Connect with us

Inspirasi

John Cheever: Karya Fiksi Harus Lebih Baik Dari Narasi Iklan

mm

Published

on

Jika kau sebagai seorang pencerita mencoba untuk membangun sebuah hubungan dengan pembacamu, kau tak memulai dengan memberitahu mereka bahwa kau mengalami sakit kepala dan gangguan pencernaan dan bahwa kau mendapat ruam yang parah di pantai Jones.

Salah satu alasannya adalah karena saat ini iklan-iklan di majalah jauh lebih banyak dibanding dua puluh atau tiga puluh tahun lalu. Jika menerbitkan di majalah, kau berkompetisi melawan iklan-iklan korset, iklan perjalanan, ketelanjangan, kartun-kartun, bahkan puisi. Kompetisi itu hampir membuatnya sia-sia.

Terdapat setumpuk permulaan yang selalu ada di pikiranku. Seseorang kembali setelah satu tahun berada di Italia untuk beasiswa Fullbright. Kopernya terbuka di bagian bea pabean, dan bukannya pakaian dan sovenir-sovenir miliknya, mereka menemukan potongan-potongan tubuh seorang pelaut Italia, semuanya tergeletak disana kecuali kepalanya. Kalimat pembuka lain yang sering terpikir olehku adalah, “Di hari pertama aku merampok Tiffany disana turun hujan.”

Tentu saja, kau dapat membuka sebuah cerita pendek dengan cara itu, tapi itu bukanlah cara seseorang harus bekerja dengan karya fiksi.

Ada yang tergoda karena telah terjadi kehilangan yang nyata atas ketenangan pikiran, bukan hanya di kalangan pembaca, tetapi dalam seluruh kehidupan kita. Kesabaran, mungkin saja, atau bahkan kemampuan untuk berkonsentrasi. Pada masa tertentu ketika televisi pertama kali hadir tak ada yang mempublikasikan artikel yang tidak dapat dibaca selama jeda iklan televisi.

Tetapi karya fiksi cukup tahan lama untuk dapat mengatasi semua ini. Aku tidak menyukai cerita pendek yang dimulai dengan “Aku akan menembak diriku sendiri.” atau “Aku akan menembakmu.” Atau menggunakan cara Pirandello dengan “Aku akan menembakmu atau kau akan menembakku, atau kita akan menembak seseorang, mungkin masing-masing dari kita.” Atau dengan cara erotis, jika bukan, “Dia mulai membuka celananya, tapi resletingnya tersangkut…dia mendapatkan kaleng minyak serbaguna…” dan seterusnya kita berlanjut.

*) John Cheever: (Mei 27, 1912 – Juni 18, 1982). Novelis dan Cerpenis Amerika.

Continue Reading
Advertisement

Inspirasi

Yang Dipikirkan Novelis Saat Memikirkan Ide Novel

mm

Published

on

Bill Jones, jr/ unsplash

Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka. Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu-menurutmu dia itu siapa?” Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan.

Tapi aku tidak melakukannya-dan aku melupakan seluruh peristiwa itu. Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga-cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya-sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong. Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

-Joyce Cary

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Inspirasi

Saul Bellow, Truman Capote, Tentang “Pembisik” Ide Menulis

mm

Published

on

Photo by Kyle Glenn on Unsplash

Letter form the Editor

Majalah The Paris Review (2018) secara ekslusif menerbitkan The Writers Chapbook, sebuah jilid buku yang berisi intisari-intisari dari rentetan wawancara dengan pengarang-pengarang yang muncul di majalah tersebut sejak tahun 1953. Apa yang ditulis kemudian adalah diskusi-diskusi para pengarang tentang proses awal dari dunia kreatif dan menulis mereka, pengecambahan sebuah puisi, atau sebuah karya fiksi. “Inspirasi” menjadi garis besar dalam rangkuman dari intisari pemikiran para pengarang dunia tentang proses kreatif dan bagaimana mereka menulis pada mulanya.

Saul Bellow,Truman Capote, John Ashbery, Jon Barth, John Berryman, Guillermo Cabrera Infante, Joyce Cary, Joan Didion, E. L. Doctorow,Leon Edel, William Faulkner, Robert Graves, John Hersey, Aldous Huxley, Jack Kerouac, Stanley Kunitz, Robert Lowell, William Maxwell, James Merril, Katherine Anne Porter, Philip Roth, May Sarton, Stephen Spender, Robert Penn Warren, Henry Miller, hingga Gabriel Garcia Marquez terangkum dalam bab ini. Jika Anda benar-benar menyediakan diri untuk “membaca”nya, Anda seharusnya mendapat begitu banyak inspirasi…

_________

Kita Semua Punya Pembisik

Aku mengira bahwa kita semua memiliki seorang pembisik atau komentator yang primitif yang sejak tahun-tahun pertama telah menyediakan saran untuk kita, memberitahu kita bagaimana dunia yang sesungguhnya. Ada seorang komentator semacam itu dalam diriku.

Aku harus menyiapkan landasan baginya. Dari sumber ini muncul kata-kata, frasa-frasa, suku-suku kata; kadang hanya bunyi-bunyian, yang kucoba untuk interpretasi, terkadang paragraf-paragraf utuh, sangat seksama.

Saat E. M. Foster mengatakan, “Bagaimana caranya aku mengetahui apa yang kupikirkan sampai aku mendengar apa yang kukatakan?” dia mungkin saja merujuk pada pembisik miliknya sendiri.

Terdapat instrumen pemeriksaan seperti itu dalam diri kita-pada masa kanak-kanak dalam tingkatan apa pun. Pada penampakan wajah seorang lelaki, sepatunya, warna-warna cahaya, mulut seorang perempuan atau mungkin saja telinganya, kita menerima kata-kata, sebuah frasa, pada saat itu tak berarti apa-apa selain suku kata yang tak masuk akal dari sang komentator yang primitif.

-Saul Bellow

Idemu akan Selalu Menghantuimu

Aku selalu mempunyai ilusi bahwa keseluruhan dari sebuah cerita, permulaannya dan bagian pertengahan dan bagian akhir, terjadi secara simultan dalam pikiranku—ketika aku melihatnya dalam sekejap. Tetapi ketika mengerjakannya, menuliskannya, kejutan-kejutan yang tak berhingga terjadi. Puji Tuhan, karena kejutan, pelintirannya, frasa-frasa yang muncul begitu saja diwaktu yang tepat, adalah keuntungan yang tak terduga, dorongan kecil yang menyenangkan yang membuat penulis terus bekerja.

Suatu masa aku terbiasa menyimpan buku-buku catatan dengan kerangka cerita. Tapi aku mendapati entah bagaimana hal ini mematikan ide dalam imajinasiku. Jika gagasannya cukup baik, jika itu benar-benar milikmu, kau tak akan bisa melupakannya… ia akan menghantuimu sampai kau menuliskanya.

-Truman Capote

Rahasia Kata-Kata

Mari menyebutnya embullo, sebuah kata dari bahasa Kuba yang berarti kemurahan hasrat, sebuah cara khusus yang anggun untuk menaiki gerbong-gerbong musik pikiran. Aku menulis setiap kali hantu suci itu membisikkan kata-kata manis ditelingaku. Tentu saja, aku juga menulis untuk memenuhi tenggat waktu, tapi itu bukan benar-benar menulis. Terkadang kata-kata datang hanya karena aku duduk di di hadapan mesik ketik.

-Guillermo Cabrera Infante

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Inspirasi

Meniti Bahagia, Menapaki Jalan Sunyi Siddhartha

mm

Published

on

Kebahagian adalah ketika seseorang dapat mengalahkan egonya sendiri, demikian intisari utama moralitas yang diajarkan Siddhartha Gautama.

Siddharta Gautama, atau kemudian lebih terkenal dengan nama ‘Buddha’ adalah pribadi ‘Yang Tercerahkan’ jiwanya, setelah melewati jalan panjang dalam kesunyian. Gautama hidup di masa di mana agama dan mitologi dipertanyakan. Di Yunani, pemikir seperti Pythagoras menguji kosmos menggunakan akal, dan di China, Laozi dan Confucius melepaskan etika dari dogma agama.

Buddhisme sebagai filsafat

Brahmanisme, agama yang telah berevolusi dari Vedaisme—kepercayaan kuno berdasarkan teks suci Veda—adalah kepercayaan yang paling banyak dianut di India pada abad ke 6 sebelum masehi, dan Siddharta Gautama adalah orang pertama yang menantang ajarannya dengan nalar filosofis.

Gautama, meskipun dipuja oleh para penganut ajaran Buddha karena kebijaksanaannya, bukanlah seorang mesias atau seorang nabi, dan dia tidak bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan Manusia. Ide-idenya datang melalui penalaran, bukan wahyu ilahi, dan inilah yang menandai buddhisme sebagai filsafat dari pada sebuah agama. Pencariannya adalah suatu proses yang filosofis – untuk menemukan kebenaran–dan Gautama percaya bahwa kebenaran yang dia usulkan tersedia bagi kita semua melalui kekuatan nalar.

Seperti kebanyakan filsuf timur, dia tidak tertarik pada pertanyaan metafisik yang tak terjawab dan hanya sebatas menyibukkan orang-orang Yunani. Gautama menilai bahwa manusia yang bersikeras berurusan dengan entitas di luar pengalaman yang dimiliki sebagai manusia, dapat berujung pada spekulasi yang tidak masuk akal. Gautama sendiri percaya, kesibukan mencari sesuatu yang ada ‘di luar’ dirinya akan menegasikan hal penting yang seharusnya dilakukan oleh manusia; yaitu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang tujuan hidup yaitu merumuskan bagaimana sejatinya konsep kebahagiaan, kebajikan, dan kehidupan yang ‘baik’.

Jalan Tengah

Di kehidupan awal, Gautama menikmati kemewahan dan semua kesenangan indra. Namun, Gautama menyadari bahwa apa yang dimiliki pada saat itu tidak cukup untuk membawa dirinya pada kebahagiaan sejati. Dia sangat sadar akan penderitaan di dunia, dan melihat bahwa penderitaan manusia datang dari beragam bentuk, mulai dari penyakit, menjadi tua, kematian, dan kemiskinan.

Gautama mengakui bahwa kesenangan indra yang kita nikmati untuk menghilangkan penderitaan sejatinya jarang memberikan rasa puas yang utuh, ia percaya bahwa kesenangan itu bersifat sementara. Gautama kemudian menemukan pengalaman asketisisme ekstrim, dalam bentuk kesederhanaan dan berpantang. Namun apa yang ditempuh Gautama saat itu tidak membawa pada titik yang lebih dekat dengan pemahaman tentang kebahagiaan itu sendiri.

Akhirnya Gautama sampai pada kesimpulan bahwa harus ada ‘jalan tengah’ antara kesenangan diri dan penyiksaan diri. Jalan tengah ini, menurutnya, harus mengarah pada kebahagiaan sejati, atau ‘pencerahan’ dan untuk menemukannya, ia menggunakan penalaran berdasarkan pada pengalamannya sendiri.

Gautama menyadari bahwa penderitaan bersifat universal. Di mana penderitaan itu sendiri adalah bagian integral dari keberadaan, dan akar penyebab penderitaan kita adalah kefrustrasian manusia antara keinginan dan harapan.

Keinginan-keinginan ini dia sebut ‘keterikatan’, dan keterikatan yang dimaksud tidak hanya keinginan-keinginan indra dan ambisi duniawi kita, tetapi naluri kita yang paling dasar untuk mempertahankan diri kita sendiri. Memuaskan keterikatan ini, menurutnya, dapat membawa kepuasan jangka pendek, tetapi bukan kebahagiaan dan kedamaian pikiran.

Bukan Kehendak Diri

Langkah berikutnya dalam penalaran Gautama adalah bahwa penghapusan keterikatan akan mencegah kekecewaan, dan menghindari penderitaan. Namun untuk mencapai hal ini, dia menyarankan menemukan akar penyebab dari keterikatan kita, yaitu keegoisan itu sendiri. Gautama percaya bahwa keegoisan lebih dari sekedar kecenderungan kita untuk mencari kepuasan dan membuat kita terikat.  Jadi membebaskan diri kita dari keterikatan yang menyebabkan kita kesakitan tidak cukup hanya dengan meninggalkan hal-hal yang kita inginkan—kita harus mengatasi keterikatan kita dengan apa yang diinginkan oleh “diri kita sendiri”.

Tapi bagaimana kita bisa mencapai titik itu? Keinginan, ambisi, dan harapan adalah bagian dari sifat manusia, dan bagi sebagian besar manusia merupakan alasan untuk hidup. Jawabannya, bagi Gautama, bahwa dunia ego adalah ilusi—sebagaimana ia tunjukkan, sekali lagi, oleh proses penalaran. Dia berpendapat bahwa tidak ada di alam semesta yang disebabkan oleh diri sendiri, karena semuanya adalah hasil dari beberapa tindakan sebelumnya, dan masing-masing dari kita hanyalah bagian sementara dari proses kekal lainnya—yang pada akhirnya tidak kekal dan tanpa substansi.

Pada kenyataannya, tidak ada ‘diri’ yang bukan bagian dari entitas yang lebih besar—atau dari ‘bukan kehendak diri’—dan penderitaan disebabkan oleh kegagalan kita untuk mengenali hal ini. Namun, bukan berarti kita mengingkari keberadaan atau identitas pribadi, sebaliknya kita harus memahami diri sendiri apa adanya, bahwa manusia atau ‘diri’ hanya bersifat sementara dan insubstansial.

Dalam pada itu, menuju jalan Gautama, manusia sejatinya memahami konsep ‘bukan kehendak diri’ dimana  tidak ada yang abadi dari hasrat, ambisi dan ekspetasi, alih-alih melekat pada gagasan menjadi “pribadi” yang unik, adalah kunci untuk kehilangan keterikatan itu, dan menemukan pelepasan dari penderitaan.

Jalan Berunsur Delapan

Gautama menelaah sebab-sebab penderitaan yang dialami manusia dengan melihat lebih dalam ke dalam filosofi “Empat Kebenaran Mulia”. Lewat ajaran tersebut, Gautama menelaah bahwa penderitaan itu bersifat universal; keinginan adalah penyebab dari penderitaan; penderitaan dapat dihindari dengan menghilangkan hasrat atau keinginan; dan cara terbaik untuk menghilangkan hasrat adalah dengan mengikuti ‘Jalan Berunsur Delapan’.

Kebenaran terakhir ini mengacu pada apa yang menjadi panduan praktis untuk mencapai “jalan tengah” yang diberikan oleh Gautama bagi para pengikutnya untuk mencapai pencerahan. Jalan Berunsur Delapan (tindakan yang benar, niat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, konsentrasi yang benar, ucapan yang benar, pemahaman yang benar, dan perhatian yang benar) adalah kode etik—resep untuk kehidupan yang baik dan resep kebahagiaan yang pertama kali ditemukan oleh Gautama.

Menuju Nirwana

Gautama melihat tujuan akhir kehidupan di Bumi adalah untuk mengakhiri siklus penderitaan (kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali) di mana kita dilahirkan. Dengan mengikuti Jalan Berunsur Delapan, seseorang dapat mengatasi egonya dan menjalani kehidupan yang bebas dari penderitaan dan menikmati pencerahannya. Terpenting, melalui Jalan Berunsur Delapan, sesorang dapat menghindari rasa sakit dari reinkarnasi ke dalam kehidupan dan penderitaan yang lain. Orang yang memahami filosofi dari Jalan Berunsur Delapan akan lebih menyadari nilai “bukan kedirian” dan menjadi satu dengan yang kekal. Pada titik itu, orang telah terlepas dari hal ‘kedirian’ telah mencapai titik Nirwana—yang secara beragam diterjemahkan sebagai “ketidakterikatan”, “tidak-menjadi”, atau secara harfiah “menerangi” (baca: sebagai lilin).

Dalam brahmanisme sewaktu masa Gautama, Nirwana dipandang sebagai satu dengan Tuhan, tetapi Gautama secara hati-hati menghindari penyebutan Tuhan atau tujuan akhir untuk hidup. Dia hanya menggambarkan Nirwana sebagai “tidak dilahirkan, tidak beradab, tidak diciptakan dan tidak berbentuk”, dan melampaui segala pengalaman inderawi.

Setelah melewati masa pencerahannya, Gautama menghabiskan bertahun-tahun berkeliling India, ia berkhotbah dan mengajar. Selama masa hidupnya, ia memperoleh banyak pengikut dan Buddhisme menjadi mapan sebagai agama sekaligus filsafat. Ajarannya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh para pengikutnya, sampai abad ke-1, para pengikutnya mulai menulis ajaran Gautama untuk pertama kalinya. Berbagai aliran mulai muncul ketika Buddhisme tersebar di seluruh India, dan kemudian menyebar ke timur ke Cina dan Asia Tenggara. Buddhisme kemudian menyaingi popularitas Confusianisme dan Taoisme.

Ajaran Gautama menyebar hingga ke kekaisaran Yunani pada abad ke-3 SM, tetapi memiliki pengaruh kecil pada filsafat barat. Namun, ada kesamaan antara pendekatan Gautama terhadap filsafat dan filsafat orang-orang Yunani, yaitu  penekanan Gautama pada penalaran sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan, dan disiplinnya menggunakan dialog filosofis untuk mendidik ajaran-ajarannya.

Pemikiran Gautama akhirnya menemukan gema dalam ide-ide filsuf barat kemudian, seperti dalam konsep David Hume tentang diri dan pandangan Schopenhauer tentang kondisi manusia. Tetapi baru pada abad ke-20, Buddhisme memiliki pengaruh langsung terhadap pemikiran Barat. Sejak saat itu, semakin banyak orang Barat yang beralih ke Buddhisme sebagai pedoman tentang cara hidup. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Trending