Connect with us

Inspirasi

Jhon Barth: Bagaimana Saya memulai Menuils?

mm

Published

on

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda. Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan.

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya.

Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet.

Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu—mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

*) John Barth: Penulis Amerika, dikenal dengan karyanya  “Postmodernist” dan “Metafictional”. 

Continue Reading

Buku

Menuju (Kematian) Demokrasi?

mm

Published

on

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena system yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

“Comprehensive, enlightening, and terrifyingly timely.” —New York Times Book Review | “Cool and persuasive… How Democracies Die comes at exactly the right moment.” —The Washington Post _____ Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3 Harga : Rp.245.000,-

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan untuk paham yang mengutamakan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang merupakan dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Menurut mereka, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu cara saja SARA tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi dictator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Menjaga Demokrasi

Lantas, bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan.

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

___________________

Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.tv

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tentang Novelis John Steinbeck

mm

Published

on

Saat menulis novel East of Eden jarang yang tahu fakta bahwa ia menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Dialah John Steinbeck, novelis Amerika yang karyanya juga digemari sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Fakta unik lain dari penulis ini? Simak selengkapnya:

  1. Draf awal dari novel John Steinbeck, Of Mice and Men, dimakan anjingnya sendiri. Anjing itu bernama Max, salah satu anjing yang dipelihara Steinbeck semasa hidupnya, yang melahap habis draf novel itu dan karenanya, menjadi kritikus pertama buku itu. Buku itu mungkin adalah buku Steinbeck yang paling terkenal, dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai bindlestiff (pekerja yang suka berpindah tempat) di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Judul novel yang terkenal itu terilhami puisi Robert Burns ‘To a Mouse’: ‘The best laid schemes o’ mice an’ men / Gang aft agley’ (atau ‘sering tidak terjadi sesuai rencana’). Judul asli dari novel itu adalah ‘Something That Happened’.
  2. Pada 1980-an, muncul rumor bahwa novel Steinbeck, The Grapes of Wrath, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul ‘The Angry Raisins’ (. Namun rumor ini ternyata tidak benar adanya. Ini adalah contoh menarik bagaimana orang menyukai cerita tentang ‘tersesat dalam terjemahan’, dan rumor itu telah berkali-kali dibantah.
  3. Steinbeck menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Hemingway juga penggemar grafit dibandingkan tinta, meskipun ‘Papa’ rupanya juga gemar menajamkan pensil saat dia mengerjakan sebuah novel, untuk membantunya berpikir!
  4. Steinbeck menulis buku tentang King Arthur. Ini adalah topik yang tidak biasa bagi penulis novel di era Depresi, namun penjelajahannya ke dalam dunia fantasi Arthur baru ditulis di penghujung karirnya. Seperti T. H. White (yang menulis sekuel The Once and Future King, didahului dengan The Sword in The Stone) dan Tennyson (yang menulis novel bersyair panjang, Idylls of the King, pada abad ke-19), Steinbeck terilhami epos abad ke-15 karya Sir Thomas Malory, Le Morte d’Arthur, untuk materi novelnya. Fantasi Arthurian Steinbeck adalah The Acts of King Arthur and His Noble Knights. Mulai ditulis pada 1956, buku itu tidak terselesaikan dikarenakan kematian Steinbeck pada tahun 1968, dan tidak diterbitkan hingga 1976.
  5. Dia menulis salah satu surat cinta terbaik yang pernah ada dalam kesusasteraan– sebuah surat tentang jatuh cinta. Pada sebuah surat di tahun 1958, Steinbeck merespon surat yang ditulis putranya, Thom, untuknya. Thom berkata pada ayahnya kalau dia benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan (saat itu, Thom tinggal di asrama). Steinbeck meresponnya dengan nada suportif dan jujur di sepanjang surat itu, mempertimbangkan dengan seksama perasaan anaknya namun juga menawarkan nasihat tentang ‘apa yang harus dilakukan’ – pastinya hal yang ingin diketahui oleh setiap anak remaja dalam masa-masa sakit hati karena cinta, “Tujuan dari cinta lah yang terbaik dan paling indah,” katanya pada Thom. “Cobalah untuk hidup dengan mengingat itu.” Ia mengkahiri suratnya dengan meyakinkan putranya, “Dan jangan khawatir akan kehilangan. Jika harus terjadi, maka terjadilah – yang paling penting jangan terburu-buru. Sesuatu yang baik tidak mungkin terlepas darimu.”

*) Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Continue Reading

Classic Prose

Trending