Connect with us
IKHTIAR MENYELAMATKAN PUISI IKHTIAR MENYELAMATKAN PUISI

Budaya

Ikhtiar Menyelamatkan Puisi

mm

Published

on

Oleh : Damhuri Muhammad

SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).

Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair—dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam—sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang bermuasal dari lauh-mahfuz. Bila filsuf Arab, Al-Farabi ((870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa’al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Bagi Adonis, “komunikasi nubuwwat” yang secara bulat-penuh disambut oleh sejumlah penyair Arab pra-kenabian, mampu mendedahkan sajak-sajak yang nyaris menyamai estetika qur’ani. Ada “lelaku kenabian” yang secara tak sengaja terbangun dalam proses kreatif mereka, sebagaimana lelaku kenabian yang dimiliki oleh orang-orang yang bakal terpilih sebagai pembawa risalah. Inilah puncak pencapaian para penyair Arab yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai muallaqat (penyair-penyair terpilih yang sajak-sajak mereka digantungkan di dinding Ka’bah) dan muhazzabat (sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas). Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895) mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid. Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat tahun 550 M), sebagaimana diakui oleh al-Ashma’i dalam al-Fuhul asy-Syuara’ (1971). Menurutnya, Imrul Qays pionir bagi para penyair “jahiliyah” lainnya. Ibnu Qutaibah dalam asy-Syi’ir wa asy-Syu’ara (1969) mencatat, di masa selanjutnya, bahkan tokoh penting, Umar bin Khattab pernah memuji kepiawaian penyair ini. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddieq itu bilang, Imrul Qays pencipta mata air puisi bagi para penyair di zamannya.

Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya. “Kuda” yang lazim digunakan sebagai simbol heroik dan kegagah-beranian di medan tempur antar suku, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan yang dianggap janggal dan bermasalah di masa itu; simbol kejantanan laki-laki yang tergeletak sebagai pecundang di atas ranjang. Akibatnya, “kuda” itu bagai “belalang” yang gemulai, atau lemah syahwat, tepatnya. Selain itu, seperti dicatat Al-Marzabani dalam Al-Muwassiyah (1965), sajak-sajak Imrul Qays juga melanggar kelaziman struktur puisi Arab yang setiap baitnya tidak boleh saling bertentangan, setiap kata saling mengokohkan, hingga membentuk kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan—dalam terminologi sastra Arab disebut Qafiyah. Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya’ (ratapan), ghazzal (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme tokoh-tokoh Quraisy yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis as-tsabit (yang tetap).
Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Gagasan ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis & Politik (PR, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, (PR, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya; “benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab; “sepenuh hati.” Tapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang; apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!” Begitu saya mengakhiri pembicaraan.

Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi—tidak hanya puisi Binhad, tentunya—adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu. Walter Benjamin (1892-1940) filsuf Jerman terkemuka, pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pasca-renaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan autentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam peradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuh-sesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F.Budi Hardiman, 2007).

Maka, sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”—meminjam ungkapan khas Binhad—dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brect (1898–1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris—karena itu ia bermuatan politis—meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan… (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Budaya

Masih Adakah “Simfoni Hati” di Jakarta?

mm

Published

on

simponi hati di jakarta

Oleh: Sabiq Carebesth*

Selalu saja ada seseorang yang tertawa lepas dalam kegelapan, mengeluarkan serangkain lelucon dan sindiran-sindiran tajam–bahwa kota seharusnya jangan pernah disalah artikan oleh kata-kata yang menjelaskannya.

Itulah gambaran dan pengertian kota-kota “imajiner” milik Italo Calvino dalam bukunya “Invisible Cities”. Mirip dengan kota Jakarta milik (anda)? Apakah Jakarta memiliki tanda?

Di jakarta, tawa yang paling lepas adalah tawa dari mulut yang paling berbusa menyembunyikan derita. Tawa lepas dalam kegelapan nun muram rumah kontrakan, jembatan panjang, gubuk liar yang menunggu gusuran; tawa yang menertawai keterbahakannya sendiri pada apa yang terjadi dan ada di Jakarta. Rentetan ironi yang disampaikan melalui kebohongan benda-benda sebagai penanda yang membuat tawa lepas dan kebahagiaan berganti rupa menjadi keterasingan, dan tak jarang ketragisan.

Itulah tanda-tanda Jakarta yang tak pernah bohong; ke-tragis-an dan keterasingan jiwa modern yang ironis. Sementara  benda-benda yang berjuang menjadi “tanda” seperti halnya lukisan, kerap gagal menangkap kebohongan yang disampaikan oleh alasan keberadaan benda-benda tak terkecuali lukisan dan gagasan di dalamnya.

Lukisan tentang kota seperti Jakarta, mestinya adalah meditasi yang sublim yang dengan kemampuan meditasinya mengambil jarak dari realitas sekaligus pada saat yang sama menancapkannya lebih dalam ke dalam; kenyataan.  Zaman terus berubah, meninggalkan ironi dan ambivalensi, seni menangkapnya, tapi sekaligus memberinya harapan. Itulah kritik ringan saya sebagai penonton lukisan dalam pameran bersama Art Venture IV, bertemakan “Ada Apa Jakarta” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 21-29 Agustus 2013.

SALAH ARTI

Simbol tentang Jakarta kerap atau bahkan selalu dihadirkan dalam medium visual seni yang muram (tapi nyatanya jakarta terang benderang), kumuh dan marjinal (tapi Jakarta adalah pusat dalam banyak pengertian dan anda bisa lihat berapa mega Mall yang setiap menit lantainya dibersihkan); jakarta adalah sungai dengan kanal-kanal air yang hitam, rentetan musim yang kerap berarti banjir, di Jakarta kita juga melihat kehidupan “Indonesia” di pinggir kali (keragaman etnik dimana wajah Indonesia kasat mata di bantaran CIliwung).

Secara khusus dan terbanyak Jakarta lazim dikenali sebagai simbol bagi kemacetan; baik jalan raya, atau juga kemacetan dalam hal sosio-kultural seperti kemacetan pikiran, keterbukaan, kemanusiaan yang sebenarnya bukan hanya macet, tapi bahkan nyaris involutif atau sebutlah, padat merayap (tapi Jakarta juga mimpi paling absah dari setiap impian yang progres, bahkan di Jakarta orang-orangnya berjalan cepat-cepat; dan semua yang serba cepat dari informasi, politik, bisnis, transaksi, mode) Jakarta adalah tempat yang menghendaki serba cepat, tapi kadang juga karena sempitnya tempat, Jakarta juga bisa berarti berhimpit-himpit, himpitan, atau terhimpit.

Hal terakhir misalnya tampak pada karya “Maaf…Ada Hajatan!” karya Afriani. Lukisan yang menggambarkan bagaimana orang di Jakarta tak memiliki tempat di halaman rumahnya untuk menggelar hajatan kecuali dengan menutup akses publik berupa jalan umum.

Dalam pameran Art Venture IV juga terlihat lukisan Rizal MS dan Triyono Budhi tentang keberadaan kaum marjinal di kota Jakarta. Gabriella Indira Satri yang menampilkan lukisan tentang banjir. Nisa Anggraini dengan gaya naif melukiskan jalan-jalan Jakarta yang macet. Yudi Hermunanto dengan lukisannya yang berjudul “Selamat Datang Aja Deh!”. Ada pula Arina Restu Handari yang menggambar ondel-ondel, serta R Sahyo yang menggambarkan suasana pasar rakyat. Lukisan yang lain hampir serupa dalam menggarap tema “Ada Apa Jakarta”, para perupa masih tampak menggambarkan Jakarta sebagaimana pandangan kebanyakan orang dimana bisa kita katakan: “demikianlah adanya jakarta.” Apakah nada itu terlihat pesimis dan “salah tafsir”?

Sebagai lukisan, teknik dan hasil yang tervisualkan lebih dari sekedar bagus, melainkan menampilkan suatu cita rasa estetik yang berhasil hampir dalam semua lukisan yang dipamerkan; dimana pengunjung, setidaknya saya, dibuat berdiri mematung menikmati keindahan, dan separuh dari tindakan mematung adalah merefleksikan Jakarta dengan segala apanya. Kemudian saya merasa bahwa tema dan gagasan dalam melihat Jakarta masih bergantung pada ungkapan-ungkapan aksara dan wicara yang lazim membuncah di Jakarta baik di berita koran, TV atau di kehidupan sehari-hari.

Ada sisi lain yang tak saya dapatkan dari Jakarta dimana saya berharap dunia lukis bisa memberikannya. Inilah yang saya sedikit merasa harus memberi catatan, sebagai pengunjung dan penduduk Jakarta. Saya ingin bertanya, selain kebohongan realitas melalui simbol-simbol aksara dan wicara, masih adakah romansa di Jakarta?  Dimana tempatnya cinta kasih di tengah ibu kota yang serba cepat, banjir, orang-orang yang terpinggirkan, masyarakat yang minim ruang publik, bagaimana kemanusiaan di jakarta di rawat bila tak dengan hati? Jadi masih adakah simfoni hati di Jakarta?

“SYIMPONI HATI”

Sampai di ruangan dalam di penghujung gedung Galeri Cipta memajang sebuah lukisan besar berjudul “Melawan Trend” karya Afriani yang dengan baik mewakili tema ironis dalam “ada apa jakarta”, juga gagal memberi saya kepastian bahwa di Jakarta, soal perasaan, hati dan kenangan dalam romansa; masih bisa dilukiskan.

Saya mencari dengan perasaan nyaris kecewa karena berpikir hanya akan mendapati jajaran lukisan dari kombinasi cat dan visualisasi ide yang kritis atas sebuah, sebenarnya—tema kehilangan, dari Jakarta yang terus berevolusi secara cepat sebagai kota metropolis yang super konsumtif dalam berbagai hal.

Namun harapan saya akhirnya lunas di hadapan sebuah dinding yang memajang tiga lukisan dengan media Acrylic on Canvas karya Yul Hendri. Salah satu dari tiga lukisan karya Yul berjudul “Syimponi Hati”. Dan rupanya “Syimponi Hati” masih ada di Jakarta yang serba ironis dan tragis, kebanyakan ambivalen dan dipenuhi paradoks pada realias dan simbol kehidupan sosial budayanya.

“Syimponi Hati” karya Yul Hendri mungkin bukan lukisan terbaik yang ada dalam ruangan besar Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki malam  itu, tapi lukisan itu menyelamatkan perasaan dan kognisi kehidupan Jakarta. Bahwa di atas segala perubahan sosial dan kultural sebuah kota yang nyaris sama imajinernya dengan mimpi-mimpi manusia di dalamnya sehiangga hampir sebagian dari realitas di kota seperti Jakarta adalah realitas yang bohong, hati tetap adalah monumen penting bagi penanda kehidupan kota yang jujur, sebuah syimponi tentang romansa zaman dari sebuah kota bernama Jakarta.

Akhirnya, apalah Jakarta bila tanpa syimponi dari hati manusia yang senantiasa bergetar pada seni? Barangkali memang benar, di kota kebohongan tak pernah terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda. Tanpa simfoni hati, Jakarta hanya akan menjadi benda-benda mati yang tak pernah bisa berkata-kata untuk menyusun kenangannya sendiri yang kerap sendu. Serupa kesenduan dari “syimphoni hati” Yul Hendri; kesenduan yang tak lagi mencari penawar kelapangan atau keluasan, tapi kesenduan yang sudah diterima sebagai bagian dari simfoni hati yang dibunyikan oleh biola jiwa, yang terhimpit di Jakarta.[]

SABIQ CAREBESTH

Penyair, Pecinta Buku dan Kesenian, Editor “Galeri Buku Jakarta”

*Artikel ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 2013.

Continue Reading

Budaya

Aroma Sastra dan Literasi di Paris

mm

Published

on

Sastra dan Literasi di Paris

Mbak Lona Hutapea, penulis buku Paris C’est Ma Vie dan Voila La France, yang juga pernah tinggal di Paris, merekomendasikan saya untuk merasakan aroma sastra di kafe-kafe kota Paris. Nah, saat berkesempatan mampir di Paris beberapa waktu lalu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke tempat yang direkomendasikan mbak Lona tersebut.

Dari banyaknya kawasan, ada satu daerah yang wajib dikunjungi para pecinta literatur. Nama daerahnya Latin Quarter, yang menurut sejarah adalah tempat mangkal dan kongkow para sastrawan dan seniman Eropa selama beratus tahun. Dahulu, para filsuf. seniman, artis, dan sastrawan, berkumpul di kafe-kafe daerah itu dan melakukan aneka diskursus intelektual. Ada pemikiran yang melawan arus, bahkan ada yang revolusioner. Tak heran, pergerakan filsafat dan sastra marak dan kerap bangkit di Paris. Nama-nama filsuf besar seperti Sartre, Simone de Beauvior, Oscar Wilde, Voltaire, Victor Hugo, adalah deretan nama yang pernah nongkrong di berbagai kafe kota Paris.

Saya selalu meyakini bahwa perjalanan panjang diskursus intelektual di satu area adalah energi yang terus melekat selama bertahun-tahun. Karena itulah, saat memasuki kafe atau sudut-sudut tua kota Paris, aura dan nuansa sastra intelektual terasa begitu kental dan menyesap.

Saya kemudian berhenti di satu toko buku legendaris yang menjadi salah satu ikon literasi Paris. Bagi saya, inilah sanctuary for book and literature lover in Paris. Surga bagi pecinta buku dan literasi di Paris. Nama tokonya Shakespeare and Co. Sayapun pergi ke sana, dan hanyut tenggelam di toko buku itu. Meski terlihat kecil dan tua, toko buku yang didirikan sejak tahun 1922 ini sarat dengan kisah. Para sastrawan dan penulis dunia, seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald, dulu sering kongkow dan menelurkan karya2 dari toko kecil ini. Koleksi literaturnya juga luar biasa.

Sebenarnya, toko asli Shakespeare and Co didirikan oleh Sylvia Beach, seorang ekspatriat Amerika, pada tahun 1919di Rue Dupuytren. Pada tahun 1921, toko buku ini pindah ke tempat yang lebih besar, dan buka hingga tahun 1940, sebelum Perang Dunia ke-II. Setelah itu toko buku ini ditutup. Barulah pada tahun 1951, David Whitman membuka kembali toko buku ini. Saat ini, toko buku dikelola oleh putri dari David Whitman, yaitu Sylvia Whitman.

Memasuki toko buku kecil, yang terletak di bawah bayang-bayang Gereja Notre Dame Paris tersebut, kita seolah diajak berjalan dalam mesin waktu. Suasana Bohemian langsung terasa. Rak-rak buku model kayu, klasik, dipenuhi oleh koleksi aneka buku second hand -berbahasa Inggris, yang ekstensif. Toko ini juga memiliki beberapa kamar kecil, yang dulu jadi tempat bermalam para sastrawan dan seniman. Kadang bayarannya bukan uang, melainkan kewajiban mereka membaca satu buku dalam sehari, dan mendiskusikan isinya bersama-sama. Sungguh sangat kaya literasi.

Bagi para pecinta literasi, perjalanan ke Paris wajib mampir ke Shakespeare and Company. Dari toko kecil ini kita bisa belajar, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang kaya membaca, menulis, dan budaya. Perancis dibangun juga oleh literasinya yang kaya. Tak banyak toko buku dan penerbit di Indonesia yang bisa berumur ratusan tahun. Tapi kita bisa memulai dan merawat yang sudah ada. Untuk Indonesia yang lebih baik dan kaya literasi.

Usai memilih buku, kita bisa duduk2 membaca di kafe2 bersejarah yang tersebar di seputaran situ. Ada satu kafe yang konon merupakan kafe tertua di sana, letaknya tak jauh dari Shakespeare. Namanya Le Procope. Silakan bungkus buku yang baru anda beli, bawa ke La Procope, kemudian pesanlah secangkir kopi. Nikmati aroma sastra dan literasi di Paris yang indah. (By: Junanto Herdiawan http://junantoherdiawan.com)

Continue Reading

Budaya

Menyusuri La Rambla, Barcelona

mm

Published

on

La Rambla Barcelona

BARCELONA , kota terbesar kedua di Spanyol, memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Ibu kota daerah otonom Catalan itu terletak di tepi Laut Mediterania dan memiliki sejarah panjang.

Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah kawasan La Lambla. La Rambla merupakan jalan sepanjang 1,3 kilometer yang terbentang dari alun-alun Plaza Catalunya hingga pelabuhan lama Barcelona, Port Vell.

Plaza Catalunya merupakan pusat kota yang digunakan untuk berbagai kegiatan warga. Plaza ini digunakan warga mulai sekadar berjalan-jalan hingga berdemonstrasi.

Baik warga lokal maupun turis senang menyusuri jalan yang disebut-sebut sebagai jalan paling tersohor di Barcelona ini. Di ujung jalan yang paling dekat dengan Plaza Catalunya, ada air mancur. Menurut legenda, siapa yang minum dari air mancur ini akan terus kembali ke Barcelona. Tak heran kalau banyak turis mencobanya.

La Rambla memang nyaman untuk orang berjalan kaki. Jalan ini lebar dan bagian tengahnya khusus untuk pejalan kaki. Sementara di kanan kirinya untuk jalur mobil dan motor. Semua pemakai jalan ini tertib pada jalurnya.

Jadi, tak ada motor yang nyelonong masuk ke area pejalan kaki. Sepanjang tepian jalur mobil dan motor, banyak bangunan tua. Bagian bawah bangunan pun dimanfaatkan untuk toko, restoran, sampai tempat penukaran uang.

Meski nyaman, kita harus tetap waspada saat berjalan-jalan di kawasan ini. Maklum, seperti umumnya kota besar dunia, Barcelona pun tidak bebas dari para pencopet.

Musim semi

Pada hari Minggu akhir Februari lalu, walaupun matahari bersinar, suhu Barcelona pada musim semi berkisar 9-13 derajat celsius. Meski waktu itu siang hari, bagi warga Jakarta yang biasa hidup dengan suhu 27-30 derajat celsius, Bercelona terasa dingin.

Jaket dan topi wajib kita pakai untuk menahan angin. Selain menikmati pemandangan dan bangunan tua, berjalan-jalan di La Rambla juga memberi kita gambaran gaya berpakaian warga setempat.

Sementara di kanan kiri jalur pejalan kaki terdapat kafe-kafe kecil. Mereka menggelar meja-meja dengan payung. Untuk menahan dingin, beberapa kafe menyalakan perapian kecil di antara meja-meja. Beberapa kafe menambah tenda plastik transparan untuk menahan terpaan angin.

Tidak hanya kafe, di La Rambla juga banyak pelukis yang menawarkan jasa. Hanya dalam waktu sekitar 5 menit, gambar karikatur pemesan selesai mereka kerjakan.

Kios-kios suvenir juga banyak terdapat di La Rambla. Suvenir berbentuk magnet, misalnya, dibanderol seharga 3-10 euro. Suvenir khas dari Barcelona adalah salamander gaudi. Di sini tubuh salamander yang mirip kadal itu, ditempeli mozaik berwarna-warni.

Gaudi adalah nama arsitek terkenal Barcelona. Dia antara lain membuat Parc Guell. Di taman yang dilengkapi rumah ini, terdapat salamander raksasa, makhluk rekaan Gaudi yang disebut El Drag. Bentuk inilah yang kemudian menjadi salah satu suvenir khas Barcelona.

Setelah melewati deretan kios suvenir dan menyeberang jalan kita bertemu monumen Columbus atau Mirador de Colon, dalam bahasa setempat. Christopher Columbus adalah pelaut Genoa, Italia, yang mendapatkan dukungan dari raja-raja Spanyol untuk menemukan dunia baru. Tinggi monumen ini sekitar 50 meter dengan patung Columbus di puncaknya. Di dalam monumen ini ada lift yang membawa kita melihat pemandangan kota dari puncaknya.

Pelabuhan

Hanya beberapa meter dari monumen, kita menjumpai pintu masuk ke Port Vell, yang berarti pelabuhan lama dalam bahasa Catalan. Banyak keluarga menghabiskan akhir pekan di sini bersama burung-burung camar yang beterbangan. Jembatan gantung kayu, Rambla de Mar, menghubungkan ujung La Rambla dengan Moll d’Espanya.

Di mal tersebut terdapat restoran, toko, dan akuarium air laut yang diklaim terbesar di Eropa dengan koleksi 8.000 ekor ikan. Di kawasan pelabuhan ini, kita bisa menyewa becak wisata untuk berkeliling kawasan ini. Tarif becak wisata itu sekitar 65 euro per tiga jam untuk dua penumpang.

Selain La Rambla, tempat yang ”wajib” kita kunjungi adalah Camp Nou. Inilah markas klub sepak bola Barcelona, Barca. Merek klub sepak bola Barcelona ini dianggap sebagai yang paling kuat di seantero Spanyol.

Orang asing boleh bingung letak Spanyol, tetapi ketika disebut Barca, mereka biasanya langsung paham. Kabarnya rumput di lapangan sepak bola ini sering dicuri orang untuk dijadikan jimat pendukungnya. Mungkin karena itulah, kawasan ini dijaga ketat. Pada musim dingin rumputnya ditutup, bahkan diberi penghangat agar dapat tumbuh baik.

Matahari musim semi sudah tergelincir. Perjalanan Minggu siang di La Rambla dan Camp Nou cukup menjadi alasan kita untuk kembali ke Barcelona…. (Joice Tauris Santi)

Continue Reading

Trending