Connect with us

COLUMN & IDEAS

Jakarta, Riwayat yang Berulang

mm

Published

on

Nama Batavia sendiri terlestari pada nama kelompok heterogen penduduk pribumi yang kemudian dikenal dengan etnik Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah etnik baru yang terbentuk melalui campuran berbagai sukubangsa sejak zaman Jakarta masih sebagai pelabuhan bernama Kalapa. Etnik  ini dulu mungkin berasal dari orang-orang Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Bali, Ambon dan ras lain seperti Arab, Cina, Portugis, dll.

Oleh: Iwan Nurdaya-Djafar *)

PADA mulanya adalah Kalapa, pelabuhan milik Kerajaan Pajajaran yang menurut Tome Pires beribukota di Dayo (dekat Bogor). Sebuah toponim dalam logat Sunda karena ditumbuhi pepohonan kelapa. Dalam teks berbahasa Mandarin, menurut Claudine Salmon (2010: 26), tempat yang disebut “Kelapa” sudah digunakan pada waktu dinasti Ming. Tempat itu masih dikenal sampai kini dan kadang-kadang kita menemukannya dalam bentuk terjemahan Tionghoa, “Yecheng” atau “Kota Kelapa”.

Pada 1522 orang Portugis datang dari Malaka sebagai utusan Gubernur Malaka, untuk mendirikan benteng di dekat muara sungai Ciliwung. Tahun 1527 orang-orang Portugis itu kembali dengan membawa sebuah armada kecil tanpa mengetahui Kalapa telah jatuh ke tangan Fatahillah. Terjadilah pertempuran yang dimenangi Fatahillah, dan kemudian mengganti Kalapa dengan “Jayakarta” berarti ‘kemenangan yang sempurna’. Peristiwa itu terjadi pada 22 Juni 1527, yang ditetapkan sebagai hari jadi Jakarta.

Tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta diratakan dengan tanah lalu dibangun kota baru bernama Batavia, nama kuno Negeri Belanda atau nama nenek moyang orang Belanda. Menurut Sagimun MD (1988), orang “yang memberi nama Batavia itu adalah seorang pegawai VOC yang bernama van Raay. Nama Batavia diberikan kepada benteng Belanda secara acuh tak acuh dalam suatu pesta mabuk-mabukan pada 12 Maret 1619.” Sebenarnya, Coen ingin menamainya New Horn, dari nama tempat kelahirannya, Horn, di Belanda Utara. Pada 4 Maret 1621 dewan pimpinan VOC yang disebut Heren Zeventien memaksa Coen untuk menggunakan nama Batavia.

Sampai kedatangan Herman Willem Daendels pada 1808, Batavia bukanlah lingkungan yang sehat. Citra buruk Batavia di Eropa adalah salahsatu kota terkumuh di dunia. Dalam kisah beberapa petualang abad ke-17 dan ke-18 Batavia adalah kuburan orang Eropa. Antara 1759-1778, 74.254 penduduk kota meninggal karena demam dan disentri. Pada 1830-an sistem sanitasi diperbarui dan kota dipindahkan ke arah selatan. Batavia lama, menurut Henry O. Forbes, “sebuah permukiman di dataran rendah yang rapat dan berbau busuk.”

Dengan alasan kesehatan Daendels ingin memindahkan ibukota Kepulauan Hindia ke Surabaya, yang menurutnya berposisi jauh lebih baik untuk pangkalan operasi militer dibandingkan Batavia. Namun batal karena keterbatasan dana. Daendels yang merupakan Gubernur Jenderal Prancis di Pulau Jawa (1808-1811), alih-alih Gubernur Jenderal Belanda karena Negeri Belanda  jatuh ke tangan Kekaisaran Prancis di bawah Napoleon Bonaparte sejak 1795-1813, akhirnya memutuskan untuk memindahkan bangunan-bangunan administratif dari kota tua di Batavia ke daerah Weltevreden. Benteng Batavia dirobohkan dan kemudian beberapa benteng yang lebih modern dibangun di Meester Cornelis (Jatinegara). Daendels sendiri tidak tinggal di Batavia, melainkan di Buitenzorg (Bogor), “di sana udara sama bersihnya dengan di Prancis.” Saat itu, Batavia dijuluki Ratu dari Timur karena keindahan bangunannya dan pusat perdagangannya yang besar, terletak sangat dekat dengan laut, di dataran yang subur.

Sebutan Batavia bertahan sampai 1942. Setelah Hindia Belanda dikalahkan pemerintah militer Jepang, nama kota diubah menjadi Jakarta. Kala itu dieja: Djakarta, kependekan dari kata Jayakarta. Versi lain menuturkan, “Jakarta” berasal dari kata “karta”dalam bahasa Sanskerta yang berarti ‘baik’. Pergantian nama itu pada perayaan Hari Perang Asia Timur Raya 8 Desember 1942. Jakarta menjadi daerah istimewa dengan nama Jakarta Tokubetsu Shi.

Nama Batavia sendiri terlestari pada nama kelompok heterogen penduduk pribumi yang kemudian dikenal dengan etnik Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah etnik baru yang terbentuk melalui campuran berbagai sukubangsa sejak zaman Jakarta masih sebagai pelabuhan bernama Kalapa. Etnik  ini dulu mungkin berasal dari orang-orang Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Bali, Ambon dan ras lain seperti Arab, Cina, Portugis, dll.

Pascakemerdekaan, pada masa Orde Lama Jakarta tak henti membangun. Presiden Sukarno membangun gelanggang olahraga Senayan, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, Toserba Sarinah – dua bangunan terakhir merupakan pampasan perang Jepang. Bung Karno juga mendirikan sejumlah monumen seperti Monumen Nasional (Monas), Tugu Pancoran, tapi juga Tugu Tani yang anehnya sang petani menyandang senapan panjang, tak pelak diturunkan dari gagasan Angkatan Kelima,  mempersenjatai penduduk yang merupakan konsep PKI. Celakanya, Tugu Tani yang didesain pematung Soviet itu masih ada dan tidak dirubuhkan, bahkan oleh rezim Orde Baru yang antikomunis.

Deutsch: Ölgemälde von Andries Beeckman: Die Festung von Batavia, gesehen vom Westen Kali Besar, c. 1656. | Andries Beeckman

 

Semasa Orde Baru, Jakarta terus berdandan, diawali oleh Gubernur Ali Sadikin, yang membangun jalan-jalan Jakarta dengan uang judi, sehingga timbul kontroversi. “Yang tidak setuju Jakarta dibangun dengan uang judi. jangan berjalan di jalan-jalan Jakarta,” sergah Bang Ali.

Pada awal 1970-an Jakarta disindir sebagai a big village (dusun besar), yang justru dibantah oleh Fuad Hassan seraya menandaskan bahwa penghuninya pasti tidak berwatak dusun. Peri kehidupan masyarakat di Jakarta tidak diatur menurut satu ukuran umum; sebaliknya, yang sangat menyolok adalah kenyataan-kenyataan betapa berlakunya standar ganda yang membagi masyarakat kota besar ini dalam berbagai kategori manusia. Baik dalam pola-pola konsumsinya, pola-pola rekreasinya, maupun ikhtiar-ikhtiarnya untuk bertahan dalam kehidupan survival tampak sekali berlakunya ukuran-ukuran ganda. Yang terjadi adalah heteronomia, yaitu kenyataan adanya berbagai-bagai norma yang sekaligus dianut oleh berbagai-bagai golongan dalam suatu masyarakat; golongan muda punya norma-normanya sendiri (bahkan di dalamnya terdapat pula perbedaan ragam orientasi normatif), golongan pedagang punya norma-normanya sendiri dan begitu seterusnya.

Tidak ada alasan samasekali untuk menilai Jakarta sebagai suatu dusun besar. Urbanisme yang sedang diungkapkan oleh Jakarta dalam transformasinya menjadi metropolis masih dalam tahap yang khas kondisi Indonesia. Fuad Hassan menyebutnya Indopolis, yakni transformasi dari kota besar (atau: kota besar dan ibukota negara) di Indonesia untuk menjadi Metropolis benar-benar. Suka tak suka, Jakarta akan mekar atas kemekarannya sendiri. Agaknya momentum untuk self-propelled development (pembangunan memajukan diri) itu sudah menjadi kenyataan bagi Jakarta. Bagi mereka yang bersedia menjalankan kehidupan berpacu di Jakarta, harus memiliki ketabahan dan kesanggupan bertahan, baik fisik maupun mental.

Pada gilirannya Jakarta tumbuh menjadi penentu pola bagi kota-kota besar se-Indonesia. Yang menjadi tanggungjawab bagi Jakarta sebagai penentu pola ialah bagaimana tidak meninggalkan perkembangan di luar Jakarta sampai begitu jauhnya, sehingga Jakarta menjadi masyarakat yang khas di tengah-tengah situasi Indonesia umumnya, khususnya dalam hubungan dengan kenyataan bahwa sebagian besar kultur Indonesia adalah rural dan tradisional.

Tanggungjawab Jakarta inilah agaknya yang menjadi persoalan besar. Sebagai pusat bisnis, Jakarta terus melesat dengan konon 70 persen peredaran uang berada di sana. Pembangunan kota Jakarta rupanya juga tidak terencana dengan baik. Jika dahulu terjadi reklamasi di pantai Ancol, maka kini muncul pulau-pulau buatan, yang juga tak sepi dari kontroversi. Sebagai metropolitan, Jakarta tidak dengan sendirinya menjadi lingkungan yang sehat. Polusi udara terbilang tinggi. Banjir dan macet serta problem kependudukan menjadi masalah yang tak kunjung tuntas. Daya dukung lingkungan pun kian menurun.

 

Akhirnya, pada 16 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mempermaklumkan akan memindahkan ibukota negara ke wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, di atas lahan 180 ribu hektar. Konsep yang diusung adalah A City in the Forest, sebuah kota di tengah hutan. Paling lambat pada 2024 ibukota negara sudah dipindahkan.

Pelajaran yang dapat ditarik dari pemindahan ibukota negara itu adalah bahwa pada masa bernama Batavia, kota ini bukanlah lingkungan yang sehat, demikian pula salahsatu alasan Jakarta ditinggalkan pada saat ini. Rupa-rupanya, riwayat berulang bagi Jakarta. (*)

___

Iwan Nurdaya-Djafar adalah penyair, cerpenis, esais, dan penerjemah, tinggal di Bandarlampung. Sekretaris Akademi Lampung ini menulis di sejumlah media massa seperti Horison, Ulumul Quran, Sarinah, Amanah, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll. Buku-bukunya Seratus Sajak, Bendera (kumpulan cerpen), Hukum dan Susastra, menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran seperti Sang Nabi, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Kematian Sebuah Bangsa, Airmata dan Senyuman. Terjemahan lainnya novel Lelaki dari Timur (Mohsen El-Guindy), Membeli Setangkai Pancing untuk Kakekku (kumpulan cerpen Gao Xinjiang), Agustus 2026: Saat itu Akan Turun Hujan Gerimis (kumpulan cerpen Ray Bradbury), Indonesia di Mata India: Kala Tagore Melawat Nusantara, dll.

 

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Di Rumah…

mm

Published

on

Bandung Mawardi—Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Pada suatu masa, pembaca buku menempuhi perjalanan jauh. Ia membekali diri dengan ratusan novel selesai terbaca dan tercatat dalam album kutipan. “Kukira yang kuinginkan adalah sebuah dunia yang penuh dengan keributan dan kegeraman seperti dunia Faulkner, suatu dunia yang bagaikan buaian janji sekaligus merupakan misteri yang gelap seperti dunianya Frost, dunia yang dihuni makhluk-makhluk aneh dan pahlwan-pahlawan seperti dalam dunianya Steinbeck,” tulis Michael Pearson menguatkan niat melakukan perlawatan ke pelbagai kota dan desa, tempat para pengarang hidup dan mengisahkan dalam novel-novel ampuh di Amerika Serikat.

Ia pun bergerak dan bergerak memenuhi janji ingin mengetahui rumah, kebun, sungai, jalan, hutan, pertokoan, dan segala hal berkaitan biografi pengarang dan tercantumkan di novel-novel. Perjalanan menggairahkan dan membikin capek menghasilkan buku berjudul Tempat-Tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994). Micchel Pearson menjadikan buku-buku adalah peta menuju ke tempat-tempat menghidupi dan diceritakan Frost, Faulkner, O’Connor, Hemingway, Steinbeck, dan Twain. Mereka dinggap “menciptakan tempat yang dalam dan abadi dalam kesusastraan Amerika.” Sekian tempat itu menguak biografi pengarang tapi mengajari pula ke pembaca untuk mengerti kemungkinan menjawab memusat ke “siapa”.

Janji keramat itu terbuktikan: “Dalam buku dan legenda, semua dunia ini menjadi nyata bagiku. Namun, aku juga ingin tahu, seandainya aku melangkah melebihi lingkaran gaib imajinasi, apakah dunia tadi akan lenyap seperti khayalan belaka dalam benakku.” Ia terlalu lama tinggat di apartemen di New York. Di gedung tinggi dan “sesak”, Michael Pearson merasa menjalani hidup di dunia sempit. Ia memilih buku: meluas dan meninggi. Buku terpilih gara-gara selama di apartemen ia cuma sanggup menatap sedikit langit. Bangunan-bangunan menjadi penghalang. Buku teranggap “menunjukkan mentari.” Bergeraklah Michael Perason menuju tempat-tempat berkaitan para pengarang ampuh, meninggalkan New York dan mengembara lama.

Pada suatu hari, ia selesai dengan segala perlawatan. Ia harus pulang. Deksripsi mengharukan: “Dalam keremangan senja, bulan separuh mengintip dari balik langit yang penuh dengan mega-mega berwarna kelabu, kami berkendaraan menyusur jembatan penghubung Teluk Chespeake dan pulang.” Ia tak mungkin selalu bergerak dengan mobil memenuhi setumpuk hasrat mengenali buku dan pengarang di seantero Amerika Serikat. Ia membutuhkan “selesai” dan pulang. “Seperti halnya banyak orang Amerika yang hidup berpindah-pindah, bagiku rumah adalah lebih dari segalanya,” tulis Michael Pearson meredakan letih dan memastikan segala perlawatan tak sia-sia.

Michael Pearson menjalani perlawatan di masa lalu, bukan pada masa wabah sedang melanda Amerika Serikat dan pelbagai negara. Trump dan para pemimpin di dunia menganjurkan warga tinggal di rumah, melakukan pekerjaan, belajar, dan beribadah di rumah. Mereka dianjurkan tak bepergian dari rumah atau membuat kerumunan. Penghindaran wabah dengan mengurangi perjumpaan di sekian tempat. Rumah dianggap tempat “perlindungan” dan “keselamatan” ketimbang orang-orang harus menanggungkan sakit, derita, dan kematian. Perintah di rumah semula “kemustahilan” tapi wajib berlaku demi kebijakan-kebijakan mengurangi dan menghentikan wabah.

Michael Pearson melawat tak di masa wabah. Ia masih mungkin mengartikan rumah-rumah para pengarang memiliki cerita-cerita menandai babak-babak perubahan di Amerika Serikat. Kini, orang-orang dianjurkan berada di rumah setelah pengertian-pengertian rumah telah terlalu berubah, tak mampu lagi diceritakan utuh di novel atau mendapat penjelasan seratusan halaman dalam dokumen resmi pemerintah. Rumah telah “imajinatif” tapi termaknai dengan gugup dan meragu gara-gara wabah.  

Kita menengok rumah dan nasib manusia di Amerika Serikat masa lalu melalui novel berjudul Tortilla Flat atau Dataran Tortilla gubahan John Steinbeck. Novel penuh lelucon dan kritik besar memahami rumah. Kita simak dilema tokoh utama: “Ketika Danny pulang dari dinas ketentaraan, dia mendengar bahwa dia menjadi ahli waris dan pemilik sepetak tanah beserta bangunan di atasnya. Kakeknya telah meninggal. Dua buah rumah kecilnya yang terletak di Dataran Tortilla diwariskan kepada Danny.” Keberuntungan dan nasib lekas menjadi cerah? Episode itu kesalahan. “Berita ini membuat hati Danny terasa sedikit berat, mengingat kewajibannya sebagai seorang pemilik rumah,” tulis John Steinbeck.

Si tokoh selama puluhan tahun menghindari “memiliki” atau “mengalami” hidup di rumah dalam kewajaran. Ia memilih di luar rumah: bekerja, bertualang, mabuk, dan tidur. Rumah belum keinginan. Predikat pemilik rumah justru petaka. Tinggal dan menguru rumah adalah “akhir bahagia”. Satire itu diceritakan pada masa 1930-an. Cerita itu mungkin disangkal saat orang-orang di Amerika Serikat mengalami hari-hari wabah menakutkan, setelah menggemparkan Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia.

Di pelbagai negara, rumah-rumah mendapat perintah bertambah makna. Pengertian pokok tetap termiliki tapi segala kebijakan pemerintah dan pikat teknologi mutakhir mengimbuhi pengertian rumah. Kerasan, bosan, malas, rajin, capek, girang, damai, kisruh, dan semua rasa di rumah ditanggulangi dengan “pemaksaan” raga tetap berada di rumah tapi pengabaran ke dunia terus belangsung melalui gawai. Jutaan orang serentak atau bergantian mengabarkan rumah untuk ditonton orang lain. Rumah-rumah terdokumentasi dan disebarkan ke segala penjuru di dunia, detik demi detik. Ikhtiar merasa di rumah tapi “meloloskan” sesuatu dari rumah.

Kita berpindah dulu, mengunjungi rumah di Korea Selatan. Perlawatan sebelum negara itu dilanda wabah. Kita masuk ke halaman-halaman cerita gubahan Kyung-Sook Shin dalam novel berjudul Please Look After Mom. Novel bercerita keluarga, rumah, buku, dan kehilangan ibu. Rumah menjadi pusat pengisahan: awal dan akhir. Keluarga miskin di desa. Keluarga bakal “berpencaran” ke pelbagai kota dan menjadikan rumah asal merana. Semua gara-gara ibu hilang di stasiun saat ingin mengunjungi rumah si anak di Seoul. Anak-anak tak lagi hidup di rumah asal. Mereka sudah bekerja dan berkeluarga, memilih tinggal di kota. Kunjungan menjadi duka, setelah ibu terpisah dari bapak dalam misi menjenguk putra di kota. Ibu tak sampai di rumah-kota, tak kembali ke rumah-desa. Novel tetap menceritakan kembali ke rumah di desa meski ibu sebagai arwah.

Kita membaca monolog arwah ibu mengingat rumah dan keluarga. Ingatan mengharukan: “Kita sudah empat puluh tahun tinggal di rumah yang sekarang sudah tak ada lagi di situ. Aku selalu di rumah itu. Selalu. Kau antara ada dan tidak ada. Aku tidak mendengar kabarmu, seolah-olah kau tidak akan pernah kembali, tapi lalu tahu-tahu kau pulang. Mungkin itu sebabnya. Bisa kulihat rumah tua itu di hadapanku, bercahaya seperti diterangi. Aku ingat semuanya. Semua yang terjadi di rumah itu. Peristiwa-peristiwa pada tahun-tahun ketika anak-anak dilahirkan, betapa aku menunggu-nunggumu, dan melupakannmu, dan membencimu, dan menunggumu lagi. Sekarang hanya rumah ini yang tertinggal sendirian. Tak ada siapa-siapa di sini, hanya bentangan salju putih yang menjaga pekarangan.” Rumah itu sudah berlalu, tak hadir saat wabah menjadi dalih orang-orang di Korea Selatan mendingan di rumah.

Di mata pemerintah, rumah bukan lagi nostalgia duka keluarga. Rumah tetaplah tempat. Rumah dimengerti tempat paling mungkin bagi orang-orang melakukan beragam peristiwa, berjanji tak keluar rumah. Rumah-rumah itu jawaban di penanganan wabah. Pengarang mengisahkan rumah memiliki sodoran-sodoran makna, digantikan oleh gagasan “absolut” bahwa rumah tak lagi cerita tapi tempat perlindungan dan keselamatan. Asmara, pengabdian, khianat, atau album cerita manusia belum terlalu dipentingkan dalam menghentikan wabah. Kita sempat membaca rumah dalam novel sambil menantikan berita-berita bahwa rumah memang “jawaban” meski mengalami “pemiskinan” cerita.

Di Amerika Serikat dan Korea Selatan, cerita rumah tersaji dalam novel-novel. Kita terpikat dan membaca saksama ingin mengetahui album cerita. Kini, rumah-rumah dalam novel digantikan rumah-rumah dalam pemberitaan wabah. Dua novel itu nostalgia. Kini, kita bepindah ke jalan menuju rumah di Tiongkok. Rumah dalam pengisahan Mo Yan. Rumah menjadi tempat (paling) biografis. Di rumah, orang memiliki dan membentuk identitas. Kepatuhan di rumah memberi jenuh dan kesanggupan bersikap. Heroisme pun terpancar dari rumah dalam situasi perang atau wabah. Mo Yan menulis rumah dalan latar perang masa 1930-an, mengingatkan ketabahan dan kemunculan heroisme.

Novel berjudul Sorghum Merah mengisahkan orang-orang tangguh di deretan derita panjang tapi diusahakan menghilang dan rampung dalam sekian generasi. Di situ, kita membaca tokoh disebut Nenek dan pengalaman berumah, sebelum ia menjadi pemberani dan pengubah. Mo Yan menulis: “Selama enam belas tahun pertamanya, hari-hari Nenek diabdikan untuk menyulam, menjahit, memotong kertas, mengikat kaki, menyisir rambut tanpa henti, dan kegiatan rumahan lainnya ditemani anak-anak tetangga. Jika demikian, apakah sumber kemampuan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai peristiwa yang ditemuinya pada masa dewasanya?” Rumah membentuk keberanian meski tak memiliki ukuran tetap atau tanda-tanda tampak mata. Perempuan dalam novel itu menempatkan diri di rumah bukan untuk menjadi makhluk terbosan dengan segala perulangan selama belasan tahun. Ia justru mengerti rumah adalah “sumber” meladeni segala situasi di luar rumah, termasuk perang.

Pada 2020, Tiongkok tak sedang dalam situasi perang tapi wabah. Keberanian untuk berada di rumah dikehendaki demi menanggulangi wabah, memastikan orang-orang terhindar dari sakit dan kematian. Tiongkok menjadi berita dan cerita bagi jutaan orang di pelbagai negara saat wabah beredar: menakutkan dan mematikan. Kita turut “menonton” Tiongkok membuat kota-kota “mati” dan rumah-rumah adalah tempat keselamatan. Pada saat kita menonton dan belum usai memberi konklusi, wabah itu telah mendatangi puluhan negara. Di Indonesia, kita pun menerima perintah di rumah, sebelum memiliki daftar peristiwa mencipta bahagia atau bekal menelusuri (lagi) makna rumah dalam novel-novel. Rumah memang tak cuma dalam novel tapi kita merindukan rumah itu bergelimang cerita, melampaui bisnis properti dan kebijakan pemerintah. Begitu. (*)

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Paradoks Masa Darurat

mm

Published

on


Damhuri Muhammad adalah kolumnis, esais. Juga seorang sastrawan dan penulis Indonesia. Pria yang menyelesaikan studi Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol, Padang pada tahun 1997 dan Pasca Sarjana Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM).

Guna memperketat pengawasan di masa darurat Corona, pemerintah Indonesia akhirnya menggunakan teknologi pelacakan berbasis aplikasi digital. Sebagaimana dilaporkan  www.tirto.id  (26 Maret 2020), aplikasi bernama Tracetogether itu dapat mengetahui riwayat orang-orang yang berada di dekat pasien positif Covid-19 selama 14 hari ke belakang, dan terhubung ke operator seluler lainnya. Kerja pelacakan yang meliputi pengumpulan data, pengolahan, analisis, dan diseminasi itu, dipayungi dengan Keputusan Menteri Kominfo Nomor 159 Tahun 2020, yang berlaku selama keadaan darurat saja.

Sekilas tak ada yang perlu dicemaskan dari kebijakan itu, mengingat beberapa negara juga telah melakukannya, dengan tujuan yang tak lain adalah memutus mata rantai penularan virus Corona. Sebagaimana disinyalir oleh Yuval Noah Harari dalam artikelnya, The World after Coronavirus (www.ft.com, 20 Maret 2020), penggunaan alat pengawasan baru  yang cukup menonjol tampak pada Cina. Dengan memonitor telpon pintar, memanfaatkan ratusan juta kamera yang dapat mengenali wajah, dan mewajibkan setiap orang untuk memeriksa dan melaporkan suhu tubuh dan situasi medis mereka, pihak berwenang di Cina tak hanya dengan cepat mengidentifikasi terduga pembawa virus, tapi juga dapat melacak pergerakan mereka, dan memastikan siapa saja yang berhubungan dengan mereka.

Namun, catatan sejarawan qum futurolog itu tak berhenti sampai di situ. Poin penting yang hendak ditegaskan Yuval tampaknya bukan pada situasi genting ketika semua negara hampir di seluruh dunia membuat keputusan penting tentang pengawasan, melainkan pada lanskap dunia baru yang akan tercipta setelah wabah virus berbahaya ini berlalu, katakanlah semacam Dunia Pasca Corona. Yuval menyebut, dalam situasi yang sama, Perdana Menteri Israel, juga memberi wewenang pada otoritas terkait untuk menggunakan teknologi pengawasan yang biasanya diperuntukkan dalam perang menghadapi terorisme.  Saat sub-komite yang relevan menolak keputusan itu, Netanyahu lekas berdalih dengan “Keputusan Darurat”.

Mengawasi atau melacak orang dengan perkakas algoritma komputer, akan menciptakan situasi yang sama sekali berbeda dari pengawasan di zaman ketika KGB melacak warga dengan mata-mata. 50 tahun yang lalu, KGB tidak dapat mengawasi aktivitas 240 juta warga Soviet selama 24 jam, karena masih menggunakan agen manusia dan para analis. Tapi dengan mesin-mesin cerdas di  zaman digital ini, pemerintah dapat mengandalkan sensor dan algoritma yang tangguh, hingga tak ada satu pun warga yang luput dari pengawasan. Menurut Yuval, teknologi pengawasan negara atas rakyatnya, kini sedang mengalami transformasi tajam, dari wilayah luar kulit  ke  dalam kulit.  “Jika Anda tahu bahwa saya mengklik tautan Fox News dan bukan CNN, itu dapat mengajari Anda sesuatu tentang pandangan politik saya dan mungkin kepribadian saya,” kata Yuval.  “Tapi jika Anda dapat memantau apa yang terjadi pada suhu tubuh saya, tekanan darah dan detak jantung saat saya menonton klip video, Anda dapat mempelajari apa yang membuat saya tertawa, apa yang membuat saya menangis, dan apa yang membuat saya benar-benar marah.”

Ketika jari Anda menyentuh layar gawai dan mengklik sebuah tautan, pemerintah tidak lagi ingin tahu apa yang sebenarnya disentuh oleh jari itu, karena fokus minatnya telah bergeser. Kini pemerintah ingin tahu suhu jari Anda dan tekanan darah dalam kulit Anda. Algoritma yang bekerja dalam teknologi pengawasan masa kini dapat memanen data biometrik manusia secara massal. Ia dapat mengenal Anda, jauh lebih baik dari pengetahuan Anda atas diri Anda sendiri. Oleh karena itu, ia tidak hanya dapat memprediksi perasaan kita, tapi juga memanipulasi perasaan itu untuk banyak kepentingan, baik politik maupun ekonomi. Yuval mencontohkan perkakas canggih semacam “Gelang Biometrik”  yang dapat memonitor suhu tubuh dan detak jantung 24 jam sehari. Data yang dihasilkan ditimbun dan dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma itu dapat mengetahui bahwa Anda sakit bahkan sebelum Anda menyadarinya. Ia juga akan tahu di mana Anda berada, dan siapa yang Anda temui. Dengan begitu, mata rantai infeksi dapat diperpendek secara drastis, bahkan dipenggal sama sekali.

Anda mau selamat dari pandemi Corona atau akan bertarung mempertahankan privasi? Menurut Yuval, banyak orang tentu akan memilih kesehatan. Saban hari kita berupaya keras melindungi dan mempertahankan privasi di belantara big data, tapi di musim wabah Corona, kita harus rela ditelanjangi atas nama  kegentingan. Di sinilah pangkal kecemasan Yuval. Badai Corona pasti berlalu, tapi data tangkapan teknologi pengawasan di masa darurat itu, tak bakal dibuang percuma sebagai limbah digital.  Sebagaimana banyak peristiwa darurat di masa sebelumnya, data tentang kita tetap dalam genggaman pemerintah, dengan dalih kedaruratan selanjutnya. Menurut Yuval, di situlah bermulanya kelembagaan pengawasan totaliter, sebagai “hantu” yang lebih menakutkan setelah badai pandemik ini berlalu.

Dalam beberapa hal, saya setuju dengan cara berpikir Yuval. Tapi yang cukup mencengangkan, ketakutan baru pasca pandemi Corona yang secara sadar ia singkapkan, rupanya telah menghilangkan simpatinya pada bencana kemanusiaan yang kini melanda dunia, di mana Yuval juga menanggung akibatnya. Perspektif konspiratif  yang digunakan Yuval, terlalu berlebihan. Algoritma memang berkuasa dan digdaya di zaman ini, tapi Yuval lupa bahwa para penggunanya juga  manusia. Sebengis-bengisnya manusia, pasti punya empati dan belas kasihan. Tatkala  warga dunia  bahu-membahu, saling membantu, dalam menangkal wabah mematikan, Yuval malah memproduksi ketakutan baru yang sejatinya tak perlu. Jangan lupa, kekuatan civil society juga punya Algoritma yang bisa mengawasi negara. Bahkan sejauh ini, aparatur negara tak bisa melarikan dari incaran mata-mata algoritmik yang dikendalikan oleh netizen.

Yuval memang merekomendasikan pemberdayaan warga ketimbang teknologi pengawasan negara, tapi bagaimana ia dapat menjelaskan pemberdayaan warga dalam basis kultural yang individualistik ala Eropa dan AS? Alih-alih menggalang pemberdayaan warga guna mengakhiri pandemi Corona, sejumlah pakar di Eropa hari-hari ini malah gencar membicarakan strategi Herd Immunity  (Kekebalan Kawanan), yang dalam bahasa sederhana dapat dipahami sebagai upaya mengejar keterjangkitan hingga 60-70% populasi di setiap negara, lalu akan tercipta kekebalan kawanan yang dapat menghentikan penularan Covid-19. Bila Case Fatality Rate (CFR) di sebuah negara sebesar 2%  saja pada jumlah populasi 250 juta misalnya, maka mayat yang akan bergelimpangan bukan lagi korban-korban positif  Covid-19, tapi bukti kekejaman sebuah genosida. Dengan begitu, paradoks pengawasan totaliter versus privasi warga yang diandaikan Yuval tidak lagi berguna, karena yang lebih terang adalah paradoks antara solidaritas kewargaan dengan Herd Immunity sebagai rencana jahat yang bertujuan guna menipiskan jumlah populasi umat manusia di dunia.       

Di komunitas kewargaan berbasis komunal seperti Indonesia, alih-alih paradoks pengawasan totaliter versus privasi warga, yang berlangsung malah  paradoks yang jauh lebih pelik. Darurat bencana Corona membuat komunalisme yang telah mendarah-daging dalam keseharian kita “dilumpuhkan” sementara, lalu kita diminta mengandalkan individualisme yang janggal. Kita terus menyebarluaskan tagar #DiRumahSaja sebagai etos kebersamaan dalam menghadapi wabah berbahaya, tapi pada saat yang sama,  kita harus mengurung diri, tanpa bertatap muka dengan tetangga, dan orang-orang terdekat yang sedang menghadapi kepayahan serupa. Solidaritas dipaksakan bekerja dengan individualitas. Dengan dalih  situasi darurat, kanal-kanal komunal disumbat,  semua  akses untuk bertatap muka boleh jadi  akan dijaga oleh tentara…

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Menyelami Lautan Batin Virginia Woolf

mm

Published

on

Kita butuh menghadirkan tekad dan sikap kritisnya, keberanian bahkan jika harus seorang diri menyelam untuk melepaskan batu-batu yang membebani kantung-kantung kebebasan dan daya kritis kehidupan bahkan jika itu dengan resiko tenggelam sendiri—Woolf belajar menyelam, bukan berenang di permukaan untuk menunjukkan betapa indahnya air laut. Ia ingin menunjukkan betapa luas dan dalamnya lautan jika untuk hanya dimiliki dan diklaim tata kelolanya oleh satu jenis kelamin.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda. Virginia Woolf adalah seorang novelis Inggris yang dianggap salah satu tokoh terbesar sastra modernis dari abad 20. Walaupun ia seringkali disebut sebagai seorang feminis, ia menyangkal julukan tersebut karena ia merasa itu menunjukkan suatu obsesi. Lebih dari sekadar penulis perempuan, Woolf—dia adalah seorang kritikus yang ganas.

Virginia Woolf adalah kecanggungan. Tetapi keberanian yang dibutuhkan untuk mengatasi kondisi hidup dan pikiran canggung segera hadir dan menjadi api yang memberinya suatu titik kemajuan—tak masalah hal itu suatu pencerahan atau tidak, juga tidak soal apakah dirinya terbakar sendiri atau tidak. Yang pasti ia akhirnya tenggelam.

Kemajuan Woolf adalah kemajuan pribadi, penulis perempuan, kritik perempuan pada kelelakian dan kejantanan ilusif, itu tak sepenuhnya menguntungkan dirinya atau membuat dirinya sendiri selamat dari amukan kemarahan, terpojok dan cemas, tetapi itu memberi publik suatu insipirasi tentang langkah-langkah progresif yang mungkin dilakukan untuk memajukan kebudayaan zamannya.

Dengan demikian Woolf juga tubuh zaman dari abad modern khas Barat, kritik menjadi titik balik, kemajuan disokong oleh fundamental yang goyah, seorang martir yang bosan dengan tatanan, meski tak pernah menjanjikan dunia baru yang stabil.

Woolf adalah refleksi kecil tapi nyaris keseluruhan dari struktur kesadaran batin kebudayaan barat. Ia adalah kebebasan yang dibanduli batu, kemapanan yang menakan, ia kritik yang tak digubris, ia kemegahan ilmu pengetahuan yang selama itu rasis dan diskriminatif, dan seperti seorang yang menyelam ke dalam, ia melepaskan batu dan tali-tali, menjadikan lepas, ringan dan bebas; kritik kejantanan atas dunia patriarki, dari ilmu pengetahuan yang menuding kepala jenis manusia lain lebih kecil dari jenis kelamin yang lain lagi, dan ia berhasil melepaskan batu dan tali belenggu meski akhirnya ia sendiri tak sanggup mengapungkan kesadarannya sendiri, ia tenggelam. Memilih menenggelamkan diri di sungai Ouse pada bulan Maret 1941.

Jejak pengetahuan Woolf adalah pertandingan ganda campuran antara kepribadian feminim dengan peradaban maskulin, ditonton oleh masyarakat yang dipayungi kebudayaan sakit Victorian, pergunjingan dalam istilah pendek yang juga dikutip Erich Formm dengan istilah la maladie du siècle (masyarakat yang sakit) menekan dan membumbungkan kecemasan dan perasaan terancam dalam banyak ruang dan kesadaran tiap individu.

Woolf tak ubahnya nabi tanpa malaikat, bahkan ia membunuh malaikat di rumah yang digambarkan sebagai “perempuan pada abad kesembilan belas yang tidak mementingkan diri dan banyak berkorban yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menenangkan, menyanjung, dan menghibur separuh populasi laki-laki di dunia” (The Angel in the House ) dan menguliti darinya segala yang bisa ia mamah sebagai tenaga inti kehidupannya, bahan dasar karya kepengarangan dan kritik tajamnya, sampai ia rapuh, lelah dan akhirnya menyerah setelah memastikan, bahwa ia telah cukup memberi arti dan sedikit kestabilan untuk dunia feminim.

Seperti pidato panjang yang lugas tetapi jelita, pidato Virginia Woolf yang disampaikan di depan cabang National Society for Women’s Service pada 21 Januari 1931, menyeru dengan jujur tetapi suram, semua hadirin tak mampu menyangkal, dan ia sendiri tak bisa menyusun terus menerus semua teks pidatonya tanpa kengerian yang ditanggung sendirian, dan ia memilih berhenti menulis pidatonya persis saat hadirin berharap ledakan akhir untuk mengubah semua pencerahan yang baru mereka dengar menjadi kemapanan baru. Seperti pahlawan dalam semua tragedi, kebahagiaan tak pernah mengarah untuk dirinya sendiri.

Woolf adalah martir yang paling layak dihormati bagi lahirnya stabilitas dan tatanan kebudayaan baru yang melibatkan ego laki-laki dan perempuan dalam sebuah sistem dunia yang terwariskan dan seolah tak mungkin diguncang. Ia telah mengubah hampir semua yang seolah tak bisa disangkal dari kebudayaan yang egoistis dan suram bagi kemungkinan pada batas terjauh dari kemampuan “otak kecil” jenis kelamin feminim yang ditudingkan penguasa bahasa, sastra, agama, politik, dan juga pemilik harta rampasan paska kekalahan kaum perempuan dalam perang peradaban yang untuk berabad menjadikan jenis kelamin ini dalam banyak hal sebagai budak kemapanan dan kesantunan.

Virginia Woolf and Angelica Bell

Apa yang terjadi dengan kehidupan abad kita hari ini? Perdebatan tak pernah usai, masing-masing harus berjuang demi memastikan “segala bentuk penjajahan di muka bumi jenis kelamin” harus dihapuskan. Dunia kita hari ini lebih kompleks dan rumit ketimbang abad lalu saat Woolf berjalan-jalan di kotanya dan menyaksikan bentuk-bentuk penjajahan masih telanjang dan langit masih mudah hening untuk dapat menjernihkan gagasan dan kritiknya.

“Saya memiliki momen ini, saat mandi, menyusun seluruh buku baru— sekuel A Room of One’s Own—tentang kehidupan seksual perempuan: yang disebut Profesi untuk Para Perempuan, mungkin— Tuhan, betapa menariknya!” Lebih dari satu setengah tahun kemudian, pada 11 Oktober 1932, Virginia Woolf mulai menulis buku barunya: “THE PARGITERS: An Essay based upon a paper read to the London/National Society for women’s service.” “The Pargiters” berevolusi menjadi The Years dan diterbitkan pada tahun 1937. Buku yang akhirnya menjadi sekuel A Room of One’s Own adalah Three Guineas (1938), dan judul orisinal pertamanya adalah “Profesi untuk Para Perempuan”.

Kita hidup dalam kondisi lebih rumit dan ambigu, langit yang dipenuhi polusi kata-kata—di mana para penulis, pemikir, media, cenderung menggunakan kata-kata tanpa lebih dulu memikirkannya. Sementara kata-kata memilih melipat sayapnya dan bunuh diri, dan langit dihuni oleh “burung-burung kecil berwarna biru” yang mencuit sekehendak hati seolah kata-kata adalah ilham bagi kemarahan dan emosi, alter dari ego autentik yang gagal mengatasi dirinya sendiri; tengoklah langit sosial media abad kita hari ini? Dalam kehidupan di bawah langit yang bising dan terburu-buru, kejernihan telah menjadi isu masa silam yang hanya ada dalam dunia yang jauh, dunia hayalan dan ilusi yang nyaris sulit diakui sebagai yang kenyataan—meski sebenarnya dunia yang dianggap hayalan dan ilusi itu hanya dunia yang dikalahkan oleh konstruksi bahasa dan social yang tengah mengalami gerhana total yang sengaja dibuat oleh sebagian monster kapitalisme untuk memastikan hegemoninya.

Kita semua laki-laki dan perempuan adalah korban dari kegelapan zaman semacam itu, di mana hanya kelompok kecil kapitalis dan para fundamentalis puritan yang bisa mengambil keuntungan dari kegelapan lantaran mereka adalah “hantu” dan wajah kegelapan sesungguhnya. Berhadapan dengan zaman gelap demikian kita tampaknya butuh lebih dari sekedar Virginia Woolf—yang sekarang lebih sering muncul sebagai pemujaan atas prototype keterkenanan dan kecemasan mental—yang menjadikan kesadaran diri sebagai korban, alih-alih memiliki ketangguhan sebagaimana Woolf untuk mengurai, mendedahkan kondisi-kondisi dan berusaha mengatasi bahkan jika harus melampaui kepentingan sendiri.

Kita butuh menghadirkan Woolf di abad ini bukan sebagai wajah kemurungan dan rasa sakit, kita butuh menghadirkan tekad dan sikap kritisnya, keberanian bahkan jika harus seorang diri menyelam untuk melepaskan batu-batu yang membebani kantung-kantung kebebasan dan daya kritis kehidupan bahkan jika itu dengan resiko tenggelam sendiri—Woolf belajar menyelam, bukan berenang di permukaan untuk menunjukkan betapa indahnya air laut. Ia ingin menunjukkan betapa luas dan dalamnya lautan jika untuk hanya dimiliki dan diklaim tata kelolanya oleh satu jenis kelamin.

“Dengan siapa Anda akan berbagi, dan atas persyaratan apa? Ini, saya pikir, adalah pertanyaan yang sangat penting dan menarik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Anda bisa bertanya kepada mereka; untuk pertama kalinya Anda dapat memutuskan sendiri apa jawabannya. Dengan sukarela saya ingin tetap di sini dan mendiskusikan pertanyaan dan jawaban itu – tetapi tidak malam ini. Waktu saya habis; dan saya harus berhenti di sini”.  Demikian Woolf menutup pidatonya yang dibubuhi judul “Professions for Women” pada 1931. (*)   

*) Sabiq Carebesth, Penulis lepas dan Editor

Continue Reading

Trending