Connect with us

Interview

Karlina Supelli : Di Batas Cakrawala

mm

Published

on

Karlina Supelli

“Teori-teori kosmologi membawa kita ke batas, ke suatu tepi cakrawala. Di batas paling jauh dari yang kita bisa raih, di tempat hal-hal tidak bisa diselesaikan lagi dengan berpikir, di situlah ada tahap iman.” Karlina Supelli

Tak banyak orang berkesempatan menjalani hidup seperti Karlina Supelli (55). Ia harus meninggalkan seluruh cita-citanya ketika keberhasilan tinggal selangkah. Di tengah kesendirian ia kehilangan kakak yang amat dicintainya. Belum selesai masa berkabung, enam bulan kemudian Karlina didiagnosis dokter terkena kanker. Dari suatu kematian yang riil, ia menghadapi risiko lain yang berujung sama.

Penderitaan bertubi-tubi itu tak membuat Karlina luruh. Bekal ilmiahnya membantu untuk bangkit. ”Nalar berpikir menuntun saya memilah mana yang harus diselesaikan secara teknis, mana yang perlu dipikirkan mendalam, dan mana yang memerlukan rasa perasaan,” kata Karlina.

Namun, ketika nalar berpikir tak mampu lagi menjangkau, hanya iman yang bisa menuntun. Iman pula yang membuatnya berserah. Seperti pasienpasien kanker lainnya, kemoterapi merontokkan fungsi pertahanan tubuhnya. Ia tidak boleh bertemu banyak orang karena kondisinya amat rentan. Rambutnya yang tebal mengurai berguguran. Ia sangat lemah. Hanya otaknya yang bergerak bebas, berkelana ke ranah-ranah yang jauh. Dalam kesakitan yang panjang ia bangkit menyelesaikan pikiran utama dalam buku Dari Kosmologi ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme (Desember 2011).

”Belajar kosmologi membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa hidup terlalu berharga untuk tidak diperjuangkan,” kata Karlina.

Menjalani hidup

Sosok Karlina yang kami temui suatu siang, pekan lalu, penuh daya hidup. Wajahnya bersinar dan terlihat segar berbalut batik lereng biru dengan sepatu terbuka bertali merah-hitam. ”Sepatu saya sudah ketularan para romo di sini, ha-ha-ha,” ujarnya.

Rambut yang sudah kembali tumbuh dipotong pendek yang mengingatkan sosoknya ketika usia 40 tahun.

Di kamar kerjanya, di gedung Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, buku-bukunya memenuhi rak dinding sampai ke langit-langit. Ruang berukuran 3 x 3,3 meter persegi itu memang hanya berisi seperangkat meja kerja dan tempat tidur lipat kecil, tempat ia mengistirahatkan badan jika jalan pulang tertutup banjir. Sudut ruangan berhias beberapa foto Alexander Supelli, kakak tercintanya, yang meninggal tiga hari setelah pesawat Super Decathlon buatan PT Dirgantara Indonesia yang dipilotinya jatuh terbakar pada Bandung Air Show, 24 September 2010. Selebihnya adalah buku, buku, dan buku, termasuk yang bertumpuk menutup lantai.

Ketika jam makan siang, Karlina mengajak turun dari kantornya di lantai empat, berjalan melintasi lapangan basket menuju ruang makan. Menu para dosen siang itu adalah sayur asem, tongkol goreng, dan ikan asin. ”Wah, sebagai orang Sunda menu ini enggak boleh dilewatkan. Enggak apa-apa, deh, sekali-sekali makan ikan asin,” katanya sambil bolak-balik mencomot ikan asin.

Ditemani Kepala Pascasarjana STF Driyarkara J Sudarminta, Karlina makan dengan lahap. Inilah keseharian yang ia jalani selama 13 tahun terakhir. ”Sebenarnya masih ada beberapa kegiatan lain seperti menjadi dewan penasihat Suara Ibu Peduli dan anggota komisi pendidikan beberapa sekolah. Namun, kegiatan utama saya adalah mengajar dan penelitian,” katanya.

Tahun 1998, ketika mahasiswa dan kelompok lain belum bergerak, di Bundaran Hotel Indonesia, para ibu yang bergabung dalam Suara Ibu Peduli memprotes harga susu yang meroket akibat krisis moneter. Karlina bersama Gadis Arivia dan Wilarsih diinterograsi pihak keamanan selama 23 jam. Namun, langkah Suara Ibu Peduli telah mengawali gelombang reformasi yang berpuncak pada jatuhnya Presiden Soeharto.

”Saya terus digugat pertanyaan apakah akan terus enak-enakan berpikir tentang teori, menikmati kosmologi yang sunyi, sementara kesulitan hidup meruyak di sekitar saya,” ujarnya. Ia memutuskan memindahkan risetnya dari langit menjadi karya nyata untuk manusia.

Perjalanan hidupnya mengalami perubahan dramatis pada masa reformasi. Ia bergabung dalam suatu jaringan yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupannya ketika kuliah filsafat di Universitas Indonesia, melalui Jurnal Perempuan. Ia memasuki dunia aktivisme yang penuh dinamika.

Namun, setelah reformasi usai, ia kembali ke dunia sunyi. ”Pada dasarnya memang saya tidak terlalu suka keramaian. Dunia saya adalah dunia penelitian. Saya masih membantu temanteman aktivis, tetapi dari sisi penguatan konseptualnya.”

Pergulatan kini

Karlina—lahir di Jakarta, 15 Januari 1958—lulus dengan predikat cum laude sebagai sarjana bidang astronomi di Institut Teknologi Bandung. Sempat ke Inggris untuk mewujudkan cita-citanya menjadi ilmuwan kosmologi, jalan hidupnya berubah total ketika harus kembali ke Indonesia sebelum waktunya. Ia sempat merasa buntu, tetapi kemudian sadar bahwa dalam hidup tidak semua pintu tertutup dan tidak semua jendela terbuka. ”Selalu ada jalan, asal mau melangkah,” kata Karlina.

Suatu kebetulan yang tidak kebetulan terjadi ketika Karlina menggantikan temannya duduk di kelas filsafat di UI dan mendengarkan Toeti Heraty, budayawan dan guru besar filsafat, mengajar. Ia seperti menemukan apa yang sedang dicarinya. Babak baru kehidupan intelektualnya dimulai dengan mendaftar dan akhirnya berhasil menyelesaikan program doktor filsafat dengan disertasi ”Wajah-Wajah Alam Semesta, Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif”. Itulah dunianya sejak 1994 setelah 15 tahun sebelumnya mendalami bidang kosmologi dan riset.

Di tengah kesibukannya mengajar, mata dan hatinya terus terjaga. Ia mengamati dengan penuh keprihatinan kondisi cuaca kultural yang semakin dangkal, antara lain terlihat dari budaya komentar di media elektronik, media sosial, yang serba pendek. Orang bangga jika akun Twitter-nya punya banyak pengikut (follower) atau akun Facebooknya punya banyak teman. Dan lewat komentar singkat orang merasa sudah bekerja.

Akibatnya, sikap pragmatis jangka pendek menjadi panglima. Hasil akhir menegasikan proses. Jadilah negara pasar, tempat semua produk dijual dan masyarakat yang tergoda, selalu ingin membeli yang terbaru. Ini saling kait dan berkelindan dengan kehidupan politik, sosial, bahkan spiritual, sehingga pendidikan hanya menghasilkan generasi serba konsumtif dan menggampangkan.

”Tugas perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan yang mau berpikir. Di situ tempat dan tugas saya sekarang,” katanya.

Ia kembali menapaki jalan sunyi. Mengutip Robert Frost, the road less traveled…. (Kompas, Maria Hartiningsih dan Agnes Aristiarini)

Continue Reading
Advertisement

Interview

Haruki Murakami: Menulis Tentang Ayah Dan Perang Sebagai Suatu Kewajiban

mm

Published

on

Wawancara oleh Koichi Ooi dan Hideyuki Tanabe | Penerjemah Wahyu Widya

Dalam wawancara tunggalnya dengan kami, Haruki Murakami bercerita tentang kumpulan esainya yang terbit bulan April, Neko wo Suteru (Mencampakkan Kucing), dan kumpulan cerpen terbarunya yang akan terbit pada 18 Juli, Ichininsho Tansuu (Sudut Pandang Orang Pertama, Tunggal). Kami menerbitkannya dalam paruh kedua. Neko wo Suteru yang mulai terbit di majalah pada tahun 2019 tersebut menarik perhatian publik karena Haruki Murakami berkisah tentang hal pribadi yang belum pernah ia tulis: riwayat ayahnya sebagai prajurit perang.

Pada paruh pertama, ia telah bercerita mengenai pekerjaannya sebagai DJ di sebuah program radio, juga mengenai peran sastra dan musik dalam masa pandemi COVID-19. Baca selengkapnya dalam artikel “Haruki Murakami: Saya lebih akrab dengan esai ketimbang Novel, lagi pula saya DJ dan Bekerja di Radio [eksklusif interview]”

INTERVIEWER

Esai Anda cukup mengejutkan. Apakah Anda memang berharap besar pada usia Anda yang 70 tahun untuk menuliskannya?

HARUKI MURAKAMI

Saya pikir saya harus menulisnya sekarang. Sejujurnya saya tidak begitu tertarik menulis tentang hal-hal di lingkaran saya, tapi itu harus saya tuliskan, jadi saya melakukannya dengan sekuat tenaga. Itu adalah salah satu tanggung jawab saya sebagai seorang penulis.

INTERVIEWER

Apakah karena hal tersebut berkaitan dengan dipanggilnya ayah Anda ke medan perang untuk ketiga kalinya, terutama saat invasi Jepang ke China?

HARUKI MURAKAMI

Banyak orang yang ingin menganggap peristiwa tersebut tidak pernah terjadi, tapi itu benar-benar terjadi sehingga saya harus menuliskannya dengan akurat. Sebab gawat sekali kalau sampai ada pengubahan sejarah. Ketika ayah masih hidup, saya berpikir bahwa kurang tepat kalau saya menuliskannya, jadi saya menulisnya beberapa waktu berselang setelah ayah saya meninggal dunia pada tahun 2008.

INTERVIEWER

Anda beranggapan bahwa ayah Anda kemungkinan ikut dalam pembantaian massal ketika Pertempuran Nanking. Namun Anda menulis bahwa keinginan untuk mencari dokumentasi terkait hal tersebut tidak kunjung datang. Pada akhirnya Anda mengetahui bahwa ayah Anda tidak ikut dalam Pertempuran Nanking.

HARUKI MURAKAMI

Benar, hal itu pernah terjadi. Kemudian saya memutuskan bahwa saya harus segera menulis. Setelah saya coba mencari, ternyata pasukan ayah saya pergi ke arah Wuhan dan bertempur di sana. Sekarang, tiap kali melihat berita tentang Wuhan terkait COVID-19, saya jadi teringat hal tersebut.

Haruki Murakami, Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan. Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. 

INTERVIEWER

Dalam karya-karya awal, Anda menulis tentang China dalam berbagai bentuk, dan memotretnya sebagai suatu masalah besar.

HARUKI MURAKAMI

Ya, tidak salah lagi. Itu jadi semacam salah satu tema, atau ciri khas tulisan saya.

INTERVIEWER

Bagaimana pengaruh dalam diri Anda ketika mendengar langsung kisah tentang pasukan ayah Anda yang mengeksekusi tawanan prajurit China?

HARUKI MURAKAMI

Itu cukup membuat saya syok ketika kanak-kanak, dan membekas di ingatan saya.

INTERVIEWER

Terkait cerita Anda tentang membekunya hubungan dengan ayah Anda, pembaca pasti juga terkejut.

HARUKI MURAKAMI

Cukup sulit bagi saya untuk menyusun tulisan itu. Menulis fakta-fakta tentang diri saya sendiri adalah hal yang sangat sulit. Saya perlu waktu yang cukup lama untuk menulis, padahal sudah saya tentukan sendiri bagaimana penuangannya.

INTERVIEWER

Anda akhirnya bisa menuliskannya karena Anda punya kisah-kisah menarik mengenai kucing.

HARUKI MURAKAMI

Mengumpulkan berbagai kisah menarik, menyusunnya dengan memperhatikan keseimbangan secara keseluruhan, lalu menjadikannya sebuah buku yang bisa dinikmati khalayak bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun secara teknis mungkin hal itu bisa dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, ketika ada hal yang bisa ditulis dan tidak bisa ditulis, saya memilih untuk menghindari apa yang tidak bisa saya tulis. Lalu ketika saya perlahan-lahan bisa menulis seiring dengan makin bertambahnya karya, semuanya terasa lebih mudah.   Apapun, yang dulu tidak bisa, jadi bisa saya tulis. Di buku pertama saya, Dengarlah Nyanyian Angin, banyak sekali hal yang tidak bisa saya tulis; saya hanya menggabungkan poin-poin yang bisa saya tulis, dan jadilah buku yang seperti itu (tertawa).

INTERVIEWER

Dengarlah Nyanyian Angin saat itu mendapat dukungan penuh dari generasi muda, karena hal-hal pop bisa masuk secara alami ke karya sastra.

HARUKI MURAKAMI

Padahal saya menulisnya karena memang hanya itu yang bisa saya tulis. Tapi sebagai penulis saya tidak bisa begitu terus. Makanya saya terus berlatih agar bisa menulis dengan lebih bebas, dan belakangan saya merasa mampu menuangkan ke dalam tulisan sesuai pikiran saya.

INTERVIEWER

Kapan kira-kira Anda mulai merasa mampu? Karya Anda, 1Q84, sudah terasa lepas.

HARUKI MURAKAMI

Ya, rasanya sekitar masa-masa itu saya sudah merasa bisa menulis dengan cukup enteng.

INTERVIEWER

Adegan dalam 1Q84 ketika Tengo, tokoh dalam novel tersebut, berbaikan dengan ayahnya, mengingatkan saya pada kisah tentang masa-masa terakhir ayah Anda dalam Neko wo Suteru.Kumpulan cerpen Anda, Tony Takitani, juga menggambarkan hubungan ayah-anak, dan tak lepas dari China.

HARUKI MURAKAMI

Benar juga. Namun, apa yang ingin atau harus ditulis oleh seseorang itu jumlahnya terbatas. Ia bukannya tak terbatas. Tak ada cara lain selain terus menuliskannya dari sudut pandang dan menggunakan teknik menulis yang berbeda-beda.

Sekali Lagi, Kembali ke Titik Awal dan Mencoba Hal Baru

Buku ini menceritakan tentang dua tokoh yang terpisah, yakni Tengo dan Aomame. Kedua tokoh ini diceritakan secara terpisah, berselang-seling, Aomame-Tengo-Aomame-Tengo sampai buku ini berakhir. 
 
Tengo adalah guru private matematika di sebuah bimbingan belajar, berbadan besar seperti beruang, dan menjalani kehidupan sebagai ghost writer di sebuah majalah. Sedangan Aomome adalah instruktur seni bela diri yang juga menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran.
 
Tengo dihadapkan pada konflik persekutuan konspirasi curang antara ia, editor majalah sastra dengan seorang penulis muda misterius, untuk memenangkan sebuah penghargaan sastra. Sedangkan Aomame sendiri dihadapkan dengan konflik batin dalam dirinya sendiri dalam menghadapi perubahan dunia yang ia tinggali. Setelah melewati jalan darurat bawah tanah, ia merasa tersesat. 

INTERVIEWER

Sebentar lagi Ichininshou Tansuu akan terbit, setelah penerbitan kumpulan cerpen terakhir enam tahun lalu. Dari delapan cerpen Anda yang masuk dalam kumpulan cerpen ini, tujuh di antaranya adalah cerpen yang sudah pernah diterbitkan selama tiga tahun sejak 2018, dan satu cerpen adalah karya baru. Apakah Anda memerlukan waktu sedemikian panjang untuk menulis?

HARUKI MURAKAMI

Saya tidak menentukan tenggat waktu atau apapun. Tiga buku pertama saya tulis setelah semua bahan sudah terkumpul.

INTERVIEWER

Anda menulis, lalu naskahnya diterbitkan?

HARUKI MURAKAMI

Betul.

INTERVIEWER

Apakah judul Ichininshou Tansuu muncul dari keinginan Anda untuk menulis kembali cerpen dengan sudut pandang orang pertama?

HARUKI MURAKAMI

Saya merasa ingin sekali lagi menulis dengan serius menggunakan sudut pandang orang pertama. Delapan cerpen tersebut memiliki sudut pandang orang pertama yang berbeda-beda. Orang-orang yang berbeda berkisah dengan sudut pandang orang pertama masing-masing, tapi ada satu kesamaan; dan itulah yang cukup menimbulkan kompleksitas saat menulisnya.

INTERVIEWER

Tiap cerita dikupas secara mendalam, sekilas hal itu membuat saya merasa Anda sedang mengisahkan diri sendiri….

HARUKI MURAKAMI

Bukan juga. Kita tahu ada banyak pengandaian, nah, itu seperti ‘diri saya versi pengandaian’. Mungkin lebih pas melihatnya sebagai kaca mata dari sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama; bukan orangnya, tetapi apa yang ia lakukan.

INTERVIEWER

Pada kumpulan cerpen Anda yang terbit tahun 1985, Kaiten Mokuba no Dead Heat (Dead Heat of Spinning Wooden Horse), di bagian awal Anda tulis bahwa semua kisah diperdengarkan secara langsung kepada si pencerita, tapi Anda menulisnya seolah-olah semuanya rekaan.

HARUKI MURAKAMI

Iya, memang saya rancang seperti itu.

INTERVIEWER

Nah, kali ini, meskipun saya sudah mencoba meyakinkan bahwa semuanya adalah cerita nyata Anda sendiri, tapi saya juga terus menerka-nerka apakah ini adalah rekaan. Jangan-jangan,  selain sudut pandang orang pertama, musik juga berperan penting di kumpulan cerpen ini.

HARUKI MURAKAMI

Musik? Benar juga. Ada cerpen yang di dalamnya muncul Charlie Parker, Robert Schumann, The Beatles, puisi pendek Jepang, lalu kumpulan puisi juga. Di tiap cerita ada semacam satu bahasan itu.

INTERVIEWER

Saya mendengarkan lagu yang muncul dalam buku Anda, Charlie Parker Plays Bossa Nova, dan rasanya lagu-lagunya berbeda…

HARUKI MURAKAMI

Kalau cerpen itu, saya menulisnya dengan sangat menikmati. Rasanya saya menulis begitu saja secara alami, bukan menulis karena harus menulis. Jadi kalau saya pribadi, saya tidak akan menulis kalau sedang tidak ingin menulis. Ketika sedang tidak ingin menulis novel, saya menerjemahkan. Karena saya menulis ketika sedang ingin, maka saya melakukannya dengan lancar. Meskipun tetap saja melelahkan kalau ada tenggat waktunya. Nah, kalau rasa ingin menulis itu tidak kunjung datang, ya saya biarkan saja, karena setelah beberapa waktu pasti saya jadi ingin kembali menulis (tertawa). Saya bersyukur atas hal itu.

INTERVIEWER

Dan Anda bisa tiba-tiba ingin menulis naskah panjang ketika tengah menulis cerpen.

HARUKI MURAKAMI

Benar sekali.

INTERVIEWER

Lalu setelah itu Anda jadi ingin menulis naskah yang lebih panjang. Sepertinya begitu siklusnya.

HARUKI MURAKAMI

Ya, kalau tidak juga muncul keinginan menulis, saya berpikir untuk kembali membuka bar saja, tetapi itu lebih sulit (tertawa). Saya hanya berusaha menghindari memaksakan diri untuk menulis ketika sedang tidak ingin melakukannya.

INTERVIEWER

Novel Killing Commendatore juga Anda tulis dengan sudut pandang orang pertama, apakah usia Anda menjadi titik balik untuk kembali memakai sudut pandang orang pertama?

HARUKI MURAKAMI

Ada perasaan ingin kembali ke titik awal sekali lagi, kemudian melakukan hal-hal yang sama sekali baru dan berbeda. Novel awal saya dahulu menggunakan sudut orang pertama, lalu saya berganti memakai sudut pandang orang ketiga; nah, saya ingin kembali ke sudut pandang orang pertama, dan mencoba apa yang dahulu tidak bisa saya tulis dengan sudut pandang orang pertama. Ya, meskipun saya sendiri juga tidak tahu bagaimana ke depannya. Saya hanya ingin mencoba kemampuan saya sekarang untuk bisa menuliskan apa yang dahulu tidak bisa saya tulis dengan sudut pandang orang pertama.

INTERVIEWER

Apakah karya Anda selanjutnya cenderung pada novel yang tidak terlalu panjang?

HARUKI MURAKAMI

Ya, saya ingin menulisnya lagi. Mungkin akan saya pikirkan setelah ini, dan barangkali saya akan menulis sesuatu.

INTERVIEWER

Apakah Anda berharap Murakami RADIO bisa bertahan lama seperti karier penerjemahan Anda, meskipun Anda tengah mengerjakan suatu novel?

HARUKI MURAKAMI

Sebisa mungkin saya berharap program radio saya bisa terus berlanjut. Sangat menyenangkan bisa berkomunikasi dengan banyak orang, dan di sana saya ingin mencoba banyak hal yang mungkin bisa saya lakukan.

INTERVIEWER

Jadi tiga hal berjalan beriringan? Penerjemahan, penyiaran radio, dan penulisan novel?

HARUKI MURAKAMI

Tetapi saya tidak sesibuk itu (tertawa). Saya rasa saya masih bisa melakukannya.

INTERVIEWER

Anda telah mendengar musik selama 60 tahun lebih, sejak akhir tahun ’50-an. Menurut Anda, apa yang berubah, dan apa yang tidak berubah?

HARUKI MURAKAMI

Entahlah, saat masih muda dulu saya cukup sering juga mendengar lagu-lagu yang biasa saja. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya juga heran mengapa dulu saya mendengarkan lagu seperti itu (tertawa). Tetapi penting juga mendengar lagu yang membosankan atau yang biasa saja. Sebab kalau tidak begitu, kita tidak akan tahu lagu bagaimana yang benar-benar bagus. Sama seperti musik, novel pun begitu. Kalau sekarang saya mendengarkan lagu-lagu yang biasa, saya akan luar biasa bosan. Tapi anak-anak muda mendengarkannya dengan penuh semangat, dan bagi saya itu tidak masalah. Jadi saya tidak ingin terlalu menyudutkan. Saya juga dahulu begitu, ketika masih muda saya pelan-pelan mendengarkan beragam musik. Meskipun memang akhir-akhir ini saya tidak bisa menoleransi bacaan atau musik yang buruk. Namun saya tetap berusaha terus membuka hati pada adanya keberagaman. (*)

*) Artikel diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Wahyu Widya. Beberapa terjemahannya diunggah di blog pribadinya di wahyudhea.blogspot.com, pernah juga sekali dimuat di web Birokreasi (yang kini sudah mati). Dapat dihubungi via surel di alamat wehaye19@gmail.com. |  Diterjemahkan dari artikel yang dimuat pada tanggal 10 Juli 2020 di Mainichi Shimbun.

Continue Reading

Interview

Haruki Murakami: Saya lebih akrab dengan esai ketimbang Novel, lagi pula saya DJ dan Bekerja di Radio [eksklusif interview]

mm

Published

on

By  Koichi Ooi dan Hideyuki Tanabe | Penerjemah : Wahyu Widya *)

Pengalaman Sebagai DJ | Penulis Haruki Murakami menerima saya untuk mewawancarainya pada awal Juli di Tokyo. Hasil wawancaranya akan kami terbitkan dalam dua bagian. Pada paruh pertama, ia berkisah banyak hal, mulai dari perasaannya sebagai disc jockey (DJ) pada suatu program radio, hingga peran sastra dan musik dalam masa pandemi COVID-19. Adapun kisahnya mengenai karya-karya terbarunya akan kami terbitkan pada paruh kedua.

INTERVIEWER

Sejak dua tahun lalu, Anda menjadi DJ untuk program radio bertajuk Murakami RADIO di TOKYO FM (disiarkan melalui 38 jaringan stasiun radio di seluruh Jepang). Terima kasih telah dipersilakan menengok suasana rekaman siaran radio yang akan disiarkan pada bulan Agustus, di studio berukuran sekitar 50 meter persegi ini. Atmosfernya tenang, ya, tak jarang tarikan nafas saya dan staf program menjadi seirama.

HARUKI MURAKAMI

Betul. Para staf sangat kompak, saya juga jadi nyaman bekerja. Sebelumnya, saya dua kali rekaman sendiri di rumah selama periode instruksi dari pemerintah untuk berdiam di rumah, dan kali ini akhirnya bisa kembali seperti dulu.


Buku ini mnceritakan tentang dua tokoh yang terpisah, yakni Tengo dan Aomame. Kedua tokoh ini diceritakan secara terpisah, berselang-seling, Aomame-Tengo-Aomame-Tengo sampai buku ini berakhir. 
 
Tengo adalah guru private matematika di sebuah bimbingan belajar, berbadan besar seperti beruang, dan menjalani kehidupan sebagai ghost writer di sebuah majalah. Sedangan Aomome adalah instruktur seni bela diri yang juga menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran.
 
Tengo dihadapkan pada konflik persekutuan konspirasi curang antara ia, editor majalah sastra dengan seorang penulis muda misterius, untuk memenangkan sebuah penghargaan sastra. Sedangkan Aomame sendiri dihadapkan dengan konflik batin dalam dirinya sendiri dalam menghadapi perubahan dunia yang ia tinggali. Setelah melewati jalan darurat bawah tanah, ia merasa tersesat. 

INTERVIEWER

Saya ingin mendengar kisah mengenai tema kita kali ini, Pengalaman Sebagai DJ, tapi sebelum itu, saya ingin tahu bagaimana pengalaman Anda sendiri dalam mendengar. Infonya, Anda sering menyimak acara request lewat telepon di Radio Kansai. Program radio itu muncul dalam adegan-adegan penting di novel debut Anda, Dengarlah Nyanyian Angin.

HARUKI MURAKAMI

Saya merasa saya tumbuh bersama radio. Tentu saya juga menonton teve, tetapi pada zaman dahulu ‘kan hanya ada satu unit teve di satu rumah, jadi menontonnya bersama-sama dengan yang lain. Kalau radio, ‘kan, satu lawan satu. Saya senang musik, dan bagi saya radiolah yang paling personal; dari sisi itulah radio menjadi media yang memberi keakraban. Saya tumbuh dengan mendengar beragam musik di radio.

INTERVIEWER

Radio transistor?

HARUKI MURAKAMI

Betul, radio transistor kecil. Itu pun yang AM. Radio FM baru ada kira-kira saat saya akhir SMA. Sebelum itu, praktis saya hanya mendengarkan radio AM. Jadi kualitas suaranya tidak begitu baik. Walaupun kurang baik, dulu saya mendengarkan dengan semangat sekali. Pada masa itu harga piringan hitam tergolong mahal, jadi saya tidak bisa membelinya banyak-banyak. Tidak ada cara lain selain radio, sebab belum ada layanan streaming atau unduh seperti sekarang. Maka dari itu saya jadi mendengarkan musik dengan sungguh-sungguh dan menghargainya.

INTERVIEWER

Pernah merekam dengan tape recorder?

HARUKI MURAKAMI

Belum ada casette tape pada masa itu, hanya ada pita magnetik. Jadi, ya, tidak semudah itu. Setelah itu barulah bisa merekam atau dubbing dengan tape deck dari tuner, lalu juga baru muncul radio kaset.

INTERVIEWER

Meskipun demikian, semuanya berawal dari kesungguhan Anda mendengarkan apapun yang terdengar, ya.

HARUKI MURAKAMI

Ya, tak ada cara lain.

INTERVIEWER

Sejak kapan Anda mulai mendengarkan radio di kamar sendiri?

HARUKI MURAKAMI

Barangkali sekitar kelas 5 SD. Saya mulai mendengarnya menggunakan radio transistor kecil merek SONY yang saya terima. Itu sekitar tahun 1959, yang jelas sebelum 1960. Sejak itulah saya terus mendengar lagu-lagu pop. Setelah saya beranjak ke SMP lalu SMA, radio transistor saya juga jadi sedikit lebih besar.

INTERVIEWER

Apakah sejak awal Anda mendengarkan lagu-lagu barat?

HARUKI MURAKAMI

Lagu barat saja. Saya besar di lingkungan kota Kobe. Dahulu, di sekitar sanalah pusat lagu-lagu barat. Musik yang diputar di seluruh penjuru kota pun lagu barat, mungkin karena memang begitulah Kobe dari aspek budaya. Saya sendiri tidak begitu menyadari hal itu. Semuanya mengalir saja secara alami, dan saya jadi ikut mendengar lagu barat.

INTERVIEWER

Sepertinya Anda belajar piano saat kanak-kanak.

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

HARUKI MURAKAMI

Ya, saya mempelajarinya. Lalu saya berhenti karena benci latihannya Sepertinya saya belajar sejak SD, entah kelas berapa, sampai SMP. Sampai sekarang pun saya masih bisa membaca partitur, dan saya mensyukurinya. Saya suka mendengarkan suatu lagu sambil mencari kuncinya dengan tuts piano, meskipun saya tidak lagi bisa memainkannya. Tapi bukankah musik adalah sesuatu yang harus terus dilatih? Misalnya kita bisa memainkan piano atau menari balet, lalu terus berlatih bertahun-tahun hingga layak tampil di depan penonton; tapi begitu malas berlatih, kemampuan kita akan menurun. Nah kalau prosa, kita tetap langsung bisa menulis meskipun tanpa berlatih. Tidak ada hal yang lebih praktis daripada itu; tidak berlatih pun tak ada masalah.

INTERVIEWER

Apakah musik yang Anda dengarkan adalah musik populer?

HARUKI MURAKAMI

Sejak SD sampai SMP sekitar usia 15 tahun, saya hanya mendengar musik pop. Setelah itu mulai mendengar jazz yang membuat saya gandrung, dan di saat bersamaan saya juga mendengar musik klasik. Lalu saya mendengar musik pop hanya dari radio. Kalau dari piringan hitam atau saat sedang berada di bar jazz, saya cenderung menikmati musik jazz dan klasik. Jadi saya menyenangi tiga jenis musik.

INTERVIEWER

Berarti saat peralatan stereo mulai dipasang di rumah, Anda berusia 12 tahun, ya.

HARUKI MURAKAMI

Benar, saat kami pindah ke kota Ashiya. Kemudian saya mulai membeli piringan hitam, yang saat itu masih terbilang mahal. Karena itulah saya mendengarkan beragam jenis musik di radio, menyeleksi apa yang saya inginkan, baru membelinya.

INTERVIEWER

Piringan hitam yang pertama Anda miliki adalah White Christmast milik Bing Crosby, betul?

HARUKI MURAKAMI

Itu bonus saat beli stereo. Yang pertama kali saya beli sendiri adalah piringan hitam LP-nya Gene Pitney. Saat itu saya kira-kira kelas 2 SMP. Itulah awal saya mengoleksi piringan hitam. Setelah itu, lebih dari 50 tahun saya terus mengoleksinya. Sekarang hampir-hampir tidak ada lagi tempat untuk menyimpan. Kalau buku, setelah sekali baca, kebanyakan akan saya jual ke toko buku bekas atau saya loak; tetapi kalau piringan hitam, tetap saya simpan. Biasanya seorang penulis akan berpikir sebaliknya, tapi saya sendiri tidak begitu terpaut dengan buku. Saya sama sekali tidak tertarik dengan buku cetakan pertama dan semacamnya. Tapi kalau piringan hitam original edisi pertama, saya akan mencarinya sepenuh hati. Mirip kolektor, lah.

INTERVIEWER

Anda bukan pengoleksi buku?

HARUKI MURAKAMI

Bukan. Tentu repot sekali kalau saya mengumpulkan buku dan piringan hitam (tertawa).

INTERVIEWER

Apakah Anda mulai menerjemahkan lirik lagu karena seringnya mendengarkan lagu barat?

HARUKI MURAKAMI

Kalau saya, perlahan-lahan semakin senang bahasa Inggris dengan menyimak lirik, mengingatnya secara asal, dan menerjemahkannya. Memang sekarang saya jadi bisa menerjemahkan, tetapi titik awalnya adalah dengan mengingat di luar kepala seluruh lirik lagu-lagu.

Piringan Hitam LP untuk Musik, Mesin Manual untuk Mobil: Radio Cocok untuk Saya

INTERVIEWER

Bagaimana awal lahirnya Murakami RADIO? Apakah melalui editor di penerbit buku-buku Anda?

HARUKI MURAKAMI

Awalnya saya ditawari. Saya tidak suka tampil di televisi, tapi kalau di radio saya ingin mencobanya. Saya punya segunung piringan hitam dan CD yang hampir semuanya saya dengarkan sendiri. Membosankan kalau mendengarkan semuanya sendirian di rumah. Saya ingin ada entah siapa yang menemani mendengarkan sembari mengobrol, tapi sulit juga menemukan orang untuk itu. Dahulu saya punya bar jazz, jadi saya sudah terbiasa mendengar lagu bersama orang lain. Misalnya ada tamu datang, saya akan memutar piringan hitam atau menampilkan permainan musik saya sendiri. Sejak barnya tutup, saya tidak pernah lagi melakukannya, padahal tentu menyenangkan kalau ada tempat yang bisa mengakomodasinya. Nah kalau di radio, saya bisa melakukan hal-hal seperti tadi, ‘kan? Kalau saya bisa memutar musik dan membahas hal-hal yang saya suka, saya tak keberatan melakukannya.

INTERVIEWER

Jadi sebelum menjadi novelis, Anda membuka bar jazz ketika masih berkuliah di Universitas Waseda sejak tahun 1974 selama 7 tahun, ‘kan? Lalu, Murakami RADIO ini disiarkan pertama kali pada bulan Agustus 2018.

HARUKI MURAKAMI

Sejak awal memang saya sendiri yang memilih piringan hitam yang akan diputar, menyusun program, menentukan tema, dan memutuskan formatnya begini atau begitu. Untuk piringan hitam dan CD, seluruhnya adalah koleksi pribadi saya, saya memutar yang ingin saya mainkan. Anehnya, radio masa kini jarang ada yang punya program seperti itu. Bukan toko serba ada, tetapi lebih mirip selection shop yang memajang barang-barang yang sudah dikurasi oleh pemilik toko, seakan-akan berkata, “inilah selera kurasi kami, silakan mampir kembali apabila berkenan.” Jadi orang yang seleranya berbeda tidak akan masuk; kalau seleranya cocok, silakan datang lagi esok hari. Program radio seperti itulah yang ingin saya buat.

INTERVIEWER

Apakah ada program radio ideal yang Anda bayangkan?

HARUKI MURAKAMI

Di Amerika, acara radio Bob Dylan yang memutar lagu-lagu pilihannya sangat populer. Ia mengumpulkan lagu-lagu yang nuansanya anggun. Saya tidak bisa melakukan seperti itu. Terlebih, saya adalah penulis, yang tidak begitu ahli tentang musik dan hanya menyenanginya sebagai hobi saja, jadi saya yang cukup awam ini berusaha menampilkan selera saya. Kalau Bob Dylan, karena ia ahli di ranah permusikan, pilihan lagunya bisa sangat menghujam; tetapi saya tidak. Sebaliknya, saya justru ingin memilih lagu yang ramah pendengar. Sebab kalau saya terlalu memaksakan kehendak-kehendak saya, orang justru akan pergi menjauh.

INTERVIEWER

Dalam rentang waktu dua tahun, sudah ada 15 episode siaran radio.

HARUKI MURAKAMI

Sebenarnya saya ingin lebih banyak, tetapi mungkin karena saya sendiri juga sering pergi ke luar negeri, saya jadi tidak bisa melakukan rekaman siaran. Untuk saat ini, karena sedang ada COVID-19, saya tidak bisa pergi, jadi bisa rekaman. Sejujurnya saya ingin siarannya sebulan sekali. Rancangan programnya sudah ada untuk satu atau dua tahun jadi bisa dilakukan sebanyak mungkin. Eksperimen baru untuk siaran radio ini sungguh menarik. Secara umum, menurut saya, siaran radio adalah obrolan satu lawan satu,  jadi saya berusaha berbicara dengan menyapa setiap orang dan saya juga bisa mendapat respons dari pendengar. Saya ingin bisa mengobrol secara personal sembari mendengarkan lagu. Di zaman serba internet seperti sekarang, Zoom atau Skype menjadi sangat populer, tetapi saya sangat tidak familiar dengan hal-hal seperti itu.  Saya juga lebih suka piringan hitam sebagai pasokan utama musik saya dibandingkan CD atau streaming, mobil pun saya suka yang manual; pada akhirnya saya kembali ke analog. Maka dari itu, radio adalah hal yang sangat pas. Sesuai dengan selera saya.

INTERVIEWER

Apakah Anda sudah menemukan kembali letak keseruan radio setelah mencoba siaran?

HARUKI MURAKAMI

Saya memiliki ketertarikan terhadap cara berkomunikasi dengan musik dan suara, bahkan bagi saya seolah sedang menyusun esai menggunakan suara. Saya tidak piawai berbicara, dan tidak begitu suka bertutur lisan. Tapi bisa bercakap-cakap dengan orang lain lewat mikrofon dan gelombang radio terdengar menarik. Beberapa buku saya yang terbit berisi rangkuman korespondensi antara saya dan pembaca melalui situs web pribadi saya, nah, barangkali radio adalah seperti versi alih media buku tersebut menjadi suara.

Sudah Saatnya Mencoba Hal Lain

INTERVIEWER

Di samping pilihan lagu-lagu unik dari beragam genre mulai dari pop hingga jazz dan klasik; penceritaan Anda yang kaya tema, misalnya terkait tembang dan musikus, serta diselipi humor merupakan daya tarik tersendiri bagi para pendengar.

HARUKI MURAKAMI

Tujuan utama saya adalah memutar musik yang tidak diperdengarkan di acara lain. Namun berdasarkan hasil riset pasar, 80% dari pendengar radio mendengarkan dan minta diputarkan lagu J-pop. Karena itu, apapun yang terjadi, lebih dari 80% acara radio akan memutar lagu-lagu J-pop yang sedang tren. Tapi itu ‘kan jadi tidak menarik. Saya mengincar sisa pangsa yang 20% itu (tertawa). Kalau dilakukan dengan baik, pasti akan tampak hasilnya. Bagi saya yang terpenting adalah menimbulkan kesan mengayomi, misalnya pendengar merasa tenang setelah mendengar cerita saya sembari menikmati lagu-lagu pilihan saya. Ketika saya SMA, ada seorang kritikus jazz bernama Isono Teruo, yang juga seorang DJ suatu program request lagu melalui telepon di Radio Kansai. Ia selalu memutarkan lagu pop, tapi ketika kadangkala ia memutar lagu jazz, ia akan menjelaskannya dengan sepenuh hati. Saya merasa senang saat mendengar penjelasan tersebut, dan pelan-pelan saya menyukai jazz. Hal-hal seperti itu menjadi sangat penting dalam musik. Kalau penjelasan disampaikan dengan cukup baik—misalnya lagu ini seperti ini, jadi akan lebih bagus kalau dibuat begini karena seperti ini—,  begitu lagu diputar, pendengar pun akan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.  Komunikasi seperti itulah yang penting.

INTERVIEWER

Pada bulan Juni 2019, digelar perekaman program Murakami JAM. Selama acara berlangsung, Anda menjawab dengan penuh semangat pertanyaan dari pendengar sehingga meninggalkan kesan akrab dan dekat.

HARUKI MURAKAMI

Sebagian besar respons yang masuk bernada positif. Apabila dibandingkan dengan televisi, jumlah respons untuk radio tidak terlalu banyak, tetapi itu saja sudah sangat mampu memberikan kesan akrab. Banyak request yang meminta agar diputarkan lagu klasik, jadi saya berencana akan menghadirkan senarai pilihan lagu klasik di waktu mendatang. Semacam ‘lagu klasik indah yang dapat didengarkan dalam 5 menit’.

INTERVIEWER

Kadangkala Anda berkisah juga tentang penulisan novel, tentu pembaca Anda tidak boleh melewatkan acara ini.

HARUKI MURAKAMI

Saya tidak ingin terlalu sering mempromosikan karya saya, tapi kalau ada pertanyaan yang masuk, saya akan menjawabnya. Saya menjadi penulis pada usia 30 tahun, saya menulis novel sembari mengelola bar; dan dua tahun setelahnya menulis menjadi keahlian saya. Saat itu, saya sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa saya tidak akan melakukan hal lain selain menulis prosa. Karena itulah saya tidak muncul di media mana pun, tidak memasang wajah di sampul, tidak mengajar; saya membatasi diri dari aktivitas di luar menulis prosa. Selama 40 tahun hingga usia saya hampir 70 tahun, saya hanya menulis karangan. Lalu begitu usia saya lewat dari 70 tahun, prinsip saya mulai melonggar (tertawa). Itu muncul karena keinginan saya untuk bisa menulis lebih baik sangat kuat sehingga memutuskan untuk tidak melakukan hal lain di luar itu. Saat berada pada suatu titik tertentu di mana saya bisa menuliskan apa yang ingin saya tulis, hati saya mulai terbuka untuk mencoba hal-hal lain.

INTERVIEWER

Sejak dua tahun lalu, diselenggarakan konferensi pers mengenai pembentukan MurakamiLibrary di Universitas Waseda, kemudian pembukaan pertemuan pembacaan karya. Anda jadi lebih sering tampil di muka publik. Apakah usia menjadi salah satu latar belakangnya?

HARUKI MURAKAMI

Usia menjadi salah satu pertimbangan yang besar. Saat ini pun, tentu saja menulis menjadi aktivitas utama saya, tetapi saya merasa senang jika bisa mengobrol dengan orang-orang lewat cara yang berbeda.

Besarnya Kekuatan Musik

INTERVIEWER

Pada Murakami RADIO yang disiarkan pada bulan April, di awal acara Anda menyinggung tentang betapa pahitnya orang-orang yang terpaksa menutup toko-tokonya sebagai akibat meluasnya pandemi COVID-19.  Lalu pada bulan Mei, siaran program khusus Anda bertajuk “Stay Home Special” yang berdurasi 2 jam disiarkan, dan Anda memutar lagu-lagu yang ‘memberi semangat’ dan ‘menenangkan hati’. Konten programnya sangat menggugah. Bagaimana perasaan Anda saat melakukan siaran itu?

HARUKI MURAKAMI

Menurut saya, musik punya kekuatan yang cukup besar. Saya tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang COVID-19 dan tidak begitu paham apa yang seharusnya saya lakukan, tetapi di program khusus berdurasi 2 jam itu saya memutar beragam lagu, dan banyak tanggapan yang masuk dari para pendengar bahwa perasaan mereka menjadi lebih ringan, mereka bisa lebih bertahan, atau lebih bernyali. Saya sendiri juga bercuap-cuap sambil mendengarkan lagu-lagu itu, lalu perlahan-lahan hati saya menjadi lebih cerah dan entah mengapa jadi lebih tegar. Memang itu hanya perkara pikiran saja dan sebenarnya tidak ada yang berubah dari situasi yang sedang terjadi, tetapi suatu musik yang bagus rupanya bisa mewujudkan hal-hal tadi. Saya percaya akan adanya kekuatan semacam itu. Sementara itu, dukungan dan dorongan yang disampaikan lewat kata-kata tidak akan bertahan lama, karena perlu logika untuk kata-kata. Nah, musik bisa melampaui logika. Musik adalah sesuatu yang membuat orang berbagi perasaan yang sama; dan kekuatan itu, kekuatan untuk bersimpati, cukup besar bagi saya. Mirip seperti novel. Sekeras apapun usaha kita untuk menjelaskannya dengan logika, ia tidak akan masuk ke hati. Yang lebih besar adalah kekuatan kisahnya yang secara tidak langsung mengajak pembaca untuk merasakan hal yang sama, walaupun mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Karena itu, pada prinsipnya saya menganggap musik sama dengan proses menulis novel.

INTERVIEWER

Hanya efek langsungnya saja yang berbeda, ya.

HARUKI MURAKAMI

Betul. Saya tidak begitu mempercayai sebuah pernyataan. Mungkin ada orang yang justru terkesan, tapi bagi saya kesan yang ditinggalkan tidak lama dan kuat. Maka bagi saya yang ideal adalah dengan memilih sekian lagu, memutar kombinasi pilihan saya tadi, dan berharap semoga pendengar memahami apa yang saya sajikan sebagai suatu paket tanpa menjelaskan pesan di baliknya. Saya sendiri tidak tahu seberapa jauh pesan itu tersampaikan (tertawa), tapi harapan saya semoga pesannya sampai. Tetapi cukup banyak respons positif yang masuk dari siaran tersebut.

INTERVIEWER

Pada siaran program khusus tersebut, Anda berujar bahwa orang-orang yang jadi lebih tertutup, serta negara dan daerah yang menutup wilayahnya adalah suatu hal yang menakutkan.

HARUKI MURAKAMI

Pada zaman sekarang ini media sosial yang membatasi jumlah karakter yang ingin disampaikan, misalnya Twitter—yang dipakai juga oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump—, menjadi salah satu pusat penyebaran pesan. Menurut saya mustahil bisa mengatakan apa yang ingin kita sampaikan dalam tulisan sependek itu. Jadi saya ingin mengungkapkan tidak dengan cara seperti itu.

INTERVIEWER

Pada saat rekaman untuk episode berikutnya, di akhir acara Anda menarik kata-kata tentang propaganda Hitler, lalu membahas tentang ketidaknyamanan atas gencarnya orang-orang yang lebih menyerukan perasaan, bukan pemahaman.

HARUKI MURAKAMI

Ada waktu-waktu tertentu ketika saya ingin mengungkapkan pesan ala saya sendiri. Saya tidak ingin banyak bicara tentang isu-isu sosial, tapi saya tetap  harus sedikit-sedikit membahas tentang itu. Meskipun saya tidak melakukannya dengan ngotot, tapi saya ingin bilang bahwa beginilah pendapat saya. Saat ada aksi pergerakan mahasiswa sekitar tahun 1960—1970, saya berpegang pada kata-kata, perlahan-lahan hidup dengan bertahan pada kata-kata; tetapi saya benci pada kondisi seperti itu karena takut. Pada akhirnya, masa-masa itu telah lewat, dan kata-kata itu seluruhnya menjadi lenyap; sebab itu hanyalah kata-kata. Tidak ada yang bertanggung jawab. Setelah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, timbul keinginan kuat untuk bisa mengungkapkan peringatan atas kata-kata seperti itu, tidak peduli kiri dan kanan. Terutama pada masa-masa genting, ada kemungkinan orang-orang akan bergerak ke arah yang tidak seharusnya, misalnya saat pembantaian massal orang Korea setelah gempa besar di wilayah Kanto tahun 1923. Menurut saya, tugas medialah untuk bisa menenangkan ketegangan di masyarakat.

INTERVIEWER

Apa peran sastra dan musik dalam situasi bencana seperti perang, bencana alam, atau pandemi?

HARUKI MURAKAMI

Menurut saya, ada. Tapi sulit untuk mengatakan bahwa baik musik maupun sastra punya pengaruh secara langsung. Bagi saya, di tengah kondisi seperti saat ini, menulis novel atau membuat lagu yang seperti apa, keduanya memiliki arti tersendiri. Saya lebih tertarik dengan karya apa yang dihasilkan dalam kondisi sekarang, dibandingkan dengan apa manfaat atau bagaimana relevansi karya tersebut. Kalau saya punya program seperti ini lalu bisa mengutarakan hasil pikiran saya, menurut saya tidak ada masalah. Poin yang sangat saya perhatikan ketika siaran radio adalah bagaimana agar tidak terkesan sombong dan tinggi.  Saya membayangkan berdiri di ketinggian yang sama dengan para pendengar, lalu mata kami bertemu saat mengobrol. Orang tidak akan mendengar kalau saya berbicara seperti sedang memandang rendah mereka. Saya ingin berbicara dengan nada, “beginilah pendapat saya, bagaimana menurut Anda?”. Ketika menulis esai saya selalu menulisnya dengan nada seperti itu. Semoga saat siaran radio pun saya bisa mendekati demikian.

INTERVIEWER

Novel karya Haruki Murakami paling banyak dicuri di Toronto, Kanada. (AFP PHOTO / KAZUHIRO NOGI)

Lebih dekat dengan esai daripada novel?

HARUKI MURAKAMI

Benar. Ketika menulis novel, pada dasarnya saya menulis apa yang saya inginkan; saya tidak terlalu memikirkan bagaimana opini pembaca. Tapi tidak demikian dengan esai dan siaran radio. Saya termasuk orang yang tidak begitu mudah bersosialisasi dengan orang lain secara personal, tetapi radio justru memberi kesan akrab.

INTERVIEWER

Murakami Library di Universitas Waseda rupanya akan dibuka tahun depan, ya.

HARUKI MURAKAMI

Prinsipnya adalah seluruh buku, piringan hitam, dan dokumen-dokumen saya akan diangkut secara bertahap. Saya ingin instalasi ini akan dapat digunakan berulang kali, bukan pameran sekali saja. Misalnya piringan hitam dan CD yang bisa diputar untuk penyelenggaraan konser secara berkala, peminjaman materi yang ingin didengar, pemanfaatan ruang seminar yang semakin sering, atau penggunaan oleh para peneliti asing yang datang ke Jepang untuk meneliti budaya Jepang dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan saya. Intinya, dipakai berulang kali. Saya ingin ini berbeda dengan museum sastra yang ada di banyak tempat, jadi perpustakaan ini bisa lebih dimanfaatkan secara nyata sebagai sebuah bangunan. (*)

*) Artikel diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Wahyu Widya. Beberapa terjemahannya diunggah di blog pribadinya di wahyudhea.blogspot.com, pernah juga sekali dimuat di web Birokreasi (yang kini sudah mati). Dapat dihubungi via surel di alamat wehaye19@gmail.com. |  Diterjemahkan dari artikel yang dimuat pada tanggal 10 Juli 2020 di Mainichi Shimbun, diakses dari https://mainichi.jp/articles/20200709/k00/00m/040/119000c

Continue Reading

Interview

Orhan Pamuk tentang “A Strangeness in My Mind”

mm

Published

on

Interview by Richard Abowitz | (p) Widhi (ed) Sabiq Carebesth | dari https://thesmartset.com

Orhan Pamuk adalah salah satu novelis paling terkenal di dunia. Peraih Nobel Kesusastraan yang berfokus pada kehidupan, masa, dan orang-orang dari Istanbul. Novel terakhirnya, A Strangeness in My Mind, telah memasuki masa penulisan tahun keenam yang menggambarkan tentang kehidupan salah seorang penjual keliling di sebuah kota (di Istanbul). Richard Abowitz, Editor utama “The Smart Set”—majalah yang terbit dengan dukungan dari Drexel University, Philadelphia, menghubungi Pamuk melalui telepon di New York tampatnya mengajar di Columbia University.

INTERVIEWER

Judul Novel Anda, A Strangeness in My Mind, datang dari, tentu saja, syair Wordsworth—pekerjaan besar-besaran, The Prelude—tapi aku terhenyak dari caramu melihat itu, karena, kau tahu, kita berpikir bahwa Wordsworth sebagai penyair yang mencintai alam dan ketika ia hidup dalam masa sebelum revolusi industri, dia bukan benar-benar penggemar tentang hal yang ia lihat akan segera datang. Kau melihatnya, dalam buku barumu: “Di sebuah kota, kau bisa saja sendirian di tengah keramaian, dan pada faktanya yang membuat sebuah kota menjadi kota ialah karena hal itu mengizinkanmu untuk menyembunyikan keanehan pikiranmu yang rumit tentang banyak hal.” Bagaimana pendapatmu tentang penerapan Wordsworth pada sebuah kota dan sebagai judul untuk bukumu?

ORHAN PAMUK


“A Strangeness in My Mind” merupakan salah satu novel dengan proposisi yang epik, inilah karya terbaik Orhan Pamuk. “Keanehan” tentang novel ini adalah lewat kemegahan cakupan kecerdikan literarinya, tak ada hal signifikan yang terjadi. Akan tetapi ia tetap mengundangmu masuk dan menyenangkanmu, layaknya hal yang hanya dapat diberikan oleh buku bagus.Karakter utama dalam buku ini adalah Mevlut, seorang penjual “Boza” miskin di jalanan Istanbul. Berusaha untuk beradaptasi dengan kota yang berubah cepat Mevlut terus berharap hari esok yang lebih baik bahkan dalam setiap kegagalannya. Buku ini memotret harapan-harapan, aspirasi dan kegagalannya dengan indah. Kecintaannya pada kota itu hampir seperti autobiografi dari sang penulis. Jika kau menyukai “Istanbul” karya Pamuk, maka buku cocok untukmu. Perlahan-lahan kau akan mulai jatuh cinta pada kota tua yang megah ini. Pokok novel ini adalah sebuah kisah cinta. Tentang Mevlut dan istrinya Rayiha. Tentang Mevlut dan pekerjaannya. Tentang Mevlut dan kotanya.
Seorang lelaki dengan berani mempertahankan keahlian menjual Boza yang hampir hilang. Seorang lelaki yang mencintai istrinya hingga hari akhir. Seorang lelaki yang menemukan kotanya lewat seluruh kegembiraan dan kesengsaraan hidupnya.

Hal yang sangat menyenangkan tentang persajakan dan kesusastraan adalah bahwa kita tidak hanya membacanya dalam konteks yang tertulis. Wordsworth dan teman-temannya membuat apa yang kita sebut secara berelebihan sebagai “sajak romantis”. Jika yang kita maksud adalah imajinasi—kapasitas untuk melihat hal yang aneh yang berarti lebih dari jasmani—melampaui apa yang diberikan pada kita, melampaui realitas saat ini, aku setuju dengan Wordsworth. Sebenarnya, karakterku, Mevlut Karatas, bukanlah anak yang kaya, melainkan seorang penjual keliling yang menjajakan boza, minuman fermentasi khas Ottoman, di jalan-jalan Istanbul antara tahun 1970 dan hari ini, tapi imajinasinya tajam. Aku memerlukan waktu enam tahun untuk membentuk kemanusiaan dari seorang tokoh kelas menengah ke bawah yang memiliki imajinasi yang sangat bagus. Meskipun dari kelas dan budaya semacam itu karakterku tidak menyerupaiku, namun dia memiliki sebagian dari imaji dan pemikiranku. Saat masa kecilku, bahkan saat usia awal 20-an, teman-temanku sering memberi tahuku, “Orhan, kau memiliki pemikiran yang aneh.” Kemudian, beberapa tahun setelahnya, ketika aku sedang membaca karya Wordsworth, aku tiba pada sebuah kesadaran dan aku berkata pada diriku sendiri, “Suatu hari nanti, aku akan menulis sebuah novel yang berjudul A Strangeness in My Mind.” Bertahun-tahun kemudian, aku menulis Mevlut Karatas, tokoh kelas menengah ke bawah yang aku kenal sebaik mungkin, yang berhak sedikit menerima, dan juga untuk berbicara. Kedua hal itu menyinggung imajinasi tokoh dan juga kota tempatnya berjalan, bekerja, mengulang hal itu sebagai keseharian; bekerja, berjalan, berjalan, bekerja, setiap waktu.

INTERVIEWER

Aku berpikir tentang Dickens atau aku berpikir tentang Horatio Alger Jr., ketika kau bertemu dengan penjual keliling yang miskin dan kau berharap agar dia membangkitkan dunia—bildungsroman, sebuah novel coming-of-age. Penjual kelilingmu tidak memiliki kesungguhan akan hal itu; itu bukan tentang cerita mengenai peningkatan ekonominya yang mungkin diinginkan pembaca.

ORHAN PAMUK

A Strangeness in My Mind dengan sengaja tokoh Dickensian, tetapi tidak melodramatis. Aku mencintai Dickens. Aku menyukai bahasa dan humornya, namun kemudian aku tidak suka melodrama, dan sesekali aku juga kecewa dari caranya membuat tokoh-tokohnya jenaka dengan membuatnya aliteratif dan berat sebelah. Novel Dickensian atau yang lebih menyerupai novel picaresque yang dalam catatan sejarahnya: berbagai petualangan, Mevlut ikut kemiliteran, Mevlut sekolah di sekolah menengah atas, Mevlut menjual yogurt, Mevlut menjual nasi dan ayam di jalanan. Dari sudut pandang lain, ini bukan tentang cerita Mevlut yang mempelajari sesuatu dari beberapa pengalaman dan ini merupakan akhir dari pendewasaannya. Ini bukanlah novel bildungsroman seperti itu. Ini adalah novel yang epic dengan tokoh protagonisnya yang sibuk membawa kita ke berbagai sudut Istanbul. Dengan suatu cara, sisi petualangnya menunjukkan perkembangan kota tersebut pada kita. Modernitas datang dan mengubah banyak hal dalam keseharian orang-orang yang tinggal di Istanbul. Maksudnya di sini ialah untuk melihat secara menyeluruh, perubahan komplet yang terjadi pada kotanya. Bukan perubahan politik yang besar, melainkan perubahan kecil pada hal-hal yang lebih mendetail: pola makan, pola kerja, cara komunikasi, cara berjalan di jalanan, cara melihat-lihat di toko—hal kecil yang mengangkat perubahan besar pada waktu kita dalam sebuah kota, di mana seumur hidupku, aku tumbuh dari sejuta menjadi lima belas juta.

Mevlut tidak memiliki gagasan politik yang kuat karena ia dekat dengan sepupu sayap ultrakanan, dekat dengan temannya, Ferhat, yang seorang kiri dan Shia loyal, dan ia juga bergaul dengan seorang darwis modern, sufi, dan syekh. Dari semua hal tersebut, ia selalu mendapat beberapa nasihat, bantuan finansial, dan juga beberapa kebijaksanaan, sementara ia tidak mendebat atau terikat secara ideologi. Mevlut tidak memiliki opini politik yang kuat karena ia ingin bertahan hidup di kota yang mempunyai garis divisive yang kuat, tetapi di samping itu, fakta bahwa ia tidak memiliki pendapat, pandangan politik, dan ikatan moral yang kuat, membuatnya lebih mudah untuk mengarahkan antara lingkaran-lingkaran ini dan poin-poin kepentingan lain di Istanbul.

INTERVIEWER

Hal yang luar biasa untuk melihat bagaimana perjalanan hidup seorang penjual keliling di Istanbul saling silang dengan sejarah dan politik, meski seperti yang kau bilang, ia bukan merupakan orang yang istimewa dalam politik. Meski bersekolah, rambutnya dipotong karena darurat militer.

ORHAN PAMUK

Terima kasih telah mengatakan demikian, tetapi aktivitas Melvut, pada akhirnya, tidak mengubah sejarah. Dia, dalam pengertian itu, setiap orang, dan dalam novel ini aku ingin menulis cerita dari setiap orang. Kau tahu, aku mengajar Art of the Novel di Columbia University, dan hal pertama yang kita perhatikan adalah jika kau melihat sejarah pada novel, bahwa semua cerita, bahkan yang paling politis sekalipun, telah dikatakan oleh kelas menengah, kelas menengah ke atas, atau bahkan tokoh aristokrat. Dari Steinbeck hingga Garcia Marquez, dari Zola hingga penulis realis, kelas yang lebih rendah digambarkan dalam novel, tapi mereka selalu dianggap sebagai kelas menengah atau kelas menengah atas atau bahkan kalangan aristokrat, seperti dalam Anna Karenina-nya Tolstoy.

Tantanganku dalam menulis novel ini ialah saat membuat rasa kemanusiaan penuh pada Mevlut, dan sebab itulah aku memerlukan waktu enam tahun untuk novel ini—yaitu untuk membuatnya seperti seorang pahlawan Dostoyevsky atau pahlawan Tolstoy atau seorang yang menyerupai tokoh Proust yang berkembang sepenuhnya, tetapi juga tidak begitu penting dalam maksud juga dalam kata, karena kata “pahlawan” datang di akhir dari etika klasik yang kesemuanya itu berisi tentang prajurit hebat atau wanita yang luar biasa atau tokoh legenda sejarah.

Mevlut berada dalam diri semua orang, tetapi imajinasinya—“keanehan dalam pikiran”—setiap detail tentang hidupnya, kugaris bawahi, sangat menarik. Aku menulis novel ini untuk memberi tahu bahwa semua orang bisa berubah cukup menarik. Kelas menengah, kesalahan intelektual untuk membuat sebuah narasi yang terlalu dangkal, melodramatis, dan sentimentil.  Ini adalah seorang laki-laki biasa, sama seperti aku dan kalian, yang juga sangat miskin. Tinggalkan dia, dan kau akan menemukan hal yang menarik, barangkali aku berbisik pada diriku sendiri.

INTERVIEWER

Seperti yang kau katakana, kau menghabiskan waktu selama enam tahun untuk hal ini. Sepertinya aku tidak pernah membaca sebuah novel yang benar-benar seperti ini. Kau mempunyai orang bagian ketiga yang mengganggu dari suara yang berbeda—bukan suara yang sama, terkadang suara-suara yang tidak kau harapkan—muncul dalam orang pertama, berbicara sepanjang waktu. Bagaimana kamu muncul ide yang seperti itu?

ORHAN PAMUK

Seperti yang kau tahu, novel ini melibatkan seorang tokoh dari kelas bawah di Istanbul, dan aku seorang kelas menengah, kelas menengah atas. Aku telah melihat lingkungan gubuk Istanbul. Mereka lebih baik daripada katakanlah daerah kumuh di Brazil dan Bombay, tetapi pada akhirnya mereka terdiri atas gubuk-gubuk, dan aku sudah pernah melihat mereka di masa kecilku dari jauh. Aku tidak termasuk dalam budaya itu. Dari budaya dan kelas ekonomi, aku tidak dekat dengat Mevlut, itulah sebabnya aku melakukan banyak pembicaraan, wawancara, menjalin pertemanan dengan para penjual keliling agar bisa menulis novel ini.

Sebagai contoh, di masa kecilku pada tahun 50-an dan 60an di Istanbul, yogurt bukanlah produk dalam botol. Kemudian, yogurt mulai dikemas dalam botol. Begitu juga dengan boza, dan sekali hal itu terjadi, kau mulai kehilangan pekerjaanmu, maka aku ingin menulis cerita ini. Tetapi, sekali aku mulai berbicara dengan penjual keliling, kemudian aku mulai belajar tentang cara mereka dalam mendirikan rumah dengan tangan mereka sendiri di atas lahan resmi pemerintah pada tahun 50-an dan 60-an, bagaimana Istanbul berkembang, bagaimana populasinya meningkat, bagaimana penduduknya datang dari perdesaan miskin, bagaimana hubungan mereka dengan penduduk lokal, bagaimana mafia lokal atau organisasi setempat membantu membawa senjata, dan seterusnya.

Artikel lengkapnya akan terbit di majalah “Book Coffee and More” yang akan diterbitkan eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta, Agustus 2020.

Aku mulai berbicara dengan banyak orang, bahkan pensiunan polisi, penipu, dan para penjahat. Aku memiliki banyak satu-lawan-satu informasi, dan aku merasa tidaklah cukup hanya menulis novel ini seperti John Steinbeck atau Emile Zola. Meskipun aku semakin menua, seorang posmodernis muda dalam diriku memberontak. Dia mengatakan, ‘Orhan, tolong wakilkan suara-suara yang kau rekam, yang kau ajak bicara, yang kau sukai.’ Maka aku memutuskan untuk sedikit bereksperimen, yang mungkin jadi kebiasaan buruk. Aku tidak memasukkan suara orang pertama tunggal dari orang-orang tersebut, tentu saja, aku mengubah mereka, membuat mereka, dan memutarbalikkan mereka.

Suatu hal yang aku mainkan dan kembangkan dalam novelku yang lain, My Name is Red, dengan orang-orang yang mengatakan cerita berdasarkan versi mereka, dan terkadang orang-orang pertama tunggal ini, yang kontradiktif satu sama lain, membuatnya tak dapat dipercaya. Aku suka ketika kritikus New York, James Wood, mengatakan bahwa kadang-kadang narator yang tidak bisa dipercaya itu dapat dipercaya tidak dapat dipercaya. Jadi, suara bantahan ini juga meminjamkan suasana pada novel dengan menemukan ruang dalam halaman-halaman buku yang terkadang tokohnya berdebat dengan suara lain. Terdapat jenis tiruan dalam proses pembuatan novel yang aku sukai. Mungkin aku senang karena posmodernis dalam diriku telah mati. Tetapi ia berhasil membuat novel ini, dan tidak membingungkan. Kau mengerti siapa yang berbicara, kapan dan bagaimana orang ini membuka narasi.

INTERVIEWER

Aku membaca bahwa kau menciptakan museum dalam buku terakhirmu. Hal itu membuatku penasaran bahwa jangan-jangan ini bermain di antara ranah fiksi/nonfiksi—dan kau mengatakan bahwa beberapa suara datang dari orang yang kau ajak bicara—merupakan hal yang menyenangkan bagimu…


*) The Smart Set
 is an online magazine covering culture and ideas, arts and science, global and national affairs- everything from literature to shopping, medicine to sports, philosophy to food. The Smart Set strives to present big ideas on the small, the not-so small, and the everyday.  The Smart Set is published and supported by the Pennoni Honors College at Drexel University.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending