Connect with us

Kolom

Iwan Simatupang: Mencari Tokoh bagi Roman

mm

Published

on

Tokoh yang bagaimana saja bisa tampil dalam roman. Terserah teknik pengarang, mana didulukan. Tokoh dulu, baru menyusul cerita bersama persoalan gaya. Atau, sebaliknya.

Seorang Giraudoux memilih yang sebaliknya. Cari dulu gayanya, idenya menyusul kemudian, kata dia. Dengan ide antara lain maksudnya tokohnya, tokoh-tokohnya. Sedangkan Proust bertahun-tahun mencari tokohnya dulu. Sekali ketemu, tokohnya itu (walau ini dirinya sendiri) tak mudah lagi meninggalkannya. Hasilnya A la Recherche du Temps Perdu, berjilid-jilid. Dan berapa banyak pengarang atau calon pengarang lainnya, yang keburu mati tanpa kunjung menemu tokohnya, gayanya?

Siapa yang berkata soal tokoh gaya ini, dalam hubungan tata letak (volgorde) dan hirarkinya adalah soal remeh saja, soal formal saja, pada hakikatnya mengatakan sesuatu yang revolusioner dan menjanjikan suatu persoalan prinsipil baru dalam kesusastraan. Tapi apakah revolusi itu? Mana novel, atau sebutlah roman, yang telah tercipta tanpa mengalami urgensi persoalan tadi?

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam roman-roman terakhir Prancis, belum meyakinkan kita bahwa revolusi itu telah mulai. Memang, tokoh-tokoh itu harus kita tarik garis-garis sosok tubuhnya sesuai kita membaca dan mencamkan roman-roman itu. Selama pembacaan, tokoh-tokoh tersebut cerai-berai, dicairkan dan disebarkan dalam sekian pelukisan suasana dan sekitar. Tapi menjelang halaman terakhir, sosok tubuh itu melangkah maju ke arah kita dari balik kaki langit keremangannya. Titik terakhir pada halaman terakhir, adalah saat ia turun dari kereta apa langsung ke dalam pelukan kita yang datang menyambutnya. Ia kita ciumi, kita hujani pelukan kata-kata selamat datang yang harus menyatakan ketuanrumahan kita yang tulus dan gembira sekali – walau dalam perjalanan dari setasiun ke rumah, kita sebenarnya mencoba mengingat-ingat kembali halaman-halaman buku itu, dari mana harus kita tentukan identitas tamu kita itu.

Dengan kata lain, aktualitas persoalan tokoh dan gaya itu, masih saja terus hingga ke masa kita kini. Untuk kesekian kali kita mengalami, betapa sesuatu tokoh tertentu telah membawa bersama dirinya gaya pelukisannya sendiri. Demikian pula, betapa sesuatu gaya tertentu telah membawa bersama dirinya tokoh – atau tokoh-tokoh – yang akan dilukiskannya. Sehingga dengan demikian close-up dari persoalan tokoh dalam seni roman dewasa ini berarti tuntutan membawa persoalan itu dalam bentuk lain ke bidang lain. Sebutlah bidang etis, atau bidang historis, suatu bidang yang lincah dan bergerak selalu.

            Kesusasteraan hendaknya mencerminkan masanya, kata segolongan orang staf bijaksana. Lalu mereka mengajukan acara, agar struktur dan napas dari kebenaran dan kenyataan aktual nyata pada tokoh-tokoh romannya. Suatu tuntutan yang sebenarnya tak terlalu banyak punya salah, dan dapat dimaafkan.

Bahkan, bila ia dikaji hingga ke akar-akarnya, tuntutan itu hanyalah merupakan ulangan yang kesekian saja dari apa hakikat kesusastraan yang sebenarnya. Tuntutan itu seolah membawa kondisi tabula rasa bagi tokoh-tokoh yang tampil dalam romannya, dalam arti bahwa apa dan bagaimana saja pun corak, bentuk, isi dan semangat dari tokoh (atau tokoh-tokoh) itu, ia adalah benar, dapat dibenarkan. Mengapa? Karena itulah prakondisinya, sifat dan watak purbanya.

Dengan ini tibahlah kita ke tingkat berikut sesudah tabula rasa. Yakni tingkat dari mana kita sudah tak berhak lagi punya pendapat. Tepatnya, penilaian atas sesuatu tokoh. Kita ada di suatu lapisan perudaraan, di mana segala sesuatu memang punya hubungan tertentu dengan diri kita, tapi juga di mana segala sesuatu itu tegak jenseits von Gut und Bose terhadap kita. Tiap mereka itu telah mendukung dalihnya masing-masing bagi keadaannya.

Tapi, justru di sinilah letak dari sekian kesukaran itu.

Apa yang dianggap sebagai persoalan klasik itu, ternyata merupakan persoalan sulit, untuk tak mengatakan tak mungkin, untuk dipahamkan, apalagi untuk diwujudkan. Sebab, apakah sebenarnya yang diminta dari seorang pengarang yang mesti menampilkan tokoh “yang mencerminkan mas”-nya? Yakni, mempersonifikasi waktu dalam diri seseorang. Dan ini terang tak mungkin, mengingat sifat totalitas waktu, demikian juga totalitas tokoh itu sebagai salah satu variant dari genus manusia. Akan tetapi, seperti kata-kata bersayap lainnya, maka semboyan “kesusastraan cermin masa” ini pun mempesona banyak pengarang. Pesona, yang membuat mereka kabur melihat konstelasi metafisis tadi, dan menyusur mereka melompatinya saja. Lalu mereka sampai kepada fragmen dan aspek.

Tokoh, demikian surat kepercayaan mereka yang baru, adalah fragmen atau aspek tertentu saja dari tokoh sebenarnya. Dia tak perlu mengambil aanloop hingga ke Adam dan Siti Hawa. Bahkan ia tdak perlu turun hingga ke tanggal 1 Januari 1960. Satu sekon saja sudah cukup untuk dialami sebagai waktu, dan oleh sebab itu cukup untuk dihayati, tegasnya didramatiskan, bagi sesuatu roman.

Adalah “tokoh fragmentaris, dalam waktu fragmentaris” ini, yang harus tampil dalam roman modern, roman fragmentaris ….

Fragmentarisme ini secara mengesankan sekali dilukiskan oleh Dostoyevski dalam novelnya yang kecil, Manusia Bawah Tanah. Novel? Adakah ini (masih) dapat disebut Novel?

Satu-satunya yang masih utuh dalam buku ini hanyalah disiplin dan kecermatan psikologis sang Penulis, dengan mana ia menyuruh kita menerima keceraiberaian tokoh utamanya (juga, satu dua tokoh sampingan lain) sebagai ramuan satu satuan juga, setidaknya sebagai satu kumpulan.

Tapi, sesudah novel Dostoyevski tersebut, framentarisme terang-terangan dijadikan oleh sekelompok pengarang menjadi programa. Dan ketika selama dan sesudah Perang Dunia Kedua, waktu benar-benar dialami. Yakni secara empiris. Sebagai fragmen-fragmen, roman-roman fragmentaris itu beterbitan bagai cendawan. Publik, yakni menusia-manusia fragmentaris yang berhasil keluar sebagai makhluk-makhluk yang masih hidup dari perang tersebut, dengan lahapnya memamah roman-roman itu. Sartre, Camus, Moravia, Boll, adalah antara lain nama-nama yang teramat disukai. Bukan saja oleh kaum snob, tapi juga oleh menteri-menteri kebudayaan, uskup-uskup dan mufti-mufti besar.

Ya! Keluh beberapa simpatisan yang segera kecewa, fragmentarisme ini telah berubah kini menjadi suatu gaya penulisan, dimana banyak, banyak sekali! Kata-kata dicurahkan untuk melukiskan sesuatu kejadian yang – tak terjadi, sesuatu peristiwa yang – bukan peristiwa. Bahkan, kadang-kadang ada roman di mana tokoh sama sekali tak ada. Yang ada hanya kata-kata, banjir kata-kata ….

Samuel Beckett, seorang penyair dan pengarang roman turunan Irlandia yang kemudian menetap di Paris dan menjadi salah seorang terkemuka dalam barisan tokoh pembaru teater akhir-akhir ini, pernah menyimpulkan hal di atas sebagai berikut:

Tokoh tak diperlukan lagi. Yang penting adalah situasi. Tanpa tokoh, tanpa manusia, situasi semakin padat dirasakan. Situasi adalah yang membuat kita a priori solider dengan tiap jenis derita, tanpa ada manusia yang berkaok-kaok meminta perhatian kita. Situasi ini adalah drama, tragedi, komik, segalanya. Ia telah mengusir tokoh-tokoh dari dalam sastra dan teater modern.

            Dan apabila Beckett dalam lakon sandiwaranya En attendant Godot, masih menampilkan manusia-manusia, maka kita disuruhnya menanggalkan kacamata kita. Ia berseru, “Gosok kaca mata Anda baik-baik, kemudian lihatlah lagi. Adakah yang Anda lihat dalam lakon saya itu, benar-benar masih manusia?”

Memang, tokoh-tokohnya itu bukan manusia-manusia lagi. Tapi kerangka-kerangka manusia saja. Beckett telah memutarbalikan dalil seni drama, di mana manusia, (sejauh ia masih ada) sudah menjadi requisit saja lagi dalam lakon. Manusia-manusia itu secara terang-terangan dijadikannya benda-benda dari situasi saja, tak lebih, tak kurang. Dan kita dihenyakkannya dengan banjir kata-kata. Kata, kata, kata, tak habis-habis. Pada akhir lakon kita ikut kehabisan napas. Dengan perasaan yang histeris, kita pulang ke rumah dan bermimpin tentang kiamat, dimana kata-kata telah mengenggelamkan seluruh jagat ini, bersama kita.

Dan bila kita bertemu tuan Beckett esoknya, dan kita ceritakan padanya bahwa lakonnya telah membuat kita bermimpi buruk, semalaman, bahwa kita namun sesudah itu semuanya tak mengerti isi, atau ‘pesan’ lakon sandiwaranya itu, bahwa kita kini oleh sebab itu ingin pergi ke seorang psikiater … maka dia akan tertawa riang, menepuk-nepuk bahu kita, berkata, “Aha! Jadi sandiwara saya itu berisi, pementasannya berhasil. Terima kasih!”

Kita tak hendak mengatakan bahwa hakikat dari sastra modern umumnya, roman modern khususnya, adalah ataupun seharusnyalah bybris atau bahkan histeri. Pendapat serupa ini baik kita serahkan mengucapkannya oleh seorang yang cukup punya eksentrisitas. Hal-hal di atas itu kita singgung di sini, oleh sebab ia menurut pendapat kita ikut mengandung ciri-ciri dan disebabkan itu juga ikut mengandung kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya, dari persoalan “krisis roman” saat ini. Althans, sejauh krisis itu ada.

Krisis roman kini antara lain disebabkan sulitnya tokoh. Atau tokoh-tokoh. Bagi roman yang bakal ditulis itu, mereka membiarkan diri ter-“tangkap” oleh kita. Demikianlah pendapat beberapa kalangan. Disebabkan fragmentarisme, dari kesemuanya: ruang, waktu, semuanya. Seorang yang pada dirinya (yakin pengarang) telah cerai-berai, berantakan, taklah mungkin me-“nangkap” ataupun menyimpulkan benda-benda di sekitarnya, yang pada dirinya masing-masing adalah juga cerai-berai.

            Oleh sebab itu – demikian ramalan mereka – kesusastrraan masa datang, adalah kesusastraan-minus-roman

Atau roman akan lenyap! Sambung mereka, atau akan lahir suatu seni roman yang baru sama sekali, yang berlainan dari seni roman hingga sekarang. Apa dan bagaimana seni roman yang baru itu, itu sebaiknya kita nantikan saja. Itu adalah justru faktor x, the imponderable, yang masih harus kita sambut lagi.

Apabila suara-suara seperti ini harus kita simak, maka memang sebaiknyalah kita menyampul pena kita dan menyimpangnya dalam peti pusaka. Kita tukar ia dengan pacul, atau senapan, sebab dengan itu kita bisa lebih efektif menghabisi tahun-tahun terakhir hidup kita. Tapi, menurut hemat kita, masih terlalu pagi kini untuk menyerahkan diri bulat-bulat kepada defaitisme. Bila bumi mau kiamat, silakan! Tapi, menurut hemat kita, masih terlalu pagi kini untuk menyerahkan diri bulat-bulat kepada defaitisme. Bila bumi mau kiamat, silakan! Tapi mari kita hidup terus hingga saat terakhir yang mungkin bagi kita. Tiap saat itu akan kita hirup sepuasnya, dengan segala intensitas yang diberikan oleh status kita kepada diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita akan mencari terus. Mencari garis-garis bagi sosok tubuh tokoh-tokoh kita dalam roman-roman yang bakal, bahkan yang mesti, kita tulis.

Kita mencari dengan program yang diberikan oleh esensi dari eksistensi kita. Yang diberikan oleh impulse kita pada sat ini, tanpa perlu sorotan mata yang waspada kepada kitab undang-undang yang terlalu tebal dan tiang-tiang gereja yang terlalu kelu. Dan dalam melakukan ini, kita tak berpegang pada hanya satu semboyan semata. Kita akan melukiskan tokoh-tokoh yang mencerminkan masanya, bila identitas atau analogi serupa itu merupakan tuntutan satu-satunya dari pena kita pada saat itu. Bila sesudah saat itu identitas ini aneh bagi kita, janggal, bahkan merupakan pengkhianatan terhadp kedirian kita pada saat itu, ia kita robek lagi dan lemparkan ke dalam keranjang sampah. Sudah tentu disaat berikut robekan-robekan itu boleh kita ambil kembali dari keranjang sampah, kita lurus-luruskan kembali, kita salin kembali ….

Lingkaran-lingkaran serupa ini taklah boleh dianggap sebagai impotensi. Pergulatan serupa ini harus semakin intensnya dirasakan si pengarang, dengan tekad bahwa ia pada akhirnya harus mampu menembus lingkaran-lingkaran itu. Hasilnya, terserah kritikus, dan publik pembaca, yang tak selalu membeli buku lewat pertolongan resensi atau kritik.

Kita ingin menggoreskan tokoh-tokoh roman kita, seperti itu kita kehendaki sendiri. Kehendak, yang dengan sendirinya telah mengalami capaian fantasi dan pengalaman kita: campuran tulen dari Wahrheit und Dichtung, dari totalitas dengan nuansa; dari pengkhianatan dengan patriotisme; dari kecabulan dengan kesyahduan; dari kekejaman dengan peri kemanusiaan.

Apabila Oedipus hendak melarang kita meniduri ibu sendiri, adalah satu naluri yang mungkin, oleh sebab itu fitri. Besarnya marah kita terhadap ucapan ini, adalah justru tanda bahwa ia/itu mungkin, bahwa ia/itu benar. Adakah kita harus menuliskan roman yang tak boleh benar? Adakah kebenaran suatu indeks bagi pengarang? Adakah kebenaran tak benar bagi roman?

Oleh sebab itulah kita mengajak para pengarang mengarang roman tentang revolusi, tentang kepahlawanan, tentang cinta tanah air, agar jangan membiarkan diri mereka layu, bila revolusi dan perang telah lama lalu.

Diri mereka secara tertentu sangkut pada waktu. Oleh sebab itu mereka jangan lalu menampik dialektika yang dibawa serta oleh kelanjutan waktu. Apabila dialektika itu membawa semacam imperatif bagi mereka untuk menulis roman tentang anti-revolusi, tentang anti-kepahlawanan, tentang untung bahagianya kepahlawanan, tentang untung bahagia yang dibawa oleh kekecutan dan kebusukan hati, mereka hendaknya jangan mengubah menjadi kiai-kiai cengeng yang hendak menyembunyikan impotensi dan sterilitas mereka. Bahkan, berdiam diri adalah pengkhianatan terhadap hakikat dirinya, selaku pengarang.

Selama jantung kepengarangan seperti ini masih berdetak, maka segala ramalan tentang nasib kesusastraan umumnya, nasib roman pada khususnya, kita biarkan sebagai ramalan belaka – dan kita bekerja terus.

Mencari terus garis-garis bagi sosok tubuh tokoh-tokoh roman kita yang akan datang.

Mencari terus, di dalam bayang-bayang suram dari keterbatasan umur kita …. (*)

 

Siasat Baru, XIV (668), 30 Maret 1960, hlm. 20-23.

 _________________________________

Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian ini dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksitensialisme: Merahnya Merah (1968); Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982). Kumpulan puisinya adalah Ziarah Malam (1993).

Sumber: Satyagraha Hoerip (ed.), Sejumlah Masalah Sastra, Sinar Harapan, Jakarta 1982.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Potret Membaca Kita

mm

Published

on

Persoalan membaca kini mulai diresahkan oleh pemerintah. Pemerintah pun bergeliat membuat gerakan literasi. Ini sudah dimulai dari artikel Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi di Sekolah (Republika, 8/8/ 2015),  menyatakan bahwa terdapat kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar, maka gerakan literasi ini perlu dilakukan. Sekolah mulai mencoba mengawali gerakan ini. Sayang, aturan pemerintah ini memasygulkan murid dan gurunya. Boleh jadi, ini dikarenakan kita tidak terbiasa membaca sastra. Kita bisa berprasangka, kita hanya melek huruf, tidak melek membaca. Wajar bila yang terjadi sekolah ogah-ogahan dengan gerakan literasi.

Mungkin kita dapat membanding dulu dan sekarang. Dulu, adanya perasaan membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama. Kita dapat melihatnya dari majalah kuncung, bobo, majalah teen, dan lain sebagainya. Dalam majalah, terlihatnya antusias anak-anak sampai orang tua gemar merangkai kata. Melalui surat-menyurat, kata digunakan untuk menuangkan semua keluh kesah. Biasanya surat di muat di rubrik surat pembaca.

Entah surat berisikan pemikirannya tentang politik, ekonomi, atau kehidupan rumah tangganya dituliskan. Barangkali surat juga menyuguhkan kata-kata heroik, pembangkit minat baca. Layaknya Asrul Sani, dalam buku Surat-surat Kepercayaan yang menyatakan bahwa buku memberi pengetahuan mengenai peninggalan dan pemikiran seluruh pelosok dunia. Dari ungkapan ini Asrul mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca membuat jarak tidak berarti. Kita bahkan bisa membaca pemikiran apa pun di dunia, cukup dengan berhadapan dengan buku.

Mungkin, ini juga membuat orang akrab dengan perpustakaan.  Buku-buku seolah dianggap  teman. Bahkan, saat menjalani hukuman pengasingan ataupun di penjarakan orang lebih bisa membangkitkan dunia literasinya. Syahrir, Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta,   atau Pramoedya, merupakan tokoh yang doyan membaca. Pemikiran dan kisah mereka pun, bisa kita ketahui dengan buku-buku sejarah dan cerita-cerita pendek.

Bukan hanya itu, beberapa dari mereka, mencontohkan untuk lebih mencintai buku. Boleh jadi kita dapat tengok Gerson Poyk di buku Nostalgia Flobamora, ia mewariskan buku-buku untuk anaknya. Dengan harapan buku dapat dijadikan harta yang paling berharga. Sebab, buku seolah menjadi identitas diri dalam membentuk pemikiran si pembaca. Refleksi dari kehidupan yang sudah tidak nyaman. Ketika segala hal terlihat buruk dalam keadaan yang sebenarnya, buku membawa mereka pada kisah-kisah nan menarik.

Bila kita kembali lagi ke masa kanak-kanak di tahun ‘90an, mungkin kita dapat disajikan majalah Bobo. Di dalamnya memuat rubrik kisah Nurmala dan Boni si gajah panjang. Cerita itu penuh peran moral yang disajikan. Tidak lupa soal-soal sekolah dasar diselipkan untuk mengasah kepandaian anak. Di majalah itu anak bebas membaca, bebas memilih, bahkan berkarya. Anak-anak pun bisa mengirim puisi, cerita pendek atau gambar kepada redaksi bobo. Sayang, kini majalah Bobo yang tidak lagi terlalu tenar dan diminati. Ia kini telah digantikan google, anak cukup mengasah bacaan dan bertanya lewat internet.

Saat teknologi seperti televisi dan gawai pintar belum ditemukan, satu-satunya hiburan adalah membaca. Membaca membuat imajinasi kita bermain dan bebas untuk menjelajah. Tak ayal, dunia literasi yang terbangun membicarakan pergaulannya dengan buku. Buku yang menjadi sahabat dalam mencurahan segala kepelikan hidup. Seolah dengan membaca kita dapat merefleksikan kembali pemikiran yang ada dalam kata.

Pembaca seolah dapat terbius dengan rangkaian kata dari penulis. Turut serta merasakan pemikiran yang tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui alurnya hingga dengan membaca seseorang makin terbebas dari dunia realitas. Sayangnya, ingatan tentang buku sebagai alat yang menyenangkan mulai hilang. Pelbagai tantangan hadir dalam menurunkan minat membaca buku.

Seiring dengan zaman yang serba canggih, kita malah sibuk dengan dunia maya. Semua mulai tenggelam dengan kegiatan di dunia media sosial. Kebanyakan remaja yang makin ketagihan dengan media sosial. Dikutip dari data kominfo di kominfo.go.id menuliskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Mirisnya, kita hanya aktif berselancar di dunia maya sambil memposting segala kegiatan. Bak artis yang ingin selalu diperhatikan penggemarnya. Waktu pun dibuang untuk berselancar di dunia maya. Seolah melupakan waktu untuk kegiatan yang lebih menggali ilmu pengetahuan. Cita-cita yang terbangun pun dapat menjadi viral dan artis di dunia maya. Atau lebih parahnya kita menjadi komentator untuk persoalan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.

Kegiatan menjadi komentator ini memudahkan kita terbawa arus dan kurang mengontrol kometar. Bahkan, sering kali kita memberikan komentar suatu persoalan remeh temeh. Apalagi disokong dengan menjadi komentator yang miskin bacaan. Alhasil, komentar yang terlontar di media sosial kebanyakan bukan komentar yang berbobot. Hanya sekedar komentar yang ditulis dari kefanatikan. Tidak heran bila kemudian komentar hanya seputar memuji atau mencela. Kadang mencaci, saling menghujat dan menuding.

Tentu bila komentar masih seputar itu, akan berdampak pada daya nalar. Bila kita masih menjadi komentator yang miskin bacaan, tentu mudah tergiring dengan opini orang lain. Lebih dikhawatirkan lagi menjadi partisipan yang dimanfaatkan oleh kaum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan mengkritisi pemikiran orang lain. Tidak hanya menuangkan komentar yang tidak berbobot.

Penting bagi kita untuk kembali berkaca diri dalam memanfaatkan teknologi. Dengan media sosial kita memang dimudahkan untuk dapat berkenalan dengan seluruh manusia di bumi. Ini dapat dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Mengenai persoalan politik, budaya atau lainnya. Bukan hanya curahan hati ungkapan kekesalan atau kesenangan. Kemudian batasi pemakaian media sosial dan manfaatkan waktu senggang.

Boleh jadi kita dapat menggugat diri sendiri, untuk menggunakan waktu senggang dengan lebih banyak membaca. Membaca membuat kita memahami pelbagai hal. Selain itu, segala perubahan dapat kita ikuti bila kita terus membaca. Laiknya Manusia memiliki otak yang setiap harinya harus diperbaharui pengetahuannya. Untuk itulah membaca menjadi perlu dan penting. (*)

*) Ayu Rahayu: Mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

 

 

Continue Reading

Kolom

Bahasa di Tangan Komentator Bola

mm

Published

on

Pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi selalu menyisakan keseruan yang menarik dibahas. Salah satunya adalah lontaran sang komentator. Komentator yang biasanya ditemani pemandu acara hadir di studio untuk memberikan ulasannya seputar pertandingan yang baru berlangsung. Komentar-komentar tersebut bisa juga disiarkan usai pertandingan berakhir. Kemunculan komentator bola kian meramaikan kompetisi di lapangan. Penonton di rumah pun pasti menantikan celoteh-celoteh yang lahir dari mulut komentator.

Publik yang menyenangi tayangan liga sepak bola tentu ingat dengan salah satu kata yang meluncur dari komentator bola, yakni kata jebret. Kata tersebut menjadi fenomenal dan melekat di telinga para pemirsa yang setia menyaksikan tayangan perlombaan antar tim sepak bola. Jebret pun seolah masuk dalam daftar kosakata baru.

Valentino Simanjutak, adalah pria yang secara spontan meneriakkan kata tersebut saat timnas U-19 bertarung melawan timnas Vietnam pada 22 September 2013. Kala itu, pria jebolan abang-none DKI Jakarta tersebut belum menjadi komentator, ia bertugas sebagai pembawa acara. Komentator yang berpasangan dengannya kala itu adalah Abdul Harris.

Kata jebret keluar saat Valentino memerhatikan pergerakan bola yang dibawa pemain Indonesia mengarah ke gawang Vietnam yang dijaga Le van Truong. Jagad media sosial pun langsung penuh dengan tagar jebret saat itu. Kata jebret kian menghiasi percakapan sehari-hari. Masyarakat menjadi akrab dengan kata hasil eksplorasi Valentino itu.

Seiring waktu, Valentino pun didapuk menjadi komentator bola. Ia tidak henti-hentinya menciptakan istilah-istilah baru untuk merujuk makna tertentu. Ia tidak bosan-bosannya menyegarkan pertandingan sepak bola lewat ujaran-ujaran komentar, yang kebanyakan justru membikin pemirsa yang mendengarnya terpingkal. Pembawaannya selama mengampu acara bola meninggalkan jejak baru dalam dunia kebahasaan.

Valentino mungkin tidak merencanakan kata-kata unik yang ia pakai untuk menyebut gerakan tertentu dalam pertandingan bola yang ia komentari. Pasalnya, perputaran bola di kaki pemain tidak bisa ditebak. Perpindahan bola dari satu posisi ke posisi lain sangat cepat. Tentu butuh kejelian dari komentator untuk mengamati setiap detil kejadian dalam pertandingan. Inilah yang membuat Valentino refleks mengeluarkan komentar unik.

Kamus Sepak Bola

Keunikan komentar bola tidak berhenti di jebret saja. Penggemar bola pasti familiar dengan kata-kata berikut; tendangan LDR, tendangan SLJJ, umpan manja, rumah tangga, umpan antar benua, umpan membelah lautan, Messi kelok 9, harmonisasi rumah tangga, gerakan 362, blusukan, peluang 24 karat, tendangan depresi, umpan membelai, aksi tipu daya, gocek keliling dunia, tendangan PHP, tendangan menepati janji, membuat retak hati, gerakan 378, bon jovi, menjaga koordinasi keutuhan rumah tangga, umpan cuek, umpan mubazir, gratifikasi umpan, umpan tega, dan gelandang penimba sumur. Pertandingan bola yang menegangkan berubah kendur dan kaya humor setelah mendengarkan komentar semacam itu. Penonton dibikin berkerut sekali menahan tawa ketika memikirkan arti dari komentar unik kreasi para komentator.

Kata yang digunakan para komentator sebagai perumpamaan gerakan para pemain adalah buah dari proses skema. Skema menurut Chaplin (1981) merupakan kumpulan ide yang tertata rapi dalam sebuah peta kognitif. Manusia menempatkan skema sebagai model. Peristiwa yang dialami manusia diolah untuk dijadikan acuan dalam melihat kejadian serupa pada lain kesempatan. Sebab skema merupakan kerangka dasar yang mengandung respon yang pernah disampaikan. Respon tersebut dirancang sebagai landasan dalam memberikan standar bagi respon selanjutnya. Chaplin menjabarkan definisi skema dalam Dictionary of Psychology.

Proses skema berlangsung ketika komentator bola menghubungkan konsep hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) yang pernah ia dapatkan untuk mengibaratkan tendangan jarak jauh. Maka tercetuslah ungkapan tendangan LDR. Skema terancang karena adanya asosiasi yang terjadi. Kata unik yang diteriakan oleh komentator bola merepresentasikan pengalaman yang dipunyai.

Skema juga mempengaruhi penangkapan pesan yang disampaikan. Apabila pemirsa tidak memiliki latar pengalaman yang sejalan dengan yang dianut komentator bola, maka kata-kata unik tersebut sulit dipahami. Rekayasa dibutuhkan untuk mengecoh skema lama yang dipegang penonton. Tujuannya adalah memasukkan skema baru sesuai dengan yang diinginkan komentator. Ini bisa dilakukan lewat penjabaran setelah kata-kata unik terpekikan. Pemandu acara yang mendampingi juga bisa mengarahkan pertanyaan ke komentator untuk mengorek jawaban atas makna dari kata-kata baru yang unik buah kreasi.

Kamus bola perlu disusun supaya skema antara penonton dan komentator tidak saling tumpang tindih. Penonton yang minim pengalaman hanya akan merasakan hambarnya pertandingan bola karena terbebani dengan meraba-raba mencari definisi kata unik. Masing-masing pihak sebaiknya saling memperkaya skema supaya komunikasi terjalin dua arah. Skema yang kurang menjadi penghalang dalam membaca pemahaman.

Keraf menyebutkan, usaha untuk menemukan makna yang sesuai dengan konteks dari ujaran membutuhkan komunikasi. Tuturan kehilangan maknanya tatkala para pembaca atau pendengarnya tidak mampu menerjemahkan maksud yang ada. Makna dianggap penting sebab ia merupakan arti yang melekat pada sebuah kata. Interaksi antara kata dengan makna leksem lain dalam sebuah aturan memunculkan makna itu sendiri. Penjabaran ini memuat deskripsi yang bisa dipergunakan untuk mengkaji kata-kata unik komentar bola.

Kata dan bahasa yang dipilih komentator bola melibatkan emosi penonton. Rasa yang terbangun dibiarkan terus hidup supaya pertandingan tidak monoton. Kata unik yang melejit berkat komentator bola harus ditinjau dari makna konotatif, bukan makna denotatif. Landasan utama makna konotatif adalah perasaan atau pikiran yang tercipta atau diciptakan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Selanjutnya dimanfaatkan sebagai pijakan untuk memaknai kata. Rasa yang tersemat dalam kata unik menjadi syarat kata tersebut digolongkan makna konotatif. Makna konotatif mengandung tambahan makna. Dengan demikian, makna yang sebenarnya tertutupi.

Makna kiasan dan majas turut melengkapi pemaknaan komentar dari komentator bola. Pergeseran dan perbedaan makna tak terhindarkan dari ujaran komentator bola. Metafora melingkupi setiap ujaran yang disampaikan komentator bola. Metafora membantu komentator mengkomparasi hal yang ingin dikatakan dengan objek lain. Metafora adalah cara untuk mengutarakan pesan secara terselubung dengan membandingkan topik abstrak dengan hal yang konkret. Komentator bola menyebut pemain jangkar atau gelandang bertahan dengan frasa gelandang penimba sumur. Penautan ini mempertimbangkan dengan analogi yang seimbang menurut komentator.

Kata-kata unik yang dipakai komentator bola turut menerapkan disfemia. Komentator bola mengubah kata yang bermakna biasa dengan kata yang bermakna kasar. Disfemia yang dilakukan komentator bola diklasifikasi dalam kata, frasa, dan ungkapan. Masing-masing merupakan bentuk satuan gramatik. Komentator bola memainkan nilai rasa dari sebuah makna kata. Disfemia terbentuk akibat membuncahnya rasa kecewa, frustasi, kesal, dan tidak suka yang diluapkan melalui kata-kata. Pangkal dari semua itu bisa ditelusuri dari konteks kejadian atau kalimat yang mendahului. (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Classic Prose

Trending