Connect with us

Buku

Iwan Simatupang, Yang Kering, dan Yang Tanpa Plot

mm

Published

on

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Yang Kering dan Yang Eksistensialis

Tidak ada novelis Indonesia yang sering diperbicangkan seperti Iwan Simatupang. Ia diulas, dicoba pahami dan dipuja oleh para sastrawan yang mementingkan arti pemikiran dalam karya sastra. Novel-novel Iwan Simatupang termasuk novel yang sulit dipahami, lebih-lebih lagi hanya membawa kebingungan bagi pembaca awam atau bahkan guru-guru sastra. Novel-novel Iwan memang novel yang rumit, non konvensional, tidak umum, berpretensi filsafat, penuh pemikiran dan sangat padat. Membaca novel Iwan orang dipaksa konsentrasi penuh lantaran tiap kalimatnya fungsional dan permasalahannya bertumpuk-tumpuk. Novel Iwan adalah tipe novel kaum intelektuil, novel sebagai penuangan pemikiran-pemikiran abstrak dan metafisik. Ia bukan novel yang memasukkan pembacanya ke dalam pengalaman konkrit, tetapi novel yang merenung, penuh kontemplasi.

Iwan Simatupang sebenarnya termasuk pengarang yang mengalami masa jayanya pada dekade 1960-an. Ia bukan produk dekade 1970-an. Tetapi sebagai pengarang ia mendahului angkatannya. Fiksi non konvensional yang berkembang biak pada dekade 1970-an, dipelopori oleh Iwan sekitar permulaan tahun 1960-an.

Iwan mengembangkan jenis novel anti-plot, anti karakter, yang dalam tehnik dipengaruhi oleh gerakan Novel Baru dari Perancis yang dikembangkan sekitar tahun 1953-1957. Tetapi dasar pemikirannya adalah Eksistensialisme.

Padahal menurut Vivian Mercier dalam bukunya “Novel Baru” dasar pemikiran yang melahirkan jenis novel baru adalah filsafat Phenomenologi sedangkan Eksistensialisme melahirkan karya-karya Absurd. Tetapi memang tahun 1950-an sampai akhir 1960-an filsafat Eksistensialis  amat populer di Indonesia. Dan sebagai pengarang yang pernah lama tinggal di Eropa (1954-1958) dan menyaksikan di sana berkembangnya pemikiran kaum Eksistensialisme serta mulai munculnya Novel Baru (Nouveau Roman) maka tak mengherankan kalau sekembalinya di Indonesia ia ada terpengaruh oleh mereka. Iwan sendiri secara sadar menyebutkan novel-novel yang ditulisnya sebagai “novel baru”.

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Namun setelah novelnya yang pertama, Merahnya Merah, diterbitkan tahun 1968 dan mendapat sambutan penuh antusias dari para sastrawan yang pada waktu itu juga lagi demam filsafat eksistensialisme, maka bermunculanlah novel-novelnya yang lain seperti Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Semua novel itu mendapat sambutan positif dari pada sastrawan dan pengamat sastra.

Iwan muncul sebagai sastrawan-pemikir, bukan hanya karena sifat novel-novelnya demikian, tetapi juga karena jauh sebelum ia menulis novel-novelnya ia telah menulis beberapa esei yang mendasari penciptaannya kemudian. Esei-esei itu (dan surat-surat pribadi kepada kritikus HB Jassin) boleh dikatakan pertanggungan jawab Iwan terhadap novel-novelnya. Dan dari sanalah orang mencoba memahami maksud novel-novel Iwan seperti dilakukan oleh kritikus Dami N Toda dalam bukunya Novel Baru Iwan Simatupang.

Corak Novel Baru Iwan Simatupang tak pernah ditiru oleh novelis-novelis selanjutnya. Beberapa novelis non-konvensional lebih cenderung menulis secara Absurd, Interior Monolog dan Surrealis, pada dekade 1970-an itu, seperti dikerjakan oleh Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto dan lain-lain.

Tema yang digarap Iwan dalam novel-novelnya adalah sekitar kekosongan arti, pertanggung jawaban pribadi dan kesepian. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai “marginal”. Saya menduga bahwa obsesi pribadi Iwan yang melahirkan novel-novelnya yang penuh keresahan itu adalah kematian isterinya yang amat dicintainya, Imelda de Gaina (Corrine), yang dinikahinya di negeri Belanda tahun 1955. Corry meninggal akibat penyakit typhus tahun 1960. Jiwanya yang sepi, kehilangan, tanpa sandaran, dan mencari ketenteraman jiwa inilah yang dicoba dicari jawabnya dalam novel-novelnya. Novel Ziarah jelas ditujukan untuk isterinya, novel Kering menunjukkan kehampaan makna dan Koong usaha pencarian makna baru atas suatu kehilangan.

Nama lengkap Iwan adalah Iwan Martua Dongan Simatupang dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Mengalami pendidikan kedokteran di Surabaya, dan pernah menjadi guru SMA di sana. Kemudian melanjutkan belajar Anthropologi di negeri Belanda. Sepulangnya di Indonesia menjadi dosen ATNI di Bandung dan wartawan di berbagai penerbitan di Jakarta.

Pembaharuan sastra Iwan tidak terbatas pada novel saja tetapi juga dalam drama. Ia menulis beberapa naskah drama yang “baru” pula seperti Taman (1966), Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), serta Kaktus Dan Kemerdekaan (1967).

Kering

Tidak mungkin menuliskan plot pokok dari novel Iwan ini secara pas. Kering adalah novel tanpa plot. Memang ada jalan ceritanya, tetapi tidak dalam pola plot yang umum. Dasar yang menggerakkan cerita ini begitu beragam terdiri dari berbagai persoalan yang intinya boleh saja disebut psikologis. Tokohnya pun tidak berkarakter. Ia mewakili siapa saja. Inilah sebabnya tokoh dalam novel ini cukup diberi tanda “tokoh kita”. Meskipun demikian ia punya latar belakang. Ia mahasiswa filsafat dan sejarah yang gemilang, sampai-sampai para dosen dilalapnya. Namun ia memilih hidup di daerah transmigrasi. Entah di mana. Di daerah transmigrasi inilah ia dan kawan-kawannya mengalami musim kemarau yang amat kering. Tanah retak. Beberapa kawannya memilih meninggalkan daerah transmigrasi yang kurang diurus oleh pemerintah itu. Tetapi tokoh kita tetap tinggal di sana. Ia nekad menggali tanah untuk membuat sumur. Ia menggali sedalan-dalamnya meskipun air tak keluar. Ia bermaksud menggalinya sampai di permukaan bumi yang lain. Akhirnya tokoh kita pingsan berat. Ia di rawat di rumah sakit bagian kamar sakit Jiwa. Dia dirawat dan pilih kembali. Ia mengembara di kota itu dan bertemu kawan lamanya di daerah transmigrasi dahulu yang kini hidup makmur berkat main selundup. Tokoh kita ditawari kerja semacam itu. Tak mau. Dia bermaksud kembali ke daerah transmigrasi. Bertemu lelaki berjanggut. Diajak membuktikan kelaki-lakiannya dengan wanita. Akhirnya tiba di daerah transmigrasi yang menunjukkan gejala akan dicurahi hujan. Tetapi hujan tak turun juga, meskipun angin kencang meniup. Ia bangun kota baru di tengah ketandusan. Kota ini roboh disapu angin kencang. Orang-orang transmigran ingin meninggalkan daerah itu, tetapi diajak kembali oleh tokoh kita untuk membangun kotanya lagi. . . .

Itu barangkali jalinan plot yang bisa tertangkap secara konvensional. Di tengah jalinan plot itu pengarang banyak melontarkan dialog-dialog sulit dan filosofis dengan tokoh-tokoh lain. Menilik jalan ceritanya jelas bahwa pengarang ingin menggambarkan pandangan bahwa manusia wajib berusaha, berbuat dan bertanggung jawab meskipun itu nampaknya sia-sia. Kisah tokoh kita mirip dengan tokoh Sisyphus dalam dongeng Yunani Kuno yang digemari kaum Eksistensialis. Sisyphus Indonesia ini berada di daerah transmigrasi yang kering, namun dalam kesia-siaan usaha ia tetap bekerja, tetap menempuh arus “nasib” atau keganasan alam yang melandanya. Ini terbukti dengan gambaran bagaimana tokoh kita tetap terus menggali tanah untuk mencari sumber air. Meskipun ia tahu tak akan keluar air, namun tetap menggalinya sampai badannya tak kuat bekerja. Juga pada waktu bangunannya dilanda angin badai di daerah transmigrasi kering itu,ia dengan semangat mengajak kawan-kawannya untuk kembali membangun kembali, juga kalau bangunan itu kelak akan digoncang dan dirubuhkan angin kembali. Itulah rupanya makna manusia: ia harus mengisi hidupnya dengan usaha meskipun rupanya tak akan ada hasilnya.

Kering, daerah transmigrasi, angin kencang dan hujan, bukanlah setting konvensional. Ia berdiri sebagai lambang-lambang yang bisa diterjemahkan dalam wujud apa saja. Daerah transmigrasi yang kering bisa saja menggambarkan kondisi jiwa manusia modern yang kosong hampa arti, kalau itu mau diartikan secara metafisik. Daerah transmigrasi adalah daerah baru, bukan daerah lama yang diwarisi turun temurun. Bisa saja itu berarti daerah budaya baru, bukan tradisional. Daerah budaya atau daerah metafisik yang sama sekali asing dari tanah asalnya. Dan daerah itu adalah daerah yang kering, tidak hidup. Dan tokoh kita tetap mau hidup dan harus hidup di situ. Daerah itu dipilihnya karena ia telah memutuskannya secara matang setelah ia “mengalahkan” para dosen sejarahnya di universitas. Hanya daerah transmigran itulah daerah hidupnya. Ia menjadi manusia marginal, manusia di antara batas lama dan batas baru yang belum menentu. Ia tak bisa kembali pada alam yang lama. Ketidak mampuan kembali pada hal-hal mapan ini digambarkan pula dengan pertemuan tokoh kita dengan pastor. Pastor mewakili atau berdiri sebagai lambang orang-orang yang selesai dan berhasil menjawab semua persoalan dengan agamanya. Tetapi tokoh kita tidak puas dan tak bisa menerimanya lagi. Ia memilih meninggalkan pastor.

Novel ini tak bisa dibaca untuk hiburan. Orang yang mencari hiburan dalam bentuk cerita jelas tak akan menemukan yang dicarinya. Novel ini hanya memuaskan untuk mereka yang mau belajar memahami manusia.

Novel ini penuh padat dengan pertanyaan, perbantahan, pertikaian pendapat-pendapat. Pendeknya novel ini mengajak pembacanya berpikir. Novel ini mesti dibaca hati-hati dan berkali-kali dan disusun kembali hubungan-hubungannya oleh pembaca. Novel ini novel yang menuntut pada pembacanya dan bukan memberi.

Tema pokok novel ini memang eksistensialis: berbuat, melakukan pilihan dan bertanggung jawab. Tokoh kita telah melakukan itu sebagai seorang intelektual yang tak betah lagi tinggal di kota setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Sejarah dipilih karena implisit ia mengetahui dan mengenal masa lampau bangsanya, budayanya, cara berpikirnya, pandangan hidupnya. Dan di daerah baru ini ia berkumpul pula dengan tokoh-tokoh kota yang lain yang juga tidak puas secara spiritual. Namun ada yang kecewa dan kembali pada kultur lama dalam hal lain Si Gendut  dan Si Kacamata. Namun tokoh kita tetap berbuat dan bekerja dalam kesia-siaan yang diyakininya di daerah baru itu. Di samping tema pokok itu sebenarnya Iwan mengemukakan tema-tema lain, sehingga novel ini nampak penuh dengan serpihan-serpihan persoalan yang beraneka ragam yang rupanya digarap pengarang sejalan dengan jalur cerita. Ketika di rumah sakit dipersoalkan tentang kewarasan, ketika bertemu Si Gendut dipersoalkan tentang mental korup, ketika bertemu Lelaki Berjanggut berbicara soal wanita, ketika bertemu pastor berbicara soal religi dan seterusnya. Persoalan-persoalan itu muncul dan ditinggalkan, sehingga novel memberi kesan bertumpuk-tumpuk dengan tema dan masalah.

Apakah ini Nouveau Roman? Memilik tehnik yang dipakainya, yakni novel tanpa plot dan tanpa karakter memang mirip dengan kemauan kaum Novel Baru di Perancis itu. Tetapi dasar dari Nouveau Roman adalah mempersetankan semua novel sebelumnya. Menurut Robbe-Grillet dalam eseinya “Dari Realisme ke Kenyataan” ia menulis bahwa sejak Flaubert ambisi novel adalah membuat sesuatu dari ketiadaan, sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak bersandar pada sesuatu di luar kaya itu. Pendeknya Novel Baru tidak punya pretensi merekam kenyataan tetapi menciptakan kenyataannya sendiri. Pada novel Kering ini Iwan masih jelas merekam dan bersandar pada kenyataan kehidupan, hanya semua itu digambarkan secara simbolik. Pada dasarnya novelnya ini adalah novelpuisi, baris-barisnya berupa gambaran adegan yang bisa bermakna lambang dalam usaha mewujudkan hakiki. Novelnya ini memang mirip novel Camus, Wabah Pes, hanya di sini wabah diganti dengan daerah transmigrasi yang kemarau. Tidak ada Harapan, tidak ada Hujan, tidak ada Penyembuhan. Tetapi kalau dianggap bahwa kenyataan gambaran novel Kering tak bisa dikembalikan pada kenyataan seperti dalam novel realisme tidak sepenuhnya salah. Gambaran di dalamnya memang tak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan: bagaimana mungkin orang bisa menggali sumur sehingga menembus perut bumi, bagaimana mungkin bersanggama di atas aspal jalan yang meleleh dan dilihat orang, bagaimana kendaraan bertabrakan keras tetapi tetap terus jalan lagi? Namun gambaran yang demikian hanya sepotong-sepotong, sedang yang lain masih bisa dikenali secara realisme.

Tetap Marginal

Dibanding dengan novel-novelnya yang lain, novel Iwan Simatupang yang terakhir dan posthomus ini lebih “mudah” diikuti dan lebih dekat dengan konsep novel konvensional yang realis. Meskipun demikian ia tak lepas dari nilai-nilai lambang. Novel ini tidak anti plot dan anti karakter. Ia punya plot yang jelas dan karakter yang bernama, settingnya pun jelas desa dan kota dengan segala implikasinya.

Tokohnya adalah Pak Sastro seorang petani desa yang kematian isterinya dan desanya dilanda banjir. Satu-satunya milikinya yang berharga adalah anaknya, Si Amat. Namun Amat yang mengadu nasib ke kota ini juga pada suatu kali tergilas lokomotip dan mati pula. Sastro kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini, yang membuat hidupnya bisa tenteram dan seimbang. Dalam usahanya melawat tempat kematian anaknya itu pak Sastro menemukan sesuatu yang baru yakni burung perkutut dan yang segera dibelinya. Dari Jakarta ia kembali ke desa dengan perkutut yang tak bisa koong, perkutut gule. Perkutut itu meskipun bisu tetap mampu mengisi kekosongan hati Sastro dan membawa berkah kemakmuran baru: sawahnya subur dan segalanya terus bertambah serta berkembang. Sastro cukup kaya. Namun perkutut gule ini suatu hari hilang, dan Sastro meninggalkan segalanya memburu perkututnya yang hilang itu. Kesadarannya muncul ketika ia bertemu dengan seorang janda yang juga memelihara perkutut tetapi kooong, yakni bahwa yang penting mencari, apakah yang dicari itu berharga atau tidak bagi orang lain, ada atau tidak. Sementara itu orang-orang desa menyusulnya, tetapi mereka disuruh kembali oleh Sastro agar mengerjakan sawah-sawahnya sebab di sanalah tempat mereka, Sastro sudah tak mungkin kembali ke sana..

Tokoh Sastro adalah sebenarnya juga seorang marginal. Ia tak bisa hidup lagi di desanya setelah ia memperoleh perkutut gule dari kota Jakarta. Sastro berniat terus mencari, mencari dan mencari, entah ketemu atau tidak. Ini sama dengan tokoh kita dalam Kering yang terus menggali dan menggali sumur entah keluar atau tidak, membangn dan membangun rumah meskipun topan tiap kali merobohkannya. Ini juga Sysiphus modern yang tak bisa lagi tenang di “desa”nya sendiri. Juga di sini jelas bahwa eksistensialislah yang mendasari Koong.

Namun plot ceritanya jelas. Dimulai dengan kehilangan demi kehilangan yang menimpa Sastro. Akibatnya hatinya kosong, sepi. Kesepian itu dapat diisi setelah ia menemukan perkutut gule. Namun perkutut terbang meninggalkannya. Sastro kehilangan lagi, sepi dan kosong lagi hatinya. Pemecahannya filosofis: “Dalam keadaannya yang ‘hilang’ dan ‘sedang dicari’ ini, dia telah berhasil bertengger lebih mesra di kalbu Pak Sastro dan menjadi petunjuk ke arah langkah-langkah selanjutnya. Ya! Sekiranya perkututnya itu tidak bakal ditemuinya kembali, namun perkutut itu telah bertengger untuk selamanya dalam jiwa Pak Sastro. ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: mencari”. Maka Pak Sastro terus mencari dan merasa tenang bahagia seperti janda tua yang memperoleh keseimbangannya dengan memperoleh perkutut yang bisa kooong.

Ada tiga komponen yang mendasari cerita ini. Yaitu masyarakat desa, perkutut dan Pak Sastro. Pengembaraan yang bermakna metafisik dalam mencari keseimbangan, ketenangan, kebahagiaan hidup ini, digambarkan secara berurut sebagai berikut. Perkutut menginginkan kebebasannya, ia terbang. Artinya Perkutut memperoleh kebahagiaannya dengan kebebasan mutlak. Sedang Pak Sastro mengejar Perkutut untuk memperoleh kebahagiaannya sendiri pula. Dan di belakang Pak Sastro mengikut masyarakat desa yang merasa bersalah terhadap Pak Sastro dan menginginkan ketenangan jiwa yang bahagia berkat filsafat Pak Sastro. Dia sudah bahagia dengan mencari dan mencari yang berarti mengembara, meninggalkan desanya untuk selamanya. Sedang yang dicari Pak Sastro juga tak perlu ketemu, sebab ketemu atau tidak sama saja. Ini berarti Perkutut dapat memperoleh kebebasan yang diinginkannya. Sedang masyarakat desa menemukan kebahagiannya di desa sendiri. Masyarakat desa disuruh kembali oleh Pak Sastro dan diminta mengolah sawah serta tanah Pak Sastro untuk kepentingan desa.

Desa dalam cerita ini memang bisa konotatif: ia bisa berarti kultur Indonesia lama. “Satu-satunya penyelamatan adalah kembali ke sawah dan ke kebun. Kembali menjadi kita semula. Yaitu tani, manusia bercocok  tanam. Kita kerjakan sendiri”, itulah kata orang desa. Sedang Pak Sastro sudah tidak bisa hidup seperti itu (kultur Indonesia) setelah ia kenal Perkutut. Ia telah “dipesona oleh alam kebebasan dan kemerdekaan” dan hanya bahagia dengan mengembara. Pak Sastro adalah potret manusia Indonesia yang telah kenal kebebasan dan enggan kembali pada kultur sendiri.

Novel ini lebih punya bobot emosi yang hilang pada novel-novel Iwan yang lain yang penuh dengan kerut dahi pemikiran. Ceritanya berjalan jelas, lancar dan gamblang. Hanya soal penafsiranlah orang bisa melihat secara lain makna yang dikandung novel ini. (*)

———————-

Dari berbagai sumber, TIM Editorial Galeri Buku Jakarta, 2017

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending