Connect with us

Editor's Choice

Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez percaya bahwa pertemuan yang paling singkat sekali pun mempunyai daya untuk mengubah kita. Hidup di Paris pada akhir 1950an, dia mendapati Ernest Hemingway Boule Miche dan tanpa berpikir panjang dia berseru “Emming-way!”. Orang Amerika itu tidak menoleh, hanya mengangkat tangannya. Akan tetapi penulis muda Kolombia itu menginterpretasikan gestur tesebut sebagai sebuah berkat, sebuah persetujuan untuk melangkah terus dan pada akhirnya memberikan kita novel-novel paling berjaya di abad lalu.

Salah satu tema karya Marquez adalah cinta pada pandangan pertama: “Cinta adalah subjek yang paling penting dalam sejarah manusia. Sebagian mengatakan kematian. Aku kira bukan itu, karena semuanya terhubung dengan cinta.” Meskipun terhadap kisah romantisnya sendiri dia memilih membisu. Dia mengatakan kepada penulis biografinya Gerald Martin “dengan ekspresi bagaikan seseorang yang dengan seriusnya menutup rapat peti mati dia mengatakan “setiap orang mempunyai tiga kehdupan: kehidupan publik, kehidupan pribadi, dan kehidupan rahasia.” Saat Martin bertanya apakah Marquez akan memberinya akses pada dua kehidupan lainnya, dia menjawab: “Tidak, tak akan pernah.” Bilamana kehidupan rahasianya dapat ditemukan, dia mengisyaratkan, mereka berada di dalam buku-bukunya.

Inilah mengapa pertemuan singkat yang tergambar dalam koleksinya Strange Pilgrims layak ditilik kembali. Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” tentang sebuah pertemuan di Paris antara sang penulis dengan seorang perempuan Amerika Latin yang pada penghujung hari menjelma menjadi inspirasinya. Dimulai dengan deskripsi tak terlupakan berikut:

“Dia seorang yang cantik dan luwes dengan kulit indah sewarna roti dan bermata hijau serupa almon, dan dia memiliki rambut hitam lurus hingga mencapai bahu, dan sebuah aura antik yang mungkin saja berasal dari Indonesia atau dari Andean. Dia berpakaian dengan gaya yang halus: sebuah jaket lynx, blus sutra kasar dengan bunga-bunga indah, celana linen alami, dan sepatu dengan segaris berwarna bogenvil. Aku berpikir, ‘Ini adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui, ’ketika aku melihatnya berlalu dengan langkah hati-hati serupa seekor singa betina selagi kumenunggu di antrian check-in bandara Charles de Gaulle di Paris untuk penerbangan ke New York.”

Saya ingat membaca paragraf ini di tahun 1992 ketika bukunya diterbitkan dan saya diterpa pikiran yang mungkin sama dengan banyak orang lainnya, bahwa saya pun tak akan keberatan bertemu dengan kessempurnaan ini. Diluar dari yang lainnya, dia adalah penjelmaan dari setiap pahlawan wanita Marquez, tipe yang independen, tajam, namun sebenarnya perempuan tak berdosa yang kita temukan menyelinap dalam setiap karya fiksinya, bahkan dalam lembar-lembar novel terakhirnya Memories of My Melancholy Whores.

Lalu, pada musim panas tak lama setelah kematian Marquez, saya menerima sebuah surel dari seorang wanita yang tinggal di London. Dia tahu bahwa saya penggemar Marquez- dia telah membaca catatan pembuka yang saya tulis untuk Love in the Time of Cholera. Dia ingin menceritakan kepada saya tentang satu hari yang dia habiskan bersama sang pengarang dari Kolombia itu pada tahun 1990 di bandara Charles de Gaulle: Pengalaman yang dia percaya telah mengilhami kisahnya “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”.

Pada musim semi tahun 1990, Marquez yang berusia 63 tahun kembali ke Paris setelah lama menghilang. Dia telah mengerjakan kumpulan cerita pendek yang berlatar di Eropa sejak tahun 1976 tentang hal-hal aneh yang menimpa orang-orang Amerika Latin disana-yang menjadi satu-satunya buku karangannya yang tidak berlatar Amerika Latin.

Ide ini bermula dari sebuah mimpi yang ia dapatkan di Barcelona pada tahun 1970an dimana dia menghadiri pemakamannya sendiri.

Itu adalah kesempatan yang indah, dia menghabiskan waktu dengan teman-teman yang tidak pernah dia temui selama 15 tahun, tetapi saat semuanya hendak beranjak pergi, dia diberitahu bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang tidak boleh pergi.

Kisah ini mengeksplorasi tema penting lain dari karya-karya fiksi Marquez-yang liyan dalam diri kita sendiri- dan dia bermaksud menjadikannya bagian ketiga dari Strange Pilgrims. Dalam setiap kesempatan, dia tak pernah menulisnya, dan tempatnya akan digantikan dengan “Putri Tidur dan Pesawat Terbang.”

Marquez menorehkan mimpi di Barcelona dan beberapa ide lainnya dalam buku catatan anak-anaknya selama masa 1976 sampai dengan tahun 1982, saat dia berjanji untuk tidak menerbitkan apapun sebelum Pinochet jatuh dari kekuasaan, dan kini setelah sekian lama bermain-main dan menderita karena “keraguan selama sebelas tahun…Aku ingin memverifikasi ketepatan dari ingatanku setelah 20 tahun dan aku melakukan perjalanan singkat untuk membiasakan lagi diriku dengan Barcelona, Jenewa, Roma, dan Paris.”

Pada penghujung perjalanan itu di awal Oktober 1990, dia sedang menunggu di bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke New York ketika seorang perempuan Brazil yang menggairahkan berusia 26 tahun duduk di sebelahnya.

Silvana de Faria photographed at home in London/ Rick Pushinsky/ Newsweek

Bertemu Sang Putri Tidur

Perempuan yang datang terlambat hari ini di sebuah kafe di gerbang Notting Hale adalah seorang nenek berusia 50 tahun yang tinggal di London. Dari dalam tas tangannya Silvana de Faria mengeluarkan sebuah paspor dan gambar-gambar dirinya di majalah-majalah Prancis, sepenuhnya menyanjungkan deskripsi kecantikan dirinya. Dia mengatakan “Pada saat itu aku seorang aktris”, “Aku adalah ratu kejanggalan, dan salah satunya saat bersama dia.”

De Faria saat itu hidup tak bahagia di dekat Paris dengan seorang sutradara film Prancis, Gilles Behat yang dengannya dia mempunya seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Behat ternyata menyadari bahwa De Faria sangat tidak bahagia sehingga dia membiayai kedua orangtuanya untuk datang berkunjung dari Belem.  Pukul 9 pagi perempuan itu tiba di bandara untuk menunggu penerbangan dari Brazil.

Saat itu bulan terasa dingin pada pagi di bulan Oktober dan perempuan itu telah kehilangan berat badan paska kehamilannya. “Aku sangat kurus saat itu- 126 pon-dan aku khawatir dengan caraku berpakaian. Ibuku selalu mengkritikku karena bergaya terlalu provokatif… Itulah mengapa aku mengingat apa yang aku kenakan hari itu. Aku mengenakan sebuah jaket kulit, sebuah blus Kenzo berbunga-bunga, celana linen yang pucat, dan sepatu Kenzo berwarna merah dengan hak tipis-beberapa waktu kemudian aku memberikan semuanya ke lembaga amal Oxfam.

Tidak seperti biasanya, saat itu De Faria datang tepat waktu.  Dia berkata, “Aku berlari dan pergi menuju loket Air France untuk menanyakan penerbangannya.” Sebagaimana di dalam cerita, penerbangannya mengalami penundaan disebabkan cuaca buruk.

“Sekarang aku bisa santai. Baru kemudian aku sadar bandara itu penuh dengan manusia. Banyak yang tidur di atas lantai. Tidak ada tempat duduk dimana-mana- hanya ada satu dan aku duduk di atasnya. Aku bersyukur, aku menemukan satu-satunya tempat duduk di bandara!”.

Saat itulah perempuan itu menyadari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya, berusia sekitar 60 tahun, penampilannya menarik, elegan dalam balutan jaket wol, dengan rambut dan kumis yang tersisir rapi.

“Laki-laki itu berkata, ‘Hallo’. Dia memiliki senyum yang sangat indah. Aku terobsesi dengan gigi. Hal pertama yang aku lihat adalah giginya. Giginya putih dan sempurna. Aku dapat mencium nafasnya yang segar karena tempat duduk kami berdekatan.”

“’Hai,’ Aku menjawab.

“Dia melihat ke arahku, mempesona, malu-malu, dan menggoda. ‘Apa kau menunggu untuk perjalanan?’ dia bertanya dalam bahasa Prancis.

“‘Tidak, aku sedang menunggu orangtuaku.’

“‘Darimana kau berasal?’

“‘Acre di Brazil.

“‘Apakah itu dekat dengan Andes?’

“‘Tidak, itu di Amazon.’

“Dia sangat tersentuh bertemu dengan seorang asli Amerika Latin di Paris, yang lahir di hutan Amazon. Aku mengatakan: ‘Jika kau lahir di hutan, kau dapat bertahan dimanapun. Hidup di kota modern hanyalah jenis lain dari hutan.’ Lalu aku berkata: ‘Dan kau, apakah kau akan melakukan perjalanan atau kau sedang menunggu seseorang?’

“Dia tidak menjawab dan aku menghargai itu. Aku berpikir: Dia orang yang privat.

Bagaimanapun, perempuan itu memintanya untuk menjaga tasnya sementara dia membeli air mineral. “Saat aku kembali, aku menenggak sebuah pil, dan aku berkelakar bahwa aku seperti Elvis Presley dan aku menunjukkan pil-pilku, berkata betapa indah dan berwarnanya mereka adalah….. Pil untuk tidur, pil untuk terjaga, pil penghilang berat badan, pil untuk menaikkan berat badan, pil untuk bercinta, pil agar buang air besar, pil agar tidak buang air besar.

Dia tersenyum, “‘Mengapa begitu banyak?’

“Aku menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan mobil dimana aku hampir terbunuh, dan bagaimana dokterku memberikan obat-obatan untuk ‘menenangkanku’ dan bagaimana aku menjadi kecanduan, tapi aku hendak berhenti meminum pil-pilku karena orangtuaku datang untuk tinggal bersamaku. Lalu dia bertanya kenapa aku tinggal di Paris. Aku menjawab, ‘Kami orang Amerika Latin hanya bisa tinggal di Prancis ketika kami jatuh cinta.’

“‘Jatuh cinta pada Prancis?’

“Bukan, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya itulah satu-satunya cinta yang ada.’ Inilah yang dia tulis di dalam cerita! Dia menghisap kata-kataku. [Di dalam cerita Marquez bertanya kepada petugas check-in “apakah dia percaya pada cinta pada pandangan pertama.”] Saat aku membacanya, aku bergidik. ‘Kau tidak orisinil. Kau sama saja dengan semua penulis. Kau adalah seorang vampir!’

“Dia menanyakan apa pekerjaanku. Aku sadar bahwa dia memandangi rambutku, wajahku, tangan-tangan, dan tubuhku. Kukira dia akan mencoba membawaku makan malam dan ke tempat tidur. Aku sangat mencurigai laki-laki. Kau minum kopi bersama, lalu mereka berkata bahwa dia jatuh cinta padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku jika kita hanya sebatas meminum kopi?

“Aku katakan padanya: Kau pikir hanya karena aku seorang Brazil, aku adalah seorang pelacur di Bois de Bologne’- Aku paranoid tentang hal semacam ini karena pada waktu itu seseorang dari Brazil yang tinggal di Paris tidak mungkin seorang pelajar.

“‘Aku tidak mengatakan begitu!’

“Tapi kau memikirkannya. Aku bisa membaca pikiranmu.’“

Perempuan itu mengatakan padanya bahwa dia seorang aktris dan penyanyi, dan dia merasa dilema karena tidak menginginkan keduanya. “Aku ingin menjadi pelajar, tapi aku menemukan diriku di tengah-tengan bisnis pertunjukkan. Sesungguhnya aku tidak bisa bernyanyi, tapi orang-orang mengatakan aku bisa. Mereka berpikir aku aktris yang baik. Tapi aku bukan.”

Dia bertanya apakah perempuan itu mengenal Ruy Guerra, seorang sutradara Brazil.

Perempuan itu menjawab: “Aku baru saja menonton filmnya yang diambil dari cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. “Judulnya The Beautiful Pigeon Fancier, salah satu dari tiga film dari karya Marquez. “Aku satu-satunya orang di ruangan bioskop saat itu, sangat mengejutkan, di dalam sebuah ruangan di Champs Elysees pukul 2 sore dan aku membencinya.’

“Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan terlihat sedikit tidak nyaman, dan aku tak tahu mengapa. Aku berkata: ‘Lihatlah, filmnya dibuat di Paraty, sebuah tempat yang aku kenal. Lagipula, tidak mungkin untuk mengadaptasi karya Gabriel Garicia Marquez ke dalam sebuah film. Itu akan membutuhkan kejeniusan lain. Maaf jika kau tidak setuju denganku.’ “

Ketertarikannya pada De Faria meningkat dengan cepat. Perempuan itu berkata: “Awalnya aku mengira dia berpikir bahwa aku gila. Lalu dia ingin tahu darimana aku berasal, tentang keluargaku, dan aku menceritakan semua omong kosong yang ingin dia dengar.”

Silvana yang Sesungguhnya

Di dalam cerita Marquez tidak ada percakapan antara dirinya dan perempuan muda berciri khas Andean kuno itu, yang berpakaian bergaya Jepang dan tentang obat-obatan yang dia minum untuk membuatnya tertidur, dan yang ternyata akan menduduki kursi disebelahnya dalam delapan jam penerbangan sebelum perempuan itu menghilang di belantara New York.

Namun, dalam dimensi lain Marquez tahu semuanya tentang perempuan itu karena sebelum penerbangannya dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore mereka berbicara tanpa henti, “tetap menjaga kontak mata”, perempuan itu mengatakan, “yang mana penting bagiku.” Dan apa yang Silvana de Faria ungkapkan padanya selama itu, tanpa menyadari identitas sang pengarang hingga saat-saat terakhir adalah sebuah jaring yang memaksanya menulis tentang perempuan itu.

“Kupikir alasan mengapa dia dan aku menjadi banyak berbicara dan menjadi ‘dekat’ hari itu karena aku memberikan semua yang dia inginkan. Aku menjawab semua pertanyaan. Tanpa batasan.’

Perempuan itu lahir di Rio Branco, Acre, dia anak bungsu dari 10 bersaudara. Keluarga dari kedua orangtuanya berprofesi sebagai penanam karet. “Mereka menjadi kaya, kaya hingga mati. Pakaian mereka dicuci di Eropa karena sungainya terlalu gelap.”

Impiannya sejak berusia 7 tahun adalah pergi ke Paris. “Aku sadar satu-satunya jalan menuju Paris adalah melalui udara. Aku belajar tentang hukum di Belem dan kemudian mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di Varig, sebuah kantor penerbangan. Di penghujung tahun aku dapat membeli tiket seharga 10 persen dari harga aslinya. Lalu suatu hari aku mendapat telepon, ‘Aku adalah sekretarisnya John Boorman.’

“Siapa dia?”

“‘Dia seorang sutradara film yang sangat terkenal. Asistennya datang untuk membeli tiket padamu. Dia sedang mencari perempuan dengan wajah sepertimu.’ Dia sedang melakukan pengambilan gambar The Emerald Forest. Tapi pada hari terakhir dia berubah pikiran dan mengambil gadis lain, dan aku membenci gadis ini hingga akhir hidupku, hingga aku mempunyai oksigen. Aku tidak ingin menjadi aktris. Aku mengiginkan uang. Aku menangis.

“John Boorman mengatakan: Kenapa kau menginginkan peran ini?’ ‘Karena aku ingin pergi ke Paris.’ ‘Mengapa?’ ‘Untuk belajar.’ ‘Baiklah, aku akan memberikanmu peran kecil di film ini.’ Aku berada di dalam film itu selama sekejap saja, seorang ibu tulen dengan bayinya. Pada 11 Juli 1984 filmnya selesai. Pada 14 Juli 1984 hari dimana revolusi Prancis terjadi aku menginjakkan kakiku di Paris, Vive la revolution!”

Mendapatkan kursi di Sorborne untuk belajar sejarah De Faria menjadi model untuk membiayai hidupnya. Suatu hari dia ditemukan oleh pencari bakat untuk Yves Saint Laurent-dia mempunyai tampilan yang pas untuk penjualan ke Jepang. Apakah dia bisa bernyanyi? “Seperti panci penekan,” perempuan itu menjawab. Dia diundang untuk mengikuti audisi dengan ratusan orang lainnya. “Aku berhasil! Tapi aku bukan seorang penyanyi! Aku melakukan rekaman untuk Coeur Bongo. Kau bisa menontonnya di Youtube.” Direkam pada tahun 1988, Couer Bongo menampilkan De Faria sebagai singa betina kecil dalam cerita Marquez. Dia menandatangani kontrak untuk membuat lima album pop, dilatih untuk berakting, dan berhenti kuliah.

“Aku tidak pernah lulus dari Sorbornne. Itu adalah hal yang menyakitkan dalam hidupku.”

Ditambah dia bertemu Giles Behat. Sutradara film itu mendatangi mobil manajernya dimana dia duduk untuk mendengarkan sebuah soundtrack. “Kami memandang satu sama lain dan kami jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama!”

Hubungan mereka dipenuhi dengan kekerasan dan gairah. “Kami bertengkar parah karena cemburu.” Setelah dua tahun mereka pindah ke rumah yang lebih besar di Richarville sekitar 25 mil dari Paris dengan 12 anjing dan seekor burung beo karena De Faria merindukan Amazon. “Dia memberiku seekor burung beo dan menamainya-Antoine. Teman-temanku mengatakan: ‘Burung beo bukanlah Amazon, beo itu adalah kau. Kau tinggal di dalam sangkar.’ Itulah saat aku mulai bermain dengan obat-obatan.”

Perempuan itu menceritakan semua hal ini kepada Marquez.

Cinta pada Pandangan Pertama

“Setelah satu atau dua jam terasa seperti kami berada di sekolah dasar bersama, mencampurkan Portugis dengan Prancis dan Spanyol. Kami bercengkrama, membuat lelucon, tertawa. Saat itu aku tidak melihat seorang laki-laki tua.”

Bagi Marquez ini terlihat dalam tulisannya kemudian-“dalam delapan bulan yang menggetarkan…untuk menyelesaikan satu volume cerita yang paling mendekati dengan apa yang paling ingin kutulis”-dia melihat, seperti yang ditulisnya, “perempuan tercantik yang pernah kutemui’.

De Faria mengatakan, “Aku terkejut dan aku masih terus terkejut bahwa aku dapat mengingat percakapan kami.”

Cinta pada pandangan pertama, gairah, dan kebetulan-kebetulan, bioskop, nilai-nilai keluarga, Paris, bahkan zodiak-dalam tujuh jam, itu menjangkau seluruhnya. “Aku katakan padanya aku berbintang Leo dengan pengaruh Taurus. Itulah mengapa aku cukup kuat untuk berjuang hidup di Paris. Dia mengatakan terkadang dia berharap bahwa dia berbintang Taurus. Dan dia mengatakan itu di dalam ceritanya!” [“Sial,” Aku katakan pada diriku sendiri dengan penuh kehinaan. “Kenapa aku tak terlahir Taurus?”] Dia sendiri berbintang Pisces. “Aku mengatakan Pisces selalu bermimpi, selalu dalam suasana imaginasi, selalu berenang-dan aku membuat mulut menyerupai ikan yang membuatnya tertawa.”

Saat itu pukul 4 sore, “Aku merasa khawatir dengan penerbangan orangtuaku. Bagaimana jika pesawatnya menghilang? Kami mulai berbicara tentang kematian, tentang orang-orang yang sudah mati.

“Dia bertanya: ‘Apa yang kau pikirkan akan terjadi ketika kau mati?’

“‘Aku akan menjadi hantu, bebas, dan aku akan datang dan menakutimu. Tapi kenapa sejak awal kau hanya bertanya tentangku?’

“Dia mengatakan: ‘Apa yang kau pikirkan tentangku, dan kenapa aku bepergian?’

“‘Setahuku kau tengah berjalan-jalan ditubuhku, tapi aku tidak tahu dimana kau akan berhenti.’ Dia tertawa: ‘Aku terkejut dengan ketulusan yang datang dari mulutmu!’

Aku mengatakan, “Setidaknya aku tidak takut pada kata-kata’

“‘Aku seorang jurnalis.’

“‘Surat kabar yang mana?’

“‘Aku tidak bekerja untuk surat kabar.’“

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: ‘Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?’

“’Bagaimana gambarnya?’

“’ Laki-laki! Kalian semua sama. Semuanya adalah kesombongan.’

“Aku merasa malu dan sedih dan terkhianati. Aku sadar itulah mengapa dia tidak ingin berbicara tentang dirinya-karena dia tidak mengatakan satu patah kata pun, bahkan ketika kami berbicara tentang Ruy Guerra dan filmnya. Dia tidak mengatakan, ‘Aku menulis cerita dan naskahnya.’ Aku merasa bingung dan ingin pergi.

Pesawatnya telah mendarat, orangtuaku tiba. ‘Aku harus pergi.’ Tetapi dia menangkap lenganku dengan kuat dan menghentikanku. Dia meminta Filofax ku dan menulis di dalamnya.

“’Untukmu, aku Gabo. Ini alamat dan telepon, dan fax ku.’”

Perempuan itu memancing sebuah lembaran dari dalam tasnya dan disana dalam tinta merah: GABO. MEX. Fax 5686043 Tel 5682947. Ap Postal 20736. Mexico, 01000

“Dia mengatakan: “Kirimi aku surat,’ sambil melihat langsung kemataku.

“’Aku harus pergi!’

“Kau akan mengirimkannya kan?” Kemudian berkata: ‘Aku bahkan tak tahu siapa namamu!’

“’Apakah kau memberi tahu namamu? Kita menghabiskan sepanjang waktu ini bersama, kita kenal satu sama lain-dan kita tidak tahu nama masing-masing.’ Dan aku pergi.”

Setelah itu, De Faria mengatakan, dia langsung melupakannya. “Aku kehilangan kepercayaan dalam cara tertentu. Aku tidak pernah membaca bukunya lagi. Aku tidak pernah berhasrat untuk menelponnya atau menyuratinya.

“Lalu ketika dia meninggal, Aku menemukan cerita tentang bandara ini.”

“Dan saat kau membacanya?”, aku bertanya.

“Aku merasakan intonasi dan suaranya. Aku mempunyai perasaan bahwa dia melihat ke arahku, menatap. Aku merasakannya untuk beberapa menit, dia memberiku sebuah pesan.” (*)


Diterjemahkan oleh Marlina Sopiana, dieditori Sabiq Carebesth dari “Gabriel García Márquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself” By Nicholas Shakespeare. Pertama kali tayang di laman newseek.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Classic Prose

Trending