© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
HomeTentang Galeri Buku Jakarta

Tentang Galeri Buku Jakarta

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; halaman kebudayaan yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia, serta turut mendorong kemajuan Indonesia melalui jalan kebudayaan. Sebagai halaman kebudayaan ia adalah siasat, empati, sekaligus gelanggang bagi bersemaianya ide, terawatnya empati dan kohesi kemanusiaan Indonesia yang bebas, modern dan berkemajuan. Apa yang dikerjakan adalah usaha meneruskan apa yang telah dimulai oleh angkatan sebelumnya dalam ikut serta memajukan Indonesia melalui jalan kebudayaan khususnya dengan buku dan sastra.

Pada akhirnya apa yang kami harapkan dengan Galeri Buku Jakarta adalah masyarakat yang tidak hanya membaca, tapi membaca sebagai suatu budaya—suatu masyarakat pembaca; juga masyarakat yang tidak hanya menulis sebagai instrumen teknis seperti dalam pekerjaan mau pun pengajaran; tapi suatu masyarakat penulis; masyarakat yang membaca dan menulis sebagai suatu budaya. Suatu tahap pengayaan eksistensial manusia indonesia.

Ide awal penerbitan laman www.galeribukujakarta.com ditujukan untuk membangun kecintaan khususnya generasi muda terhadap buku-buku, seni dan ilmu pengetahuan secara lebih mendalam dan kritis, sekaligus mendorong lahirnya buku-buku bermutu dan penulis-penulis baru untuk berkontribusi lebih mendalam pada kemajuan Indonesia melalui buku dan sastra khususnya. GBJ ingin berikhtiar membangun bangsa yang berkebudayaan, berilmu pengetahuan dan kaya inspirasi. Ikhtiar tersebut mungkin dicapai dengan jalan pendidikan dan kritisisme kebudayaan. Vitalitet pada zaman dan vokasionalisme. Semangat itu pada akhirnya telah menjadi semacam prinsip kerja Galeri Buku Jakarta.

Selain terutama fokus pada kerja sastra, seni dan dunia kreatif, Galeri Buku Jakarta menemukan alternatif lain untuk seluas-luasnya membuka kemungkinan bagi lahirnya penulis-penulis baru dalam berbagai bidang dan kajiannya di luar sastra, mencari kemungkinan untuk terbit kritik atas karya-karya dan pemikiran yang begitu beragam dari pribadi-pribadi yang beragam pula, suatu kebijakan untuk memberi ruang yang besar, kesempatan yang sempurna untuk para penulis/ pengarang membicarakan tentang karya mereka sendiri, mengkritik karyanya sendiri dalam suatu persepktif di luar karangannya, bicara dengan mereka dan menderngarkan mereka dalam suatu interview yang mendalam dan manusiawi—kepada siapa saja dari mereka yang memiliki semangat, vitalitet dan kejujuran serta kerja keras dalam karyanya tak peduli mereka penulis/pengarang baru, atau mereka yang telah begitu lama terlibat dalam dunia kebudayaan ini.

Masalah Kita Bersama

Di Indonesia pemahaman akan “melek-huruf” masih belum menjadi suatu taraf kebudayaan. Sehingga membaca dan menulis pun masih merupakan pengandaian teknis dari kebutuhan dalam bidang-bidang pekerjaan mau pun pengajaran dalam sekolah atau universitas saja. Membaca dan menulis masih merupakan perangkat teknis, masih menjadi alat—sebatas keharusan di dalam dunia kerja mau pun pengajaran. Masalah klasik yang pernah mencuat dan diangkat pada tahun-tahun awal pembangunan (manusia) Indonesia tetapi belum menunjukan kemajuan berarti hingga hari ini.

Tingkat baca buku masih rendah, penerbitan buku masih harus sama keras memikirkan biaya dan pemasaran seperti halnya masyarakat yang berpikir keras untuk mendapat akses pada bahan bacaan dan buku-buku. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menyebut jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, angka produksi buku di Indonesia memang masih belum masuk akal. Kira-kira satu buku dibaca 80.000 orang. Temuan The Programme for International Student Assessment (PISA) dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2012, mengungkap jumlah terbitan buku di Indonesia memang tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Dari 18.000 judul itu pun sumbangan terbesar diberikan oleh produksi buku kategori anak-anak.

Buku memang bukan sekedar jendela dunia, ia lebih dari sekedar benda atau alat dalam pengajaran di sekolah, buku dan dunia literasi juga menentukan dalam indek pembangunan manusia indonesia. Ia bertaut pada soal daya saing manusia indonesia, kualitas kita sebagai suatu bangsa, martabat kita di hadapan kemajuan dan kebudayan-kebudayaan dunia.

Tak dipungkiri bahwa buku dan sastra, terutama yang terpenting adalah hadir sebagai pendamping kehidupan sehari-hari; mendampingi masyarakat dalam pergulatannya di ruang ekonomi politik. Memberi perspektif lain, nilai, empati dan inspirasi kemajuan. Tesis lama dimulai dengan dengan pertanyaan: Apakah pada masyarakat yang “membaca buku” telah menjadi kebudayaan, akan otomatis menciptakan kemajuan? Atau bangsa yang maju (sejahtera) akan otomatis menciptakan masyarakat yang menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya? Kami meyakini keduanya memiliki implikasi masing-masing; keduanya sama butuh dikuatkan.

Akan tetapi di sisi lain, bukan rahasia betapa tingkat baca-tulis indonesia yang rendah telah memberi sinyal bayaha bagi pembangunan manusia indonesia. Sinyal tanda bahaya IPM Indonesia hari ini misalnya terlihat dari hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies terbaru, survei terhadap tingkat kecakapan orang dewasa yang dilakukan oleh OECD (Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan. Indonesia terpuruk di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Sebutlah seperti kemampuan literasi, numerasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Skor kita juga terendah di hampir semua kategori umur. Lebih dari separuh responden Indonesia mendapatkan skor kurang dari level 1 (kategori pencapaian paling bawah) dalam hal kemampuan literasi. Dengan kata lain, kita adalah negara dengan rasio orang dewasa berkemampuan membaca terburuk dari 34 negara OECD dan mitra OECD yang disurvei pada putaran ini (OECD, 2016).

Seperti puncak gunung es, hasil tes dari PISA (Programme for International Students Assessment), yang mengukur kompetensi siswa berusia 15 tahun yang bersekolah juga tidak menggembirakan.

Hasil PISA ini telah banyak dikutip, beberapa dengan nada sarkastik, tentang siswa Indonesia yang ”bodoh, tetapi bahagia”. Ini karena hasil PISA Indonesia 2012 berada di urutan ke-60 dari 64 negara yang disurvei dalam membaca, dan posisi buncit dalam matematika dan sains, tetapi skor kebahagiaan tinggi. Sarkasme ini memang dikritik dengan alasan metode sampling yang kurang mewakili, dibandingkan Tiongkok misalnya, di mana sampel hanya dari Shanghai yang maju atau Singapura yang relatif kecil dan sangat maju.

Namun, survei PIAAC yang hanya dilakukan di Jakarta, hasilnya pun memprihatinkan. OECD membagi skor ke dalam enam level: level <1, dan level 1 sampai 5. Masing-masing menunjukkan tingkat penguasaan kompetensi tertentu (level <1 paling buruk, level 5 paling baik). Dalam hal rata-rata skor literasi membaca, misalnya, Indonesia selalu memiliki proporsi paling besar di level <1 di antara 34 negara yang disurvei. Ini berlaku di semua kategori umur (16-24 tahun sampai 55-65 tahun) dan di semua tingkat pendidikan (SMP ke bawah sampai perguruan tinggi).

Orang dewasa pada level <1 ini, menurut definisi OECD, ”hanya mampu membaca teks singkat tentang topik yang sudah akrab untuk menemukan satu bagianinformasi spesifik. Untuk menyelesaikan tugas itu, hanya pengetahuan kosakata dasar yang diperlukan dan pembaca tidak perlu memahami struktur kalimat atau paragraf”. Bukan hal yang sulit sebenarnya.

Ini baru di Jakarta. Padahal, Jakarta tidak mewakili wajah Indonesia. Ketimpangan Jakarta dan daerah lain sangat tajam dalam berbagai indikator kualitas pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta 78,99, sedangkan rata-rata nasional 69,55. Daerah dengan IPM terendah adalah Papua, hanya 57,25 (BPS, 2016).

Survei lain dari UNESCO, menyebut minat baca masyarakat Indonesia bahkan yang paling rendah di ASEAN. Untuk survei rasio perbandingan antara konsumsi surat kabar dengan jumlah pembaca, yang dilakukan terhadap 39 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-38 ! Konsumsi surat kabar di Indonesia hanya mempunyai rasio 1 banding 45 orang (1:45). Padahal idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau 1:10. Adalah United National Developmet Program (UNDP) yang menyatakan rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca. Membaca buku kalah populer dengan menonton televisi: Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 menkonfirmasi hal mengejutkan tersebut, 91,68 % penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, hanya 17,66 % menyukai membaca.

Dalam hal minat baca, Indonesia dengan demikian tertinggal jauh dengan negara-negara tetangga lainnya, seperti Filipina 1:30, bahkan Srilanka yang tergolong negara belum maju sudah memiliki rasio minat baca 1:38.

Pemerintah indonesia memang juga tak mewajibkan siswa/mahasiswa untuk secara khusus menamatkan membaca buku dalam jumlah tertentu. Padahal, siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul.  Kondisi tersebut bisa dikatakan sebagai suatu kemunduran dalam budaya literasi kita mengingat, pada masa penjajahan Belanda, misalnya, siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun.

Masalahnya menjadi lebih rumit, lantaran di satu sisi pembangunan manusia masih merupakan pekerjaan rumah mahadahsyat Pemerintah Indonesia, ia bukan sekadar pelengkap pembangunan ekonomi, di sisi lain pemerintah masih miskin gebrakan, begitu pun inisiatif masyarakat masih belum menggembirakan. Dunia membaca dan menulis dengan demikian masih belum menjadi hal maha penting dalam membincangkan masa depan indonesia.

Di luar dunia buku dan pendidikan, sekaligus sebagai akibat pengabaian kita pada dunia buku, sastra dan pendidikan, kita mendapati bangsa kita hari ini hampir terjerembab dalam masalah kebudayaan yang krusial bahkan bisa menjadi fatal. Masalah intoleransi antar agama, menimnya imajinasi dan kohesi sosial untuk membangun memberdayakan masyarakat yang kekurangan, kemiskinan dan masalah ekonomi politik yang skala terus meluas, memuncak dalam bentuk anomaly sosial di mana-mana, adalah juga akibat dari minimnya perhatian kita pada dunia buku, sastra dan pendidikan secara umum. Mengutip Johann Wolfgang von Goethe: “Pengabaian pada seni, sastra dan kebudayaan mengindikasikan pengabaian pada bangsa”.

Gelanggang Baru

Atas persoalan tersebut, Galeri Buku Jakarta sebagai suatu “gelanggang” kebudayaan di luar sistem, bersiasat untuk menghadirkan bacaan, wacana dan tulisan di ranah umum (general knowledge) terkait pengetahuan tentang seni dan sastra, tentang sejarah dan politik, tentang keadaan dunia internasional dan perkembangan ekonomi, tentang sains dan teknologi, juga tentang filsafat dan kebudayaan. Sementara ragam bacaan wajib (required reading) dan ragaman bacaan yang dianjurkan (recommended reading) telah semestinya dilakukan oleh negara melalui lembaga-lembaga pendidikan nasional yang ada.

Galeri Buku Jakarta berharap bisa turut mendorong terwujudnya minat baca dan menulis sebagai suatu kebutuhan; sebagai suatu budaya dalam iklim kesadaran masyarakat indonesia. Kebudayaan memabaca dan menulis—melek huruf sebagai suatu budaya, mengandaikan masyarakat yang terpenuhi kebutuhannya dalam membaca dan menulis, sekaligus menjadikan membaca dan menulis sebagai suatu kebutuhan; kondisi masyarakat semacam itu bagaimana pun juga menandai modernitas suatu bangsa, sebab dengan membaca dan juga menulis akan lahir suatu generasi bangsa Indonesia yang tidak hanya cerdas tapi juga memiliki empati, kemanusiaan dan dorongan kuat untuk menjadi modern tanpa meninggalkan martabat kebangsaannya sendiri.

Di sisi lain kita menyadari membaca adalah suatu tindakan eksistensial. Membaca memungkinkan terbentuknya persimpangan antara dunia kehidupan pembaca dan dunia teks sehingga berlangsung tindakan eksistensial pembaca yang membuat makna sendiri atas teks; pembaca seperti menerapkan makna tekstual ke dalam kehidupan konkretnya; berpartisipasi dalam kesamaan makna yang ada di dalam teks.

Buku dengan demikian memang bukan hanya jendela dunia sebagaimana kita dengar, tetapi di dalam buku ada hidup dan kehidupan itu sendiri. Ini karena membaca bukan suatu kegiatan yang ditambahkan melainkan yang berjalin dengan makna teks. Para pembaca adalah pencipta-bersama makna. Teks menjadi sebuah kehadiran yang tak pernah selesai; kehadiran yang mengatasi kemungkinan waktu.

Virginia Woolf, pembaca omnivora yang melahap dan memamah ratusan judul buku, dalam esainya “How Should One Read a Book” menulis bahwa “cara terbaik untuk membaca adalah dengan (juga) menulis. Dengan menulis seseorang mencoba sendiri bereksperimen dengan bahaya kata-kata dan kesukarannya.

Membaca pun bukan bagian terpisah dari menulis, keduanya adalah pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian memungkinkan perkembangan penalaran individual, pemikiran kritis yang independen, pembangkitan kepekaan terhadap kemanusiaan yang di negeri ini seperti terbungkam sekian dasawarsa. Apalagi? Terlalu banyak untuk membiarkan membaca dan menulis menjadi bagian yang tersia-sia di dalam kehidupan di negeri ini yang begitu hingar bingar oleh berbagai kepentingan. (Lihat “Buku dalam Indonesia Baru”, Yayasan Pustaka Obor. Jakarta, 1999)

Maka berbicara menganai masyarakat baru Indonesia, terkait masa depan indonesia ke depan, berarti juga bicara tentang kemungkinan baru untuk dunia membaca dan menulis dalam dunia kita sehari-hari yang selama ini tidak pernah secara serius menoleh pada dunia membaca dan menulis.

Dengan visi dan misinya Galeri Buku Jakarta berusaha untuk hadir dan berharap bisa menjadi salah satu jawaban kondisi tersebut:

  • Visi Galeri Buku Jakarta adalah mendoroang tumbuhnya masyarakat yang kritis, berbudaya, dan hidup dalam tradisi inetelektualisme filosofis yang memungkinkan terwujudnya masyarakat demokratis, empatik, beretika, dan mencintai pengetahuan (kebijaksanaan) melalui tradisi membaca dan menulis sebagai suatu budaya .

 

  • Misi Galeri Buku Jakarta adalah melakukan pendidikan-kebudayaan khususnya bagi generasi muda sebagai anak zaman sekaligus pembentuk zaman melalui bidang baca-tulis dengan kritis dan mendalam. Mengajak masyarakat untuk mencintai buku-buku, mengajarkan filsafat sebagai tradisi etis bermasyarakat dalam suatu bangsa modern-demokratis supaya terwujud tradisi kritis pada masyarakat melalui jalan kebudayaan dan intelektualitas. Menguatkan generasi muda dengan tradisi baca-tulis, inetelektualitas-kritis dan seni-kebudayaan yang terlibat masuk ke dalam zamannya.

Karenanya Galeri Buku Jakarta akan:

  • Menghadirkan review buku-buku, kritik kebudayaan, kolom kritis, melalui media online/website mau pun edisi cetak berupa publikasi majalah buku dan penerbitan buku-buku sebagai penanda zaman dalam falsafah utama: “Identitas Dan Kemungkinan Tak Terbatas.”
  • Memfasilitasi diskusi-diskusi kebudayaan dan buku-buku khususnya menyangkut pergulatan kemanusian dan keterasingan manusia dalam ruang “urban” yang nyaris tanpa batas dan identitas.
  • Menciptakan ruang dan gelanggang baru utamanya bagi generasi muda untuk berkarya–turut menginspirasi zaman baru dengan kedalaman, seni dan filsafat.

Sejarah Singkat

Sebagai suatu organisasi Galeri Buku Jakarta (GBJ) adalah perkumpulan yang didirikan di Jakarta pada 21 Agustus 2014. Sabiq Carebesth sebagai pencetus ide, penggagas dan pendiri Galeri Buku Jakarta telah memulainya dengan membuat laman galeribukujakarta.com. Perlahan ide dan gagasan itu menemukan bentuknya, berusaha menemukan kawan sejalan dan sepandangan untuk meneruskan apa yang selama dua-tiga tahun awal berjalan rupanya begitu layak diteruskan dan mendapat simpati publik. Maka pada tahun 2016 laman GBJ bermigrasi ke tampilan media/website baru dan upaya-upaya yang lebih nyata untuk dikerjakan. Tahun 2016 menjadi moment penting, tiitk balik dari mana semua dimulai dengan sesungguhnya. Maka kami berhitung dan memantapkan diri pada tanggal 21 Agustus 2016 sebagai hari lahir Galeri Buku Jakarta.

Dengan website baru yang dikelola lebih professional dan dukungan tim yang baik, Galeri Buku Jakarta sejak 2016 kian memiliki karakter yang terus berkembang solid. Sehingga hal itu memungkinkan kami mendapat simpati dan dukungan dari mereka yang memang telah lama bekerja untuk pembangunan manusia Indonesia khususnya melalui jalan kebudayaan—bahkan sekali pun sampai sekarang mereka tak mendapatkan honor dan fasilitas memadai dari Galeri Buku Jakarta.

Maka pada tahun 2016 Galeri Buku Jakarta intens berkomunikasi dan mencoba mendapatkan dukungan dari orang-orang terbaik saat ini dalam bidang sastra, humaniora dan budaya untuk membantu secara kultural tim editorial kami mau pun secara aktif menjadi bagian dari tim redaksi Galeri Buku Jakarta, mereka di antaranya adalah Afrizal Malna (Penyair, Pelakon, Dewan Kesenian Jakarta), Radhar Panca Dahana (Penulis dan Budayawan), Damhuri Muhammad (Cerpenis, Redaktur Sastra Media Indonesia), Hamdi Salad, Iman Budi Santosa (Seniman Yogyakarta, Dosen Institute Seni Indonesia), Bisri Effendi (Antropolog, Budayawan), Ahmad Tohari (Novelis, Budayawan), AH Maftuckhan (Direktur Perkumpulan Prakarsa/ Anggota TIM SDGs Indonesia) Savic Ali (Direktur NUtizen). Arimbi Heroeputri (Komnas Perempuan) Taufiqul Mujib (Oxfam Indonesia) mereka adalah Associate Editors dan Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

Tim Redaksional kami juga terdiri dari anak-anak muda berpengelaman, berkomitmen terhadap seni dan kebudayaan dan telah lama berkecimpung dalam dunia menulis dan kebudayaan seperti: Sabiq Carebesth, (Penyair, Penulis, eks Pemimpin Redaksi Jurnal Sosial Ekonomi AGRICOLA). Wahyu Arifin (Wartawan Senior SINDO), Addi M Idham (Wartawan TEMPO), Indra Gunawan (Wartawan Bisnis Indonesia), Fikri Angga (LIPI/ Eks Wartawan Jawa Pos) Susan Gui (Penerjemah), Ladinata (Penerjemah Inggris dan Rusia, Dosen UNPAD), Rachmat Darajat (Pengelola IT Galeri Buku Jakarta), Aldia Putra (Direktur PT. Langgeng Jaya/ Percetakan), Ahmad Rofiq (Direktur PT. Kukurockyou/ Animator). Shofrul Hadi, Toto Prastowo (Desainer/ Layouter), Elik Ragil, Aris Ghifari (Videographer/ Photographer)

“Identitas Dan Kemungkinan Tak Terbatas”

“Identitas Dan Kemungkinan Tak Terbatas” adalah tagline utama dari kerja kebudayaan yang  dicanangkan Galeri Buku Jakarta. Ia adalah gagasan simbolik dari wujud semangat akan kebebasan yang ingin terus dijaga demi mengupayakan dan mendampingi kehidupan yang lebih manusiawi, lebih adil dan baik.

“Identitas dan Kemungkinan Tak Terbatas”—selayaknya seni yang tak terbatas dalam mencari batas-batas identitas. Seperti identitas yang tak pernah tunggal. Seperti inspirasi yang melepas bebas dalam tanggung jawab kemanusiaan dan kritisismenya. Seperti seni dan imajinasi yang terus berusaha menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru supaya kehidupan berlangsung bebas, transformatif, beridentitas dan tidak mandek dalam usahanya untuk turut membangun peradaban bangsa indonesia yang bermartabat.

Semantara Galeri Buku Jakarta percaya bahwa bagaimana pun generasi muda adalah anak zaman sekaligus pembentuk zamannya. Kepada merekalah kami ingin mendorong kritisisme dan tradisi inetelektualitas-filosofis sehingga generasi era milenial hari ini tak terjebak dalam kemayaan dunia canggih semata dan hanya menjadi generasi korban kecerdasan teknologi.

Karenanya laman www.galeribukujakarta.com terus berusaha membangun korespondensi dengan generasi muda agar mereka bisa berkontribusi, terlibat dan penuh imajinasi dalam turut membangun identitas dirinya, kotanya, juga bangsanya. Suatu kerja kebudayaan yang kami harapkan bisa berdampak pada tradisi literasi generasi hari ini agar lebih matang dan mendalam sehingga memungkinkan mendorong terus bergulirnya transformasi kehidupan sosial ekonomi kita ke dunia yang lebih modern, toleran, dan penuh vitalitet pada seni dan filsafat (kedalaman).

Galeri Buku Jakarta ingin dikenal sebagai sumber informasi tentang buku-buku, dunia pengarang, filsafat, pengetahuan, humaniora dan epos kebudayaan; di mana para penulis akan menulis di sini, membicarakan dan menkritik bahkan karyanya sendiri dan orang-orang berbicara tentang kemajuan, regenerasi yang feketif tanpa kehilangan akarnya; dan kami menyajikannya dengan segar tanpa mengurangi ketajaman dan daya kritis supaya bisa bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan masyarakat khususnya kemanusiaan di indonesia.

Salam Hormat Kami

Sabiq Carebesth

Founder/ Chief Editor

No comments

Sorry, the comment form is closed at this time.