Connect with us
Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

Cerpen

Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

mm

Published

on

oleh: Maxim Gorky

pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada.

Kereta penumpang, seperti seekor ular yang sangat besar, yang mengeluarkan kumpulan asap tebal berwarna abu-abu, hilang ditelan padang stepa yang tidak ada batasnya, hilang di lautan gandum berwarna kuning. Ketika asap tebal abu-abu larut di dalam udara yang terik, hentakan suara gaduh yang murka untuk beberapa saat mengusik keheningan yang tenang di dataran luas dan kosong, yang di tengah-tengahnya berdiri sebuah stasiun kereta kecil, yang kelengangannya membangkitkan perasaan yang sangat memilukan.

Dan ketika suara gaduh kereta yang terdengar parau, tetapi setidak-tidaknya dipenuhi sentuhan rasa semangat, hilang dari pendengaran, kemudian senyap jadi di bawah kubah langit yang tanpa awan dan keheningan yang menekan datang sekali lagi menyelimuti stasiun kereta tersebut.

Padang stepa tampak berwarna kuning keemasan dan langit terlihat biru nilakandi. Dan kedua warna itu sangat tidak memiliki batas. Di tengah keleluasan yang begitu rupa bangunan kecil stasiun berwarna coklat itu memberikan impresi adanya kemungkinan gambar melankolis yang rusak karena sapuan kuas, yang dilakukan oleh seorang seniman yang tanpa imajinasi.

Setiap hari pada jam dua belas siang dan pada jam empat sore kereta-kereta keluar dari padang stepa dan berhenti di stasiun, tepatnya untuk dua menit. Keseluruhan empat menit tersebut merupakan hiburan pokok dan satu-satunya di stasiun: para penumpang kereta akan membawa kesan-kesannya sendiri terhadap orang-orang yang bekerja di sana.

Di dalam setiap kereta terdapat beraneka ragam manusia dengan berjenis-jenis pakaian. Mereka adalah kesejenakkan; dari balik jendela kereta terlintas wajah-wajah yang lelah, tidak sabaran dan tidak peduli – dan kemudian terdengar suara lonceng, bunyi peluit; dan dengan suara gaduh mereka akan bergerak cepat ke dalam padang stepa, maju ke depan, ke dalam kota-kota, yang memiliki kehidupan yang sibuk dan pikuk.

Para pekerja stasiun memandang pada wajah-wajah tersebut dengan rasa mau tahu dan kemudian setelah melepaskan kereta pergi, mereka akan berbagi terhadap satu sama lainnya pengamatan-pengamatan, yang dengan cepat mampu difahami. Di sekitar mereka padang stepa yang bisu membentang, di atas tampak langit yang tidak mau ambil peduli,dan di dalam hati mereka ada rasa cemburu yang samar-samar pada orang-orang tersebut, yang dengan cepat, melalui mereka, pergi ke tujuan, yang tidak diketahui dari hari ke hari, dan mereka tetap tinggal, terpenjara di dalam padang belantara, seolah-olah hidup di luar batas kehidupan.

Dan demikianlah, setelah mengantarkan kereta, mereka berdiri di peron, sambil memperhatikan lajur hitam keberangkatan, yang menghilang di lautan gandum keemasan. Dan mereka terdiam dengan kesan-kesan kehidupan, yang berlalu melewati mereka.

Hampir setiap orang ada di sini: kepala stasiun, seorang lelaki yang berjiwa baik, tambun, memiliki rambut pirang keemasan dengan jambang pria Kosak yang gembal; asistennya, laki-laki muda berambut merah dan berjanggut kambing. Luka, penjaga stasiun, seorang laki-laki kecil, tetapi cekatan dan terampil; dan salah seorang dari para pelangsir bernama Gomozov, seorang laki-laki pendiam, pendek gemuk dengan janggut tebal.

Istri kepala stasiun duduk di atas bangku yang ada di samping pintu stasiun. Dia adalah perempuan yang kecil dan gemuk, dan begitu menderita karena kepanasan. Bayinya tertidur di dalam pangkuannya dan wajah bayi tersebut sebulat dan semerah wajah ibunya.

Kereta menghilang di bawah landaian dan menghilang, seolah-olah, ditelan bumi.

Dan ketika itu kepala stasiun berpaling ke arah istrinya dan berkata:

Samovar[1] sudah siap, Sonya[2]?”

“Tentu saja,” jawab sang istri dengan suara yang lemah dan pelan.

“Luka! Taruh tanda di sini, bersihkan peron dan rel. Lihat kotoran-kotoran, yang mereka tinggalkan.”

“Saya mengerti, Matvei Yegorovich.”

“Bagus, ingin minum teh, Nikolai Petrovich?”

“Seperti biasanya,” jawab sang asisten.

Dan jika itu terjadi pada siang hari, ketika kereta sudah lewat, Matvei Yegorovich akan mengatakan kepada istrinya:

“Makan siang sudah siap, Sonya?”

Kemudian dia akan memberikan Luka instruksi yang selalu sama dan dia akan berkata kepada asistennya, yang tinggal menumpang dengan mereka:

“Bagus, kau ingin makan siang?”

Dan sang asisten akan menjawab dengan cukup layak:

“Seperti biasanya…”

Dan mereka meninggalkan peron, masuk ke dalam ruangan, yang mempunyai banyak tanaman dan sedikit furniture; ruangan itu berbau masakan dan popok bayi dan yang di dalamnya,di sekitar meja, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lewati.

“Kau memperhatikan wanita berambut coklat yang mengenakan pakaian warna kuning di dalam kereta kelas dua, Nikolai Petrovich? Jika kau bertanya kepadaku, dia itu seperti sekerat makanan yang menggiurkan!”

“Tidak buruk, tetapi dia tidak mempunyai selera dalam berpakaian,” kata asistennya.

Kata-katanya selalu ringkas dan diucapkan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap dirinya manusia, yang mengetahui kehidupan dan berpendidikan. Dia menamatkan gimnasium[3]. Dia memiliki buku catatan dengan sampul depan hitam, yang di dalamnya dia menuliskan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal, yang dia dapatkan dari artikel surat kabar dan buku-buku, yang secara kebetulan jatuh ke tangannya. Kepala stasiun mengakui kewenangannya dalam semua hal, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka dan dia dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata sang asisten. Dia, terutama, tertarik dengan mutiara-mutiara bijak, yang ada di dalam buku catatan Nikolai Petrovich dan dia selalu terkesan pada mutiara-mutiara bijak tersebut dengan jalan hati yang sederhana. Pengamatan asistennya pada selera wanita berambut coklat dalam cara berpakaian memunculkan satu pertanyaan pada diri Matvei Yegorovich:

“Apakah pakaian warna kuning tidak mesti untuk wanita-wanita dengan rambut coklat?”

“Saya tidak berbicara mengenai warna, tetapi potongannya,” jelas Nikolai Petrovich, sambil memindahkan selai dengan akurat dari pinggan kaca ke piringnya sendiri.

“Potongannya? Itu masalah lain..!” kata kepala stasiun setuju.

Istrinya bergabung dalam percakapan tersebut, karena subjek percakapan ini dekat dengan hatinya dan dapat dimengerti olehnya. Akan tetapi lantaran pikiran orang-orang ini tidak begitu terasah, maka perbincangan mereka bergerak jadi perlahan dan jarang menyentuh perasaan mereka.

Dan lewat jendela tampak terlihat padang stepa, yang diselimuti pesona kesunyian; dan langit, yang megah ada di dalam ketentramanyangluar biasa.

Hampir setiap jam, kereta barang lewat. Para pekerja, yang mengiringi kereta tersebut, adalah orang-orang yang sudah lama saling kenal. Awak-awaknya merupakan mahluk-mahluk pengantuk, mahluk-mahluk yang ditindas oleh perjalanan yang menjemukan di padang stepa. Namun demikian, terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan: di suatu jarak verst[4] tertentu, seorang laki-laki tergilas; atau mereka memperbincangkan mengenai masalah-masalah, yang bertalian dengan pekerjaan sendiri: si pulan dikenai hukuman denda, seseorang yang lain telah dimutasikan. Seluruh berita-berita itu tidak didiskusikan, tetapi ditelan, seperti penganan lezat, seperti mereka melahap makanan yang enak dan jarang diperoleh.

Perlahan-lahan dari langit matahari terbenam di batas padang stepa dan kadangkala matahari tersebut hampir menyentuh bumi, yang memperjadi warna merah tua. Di atas padang stepa terbentang sinar kemerah-merahan, yang memunculkan perasaan yang membosankan, membangunkan kecenderungan hati yang samar untuk pergi jauh ke depan, meninggalkan kehampaan. Kemudian matahari menyentuh kaki langit dan jatuh dengan tanpa gairah ke dalam atau ke balik kaki langit. Dalam jangka waktu yang masih lama, setelah itu, musik dari warna-warna yang terang di langit dengan lembut dimainkan, tetapi senandung musik ini semakin meredup, ketika jelang malam yang hangat dan tanpa suara datang menyelimuti. Bintang-bintang bersinaran, semuanya bergetar, seperti ditakut-takuti oleh rasa jemu di atas bumi.

Padang stepa kelihatannya jadi makin kabur di dalam jelang malam; dengan diam-diam bayangan malam merangkak ke stasiun dari semua sudut. Dan malam itu sendiri kemudian datang, gelap dan muram.

Di stasiun kereta api itu sinar-sinar bercahayaan; ada sinar hijaudari tiang sinyal, yang diliputi oleh kegelapan dan kesunyian, tampak lebih terang dan tinggi dibandingkan dengan semua yang lain.

Kadang-kadang terdengar bunyi lonceng – suara peringatan akan datangnya kereta api; bunyi lonceng yang tergesa-gesa itu terbawa ke padang stepa, yang dengan cepat di tempat tersebut kemudian hilang tertelan.

Segera setelah bunyi gemerincing lonceng dari kejauhan yang pekat sinar warna merah yang sebentar-sebentar menyala berlarian dan keheningan di padang stepa dipecahkan oleh raungan kereta yang meredam, yang bergerak ke depan menuju ke stasiun yang lengang dan dibelit oleh kegelapan.

Manusia-manusia kecil ‘kelas bawah’ di stasiun kecil ini hidup sedikit berbeda dibandingkan dengan kaum aristokrat. Luka, sang penjaga stasiun, selalu melakukan perjuangan yang konstan dengan hasratnya untuk lari menuju ke istrinya dan saudara laki-lakinya, yang tinggal di desa, tujuh verst jauhnya dari stasiun. Dia mempunyai ‘tanah pertanian’ di sana, seperti yang dikatakannya kepada Gomozov, ketika dia meminta pelangsir yang tenang dan pendiam ini untuk mengerjakan tugas-tugasnya di stasiun.

Mendengar kata ‘tanah pertanian’ Gomozov selalu dengan berat menarik helaan nafas dan dia berkata kepada Luka:

“Bagus sekali, pergilah,” katanya. “Tanah pertanian memang harus diurus, tidak ada keraguan mengenai hal itu…”

Akan tetapi pelangsir yang lain, Afanasy Yagodka, seorang serdadu berumur dengan wajah bulat dan merah, yang ditumbuhi oleh janggut abu-abu; seorang manusia yang memiliki pembawaan mengejek dan senang marah, tidak mempercayai Luka.

“Tanah pertanian!” teriaknya dengan menyeringai. “Seorang istri!.. Saya mengerti betul, tanah pertanian ya tanah pertanian… Dan istrimu itu – apakah dia janda? Ataukah suaminya seorang serdadu?”

“Ah, kau ini memang gubernur burung!” Luka mendengus dengan menghina.

Dia menyebut Yagodka gubernur burung, karena serdadu tua itu sangat senang memelihara burung. Di rumahnya yang kecil, baik di dalam maupun di luar, tergantung sangkar-sangkar dan tempat burung bertengger; sepanjang hari terdengar suara ramai burung-burung di dalam rumahnya dan di sekitarnya. Burung puyuh, yang ditangkap oleh sang serdadu, terus-terusan mengeluarkan bunyi ciap-ciap yang membosankan dan tak berjeda, burung jalak membunyikan suara-suara yang panjang, seperti berkomat-kamit, burung-burung kecil dengan ragam warna mencericit, menciap dan bersenandung tanpa lelah, mengisi kehidupan kosong sang serdadu dengan kesukaan. Dia mencurahkan semua waktu luangnya untuk burung-burung peliharaannya; dan ketika dia bertalian dengan burung- burung tersebut dengan lemah-lembut dan penuh peduli, sedikit pun dia tidak menaruh perhatian pada kawan-kawannya di stasiun. Dia menyebut Luka – ular dan Gomozov – tukang jagal, dan dengan tanpa sungkan langsung mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya adalah pengekor kaum perempuan, dalam hal ini, menurut pendapatnya, mereka layak dihajar.

Luka, terhadap kata-kata itu, tidak begitu ambil peduli, tetapi jika sang serdadu sudah terlalu jauh mengejeknya, Luka secara panjang lebar dan dengan pedas akan memaki-maki sang serdadu:

“Kau itu garnisun tidak berpendidikan, remah sisa makanan tikus! Kau mengerti apa, bekas tukang tabuh tambur kambing? Kau mengejar katak dengan acungan bedil dan menjaga kubis seorang kolonel… Apa yang dapat diperdebatkan dari pekerjaanmu? Pergi kau ke burung-burung puyuhmu, kau itu hanya komandan burung!”

 

Lukisan Karya Patrick Wowor (2014)

Yagodka, setelah dengan tenang mendengarkan begitu banyak semburan kata-kata marah sang pelangsir, akan pergi untuk menyampaikan keluhan kepada kepala stasiun, yang akan berteriak, agar jangan datang membawa urusan-urusan sepele kepadanya dan kepala stasiun akan mengusir Yagodka keluar. Oleh karena itu Yagodka akan menemui Luka dan dia sendiri yang memarahi Luka – dengan tenang, tanpa kehilangan kesabarannya, dengan memakai kosa kata cabul yang demikian berbobot, yang membuat Luka segera akan lari menjauh, sambil meludah dengan jijik.

Gomozov terhadap kata-kata cela sang serdadu menjawab dengan tarikan nafas dan dengan rasa malu melakukan dalih untuk membela diri.

“Apa yang harus diperbuat? Tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu…Tentu saja…itu tidak berbahaya…tetapi, omong-omong, ini sambil lalu saja, jika tidak menilai orang lain, maka kau pun akan tidak dicela.”

Suatu hari sang serdadu memberikan jawaban pada hal tersebut dengan sedikit tertawa:

“Itu resep lama untuk semua jenis penyakit! Janganlah menilai, janganlah menilai…Dan jika tidak diperbolehkan untuk menilai, maka manusia tidak akan memperbincangkan apapun juga…”

Di sana, di stasiun masih ada seorang perempuan lagi, selain dari istri sang kepala stasiun. Dia adalah Arina, seorang tukang masak. Dia berumur di bawahempat puluh tahun dan sangat jelek rupa – tubuhnya gemuk pendek, dengan payudara terjuntai, dengan pakaian yang koyak-moyak dan selalu kotor. Ketika dia berjalan, dia terkedek-kedek dan mata kecilnya yang menakutkan, yang diseputari kerutan-kerutan, berkilatan di wajahnya yang bopeng. Dan ada sesuatu yang tampaknya seperti pembawaan budak dan terasa terintimidasi di dalam sosok tubuhnya yang canggung, bibir tebalnya secara permanen mengkerut, seolah-olah dia ingin minta maaf pada setiap orang – seakan-akan dia ingin berlutut di depan orang-orang dan dia takut untuk menangis. Selama delapan bulan Gomozov hidup di stasiun tersebut, dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap perempuan itu; ketika dia bertemu dengan Arina, dia akan mengatakan salam. Sang perempuan akan membalas dengan mengembalikan salam itu, mereka saling bertukar dua-tiga frasa dan kemudian saling berpisah, setiap orang akan melanjutkan langkahnya menuju ke masing-masing tujuan. Akan tetapi suatu hari Gomozov datang ke dapur kepala stasiun dan meminta Arina untuk menjahitkan beberapa kemeja. Arina setuju dan jika kemeja-kemeja itu sudah jadi, dia sendiri yang akan membawanya kepada Gomozov.

“Terima kasih,” kata Gomozov. “Tiga kemeja; masing-masing kemeja – satu grivennik[5], jadi tiga puluh kopek aku berhutang kepadamu, bukan begitu?”

“Saya pikir demikian,” kata Arina.

Gomozov mulai berpikir-pikir dan cukup lama berdiam diri.

“Kau datang dari guberniya[6]mana?” Akhirnya dia bertanya kepada perempuan tersebut, yang di sepanjang waktu matanya terpancang pada janggut Gomozov.

“Ryazan[7],” katanya.

“Itu jauh! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ya, begitulah… Saya selalu sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”

“Hal yang begitu, cukup membuat orang pergi, bahkan lebih jauh,” Gomozov menarik nafas panjang.

Dan keduanya diam lagi.

“Demikian juga aku. Asalku dari Nizhny Novgorod[8]. Sergachev Uyezd[9]…” kata Gomozov beberapa saat kemudian. “Aku sendiri juga. Begitulah. Dulu aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak. Dua orang anak. Istriku meninggal karena kolera, anak-anakku meninggal, karena memang meninggal. Dan aku – aku menjadikan diriku terlalu lelah karena duka cita. Kemudian sekali lagi aku berusaha untuk menyusun segalanya, tetapi malah sebaliknya. Mesin-mesin rusak, tidak jalan. Jadi, sebagai konsekuensinya, aku pergi dari tempat sendiri …ke tempat yang lain. Sudah tahun ketiga aku bersusah payah begini.”

“Tidaklah baik,ketika kau tidak memiliki tempat, yang akan memanggilmu kembali,” kata Arina dengan lembut.

“Ya, tentu saja. Kau seorang janda?”

“Bukan, saya seorang gadis.”

“Bagaimana mungkin bisa begitu!” kata Gomozov dengan tidak berusaha menyembunyikan kekurangpercayaannya.

“Begitulah adanya, seorang gadis” Arina meyakinkan Gomozov.

“Mengapa kau tidak pernah kawin?”

“Saya ini, siapakah yang akan mengawini? Saya tidak punya apa-apa. Lelaki menginginkan sesuatu. Dan lagi pula rupa saya amat jelek.”

“Be-nar…” kata Gomozov dengan lafal yang panjang, sambil melihat pada Arina secara cermat dengan perasaan ingin tahu, seraya mengusap-usap janggutnya. Gomozov bertanya pada Arina, berapakah jumlah upahnya.

“Dua setengah.”

“Baiklah, aku mengerti. Jadi aku berhutang kepadamu tiga puluh kopek, heh? Begini, datang dan ambillah malam ini. Kira-kira jam sepuluh, kau mau? Aku akan membayarmu dan kita akan meminum teh bersama-sama, kita akan berbincang-bincang, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Kita ini orang-orang yang kesepian, kita berdua. Jadi datanglah.”

“Saya akan datang,” katanya dengan bersahaja dan pergi keluar.

Kemudian Arina datang tepat jam sepuluh dan pergi ketika fajar datang.

Gomozov tidak mengundangnya untuk datang lagi dan tidak memberikan tiga puluh kopek miliknya. Arina datang kembali atas kemauannya sendiri. Dia, perempuan bodoh dan patuh ini, datang kembali dan berdiri dengan membisu di depan Gomozov. Seraya berbaring di atas ranjang, lelaki itu memandangi Arina, dan setelah bergeser ke arah dinding, dia berkata:

“Duduklah.”

Ketika perempuan tersebut telah duduk, Gomozov berkata kepadanya:

“Dengar, simpanlah ini di dalam rahasia. Jangan biarkan orang mengetahui hal ini, kau dengar? Aku akan mendapatkan masalah, jika kau melakukannya. Aku tidak muda lagi, begitu juga denganmu… Mengerti kau?”

Perempuan itu menganggukkan kepala, bersetuju.

Ketika Gomozov mengantarkannya keluar, dia menyerahkan beberapa pakaian kepada Arina untuk ditisik dan dia mengingatkannya lagi:

“Jangan biarkan orang mengetahui hal ini!”

Dan demikianlah, mereka memulai hidup secarademikian, menyembunyikan dengan hati-hati hubungan mereka dari yang lain.

Pada setiap malam Arina akan menyelinap hampir seperti merayap-rayap ke kamar Gomozov. Laki-laki itu menerimanya dengan sikap jumawa, dengan raut wajah seorang majikan, dan kadang-kadang secara terus-terang dia berkata kepada Arina:

“Ah, dari rupamu itu, kau memang jelek!”

Perempuan tersebut dengan terdiam hanya tersenyum dengan senyuman pucat dan bersalah, dan ketika pergi, dia akan membawa sesuatu kerja, yang diberikan oleh Gomozov.

Mereka sering saling tidak melihat. Akan tetapi kadang-kadang, ketika mereka bertemu di halaman stasiun, Gomozov akan berbisik:

“Singgahlah malam ini…”

Dan perempuan tersebut secara patuh akan datang dengan raut yang sangat serius, seperti yang terlihat pada wajah bopengnya, seakan-akan dia datang untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban, sesuatu yang maha penting, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali lagi muncul, dalam perjalanan pulang ke rumah, raut wajah bersalah, raut wajah takut yang beku dan biasanya terhadap Gomozov.

Kadang-kadang perempuan itu berhenti di suatu sudut tersendiri atau di balik pohon untuk berlama-lama memandang ke arah padang stepa. Malam di sana berkuasa dan lantaran keheningan yang suram, hatinya dipenuhi dengan kengerian.

Suatu hari, setelah mengantarkan kereta api sore, para pekerja stasiun duduk untuk minum teh di halaman, di depan jendela rumah Matvei Yegorovich, di bawah rimbunnya beberapa pohon topol[10].

Mereka sering minum teh di sana, ketika hari terasa panas – mereka memasukkan selingan yang khusus ke dalam kemonotonan hidup sendiri.

Setelah memperbincangkan kesan-kesan yang dapat dikatakan mengenai kereta terakhir, mereka meminum teh dan terdiam.

“Hari ini lebih panas dari hari kemarin,” kata kepala stasiun, sambil mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan gelas kosong kepada istrinya dan menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang lainnya.

Istrinya, seraya mengambil gelas, berkata:

“Tampaknya, itu karena kau kebosanan, jadi terasa lebih panas…”

“Hm, mungkin kau memang benar…Dalam keadaan seperti ini, baik juga bermain kartu. Akan tetapi kita hanya bertiga.”

Asistennya mengangkat bahu dan setelah memicingkan matanya, dengan saksama dia berkata:

“Permainan kartu, menurut Schopenhauer[11], menunjukkan adanya kebangkrutan pikiran.”

“Pandai sekali!” Matvei Yegorovich tersentuh. “Apakah itu tadi? Kebangkrutan pikiran, hm. Siapa yang mengatakannya?”

“Schopenhauer, orang Jerman, Filsuf.”

“Seorang filsuf? Hm…”

“Filsuf-filsuf itu – apakah mereka bekerja di universitas?” tanya Sofia Ivanovna ingin tahu.

“Bagaimana saya menjelaskannya kepada Anda? Menjadi filsuf bukanlah pekerjaan, tetapi kemampuan natural, begitulah yang dapat dikatakan. Siapa saja dapat menjadi seorang filsuf – siapa pun yang dilahirkan dengan kecenderungan berpikir dan mencari awal dan akhir dalam segala hal. Tentu saja, para filsuf kadang-kadang dapat dijumpai di universitas, tetapi mereka bisa ditemui di mana saja – bahkan di tempat kerja rel kereta.”

“Dan apakah mereka banyak menghasilkan uang – filsuf-filsuf yang ada di universitas itu?”

“Bergantung pada kemampuan mereka.”

“Kalau saja kita punya partner keempat, kita bisa menghabiskan beberapa jam yang menyenangkan,” kepala stasiun menghela nafas panjang.

Dan perbincangan terhenti lagi.

Tinggi di atas langit biru burung-burung djavoronok[12]bernyanyi, burung-burung murai berlompatan dari satu cabang ke cabang pohon topol yang lain, bersiul dengan lembut. Dari dalam rumah terdengar tangisan bayi.

“Arina di sana?” tanya kepala stasiun.

“Tentu saja,” jawab istrinya dengan ringkas.

“Ada sesuatu yang sangat orisinal dari perempuan itu, kau memperhatikannya, Nikolai Petrovich?”

“Keorisinalan adalah impresi pertama dari kebanalan[13],” Nikolai Petrovich berkata, seolah-olah mengenai diri sendiri, dengan rupa terpekur dan berpikir.

“Apatah itu?” kepala stasiun merasa jadi lebih gembira.

Dan ketika Nikolai Petrovich mengulang kembali kata-kata mutiara tersebut agar dengan jelas dapat difahami, dengan penuh kenikmatan sang kepala stasiun sedikit agak memejamkan matanya, sementara Sofia Ivanovna mengucapkan kata-kata dengan nada yang tenang:

“Anda dengan baik mengingat, apa yang Anda baca…sedangkan saya, saya membaca dan di hari berikutnya, ini di sepanjang hidup saya, saya tidak ingat apapun juga. Bahkan belum lama ini saya baru saja membaca sesuatu yang menarik, yang menghibur di Niva,[14] tetapi apa? Tidak ada satu kata pun yang saya ingat!”

“Semua hanya masalah kebiasaan,” jelas Nikolai Petrovich dengan singkat.

“Tidak, itu bahkan lebih baik dari yang tadi – siapa nama dia? Schopenhauer…” kata kepala stasiun dengan tersenyum. “Dengan kata lain, segala sesuatu yang baru akan menjadi tua!”

“Atau bahkan sebaliknya, karena, seorang sastrawan mengatakan: ‘Dan, kebijaksanaan eksistensi sederhana: semua yang baru di dalamnya dijadikan dari yang lama’.”

“Ah kau ini, brengsek betul! Dari mana kau peroleh kata-kata begitu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu, seperti keluar dari penapis[15]!”

Kepala stasiun tertawa dengan rasa senang, istrinya tersenyum manis dan Nikolai Petrovich merasa tersanjung dan berusaha dengan percuma untuk menyembunyikan rasa puasnya.

“Siapa yang berbicara mengenai kebanalan?”

“Baratinsky[16], sastrawan.”

“Dan yang satunya lagi?”

“Sastrawan juga, Fofanov[17].”

“Orang-orang pintar,” kata kepala stasiun dengan penerimaannya yang baik terhadap para sastrawan tersebut dan dengan suara menembang dia mengulangi kembali petikan itu, senyum puas tampak terlihat di wajahnya.

Rasa jemu terhadap hidup sendiri menyebabkan mereka melakukan semacam permainan; itu, barang sebentar, akan melepaskan mereka dari genggaman jenuh, tetapi setelahnya kejenuhan tersebut akan mencengkram mereka lebih keras lagi. Kemudian mereka akan kembali jadi bisu dan duduk di sana dengan diterpa panas, yang hanya mempertambah minum teh mereka.

Tidak ada apa-apa di sana, kecuali matahari di atas padang stepa.

“Seperti yang aku katakan mengenai Arina,” kepala stasiun mengingatkan. “Dia perempuan yang aneh. Aku memandangnya dan merasa heran. Seakan-akan dia itu sangat terpukul oleh sesuatu apa,– tak pernah tertawa, tak pernah menyenandung, hampir tak pernah bicara…seperti tunggul pohon di atas tanah. Akan tetapi dia memang bekerja dengan sangat baik dan begitulah, Anda sendiri tahu, bagaimana dia menjaga Lolya,[18] sang bayi, bagaimana dia sangat perhatian terhadapnya.”

Kepala stasiun berbicara dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Arina mendengar kata-katanya lewat jendela. Dia sadar betul, jika tidak mau para pembantu jadi besar kepala, jangan memberikan pujian kepada mereka. Sonya menginterupsinya dan mengerutkan seluruh dahinya dengan penuh isyarat:

“Cukupkan untuk bicara terlalu banyak. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai dia.”

Cinta seorang budak,

            Aku begitu lemah,

            Dalam peperangan denganmu,

O, iblisku!

Senandung Nikolai Petrovich dengan perlahan, seraya memukul-mukulkan, dengan irama yang teratur, sendoknya ke atas meja. Dia kemudian tersenyum.

“Apa? Apatah itu maksudnya? Dia? Arina? Kalian pasti berolok-olok, kalian berdua!”

Dan kepala stasiun tiba-tiba tertawa keras. Pipinya berguncang-guncang dan butiran keringat menetes dengan cepat dari keningnya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” kata Sonya mencoba menghentikan tingkah laku suaminya. “Pertama, dialah yang bekerja menjaga sang bayi, dan kedua – lihatlah bagaimana roti ini? Hangus dan rasanya jadi agak masam. Dan sebabnya apa?”

“Ya, roti itu memang tidak boleh seperti itu. Kau harus menegur dia karena hal ini! Akan tetapi, demi Tuhan! Aku tak pernah mengira! Perempuan itu sendiri kan hanya seperti racikan gumpalan terigu! Ah, brengsek betul, Dan laki-laki itu, siapa dia? Luka? Aku akan ejek dia, laki-laki bajingan! Atau Yagodka – si tua kelimis?”

“Gomozov,” kata Nikolai Petrovich, ringkas.

“Dia? Laki-laki pendiam itu? Ayolah, kau pasti mengada-ada, benar?”

Kepala stasiun sangat senang terhadap kejadian yang sangat menggelikan tersebut. Kadang dia terbahak-bahak sampai matanya basah, kadang dengan serius dia mengatakan tentang keharusan untuk menegur secara keras orang-orang yang tengah mencinta itu, kemudian dia membayangkan percakapan-percakapan yang mesra di antara keduanya dan sekali lagi dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Akhirnya dia merasa tertarik untuk mengetahui rincinya. Wajah Nikolai Petrovich seketika itu juga, tak pelak lagi jadi menegang dan Sofia Ivanovna berusaha menghentikan kemauan suaminya secara keras.

“Dasar bajingan! Aku akan memperolok-olok mereka! Ini sangat menarik,” kata kepala stasiun, yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Pada saat itu Luka datang dan dia memberitahukan:

“Telegrap berbunyi,”

“Aku akan datang. Berikan sinyal nomor 42.”

Dengan segera dia dan asistennya berjalan ke stasiun dan di sana Luka sedang menarik-narik lonceng dengan sekeras-kerasnya untuk memberikan sinyal kedatangan kereta. Nikolai Petrovich duduk, mendekati peralatan dan mengirimkan kawat ke stasiun berikutnya: ‘Dapatkah saya berangkatkan kereta nomor 42’, sedang kepala stasiun berjalan ke sana kemari di atas lantai kantor tersebut, seraya tersenyum sendiri dan berkata:

“Kau dan aku akan menggoda mereka, orang-orang brengsek itu…Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Setidak-tidaknya kita akan sedikit tertawa.”

“Ya, itu diperbolehkan,” kata Nikolai Petrovich, sambil menggerakkan kunci telegrap.

Dia tahu, bahwa kaum filsuf harus bertindak secara ringkas dan padat.

Sesegeranya, setelah itu, datang kesempatan kepada mereka untuk tertawa.

Pada suatu ketika, di malam hari, Gomozov datang menemui Arina di gudang bawah tanah dan di sana, atas permintaan Gomozov dan dengan persetujuan istri kepala stasiun, Arina membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri, yang ada di antara berbagai macam barangrongsokan rumah tangga. Di tempat ini terasa lembabdan dingin; dan bangku-bangku rusak, tong-tong kayu, papan-papan dan semua barang bekas lainnya membentuk wujud-wujud yang menakutkan di dalam gelap; ketika Arina sendirian, dia begitu ketakutan, sampai-sampai dia tidak dapat tidur dan hanya akan berbaring di atas jerami dengan mata terbuka lebar, sambil menggumamkan doa-doa, yang dia ketahui.

Gomozov yang telah datang itu, dalam waktu yang lama mengkusutkan pikirannyadan menekannyadengan tidak mengatakan sepatah kata pun, kemudian jadi lelah dan jatuh tertidur. Akan tetapi dengan segera Arina membangunkannya dengan bisikan yang penuh rasa khawatir:

“Timofei Petrovich![19] Timofei Petrovich!”

“Ada apa?” jawab Gomozov, setengah tersadar.

“Mereka mengunci kita.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya, seraya melompat bangun.

“Mereka mendekati pintu dan…mengunci gemboknya.”

“Kau berbohong!” Dia berbisik dengan ketakutan dan penuh amarah, sambil mendorong Arina menjauh dari dirinya.

“Lihatlah sendiri,” jawab perempuan itu dengan rasa tunduk.

Gomozov bangun, berjalan terhuyung-huyung, menabrak semua barang-barang, yang dia jumpai, ketika melangkah, mendekati pintu dan berusaha mendorongnya; dan setelah agak terdiam, dia berkata dengan murung:

“Semua ini pekerjaan si serdadu.”

Ledakan tawa terdengar dari balik pintu.

“Keluarkan kami!” pinta Gomozov dengan suara yang keras.

“Apa?” terdengar suara sang serdadu.

“Keluarkan kami, kataku…”

“Besok pagi,” kata sang serdadu, sambil pergi menjauh.

“Brengsek, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku!” Gomozov berteriak dengan marah dan memohon.

“Aku akan mengerjakan semua tugasmu. Diamlah baik-baik di sini.”

Dan serdadu itu pun pergi.

“Kau anjing buduk!” geram sang pelangsir dengan perasaan tidak karuan. “Tunggu…kau tidak boleh mengurung aku di sini seperti ini. Itu kepala stasiun. Apa yang kau katakan kepada kepala stasiun? Dia akan bertanya: di mana Gomozov kan? Kalau begitu kau jawablah…”

“Saya takut, kepala stasiunlah yang memerintahkan si serdadu untuk melakukan hal ini,” kata Arina dengan lirih dan tanpa harapan.

“Kepala stasiun?” ulang Gomozov dengan takut. “Mengapa dia mesti memerintahkan si serdadu melakukan hal seperti ini?” Dan, setelah beberapa saat terdiam, dia kemudian berteriak kepada perempuan tersebut: “Kau berbohong!”

Arina menjawab hanya dengan helaan nafas yang dalam.

“Ya, Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?” kata sang pelangsir dan dia duduk di atas tong kayu di dekat pintu. “Cemarlahaku ini. Dan semuanya salahmu, monster jelek!”

Dan setelah mengepalkan tangan, Gomozov mengacung-acungkan kepalan tangan tersebut ke arah terdengarnya helaan nafas Arina. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mereka diselubungi bayangan-bayangan kelabu – bayangan yang dipenuhi oleh bau acar kubis dan jamur serta bau sengit lainnya, yang menggelitik cuping hidung. Berkas-berkas tipis sinar bulan masuk melewati celah pintu. Dari luar terdengar suara gemuruh kereta barang, meninggalkan stasiun.

“Hei, kau, perempuan kuntilanak! Mengapa kau tak bicara apa-apa?” kata Gomozov, dengan marah dan memandang rendah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau menyurukkan aku ke dalam kesulitan ini dan sekarang kau tak mengatakan apa-apa? Pikirkan jalan keluarnya, brengsek, apa yang akan kita lakukan? Kemana aku harus sembunyi dari rasa malu ini? Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa berhubungan dengan mahluk yang seperti ini!”

“Maafkanlah saya,” kata Arina dengan pelan.

“Heh?”

“Mungkin saya akan dimaafkan.”

“Apa artinya untukku? Baiklah, kau akan dimaafkan; lantas hasilnya apa? Kecemaran itu akan tetap ada padaku atau tidak? Sama saja, aku akan ditertawakan .”

Setelah dalam beberapa saat terdiam, Gomozov mulai memaki-maki dan mencerca-cerca perempuan itu lagi. Waktu bergerak dengan berat dan pelan. Akhirnya perempuan tersebut berkata kepada Gomozov dengan suara gemetar:

“Maafkanlah saya, Timofei Petrovich.”

“Dengan kapak di kepalamu itu, baru kau aku maafkan!” bentak Gomozov.

Dan kembali muncul keheningan, kesuraman dan ketertekanan, keterpenuhan rasa sakit yang hampa bagi dua orang, yang terpenjara di dalam kegelapan.

“Ya, Tuhan! Sekiranya saja segera datang benderang,” dengan keterpiluan Arina memohon.

“Diamlah kau… Aku yang akan menunjukkan kepadamu bagaimana terang!” Gomozov mengancam dan sekali lagi mulai melontarkan rentetan-rentetan makian terhadap perempuan itu. Kemudian datang lagi siksaan karena keheningan dan kebisuan. Dan kebengisan waktu semakin bertambah dengan mendekatnya fajar, seakan-akan setiap menit itu menghilang dengan berlambat-lambat, seperti disenangkan oleh situasi yang menggelikan dari dua orang tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gomozov tertidur dan dibangunkan oleh kokok ayam jantan, yang ada di luar gudang.

“Hei, nenek penyihir! Kau tidur?” tanya Gomozov dengan meredam.

“Tidak,” jawab Arina, dengan helaan nafas.

“Kalau begitu kau tidur saja!” Gomozov dengan mengejek menawarkan. “Ah, kau ini!”

“Timofei Petrovich!” kata Arina, hampir seperti menjerit. “Jangan marah dengan saya! Kasihanilah saya! Atas nama Kristus, saya memohon – kasihanilah saya! Saya betul-betul sendiri, tanpa seorang pun di dunia ini. Kau – kau satu-satunya yang aku miliki. Betapapun, kita…”

“Berhentilah meratap! Jangan membuat orang tertawa!” Gomozov memotong dengan kasar lenguhan histeris dari sang perempuan, yang meski demikian sedikit melunakkan hatinya. “Diamlah, kau – perempuan bodoh.”

Dan kemudian, tanpa berkata sepatah pun, mereka menunggui jalannya setiap menit yang berurutan. Akan tetapi lintasan menit tersebut tidak membawakan mereka apa-apa. Akhirnya sinar matahari datang melewati celah pintu, saling bersilang melalui kegelapan dalam bentuk berkas-berkas cahaya. Suara langkah terdengar dari luar gudang. Seseorang datang mendekati pintu, berdiri sebentar di sana dan kemudian pergi menjauh.

“Hei, setan!” Gomozov meraung, sambil meludah penuh kemarahan. Sekali lagi mereka menanti di dalam keheningan yang menegangkan.

“Ya, Tuhan, kasihanilah…” Arina berbisik.

Suara langkah yang diam-diam, rasa-rasanya, terdengar. Tiba-tiba ada bunyi gembok dibuka dan suara keras kepala stasiun terdengar.

“Gomozov!” teriaknya. “Pegang tangan Arina dan keluarlah kalian! Penuh rasa semangat, Gomozov! Semangat!”

“Ke sini, kau,” gumam Gomozov. Arina menghampiri dan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

Pintu terbuka dan di sana berdiri kepala stasiun. Dia menundukkan kepala, tanda takzim dan berkata:

“Selamat atas perkawinan kalian! Ayo, mainkan musik!”

Gomozov melangkah keluar melalui ambang pintu dan dia dihentikan oleh gemuruh suara, yang memekakkan telinga. Luka, Yagodka dan Nikolai Petrovich berdiri di depan pintu. Luka memukul-mukul bagian bawah ember dengan kepalan tangannya dan berteriak dengan sekuat-kuatnya dalam suara tenor yang melengking; sang serdadu meniup horn dari kaleng; Nikolai Petrovich, yang pipinya menggelembung, menggerak-gerakkan tangannya seperti ombak dan melalui bibirnya, seolah-olah, dia meniup sebuah terompet:

“Pom! Pom! Pom-pom-pom!”

Dari ember dihasilkan bunyi berdetam; suara yang melengking dan meraung keluar dari horn. Kepala stasiun tergelak, sampai terbungkuk-bungkuk memegangi bagian rusuknya. Asistennya juga terbahak-bahak, sambil melihat pada Gomozov, yang tampak ternganga dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar, yang tergurat di dalam senyum karena malu. Di belakangnya Arina berdiri, kepalanya tertunduk sampai ke dada, dia seperti tak bergerak dan seolah-olah telah berubah menjadi sebongkah batu.

Arina mengatakan kepada Timofei

            Kata-kata yang manis

 

            Luka menyanyikan hal-hal yang sepele dan menunjukkan wajahnya tampaktidak menyenangkan terhadap Gomozov. Sedangkan sang serdadu berjalan ke arah tempat Gomozov berdiri dan membunyikan horn-nya di telinga Gomozov, dia terus memainkannya, terus memainkan.

“Ayo, jalan, ayo…pegang tangan Arina!” teriak kepala stasiun, agak tertahan karena bahak tawanya. Tubuh Sonya, sang istri, yang duduk di serambi, terguncang-guncang karena gelak tawa dan dia berteriak histeris:

“Oh, oh! Hentikanlah! Aku bisa mati!”

Lantaran momen bahagia ini

Aku benar-benar sabar menderita

 

Nikolai Petrovich bersenandung, tepat di depan wajah Gomozov.

“Hore! Kepada pengantin baru, selamat!” teriak kepala stasiun, ketika Gomozov melangkah ke depan. Dan semuanya, keempat orang tersebut berteriak dengan serempak hore, tambahan lagi sang serdadu berteriak dengan suara bas yang menderam.

Arina melangkah di belakang Gomozov. Kepalanya sekarang terangkat, mulutnya ternganga dan tangannya terjuntai lemah di kedua belah pinggangnya. Matanya sayu menatap apa, yang ada di hadapannya, tetapi, bahwa kedua mata tersebut melihat sesuatu, itu diragukan.

“Buatlah mereka saling mencium! Ha…ha…ha!”

“Sebuah ciuman saja, pengantin baru!” teriak Nikolai Petrovich, sedang Matvei Yegorevich bahkan bersandar dengan lemah pada sebatang pohon dan karena tertawa kedua kakinya tidak lagi dapat menopang dirinya. Dan ember terus bersuara, horn berbunyi, menjerit, menggoda, dan Luka agak sedikit menari, ketika dia bernyanyi:

Dan kau, Arina, untuk kami

            Membuatkan sup kubis yang terlalu kental!

            Nikolai Petrovich sekali lagi mengeluarkan udara dari pipinya, yang digelembungkan:

“Pom-pom-pom! Toot-toot-toot! Pom-pom! Toot-toot-toot!”

Ketika Gomozov telah sampai di pintu barak, dia menghilang. Tinggal Arina berdiri di halaman dengan di kelilingi oleh sekelompok manusia liar, yang berteriak, tertawa dan bersuit-suit di telinganya; dan berjingkrak-jingkrak di sekitarnya dalam keriangan yang sangat gila. Dia berdiri di sana, di hadapan mereka dengan wajah yang tak bereaksi – kotor, tidak rapi, menyedihkan, dan absurd.

“Pengantin lelaki pergi menghilang dan meninggalkannya di belakang,” kata kepala stasiun kepada istrinya, sambil menunjukkan jari ke arah Arina dan tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

Arina menolehkan kepalanya ke arah kepala stasiun dan kemudian dia berjalan melewati barak, keluar menuju ke padang stepa. Kepergiannya disertai oleh teriakan, siulan dan gelak tawa.

“Cukup! Jangan usik dia lagi!” teriak Sofia Ivanovna. “Biarkan dia sendiri. Nanti dia harus meyiapkan makan siang.”

Arina pergi keluar menuju ke padang stepa; keluar melewati garis pemisah ke ladang gandum, yang berbulu kasar. Dia berjalan dengan pelan, seperti orang yang tenggelam dalam tafakur.

“Bagaimana, bagaimana?” berkali-kali kepala stasiun bertanya kepada mereka-mereka, yang ikut dalam percandaan yang tadi, yang menceritakan kepada satu sama lainnya detil-detil kecil dari rincian perilaku sang pengantin baru. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak. Dan bahkan, di dalam hal ini, Nikolai Petrovich mendapatkan kesempatan untuk memasukkan salah satu mutiara bijaknya:

Tertawa, pada apa, yang tampaknya jenaka

Benar-benar, bukanlah dosa

 

Hal ini dia katakan kepada Sofia Ivanovna, seraya menambahkan secara meyakinkan, “tetapi jika tertawa terlalu banyak, itu berbahaya.”

Pada hari itu, di sana, di stasiun telah terjadi gelak tawa yang riuhnya bukan main, tetapi makan siang jadi sangat buruk, karena Arina tidak datang untuk memasak dan pekerjaan tersebut terlimpah kepada istri kepala stasiun. Bahkan makan siang yang jelek itu tidak mampu menghancurkan suasana hati yang cerah. Gomozov tidak keluar dari barak sampai datang waktu, ketika dia harus mengerjakan tugasnya. Saat dia keluar, dia dipanggil ke kantor kepala stasiun dan di sana Nikolai Petrovich, dengan disertai kekehan Matvei Yegorovich dan Luka, menanyai Gomozov mengenai, bagaimana dia dapat memikat hatiperempuan cantiknya.

“Berdasarkan keorisinalannya – ini adalah kejatuhan laki-laki nomor wahid,” kata Nikolai Petrovich kepada kepala stasiun.

“Ya kejatuhan itu ada,” kata Gomozov yang tampak tenang dan serius dengan senyum kecutnya. Dia menyadari, bahwa seandainya dia dapat memberikan cerita, yang akan membuat Arina tampak menggelikan, maka dia sendiri akan sedikit terhindar dari terpaan gelak tawa. Dan dia bercerita:

“Mulanya perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya kepadaku.”

“Mengedipkan mata? Ha, ha, ha! Bayangkan itu, Nikolai Petrovich, bagaimana dia, Arina, dengan raut yang begitu, mengedipkan matanya kepada Gomozov? Itulah dia daya pikat!”

“Jadi, dia mengedipkan mata, sedang saya hanya memandang dan berpikir mengenai diri sendiri – kau nakal, perempuanku! Kemudian, akhirnya, dia berkata: kau mau, dia berkata begini, saya akan jahitkan kau beberapa kemeja.”

“Tetapi ‘di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya’,” kata Nikolai Petrovich memperhatikan, seraya menambahkan kepada kepala stasiun dengan penjelasan: “Itu, Anda tahu, dari Nekrasov[20]– dari salah satu sajaknya yang berjudul ‘Ubogaya i Naryadnaya’.[21] Teruskan, Gomozov.”

Dan Gomozov melanjutkan, pertama-tama dengan memaksa-maksa, tetapi sedikit demi sedikit dia memperoleh inspirasi dari dusta-dustanya, karena dia melihat, bahwa kebohongan-kebohongan itu berfaedah bagi dirinya.

Sementaraitu perempuan yang sedang dibicarakan Gomozov, berbaring di atas padang stepa. Dia sudah berjalan jauh ke luar, masuk ke dalam lautan gandum dan di sana dia membenamkan diri dengan susah hati ke atas tanah dan berbaring tanpa bergerak. Ketika dia tidak sanggup lebih lama lagi menahan panasnya sinar matahari, yang mendera punggungnya, dia berbalik dan melindungi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi pandangan ke langit yang terlalu terang, ke arah matahari yang sangat menyilaukan.

Pohon-pohon gandum yang ada di seputaran perempuan, yang telah diremukkan oleh perasaan malu itu, berdesir lembut; belalang-belalang yang tak terkira jumlahnya, mengerik secara kontinyu dan teratur. Hari, rasanya, panas. Perempuan tersebut berusaha untuk berdoa, tetapi dia tidak dapat mengingat kata-kata doa. Wajah-wajah yang penuh ejekan menari-nari di depan matanya. Telinganya dipenuhi oleh suara gelak tawa, horn yang menjerit dan lengkingan dari Luka. Karena itu, atau karena panas yang membuat dadanya terkerut; dan dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya ke arah matahari, sambil berharap akan menjadikannya lebih mudah bernafas. Sinar matahari membakar kulitnya; sesuatu yang terasa panas tampaknya menggurdi[22]di dalam dadanya; nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Tuhan, kasihanilah…” bisik lirih Arina dari waktu ke waktu.

Akan tetapi jawaban yang datang hanyalah dari desiran pohon gandum dan suara belalang yang mengerik. Sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dari pohon gandum yang berombak, dia melihat kilauan pohon gandum yang keemasan, menara air berwarna hitam yang menjulang ke udara terbuka, di luar stasiun, dan atap dari bangunan stasiun. Tidak ada sesuatu yang lain di atas dataran berwarna kuning yang tak bertepi, yang diselubungi oleh lengkung langit biru; dan tampaklah pada Arina, bahwa dia sendirian di seluruh dunia ini dan dia berbaring di tengah-tengahnya, seorang pun tidak ada yang pernah datang untuk membebaskannya dari beban rasa sepi. Seorang pun, tidak pernah…

Menjelang malam perempuan itu mendengar teriakan:

“Arina-a! Arina, kau dengar!”

Suara yang satu itu milik Luka, sedang yang kedua milik sang serdadu. Perempuan tersebut berharap mendengar suara yang ketiga, tetapi laki-laki itu tidak memanggilnya dan oleh karena itulah dia meneteskan limpahan airmata, yang mengalir deras di atas pipi bopengnya. Dan ketika dia menangis, dia menggosok-gosokkan dada telanjangnya pada tanah yang kering dan hangat untuk menghentikan perasaan membaranya, yang akan menjadikan dirinya semakin lama, semakin disengsarakan. Perempuan itu menangis, dan kemudian menghentikan tangisnya, sambil menahan isakannya, seakan dia takut seseorang akan mendengar dan melarangnya menangis.

Ketika malam sudah datang, dia bangun dan dengan perlahan dia berjalan pulang menuju ke stasiun.

Saat dia sudah sampai di bangunan tersebut, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang, untuk waktu yang cukup lama dia memandangi padang stepa. Kereta barang datang dan pergi, dan perempuan itu mendengar, ketika sang serdadu menceritakan kisah malu dirinya kepada para awak kereta, yang tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka dibawa jauh keluar, menuju ke padang stepa dan di sana marmut-marmut bersuara dengan lirih.

“Tuhan, kasihanilah,” perempuan itu menghela nafas, sambil menekan tubuhnya pada dinding gudang. Akan tetapi   helaan nafasnya tidak mampu mengurangi beban hatinya.

Menjelang pagi dia naik ke atas, masuk ke dalam loteng stasiun dan menggantung dirinya dengan tali pakaiannya.

Dua hari kemudian bau mayat Arina menuntun orang-orang untuk menemukannya. Mula-mula mereka takut, tetapi kemudian mereka mulai membicarakan, siapa yang mungkin bersalah atas apa, yang terjadi. Nikolai Petrovich, tanpa bisa dibantah, memperlihatkan, bahwa Gomozov-lah yang bersalah. Kepala stasiun memberikan kepada pelangsir tersebut sebuah pukulan ke bagian rahang dan memerintahkan Gomozov untuk tetap diam.

Orang yang berwenang datang dan melakukan investigasi. Akhirnya diketahui, bahwa Arina mengalami derita hati karena melankolia – kemurungan jiwa. Beberapa pekerja rel kereta api diperintahkan untuk membawa mayat Arina keluar, ke padang stepa dan menguburkannya di sana. Semua telah terjadi, kedamaian dan ketentraman sekali lagi berkuasa di stasiun kereta tersebut.

Dan sekali lagi orang-orang yang tinggal di sana hidup selama empat menit dalam sehari, merana karena rasa sepi dan jenuh, karena panas terik dan ketiadaan pekerjaan, memandang dengan rasa iri, kereta-kereta yang cepat pergi, meninggalkan mereka.

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada. (*)

 

*Cerita karya Maxim Gorky ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti adalah penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov dan sebagian penulis besar Rusia lainnya. Setelah menamatkan studi di Rusia penulis kini tercatat sebagai pengajar di Jurusan Sastra FIB UNPAD. Penulis bisa dihubungi dihubungi melalui email: larakajati@yahoo.com

 

 Catatan Kaki:

[1] Ketel teh khas Rusia

[2] Nama diminutif Sofia

[3] Sebutan untuk lembaga pendidikan menengah umum

[4] Ukuran panjang Rusia kuno, setara 1,06 km

[5] Sepuluh kopek

[6] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[7] Nama kota, letaknya 196 kilometer dari sebelah tenggara kota Moskow

[8] Kota terbesar keempat setelah kota Moskow, Saint Petersburg dan Novosibirsk. Dari tahun 1932 sampai tahun 1990 kota ini dikenal dengan nama Gorky, karena Maxim Gorky dilahirkan di Nizhny Novgorod

[9] Divisi teritorial dan administratif terendah di Rusia tahun 1708-1929, sekarang rayon

[10] Poplar, sejenis pohon dari kelas pohon willow

[11] Arthur Schopenhauer (22 Pebruari 1788-21 September 1860) termasyur dengan karyanya ‘the World as Will and Representation’. Schopenhauer memformulasikan filsafat yang pesimistik, yang memandang hidup, pada dasarnya, menjadi jahat, gagal dan penuh derita. Filsafatnya ini memperoleh sandaran yang kuat setelah kegagalan revolusi Jerman dan Austria tahun 1848. Akan tetapi melalui pemikiran Timur, dia melihat adanya penyelamatan, pembebasan atau lari dari derita dalam renungan estetis, rasa simpati pada orang lain dan perikehidupan menyepi

[12] Lark, burung yang gemar bernyanyi dari kelas burung gereja atau burung pipit

[13] Hal yang bersifat biasa sekali, dangkal, atau umum

[14] Majalah mingguan untuk bacaan keluarga, terbit di Saint Petersburg (1870-1918)

[15] Saringan

[16] Penulis Rusia Evgeny Baratinsky (1800-1844) merupakan penulis elegi, epigram, filsafat, lirik, sajak, prosa dan prosa liris.

[17] Penulis Rusia Konstantin Fofanov (1862-1911) merupakan penulis lirik, sajak, prosa liris dan epigram

[18] Nama diminutif Elena

[19] Timofei Petrovich Gomozov

[20] Nikolai Nekrasov (1821-1877/1878) merupakan penulis puisi, puisi satiris, prosa liris, prosa dan drama. Penulis Rusia yang melanjutkan tradisi Pushkin dan Lermontov. Karya-karyanya sangat berpengaruh pada perkembangan puisi-puisi demokratis paruh kedua abad 19

[21] Beggarly and Smart, petikan di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya diambil dari baris terakhir bagian 1 ‘Karangan dalam Tiga Jilid’ Nekrasov. Sajak ini ditulis pada tahun 1859

[22] Men-drill atau mengebor

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending