Connect with us

Cerpen

Kaisar dan Gadis Kecil

mm

Published

on

TAK PUTUSNYA bulan keluar-masuk awan malam itu dan seluruh urat saraf menjadi tegang karena tiap saat dikejutkan oleh manusia atau setan di bayangan remang, dan awan berkejaran di langit; ada yang putih-bening hingga bulan kelihatan menerawang, ada yang kelihatan seperti diselimuti bulu-bulu cokelat, ada yang hitam besar dan bulan pasti lenyap kalau tertangkap. Orang-orang yang ketakutan mengunci pintu dan mereka berhangat-hangat di dalam rumah, di balik tirai yang menolak malam kelam, tetapi ada yang lalu menjadi gundah dan keluarlah mereka mengintai bulan. Mereka suka malam gelap dan mereka berkhayal tentang dunia yang tak tampak, dan keluarlah makhluk-makhluk ajaib dari keremangan menemaninya.

Pada malam itu lebih aman keluar waktu gelap karena siang hari di situ terjadi pertempuran antara orang-orang Inggris-Prancis melawan Jerman. Waktu siang semua berlindung di bawah tanah, sebab kalau kelihatan kepala muncul terus saja: dor! Ditembak Tirai-tirai digantungkan di situ untuk mencegah orang-orang berkeliaran di tanah lapang, tapi tidak serupa tirai jendela, melainkan granat-granat, kepingan-kepingan bom yang menghujam bertubi-tubi, meledak memecah tanah, menghancurkan manusia, ternak dan tanaman; karena itu disebut tirai api. Waktu malam tidak ada tirai api, dan prajurit-prajurit jaga malam tak mudah melihat orang di dalam gelap. Tapi bahaya tetap ada; jadi tak mungkin kita mengingat-ingat setan atau perampok. Bahkan, mau tak mau, kita harus memikirkan granat dan peluru, memikirkan mereka yang masih bergelimang di tempat mereka terbunuh atau mendapat luka. Maka tidaklah mengherankan, bahwa tak ada orang yang berjalan-jalan menikmati bulan atau menonton kembang api, sebab memang tak ada kembang api. Pada waktu-waktu tertentu, prajurit-prajurit jaga malam melemparkan granat yang bercahaya ke langit dan menyinari orang-orang dan barang yang ada di bawah. Maka terus saja orang-orang itu menjatuhkandiri dan pura-pura mati sampai suasana menjadi gelap kembali. Mereka adalah mata-mata yang sedang mengintai lawannya, orang-orang yang mencari kawannya yang luka atau yang sedang memasang kawat berduri di sekitar lubang perlindungan.

Kira-kira jam setengah dua belas lebih sedikit. Di suatu tempat yang sunyi, di mana tak ada orang merunduk-runduk, dan terlalu jauh dari sinar granat cahaya, datanglah seorang berjalan dan melangkah panjang dengan ganjilnya, sebab ia tak mencari orang-orang yang luka. Ia bukan mata-mata dan tidak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan tentara; ia hanya berjalan-jalan saja, berhenti, berjalan lagi, dan ia tak pernah membungkuk untuk mengangkat sesuatu. Terkadang, kalau ada granat cahaya yang terlalu dekat sehingga ia tampak terang, ia berhenti dan berdiri tegak sambil melipat tangannya. Setelah gelap kembali ia berjalan lagi, melangkah seperti orang yang angkuh, meskipun ia harus hati-hati menampakkan kakinya karena tanah penuh rongga dan berlubang akibat granat dan kepingan-kepingan bom, dan jangan sampai mayat prajurit terinjak olehnya. Ia bersikap angkuh dan tinggi hati, karena ia Kaisar Jerman. Kalau ia ada di suatu sudut tertentu antara kau dengan bulan, atau granat cahaya, akan kau lihat pucuk kumisnya yang melengkung ke atas, persis seperti pada potret-potretnya. Tapi umumnya ia tidak tampak karena gelap, kecuali jika kau mendekatinya.

Malam itu gelap sekali, dan meskipun ia berjalan hati-hati, namun ia terjerumus ke sebuah lubang ranjau dan hampir saja jatuh tersungkur. Tapi ia selamat karena tangannya berhasil menjagkau sesuatu. Dikiranya segebung rumput, tapi rupanya janggut orang Prancis, dan orang Prancis itu sudah mati. Ketika itu bulan menjenguk sebentar dan tampak oleh Sang Kaisar sejumlah mayat prajurit; orang-orang Prancis dan Jerman yang bergelimpangan di dalam lubang, dan tampaknya mayat-mayat itu memandanginya dengan tajam.

Sang Kaisar terkejut setengah mati. Sebelum ia sempat berpikir, meluncurlah kata-kata Jerman dari mulutnya, “Ich habe es nicht gewollt,” atau ‘bukan salahku’, atau ‘bukan maksudku,’ atau terkadang ‘bukannya aku’; seperti pembelaan seseorang yang dipersalahkan karena telah berbuat sesuatu. Lalu ia merangkak keluar dari lubang dan berjalan lagi ke arah yang lain. Tetapi hatinya tidak enak, maka dirasanya perlu duduk sebentar. Sesungguhnya ia dapat berjalan terus kalau dipaksa, tapi peti mesiu yang didudukinya itu terlalu enak untuk ditinggalkan begitu saja, sehingga diputuskannya istirahat sebentar sampai ia segera kembali.

            Peristiwa selanjutnya sungguh tak terduga, sebab sesuatu berwarna cokelat datang menghampirnya dari kegelapan, dan mungkin dikiranya itu seekor anjing, tapi didengarnya benda itu berdenting disertai suara langkah kaki. Setelah dekat, tampak olehnya seorang gadis kecil, terlalu kecil untuk berkeliaran jam dua belas kurang seperempat tengah malam.

Suara denting-denting itu disebabkan oleh panci kaleng yang dibawanya. Dan ia menangis, tidak keras, hanya tersedu-sedu. Ketika dilihatnya Sang Kaisar, ia tidak menjadi takut atau terkejut; ia berhenti menangis dan katanya antara sedu-sedan, “sayang, airnya tumpah semua.”

“Ah, sayang sekali,” kata Sang Kaisar; ia sudah terbiasa dengan anak-anak. “Kau haus sekali? Aku punya botol minum, tapi mugnkin isinya terlalu keras untukmu.”

“Aku tak ingin minum,” jawab gadis kecil itu keheranan.

“Dan kau? Kau luka?”

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “kenapa kau menangis?”

Gadis kecil itu hampir menangis lagi. “Prajurit-prajurit itu nakal,” katanya; ia mendekat pada Sang Kaisar dan bersandar di lututnya. “Ada empat prajurit di lubang ranjau, di sana. Seorang Tommy, seorang Hairy, dan dua orang Boche.”

“Kau tidak boleh menyebut prajurit Jerman seorang Boche,” kata sang Kaisar kereng, “itu salah, salah sama sekali!”

“Tidak,” kata gadis kecil, “itu betul. Prajurit Inggris namanya Tommy, prajurit Prancis disebut Hairy, dan prajurit Jerman namanya Boche. Ibu bilang begitu. Dan semua orang juga. Boche yang satu memakai kacamata, dan rupanya seperti guru sekolah. Yang lainnya sudah dua malam di situ. Ke empat-empatnya tak dapat bergerak. Mereka nakal semua. Telah kubawakan air untuk mereka, dan mula-mula mereka berterima kasih dan berdoa Tuhan akan membalasku, kecuali si guru sekolah itu. Lalu jatuhlah sebuah granat, dan meskipun jauh, mereka mengusirku pulang ke rumah. Kalau tidak aku akan dimakan beruang, katanya, dan Ayah akan memukulku dengan cambuk. Guru sekolah itu memaki-maki, bahwa mereka pengecut semua, tidak ada apa-apanya, tapi ia pun berbisik menyuruhku pulang. Boleh aku tinggal di sini denganmu? Ayah tak akan memukulku, sungguh, tapi aku takut dimakan beruang.”

“Kau boleh tinggal denganku,” kata Sang Kaisar, “nanti kupukul beruang itu. Dan tidak ada beruang di sini.”

“Kau yakin betul?” kata gadis kecil. “Kata Tommy itu ada beruang besar yang makan anak-anak kecil, setelah itu dimasaknya mereka di dalam perutnya.”

“Orang Inggris selalu bohong,” kata Sang Kaisar.

“Mula-mula ia baik,” kata gadis kecil dan ia mulai menangis lagi. “Ia tak akan mengatakannya kalau ia sendiri tak percaya, tapi mungkin karena luka-lukanya terlalu sakit maka ia berkhayal tentang beruang-beruang.”

“Jangan menangis,” kata Sang Kaisar. “Maksudnya baik; mereka takut kau mendapat luka-luka seperti mereka. Mereka menyuruhmu pulang biar selamat.”

“Oh, aku biasa melihat granat,” kata gadis kecil. “Setiap malam aku keluar membawakan air untuk yang luka-luka, karena Ayah pernah selama lima malam tak ada yang menolong dan ia sangat kehausan.”

Ich habe es nich gewollt,” kata Sang Kaisar dan ia merasa hatinya tidak enak lagi.

“Kau seorang Boche?” kata gadis kecil, sebab sebelumnya Sang Kaisar berbahasa Prancis dengannya. “Bahasa Prancismu baik, tapi mungkin kau seorang Inggris?”

“Aku setengah Inggris,” kata Sang Kaisar.

“Ah, lucu sekali,” kata gadis kecil. “Kau harus hati-hati, sebab kau bisa ditembak oleh kedua pihak.” Sang Kaisar tertawa parau, dan bulan muncul dan menyinarinya lebih terang dari sebelumnya.

“Baju mantelmu bagus, dan seragammu amat bersih,” kata gadis kecil, “bagaimana pakaianmu bisa tetap bersih, sedang kau harus rebah di tanah kalau ada granat cahaya di atas?”

“Aku tidak rebah. Aku berdiri tegak. Maka pakaianku tetap bersih,” kata Sang Kaisar.

“Kau tidak boleh berdiri tegak,” kata gadis kecil. “Kalau kau ketahuan, kita akan ditembaki.”

“Baik,” kata Sang Kaisar. “Aku akan rebah untukmu selama kau masih ada di sini, tapi sekarang mari, kuantar kau pulang. Dimana rumahmu?”

Gadis kecil tertawa. “Kami tidak punya rumah,” katanya. “Mula-mula dusun kami dibom Jerman. Terus didudukinya, lalu dibom oleh Prancis. Kemudian datang tentara Inggris dan mereka terus mengebomnya dan mengusir pergi orang-orang Jerman. Sekarang ketiganya mengebomnya bersama-sama. Rumah kami tujuh kali kena granat, dan kandang sapi sampai sembilan belas kali. Tapi anehnya, tidak seekor sapi pun yang kena. Ayah bilang 25.000 franc ongkosnya kalau bisa menghancurkan kandang sapi itu.Ia bangga sekali.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan ia merasa tidak enak lagi. Setelah segar kembali, ia berkata, “Di mana kau tinggal sekarang?”

“Di mana saja,” kata gadis kecil. “Oh, itu soal mudah. Kami sudah terbiasa sekarang. Siapa kau sebenarnya? Pengangkut brankar?

“Bukan, Anakku,” kata Sang Kaisar, “aku disebut orang Sang Kaisar.”

“Aku tidak tahu kalau ada lebih dari satu kaisar,” kata gadis kecil.

“Ada tiga,” kata Sang Kaisar.

“Ketiga-tiganya berkumis tengadah seperti kau?” kata gadis kecil.

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “mereka boleh berjanggut kalau kumisnya tak bisa tegak.”

“Mestinya digulung dengan kertas seperti rambutku pada waktu paskah,” kata gadis kecil. “Apa kerja seroang kaisar? Bertempur atau mengangkut yang luka-luka?”

“Sesungguhnya seorang kaisar tidak berbuat apa-apa,” kata Sang Kaisar, “Ia berpikir.”

“Apa yang dipikirkannya?” kata gadis kecil, sebab seperti juga semua anak kecil, ia kurang tahu soal orang lain, sehingga terpaksa ia sering bertanya dan kadang orang berkata; jangan suka ingin tahu, dan ibunya biasa berkata; jangan bertanya supaya tidak dibohongi.

“Kalau seorang kaisar harus mengatakannya, maka ia tidak berpikir. Betul tidak?” kata Sang Kaisar, “Melainkan ia bicara.”

“Lucu benar jadi kasiran,” kata gadis kecil. “Tapi apa sesungguhnya kerjamu malam-malam di sini, sedang kau tidak luka-luka?”

“Maukah kau berjanji tak akan mengatakannya pada orang lain?” kata Sang Kaisar, “Ini rahasia.”

“Aku berjanji,” kata gadis kecil. “Katakanlah, aku suka mendengar rahasia.”

            “Dengarkan,” kata Sang Kaisar, “pagi tadi aku harus berpidato untuk prajurit-prajuritku, bahwa aku tak dapat turut bersama mereka ke front untuk bertempur, sebab kalau aku mati mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka akan digempur dan mereka akan mati.”

“Nakal benar kau,” kata gadis kecil, “kau bohong,bukan? Waktu kakaku terbunuh, terus saja ia digantikan oleh orang lain, dan peran berjalan terus seolah tak ada kejadian apa-apa. Mestinya mereka berhenti sebentar, tapi tidak, mereka bertempur terus. Kalau kau terbunuh, adakah penggantimu?”

“Ada,” kata Sang Kaisar, “anakku.”

“Nah, tapi mengapa kau harus berdusta?” kata gadis kecil.

“Aku harus begitu,” kata Sang Kaisar, “itulah kewajiban seorang kaisar. Ia harus mau mengatakan sesuatu yang tak mungkin dipercaya oleh dirinya sendiri, ataupun oleh orang lain. Kulihat pada wajah prajurit-prajurit itu, bahwa mereka tidak percaya dan mereka pasti mengira aku seorang pengecut yang sedang membela diri. Maka, setelah malam, aku pura-pura pergi tidur, tapi setelah semua orang pergi, aku pelan-pelan keluar untuk menunjukkan bahwa aku tidak takut. Itu sebabnya aku berdiri tegak, meskipun ada granat cahaya.”

“Mengapa tidak di waktu siang saja kau datang?” kata gadis kecil. “Waktu siang adalah yang paling berbahaya.”

“Aku tidak diizinkan pergi,” kata Sang Kaisar.

“Kasihan,” kata gadis kecil. “Aku kasihan padamu. Mudah-mudahan kau tidak mendapat luka. Tetapi jika kau terluka, kubawakan air nanti.”

Sang Kaisar terharu mendengar kata-kata itu, maka diciumnya gadis kecil sebelum ia bangkit dan dibimbingnya anak itu ke tempat yang aman. Gadis kecil pun amat bersukacita, sehingga ia lupa akan bahaya. Itulah sebabnya mereka tak menghiraukan granat yang bercahaya di depannya; bahwa sosok tubuh Sang Kaisar yang tinggi itu tampak dari jauh, meskipun gadis kecil dengan pakaiannya yang cokelat-kumal dan wajah tak terlalu bersih itu dari kejauhan hanya tampak seperti seonggok sarang semut belaka.

Saat berikutnya terdengarlah suara yang menyeramkan; suara granat melintas dengan cepat, sehingga baru kedengaran ledakannya ketika granat itu sudah tepat menuju ke arah dua orang itu. Sang Kaisar cepat-cepat melihat ke sekitarnya, dan ketika itu dua granat cahaya bersinar di udara, dan sebuah granat lain datang dari kejauhan ke arah mereka. Dan kali ini granat itu besar sekali; terlihat oleh Sang Kaisar peluru itu terbang di udara seperti gajah mengamuk, dan suaranya seperti kereta api di dalam terowongan. Granat yang pertama meledak tidak jauh dari situ, dan suaranya seperti membelah bumi, sehingga rasanya tepat di dalam telinga Sang Kaisar. Sementara itu granat kedua datang menyerbu.

Sang Kaisar menjatuhkan diri dan kedua tangannya mencengkeram tanah, seolah ia hendak menyembunyikan diri disitu. Barulah diingatnya gadis kecil itu; bulu kuduknya tegak begitu berpikir mungkin anak itu sudah hancur tertembak, sehingga ia tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi dan melompat akan melindungi gadis kecil itu dengan tubuhnya.

Tetapi pikiran lebih cepat datang daripada pelaksaannya, dan granat-granat hampir secepat pikiran-pikiran itu. Sebelum Sang Kaisar sempat melepaskan genggaman tangannya, sebelum ia dapat berlutut dan bangkit, terdengarlah suara yang menegakkan bulu roma. Belum pernah Sang Kaisar mendengar suara yang begitu menakutkan, meskipun ia sudah terbiasa mendengar granat-granat dari kejauhan. Itu bukanlah ledakkan, bukan sesuatu yang gemuruh,bukan sesuatu yang mengguntur, melainkan sesuatu yang menyeramkan; suara pecah-ledak-hancur membelah bumi, seolah hari kiamat. Satu menit Sang Kaisar mengira ia telah hancur dari dalam, sebab sesunguhnya granat dapat menghancurkan manusia dari dalam bila tidak sungguh-sungguh kena. Setelah ia bangkit, ia tak tahu apakah ia tegak dengan kepala terbalik atau berdiri pada kedua kakinya, dan sesungguhnya ia tidak terbalik dan tidak pula tegak sebab ia terjatuh berkali-kali. Dan setelah ia berhasil menapakkan kakinya sambil berpegangan pada sesuatu, tahulah ia bahwa sesuatu itu adalah sebatang pohon yang tumbuh jauh dari tempat semula ia berdiri, dan tahulah ia bahwa ia terpelanting ke situ karena ledakan itu. Dan yang pertama-tama diucapkannya adalah, “Mana anak itu?”

“Di sini,” terdengar suara di pohon di atas kepalanya. Suara si gadis kecil.

Gott sei dank!” kata Sang Kaisar lega. “Syukurlah! Kau luka, Anakku? Kukira kau telah hancur-lebur.”

“Sesungguhnya aku hancur-lebur.” Suara gadis kecil. “Hancur menjadi dua ribu tiga puluh tujuh kepingan-kepingan kecil. Granat itu jatuh tepat di pangkuanku. Kepingan yang paling besar adalah jari kelingking kakiku, di sana letaknya, kira-kira setengah mil dari sini. Salah satu kuku ibu jariku di sana jatuhnya, setengah mil ke arah sana, dan ada empat helai bulu mataku di lubang itu, di tempat keempat orang itu meninggalkan tubuhnya, dan satu gigi depanku terselip pada ban topi helm-mu. Tapi aku tidak heran, sebab kejadian itu tidak terduga. Sisa-sisa badanku yang lain sudah terbakar dan hancur menjadi debu.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan suaranya murung menimbulkan iba. Tapi gadis kecil tidak menjadi iba; ia hanya berkata:

            “Oh, sesudah ini terjadi, tak berarti kau salah atau tidak. Aku tertawa melihatmu terlungkup dengan pakaian seragammu yang indah itu. Aku terus tertawa sampai tak terasa olehku granat itu, meskipun aku sangat terpukul karenanya. Sekarang pun rupamu masih lucu, mencengkeram pohon dan terhuyung-huyung seperti nenek yang sedang mabuk.”

Sang Kaisar mendengar tawanya, tapi ia terkejut sebab terdengar pula tawa orang-orang lain; suara kasar laki-laki.

“Siapa yang tertawa disitu?” katanya. “Ada orang lain di situ?”

“Oh, banyak sekali,” suara gadis kecil. “Keempat orang dari lubang itu. Granat yang pertama telah membebaskan mereka.”

Du hast es nich gewollt, Whilhelm, was?” terdengar suara kasar, lalu semua suara tertawa, sebab lucu benar mendengar seorang prajurit menyebut Sang Kaisar dengan nama itu.

“Kau tak boleh mengingkari kehormatan yang kuajarkan padamu, dan kau patut mengakui hak-hakku,” kata Sang Kaisar. “Bukan kehendakku menjadi kaisar. Kau yang membimbingku ke arah itu, dan kau yang melarang aku berbuat sesperti manusia biasa, sejajar denganmu. Maka sekarang kuperintahkan kau memperlakukan aku sebagai dewa, sebagaimana tuhan menjadikanku.”

“Tak ada gunanya bicara dengan mereka,” suara gadis kecil, “mereka sudah terbang semua. Mereka tidak mendengar kata-katamu, karena mereka tidak menghiraukanmu. Tak ada lagi yang tinggal kecuali aku dan Boche berkacamata itu.”

Terdengar suara laki-laki dari arah pohon.

“Aku tidak pergi bersama mereka, karena aku tak suka bergaul dengan prajurit-prajurit,” kata suara itu. “Mereka tahu, kau yang menjadikan aku seorang profesor untuk menceritakan segala omong kosong tentang nenek moyangmu.”

“Tolol,” kata Sang Kaisar, “pernahkah kau mengatakan pada mereka yang sebenarnya tentang nenekmu sendiri?”

Tak ada jawaban, dan kemudian terdengar suara gadis kecil itu, “Ia sudah pergi. Kukira neneknya tidak lebih baik daripada nenekmu atau nenekku. Dan sekarang aku pun akan pergi. Menyesal sekali, sebab aku sayang padamu sebelum aku dibebaskan oleh granat itu. Tapi sekarang, bagaimanapun juga, kau bukan soal lagi.”

“Anakku,” kata Sang Kaisar, dan hatinya sedih karena gadis kecil itu akan meninggalkannya. “Aku akan selalu mengingatkanmu.”

“Betul,” suara gadis kecil, “tapi bagiku kau tak berarti lagi. Dan sebenarnya, dulu pun kau tak berarti bagiku, kecuali ketika aku ketakutan kalau-kalau kau akan membunuhku. Kukira pasti sakit rasanya, karena aku belum tahu bahwa itu justru akan membebaskanku. Sekarang aku sudah bebas, dan karena ini lebih enak daripada lapar dan takut, maka kau bukan soal lagi. Selamat tinggal!”

“Tunggu sebentar,” kata Sang Kaisar mengiba. “Jangan tergesa-gesa, aku merasa kesepian.”

“Mengapa tak kauperintahkan prajurit-prajurit itu menembakmu, seperti yang mereka lakukan padaku?” suara gadis kecil. “Kau jadi bebas, dan kita bisa terbang bersama kalau perlu. Tak mungkin aku tetap menemanimu, kecuali jika kau sudah bebas pula.”

“Aku tidak boleh,” kata Sang Kaisar.

“Mengapa tidak boleh?” suara gadis kecil.

“Sebab itu tidak biasa,” kata Sang Kaisar. “Dan celakalah seorang kaisar yang melakukan sesuatu yang tidak biasa, karena ia sendiri hanya suatu kebiasaan semata.”

“Panjang sekali perkataan itu.Belum pernah kudengar sebelumnya,” suara gadis kecil. “Mungkinkah artinya segumpal tanah tak dapat meninggalkan bumi, bertapapun ia berusaha?”

“Betul,” kata Sang Kaisar. “Itu artinya.”

“Kalau begitu, boleh kautunggu sampai Tommy-Tommy dan Hairy-Hairy itu menembakkan meriamnya padamu,” suara gadis kecil. “Jangan sedih, mereka pasti mau melakukannya kalau kau tetap tegak meski ada granat cahaya. Sekarang, kuberikan kau ciuman terakhir, sebab kau telah menciumku sebelum aku bebas. Tapi beoleh jadi kau tak dapat merasakannya.”

Dan benar juga katanya, sebab meskipun Sang Kaisar berusaha merasakannya, ia tidak merasakan apa-apa. Dan yang lebih menyiksa lagi adalah karena dia dapat melihat sesuatu, karena ia tengadah ke arah suara yang berkata akan menciumnya itu; dan dilihatnya sosok gadis itu cantik, molek dan segar-memawar, dengan sepasang sayap terbang ke bumi, sangat bersih tubuhnya, dan agaknya tak terpikir oleh gadis kecil itu bahwa ia tidak berpakaian secabik pun, dan kedua lengannya memeluk leher Sang Kaisar serta menciumnya sebelum ia terbang meninggalkannya. Semua itu tampak jelas oleh Sang Kaisar dan ini sungguh ajaib, sebab tak ada cahaya kecuali sinar bulan yang remang, yang seharusnya tampak kelabu atau putih seperti burung pungguk, tapi tubuh kecil itu terang dan tampak cantik bagai bunga mawar. Hati Sang Kaisar pilu ditinggalkan oleh gadis kecil, tetapi semua itu lenyap karena sekonyong-konyong terdengar beberapa orang menyapanya. Tak diketahui kapan mereka datang. Mereka adalah dua perwira Sang Kaisar, dan mereka bertanya penuh hormat; apakah granat itu telah melukainya. Bidadari itu lenyap saat kata pertama diucapkan perwira itu. Sang Kaisar marah sekali karena orang-orang itu telah mengusirnya, sehingga ia tak berkata-kata lagi. Kemudian, dengan kasar, ia menanyakan  jalan kembali ke “penjara”. Tetapi ketika dilihatnya bahwa mereka tak mengerti serta memandanginya seolah melihat orang gila, ia lalu menanyakan jalan ke markasnya; maksudnya ke tendanya. Mereka menunjukkan jalan itu, dan ia melangkah di muka keda perwira itu sampai ke tempat yang dituju. Semua prajurit jaga menyapanya dan memberi hormat, setelah dijawab oleh kedua perwira itu. Lalu ia mengucapkan selamat tidur, pendek sekali, dan ia sudah siap naik ke tempat tidurnya ketika salah seorang dari mereka bertanya; takut kalau-kalau mereka perlu membuat laporan tentang kejadian itu. Satu-satunya jaswaban Sang Kaisar adalah, “Kalian semua sekumpulan orang gila!”, dan itu kutukan yang mengerikan.

Mereka berpandangan satu sama lain, lalu salah seorang diantaranya berkata:

“Yang Mulia mabuk,” dan itu juga kutukan yang mengerikan. Untung saja Sang Kaisar sedang memikirkan gadis kecil itu dan tak mendengar apa yang dikatakan perwira tadi. Tetapi andaikan ia mendengarnya, itu juga tidak berarti, karena semua prajurit kasar di mulut tanpa bermaksud jahat. (Penerjemah: Hartini).

*GEORGE BERNARD SHAW: (Nobel Prize for Literature 1925)

Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1856 dan meninggal tahun 1950. Bersama William Butler Yeats dan James Joyce, Shaw sering disebut sebagai salah satu maestro sastra Irlandia, meski akhirnya ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

Shaw lebih dikenal sebagai penulis drama. Karya-karya dramanya mencapai lebih dari 50 judul dan sebagian besar telah menjadi drama-drama klasik Barat, di antaranya yang populer adalah Arms and the Man (1894), Candida (1894), Caesar and Cleopatra (1898), Man and Superman (1903), Back to Methuselah (1920), Saint Joan (1923), The Millionairess (1936), dan masih banyak lagi.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusasteraan pada Shaw sebagai pengakuan: “ ….. atas karyanya yang memperlihatkan idealisme dan kemanusiaan, satirenya yang menggugah, sering dijiwai keindahan puitik yang khas …..”

Shaw adalah sastrawan kedua Inggris (setelah Rudyard Kipling tahun 1907), sekaligus sastrawan kedua Irlandia (setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut.

 

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending