Connect with us

Cerpen

Jalanan Yang Berbayang

mm

Published

on

Ivan Bunin | Penerjemah: Ladinata Jabarti[1]

 

Pada cuaca buruk musim rontok yang dingin[2], sebuah kereta yang terpercik lumpur dengan penutup kap setengah terbuka, yang ditarik oleh tiga ekor kuda yang agak biasa, yang ekor-ekornya diikat untuk menghindari lumpur salju, berjalan di salah satu jalan besar Tula[3], yang digenangi oleh air hujan dan disayat oleh banyak jejak roda berwarna hitam, mendekati bangunan panjang dari kayu, yang pada satu bagiannya ditempati oleh pos stasiun pemerintah dan bagian lainnya oleh rumah penginapan pribadi, yang menjadi tempat bagi para pelancong untuk dapat beristirahat atau bermalam, makan siang atau memesan samovar[4]. Di atas bangku tempat kusir, duduk seorang laki-laki kekar berwajah gelap dan murung, dengan janggut hitam pekat yang jarang, mirip seorang begal tua, mengenakan mantel petani yang diikat dengan rapat, sedang di dalam kereta tampak seorang lelaki tua yang ramping dengan topi besar dan mengenakan mantel tentara berwarna kelabu dengan potongan yang diambil dari masa kekaisaran Nikolai I[5], memiliki kerah berdiri tegak yang terbuat dari kulit berang-berang, dengan alis berwarna hitam, tetapi dengan misai berwarna kelabu, yang ujung-ujungnya menyentuh jambang, yang juga berwarna serupa; dagunya bersih tercukur dan seluruh tampilan lahirnya memiliki kesamaan dengan gaya pada masa Alexander II[6], yang begitu menyebar di antara para tentara pada masa kekaisarannya; pandangan matanya mengandung pertanyaan, keras dan bersamaan dengan itu tampak lelah.

Ketika kuda-kuda berhenti, dia mengeluarkan kakinya yang bersepatu lars dengan bagian atas yang rapat dari kereta dan sambil memegang mantelnya dengan tangan yang dibalut dengan sarung tangan dari kulit halus kambing, dia berlari naik tangga menuju ke bagian serambi bangunan.

“Ke arah kiri, Yang Mulia,” dengan suara kasar sang kusir berteriak dari tempat duduknya, laki-laki itu, setelah sedikit membungkuk di ambang pintu, lantaran tubuhnya yang tinggi, berjalan melewati pintu masuk, kemudian ke sebuah ruangan di sebelah kiri.

Ruangan itu terasa hangat, kering dan rapih: di sudut kiri tampak ikon[7] baru dengan warna keemasan, di bawahnya ada meja yang ditutupi taplak bersih yang tidak dikelantang[8], di balik meja terlihat bangku-bangku yang telah dicuci dengan bersih; tungku dapur, yang mengambil tempat di sebelah kanan jauh ruangan, baru saja dilaburi kapur; lebih dekat lagi ke pintu, berdiri sesuatu seperti bangku pendek tanpa sandaran yang ditutupi oleh baju kuda belang-belang, yang ditumpukkan secara lepas pada sisi tungku dan dari balik penutup tungku tercium bau enak sup kol, dengan daun salam dan daging sapi yang direbus sampai lunak.

Laki-laki yang baru datang itu melemparkan ke atas bangku mantelnya dan dalam balutan pakaian seragam dan sepatu lars, tampak tubuhnya lebih ramping lagi, kemudian dia melepaskan topi dan sarung tangan dan dengan gerak laku yang lelah dia mengusapkan tangan kurus pucat pada kepala yang rambutnya beruban, agak berikal, dengan sisiran rambut dari bagian pelipis ke depan menuju sudut mata, wajah lonjongnya yang rupawan dengan mata gelapnya memperlihatkan bekas cacar kecil di beberapa tempat. Seorang pun tidak ada di ruangan tersebut dan setelah agak sedikit membuka pintu, dia berteriak dengan suara yang tidak bersahabat:

“Hei, apakah di sana ada orang?”

Dengan seketika, sesudah itu, datang ke ruangan seorang perempuan berambut gelap, juga seperti sang lelaki, beralis hitam dan, bukan didasarkan pada usia, masih juga jelita, mirip perempuan gipsi paruh baya, yang pada bibir bagian atas dan menyusur pipi, tampak sesuatu yang tipis gelap; meski tubuhnya cukup gemuk, dengan dada besar dibalut baju warna merah dan dengan perut berbentuk segitiga di balik rok hitam yang terbuat dari kain wol, seperti yang terdapat pada angsa, dia berjalan dengan cekatan.

“Selamat datang, Yang Mulia,” katanya. “Apakah Anda menginginkan untuk makan atau dibawakan samovar?”

Samovar. Kau pemilik penginapan atau pelayan?”

“Pemilik, Yang Mulia.”

“Jadi, kau sendiri yang menjalankan tempat ini?”

“Benar. Saya sendiri.”

“Bagaimana bisa begitu? Kau janda, atau apa, sehingga kau sendirian mengurus usaha?”

“Saya bukan janda, Yang Mulia, tetapi saya harus melakukan kehidupan dengan sesuatu. Dan saya senang mengelola usaha.”

“Begitu, begitu. Itu bagus. Dan penginapanmu sangat menyenangkan dan bersih.”

Perempuan itu, sambil memicingkan mata, selalu melihat dengan tajam pada sang lelaki.

“Kebersihan juga saya senang,” jawabnya. “Saya dulu besar di rumah kaum majikan, bagaimana saya tidak pintar mengurus tempat saya sendiri dengan patut, Nikolai Alekseevich.”

Laki-laki tersebut dengan segera berdiri tegak, membuka matanya lebar-lebar dan wajahnya memerah:

“Nadezhda! Kau?” katanya dengan cepat.

“Saya, Nikolai Alekseevich,” jawab sang perempuan.

“Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” kata lelaki itu, sambil duduk di atas bangku dan melihat dalam-dalam pada Nadezhda. “Siapakah yang dapat memikirkan ini! Sudah berapa tahun kita tak bertemu? Tiga puluh lima tahun, kira-kira?”

“Tiga puluh tahun, Nikolai Alekseevich. Saya sekarang berumur empat puluh delapan, sedangkan Anda, saya pikir hampir enam puluh?”

“Seperti itulah…Ya, Tuhan, betapa anehnya!”

“Apakah yang aneh, Tuan?”

“Semuanya, semuanya…Tentu saja kau mampu memahami!”

Kelelahan dan pengabaiannya menghilang, Nikolai Alekseevich bangun dari bangku dan dengan langkah pasti dia mulai berjalan di sekitar ruangan tersebut, sambil menatap ke lantai. Kemudian dia berhenti, pelan-pelan dia jadi memerah,  menjalar ke jambang kelabunya dan dia mulai bicara:

“Sejak saat itu, mengenai dirimu, aku tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Mengapa kau tidak tinggal dengan majikanmu?”

“Segera setelah Anda pergi, majikan saya memberikan surat pembebasan[9].”

“Dan di mana kemudian kau tinggal?”

“Panjang jika diceritakan, Tuan.”

“Bersuami, seperti yang kau katakan, tidak pernah?”

“Tidak, tidak pernah.”

“Mengapa? Dengan kecantikanmu itu?”

“Saya tak dapat melakukannya.”

“Mengapa tidak? Apa yang ingin kau katakan?”

“Apa yang harus dijelaskan? Mungkin Anda ingat, betapa saya begitu mencintai Anda.”

Laki-laki tersebut menjadi sangat memerah, hingga airmatanya keluar dan dengan mengerutkan dahi, dia melangkah lagi.

“Semuanya berlalu, Nadezhda, kawanku,” gumamnya. “Cinta, masa muda – semua, semua. Itu adalah kisah yang biasa dan tidak ada artinya. Semua berlalu bersama waktu. Seperti yang dikatakan di dalam book of Job[10]? ‘Seperti kamu akan mengingat air yang menguap’.”

“Itu adalah apa yang Tuhan berikan kepada manusia, Nikolai Alekseevich. Masa muda pada setiap orang berlalu, tetapi cinta – masalah lain.”

Nikolai Alekseevich mengangkat kepalanya, menghentikan langkah, dengan rasa sakit dia tersenyum:

“Tapi tentu saja kau tidak dapat mencintai aku selama hidupmu!”

“Tetapi saya mampu, Nikolai Alekseevich. Berapa banyak waktu telah berlalu, hidup saya tetap sendiri. Saya tahu, Anda tidak seperti dulu, sudah lama sekali, sekarang bagi Anda seolah itu tak berarti apa-apa dan tak pernah ada, tetapi beginilah, masih…Sudah terlambat kini untuk menyalahkan, tetapi ini benar, Anda membuang saya dengan tanpa berbelas kasih, berkali-kali saya ingin meletakkan tangan saya pada diri saya, karena luka hati hidup sendiri, tentu saja tak perlu mengatakan yang lainnya, semuanya. Pernah ada waktu, Nikolai Alekseevich, ketika saya menyebut Anda Nikolenka[11] dan Anda memanggil saya – ingat bagaimana? Dan Anda selalu membacakan saya sajak-sajak tentang ‘jalanan yang berbayang’,” tambahnya dengan senyum yang suram.

“Ah, betapa menyenangkannya kau dulu!” Nikolai Alekseevich berkata, sambil mengangguk-anggukan kepala. “Betapa memggairahkan, betapa cantiknya! Tubuhmu bukan alang kepalang! Matamu juga bukan alang kepalang! Kau ingat, bagaimana semua orang memandangmu?”

“Saya ingat, Tuan. Anda juga dulu sangatlah tampan. Dan karena itu, saya serahkan kepada Anda segala kecantikan dan kegairahan saya. Bagaimana juga saya dapat melupakan hal yang demikian.”

“Ah! Semuanya berlalu. Semuanya terlupakan.”

“Semuanya berlalu, tetapi tidak semuanya terlupakan.”

“Pergilah,” kata sang lelaki, sambil membalikkan badan dan berjalan ke arah jendela. “Pergilah, tolong.”

Setelah mengeluarkan saputangan dan menyeka matanya dengan saputangan tersebut, lelaki itu menambahkan:

“Aku hanya berharap, agar Tuhan memaafkan. Dan kau, tampaknya, telah memaafkan aku.”

Nadezhda berjalan mendekati pintu dan menghentikan langkah barang sebentar:

“Tidak, Nikolai Alekseevich, saya tidak memaafkan. Semenjak perbincangan kita menyentuh perasaan kita, saya akan berkata dengan jujur: memaafkan Anda, saya tidak mampu. Saat itu, saya tidak memiliki sesuatu pun di dunia ini yang lebih bernilai dibanding Anda, demikian juga setelahnya, tidak pernah. Karenanya, memaafkan Anda, saya tidak mampu. Baik juga untuk dijadikan ingatan, orang mati itu tidak dibawa dari kuburan.”

“Ya, ya, tidak ada pengertiannya dalam hal ini. Mintakan pekerja untuk menyiapkan kuda,” jawabnya, sambil menjauh dari jendela dengan wajah yang keras. “Satu hal yang akan aku katakan kepadamu: dalam hidup ini aku tak pernah bahagia, tolong, jangan berpikir apa-apa. Maafkan aku, bahwa, barangkali, aku menyakiti harga dirimu, tetapi aku akan katakan kepadamu secara terus terang, aku dengan sangat tergila-gila mencintai istriku. Tetapi dia menghianati aku, dia meninggalkan aku dengan begitu banyak penghinaan, dibanding aku terhadapmu. Aku memuja-muja anakku, ketika dia masih kecil, begitu banyak aku menaruh harapan kepadanya! Tetapi ketika besar, dia menjadi seorang bajingan, penghambur uang, seorang kurang ajar yang tanpa hati, tanpa kehormatan, tanpa suara hati…Bagaimanapun juga itu semua merupakan cerita yang sangat biasa dan tidak ada artinya. Aku berharap kau beruntung, Nadezhda, kekasihku. Aku berpikir, bahwa di dalam dirimu aku kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, sesuatu yang aku miliki di dalam hidup.”

Perempuan itu berjalan menghampirinya dan mencium tangannya, dia sendiri mencium tangan perempuan tersebut.

“Mintakan pekerja untuk menyiapkan…”

Ketika mereka, dia dan sang kusir, pergi semakin jauh, dia berpikir dengan muram: “Ya, betapa menyenangkannya dia dulu! Betapa kecantikannya mempesona!” Dengan rasa malu dia mengingat kata-kata terakhirnya dan ketika dia mencium tangan sang perempuan; saat itu juga dia jadi merasa malu karena rasa malunya itu sendiri. “Tidakkah ini benar, bahwa perempuan tersebut telah memberikan masa-masa yang terbaik di dalam hidupku?”

Matahari yang pucat tampak terlihat di langit sebelah barat. Sang kusir menjalankan kudanya dengan langkah-langkah sentak, mengubah dari satu jejak roda yang hitam ke jejak yang lain dan memilih yang lumpurnya lebih sedikit dan dia juga memikirkan sesuatu. Akhirnya dia berkata dengan suara kasar yang muram:

“Dan perempuan itu, Yang Mulia, tetap melihat lewat jendela, ketika kita pergi. Kelihatannya, sudah lama Anda mengenalnya?”

“Ya, sudah lama, Klim.”

“Perempuan yang sangat bijak. Orang-orang mengatakan, dia terus bertambah kaya. Dia meminjamkan uang kepada penduduk.”

“Itu tak berarti apa-apa.”

“Bagaimana tidak berarti! Siapakah yang tidak ingin hidupnya lebih baik! Jika orang memang patut dibungakan, tidak ada ruginya itu dilakukan. Dan dia, kata orang-orang, adil dalam hal ini. Tetapi dia juga keras! Tidak mengembalikan sesuai waktu – salahkan dirimu sendiri!”

“Ya, ya, salahkan dirimu sendiri…Tolong, percepat, Klim, aku khawatir kita akan tertinggal kereta api…”

Matahari yang rendah di sebelah barat bersinar dengan warna kuning di atas hamparan ladang kosong, kuda-kuda selalu mendebur genangan air. Nikolai Alekseevich melihat pada ladam kuda yang gerakannya berganti-ganti dengan cepat, dia menarik kedua alis hitamnya dan terpekur:

“Ya, kau harus menyalahkan dirimu sendiri. Ya, tentu saja, itu masa-masa terbaik di dalam hidupku dan bukan hanya terbaik, tetapi juga benar-benar ajaib! ‘Di sekitar, mawar liar merah yang menawan berbunga, tampak jalanan dengan pohon-pohon linde[12] yang kabur…’[13] Tetapi ya, Tuhan, apakah kira-kiranya yang terjadi selanjutnya? Apakah yang terjadi, sekiranya aku tidak membuang dia? Ah, omong kosong apa!  Itu adalah Nadezhda, perempuan yang bukan pemilik penginapan di pinggir jalan, melainkan istriku, sang pemilik rumahku di Petersburg[14], ibu dari anak-anakku?”

Dan dia menggeleng-gelengkan kepala, sambil menutup kedua matanya.

 

20 Oktober 1938

Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

Biografi Ivan Bunin

Ivan Alekseyevich Bunin (1870-1953), yang merupakan sastrawan pertama Rusia, yang memperoleh Nobel Prize, dilahirkan di Voronezh, Rusia Tengah, di dalam keluarga bangsawan yang tidak begitu kaya. Pada tahun 1895 Bunin memutuskan tinggal di Moskow dan Petersburg, yang membuatnya berkenalan dengan Chekhov, Konstantin Balmont, Valery Bryusov dan Gorky. Setelah mempublikasikan buku kumpulan prosa “To the Edge of the World and Other Stories” (1897) dan buku kumpulan sajaknya “In the Open Air” (1898), nama Bunin mulai dikenal di Rusia. Atas karyanya, kumpulan sajak “Falling Leaves” (1901) yang didedikasikan kepada Gorky dan terjemahan ke dalam bahasa Rusia “The Song of Hiawatha”, karya Henry Longfellow (1807–1882), yang dipublikasikan di Orlovsky Herald (1896), Bunin pada tahun 1903 dianugrahi Pushkin Prize oleh Russian Academy of Sciences.

Setelah Revolusi 1905 rasa tertarik terhadap kehidupan kaum tani membantu Bunin menghasilkan “The Village” (1910), yang memaparkan kesuraman kehidupan (sebuah) desa Rusia, yang dipenuhi dengan kebodohan, kebrutalan dan kekerasan. Setelah “The Village”, Bunin mengeluarkan “Dry Valley” (1912), yang menggambarkan sejarah kehancuran keluarga bangsawan dan takdir para budaknya, dan “Zakhar Vorobyev”(1912), yang tokoh utamanya menjadi simbol kehidupan hampa dan kematian tragis dari seorang manusia kuat dan berbakat.

Di dalam karya-karyanya Bunin banyak menuliskan tema cinta, kehidupan dan kematian. Salah satu novelnya yang paling puitis adalah “Light Breathing” (1916), yang mengisahkan tentang seorang gadis rupawan bernama Olya (Olga) Meshcherskaya, yang mati di dalam dunia yang bermusuhan dan penuh tipuan dan kekejian. Tidak kalah terkenalnya cerita pendek “The Gentleman from San Francisco” (1915), yang berisikan mengenai kematian mendadak seorang jutawan Amerika, yang menjadi simbol dunia dusta dan tanpa jiwa, dan di dalam dunia tersebut perasaan dan pikiran yang sejati diselimuti oleh dekorasi yang menawan.

Menjelang Revolusi 1917, baik di dalam prosa maupun sajak-sajaknya, Bunin menyuarakan kandungan pikirannya mengenai peristiwa tragis sosial yang makin mendekat tersebut. Setelah Revolusi Oktober untuk selamanya Bunin pada tahun 1920 meninggalkan Rusia dan bermukim di Perancis. Penolakannya terhadap kaum Bolshevik diperlihatkan di dalam karyanya “Cursed Days” (1925).  Karya-karya Bunin di tempat emigrasi, antara lain: “Mitya’s Love” (1924), “Rose of Jerico” (1924) dan “Sunstroke” (1927). Karya terbesarnya, yang merupakan roman otobiografi adalah “The Life of Arseniev” (1927–1933, 1939), yang mengisahkan mengenai perkembangan kehidupan jiwa sang pengarang, mengenai masa-masa bahagia dan tragis yang dilalui. Para kritikus begitu menghargai roman tersebut.

Pada tahun 1933 Ivan Bunin dianugrahi Nobel Prize atas jasanya mengembangkan tradisi prosa klasik Rusia. Di Paris, dalam usia 83 tahun, pada tanggal 8 November 1953, Ivan Bunin wafat.

[1]  Penerjemah: Ladinata Jabarti | Hak Terjemahan Pada: Ladinata Jabarti / Galeri Buku Jakarta, 2016.

[2] Judul Jalanan Yang Berbayang: maksudnya adalah jalanan yang di kanan-kirinya dipenuhi oleh jajaran pohon

[3] Nama kota di Rusia yang jaraknya kurang lebih 200 km dari Moskow, tempat pembuatan segel atau materai

[4] Ketel teh khas Rusia

[5] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1825-1855

[6] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1855-1881, anak dari Nikolai I

[7] Gambar suci

[8] Tujuan dikelantang adalah untuk lebih diputihkan. Setelah dicuci dengan sabun atau direndam, kain  tidak dijemur di bawah terik matahari, hanya dianginkan

[9] Maksudnya wolnaya, dokumen, yang menyatakan, bahwa seseorang telah dibebaskan dari perbudakan oleh majikannya

[10] Kitab nabi Ayub (14:11): seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering

[11] Nama diminutif Nikolai

[12] Pohon dengan daun-daun yang bergerigi dan bunganya menghasilkan  nektar yang wangi

[13] Diambil dari sajak Обыкновенная повесть ‘Riwayat yang Biasa” (1842) karya Nikolai Platonovich Ogaryov (1813-1877),seorang aktivis pergerakan  revolusi Rusia, sastrawan dan penulis

[14] Pada tahun 1703 Saint Petersburg didirikan oleh Peter yang Agung (1672-1725), yang memerintah Rusia pada tahun 1682-1725. Antara tahun 1914-1924 disebut Petrograd. Pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918 Petersburg pernah menjadi ibukota Rusia

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending