Connect with us

Buku

Iwan Simatupang, Yang Kering, dan Yang Tanpa Plot

mm

Published

on

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Yang Kering dan Yang Eksistensialis

Tidak ada novelis Indonesia yang sering diperbicangkan seperti Iwan Simatupang. Ia diulas, dicoba pahami dan dipuja oleh para sastrawan yang mementingkan arti pemikiran dalam karya sastra. Novel-novel Iwan Simatupang termasuk novel yang sulit dipahami, lebih-lebih lagi hanya membawa kebingungan bagi pembaca awam atau bahkan guru-guru sastra. Novel-novel Iwan memang novel yang rumit, non konvensional, tidak umum, berpretensi filsafat, penuh pemikiran dan sangat padat. Membaca novel Iwan orang dipaksa konsentrasi penuh lantaran tiap kalimatnya fungsional dan permasalahannya bertumpuk-tumpuk. Novel Iwan adalah tipe novel kaum intelektuil, novel sebagai penuangan pemikiran-pemikiran abstrak dan metafisik. Ia bukan novel yang memasukkan pembacanya ke dalam pengalaman konkrit, tetapi novel yang merenung, penuh kontemplasi.

Iwan Simatupang sebenarnya termasuk pengarang yang mengalami masa jayanya pada dekade 1960-an. Ia bukan produk dekade 1970-an. Tetapi sebagai pengarang ia mendahului angkatannya. Fiksi non konvensional yang berkembang biak pada dekade 1970-an, dipelopori oleh Iwan sekitar permulaan tahun 1960-an.

Iwan mengembangkan jenis novel anti-plot, anti karakter, yang dalam tehnik dipengaruhi oleh gerakan Novel Baru dari Perancis yang dikembangkan sekitar tahun 1953-1957. Tetapi dasar pemikirannya adalah Eksistensialisme.

Padahal menurut Vivian Mercier dalam bukunya “Novel Baru” dasar pemikiran yang melahirkan jenis novel baru adalah filsafat Phenomenologi sedangkan Eksistensialisme melahirkan karya-karya Absurd. Tetapi memang tahun 1950-an sampai akhir 1960-an filsafat Eksistensialis  amat populer di Indonesia. Dan sebagai pengarang yang pernah lama tinggal di Eropa (1954-1958) dan menyaksikan di sana berkembangnya pemikiran kaum Eksistensialisme serta mulai munculnya Novel Baru (Nouveau Roman) maka tak mengherankan kalau sekembalinya di Indonesia ia ada terpengaruh oleh mereka. Iwan sendiri secara sadar menyebutkan novel-novel yang ditulisnya sebagai “novel baru”.

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Namun setelah novelnya yang pertama, Merahnya Merah, diterbitkan tahun 1968 dan mendapat sambutan penuh antusias dari para sastrawan yang pada waktu itu juga lagi demam filsafat eksistensialisme, maka bermunculanlah novel-novelnya yang lain seperti Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Semua novel itu mendapat sambutan positif dari pada sastrawan dan pengamat sastra.

Iwan muncul sebagai sastrawan-pemikir, bukan hanya karena sifat novel-novelnya demikian, tetapi juga karena jauh sebelum ia menulis novel-novelnya ia telah menulis beberapa esei yang mendasari penciptaannya kemudian. Esei-esei itu (dan surat-surat pribadi kepada kritikus HB Jassin) boleh dikatakan pertanggungan jawab Iwan terhadap novel-novelnya. Dan dari sanalah orang mencoba memahami maksud novel-novel Iwan seperti dilakukan oleh kritikus Dami N Toda dalam bukunya Novel Baru Iwan Simatupang.

Corak Novel Baru Iwan Simatupang tak pernah ditiru oleh novelis-novelis selanjutnya. Beberapa novelis non-konvensional lebih cenderung menulis secara Absurd, Interior Monolog dan Surrealis, pada dekade 1970-an itu, seperti dikerjakan oleh Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto dan lain-lain.

Tema yang digarap Iwan dalam novel-novelnya adalah sekitar kekosongan arti, pertanggung jawaban pribadi dan kesepian. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai “marginal”. Saya menduga bahwa obsesi pribadi Iwan yang melahirkan novel-novelnya yang penuh keresahan itu adalah kematian isterinya yang amat dicintainya, Imelda de Gaina (Corrine), yang dinikahinya di negeri Belanda tahun 1955. Corry meninggal akibat penyakit typhus tahun 1960. Jiwanya yang sepi, kehilangan, tanpa sandaran, dan mencari ketenteraman jiwa inilah yang dicoba dicari jawabnya dalam novel-novelnya. Novel Ziarah jelas ditujukan untuk isterinya, novel Kering menunjukkan kehampaan makna dan Koong usaha pencarian makna baru atas suatu kehilangan.

Nama lengkap Iwan adalah Iwan Martua Dongan Simatupang dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Mengalami pendidikan kedokteran di Surabaya, dan pernah menjadi guru SMA di sana. Kemudian melanjutkan belajar Anthropologi di negeri Belanda. Sepulangnya di Indonesia menjadi dosen ATNI di Bandung dan wartawan di berbagai penerbitan di Jakarta.

Pembaharuan sastra Iwan tidak terbatas pada novel saja tetapi juga dalam drama. Ia menulis beberapa naskah drama yang “baru” pula seperti Taman (1966), Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), serta Kaktus Dan Kemerdekaan (1967).

Kering

Tidak mungkin menuliskan plot pokok dari novel Iwan ini secara pas. Kering adalah novel tanpa plot. Memang ada jalan ceritanya, tetapi tidak dalam pola plot yang umum. Dasar yang menggerakkan cerita ini begitu beragam terdiri dari berbagai persoalan yang intinya boleh saja disebut psikologis. Tokohnya pun tidak berkarakter. Ia mewakili siapa saja. Inilah sebabnya tokoh dalam novel ini cukup diberi tanda “tokoh kita”. Meskipun demikian ia punya latar belakang. Ia mahasiswa filsafat dan sejarah yang gemilang, sampai-sampai para dosen dilalapnya. Namun ia memilih hidup di daerah transmigrasi. Entah di mana. Di daerah transmigrasi inilah ia dan kawan-kawannya mengalami musim kemarau yang amat kering. Tanah retak. Beberapa kawannya memilih meninggalkan daerah transmigrasi yang kurang diurus oleh pemerintah itu. Tetapi tokoh kita tetap tinggal di sana. Ia nekad menggali tanah untuk membuat sumur. Ia menggali sedalan-dalamnya meskipun air tak keluar. Ia bermaksud menggalinya sampai di permukaan bumi yang lain. Akhirnya tokoh kita pingsan berat. Ia di rawat di rumah sakit bagian kamar sakit Jiwa. Dia dirawat dan pilih kembali. Ia mengembara di kota itu dan bertemu kawan lamanya di daerah transmigrasi dahulu yang kini hidup makmur berkat main selundup. Tokoh kita ditawari kerja semacam itu. Tak mau. Dia bermaksud kembali ke daerah transmigrasi. Bertemu lelaki berjanggut. Diajak membuktikan kelaki-lakiannya dengan wanita. Akhirnya tiba di daerah transmigrasi yang menunjukkan gejala akan dicurahi hujan. Tetapi hujan tak turun juga, meskipun angin kencang meniup. Ia bangun kota baru di tengah ketandusan. Kota ini roboh disapu angin kencang. Orang-orang transmigran ingin meninggalkan daerah itu, tetapi diajak kembali oleh tokoh kita untuk membangun kotanya lagi. . . .

Itu barangkali jalinan plot yang bisa tertangkap secara konvensional. Di tengah jalinan plot itu pengarang banyak melontarkan dialog-dialog sulit dan filosofis dengan tokoh-tokoh lain. Menilik jalan ceritanya jelas bahwa pengarang ingin menggambarkan pandangan bahwa manusia wajib berusaha, berbuat dan bertanggung jawab meskipun itu nampaknya sia-sia. Kisah tokoh kita mirip dengan tokoh Sisyphus dalam dongeng Yunani Kuno yang digemari kaum Eksistensialis. Sisyphus Indonesia ini berada di daerah transmigrasi yang kering, namun dalam kesia-siaan usaha ia tetap bekerja, tetap menempuh arus “nasib” atau keganasan alam yang melandanya. Ini terbukti dengan gambaran bagaimana tokoh kita tetap terus menggali tanah untuk mencari sumber air. Meskipun ia tahu tak akan keluar air, namun tetap menggalinya sampai badannya tak kuat bekerja. Juga pada waktu bangunannya dilanda angin badai di daerah transmigrasi kering itu,ia dengan semangat mengajak kawan-kawannya untuk kembali membangun kembali, juga kalau bangunan itu kelak akan digoncang dan dirubuhkan angin kembali. Itulah rupanya makna manusia: ia harus mengisi hidupnya dengan usaha meskipun rupanya tak akan ada hasilnya.

Kering, daerah transmigrasi, angin kencang dan hujan, bukanlah setting konvensional. Ia berdiri sebagai lambang-lambang yang bisa diterjemahkan dalam wujud apa saja. Daerah transmigrasi yang kering bisa saja menggambarkan kondisi jiwa manusia modern yang kosong hampa arti, kalau itu mau diartikan secara metafisik. Daerah transmigrasi adalah daerah baru, bukan daerah lama yang diwarisi turun temurun. Bisa saja itu berarti daerah budaya baru, bukan tradisional. Daerah budaya atau daerah metafisik yang sama sekali asing dari tanah asalnya. Dan daerah itu adalah daerah yang kering, tidak hidup. Dan tokoh kita tetap mau hidup dan harus hidup di situ. Daerah itu dipilihnya karena ia telah memutuskannya secara matang setelah ia “mengalahkan” para dosen sejarahnya di universitas. Hanya daerah transmigran itulah daerah hidupnya. Ia menjadi manusia marginal, manusia di antara batas lama dan batas baru yang belum menentu. Ia tak bisa kembali pada alam yang lama. Ketidak mampuan kembali pada hal-hal mapan ini digambarkan pula dengan pertemuan tokoh kita dengan pastor. Pastor mewakili atau berdiri sebagai lambang orang-orang yang selesai dan berhasil menjawab semua persoalan dengan agamanya. Tetapi tokoh kita tidak puas dan tak bisa menerimanya lagi. Ia memilih meninggalkan pastor.

Novel ini tak bisa dibaca untuk hiburan. Orang yang mencari hiburan dalam bentuk cerita jelas tak akan menemukan yang dicarinya. Novel ini hanya memuaskan untuk mereka yang mau belajar memahami manusia.

Novel ini penuh padat dengan pertanyaan, perbantahan, pertikaian pendapat-pendapat. Pendeknya novel ini mengajak pembacanya berpikir. Novel ini mesti dibaca hati-hati dan berkali-kali dan disusun kembali hubungan-hubungannya oleh pembaca. Novel ini novel yang menuntut pada pembacanya dan bukan memberi.

Tema pokok novel ini memang eksistensialis: berbuat, melakukan pilihan dan bertanggung jawab. Tokoh kita telah melakukan itu sebagai seorang intelektual yang tak betah lagi tinggal di kota setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Sejarah dipilih karena implisit ia mengetahui dan mengenal masa lampau bangsanya, budayanya, cara berpikirnya, pandangan hidupnya. Dan di daerah baru ini ia berkumpul pula dengan tokoh-tokoh kota yang lain yang juga tidak puas secara spiritual. Namun ada yang kecewa dan kembali pada kultur lama dalam hal lain Si Gendut  dan Si Kacamata. Namun tokoh kita tetap berbuat dan bekerja dalam kesia-siaan yang diyakininya di daerah baru itu. Di samping tema pokok itu sebenarnya Iwan mengemukakan tema-tema lain, sehingga novel ini nampak penuh dengan serpihan-serpihan persoalan yang beraneka ragam yang rupanya digarap pengarang sejalan dengan jalur cerita. Ketika di rumah sakit dipersoalkan tentang kewarasan, ketika bertemu Si Gendut dipersoalkan tentang mental korup, ketika bertemu Lelaki Berjanggut berbicara soal wanita, ketika bertemu pastor berbicara soal religi dan seterusnya. Persoalan-persoalan itu muncul dan ditinggalkan, sehingga novel memberi kesan bertumpuk-tumpuk dengan tema dan masalah.

Apakah ini Nouveau Roman? Memilik tehnik yang dipakainya, yakni novel tanpa plot dan tanpa karakter memang mirip dengan kemauan kaum Novel Baru di Perancis itu. Tetapi dasar dari Nouveau Roman adalah mempersetankan semua novel sebelumnya. Menurut Robbe-Grillet dalam eseinya “Dari Realisme ke Kenyataan” ia menulis bahwa sejak Flaubert ambisi novel adalah membuat sesuatu dari ketiadaan, sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak bersandar pada sesuatu di luar kaya itu. Pendeknya Novel Baru tidak punya pretensi merekam kenyataan tetapi menciptakan kenyataannya sendiri. Pada novel Kering ini Iwan masih jelas merekam dan bersandar pada kenyataan kehidupan, hanya semua itu digambarkan secara simbolik. Pada dasarnya novelnya ini adalah novelpuisi, baris-barisnya berupa gambaran adegan yang bisa bermakna lambang dalam usaha mewujudkan hakiki. Novelnya ini memang mirip novel Camus, Wabah Pes, hanya di sini wabah diganti dengan daerah transmigrasi yang kemarau. Tidak ada Harapan, tidak ada Hujan, tidak ada Penyembuhan. Tetapi kalau dianggap bahwa kenyataan gambaran novel Kering tak bisa dikembalikan pada kenyataan seperti dalam novel realisme tidak sepenuhnya salah. Gambaran di dalamnya memang tak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan: bagaimana mungkin orang bisa menggali sumur sehingga menembus perut bumi, bagaimana mungkin bersanggama di atas aspal jalan yang meleleh dan dilihat orang, bagaimana kendaraan bertabrakan keras tetapi tetap terus jalan lagi? Namun gambaran yang demikian hanya sepotong-sepotong, sedang yang lain masih bisa dikenali secara realisme.

Tetap Marginal

Dibanding dengan novel-novelnya yang lain, novel Iwan Simatupang yang terakhir dan posthomus ini lebih “mudah” diikuti dan lebih dekat dengan konsep novel konvensional yang realis. Meskipun demikian ia tak lepas dari nilai-nilai lambang. Novel ini tidak anti plot dan anti karakter. Ia punya plot yang jelas dan karakter yang bernama, settingnya pun jelas desa dan kota dengan segala implikasinya.

Tokohnya adalah Pak Sastro seorang petani desa yang kematian isterinya dan desanya dilanda banjir. Satu-satunya milikinya yang berharga adalah anaknya, Si Amat. Namun Amat yang mengadu nasib ke kota ini juga pada suatu kali tergilas lokomotip dan mati pula. Sastro kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini, yang membuat hidupnya bisa tenteram dan seimbang. Dalam usahanya melawat tempat kematian anaknya itu pak Sastro menemukan sesuatu yang baru yakni burung perkutut dan yang segera dibelinya. Dari Jakarta ia kembali ke desa dengan perkutut yang tak bisa koong, perkutut gule. Perkutut itu meskipun bisu tetap mampu mengisi kekosongan hati Sastro dan membawa berkah kemakmuran baru: sawahnya subur dan segalanya terus bertambah serta berkembang. Sastro cukup kaya. Namun perkutut gule ini suatu hari hilang, dan Sastro meninggalkan segalanya memburu perkututnya yang hilang itu. Kesadarannya muncul ketika ia bertemu dengan seorang janda yang juga memelihara perkutut tetapi kooong, yakni bahwa yang penting mencari, apakah yang dicari itu berharga atau tidak bagi orang lain, ada atau tidak. Sementara itu orang-orang desa menyusulnya, tetapi mereka disuruh kembali oleh Sastro agar mengerjakan sawah-sawahnya sebab di sanalah tempat mereka, Sastro sudah tak mungkin kembali ke sana..

Tokoh Sastro adalah sebenarnya juga seorang marginal. Ia tak bisa hidup lagi di desanya setelah ia memperoleh perkutut gule dari kota Jakarta. Sastro berniat terus mencari, mencari dan mencari, entah ketemu atau tidak. Ini sama dengan tokoh kita dalam Kering yang terus menggali dan menggali sumur entah keluar atau tidak, membangn dan membangun rumah meskipun topan tiap kali merobohkannya. Ini juga Sysiphus modern yang tak bisa lagi tenang di “desa”nya sendiri. Juga di sini jelas bahwa eksistensialislah yang mendasari Koong.

Namun plot ceritanya jelas. Dimulai dengan kehilangan demi kehilangan yang menimpa Sastro. Akibatnya hatinya kosong, sepi. Kesepian itu dapat diisi setelah ia menemukan perkutut gule. Namun perkutut terbang meninggalkannya. Sastro kehilangan lagi, sepi dan kosong lagi hatinya. Pemecahannya filosofis: “Dalam keadaannya yang ‘hilang’ dan ‘sedang dicari’ ini, dia telah berhasil bertengger lebih mesra di kalbu Pak Sastro dan menjadi petunjuk ke arah langkah-langkah selanjutnya. Ya! Sekiranya perkututnya itu tidak bakal ditemuinya kembali, namun perkutut itu telah bertengger untuk selamanya dalam jiwa Pak Sastro. ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: mencari”. Maka Pak Sastro terus mencari dan merasa tenang bahagia seperti janda tua yang memperoleh keseimbangannya dengan memperoleh perkutut yang bisa kooong.

Ada tiga komponen yang mendasari cerita ini. Yaitu masyarakat desa, perkutut dan Pak Sastro. Pengembaraan yang bermakna metafisik dalam mencari keseimbangan, ketenangan, kebahagiaan hidup ini, digambarkan secara berurut sebagai berikut. Perkutut menginginkan kebebasannya, ia terbang. Artinya Perkutut memperoleh kebahagiaannya dengan kebebasan mutlak. Sedang Pak Sastro mengejar Perkutut untuk memperoleh kebahagiaannya sendiri pula. Dan di belakang Pak Sastro mengikut masyarakat desa yang merasa bersalah terhadap Pak Sastro dan menginginkan ketenangan jiwa yang bahagia berkat filsafat Pak Sastro. Dia sudah bahagia dengan mencari dan mencari yang berarti mengembara, meninggalkan desanya untuk selamanya. Sedang yang dicari Pak Sastro juga tak perlu ketemu, sebab ketemu atau tidak sama saja. Ini berarti Perkutut dapat memperoleh kebebasan yang diinginkannya. Sedang masyarakat desa menemukan kebahagiannya di desa sendiri. Masyarakat desa disuruh kembali oleh Pak Sastro dan diminta mengolah sawah serta tanah Pak Sastro untuk kepentingan desa.

Desa dalam cerita ini memang bisa konotatif: ia bisa berarti kultur Indonesia lama. “Satu-satunya penyelamatan adalah kembali ke sawah dan ke kebun. Kembali menjadi kita semula. Yaitu tani, manusia bercocok  tanam. Kita kerjakan sendiri”, itulah kata orang desa. Sedang Pak Sastro sudah tidak bisa hidup seperti itu (kultur Indonesia) setelah ia kenal Perkutut. Ia telah “dipesona oleh alam kebebasan dan kemerdekaan” dan hanya bahagia dengan mengembara. Pak Sastro adalah potret manusia Indonesia yang telah kenal kebebasan dan enggan kembali pada kultur sendiri.

Novel ini lebih punya bobot emosi yang hilang pada novel-novel Iwan yang lain yang penuh dengan kerut dahi pemikiran. Ceritanya berjalan jelas, lancar dan gamblang. Hanya soal penafsiranlah orang bisa melihat secara lain makna yang dikandung novel ini. (*)

———————-

Dari berbagai sumber, TIM Editorial Galeri Buku Jakarta, 2017

Journal

Gunawan Wiradi: Konsepsi Tentang Ilmu dalam Penelitian Masalah Agraria

mm

Published

on

“Ilmu (science) bukanlah masalah isi pengetahuan itu sendiri, melainkan suatu ‘metode pendekatan’, yaitu metode yang menghasilkan temuan yang dapat diuji kebenarannya, melalui penelitian.”

___

Oleh: DrHC. Ir. Gunawan Wiradi M.Sos.Sc

Di dalam membicarakan konsepsi tentang ilmu, maka sekedar sebagai titik tolak, akan disampaikan pandangan yang berasal dari aliran positivisme. Menurut kaum positivist, ilmu merupakan usaha untuk memperoleh bangunan pengetahuan yang dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena di dunia ini. Untuk itu, harus disusun teori-teori, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum sifatnya mengenai keteraturan hubungan-hubungan segala yang terdapat di dunia ini, yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meramal dan menjelaskan berbagai fenomena yang kita temukan melalui observasi dan eksperimen secara sistematis (Keat and Urry, 1980: 4).

Tujuan ilmu adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul sebagai akibat dari adanya “puzzles” (kejutan, keterheranan) yang dihadapi manusia (Kuhn, 1970). Dengan kalimat lain, tujuan ilmu adalah mencari kebenaran (truth), dalam hal ini adalah kebenaran ilmiah. Adapun yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah adalah kebenaran obyektif-positif, bukan kebenaran normatif. Jadi, bukan masalah right or wrong, tetapi masalah true or false. Untuk ini, semua kegiatan ilmiah dalam rangka mencari kebenaran dalam arti ini haruslah didasarkan pada suatu sikap berpikir secara ilmiah (scientific attitude of mind), dan bukan pada sikap dogmatis, misalnya.

Ada beberapa prinsip di kalangan ilmuwan yang biasanya dijadikan pegangan di dalam bersikap ilmiah ini, walaupun di antara prinsip-prinsip itu ada yang masih selalu menjadi perdebatan di antara mereka, bahkan memecah para ilmuwan menjadi dua atau lebih kelompok-kelompok yang saling silang pendapat atau sikap. Beberapa prinsip itu adalah sebagai berikut (Bierstedt, 1970):

  1. Obyektivitas (tetap menjadi debat, terutama secara filsafat).
  2. Netralitas etik atau “bebas nilai” (tetap menjadi debat, bahkan dalam hal ini ilmuwan terbelah menjadi dua kelompok).
  3. Relativisme, yakni bahwa “kebenaran ilmiah” itu sifatnya sementara. Artinya, sesuatu itu dianggap benar (setelah diuji dengan metode ilmiah), sepanjang belum ada bukti-bukti ilmiah yang lain uang membantahnya.
  4. Parsimony, maksudnya adalah “hemat” atau “secukupnya”. Artinya, cara menguraikan sesuatu itu jangan sampai berlebihan. Ini bukan soal panjang pendeknya uraian, melainkan bahwa menguraikannya jangan melebihi yang diperlukan.
  5. Skepstisime, maksudnya suatu sikap kritis, dengan selalu bertanya “benarkah begini”, “salahkah begitu”, “mengapa”, dan seterusnya.
  6. Kerendahan hati (humility).

Selain berpijak pada prinsip-prinsip sikap ilmiah di atas, kebenaran ilmiah lebih lanjut juga didasarkan atas kriteria tertentu. Ada berbagai teori tentang kriteria kebenaran ilmiah ini, tetapi pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua teori; dan pada umumnya kedua-duanya ini adalah aturan yang harus ditaati oleh semua cabang ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi.

Teori Koherensi. Kriterium koherensi menyatakan bahwa “sesuatu pernyataan itu dianggap benar apabila pernyataan itu ‘koheren’ dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar”. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa sumber kebenaran adalah rasio (reason). Pola pikir yang demikian ini biasa disebut sebagai pola deduktif-rasional.

Teori Korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa “suatu pernyataan itu dianggap benar apabila materi yang dikandung oleh pernyataan itu ‘bersesuaian’ (corresponds) dengan obyek faktual yang dituju oleh pernyataan itu”. Artinya, isi pernyataan itu harus mempunyai manifestasi empiris (artinya, bersifat nyata dalam pengalaman atau pengamatan). Di sini yang dianggap sebagai sumber kebenaran adalah fakta. Pola berfikir ini bersifat induktif-empiris (faktual).

*) Gunawan Wiradi, adalah pakar politik agraria indonesia, Guru Besar IPB dan penasihat di berbagai organisasi penelitian dan jurnal.

Unduh Makalah Lengkpanya di sini 

Continue Reading

Buku

Memungut Welas Asih dari “The Adventures of Huckleberry Finn”  karya Mark Twain

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Sosok Finn istimewa karena ia digambarkan sebagai cerdik yang kemampuannya menggunakan akal begitu menonjol.Dia digambarkan selalu menggugat sesuatu yang tidak masuk akal buat dia. Misalnya suatu hari keluarga angkatnya, janda Douglas mengeluarkan buku dan mengajari Finn tentang Musa dan pengrajin rotan. Tubuh Finn mengucurkan keringat dingin karena ia takut bertemu dengan Musa. Janda Douglas kemudian mengatakan bahwa Musa telah lama mati. Finn lalu tak takut lagi karena dia tidak percaya kepada orang yang sudah mati.

Sementara Tom Sawyer sendiri identik dengan heroisme. Dia digambarkan ingin mengumpulkan semua budak, mengajak mereka berdansa, dan mengaraknya ke kota dengan iringan kelompok musik tiup. Dengan begitu dia akan menjadi pahlawan.

Mereka berdua sahabat karib yang tidak tahan berada di rumah. Mereka gemar berpetualang ke hutan, menyusuri lembah, berkumpul di gua, dan bermain-main.

“Aku merasa sangat kesepian dan nyaris berharap mati saja. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan desau daun-daun di hutan terdengar begitu memilukan. Aku mendengar suara burung hantu di kejauhan, mengabarkan ada seseorang yang sedang mendekati ajalnya,” kata Finn.

Dia anak yang malang. Ayahnya suka memukuli Finn dalam kondisi mabuk berat. Finn terbiasa hidup susah dengan pakaian compang camping, penuh lumpur. Janda Douglas kemudian menjadi keluarga angkatnya. Dia tak tahan dikurung dan aturan rumah keluarga angkatnya.

Finn suka mengendap-endap keluar rumah menemui Tom. Suatu hari Tom mengajaknya pergi ke gua bersama rombongan anak-anak lainnya. Mereka merencanakan merampok orang-orang, menjarah barang-barang berharga, dan membunuh orang yang dirampok. Tentu saja ini cuma main-main.

Di dalam gua, mereka membikin janji sumpah setia sebuah geng berandalan. Melukai tangan dengan peniti lalu menggoreskan darah sebagai bentuk sumpah setia geng. Ketua geng si Tom Sawyer.

Kenakalan-kenakalan mereka semakin menjadi-jadi. Suatu hari mereka ingin berpetualang menggunakan rakit menyusuri sungai Mississippi bersama budak Jim.

Tapi, Jim budak yang dirantai oleh tuannya. Sebagian orang ingin menggantungnya untuk dijadikan contoh buat semua budak agar tidak coba-coba melarikan diri. Orang-orang memaki Jim sebagai tawanan. Tapi, Jim tidak membalas sedikitpun.

Tom dan Finn berusaha membebaskan Jim. Merencanakan pelarian Jim. “Mereka tak berhak mengurung dia. Bertindaklah, jangan buang-buang waktu lagi. Bebaskan dia. Dia bukan budak, dia bebas seperti makhluk lain yang hidup di atas bumi,” kata Tom.

The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain

Finn lalu berusaha membebaskan Jim. Alasan dia ingin membebaskan Jim karena ingin berpetualang bersama Jim di atas rakit menyusuri sungai Mississippi.

Jim dikurung di sebuah pondok dengan rantai pada pergelangan kakinya yang terluka dan nyaris membusuk. Finn mencuri kunci rantai. Mereka lari dikejar sejumlah orang dan anjing.

Finn yang tengil kemudian menyuruh Jimm melepas bajunya. Dia mengalihkan perhatian anjing pengendus. Sedangkan Jim berenang ke tengah sungai. Finn menaruh baju Jim di semak-semak. Dia memanjat pohon.

Jim bebas. Suatu hari Tom mengajak Finn pergi berpetualang. Tapi, Finn sedang memikirkan ayahnya yang menghabiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Kepada Finn, Jim berkata ayah Finn tidak akan kembali (mati).

“Kau ingat rumah yang hanyut di sungai itu, yang di dalamnya ada seorang laki-laki terjebak? Waktu itu aku masuk untuk melihatnya dan melarangmu ikut masuk,” kata Jim.

*

Apa yang terjadi berikutnya? Mereka merantai kedua tangan dan kakinya. Setelah kejadian itu, mereka bilang Jim hanya akan mendapatkan roti dan air hingga majikannya datang. Dia akan dijual ke pelelangan jika majikannya tidak datang dalam kurun waktu tertentu.

Kutipan yang ada dalam dua bab terakhir “The Adventures of Huckleberry Finn” itu karangan sastrawan penting Amerika Serikat Mark Twain. Karya sastra modern yang diterbitkan pertama kali pada 1884. Usia karya yang berkali-kali difilmkan itu sekarang 135 tahun.

Novel penuh petualangan seru bocah bandel ini berlatar perang sipil Amerika Serikat tahun 1860. Perbudakan, rasisme, segregasi kulit putih dan kulit hitam merajalela. Tragedi kemanusian yang mengerikan.

Mark Twain adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens, yang meninggal pada 1910 dalam usia 74 tahun. Dia dilahirkan sebagai anak dengan kondisi tubuh yang lemah. Ayah Mark Twain meninggal karena pneumonia saat dia berumur 13 tahun. Mark Twain meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di bidang percetakan.

“The Adventures of Huckleberry Finn” tak lepas dari karya lainnya berjudul “The Adventures of Tom Sawyer”. Keduanya saling bertautan, mengisahkan dua bocah panjang akal dan karenanya mungkin “bandel”. Finn yang istimewa karena akalnya, dan Tom yang heroik.

*

Karya ini membawa pesan mendalam tentang persahabatan Finn dengan budak Jim, pencarian kebebasan, dan melawan prasangka rasial. Saya ingin menekankan soal rasialisme yang kini jadi masalah kemanusian akut. Saya teringat beberapa masalah berlatar rasialisme yang menghentak jagad mental kewargaan kita akhir-akhir ini. Di Yogyakarta misalnya, praktik rasialisme gagah menjulang di tengah yogya yang damai dan istimewa.

Hanya gara-gara beragama Katolik, seorang seniman ditolak mengontrak di sebuah kampung dengan aturan hanya Muslim yang bisa tinggal di kampung itu. Alasannya kearifan lokal. Belum lagi masalah yang terjadi sebelumnya, nisan bersimbol Katolik dipotong dengan alasan itu kuburan kampung Muslim. Rasialisme lainnya juga menimpa orang-orang yang dianggap separatis (Papua Barat) dan orang-orang yang dilabeli sebagai preman. Betapa mudah menjalar rasialisme seperti urat syaraf manusia yang tak putus.

Dari The Adventures of Huckleberry Finn, kita bisa belajar kepada bocah yang sekuat tenaga melawan prasangka rasial dan arti kemanusiaan. Finn bocah bandel, miskin, gembel, pemberontak, tidak menyukai dunia sekolah, tapi pintar, dan suka menolong. Dia patut jadi inspirasi buat orang-orang dewasa untuk keberaniannya menolak rasisme. Kapan terakhir kita belajar dari dunia kanak-kanak yang bebas dan begitu tulus pada rasa kasih kemanusiaan?

Oh ya di negeri Abang Sam, karya ini sempat dilarang di sekolah-sekolah karena kritiknya terhadap situasi sosial negeri itu. (*)

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Buku

Nasib Sunyi Seorang Penyendiri

mm

Published

on

Shinta Maharani *)

Bartleby terbaring meringkuk di dekat dinding dengan lutut menekuk, dengan kepala menyentuh batu yang dingin. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak. Dia hidup tanpa makan dan kemudian menutup matanya.

Dan Herman Melville, pengarang Amerika Serikat dalam bukunya “Bartleby; Si Juru Tulis” pun mengakhiri cerita pendeknya: “Bartleby Si Juru Tulis. Bartleby di Wall Street, jantung uang New York, Amerika Serikat. Tempat para pialang saham bersaing di pinggiran kota Manhattan. Surga para kapitalis yang tak pernah sepi.”

Sepanjang cerita, Bartleby menjadi tokoh yang keras kepala. Dia selalu membuat jengkel pengacara yang menjadi bosnya. Bartleby seorang pemuda yang pucat dan mengundang iba. Dia jenis orang yang kalem dan berkepala dingin.

Penolakan, Apa Artinya? 

Sebagai juru tulis, ia pendiam dan senang mengurung diri, Bartleby menikmati pekerjaannya menyalin dokumen. Ia sama sekali tak beristirahat menulis. Semalaman penuh, dengan bantuan cahaya matahari di kala siang dan lilin di saat hari gelap. Wajahnya pucat bagai mesin dan ia tak berkata-kata.

Suatu hari sang pengacara meminta Bartleby untuk membantunya memeriksa dokumen. Tapi, Bartleby menolak “Saya tak mau,” kata dia.

Herman Melville

Si pengacara mengulang lagi perintahnya dan Bartleby bersikukuh menolak. Sejak itu hari-hari pengacara dan Bartleby diwarnai ketegangan. Bartleby selalu menolak perintah si bos.

Bartleby yang tenang dan dingin terus saja bekerja di dalam ruangannya. Tak mau keluar dari pertapaannya. Si pengacara tak tahu harus berbuat apa lagi. Hingga suatu hari dia mengusir Bartleby dan dia tidak mau pergi dari ruangannya.

Pengacara sangat jengkel dengan sikap Bartleby yang sekeras batu. Tapi, ia juga kasihan pada Bartleby yang malang.

Bartleby tak mau pergi dari kantor itu. Rekan-rekan pengacara yang datang ke sana pun tak mampu menyuruh Bartleby melakukan keinginan mereka. Ketegangan, mungkin juga frustasi dari kedua pihak mengemuka, terus berlangsung dan memuncak.

Bartleby sekonyong-konyong jadi momok dan setan. Pengacara kehilangan akal. Mau lapor polisi tapi ia kasihan karena di penjara Bartleby akan menjemput kesuraman.

Keputusan pun didapat! Akhirnya pengacara menempuh jalan tak semestinya, ia mengalah, bukan mengusir, ia sendiri yang pindah meninggalkan kantor itu. Si pengacara mengosongkan kantor. Semua perabot dibawa. Bartleby tak merespon, ia tetap berdiri di balik sekat biliknya yang akan dibongkar.

Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Bartleby. Sepekan kemudian ia datang ke kantor lamanya. Bartleby tetap berada di gedung di Wall Street. Dia duduk di pegangan tangga di siang hari dan tidur di pintu masuk di malam hari. Dia tak mau beranjak meski diusir berkali-kali. “Saya suka diam tak bergerak,” kata Bartleby.

Hingga suatu hari, pemilik baru kantor lama pengacara memberi tahu kalau dia melaporkan Bartleby ke polisi sebagai gelandangan. Si juru tulis tak melawan ketika digiring polisi. Beberapa pejalan kaki iba terhadap Bartleby. Dia berjalan tenang melewati panas dan riuh jalanan.

Di penjara dia tak mau menyentuh makanan. Ia senang menyendiri di lapangan kompleks penjara dengan dinding tinggi yang mengelilingi. Tak semua tahanan boleh ke lapangan.

Bartleby menghembuskan napasnya di lapangan yang senyap. Pemakamannya sepi.

*

Setelah membaca cerpen ini ingatan saya seakan terus bangkit di jalan-jalan, saat saya melintasi jalanan tengah malam hingga subuh menjelang. Melihat gelandangan di pasar-pasar, tidur di emperan toko-toko. Mereka melawan dinginnya malam, serbuan nyamuk, dan tikus yang mondar mandir.

Seperti Bartleby, nestapa menyusup di antara gemerlap bintang dan kerlap kerlip lampu kota.

Untuk perempuan yang menjulurkan tubuhnya di emperan penjual kembang mawar-melati tengah malam: selamat tidur. Kesendirian tak kalah sepi dari kesunyian, aku tak pernah benar-benar tahu.

*) Shinta Maharani, penulis lepas dan jurnalis.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending