Connect with us

Cerpen

Hidupku Bersama Segulung Ombak

mm

Published

on

Oleh: Octavio Paz*

Ketika aku meninggalkan laut itu, segulung ombak berlari mendahului ombak-ombak yang lain. Ia tinggi dan ringan. Abai pada ombak lain yang menyambar-nyambar bajunya yang mengambang, ia cekal lenganku dan lalu melompat bersamaku. Aku tak ingin mengatakan apa-apa padanya, sebab aku merasa perih bila harus membuat ia malu di hadapan teman-temannya. Lagi pula tatapan marah orang-orang tua membuatku takut sesampainya di kota, ku jelaskan padanya bahwa mustahil ia dapat hidup di kota, tinggal di kota bukanlah seperti yang dapat ia bayangakan dengan keluguannya sebagai segulung ombak yang belum pernah meninggalkan lautan. Ia menatapku lekat-lekat: “Tidak, kau sudah membuat keputusan.  Kau tak bisa kembali.” Aku mencoba kelembutan, kekerasan, ironi. Ia berterriak, menjerit, mendekap, mengancam. Aku harus minta maaf.

Hari berikutnya masalahku dimulai. Dapatkah kami naik kereta tanpa dilihat oleh kondektur, penumpang dan polisi? Tentu saja peraturan tak mengatakan apa-apa tentang perjalanan ombak di jalan raya, tapi ini berarti sebuah petunjuk pasti akan datangnya kesukaran yang hendak menimpa kami. Setelah berpikir panjang, aku tiba di stasiun satu jam sebelum bekerangkatan kereta, duduk dikursiku, dan, ketika tak ada yang melihat, kukosongkan tanki air minum untuk penumpang: lalu, dengan hati-hati, kumasukan temanku ke dalamnya.

Insiden pertama terjadi ketika anak-anak sepasang penumpang yang duduk di kursi sebelah kehausan dan lalu berteriak-teriak. Aku menenagkan mereka dan berjannji akan membelikan mereka minuman penyegar dan lemon. Mereka hampir saja menerima ketika penumpang lain yang juga haus datang mendekat. Aku baru saja akan mengundangnya turut serta, tetapi plototan lelaki temannya membuat niatku batal. Perempuan itu mengambil sebuah cangkir kertas, mendekati tangki, dan memutar kran. Cangkirnya baru terisi setengah ketika aku melompat di antara perempuan itu dan temanku. Ia melihatku dengan heran. Sementara aku minta maaf, salah satu dari anak-anak itu memutar kran. Aku menutupnya dengan kasar. Perempuan itu menyentuhkan ke mulutnya.

“Ah, air ini asin.”

Bocah lelaki itu juga mengatakan demikian. Para penumpang berdiri. Suami perempuan itu memanggil kondektur.

“Orang ini memasukan garam ke dalam tangki.”

Kondektur memanggil Inspektur:

“Jadi kau menaruh larutan ke dalam air?”

Lalu inspektur memanggil polisi:

“Jadi kau meracuni air?”

Polisi memanggil Kapten:

“Jadi kau yang meracuni air?”

Kapten itu memanggil tiga orang agen. Di bawah tatapan dan bsik-bisik penumpang, mereka bertiga memasukanku ke sebuah gerbong kosong. Di stasiun berikutnya mereka menurunkan aku, mendorong dan menyeretku ke sebuah penjara. Tak ada yang berbicara kepadaku selama berhari-hari kecuali selama introgasi yang panjang. Sewaktu kuterangkan ceritaku, tak ada yang percaya, bahwa sipir menggelangkan kepalanya sambil berkata: “Kasus ini berbahaya, benar-benar berbahaya. Kau tidak ingin meracuni anak-anak, kan?” Suatu hari mereka membawaku kehadapan Kepala Wilayah.

“Kasusmu ini sulit,” katanya. “Aku akan mengirimmu ke Pengadilan.”

Setahun berlalu. Akhirnya mereka mengadili aku. Karena tak ada korban, hukumanku ringan. Setelah beberapa saat, hari kebebasanku tiba.

Kepala penjara memanggilku:

“Sekarang kau bebas. Kau berunutng. Untung tidak ada korban. Tapi jangan lakukan hal itu lagi, karena kali lain hukumanmu tak akan sebentar….”

Lalu ia menatapku dengan tatapan serius, tatapan yang sama dengan tatapan setiap orang yang menatapku.

Sore pada hari yang sama, aku naik kereta dan setelah berjam-jam perjalanan yang tak nyaman aku tiba di Mexico City. Aku pulang naik taksi. Di depan pintu rumah kudengar nyanyian dan suara tawa. Aku merasakan sakit di dadaku, seperti pukulan gelombang kejutan ketika kejutan memukul dada kita: temanku ada di sini, tertawa dan bernyanyi sebagaimana bisanya.

“Bagaimana kau kembali?”

“Gampang: dengan kereta. Seseorang setelah memastikan bahwa aku hanya air asin, menumpahkanku ke mesin. Perjalanan tak nyaman: segera saja aku berubah menjadi uap putih, lalu jatuh sebagai hujan di atas mesin. Aku menjadi sangat kurus. Aku kehilangan banyak tetesanku.”

Kehadirannya mengubah hidupku. Rumah dengan lorong-lorong gelap dan perabot berdebu menjadi terisi udara, matahari, bebunyian dan pantulan warna hijau dan biru, dihuni gemuruh dan gema. Berapa banyakkah satu ombak itu, dan bagaiman ia dapat mencipta sebuah pantai atau sebongkah karang atau dermaga pada dinding, sebidang dada atau dahi yang dimahkotainya dengan buih! Bahkan sudut-sudut yang tak perbah disentuh, sudut-sudut yang berdebu dan ditimbuni serpihan-serpihan, tersentuh tangannya yang ringan. Semua mulai tetawa dan di mana-mana gigi-gigi berkilapan. Matahari memasuki kamar-kamar tua dengan gembira dan tinggal berjam-jam di rumahku, mengabaikan rumah-rumah lain, distrik, kota, negeri. Dan selama beberapa  malam, yang tiba sangat terlambat bintang-bintang yang suka bergunjing melihat matahari berjingkat keluar dair rumahku.

Cinta adalah permainan, sebuah penciptaan yang kekal. Semua adalah pantai, semua adalah seranjang selimut yang senantaisa segar. Kalau aku mendekapnya, ia membalas dengan bangga, menjulang tinggi, seperti selunjur dahan cair sebatang pohon poplar; dan segera saja kerampingan itu menjelma menjadi bulu-bulu putih, menjadi serumpun senyum yang jatuh di kepalaku dan meliputiku dengan warna putih, atau terlentang di hadapanku, seperti kaki langit yang tak berbatas, sampai aku juga menjadi kaki langit dan kesenyapan yang penuh dan menggoda, meliputiku seperti music atau bibir raksasa. Kehadirannya adalah kepergian dan kedatangan sentuhan, gumaman dan ciuman. Memasuki airnya, kaus kakiku basah kuyup dan dalam sekejap mata ku dapati diriku semampai di ketingian, pusing oleh tempat yang begitu tinggi, dan tertahan secara misterius, sebelum terhempas seperti sebongkah batu dan merasakan diriku sendiri terlentang dengan lembut di suatu tempat kering, seperti sehelai bulu. Tiada yang setara dengan tidur di dalam air itu, untuk tidur dan lalu terjaga oleh sentuhan seribu kilatan cahaya yang riang, oleh ribuan ledakan yang mengundang tawa.

Tapi tak pernah kusentuh kemurnian rasa sakit dan kamatian. Barangkali suatu tempat rahasia yang membuat seseorang perempuan rapuh dan fana, semua tombol listrik di mana semua berkelindan, bersillangan, menegang lalu mengirim debaran, memang tak ada dalam diri ombak. Kepekaannya, seperti pada semua perempuan, menyebar sebagai riak-riak tapi bukan riak yang mengerucut ke dalam, melainkan keluar, setiap waktu kian jauh menyebar, sampai mereka menyentuh galaksi lain. Mencintainya berarti menyentuh yang jauh, bergetar bersama bintang-bintang yang sangat jauh, yang tak pernah kita perkirakan. Tapi pusatnya…. tidak, ia tak punya pusat, hanya sebuah kehampaan dalam segulung puyuh yang menghisap dan membuaiku.

Terlentang bersisian, kami bertukar salam, bisikan, senyuman. Ketika melingkar, ia jatuh di dadaku dan terbuka seperti sejenis tumbuhan yang bergumam. Ia bernyanyi di telingaku sebagai seekor siput. Ia menjadi murung dan tembus pandang, berdsandar di kakiku seperti seekor binatang mungil, atau air yang tenang. Ia begitu jernih hingga dapat kubaca seluruh pikirannya. Malam-malam tertentu kulitnya diliputi pijaran cahaya, dan mendekapnya serasa mendekap sepotong malam yang dilukisi api. Tapi ia juga menjadi legam dan pahit. Pada jam-jam yang tak diharapkan ia menggeram, mengaum, mengerut. Raungannya membuat para tetangga bangun. Mendengar suaranya, angin laut mencakari pintu rumah atau menyambar-nyambar di atap dengan suara keras. Hari mendung membuat ia terganggu: ia menghancurkan perabot, mengucapkan kata-kata kotor, meliputiku dengan penghinaan dan buih-buih hujau dan kelabu. Ia meludah, berteriak, menyumpah, bernubuat. Menjadi budak bulan, bintang-bintang, pengaruh cahaya dari dunia lain, ia mengubah perasaan dan penapilnnya dengan cara yang kupikir fantastis, tapi fatal seperti gelombang pasang.

Ia mulai merindukan kesunyian. Rumah dipenuhi siput dan kerang, perahu kecil yang dalam kemarahannya telah ia karamkan (bersama dengan yang lain, bungkuk oleh citra-citra, yang setiap malam meninggalkan keningku dan tenggelam ke dalam angin puyuhnya yang buas atau lembut). Betapa banyak harta kecil-kecil yang lenyap pada waktu itu! Tapi kapalku dan nyanyian sunyi para siput tak cukup. Di dalam rumah, mesti kuletakkan sekerumun ikan. Kuakui bukannya tanpa cemburu ketika kulihat mereka berenang di dalam diri temanku, mengusap dadanya, tidur di antara kakinya, dan menghias rambutnya dengan kilapan cahaya warna-warni.

Di antara ikan-ikan itu ada bererapa yang menjengkelkan dan buas: macan-macan kecil dari akuarium dengan mata lebar dan mulut-mulut runcing dan haus darah. Aku tak tahu kenapa temannku senang bermain dengan mereka, tanpa malu-malu menunjukan lebih menyukai mereka yang kepentingannya lebih kuabaikan. Ia lewatkan waktu berjam-jam bersama mahluk-mahluk mengerikan itu. Pada suatu hari aku tak tahan lagi; kudobrak pintu dan kuburu mereka. Dengan tangkas dan ajaib mereka lolos dari tanganku, sementara temanku tertawa dan lalu memukuliku sampai aku terjatuh. Kukira aku sedang tenggelam. Dan ketika aku berada pada titik kematian, dan warnaku berubah menjadi ungu, ia membaringkanku di tepian dan mulai menciumiku, sambil berkata bahwa aku tak mengerti. Aku merasa sangat lemah, letih dan terhina. Dan, pada saat yang bersamaan, pesonanya membuatku menutup mata, karena suaranya sangat lembut dan ia berbicara tentang kematian yang indah pada semua yang telah karam. Siuman, aku mulai takut dan membencinya.

Telah lama kuabaikan urusan-urusnku. Sekarang aku mulai mengunjungi teman-teman dan kerabat lama. Aku bertemu teman perempuanku yang dulu. Setelah membuatnya berjannji untuk menjaga rahasiaku, kuceritakan kepadanya tentang hidupku bersama ombak. Tak ada yang lebih menyentuh perempuan selain kemungkinan untuk menyelamtakan seorang lelaki. Penyelamatku mencoba semampunya, tapi apa yang bisa dilakukan seorang perempuan, seorang majikan bagi sejumlah kecil jiwa dan badan, dihadapan temanku yang selalu berubah dan selalu indetk dengan dirinya sendiri dalam metamorfosenya yang kekal.

Musim dingin datang. Langit dilabur warna abu kabut membekap kota. Gerimie beku jatuh. Temanku menangis setiap malam. Sepanjang hari ia mengurung diri, diam dan menjadi lebih sinis, mengucapkan satu suku kata saja, seperti seorang perempuan tua yang menggerutu di pojokan. Ia menjadi dingin; tidur dengannya berarti menggigil sepanjang malam dan merasakan angin sedikit demi sedikit pada darah, tulang, dan pikiran. Ia menjadi dalam, liar, risau. Aku sering keluar dan kepergiannku menjadi kian lama. Di suatu sudut, ia meraung dengan nyaring. Dengan gigi seperti baja dan lidah berkarat ia mengunyah dinding dan menelannya. Ia lewatkan malam dengan berduka, mendekati aku. Ia bermimpi buruk, di hinggapi delirium tentang matahari, tentang pantai-pantai yang hangat. Ia memimoikan kutub dan bermimpi menjelma menjadi sebongkah es raksasa, dan pada malam hari berlayar di bawah langit hitam selama berbulan-bulan. Ia menghinaku. Ia memaki-maki dan tertawa-tawa; mengisi rumah dengan cekikik dan hantu-hantu. Iam memanggil monster-monster dari kedalaman, yang buta, yang tangkas, dan tambun. Dipenuhi listrik, ia arangkan semua yang ia sentuh; dipenuhi asam, ia serpihkan semua yang ia gores. Dekapan lembutnya menjadi simpul-simpul tali yang mengikatku. Dan tubuhnya yang lentur dan kehijauan, ialah peceut yang terus melecut, melecut, melecut. Aku melarikan diri. Ikan yang mengerika itu terawa dengan senyum buas.

Di pegunungan, di antara pinus-pinus dan tebing-tebing semampai, kuhirup udara tipis yang sejuk seperti pikiran tentang kebebasan. Pada penghabisan aku kembali. Telah kuputuskan sesuatu. Waktu itu sangat dingin hingga pada dinding cerobong yang legam, di sebelah api yang telah lama padam, kudapati sesosok patung es. Aku terpana pada keindahannya yang menakutkan. Kumasukan ia ke dalam sebuah tas besar dan lalu pergi ke jalan, dengan rasa kantuk di bahuku. Di suatu restoran di lingkar luar kota, kujual ia kepada seorang pelayan yang segera memecahnya menjadi serpihan dan lalu melemparnya ke suatu wadah. Di situ botol-botol itu menggil. (*)

Octavio Paz: Penulis kelahiran Mexico City pada 1914 ini lebih tenar dengan puisi-pisunya. Ia menuntut ilmu di sebuah sekolah Katolik Roma dan Universitas Nasional Mexico, dan menerbitkan buku puisi pertmanya pada usia tujuh belas tahun. Empat tahun kemudian, ia pergi ke Eropa dan memihak Republik pada perang Spanyol dan bertemu dengan para penyair surealis di Paris. Sekembalinnya ke Mexico, ia mendirikan dan mengeditori sejumlah majalah sastra dan menerbitkan puisinya yang terkenal, The Labyrinth of Solitude, pada 1950. Paz menjadi duta besar Mexico untuk India dari 1962 sampai 1968, mengundurkan diri setelah terjadi pelakuan brutal pemerintah Mexico atas mahasiswa-mahasiswa radikal. Hidupku Bersama Segulung Ombak (My Life with the wave) diterbitkan pertama kali dalam Arenas movediaz (1949), dan diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahas Inggris oleh Eliot Weinberger dai Eagle or Sun? (1970, Aguila 0 sol, 1951)

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending