Connect with us

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Cerpen

12.15.22.5

mm

Published

on

Seseorang yang menyalakan rokok harus menghabiskannya

“Bagaimanapun caranya, sayang. Kau mencintaiku kan?”

“Kau sengaja menghadiaiku rasa pahit ini untuk menghilangkan jejak bibirmu di bibirku.”

Ia tersenyum kecil. Senang, karena berhasil mengerjaiku dengan tembakau yang diberikannya.

“Ayo, habiskan sayang. Kau tidak ingin membuat pemberian nenekku sia-sia kan?”

“Kau terlalu senang mengaturku.”

“Ayolah habiskan. Aku ingin lihat seberapa kuat kamu menerjemahkan rasa pahit yang ada menjadi ritus cinta.”

“Kau harus berikan cintamu sepenuhnya padaku untuk bisa mengaturku. Kalau kau tidak memberikannya secara penuh, yang terjadi dengan cintaku cuma ketidakberdayaan. Dan aku tidak bisa menurutimu.”

“Baiklah akan kuberikan apa yang kau mau. Tapi sekarang habiskan rokok di jarimu itu sebelum baranya memakan habis semua tembakau di dalamnya.”

“Kalau kau ingin aku menghabiskannya, kita harus habiskan berdua.”

Kedua bola matanya yang indah seperti ada lapisan air di bawah permukaan membulat. Warna coklat keemasan pupilnya semakin terlihat jelas dan jernih. Keningnya membentuk lapisan kerutan. Ia tampak sangat mengemaskan.

Aku menyesap dalam-dalam rokok lintingan di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanan. Lalu dengan tangan kiriku yang dapat bergerak bebas, aku menggapai tengkuk leher perempuan di depanku ini. Aku menangkupkan bibirku dan bibirnya. Membuat jalur kecil yang menghubungkan ruang mulutku dan ruang mulutnya. Ia mengisap bibirku, sekaligus mengisap udara yang ada di paru-paru hingga mulutku. Memindahkan asap rokok ke dalam ruang mulutnya, menjalankannya keseluruh bagian alat pernafasan sebelum menghembuskannya perlahan keluar melalui lubang hidung. Ia tidak tersedak ataupun terbatuk sedikitpun. Kami sudah biasa melakukan hal semacam ini sebelumnya dengan anggur.

“Akan lebih baik jika nenekmu memberimu marijuana.”

“Sebelum daun-daun itu sampai dimulutmu, nenekku sudah sampai dulu di penjara.”

“Tapi ayahmu jaksanya. Dia tidak mungkin menjebloskan nenekmu di balik jeruji besi.”

“Sayang, papaku seorang yang setia pada pekerjaanya. Dia tidak bakal ambil pusing dengan siapa saja yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Menurutnya, kitab hukum lebih penting di dunia ini daripada kita penuh cerita moral yang tersebar luas dengan penulis anonim itu.”

“Apa anak-anaknya diajari dengan cara yang keras semanjak kecil?”

“Tidak. Papa hanya selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak melewati batas yang telah ditulis dalam kitab hukum. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi penganggu hukum. Makanya, dari dulu papa sering mengajak anak-anaknya datang ke persidangannya buat menonton bagaimana dia menuntut pada terdakwa dengan hukuman yang berat.”

“Lantas apa kau menjadi orang yang takut dengan hukum?”

“Malah sebaliknya. Aku sering bermain-main di batasan hukum itu, meskipun kami memang tidak pernah melangkahinya. Tapi, Aniel…”

“Jangan mengulangi lagi. Kau sudah menceritakannya tadi waktu datang.”

Bahkan, meski tidak menggunakan ganja, aku dan ia sudah tidak waras. Ia terus tersenyum-senyum selama satu menit. Menampakan lesung pipitnya yang selalu tersembunyi jika ia tidak berekspresi. Aku mengelus cekungan itu.

“Tinggal rintik-rintik,” katanya. “Ayo keluar, sayang. Kita cari pelangi. Mungkin kita bisa menemukan emas.”

“Sayang…,” aku pura-pura manja. “Di matamu sudah ada pelangi. Sayangnya dengan warna yang berbeda.”

“Warna seperti apa itu sayang?” ia membalas manjaku.

“Mungkin berwarna diriku? Atau cinta? Atau coklat. Aku kurang yakin. Mendekatlah biar kulihat.”

Ia mendekat juga. Walau aku bisa menebak ia tahu maksudku. Wajahnya berjarak satu buku jari dengan wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku memagut bibirnya. Kami berciuman.

“Bagunlah!” Ia sudah berdiri mengenakan mantel panjangnya yang tadi tergantung dibalik daun pintu. Ia mengucir rambut panjangnya.

“Aku bahkan belum mandi.”

“Momen yang pas, bukan? Kau belum mandi, dan langit pengertian untuk memandikanmu. Bangunlah. Aku mau menunjukan sesuatu padamu.”

Aku bangkit dengan kemalasan yang luar biasa berat. Kulempar sebuah gulungan koran yang kutemukan di bawah selimut ke tengah ruangan. Aku memakai celana panjang dan mantel. Kemudian kami keluar dari apartemen, turun ke bawah melalui tangga.

“Aku titip selai, roti, sama keju,” seru Kakek Hola menghentikan langkah kami. Ia duduk di kursi goyang yang ada di depan pintu apartemennya.

“Baiklah. Nanti aku bawakan,” jawabku sekenanya saja. Aku malas berurusan dengan kakek brengsek yang tak siapapun mau mengurusinya.

“Kau, gadis kecil. Jaga dirimu baik-baik dengan laki-laki ini. Dia tidak sebaik yang kau kira. Dia anjing berbulu kelinci.”

Aranda tersenyum kecil. Membalas: “Bulunya bukan hanya kelinci. Lebih halus dan lembut. Pesona yang mengelabui, Kek.”

“Sudahlah. Jangan dengarkan kakek ini.” Aku menariknya turun. “Apa kau pikir, aku yang tidak mandi ini, halus dan lembut? Kalau itu pikiranmu, aku berterimakasih sekali.” Aku tersenyum lebar.

Ia mencubit pinggangku. Kami tiba di lantai dasar.

“Apa yang mau kau tunjukan padaku?” aku bertanya. Sejujurnya aku sedang tidak ingin keluar bersamanya hari ini. Mungkin tidak, sampai seminggu kedepan. Tapi ia telah datang ke tempatku. Artinya memang ada sesuatu hal yang ingin sekali dilakukannya denganku. Aku menyukai sifat kenesnya. Kekanak-kanakan yang membuatku betah berada di dekatnya.

Sekarang sudah mendekati malam. Ia menarikku, berjalan ke arah balai kota. Kami melangkah beriringan seperti sepasang sepatu. Kami sepasang manusia yang diguyur asmara. Diguyur rintik hujan sebagai mandiku. Hanya satu dua orang yang kami temui sepanjang trotoar. Orang-orang lebih nyaman berada di dalam mobilnya yang hangat untuk pergi kemanapun. Toko-toko yang biasanya memajang jualan hingga mempersempit pejalan kaki, memilih mengurung diri di balik dinding kaca. Berharap ada orang yang berhenti berjalan, lalu masuk membeli. Kurasai tanganku semakin dingin. Apa Aranda juga kedinginan? ia tidak kuat dengan hawa dingin. Pertamakali aku menemukannya setahun yang lalu, ia mengigil seperti habis melihat neraka di lantai dasar apartemen. Mungkin dengan setengah sadar, ia kubawa naik dan pingsan di atas ranjang. Ia begitu cantik waktu itu meski dalam kondisinya yang sakit. Ia terbangun keesokan harinya dengan ingatan yang sedikit hilang. Yang pertama dikatakanya begitu sadar adalah, apakah kau memperkosaku? Itulah pertanyaan paling melecut emosi dengan cepat. Aku langsung keluar kamar dan meninggalkannya seharian. Berharap ia pergi dengan sendirinya. Sore harinya, begitu aku balik ke apartemen, ia masih ada di sana. Hanya mengenakan dalaman saja. Bukan emosi seperti tadi pagi, aku malah ingin mengajaknya tidur bersama. Bukan bercinta. Aku belum pernah bercinta dengan perempuan manapun. Perempuan biasanya hanya kuajak tidur bersama untuk saling berbagi kehangatan. Itu bukan sebuah nafsu. Seminggu penuh ia berada di apartemenku. Tidak kunjung pulang ke rumahnya atau setidaknya keluar dari dalam apartemen. Ia hanya tiduran dan bangkit melakukan peregangan otot-ototnya. Selama itulah aku mulai menyukainya. Perempuan yang bahkan namanya baru kuketahui sebulan kemudian ketika menonton pertunjukan teater yang diadakan kakaknya.

“Naikan kerah mantelmu. Kau kedinginan,” ujarku.

Aranda meliriku. Dan melakukan yang barusan kukatan.

“Apa salah satu dari kedua laki-laki yang menuju ke sini itu Aniel?” tanyaku. Mataku agak mulai rusak juga gara-gara menulis hanya diterangi lilin beberapa minggu yang lalu.

“Kau tahu, kakakku itu kayaknya berorientasi gay.”

Aniel dan lelaki yang bersamanya semakin mendekat dari arah depan. Berjarak sepuluh gedung lagi. Brengsek! Ternyata memang Aniel.

“Sayang, aku mau buang air kecil sebentar. Kau tunggu disini. Jika nanti Aniel datang, bilang saja kau sedang berjalan-jalan sendirian.”

“Cepat. Aku tidak suka menunggu lama.”

Sepertinya ia tidak memperhatikan kalimat terakhirku. Masa bodoh dengan hal itu. Yang penting aku harus menghindari Aniel dulu sekarang. Aku menyelinap masuk ke dalam toko pakaian tempat kami berdiri. Aku langsung meminta sama penjaganya untuk  mengizinkanku menggunakan kamar mandi yang ada. Ia menunjukan keberadaannya di bagian belakang. Di dalam kamar mandi, aku tetap membuang air seni. Setidaknya, aku tidak berbohong. Lima menit, terlewat atau belum? Kurasa aku sudah terlalu lama di sini. Mungkin Aniel dan temannya sudah berlalu. Aku keluar, kembali ke depan. Brengsek! Aniel masih berdiri dengan Aranda di trotoar. Karena tidak mungkin kembali masuk lagi, akhirnya aku berdiri di balik bagian tembok yang tidak berkaca. Mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu.

“Kakak carilah pasangan yang benar,” kata Aranda. Ia dan kakaknya menjauh dari temannya Aneil.

“Apanya yang benar. Sekarang, dimana kekasihmu itu?”

“Kau mengalihkan pembicaraan, kak. Apa kau benar-benar seorang homoseksual?” Pertanyaan yang dilontarkan Aranda sungguh gila. Apa mungkin ia sudah tidak tahan melihat sikap kakaknya? Aku hanya bisa menebak-nebak saja. Aku belum menjadi bagian dari keluarga itu.

“Dimana kekasihmu itu? dia punya utang padaku belum dilunasi.”

Brengsek! Kenapa ia harus mengatakannya kepada Aranda. Padahal  aku sudah mendoakan semoga teaternya diminati agar ia punya uang dan melupakan utangku, tapi sekarang ia malah mempermalukan aku dihadapan adiknya. Bregsek kau!

Aranda terhenyak sejenak, sebelum kembali meluap. “Aku akan adukan kau kepada ayah agar kau digantung!”

“Adikku yang baik,” Aniel meletakan kedua tangannya di pundak Aranda. “Cinta adalah cinta. Batas cakrawala tidak bisa membentenginya. Biar kutentukan cintaku dan kau tentukan cintamu. Kau boleh dengan kolumnis kere itu. Asal, suruh dia bayar utangnya.” Semua katanya ia katakan dengan nada penuh penekanan. Dan Aranda hanya bisa terpana dengan kemampuan akting kakaknya.

Sementara Aranda berdiri terpaku, Aneil kembali meneruskan jalannya dengan temannya itu. Atau boleh kubilang kekasihnya. Dasar homo. Brengsek!

Aku keluar dengan pura-pura merasa lega. Namun, Aranda tidak bisa dikecoh.

“Kenapa kau tidak minta bantuanku.” Ia menatapku.

“Lihat.” Aku memandang Aneil dan kekasihnya dari belakang. “Mereka bermesraan di tempat umum tanpa malu.”

“Aku tahu, aku tahu, aku tahu Aneil seorang gay.” Merengek. Ia mulai tidak beres. Aku meraih tubuhnya. Memeluknya. Mengusap rambutnya. Ia pernah bilang padaku, bahwa ia sangat suka rambutnya diusap-usap. Itu bisa membuatnya merasa disayangi.

“Ayo.” Ia melepaskan diri. Kami kembali berjalan. Intensitas rintik hujan bertambah.

“Dulu aku pernah hanya memakai dalaman di kamarnya. Tapi ia tidak bereaksi apapun. Sejak itu aku mulai curiga ia tidak berniat pada perempuan. Apalagi setelah adanya teater itu. Ia selalu menulis drama yang banyak diperankan laki-laki. Ia mengambil kesempatan sebagai penulis sekaligus pemain.”

“Kau sangat peduli terhadap semua orang.” Hanya itu komentarku?

“Aku akan membayar utangmu padanya. Juga nanti gunakan uangku dulu untuk titipan si kakek tadi.”

“Jangan.” Aduh, ia benar-benar peduli. “Aku bisa melunasinya. Kau jangan terlalu mengaturku.”

“Kau meminjam dariku. Aku tahu kau pasti tidak pernah mau dibantu, meski sudah kuberikan cintaku sepenuhnya padamu.”

“Listrik di apartemenku diputus dua minggu lalu. Baru tiga hari lalu hidup lagi setelah pinjam dari Aniel. Aku sedang mengalami masa kebuntuan.”

“Kenapa kau tidak mencoba menulis puisi? Atau naskah drama? Kau bisa menjualnya kepada Aneil untuk membayar utang.”

“Akan kucoba nanti.” Aku merangkulnya.

Hujan semakin deras. Toko-toko menutup pintunya rapat-rapat. Kami bingung harus berteduh dimana.

“Kotak telepon.” Ia menarikku masuk ke dalam. Kami saling menempel. Saling menghangatkan. Kotak telepon yang nyaman. Sempit dan cukup bagi kami berdua untuk berbagi ruang dan tatapan.

“Kita akan di sini terus?”

Ia mengambil gagang telepon dan menjulurkannya padaku. Aku menerima.”Siapa?”

“Dua belas, Lima belas, dua-dua, lima.”

“Pelan-pelan.”

Ia mengulangi lagi. Ia bicara dan aku menekan tombol nomor yang dimaksud. Kudengarkan baik-baik. “Nomornya salah.”

“Tidak akan pernah bisa.” Ia mengambil gagang teleponnya, dan menaruhnya kembali. Ia menatapku.

“Kemarin Anile menerima sebuah surat yang isinya angka-angka tidak berututan. Ia menunjukan padaku bermaksud meminta bantuan memahami maksudnya. Aku tahu maksud dari isinya, tapi aku tidak memberitahukan yang sebenarnya. Aku hanya mengatakan mungkin dari orang yang iseng.”

“Apa isinya?”

“Isinya adalah pesan cinta dari laki-laki yang tadi jalan bersama Anile. Angka-angka itu merupakan semacam sandi. Kurasa itu sandi caesar. Transkripsi angka-angka itu sangat mudah. Yaitu urutan huruf secara alafabe. Kukira, laki-laki tadi sengaja tidak menunjukan maksudnya secara langsung. Tapi, mungkin Aneil sudah mengetahuinya sendiri hal itu. Ia tadi begitu senang jalan bareng laki-laki itu.”

“Jadi, dua belas, lima belas, .…”

“Dua belas, lima belas, dua-dua, lima.” Ia membantuku. “Apa cinta bisa melampaui cakrawala? Seberapa jauh kekuatan cinta bisa melampaui batas cakrawala?”

Aku menghitung dengan jari huruf ke Dua belas, lima belas, dua-dua, dan lima. Aku menatapnya. “Love.” Ia menatapku. Aku menciumnya. Ciuman panjang yang tidak memengal nafas. (*)

 

____________

*) FARRAS PRADANA lahir pada 26 Mei 2001 di Lombok Timur karena ayahnya yang menjadi guru di tempatkan di sana. Pada 2003, dia sekeluarga pindah ke tempat asal orang tuanya di Kulon Progo. Dia menempuh seluruh jenjang pendidikannya dari TK, SD, SMP, dan SMK di kabupaten itu. Saat kelas dua SMK dia mulai menekuni dunia tulis-menulis. Akhir Januari 2019, untuk pertama kalinya, cerita pendeknya  yang berjudul “Menerbitkan” berhasil dipublikasikan secara luas di media daring Basabasi.co.

 

Continue Reading

Trending