© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Putra Marenda

Saat aku terbangun tiba-tiba saja aku berada ditempat ini. Padahal ingatan terakhirku, aku berada di rumah sakit dengan tangan terinfus, serta ada beberapa kerabatku yang menungguiku. Aku berada disini karena aku merasa sakit di bagian perut. Kalau kata dokter sakit diperutku karena aku hanya memiliki satu ginjal. Ya, aku pernah melakukan donor ginjal, kepada temanku. Kembali ke tempat dimana aku sekarang. Tempat ini bertembok warna putih, dimana tidak ada hiasan atau peralatan apapun. Televisi tidak ada. Kulkas tidak ada. AC tidak ada. Tapi mengapa tempat ini sudah dingin? Atau mungkin jangan-jangan kamar rumah sakitku sedang direnovasi? Tidak-tidak, mungkin aku ini cuma bermimpi.

Aku yang tertidur diranjang yang super nyaman ini tidak merasakan bahwa aku sedang merasakan sakit. Bahkan aku merasakan sangat sehat. Tubuhku sangat leluasa untuk digerakan. Aku pun bisa merasakan sendi-sendiku bergerak sesuka ku tanpa perlu menahan rasa sakit dibagian perut. Disaat aku menikmati kesembuhanku ini tiba-tiba saja seperti ada yang melayang dihadapanku. Aku begitu kaget. Bagaimana bisa, benda itu bisa melayang, jangan-jangan aku diganggu setan. Aku tediam sejenak melihat benda itu

Benda yang melayang itu kunci. Berbentuk huruf K. Aku pun gemetar ketika ingin mengambilnya yang mengambang diudara. Dengan penuh kecemasan ku ambil kunci berhuruf K itu. Akhirnya kunci telah ku ambil.

Kunci apa ini?

            Kenapa berhuruf K?

Tanyaku saat itu. Ruangan itu sangat sepi. Jelas saja tidak ada yang menjawab pertanyaanku tadi. Tapi sebentar, seperti nya aku mendengar suara sesuatu. Aku mendengarkan baik-baik asal suara itu. Seperti nya ada suara gemricik air ataupun suara burung-burung bersahutan. Akhirnya aku mengerti asal suara itu yaitu dibalik pintu itu. Aku pun beranjak dari ranjang dan perlahan mendekati pintu itu. Langkah demi langkah, pintu itu makin dekat saja. Ketika telah sampai aku pun memandangi sejenak kunci berhuruf K. Apa iya cocok. Pikirku. Kemudian ku coba memasukan kunci berhuruf K. Bles. Benar cocok kunci K dengan pintu tersebut. Ku putar kanopi nya sekali. Cekrik. Belum tebuka, kuputar sekali lagi dan pintu pun terbuka.

Aku tediam untuk beberapa saat. Aku terus mengucek mataku. Seolah ini majinasi. Benar-benar mimpi indah, lalu aku pandangi kunci berhuruf K, mungkin saja K berarti keindahan, kebahagiaan atau kenikmatan. Entahlah ini sangat indah!. Yang aku lihat sekarang ialah panorama hutan yang masih belum terjamah dengan disisi utaranya terdapat air terjun yang suara air jatuh nya sangat memikat hati. Belum lagi burung-burung yang beterbangan. Dan itu yang dipohon, Burung Cendrawasih!. Astaga, burung surga, apa aku ini disurga?

 Tanah disini berwarna merah, dengan pohon yang tertanam ialah pohon pinus yang amat banyak. Aku mulai berjalan untuk memasuki hutan. Aku lebih tertarik pergi ke hutan daripada air terjun karena aku rasa aku dapat bertemu hal-hal indah disana. Aku pun terus berjalan ke barat. Sepanjang perjalanan ku, dilangit dipenuhi burung cendrawasih beterbangan tidak malu-malu. Sayapnya aku suka sangat mengembang. Satu lagi keindahan tempat ini, buah seperti ditebar di batang pohon pinus, bagaimana bisa ya, aku tidak habis pikir bisa seperti itu. Aku  yang terpesona dengan daerah ini, terus saja jalan memasuki hutan. Namun tiba-tiba saat aku tengah berjalan, ada tangan yang menyentuh bahuku sembari memanggil namaku.

“Heri?” Aku pun merespon dengan berbalik badan.

“Agung? Fahmi ? Wah apa kabar kalian?”

Aku tidak menyangka ternyata aku bertemu teman lamaku Agung dan Fahmi ditempat indah seperti ini.

“Kamu ngapain ke sini Her?”

“Tidak tau nih, tadi aku dapat kunci ini, aneh hurufnya K?”

Mereka yang kutunjukan kunci berhuruf K hanya saling pandang dan tiba-tiba saja mereka menjadi berwajah muram. Kami pun bercerita-cerita tentang masa lalu kami di sekolah sambil berjalan menyusuri hutan. Suatu ketika, Agung dan Fahmi pun minta izin untuk pergi dahulu, tidak bisa menemaniku lama-lama. Katanya sudah ada yang menungu dirinya dibalik pintu itu. Aku pun mengiyakan dan memberi isyarat ke mereka supaya hati-hati. Aku pun terduduk sebentar disebuah bangku yang terbuat dari pohon pinus ini sambil melihat langit-langit. Sangat indah, burung Cendrawasih tak henti-hentinya menghiasi langit.

Aku merasa bahagia disini. Tentram rasanya. Namun aku merasa kesepian, dan terbesit dipikiran, kenapa aku tidak menyusul Agung dan Fahmi saja, pintu masuknya kan ke pintu yang diseberang sana. Akhinya ku putuskan untuk pergi ke pintu itu dan memasukinya. Dan yang terjadi setelah pintu itu terbuka ialah sesuatu yang mengagetkanku.

…………..

Aku seperti tertusuk ketika membuka pintu itu. Aku bisa melihat dengan kepalaku sendiri orang-orang sedang mengelilingi manusia yang wajahnya mirip denganku, atau benar itu aku?. Orang-orang menangis tidak henti-henti. Ibu ku terlihat terpukul sambil memeluk Bapak yang terlihat seperti menahan air mata. Adik ku seperti memukul tangan-tanganku meminta agar aku bangun.

“Pak, Heri pak”

“Sabar bu, ini takdir Tuhan”

“Kakak, bangun kakak, nanti siapa yang bantuin pr adek kalo kakak gak ada”

Ucapan itu seperti menusuk ku. Aku melihat mereka sangat kehilangan. Aku melihat tubuhku kaku. Mulutku pucat dan wajahku mulai memutih. Aku telah meninggal ? Jadi yang melihat tubuhku sekarang ialah aku yang berbentuk roh? Aku ingin ikut menangis bersama kalian.

Ternyata aku telah meninggal.

Meninggal.

Meninggal.

Meninggal.

Ku ulang kata meninggal beberapa kali sampai akhirnya kata meninggal itu tidak ada artinya. Sekarang duniaku sudah beda dengan mereka. Aku berbalik arah untuk masuk ke pintu itu sekali lagi. Ternyata aku tidak mimpi. Pantas saja tubuhku tidak merasakan sakit lagi, ternyata aku sudah tidak ada ditubuhku. Sambil berjalan gontai untuk memasuki pintu yang tadi ku masuki, aku teringat satu hal. Soal Agung dan Fahmi. Ternyata aku baru ingat bahwa mereka sudah meninggal mendahului ku. Agung meninggal karena sakit dan setelah itu ia berwasiat mendonorkan kornea matanya. Sementara Fahmi meninggal karena kecelakaan saat hendak menolong anak kecil yang mau menyeberang. Aku terdiam saat itu. Tak habis pikir, apa yang sedang kulalui saat ini.

Aku pun terus melangkah menuju pintu. Langkah gontaiku ini akhirnya sampai juga di depan pintu dan ku buka pintu itu. Ketika pintu terbuka dan aku mulai memasukinya, ternyata ada dua orang yang sudah menantiku  sambil bicara:

“Darimana saja ? kami sudah menunggu lama”

Dua orang itu berbaju putih, dan bermuka kembar dengan jenggot yang panjang.

Mereka lalu berjalan disampingku. Aku pun akhirnya bertanya kepada mereka.

“Apa K itu artinya Kematian?”

Mereka hanya tersenyum dan hanya menjawab.

“Kamu akan kami antar ke taman kebahagiaan”

Itu jawaban mereka.

Taman kebahagiaan ? Apa maksud nya?

Jadi yang benar K itu Kematian atau Kebahagiaan? Atau mengartikan keduanya? Kematian adalah kebahagiaan, atau kebahagiaan adalah kematian? Entahlah apa itu sebutannya, yang pasti aku tidak menyesal pernah mendonorkan ginjalku untuk seseorang, karena balasannya lebih dari yang aku harapkan. Balasannya ialah huruf K.

Kemenangan.

(*)

Putra Marenda. Penulis cerpen ini merupakan penulis yang sudah mengeluarkan buku dengan judul “Jejak Langkah yang Kau Tinggal” yang terbit pada Agustus 2016 oleh penerbit Ellunar. Penulis lahir di Bojonegoro, 11 Maret 1996. Penulis sekarang sedang menempuh kuliah di UPN “veteran” Yogyakarta jurusan teknik Geofisika.

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT