Connect with us

Tabloids

Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya

mm

Published

on

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: “Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?”

Gabriel Garcia Marquez percaya bahwa pertemuan yang paling singkat sekali pun mempunyai daya untuk mengubah kita. Hidup di Paris pada akhir 1950an, dia mendapati Ernest Hemingway dan tanpa berpikir panjang dia berseru “Emming-way!”. Orang Amerika itu tidak menoleh, hanya mengangkat tangannya. Akan tetapi penulis muda Kolombia itu menginterpretasikan gestur tesebut sebagai sebuah berkat, sebuah persetujuan untuk melangkah terus, dan pada akhirnya Gabo memberikan kita novel-novel paling berjaya yang akan terus demikian untuk berabad ke depan.

Salah satu tema karya Marquez adalah cinta pada pandangan pertama: “Cinta adalah subjek yang paling penting dalam sejarah manusia. Sebagian mengatakan kematian. Aku kira bukan itu, karena semuanya terhubung dengan cinta.” Meski demikian, Gabo terhadap kisah romantisnya sendiri dia memilih membisu.

Dia mengatakan kepada penulis biografinya Gerald Martin “dengan ekspresi bagaikan seseorang yang dengan seriusnya menutup rapat peti mati dia mengatakan “setiap orang mempunyai tiga kehdupan: kehidupan publik, kehidupan pribadi, dan kehidupan rahasia.” Saat Martin bertanya apakah Marquez akan memberinya akses pada dua kehidupan lainnya, dia menjawab: “Tidak, tak akan pernah.” Bilamana kehidupan rahasianya dapat ditemukan, dia mengisyaratkan, mereka berada di dalam buku-bukunya.

Inilah mengapa pertemuan singkat yang tergambar dalam koleksinya Strange Pilgrims layak ditilik kembali. Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”—tentang sebuah pertemuan di Paris antara sang penulis dengan seorang perempuan Amerika Latin yang pada penghujung hari menjelma menjadi inspirasinya.

Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” dimulai dengan deskripsi tak terlupakan berikut: “Dia seorang yang cantik dan luwes dengan kulit indah sewarna roti dan bermata hijau serupa almon, dan dia memiliki rambut hitam lurus hingga mencapai bahu, dan sebuah aura antik yang mungkin saja berasal dari Indonesia atau dari Andean. Dia berpakaian dengan gaya yang halus: sebuah jaket lynx, blus sutra kasar dengan bunga-bunga indah, celana linen alami, dan sepatu dengan segaris berwarna bogenvil. Aku berpikir, ‘Ini adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui, ’ketika aku melihatnya berlalu dengan langkah hati-hati serupa seekor singa betina selagi kumenunggu di antrian check-in bandara Charles de Gaulle di Paris untuk penerbangan ke New York.”

Saya ingat membaca paragraf ini di tahun 1992 ketika bukunya diterbitkan dan saya diterpa pikiran yang mungkin sama dengan banyak orang lainnya, bahwa saya pun tak akan keberatan bertemu dengan kessempurnaan ini. Diluar dari yang lainnya, dia adalah penjelmaan dari setiap pahlawan wanita Marquez, tipe yang independen, tajam, namun sebenarnya perempuan tak berdosa yang kita temukan menyelinap dalam setiap karya fiksinya, bahkan dalam lembar-lembar novel terakhirnya Memories of My Melancholy Whores.

Lalu, pada musim panas tak lama setelah kematian Marquez, saya menerima sebuah surel dari seorang wanita yang tinggal di London. Dia tahu bahwa saya penggemar Marquez—dia telah membaca catatan pembuka yang saya tulis untuk Love in the Time of Cholera. Dia ingin menceritakan kepada saya tentang satu hari yang dia habiskan bersama sang pengarang dari Kolombia itu pada tahun 1990 di bandara Charles de Gaulle: Pengalaman yang dia percaya telah mengilhami “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”.

Pada musim semi tahun 1990, Marquez yang berusia 63 tahun kembali ke Paris setelah lama menghilang. Dia telah mengerjakan kumpulan cerita pendek yang berlatar di Eropa sejak tahun 1976 tentang hal-hal aneh yang menimpa orang-orang Amerika Latin disana—yang menjadi satu-satunya buku karangannya yang tidak berlatar Amerika Latin. Ide ini bermula dari sebuah mimpi yang ia dapatkan di Barcelona pada tahun 1970an dimana dia menghadiri pemakamannya sendiri.

Itu adalah kesempatan yang indah, dia menghabiskan waktu dengan teman-teman yang tidak pernah dia temui selama 15 tahun, tetapi saat semuanya hendak beranjak pergi, dia diberitahu bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang tidak boleh pergi.Kisah ini mengeksplorasi tema penting lain dari karya-karya fiksi Marquez-yang liyan dalam diri kita sendiri—dan dia bermaksud menjadikannya bagian ketiga dari Strange Pilgrims. Dalam setiap kesempatan, dia tak pernah menulisnya, dan tempatnya akan digantikan dengan “Putri Tidur dan Pesawat Terbang.”

Marquez menorehkan mimpi di Barcelona dan beberapa ide lainnya dalam buku catatan anak-anaknya selama masa 1976 sampai dengan tahun 1982, saat dia berjanji untuk tidak menerbitkan apapun sebelum Pinochet jatuh dari kekuasaan, dan kini setelah sekian lama bermain-main dan menderita karena “keraguan selama sebelas tahun… Aku ingin memverifikasi ketepatan dari ingatanku setelah 20 tahun dan aku melakukan perjalanan singkat untuk membiasakan lagi diriku dengan Barcelona, Jenewa, Roma, dan Paris.”

Pada penghujung perjalanan itu, di awal Oktober 1990, dia sedang menunggu di bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke New York ketika seorang perempuan Brazil yang menggairahkan berusia 26 tahun duduk di sebelahnya.

Bertemu Sang Putri Tidur

Hari itu akhirnya terjadi, di sebuah kafe di gerbang Notting Hale, perempuan yang datang terlambat ini adalah seorang nenek berusia 50 tahun yang tinggal di London, Silvana de Faria. Dari dalam tas tangannya Silvana de Faria mengeluarkan sebuah paspor dan gambar-gambar dirinya di majalah-majalah Prancis, sepenuhnya menyanjungkan deskripsi kecantikan dirinya. Dia mengatakan “Pada saat itu aku seorang aktris”, “Aku adalah ratu kejanggalan, dan salah satunya saat bersama dia.”

De Faria saat itu hidup tak bahagia di dekat Paris dengan seorang sutradara film Prancis, Gilles Behat yang dengannya dia mempunya seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Behat ternyata menyadari bahwa De Faria sangat tidak bahagia sehingga dia membiayai kedua orangtuanya untuk datang berkunjung dari Belem.

Pukul 9 pagi perempuan itu tiba di bandara untuk menunggu penerbangan dari Brazil. Saat itu bulan terasa dingin pada pagi di bulan Oktober dan perempuan itu telah kehilangan berat badan paska kehamilannya. “Aku sangat kurus saat itu—126 pon—dan aku khawatir dengan caraku berpakaian. Ibuku selalu mengkritikku karena bergaya terlalu provokatif… Itulah mengapa aku mengingat apa yang aku kenakan hari itu. Aku mengenakan sebuah jaket kulit, sebuah blus Kenzo berbunga-bunga, celana linen yang pucat, dan sepatu Kenzo berwarna merah dengan hak tipis-beberapa waktu kemudian aku memberikan semuanya ke lembaga amal Oxfam.

Tidak seperti biasanya, saat itu De Faria datang tepat waktu.  Dia berkata, “Aku berlari dan pergi menuju loket Air France untuk menanyakan penerbangannya.” Sebagaimana di dalam cerita, penerbangannya mengalami penundaan disebabkan cuaca buruk. “Sekarang aku bisa santai. Baru kemudian aku sadar bandara itu penuh dengan manusia. Banyak yang tidur di atas lantai. Tidak ada tempat duduk dimana-mana- hanya ada satu dan aku duduk di atasnya. Aku bersyukur, aku menemukan satu-satunya tempat duduk di bandara!”.

Saat itulah perempuan itu menyadari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya, berusia sekitar 60 tahun, penampilannya menarik, elegan dalam balutan jaket wol, dengan rambut dan kumis yang tersisir rapi. “Laki-laki itu berkata, ‘Hallo’. Dia memiliki senyum yang sangat indah. Aku terobsesi dengan gigi. Hal pertama yang aku lihat adalah giginya. Giginya putih dan sempurna. Aku dapat mencium nafasnya yang segar karena tempat duduk kami berdekatan.”

“’Hai,’ Aku menjawab.

“Dia melihat ke arahku, mempesona, malu-malu, dan menggoda. ‘Apa kau menunggu untuk perjalanan?’ dia bertanya dalam bahasa Prancis.

“‘Tidak, aku sedang menunggu orangtuaku.’

“‘Darimana kau berasal?’

“‘Acre di Brazil.

“‘Apakah itu dekat dengan Andes?’

“‘Tidak, itu di Amazon.’

“Dia sangat tersentuh bertemu dengan seorang asli Amerika Latin di Paris, yang lahir di hutan Amazon. Aku mengatakan: ‘Jika kau lahir di hutan, kau dapat bertahan dimanapun. Hidup di kota modern hanyalah jenis lain dari hutan.’ Lalu aku berkata: ‘Dan kau, apakah kau akan melakukan perjalanan atau kau sedang menunggu seseorang?’

“Dia tidak menjawab dan aku menghargai itu. Aku berpikir: Dia orang yang privat.

Aku memintanya untuk menjaga tas, sementara aku membeli air mineral. “Saat aku kembali, aku menenggak sebuah pil, dan aku berkelakar bahwa aku seperti Elvis Presley dan aku menunjukkan pil-pilku, berkata betapa indah dan berwarnanya, mereka adalah… Pil untuk tidur, pil untuk terjaga, pil penghilang berat badan, pil untuk menaikkan berat badan, pil untuk bercinta, pil agar buang air besar, pil agar tidak buang air besar.

Dia tersenyum, “‘Mengapa begitu banyak?’

“Aku menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan mobil dimana aku hampir terbunuh, dan bagaimana dokterku memberikan obat-obatan untuk ‘menenangkanku’ dan bagaimana aku menjadi kecanduan, tapi aku hendak berhenti meminum pil-pilku karena orangtuaku datang untuk tinggal bersamaku. Lalu dia bertanya kenapa aku tinggal di Paris. Aku menjawab, ‘Kami orang Amerika Latin hanya bisa tinggal di Prancis ketika kami jatuh cinta.’

“Jatuh cinta pada Prancis?”

“Bukan, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya itulah satu-satunya cinta yang ada.’ Inilah yang dia tulis di dalam cerita! Dia menghisap kata-kataku. [Di dalam cerita Marquez bertanya kepada petugas check-in “apakah dia percaya pada cinta pada pandangan pertama.”] Saat aku membacanya, aku bergidik. ‘Kau tidak orisinil. Kau sama saja dengan semua penulis. Kau adalah seorang vampir!’

“Dia menanyakan apa pekerjaanku. Aku sadar bahwa dia memandangi rambutku, wajahku, tangan-tangan, dan tubuhku. Kukira dia akan mencoba membawaku makan malam dan ke tempat tidur. Aku sangat mencurigai laki-laki. Kau minum kopi bersama, lalu mereka berkata bahwa dia jatuh cinta padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku jika kita hanya sebatas meminum kopi?

Aku katakan padanya: “Kau pikir hanya karena aku seorang Brazil, aku adalah seorang pelacur di Bois de Bologne”—Aku paranoid tentang hal semacam ini karena pada waktu itu seseorang dari Brazil yang tinggal di Paris tidak mungkin seorang pelajar.

“Aku tidak mengatakan begitu!”

“Tapi kau memikirkannya. Aku bisa membaca pikiranmu.“

*

Perempuan itu mengatakan padanya bahwa dia seorang aktris dan penyanyi, dan dia merasa dilema karena tidak menginginkan keduanya. “Aku ingin menjadi pelajar, tapi aku menemukan diriku di tengah-tengan bisnis pertunjukkan. Sesungguhnya aku tidak bisa bernyanyi, tapi orang-orang mengatakan aku bisa. Mereka berpikir aku aktris yang baik. Tapi aku bukan.”

Dia bertanya apakah perempuan itu mengenal Ruy Guerra, seorang sutradara Brazil.

Perempuan itu menjawab: “Aku baru saja menonton filmnya yang diambil dari cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. “Judulnya The Beautiful Pigeon Fancier, salah satu dari tiga film dari karya Marquez. “Aku satu-satunya orang di ruangan bioskop saat itu, sangat mengejutkan, di dalam sebuah ruangan di Champs Elysees pukul 2 sore dan aku membencinya.”

“Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan terlihat sedikit tidak nyaman, dan aku tak tahu mengapa. Aku berkata: ‘Lihatlah, filmnya dibuat di Paraty, sebuah tempat yang aku kenal. Lagipula, tidak mungkin untuk mengadaptasi karya Gabriel Garicia Marquez ke dalam sebuah film. Itu akan membutuhkan kejeniusan lain. Maaf jika kau tidak setuju denganku.’ “

Ketertarikannya pada De Faria meningkat dengan cepat. Perempuan itu berkata: “Awalnya aku mengira dia berpikir bahwa aku gila. Lalu dia ingin tahu darimana aku berasal, tentang keluargaku, dan aku menceritakan semua omong kosong yang ingin dia dengar.”

Silvana yang Sesungguhnya

Di dalam cerita Marquez tidak ada percakapan antara dirinya dan perempuan muda berciri khas Andean kuno itu, yang berpakaian bergaya Jepang dan tentang obat-obatan yang dia minum untuk membuatnya tertidur, dan yang ternyata akan menduduki kursi disebelahnya dalam delapan jam penerbangan sebelum perempuan itu menghilang di belantara New York.

Namun, dalam dimensi lain Marquez tahu semuanya tentang perempuan itu karena sebelum penerbangannya dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore mereka berbicara tanpa henti, “tetap menjaga kontak mata”, perempuan itu mengatakan, “yang mana penting bagiku.” Dan apa yang Silvana de Faria ungkapkan padanya selama itu, tanpa menyadari identitas sang pengarang hingga saat-saat terakhir, adalah sebuah jaring yang memaksanya menulis tentang perempuan itu.

“Kupikir alasan mengapa dia dan aku menjadi banyak berbicara dan menjadi ‘dekat’ hari itu karena aku memberikan semua yang dia inginkan. Aku menjawab semua pertanyaan. Tanpa batasan.”

Perempuan itu lahir di Rio Branco, Acre, dia anak bungsu dari 10 bersaudara. Keluarga dari kedua orangtuanya berprofesi sebagai penanam karet. “Mereka menjadi kaya, kaya hingga mati. Pakaian mereka dicuci di Eropa karena sungainya terlalu gelap.”

Impiannya sejak berusia 7 tahun adalah pergi ke Paris. “Aku sadar satu-satunya jalan menuju Paris adalah melalui udara. Aku belajar tentang hukum di Belem dan kemudian mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di Varig, sebuah kantor penerbangan. Di penghujung tahun aku dapat membeli tiket seharga 10 persen dari harga aslinya. Lalu suatu hari aku mendapat telepon, ‘Aku adalah sekretarisnya John Boorman.’

“Siapa dia?”

“‘Dia seorang sutradara film yang sangat terkenal. Asistennya datang untuk membeli tiket padamu. Dia sedang mencari perempuan dengan wajah sepertimu.’ Dia sedang melakukan pengambilan gambar The Emerald Forest. Tapi pada hari terakhir dia berubah pikiran dan mengambil gadis lain, dan aku membenci gadis ini hingga akhir hidupku, hingga aku mempunyai oksigen. Aku tidak ingin menjadi aktris. Aku mengiginkan uang. Aku menangis.

“John Boorman mengatakan: Kenapa kau menginginkan peran ini?’ ‘Karena aku ingin pergi ke Paris.’ ‘Mengapa?’ ‘Untuk belajar.’ ‘Baiklah, aku akan memberikanmu peran kecil di film ini.’ Aku berada di dalam film itu selama sekejap saja, seorang ibu tulen dengan bayinya. Pada 11 Juli 1984 filmnya selesai. Pada 14 Juli 1984 hari dimana revolusi Prancis terjadi aku menginjakkan kakiku di Paris, Vive la revolution!”

Mendapatkan kursi di Sorborne untuk belajar sejarah, De Faria menjadi model untuk bisa membiayai hidupnya. Suatu hari dia ditemukan oleh pencari bakat untuk Yves Saint Laurent—dia mempunyai tampilan yang pas untuk penjualan ke Jepang. Apakah dia bisa bernyanyi? “Seperti panci penekan,” perempuan itu menjawab. Dia diundang untuk mengikuti audisi dengan ratusan orang lainnya. “Aku berhasil! Tapi aku bukan seorang penyanyi! Aku melakukan rekaman untuk Coeur Bongo. Kau bisa menontonnya di Youtube.” Direkam pada tahun 1988, Couer Bongo menampilkan De Faria sebagai singa betina kecil dalam cerita Marquez. Dia menandatangani kontrak untuk membuat lima album pop, dilatih untuk berakting, dan berhenti kuliah.

“Aku tidak pernah lulus dari Sorbornne. Itu adalah hal yang menyakitkan dalam hidupku.”

Ditambah dia bertemu Giles Behat. Sutradara film itu mendatangi mobil manajernya di mana dia duduk untuk mendengarkan sebuah soundtrack. “Kami memandang satu sama lain dan kami jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama!”

Hubungan mereka dipenuhi dengan kekerasan dan gairah. “Kami bertengkar parah karena cemburu.” Setelah dua tahun mereka pindah ke rumah yang lebih besar di Richarville sekitar 25 mil dari Paris dengan 12 anjing dan seekor burung beo karena De Faria merindukan Amazon. “Dia memberiku seekor burung beo dan menamainya—Antoine. Teman-temanku mengatakan: ‘Burung beo bukanlah Amazon, beo itu adalah kau. Kau tinggal di dalam sangkar.’ Itulah saat aku mulai bermain dengan obat-obatan.”

Perempuan itu menceritakan semua hal ini kepada Marquez.

Cinta pada Pandangan Pertama

“Setelah satu atau dua jam terasa seperti kami berada di sekolah dasar bersama, mencampurkan Portugis dengan Prancis dan Spanyol. Kami bercengkrama, membuat lelucon, tertawa. Saat itu aku tidak melihat seorang laki-laki tua.”

Bagi Marquez ini terlihat dalam tulisannya kemudian—”dalam delapan bulan yang menggetarkan… untuk menyelesaikan satu volume cerita yang paling mendekati dengan apa yang paling ingin kutulis”—dia melihat, seperti yang ditulisnya, “perempuan tercantik yang pernah kutemui’.

De Faria mengatakan, “Aku terkejut dan aku masih terus terkejut bahwa aku dapat mengingat percakapan kami.”

Cinta pada pandangan pertama, gairah, dan kebetulan-kebetulan, bioskop, nilai-nilai keluarga, Paris, bahkan zodiak-dalam tujuh jam, itu menjangkau seluruhnya. “Aku katakan padanya aku berbintang Leo dengan pengaruh Taurus. Itulah mengapa aku cukup kuat untuk berjuang hidup di Paris. Dia mengatakan terkadang dia berharap bahwa dia berbintang Taurus. Dan dia mengatakan itu di dalam ceritanya!” [“Sial,” Aku katakan pada diriku sendiri dengan penuh kehinaan. “Kenapa aku tak terlahir Taurus?”] Dia sendiri berbintang Pisces. “Aku mengatakan Pisces selalu bermimpi, selalu dalam suasana imaginasi, selalu berenang—dan aku membuat mulut menyerupai ikan yang membuatnya tertawa.”

Saat itu pukul 4 sore, “Aku merasa khawatir dengan penerbangan orangtuaku. Bagaimana jika pesawatnya menghilang? Kami mulai berbicara tentang kematian, tentang orang-orang yang sudah mati.

“Dia bertanya: ‘Apa yang kau pikirkan akan terjadi ketika kau mati?’

“‘Aku akan menjadi hantu, bebas, dan aku akan datang dan menakutimu. Tapi kenapa sejak awal kau hanya bertanya tentangku?’

“Dia mengatakan: ‘Apa yang kau pikirkan tentangku, dan kenapa aku bepergian?’”

“Setahuku kau tengah berjalan-jalan ditubuhku, tapi aku tidak tahu di mana kau akan berhenti.’ Dia tertawa: ‘Aku terkejut dengan ketulusan yang datang dari mulutmu!”

Aku mengatakan, “Setidaknya aku tidak takut pada kata-kata”

“Aku seorang jurnalis.”

“Surat kabar yang mana?”

“Aku tidak bekerja untuk surat kabar.“

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: “Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?”

“Bagaimana gambarnya?”

“Laki-laki! Kalian semua sama. Semuanya adalah kesombongan.”

“Aku merasa malu, sedih dan terkhianati. Aku sadar itulah mengapa dia tidak ingin berbicara tentang dirinya—karena dia tidak mengatakan satu patah kata pun, bahkan ketika kami berbicara tentang Ruy Guerra dan filmnya. Dia tidak mengatakan, ‘Aku menulis cerita dan naskahnya.’ Aku merasa bingung dan ingin pergi.”

Pesawatnya telah mendarat, orangtuaku tiba. ‘Aku harus pergi.’ Tetapi dia menangkap lenganku dengan kuat dan menghentikanku. Dia meminta Filofax-ku dan menulis di dalamnya.

“’Untukmu, aku Gabo. Ini alamat, telepon, dan fax-ku.’”

Perempuan itu mengulur sebuah lembaran dari dalam tasnya dan disana dalam tinta merah: GABO. MEX. Fax 5686043 Tel 5682947. Ap Postal 20736. Mexico, 01000

“Dia mengatakan: ‘Kirimi aku surat,’ sambil melihat langsung ke dalam mataku.

“Aku harus pergi!”

“Kau akan mengirimkannya kan?” Kemudian berkata: “Aku bahkan tak tahu siapa namamu!”

“Apakah kau memberi tahu namamu? Kita menghabiskan sepanjang waktu ini bersama, kita kenal satu sama lain-dan kita tidak tahu nama masing-masing. Dan aku pergi.”

Setelah itu, De Faria mengatakan, dia langsung melupakannya. “Aku kehilangan kepercayaan dalam cara tertentu. Aku tidak pernah membaca bukunya lagi. Aku tidak pernah berhasrat untuk menelponnya atau menyuratinya.

“Lalu ketika dia meninggal, Aku menemukan cerita tentang bandara ini.”

“Dan saat kau membacanya?”aku bertanya.

“Aku merasakan intonasi dan suaranya. Aku mempunyai perasaan bahwa dia melihat ke arahku, menatap. Aku merasakannya untuk beberapa menit, dia memberiku sebuah pesan.” (*)

*) Diterjemahkan oleh Marlina Sopiana, dieditori Sabiq Carebesth dari “Gabriel García Márquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself” By Nicholas Shakespeare. Pertama kali tayang di laman newsweek.

 

Tabloids

Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari

mm

Published

on

Virginia Woolf, seorang pencinta bahasa yang hebat, pemikir bahasa—Dia pasti akan geli mengetahui bahwa, sekitar tujuh dekade setelah kematiannya, ia ditempatkan dan bertahan dengan sangat jelas dalam budaya populer—lebih sebagai pemain kata-kata—dalam judul drama Edward Albee yang cukup terkenal, “ Who’s Afraid of Virginia Woolf?”, Albee, seorang profesor perguruan tinggi yang bermasalah dan istrinya yang sama-sama bersedih, mencela satu sama lain dengan menyanyikan “Siapa Takut Besar, Bad Wolf?”

Danny Heitman, From HUMANITIES, May/June 2015, Volume 36, Number 3

Penerjemah: Susan Gui |  Editor: Sabiq Carebesth

____

Reputasi Woolf menempatkan dirinya sebagai “Penulis Perempuan” paling sering menjadi subjek teori sastra: penulis buku yang lebih menarik untuk dipelajari teorinya ketimbang menikmati tulisannya. Tapi, dalam prosa yang ditulis oleh Woolf, ia adalah satu penulis yang dapat memberikan kepuasan kepada para pembaca literatur modern, daya tariknya melampaui gender. Tanyakan saja kepada Michael Cunningham, penulis buku The Hours, pengarang yang mendapat pujian kritis dari karya yang diilhami oleh karya fiksi klasik milik Woolf, Ny. Dalloway.

“Saya membaca Mrs Dalloway untuk pertama kalinya ketika masih menjadi seorang pelajar Sekolah Menengah Atas di tahun kedua,” Cunningham mengatakan kepada pembaca surat kabar Guardian pada tahun 2011. “Saya sedikit pemalas, sama sekali bukan tipe anak yang akan mengambil buku seperti Mrs Dalloway. Saya membacanya karena alasan ingin membuat seorang gadis terkesan kepada saya setelah membaca buku itu. Saya berharap, tentu ini tujuannya soal asmara, agar saya terlihat lebih sastrawi daripada diri saya sebenarnya di depan gadis itu.”

Cunningham tidak benar-benar memahami semua tema Dalloway ketika pertama kali membacanya, dan dia, sayangnya, pada akhirnya juga tidak mendapatkan gadis yang mengilhami dia untuk mengambil novel Woolf. Tapi dia jatuh cinta dengan gaya Woolf.

“Saya bisa melihat, bahkan sebagai anak yang tidak terlatih dan malas, kepadatan dan simetri serta kekakuan kalimat Woolf,” kenang Cunningham. “Saya pikir, wow, dia melakukan sesuatu dengan bahasa seperti apa yang dilakukan Jimi Hendrix dengan gitar. Maksud saya dia berjalan di garis antara kekacauan dan ketertiban, dia riff, dan dia mengambil waktu yang tepat untuk merubah kalimat menjadi acak, lalu Woolf membawanya kembali dan menyatukannya dengan melodi. ”

Woolf membantu mendorong Cunningham menjadi seorang penulis. Novelnya The Hours pada dasarnya menceritakan kembali buku Mrs Dalloway sebagai sebuah cerita di dalam sebuah cerita, berganti-ganti antara variasi narasi asli Woolf dan spekulasi fiksi tentang Woolf sendiri. Novel Cunningham pada tahun 1998 memenangkan Hadiah Pulitzer untuk fiksi, kemudian diadaptasi menjadi film 2002 dengan nama yang sama, dibintangi oleh Nicole Kidman sebagai Woolf.

“Saya yakin dia tidak akan menyukai buku itu—dia adalah seorang kritikus yang ganas,” kata Cunningham tentang Woolf, yang meninggal pada tahun 1941. “Dia mungkin akan merasa ragu dengan film ini, meskipun saya suka berpikir bahwa Woolf akan senang melihat dirinya diperankan oleh seorang bintang Hollywood yang cantik.”

Nicole Kidman menciptakan gebrakan untuk film tersebut dengan mengenakan hidung palsu untuk membuat wajahnya sedikit kaku seperti Woolf, membangkitkan Woolf sebagai seorang perempuan yang pernah digambarkan oleh teman keluarga Nigel Nicolson sebagai sosok “selalu cantik tetapi tidak pernah cantik.”

Woolf, seorang tokoh penulis feminis, mungkin tidak akan terkejut jika layar lebar tentang hidupnya akan memicu banyak pembicaraan tentang bagaimana dia ‘terlihat’ daripada apa yang dia lakukan. Tapi Woolf juga sangat ingin membumikan tema sastranya dalam dunia sensasi dan fisik, jadi mungkin ada beberapa nilai yang mempertimbangkan gagasannya, juga mengingat bagaimana rasanya melihat dan mendengarnya.

Kita tahu mana foto profil terbaik dari seorang Woolf. Banyak gambar Woolf menunjukkan pandangannya ke samping, seperti gambar di koin. Namun ada pengecualian yang paling berbeda dan menunjukkan sosok lain dari Woolf,l yaitu foto yang diambil pada tahun1939 oleh Gisele Freund di mana Woolf mengintip langsung ke kamera. Woolf membenci foto itu— mungkin karena, pada tingkat tertentu, dia tahu betapa tangkas Freund menangkap subjeknya. “Aku benci diangkat di atas tongkat untuk ditatap siapa pun,” keluh Woolf, yang mengeluh bahwa Freund telah melanggar janjinya untuk tidak mengedarkan foto itu.

Aspek yang paling mencolok dari foto adalah intensitas pandangan Woolf. Baik dalam percakapan dan tulisannya, Woolf memiliki kejeniusan untuk tidak hanya melihat subjek, tetapi melihat melalui itu, menggali kesimpulan dan implikasi di berbagai tingkatan. Mungkin itulah sebabnya mengapa laut begitu menonjol dalam fiksinya, sebagai metafora untuk dunia di mana arus cerah yang kita lihat di permukaan realitas terungkap, namun setelah dilihat lebih dekat, kedalaman laut ternyata turun ke bawah sejauh bermil-mil.

Contohnya, esai Woolf yang secara luas di-antologikan,” The Death of the Moth,” di mana  Woolf memperhatikan saat-saat terakhir dari kehidupan seekor ngengat, lalu ia mencatat pengalaman itu sebagai jendela menuju kerapuhan dari segala eksistensi. “Makhluk kecil yang tidak penting itu sekarang tahu kematian,” tulis Woolf.

Ketika saya melihat ngengat yang mati, pada menit ini kemenangan atas kekuatan yang begitu besar berarti bagi seorang antagonis dan proses ini membuat saya heran. .  Ngengat yang telah memperbaiki dirinya sekarang berbaring dengan sopan dan tanpa komplain. Oh ya, dia sepertinya berkata, kematian lebih kuat dari saya.

Woolf mengambil taktik miniatur yang sama dalam “The Mark on the Wall,” sebuah sketsa di mana narator mempelajari tanda di dinding yang akhirnya terungkap sebagai seekor siput. Meskipun premisnya terdengar sangat membosankan—padanan sastra menonton cat kering —tanda di dinding berfungsi sebagai lokus konsentrasi, seperti arloji penghipnotis, memungkinkan narator mempertimbangkan segala hal mulai dari Shakespeare hingga Perang Dunia I. Dalam penelusurannya yang halus tentang bagaimana pikiran bebas bergaul dan penggunaan monolog interior yang banyak, sketsa tersebut berfungsi sebagai semacam kunci bagi gerakan sastra modernis yang membuat Woolf bekerja tanpa lelah untuk maju.

Penetrasi sensitif ala Woolf mulai mencari bentuknya, karena dia berharap orang-orang di sekitarnya untuk melihat dunia yang sama tanpa berkedip. Dia tampaknya tidak memiliki banyak kesabaran untuk obrolan ringan. Seorang sarjana terkenal, Hermione Lee, menulis biografi lengkap Woolf pada tahun 1997, Lee mengakui beberapa kecemasan tentang prospek, apakah mungkin, untuk menyapa Woolf secara langsung. “Saya pikir saya akan takut bertemu dengannya,” tulis Lee. “Aku takut tidak cukup pintar untuknya.”

Nicolson, putra teman dekat Woolf dan kekasihnya yang dulu, Vita Sackville-West, memiliki kenangan indah berburu kupu-kupu dengan Woolf ketika dia masih kecil—suatu acara yang membuat Woolf menikmati hiburan yang pernah ia nikmati di masa kecil. “Virginia dapat mentolerir untuk bermain dengan anak-anak di waktu yang singkat, tetapi Woolf akan melarikan diri dari bayi,” kenangnya. Nicolson juga ingat ketidaksukaan Woolf kepada generalisasi yang hambar, bahkan ketika diucapkan oleh anak-anak muda. Dia pernah meminta Nicolson muda untuk mengirimkan laporan rinci di pagi hari, termasuk kualitas matahari yang telah membangunkannya, dan apakah dia mengenakan kaus kaki kanan terlebih dulu atau kirinya saat berpakaian.

“Hal tersebut adalah pelajaran dalam pengamatan, tetapi juga merupakan petunjuk, ”tulisnya bertahun-tahun kemudian. “‘Kecuali kamu menangkap gagasan pada sayap-sayap dan menancapkannya, kamu akan segera berhenti memilikinya.’ Adalah nasihat bahwa aku harus mengingat sepanjang hidupku. ”

Bersyukur berkat dokumentasi Woolf yang dilakukan untuk BBC, kami tidak perlu menebak seperti apa suaranya. Dalam rekaman 1937, tersedia secara online, Woolf merefleksikan bagaimana bahasa Inggris melakukan penyerbukan dan berkembang menjadi bentuk-bentuk baru. “Kata-kata kerajaan kawin dengan rakyat jelata,” katanya kepada pendengar dalam referensi subversif untuk turun tahta Raja Edward VIII baru-baru ini, yang telah kehilangan tahtanya untuk dapan menikahi seorang perempuan berkebangsaan Amerika, Wallis Simpson. Suara Woolf terdengar syahdu dan ningrat, seperti Eleanor Roosevelt versi bahasa Inggris. Tidak mengherankan, mungkin, mengingat asal Woolf di salah satu keluarga paling terkemuka di Inggris.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda.”

Orang tuanya, Leslie dan Julia Stephen, keduanya duda sebelumnya, memulai pernikahan mereka pada tahun 1878 dengan empat anak kecil: Laura (1870-1945), putri Leslie Stephen dan istri pertamanya, Harriet Thackery (1840-1875); dan George (1868-1934), Gerald (1870-1937), dan Stella Duckworth (1869-1897), anak-anak Julia Prinsep (1846-1895) dan Herbert Duckworth (1833-1870).

Leslie dan Julia memiliki empat anak lagi: Virginia, Vanessa (1879-1961), dan anak laki-laki Thoby (1880-1906) dan Adrian (1883-1948). Mereka semua tinggal di 22 Hyde Park Gate di London.

Meskipun saudara lelaki kandung dan tiri dari Virginia mendapatkan pendidikan universitas, Woolf diajar sebagian besar di rumah. Pengalaman inilah membentuk pemikiran Woolf tentang bagaimana lingkungan sekitarnya dan masyarakat kala itu memperlakukan perempuan. Latar belakang keluarga Woolf, membawanya ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris. “Orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir dengan baik,” Hussey mencatat, “menghitung di antara teman-teman dekat mereka seperti George Meredith, Thomas Hardy, dan Henry James. Bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer perintis yang membuat potret penyair Alfred Tennyson dan Robert Browning, naturalis Charles Darwin, dan filsuf serta sejarawan Thomas Carlyle, dan masih banyak lainnya. ”

Woolf memiliki akses bebas di perpustakaan ‘mammoth’milik ayahnya dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Membaca adalah hasratnya—dan tindakannya, seperti hasrat apa pun, untuk terlibat secara aktif, bukan menjadi sampel secara pasif. Dalam sebuah esai tentang ayahnya, Woolf mengingat kebiasaan ayahnya melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga, dan pelajaran yang diambil darinya tampaknya tak terhindarkan. Pada awalnya, ia belajar untuk memasangkan sastra dengan vitalitas dan gerakan, dan bahwa kepekaan mengalir sepanjang esai-esainya yang kritis, berkumpul dalam banyak volume, termasuk koleksinya pada tahun 1925, The Common Reader. Judul ini mengambil isyarat dari daya tarik Woolf untuk jenis pembaca yang, seperti dia, berpendidikan tanpa sekolah, bukan seperti seorang sarjana profesional. (*)

Selengkapnya dalam Buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan ekslusif oleh Galeri Buku Jakarta, Agustus 2019.

*)Danny Heitman, adalah kolomnis untuk Baton Rouge, Louisiana, daily The Advocate and esais tetap untuk banyak media lain. Heitman adalah pengarang “A Summer of Birds: John James Audubon at Oakley House”.

Continue Reading

Tabloids

Octavio Paz: Mencari Masa Kini

mm

Published

on

Hal terakhir di rumusan gegabah ini adalah keruntuhan semua hipotesa filosofis dan historis yang mengklaim menemukan hukum yang mengatur jalannya sejarah. Banyak orang dengan percaya diri meyakini bahwa mereka menentukan jalannya sejarah dengan membangun negara kuat di atas piramida mayat. Pendirian arogan tersebut, yang didasarkan pada teori pembebasan manusia, dengan cepat ternyata berubah menjadi penjara raksasa. Hari ini kita telah melihat mereka jatuh, digulingkan bukan oleh musuh ideologis mereka, tetapi oleh ketidaksabaran dan keinginan generasi baru untuk menghirup udara kebebasan.

[In Search of the Present] (p) Addi Midham (e) Sabiq Carebesth

Saya ingin memulai pidato ini dengan dua kata yang sudah diucapkan semua orang sejak awal mula kemanusiaan: terima kasih. Kata ‘terima kasih’ memiliki padanan dalam semua bahasa, dan pada setiap pengucapannya, ada cakupan makna yang berlimpah. Dalam rumpun bahasa Roman, keluasan makna kata ini mencakup aspek spiritual sekaligus lahiriah: dari rahmat ilahi yang diberikan kepada manusia sehingga selamat dari kesesatan dan kematian, hingga anugerah gemulainya tubuh untuk gadis penari atau kucing yang melompat ke semak-semak. Bersyukur selalu berarti pengampunan, pemaafan, bantuan, kebaikan, inspirasi; sebuah bentuk sapaan, gaya bicara atau ungkapan yang menyenangkan, kesopanan, singkatnya, tindakan yang mengungkapkan kebaikan rohani. Bersyukur itu gratis; sebuah karunia. Orang yang menerima sebuah kebaikan akan mengucapkan rasa syukur; jika bukan orang tercela, dia pasti bersyukur. Itulah yang saya lakukan sekarang, mengucapkan kata-kata tanpa maksud buruk ini. Saya harap perasaan saya demikian pula. Jika masing-masing kata ialah setetes air, Anda akan paham apa yang saya rasakan dengan melihatnya: rasa syukur, pengakuan. Dan, dengan cara yang sulit dijelaskan, perasaan itu muncul bersama kegentaran, rasa hormat serta keterkejutan bahwa saya saat ini berada di hadapan Anda sekalian, tempat yang menjadi rumah kaum terpelajar Swedia, sekaligus sastra dunia.

Bahasa adalah realitas luas yang melampaui entitas politik dan historis, yang kita sebut negara. Bahasa Eropa yang kami gunakan di Amerika menggambarkan hal ini. Yang membuat sastra kami [Amerika Latin-red] istimewa jika dibandingkan dengan karya dari Inggris, Spanyol, Portugal, ataupun Perancis, adalah karena fakta bahwa: sastra kami ditulis dengan bahasa hasil transplantasi. Bahasa yang lahir dan tumbuh dari tanah aslinya, lalu dikembangbiakkan oleh sejarah. Bahasa-bahasa Eropa berakar dari tanah dan tradisi asalnya, kemudian ditanam di dunia antah berantah yang tidak bernama: berakar di tanah baru, dan ketika tumbuh di dalam masyarakat Amerika, bahasa itu berubah. Seolah-olah bahasa itu masih tanaman yang sama, tapi sekaligus juga berbeda. Sastra kami tidak menerima perubahan bahasa hasil transplantasi itu secara pasif: sastra kami terlibat dalam proses perubahannya dan bahkan mempercepatnya. Sastra kami segera beralih dari sekedar refleksi trans-atlantik: sastra kami menjadi negasi dari sastra Eropa, seringkali juga menjadi sebuah jawaban atasnya.

Kendati ada proses osilasi seperti ini, keterpautan sastra kami dengan Eropa tidak pernah putus. Masa lalu saya adalah bahasa saya. Sebagaimana semua penulis Spanyol, saya pun masih merasa menjadi keturunan dari Lope [Lope de Vega-red] dan Quevedo [Francisco de Quevedo-red]. Namun, saya bukan orang Spanyol. Saya kira, sebagian besar penulis Amerika-Hispanik, Amerika Serikat, Kanada, maupun Brasil, akan mengatakan hal yang sama tentang keterpautan mereka dengan tradisi Inggris, Portugis serta Prancis. Untuk memahami dengan lebih jernih posisi istimewa penulis Amerika, kita perlu membedakannya dengan dialog antara para penulis Jepang, Cina, atau Arab dengan beragam sastra Eropa. Dialog yang ini [Asia dengan Eropa-red] melintasi beragam bahasa dan peradaban. Di sisi lain, dialog kami dengan Eropa berlangsung dalam bahasa yang sama. Kami adalah orang Eropa, tetapi kami sekaligus bukan orang Eropa. Lalu siapa kami? Sulit untuk mendefinisikannya, tetapi karya-karya kami berbicara mengenai hal itu.

Di bidang sastra, berita besar abad ini adalah kemunculan sastra Amerika. Yang pertama muncul ialah sastra Amerika berbahasa Inggris. Kemudian, pada paruh kedua abad ke-20, muncul sastra Amerika Latin dengan dua cabang utamanya: sastra Amerika-Hispanik dan sastra Brasil. Meski masing-masing memiliki perbedaan mencolok, tiga jenis sastra ini punya kesamaan corak: konflik yang lebih ideologis daripada sastra sendiri, yakni kecenderungan kosmopolitan melawan tendensi nativis, antara Eropaisme vs Amerikanisme. Apa yang diwariskan perselisihan ini? Perdebatan sudah tiada, yang tersisa adalah karya. Di luar soal kesamaan tersebut, ketiga jenis sastra ini memiliki banyak perbedaan yang mendalam. Salah satunya karena posisinya sebagai bagian dari sejarah yang jauh lebih besar daripada sastra. Perkembangan sastra Anglo-Amerika bertepatan dengan kebangkitan Amerika Serikat sebagai kekuatan dunia. Sedangkan kebangkitan sastra kami bersamaan dengan terjadinya petaka sosial-politik dan pergolakan nasional. Fakta ini sekaligus membuktikan keterbatasan teori determinisme sosial dan historis: kemunduran imperium dan gejolak sosial terkadang bertepatan dengan momen lahirnya kemegahan tradisi artistik dan sastra. Li-Po dan Tu Fu [pujangga besar Cina abad 8 Masehi-red] menyaksikan jatuhnya Dinasti Tang; Velázquez [Diego Velázquez, pelukis Spanyol abad 17 masehi-red] melukis untuk Felipe IV [Raja Spanyol-red]; Seneca dan Lucan hidup di masa yang sama sekaligus menjadi korban Kaisar Romawi, Nero. Sementara perbedaan lain di antara ketiga jenis sastra ini terkait dengan asal usul kesusastraan, yang lebih banyak terlihat pada sejumlah karya ketimbang dalam karakternya masing-masing. Namun, apakah bisa sastra-sastra itu disebut memiliki karakter khusus? Apakah sastra-sastra itu memiliki satu unsur umum yang membedakannya dari sastra yang lain? Saya meragukan itu ada. Sastra tidak bisa didefinisikan dengan menunjukkan sejumlah karakter aneh yang tidak berwujud; sebab ia sekumpulan karya unik yang disatukan oleh relasi oposisi sekaligus afinitas.

Perbedaan mendasar pertama antara sastra Amerika Latin dan Anglo-Amerika terletak pada keragaman asal-usul mereka. Keduanya berawal dari proyeksi Eropa. Proyeksi dari sebuah pulau dalam kasus Amerika Utara. Sementara dalam kasus kami [Amerika Latin-red], Proyeksi dari sebuah semenanjung. Dua kawasan ini memiliki kondisi geografis, historis dan budaya eksentrik. Asal-usul Amerika Utara adalah Inggris dan reformasi protestan; sementara asal usul kami ialah Spanyol, Portugal dan Katholik. Untuk kasus Amerika-Hispanik, saya perlu menyebut apa yang membedakan Spanyol dengan negara-negara Eropa lainnya, untuk menunjukkan identitas historis kami yang unik. Spanyol tidak kalah eksentrik dari Inggris, tetapi keunikan keduanya bertolakbelakang. Tradisi Inggris eksentrik karena berakar di pulau yang mengisolasi diri: eksentrik yang eksklusif. Adapun tradisi Spanyol eksentrik karena tumbuh di semenanjung dan menyerap unsur dari pelbagai peradaban yang pernah ada di masa lalu: eksentrik yang inklusif. Di dalam tradisi Spanyol ada unsur Katholik, yang didahului awalnya oleh pengaruh kerajaan Visigoth pemeluk bidah arianisme, kemudian dominasi peradaban Arab selama berabad-abad dan masuknya tradisi Yahudi, era Reconquesta serta warna-warna khusus lainnya. Karakter eksentrik inklusif pada tradisi Spanyol itu direproduksi secara berlipat ganda di benua Amerika, terutama di Meksiko dan Peru: wilayah tempat peradaban kuno yang megah pernah ada. Di Meksiko, orang-orang Spanyol berjumpa dengan sejarah dan wilayah peradaban kuno. Sejarah yang masih hidup itu adalah sebuah anugerah, bukan masa lalu. Kuil-kuil dan para dewa Meksiko pra-Kolombia memang telah menjadi tumpukan reruntuhan, tetapi jiwanya yang memberi nafas kehidupan tidak lenyap; tradisi itu berbicara kepada kami dengan bahasa abadi berupa mitos, legenda, koeksistensi sosial, seni populer dan adat istiadat. Menjadi penulis di Meksiko berarti harus mendengarkan suara-suara yang terus hadir itu. Mendengarkannya, berdialog dengannya, menafsirkannya: mengekspresikannya. Paparan singkat, yang agak menyimpang dari pembahasan di awal, ini semoga bisa memberikan pemahaman soal relasi ganjil yang mengikat sekaligus memisahkan kami dari Eropa.

Kesadaran akan keterpisahan dari Eropa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kami. Terkadang, perpisahan membikin luka yang membekas, rasa sakit yang mendorong kritik-diri; sementara di lain waktu ia memunculkan tantangan, dorongan untuk bertindak, maju, serta bertemu yang liyan dan dunia luar. Perasaan tercerabut dari akar itu memang universal dan tak hanya dirasakan orang-orang Amerika-Hispanik. Perasaan itu muncul tepat saat kelahiran kita: ketika kita direnggut dari yang utuh dan terdampar di tanah asing. Pengalaman seperti ini menjadi luka yang tidak pernah sembuh. Perasaan ini kedalaman yang paling sulit dipahami pada setiap orang; semua upaya, perbuatan, tindakan dan mimpi kita menjadi jembatan yang terancang untuk menghadapi perpisahan sekaligus penyatuan kembali dengan dunia dan sesama manusia. Dengan demikian, kehidupan semua orang dan sejarah kolektif umat manusia bisa dilihat sebagai upaya merekonstruksi apa yang asali. Sebuah pengobatan tak berujung untuk menyembuhkan keterbelahan manusia. Namun, saya tidak bermaksud memberikan deskripsi lain tentang perasaan ini. Saya hanya menegaskan fakta bahwa, bagi kami, kondisi eksistensial seperti ini mengekspresikan bentuknya di sepanjang sejarah. Artinya, hal itu menjadi kesadaran dalam sejarah kami. Bagaimana dan kapan perasaan itu muncul dan bertransformasi menjadi kesadaran? Jawaban atas pertanyaan bermata dua ini dapat dijelaskan dalam bentuk teori maupun testimoni pribadi. Saya lebih suka yang terakhir: sebab ada banyak teori dan tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.

Perasaan keterpisahan selalu terikat dengan ingatan saya yang paling awal dan samar: tangisan pertama, ketakutan pertama. Seperti bayi lainnya, saya pun membangun jembatan emosional dalam imaji agar dapat terhubung dengan dunia dan orang lain. Saya tumbuh di kota pinggiran Mexico City, menempati rumah tua bobrok, yang memiliki kebun seperti hutan, dan sebuah ruangan besar dipenuhi buku. Permainan pertama sekaligus menjadi pelajaran pertama. Kebun itu segera menjadi pusat dunia saya; sementara perpustakaan adalah gua yang menyenangkan. Saya biasa membaca dan bermain dengan sepupu dan teman sekolah. Di kebun itu ada kuil vegetasi: pohon ara, empat pohon pinus, tiga pohon abu, sebuah tanaman nighthade, pohon delima, rumput liar, dan tanaman berduri. Dinding-dinding batu bata. Waktu saat itu terasa elastis; ruang terlihat seperti roda yang berputar. Di setiap saat, pada masa lalu atau masa depan, dalam kenyataan maupun imajinasi, menjadi sebuah kehadiran murni. Ruang mengubah dirinya tanpa henti. Yang ada di luar ada di sini, semuanya di sini: sebuah lembah, gunung, negara yang jauh, teras tetangga. Buku-buku bergambar, terutama bertema sejarah, secara sepenuhnya membuka dan menyediakan gambaran tentang gurun dan hutan, istana dan gubuk, prajurit dan putri, pengemis dan raja. Kami ‘karam’ bersama Sinbad dan Robinson. Kami ‘bertarung’ bersama d’Artagnan. Kami ‘menaklukkan’ Valencia bersama El Cid. Saya pun pernah sangat ingin tinggal selamanya di Pulau Calypso! Di musim panas, cabang-cabang hijau pohon ara akan berayun seperti layar sebuah kafilah atau kapal bajak laut. Dan di atas tiang kapal, sambil terhuyung oleh angin, saya berkhayal bisa melihat pulau dan benua: daratan yang segera lenyap begitu mereka menjadi nyata. Dunia tidak terbatas namun selalu dalam jangkauan; waktu seakan lentur dan memberikan kebahagiaan tak ada habisnya.

Kapan pesona itu bubar? Prosesnya bertahap, tidak tiba-tiba. Sulit untuk menerima dikhianati teman, ditipu wanita yang kita cintai, atau memahami bahwa ide soal kebebasan sebenarnya topeng seorang tiran. Apa yang disebut “mengetahui” adalah proses yang lambat dan rumit, karena kita sendiri menjadi kaki-tangan dari kesalahan dan muslihat kita. Meski demikian, saya dapat mengingat dengan jelas sebuah insiden yang merupakan pertanda awal dari situasi itu, satu kejadian yang sebenarnya cepat terlupakan. Saya masih berusia enam tahun ketika seorang sepupu yang berumur sedikit lebih dewasa menunjukkan sebuah majalah dari Amerika Utara berisi foto tentara berbaris di sepanjang jalan besar, mungkin di New York. “Mereka kembali dari perang,” kata sepupu saya. Kata-kata itu menggelisahkan, sebagaimana ramalan soal akhir dunia atau kehadiran Kristus yang kedua. Semula, saya menganggap bahwa di suatu tempat nun jauh, perang berakhir pada beberapa tahun sebelumnya, dan prajurit telah berbaris merayakan kemenangannya. Bagi saya, perang terjadi di waktu yang lain, bukan di sini dan sekarang. Foto di majalah itu membantahnya. Saya pun merasa benar-benar terpisah dari masa kini.

Sejak saat itu, waktu mulai retak dan semakin retak. Ruang pun terlihat semakin beragam. Pengalaman seperti itu terulang bertambah sering. Berita apa pun, frasa yang biasa sekalipun, berita utama di surat kabar: semua membuktikan keberadaan dunia luar dan ketidaktahuan saya. Saya merasa dunia seakan-akan terbelah dan saya tidak mendiami ‘masa kini’. Pemahaman saya soal kekinian rontok: waktu nyata ada di tempat lain. Waktu saya, yakni saat berada di kebun, bersama pohon ara, bermain dengan teman-teman, rasa kantuk di bawah pepohonan ketika berteduh dari terik mentari pada pukul tiga sore, melihat buah ara terbelah (warnanya hitam dan merah seperti batu bara menyala, tetapi rasanya manis dan segar): adalah waktu yang fiktif. Terlepas dari apa yang dikatakan oleh akal sehat saya, sejak saat itu, waktu milik yang liyan, terasa lebih nyata karena benar-benar menunjukkan ‘yang kini’. Saya pun menerima sesuatu yang tak terhindarkan: menjadi dewasa. Begitulah awal mula saya terusir dari kekinian.

Mungkin tampak paradoks saat mengatakan bahwa kami terusir dari ‘masa kini’, tetapi itu adalah perasaan yang kami semua memilikinya pada suatu saat. Beberapa dari kami mungkin pertama kali mengalaminya sebagai kutukan, kemudian berubah menjadi kesadaran dan tindakan. Pencarian terhadap ‘yang kini’ bukanlah pencarian surga duniawi atau keabadian: ini adalah pencarian terhadap realitas nyata. Bagi kami, sebagai orang Amerika-Hispanik, masa kini tidak berada di negara kami: sebab itu adalah waktu yang dijalani orang lain di Inggris, Perancis dan Jerman. Masa kini adalah waktu untuk New York, Paris dan London. Kami harus pergi dan mencarinya untuk membawanya pulang. Tahun-tahun itu juga merupakan masa saat saya menemukan sastra. Saya mulai menulis puisi. Saya tidak tahu apa yang membuat saya menulis puisi: Saya hanya terdorong oleh kebutuhan batin yang sulit didefinisikan. Baru sekarang saya mengerti, bahwa ada relasi rahasia antara apa yang saya sebut ‘terusir dari masa kini’ dengan penulisan puisi. Puisi adalah cinta sesaat yang berusaha hidup kembali dalam sajak, sehingga terpisah dari urutan waktu, dan menjadi kekinian yang utuh. Tetapi, pada saat itu saya menulis tanpa bertanya-tanya mengapa saya melakukannya. Saya sedang mencari gerbang ke masa kini: Saya ingin menjadi bagian dari waktu dan abad saya. Beberapa saat kemudian, obsesi ini menjadi ide kokoh: Saya ingin menjadi penyair modern. Pencarian saya terhadap modernitas pun dimulai.

Apa itu modernitas? Pertama-tama ini adalah istilah yang ambigu: ada banyak jenis modernitas, seperti halnya terdapat beragam masyarakat. Masing-masing memiliki modernitasnya sendiri. Arti kata modernitas tidak pasti dan sewenang-wenang, seperti nama periode yang mendahuluinya: Abad Pertengahan. Jika kita merasa bagian dari masa modern, karena membandingkan saat ini dengan situasi di abad pertengahan, mungkinkah kita ada di masa abad pertengahan dari modernitas di masa depan? Apakah ada nama yang berubah karena waktu menunjukkan nama aslinya? Modernitas adalah kata yang mencari artinya. Apakah modernitas adalah sebuah gagasan, fatamorgana atau momen sejarah? Apakah kita anak-anak modernitas atau malah penciptanya? Tidak ada yang tahu pasti soal ini. Namun, itu tidak menjadi masalah: kami mengikutinya, kami mengejarnya. Bagi saya pada saat itu, modernitas menyatu dengan kekinian atau lebih tepatnya memproduksinya: kekinian adalah bunga paling indah dari modernitas. Kasus saya tidak unik dan bukan pengecualian: sejak era Simbolisme, semua penyair modern mengejar sosok magnetis yang sulit dipahami sekaligus mempesona ini. Charles Pierre Baudelaire adalah sang pemula. Baudelaire juga yang pertama menyentuh istilah modernitas dan menemukan bahwa ia hanyalah remahan waktu di genggaman seseorang. Saya tidak akan menceritakan petualangan saya dalam mengejar modernitas: kisahnya tidak jauh berbeda dari para penyair abad ke-20 lainnya. Modernitas telah menjadi hasrat universal. Sejak 1850, modernitas menjadi dewi sekaligus iblis kita. Dalam beberapa tahun terakhir, ada sejumlah upaya untuk mengusirnya sehingga muncul wacana “postmodernisme”. Tapi apa itu postmodernisme, bukankah itu modernitas yang bahkan lebih modern?

Bagi kami, orang Amerika Latin, pencarian terhadap modernitas dalam puisi secara historis paralel dengan upaya berulang-ulang untuk memodernisasi negara kami. Kecenderungan ini mulai muncul pada akhir abad ke-18, dan juga terjadi di Spanyol. Amerika Serikat dilahirkan di era modern, dan sebagaimana pengamatan de Tocqueville, pada 1830 telah menjadi rahim masa depan. Sedangkan negara kami dilahirkan pada saat Spanyol dan Portugal bergerak menjauh dari modernitas. Inilah sebabnya sering ada pembicaraan tentang “Eropaisasi” di negara kami: modernisme ada di luar dan harus diimpor. Dalam sejarah Meksiko, proses ini dimulai tepat sebelum perang kemerdekaan. Kemudian menjadi debat ideologis dan pertikaian politik hebat yang membelah masyarakat Meksiko selama abad ke-19. Salah satunya tidak terkait dengan apakah perlu ada reformasi, melainkan bagaimana menjalakannya: Revolusi Meksiko. Tidak seperti mitranya di abad ke-20, revolusi Meksiko bukanlah ekspresi ideologi utopis yang samar-samar, melainkan ledakan realitas yang secara historis dan psikologis telah ditindas. Revolusi itu tidak dilahirkan kelompok ideologis yang hendak menerapkan prinsip-prinsip berdasarkan teori politik. Revolusi itu merupakan pemberontakan populer yang membuka tabir apa yang selama ini disembunyikan. Oleh karena itu, lebih tepat disebut pencerahan daripada revolusi. Meksiko mencari kekinian di luar hanya untuk menemukannya di dalam: yang terkubur tetapi hidup. Pencarian terhadap modernitas membuat kami menemukan masa lampau, wajah bangsa yang tersembunyi. Saya tidak yakin apakah pelajaran sejarah tak terduga ini telah dipelajari semua: ada jembatan antara tradisi dan modernitas. Ketika keduanya saling menutup diri, tradisi mandek dan modernitas menguap. Ketika keduanya saling terhubung, modernitas menghidupi tradisi, meski yang terakhir memberikan jawaban lebih mendalam dan berbobot.

Pencarian terhadap modernitas dalam puisi adalah sebuah ‘pencarian’ [Quest] dalam arti kiasan dengan rasa kekesatriaan di era abad ke-12. Saya tidak menemukan Cawan meskipun sudah melintasi banyak daratan tak berpenghuni, mengunjungi istana cermin dan berkemah dengan suku-suku hantu. Namun, saya menemukan tradisi modern. Sebab, modernitas bukanlah mazhab puisi melainkan garis keturunan, sebuah keluarga yang tersebar ke banyak benua selama dua abad dan mampu bertahan di tengah perubahan dan kemalangan: pengabaian, isolasi dan penghakiman atas nama ortodoksi agama, politik, akademik dan seksual. Oleh karena memiliki tradisi modern, dan bukan doktrin, mereka mampu bertahan sekaligus berubah pada saat yang sama. Hal ini juga membuat modernitas dalam puisi beragam: setiap petualangan dalam puisi berbeda-beda dan masing-masing penyair menanam tanaman yang beragam di hutan ajaib tempat pohon-pohon bisa berbicara. Namun, jika karya-karya puisi beragam dan masing-masing menempuh jalan berbeda, apakah yang menyatukan seluruh penyair? [Jawabannya-red] Bukan estetika, melainkan pencarian.

Pencarian yang saya lakukan tidak fantastis meski menemukan bahwa gagasan modernitas adalah fatamorgana, sebundel refleksi belaka. Sebab, suatu hari, saya justru kembali ke titik awal, alih-alih bergerak maju: pencarian terhadap modernitas adalah jalan menuju asal usul. Modernitas menuntun saya kepada akar asal usul saya, kepada peradaban kuno bangsa saya. Perpisahan akhirnya berubah menjadi rekonsiliasi. Saya pun kemudian memahami bahwa penyair adalah denyut nadi yang mengalun ritmis di banyak generasi.

*
Bersambung..
Selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

Continue Reading

Tabloids

Orhan Pamuk: Koper Milik Ayah

mm

Published

on

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis.

Dari “My Father’s Suitcase” | Maureen Freely | The Nobel Foundation 2006 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Dua tahun sebelum tutup usia, Ayah memberikan koper kecil berisi naskah, manuskrip, dan catatannya kepada Saya. Lagaknya bercanda sekaligus sinis, saat meminta Saya membaca isi koper itu setelah ‘kepergiannya’. Maksudnya setelah dia meninggal.

“Coba kau lihat-lihat,” katanya agak malu-malu. “Mungkin saja ada yang berguna. Barangkali setelah aku ‘pergi’ kamu bisa menyeleksi dan mempublikasikannya.”

Saat itu, kami hanya berdua di ruang studi Saya dan dikelilingi buku. Ayah sempat kebingungan mencari tempat buat menaruh kopernya. Ia mondar-mondir layaknya orang yang kebelet melepas beban berat. Akhirnya, di salah satu sudut ruangan, ia menemukan tempat bagi koper itu. Peristiwa itu memalukan, tapi tak terlupakan.

Setelah momen itu, kami kembali seperti biasa, berbincang santai, menganggap semua masalah ringan dengan bercanda dan mencemooh. Kami bercakap soal remeh-temeh, masalah politik Turki yang tak ada habisnya, hingga bisnis Ayah yang kerap gagal. Soal yang terakhir, kami tak terlalu menyesalinya.

Setelah pertemuan itu, sempat berhari-hari Saya melintas dekat koper Ayah tanpa sekali pun menyentuhnya. Barang ini sebenarnya tak asing. Saya familier dengan bentuk mungil, kulit hitam, model kunci dan sudut-sudut lengkungnya. Ayah kerap membawanya untuk perjalanan singkat atau membawa  dokumen kerja. Saat masih kecil, begitu Ayah pulang dari bepergian, Saya suka membuka koper ini, merogoh isinya sembari menghirup bau kolon dan aroma negeri-negeri asing. Namun, meski sudah karib sejak kanak-kanak, Saya sempat ragu menyentuh koper itu. Kenapa? Karena Saya anggap isinya misterius.

Saya mau jelaskan mengapa isinya misterius. Karena isinya adalah sesuatu yang diciptakan ketika seseorang mengurung diri di dalam kamar, duduk di depan meja, menyepi dari ingar bingar dunia dan kemudian mencurahkan pemikirannya — inilah laku untuk sastra.

Saat Saya mulai berani menyentuh koper Ayah, untuk membukanya pun masih ragu. Begini, Saya benar-benar tak tahu isi tulisan di dalamnya. Saya memang pernah melihat Ayah menulis sejumlah naskah. Sejak lama, Saya juga tahu koper itu menyimpan sesuatu yang berbobot. Ayah pun punya perpustakaan besar. Di masa mudanya, sekitar akhir 1940-an, Ayah bahkan sempat bercita-cita menjadi penyair. Dia pernah menerjemahkan karya Valéry [Paul Valéry] ke bahasa Turki. Namun, Ayah enggan menjalani hidup singkat ini dengan menjadi penyair di negara miskin dan jumlah pembacanya segelintir. Kakek [Ayah dari Ayah Saya] adalah pengusaha kaya. Makanya, Ayah menjalani masa kecil hingga beranjak muda dengan berkelimpahan. Mungkin, karena itu ia ogah hidup susah demi sastra, demi menulis. Ayah menyukai kehidupan yang nyaman. Saya bisa memahaminya.

Semula, Saya menjaga jarak dari koper itu sebab khawatir tak menyukai tulisan di dalamnya. Apalagi, Ayah sudah memberi sinyal saat berlagak seolah-olah naskah di kopernya tidak penting dan serius. Tentu saja sikap Ayah ini menyakitkan bagi Saya yang saat itu sudah 25 tahun berkarier sebagai penulis. Akan tetapi, Saya kemudian menyadari, Saya tidak kecewa dengan sikap Ayah yang mengabaikan sastra. Karena penyebab utama Saya terus ragu membuka koper itu sesungguhnya ketakutan untuk mengetahui kemungkinan, bahwa Ayah sebenarnya pengarang hebat. Dan yang paling Saya cemaskan, Saya mungkin tak bisa mengakuinya. Sebab, jika benar ada karya besar di dalam koper itu, berarti ada kedirian lain dalam diri Ayah. Kedirian liyan itu tentu jauh berbeda dari pribadi Ayah yang Saya kenal. Kemungkinan ini mengerikan, karena meski sudah dewasa, Saya tetap ingin Ayah tetap menjadi Ayah seperti dulu — bukan seorang pengarang.

Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. Saat bicara soal mengarang, yang Saya maksud bukan novel, puisi ataupun tradisi sastra, melainkan orang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. Si pengarang bisa memakai mesin tik, komputer, atau seperti yang Saya lakukan selama 30 tahun terakhir, menulis dengan pena. Saat menulis, ia bisa minum teh atau kopi, mungkin pula sambil merokok. Setelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin.

Mengarang ialah mengubah perenungan mendalam ke kata-kata, serta menyigi dunia yang ditinggalkan saat menyepi. Semua itu dilakukan dengan sabar, tegar sekaligus gembira. Ketika duduk di depan meja selama berhari-hari hingga bertahun-tahun, tekun mengisi kertas kosong dengan kata-kata, Saya merasa seperti sedang membangun dunia baru. Seolah-olah Saya sedang menunjukkan eksistensi ‘diri Saya yang kedua’. Sebagaimana membangun jembatan atau kubah bata demi bata, di urusan mengarang, bata itu kata-kata. Saat menggenggam kata-kata dan menelisik bagaimana setiap rangkaiannya saling terhubung, pengarang terkadang memandangnya dari kejauhan, mendekapnya dengan jari dan ujung pena, menimbang bobotnya, menggeser posisinya. Dan, seiring waktu berjalan, dengan sabar serta optimistis, pengarang membangun dunia baru.

Andalan utama pengarang bukanlah inspirasi — karena tak jelas dari mana barang ini datang —  melainkan kesabaran dan keteguhan. Bagi Saya, pepatah Turki “menggali sumur dengan jarum” adalah kredo dalam menulis. Di kisah si Ferhat [legenda Anatolia], Saya menyukai sekaligus berempati pada kesabarannya menggerus gunung-gunung demi cinta. Di novel “My Name is Red”, saat menuliskan kisah para seniman kuno Persia, yang bertahun-tahun membuat miniatur kuda berbentuk sama persis disertai gairah tak berubah, sampai mengingat betul setiap detail goresan, sehingga mereka bisa menciptakan gambar kuda yang indah dengan mata tertutup, Saya sedang menceritakan cara kerja pengarang, sekaligus Saya sendiri. Jika pengarang ingin mengisahkan ceritanya sendiri — menuturkannya perlahan, seolah-olah itu kisah orang lain —, merasakan kekuatan cerita bangkit dari dirinya, dan duduk di depan meja bersama ketekunan melakoni kerja seni ini, maka semua perlu diawali dengan harapan.

Malaikat pemberi inspirasi [yang rutin menyambangi sebagian orang, tapi jarang hinggap ke yang lain] biasa bermurah hati memberikan harapan dan kepercayaan diri, ketika si pengarang sedang di puncak kesepian, sangat meragukan hasil jerih payahnya, mimpi-mimpinya, nilai karyanya — saat ia berpikir karangannya sekedar kisah biasa. Pada saat-saat inilah, malaikat membukakan mata si pengarang terhadap kisah-kisah, citra-citra, dan mimpi-mimpi soal dunia baru yang akan ia bangun. Kala merenungkan kembali buku-buku yang untuknya Saya menyerahkan segalanya, yang mengherankan, Saya menyadari bahwa kalimat-kalimat, mimpi-mimpi, halaman-halaman di dalamnya, yang membawa Saya ke puncak kepuasan, tidak berasal dari imajinasi Saya sendiri — seolah-olah ada kekuatan lain yang menemukan mereka dan bermurah hati menghadiahkannya kepada Saya.

Penyebab Saya tak kunjung membuka koper itu mulanya adalah kekhawatiran bahwa Ayah bukan tipe orang yang mampu menerima beban seperti yang Saya tanggung saat mengarang. Bahwa bukan kesunyian yang Ayah sukai, melainkan teman-teman, kerumunan, tempat meriung, lelucon dan gaul. Namun, belakangan cara pandang itu berubah. Saya menyadari, ideal mengenai laku sunyi dan soliter berasal dari pengalaman Saya pribadi sebagai penulis. Padahal, banyak pengarang brilian tetap aktif berkarya dengan menjalani hidup meriah bersama banyak teman dan keluarga, lengkap dengan pergaulan dan interaksi menyenangkan. Belum lagi, Ayah pun pernah melepas hidup monoton bersama keluarga, ia meninggalkan kami yang masih belia untuk menuju Paris, dan—seperti  banyak pengarang lainnya— berdiam di kamar hotel, menulis. Saya yakin, tulisan-tulisan itu ada di koper Ayah. Sebab, beberapa tahun menjelang koper itu diberikan ke Saya, Ayah sempat bercerita soal kehidupannya di masa itu. Ayah menceritakan yang dijalaninya di tahun-tahun itu, termasuk saat Saya masih bocah. Akan tetapi, Ayah tidak bilang tentang kekalutan, mimpi menjadi pengarang, maupun perenungan soal identitas yang membuat dirinya menyepi di kamar hotel. Ayah malah berkisah tentang perjumpaannya dengan Sartre di Paris, buku-buku dan film-film kesukaannya. Semua ia ceritakan, dengan keseriusan yang sungguh-sungguh, bahwa semua itu penting. Makanya, saat sudah menjadi pengarang, Saya tak pernah lupa bersyukur memiliki Ayah yang gemar menceritakan dunia para penulis, jauh lebih sering daripada membahas para pasha atau ulama. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang mungkin mendorong Saya membaca tulisan-tulisan Ayah di koper itu, sekaligus untuk mengenang betapa Saya berhutang budi pada perpustakaannya. Saya harus ingat, seperti Saya, Ayah pun pernah gemar menyendiri bersama buku-buku dan gagasan — tanpa melulu memikirkan kualitas sastrawi tulisannya.

Namun, ketika kembali menatap koper Ayah, Saya justru kembali terbebani pikiran lain. Saya teringat, Ayah kadang terlentang di ranjang bersama koleksi pustakanya, mengabaikan majalah atau buku yang sedang ia pegang,  seperti tenggelam dalam mimpi, ia lama berpikir mendalam. Di kala seperti itu, raut muka Ayah jauh berbeda dari biasanya. Tidak seperti saat ia bercanda, mengolok-olok maupun cekcok soal masalah keluarga. Pada momen seperti itulah — awal mula Saya memahami makna tatapan batin — Saya, terutama saat masih kecil dan remaja, melihat dengan perasaan gentar bahwa Ayah sedang kecewa.

Bertahun-tahun kemudian, Saya tahu kekecewaan seperti itulah pelatuk utama yang medorong seseorang menjadi pengarang. Ketabahan dan kerja keras saja tak cukup untuk bekal menjadi penulis: karena sejak awal kita harus terdorong untuk lari dari kerumunan, pergaulan, hidup yang biasa-biasa saja dan normal, sehingga memutuskan untuk menyepi di kamar. Dengan penuh harap dan ketekunan, kita mesti berupaya menemukan kedalaman hidup di goresan pena. Hanya dengan mengurung diri di kamar, kita mendapatkan kekuatan. Contoh penulis kawak dengan kemerdekaan seperti ini — yang membaca demi kepuasan batin, hanya mendengarkan nuraninya sekaligus menentang suara-suara lain, serta bersama buku-buku membangun gagasan dan dunianya sendiri — adalah Montaigne. Penulis dari masa paling awal sastra modern itu rujukan utama Ayah. Penulis yang ia rekomendasikan kepada Saya.

Saya pun merasa menjadi bagian dari tradisi para penulis yang di mana pun berada, Timur atau Barat, terpisah dari masyarakat dan mengurung diri bersama buku-buku di kamar mereka. Bagi Saya, titik mula sastra adalah mengurung diri di kamar bersama buku-buku. Meski begitu, ketika menyepi, kesadaran bahwa kita sebenarnya tak benar-benar sendiri segera muncul. Kita akan ditemani oleh kata-kata yang lahir jauh sebelumnya, kisah-kisah, buku-buku dan kalimat milik orang lain. Itulah yang selama ini kita sebut tradisi sastra.

Saya percaya sastra adalah harta karun paling berharga, hasil jerih payah umat manusia dalam memahami kediriannya. Banyak masyarakat, suku dan komunitas akan semakin cerdas, bertambah kaya sekaligus berkemajuan ketika mau menggubris kata-kata pelik dari para penulis. Sebaliknya, sudah lazim diketahui, pembakaran buku dan penistaan terhadap para penulis adalah pertanda era kegelapan serta zaman sia-sia sedang datang. Namun, sastra juga bukan perkara di lingkup batas-batas nasional saja. Pengarang yang menyepi di kamar dan berpetualang ke alam batinnya akan menemukan hukum abadi dalam sastra: dia harus bisa menceritakan kisahnya seolah-olah itu milik orang lain, dan sebaliknya, mengisahkan cerita orang lain seakan-akan itu kisahnya sendiri. Demikianlah menulis sastra. Kita mesti mengawalinya dengan menjelajahi kisah dan buku karya banyak penulis lain.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending