Connect with us

Buku

Jejak-jejak Kebudayaan dalam Panji Tengkorak

mm

Published

on

Judul Buku: Panji Tengkorak, Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011
Tebal: xx+540 halaman
ISBN: 978-979-91-0366-6

—————————————————————————————————

Buku karya Paul Heru Wibowo yang mengeksplorasi gagasan tentang superhero jelas merupakan sumbangan berharga bagi dunia kepustakaan Tanah Air. Buku itu melengkapi sejumlah buku lain yang mengeksplorasi fenomena kebudayaan yang berlangsung di masyarakat melalui pendekatan kritis cultural studies. Dengan mengambil sikap kritis terhadap kehadiran sosok superhero yang membanjiri industri media global, buku ini menawarkan bahan refleksi guna membebaskan diri dari berbagai kepentingan yang bersembunyi di balik kisah kehebatan superhero.

Buku lain yang berlatar pendekatan cultural studies dan mengkaji sosok hero atau ”jagoan” atau ”pahlawan” rekaan adalah buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan (2011). Buku karya Seno Gumira Ajidarma ini merupakan hasil kajian terhadap buku komik Panji Tengkorak yang telah tiga kali digubah oleh komikus Hans Jaladara, pencipta komik tersebut pada tahun 1968, 1985, dan 1996.

Panji Tengkorak boleh dibilang salah satu hero lokal dalam jagat perkomikan Indonesia bersama Si Buta dari Gua Hantu karya komikus Ganes TH, Jaka Sembung (karya Djair), Gundala (karya Hasmi), hingga sosok Sri Asih atau Pandawa dalam komik serial wayang karya RA Kosasih. Dalam buku ini, Seno Gumira ingin membuktikan secara ilmiah bahwa adanya perbedaan atau persamaan yang ditemukan dalam ketiga versi buku Panji Tengkorak ternyata menunjukkan bagaimana ideologi berjuang dalam pergulatan antarwacana.

Dinamika perjuangan ideologis yang muncul lewat ketiga komik Panji Tengkorak ternyata mengikuti gerak perubahan zaman. Di buku ini diungkapkan ideologi macam apa yang telah menggerakkan perubahan zaman, dan kemudian memengaruhi gerak perubahan naratif komik Panji Tengkorak pada setiap versinya. Ada tidaknya perubahan dalam cara bercerita, melalui gambar-gambar yang tersusun dan teks tertulis yang menjadi bagian di dalamnya, menunjukkan adanya pergulatan antarwacana yang melibatkan suatu perjuangan ideologis. Yaitu upaya berbagai pihak untuk melakukan hegemoni dalam pemaknaan kisah Panji Tengkorak. Hal itu tampak lebih jelas manakala hubungan kuasa dan politis yang tersembunyi dibongkar (hal 19). Dan dalam setiap versi komik Panji Tengkorak menandai konteks sosial yang berbeda-beda.

Meskipun sama-sama menggunakan pendekatan cultural studies dan berangkat dari wacana tentang ”superhero”, masing-masing memiliki latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian yang berbeda. Buku karya Paul Heri Wibowo memfokuskan pada eksplorasi fenomena merebaknya tokoh-tokoh superhero (Spiderman, Batman, Hulk, Rambo, dan sebagainya) yang menjadi obyek penting dalam budaya populer, yang terkait erat dengan wajah sosiologis masyarakat modern.

Sejumlah pertanyaan diajukan untuk kemudian dijawab dalam buku ini. Misalnya, pesona apakah yang sebenarnya tersembunyi pada tokoh superhero? Refleksi apakah yang dikandung dalam sepak terjang mereka? Bagaimanakah hubungan mereka dengan masa depan manusia modern?

Adapun buku Panji Tengkorak yang berasal dari disertasi Seno Gumira melakukan kajian mendalam terhadap komik Indonesia dalam rangka mencari tahu dan mengungkap bagaimana kebudayaan berlangsung. Dalam catatan akhirnya Seno menuliskan bahwa dengan mengamati tiga Panji Tengkorak dalam topik yang mengamati hubungan komikusnya dengan perubahan zaman, terlacak pergeseran dari masalah penindasan golongan etnik Tionghoa secara kejam yang melahirkan anonimitas (Panji Tengkorak, 1968), menuju suatu perlawanan budaya dalam nasionalisme abstrak (Panji Tengkorak, 1985), dan berakhir dengan masalah perdagangan demi mengejar keuntungan (Panji Tengkorak, 1996). Dalam tiga Panji Tengkorak itu pula tergambar pergulatan Hans Jaladara sebagai komikus keturunan Tionghoa dalam negosiasi terhadap hegemoni wacana.

Hal menarik yang ditemukan dalam kedua kajian ini adalah bagaimana kepentingan modal dan budaya global atau konsumerisme berhasil melakukan hegemoni melalui industri media. (Yohanes Krisnawan/Litbang Kompas)

Continue Reading
Advertisement

Buku

Ilustrasi: Imajinasi dan Ideologis

mm

Published

on

Buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin.

Bandung Mawardi *)

____

Angan dan pengejawantahan “kemadjoean” di tanah jajahan turut dipengaruhi penerbitan bacaan-bacaan bocah, sejak awal abad XX. Buku-buku diterbitkan menjadi penuntun bocah-bocah bumiputra menapaki jalan kemajuan. Sekian bocah malah sampai ke hasrat menempuhi “jalan ke Barat” gara-gara pikat buku-buku bacaan diajarkan di sekolah. Di buku, mereka membaca cerita dan menikmati ilustrasi merangsang imajinasi mengandung jalinan estetika-ideologis.

Peran penerbit, penulis, dan ilustrator menentukan corak bacaan bagi bocah-bocah dengan pelbagai bahasa: Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Penerbitan buku untuk bocah memang agak belakangan, belum terlalu menjadi misi besar. Penerbit milik pemerintah kolonial Belanda dan partikelir bersaing di pengadaan buku bacaan bocah. Commisie voor de Volkslectuur mengawali terbitan buku berjudul Serat Kantjil Tanpa Sekar (1909) garapan Wirapoestaka. Sekian buku berlanjut diterbitkan dalam sekian bahasa: Dongeng-Dongeng Soenda (1910) oleh M Saleh dan Ardiwinata, Hikajat Pelandoek Djenaka (1914), Boekoe Pangadjharan (1914), dan Doewa Toeri-Toerian (1917) oleh Arsenius Loemban Tobing (Chritantiowati, Bacaan Anak Indonesia: Tempo Doeloe: Kajian Penduluan Periode 1908-1945, 1996).

Buku-buku untuk bacaan bocah terus terbit, disebarkan ke pelbagai tempat di Taman Poestaka bentukan pemerintah kolonial. Buku-buku berbahasa Jawa dan Sunda mendapat perhatian besar di misi pengajaran dan keaksaraan awal abad XX. Christantiowati mencatat buku berbahasa Sunda digemari bocah-bocah di masa lalu: Genep Belas TjaritaSoeltan Abdoellah djeung HassanPetikaneunManoek Hiber koe DjangdjangnaTjarita Si Kate, dan lain-lain. Kita tak mendapat informasi mengenai sekian buku cuma berisi kata-kata atau digenapi ilustrasi-ilustrasi. Kita menduga buku-buku untuk bocah tentu memikat dengan adonan kata dan gambar.

Masa lalu diundang lagi oleh Hawe Setiawan di buku berjudul Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem (2019). Pilihan buku untuk kajian itu mengacu pengenalan bocah-bocah Sunda pernah bersekolah di taraf pendidikan masa awal abad XX. Buku berjudul Roesdi djeung Misnem digarap oleh AC Deenik dan R Djajadiredja digenapi gambar-gambar oleh WK de Bruin. Selama puluhan tahun, buku itu nostalgia dalam cerita dan rupa. Orang-orang masih membincangkan pikat buku lawas itu sampai abad XXI.

Hawe Setiawan menilai buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin. Muatan ideologis tebaca berbarengan dengan pengisahan-pengisahan khas di Sunda. Buku 4 jilid dari masa lalu membentuk imajinasi menguak jalinan sastra, pendidikan-pengajaran, identitas, adab, dan kolonialisme.

WK de Bruin lahir di Den Haag, Belanda, 14 Desember 1871. Ia menjadi ilustrator untuk buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di Belanda dan tanah jajahan (Hindia Belanda). Dua buku memuat ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin memberi pikat ke bocah-bocah bumiputra adalah Kembang SetamanRoesdi djeung Misnem, dan Panggelar Boedi. Hawe Setiawan menghitung ada 158 gambar WK de Bruin di buku Roesdi djeung Misnem. Sekian gambar ingin mengisahkan situasi kehidupan bumiputra di keseharian. Hawe Setiawan belum berani memastikan dalam menggambar WK de Bruin pernah berkunjung ke Hindia Belanda atau mengandalkan foto-foto.

Kita mendapat informasi tambahan dalam tulisan Hermanu di Kitab Si Taloe: Gambar Watjan Botjah 1909-1961 (2008). Ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin juga dimuat di buku berjudul Matahari Terbit. Judul itu tak tercantum di buku garapan Hawe Setiawan. Puluhan buku lawas memuat ilustrasi WK de Bruin dan para ilustrator Belanda diamati Hermanu dengan pemberian konklusi: “Kesan bahwa orang-orang pribumi hanya sebagai pembantu atau warga negara kelas dua sangat kental pada gambar di buku-buku yang dicetak untuk pelajaran bagi murid-murid bangsa Belanda, sedangkan bangsa Belanda digambarkan sangat superior.” Sejak mula, maksud menampilkan ilustrasi memang ideologis, selain capaian estetika.

Hawe Setiawan memberi perhatian besar untuk gambar Roesdi, bocah berusia tujuh tahun, saat tangan kanan memegang pisang dan tangan kiri memegang tongkat. Di mata selidik Hawe Setiawan, gambar itu dianggap representasi tatapan-diskriminasi bentukan nalar Eropa sebagai negara kolonial. Pisang berkesan “penistaan” ke bocah pribumi. Gambar itu mungkin mengukuhkan pendefinisian Eropa melihat bocah jajahan seperti kera. Pisang itu makanan kegemaran kera. Gambar di buku terasa bergelimang pamrih kolonial atau Eropa sentris.

Kekhasan Hindia Belanda tampak pula di gambar rumah dan suasana di desa. Gambar-gambar kadang memicu ragu mengenai maksud-maksud WK de Bruin. Di buku bacaan, kuasa Eropa masih ditonjolkan dalam mendefinisikan manusia, peristiwa, dan tempat di tanah jajahan. Hawe Setiawan menilai sekian gambar WK de Bruin cukup “turut memberikan informasi perihal beberapa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Sunda dari masa ke masa.” WK de Bruin berjarak dari realitas kehidupan keseharian di Sunda. Kelemahan tentu ada dan “terlihat” di puluhan ilustrasi. Kelemahan akibat tiada pengamatan mendalam. WK de Bruin tentu berpikiran itu semain imajinasi di buku terbaca bocah, bukan ilustrasi untuk buku-buku ilmu atau riset dengan kaidah-kaidah ketat.

Ilustrasi garapan WK de Bruin tak sememikat atau semengena dengan hasil “pengamatan” Cornelis Jetses. Hermanu di buku berjudul Djalan ke Barat: Jawa di Mata C Jetses (2014) menilai: “Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga, sepertinya dia hadir di sana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karekater masing-masing tokoh yang digambarkannya dengan sangat luar biasa.” Pujian itu berlebihan tapi mengingatkan kita di perbandingan kekuatan para ilustrator Belanda  dalam terbitan buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di tanah jajahan. Hawe Setiawan cuma memberi sekali singgungan ke Jetses sebagai teman WK de Bruin dalam pengerjaan pelat gambar di sekolah rendah di Den Haag, Belanda, 1885. Pembandingan ke Jetses memang tak wajib tapi memungkinkan kita semakin mengerti mutu ilustrasi WK de Bruin dalam pesona dan kelemahan. Begitu. (BM)

 

Continue Reading

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending