Connect with us

Cerpen

Kaisar dan Gadis Kecil

mm

Published

on

TAK PUTUSNYA bulan keluar-masuk awan malam itu dan seluruh urat saraf menjadi tegang karena tiap saat dikejutkan oleh manusia atau setan di bayangan remang, dan awan berkejaran di langit; ada yang putih-bening hingga bulan kelihatan menerawang, ada yang kelihatan seperti diselimuti bulu-bulu cokelat, ada yang hitam besar dan bulan pasti lenyap kalau tertangkap. Orang-orang yang ketakutan mengunci pintu dan mereka berhangat-hangat di dalam rumah, di balik tirai yang menolak malam kelam, tetapi ada yang lalu menjadi gundah dan keluarlah mereka mengintai bulan. Mereka suka malam gelap dan mereka berkhayal tentang dunia yang tak tampak, dan keluarlah makhluk-makhluk ajaib dari keremangan menemaninya.

Pada malam itu lebih aman keluar waktu gelap karena siang hari di situ terjadi pertempuran antara orang-orang Inggris-Prancis melawan Jerman. Waktu siang semua berlindung di bawah tanah, sebab kalau kelihatan kepala muncul terus saja: dor! Ditembak Tirai-tirai digantungkan di situ untuk mencegah orang-orang berkeliaran di tanah lapang, tapi tidak serupa tirai jendela, melainkan granat-granat, kepingan-kepingan bom yang menghujam bertubi-tubi, meledak memecah tanah, menghancurkan manusia, ternak dan tanaman; karena itu disebut tirai api. Waktu malam tidak ada tirai api, dan prajurit-prajurit jaga malam tak mudah melihat orang di dalam gelap. Tapi bahaya tetap ada; jadi tak mungkin kita mengingat-ingat setan atau perampok. Bahkan, mau tak mau, kita harus memikirkan granat dan peluru, memikirkan mereka yang masih bergelimang di tempat mereka terbunuh atau mendapat luka. Maka tidaklah mengherankan, bahwa tak ada orang yang berjalan-jalan menikmati bulan atau menonton kembang api, sebab memang tak ada kembang api. Pada waktu-waktu tertentu, prajurit-prajurit jaga malam melemparkan granat yang bercahaya ke langit dan menyinari orang-orang dan barang yang ada di bawah. Maka terus saja orang-orang itu menjatuhkandiri dan pura-pura mati sampai suasana menjadi gelap kembali. Mereka adalah mata-mata yang sedang mengintai lawannya, orang-orang yang mencari kawannya yang luka atau yang sedang memasang kawat berduri di sekitar lubang perlindungan.

Kira-kira jam setengah dua belas lebih sedikit. Di suatu tempat yang sunyi, di mana tak ada orang merunduk-runduk, dan terlalu jauh dari sinar granat cahaya, datanglah seorang berjalan dan melangkah panjang dengan ganjilnya, sebab ia tak mencari orang-orang yang luka. Ia bukan mata-mata dan tidak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan tentara; ia hanya berjalan-jalan saja, berhenti, berjalan lagi, dan ia tak pernah membungkuk untuk mengangkat sesuatu. Terkadang, kalau ada granat cahaya yang terlalu dekat sehingga ia tampak terang, ia berhenti dan berdiri tegak sambil melipat tangannya. Setelah gelap kembali ia berjalan lagi, melangkah seperti orang yang angkuh, meskipun ia harus hati-hati menampakkan kakinya karena tanah penuh rongga dan berlubang akibat granat dan kepingan-kepingan bom, dan jangan sampai mayat prajurit terinjak olehnya. Ia bersikap angkuh dan tinggi hati, karena ia Kaisar Jerman. Kalau ia ada di suatu sudut tertentu antara kau dengan bulan, atau granat cahaya, akan kau lihat pucuk kumisnya yang melengkung ke atas, persis seperti pada potret-potretnya. Tapi umumnya ia tidak tampak karena gelap, kecuali jika kau mendekatinya.

Malam itu gelap sekali, dan meskipun ia berjalan hati-hati, namun ia terjerumus ke sebuah lubang ranjau dan hampir saja jatuh tersungkur. Tapi ia selamat karena tangannya berhasil menjagkau sesuatu. Dikiranya segebung rumput, tapi rupanya janggut orang Prancis, dan orang Prancis itu sudah mati. Ketika itu bulan menjenguk sebentar dan tampak oleh Sang Kaisar sejumlah mayat prajurit; orang-orang Prancis dan Jerman yang bergelimpangan di dalam lubang, dan tampaknya mayat-mayat itu memandanginya dengan tajam.

Sang Kaisar terkejut setengah mati. Sebelum ia sempat berpikir, meluncurlah kata-kata Jerman dari mulutnya, “Ich habe es nicht gewollt,” atau ‘bukan salahku’, atau ‘bukan maksudku,’ atau terkadang ‘bukannya aku’; seperti pembelaan seseorang yang dipersalahkan karena telah berbuat sesuatu. Lalu ia merangkak keluar dari lubang dan berjalan lagi ke arah yang lain. Tetapi hatinya tidak enak, maka dirasanya perlu duduk sebentar. Sesungguhnya ia dapat berjalan terus kalau dipaksa, tapi peti mesiu yang didudukinya itu terlalu enak untuk ditinggalkan begitu saja, sehingga diputuskannya istirahat sebentar sampai ia segera kembali.

            Peristiwa selanjutnya sungguh tak terduga, sebab sesuatu berwarna cokelat datang menghampirnya dari kegelapan, dan mungkin dikiranya itu seekor anjing, tapi didengarnya benda itu berdenting disertai suara langkah kaki. Setelah dekat, tampak olehnya seorang gadis kecil, terlalu kecil untuk berkeliaran jam dua belas kurang seperempat tengah malam.

Suara denting-denting itu disebabkan oleh panci kaleng yang dibawanya. Dan ia menangis, tidak keras, hanya tersedu-sedu. Ketika dilihatnya Sang Kaisar, ia tidak menjadi takut atau terkejut; ia berhenti menangis dan katanya antara sedu-sedan, “sayang, airnya tumpah semua.”

“Ah, sayang sekali,” kata Sang Kaisar; ia sudah terbiasa dengan anak-anak. “Kau haus sekali? Aku punya botol minum, tapi mugnkin isinya terlalu keras untukmu.”

“Aku tak ingin minum,” jawab gadis kecil itu keheranan.

“Dan kau? Kau luka?”

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “kenapa kau menangis?”

Gadis kecil itu hampir menangis lagi. “Prajurit-prajurit itu nakal,” katanya; ia mendekat pada Sang Kaisar dan bersandar di lututnya. “Ada empat prajurit di lubang ranjau, di sana. Seorang Tommy, seorang Hairy, dan dua orang Boche.”

“Kau tidak boleh menyebut prajurit Jerman seorang Boche,” kata sang Kaisar kereng, “itu salah, salah sama sekali!”

“Tidak,” kata gadis kecil, “itu betul. Prajurit Inggris namanya Tommy, prajurit Prancis disebut Hairy, dan prajurit Jerman namanya Boche. Ibu bilang begitu. Dan semua orang juga. Boche yang satu memakai kacamata, dan rupanya seperti guru sekolah. Yang lainnya sudah dua malam di situ. Ke empat-empatnya tak dapat bergerak. Mereka nakal semua. Telah kubawakan air untuk mereka, dan mula-mula mereka berterima kasih dan berdoa Tuhan akan membalasku, kecuali si guru sekolah itu. Lalu jatuhlah sebuah granat, dan meskipun jauh, mereka mengusirku pulang ke rumah. Kalau tidak aku akan dimakan beruang, katanya, dan Ayah akan memukulku dengan cambuk. Guru sekolah itu memaki-maki, bahwa mereka pengecut semua, tidak ada apa-apanya, tapi ia pun berbisik menyuruhku pulang. Boleh aku tinggal di sini denganmu? Ayah tak akan memukulku, sungguh, tapi aku takut dimakan beruang.”

“Kau boleh tinggal denganku,” kata Sang Kaisar, “nanti kupukul beruang itu. Dan tidak ada beruang di sini.”

“Kau yakin betul?” kata gadis kecil. “Kata Tommy itu ada beruang besar yang makan anak-anak kecil, setelah itu dimasaknya mereka di dalam perutnya.”

“Orang Inggris selalu bohong,” kata Sang Kaisar.

“Mula-mula ia baik,” kata gadis kecil dan ia mulai menangis lagi. “Ia tak akan mengatakannya kalau ia sendiri tak percaya, tapi mungkin karena luka-lukanya terlalu sakit maka ia berkhayal tentang beruang-beruang.”

“Jangan menangis,” kata Sang Kaisar. “Maksudnya baik; mereka takut kau mendapat luka-luka seperti mereka. Mereka menyuruhmu pulang biar selamat.”

“Oh, aku biasa melihat granat,” kata gadis kecil. “Setiap malam aku keluar membawakan air untuk yang luka-luka, karena Ayah pernah selama lima malam tak ada yang menolong dan ia sangat kehausan.”

Ich habe es nich gewollt,” kata Sang Kaisar dan ia merasa hatinya tidak enak lagi.

“Kau seorang Boche?” kata gadis kecil, sebab sebelumnya Sang Kaisar berbahasa Prancis dengannya. “Bahasa Prancismu baik, tapi mungkin kau seorang Inggris?”

“Aku setengah Inggris,” kata Sang Kaisar.

“Ah, lucu sekali,” kata gadis kecil. “Kau harus hati-hati, sebab kau bisa ditembak oleh kedua pihak.” Sang Kaisar tertawa parau, dan bulan muncul dan menyinarinya lebih terang dari sebelumnya.

“Baju mantelmu bagus, dan seragammu amat bersih,” kata gadis kecil, “bagaimana pakaianmu bisa tetap bersih, sedang kau harus rebah di tanah kalau ada granat cahaya di atas?”

“Aku tidak rebah. Aku berdiri tegak. Maka pakaianku tetap bersih,” kata Sang Kaisar.

“Kau tidak boleh berdiri tegak,” kata gadis kecil. “Kalau kau ketahuan, kita akan ditembaki.”

“Baik,” kata Sang Kaisar. “Aku akan rebah untukmu selama kau masih ada di sini, tapi sekarang mari, kuantar kau pulang. Dimana rumahmu?”

Gadis kecil tertawa. “Kami tidak punya rumah,” katanya. “Mula-mula dusun kami dibom Jerman. Terus didudukinya, lalu dibom oleh Prancis. Kemudian datang tentara Inggris dan mereka terus mengebomnya dan mengusir pergi orang-orang Jerman. Sekarang ketiganya mengebomnya bersama-sama. Rumah kami tujuh kali kena granat, dan kandang sapi sampai sembilan belas kali. Tapi anehnya, tidak seekor sapi pun yang kena. Ayah bilang 25.000 franc ongkosnya kalau bisa menghancurkan kandang sapi itu.Ia bangga sekali.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan ia merasa tidak enak lagi. Setelah segar kembali, ia berkata, “Di mana kau tinggal sekarang?”

“Di mana saja,” kata gadis kecil. “Oh, itu soal mudah. Kami sudah terbiasa sekarang. Siapa kau sebenarnya? Pengangkut brankar?

“Bukan, Anakku,” kata Sang Kaisar, “aku disebut orang Sang Kaisar.”

“Aku tidak tahu kalau ada lebih dari satu kaisar,” kata gadis kecil.

“Ada tiga,” kata Sang Kaisar.

“Ketiga-tiganya berkumis tengadah seperti kau?” kata gadis kecil.

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “mereka boleh berjanggut kalau kumisnya tak bisa tegak.”

“Mestinya digulung dengan kertas seperti rambutku pada waktu paskah,” kata gadis kecil. “Apa kerja seroang kaisar? Bertempur atau mengangkut yang luka-luka?”

“Sesungguhnya seorang kaisar tidak berbuat apa-apa,” kata Sang Kaisar, “Ia berpikir.”

“Apa yang dipikirkannya?” kata gadis kecil, sebab seperti juga semua anak kecil, ia kurang tahu soal orang lain, sehingga terpaksa ia sering bertanya dan kadang orang berkata; jangan suka ingin tahu, dan ibunya biasa berkata; jangan bertanya supaya tidak dibohongi.

“Kalau seorang kaisar harus mengatakannya, maka ia tidak berpikir. Betul tidak?” kata Sang Kaisar, “Melainkan ia bicara.”

“Lucu benar jadi kasiran,” kata gadis kecil. “Tapi apa sesungguhnya kerjamu malam-malam di sini, sedang kau tidak luka-luka?”

“Maukah kau berjanji tak akan mengatakannya pada orang lain?” kata Sang Kaisar, “Ini rahasia.”

“Aku berjanji,” kata gadis kecil. “Katakanlah, aku suka mendengar rahasia.”

            “Dengarkan,” kata Sang Kaisar, “pagi tadi aku harus berpidato untuk prajurit-prajuritku, bahwa aku tak dapat turut bersama mereka ke front untuk bertempur, sebab kalau aku mati mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka akan digempur dan mereka akan mati.”

“Nakal benar kau,” kata gadis kecil, “kau bohong,bukan? Waktu kakaku terbunuh, terus saja ia digantikan oleh orang lain, dan peran berjalan terus seolah tak ada kejadian apa-apa. Mestinya mereka berhenti sebentar, tapi tidak, mereka bertempur terus. Kalau kau terbunuh, adakah penggantimu?”

“Ada,” kata Sang Kaisar, “anakku.”

“Nah, tapi mengapa kau harus berdusta?” kata gadis kecil.

“Aku harus begitu,” kata Sang Kaisar, “itulah kewajiban seorang kaisar. Ia harus mau mengatakan sesuatu yang tak mungkin dipercaya oleh dirinya sendiri, ataupun oleh orang lain. Kulihat pada wajah prajurit-prajurit itu, bahwa mereka tidak percaya dan mereka pasti mengira aku seorang pengecut yang sedang membela diri. Maka, setelah malam, aku pura-pura pergi tidur, tapi setelah semua orang pergi, aku pelan-pelan keluar untuk menunjukkan bahwa aku tidak takut. Itu sebabnya aku berdiri tegak, meskipun ada granat cahaya.”

“Mengapa tidak di waktu siang saja kau datang?” kata gadis kecil. “Waktu siang adalah yang paling berbahaya.”

“Aku tidak diizinkan pergi,” kata Sang Kaisar.

“Kasihan,” kata gadis kecil. “Aku kasihan padamu. Mudah-mudahan kau tidak mendapat luka. Tetapi jika kau terluka, kubawakan air nanti.”

Sang Kaisar terharu mendengar kata-kata itu, maka diciumnya gadis kecil sebelum ia bangkit dan dibimbingnya anak itu ke tempat yang aman. Gadis kecil pun amat bersukacita, sehingga ia lupa akan bahaya. Itulah sebabnya mereka tak menghiraukan granat yang bercahaya di depannya; bahwa sosok tubuh Sang Kaisar yang tinggi itu tampak dari jauh, meskipun gadis kecil dengan pakaiannya yang cokelat-kumal dan wajah tak terlalu bersih itu dari kejauhan hanya tampak seperti seonggok sarang semut belaka.

Saat berikutnya terdengarlah suara yang menyeramkan; suara granat melintas dengan cepat, sehingga baru kedengaran ledakannya ketika granat itu sudah tepat menuju ke arah dua orang itu. Sang Kaisar cepat-cepat melihat ke sekitarnya, dan ketika itu dua granat cahaya bersinar di udara, dan sebuah granat lain datang dari kejauhan ke arah mereka. Dan kali ini granat itu besar sekali; terlihat oleh Sang Kaisar peluru itu terbang di udara seperti gajah mengamuk, dan suaranya seperti kereta api di dalam terowongan. Granat yang pertama meledak tidak jauh dari situ, dan suaranya seperti membelah bumi, sehingga rasanya tepat di dalam telinga Sang Kaisar. Sementara itu granat kedua datang menyerbu.

Sang Kaisar menjatuhkan diri dan kedua tangannya mencengkeram tanah, seolah ia hendak menyembunyikan diri disitu. Barulah diingatnya gadis kecil itu; bulu kuduknya tegak begitu berpikir mungkin anak itu sudah hancur tertembak, sehingga ia tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi dan melompat akan melindungi gadis kecil itu dengan tubuhnya.

Tetapi pikiran lebih cepat datang daripada pelaksaannya, dan granat-granat hampir secepat pikiran-pikiran itu. Sebelum Sang Kaisar sempat melepaskan genggaman tangannya, sebelum ia dapat berlutut dan bangkit, terdengarlah suara yang menegakkan bulu roma. Belum pernah Sang Kaisar mendengar suara yang begitu menakutkan, meskipun ia sudah terbiasa mendengar granat-granat dari kejauhan. Itu bukanlah ledakkan, bukan sesuatu yang gemuruh,bukan sesuatu yang mengguntur, melainkan sesuatu yang menyeramkan; suara pecah-ledak-hancur membelah bumi, seolah hari kiamat. Satu menit Sang Kaisar mengira ia telah hancur dari dalam, sebab sesunguhnya granat dapat menghancurkan manusia dari dalam bila tidak sungguh-sungguh kena. Setelah ia bangkit, ia tak tahu apakah ia tegak dengan kepala terbalik atau berdiri pada kedua kakinya, dan sesungguhnya ia tidak terbalik dan tidak pula tegak sebab ia terjatuh berkali-kali. Dan setelah ia berhasil menapakkan kakinya sambil berpegangan pada sesuatu, tahulah ia bahwa sesuatu itu adalah sebatang pohon yang tumbuh jauh dari tempat semula ia berdiri, dan tahulah ia bahwa ia terpelanting ke situ karena ledakan itu. Dan yang pertama-tama diucapkannya adalah, “Mana anak itu?”

“Di sini,” terdengar suara di pohon di atas kepalanya. Suara si gadis kecil.

Gott sei dank!” kata Sang Kaisar lega. “Syukurlah! Kau luka, Anakku? Kukira kau telah hancur-lebur.”

“Sesungguhnya aku hancur-lebur.” Suara gadis kecil. “Hancur menjadi dua ribu tiga puluh tujuh kepingan-kepingan kecil. Granat itu jatuh tepat di pangkuanku. Kepingan yang paling besar adalah jari kelingking kakiku, di sana letaknya, kira-kira setengah mil dari sini. Salah satu kuku ibu jariku di sana jatuhnya, setengah mil ke arah sana, dan ada empat helai bulu mataku di lubang itu, di tempat keempat orang itu meninggalkan tubuhnya, dan satu gigi depanku terselip pada ban topi helm-mu. Tapi aku tidak heran, sebab kejadian itu tidak terduga. Sisa-sisa badanku yang lain sudah terbakar dan hancur menjadi debu.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan suaranya murung menimbulkan iba. Tapi gadis kecil tidak menjadi iba; ia hanya berkata:

            “Oh, sesudah ini terjadi, tak berarti kau salah atau tidak. Aku tertawa melihatmu terlungkup dengan pakaian seragammu yang indah itu. Aku terus tertawa sampai tak terasa olehku granat itu, meskipun aku sangat terpukul karenanya. Sekarang pun rupamu masih lucu, mencengkeram pohon dan terhuyung-huyung seperti nenek yang sedang mabuk.”

Sang Kaisar mendengar tawanya, tapi ia terkejut sebab terdengar pula tawa orang-orang lain; suara kasar laki-laki.

“Siapa yang tertawa disitu?” katanya. “Ada orang lain di situ?”

“Oh, banyak sekali,” suara gadis kecil. “Keempat orang dari lubang itu. Granat yang pertama telah membebaskan mereka.”

Du hast es nich gewollt, Whilhelm, was?” terdengar suara kasar, lalu semua suara tertawa, sebab lucu benar mendengar seorang prajurit menyebut Sang Kaisar dengan nama itu.

“Kau tak boleh mengingkari kehormatan yang kuajarkan padamu, dan kau patut mengakui hak-hakku,” kata Sang Kaisar. “Bukan kehendakku menjadi kaisar. Kau yang membimbingku ke arah itu, dan kau yang melarang aku berbuat sesperti manusia biasa, sejajar denganmu. Maka sekarang kuperintahkan kau memperlakukan aku sebagai dewa, sebagaimana tuhan menjadikanku.”

“Tak ada gunanya bicara dengan mereka,” suara gadis kecil, “mereka sudah terbang semua. Mereka tidak mendengar kata-katamu, karena mereka tidak menghiraukanmu. Tak ada lagi yang tinggal kecuali aku dan Boche berkacamata itu.”

Terdengar suara laki-laki dari arah pohon.

“Aku tidak pergi bersama mereka, karena aku tak suka bergaul dengan prajurit-prajurit,” kata suara itu. “Mereka tahu, kau yang menjadikan aku seorang profesor untuk menceritakan segala omong kosong tentang nenek moyangmu.”

“Tolol,” kata Sang Kaisar, “pernahkah kau mengatakan pada mereka yang sebenarnya tentang nenekmu sendiri?”

Tak ada jawaban, dan kemudian terdengar suara gadis kecil itu, “Ia sudah pergi. Kukira neneknya tidak lebih baik daripada nenekmu atau nenekku. Dan sekarang aku pun akan pergi. Menyesal sekali, sebab aku sayang padamu sebelum aku dibebaskan oleh granat itu. Tapi sekarang, bagaimanapun juga, kau bukan soal lagi.”

“Anakku,” kata Sang Kaisar, dan hatinya sedih karena gadis kecil itu akan meninggalkannya. “Aku akan selalu mengingatkanmu.”

“Betul,” suara gadis kecil, “tapi bagiku kau tak berarti lagi. Dan sebenarnya, dulu pun kau tak berarti bagiku, kecuali ketika aku ketakutan kalau-kalau kau akan membunuhku. Kukira pasti sakit rasanya, karena aku belum tahu bahwa itu justru akan membebaskanku. Sekarang aku sudah bebas, dan karena ini lebih enak daripada lapar dan takut, maka kau bukan soal lagi. Selamat tinggal!”

“Tunggu sebentar,” kata Sang Kaisar mengiba. “Jangan tergesa-gesa, aku merasa kesepian.”

“Mengapa tak kauperintahkan prajurit-prajurit itu menembakmu, seperti yang mereka lakukan padaku?” suara gadis kecil. “Kau jadi bebas, dan kita bisa terbang bersama kalau perlu. Tak mungkin aku tetap menemanimu, kecuali jika kau sudah bebas pula.”

“Aku tidak boleh,” kata Sang Kaisar.

“Mengapa tidak boleh?” suara gadis kecil.

“Sebab itu tidak biasa,” kata Sang Kaisar. “Dan celakalah seorang kaisar yang melakukan sesuatu yang tidak biasa, karena ia sendiri hanya suatu kebiasaan semata.”

“Panjang sekali perkataan itu.Belum pernah kudengar sebelumnya,” suara gadis kecil. “Mungkinkah artinya segumpal tanah tak dapat meninggalkan bumi, bertapapun ia berusaha?”

“Betul,” kata Sang Kaisar. “Itu artinya.”

“Kalau begitu, boleh kautunggu sampai Tommy-Tommy dan Hairy-Hairy itu menembakkan meriamnya padamu,” suara gadis kecil. “Jangan sedih, mereka pasti mau melakukannya kalau kau tetap tegak meski ada granat cahaya. Sekarang, kuberikan kau ciuman terakhir, sebab kau telah menciumku sebelum aku bebas. Tapi beoleh jadi kau tak dapat merasakannya.”

Dan benar juga katanya, sebab meskipun Sang Kaisar berusaha merasakannya, ia tidak merasakan apa-apa. Dan yang lebih menyiksa lagi adalah karena dia dapat melihat sesuatu, karena ia tengadah ke arah suara yang berkata akan menciumnya itu; dan dilihatnya sosok gadis itu cantik, molek dan segar-memawar, dengan sepasang sayap terbang ke bumi, sangat bersih tubuhnya, dan agaknya tak terpikir oleh gadis kecil itu bahwa ia tidak berpakaian secabik pun, dan kedua lengannya memeluk leher Sang Kaisar serta menciumnya sebelum ia terbang meninggalkannya. Semua itu tampak jelas oleh Sang Kaisar dan ini sungguh ajaib, sebab tak ada cahaya kecuali sinar bulan yang remang, yang seharusnya tampak kelabu atau putih seperti burung pungguk, tapi tubuh kecil itu terang dan tampak cantik bagai bunga mawar. Hati Sang Kaisar pilu ditinggalkan oleh gadis kecil, tetapi semua itu lenyap karena sekonyong-konyong terdengar beberapa orang menyapanya. Tak diketahui kapan mereka datang. Mereka adalah dua perwira Sang Kaisar, dan mereka bertanya penuh hormat; apakah granat itu telah melukainya. Bidadari itu lenyap saat kata pertama diucapkan perwira itu. Sang Kaisar marah sekali karena orang-orang itu telah mengusirnya, sehingga ia tak berkata-kata lagi. Kemudian, dengan kasar, ia menanyakan  jalan kembali ke “penjara”. Tetapi ketika dilihatnya bahwa mereka tak mengerti serta memandanginya seolah melihat orang gila, ia lalu menanyakan jalan ke markasnya; maksudnya ke tendanya. Mereka menunjukkan jalan itu, dan ia melangkah di muka keda perwira itu sampai ke tempat yang dituju. Semua prajurit jaga menyapanya dan memberi hormat, setelah dijawab oleh kedua perwira itu. Lalu ia mengucapkan selamat tidur, pendek sekali, dan ia sudah siap naik ke tempat tidurnya ketika salah seorang dari mereka bertanya; takut kalau-kalau mereka perlu membuat laporan tentang kejadian itu. Satu-satunya jaswaban Sang Kaisar adalah, “Kalian semua sekumpulan orang gila!”, dan itu kutukan yang mengerikan.

Mereka berpandangan satu sama lain, lalu salah seorang diantaranya berkata:

“Yang Mulia mabuk,” dan itu juga kutukan yang mengerikan. Untung saja Sang Kaisar sedang memikirkan gadis kecil itu dan tak mendengar apa yang dikatakan perwira tadi. Tetapi andaikan ia mendengarnya, itu juga tidak berarti, karena semua prajurit kasar di mulut tanpa bermaksud jahat. (Penerjemah: Hartini).

*GEORGE BERNARD SHAW: (Nobel Prize for Literature 1925)

Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1856 dan meninggal tahun 1950. Bersama William Butler Yeats dan James Joyce, Shaw sering disebut sebagai salah satu maestro sastra Irlandia, meski akhirnya ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

Shaw lebih dikenal sebagai penulis drama. Karya-karya dramanya mencapai lebih dari 50 judul dan sebagian besar telah menjadi drama-drama klasik Barat, di antaranya yang populer adalah Arms and the Man (1894), Candida (1894), Caesar and Cleopatra (1898), Man and Superman (1903), Back to Methuselah (1920), Saint Joan (1923), The Millionairess (1936), dan masih banyak lagi.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusasteraan pada Shaw sebagai pengakuan: “ ….. atas karyanya yang memperlihatkan idealisme dan kemanusiaan, satirenya yang menggugah, sering dijiwai keindahan puitik yang khas …..”

Shaw adalah sastrawan kedua Inggris (setelah Rudyard Kipling tahun 1907), sekaligus sastrawan kedua Irlandia (setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut.

 

Cerpen

Kamera Tua

mm

Published

on

lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

 Aflaha Rizal *)


Desas-desus terdengar dari ruang dapur lelaki itu, yang masih amat muda, dan belum menikah. Tak perlu kau tahu namanya, hanya yang perlu kau tahu, ia adalah lelaki muda yang sedang mencuci piring, dengan hidupnya yang belum menikah. Lelaki itu selalu berkata, “Menikah itu sebenarnya seperti pembayaran untuk memuaskan nafsu birahi semata kepada perempuan. Serupa pembayaran uang untuk menyewa pelacur. Tetapi ditutupi lewat perayaan kebahagiaan dari kedua mempelai, dua antar mertua, dan undangan tamu yang berbahagia.” Apa bedanya? Ya, hanya pesta kebahagiaan selepas membayar uang kepada pelacur lewat pernikahan. Perkataan itu pernah ia lontarkan kepada seorang kawannya, yang bekerja sebagai penulis cerita pendek dan kini sudah tidak menulis lagi. Lantaran tidak ada ide yang baru untuk menulis.

Hidupnya kini menjadi seorang petani, juga membangun perpustakaan tua yang ada di desa Kepala Tiga. Desa yang tidak pernah ditemukan di peta negara, dan tentunya, tak pernah dipedulikan oleh seorang presiden yang duduk di istana, beserta jajaran dan juga menteri yang hidup bermewahan. Mencuci piring, bagi lelaki itu, katanya, seperti sedang membersihkan sebuah dosa manusia selama hidup. Dan kau mendengarnya itu bagai tubuhnya yang ganjil. Ya, lelaki muda itu memang amat ganjil. Dengan kepalanya, hidupnya, juga waktu-waktunya.

Namun ia masih bekerja di sebuah instansi, tetapi ia merasa muak dengan pekerjaan itu. Tetapi, hidup perlu makan dan perlu pakaian. Meski kau tahu, pekerjaan dimana-mana, akan selalu timbul muak dan kebosanan dari sebuah keharusan dan kewajiban. Apakah tidak patut bila bermasalan di saat memiliki istri dan anak yang mesti dihidupi? Kau tentu akan tetap melakukannya, di saat kau muak dan bosan dalam hidup ini.

Piring-piring yang menumpuk, kini semua bersih dari kotoran dosa yang berasal dari makanan. Tempat cucian piring telah bersih. Kini, lelaki muda itu menuju ruang tamu dan memutar piringan hitam. Sebuah lagu romantis yang mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, yang pernah ia minta untuk tidur bersama. Kekasihnya itu menolak, dengan alasan, “Aku tak mau diriku direnggut kau sebelum menikahiku.” Sebenarnya, kau melihat wajah lelaki itu yang tertawa ketika mengingat masa lalunya itu. Perempuan itu, yang diberi nama Tenun, memiliki hasrat seksual yang harus dibuangnya, demi untuk menjaganya sebelum menikah. Apapun perihal cinta maupun percintaan dari seorang kekasih, hasrat seksual atau berhubungan badan tak bisa dilepas. Dan akan tetap dilakukannya.

“Aku takut bila kita dipergok warga,” ucap Tenun saat itu.

“Kau tahu, warga sini seperti menjaga kesucian mereka dan moral mereka. Padahal, mereka juga sebenarnya tidak bermoral. Aku melihat mereka menebar fitnah kepada warga lain, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dan mereka selalu menyebut diri mereka bermoral.”

“Kau selalu menceritakan ini dengan persepsimu. Kau tak harus menilai mereka bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bejat.”

“Tetapi, manusia memang memiliki bejatnya bukan?” tanya lelaki itu, yang kau dengar bagai manusia yang sama sekali tidak ada pegangan aturan dan juga agama.

Lelaki muda itu sebenarnya beragama, ia selau menunaikan agamanya. Tetapi, orang-orang selalu meragukan agama lelaki muda itu sendiri. Namun kau tak perlu melihat apa agama lelaki itu, selain punya cinta dan hasrat untuk bertahan hidup. Tentu, sebagian masa lalunya yang pahit, terekam dalam kamera tua-nya. Ia merekam secara sembunyi perihal ayahnya yang memukuli ibunya di ruang tamu, saat lelaki muda itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Kecakapan dalam bermain kamera yang diajarkan oleh ibunya sudah tertanam, dan kelak pada cita-citanya, ia ingin menjadi seorang kameramen, tetapi tidak tercapai.

Pekerjaan di instansi ini berkat dari ayahnya yang punya kenalan. Dengan perkataan, “Anak muda ini harus punya masa depan yang baik, biar tidak susah mencari uang. Apalagi, pensiun masa tua-nya juga menjamin.” Dengan berat hati, lelaki muda itu menerimanya, melepas cita-citanya sebagai kameramen. Suatu ketika, saat masih di ruang tamu, kau mendengar lelaki muda itu mengucap kata, “Bajingan!” seolah kata-kata itu ia maki kepada ayahnya yang kolot dan tidak punya pikiran terbuka. Sepanjang kuliah, ia tentu dibatasi pertemanannya. Selain harus belajar, lulus cepat, dan dapat pekerjaan serta mencari uang yang banyak. “Jangan lah jadi mahasiswa aktivis yang tiada gunanya itu. Memaki pemerintah karena tidak adil, padahal mereka juga menikmati hasil yang dibangun pemerintah. Mereka itu sama kayak komunis tahu! Liberal, tidak ada pegangan aturan serta agama.” Ucap ayahnya suatu ketika, yang kali ini, kau mendengar bahwa lelaki itu dendam akan masa lalunya.

“Apakah menjadi aktivis itu salah?” lelaki muda itu mengucap pertanyaan di ruang tamu, sendirian, mengenai masa lalunya yang kau dengar. Ya, saat lelaki muda itu melontarkan pertanyaan kepada ayahnya yang sedang minum kopi, ayahnya menjawab. “Salah besar! Mengungkapkan pendapat itu boleh, tapi ada jelasnya gitu loh. Bukan hanya menebar, ‘Wah pemerintah ini tidak adil’, ‘Kasus ini harus dituntaskan’. Padahal, salah mereka juga yang menolak pembangunan. Dan itu baik untuk kesejahteraan mereka.”

Saat ini, ketika lelaki muda itu sudah bekerja, ia hanya menertawakan ayahnya yang sama sekali bodoh. Padahal, kau tahu, lelaki muda itu punya ayah yang berpendidikan hingga gelar doktor. Tetapi masalah nalar logika dan kritis, sama sekali tidak ada. Selain kritis yang dibangun oleh orang-orang yang meremehkan kaum orang bawah yang menentang itu.

Lelaki muda itu kini mulai merasakan hasrat ingin bercinta. Tentu kau melihat gerakannya yang kini menuju kelaminnya sendiri, yang perlahan-lahan berdiri. “Mantan kekasihku yang kini telah menikah, kini juga merasakan rasanya bercinta. Tetapi menutupi dirinya lewat pernikahan.” Ia naik turunkan kelaminnya itu, dengan kau yang melihat matanya yang memejam, dengan suara musik dari piringan hitam yang perlahan membangkitkan rasa birahinya.

“Ah!” lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

__________

 

Kamera tua itu, tentu, berisi kekerasan ayahnya kepada ibunya. Tidak ada yang lain. Ia ingin menjual kamera tua itu, kepada orang-orang yang tahu akan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kepada kawannya yang seorang penulis cerita pendek, yang bernama Garcia, yang seolah-olah kau teringat pengarang yang bernama Gabriel Garcia Marquez itu, untuk menawarkan kamera tua untuk dijual lewat tulisannya sebagai promosi. Kawannya yang datang ke rumah itu berkata, “Aku tidak bisa menulis untuk membuat orang lain tertarik pada barang yang kau jual, selain menulis cerita pendek.” Lelaki muda itu kau dengar tertawa keras, bahkan kepalanya menghadap wajah kawannnya itu.

“Kau tolol!” umpatnya. “Hidupmu lebih parah dari aku. Kau hidup berkubang dengan fantasi yang tolol. Apakah kau tak pernah merasakan realitas yang membuatmu tahu, seperti, bercinta salah satunya?”

“Aku sudah punya istri, dan sudah merasakannya. Memangnya engkau yang tak menikah?”

“Hahahhahaha.” Lelaki muda itu tertawa. “Kukira kau belum mencoba. Baiklah, bisakah kau kerja keras dulu untuk menjual barang ini?”

“Memangnya berisi apa?” tentu, Garcia yang kau dengar pertanyaannya itu, tidak tahu apa isinya.

“Tentang ayahku, yang selalu memukul ibuku.”

“Apa?” Garcia seolah tercengang akan pernyataan kawan anehnya itu.

“Ya, ayahku bejat tahu! Ia menyiksa ibuku hingga mati. Dan kini, ayahku masih hidup. Aku mau setelah ini, kameraku yang terjual dengan rekaman yang tersembunyi, bisa menimbulkan keadilan dan menghukum kejahatan ayahku.”

“Apakah selama ini tak ada kepolisian yang tahu?”

Lelaki muda itu kau dengar berteriak, bahkan wajahnya yang berubah seperti mengejek seseorang. Ayahnya juga dekat dengan jenderal kepolisian, sudah pasti kasus ini telah ditutup dengan uang tunai besar yang diberikan kepadanya, agar tidak terkuak kasus ini. “Kau tahu, uang itu mempermudah segalanya. Aku muak dengan uang. Uang bisa membuat seseorang tahu keburuan dan bejatnya mereka. Bahkan juga seorang perempuan sekalipun.”

“Bukankah uang memang kebutuhan manusia dan juga perempuan, apalagi dalam hubungan asmara?”

“Memang. Aku tahu, tetapi, banyak rasa cinta yang kemudian tak nyata, selain uang yang berbicara.”

Di dunia ini, kau pun tahu, dengan uang adalah barang yang bisa membuat segalanya mudah. Kau juga muak dengan uang, tetapi kau selalu melakukannya untuk hidup. Bahkan kekasihmu sekalipun, yang ditinggalkan karena alasan uangmu sudah tidak ada di saat kau susah. Padahal, kekasihmu pernah berkata, ‘Aku akan mencintai kau dalam suka dan duka, bahkan badai yang menerjang’. Garcia yang memandang wajah kawannya itu bertanya lagi, “Apa langkah untukmu selanjutnya?” tentu, kau mendengar lelaki muda itu menjanjikan sebagian uang dari kamera yang terjual.

“Dan uang sebagian itu, bisa kau beli buku-buku baru. Atau bibit baru untuk menanam padimu.” Ucap lelaki muda.

Maka, lelaki muda itu sepakat kepada Garcia untuk menulis barang promosi perihal kamera tua, yang dibutuhkan seorang pakar kasus kriminal yang harus melaporkan kejadian yang ditutupi ayahnya selama beberapa tahun.

___________

 

“Kamera ini seperti punya kamu dulu,” ucap ayahnya yang sedang membaca koran, tentu, promosi barang yang dijual dengan sebuah tulisan milik kawannya itu terbit di koran. Lelaki muda itu berancang-ancang mencari argumen untuk membalas kepada ayahnya, bila ia tahu, bahwa kamera tua milik lelaki muda itulah yang ia jual. “Ah, kemana, ya, kamera itu?”

“Tidak tahu. Rusak sepertinya, Yah,” ucap lelaki muda itu.

“Masa rusak?”

“Ya, namanya barang. Seperti juga kematian. Manusia akan mati, pun barang begitu. Mau usaha sekeras apapun, kalau sudah berakhir, ya akan berakhir.”

“Bijak juga kata-katamu, tak sia-sia ayah menyekolahkan kamu. Itu namanya anak pemuda negara yang membangun bangsa. Bukan seperti aktivis yang menentang pemerintah, yang mirip komunis itu.”

Dalam hati lelaki muda itu, kau dengar seruan tawa yang paling keras untuk menghina argumen ayahnya yang semakin hari semakin tolol. Jika kamera itu terjual hanya khusus bagi orang-orang kriminolog dan juga pakar kasus pembunuhan, maka ayahnya suatu hari akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam diri lelaki itu, ada dendam kesumat bagai binatang yang lepas dari sangkar, yang dikurung sang tuan agar tidak kabur dan mengamuk. Lelaki muda itu duduk manis, sambil mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kekasih barunya yang paling cantik. Ia perlihatkan fotonya itu kepada lelaki muda itu, dan juga kau lihat wajah perempuan yang cantik itu.

“Wah, montok.” Kata lelaki muda itu.

“Siapa dulu? Ayah!” ucapnya bagai membanggakan dirinya.

Namun, sebentar lagi, dendam itu akan tiba. Ayahnya akan mati di dalam penjara, seperti yang diinginkan lelaki muda itu.

__________

 

Kamera tua itu kemudian terjual, lima hari kemudian setelah promosi dengan tulisan yang ciamik milik kawannya terbit di koran. Para kriminolog dan pakar permasalahan kasus pembunuhan saling berlomba-lomba menawarkan harga lewat kawannya itu. Disitu tertulis di koran, ‘Di kamera ini, ada jejak rekaman manusia biadab yang menyiksa istrinya sendiri, yang selama ini ditutup-tutupi dan tidak terungkap’. Sayangnya, ayah lelaki muda itu, tolol dan tidak tahu. Selain hanya menatap kamera tua yang barangkali, begitu ia kenal.

Barang itu jatuh kepada seorang kriminolog yang masih satu pekerjaan di kantor kepolisian. Uang tunai itu diberikan kepada kawannya lalu mulai dibagi-bagi dari lelaki muda itu. Tentu, uang itu banyak, barangkali bisa membeli mobil atau rumah mewah di kota. Dan uang itu, ia pakai dengan kawannya untuk bersenang-senang di dalam kamarnya. Membelanjakan sebagian uang untuk membeli makanan ringan dan minuman alkohol dingin di minimarket. Lalu menonton film di laptop dengan remang lampu kamar yang menyala. Hidup sesederhana itu, selepas dendam untuk ayahnya sendiri.

            Maka, ayahnya itu kini tertangkap, saat sedang berduaan di dalam kamar hotel bersama kekasih cantiknya. Tentu, mereka berdua sedang telanjang bulat dan berhubungan badan, tetapi kepergok oleh kepolisian untuk menangkapnya atas kasus penyiksaan terhadap istrinya yang membuatnya mati. Untuk membuatnya malu, sang kepolisian membopong ayahnya yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kelamin itu tertampak dan dilihat oleh pengunjung hotel. Para perempuan yang ada di hotel, terutama di lobi, menutup matanya. Kekasihnya itu kini sendirian di kamar, ia tidak tahu dan tiba-tiba, kekasihnya ditangkap.

Untuk perihal perempuan cantik itu, tampaknya kekagetan itu hanya selintas. Ia kembali tenang, dengan memakai pakaiannya kembali dan menikmati barang semalam di hotel mewah eksekutif ini, sekali lagi.

__________

 

“Bajingan kamu!” teriak ayah lelaki muda itu, dan kau mendengarnya bagai kemarahan kesumat bercampur kesetanan.

“Kau yang bajingan!” balas anaknya.

“Akan kupastikan, kau dipecat dari kantor instansi kawan ayah!”

“Silahkan, tak mengapa. Aku muak dengan pekerjaan dan hidupku yang dikendalikan ayah. Sekarang, mampus lah sebagai pengkhianat di penjara. Ini hutang yang telah lunas atas kematian ibuku.”

Ayahnya memukul besi penjara. Tak terima akan perlakuan anaknya. Dan lelaki muda yang masih kau dengar itu, tertawa begitu keras. Telah puas membuat dendam itu telah selesai. Dan ayahnya menderita di dalam penjara. Semoga cepat mati dan berada di neraka, tentu, Tuhan tak sudi menerima surga untukmu ayah. Hanya ibu yang pantas, yang dimatikan atas siksaanmu. Setelah berucap, lelaki muda itu pergi. Ayahnya berteriak dengan tangisan yang merongrong. Polisi yang berjaga, memukul penjara untuk tenang.

Lelaki muda itu pulang, melangkah pelan di tengah kota. Tentu dengan mobil peninggalan ayahnya yang kini sekarang miliknya. Lalu menelepon nomor kontak yang tersimpan disana, menunggu panggilan tersambung. Terangkat kemudian dari seorang perempuan, yang kau kenal suaranya itu, bermanja-manja bahkan serak-serak yang dapat membuat birahi seseorang menaik seketika. “Kamu dimana? Jadi hari ini?” bertanya seorang perempuan itu.

“Jadi dong, sayang,” lelaki muda itu tampak senang. Sebab telah puas ia sekarang.

“Di tempat biasa, ya,” ucap seorang perempuan.

Mobil melintasi kendaraan yang berjalan pelan, mengitari kota dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orang di dalam gedung juga serupa, banyak pengkhianat dan juga bangsatnya. Lelaki muda itu juga telah muak tinggal di kota, ia ikut dengan kawannya yang menjadi petani, sekaligus membuat tempat lumbung padi agar padi tetap berkembang dan terjual banyak. Lelaki muda itu meyakinkan dirinya, bahwa menjadi petani ia bisa hidup dan kaya.

Perempuan yang sedang menunggu itu, tentu, adalah bekas kekasih ayahnya sendiri, yang kau temukan ketika ayahnya sedang telanjang bulat bersamanya di kamar hotel saat penangkapan itu terjadi. (*)

*) AFLAHA RIZAL, Penulis. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama(2016), Cuaca Sama II(2017). Puisi yang lain, masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan(2019), dan Koran Tempo(2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.

 

Continue Reading

Cerpen

Petualangan Singkat Tokoh Aneh yang Keluar dari Novel Roberto Bolaño

mm

Published

on

The Athenaeum - Surrealist Composition/ Getty Images

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan… Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

 

Oleh: Bagus Dwi Hananto *)

Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku. Anak Maria Exposito kesekian itu tak salah lagi adalah karakter novel Roberto Bolaño yang tadi kubaca. Yang langsung kupikirkan saat dia muncul di hadapanku adalah perasaannya atas kutukan nama yang dia sandang. Kalau dia tahu dan mampu membalik waktu, pasti dia akan membunuh seorang pemabuk yang di tahun 1880 bernyanyi dengan nenek buyutnya di atas kuda pada saat hari perayaan Santo Dismas.

Ini bukan mimpi, kan? Sebab aku benar-benar yakin orang di hadapanku ini memang Francisco Monje Exposito. Badan kurus dengan celana drill kebesaran yang dibalut sabuk kulit hitam dan tatapan kosong yang dia layangkan padaku membuatku takut dan takjub. Anak hasil dari tiga orang mahasiswa kiri yang tak benar-benar meneriakkan revolusi agraria, menyandang takdir yang tak dinyana: Muncul dari sebuah buku. Hidup.

Untuk menyelamatkan diriku sendiri dari semua hal yang rasanya tak betul-betul nyata ini, aku menggunakan kalimat-kalimat afirmatif padanya.

“Maaf aku masih tidur,” desisku.

Tapi dia sepertinya tak mengerti apa yang kukatakan. Pancho Monje masih menodongkan pistol. Kali ini moncong senjatanya menekan pipi kiriku.

Selama tiga puluh tahun aku tinggal di rumah ini belum pernah kulihat demit paling halus maupun kasar sekalipun. Jika pun sosok yang muncul di depanku ini adalah setan, tentunya aku tak bisa menerima ini bulat-bulat. Aku tetap bertanya-tanya dalam hati meski sia-sia. Dia benar-benar muncul dari buku.

Senapan Smith & Wesson itu terdengar enak saat diucap berulang-ulang. Bolaño bahkan memberi detail tentang senjata itu dalam narasi di novelnya. Aku pun menggeleng, bukan saatnya terpana melainkan aku harus membujuknya untuk tidak menembakkan peluru melubangi pipiku.

“Dengarlah, sobat. Kau baru bangun tidur, sekarang kau bisa kembali ke buku ini!”

Pancho masih membisu.

Tiba-tiba terasa kuat aku tahu semua hal yang dia pikir meski bibirnya tak berucap apa pun. Pancho sudah lama kubayangkan sebab seminggu berlalu aku membaca dan menghayati novel itu.

“Musuhmu sudah mati, sedang dua kawanmu tak perlu lagi kautemui. Ini tempat yang berbeda dengan yang selama ini kau datangi. Tak ada bar yang bagus dan tak ada perampok yang jago.”

Pancho Monje tampak kebingungan dan aku rasa dia mengerti apa yang kukatakan selaras dengan apa yang dia pikir. Dikira dua kawan dungunya yang lari lintang pukang  setelah ditantang dua jagoan yang telah dia habisi, ada dalam dimensi hidup ini, masa ini, dan di waktu kini. Aku terus meyakinkan dirinya bahwa dia salah masuk panggung. Namun Pancho Monje tetap ngotot. Matanya yang bengis bagiku tak cocok dengan tubuh kurusnya. Meski begitu dari tadi dia tak hendak menyarungkan kembali pistol itu.

Untuk mengulur-ulur waktu tanpa tujuan berarti, kukatakan padanya bahwa ini Jakarta, bukan Sonora. Keduanya tempat yang keras memang. Namun di sini orang-orang menjual segala hal berbau suci dan mengeramatkan badut, sementara di sana orang asyik minum mescal. Dia tersenyum tapi tak ada niat untuk menyarungkan lagi pistol yang rasanya kian menekan pipiku ini. Kalimat moralis yang kuucapkan barangkali sama seperti ceramah membosankan baginya.

Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

“Hei, sobat, pacarmu tak ada di sini. Begitu pula mobil yang kaubanggakan.”

Dalam waktu yang terus berjalan ini, aku kembali membayangkan mobil Pancho Monje diparkir di halaman depan apartemen Colonia El Milagro, Santa Teresa. Ford Mustang yang selalu dia banggakan dan setelah jadi polisi pada usia muda dia pamerkan mobil itu ke mana-mana. Tapi Pancho tetap tak menarik pistol di hadapanku ini. Niatku ingin melucu dan mengingatkan dia pada harta-harta yang ditinggalkannya di dalam buku tak menggerakkan dirinya barang sesenti.

Aku masih mengangkat tangan dan suhu udara mulai dingin, langit tampak mendung kelam, aku mesti mengambil jemuranku. Kukatakan padanya ada hal penting yang harus kulakukan. Aku menjanjikan pada Pancho Monje dia bisa menodongkan pistolnya lagi usai aku mengangkat jemuran. Aku tak ingin mengenakan sempak yang sama dua hari berturut-turut. Setidaknya itikad menjemur celana dalamku ini mesti dia hargai walau aku tak mengatakan itu semua.

Anehnya dia mau menurutiku. Aku senang dia pengertian pada akhirnya.

Satu per satu aku angkat jemuran. Kehidupan selibat yang telah bertahan empat tahun ini membuatku jadi malas mencuci baju. Dulu kalau ada pembantu segalanya mudah. Kini aku mesti menghemat uang. Pekerja grafis serabutan sepertiku hanya mampu menghibur diri dengan buku. Dan kali ini ilusi berhasil menjamah diriku dan jadi kenyataan. Usai mengangkat seluruh jemuran, aku kembali duduk di kursi depan desk dan menawarkan lagi pipi kiriku untuk Pancho Monje todong.

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan.

Tapi semenit kemudian segalanya berubah. Perut Pancho Monje berbunyi. Dia tak lagi menodongkan pistol. Lapar telah mengganti perannya jadi anak baik bak anjing peliharaan. Dia menyudahi drama dungu yang membuatku bisa bernapas panjang. Aku pun lega selega-leganya dan tertawa tanpa kusadari sebelumnya. Namun dia tak tersinggung.

Dia menunjuk Impala putih yang terparkir di garasi rumah. Itu mobil almarhum bapakku. Dan sepeninggal bapak, aku tak betul-betul telaten merawat mobil tua itu.

“Pizza!” serunya. Aku terkejut. Bisa omong pula dia akhirnya.

Sementara aku memanaskan mesin dan mengeluarkan mobil tua itu dengan susah payah, Pancho Monje duduk di beranda, nikmat merokok. Lalu kami berangkat.

Pancho Monje membuka jendela mobil dan menjulurkan kepalanya keluar. Sepanjang jalan orang-orang menahan tawa karena melihat topi lebar yang sedari tadi dikenakan Pancho Monje. Anehnya aku baru sadar. Mungkin saking takutnya diriku hingga tak memerhatikan detail yang bertengger dekat di hadapanku selama satu setengah jam kami bercakap-cakap walau cuma satu arah.

Kami bermobil selama lima belas menit. Pancho Monje tersenyum-senyum dan terus menerus menepuk bahuku. Aku senang dia senang. Begitu sampai di restoran pizza, dia bergegas masuk tanpa menunjukkan tanda-tanda keheranan seperti saat tadi dirinya tiba-tiba muncul di hadapanku.

Usai memesan empat paket besar pizza dan membuat dompetku bobol seketika, kami pulang dan hujan pertama sudah terkumpul di bubungan rumah dan jatuh dengan intensitas yang deras saat mobil mulai memasuki garasi. Pancho tampak senang akan menyantap pizza dalam keadaan cuaca yang sedingin ini. Dia keluar terlalu semangat dan tak bisa menjaga keseimbangan saat sepatu kulitnya menyentuh lantai licin karena basah. Pancho Monje terpeleset dan tak pernah sadar untuk selamanya. Ingatanku tentang dia setelah itu adalah betapa maut tak pernah tebang pilih sasaran.

Kemudian segalanya jadi seperti mimpi. Aku kembali membaca novel itu dan pada mulanya Pancho muncul dengan pistol siap ditodongkan dan aku tertidur lagi. Kisah novel itu kian membekas di otakku, bak kabut tebal menggumpal dan tak dapat aku gusah. Maka sebelum ini semua kulupakan, aku pun menulis cerita pertama sebagai seorang pembaca yang mengalami petualangan aneh. Sebuah cerita penuh basa-basi dengan kalimat pembuka begini: Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku….

 *) Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992. Menulis cerpen dan novel.

 

 

Continue Reading

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending