Connect with us

Interview

Karlina Supelli : Di Batas Cakrawala

mm

Published

on

Karlina Supelli

“Teori-teori kosmologi membawa kita ke batas, ke suatu tepi cakrawala. Di batas paling jauh dari yang kita bisa raih, di tempat hal-hal tidak bisa diselesaikan lagi dengan berpikir, di situlah ada tahap iman.” Karlina Supelli

Tak banyak orang berkesempatan menjalani hidup seperti Karlina Supelli (55). Ia harus meninggalkan seluruh cita-citanya ketika keberhasilan tinggal selangkah. Di tengah kesendirian ia kehilangan kakak yang amat dicintainya. Belum selesai masa berkabung, enam bulan kemudian Karlina didiagnosis dokter terkena kanker. Dari suatu kematian yang riil, ia menghadapi risiko lain yang berujung sama.

Penderitaan bertubi-tubi itu tak membuat Karlina luruh. Bekal ilmiahnya membantu untuk bangkit. ”Nalar berpikir menuntun saya memilah mana yang harus diselesaikan secara teknis, mana yang perlu dipikirkan mendalam, dan mana yang memerlukan rasa perasaan,” kata Karlina.

Namun, ketika nalar berpikir tak mampu lagi menjangkau, hanya iman yang bisa menuntun. Iman pula yang membuatnya berserah. Seperti pasienpasien kanker lainnya, kemoterapi merontokkan fungsi pertahanan tubuhnya. Ia tidak boleh bertemu banyak orang karena kondisinya amat rentan. Rambutnya yang tebal mengurai berguguran. Ia sangat lemah. Hanya otaknya yang bergerak bebas, berkelana ke ranah-ranah yang jauh. Dalam kesakitan yang panjang ia bangkit menyelesaikan pikiran utama dalam buku Dari Kosmologi ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme (Desember 2011).

”Belajar kosmologi membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup terlalu berharga untuk tidak diperjuangkan,” kata Karlina.

Menjalani hidup

Sosok Karlina yang kami temui suatu siang, pekan lalu, penuh daya hidup. Wajahnya bersinar dan terlihat segar berbalut batik lereng biru dengan sepatu terbuka bertali merah-hitam. ”Sepatu saya sudah ketularan para romo di sini, ha-ha-ha,” ujarnya.

Rambut yang sudah kembali tumbuh dipotong pendek yang mengingatkan sosoknya ketika usia 40 tahun.

Di kamar kerjanya, di gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, buku-bukunya memenuhi rak dinding sampai ke langit-langit. Ruang berukuran 3 x 3,3 meter persegi itu memang hanya berisi seperangkat meja kerja dan tempat tidur lipat kecil, tempat ia mengistirahatkan badan jika jalan pulang tertutup banjir. Sudut ruangan berhias beberapa foto Alexander Supelli, kakak tercintanya, yang meninggal tiga hari setelah pesawat Super Decathlon buatan PT Dirgantara Indonesia yang dipilotinya jatuh terbakar pada Bandung Air Show, 24 September 2010. Selebihnya adalah buku, buku, dan buku, termasuk yang bertumpuk menutup lantai.

Ketika jam makan siang, Karlina mengajak turun dari kantornya di lantai empat, berjalan melintasi lapangan basket menuju ruang makan. Menu para dosen siang itu adalah sayur asem, tongkol goreng, dan ikan asin. ”Wah, sebagai orang Sunda menu ini enggak boleh dilewatkan. Enggak apa-apa, deh, sekali-sekali makan ikan asin,” katanya sambil bolak-balik mencomot ikan asin.

Ditemani Kepala Pascasarjana STF Driyarkara J Sudarminta, Karlina makan dengan lahap. Inilah keseharian yang ia jalani selama 13 tahun terakhir. ”Sebenarnya masih ada beberapa kegiatan lain seperti menjadi dewan penasihat Suara Ibu Peduli dan anggota komisi pendidikan beberapa sekolah. Namun, kegiatan utama saya adalah mengajar dan penelitian,” katanya.

Tahun 1998, ketika mahasiswa dan kelompok lain belum bergerak, di Bundaran Hotel Indonesia, para ibu yang bergabung dalam Suara Ibu Peduli memprotes harga susu yang meroket akibat krisis moneter. Karlina bersama Gadis Arivia dan Wilarsih diinterograsi pihak keamanan selama 23 jam. Namun, langkah Suara Ibu Peduli telah mengawali gelombang reformasi yang berpuncak pada jatuhnya Presiden Soeharto.

”Saya terus digugat pertanyaan apakah akan terus enak-enakan berpikir tentang teori, menikmati kosmologi yang sunyi, sementara kesulitan hidup meruyak di sekitar saya,” ujarnya. Ia memutuskan memindahkan risetnya dari langit menjadi karya nyata untuk manusia.

Perjalanan hidupnya mengalami perubahan dramatis pada masa reformasi. Ia bergabung dalam suatu jaringan yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupannya ketika kuliah filsafat di Universitas Indonesia, melalui Jurnal Perempuan. Ia memasuki dunia aktivisme yang penuh dinamika.

Namun, setelah reformasi usai, ia kembali ke dunia sunyi. ”Pada dasarnya memang saya tidak terlalu suka keramaian. Dunia saya adalah dunia penelitian. Saya masih membantu temanteman aktivis, tetapi dari sisi penguatan konseptualnya.”

Pergulatan kini

Karlina—lahir di Jakarta, 15 Januari 1958—lulus dengan predikat cum laude sebagai sarjana bidang astronomi di Institut Teknologi Bandung. Sempat ke Inggris untuk mewujudkan cita-citanya menjadi ilmuwan kosmologi, jalan hidupnya berubah total ketika harus kembali ke Indonesia sebelum waktunya. Ia sempat merasa buntu, tetapi kemudian sadar bahwa dalam hidup tidak semua pintu tertutup dan tidak semua jendela terbuka. ”Selalu ada jalan, asal mau melangkah,” kata Karlina.

Suatu kebetulan yang tidak kebetulan terjadi ketika Karlina menggantikan temannya duduk di kelas filsafat di UI dan mendengarkan Toeti Heraty, budayawan dan guru besar filsafat, mengajar. Ia seperti menemukan apa yang sedang dicarinya. Babak baru kehidupan intelektualnya dimulai dengan mendaftar dan akhirnya berhasil menyelesaikan program doktor filsafat dengan disertasi ”Wajah-Wajah Alam Semesta, Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif”. Itulah dunianya sejak 1994 setelah 15 tahun sebelumnya mendalami bidang kosmologi dan riset.

Di tengah kesibukannya mengajar, mata dan hatinya terus terjaga. Ia mengamati dengan penuh keprihatinan kondisi cuaca kultural yang semakin dangkal, antara lain terlihat dari budaya komentar di media elektronik, media sosial, yang serba pendek. Orang bangga jika akun Twitter-nya punya banyak pengikut (follower) atau akun Facebooknya punya banyak teman. Dan lewat komentar singkat orang merasa sudah bekerja.

Akibatnya, sikap pragmatis jangka pendek menjadi panglima. Hasil akhir menegasikan proses. Jadilah negara pasar, tempat semua produk dijual dan masyarakat yang tergoda, selalu ingin membeli yang terbaru. Ini saling kait dan berkelindan dengan kehidupan politik, sosial, bahkan spiritual, sehingga pendidikan hanya menghasilkan generasi serba konsumtif dan menggampangkan.

”Tugas perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan yang mau berpikir. Di situ tempat dan tugas saya sekarang,” katanya.

Ia kembali menapaki jalan sunyi. Mengutip Robert Frost, the road less traveled…. (Kompas, Maria Hartiningsih dan Agnes Aristiarini)

Continue Reading
Advertisement

Interview

Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende

mm

Published

on

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya

Dari wawancara Alison Beard dengan Isabel Allende | Judul asli “Life’s Work” |

Harvard Business Review Edisi Mei 2016 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Novel pertama Isabel Allende, yakni “The House of the Spirits,” bermula dari surat yang ia tulis untuk kakeknya yang sedang menghadapi hari-hari terakhir sebelum wafat. Novel ini telah menjadi best seller internasional. Namun, Isabel tampaknya masih berambisi menulis karya yang jauh lebih sukses lagi sebelum memutuskan untuk pensiun. Daftar karyanya sekarang sudah mencakup lebih dari 20 judul, termasuk “The Japanese Lover” yang dirilis tahun lalu. Berikut ini wawancara dengan Isabel Allende.

Apa arti ‘menulis’ bagi Anda?

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya dan menghubungkan Saya dengan jutaan pembaca di seluruh dunia.

Menerbitkan buku itu susah, bagaimana Anda bertemu Carmen Balcells?

Novel pertama Saya, “The House of the Spirits” ditolak beberapa penerbit. Suatu hari resepsionis di salah satu perusahaan penerbitan mengatakan bahwa buku Saya tidak akan bisa terbit tanpa perantara agensi yang baik dan dia menyebutkan nama Carmen Balcells. Kemudian, Tomas Eloy Martinez, penulis Argentina, memberi Saya alamat Carmen Balcells di Spanyol dan merekomendasikannya sebagai agen terbaik untuk sastra Amerika Latin.

Di salah satu wawancara, Anda mengaku memiliki visi sinematografi ketika menulis. Teknologi baru mengubah hidup kita saat ini, banyak orang berkomunikasi lewat facebook atau twitter setiap hari dan kemudian ada juga revolusi e-book: Bagaimana Anda berkomunikasi dengan kebanyakan orang, baik sebagai penulis dan sebagai pribadi? Apa pendapat Anda tentang e-book?

Saya tidak punya facebook dan Saya tidak bermain twitter, karena Saya tidak punya waktu. Saya terlalu sibuk menulis. Setiap malam ada setumpuk buku di meja yang menunggu giliran untuk Saya baca. Saya suka menyentuh dan mencium buku. Meski demikian, Saya lebih suka membaca E-book saat dalam perjalanan, karena Saya bisa membawanya sebanyak mungkin yang Saya mau dengan iPad. Saya memperkirakan, tak lama lagi, buku cetak akan menjadi barang langka, hanya menjadi simpanan para kolektor dan perpustakaan, karena kita akan membaca semua tulisan lewat layar.

Anda mulai menulis setiap buku pada tanggal yang sama ketika Anda mulai menulis “The House of the Spirits.” Mengapa?

Pada awalnya, sebenarnya itu takhayul saja, karena buku pertama Saya sangat beruntung. Kalau sekarang, itu soal disiplin. Jadwal Saya padat, jadi Saya perlu menyediakan waktu beberapa bulan dalam setahun untuk retret. Saya butuh waktu dan kesunyian, atau Saya tidak akan pernah bisa menulis. Memiliki kebiasaan mulai menulis di tanggal tertentu baik untuk Saya dan semua orang di sekitar Saya. Mereka tahu bahwa pada setiap tanggal 8 Januari, Saya tidak punya waktu selain untuk menulis.

Apakah Anda selalu memikirkan konsep terlebih dahulu sebelum menulis buku?

Seringkali—tetapi sangat samar-samar. Saya tidak pernah punya rancangan naskah. Saya mungkin punya waktu dan tempat sebagai obyek penelitian. Misalnya, ketika Saya menulis sebuah cerita tentang pemberontakan budak di Haiti pada 200 tahun yang lalu, Saya mempelajari peristiwa tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi, setelahnya Saya tidak memiliki karakter, alur cerita, maupun akhir kisah. Sementara di lain waktu, Saya duduk di depan komputer dan membiarkan kalimat pertama keluar. Itulah kalimat pembuka untuk sebuah cerita, tetapi Saya sempat tidak tahu tentang apa itu.

Bagaimana Anda melanjutkannya?

Perlahan. Beberapa pekan awal seringkali mengerikan karena Saya tidak kunjung menemukan narasi, nuansa dan alur cerita. Ini menyebalkan, karena Saya cemas bahwa semua halaman yang sudah Saya tulis akan berakhir di tempat sampah. Tapi ini biasanya hanya pemanasan: Saya harus menemukan bentuk cerita dulu. Setelah beberapa minggu, karakter-karakter mulai muncul dan menceritakan kisah mereka kepada Saya. Kemudian Saya merasa berada di jalur yang tepat.

Apa yang Anda lakukan ketika ide cerita tak kunjung muncul?

Terkadang, Saya merasa mungkin tidak seharusnya menulis cerita itu. Tetapi, setelah lama saya terus berupaya menemukan cerita tanpa henti, cepat atau lambat semuanya terjadi. Saya sudah belajar untuk meyakini kemampuan Saya, tetapi memang itu butuh waktu lama. Semula, Saya kira setiap buku seperti hadiah dari langit, namun sekarang tidak lagi — karena setelah 35 tahun menulis, Saya tahu bahwa jika Saya mencurahkan cukup waktu untuk mendalami sebuah topik, Saya dapat menulis hampir tetang apa pun. Hal ini memberi Saya kepercayaan diri sehingga Saya bisa dengan santai menikmati proses menulis.

Anda pernah mengaku punya bakat sebagai pendongeng alami. Menurut Anda, bakat atau latihan yang lebih penting dalam mengarang?

Saya pernah mengajar menulis kreatif di beberapa perguruan tinggi. Saya bisa mengajari mahasiswa tentang cara menulis cerita, tetapi tidak mungkin mengajari mereka cara mendongeng. Mendongeng itu seperti memiliki telinga untuk mendengarkan musik. Anda memilikinya, atau tidak. Jadi, semacam insting mengetahui apa yang harus dikatakan, apa yang sebaiknya disimpan lebih dulu, lalu bagaimana menciptakan ketegangan dan membangun karakter dalam tiga dimensi hingga cara memainkan bahasa—Saya pikir hal itu bakat sejak lahir.

Saya memiliki gen pendongeng yang tidak dimiliki semua orang. Namun, saya pernah kesulitan untuk menulis. Saya mampu mendongengkan cerita secara lisan, tetapi tidak bisa menulisnya. Sampai akhirnya Saya berlatih dan terus berusaha sehingga bisa menguasai keterampilan itu. Saya malah merasa menguasai keterampilan itu baru-baru ini saja.

Anda bekerja sebagai jurnalis, pembawa acara TV dan pengelola sekolah sebelum menjadi penulis di usia 39 tahun. Bagaimana prosesnya hingga Anda memutuskan menjadi penulis?

Saya tidak merasa telah membuat pilihan. Saya tidak pernah mengatakan, “Saya akan menjadi seorang penulis.” Itu terjadi begitu saja. Jadi, ketika saya tinggal di Venezuela sebagai pelarian politik setelah kudeta militer di Chili, Saya tidak dapat menemukan lowongan pekerjaan sebagai jurnalis. Lalu, Saya bekerja di sekolah, dan Saya merasa memiliki banyak cerita di dalam diri Saya, tetapi tidak ada jalan keluar bagi mereka. Dan kemudian pada 8 Januari 1981, Saya menerima kabar bahwa kakek Saya sedang sekarat di Chili, dan Saya tidak bisa kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Maka, Saya mulai menulis surat untuk memberi tahu kakek bahwa Saya ingat semua yang pernah dia ceritakan kepada Saya. Kakek adalah pendongeng yang hebat.

Sampai meninggal dunia, kakek tidak pernah menerima surat itu. Tetapi, Saya terus menulis di dapur setiap malam setelah bekerja, dan dalam setahun, Saya merampungkan 500 halaman, sesuatu yang jelas bukan surat. Tulisan itu kemudian menjadi novel “The House of  The Sprits.” Novel itu terbit dan sangat sukses, sehingga membuka jalan bagi buku-buku Saya yang lain. Namun, Saya tidak langsung melepas pekerjaan saya, karena saya sempat mengira menulis bukan karir yang tepat. Semua seperti keajaiban yang terjadi secara kebetulan.

Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan berkarier sebagai penulis?

Saya mendapat penghasilan lumayan. Buku-buku Saya diterjemahkan ke 35 bahasa dan laris seperti kacang goreng. Setelah itu, Saya mulai meyakini, jika terus menulis maka Saya dapat mencari nafkah untuk keluarga.

Pernahkah Anda benar-benar berusaha membuat buku-buku Anda, yang paling banyak mendapat pengakuan, menjadi karya yang sukses?

Ketika agensi Saya, Carmen Balcells—ibu baptis dari setiap buku Saya, yang Sayangnya meninggal belum lama ini—menerima naskah “The House of the Spirits” di Spanyol, dia menghubungi Saya yang sedang di Venezuela dan berkata, “Semua orang bisa menulis buku pertama yang bagus, karena mereka mencurahkan segala yang mereka miliki ke dalamnya—masa lalu, ingatan, harapan, segalanya. Kemampuan seorang penulis dibuktikan di buku kedua.”

Oleh karena itu, Saya mulai menulis buku kedua pada 8 Januari di tahun berikutnya, untuk membuktikan kepada Carmen Balcells, bahwa Saya bisa menjadi seorang penulis. Novel “The House of the Spirits” sukses di Eropa, dan pada saat Saya mengetahuinya, Saya sudah menyelesaikan buku yang kedua. Tentu saja, setiap buku membawa tantangan yang berbeda. Cara bercerita di dalamnya juga berlainan. Saya pernah menulis memoar, novel sejarah, fiksi, novel remaja, bahkan novel kriminal. Namun, Saya tidak pernah membandingkan, atau bilang, “Apakah ini lebih baik atau lebih buruk daripada ‘The House of the Spirits’?” Setiap buku adalah sebuah persembahan. Anda cukup meletakkannya di atas meja dan melihat siapa yang akan membacanya.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

 

Continue Reading

Interview

Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Menghisap Bahasa

mm

Published

on

Yogyakarta, saat itu mungkin tahun 2004 atau 2005, di kamar kos teman saya di daerah Papringan, menjelang petang teman saya datang, kemudian dengan antusiasme yang mencolok menyeru pada saya “Ada puisi, lucu ! coba baca!”

Dia menyodorkan saya koran Kompas, hanya beberapa lembar, halaman-halamannya sudah lusuh dan tidak utuh. Saya tidak tahu dia memungut di mana, yang pasti bukan beli karena harga koran itu mahal saat itu, dan juga hanya ia bawa separuhnya. Dan tentu saja itu koran edisi beberapa hari atau beberapa pekan yang lalu atau mungkin tahun lalu..

Saya malas, saat itu bahkan saya bukan pembaca rutin halaman Puisi harian kompas, saya tidak menyukai puisi. Teman saya memaksa, dengan mambacakan kutipan puisi “lucu” tadi dengan cergas seingat bait yang ada dalam benaknya; “Celananya pas, paksah celananya?”. Saya merespon biasa saja, “Maksudnya, Bung..” katanya lebih antusias, “Paskah—perayaan paskah ditakoni Yesus celananya pas tidak?”

Oh sialan! Dibuat lucu begitu bab agama! Saya lekas merasa tertarik karenanya. Saya pun duduk dan membaca sendiri puisi itu—puisi berjudul “Celana Ibu”.

Begitulah ingatan saya pada penyair Joko Pinurbo atau yang kini akrab dengan sapaan “Jokpin” mudah dibentangkan; puisinya lucu !

Lucu memang idiom konyol bagi sebagian orang, tapi banyak dari kita juga paham, hanya orang dengan kapasitas intelektual tertentu bisa menghasilkan hal lucu—terlebih dalam wahana yang memang bukan komedi seperti halnya puisi.

Jokpin dan puisi-puisinya memang tidak bisa disebut sebagai “puisi lucu” atau “penyair yang lucu”—jelas itu salah besar lebih-lebih jika dipahami secara literal saja. Puisi Jokpin bagaimana pun kaya dengan bobot yang bahkan memendam tragedi manusia yang sublim; sosoknya juga tak ada penampakan seorang yang lucu, garis pipinya kaku, matanya tajam, malah lebih terkesan seperti seorang perenung yang memikirkan terlalu banyak untuk diketetahui muasal atau realitas asalinya—seperti seorang filsuf. Hanya saja dia menuangkannnya dalam sajak dan puisi.

Subjektifitas yang demikian menuntun rasa ingin tahu saya, apa dan bagaimana laki-laki kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu sebagai penyair. Sesederhanakah hal itu seperti penampilannya sehari-hari? Saya ingin tahu bagaimana dia menghasilkan puisi, bagaimana dia menulis dan dengan dunia seperti apa dia menghimpun peluru untuk untuk ditembakkan ke dunia kita melalui puisi-puisinya itu.

Dalam proses kreatifnya berpuluh tahun hingga kini, Joko Pinurbo telah diganjar berbagai penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta. Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, juga Tokoh sastra versi majalah TEMPO. Dan yang terpenting adalah penghargaan dari pembaca berupa rasa hormat dan menjadi penyair penting zaman ini bagi begitu banyak pembaca dan penikmat sastra indonesia.

Saya tak terkecuali, sebagai penikmat puisi, saya memupuk rasa penasaran untuk bertanya pada sang penyair tentang dunianya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk keperluan penerbitan buku “Memikirkan Kata” ini, dan itu terbalas dengan antusiasme! Tentu hal itu suatu keberuntungan, mengingat bagaimana sibuknya ia sekarang, harus membagi waktu dengan keinginannya untuk terus tinggal dalam ruang batin kreatifnya tapi dunia kini meminta waktunya lebih banyak, untuk mengisi kelas menulis, diskusi, bedah buku, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya ajukan kepadanya.

Dan Berikut wawancara dengan penyair yang bagi saya, seperti seorang yang tak pernah lelah menghisap bahasa dari kebakaran yang melanda rumahnya.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Dan menulis Puisi?

Saya tertarik menulis sejak di bangku SMA. Awalnya karena suka membaca. Kebetulan koleksi perpustakaan sekolah/asrama saya mengagumkan. Banyak koleksi bacaan sastra yang bagus-bagus. yang membuat saya tergerak untuk belajar menulis. Di samping itu, tradisi penerbitan majalah di sekolah/asrama saya juga sangat hidup. Saya beruntung tumbuh di sekolah/asrama yang budaya baca dan budaya tulisnya berkembang subur.

Kapan pertama kali puisi-puisi anda dipublikasikan media?

Akhir tahun 1970-an. Tahun 1978 kalau tak salah. Saat di SMA puisi saya sudah dimuat di media (majalah) luar.

Bagaimana Anda menulis? Dengan pensil atau perangkat seperti laptop?

Pada mulanya dengan bolpoin, lalu dengan mesin ketik, lalu dengan komputer (PC), dan terakhir dengan laptop.

Apakah Integritas struktural dan nada sangat penting

dalam puisi-puisi Anda? Atau lebih bebas?

Tentu. Saya termasuk penulis yang sangat memperhatikan ketertiban dan keteraturan berbahasa. Koherensi dan logika, misalnya, sangat penting.

Meskipun banyak puisi saya yang cair dan “bebas”, saya tetap menjaga nada dan irama supaya kata-kata mengalir lancar dan enak.

Apakah anda membuat draft pertama dan banyak draft untuk satu buah puisi sampai Anda mengatakan “ya, ini final” dan mempublikasikannya?

Pada mulanya adalah draf, kemudian disunting puluhan kali sampai tersusun bentuk yang “final”. Bagian terberat dan menyita waktu adalah penyuntingan.

Apakah secara bombastis anda pernah atau bahkan seriang marah tentang titik koma yang digunakan secara buruk?

Sering. Saya sangat memperhatikan gramatika dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Titik koma pun tak luput dari perhatian saya karena bisa menentukan logika dan makna.

Dengan penyair siapa Anda pernah duduk santai dan berbicara  apa saja kemudian anda mengenang dari satu dua obrolan yang sangat penting meskipun tampak remeh?

Saya pernah duduk santai dan mengobrol dengan banyak penyair: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, dan banyak lainnya. Salah satu yang paling saya kenang adalah pembicaraan tentang akik dengan Acep. Kebetulan Acep penggemar dan kolektor akik. Dia mengumpamakan pekerjaan mengolah dan mengasah kata seperti menggosok batu akik sedemikian rupa sampai diperoleh sebutir akik yang halus, cemerlang dan memancarkan “aura”. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian.

Apakah mungkin untuk mengajar seseorang, atau belajar, bagaimana menulis dengan baik?

Sangat mungkin. Banyak hal teknis yang bisa dipelajari, dilatihkan,  dan “diajarkan”. Menulis toh bukan klenik atau ilmu gaib.

Ngomong-ngomong, pernah dengar afrizal mengatakan berhenti menulis puisi? Atau pertanyaanya apakah penyair bisa dan bijak pada titik tertentu memutuskan berhenti menulis puisi? Anda Punya rencana berhenti menulis puisi?

Saya pernah dengar itu. Kenyataannya, sampai saat ini Afrizal masih menulis dan masih terus bereksplorasi. Memang ada kalanya seorang penulis merasa jenuh dan bingung harus menulis apa dan bagaimana lagi. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Tak ada cara lain selain bahwa seorang penulis harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Biasanya, setelah membaca karya orang lain, motivasi itu akan hidup kembali.

Bisakah Anda menggambarkan hari rutin Anda? Bagaimana Anda menghabiskan hari?

Tak ada yang istimewa dengan hari-hari saya. Saya menjalani hidup seperti manusia (dan warga negara) pada umumnya. Yang pasti, setiap hari saya pasti bergaul dengan kata-kata—antara lain untuk menjaga hubungan batin dengan kata-kata.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya orang yang “gampangan”. Saya tidak punya kiat dan ritual khusus untuk itu. Cukup dengan kopi/teh dan rokok.

Apa saran menulis terbaik yang pernah anda terima? Dari siapa dan bagaimana ceritanya?

Saran terbaik saya terima dari Aristoteles: “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.” Saya mengalami sendiri bagaimana bersabar, berjuang, dan berjerih payah untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Setiap kali menulis saya memperlakukan diri saya sedang belajar dan berlatih menulis.

Buku-buku yang paling anda gemari dan dalam benak anda sangat penting karena memberi pondasi bagi karya-karya Anda?

Injil, karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Anthony de Mello, Carlos Maria Dominguez.

Yang terakhir, 1 judul puisi milik anda yang paling berkesan bagi anda pribadi?

Ha-ha-ha…. Sulit. Enggak nemu.

Continue Reading

Interview

Gabriel Garcia Márquez: Sastra dan Jurnalisme Kita

mm

Published

on

Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Geram dengan apa yang dia lihat melanda jurnalisme di Amerika Latin, Gabriel Garcia Márquez, peraih Hadiah Nobel lewat novel One Hundred Years of Solitude, yang juga mantan reporter koran, pada Maret 1995 memulai gerakan “sekolah tanpa dinding”–Fondasi Jurnalisme Ibero-Amerika Baru. Tujuannya, menyegarkan kembali jurnalisme di kawasan itu lewat workshop keliling. Dia yakin bahwa yang selama ini diajarkan dan dipraktikkan perlu diperbaiki; dan dia mengeluhkan para jurnalis yang lebih tertarik untuk memburu breaking news–dengan kebanggaan dan privilese yang diberikan oleh selembar kartu pers—daripada mengasah kreativitas dan etika. Mereka membanggakan diri bisa membaca keseluruhan isi sebuah dokumen rahasia, tapi tulisan mereka penuh dengan kesalahan tata bahasa serta ejaan, dan tidak punya kedalaman. “Mereka abai terhadap pijakan bahwa artikel terbaik bukanlah yang paling dahulu memberitakan sebuah kejadian, tapi yang penyajiannya paling baik,” dia menuliskan kata-kata inagurasinya.

Garcia Márquez mengkritisi cara berbagai universitas dan penerbit media di Amerika Latin memperlakukan profesi ini–yang dia sebut sebagai pekerjaan paling baik di dunia. Tak sepakat dengan sikap kalangan kampus bahwa jurnalis bukanlah seniman, Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Dengan dukungan dari UNESCO, yayasan Garcia Márquez–yang berbasis di Barrangquilla, Kolombia—selama kurang dari dua tahun mengorganisasikan dua puluh delapan workshop yang dihadiri tiga ratus dua puluh jurnalis. Tema lokakarya-lokakarya itu: pengajaran tentang teknik-teknik naratif reportase di media cetak, radio, dan televisi hingga berbagai diskusi tentang etika, kebebasan pers, peliputan di tempat berbahaya, dan tantangan-tantangan teknologi baru yang menghadang profesi ini. Pelatihan dalam workshop diberikan para profesional yang cakap dan ditujukan untuk jurnalis dari angkatan yang lebih muda, lebih disukai yang di bawah 30 tahun, dengan pengalaman lapangan setidaknya tiga tahun. Kendati berbasis di Kolombia, workshop itu juga dilaksanakan di Ekuador, Venezuela, Meksiko, dan Spanyol. Bagian utama dari kurikulum yang dimiliki yayasan ini adalah workshop tiga hari yang dipimpin langsung oleh Gabriel Garcia Márquez tentang reportase.

Sebagai jurnalis yang menulis tentang Amerika Latin dalam bahasa Inggris, aku mendaftar dan diterima untuk mengikuti workshop-nya yang kelima. Saking girangnya bakal bertemu dengannya, aku –yang biasanya tukang telat dalam segala hal—menjadi peserta yang datang paling awal di Pusat Kebudayaan Spanyol di Cartagena, Kolombia, sebuah bangunan berlantai dua yang direnovasi dengan indah, dihiasi tanaman begonia merah dan air mancur di selasarnya, yang dimiliki oleh pemerintah Spanyol. Latar ini sudah sangat pas. Cartagena adalah rumah bagi Garcia Márquez, dan banyak tokoh-tokoh dalam karya fiksinya berseliweran di jalanan beton kerikil di seputaran area kolonial kota ini. Di situlah, beberapa blok dari Pusat Kebudayaan Spanyol, di alun-alun Katedral, Florentina Ariza mengamati cara berjalan Fermina Daza, si remaja sekolah menengah itu, yang tak lagi seperti sebelumnya. Sierva Maria los Todos, bocah sebelas tahun yang rambutnya terus tumbuh setelah meninggal, tinggal di Biara Santa Clara yang letaknya tak jauh dari situ. Berhampiran dengan tembok-tembok yang melindungi Cartagena dari para bajak laut Inggris, rumah Garcia Márquez terletak sangat dekat dengan biara itu –yang sekarang berubah menjadi hotel bintang lima di mana para tamunya bisa leluasa memandangi rumah sang penulis. “Bikin malu saja,” kata seorang tamu hotel kepadaku. “Saya bisa melihat dia sarapan setiap pagi. Akhirnya saya tutup saja tirainya.”

Senin, 8 April 1996, pukul 09.00 malam

Aku adalah satu di antara dua belas jurnalis yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval. Kami sangat hening, laksana sekumpulan murid sekolah Jesuit yang menunggu pelajaran dimulai. Gabriel Garcia Márquez membuka pintu dan masuk, memandangi kami dengan tatapan usil, seolah tahu betapa gugupnya kami. Garcia Márquez –banyak dipanggil dengan Gabo—berpakaian serba putih. Di pantai Karibia Kolombia, para pria memang sering mengenakan pakaian serba putih, bahkan sampai sepatu-sepatu mereka. Dia mengucapkan selamat pagi, dan seketika kami berdiri, membungkuk, dan secara bersamaan mengucapkan: “Buenos dias, profesor.”

*

Itu adalah prolog dari naskah panjang Silviana Paternoso yang ditulis pada Musim Dingin 1996 untuk kerja-kerja sastra dan jurnalisme Marquez. Artikel lengkapnya hampir 20 halaman sedang dikerjakan oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta untuk terbir bersama artikel lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan tahun ini.

Dan tahukah Anda..

Para presiden, menteri, politisi, penerbit koran, dan pemimpin gerilya berkonsultasi dengannya, berkirim surat kepadanya, mengajaknya bertemu. Apa pun yang dia katakan, tentang subjek apa saja, selalu menjadi headline. Tahun lalu, sekelompok gerilyawan di Kolombia menculik saudara kandung seorang mantan presiden. Tuntutan mereka adalah agar Garcia Márquez mau menjadi presiden. Dalam surat tuntutannya, mereka menulis: “Nobel, selamatkan tanah airmu.”Buat kami orang Kolombia, menyebut Garcia Márquez dengan nama panggilan Gabo berarti membuat sukses yang dia raih lebih dekat kepada kami, dan–layaknya sebuah keluarga yang bangga—menjadikan kehebatan dia sebagai milik kami. Di sebuah wilayah yang carut-marut oleh aksi kekerasan, kemiskinan, penyelundupan narkoba, dan korupsi, dia adalah putra kebanggaan yang bisa dipamer-pamerkan–bahkan oleh mereka yang tak menyetujui kedekatannya dengan Fidel Castro.

Di Barranquilla, kampung halaman kami, kota tempat dia bekerja sebagai reporter pada 1950 dan bertemu dengan bakal istrinya, Mercedes, su mujer de siempre, namanya benar-benar melekat. Dia bukan saja dipanggil Gabo melainakan Gabito–panggilan akrab oleh para orangtua, kekasih, atau sahabat kepada kesayangan mereka.

Namanya disebut oleh para peserta berbagai kontes kecantikan sesering nama Paus. Jawaban para kontestan pun repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Márquez. Siapa yang paling Anda kagumi? Ayah, Paus, dan Garcia Márquez. Siapa sosok yang Anda ingin temui? Garcia Márquez dan Paus. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para jurnalis Amerika Latin, jawabannya bisa jadi sama–mungkin tanpa ada Paus-nya. Buat kami, para jurnalis Amerika Latin yang berada di tahap awal karier kami, dia adalah tokoh panutan. Kami suka berucap bahwa dia sebelum menjadi novelis adalah seorang jurnalis. Dia sendiri bilang, dia tak pernah berhenti menjadi wartawan.

*

Sementara itu menjadi pendongeng, Gabo katakan, adalah bawaan dari lahir, bukan dibentuk. “Seperti penyanyi, menjadi pencerita itu sesuatu yang diberikan oleh alam kepadamu. Tak bisa dipelajari. Soal teknik iya memang bisa dipelajari, tapi bisa menyampaikan sebuah cerita itu berhubungan dengan sesuatu yang Anda bawa dari lahir. Mudah untuk membedakan antara pencerita yang baik dan buruk: mintalah mereka bercerita tentang film terakhir yang mereka lihat.”

Lalu dia memberikan penekanan, “Yang paling sulit adalah menyadari bahwa diri Anda bukan pencerita yang baik lalu punya keberanian untuk melupakannya dan mengerjakan sesuatu yang lain.” Cesar Romero belakangan bilang kepadaku bahwa dari semua statemen Gabo, inilah yang paling menohok buatnya.

Dia memberikan contoh, Beberapa saat setelah dia menerima Hadiah Nobel, seorang jurnalis muda di Madrid menghampirinya ketika dia hendak keluar dari hotel, untuk meminta wawancara. Gabo, yang tak suka diwawancara, pun menolaknya, tapi mengundangnya untuk ikut dengan dia serta istrinya selama seharian. “Dia menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kami berbelanja, istri saya menawar-nawar barang, kami makan siang, kami berjalan, kami bebincang-bincang; dia bersama kami di mana-mana.” Ketika mereka kembali ke hotel dan Gabo hendak mengatakan sampai jumpa, dia memintanya untuk wawancara. “Saya bilang kepadanya, dia mesti pindah pekerjaan,” kata Gabo. “Dia kan sudah punya bahan tulisan lengkap, dia sudah mereportase.”

Dia melanjutkan dengan bicara tentang perbedaan antara wawancara dan reportase–kesalahan pengertian yang senantiasa dilakukan para jurnalis.  “Wawancara dalam jurnalisme cetak selalu berupa dialog antara si jurnalis dan seseorang yang mengungkapkan sesuatu atau berpendapat tentang sebuah kejadian. Reportase adalah rekonstruksi sebuah kejadian yang dilakukan dengan sangat cermat dan jujur.

*
Kami rasa begitu kaya dan begitu banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan tentu saja kami merasa buku “Memikirkan Kata” benar-benar layak anda nantikan dan miliki ! 🙂

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending