Connect with us

Tips Menulis

How to Write Fiction from the Third Person Limited Point of View

mm

Published

on

What All Fiction Writers Should Know About Using a Third Person Narrator

Before you write a single word of fiction, you will need to decide who is telling the story — and from which point of view. If the story is told by a narrator (rather than by a character), you will be writing from the third person perspective. But who is the narrator? How much does the narrator know? Can the narrator get inside the characters’ heads to describe what they’re thinking?

What Is the Third Person Limited Point of View?

The third person omniscient (meaning “all knowing”) point of view is a method of storytelling in which the narrator knows what every character is thinking. Third person limited point of view, on the other hand, is a method of storytelling in which the narrator knows only the thoughts and feelings of a single character, while other characters are presented only externally. Third person limited grants a writer more freedom than first person, but less knowledge than third person omniscient.

Why Choose the Third Person Limited Point of View?

There are a number of reasons why you might decide that third person limited may be right for your next work of fiction.

Here are just a few possibilities:

  • You want the ability to show a situation through the eyes of an interesting or unique character;
  • You are writing a mystery, and want the reader to experience the clues and outcomes from the point of view of one of your characters;
  • You are telling a story in which your main character’s perspectives evolve or change, and you want to show those changes through their eyes;
  • You want to maintain a sense of uncertainty about other characters’ motivations, emotions, or past.

Examples of Third Person Limited Point of View in Fiction

Most works of fiction are told from the third person limited point of view. For example, Jane Austen’s famous Pride and Prejudice is told entirely from the point of view of protagonist Elizabeth Bennett. J.K. Rowling’s Harry Potter series unfolds its secrets through Harry himself who, like the reader, is new to the world of magic and wizardry.

A classic example of third person limited fiction is Ernest Hemingway’s For Whom the Bell Tolls, which sticks firmly with one character’s consciousness, that of Robert Jordan, who shares:

“This Anselmo had been a good guide and he could travel wonderfully in the mountains. Robert Jordan could walk well enough himself and he knew from following him since before daylight that the old man could walk him to death. Robert Jordan trusted the man, Anselmo, so far, in everything except judgment. He had not yet had an opportunity to test his judgment, and, anyway, the judgment was his own responsibility.”

The reader will only know Anselmo’s thoughts and responses insofar as he reveals them through his actions. But Robert Jordan’s thoughts will be shared throughout the story. It’s his reactions and his interpretations of events that the reader will understand and follow.

Because third person limited is defined largely by what it doesn’t do, it may help at this point to read an example of third person omniscient for comparison. (*)

Continue Reading

Milenia

Tradisi Puisi “Imagism”: Mencari yang Konkrit, Menyepuh yang Abstrak

mm

Published

on

Kelompok penyair Imagism  (gambar, visual—bukan dalam makna “imajinasi”/ “Imagination“) berbeda dengan kelompok penyair romantik. Yang terakhir disebut adalah lebih pendahulu. Kelompok penyair pertama, ‘terkesan’ menjadi konservatif dan tradisional pada awal abad 20—persisnya ketika semua seni dipolitisasi dan dipancarkan oleh revolusi—dengan slogan dan abstraksi-abstraksi. Kelompok penyair imagism (imajis)  ini kembali pada tradisi Yunani klasik, tradisi Roma, dan Prancis abad 15 untuk menyusun semacam “manifesto” yang mengungkapkan prinsip-prinsip kerja puitis mereka.

F.S. Flint adalah penulis esai utama gagasan puisi imagism (imaji) ini, meski kemudian Ezra Pound mengklaim bahwa dia, Hilda Doolittle dan suaminya, Richard Aldington, telah lebih dulu menuliskan gagasan tentang aliran puisi imagism ini.

Pada kesimpulan umumnya ada tiga standar yang dengannya puisi (imajis) harus diadili yaitu: (1) Perlakuan langsung terhadap “sesuatu”, apakah subjektif atau objektif, (2) Sama sekali tidak menggunakan kata yang tidak berkontribusi pada presentasi (citra), (3) Seperti tentang ritme: untuk menyusun urutan frase musik, tidak berurutan dari metronom.

Agaknya tiga rumusan tersebut terlalu “mengawang” khususnya bagi mereka yang kurang akrab dengan peristilahan dalam teknis dan teori penulisan puisi. Pembaca membutuhkan konsep lebih deskriptif terkait aturan dan model kerja puisi imajis ini. Aturan main yang dibutuhkan dalam detail puisi seperti pemilihan kata, aturan bahasa, matra dan rima. Ezra Pound sepertinya menyadari hal tersebut dan dia menyusun presentasi lebih detail untuk menjelaskan prinsip-prinsip puisi ala para penyair imagist seperti dirinya dan F.S. Flint.

Beberapa artikel tentang aliran imagism ini—jika tidak salah dan karena gegabah menyimpulkan, penulis ingin menyebut inti dari konsentrasi puisi imajis ini adalah: citra.

Catatan F.S. Flint dalam “A Few Don’ts by an Imagiste,”–“Sedikit Larangan oleh Imagiste,” yang hasil akhirnya juga ditandatangani oleh Ezra Pound sendiri, memulai dengan sebuah definisi berikut:

“Citra ‘adalah sesuatu yang menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam sekejap waktu—secara konstan.”

Inilah tujuan utama  para penyair imajis—untuk membuat puisi yang memusatkan perhatian semua penyair pada komunikasi citra. Untuk menyaring pernyataan puitis menjadi gambar daripada menggunakan perangkat puitis seperti matra bahasa dan sajak-keprosaan untuk mengesankan sulit dalam menghias narasi. Seperti dikatakan Pound, “Lebih baik menyajikan satu gambar dalam seumur hidup daripada menghasilkan berjilid-jilid karya (antologi)”.

Untuk sampai pada konsentrasi “citra” di dalam menghasilkan puisi imajis, saran Ezra Pound berikut akan terdengar akrab bagi mereka yang telah membaca kaidah menulis puisi atau menekuni dunia puisi:

  • Potong puisi sampai ke tulang dan hilangkan setiap kata yang tidak perlu – “jangan gunakan kata yang tidak berguna dalam keutuhan puisi, jangan gunakan kata sifat, yang itu tidak mengungkapkan sesuatu pun… Gunakan ornamen atau hiasan yang bagus. “
  • Jadikan semuanya konkret dan khusus – “takutlah pada terjerumus dalam abstraksi”
  • Jangan mencoba membuat puisi dengan menghias prosa atau memotongnya menjadi garis puitis – “Jangan menceritakan kembali dalam puisi yang biasa-biasa saja apa yang telah dilakukan dengan sajak-prosa yang baik. Jangan berpikir ada orang yang cerdas yang akan tertipu saat Anda mencoba mengelak dari semua kesulitan seni prosa dengan cara memotong komposisi.”
  • Pelajarilah alat musik puisi untuk menggunakannya dengan keterampilan dan kehalusan, tanpa mengubah suara alam, gambar dan makna bahasa – “Biarkan orang tua mengetahui penyatuan dan ungkapan, sajak langsung dan tertunda, sederhana dan polifonik, seperti yang diharapkan musisi. tahu keharmonisan dan tandingan dan semua hal kecil dari keahliannya … struktur ritmis Anda seharusnya tidak menghancurkan bentuk kata-kata atau suara alami atau maknanya. “

“Manifesto” gerakan imagism  dan Antologinya

Antologi pertama penyair imagism, “Des Imagistes,” diedit oleh Ezra Pound dan diterbitkan pada tahun 1914, menampilkan puisi oleh Pound, Doolittle dan Aldington, serta Flint, Skipwith Cannell, Amy Lowell, William Carlos Williams, James Joyce, Ford Madox Ford, Allen ke atas dan John Cournos. Merekalah para aktor utama aliran puisi imagism ini.

Pada saat buku “Des Imagistes” terbit, Lowell (Amy Lowell)telah melangkah ke dalam peran “promotor” gagasan imagism—dan Pound, khawatir bahwa antusiasmenya akan memperluas gerakan di luar pernyataannya yang ketat, sehingga dikhawatirkan aliran imagism beralih dari apa yang sekarang dijuluki “Amygism” atau “Vortisisme.” Meski demikian Lowell kemudian menjabat sebagai editor serangkaian antologi, “Beberapa Penyair Imagist,” pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Dalam kata pengantar antologi yang pertama, Amy Lowell menawarkan garis besar prinsip-prinsip (puisi) imagism-nya:

  • “Untuk menggunakan bahasa ucapan umum tapi selalu menggunakan kata yang tepat, bukan kata yang hampir pasti, dan bukan dekoratif saja.”
  • “Untuk menciptakan ritme baru – sebagai ungkapan suasana hati yang baru – dan tidak menyalin ritme lama, yang hanya menggemakan suasana hati lama. Kami tidak menekankan ‘puisi bebas’ sebagai satu-satunya metode penulisan puisi. Kami memperjuangkannya seperti sebuah prinsip kebebasan. Kami percaya bahwa individualitas seorang penyair mungkin lebih baik diekspresikan dalam puisi bebas daripada bentuk konvensional. Dalam puisi, irama baru berarti sebuah gagasan baru.”
  • “… bukan hal buruk di dalam seni untuk menulis dengan baik tentang masa lalu. Kami percaya dengan penuh semangat nilai artistik kehidupan modern, tapi kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang begitu membosankan dan juga tidak kuno untuk misalnya menulis tentang pesawat terbang tahun 1911. “
  • “Untuk menyajikan sebuah gambar (maka namanya: ‘imagist’). Kami bukan sekolah pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberi keterangan secara tepat dan tidak sesuai dengan generalitas yang kabur, betapapun luar biasa dan nyaring. Kami menentang penyair kosmik, yang tampak bagi kita seperti tengah menghindari kesulitan nyata dari seni. “
  • “Untuk menghasilkan puisi yang keras dan jernih, tidak kabur atau menjadi tidak pasti.”
  • “Akhirnya, kebanyakan dari kita percaya bahwa konsentrasi adalah inti dari puisi.”

Dalam sejarahnya volume ketiga adalah publikasi terakhir dari para penyair imagism—namun pengaruh dari gerakan para penyair imajis ini dapat ditelusuri dalam banyak jenis puisi sesudahnya pada abad ke-20, dari puisi bebas hingga ritmis (sajak)sampai penyair bahasa (keprosaan).

Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis—lihat terutama pada puisi “Hujan Bulan Juni”. (*)

*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth, dari berbagai sumber bacaan dan artikel. Makalah ini hanya bersifat catatan ringan dan pengantar saja. Demi mengisi ‘kekosongan’ waktu menjelang libur tahun baru 2017.

 

 

Continue Reading

Milenia

Tips Menulis Prosa Dari Ernest Hemingway

mm

Published

on

Siapa yang tak mengenal dan belum membaca novel klasik—tapi selalu terasa aktual karena pembacanya yang tak pernah habis:The Oldman and the Sea karangan Ernest Hemingway? Hampir semua penikmat sastra khususnya novel dipastikan telah membaca novel tersebut. Novel yang juga membawanya menadapatkan Nobel Sastra dan menjadikannya salah satu novelis legendaris paling dikagumi. Tak terkecuali dari teknik bercerita yang ia miliki.

Hemingway adalah novelis dengan teknik bercerita yang efektif serta permainan karakter yang menarik. Dalam buku Hemingway: On Writing kita bisa mengambil beberapa pesan dan tuntutan untuk menulis efektif dan menarik. Berikut 6 (enam) di antara penuntun penting menulis prosa dari Hemingway yang layak kita renungkan:

  • “Semua penulis amatir selalu jatuh cinta pada kisah-kisah epik.”
  • “Hal tersulit yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah menuliskan prosa tentang manusia dengan sejujur-jujurnya. Pertama, kalian harus tahu subyek yang hendak diceritakan; lalu kalian harus tahu caranya menulis. Dua-duanya butuh latihan seumur hidup.”
  • “Semua buku berkualitas itu memiliki sifat yang sama: setelah Anda selesai membacanya, maka Anda akan merasa seolah semua yang terjadi di dalam buku itu telah terjadi pada Anda; dan semua pengalaman yang tertera di dalamnya menjadi pengalaman Anda juga—termasuk yang baik dan buruk; kegirangan, penyesalan dan kesedihan; serta orang-orang, tempat dan cuaca disana.”
  • “Tulisan yang berkualitas akan selalu membuat Anda bertanya-tanya tentang proses kreatifnya. Tak peduli seberapa sering Anda membaca tulisan itu, Anda takkan pernah menemukan jawabannya. Hal itu dikarenakan semua tulisan yang berkualitas selalu mengandung misteri; dan misteri itu takkan pernah bisa dipecahkan. Misteri itu akan terus berlanjut. Setiap kali Anda membaca tulisan itu, Anda akan selalu melihat atau mempelajari hal-hal baru yang tidak Anda temui sebelumnya.”
  • “Bagian terbaik dari sebuah buku biasanya berasal dari sesuatu yang tak sengaja didengar oleh si penulis atau kehancuran dari seluruh hidup si penulis—dan keduanya sama-sama efektif.”
  • “Berkah paling penting bagi seorang penulis adalah indera pencium kebohongan, kemunafikan serta kepura-puraan. Ini adalah radar bagi si penulis; dan semua penulis-penulis hebat dunia memilikinya.”

Apa yang terpenting? Barangkali pertama-tama untuk menjadi penulis baik Anda harus mulai belajar menulis sejujur-jujurnya. Anda yang sepanjang hidup telah mencoba menulis tentu memahami konteksnya. Selamat menulis para penulis ! (*)

Continue Reading

Editor's Choice

Tentang Inspirasi, dari Gabriel Marquez hingga Tennessee Williams

mm

Published

on

Kutukan terbesar bagi seorang penulis bisa jadi adalah ketika ia tak memiliki inspirasi, ia tak punya rencana apa yang akan dikerjakannya esok pagi setelah pada hari sebelumnya ia tidur sangat larut. Tapi apakah inspirasi itu? Bagaiamana penulis menemukan dan memegangi inspirasinya? Bagaimana ia bekerja untuk proses kreatif penulisan? Dari mana-mana kata-kata itu datang dan sajak-sajak itu terbentuk? Bagaimana cerita itu menemukan alurnya dan titik mulanya?

Berikut adalah beberapa inspirasi tentang inspirasi dari para maestro yang bisa dipastikan akan menginspirasimua, tentu saja itu harus ditautkan dengan kerja kerasmu selama ini dan membaca inspirasi ini dengan perlahan dan mendalam. Mari kita simak..

“Salah satu hal tersulit adalah paragraf pertama. Aku menghabiskan berbulan-bulan pada paragraf pertama dan saat aku mendapatkannya, paragraf selanjutnya muncul begitu saja dengan sangat mudah. Pada paragraf pertama kau mengatasi semua masalah dengan bukumu. Temanya ditentukan, gaya penulisannya, nadanya. Setidaknya dalam kasusku, paragraf pertama seperti sebuah sampel bagaimana keseluruhan buku itu nantinya. Itulah mengapa menulis buku kumpulan cerpen jauh lebih sulit daripada menulis sebuah novel. Setiap kali kau menulis cerpen. Kau harus memulai dari awal lagi”.

-Gabriel Garcia Marquez

“Terdapat dua teori tentang inspirasi. Salah satunya bahwa puisi dapat benar-benar didiktekan padamu, seperti yang terjadi pada William Blake. Kau berada dalam suasana halusinasi, dan kau mendengar sebuah suara atau bahkan kau sedang berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirimu, seperti sajak baru milik James Merril, yang dia katakan didiktekan melalui papan Ouija oleh Auden dan orang-orang lain.

Gagasan lainnya adalah milik Paul Valery, apa yang dia sebut une ligne donnee, bahwa kau diberikan satu baris dan kau mencoba mengikuti petunjuk ini, menghasilkan keseluruhan sajak dari baris itu. Pengalamanku sendiri adalah bahwa sebuah ritme atau sesuatu muncul di kepalaku yang kurasakan harus kulakukan, aku harus menuliskannya, menciptakannya.

Contohnya, aku ingat sedang melihat ke luar jendela di atas kereta dan menyaksikan sebuah pemandangan industrial, pabrik-pabrik, tumpukan ampas bijih, dan baris itu muncul di kepalaku: “Sebuah bahasa tentang daging dan mawar-mawar.” Latar belakang pemikiran ini adalah bahwa pemandangan industrial itu merupakan sebuah bahasa, yang orang ciptakan dari alam, perbedaan mencolok dari alam dan industrial, ”A language of flesh and roses.” Persoalan dengan sajaknya adalah bagaimana mempertemukan koneksi ini, mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya kau pikirkan pada saat itu, dan mencoba untuk menciptakan ulang hal itu. Jika aku memikirkan sebuah sajak, aku mungkin saja menghabiskan enam bulan menulis, tapi apa yang benar-benar kucoba lakukan adalah mengingat apa yang kupikirkan pada saat itu.”

-Stephen Spender

“Sesuatu yang kubaca atau kulihat menetap di kepalaku selama lima atau enam tahun. Aku selalu mengingat tanggal, tempat, ruangan, jalan, ketika pertama kali aku menemukannya. Misalnya. World Enough and Time, aku dan Katherine Anne Porter kami berdua di Library of Congress sebagai Fellows. Kami berada di bangku gereja yang sama, memiliki kantor yang bersebelahan. Dia datang masuk suatu hari dengan sebuah pamflet, pengadilan bagi Beauchamp untuk pembunuhan terhadap kolonel Sharp. Dia mengatakan “Ya, Red, kau sebaiknya membaca ini.” Begitulah. Aku membacanya selama lima menit. Tetapi aku menghabiskan enam tahun membuat bukunya. Buku apa pun yang kutulis dimulai dengan sekelebat namun menghabiskan banyak waktu untuk mewujud. Semua versi pertamamu ada di kepalamu jadi pada saat akhirnya kau duduk untuk menulis kau memiliki sejumlah baris yang dikembangkan di kepalamu.”

-Robert Penn Warren

“Proses dimana ide untuk pertunjukkan datang padaku selalu merupakan sesuatu yang tak dapat kugambarkan dengan tepat. Sebuah pertunjukkan terlihat mewujud begitu saja, seperti sesuatu yang aneh dan muncul tiba-tiba hal itu menjadi semakin jelas dan semakin jelas dan semakin jelas. Idenya sangat samar pada awalnya, seperti pada kasus Streetcar, yang muncul setelah Menagerie. Aku tahu-tahu saja mempunyai penglihatan tentang seorang perempuan di penghujung masa mudanya. Dia sedang duduk di atas sebuah kursi sendirian di samping sebuah jendela dengan cahaya bulan mengalir jatuh pada wajahnya yang muram, dan dia kemudian berdiri di samping seorang lelaki yang akan dinikahinya.

Aku yakin aku sedang memikirkan saudara perempuanku karena dia benar-benar jatuh cinta dengan seorang lelaki muda di International Shoe Company yang memacarinya. Lelaki itu sangatlah tampan, dan saudara perempuanku sedalam-dalamnya mencintai lelaki itu. Kapan pun telepon berdering, dia hampir pingsan. Dia akan berpikir lelaki itu yang menelpon untuk mengajaknya berkencan, kau mengerti? Mereka bertemu setiap malam, dan suatu hari dia tidak menelpon lagi. Itulah saat pertama Rose mulai mengalami sebuah kemerosotan mental. Dari penglihatan itu Streescar berevolusi. Aku menyebutnya, pada saat itu, Blanche’s Chair in the Moon, yang merupakan judul yang sangat jelek. Tapi dari gambaran itulah, kau paham, tentang seorang perempuan duduk di samping jendela, begitulah Streetcar datang padaku.”

-Tennessee Williams

Apakah Anda menemukan inspirasi untuk proses kreatifmu? Jika sama sekali tidak sebaiknya anda merubah rencana dan mencari pekerjaan lain selain menulis…

————————-

*Diolah dari berbagai sumber oleh Marlina Sopiana dan Sabiq Carebesth. Arikel lengkap tentang inspirasi bisa dibaca lengkap dalam edisi perdana Halaman Kebudayaan “Book, Review & Culture” yang akan terbit tahun ini.

Continue Reading

Classic Prose

Trending