Connect with us

Kolom

Ihwal Sastra Ihwal Kreativitas

mm

Published

on

Sastra dalam dirinya sudah mengandung kreativitas, maka istilah sastra kreatif menimbulkan pertanyaan adakah sastra yang tidak kreatif? Jawabannya jelas dengan menegaskan  pumpunan karangan ini: ihwal sastra adalah ihwal kreativitas.  Namun, harus diakui juga bahwa kreativitas itu mempunyai pengertian yang lebih luas bukan semata-mata berhubungan dengan persoalan cipta sastra. Kreativitas terkait dengan manusia itu sendiri yang dipandang sebagai makhluk kreatif. Utami Munandar (dalam Alisjahbana, 1983: 68) dengan mengutip pernyataan Arasteh (1976) menegaskan bahwa kreativitas itu sama tuanya dengan manusia. Hal ini membuka peluang lebih luas untuk mengaitkan kreativitas dengan segala hal yang dikerjakan oleh manusia untuk memuliakan hidup. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kreativitas itu kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru sehingga dengan begitu manusia dibedakan dengan binatang. Rumah manusia terus berubah dari dahulu hingga sekarang, sedangkan rumah burung tetap sama sejak awalnya hingga kini. Tegasnya, kreativitas manusia memungkinkan penemuan di bidang ilmu, teknologi, dan dengan sendirinya, seni.

Kreativitas yang dimiliki manusia membawa manusia pada statusnya sebagai wakil Tuhan di dunia. Atau, dalam statusnya sebagai wakil Tuhan itu, manusia diperlengkapi dengan kreativitas itu oleh Sang Pencipta.  Sutan Takdir Alisjahbana (1983: 36-37) menegaskan adanya keistimewaan manusia dalam wujud budi yang membedakannya dari makhluk lain yang dengannya manusia memperoleh kemungkinan untuk  terus-menerus menciptakan. Melalui evolusi alam, manusia mendapat budi yang memungkinkannya berkreasi.  Kreativitas manusia dalam kaitannya dengan status manusia sebagai wakil Tuhan di dunia amat jelas.

Kemampuan kreatif hakikatnya kemampuan yang hanya dimiliki manusia untuk “menyempurnakan” atau mengembangkan segala yang tersedia dalam kehidupan di bumi. Eksplorasi sumber energi bumi, pemanfaatan kekayaan alam untuk kehidupan yang lebih baik, pemeliharaan lingkungan hidup, dan kewaspadaan akan adanya dampak perkembangan teknologi, misalnya, memerlukan daya kreativitas. Penemuan energi  dari alam dan tumbuhan, rekayasa genetika, penemuan hukum alam semuanya itu merupakan  buah dari   kreativitas manusia.  Namun, dengan dan dalam porsi seperti itu, seniman   Rendra, misalnya, menunjukkan kreativitasnya secara seni dalam bentuk, misalnya, menciptakan dan menampilkan lakon “Perjuangan Suku Naga” yang mengeritik dampak teknologi terhadap lingkungan hidup dengan sasaran utamanya penyelenggara kekuasaan yang tidak memperhatikan kepentingan orang banyak yang terpinggirkan. Temuan teknologi modern  merupakan wujud kreativitas yang bermanfaat bagi kehidupan, tetapi menjadi bencana karena salah penerapan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi  dan politik semata-mata.

Kreativitas disebut sama tuanya dengan manusia. Apa yang dipikirkan dan diperbuat manusia untuk “menyejahterakan” hidup, membikin hidup  lebih nyaman, tidak dapat dilepaskan dari apa yang kita sebut sebagai kreativitas. Kreativitas menjadi dasar reformasi dan juga deformasi, bukan hanya terkait dengan sastra yang hanya merupakan salah satu faset dari berbagai faset yang dihasilkan manusia. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kreativitas menjadi sesuatu yang menentukan. Tanpa kreativitas manusia kebudayaan dalam arti luas  mustahil berkembang karena kebudayaan itu sendiri dalam arti luas menginti sebagai kreativitas.

Dalam bidang teori atau studi kesenian, misalnya, untuk menyambut bentuk kesenian yang semakin beragam dan rumit dituntut teori  yang selaras dengan perkembangan   karya seni itu, baik wujud bentuk ekspresi maupun kandungan isinya. Untuk menyambut perkembangan seni, dan sastra khususnya diperlukan model pendekatan yang lain daripada pendekatan sebelumnya karena mengikuti perkembangan model ekspresi seninya itu sendiri. Pertunjukan seni  pada masa sekarang ini, misalnya menunjukkan pertautan  antara berbagai cabang seni yang menghasilkan seni pertunjukan. Musikalisasi puisi atau pementasan teks sastra menuntut “bantuan” seni dan teknologi agar menghasilkan pertunjukan yang lebih memikat sehingga kajian atasnya menuntut   pendekatan interdisiplin yang lintas ilmu. Ketika pertunjukan seni  itu menjadi tontonan yang dapat dijual dan karena itu menghasilkan uang, kita memasuki wilayah ekonomi kreatif sehingga pengelolaannya akan melibatkan berbagai pihak dari berbagai bidang yang lebih luas.

*

Dengan dan dalam sastra, kreativitas manusia memberikan peluang bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, manusia pencipta sastra memiliki kuasa dengan imajinasinya untuk mengembangkan dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai wujud atau realisasi pemaknaan terhadap kenyataan. Hal ini  akan melengkapi manusia rekaan sang pengarang memola bagaimana Tuhan menciptakan dan mengatur hidup manusia nyata, termasuk memberikan sebagian kecil daya kreativitasNya untuk para pengarang. Memang, dalam konteks ini tanpa menjadi sastrawan pun manusia sudah memperoleh apa yang disebut sebagai kreativitas. Sastrawan dianugrahi kreativitas  seni yang menurut Takdir membuat sang pengarang mencapai kegirangan, mencapai kepuasan dalam kelakuan kesenian itu sendiri dengan mencipta. Sering diungkapkan adanya kegairahan mencipta seni yang tak tergantikan oleh materi. Dalam kata-kata Takdir (1983: 43),

     “…penciptaan seni  itu    mempunyai  tenaga pendorongnya sendiri, mempunyai logikanya dan tujuannya sendiri yang bersifat intuisi. Dasar sekaliannya ialah dorongan yang keras untuk menciptakan bentuk  yang di dalamnya si seniman itu menjelmakan dirinya sendiri, menyempurnakan dirinya sendiri. Demikianlah dalam penciptaannya itu manusia aestetik itu dengan penuh kegembiraan menyelesaikan dirinya dan mengalami perasaan kenikmatan dan kegirangan yang dalam.”

Sastrawan merupakan manusia yang dipilih yang dianugerahi kemampuan kreatif oleh Sang Maha Pencipta. Boleh dikatakan bahwa sastrawan itu dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Namun, ia memperoleh “indra keenam” yang membuatnya dapat memasuki pikiran dan peri kehidupan kehidupan manusia lain. Manusia lain itu kelak akan menjadi tokoh rekaan yang dapat dikenal luas oleh pembaca yang pada gilirannya akan menjadi mitos yang memiliki kekuatan untuk dikenang untuk dijadikan contoh.  Laku dan sikapnya dikenang oleh sang pembaca dan dalam batas tertentu menjadi “teman” sang pembaca.  Selain itu, ia dikaruniai  kepekaan untuk menangkap makna dari setiap peristiwa, tokoh, dan bumi yang dipijaknya. Kemampuan ini menjadi modal dasar baginya untuk menciptakan manusia rekaan yang  mungkin dijumpainya dalam pengalaman hidup kesehariannya.

Dari sisi pembaca, kemampuan berimajinasi disertai kemampuan penghayatan yang mendalam terhadap manusia dan persoalan zamannya akan mempertemukan pembaca dengan pikiran dan perasaan sang pengarang. Kedua kemampuan itu pada gilirannya akan menjadi dasar bagi ditemukannya konsep pemahaman atas karya sastra dan seni pada umumnya. Dengan begitu, berkembang pula teori untuk menyambut kreativitas sang pengarang. Berbagai wujud teori  itu hakikatnya adalah kreativitas dalam bentuk lain yang dapat menjadi lebih berkembang lagi di masa depan.

*

Kemampuan kreatif memerlukan keberanian kreatif, keberanian untuk menghadapi risiko yang timbul  akibat laku kreatif yang mengungkapkan ihwal yang tidak biasa. Keberanian kreatif dibutuhkan untuk menampilkan sesuatu yang lain dari yang biasa di luar adat.  Keberanian kreatif menjadi modal untuk melancarkan kritik kepada penguasa yang zalim.  Ketika sebuah rezim menjadi amat kuasa, kritik yang dilancarkan sastrawan dapat saja menjadi jalan untuk masuk bui, juga pernyataan yang berlawanan dengan kebijakan politik baik dalam sastra maupun laporan investigasi jurnalistik, misalnya.

Mochtar Lubis dapat disebut sebagai pengarang yang memiliki keberanian kreatif untuk bersebarangan dengan politik pada masa Orde Lama dan Orde Baru sekaligus. Dia mendapat julukan wartawan jihad dan itu menjadi salah satu judul buku untuk mengenang keberaniannya.  Pada   Masa Orde Lama Mochtar Lubis baru dapat menerbitkan novel Senja di Jakarta di Malaysia.  Novel itu mengungkapkan persoalan korupsi yang dilakukan penyelenggara Negara. Demikian juga pada masa Orde Baru korannya Indonesia Raya membongkar kasus korupsi di Pertamina. Kasus yang mirip dialami juga oleh WS Rendra pada masa Orde Baru berkaitan dengan pembacaan sajak dan pementasan drama yang mengeritik pemerintah sebagaimana disinggung di bagian awal karangan ini. Kumpulan sajaknya  Potret Pembangunan dalam Puisi  dan  Orang-Orang Rangkasbitung mengungkapkan gagalnya pembangunan untuk menyejahterakan rakyat. Menjelang Reformasi, Wiji Thukul melakukan gerakan perlawanan melalui penciptaan dan pembacaan sajak. Sampai sekarang penyair  Aku Ingin Jadi Peluru itu tidak jelas nasibnya, hilang sejak kerusuhan 21 Mei 1987. Selepas Reformasi pula Taufiq Ismail  mengumpulkan sajak yang mengambil tema menyuburnya budaya korupsi di tanah air dengan judul Malu Aku Menjadi Orang Indonesia yang diakronimkan Majori. Penyair itu merasa tidak nyaman menjadi orang Indonesia karena laku korupsi yang merajalela.

*

Pada mulanya dalam teks sastra kita temukan apa yang disebut sebagai gejala penyebutan nama atau inti cerita dalam sebuah teks yang bersumber teks sebelumnya. Di sini ditegaskan istilah teks dalam arti luas berupa kata yang terkait dengan nama tokoh atau peristiwa yang berasal dari  teks masa lampau terutama teks sastra. Teks dalam arti luas pun dapat menyangkut  peristiwa sejarah seperti yang ditemukan dalam sajak Chairil Anwar dengan penyebutan dan penampilan Bung Karno yang kemudian ditampilkan dalam foster sebagai hasil kerja sama dengan Afandi berjudul “Bung yo Bung!”  Peristiwa yang diungkap dari teks masa lampau yang  memunculkan gejala aktualisasi mitologi menunjukkan adanya gejala intertekstualitas, seperti yang kita temukan dan beberapa sajak Goenawan Mohamad seperti  “Tentang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum” dan “Cerita buat Yap” (1970) atau “Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam”  (1990) dan “Lacrimosa” (2013) .Nama peristiwa ataupun nama tokoh memunculkan apa yang dikenal sebagai intertekstualitas  yang melibatkan teks lain baik yang berasal dari yang lama maupun yang baru. Sastrawan pada umumnya adalah pembaca yang tekun sehingga dalam karya yang diciptakannya mungkin dapat dibayangkan keluasan bacaannya sebagai hasil pergaulan dengan dunia teks baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas.

*

Intertekstualitas itu mewujud dalam berbagai bentuk mulai dari  penyebutan nama tokoh mitologi Penyebutan  laku tokoh yang dinarasikan dapat saja dilakukan dengan penekanan pada satu tema yang dipilih yang diselaraskan dengan  yang dihadapi sekarang. Gejala ini sudah berlangsung lama, bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Dapat disebut, antara lain, Rustam Effendi menciptakan drama bersajak dengan judul Bebasari,  Sanusi Pane  dengan “Syiwa Nataraja”,  Amir Hamzah dengan Nyanyi Sunyi , Chairil Anwar  yang menyebut tokoh mitologi Yunani. Pada masa berikutnya dapat disebut Soebagio Sastrowardoyo,  Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Dua nama yang disebut terakhir sampai sekarang masih menulis dengan gejala intertektualitas  yang kuat.

Pertemuan berbagai karya seni mengembangkan karya seni sehingga terjadi hubungan antarwahana ketika puisi, misalnya, dinyanyikan atau lebih jauh lagi dipanggungkan sehingga dikenal seni pentas. Seni pentas selanjutnya menuntut teks yang siap dipanggungkan dan kita menyebtnya sebagai drama atau sandiwara. Di dalam drama berbagai cabang seni bergabung menampilkan seni pertunjukan. Penanggap atau penonton juga semakin bervariasi. Maka, dalam seni pentas penikmatan seni menjadi relatif lebih praktis. Perkembangan lebih jauh adalah ketika seni pentas  diperlengkapi dengan seni  perfileman dan orang yang terlibat dalam penyelanggaraan seni tersebut semakin luas. Dibutuhkan penulis  naskah, lalu penyusunan skenario, sutradara, aktor, serta sejumlah orang yang turut mengembangkan lebih kauh sehingga industry kreatif yang menuntut kompleksitas keahlian dan ketukangan sekaligus.  Babad Diponegoro, misalnya, mula-mula ditulis Pangeran Diponegoro di tempat pembuangannya di di Sulawesi Utara. Naskah itu dijadikan bahan koleksi Radyapustaka Solo, kemudian penelaah naskah dari Amerika melakukan studi naskah disertai terjemahannya. Landung Simatupang  terpesona oleh  naskah Babad Diponegoro dan mementaskannya dalam bentuk monolog yang dilengkapi dengan peralatan panggung sebagai yang yang dikenal dalam seni pertunjukan. Naskah yang mengalami “metamorfose” itu hadir di depan kita di layar kaca dalam bentuk cakram yang siap putar kapan dan di mana saja kita suka.

*Abdul Rozak Zaidan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

 

DAFTAR PUSTAKA

Alisjabana, S. Takdir.  (ed.). 1983. Kreativitas. Jakarta: Dian Rakyat.

Damono, Sapardi Djoko. 2012. Alih Wahana. cetakan pertama. Jakarta: Editum.

Luhung, Mardi. 2012. Bawean. cetakan ke-2. Surabaya: Pustaka Pujangga.

Noor, Acep Zamzam. 1996. Di Luar Kata: Kumpulan Puisi. Jakarta: Pustaka Firdaus

Mohamad, Goenawan. 1971. Pariksit. Jakarta: Litera.

__________________. 1973. Interlude, sejumlah sajak. Jakarta: Yayasan Indonesia.

__________________. 1992. Asmarandana. Pilihan Sajak 1961—1991. Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia.

__________________. 2013. Gandari dan Sejumlah Sajak. Jakarta: Tempo.

Thukul, Wiji. 2000. Aku Ingin Jadi Peluru. Magelang: Indonesia Tera.

Continue Reading

Kolom

Merefleksikan 20 Tahun Reformasi

mm

Published

on

Oleh: Sugeng Bahagijo | Direktur Infid 

Tahun 2018 Indonesia memasuki usia 20 tahun sejak reformasi 1998. Tanpa banyak disadari, 20 tahun masa reformasi, Indonesia sedang merambah perubahan-perubahan sosial yang disebut sebagai “large scale social change”. Sebuah perubahan sosial berskala besar.

Perubahan skala luas penting dicatat untuk bahan berpikir: (a) sejauh mana capaian 20 tahun reformasi; (b) untuk merawat dan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dari berbagai godaan dan pengaruh masa lalu, yang masih kuat. Hal ini agar Indonesia tidak ditawan oleh hantu masa Lalu.

Perubahan luas ini berbeda dengan perubahan operasional dan level kelembagaan. Perubahan skala luas ditandai bukan saja perubahan kuantitatif (sarana dan institusi), juga kualitatif (nilai-nilai, asumsi-asumsi). Disebut perubahan-sosial skala raksasa karena kebijakan atau langkah itu melampaui atau menembus batas terakhir yang ada. Juga karena dampaknya (positif) sangat signifikan pada tatanan sosial dan nilai-nilai sosial (menjadi lebih baik).

Lima perubahan luas

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Setidaknya ada lima contoh perubahan skala luas yang layak disebut. Baru-baru ini, Menakertrans Hanif Dhakiri mengumumkan bahwa pemerintah akan meluncurkan dua skema kebijakan untuk mendukung angkatan kerja dan pasar kerja Indonesia. Program itu adalah tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dan skill development fund (SDF)—dana khusus untuk memperluas kesempatan pelatihan dan pemagangan bagi semua warga dan angkatan kerja.

Ini merupakan terobosan untuk bisa setara dengan negara maju dan negara tetangga sebaya, dan lebih menjanjikan ketimbang sistem jaminan sosial yang ada sekarang. Juga karena negara-negara tetangga lain sudah memilikinya: Thailand dan Vietnam untuk tunjangan pengangguran; Malaysia dan Singapura untuk SDF.

Perubahan skala luas juga dilansir Menteri Keuangan. Dalam pidatonya di Washngton DC, Oktober 2017, Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mempelajari sistem jaminan sosial baru, yaitu universal basic income atau tunjangan pendapatan warga. Ini untuk mengimbangi trend lenyapnya tenaga kerja manusia akibat perkembangan teknologi-otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan.

Sebelumnya, pemerintahan Jokowi-JK memulai perubahan skala luas dengan melansir kebijakan dana desa atas dasar UU Desa. Dengan 30 persen angkatan kerja berada di desa, maka dana desa menjadi super penting. Kebijakan ini contoh perubahan skala luas. Tanda-tanda perubahan luasnya dapat ditilik dari: (a) membalik arah alokasi belanja dari perkotaan ke pedesaan; (b) menempatkan warga desa pinggiran sebagai subjek dan aktor pembangunan.

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah pelembagaan dan kodifikasi hak asasi manusia dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian kedudukan dan nasib warga jadi prioritas utama. HAM akhirnya juga menjiwai UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2004 dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2011, yang berjanji akan menjangkau dan melindungi “semua warga”. Sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem terdahulu, yang hanya melayani melindungi pekerja dan aparatur negara.

Sejarah

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perubahan skala luas bukanlah baru. Jika hari ini kita memiliki jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan), meski belum 100 persen warga tercakup, kita berutang ide besar ini kepada Thomas Paine.

Karena dia (Agrarian Justice) sudah mengusulkan jaminan sosial untuk warga. Paine menolak ide penghapusan hak milik pribadi dan UU Kemiskinan di Inggris yang menimbulkan stigma bagi penerimanya. Gagasan Paine juga menjadi cara memastikan setiap warga memiliki aset di tengah sistem tanah yang sudah menjadi milik pribadi

Dalam sejarah, kita juga mengenal perubahan skala luas lain yang menjadi landasan bagi HAM modern: (i) penghapusan sistem perbudakan, dimulai di Inggris lalu merambat ke Amerika Serikat dan dunia; (ii) hak memilih untuk semua warga, tidak hanya untuk yang kaya dan laki-laki.

Dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan skala luas ini yang akhirnya berembus juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Hindia Belanda) dan ikut memberikan andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perkembangan dunia

Indonesia tak sendiri. Berbagai negara juga berlomba menemukan dan melaksanakan perubahan skala luas. Karena setiap zaman melahirkan perkembangan sendiri. Perubahan iklim terbukti membuat frekuensi dan dampak bencana alam semakin besar di seluruh dunia. Energi kotor (batubara, minyak) menjadi biang penyebabnya. Maka, perlu ditemukan energi bersih dan lestari.

Itulah sebabnya, baru-baru ini, Pemerintah Norwegia mengumumkan akan menggelar penelitian dan uji coba energi listrik. Ditargetkan pesawat komersial bersumber listrik jadi dominan dalam 5-10 tahun ke depan. Ini artinya, maju satu langkah sesudah mobil listrik yang dikomersialkan oleh Tesla Motor.

Perkembangan teknologi seperti internet, otomatisasi, robot, memperluas kesenjangan antara pekerja ber-skill tinggi dengan skill rendah, antara pekerja dan yang menganggur. Akibatnya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan meningkat. Maka, perlu ditemukan cara memperkecil ketimpangan ekonomi (pendapatan dan kekayaan).

Barangkali itulah sebabnya para pionir sekaligus superkaya seperti Zukerberg (Facebook) dan Elon Musk (Tesla) menyuarakan dukungannya pada sistem jaminan sosial baru: universal basic income, maju satu langkah ketimbang sistem tunai bersyarat-PKH (conditional cash transfer). Sebuah langkah untuk mengimbangi laju pesat teknologi yang berpotensi menghilangkan tenaga kerja manusia.(*)

*) Sugeng Bahagijo, Direktur Infid 

 

 

Continue Reading

Kolom

Menangkal Berhala Hoaks Transaksional

mm

Published

on

J. Kristiadi | Kolumnis Politik Kompas | Peneliti Senior CSIS *)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinterkasi sehingga kehidupan di bumi lebih harmoni di huni karena orang bebas bicara dan bertukar  gagasan, ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya, sejak diketemukan mesin cetak yang memermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, tetapi pidato dan berita beracun  bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan terhadap suku, ras, agama, keyakinan, membahana pula.  Misalnya, perseteruan antara Kekristnan dan Kekatolikan abad pertengahan, berujung  “Perang Agama ” antara penganut Agama katolik dan Kristen Protestan selama kurang lebih tiga dekade yang mengkibatkan puluhan ribu manusia kehilangan nyawa. Tragedi semacam itu dalam skala yang berbeda terjadi  sepanjang sejarah, dan semakin mudah terulang karena dipicu oleh kecagihan tekonologi.  (Nial Ferguson, The False Prophecy of Hyperconnection, How to Survive The Networked Age, Forein Affairs, September/October 2017). Selain factor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental dan fenomena ” homopily”, gejala kecenderungan manusia mempunyai naluri mencari teman yang mempunyai kepentingan, ide dan karakter  yang sama. Relasi yang homopilik semakin mudah kalau di dasarkan atas sentiment primordial dan karakter yang sama. Ibaratnya, burung akan bergerombol dengan jenis burung yang sama. Ungkapan populernya, birds of  a  feather flock together”.

Mengingat ancaman bahaya tuturan kebencian dapat menghancurkan negara, bangsa serta peradaban, maka akun semacam Seracen yang pengelolanya menjual kebencian dan permusuhan demi seonggok rupiah harus di berantas seakar-akarnya. Pengalaman kompetisi politik, khususnya sejak Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nampaknya semakin memicu para pemilik modal untuk memfasilitasi mereka yang merindukan belaian nikmat kuasa mewujudkan impiannya. Para pembiak kekuasaan meramu menu campuran kekuatan uang dan rasa permusuhan merupakan jalan lapang untuk mengakumulasi capital.   Sementara itu para politisi yang berhasil meraih  kedudukan dapat di salah gunakan untuk memupuk modal sehingga mereka juga akan menjadi bandar politik transaksional, bukan lagi peminta-minta kekuasaan.

Berhala Hoaks Transaksional bila di biarkan dapat dipastikan akan mengikis habis secara sitematis dan bengis pilar-pilar fundamental bangsa dan negara. Mereka dengan agresif meyakinkan public dengan mengeksploitasi perbedaan kodrati dan pasti akan menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.  Oleh sebab itu tidak mengherankan banyak negara buyar karena hasrat nafsu yang membakar nalar tidak dapat dikendalikan karena  sudah terlalu liar. Berhala politik tansaksional semakin fatal bagi tatanan hidup normal karena nilai moral ditukar asal dibayar seuai hasil tawar nenawar. Mereka mengejar sampai martabat pudar karena nafsu kuasa tidak dapat dikontrol oleh nalar serta kedap terhadap ajar.

Maka sangat tepat Presiden dan Ketua Mejelis  Permusyawaratan rakyat ( MPR) kompak menunjukan kegeraman mereka terhadap  SERACEN ( Kompas, senin, 27 Agust 2017). Demikian pula respon Menteri Komunikasi dan Informatika yang  memberikan peringatan keras terhadap pengelola Facebook, Twitter, Google agar hengkang dari Rapublik Indonesia bilamana tidak memperhatikan kemanan nasional,   patut di apresiasi. Momentum kemistri tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi politik mengingat kompetisi politik massif Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019 amat mudah meruntuhkan  iman politik para politisi yang sangat rentan terhadap belaian nikmat kuasa.

Megingat laga politik sudah akan dimulai kurang dari setahun lagi, maka diperlukan beberapa kebijakan urgensi sebagai berikut. Pertama,  Menteri Komunikasi dan informasi melakukakn koordinasi dengan lembaga terkait memonitor ketat perusahaan (penyedia/operator) media sosial dan bagaimana mereka  merespon laporan mengenai ujaran kebencian dan permusuhan. Sebaiknya respon harus segera dilakukan, real time, agar tidak terlanjur menyebar lebih luas lagi. Kedua, edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya
para imigran digital ( Digital Immigrants), komponen masyarakat yang lahir sebelum era teknologi digital. Lawannya,  Digital Native (Natif Digital), mereka yang sejak kecil ibaratnya menghabiskan waktunya menggunakan komputer, video gamems, vide kamera, hand phone, dan mainan digital lainnya. ( Digital Natives, Digital Immigrants; Marc Prensky,  On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5 October 2001).

Ketiga, kampanye besar-besaran dan terorganisir melawan Hoaks transaksional. Sekedar contoh penangkalan terhadap Hoaks dilakukan oleh The Council Of Europe ( Dewan  Eropa) memprakarsai kampanye Gerakan tidak bertutur Kebencian ( No Hate Speech Movement) dengan target generasi muda ; Aktifis Blogger di Myamar, Nay Phone, mengampanyekan “ Bicara tentang  Bunga (Flower Speech) utuk melawan tuturan  kebencian.

Perjuagan menangkal berhala Hoaks Transaksional pasti berhasil. Modal utama antara lain temuan Survei SMRC tentang NKRI DAN ISIS PENILAIAN MASSA PUBLIK NASIONAL bulan Mei 2017 antara lain menegaskan. Pertama, Orang Indonesia hampir semuanya bangga menjadi warga RI. Hampir semuanya menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan mempertahankan NKRI. Namun semua itu harus disertai dengan niat politik dan strategi yag tepat serta tegak lurus mengacu kepada Pancasila. (*)

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Classic Prose

Trending