang busuk dengan ilusi kehidupan abadi. Aku tak bisa memaafkan orang itu, meskipun aku tidak mengenalnya; tapi fakta yang aku tahu di mana dia adalah membuatku ingin mengakhiri dirinya. Aku tak bisa memaafkan dirinya tetap hidup. Dia mestinya tak pernah dilahirkan.”

Dari sini, dari sebelah luar, semua yang dia katakan terdengar dengan jelas. Lalu dia memerintahkan, “Bawa dia dan ikat dia untuk sementara, sehingga dia akan menderita, dan kemudian tembak dia!”

“Lihat diriku, kolonel!” dia memohon. “Aku tak berharga apapun sekarang. Tidak akan lama sebelum aku mati, semuanya oleh diriku sendiri, dilumpuhkan oleh usia tua. Jangan bunuh aku!”

“Bawa dia menjauh,” ulang suara dari sebelah dalam.

“Aku sudah membayar, kolonel. Aku sudah banyak kali membayar. Mereka membawa segala sesuatu menjauh dariku. Mereka menghukum diriku dalam banyak cara. Aku sudah melewati persembunyian hampir  empat puluh tahun seperti seorang penderita penyakit kusta13, selalu bersama rasa takut mereka akan membunuhku pada saat kapanpun. Aku tidak pantas menerima kematian seperti ini, kolonel. Biarlah Tuhan mengampuniku, setidaknya. Jangan bunuh aku! Katakan kepada mereka jangan membunuhku!”

Dia berada di sana, seolah-olah mereka sudah memukulnya, meluapkan emosinya di atas tanah. Berteriak.

Dengan segera suara dari arah dalam itu berkata, “Ikat dia dan beri dia sesuatu untuk diminum sampai dia mabuk sehingga tembakan-tembakan itu tidak akan menyakiti dirinya.”

Akhirnya, sekarang, dia membisu. Dia ada di sana, merosot ke bawah di atas kaki pada tempat itu. Putranya Justino sudah datang dan sudah kembali dan sekarang sudah datang lagi.

Dia menggendongnya ke atas keledai kecil. Dia mengikatnya kuat-kuat di atas pelana agar dia tidak akan jatuh di jalan. Dia tempatkan kepalanya di dalam sebuah karung sehingga eksekusi itu tidak akan memberi suatu kesan buruk . Dan kemudian dia membuat keledai kecil itu13 berlari lebih cepat, dan membalap mereka yang pergi tergesa-gesa untuk mencapai Palo de Venado pada waktunya untuk mengatur persiapan14 untuk orang mati itu. w

 

Catatan:

1 penjagaan dan pengawasan yang dilakukan oleh Tuhan
2 dipulihkan agar siuman atau kesadaran
3 livestock: hewan-hewan apapun yang dipelihara untuk digunakan atau keuntungan
4 seekor hewan pada umur keduanya
5 hak untuk mengambil kekayaan orang lain jika suatu utang tidak dibayar
6 madroño: varietas manapun daru pepohonan arbutus yang senantiasa menghijau di bagian barat Amerika Utara, memiliki berry merah dan kayu yang keras
7 parit-parit yang terpotong di tanah, seperti ketika dibajak dengan tujuan untuk memanen yang ditanam
8 saluran air yang dipotong-potong atau selokan di lahan kering, biasanya lebih kecil dengan tepi saluran yang curam, yang kering pada sebagian besar  waktu karena curah hujan jarang-jarang
9 alang-alang hijau tinggi yang banyak batang kayunya dengan tangkai yang ramping kosong; gubuk tempat dia diiterogasi rupanya sebuah gubuk alang-alang
10 machete: sebilah pisau besar yang berat dipergunakan di Amerika Selatan dan Tengah sebagai senjata atau untuk memotong tumbuh-tumbuhan
11 sebuah alat tajam yang dipergunakan untuk menusuk dalam keadaan bergerak
12 saluran air yang dipotong-potong atau selokan di lahan kering, biasanya lebih kecil dengan tepi saluran yang curam, yang kering pada sebagian besar  waktu karena curah hujan jarang-jarang
13 seseorang yang menderita karena kusta, suatu infeksi yang menyebabkan kerusakan pada syaraf dan menjelekkan kulit – digunakan di sini untuk mengindikasikan seseorang yang dihindarkan oleh orang lain, seorang  pariah atau orang buangan masyarakat
14 burro: keledai kecil digunakan sebagai hewan beban
15 suatu keadaan berjaga-jaga yang diadakan terhadap sesosok jenazah pada malam sebelum penguburan

 

 

| Juan Rulfo (pengucapan Spanyol: [xuan rulfo] ) (16 Mei 1917, data lain 1918, — 7 Januari 1986) adalah seorang penulis dan fotografer asal Meksiko. Salahsatu dari pengarang Amerika Latin yang sangat dihormati,  reputasi Rulfo bertumpu pada dua buku tipis, novel Pedro Paramo (1955), dan El Llano en llama (1953). 15 dari 17 cerita pendeknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam The Burning Plain and Other Stories (Dataran Terbakar dan Cerita Lainnya), sebuah kumpulan cerita pendek yang meliputi cerpennya yang mengagumkan “¡Diles que no me maten!” (“Tell Them Not to Kill Me!”; (“Katakan Mereka Jangan Membunuhku!”).

Dia dan Jorge Luis Borges dijuluki para penulis berbahasa Spanyol dari abad ke-20 yang sangat penting dalam suatu jajak pendapat yang dilakukan oleh Editorial Alfaguara dan dilaporkan dalam Frank Janney, ed., Inframundo The Mexico Juan Rulfo (New York: Persea Books, 1984) . Ada lebih dari 6.000 negatif dari foto-fotonya di Juan Rulfo Foundation.

Rulfo lahir sebagai Juan Carlos Nepomuceno Perez Rulfo Vizcaino di Apulco, Jalisco (meskipun ia terdaftar di Sayula, Jalisco), di rumah kakek dari pihak ayah. Setelah ayahnya terbunuh pada tahun 1923 dan setelah  kematian ibunya pada tahun 1927, neneknya membesarkannya di kota San Gabriel, Jalisco. Keluarga besar mereka terdiri dari pemilik tanah yang nasibnya hancur oleh Revolusi Meksiko dan Perang Cristero dari 1926-1928, suatu kontra-pemberontakan integralis Katolik Roma melawan pemerintah Meksiko setelah Revolusi Meksiko. Ibu Rulfo meninggal karena serangan jantung pada bulan November 1927, ketika ia berusia sepuluh tahun, dua pamannya meninggal satu tahun kemudian.

Juan Rulfo baru saja dikirim ke sebuah studi di Sekolah Luis Silva, tempat dia tinggal dari 1928-1932. Dia menyelesaikan enam tahun sekolah dasar dan pada tahun ketujuh ia lulus sebagai pemegang buku, meskipun ia tidak pernah menjalani profesi itu. Rulfo menghadiri seminari (analog dengan sekolah menengah) dari 1932-1934, tetapi tidak kuliah di universitas) setelah ─ baik karena Universitas Guadalajara ditutup karena pemogokan dan karena ia tidak mengambil kursus persiapan sekolah. Sebagai gantinya, Rulfo pindah ke Mexico City , tempat dia kali pertama kali memasuki Akademi Militer Nasional, yang dia tinggalkan setelah tiga bulan, dan kemudian ia berharap untuk belajar hukum di Universidad Nacional Autonoma de México.

Pada tahun 1936, Rulfo bisa memperoleh jalan ke dalam sastra di sana karena ia memperoleh pekerjaan sebagai seorang petugas Arsip imigrasi melalui pamannya, David Pérez Rulfo, seorang kolonel yang bekerja untuk pemerintah, yang juga mendapatkan untuk dirinya memasuki akademi militer. Di sanalah Rulfo pertama mulai menulis di bawah bimbingan seorang rekan kerja, Efren Hernández.

Pada tahun 1944 Rulfo telah bersama-sama mendirikan jurnal sastra Pan. Kemudian ia mendapat kemajuan dalam posisinya, dan ia pergi ke Meksiko sebagai agen imigrasi. Pada tahun 1946 ia memulai sebagai mandor untuk Goodrich Euzkadi, tapi temperamennya yang sejuk malah membuat dia memilih bekerja sebagai agen penjualan grosir perjalanan. Hal ini mengharuskan dirinya untuk melakukan perjalanan di seluruh Meksiko selatan, sampai ia dipecat pada tahun 1952 karena meminta sebuah radio untuk mobil perusahaannya.

Ia menikahi Clara Angelina Aparicio Reyes (Mexico City, 12 Agustus 1928) di Guadalajara, Jalisco, pada 24 April 1948, mereka memiliki empat anak, Claudia Berenice (Mexico City, Januari 29, 1949), Juan Francisco (Guadalajara, Jalisco, 13 Desember 1950), Juan Pablo (México City, 18 April, 1955) dan Juan Carlos Rulfo (México City, 24 Januari 1964).

Juan Rulfo memperoleh beasiswa di Centro Mexicano de Escritores, didukung oleh Yayasan Rockefeller. Di sana, antara 1952 dan 1954, ia mampu menulis dua buku yang akan membuatnya terkenal. Buku pertama adalah kumpulan cerita pendek realistik yang kasar berjudul El Llano llama en (1953). Cerita berpusat di sekitar kehidupan di perdesaan Meksiko di sekitar waktu antara  Revolusi Meksiko dan Pemberontakan Cristero .

Di antara cerita yang paling terkenal adalah “¡Diles que no me maten!” (“Tell Them Not To Kill Me!”, “Katakan Kepada Mereka Jangan Membunuhku!”), tentang seorang tua, yang dijadwalkan akan dieksekusi, yang memiliki penjaga penjara yang kebetulan anak seorang pria yang membunuh, dan “¿No Oyes ladrar los perros?” (“Don’t You Hear the Dogs Bark?”, “Tidakkah Kau Dengar Anjing Menyalak?”), tentang seorang pria yang membawa putranya yang dewasa, terasing, dan terluka di punggungnya untuk mencari dokter.

Buku kedua adalah Pedro Paramo (1955) sebuah novel pendek tentang seorang pria bernama Juan Preciado yang melakukan perjalanan ke kampung halaman ibunya yang baru saja mati, Comala, untuk menemukan ayahnya, hanya untuk datang di sebuah kota hantu dalam arti sesungguhnya — penduduknya, yaitu, oleh sosok-sosok aneka warna. Awalnya, novel itu mendapatkan penerimaan kritik yang dingin dan dijual hanya dua ribu eksemplar selama empat tahun pertama; kemudian, bagimanapun juga, buku ini menjadi sangat terkenal. Paramo sangat memengaruhi para penulis Amerika Latin seperti Gabriel García Márquez. Buku ini mengalami beberapa perubahan nama. Dalam dua surat yang ditulis pada tahun 1947 kepada tunangannya Clara Aparicio ia merujuk kepada judul karya yang sedang sedang ia tulis  pada waktu itu sebagai Una estrella junto a la luna (Sebuah Bintang di Depan Rembulan), sambil mengatakan bahwa hal itu menyebabkan dirinya  bekerja keras.

Selama tahap terakhir penulisan, ia menulis di jurnal-jurnal bahwa judul akan menjadi Los murmullos (Bisikan-bisikan), sebuah  judul yang menunjukkan inspirasi dari novel The Wild Palms dan Jika Aku Melupakanmu Yerusalem oleh William Faulkner, dan terima kasih untuk beasiswa dari Centro Mexicano de Escritores Rulfo karena bisa menyelesaikan tulisan itu antara 1953 dan 1954 dan menerbitkannya pada tahun 1955.

Bukunya yang lain adalah sebuah buku fotografi Mexico: Juan Rulfo Fotógrafo, 2001, edisi bahasa Spanyol dari foto-fotonya dengan esai-esai oleh pengarang.

Iwan Nurdaya-Djafar adalah penyair, cerpenis, esais, dan penerjemah, tinggal di Bandarlampung. Sekretaris Akademi Lampung ini menulis di sejumlah media massa seperti Horison, Ulumul Quran, Sarinah, Amanah, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll. Buku-bukunya Seratus Sajak, Bendera (kumpulan cerpen), Hukum dan Susastra, menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran seperti Sang Nabi, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Kematian Sebuah Bangsa, Airmata dan Senyuman. Terjemahan lainnya novel Lelaki dari Timur (Mohsen El-Guindy), Membeli Setangkai Pancing untuk Kakekku (kumpulan cerpen Gao Xinjiang), Agustus 2026: Saat itu Akan Turun Hujan Gerimis (kumpulan cerpen Ray Bradbury), Indonesia di Mata India: Kala Tagore Melawat Nusantara, dll.

Classic Prose

William Faulkner: Mawar Untuk Emily

mm

Published

on

Mereka bangkit saat dia masuk—seorang wanita mungil gemuk… Dia kelihatan lesi dan kembung, serupa tubuh yang sekian lama terendam dalam air. Matanya, yang tersembunyi di antara tonjolan-tonjolan lemak di wajahnya, tampak bagaikan dua bongkah batu bara yang dicetak menjadi potongan-potongan kecil. Mata itu bergerak dari satu wajah ke wajah lain sementara para tamu menyatakan maksud kedatangan mereka…

Mawar Untuk Emily | William Faulkner

Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana dari cerpen berjudul “A Rose for Emily”, yang terhimpun dalam kumpulan cerpen Collected Stories of William Faulkner (Ramdom House, Inc., 1934).

I

SAAT Nona Emily Grierson wafat, seluruh warga kota mengikuti prosesi pemakamannya: para pria ikut mengantar untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang layak dikenang, para wanita turut serta terutama karena penasaran ingin menyaksikan bagian dalam rumahnya, yang selama berpuluh tahun tak pernah dilihat siapa pun dan hanya diurus oleh seorang pelayan pria tua—gabungan tukang kebun dan koki.

Rumah besar yang dahulu bercat putih itu berbentuk agak persegi dan dihiasi dengan kubah, menara, serta balkon lengkung terbuka bergaya tahun 1870-an. Rumah itu berdiri di lokasi yang pernah menjadi jalan tersibuk di kota. Namun, bengkel-bengkel dan mesin-mesin pemisah biji kapas telah mendesak dan mengusir rumah-rumah besar milik para keluarga terpandang dari sana. Hanya rumah Nona Emily yang masih tersisa, menabalkan kekalahan yang tabah di antara gerbong-gerbong kapas dan pompa bensin—sebuah panorama unik di antara panorama umum. Dan sekarang Nona Emily pun telah pergi bergabung dengan nama-nama agung yang terbaring di pemakaman Cedar, di antara makam para perwira dan prajurit tak dikenal dari pihak Union dan Konfederasi yang gugur pada pertempuran Jefferson.

Semasa hidupnya, Nona Emily adalah simbol tradisi, tugas, dan perawatan: semacam kewajiban turun-temurun yang harus dipikul kota. Suatu hari di tahun 1894, Kolonel Sartoris, walikota saat itu—pejabat yang juga menetapkan dekrit yang melarang wanita Negro muncul di jalanan, kecuali memakai celemeknya—menghapus kewajiban pajak Nona Emily, sebuah kelonggaran yang berlaku sejak hari kematian ayah Nona Emily sampai seterusnya. Bukan berarti Nona Emily senang menerima amal. Kolonel Sartoris mengarang kisah heroik tentang bagaimana ayah Nona Emily telah meminjamkan sejumlah besar uang untuk kebutuhan publik, dan murni karena alasan bisnis, pihak pengelola kota lebih memilih cara pembayaran melalui pembebasan pajak. Hanya seorang dari generasi dan pemikiran khas Kolonel Sartoris yang bisa mengarang kisah semacam itu, dan hanya seorang wanita seperti Nona Emily yang bisa memercayainya.

Saat generasi walikota dan anggota dewan kota berikutnya datang dengan ide-ide yang lebih modern, pengaturan itu menimbulkan sedikit ketidakpuasan. Pada bulan pertama, mereka mengirimkan pemberitahuan tagihan pajak kepadanya. Februari tiba, dan dia tidak memberi jawaban. Mereka menulis surat resmi kepadanya, meminta Nona Emily untuk datang ke kantor pejabat kota. Seminggu kemudian, walikota sendiri yang menulis, menawarinya pilihan untuk datang sendiri atau mengirimkan kendaraan untuk menjemputnya. Walikota hanya menerima balasan sebuah catatan di selembar kertas kuno, ditulis dengan huruf-huruf buram serupa kaligrafi tipis yang menyatakan bahwa dia kini tidak pernah keluar rumah sama sekali. Pemberitahuan pajak juga dilampirkan, tanpa komentar.

Mereka mengadakan pertemuan khusus Dewan Kota. Utusan dikirim, mereka mengetuk pintu rumah yang tak pernah menerima pengunjung sejak Nona Emily berhenti memberikan pelajaran melukis delapan atau sepuluh tahun lalu. Mereka diterima oleh seorang Negro tua, diantarkan ke dalam ruang aula yang remang. Di sana, ada tangga naik menuju sebuah ruangan yang terlihat jauh lebih gelap. Tercium bau debu dan udara lembab—bau ruangan yang telah lama terbengkalai. Si Negro memandu mereka ke ruang tamu. Ruangan itu dilengkapi perabotan dan kursi besar berlapis kulit. Saat si Negro membuka tirai satu jendela, mereka bisa melihat lapisan kulit kursi yang retak-retak.  Ketika mereka duduk, butir-butir debu naik perlahan-lahan dari paha mereka, berputar dengan gerakan lambat dalam seberkas cahaya matahari. Di depan perapian, pada papan kuda-kuda yang lapisan catnya telah pudar, terpacak potret ayah Nona Emily.

Mereka bangkit saat dia masuk—seorang wanita mungil gemuk yang mengenakan gaun hitam dan ikat pinggang rantai emas pipih. Dia bertumpu pada sebuah tongkat kayu eboni, menggenggam kepala tongkat bersepuh emas yang telah kehilangan kilaunya. Kerangkanya tampak kecil dan renggang, mungkin itulah sebabnya mengapa orang-orang menangkap kesan kegemukan pada dirinya. Dia kelihatan lesi dan kembung, serupa tubuh yang sekian lama terendam dalam air. Matanya, yang tersembunyi di antara tonjolan-tonjolan lemak di wajahnya, tampak bagaikan dua bongkah batu bara yang dicetak menjadi potongan-potongan kecil. Mata itu bergerak dari satu wajah ke wajah lain sementara para tamu menyatakan maksud kedatangan mereka.

Dia tak mempersilakan mereka duduk. Dia hanya berdiri di depan pintu dan mendengarkan dengan tenang sampai para tamu berhenti berbicara. Lantas, untuk sejenak, mereka bisa mendengar suara detak jam yang tersembunyi di ujung rantai emasnya.

Suaranya kering dan dingin. “Aku tidak punya kewajiban pajak di Jefferson. Kolonel Sartoris telah menjelaskannya kepadaku. Mungkin salah satu dari Anda bisa membuka buku catatan kota dan menemukan jawaban yang memuaskan.”

“Tapi kami telah memeriksa semua buku catatan. Kami adalah pejabat kota, Nona Emily. Bukankah Anda sudah menerima pemberitahuan dari Sheriff, ditandatangani langsung olehnya?”

“Betul, aku menerima surat,” sahut Nona Emily. “Mungkin dia menganggap dirinya sebagai Sheriff … Tapi aku tidak punya tunggakan pajak di Jefferson.”

“Tapi tidak ada apa pun di buku catatan yang menerangkan klaim itu. Kita harus mulai dengan—”

“Temui Kolonel Sartoris. Aku tidak punya kewajiban pajak di Jefferson.”

“Tapi, Nona Emily—”

“Temui Kolonel Sartoris.” (Kolonel Sartoris telah wafat hampir sepuluh tahun lalu.) “Sudah kubilang, aku tidak punya kewajiban pajak di Jefferson. Tobe!” Si Negro muncul. “Tunjukkan Tuan-tuan ini jalan keluar.”

II

BEGITULAH, dia mengusir mereka dengan telak, sebagaimana dia mencundangi para ayah mereka pula dalam masalah bau busuk tiga puluh tahun lalu.

Masalah itu terjadi dua tahun setelah kematian ayahnya dan tidak lama setelah kekasihnya—yang kami yakini akan menikahinya—menghilang. Setelah kematian ayahnya, dia jarang pergi keluar. Setelah kekasihnya raib, orang-orang hampir tidak pernah melihatnya sama sekali. Beberapa tetangga wanita punya nyali untuk berkunjung, tapi tidak pernah diterima. Satu-satunya tanda kehidupan dari rumah itu adalah si pria Negro—masih seorang bujang muda pada saat itu—yang masuk dan keluar dengan keranjang belanja.

“Mana bisa seorang pria—siapa pun pria itu—mengurus dapur dengan baik,” ujar para wanita; jadi mereka tidak terkejut sewaktu bau busuk merebak dari sana. Praduga itu adalah sisi lain hubungan renggang antara dunia orang kebanyakan dan dunia kelas atas keluarga Grierson.

Seorang tetangga wanita, mengeluh kepada walikota, Judge Stevens, seorang pria berusia delapan puluh tahun.

“Tapi Anda ingin aku berbuat apa, Nyonya?” dia bertanya.

“Kenapa Anda tidak mengirim teguran untuk menghentikan bau busuk itu,” sahut si wanita. “Apa tidak ada hukum di sini?”

“Aku yakin itu tidaklah perlu,” jawab Judge Stevens. “Mungkin hanya bau seekor ular atau tikus yang dibunuh si Negro di halaman. Aku akan bicara dengan pria itu nanti.”

Keesokan harinya, walikota menerima dua keluhan lagi, satu dari seorang pria yang datang dengan sikap sungkan. “Kita benar-benar harus melakukan sesuatu, Tuan. Aku adalah orang terakhir di dunia yang mau mengganggu Nona Emily, tapi kita harus melakukan sesuatu.” Malam itu anggota Dewan Kota—tiga pria tua berjanggut abu-abu dan seorang pria yang lebih muda, seorang calon pemimpin masa depan—mengadakan rapat.

“Sebenarnya cukup sederhana,” kata si pria muda. “Kirim saja teguran kepadanya agar membersihkan rumah itu. Beri dia waktu untuk melakukannya, dan jika dia tidak …”

“Tapi, Tuan,” sergah Judge Stevens, “bagaimana bisa Anda menuduh seorang wanita terhormat, di depan wajahnya pula, kalau baunya begitu busuk?”

Jadi pada malam berikutnya, setelah lewat tengah malam, empat pria melintasi halaman rumah Nona Emily dan menyelinap seperti segerombolan pencuri, mengendus-endus sepanjang dinding batu bata dan pintu ruang bawah tanah sementara salah satu dari mereka secara teratur menaburkan bubuk dari karung yang tersampir di bahunya. Mereka membobol pintu ruang bawah tanah dan menaburkan kapur di dalam dan di sekitar bangunan itu. Sewaktu mereka kembali melintasi halaman, sebuah jendela yang sebelumnya gelap, tampak diterangi cahaya lampu. Nona Emily duduk di ambang jendela, cahaya menyorot dari belakangnya, dan tubuh tegaknya diam tak bergerak serupa patung berhala. Mereka merangkak perlahan melintasi halaman, menuju kegelapan semak-semak yang berjajar di sepanjang jalan. Setelah satu atau dua minggu berlalu, bau busuk itu pun lenyap.

Saat itulah orang-orang mulai merasa sangat iba padanya. Orang-orang di kota kami, demi mengenang betapa tua bibi ayahnya, Nona Wyatt, sebelum akhirnya benar-benar gila, percaya bahwa keluarga Grierson menilai diri mereka terlalu tinggi. Tidak ada pria muda yang cukup layak untuk Nona Emily. Sekian lama kami membayangkan mereka sebagai tablo: Nona Emily adalah sosok ramping berpakaian putih di latar belakang, sementara siluet ayahnya melintang di latar depan, menggenggam cambuk dan memunggunginya, postur mereka berdua terbingkai oleh pintu depan yang dibuka paksa. Jadi sewaktu dia menginjak usia tiga puluh tahun dan masih melajang—sebenarnya kami tidak gembira dengan keadaan ini, tapi kami akhirnya merasa punya pembenaran—kami menyimpulkan bahwa mengingat sejarah penyakit gila dalam keluarga mestinya dia tidak menolak semua peluang kalau ingin impiannya benar-benar terwujud.

Sewaktu ayahnya wafat, baru diketahui bahwa ternyata hanya rumah besar itulah harta yang tersisa baginya. Di satu sisi, orang-orang senang. Akhirnya mereka bisa mengasihani Nona Emily. Ditinggal sendirian dan jatuh miskin, dia akan menjadi manusiawi. Sekarang dia akan merasakan pula gejolak rasa cemas dan putus asa akibat kesulitan uang.

Sehari setelah kematian ayahnya, semua wanita bersiap-siap datang ke rumahnya, menyampaikan belasungkawa dan menawarkan bantuan, sebagaimana adat-istiadat kami. Nona Emily menemui mereka di pintu, berpakaian seperti biasa, tanpa roman duka di wajahnya. Dia memberi tahu mereka bahwa ayahnya belum mati. Dia melakukan hal yang sama selama tiga hari. Pendeta datang menemuinya, juga para dokter, mencoba membujuknya untuk membiarkan mereka mengubur jenazah ayahnya. Persis saat mereka hendak menggunakan langkah hukum dan paksaan, dia jatuh depresi, dan kemudian mereka segera memakamkan jenazah ayahnya.

Kami tidak mengatakan bahwa dia gila waktu itu. Kami menilai sangatlah wajar jika dia tertekan. Kami ingat semua pria muda yang telah diusir ayahnya, dan kami pun paham: karena tidak ada lagi yang tersisa baginya, dia mesti berpegang pada apa yang telah merampoknya, sebagaimana yang lazim dilakukan orang-orang.

III

NONA Emily jatuh sakit untuk waktu yang lama. Ketika kami kembali melihatnya, rambutnya dipotong pendek, membuatnya tampak bagaikan gadis muda, menyerupai lukisan para malaikat di jendela kaca patri gereja—semacam kemiripan yang ganjil, tragis tapi tenteram.

Kota baru saja menyetujui kontrak pembangunan trotoar, dan di musim panas setelah kematian ayahnya, mereka memulai pekerjaan. Perusahaan konstruksi datang dengan para pekerja kulit hitam, bagal, dan mesin-mesin, serta seorang mandor bernama Homer Barron. Homer seorang Yankee dari Utara—pria sigap bertubuh besar dan berkulit gelap, dengan suara lantang dan bola mata yang terlihat lebih terang dibandingkan kulit wajahnya. Rombongan bocah laki-laki kerap mengikutinya untuk melihat bagaimana dia memaki para pekerja kulit hitam atau mendengarkan para Negro itu bernyanyi sewaktu memasang dan menurunkan batu-batu. Tak butuh waktu lama, dia mengenal semua orang di kota. Setiap kali terdengar suara tawa di sudut mana pun di sekitar alun-alun, Homer Barron pasti berada di tengah-tengah kerumunan orang itu. Tak lama kemudian, kami mulai melihatnya bersama Nona Emily, berdua mengendarai kereta beroda kuning pada suatu Minggu sore yang cerah.

Mula-mula kami senang karena Nona Emily tertarik pada seseorang, meskipun semua wanita berkata, “Tentu saja, seorang Grierson tak akan mengganggap serius seseorang dari Utara, pekerja kasar pula.” Ada juga pendapat lain dari orang-orang yang lebih tua, yang menyindir bahwa bahkan kesedihan tak boleh menyebabkan seorang wanita sejati melupakan darah biru yang mengalir dalam tubuhnya—tanpa menyebut istilah itu secara langsung tentu saja. Mereka hanya berkata, “Kasihan Emily. Kerabatnya harus datang menemuinya.” Dia punya beberapa orang kerabat di Alabama, tapi bertahun-tahun silam ayahnya pernah bertengkar dengan mereka mengenai persoalan harta Nona Wyatt, si wanita gila, sehingga komunikasi antara kedua keluarga terputus sejak lama. Mereka bahkan tidak datang di hari pemakaman ayahnya.

Dan tak lama setelah para orang tua berkata, “Kasihan Emily”, desas-desus itu pun dimulai. “Apa kau kira benar begitu?” mereka bertanya satu sama lain. “Tentu saja. Apa lagi yang bisa …” Gosip, gemerisik kain sutra dan satin di belakang jalusi yang tertutup, kerap terdengar ketika pasangan itu melintas pada suatu Minggu sore yang hangat: “Kasihan Emily.”

Nona Emily menegaskan wibawanya dengan cukup tinggi—bahkan ketika kami tahu dia telah jatuh miskin. Seolah-olah dia perlu pengakuan lebih dari sebelumnya, semacam pengesahan atas martabatnya sebagai keturunan Grierson terakhir, seolah-olah sentuhan keduniawian itu dibutuhkan untuk menegaskan kembali ketidaksempurnaannya. Contohnya sewaktu dia membeli racun arsenik. Peristiwa itu berlangsung lebih dari setahun setelah orang-orang kota bergunjing “Kasihan Emily”, sewaktu dua sepupu perempuan datang mengunjunginya.

“Aku butuh racun,” ujarnya kepada apoteker. Saat itu usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun, masih seorang wanita mungil, meskipun tampak lebih kurus daripada biasanya. Bola matanya hitam, terkesan dingin dan angkuh. Pelipis wajahnya tegang, matanya berkantung serupa mata seorang penjaga mercusuar. “Aku butuh racun,” ujarnya.

“Ya, Nona Emily. Jenis apa? Untuk tikus atau apa? Aku akan merekomendasikan—”

“Aku ingin racun terbaik yang kaupunya. Aku tak peduli apa jenisnya.”

Apoteker itu menyebutkan beberapa nama. “Racun-racun itu bisa membunuh apa pun, bahkan seekor gajah. Tapi yang Anda inginkan adalah—”

“Arsenik,” tukas Nona Emily. “Apakah bagus?”

“Apa … arsenik? Ya, Nona. Tapi apa yang Anda inginkan—”

“Aku mau arsenik.”

Apoteker itu memandangnya. Dia memandang balik, berdiri tegak dengan roman wajah serupa bendera yang kukuh. “Oh… tentu saja,” kata si apoteker. “Baiklah kalau itu yang Anda inginkan. Tapi peraturan mewajibkan Anda memberi tahu arsenik itu akan digunakan untuk keperluan apa.”

Nona Emily hanya menatapnya. Kepalanya sedikit mendongak untuk menatap lurus mata lawan bicaranya, sampai-sampai si apoteker jengah dan memalingkan wajah, pergi mengambil arsenik, dan membungkusnya. Bocah Negro pelayan toko membawakan bungkusan itu; si apoteker tak berani muncul. Ketika Nona Emily membuka bungkusan itu di rumah, tertulis di kotak, di bawah gambar tengkorak dan tulang: “Untuk tikus”.

IV

BEGITULAH, hari berikutnya kami semua berkata, “Dia akan bunuh diri.” Dan kami berpikir barangkali itu memang hal yang terbaik. Ketika dia pertama kali terlihat bersama Homer Barron, kami beranggapan, “Dia akan menikah dengannya.” Lantas kami berkata, “Dia akan membujuknya,” karena Homer sendiri pernah menyatakan—dia menyukai pria, dan sejumlah orang menyaksikannya minum-minum dengan para pemuda di Elk’s Club—bahwa dia bukanlah jenis pria yang akan menikah. Kemudian, dari belakang jalusi, kami berujar, “Kasihan Emily” ketika pada Minggu sore mereka lewat mengendarai kereta berkilauan itu. Nona Emily duduk dengan kepala tegak dan Homer Barron, memakai topi dan sarung tangan kuning, duduk memegang cambuk dan tali kendali kereta sambil mengisap cerutu.

Lantas beberapa wanita mulai buka suara, mengatakan bahwa pemandangan itu adalah aib bagi kota dan contoh buruk bagi anak-anak muda. Para pria tidak ingin ikut campur, tapi akhirnya para wanita memaksa pendeta Baptis—orang-orang di sana adalah penganut Episcopal—untuk menasihatinya. Pendeta tidak pernah membocorkan apa yang dibicarakan selama pertemuan itu, tapi dia menolak untuk memberikan nasihat lagi. Minggu berikutnya, pasangan itu kembali melaju di jalan, dan sehari setelahnya istri Pendeta menulis surat kepada kerabat Nona Emily di Alabama.

Kerabat Nona Emily pun datang dan kami duduk tenang sejenak untuk menyaksikan perkembangan. Awalnya tak ada yang terjadi. Lantas kami mulai yakin mereka akan menikah. Kami melihat Nona Emily pergi ke toko perhiasan dan memesan seperangkat perlengkapan kamar mandi perak untuk pria, dengan huruf H. B. tercetak pada masing-masing bagian. Dua hari kemudian, kami melihat dia membeli setelan pakaian pria, termasuk baju tidur, dan kami berkata, “Wah, mereka menikah.” Kami sangat gembira karena kedua sepupu perempuan itu ternyata “lebih Grierson” daripada Nona Emily.

Jadi kami tidak terkejut ketika Homer Barron—proyek jalan telah selesai beberapa waktu yang lalu—menghilang. Kami sedikit kecewa karena tidak ada pengumuman apa pun, tapi kami percaya bahwa dia pergi demi kesiapan Nona Emily, atau memberinya kesempatan untuk menyingkirkan para sepupunya. (Waktu itu ada semacam komplotan rahasia, dan kami semua adalah sekutu Nona Emily yang membantunya bersiasat untuk mengusir para sepupunya.) Begitulah, setelah satu minggu berlalu, para sepupu Nona Emily pun akhirnya pergi. Sebagaimana yang kami duga, selang tiga hari kemudian Homer Barron kembali ke kota. Seorang tetangga melihat si pelayan Negro menerimanya di pintu dapur saat senja menjelang malam.

Dan itu terakhir kali kami melihat Homer Barron. Dan juga Nona Emily untuk beberapa waktu. Si Negro masih masuk dan keluar menjinjing keranjang belanja, tapi pintu depan tetap tertutup. Sesekali kami melihat Nona Emily di ambang jendela, misalnya pada malam sewaktu para pria suruhan Dewan Kota menaburkan kapur, tapi selama hampir enam bulan dia tidak muncul di jalanan. Lantas kami tahu satu hal yang sesungguhnya bisa ditebak; seolah-olah watak sang ayah yang telah berulang kali menghancurkan kehidupannya sebagai seorang wanita, menjadi sedemikian merusak dan sukar untuk dilenyapkan.

Pada kesempatan berikut kami melihat Nona Emily, dia tampak gemuk dan rambutnya berubah keabu-abuan. Selama beberapa tahun berikutnya, rambutnya kian kelabu dan terus bertambah kelabu sampai berwarna kelabu pekat serupa warna besi dan garam saat tercampur sempurna. Sampai hari kematiannya pada usia tujuh puluh empat tahun, rambutnya tetap berwarna kelabu besi.

Sejak kesempatan terakhir itu, pintu depannya terus tertutup, sampai kira-kira enam atau tujuh tahun kemudian, saat dia berusia sekitar empat puluh tahun dan mulai memberikan pelajaran melukis. Dia membangun studio di salah satu kamar di lantai bawah. Para putri dan cucu perempuan Kolonel Sartoris dan orang-orang sezamannya datang untuk belajar melukis kepadanya secara teratur, dalam semangat yang sama sebagaimana saat anak-anak itu pergi ke gereja pada hari Minggu dan membawa koin dua puluh lima sen untuk derma. Sementara itu, kewajiban pajaknya masih dihapuskan.

Kemudian generasi yang lebih muda datang, menjadi tulang punggung dan penggerak  kehidupan kota. Para murid yang dulu belajar melukis tumbuh dewasa dan pergi ke banyak tempat, tak lagi mengirimkan anak-anak mereka ke sana untuk menekuni sekotak cat warna, kuas boyak, dan gambar-gambar yang dipotong dari majalah-majalah wanita. Pintu depan rumah itu ditutup sekali lagi, dan tetap tertutup untuk selamanya. Saat kota mendapatkan layanan pos gratis, Nona Emily seorang yang menolak para petugas pos melekatkan nomor besi di atas pintu dan memasang kotak surat di rumah itu. Dia bergeming, tak sedikit pun mau mendengarkan penjelasan mereka.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, kami menyaksikan rambut si Negro semakin abu-abu dan tubuhnya bertambah bungkuk. Dia tetap masuk dan keluar rumah itu menjinjing keranjang belanja. Setiap bulan Desember kami mengiriminya pemberitahuan tagihan pajak, yang akan dikembalikan melalui pos seminggu kemudian, tanpa pembayaran. Sesekali kami melihatnya di ambang salah satu jendela di lantai bawah—dia jelas-jelas telah menutup lantai atas rumah—seperti patung torso yang diukir di sebuah ceruk. Apakah dia melihat atau tidak melihat dunia luar, kami tak pernah bisa memastikan. Begitulah Nona Emily diwariskan dari generasi ke generasi—mulia, terjerat, kedap, tenteram, dan sesat.

Akhirnya dia pun wafat. Jatuh sakit di rumah penuh debu dan bayang-bayang, hanya ditemani seorang pelayan Negro. Kami bahkan tidak tahu bahwa dia menderita sakit. Kami sudah lama menyerah untuk mencoba mengorek informasi apa pun dari si Negro. Dia tidak berbicara kepada siapa pun, bahkan mungkin dia juga tidak bercakap-cakap dengan Nona Emily, karena suaranya telah menjadi parau dan berkarat, seolah-olah pita suaranya tak pernah digunakan.

Nona Emily wafat di salah satu kamar di lantai bawah, di ranjang besar bertirai dari kayu kenari. Batok kepalanya yang ditutupi rambut kelabu tersandar pada bantal kuning berjamur yang lapuk dimakan usia dan jarang terpapar sinar matahari.

V

SI Negro menemui para wanita yang datang paling awal di pintu depan dan membiarkan mereka masuk dengan suara bisik-bisik dan lirikan rasa ingin tahu. Lantas si Negro menghilang begitu saja. Dia melangkah ke dalam rumah, keluar dari pintu belakang, dan tidak pernah terlihat lagi.

Kedua sepupu perempuan Nona Emily datang bersama-sama. Mereka mengadakan pemakaman pada hari kedua, dan warga kota berkumpul untuk menyaksikan Nona Emily terbaring di bawah tumpukan bunga, dengan ingatan pada wajah ayahnya yang merenung jauh di atas tandu. Para wanita berbisik-bisik dan terbelalak, dan orang-orang yang sangat sepuh—beberapa di antaranya berseragam pasukan Konfederasi—berdiri di teras dan halaman, berbincang tentang Nona Emily seolah-olah dia sezaman dengan mereka, percaya bahwa mereka pernah berdansa dengannya dan barangkali merayunya. Begitulah perhitugan alur waktu menjadi kacau dalam pikiran mereka, sebagaimana lazim dialami oleh orang-orang yang sangat tua, karena bagi mereka masa lalu bukanlah jalan yang menyusut, melainkan padang rumput luas yang tak pernah disentuh musim dingin.

Kami tahu belaka bahwa ada satu ruangan di lantai atas yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun selama empat puluh tahun, dan harus dibuka secara paksa. Kami menunggu sampai Nona Emily benar-benar dikebumikan sebelum kami bisa membukanya.

Upaya menjebol pintu membuat ruangan itu dipenuhi debu. Selubung kain tipis, seperti yang biasa digunakan sebagai kain penutup peti mati, tampak bergeletakan di dalam ruangan yang dihias dan dilengkapi perabotan untuk kamar pengantin itu: di atas tirai kelambu warna merah mawar kusam, pada tudung-tudung lampu bergambar mawar, di atas meja rias, pada perhiasan-perhiasan mungil dari kristal, dan perlengkapan toilet untuk pria dari bahan perak yang penuh bercak, begitu penuh bercak sehingga monogram yang tercetak pada beberapa bagian terlihat kabur. Di antara benda-benda itu, ada kemeja dan dasi, seolah-olah telah dipindahkan, yang apabila diangkat akan meninggalkan jejak bulan sabit samar pada permukaan debu. Di kursi, ada satu setel pakaian, tertata rapi; di bawahnya dua sepatu bisu dan sepasang kaus kaki yang telantar.

Pria itu terbaring di tempat tidur.

Untuk waktu yang cukup lama kami hanya mematung di sana, menatap surih seringai pada tengkorak tanpa daging. Tubuh itu rupanya pernah dibaringkan dalam posisi berpelukan, tapi kini hanya terbujur dalam tidur panjang yang bertahan lebih lama dari cinta, tidur yang mengalahkan cinta yang pilu, cinta yang telah mengkhianatinya. Apa yang tersisa darinya, membusuk dalam sisa baju tidurnya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ranjang tempat dia terbaring; dirinya dan bantal yang berada di sampingnya terselimuti lapisan debu yang sabar dan setia.

Lantas kami memperhatikan bahwa di bantal kedua itu terdapat bekas lekukan kepala. Salah seorang dari kami mengambil sesuatu dari bantal itu, mencondongkan tubuh ke depan, dan dalam debu yang terasa kering dan berbau tajam di lubang hidung, kami melihat sehelai rambut panjang kelabu besi. (*)

_____________________

TENTANG PENULIS

William Faulkner (25 September 1897–6 Juli 1962) adalah pengarang novel, cerita pendek, naskah drama, puisi, esai, dan skenario yang produktif. Sepanjang karir kepengarangannya, Faulkner telah menerbitkan 13 novel, yang termasyhur dan banyak dipuji kritikus antara lain: The Sound and the Fury (1929), As I Lay Dying (1930), Light in August (1932), dan Absalom, Absalom! (1936). Latar dalam banyak novel dan cerita pendeknya adalah Yoknapatawpha County, yang didasarkan pada kondisi, dan secara geografis hampir identik dengan, kampung halaman Faulkner di Oxford, Mississippi, wilayah Selatan Amerika. Yoknapatawpha adalah “prangko” Faulkner, dan sebagian besar karya yang diwakilinya secara luas dianggap oleh para kritikus sebagai salah satu kreasi fiksi paling monumental dalam sejarah sastra Amerika. Faulkner meraih dua penghargaan Pulitzer dengan novelnya A Fabel (1955) dan, secara anumerta, The Reivers (1963), dua penghargaan National Book Award for Ficton untuk buku Collected Stories of William Faulkner (1951) dan A Fabel (1955), serta penghargaan Nobel Sastra tahun 1949 untuk “sumbangan penting yang unik dan artistik bagi novel Amerika modern”.

TENTANG PENERJEMAH

Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

William Faulkner: Matahari Petang

mm

Published

on

SENIN tak beda dengan hari-hari lainnya dalam sepekan di Jefferson sekarang. Jalan-jalan sudah dikeraskan, dan perusahaan-perusahaan listrik dan telepon makin banyak, dan semakin banyak saja menebangi pohon-pohon perindang—water oak, maple, locust, dan elm—menyediakan ruang bagi tonggak-tonggak besi yang buahnya adalah gerombol-gerombol anggur yang melepuh dan tak sedap dipandang dan tak mengandung air; dan sekarang ada usaha jasa cuci dan bina ……… keliling kota tiap Senin pagi menjemput buntalan-buntalan ……… kotor dan menghimpunnya di mobil-bomil berwarna mencolok, yang khusus dibikin untuk keperluan ini; debu dan daki sepekan ini kabur bagai hantu, melesat membuntuti klakson yang selalu siap-siaga dan cepat naik darah itu, diiringi bising berkepanjangan dari karet ban beradu dengan aspal jalan yang bunyinya seperti kain sutra dirobek; dan bahkan perempuan-perempuan negro, yang masih tetap terkait dengan tugas membikin bersih pakaian orang-orang kulit putih—sebagai peninggalan kebiasaan lama—kini menjemput pakaian kotor itu dari rumah-rumah dan menyetorkannya pada mobil servis cuci.

Tapi lima belas tahun yang lalu, pada hari Senin pagi, jalan-jalan yang sunyi, berdebu dan teduh akan penuh dengan perempuan-perempuan kulit hitam yang membawa tumpukan pakaian kotor yang dibuntal dalam sprai di atas kepalanya yang kukuh dan bersorban itu, yang hampir sama besar dengan buntalan kapas yang barusan dipetik dari perkebunan; dan buntalan-buntalan itu mereka taruh di atas kepala dan tanpa memegangnya lagi, mereka membawanya dari pintu dapur orang kulit putih ke bak pencucian yang kusam-jorok dekat pintu gubuk di Negro Hollow, yakni kawasan lembah kumuh tempat tinggal para kulit hitam.

Nancy menyunggi buntalan pakaian kotor,dan di atas seonggok cucian kami serumah itu akan dia taruh topi pandan hitamnya, yang dia pakai di segala musim dan cuaca. Dia jangkung, seajahnya panjang dan muram, dan agak melesak di tempat-tempat gigi ompongnya. Kadang-kadang kami ikut dia beberapa jurus menyusuri jalan dan melintasi padang rumput, asyik mengagumi buntalan dan topi di atas kepalanya yang begitu mantap seimbang tanpa pernah bergeming, bahkan ketika dia menuruni parit lalu mendaki di seberang sana serta membungkuk menerobos pagar. Nancy merangkak menerobos celah pagar itu; kepalanya kukuh-tegar, tegak, dan buntalan itu pun kukuh bertengger bagai karang atau balon, kemudian bangkit berdiri lagi dan jalan terus.

Kadang-kadang suami-suami para perempuan inilah yang datang mengambil dan mengantarkan kembali cucian, tetapi Jesus tak pernah melakukannya untuk Nancy, juga sebelum Ayah menyuruh lelaki itu untuk tidak datang-datang lagi ke rumah kami, sungguhpun waktu itu Dilsey sedang sakit dan Nancy-lah yang memasak untuk kami.

Maka kami terkasa berjalan menuruni lorong ke pondok Nancy dan menyruhnya datang menyiapkan sarapan. Kami akan berhenti di parit, karena Ayah menyuruh kami tidak berhubungan dengan Jesus—dia ini orang hitam bertubuh pendek, dengan ciri bekas sayatan pisau di wajahnya—dan kami akan melempari rumah Nancy dengan kerikil sampai dia nongol di pintu, tanpa pakaian selembar pun, menyenderkan kepalanya di sana.

“Mau apa kalian melempari rumahku?” tanya Nancy. “Apa maumun, setan-setan cilik!”

“Ayah menyuruh beri tahu kau supaya datang memasak,” kata Caddy. “Ayah bilang ini sudah telat setengah jam, dan kau harus ke sana sekarang juga.”

“Aku tak tahu soal masak-memasak,” jawab Nancy. “Aku mau tidur sampai puas.”

“Kamu pasti mabuk,” sahut Jason. “Ayah bilang kau suka mabuk. Kamu sedang mabuk, Nancy?”

“Siapa bilang aku mabuk?” sergah Nancy. “Aku mesti tidur. Tak tahu-menahu soal masak-memasak!”

Maka setelah beberapa lama, kami berhenti menggedor rumahnya dan pulang. Ketika akhirnya Nancy datang, aku sudah kesiangan untuk sekolah. Kami pikir ini semua gara-gara wiski, sampai suatu hari Nancy ditangkap dan dibawa ke bui, dan dalam perjalanan ke sana ia bertemu Tuan Stovall. Dia ini kasir bank dan juga diskon[1] Gereja Baptis, dan Nancy pun mulai meracau:

“Kapan kau mau bayar aku, orang putih? Kapan kau mau bayar aku, orang putih? Sudah tiga kali kau belum bayar sejak kau kasih aku satu sen dulu.” Tuan Stovall menggamparnya sampai jatuh, tetapi Nancy terus saja mengatakan, “Kapan kau mau bayar aku, oran putih? Sudah tiga kali kau…,” sampai Tuan Stovall menendang mulutnya dengan tumit sepatu dan marshall mencegah Tuan Stovall, sementara Nancy terkapar di tanah ketawa-tawa. Dia mengibaskan kepala dan meludahkan  darah serta beberapa gigi dan berkata, “sudah tiga kali dan dia belum bayar sepeser pun.”

Itulah asal mulanya dia kehilangan gigi, dan sepanjang hari itu orang-orang bercerita tentang Nancy dan Tuan Stovall, dan sepanjang malam orang-orang yang melintas dekat bui mendengar Nancy bernyanyi-nyanyi dan memekik. Mereka dapat melihat tangan Nancy mencengkeram jeruji jendela, dan banyak di antara mereka berhenti di sepanjang pagar, mendengarkan Nancy dan sipir yang mencoba menghentikannya. Dia tidak diam sampai nyaris pagi, ketika sipir mulai mendengar suara gedebam dan suara mencakar-cakar di tingkat atas, dan dia naik ke sana dan menemukan Nancy tergantung-gantung pada jeruji. Kata sipir itu, biang keladinya adalah kokain dan bukan wiski, karena tak ada negro yang akan mencoba bunuh diri kecuali kalau ia dipenuhi kokain, karena seorang negro yang penuh kokain bukanlah negro lagi.

Sipir itu memotong ikatan untuk melepaskan Nancy dan menolongnya supaya tidak mati; kemudian ia memukulinya, mencambuknya. Dia menggantung diri dengan gaunnya sendiri. Sebetulnya semua rapi dan beres,  tetapi ketika ia ditangkap ia tak mengenakan apa-apa kecuali gaun; dengan demikian dia tak punya sesuatu untuk mengikat tangannya, dan dia tak sanggup menyuruh kedua tangannya melepaskan genggaman dari bingkai jendela. Maka sipir mendengar kegaduhan itu dan lari naik, serta mendapatkan Nancy berkelantung pada jendela, telanjang bulat, perutnya agak membuncit seperti balon kecil.

 

II

KETIKA Dilsey sedang sakit di gubuknya dan Nancy yang datang memasak untuk kami, dapat kami lihat apron Nancy terdorong ke muka karena buncit di pertunya. Ini terjadi sebelum Ayah melarang Jesus menginjakkan kakinya di rumah kami. Ketika itu Jesus di dapur, duduk di belakang kompor, dengan bekas luka sayatan pisau cukur di wajahnya yang hitam, yang tampak seperti seutas tali kecil yang kotor. Dia katakan yang dibawah Nancy di balik gaunnya itu semangka.

“Toh tidak dari batangmu,” kata Nancy.

“Batang apa?” tanya Caddy.

“Aku bisa babat batang jahanam itu,” sahut Jesus.

“He, kenapa kamu ngomong seperti itu di muka anak-anak kecil ini?” kata Nancy. “Kenapa kau tidak pergi kerja? Payah kamu ini! Kamu kepingin Tuan Jason memergoki kamu main-main di dapurnya dan bicara seperti itu di depan anak-anak ini?”

“Bicara seperti apa?” sambugn Caddy. “Batang apa?”

“Aku tidak boleh main-main mendekati dapur orang putih,” kata Jesus. “Tapi orang-orang putih boleh main-main seenaknya di dapurku. Orang putih bisa masuk ke rumahku, tapi aku tak bisa mencegahnya. Kalau orang putih mau masuk ke rumahku, dia bisa saja seenaknya. Aku tidak bisa mencegahnya, tapi dia tak bisa menendangku keluar. Tidak bisa.”

Dilsey masih sakit di gubuknya. Ayah menyuruh Jesus menjauhkan diri dari rumah kami. Dilsey masih sakit. Sampai lama. Ketika itu kami sedang di kamar baca sehabis makan malam.

“Apa Nancy belum selesai di dapur?” kata Ibu. “Sepertinya sudah lama dia di sana mencuci piring.”

“Biar Quentin pergi lihat dulu,” kata Ayah. “Lihatlah, apa Nancy sudah selesai kerja, Quentin. Katakan dia boleh pulang.”

Aku pergi ke dapur. Kerja Nancy sudah rampung. Piring-piring sudah disimpan dan api dipadamkan. Nancy duduk di kursi, berdekatan dengan tungku yang dingin. Dia memandangi aku.

“Ibu ingin tahu apakah kau sudah selesai,” kataku.

“Ya,” sahut Nancy. Dia memandangi aku. “Aku sudah selesai.”

“Ada apa?” tanyaku. “Ada apa?”

“Aku ini Cuma negro. Budak!” kata Nancy. “Dan itu bukan salahku.”

Dia memandangi aku, duduk di kursi di muka tungku yang dingin, dengan topi kelasi bertengger di kepalanya. Aku balik ke ruang baca. Hanya ada tungku dingin, di dapur yang biasa kita bayangkan sebagai tempat yang hangat dan sibuk dan meriah itu. Tungku yang dingin dan piring-piring tersimpan, dan tak seoran pun kepingin makan pada saat demikian.

“Sudah selesai dia?” tanya Ibu.

“Ya, Bu,” sahutku.

“Sedang apa dia sekarang?” Ibu bertanya.

“Tidak sedang apa-apa. Semua sudah beres.”

“Barangkali dia menunggu Jesus mengantarnya pulang,” kata Caddy.

“Jesus pergi,” sahutku. Nancy telah memberi tahu aku, bahwa suatu pagi ia bangun dan Jesus sudah lenyap.

“Dia meninggalkan aku,” kata Nancy. “Sudah minggat ke Mamphis kukira. Kucing-kucingan sebentar dengan politi kota kukira.”

“Baguslah kalau dia minggat ke sana,” kata Ayah. “Kuharap dia tinggal terus di sana.”

“Nancy takut sama gelap,” Jason bersuara.

“Kamu juga,” kata Caddy.

“tidak bisa,” sahut Jason.

“Kucing pengecut!” kata Caddy.

“Tidak bisa,” ucap Jason.

“Diam kau, Candace!” sergah Ibu, Ayah muncul lagi.

“Aku mau menemani Nancy jalan di lorong itu,” katanya. “Dia bilang Jesus kembali.”

“Dia pernah melihatnya?” tanya Ibu.

“Tidak. Ada negro lain yang mengatakan pada Nancy bahwa Jesus muncul kembali di sekitar sini. Aku tidak lama.”

“Kau akan meninggalkan aku sendirian untuk mengantar Nancy pulang?” kata Ibu. “Apakah bagimu keskelamatan dia lebih berharga daripada keselamatanku?”

“Aku tidak akan lama,” sahut Ayah.

“Kau akan tinggalkan anak-anak ini tanpa perlindungan, sementara si negero itu berkeliaran di sekitar sini?”

“Aku ikut,” kata Caddy. “Boleh ya, Pa?”

“Kalaupun dia memergoki anak-anak ini, lantas mau dia apakah mereka?” kata Ayah.

“Aku juga mau ikut,” kata Jason.

“Jason!” kata Ibu. Yang dimaksud adalah Ayah. Ini ketahuan dari cara Ibu mengucapkan nama itu. Sepertinya Ibu berpikiran, sepanjang hari ini Ayah mencoba berpikri untuk menemukan suatu tindakan yang paling tidak disukai Ibu, dan seolah Ibu tahu bahwa Ayah selalu saja berangan-angan tentang hal itu. Aku tinggal diam, karena Ayah dan aku sama-sama tahu bahwa Ibu akan memintanya menyuruhku menemani Ibu, jika saja Ibu sempat memikirkannya sebelum terlambat. Maka Ayah tak memandangi aku. Aku anak sulung. Aku sembilan tahun dan Caddy tujuh dan Jason lima.

“Alaaa,” kata Ayah. “Kami tidak akan lama.”

Nancy mengenakan topinya. Kami menapaki lorong.

“Jesus selalu baik padaku,” Nancy berkata. “Dulu tiap kali dia punya duit dua dolar, yang satu dolar untukku.”

Kami menapaki lorong itu.

“Asal sudah sampai di ujung jalan itu,” kata Nancy, “aku sudah lega.”

Jalan tanah itu selalu gelao. “Di sini Jason ketakutan pada hari Halloween[2],” ujar Caddy.

“Tidak,” sahut Jason.

“Apa Bibi Rachel tidak bisa berbuat sesuatu terhadap dia?” Ayah berkata. Bibi Rachel lsudah tua. Dia tinggal seoran diri di sebuah gubuk agak jauhd dari Nancy.

Rambutnya putih dan dia terus mengisap pipa di ambang pintu seharian; dia tidak lagi bekerja. Kata orang dia ibu Jesus. Kadang-kadang dia berkata memang dia itu Jesus dan kadang-kadang dia bilang tak ada hubungan apa-apa dengannya.

“Iya saja,” kata Caddy. “Kau lebih ketakutan dari Frony. Kau lebih takut dari si TP malah. Lebih ketakutan dari negro.”

“Tak seorang pun bisa berbuat sesuatu pada Jesus,” sahut Nancy. “Dia bilang aku telah membangunkan iblis dalamd irinya, dan tak ada yang dapat meredakannya lagi.”

“Yah, toh dia sudah pergi sekarang,” kata Ayah. “sekarang tak ada yang perlu kautakutkan lagi. Kalau saja kau tidak main-main dengan orang kulit putih.”

“Main-main dengan orang putih apa?” Caddy bersuara. “Tidak main-main bagaimana?”

“Dia tidak pergi ke mana-mana,” Nancy berkata. “Aku dapat merasakan kehadirannya. Aku dapat merasakan dia sekarang, di jalan ini. Dia mendenger kita bicara, tiap patah kata; sembunyi di suatu tempat, menunggu-nunggu. Aku tidak melihat dia, dan aku tak akan melihatnya kecuali, sekali lagi, dengan bekas pisau cukur di mulutnya itu. Pisau yang diikatkan dengan tali di punggu bawah, di balik baju. Lalu untuk kaget pun aku tak akan sempat lagi.”

“Aku tidak takut,” Jason berkata.

“Seandainya kau baik-baik membawa diri, katu tak akan mendapat kesulitan semacam ini,” kata Ayah. “Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Barangkali dia di Saint Louis sekarang. Barangkali dia sudah punya istri lagi dan meupakan segalanya tentang kau.”

“Kalau memang dia begitu, sebaiknya jangan sampai aku tahu,” sahut Nancy. “Aku akan tegak menghadang mereka, dan tiap kali dia merangkul perempuan itu, akan kutebas tangannya. Akan kupancung kepalanya dan kubelah pertunya dan kucungkil…..”

“Huuss!” potong Ayah.

“Membelah pertu siapa, Nancy?” ucap Caddy.

“Aku tidak takut,” kata Jason. “Aku berani jalan di lorong ini sendirian.”

“Hah,” kata Caddy. “Kamu tidak akan berani menginjakkan kakimu kalau tidak bersama kami.”

 

III

DILSEY masih sakit juta, jadi kami menemani Nancy pulang setiap malam Ibu berkata, “Sampai berapa lama lagi dia? Aku ditinggal sendirian di rumah besar ini, sementara kalian mengantar pulang seorang perempuan negro yang ketakutan.”

Kami pasang sebuah balai-balai di dapur untuk Nancy. Suatu malam kami terbangun mendengar suara itu. Itu bukan nyanyian dan bukan tangis, datand ari tangga yang gelap. Lampu di kamar itu menyala dan kami dengar Ayah melangkah turun ke ruang besar, menuruni tangga belakang, dan Caddy dan aku menuju ke ruang besar itu. Lantai ruangan itu dingin. Jari-jari kaki kami mengerut kedinginan, sementara kami menyimak suara itu. Itu bukan nyanyian dan bukan pula tangis, seperti layaknya suara orang negro.

Lalu suara itu berhenti dan kami dengar Ayah menuruni tangga belakang, dan kami bergerak menuju ke kepala tangga. Kemudian suara itu mulai lagi, di tangga, tidak keras, dan dapat kami lihat mata Nancy di setengah perjalanan menaiki tangga, berlatar belakang tembok. Mata itu tampak bagaikan mata kucing, seperti seekor kucing besar melekat di tembok, mengamati kami. Ketika kami menuruni anak tangga mendatanginya, dia berhenti membuat suara itu, dan kami tegak di sana sampai Ayah kembali dari dapur, dengan pistol di genggaman. Dia turun tangga lagi bersama Nancy dan mereka balik lagi menggotong balai-balai Nancy.

Kami letakkan balai-balai itu di kamar kami. Setelah lampu di kamar Ibu padam, kami melihat lagi mata Nancy. “Nancy,” bisik Caddy, “kau tidur, Nancy?”

Nancy membisikkan sesuatu. Barangkali “tidak” atau “aaah”, aku tidak tahu. Seolah suara itu tidak keluar dari mulut siapa pun, seolah suara itu tidak datang dari mana pun dan tidak pergi kemana pun, sampai seolah-olah Nancy sama sekali tak ada di sana; seolah-olah aku telah menatap kuat-kuat mata Nancy, begitu kuatnya kutatap di tangga hingga mata itu membekas di bola mataku, seperti bekas yang ditinggalkan matahari bila kita mengatupkan mata dan matahari itu tidak ada.

“Jesus,” bisik Nancy, “Jesus.”

“Itu tadi Jesus?” kata Caddy. “Dia mencoba masuk ke dapur?”

“Jesus,” kata Nancy. Lalu seperti ini: Jeeeeeesus, sampai suara itu melirih lenyap, seperti batang korek api atau sebatang lilin.

“Itu Jesus lain yang dia maksud,” kataku.

“Kau bisa lihat kami, Nancy?” Caddy berbisik. “Kau bisa melihat mata kami juga?”

“Aku ini cuma negro. Budak!” kata Nancy. “Entahlah. Entahlah.”

“Apa yang kaulihat di dapur tadi?” bisik Caddy. “Ada yang mau masuk ke sana?”

“Entahlah,” sahut Nancy. Dapat k ami lihat matanya. “Entahlah.”

“Apa yang kaulihat di dapur tadi?” bisik Caddy. “Ada yang mau masuk ke sana?”

“Entahlah, “ sahut Nancy. Dapat kami lihat matanya. “Entahlah.”

Dilsey sembuh. Dia memasak untuk kami sore itu. “Sebaik-baiknya kau istriahat di tempat tidur sehari-dua hari lagi,’ kata Ayah.

Buat apa?” sahut Dilsey. “Sehari lagi saya tak kemari, tempat ini akan berantakan tak kektulungan. Silakan keluar, dan biarkan saya bereskan dapur saya ini.”

Dilsey memasak makan malam untuk kami. Dan petang itu, sebelum gelap benar, Nancy masuk ke dapur.

“Bagaimana kautahu dia kembali?” ucap Dilssey. “Kau tidak lihat dia.”

“Jesus itu negro tengik,” kata Jason.

“Aku dapat merasakannya,” sahut Nancy. “aku dapat merasakan dia sedang baring-baring di parit sana.”

“Malam ini?” tanya Dilsey. “Dia di sana malam ini?”

“Dilsey itu budak negro juga,” kata Jason.

“Ayo, makanlah!” kata dilsey.

“Aku tidak ingin makan apa-apa,” sahut Nancy.

“Aku bukan ngero,” kata Jason

“Minum kopi, ya,” kata Dilsey. Dia menuang secangkir kopi untuk Nancy. “Kautahu dia di sana malam ini? Bagaimana kau bisa tahu malam inilah saatnya?”

“Aku tahu,” kata Nancy. “Dia di sana, menunggu-nunggu. Aku tahu. Sudah lama aku hidup bersama dia. Aku tahu apa yang direncanakannya sebelum dia sendiri menyadarinya.”

“Ayolah! Minum kopi dulu,” kata Dilsey. Nancy memegang cangkir itu dan mendekatkan pada mulutnya, lalu meniup-niup ke dalam cankir. Mulutnya dimonyongkan seperti ular berbisa, seperti mulut karet, seolah-olah telah dia embuskan seluruh warna dari bibirnya bersamaan denganmeniup-niup kopi itu.

“Aku bukan negro,” kata Jason. “Apa kau ini negro, Nancy?”

“Aku ini kerak neraka, Nak,” sahut Nancy. “Dan sebentar lagi aku bukan apa-apa. Sebentar lagi aku kembali ke asalku.”

 

IV

DIA mulai meminum kopinya. Sembari minum—menggenggam cangkir itu dengan kedua tangan—mulailah ia mengeluarkan suara itu lagi. Dia mengarahkan suara itu ke dalam cangkir, dan kopi jadi terkocok muncrat keluar mengenai tangan dan gaunnya. Matanya menatap kami dan  dia duduk di sana, sikunya bertelekan pada lutut, mencengkeram cangkir di kedua telapak tangannya, menatap kami menyeberang cangkir yang berleleran, menyuarakan gumam itu.

“Kasihan Nancy,” kata Jason. “Nancy tidak bsia memasak buat kami sekarang. Dilsey sudah sembuh.”

“Hsss. Diamlah!” kata dilsey. Nancy menggenggam cangkir itu dengan kedua tangannya, memandangi kami, membuat suara itu, seolah-olah dia ada dua; yang satu memandangi kami, yang satunya lagi membaut suara itu.

“Mengapa kau tidak minta Tuan Jason menelpon marshall?” tanya Dilsey.

Nancy berhenti, memegangi cangkir dengan tangannya yang cokelat panjang. Dia mencoba meneguk kopinya lagi, teapi kopi itu muncrat dari cangkir ke tangan dan gaunnya, dan dia letakkan cangkir itu. Jason memperhatikannya.

“Aku tidak bisa menelannya,” kata Nancy. “Kuteguk tapi tak mau turun.”

“Pergilah ke pondok,” ujar Dilsey. “Frony akan siapkan balai-balai buat kau dan aku segera menyusul ke sana.”

“Tak ada seorang negro pun yang bisa mencegah dia,” kata Nancy.

“Aku bukan negro,” ucap Jason. “Bukan kan, Dilsey?”

“Kukira bukan,” sahut Dilsey. Dia memandang Nancy. “Kukira tidak begitu. Lalu apa yang akan kaulakukan?”

Nancy memandangi kami. Matanya cepat melompat-lompat seakan-akan dia cemas tak ada waktu untuk memadnang, tanpa bergerak sama sekali. Dia memandangi kami, memandangi kami bertiga sekaligus. “Kalian ingat malam itu waktu aku  menginap di kamar kalian?” dia bertanya. Dia ngomong bagaimana kami bangun pagi-lagi keesokan harinya dan bermain-main. Kami harus bermain diam-diam, di balai-balainya, sampai saat Ayah bangun dan waktu sarapan menjelang.

“Pergilah ngomong pada Ibu supaya aku boleh menginap di sini malam ini,” kata Nancy. “Aku tidak perlu balai-balai. Kita dapat bermain-main lagi.

“Pergilah ngomong pada Ibu supaya aku boleh menginap di sini malam ini,” kata Nancy. “Aku tidak perlu balai-balai. Kita dapat bermain-main lagi.

Caddy minta izin pada Ibu, Jason ikut.

“Aku tak bisa mengizinkan negro tidur di kamar tidur kita,” kata ibu. Jason nangis. Jason menangis terus sampai Ibu berkata bahwa dia tak akan diberi penganan selama tiga hari kalau tidak berhenti. Lalu Jason bilang dia akan berhenti menangis kalau Dilsey membuatkan kue cokelat. Waktu itu Ayah ada.

“Mengapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengatasi soal ini?” tanya Ibu. “Buat apa kita punya petugas keamanan?”

“Mengapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengatasi soal ini? Tanya Ibu. “Buat apa kita punya petugas keamanan?”

“Mengapa Nancy takut sama Jesus?” ujar Caddy. “Apa Ibu takut sama Ayah?”

“Aparat keamanan bisa apa?” sahut Ayah. “Kalau Nancy tak pernah melihat dia, bagaimana para petugas itu dapat menemukannya.

“Lantas mengapa dia takut?” tanya Ibu.

“Dia bilang orangnya ada di sana. Dia bilang dia tahu orangnya ada di sekitar sini malam ini.”

“Kok aku yang kena getahnya,” sambung Ibu. “Aku harus menunggu sendirian di rumah besar ini, sementara kalian mengantar perempuan negro itu pulang.”

“Kau kan tahu, aku tak akan berbaring semalaman di luar sambil membawa-bawa pisau,” kata Ayah.

“Aku mau berhenti nangis asal Dilsey bikin kue cokelat,” rengek Jason. Ibu menyuruh kami keluar dan Ayah berkata, entah Jason akan mendapat kue cokelat atau tidak, tapi dia tahu apa yang akan didapat Jason dalam satu menit berikutnya jika tidak diam. Kami pergi ke dapur lagi dan menyampaikan jawaban Ibu pada Nancy.

“Ayah bilang supaya kamu pulang dan menggerendel pintu, dan kau akan aman,” kata Caddy. “Aman dari apa, Nancy? Apa Jesus marah padamu?” Nancy menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya lagi, sikunya bertelekan pada lutut dan cangkir itu dijepitnya di antara dua lututnya. Dia menatap ke dalam cangkir.

“Apa yang kaulakukan sampai Jesus marah?” tanya Caddy. Cangkir itu merucut. Tidak pecah berderai di lantai, tapi kopinya tumpah dan Nancy tetap saja duduk dengan kedua tangan masih membentuk cangkir. Dia mulai memperdengarkan suara itu lagi, tidak keras. Tidak menyanyi, dan bukan pula tidak menyanyi. Kami perhatikan dia.

“Sudah,” ujar Dilsey. “Berhentilah begitu. Kuasai diri. Kau tunggu di sini. Aku panggilkan Versh untuk mengantarmu pulang,” Dilsey keluar.

Kami pandangi Nancy. Pundaknya m asih berguncang-guncang, tetapi dia tak bersuara lagi. Kami berdiri dan memperhatikan dia.

“Apa yang akan dilakukan Jesus padamu?” tanya Caddy. “Dia kan sudah minggat/”

Nancy menatap kami. “Malam itu kita bersenang-senang waktu aku menginap di kamarnmu, ya kan?”

“Aku tidak,” sahut Jason. “Aku tidak bersenang-senang.”

“Kamu tidur di kamar Ibu,” Caddy bilang. “Waktu itu kamu tidak bersama-sama kami.”

“Yuk, kita sama-sama ke rumahku dan bersenang-senang lagi!” kata Nancy.

“Ibu tak akan memeprbolehkan,” kataku. “Sudah kemalaman sekarang.”

“A\Tak usah hiraukan Ibu,” sahut Nancy. “Besok pagi saja baru kita beri tahu dia. Dia tak akan marah.”

“Tidak akan boleh,” kataku.

“Jangan minta izin sekarang,” sahut Nancy. “Tak usah kita ganggu dia sekarang.”

“Ibu tidak bilang kita dilarang pergi,” ujar Caddy.

“Kita tidak bilang kita mau pergi,” sahutku.

“Kalau kalian bergi, kuberi tahu Ibu nanti,” kata Jason.

“Kita akan bermain-main dan bersenang-senang,” ucap Nancy. “Mereka tak akan marah. Cuma ke rumahku. Aku sudah lama bekerja untuk kalian di sini. Ayah dan ibu tidak akan marah.”

“Aku tidak takut pergi,” kata Caddy. “Jason itu satu-satunya yang takut. Dia tentu lapor.”

“Tidak,” sahut Jason.

“Ya saja,: kata Caddy, “Kau tentu takut.”

“Jason tidak takut pergi bersamaku,” Nancy berkata. “Tidak kan, Jason?”

“Jason tentu bilang,” kata Caddy. Jalan itu gelap. Kami lewati gerbang padang rumput. “berani bertaruh, kalau ada sesuatu yang melompat dari balik gerbang itu, Jason pasti nangis meraung-raung.”

“Tidak bisa,” sahut Jason. Kami menuruni jalan gelap itu. Nancy bicara keras-keras.

“Buat apa kau ngomong keras-keras begitu, Nancy?” kata Caddy.

“Siapa? Aku?” sahut Nancy. “dengarlah itu! Quentin dan Caddy dan Jason berkata aku bicara keras-keras.”

“Kau bicara seolah kita sedang berlima,” Caddy berkata.

“Kau bicara seolah-olah Ayah juga ada di sini.”

“Siapa? Saya bicara keras-keras, tuan Jason?” kata Nancy.

“Nancy memanggil Jason ‘Tuan’,” ujar Caddy.

“Dengarlah omongan Caddy dan Quentin dan Jason iani,” Nancy berkata.

“Kami tidak bicara keras-keras,” sahut Caddy. “Kaulah yang bicara seolah Ayah …..”

“Ssstt,” potong Nancy, “diamlah, Tuan Jason.”

“Nancy memanggil ‘Tuan’ lagi pada Jason.”

“Diamlah,” sahut Nancy. Dia berbicara dengan suara keras ketika kami menyebarangi parit dan merunduk menerobos pagar yang biasa dan tembus dengan buntalan pakaian yang disunggi di atas kepalanya. Lalu sampailah kami di rumahnya. Kami lalu bersicepat. Dia buka pintu. Baru rumah itu seperti lampu minyak dan bau Nancy seperti sumbu, seolah keduanya saling tunggu untuk mulai menerpa. Dia menyalakan lampu dan menutup pintu dan memasang palangnya. Kemudian dia tak lagi bicara keras-keras, memandangi kami.

“Kita mau apa?” tanya Caddy.

“Kalian mau apa?” kata Nancy.

“Kau bilang kita akan bersenang-senang,” kata Caddy.

Ada sesuatu pada rumah Nancy ini; sesuatu yang dapat kita cium di samping bau Nancy dan baru rumah itu sendiri. Bahkan Jason pun menciumnya. “Aku tak mau di sini,” katanya. “Aku mau pulang.”

“Ya, pulanglah sana,” sahut Caddy.

“Aku tak mau pulang sendirian,” kata Jason.

“Kita akan bermain-main, bersenang-senang,” Nancy berkata.

“Bagaimana?” ujar Caddy.

Nancy tegak dekat pintu. Dia memandangi kami, Cuma saja seolah dia telah mengosongkan matanya; seolah-olah dia tidak lagi menggunakan mata itu. “Apa yang kalian ingin lakukan?” ujarnya.

“Mendongenglah,” sahut Caddy. “Kau bisa mendonengeng?”

“Ya,” jawab Nancy. “Bisa.”

Dia beranjak dan duduk di kursi di muka tungu. Ada sisa bara di sanal. Nancy menghidupkannya sampai berkobar cukup besar. Dia mendongeng. Caranya berbicara seperti caranya memandang, seolah matanya yang menatap kami dan suaranya yang berbicara pada kami bukanlah miliknya. Seolah-olah dia berada di tempat yang lain, menungu-nunggu di suatu tempat lain. Dia di luar pondok itu. Suaranya memang di dalam, dan juga sosok tubuhnya—sosok si Nancy yang dapat merangkak menerobos kawat duri dengan buntalan pakaian, mantap dan seimbang seolah tanpa bobot bagaikan balon di atas kepalanya—memang berada dalam gubuk itu. Tetapi Cuma itu. “Dan begitulah sang ratu melangkah ke parit, di mana orang jahat itu bersembunyi. Dia berjalan tegak ke parit dan berkata, ‘Kalau saja aku bisa melewati parit ini,’ itulah yang dia katakan…..”

“Parit apa?” Caddy bertana. “Parit seperti yang di luar itu? Mengapa seorang ratu mesti masuk-masuk ke parit?”

“Ya, untuk sampai ke rumahnya,” kata Nancy. Dia memandangi kami. “Dia harus menyeberangi parit itu untuk masuk cepat-cepat ke rumahnya dan memasang palang pintu.”

“Mengapa dia kepingin pulang dan memasang palang pintu?” Caddy berkata.

Bersambung..

____

*) WILLIAM FAULKNER

Lahir di New Albany, Mississipi, Amerika Serikat tahun 1897 dan meninggal tahun 1962. Faulkner adalahs alah satu pengarang besar Amerika, yang pengaruhnya sangat luas pada generasi pengarang sesudahnya. Bahkan Ernest Hemingway dan John Steinbeck, dua pemenang Novel Sastra yang lain, menganggapnya sebagai “pendahulu” dalam sastra Amerika modern.

Faulkner terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi sejumlah novel, di antaranya Sanctuary (1931) dan Intruder in The Dust (1948) yang meraih sukses. Dalam novel-novelnya, ia menciptakan lokasi imajinatif Yoknapatawpha Country yang sangat terkenal, di mana ia menemukan orisinalitas dalam mengekspresikan pengalaman seninya. Faulkner menulis delapan novel dengan latar lokasi imajinatif tersebut,di antaranya Sartoris (1929), As I Lay Dying (1930), dan Lightin August (1932), selain Intruder in The Dust.

Faulkner adalah sastrawan keempat Amerika Serikat (sesudah Sinclair Lewis tahun 1930, Eugene O’Neil tahun 1936, dan Pearl S. Buck tahun 1938) yang memperoleh penghargaan tersebut, atau sastrawan kelima setelah T.S. Elion (tahun 1948) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

 

[1] Diskon: pembantu pastor/pendeta saat kebaktian/misa.

[2] Halloween: tanggal 13 Oktober malam, ketika anak-anak berdandan dan merias muka aneh-aneh.

Continue Reading

Cerpen

Leo Tolstoy: Seusai Pesta Dansa

mm

Published

on

Seusai Pesta Dansa

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

Oleh: Leo Tolstoy | Penerjemah: Ladinata

_____

“Jadi kalian berpendapat, bahwa manusia tidak dapat secara mandiri mampu memahami, apa yang baik, apa yang buruk, bahwa segalanya adalah soal lingkungan, bahwa lingkungan mencengkram manusia. Tetapi saya berpikir, bahwa semua itu adalah masalah terjadinya suatu peristiwa. Saya akan bercerita mengenai diri saya sendiri.”

Demikianlah kata Ivan Vasilyevich, laki-laki terhormat, selepas perbincangan yang berlangsung di antara kami tentang, bahwa untuk penyempurnaan diri harus terlebih dulu mengubah keadaan-keadaan, yang di dalamnya manusia hidup. Pada hakikatnya, tidak satu orang pun yang berkata, bahwa tidak mungkin untuk memahami, apa yang baik, apa yang buruk, tetapi Ivan Vasilyevich, mempunyai kebiasaan menjawab atas pikiran-pikirannya sendiri, yang muncul sebagai akibat perbincangan dan dengan alasan pikiran-pikiran tersebut dia memaparkan peristiwa-peristiwa dari dalam hidupnya. Dia sering lupa pada dalih, ketika dia terpikat oleh sebuah kisah, yang membuat dia benar-benar bercerita, apalagi dia bercerita dengan begitu sungguh hati dan berterus terang.

Begitulah, sekarang dia melakukannya.

“Saya akan menceritakan mengenai diri sendiri. Seluruh hidup saya jadi seperti ini, bukan melalui cara lain, bukan lantaran lingkungan, tetapi karena sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Karena apatah itu?” tanya kami.

“Ya, ini adalah cerita yang panjang. Untuk memahami, harus banyak yang diceritakan.”

Ivan Vasilyevich mulai berpikir, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya,” katanya. “Seluruh hidup saya berubah pada suatu malam, atau lebih ke arah pagi.”

“Apatah yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

“Perian yang bukan main, Ivan Vasilyevich.”

“Memerikan tidak boleh demikian, tetapi bagaimana pun juga perikanlah; itu agar kalian mengerti, bagaimana dia dulu. Tetapi bukan dalam hal itu masalahnya: apa yang akan saya ceritakan, terjadi pada tahun empat puluhan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa di universitas, di suatu provinsi. Saya tidak tahu, baikkah itu atau buruk, tetapi ketika itu kami tidak memiliki kelompok studi, tidak juga teori, di universitas, kami hanyalah manusia muda dan hidup, seperti biasanya orang-orang muda: belajar dan riang gembira. Saya orang muda yang riang dan enerjik dan juga berada. Saya punya seekor kuda kereta yang gesit, saya mengendarainya dari atas gunung dengan para perempuan muda (seluncur ketika itu masih belum jadi kebiasaan), saya pergi melakukan pesta-pesta minum dengan kawan-kawan universitas (saat itu kami tidak minum apa-apa, kecuali sampanye; uang tidak ada, kami tidak minum sesuatu pun, tetapi kami tidak minum, seperti galibnya sekarang, vodka). Kesenangan saya yang utama adalah pesta-pesta dan pesta dansa. Saya menari dengan baik dan tentu saja saya tidaklah jelek.”

“Ayo, jangan terlalu rendah hati,” seorang wanita, dari orang-orang yang mendengarkan, menyelanya. “Kami mengetahui potret daguerrotype[1]Anda. Tidak, Anda tidaklah jelek. Anda adalah seorang laki-laki rupawan.”

“Rupawan, boleh jadi dulunya. Tetapi soalnya bukan itu. Soalnya adalah pada saat cinta yang paling kuat saya kepadanya, saat hari terakhir Shrovetide[2], saya berada di pesta dansa Marshal of Nobility[3], seorang laki-laki tua baik hati, manusia berharta yang murah hati dan seorang kamerger[4]. Sebagaimana sang suami, istrinya juga sangat baik hati, menerima kami, para tamu, mengenakan gaun panjang beludru berwarna merah kecoklatan, di kepalanya ada tiara berlian, bahu dan lehernya yang terbuka, tampak tua, putih dan padat, seperti potret Elizaveta Petrovna[5]. Pesta dansa begitu menakjubkan: ruang dansanya mentereng, dengan paduan suara dan para pemain musik dari kaum hamba sahaya, yang ketika itu terkenal, merupakan milik tuan tanah, pecinta musik, makanan berlimpah dan lautan sampanye mengalir. Meski saya pemburu sampanye, saya tidaklah minum, karena tanpa anggur, saya telah mabuk cinta, meski demikian saya menari sampai saya jatuh, saya berdansa quadrille[6],waltz[7],polonaise[8],dan tanpa perlu dikatakan, sejauh ada kemungkinan, saya ingin melakukan semua itu dengan Varenka. Dia mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, sarung tangan halus putih, yang tidak begitu menjangkau siku tangannya yang kurus dan menonjol, dan sepatu satin warna putih. Mazurka[9] saya dirampas: seorang insinyur yang menyedihkan bernama Anisimov, sampai sekarang saya tidak pernah dapat memaafkannya, meminta Varenka untuk berdansa dengannya, saat Varenka baru masuk ke dalam ruang dansa, sedangkan saya ketika itu pergi dulu ke tukang pangkas rambut serta membeli sarung tangan dan saya terlambat. Karena itulah saya tidak menari mazurka dengannya, tetapi dengan seorang perempuan Jerman, yang sebelumnya saya pernah agak kerajingan. Tetapi saya khawatir, pada malam itu, saya sangat tidak santun kepadanya, tetapi saya hanya memandang pada seseorang bertubuh tinggi, ramping, yang mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, wajahnya yang berlesung pipi bersinar-sinar, kemerah-merahan, sorot matanya lembut dan sejuk. Bukan hanya saya sendiri, tetapi semua orang melihat kepadanya dan mengaguminya, baik itu laki-laki, maupun perempuan, mengagumi, dengan tidak memandang pada, bahwa dia membelakangi mereka semua. Sangat tidak mungkin untuk tidak mengaguminya.

Menurut aturan, demikianlah yang dilisankan, saya tidak menari mazurka dengannya. Dia, dengan tanpa tersipu, berjalan langsung ke arah saya melewati panjangnya ruang dansa dan saya bangkit, tidak menanti permintaan dan dia berterima kasih melalui senyuman kepada saya atas perkiraan saya tersebut. Ketika kami, para lelaki, diarahkan kepadanya, dia tidak dapat menebak karakter pokok saya[10], dia, seraya mengulurkan tangan bukan kepada saya, tetapi kepada orang lain, mengangkat bahunya yang kurus, sebagai tanda penyesalan dan pelipur lara dan dia memberikan senyuman kepada saya.

Ketika mazurka diganti dengan waltz, begitu lama saya menari waltz dengannya dan dia, sambil sering menghela nafas, tersenyum dan berkata kepada saya: “Encore[11]”. Dan saya terus-menerus menari waltz dan tidak merasakan tubuh sendiri.”

“Mana bisa Anda tidak merasakannya, saya pikir, Anda sangat merasakannya, ketika Anda merengkuh pinggangnya, bukan hanya badan Anda sendiri, tetapi juga tubuhnya,” kata salah seorang dari para tamu.

Ivan Vasilyevich tiba-tiba memerah dan dia dengan marah hampir berteriak:

“Ya, begitulah kalian, orang muda zaman sekarang. Kalian itu, kecuali tubuh, tidak ada sesuatu pun yang dilihat. Pada zaman kami tidaklah demikian. Semakin kuat saya jatuh cinta, semakin dia bagi saya jadi tidak bersifat badaniah. Kalian sekarang hanya melihat kaki, pergelangan kaki dan juga yang lainnya, kalian menelanjangi perempuan, yang kalian cintai, buat saya, seperti yang dikatakan Alphonse Karr[12], seorang penulis yang bagus, selalu ada baju zirah dari perunggu pada objek cinta saya. Kami tidak menanggalkan pakaian, tetapi kami berusaha menyembunyikan ketelanjangan, seperti anak nabi Nuh yang baik hati[13]. Tetapi sudahlah kalian tidak akan memahami hal ini.”

“Jangan dengarkan dia. Selanjutnya bagaimana?” kata seorang dari kami.

“Ya. Begitulah, saya terus berdansa dengannya dan tidak memperhatikan, bagaimana waktu berlalu. Para pemain musik dengan kelelahan yang sangat, kalian tahu, itu selalu terjadi pada setiap akhir pesta dansa, terus memainkan motif mazurka, dari meja kartu di ruang tamu para orang tua beranjak, mempersiapkan diri untuk makan malam, secara lebih kerap pelayan-pelayan berlarian, sambil membawa sesuatu. Sudah pukul tiga; menit-menit yang penghabisan, mestilah, dipergunakan. Sekali lagi saya memintanya untuk berdansa dan kami untuk yang keseratus kalinya melalui panjangnya ruang dansa.”

“Selepas makan malam, bolehkan saya menjadi partner Anda untuk quadrille?” kata saya kepadanya, sambil membawanya kembali ke tempatnya.

“Tentu saja, jika saya tidak dibawa pulang,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak akan saya biarkan,” kata saya.

“Kipas tangan saya, tolong berikan,” katanya.

“Menyesal saya harus mengembalikannya,” kata saya, seraya memberikan kepadanya kipas tangan putih yang tidaklah mahal.

“Kalau begitu ini untuk Anda, agar Anda tidak merasa menyesal,” katanya, seraya melepaskan selembar bulu kipas tangan dan memberikannya kepada saya.

“Saya mengambilnya dan hanya dengan tatapan saya mengungkapkan rasa terpaku dan rasa terima kasih. Saya bukan saja riang dan senang, saya bahagia, terberkati, saya dipenuhi kebajikan, saya sudah bukan saya, tetapi saya adalah mahluk di luar bumi, yang tidak mengenal kejahatan dan hanya dapat melakukan kebaikan. Saya menyimpan selembar bulu itu ke dalam sarung tangan dan saya berdiri saja, tidak memiliki kekuatan untuk menjauh darinya.”

“Lihat, ayah diminta untuk berdansa,” katanya kepada saya, sambil menunjuk pada sosok ayahnya yang tinggi dan agung, seorang kolonel dengan tanda pangkatperak[14], yang berdiri di pintu dengan sang nyonya rumah dan beberapa wanita lainnya.

“Varenka, kemarilah,” kami mendengar suara keras sang nyonya rumah, yang memakai tiara berlian dengan bahu bergaya Elizaveta Petrovna.

Varenka mendekat ke arah pintu dan saya berjalan di belakangnya.

Ma chere[15], berbicaralah pada ayahmu, agar dia berdansa denganmu. Pyotr Vladislavich, ayolah berdansa,” kata sang nyonya rumah kepada kolonel tersebut.

Ayah Varenka adalah laki-laki tua yang sangat tampan, agung, tinggi dan terpelihara kesehatannya. Wajahnya begitu kemerah-merahan dengan kumis putih melengkung, seperti Nikolai I[16], jambangnya yang juga putih, menyentuh kumis dan dengan rambut yang disisir ke depan, di atas pelipis; senyumannya yang lembut, yang gembira, seperti yang dimiliki anaknya, tampak pada matanya yang bercahaya dan pada kedua bibirnya. Tubuhnya sangat sempurna dengan dada yang lebar, membusung, khas militer, dihiasi, secara sederhana, oleh tanda jasa; bahunya kekar, kedua kakinya tampak sangat baik dan panjang. Dia adalah seorang perwira dari tipe lama dengan karakter militer akademi Nikolai.

Ketika kami sampai di pintu, sang kolonel menampik seraya mengatakan, bahwa dia telah lupa bagaimana caranya berdansa, tetapi meskipun demikian, sambil tersenyum, setelah mengulurkan tangan ke arah kiri, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, menyerahkannya kepada seorang laki-laki muda yang membantunya dan setelah meletakkan sarung tangan kulit ke tangan kanan, dia berkata, “semua harus menurut aturan,” seraya tersenyum, dia meraih tangan putrinya dan mengambil kedudukan seperempat putaran, sambil menunggu ketukan irama yang tepat.

Setelah permulaan motif mazurka terdengar, dengan tangkas sang kolonel menghentakan salah satu kakinya dan mengayunkan kakinya yang kedua dan kemudian sosoknya yang tinggi besar, kadang senyap dan lembut, kadang berisik dan bergolak, dengan bunyi derap sepatu dan hentakan satu kaki terhadap kaki yang lain, mengarungi sekeliling ruangan dansa, sosok Varenka yang lemah gemulai melayang di samping sang kolonel, dengan tanpa terlihat dan selalu tepat waktu dia terus memendekkan atau memperpanjang langkah kaki mungilnya yang diselimuti sepatu satin warna putih untuk mematutkan gerakan dengan ayahnya.

Semua orang mengikuti setiap gerakan dari pasangan tersebut. Saya bukan hanya mengagumi, tetapi dengan sentuhan kegembiraan memandangi keduanya, saya, terutama, tersentuh oleh sepatu sang kolonel, yang diikat dengan tali pengikat; sepatu dari kulit sapi yang baik, sepatu tersebut tidak fashionable dan tidak lancip, tetapi bergaya lama dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut dan tanpa hak. Tak pelak lagi, sepatu itu dibuat oleh tukang sepatu batalyon. “Dia tidak membeli sepatu yang fashionable, mengenakan sepatu buatan rumah, agar dapat memakaikan dan membawa putri kecintaannya ke dalam pergaulan masyarakat,” pikir saya dan begitulah utamanya, mengapa saya tersentuh oleh sepatu dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut tersebut. Semua orang melihat, bahwa sebelumnya sang kolonel berdansa dengan baik sekali, tetapi sekarang dia tampak berat dan kaki-kakinya tidak lagi cukup fleksibel untuk melakukan semua langkah indah dan cepat, yang dia ingin lakukan. Tetapi dia, biarpun demikian, dengan cekatan melewati dua kali putaran ruang dansa. Saat dia dengan cepat melebarkan kakinya, kemudian merapatkannya lagi dan meskipun agak susah, menjatuhkan dirinya dengan bertumpu pada satu lutut, dan Varenka, sambil tersenyum dan memperbaiki gaun bagianbawah, yang dipegang oleh ayahnya, secara anggun melayang menyeputari sang kolonel; semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh. Melalui beberapa kekuatan sisa sang kolonel berusaha untuk bangkit sedikit, dengan lembut, halus, merengkuh putrinya lewat kedua tangan yang menyentuh telinga Varenka dan setelah mencium keningnya, kolonel itu membimbingnya ke arahku, karena berpikiran, bahwa saya berdansa dengan anaknya; saya pun mengatakan, bahwa saya bukan partner Varenka dalam berdansa.

“Sama saja, sekarang berdansalah Anda dengannya,” katanya, sambil tersenyum dengan hangat dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Seperti biasa terjadi, bahwa tetesan pertama yang keluar dari dalam botol, pada kesudahannya mengalirkan isinya menjadi curahan-curahan yang besar, begitu juga di dalam jiwa saya, cinta terhadap Varenka membebaskan seluruh kemampuan cinta saya yang terselubung. Saya merangkul, pada ketika itu, segenap dunia dengan cinta. Saya menyukai nyonya rumah yang mengenakan tiara berlian dengan gaya potret sedada Elizaveta, suaminya, para tamunya, para pelayannya, dan bahkan pada insinyur Anisimov, yang jelas-jelas marah pada saya. Terhadap ayah Varenka, yang mengenakan sepatu buatan rumah dengan senyum lembut, yang mirip benar dengan senyumnya, saya saat itu menjalani sesuatu rasa kagum yang mempesona.

Mazurka berakhir, tuan dan nyonya rumah meminta para tamu untuk makan malam, tetapi kolonel B menolak, mengatakan, bahwa dia besoknya harus bangun pagi-pagi sekali dan dia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah. Saya ketakutan, Varenka akan dibawa serta. Akan tetapi dia tetap tinggal bersama ibunya.

Setelah makan malam saya menari quadrille, yang telah terjanjikan, dengannya, dan tanpa berpijak pada hal, bahwa, tampaknya, saya tak akan dapat sangat gembira, kebahagiaan saya terus tumbuh dan berkembang. Kami tidak mengatakan apa-apa mengenai cinta. Saya tidak bertanya baik kepadanya, maupun kepada diri sendiri, bahkan mengenai: cintakah dia kepada saya. Bagi saya sudah cukup, saya mencintai dia. Dan saya mencemaskan hanya pada satu hal, akan ada sesuatu yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Ketika sampai di rumah, saya menanggalkan pakaian dan memikirkan mengenai tidur nyenyak, tetapi saya melihat, bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Pada genggaman tangan saya ada selembar bulu dari kipas tangannya dan sebelah sarung tangan, yang dia berikan kepada saya, saat dia duduk di dalam kereta kuda dan saya ketika itu membimbing ibunya, kemudian Varenka untuk naik ke dalam kereta tersebut. Saya menatapi barang-barang itu dan, karena tidak dapat memejamkan mata, saya melihat Varenka ada di hadapan saya lagi sesaat, ketika dia, memilih salah satu dari dua partner, memperkirakan karakter saya dan saya mendengar suara lembutnya, manakala dia berkata: “Rasa bangga? Benar?” Dan dengan gembira dia mengulurkan tangannya kepada saya atau ketika makan malam dia mereguk sedikit demi sedikit segelas kecil sampanye dan menatap saya sambil mengernyitkan kening dengan mata yang menawan. Tetapi dari semuanya yang terbaik, ketika saya melihat Varenka berpasangan dengan ayahnya, dia melayang dengan anggun di samping sang kolonel dan dengan bangga dan gembira dia melihat pada para penonton yang terkagum-kagum terhadap dirinya dan ayahnya. Dan tanpa disadari saya menggabungkan keduanya di dalam satu perasaan yang lembut dan mengharukan.

Ketika itu saya tinggal dengan saudara laki-laki yang pendiam. Saudara saya itu benar-benar tidak menyukai pergaulan masyarakat dan tidak pernah pergi ke pesta dansa, sekarang dia sedang mempersiapkan ujian kandidat[17] dan menjalani kehidupan yang sangat lurus. Dia tertidur. Saya memandang pada bagian kepalanya yang terpendam bantal dan setengahnya tertutup dengan selimut flanel, dan saya, dengan rasa sayang, mulai jadi kasihan terhadapnya, kasihan karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat berbagi kebahagiaan, yang saya alami. Petrusha[18], pembantu saya, menemui saya dengan lilin di tangan dan dia ingin membantu saya melepaskan pakaian, tetapi saya menyuruhnya pergi. Rupa wajah saudara saya yang tertidur dengan rambut tidak karuan membuat saya jadi iba. Dengan berupaya untuk tidak membuat gaduh, saya masuk ke dalam kamar sendiri dengan bersijingkat dan duduk di atas tempat tidur. Tidak, lantaran begitu bahagia, saya tidak dapat tidur. Lain daripada itu, saya merasa kepanasan di dalam kamar, dan saya, dengan tidak menanggalkan pakaian seragam, pelan-pelan keluar ke ruang depan, memakai mantel, membuka pintu masuk dan pergi keluar ke arah jalan.

Saya pulang dari pesta dansa pada pukul lima, ketika saya sampai di rumah, saya duduk di sana, kira-kira dua jam, jadi saat saya keluar, langit sudah terang. Demikianlah udara Shrovetide: berkabut, salju yang dijenuhi oleh air bercairan di jalanan dan dari semua atap rumah bertetesan. Ketika itu keluarga B tinggal di ujung kota dan di dekatnya terdapat lahan luas terbuka, yang pada salah satu sisinya ada ruang untuk berjalan-jalan, sedang pada sisi kedua berdiri sebuah institut untukkaum perempuan[19]. Saya melewati jalanan kecil yang kosong dan keluar menuju ke jalan besar, di sana saya bertemu dengan para pejalan kaki dan para penarik kereta yang membawa kayu di atas kereta luncur, yang berusaha dikeluarkan dari hamparan salju ke jalanan beraspal oleh kuda-kuda penariknya. Dan kuda-kuda tersebut secara berirama mengayun-ayunkan kepalanya yang basah di bawah kayu berbentuk melengkung yang disampang[20] dan ditempatkan pada bagian lehernya, dan para penarik kereta yang mengenakan baju dari kain kasar berjalan lambat melewati lumpur salju dengan sepatunya yang besar di samping kereta kudanya dan rumah-rumah pada sisi jalan yang lain, di dalam cuaca berkabut, tampak sangat tinggi: bagi saya, terutama sekali, segalanya itu begitu memiliki nilai dan sangat signifikan.

Ketika saya keluar menuju ke lahan, yang di atasnya berdiri rumah keluarga B, saya melihat sesuatu yang besar dan hitam di ujung lahan, pada arah ruang untuk berjalan-jalan dan saya mendengar suara flute dan genderang dari sana. Jiwa saya sepanjang waktu berdendang dan terkadang terdengar motif mazurka. Akan tetapi ini adalah irama musik yang lain, parau dan menakutkan.

“Apakah itu?” Saya merasa ingin tahu dan mulai melangkah melalui jalanan licin di tengah tengah lahan ke arah suara tersebut berasal. Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, saya mulai melihat dengan jelas, dari balik kabut, sekumpulan orang yang tampak hitam, agaknya itu para serdadu. “Benar, mereka sedang latihan berbaris,” pikir saya dan bersama seorang tukang tempa besi yang mengenakan pakaian kerja yang terkotori minyak dan mantel dari bulu domba, yang membawa sesuatu dan berjalan di depan saya, melangkah lebih mendekat. Para serdadu dengan seragam hitam berdiri membentuk dua barisan, berhadap-hadapan seraya memegang senjata selurus dengan kaki dan sama sekali tidak bergerak. Di belakang mereka berdiri para penabuh genderang dan peniup flute, yang selalu mengulang, tanpa henti-hentinya, irama yang tidak menyenangkan dan melengking.

“Apakah yang mereka perbuat?” tanya saya pada sang penempa, yang berdiri di samping saya.

“Mereka menggiring seorang Tartar karena berusaha melarikan diri,” kata sang penempa dengan marah, sambil memandang ke ujung jauh barisan.

Saya mulai menatap ke sana juga dan melihat sesuatu yang mengerikan di tengah-tengah barisan, berjalan ke arah saya. Sesuatu yang mendekat kepada saya itu adalah seorang laki-laki bertelanjang dada, yang dihimpit senapan oleh dua orang serdadu, yang mengawalnya. Di samping laki-laki tersebut berjalan seorang perwira bertubuh tinggi, mengenakan mantel dan penutup kepala dinas, sosok tersebut tampaknya saya kenal. Sang pesakitan bergerak maju ke arah saya di bawah hujan pukulan yang menghajarnya dari dua sisi, seluruh badannya tersentak dan kakinya menginjak keras-keras salju yang meleleh, kadang dia tersungkur ke belakang dan saat itu serdadu yang mengawalnya dengan senapan, mendorongnya ke depan, kadang dia jatuh menyorong ke depan dan saat itu serdadu tersebut, sambil menahannya agar tidak jatuh, menarik sang pesakitan ke belakang. Dan di sampingnya, perwira yang bertubuh tinggi tak pernah sedikit pun melangkah di belakang, berjalan dengan tegap. Dia adalah ayah Varenka, dengan wajahnya yang merah, jambang pipi dan kumis warna putih.

Pada setiap pukulan, sang pesakitan, seperti orang yang keheranan, memalingkan wajahnya yang meringis karena kesakitan ke arah, dari mana datangnya pukulan dan sambil menyeringaikan gigi-gigi putihnya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama. Hanya pada saat dia sangat dekat, saya mendengar kata-kata tersebut. Dia tidak mengatakannya, tetapi lebih kepada melenguh: “Tolonglah, ampuni. Ampunilah saya.” Akan tetapi orang-orang itu tidak mengampuninya dan manakala prosesi itu benar-benar tepat di depan saya, saya melihat, bagaimana serdadu yang berdiri di depan saya tanpa ragu-ragu melangkah maju ke depan dan setelah mengibaskan tongkat pemukul ke udara, hingga terdengar bunyi mendesing, dia memukulkannya keras-keras pada punggung orang Tartar tersebut. Sang pesakitan jatuh ke depan, tetapi serdadu-serdadu itu menahannya dan pukulan yang seperti tadi menghajarnya dari arah yang lain, dan sekali lagi dari arah yang tadi, dan sekali lagi dari arah yang lain. Sang kolonel berjalan di samping orang Tartar, kadang dia melemparkan pandangan ke arah kakinya sendiri, kadang ke arah sang pesakitan, dia menghirup udara, kemudian menggelembungkan pipinya dan pelan-pelan mengeluarkannya melalui bibirnya. Ketika prosesi tersebut melewati tempat, yang di atasnya saya berdiri, selintasan saya melihat, di tengah-tengah barisan serdadu, punggung sang pesakitan, tampak sesuatu yang sulit digambarkan: berbilur-bilur, basah, merah, mengejutkan. Saya hampir tak percaya, jika itu bagian tubuh manusia.

“Ya, Tuhan!” gumam sang penempa, yang berdiri di samping saya.

Prosesi bergerak menjauh. Pukulan-pukulan dari dua arah tetap menghajar mahluk yang terhuyung-huyung dan menggelepar, genderang juga tetap ditabuh, flute pun tetap melengking, dan sosok sang kolonel yang jangkung dan perbawa berjalan di samping orang Tartar dengan langkah yang tegap. Tiba-tiba kolonel tersebut berhenti dan dengan cepat menghampiri salah seorang serdadu.

“Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana melalaikan perintah,” saya mendengar suaranya yang murka. “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?”

Dan saya melihat, bagaimana dia memukul serdadu yang berbadan pendek dan lemah tersebut dengan tangannya yang kuat, yang terbungkus sarung tangan kulit, lantaran serdadu itu tidak cukup kuat menghajarkan tongkat pemukulnya ke punggung orang Tartar yang terlihat sangat merah.

“Berikan tongkat pemukul yang baru!” teriaknya dan berpaling: dia melihat saya. Seraya berpura-pura tidak mengenal saya, dia mengernyitkan dahi dengan keji dan mengerikan, kemudian secepat-cepatnya memalingkan wajah. Sampai pada tingkat ini saya merasa malu, saya tidak tahu harus ke mana melemparkan pandangan, seolah-olah saya tertangkap dalam perbuatan yang mendatangkan malu. Saya jatuhkan pandangan ke bawah dan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, di telinga saya terngiang kadang tabuhan genderang dan lengkingan flute, kadang terdengar kata-kata: “Ampunilah saya”, kadang saya mendengar suara murka, yang terlalu percaya diri dari sang kolonel, yang berteriak: “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?” Dan pada ketika itu di dalam hati saya ada penderitaan yang hampir-hampir bersifat jasmani, yang membuat saya muak, sehingga untuk beberapa kali saya berhenti, dan kelihatannya, saya harus membuang semua hal yang mengerikan, yang masuk kepada saya melalui tunjukkan yang tadi. Saya tak lagi ingat, bagaimana saya sampai ke rumah dan berbaring. Akan tetapi saya hanya tidur barang sebentar, kemudian mendengar dan melihat lagi segalanya itu dan saya terlonjak bangun.

“Tampaknya, dia mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui,” saya berpikir mengenai sang kolonel. “Sekiranya saya mengetahui, apa yang dia ketahui, saya akan memahami, dan apa yang saya lihat, tidak akan menyiksa saya.” Akan tetapi beberapa kali pun saya berpikir, saya tidak dapat mengerti, apa yang diketahui oleh sang kolonel dan saya pun jatuh tertidur menjelang malam. Dan setelah itu, saya kemudian berkunjung ke rumah seorang kenalan dan di sana saya minum-minum dengannya sampai saya benar-benar mabuk, untuk melupakan.”

“Apakah kalian mengira, bahwa apa yang saya simpulkan saat itu mengenai apa yang saya lihat adalah sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Jikalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan diterima oleh setiap orang sebagai sesuatu yang diperlukan, maka itu artinya mereka mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui, saya berpikir begitu dan berupaya untuk mengetahui hal tersebut. Akan tetapi seberapa pun saya berusaha, saya kemudian tetap tidak mampu mengetahuinya. Dan karena saya tidak dapat mengetahui, saya pun tidak mampu masuk ke dalam dinas militer, sebagaimana yang saya inginkan dulu. Dan bukan hanya di dalam kedinasan militer, tetapi di mana-mana saya tidak sanggup masuk ke dalam dinas apa pun dan ke manapun, sebagaimana yang kalian lihat, saya telah berubah menjadi seorang manusia yang tak berguna.”

“Ya, kami mengetahui, bagaimana Anda telah berubah menjadi orang yang kehilangan guna,” kata salah seorang tamu. “Lebih baik dikatakan demikian saja: jadi sebelum ada Anda, betapa banyaknya orang, yang telah berubah menjadi manusia yang tidak berguna.”

“Itu adalah sesuatu yang bodoh untuk dikatakan,” kata Ivan Vasilyevich dengan nada yang sangat kesal.

“Baiklah, bagaimanakah dengan cinta Anda?” tanya kami.

“Cinta saya? Sejak hari itu cinta saya jadi meluruh. Ketika Varenka, ini sering terjadi terhadapnya, dengan senyuman di wajah memikirkan sesuatu secara mendalam, dan saya, dengan secepatnya, teringat pada sang kolonel, yang ketika itu berada di atas lahan, dan saya, tidak tahu bagaimana, merasa jadi tidak nyaman dan tidak bahagia, saya pun kemudian jadi lebih jarang bertemu dengannya. Dan cinta saya menghilang menuju pada tidak ada. Begitulah kadang-kadang sesuatu terjadi dan karena apa seluruh hidup manusia bisa berubah dan memiliki tujuan. Sedangkan kalian di sini hanya memperbincangkan mengenai lingkungan,” kata Ivan Vasilyevich mengakhiri. (*)

1903

____
*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin.

[1] Merupakan foto yang dikerjakan di atas piring perak. Namanya disesuaikan dengan nama penemu metode ini, L.J.M Daguerre (1787-1851). Pada tahun 1851 diketahui ada daguerreotype Tolstoy

[2] Seminggu sebelum puasa masehi; festival Slavia Kuno untuk mengucapkan selamat jalan pada musim dingin, yang ditandai oleh pekerjaan musim semi di ladang

[3] Dipilih oleh kaum bangsawan di suatu Uyezd atau Guberniya di dalam badan pemilihan kepemerintahan lokal

[4] Gelar senior hukum di Rusia

[5] Anak Peter I. Ratu Rusia (1709-1761), yang memerintah sejak tahun 1741. Di dalam potret resminya terpampang jelas bahunya yang putih dan lembut

[6] Aslinya adalah nama permainan kartu. Pada tahun 1740 diberikan untuk penamaan tarian. Quadrille diperkenalkan di Perancis sekitar tahun 1760. Quadrille dibawakan oleh dua pasang penari; pertama-tama di Perancis hanya diperlukan 4 orang, kemudian dua pasang penari ditambahkan pada masing-masing sisi untuk menggantikan pasangan yang lelah. Tarian ini sangat enerjik

[7] Tarian ini muncul di Wina, Austria pada awal abad 17. Tarian ini berirama ¾, pun musiknya

[8] Tarian rakyat Polandia. Pasangan penari membawakan tarian ini dengan berkeliling ruang dansa. Tempo tarian ini cepat

[9] Tarian nasional Polandia yang dibawakan sejak abad 16. Musiknya berirama ¾. Tarian ini dikarakterisasikan dengan hentakan kaki dan sentakan tumit, saat ada gerakan membalik

[10] Untuk tarian mazurka ada aturan khusus. Para penari pria memilih kualitas konvensional, misalkan rendah hati, rasa bangga, riang, sedih. Seorang penari pria akan memilih dua orang penari lainnya dan meminta sang penari wanita untuk menebak kualitas mereka. Penari wanita akan menari dengan laki-laki yang kualitasnya dapat diterka

[11] Maksudnya’lagi’ (bahasa Perancis)

[12] Penulis Perancis (1808-1890), yang mendirikan majalah satir ‘Wasps’

[13] Di dalam kitab Injil dikisahkan nabi Nuh jatuh tertidur, setelah banyak minum. Ham, anaknya, menertawakan, tetapi Sim dan Japhet, anak lainnya, dengan rasa respek menyelimuti ketelanjangan ayahnya

[14] Tanda pangkat untuk masa seremonial, yang disulam secara khusus pada bagian ujung pundak

[15] Maksudnya ‘sayangku’ (bahasa Perancis)

[16] Kaum militer pada masa Nikolai I (1825-1855) meniru tsar mereka, yang di dalam potret resminya memakai kumis dan jambang

[17] Ujian akhir di universitas dan mahasiswa yang berhasil diberi gelar: kandidat akademik

[18] Nama diminutif Pyotr atau Peter

[19] Institusi pendidikan eksklusif untuk putri-putri kaum bangsawan, yang didirikan oleh Marya Fyodorovna (1759-1828), istri tsar Pavel I

[20] Dipernis, agar kayu jadi berkilat

Continue Reading

Trending