Connect with us

Tabloids

Kaidah Praktik Menulis | Natalie Goldberg

Natalie writing in her Santa Fe studio / Getty Image
mm

Published

on

Selama lima belas tahun sampai sekarang, di awal setiap bengkel latihan menulis, saya telah mengulang-ulang kaidah praktik menulis. Jadi, di sini saya akan mengulanginya lagi. Dan saya ingin katakan mengapa saya mengulanginya: karena kaidah praktik menulis merupakan bottom line[1], permulaan seluruh tulisan, dasar pembelajaran untuk mempercayai pikiran kalian sendiri. Mempercayai pikiran kalian sendiri adalah sesuatu yang esensial bagi kepenulisan. Kata-kata keluar dari pikiran.

Dan saya percaya pada kaidah praktik menulis ini. Barangkali saya sedikit agak fanatik terhadap kaidah tersebut.

Seorang kawan, yang mengusik saya, berkata, “kau bertindak seakan-akan kaidah itu merupakan kaidah untuk hidup, seakan-akan kaidah itu berlaku untuk segala hal.”

Saya tersenyum. “Baiklah, mari kita buktikan. Apakah kaidah tersebut berlaku untuk seks?”

Saya mengangkat jempol saya untuk kaidah nomor satu. “Teruskan tanganmu bergerak.” Saya mengangguk yes.

Jari telunjuk, kaidah nomor dua. “Harus spesifik.” Saya mengeluarkan teriakan gembira. Itu berhasil.

Jari nomor tiga. “Kehilangan kendali.” Itu sudah jelas bahwa seks dan menulis merupakan sesuatu yang sama.

Kemudian, nomor empat. “Jangan berpikir,” saya berkata. Yes, untuk seks, juga; saya mengangguk.

Saya sudah buktikan titik pandang saya. Kawan saya dan saya tertawa.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Teruskan, berlakukan kaidah-kaidah itu untuk tenis, mengendarai mobil, membuat sandwich keju panggang, dan mendisiplinkan anjing atau ular. Baiklah. Kaidah-kaidah itu mungkin tidak selalu berjalan. Kaidah-kaidah itu berlaku untuk penulisan. Aplikasikanlah kaidah-kaidah tersebut.

  1. Teruskan tanganmu bergerak. Ketika kalian duduk untuk menulis, apakah itu hanya selama sepuluh menit atau pun satu jam, sekali kalian mulai, jangan hentikan. Kalaupun ada bom atom jatuh di kaki kalian delapan menit setelah kalian mulai menulis dan kalian akan menulis untuk selama sepuluh menit, janganlah bergerak. Kalian itu terus akan menulis.

Apakah tujuan dari semua ini? Sebagian besar waktu ketika kita menulis, kita mencampur-baurkan antara editor dan kreator. Bayangkan tangan kalian yang satu sebagai kreator dan tangan yang lainnya sebagai editor. Sekarang julurkan kedua tangan kalian dengan bersama-sama dan kunci jari-jari kalian. Inilah yang akan terjadi ketika kita menulis. Tangan yang menulis ingin menulis tentang apa yang seorang perempuan lakukan pada Sabtu malam: “Aku minum wiski pada sepanjang malam dan memandang punggung seorang pria di seberang bar. Dia mengenakan T-shirt merah. Aku bayangkan dia memiliki wajah seperti wajah Harry Belafonte. Pada jam tiga pagi, dia akhirnya berbalik dan meludah ke dalam asbak ketika aku melihatnya. Dia memiliki muka seekor anjing kampung yang basah, yang kehilangan gigi-giginya.” Tangan yang menulis adalah tiga kata yang dimasukkan ke dalam tulisan kalimat pertama—”Aku minum wiski…”—ketika tangan yang lainnya mencengkram jari-jari sang perempuan dengan lebih kuat dan tangan yang menulis tidak dapat bergerak. Sang editor berkata kepada sang kreator, “sekarang, itu tidaklah baik. Wiski dan semacamnya. Jangan biarkan orang-orang tahu itu. Saya punya ide yang lebih baik: ‘Semalam, aku minum secangkir susu hangat yang enak dan kemudian aku pergi tidur pada jam sembilan.’ Tuliskan begitu. Lanjutkan begitu. Saya akan longgarkan cengkraman saya, agar kau bisa menuliskannya.”

Baca Juga:

Jika kalian menjaga tangan kreator kalian terus bergerak, maka sang editor tidak akan dapat mengejar dan menguncinya. Tangan yang demikian dapat menuliskan apa saja, yang memang diinginkan. “Teruskan tanganmu bergerak” menguatkan sang kreator dan memberikan ruang yang sempit kepada editor untuk terjun ke dalamnya.

Teruskan tanganmu bergerak adalah struktur yang utama bagi praktik menulis.

  1. Harus spesifik. Bukan mobil, tetapi Cadillac. Bukan buah, tetapi apel. Bukan burung, tetapi wren.[2] Bukan codependent[3], laki-laki neurotik, tetapi Harry, yang berlari untuk membukakan istrinya pintu kulkas, seraya berpikir bahwa istrinya menginginkan apel, ketika istrinya menuju ke kompor gas untuk menyalakan rokok. Berhati-hatilah dengan label psikologi populer tersebut. Ambillah di bawah label. Harus spesifik untuk manusia.

Tetapi jangan menghukum diri kalian sendiri seperti yang kalian tulis, “Aku seorang idiot; Natalie berkata untuk memberikan kespesifikan dan seperti orang tolol aku menulis pohon.” Hanya tandailah dengan halus bahwa kalian menulis pohon, turunkanlah ke level yang lebih dalam dan di sebelah pohon, tulislah sycamore.[4] Harus lemah lembut dengan diri kalian sendiri. Jangan berikan ruang kepada cengkraman kuat editor.

  1. Kehilangan kendali. Katakan apa yang ingin kalian katakan. Tidak perlu waswas jika itu benar, santun dan pantas. Hanya biarkan itu mengoyak. Allen Ginsberg mendapatkan gelar master dari Universitas Columbia. Saat itu, mereka sedang mengerjakan sajak dengan rima. Ginsberg banyak melakukan latihan di dalam matra formal, dan lain sebagainya. Suatu malam, dia pulang ke rumah dan berkata kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menulis apa pun yang dia ingin tulis dan melupakan formalitas. Hasilnya adalah “Howl.” Kita seharusnya tidak boleh melupakan betapa banyaknya latihan di dalam menulis yang dia miliki sebelum-sebelumnya. Tetapi ini sangatlah luar biasa, bagaimana saya mampu mengatakannya kepada para mahasiswa, “Baiklah, katakan apa yang ingin kalian katakan, kejarlah itu,” dan tulisan mereka pun mengikuti perubahan yang substansial menjadi tulisan yang otentik.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

_____

[1] Hasil akhir atau pertimbangan paling penting dari suatu situasi, aktivitas, atau diskusi

[2] Burung  kecil dengan bulu warna coklat, ekornya yang  pendek mengarah ke atas dan  juga merupakan burung  yang senang  menyanyi

[3] Seseorang yang mendukung kecanduan orang lain dengan cara memberikan alasan, menyangkal, atau  menyembunyikan perilaku orang lain tersebut

[4] Pohon berdaun luruh, yang  termasuk ke dalam genus Platanus dan berasal dari Eropa, tetapi sekarang ini dapat ditemukan di seluruh dunia

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Kiat Menulis dari Emily Ruskovich, penulis Idaho

mm

Published

on

Kami tahu bahwa pembaca biasanya juga merupakan penulis, jadi kami menampilkan kiat-kiat menulis dari penulis kami. Siapa yang lebih baik menawarkan saran, wawasan, dan inspirasi daripada penulis yang anda kagumi? Mereka akan menjawab beberapa pertanyaan tentang kerja mereka, berbagi teknik andalan mereka dan banyak lagi. Sekarang, mulailah menulis!

Writing Tips from Emily Ruskovich, author of Idaho by The Perch

 _________________
(p) by Affan Firmansyah

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Marilynne Robinson pernah berkata di sebuah kelas yang saya hadiri bahwa “semua karakter hanyalah sebuah rasa dari karakter tersebut”. Hal ini sangat terasa dalam pengalaman saya menulis fiksi. Saya tidak secara aktif menciptakan karakter saya; sebagai gantinya, saya mendapatkan perasaan tentang mereka, jadi saya akan mengejar perasaan ini dan menepatkannya dalam sebuah adegan agar bisa mengenal dan menghabiskan waktu dengannya, dan berharap perasaan itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang dapat saya lihat dan pahami. Saya tidak membangun karakter dengan memikirkan fakta tentang karakter tersebut, seperti apa yang mereka inginkan, seperti apa rupa mereka, apa yang mereka minati. Detil itu datang setelahnya. Saya tahu bahwa membuat profil dari sebuah karakter adalah metode yang bekerja sangat baik untuk banyak penulis, tetapi ketika saya mencoba mengenal sebuah karakter, rasanya seperti saya mencoba mengenal bayangan yang dibuat oleh seseorang yang tidak bisa saya lihat, dan mungkin tidak akan pernah saya lihat, bahkan ketika cerita sudah selesai. Dan satu-satunya cara yang berhasil bagi saya — satu-satunya cara — adalah dengan membangun adegan di sekitar bayangan itu, hanya “rasa” saja. Bahkan ketika sebuah cerita atau novel selesai, saya tidak pernah benar-benar melihat wajah karakter saya. Ketika saya memikirkan mereka, perasaan yang saya dapatkan dari mereka berbeda dan sangat, sangat nyata, tetapi saya tidak membayangkan struktur wajah mereka, tangan mereka, pakaian mereka. Meskipun hal-hal itu penting namun agak tidak berarti bagi saya ketika saya menulis; saya merasa hal-hal itu seperti adalah satu-satunya hal yang serta merta saya “buat”. Bahkan, kadang-kadang saya lupa fakta dasar tentang karakter itu dan harus kembali dan memeriksa warna mata untuk memastikan konsisten, atau bahkan memeriksa usia karakter saya. Fakta-fakta semacam itu terasa sangat terpisah dari siapa sebenarnya karakter itu. Ada beberapa aspek tertentu yang bisa saya lihat. Sikap tubuh mereka sering sangat mudah dibedakan. Begitu juga penampilan sepatu mereka. Suara mereka, dan cara mereka berbicara. Dan terkadang warna rambut juga jelas bagi saya, tetapi tidak selalu. Seperti ketika saya mencoba memvisualisasikannya, mereka memalingkan wajah mereka. Mereka selalu bergerak. Baru-baru ini saya menyadari bahwa ini juga cara saya dalam membaca. Ketika saya membaca sebuah novel, saya tidak benar-benar “menggambarkan” orang-orang di kepala saya, bahkan jika wajah mereka digambarkan dengan sangat detil. Saya hanya merasakannya. Tidak ada yang bisa saya bandingkan dengan pengalaman ini, karena tidak ada pengalaman yang sama bagi saya seperti membaca kecuali menulis. Dan mungkin bermimpi, ketika Anda memiliki perasaan yang kuat di pagi hari tentang apa yang terjadi, dan itu benar-benar memengaruhi Anda, tetapi Anda tidak dapat mengingat detailnya. Wajah-wajah itu kabur. Saya tidak tahu apakah ini berguna atau tidak. Saya kira intinya adalah: Ketika Anda mencoba mengenal karakter, cobalah untuk tidak melihat mereka secara tepat. Percayalah pada insting Anda, betapapun cepat dan membingungkannya, dan cobalah untuk membangun adegan di sekitar perasaan anda, atau lebih tepatnya, biarkan perasaan itu membangun adegan itu untuk Anda. Ini satu-satunya cara karakter saya terasa nyata dan jujur. Saya harap ini tidak terlalu “abstrak” untuk menjadi saran yang bermanfaat. Tentu saja, ada banyak cara untuk mengenal karakter Anda, dan saya pikir penulis lain memiliki cara yang lebih mudah untuk mengenal mereka. Saya merasa sangat sulit menerjemahkan perasaan ke dalam bentuk manusia. Saya pikir itu sangat sulit.

Emily Ruskovich

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya suka menulis dengan hewan di sekitar saya. Kelinci saya memiliki kandang besar yang kami buat tepat di depan jendela saya, jadi saya selalu melihat, mengawasinya dan juga tupai-tupai yang mengunjunginya. Di pagi hari, sebelum saya mulai menulis, saya pergi ke sungai dan memanggil bebek peliharaan saya. Biasanya, mereka terbang langsung ke arah saya dan makan langsung dari tangan saya. Saya menetaskan mereka di inkubator, jadi mereka sangat jinak, meskipun mereka telah memilih untuk hidup di alam liar sekarang. Ketika mereka masih kecil, mereka akan tidur di pangkuan saya, atau di kaki saya, ketika saya bekerja dengan komputer saya. Ketika bebek-bebek saya memutuskan untuk tinggal di sungai, saya mengadopsi anak-anak kucing, sebagian alasannya agar saya memiliki sesuatu untuk dipanggil ke pangkuan saya ketika saya menulis. Bahkan hanya dengan memiliki pengumpan burung di luar jendela saya akan sangat membantu. Seringkali, saya mulai dengan membaca bagian-bagian indah dari penulis yang saya kagumi. Ruang kerja suami saya berada di sisi lain dari ruang saya, dan seringkali kita memulai hari kita dengan saling membacakan apa yang telah kita tulis sehari sebelumnya, untuk membuat kita bergerak, untuk meningkatkan kepercayaan diri kita. Sangat membantu memiliki seseorang yang mengejar hal yang sama dengan saya. Kami banyak saling membantu. Dia juga selalu punya kucing di pangkuannya.

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Baca Juga:

Ya, saya sudah tertarik untuk menulis sejak saya masih sangat muda. Sebelum saya bisa menulis, saya sering mendikte cerita atau puisi kepada ibu dan ayah saya, dan mereka akan menuliskannya untuk saya. Saya ingat itu sepertinya merupakan hal yang paling ajaib bagi saya, bahwa hal-hal yang saya katakan dapat disimpan selamanya hanya dengan orang tua saya membuat goresan di selembar kertas. Saya sangat beruntung dibesarkan di sebuah rumah dimana menulis adalah bagian alami dari kehidupan. Ayah saya adalah penulis yang sangat produktif. Bahkan dengan semua yang harus dia kerjakan ketika saya tumbuh dewasa — mengajar, bertani, berkebun, merawat anak-anak, memotong kayu, membangun lumbung, mengelola masalah uang — dia masih punya waktu hampir setiap hari untuk menulis, bahkan ketika dia kelelahan. Dan itu adalah bagian yang sangat alami dari keberadaan saya. Saya memahami menulis sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan orang-orang, bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun lalu, ayah saya memberi saya satu koper penuh dengan puisi. Lima puluh pon puisi! Saya tahu persis beratnya lima puluh pon, karena kami tidak ingin membayar biaya tambahan di bandara ketika saya menerbangkan puisi-puisi ini dari Idaho ke Colorado, jadi kami menimbangnya dengan sangat hati-hati dan harus meninggalkan beberapa untuk menurunkan beranya. Mengangkut koper itu dari satu negara bagian ke negara bagian lain, setiap kali saya pindah, membuat saya merasa sangat sentimental, seperti saya diberi hadiah untuk benar-benar menyimpan beban imajinasinya. Sebagian besar puisi itu ditulis tangan. Banyak dari puisi itu adalah soneta. Banyak merupakan puisi yang sangat indah. Lima puluh pon puisi itu adalah harta favorit saya. Saya selalu ingin mengikuti jejaknya, jadi saya juga menulis sepanjang waktu. Dia mengajarkan saya sejak usia sangat dini. Jadi saya merasa karir saya tidak pernah memiliki titik awal. Dari awal menulis adalah sesuatu yang selalu dan akan saya lakukan, karena itu adalah apa yang ayah saya lakukan.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

*) Artikel lain dari topik ini bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Saya memiliki daftar klise yang saya berikan kepada siswa menulis kreatif tingkat intro saya. kami menyebutnya “The List.” Sebagai sebuah kelas, kami menyusunnya sepanjang semester. daftar ini sangat panjang, dan saya harap para siswa menganggapnya lucu sekaligus bermanfaat. daftar itu dibuat dengan humor. Berisi semua tema atau situasi yang saya temui berkali-kali dalam tulisan siswa. Beberapa item dalam daftar termasuk: “Tidak boleh ada kedai kopi; tidak ada bangun untuk memulai hari; tidak ada pesta anak kuliahan atau SMA; tidak ada Thanksgiving yang canggung; tidak ada badai yang mematikan listrik; tidak ada tempat tidur rumah sakit; tidak ada pembunuh bayaran; tidak ada anak yang menendang kaleng; tidak ada amnesia; tidak ada agen FBI; tidak ada eksekutif CEO yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaan mereka dan menjadi makhluk bebas yang hidup di jalanan bermain musik; tidak ada pembunuh berantai; tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan jika pusat konfliknya adalah apakah mempertahankan bayi atau tidak; tidak ada cerita berkemah atau hiking jika pusat konfliknya hilang atau diserang oleh binatang buas; tidak ada cerita yang energinya sepenuhnya berasal dari suara getir atau sarkastik; tidak ada yang menyeringai. Seringai jauh lebih sederhana daripada senyuman.” Daftar ini terus berlanjut. Tak satu pun dari hal-hal ini mutlak, tentu saja. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Tetapi ini adalah tantangan yang ingin saya sampaikan di kelas menulis saya. Saya pikir siswa menikmatinya. Saya berharap begitu. Tentu saja, saya terkadang melanggar aturan itu sendiri. Salah satu aturan yang saya langgar adalah, “Tidak ada cerita dari sudut pandang binatang.” Dan saya benar-benar melanggar aturan itu dalam novel saya. Juga, novel saya memiliki badai yang mematikan listrik di semua tempat. Dan juga berisi tempat tidur rumah sakit.

Apakah Anda pernah membuat karakter berdasarkan orang yang Anda kenal? Kenapa atau kenapa tidak?

Ya dan tidak. Karakter saya adalah diri mereka sendiri, berbeda dari siapa pun yang saya temui. Tetapi saya menemukan bahwa saya memberikan karakter saya banyak kualitas dari orang yang saya cintai. Dalam novel saya, karakter utamanya menyerupai anggota keluarga saya. Tidak dalam tindakan mereka, atau dalam cerita mereka, hanya perasaan yang saya dapatkan dari mereka. Bagian terbaik dari karakter saya Wade mengingatkan saya pada ayah saya. Ada adegan di bab pertama ketika Wade mengetukan buku jarinya di atas piano seolah-olah untuk menguji kualitas kayunya, dan itu adalah tepat ayah saya. Tentu saja, mereka juga sangat-sangat berbeda.

Demikian pula, saya melihat ibu saya dalam kedua karakter perempuan utama saya, Jenny dan Ann. Ini mungkin hal yang aneh untuk dikatakan, mengingat saya melihat ibu saya sebagai orang yang paling lembut di Bumi, namun saya memberikan beberapa sifatnya yang paling baik kepada Jenny, yang telah melakukan tindakan kekerasan yang mengerikan. Tapi meminjamkan Jenny beberapa sifat ibu saya adalah cara berempati dengan Jenny, cara membuatnya kompleks, cara mencintainya terlepas dari apa yang dia lakukan, yang menurut saya sangat penting. Dan saya memang mencintai Jenny. Saya perlu, untuk melanjutkan kisah yang cukup menyedihkan ini. May juga terinspirasi dari saudari saya Mary. Karakter itu adalah yang paling dekat yang saya tulis tentang seseorang secara langsung, meskipun itu sama sekali bukan niat saya. Mary menjadi hidup dalam diri Mei begitu cepat. Saya hampir tidak mengubah satu kata pun dari bab tentang Mei sejak naskah pertamanya, karena bab-bab itu hampir seperti ditulis untuk saya, oleh suara masa kecil Mary. Saya memiliki foto saudara perempuan saya ketika dia masih muda “berenang” di tempat sampah yang diisi dengan air yang telah dihangatkan di bawah sinar matahari. Ketika saya melihat foto itu, saya melihat Mary dan May, sama. Itu membuat menuliskan perspektif May sangat alami dan sangat menyakitkan. Saya merasakan perasaan May bahkan lebih dalam karena kemiripannya dengan saudara perempuan saya. Karena itulah menyakitkan bagi saya untuk kembali ke beberapa bagian dari novel itu. June juga banyak mengingatkan saya tentang diri saya sendiri ketika saya masih muda.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Progress of Love oleh Alice Munro, dan juga semua bukunya. Beloved oleh Toni Morrison. Never Let Me Go oleh Kazuo Ishiguro. Lila oleh Marilynne Robinson. Dan Watership Down oleh Richard Adams.

Continue Reading

Tabloids

Nasihat Bagi yang Ingin Menjadi Penulis Lepas

mm

Published

on

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Setelah mengajarkan materi menulis nonfiksi kepada mahasiswa selama lebih dari 10 tahun, saya menyadari sejumlah masalah yang kerap membuat banyak karya penulis pemula ditolak redaksi majalah. Bukan karena mereka pemula dan kemudian disepelekan, yang saya persoalkan. Yang jadi perhatian saya adalah banyak penulis pemula melupakan hal-hal mendasar, penentu nasib karya mereka.

Sejumlah poin dalam artikel saya ini didasarkan pada pembacaan ratusan naskah karya para mahasiswa usia 19 hingga 67 tahun. Banyak dari mereka sempat berpikir bekerja sebagai penulis lepas. Tetapi hanya sedikit yang merealisasikan niatnya. Berikut ini adalah daftar lima hal yang membuat—dan mungkin anda—gagal menjadi penulis nonfiksi dengan status freelancer sukses.

  1. Anda tidak bisa menulis nonfiksi hanya dengan berdiam diri di rumah

Pekerjaan tersulit saya di beberapa kelas adalah meyakinkan para mahasiswa bahwa mereka tidak bergantung pada pengalaman pribadi, keluarga dan teman untuk mendapat bahan tulisan nonfiksi.

Sebagian dari mereka ragu dan takut menghubungi orang asing untuk wawancara, alih-alih bersikap ramah dan akrab. Akibatnya, mereka menulis artikel hanya dengan mengandalkan wawancara dengan kolega dekatnya atau atas dasar pengalaman pribadi.

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Tetapi, yang sering tidak disadari oleh para penulis pemula ialah pengalaman pribadi hanya sesekali saja bisa menjadi sumber ide tulisan. Padahal, penulisan nonfiksi menuntut pencarian materi seluas mungkin. Begitu punya ide, penulis harus pergi ke mana pun fakta berada. Mungkin harus melakukan wawancara dengan selusin orang asing di banyak tempat yang berbeda.

“Cobalah wawancara,” begitu saya mendorong para mahasiswa. “Tidak sesulit yang kamu pikirkan. Begitu kamu memecahkan kebekuan dengan satu atau dua pertanyaan, sisanya sering berjalan dengan mudah.”

  1. Jangan menulis topik yang terlalu luas

Suatu kali, saya meminta mahasiswa saya datang ke kelas dengan membawa ide soal topik tulisan nonfiksi. Sebagian dari mereka mengusulkan topik soal “Lingkungan,” “Berkemah,” “Pengungsi Perang Vietnam,” “Krisis Pangan” dan “Berselancar.”

“Bagaimana dengan topik Lingkungan?” Saya bertanya ke salah satu mahasiswa. Dia mengangkat bahu dan mengakui tidak benar-benar memahami topik ini. Kesalahan dia adalah mengajukan topik dengan cakupan tertalu luas, tidak fokus. Ia contoh korban sindrom esai: ambil topik gagah dan buat tulisan panjang untuk sekedar memuaskan dosen mereka.

Baca Juga:

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Tabloids

Riset Untuk Penulisan Fiksi

mm

Published

on

Salah satu nasihat banyak penulis berpengalaman kepada para pemula, yang kerap disalahpahami, ialah: “Tulislah tentang apa yang kamu ketahui.”

Banyak pemula salah paham karena mengira harus mengarang cerita soal hal-hal yang dekat dengan kehidupannya, sehingga menjauhi tema-tema asing dengan konteks yang belum pernah mereka temui. Akibatnya, mereka pun percaya, harus menulis soal kisah-kisah di perkotaan saja, jika tempat bermukim selama hidupnya adalah di kota. Sebaliknya, jika mereka besar di perdesaan, cerita karangan mereka juga harus melulu memiliki latar belakang kehidupan di desa.

Tentu saja, banyak penulis profesional tak mengikuti saran seperti itu. Jika mereka mematuhi saran“sesat” itu, tak akan ada penulis novel sejarah dan fiksi ilmiah. Ini karena maksud sebenarnya dari nasihat di atas ialah: “Ketahuilah apa yang kamu tulis.”

Memang benar, pengarang harus mampu membubuhkan banyak detail yang memuat informasi akurat meski ceritanya fiksi. Pembaca bisa gampang mencela si pengarang jika saja di karangannya ada cerita soal penjahat yang menarik pistol jenis x, tapi ia tidak menulis kaliber pelurunya secara akurat.

Baca Juga:

Namun, apakah penulis perlu hidup lama di penjara untuk menulis cerita soal kehidupan para napi dan sipir? Tentu saja, pengarang hanya perlu bicara dengan satu atau dua sipir dan napi untuk menulis fiksi dengan latar kehidupan di bui.

Hanya saja, ada teknik tertentu untuk mengumpulkan bahan cerita seperti ini. Tanpa tahu teknik yang tepat, orang yang tinggal puluhan tahun di penjara pun bisa gagal menulis kisah yang bagus dan menarik dengan latar kehidupan di balik jeruji besi?

Saya dulu punya teman yang bekerja sebagai polisi selama 20 tahun dan setelah pensiun mencoba peruntungan dengan mengarang cerita fiksi. Cukup mudah dimengerti, dia memilih fiksi kriminal, karena berharap dengan latar belakang pengalamannya, bisa mengarang cerita fiksi yang terkesan otentik.

Dia lalu mengirim karya pertamanya soal cerita polisi dan perampok ke salah satu agen yang sengaja memburu karangan penulis pemula dengan alasan harganya murah.

Kecuali untuk surat-surat pribadi, teman saya tidak pernah menulis sepatah kata pun, termasuk saat ia masih duduk di bangku sekolah. Tak heran, si agen dengan mudah menemukan banyak kesalahan di karangan teman saya. Bahkan catatan si agen hampir sama panjangnya dengan fiksi karya teman saya itu.

Semula teman saya menerima dengan lapang saat membaca catatan kritis dari si agen. Akan tetapi, ketika dia tahu si agen meragukan latar belakangnya sebagai polisi, dia mulai emosi.

“Tunggu saja, aku akan menulis untuk si brengsek itu dan memberitahunya bahwa aku bekerja sebagai polisi selama dua puluh tahun,” katanya.

“Itu jelas kesan kamu pernah jadi polisi tidak muncul dalam ceritamu,” kataku padanya. Dan, faktanya ia tidak pernah membuktikan omangannya.

Sebenarnya, teman saya itu salah memahami maksud si agen. Tak ada yang meragukan pengetahuannya soal kisah polisi dan perampok. Si agen hanya mengkritik cara teman saya tadi dalam mengisahkan fiksi soal polisi dan perampok. Karena meski kaya detail, karangan teman saya kering dan terkesan dibuat-buat. Ini sebenarnya kesalahan umum di kalangan penulis pemula yang merasa sudah menulis fiksi berkualitas karena isinya terkait dengan hal yang sangat mereka ketahui.

Padahal, mereka perlu mengetahui teknik untuk membuat fiksi yang terkesan otentik dan menarik. Tanpa tahu tekniknya, si pengarang hanya seolah-olah menulis ensiklopedia, bukan cerita yang memikat pembaca.

Menaburi Cerita Dengan Detail Menarik

Ada teknik cukup mudah untuk menggambarkan latar dalam kisah secara menarik meski tidak sesederhana dalam praktiknya. Pada dasarnya, teknik ini soal cara memasukkan banyak detail yang tepat pada naskah cerita, sehingga keberadaannya tidak mengganggu alur kisah.

Agar detail-detail itu tidak mengganggu cerita, harus dimunculkan saat alur cerita memang membutuhkannya. Jika detail-detail itu terlalu berlebihan dalam menjelaskan latar cerita, pembaca akan mudah menemukan keanehan.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Trending