Connect with us

Cerpen

Kaisar dan Gadis Kecil

mm

Published

on

TAK PUTUSNYA bulan keluar-masuk awan malam itu dan seluruh urat saraf menjadi tegang karena tiap saat dikejutkan oleh manusia atau setan di bayangan remang, dan awan berkejaran di langit; ada yang putih-bening hingga bulan kelihatan menerawang, ada yang kelihatan seperti diselimuti bulu-bulu cokelat, ada yang hitam besar dan bulan pasti lenyap kalau tertangkap. Orang-orang yang ketakutan mengunci pintu dan mereka berhangat-hangat di dalam rumah, di balik tirai yang menolak malam kelam, tetapi ada yang lalu menjadi gundah dan keluarlah mereka mengintai bulan. Mereka suka malam gelap dan mereka berkhayal tentang dunia yang tak tampak, dan keluarlah makhluk-makhluk ajaib dari keremangan menemaninya.

Pada malam itu lebih aman keluar waktu gelap karena siang hari di situ terjadi pertempuran antara orang-orang Inggris-Prancis melawan Jerman. Waktu siang semua berlindung di bawah tanah, sebab kalau kelihatan kepala muncul terus saja: dor! Ditembak Tirai-tirai digantungkan di situ untuk mencegah orang-orang berkeliaran di tanah lapang, tapi tidak serupa tirai jendela, melainkan granat-granat, kepingan-kepingan bom yang menghujam bertubi-tubi, meledak memecah tanah, menghancurkan manusia, ternak dan tanaman; karena itu disebut tirai api. Waktu malam tidak ada tirai api, dan prajurit-prajurit jaga malam tak mudah melihat orang di dalam gelap. Tapi bahaya tetap ada; jadi tak mungkin kita mengingat-ingat setan atau perampok. Bahkan, mau tak mau, kita harus memikirkan granat dan peluru, memikirkan mereka yang masih bergelimang di tempat mereka terbunuh atau mendapat luka. Maka tidaklah mengherankan, bahwa tak ada orang yang berjalan-jalan menikmati bulan atau menonton kembang api, sebab memang tak ada kembang api. Pada waktu-waktu tertentu, prajurit-prajurit jaga malam melemparkan granat yang bercahaya ke langit dan menyinari orang-orang dan barang yang ada di bawah. Maka terus saja orang-orang itu menjatuhkandiri dan pura-pura mati sampai suasana menjadi gelap kembali. Mereka adalah mata-mata yang sedang mengintai lawannya, orang-orang yang mencari kawannya yang luka atau yang sedang memasang kawat berduri di sekitar lubang perlindungan.

Kira-kira jam setengah dua belas lebih sedikit. Di suatu tempat yang sunyi, di mana tak ada orang merunduk-runduk, dan terlalu jauh dari sinar granat cahaya, datanglah seorang berjalan dan melangkah panjang dengan ganjilnya, sebab ia tak mencari orang-orang yang luka. Ia bukan mata-mata dan tidak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan tentara; ia hanya berjalan-jalan saja, berhenti, berjalan lagi, dan ia tak pernah membungkuk untuk mengangkat sesuatu. Terkadang, kalau ada granat cahaya yang terlalu dekat sehingga ia tampak terang, ia berhenti dan berdiri tegak sambil melipat tangannya. Setelah gelap kembali ia berjalan lagi, melangkah seperti orang yang angkuh, meskipun ia harus hati-hati menampakkan kakinya karena tanah penuh rongga dan berlubang akibat granat dan kepingan-kepingan bom, dan jangan sampai mayat prajurit terinjak olehnya. Ia bersikap angkuh dan tinggi hati, karena ia Kaisar Jerman. Kalau ia ada di suatu sudut tertentu antara kau dengan bulan, atau granat cahaya, akan kau lihat pucuk kumisnya yang melengkung ke atas, persis seperti pada potret-potretnya. Tapi umumnya ia tidak tampak karena gelap, kecuali jika kau mendekatinya.

Malam itu gelap sekali, dan meskipun ia berjalan hati-hati, namun ia terjerumus ke sebuah lubang ranjau dan hampir saja jatuh tersungkur. Tapi ia selamat karena tangannya berhasil menjagkau sesuatu. Dikiranya segebung rumput, tapi rupanya janggut orang Prancis, dan orang Prancis itu sudah mati. Ketika itu bulan menjenguk sebentar dan tampak oleh Sang Kaisar sejumlah mayat prajurit; orang-orang Prancis dan Jerman yang bergelimpangan di dalam lubang, dan tampaknya mayat-mayat itu memandanginya dengan tajam.

Sang Kaisar terkejut setengah mati. Sebelum ia sempat berpikir, meluncurlah kata-kata Jerman dari mulutnya, “Ich habe es nicht gewollt,” atau ‘bukan salahku’, atau ‘bukan maksudku,’ atau terkadang ‘bukannya aku’; seperti pembelaan seseorang yang dipersalahkan karena telah berbuat sesuatu. Lalu ia merangkak keluar dari lubang dan berjalan lagi ke arah yang lain. Tetapi hatinya tidak enak, maka dirasanya perlu duduk sebentar. Sesungguhnya ia dapat berjalan terus kalau dipaksa, tapi peti mesiu yang didudukinya itu terlalu enak untuk ditinggalkan begitu saja, sehingga diputuskannya istirahat sebentar sampai ia segera kembali.

            Peristiwa selanjutnya sungguh tak terduga, sebab sesuatu berwarna cokelat datang menghampirnya dari kegelapan, dan mungkin dikiranya itu seekor anjing, tapi didengarnya benda itu berdenting disertai suara langkah kaki. Setelah dekat, tampak olehnya seorang gadis kecil, terlalu kecil untuk berkeliaran jam dua belas kurang seperempat tengah malam.

Suara denting-denting itu disebabkan oleh panci kaleng yang dibawanya. Dan ia menangis, tidak keras, hanya tersedu-sedu. Ketika dilihatnya Sang Kaisar, ia tidak menjadi takut atau terkejut; ia berhenti menangis dan katanya antara sedu-sedan, “sayang, airnya tumpah semua.”

“Ah, sayang sekali,” kata Sang Kaisar; ia sudah terbiasa dengan anak-anak. “Kau haus sekali? Aku punya botol minum, tapi mugnkin isinya terlalu keras untukmu.”

“Aku tak ingin minum,” jawab gadis kecil itu keheranan.

“Dan kau? Kau luka?”

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “kenapa kau menangis?”

Gadis kecil itu hampir menangis lagi. “Prajurit-prajurit itu nakal,” katanya; ia mendekat pada Sang Kaisar dan bersandar di lututnya. “Ada empat prajurit di lubang ranjau, di sana. Seorang Tommy, seorang Hairy, dan dua orang Boche.”

“Kau tidak boleh menyebut prajurit Jerman seorang Boche,” kata sang Kaisar kereng, “itu salah, salah sama sekali!”

“Tidak,” kata gadis kecil, “itu betul. Prajurit Inggris namanya Tommy, prajurit Prancis disebut Hairy, dan prajurit Jerman namanya Boche. Ibu bilang begitu. Dan semua orang juga. Boche yang satu memakai kacamata, dan rupanya seperti guru sekolah. Yang lainnya sudah dua malam di situ. Ke empat-empatnya tak dapat bergerak. Mereka nakal semua. Telah kubawakan air untuk mereka, dan mula-mula mereka berterima kasih dan berdoa Tuhan akan membalasku, kecuali si guru sekolah itu. Lalu jatuhlah sebuah granat, dan meskipun jauh, mereka mengusirku pulang ke rumah. Kalau tidak aku akan dimakan beruang, katanya, dan Ayah akan memukulku dengan cambuk. Guru sekolah itu memaki-maki, bahwa mereka pengecut semua, tidak ada apa-apanya, tapi ia pun berbisik menyuruhku pulang. Boleh aku tinggal di sini denganmu? Ayah tak akan memukulku, sungguh, tapi aku takut dimakan beruang.”

“Kau boleh tinggal denganku,” kata Sang Kaisar, “nanti kupukul beruang itu. Dan tidak ada beruang di sini.”

“Kau yakin betul?” kata gadis kecil. “Kata Tommy itu ada beruang besar yang makan anak-anak kecil, setelah itu dimasaknya mereka di dalam perutnya.”

“Orang Inggris selalu bohong,” kata Sang Kaisar.

“Mula-mula ia baik,” kata gadis kecil dan ia mulai menangis lagi. “Ia tak akan mengatakannya kalau ia sendiri tak percaya, tapi mungkin karena luka-lukanya terlalu sakit maka ia berkhayal tentang beruang-beruang.”

“Jangan menangis,” kata Sang Kaisar. “Maksudnya baik; mereka takut kau mendapat luka-luka seperti mereka. Mereka menyuruhmu pulang biar selamat.”

“Oh, aku biasa melihat granat,” kata gadis kecil. “Setiap malam aku keluar membawakan air untuk yang luka-luka, karena Ayah pernah selama lima malam tak ada yang menolong dan ia sangat kehausan.”

Ich habe es nich gewollt,” kata Sang Kaisar dan ia merasa hatinya tidak enak lagi.

“Kau seorang Boche?” kata gadis kecil, sebab sebelumnya Sang Kaisar berbahasa Prancis dengannya. “Bahasa Prancismu baik, tapi mungkin kau seorang Inggris?”

“Aku setengah Inggris,” kata Sang Kaisar.

“Ah, lucu sekali,” kata gadis kecil. “Kau harus hati-hati, sebab kau bisa ditembak oleh kedua pihak.” Sang Kaisar tertawa parau, dan bulan muncul dan menyinarinya lebih terang dari sebelumnya.

“Baju mantelmu bagus, dan seragammu amat bersih,” kata gadis kecil, “bagaimana pakaianmu bisa tetap bersih, sedang kau harus rebah di tanah kalau ada granat cahaya di atas?”

“Aku tidak rebah. Aku berdiri tegak. Maka pakaianku tetap bersih,” kata Sang Kaisar.

“Kau tidak boleh berdiri tegak,” kata gadis kecil. “Kalau kau ketahuan, kita akan ditembaki.”

“Baik,” kata Sang Kaisar. “Aku akan rebah untukmu selama kau masih ada di sini, tapi sekarang mari, kuantar kau pulang. Dimana rumahmu?”

Gadis kecil tertawa. “Kami tidak punya rumah,” katanya. “Mula-mula dusun kami dibom Jerman. Terus didudukinya, lalu dibom oleh Prancis. Kemudian datang tentara Inggris dan mereka terus mengebomnya dan mengusir pergi orang-orang Jerman. Sekarang ketiganya mengebomnya bersama-sama. Rumah kami tujuh kali kena granat, dan kandang sapi sampai sembilan belas kali. Tapi anehnya, tidak seekor sapi pun yang kena. Ayah bilang 25.000 franc ongkosnya kalau bisa menghancurkan kandang sapi itu.Ia bangga sekali.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan ia merasa tidak enak lagi. Setelah segar kembali, ia berkata, “Di mana kau tinggal sekarang?”

“Di mana saja,” kata gadis kecil. “Oh, itu soal mudah. Kami sudah terbiasa sekarang. Siapa kau sebenarnya? Pengangkut brankar?

“Bukan, Anakku,” kata Sang Kaisar, “aku disebut orang Sang Kaisar.”

“Aku tidak tahu kalau ada lebih dari satu kaisar,” kata gadis kecil.

“Ada tiga,” kata Sang Kaisar.

“Ketiga-tiganya berkumis tengadah seperti kau?” kata gadis kecil.

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “mereka boleh berjanggut kalau kumisnya tak bisa tegak.”

“Mestinya digulung dengan kertas seperti rambutku pada waktu paskah,” kata gadis kecil. “Apa kerja seroang kaisar? Bertempur atau mengangkut yang luka-luka?”

“Sesungguhnya seorang kaisar tidak berbuat apa-apa,” kata Sang Kaisar, “Ia berpikir.”

“Apa yang dipikirkannya?” kata gadis kecil, sebab seperti juga semua anak kecil, ia kurang tahu soal orang lain, sehingga terpaksa ia sering bertanya dan kadang orang berkata; jangan suka ingin tahu, dan ibunya biasa berkata; jangan bertanya supaya tidak dibohongi.

“Kalau seorang kaisar harus mengatakannya, maka ia tidak berpikir. Betul tidak?” kata Sang Kaisar, “Melainkan ia bicara.”

“Lucu benar jadi kasiran,” kata gadis kecil. “Tapi apa sesungguhnya kerjamu malam-malam di sini, sedang kau tidak luka-luka?”

“Maukah kau berjanji tak akan mengatakannya pada orang lain?” kata Sang Kaisar, “Ini rahasia.”

“Aku berjanji,” kata gadis kecil. “Katakanlah, aku suka mendengar rahasia.”

            “Dengarkan,” kata Sang Kaisar, “pagi tadi aku harus berpidato untuk prajurit-prajuritku, bahwa aku tak dapat turut bersama mereka ke front untuk bertempur, sebab kalau aku mati mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka akan digempur dan mereka akan mati.”

“Nakal benar kau,” kata gadis kecil, “kau bohong,bukan? Waktu kakaku terbunuh, terus saja ia digantikan oleh orang lain, dan peran berjalan terus seolah tak ada kejadian apa-apa. Mestinya mereka berhenti sebentar, tapi tidak, mereka bertempur terus. Kalau kau terbunuh, adakah penggantimu?”

“Ada,” kata Sang Kaisar, “anakku.”

“Nah, tapi mengapa kau harus berdusta?” kata gadis kecil.

“Aku harus begitu,” kata Sang Kaisar, “itulah kewajiban seorang kaisar. Ia harus mau mengatakan sesuatu yang tak mungkin dipercaya oleh dirinya sendiri, ataupun oleh orang lain. Kulihat pada wajah prajurit-prajurit itu, bahwa mereka tidak percaya dan mereka pasti mengira aku seorang pengecut yang sedang membela diri. Maka, setelah malam, aku pura-pura pergi tidur, tapi setelah semua orang pergi, aku pelan-pelan keluar untuk menunjukkan bahwa aku tidak takut. Itu sebabnya aku berdiri tegak, meskipun ada granat cahaya.”

“Mengapa tidak di waktu siang saja kau datang?” kata gadis kecil. “Waktu siang adalah yang paling berbahaya.”

“Aku tidak diizinkan pergi,” kata Sang Kaisar.

“Kasihan,” kata gadis kecil. “Aku kasihan padamu. Mudah-mudahan kau tidak mendapat luka. Tetapi jika kau terluka, kubawakan air nanti.”

Sang Kaisar terharu mendengar kata-kata itu, maka diciumnya gadis kecil sebelum ia bangkit dan dibimbingnya anak itu ke tempat yang aman. Gadis kecil pun amat bersukacita, sehingga ia lupa akan bahaya. Itulah sebabnya mereka tak menghiraukan granat yang bercahaya di depannya; bahwa sosok tubuh Sang Kaisar yang tinggi itu tampak dari jauh, meskipun gadis kecil dengan pakaiannya yang cokelat-kumal dan wajah tak terlalu bersih itu dari kejauhan hanya tampak seperti seonggok sarang semut belaka.

Saat berikutnya terdengarlah suara yang menyeramkan; suara granat melintas dengan cepat, sehingga baru kedengaran ledakannya ketika granat itu sudah tepat menuju ke arah dua orang itu. Sang Kaisar cepat-cepat melihat ke sekitarnya, dan ketika itu dua granat cahaya bersinar di udara, dan sebuah granat lain datang dari kejauhan ke arah mereka. Dan kali ini granat itu besar sekali; terlihat oleh Sang Kaisar peluru itu terbang di udara seperti gajah mengamuk, dan suaranya seperti kereta api di dalam terowongan. Granat yang pertama meledak tidak jauh dari situ, dan suaranya seperti membelah bumi, sehingga rasanya tepat di dalam telinga Sang Kaisar. Sementara itu granat kedua datang menyerbu.

Sang Kaisar menjatuhkan diri dan kedua tangannya mencengkeram tanah, seolah ia hendak menyembunyikan diri disitu. Barulah diingatnya gadis kecil itu; bulu kuduknya tegak begitu berpikir mungkin anak itu sudah hancur tertembak, sehingga ia tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi dan melompat akan melindungi gadis kecil itu dengan tubuhnya.

Tetapi pikiran lebih cepat datang daripada pelaksaannya, dan granat-granat hampir secepat pikiran-pikiran itu. Sebelum Sang Kaisar sempat melepaskan genggaman tangannya, sebelum ia dapat berlutut dan bangkit, terdengarlah suara yang menegakkan bulu roma. Belum pernah Sang Kaisar mendengar suara yang begitu menakutkan, meskipun ia sudah terbiasa mendengar granat-granat dari kejauhan. Itu bukanlah ledakkan, bukan sesuatu yang gemuruh,bukan sesuatu yang mengguntur, melainkan sesuatu yang menyeramkan; suara pecah-ledak-hancur membelah bumi, seolah hari kiamat. Satu menit Sang Kaisar mengira ia telah hancur dari dalam, sebab sesunguhnya granat dapat menghancurkan manusia dari dalam bila tidak sungguh-sungguh kena. Setelah ia bangkit, ia tak tahu apakah ia tegak dengan kepala terbalik atau berdiri pada kedua kakinya, dan sesungguhnya ia tidak terbalik dan tidak pula tegak sebab ia terjatuh berkali-kali. Dan setelah ia berhasil menapakkan kakinya sambil berpegangan pada sesuatu, tahulah ia bahwa sesuatu itu adalah sebatang pohon yang tumbuh jauh dari tempat semula ia berdiri, dan tahulah ia bahwa ia terpelanting ke situ karena ledakan itu. Dan yang pertama-tama diucapkannya adalah, “Mana anak itu?”

“Di sini,” terdengar suara di pohon di atas kepalanya. Suara si gadis kecil.

Gott sei dank!” kata Sang Kaisar lega. “Syukurlah! Kau luka, Anakku? Kukira kau telah hancur-lebur.”

“Sesungguhnya aku hancur-lebur.” Suara gadis kecil. “Hancur menjadi dua ribu tiga puluh tujuh kepingan-kepingan kecil. Granat itu jatuh tepat di pangkuanku. Kepingan yang paling besar adalah jari kelingking kakiku, di sana letaknya, kira-kira setengah mil dari sini. Salah satu kuku ibu jariku di sana jatuhnya, setengah mil ke arah sana, dan ada empat helai bulu mataku di lubang itu, di tempat keempat orang itu meninggalkan tubuhnya, dan satu gigi depanku terselip pada ban topi helm-mu. Tapi aku tidak heran, sebab kejadian itu tidak terduga. Sisa-sisa badanku yang lain sudah terbakar dan hancur menjadi debu.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan suaranya murung menimbulkan iba. Tapi gadis kecil tidak menjadi iba; ia hanya berkata:

            “Oh, sesudah ini terjadi, tak berarti kau salah atau tidak. Aku tertawa melihatmu terlungkup dengan pakaian seragammu yang indah itu. Aku terus tertawa sampai tak terasa olehku granat itu, meskipun aku sangat terpukul karenanya. Sekarang pun rupamu masih lucu, mencengkeram pohon dan terhuyung-huyung seperti nenek yang sedang mabuk.”

Sang Kaisar mendengar tawanya, tapi ia terkejut sebab terdengar pula tawa orang-orang lain; suara kasar laki-laki.

“Siapa yang tertawa disitu?” katanya. “Ada orang lain di situ?”

“Oh, banyak sekali,” suara gadis kecil. “Keempat orang dari lubang itu. Granat yang pertama telah membebaskan mereka.”

Du hast es nich gewollt, Whilhelm, was?” terdengar suara kasar, lalu semua suara tertawa, sebab lucu benar mendengar seorang prajurit menyebut Sang Kaisar dengan nama itu.

“Kau tak boleh mengingkari kehormatan yang kuajarkan padamu, dan kau patut mengakui hak-hakku,” kata Sang Kaisar. “Bukan kehendakku menjadi kaisar. Kau yang membimbingku ke arah itu, dan kau yang melarang aku berbuat sesperti manusia biasa, sejajar denganmu. Maka sekarang kuperintahkan kau memperlakukan aku sebagai dewa, sebagaimana tuhan menjadikanku.”

“Tak ada gunanya bicara dengan mereka,” suara gadis kecil, “mereka sudah terbang semua. Mereka tidak mendengar kata-katamu, karena mereka tidak menghiraukanmu. Tak ada lagi yang tinggal kecuali aku dan Boche berkacamata itu.”

Terdengar suara laki-laki dari arah pohon.

“Aku tidak pergi bersama mereka, karena aku tak suka bergaul dengan prajurit-prajurit,” kata suara itu. “Mereka tahu, kau yang menjadikan aku seorang profesor untuk menceritakan segala omong kosong tentang nenek moyangmu.”

“Tolol,” kata Sang Kaisar, “pernahkah kau mengatakan pada mereka yang sebenarnya tentang nenekmu sendiri?”

Tak ada jawaban, dan kemudian terdengar suara gadis kecil itu, “Ia sudah pergi. Kukira neneknya tidak lebih baik daripada nenekmu atau nenekku. Dan sekarang aku pun akan pergi. Menyesal sekali, sebab aku sayang padamu sebelum aku dibebaskan oleh granat itu. Tapi sekarang, bagaimanapun juga, kau bukan soal lagi.”

“Anakku,” kata Sang Kaisar, dan hatinya sedih karena gadis kecil itu akan meninggalkannya. “Aku akan selalu mengingatkanmu.”

“Betul,” suara gadis kecil, “tapi bagiku kau tak berarti lagi. Dan sebenarnya, dulu pun kau tak berarti bagiku, kecuali ketika aku ketakutan kalau-kalau kau akan membunuhku. Kukira pasti sakit rasanya, karena aku belum tahu bahwa itu justru akan membebaskanku. Sekarang aku sudah bebas, dan karena ini lebih enak daripada lapar dan takut, maka kau bukan soal lagi. Selamat tinggal!”

“Tunggu sebentar,” kata Sang Kaisar mengiba. “Jangan tergesa-gesa, aku merasa kesepian.”

“Mengapa tak kauperintahkan prajurit-prajurit itu menembakmu, seperti yang mereka lakukan padaku?” suara gadis kecil. “Kau jadi bebas, dan kita bisa terbang bersama kalau perlu. Tak mungkin aku tetap menemanimu, kecuali jika kau sudah bebas pula.”

“Aku tidak boleh,” kata Sang Kaisar.

“Mengapa tidak boleh?” suara gadis kecil.

“Sebab itu tidak biasa,” kata Sang Kaisar. “Dan celakalah seorang kaisar yang melakukan sesuatu yang tidak biasa, karena ia sendiri hanya suatu kebiasaan semata.”

“Panjang sekali perkataan itu.Belum pernah kudengar sebelumnya,” suara gadis kecil. “Mungkinkah artinya segumpal tanah tak dapat meninggalkan bumi, bertapapun ia berusaha?”

“Betul,” kata Sang Kaisar. “Itu artinya.”

“Kalau begitu, boleh kautunggu sampai Tommy-Tommy dan Hairy-Hairy itu menembakkan meriamnya padamu,” suara gadis kecil. “Jangan sedih, mereka pasti mau melakukannya kalau kau tetap tegak meski ada granat cahaya. Sekarang, kuberikan kau ciuman terakhir, sebab kau telah menciumku sebelum aku bebas. Tapi beoleh jadi kau tak dapat merasakannya.”

Dan benar juga katanya, sebab meskipun Sang Kaisar berusaha merasakannya, ia tidak merasakan apa-apa. Dan yang lebih menyiksa lagi adalah karena dia dapat melihat sesuatu, karena ia tengadah ke arah suara yang berkata akan menciumnya itu; dan dilihatnya sosok gadis itu cantik, molek dan segar-memawar, dengan sepasang sayap terbang ke bumi, sangat bersih tubuhnya, dan agaknya tak terpikir oleh gadis kecil itu bahwa ia tidak berpakaian secabik pun, dan kedua lengannya memeluk leher Sang Kaisar serta menciumnya sebelum ia terbang meninggalkannya. Semua itu tampak jelas oleh Sang Kaisar dan ini sungguh ajaib, sebab tak ada cahaya kecuali sinar bulan yang remang, yang seharusnya tampak kelabu atau putih seperti burung pungguk, tapi tubuh kecil itu terang dan tampak cantik bagai bunga mawar. Hati Sang Kaisar pilu ditinggalkan oleh gadis kecil, tetapi semua itu lenyap karena sekonyong-konyong terdengar beberapa orang menyapanya. Tak diketahui kapan mereka datang. Mereka adalah dua perwira Sang Kaisar, dan mereka bertanya penuh hormat; apakah granat itu telah melukainya. Bidadari itu lenyap saat kata pertama diucapkan perwira itu. Sang Kaisar marah sekali karena orang-orang itu telah mengusirnya, sehingga ia tak berkata-kata lagi. Kemudian, dengan kasar, ia menanyakan  jalan kembali ke “penjara”. Tetapi ketika dilihatnya bahwa mereka tak mengerti serta memandanginya seolah melihat orang gila, ia lalu menanyakan jalan ke markasnya; maksudnya ke tendanya. Mereka menunjukkan jalan itu, dan ia melangkah di muka keda perwira itu sampai ke tempat yang dituju. Semua prajurit jaga menyapanya dan memberi hormat, setelah dijawab oleh kedua perwira itu. Lalu ia mengucapkan selamat tidur, pendek sekali, dan ia sudah siap naik ke tempat tidurnya ketika salah seorang dari mereka bertanya; takut kalau-kalau mereka perlu membuat laporan tentang kejadian itu. Satu-satunya jaswaban Sang Kaisar adalah, “Kalian semua sekumpulan orang gila!”, dan itu kutukan yang mengerikan.

Mereka berpandangan satu sama lain, lalu salah seorang diantaranya berkata:

“Yang Mulia mabuk,” dan itu juga kutukan yang mengerikan. Untung saja Sang Kaisar sedang memikirkan gadis kecil itu dan tak mendengar apa yang dikatakan perwira tadi. Tetapi andaikan ia mendengarnya, itu juga tidak berarti, karena semua prajurit kasar di mulut tanpa bermaksud jahat. (Penerjemah: Hartini).

*GEORGE BERNARD SHAW: (Nobel Prize for Literature 1925)

Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1856 dan meninggal tahun 1950. Bersama William Butler Yeats dan James Joyce, Shaw sering disebut sebagai salah satu maestro sastra Irlandia, meski akhirnya ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

Shaw lebih dikenal sebagai penulis drama. Karya-karya dramanya mencapai lebih dari 50 judul dan sebagian besar telah menjadi drama-drama klasik Barat, di antaranya yang populer adalah Arms and the Man (1894), Candida (1894), Caesar and Cleopatra (1898), Man and Superman (1903), Back to Methuselah (1920), Saint Joan (1923), The Millionairess (1936), dan masih banyak lagi.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusasteraan pada Shaw sebagai pengakuan: “ ….. atas karyanya yang memperlihatkan idealisme dan kemanusiaan, satirenya yang menggugah, sering dijiwai keindahan puitik yang khas …..”

Shaw adalah sastrawan kedua Inggris (setelah Rudyard Kipling tahun 1907), sekaligus sastrawan kedua Irlandia (setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut.

 

Cerpen

William B Yeats: Tidak Ada Apa Pun Selain Tuhan

mm

Published

on

KEPALA BIARA pastor Malathgeneus, Pastor Dove, Pastor Bald Fox, Pastor Peter, Pastor Patrik, Pastor Bittern, Pastor Fair Brows, duduk mengelilingi api. Salah seorang sibuk menjahit jaring untuk menangkap belut di sungai. Seorang lagi mengatur perangkap burung, seorang membetulkan pegangan sekop yang rusak, yang lain tengah menulis di buku besar, dan seorang lagi tengah memaku kotak emas di pojok yang digunakan untuk mengikat buku. Dan di antara semak-semak sekat api, berbaring seorang pelajar yang pada suatu hari telah menjadi saudara mereka. Dia seorang anak berusia 8-9 tahun beranama Olioll, terbaring sambil menerawang bintang yang muncul-hilang di awan. Dia beralih ke pastor yang sedang menulis di buku besar, yang memang tugasnya sebagai guru Olioll. Olioll berkata, “Pastor Dove, bintang itu terikat pada apa?”

Pastor Dove senang mendengar keingintahuan muridnya yang terkenal bodoh itu. Sambil meletakkan pulpennya dia berkata, “Ada sembilan bola yang terdiri dari kristal; bulan terikat pada yang pertama, kedua Planet Merkurius, ketiga Planet Venus, keempat matahari, kelima Planet Mars, keenam Plane Jupiter, ketujuh Planet Sartunus. Itulah bintang-bintang yang berkeliling, dan pada yang kedelapan terikat bintang tetap, tetapi bola yang kesembilan adalah bola yang termuat dari substansi pertama.”

“Apa yang ada di jauh sana?” tanya anak itu.

“Tidak ada lagi, kecuali Tuhan.”

Kemudian mata anak itu tertuju pada kotak emas, dan berkata, “Mengapa Pastor Peter menaruh batu delima besar di sebelah kotak itu?”

“Batu delima adalah simbol kecintaan pada Tuhan. Karena batu delima itu merah seperti api dan api membakar apa saja, dan bila sudah tidak ada apa-apa, Tuhan itu tetap ada.”

Olioll hanyut dalam kesunyian, tapi tiba-tiba dia bangkit dan berakata, “Ada orang di luar.”

“Tidak ada,” jawab Pastor Dove. “Itu hanya  serigala; aku sering mendengar mereka berkeliaran di salju beberapa kali. Mereka sangat liar, dan sekarang musim dingin membuat mereka keluar dari gunung. Kemarin malam mereka mengganggu biri-biri, dan bila kita tidak hati-hati, mereka akan merusak apa saja.”

“Bukan, itu langkah-langkah manusia, karena langkahnya berat; saya bisa membedakannya dengan suara langkah serigala. Saya akan membuka pintu, karena mereka pasti kedinginan.”

“Jangan buka pintu, karena mungkin itu manusia serigala dan mereka akan menyerang kita!”

Tetapi anak itu sudah membuka pintu; seseorang terlihat pucat ketika pintu terbuka.

“Dia pasti bukan manusia serigala,” kata Olioll, karena bahu orang itu terletak dekat perut. Orang itu lalu masuk dan menatap semua orang secara perlahan, berdiri mengambil jarak dekat api; dan akhirnya tertuju pada Pastor Malathgeneus, dia berkata:

“Yang Mulia, saya mohon izin ikut menghangatkan diri dekat api, agar saya tidak mati kedinginan karena kemarahan Tuhan.”

“Mendekatlah ke api,” kata Pastor Malathgeneus. “Adalah hal yang menyedihkan jika ada orang Kristen mati dalam keadaan menderita seperti Anda.”

Laki-laki itu duduk di dekat api dan Olioll menghidangkan daging, roti, dan anggur di hadapannya. Tetapi dia hanya mau rotinya saja dan menolak anggur, lalu meminta air. Ketika jangut dan rambutnya mulai kering, ia mulai bicara lagi:

“Beri saya pekerjaan, mungkin pekerjaan yang paling berat, karena saya adalah orang termiskin di antara makhluk Tuhan yang miskin.”Para Pastor itu pun berunding membahas pekerjaan apa yang pantas diberikan pada lelaki itu, karena saat itu tidak ada pekerjaan yang kekurangan tenaga. Tetapi akhirnya mereka ingat pada usaha Pastor Bald Fox yang bisnisnya beralih ke perumahan, sehingg ia bisa pergi ke sana di pagi hari, karena ia tak mampu dan terlalu tua untuk mengerjakan yang lain.

Musim dingin berlalu, berganti musim semi dan beralih ke musim panas, dan para pekerja tidak berpangku tangan; tidak ada yang enggan, juga jika ada peminta-minta yang menyanyikan lagu. Penyebab kemurungan Olioll di waktu lalu, sehingga ia kerap terpisah dari saudara-saudaranya, adalah karena dari dulu ia bodoh dan tidak bisa diajar atau belajar. Tetapi sekarang kemurungan itu telah berlalu, karena dia berubah menjadi pintar dan adalah “keajabian” tatkala kepintaran itu datang secara tiba-tiba. Suatu hari bahkan ia pernah lebih tolol dari biasanya dan diancam akan diturunkan ke kelas di bawahnya bila ia tetap tidak bisa mengerti pelajaran-pelajarannya, dan tentu ia akan ditertawakan oleh anak-anak lain. Tetapi ia telah melewati perjalanan penuh deraian air mata itu. Akhirnya dia naik kelas, dan menjadi pelajar yang terpintar.

Pada mulanya Pastor Dove mengira ini adalah jawaban dari doa-doanya, sehingga ia merasa bangga. Tetapi setelah ia mencoba mendoakan hal-hal yang penting, dia gagal. Dia meyakinkan dirinya, bahwa anak itu adalah petunjuk adanya sihir. Dia menceritakan pemikirannya pada Kepala Biara, yang menyuruh datang ketika dia diminta membuktikan kebenarannya. Pada hari berikutnya, di hari Minggu, pastor Dove berdiri di jalan setapak. Ketika Kepala Biara dan pastor-pastor lain datang dari kebaktian malam dengan ditandu oleh para pelayan, ia berkata:

“Peminta-minta itu adalah orang yang paling suci dari orang-orang suci dan pekerja yang ajaib. Baru saja saya mengikuti Olioll, sampai dia tiba di hutan kecil dekat perumahan pekerja. Saya tahu karena ada jalan setapak yang rusak, dan dari bekas-bekas kaki di tempat berlumpur di mana dia telah melalui jalan itu berkali-kali.

William Butler Yeats
Yeats  adalah sastrawan pertama Irlandia yang memperoleh penghargaan nobel sastra, persisnya pada 1923. Ia Lahir di Sandymount, Irlandia tahun 1865 dan meninggal tahun 1939. Yeats adalah penyair yang sangat dihormati di negaranya, sekaligus menjadi panutan bagi penyair-penyair yang lebih muda, karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan makin mendekati usia tua, puisi-puisinya main matang. Yeats lebih dikenal sebagai penyair, meskipun ia juga menulis drama dan esai. Kumpulan puisi pertamanya The Wondering of Oisin and Otehr Poems (1889) menandai eksistensinya di dunia sastra, kemudian disusul dengan buku-buku lain. Tetapi ia paling dikenal berkat kumpulan-kumpulan puisinya yang terbit kemudian, The Tower (1928), The Winding Stair (1933), dan Last Poems (1940).



“Saya bersembunyi di semak-semak, di mana ada jalan setapak di tempat yang miring dan saya tahu, dari deraian air matanya, bahwa kebodohannya sudah terlalu lama dan kecerdasannya datang terlalu cepat. Ketika dia di perumahan para pekerja, saya pergi ke jendela dan melihat ke dalam; burung-burung datang dan hinggap di kepala dan bahu saya, karena mereka malu-malu di tempat suci itu. Dan seekor serigala lewat, kaki kanannya mengentak semak-semak. Olioll membuka bukunya dan melihat pada halaman yang saya suruh untuk dipelajarinya.

“Tetapi ia menangis; pengemis tua yang duduk di sampingnya lalu menenangkannya sampai Olioll tertidur. Ketika dia sudah tertidur lelap, pengemis itu bersujud dan berdoa dengan keras, katanya, “Tuhan yang menguasai seluruh bintang dan segalanya, kepunyaan-Mu adalah awal dari segala kekuatan; berikanlah pengetahuan setelah dia bangun dari tidurnya nanti, pengetahuan yang tidak ada di dunia ini.’ Kemudian sebuah cahaya berkobar di udara dan tercium semerbak bunga mawar. Pengemis itu beralih melihat pada saya, lalu membungkuk dan berkata, ‘O, Pastor Dove, bila saya telah melakukan kesalahan, maafkan saya, dan saya akan melakukan penebusan dosa. Kebodohan saya yang membawa saya kemari, tapi saya takut dan berlari, dan terus berlari sampai saya datang kemari.’”

Kemudian semua pastor berbicara bersama-sama; salah satu mengatakan bahwa dia sosok orang suci, yang lain mengatakan yang suci bukan dia tapi yang lain, yang satu mengatakan bahwa ia bukan orang suci, dan perbincangan itu hampir mendekati pertengkaran karena semua mengklaim orang suci karena asalnya. Pada akhirnya Kepala Biara berkata, “Dia bukanlah salah satu dari yang kalian bicarakan; saya ucapkan terima kasih pada semuanya. Dia Aengus, seorang pengembara yang tak punya tujuan. Sepuluh tahun lalu dia pergi ke hutan dan kerjanya hanya memuji Tuhan; banyak kabar tentang kesuciannya yang membawa banyak berkah. Sembilan tahun lalu dia hanya mengenakan kain buruk, dan sejak hari itu tak seorang pun yang melihatnya, karena dia menjauh dari manusia dan hidup dengan serigala di hutan. Dia hanya makan rumput-rumput yang tumbuh di ladang. Mari kita menghadap dia dan memberi hormat padanya, karena setelah mengalami pencarian diri yang lama, dia tidak menemukan apa pun kecuali Tuhan!” (*)

Continue Reading

Cerpen

Perempuan Bermata Merah

mm

Published

on

“Yang merasa kawanku, angkat tangan! Yang merasa selingkuhanku, angkat bicara! Yang merasa mantanku, angkat kaki!”

Oleh: Syukur Budiardjo[1]

Demikian update status terbaru yang ditulis oleh perempuan bermata merah di akun facebooknya. Perempuan bermata merah? Ya! Karena setiap malam ia selalu membunuh waktunya shingga menjelang subuh dengan menulis status di dinding beranda facebooknya atau chatting dengan siapa pun yang disukainya. Karena kurang tidur, matanya terlihat merah. Sangat merah.

Malam-malam panjangnya selalu ia gunakan untuk curhat dan berbicara dengan lelaki yang menjadi kekasihnya di dunia maya. Sementara itu, putri semata wayangnya telah tidur pulas, Ia berbicara apa saja yang berkelebat di dalam kepala atau hatinya. Tanpa beban. Juga mendengarkan keluh kesah yang disampaikan kekasihnya. Dengan bahasa yang mbeling. Atau barangkali malah vulgar!

Namun, pertemanan perempuan bermata merah itu dengan lelaki kekasihnya, selalu berumur pendek. Ia merasa bosan. Ia akhiri pertemanan itu. Ia kemudian mencari kekasih lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi dengan kekasih barunya. Ia bosan lagi. Ia putuskan cintanya. Ia mencari kekasih baru lagi. Ia berbicara dan mendengar lagi. Ia sudahi lagi karena bosan. Hingga tak terhitung dengan jari tangan mantan kekasihnya di dunia maya. Mangsanya bertumbangan.
                                                         

                                                                   ***

Perempuan bermata merah itu masih duduk menghadap laptop ketika nyanyian jengkerik di tengah malam masih terdengar. Lolong anjing liar tak membuatnya takut, kemudian berhenti mencari mangsa. Ia tak peduli. Karena malam hari baginya adalah waktu kebahagiaan itu bersemayam di dalam hatinya. Meski diwarnai dengan kata-kata tak sedap didengar. Ia masih juga chatting dengan kekasihnya yang baru.

Perempuan bermata merah itu adalah perempuan yang kesepian jiwanya, juga raganya. Karena suaminya pergi meninggalkannya begitu saja. Tanpa alasan yang jelas. Pergi tanpa kabar. Dengan meninggalkan anak perempuan yang masih bersekolah di kelas satu sekolah dasar.

                                                               ***

Perempuan bermata merah itu mengambil tempat duduk di dalam kamarnya setelah meletakkan majalah kesukaannya ke atas meja. Sesaat kemudian ia menyeruput teh hangat. Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamarnya. Putri semata wayangnya telah diantarkannya ke sekolah.

Ia lalu membuka laptopnya, kemudian menyalakan akun facebooknya. Ia terperanjat. Karena ada delapan pesan yang masuk ke dalam kotak pesan. Padahal, setiap hari ia menerima paling banyak tiga pesan inboks. Itu pun rata-rata berisi ucapan terima kasih karena perempuan muda itu telah mengabulkan permohonan pertemanan. Tak lebih dari itu.

Perempuan bermata merah itu selalu memosting statusnya setiap hari. Tak pernah henti. Di atas dua ratusan orang yang menyukai, setiap kali postingan statusnya muncul di beranda facebookinya. Komentar atas statusnya pun kebanyakan memujinya. Itu entah karena foto profilnya atau isi statusnya. Bisa keduanya atau bisa salah satunya.

Wajah yang menghiasi foto profilnya memang cantik! Wajah Asia khas Melayu. Alis matanya legam berbentuk bulan sabit. Matanya mampu menyihir siapa pun yang melihatnya, bagaikan mata elang yang sangat awas menemukan mangsanya. Hidungnya menyerupai hidung yang dimiliki oleh bangsa-bangsa asli di Timur Tengah atau Eropa. Bibirnya tipis merah merekah seolah hendak membisikkan pesan rahasia nan terselubung. Rambutnya yang hitam panjang terbelah dua di sebelah kiri dan kanan, menutupi wajahnya yang putih bersih.

                                                               ***

“Ah, cuma ucapan terima kasih!” Ia berkata lirih. Sudah enam pesan di kotak pesan dibukanya. Semuanya berasal dari laki-laki dan semuanya berisi ucapan terima kasih.

“Ha!” Ia terbelalak ketika membaca pesan ketujuh. Ia mulai membaca perlahan dan mencermati kata demi kata.

“Hai! Apa kabar sayang? Maukah kau menjadi pacarku di facebook? Aku menyukai bibirmu yang tipis, juga alis matamu yang hitam bagaikan celurit. Tapi yang membuatku menjadi tak bisa tidur adalah matamu yang menerkamku!”

“Hahahaha …. Picisan! Dasar lelaki buaya! Cuma pandai merayu di facebook! Gombal! Pret!” Ia mencemooh. Ia tak membalas pesan itu. Ia tak menggubrisnya.

Ia kemudian membuka pesan terakhir. Ia terpekik. Menahan napas. Matanya menembak kata per kata yang tertulis di kotak pesan.

“Dasar wanita peselingkuh! Kau tak lebih dari musang berbulu domba. Karena kau telah merebut suamiku. Dengan modal status yang kau posting di facebook kau racuni suamiku dengan kata-kata yang memabukkan. Dasar wanita pelakor!”

“Memang, kau sangat pintar merakit pesan rayuan yang kau kemas dengan kata-kata mutiara! Benar-benar menyakitkan! Coba bayangkan, jika posisimu ditukar dengan posisiku! Pasti kau juga akan marah! Dasar wanita berakhlak comberan!”

Sesaat perempuan bermata merah  itu terkesima. Belum sempat ia menjawab pesan terakhir yang menusuknya,, pintu rumahnya diketuk tamu.

“Kring! Kring! Kring!” Telepon genggamnya juga berdering. Ia hanya mematung.

Sesaat kemudian perempuan bermata merah itu mematikan telepon genggamnya. Kemudian ia membuka pintu. Namun, tak ada siapa pun. 

                                                                ***

Malam hari perempuan bermata merah itu kembali membuka akun facebooknya. Kemudian ia melihat-lihat kabar berita di beranda facebooknya. Ia lalu chatting dengan kekasih mayanya.  

Menjelang subuh ia mengakhiri perbincangan dengan kekasihnya. Akan tetapi, ia tak menyadari ada sepasang mata selalu mengawasinya. Ketika lengking muazin tepat waktu subuh terdengar, sepasang tangan kekar bertato kupu-kupu di lengan kanan, membekap mulutnya. Ia memberontak, tetapi tak berhasil. Perempuan bermata merah itu kehabisan napas. Lemas. Lunglai.

Cibinong, Oktober 2020


[1] *) Syukur Budiardjo, Penulis dan Pensiunan Guru ASN di DKI Jakarta. Alumnus Fakultas pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Bahasa Indonesia IKIP Jakarta. Menulis artikel, cerpen, dan puisi di media cetak, media daring, dan media sosial. Kontributor sejumlah antologi puisi. Menulis buku kumpulan puisi Mik Kita Mira Zaini dan Lisa yang Menunggu Lelaki Datang (2018), Demi Waktu (2019), Beda Pahlawan dan Koruptor (2019), buku kumpulan esai Enak Zamanku, To! (2019), dan buku nonfiksi Straegi Menulis Artikel Ilmiah Populer di Bidang Pendidikan Sebagai Pengembangan Profesi Guru (2018). Tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Continue Reading

Cerpen

Gabriel Garcia Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez*

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.


One Hundred Years of Solitude mengisahkan tentang naik turunnya, kelahiran dan kematian kota mitos Macondo melalui sejarah keluarga Buend. Penuh dengan kehidupan, menghibur, magnetis, sedih, dan berkisah tentang hidup pria dan perempuan yang tak terlupakan—penuh dengan kebenaran, kasih sayang, dan sihir liris yang menyerang jiwa—novel ini adalah mahakarya seni fiksi.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.


No One Writes to the Colonel
Ditulis dengan realisme dan kecerdasan welas asih, kisah-kisah dalam koleksi yang memikat ini menggambarkan perbedaan kehidupan kota dan desa di Amerika Selatan, tentang kenangan dan ilusi akan ruang antara yang sangat miskin dan terlampau kaya, serta peluang yang hilang dan kegembiraan saat ini. Jumat selalu berbeda. Setiap hari dalam seminggu, Kolonel dan istrinya yang sakit berjuang terus-menerus melawan kemiskinan dan kehidupan yang monoton,  mereka mengumpulkan sisa-sisa tabungan mereka untuk makanan dan obat-obatan yang membuat mereka tetap hidup. Tetapi pada hari Jumat, tukang pos datang – dan itu memberi gelombang harapan yang sekilas mengalir melalui hati Kolonel yang menua.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.


Leaf Storm
‘Tiba-tiba, bak puyuh menerjang di tengah-tengah kota, perusahaan pisang itu tiba, dikejar oleh badai daun’
Dibasahi hujan, kota itu mulai membusuk sejak perusahaan pisang pergi. Penduduknya menjengkelkan dan dingin, sehingga saat dokter itu – orang asing yang berakhir sebagai orag paling dibenci di kota – mati, tak ada seorang pun yang menangisinya. Tapi juga hidup di sana seorang Kolonel, yang terpaksa harus melaksanakan janji yang dibuat bertahun-tahun lalu. Sang Kolonel dan keluarganya harus mengubur dokter itu, kendati harapan para warga tetangganya agar mayat dokter itu terlupakan dan dibiarkan membusuk.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*) Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending