Connect with us

Interview

Haruki Murakami: Saya Kurang Suka Pada Gaya Kepenulisan Realis

mm

Published

on

Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan.

Karyanya menginspirasi banyak pembaca, tak terkecuali mereka yang telah lama menjadi penulis cerita. Jadi tak ada salahnya kita menilik ‘dapur’ kepenulisan Haruki Murakami, mencuri darinya inspirasi.

Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. Simak dunia dapur menulis Murakami selengkapnya dalam wawancara imajinatif berikut yang disarikan Galeri Buku Jakarta dari dokumen interview Murakami bersama The Paris Review dan The New York Times.

_________________________

Apa gaya menulis yang paling dekat dengan proses kreatif Anda selama ini?

 Gaya kepenulisan yang natural bagi saya sangat dekat dengan novel saya yang berjudul Hard-Boiled Wonderland. Terus terang, saya kurang suka pada gaya kepenulisan realis. Saya lebih cenderung memilih gaya kepenulisan surealis. Tapi di novel Norwegian Wood saya memutuskan untuk menulis karya yang seratus persen realis. Saya butuh pengalaman itu. Saya bisa jadi penulis cult jika saya hanya menulis novel-novel surealis. Tapi saya punya keinginan untuk masuk ke dalam genre popular, maka saya mendorong diri saya untuk menulis buku realis. Itu sebabnya saya menulis Norwegian Wood yang kemudian jadi buku best-seller di Jepang. Saya sudah memprediksi hal tersebut. Sebagai perbandingan dengan novel-novel saya yang lain, Norwegian Wood sangat mudah dibaca dan mudah dimengerti. Banyak orang yang suka dengan buku itu. Dengan begitu saya harap mereka akan tertarik membaca buku-buku saya yang lain.

Aapakah Anda terbiasa menulis dengan memiliki kerangka cerita lebih dulu sebelum mulai mengerjakan proyek menulis?

Ketika saya mulai menulis, saya tak pernah menyusun kerangka khusus. Saya cukup menunggu saja sampai cerita itu terbentuk di kepala saya. Saya tidak pernah memilih jenis cerita yang ingin saya tulis atau bagaimana akhirnya. Saya hanya menunggu. Untuk kasus Norwegian Wood tentunya berbeda, karena saya sengaja memutuskan untuk menulis dengan gaya realis. Tapi secara garis besar—saya tidak pernah memilih cerita apa yang ingin saya sampaikan. Biasanya saya mendapat beberapa bayangan, lantas saya menggabungkan bayangan itu menjadi garis cerita. Lalu saya jelaskan garis cerita itu kepada pembaca. Saat menjelaskan sesuatu kepada pembaca, saya harus pelan-pelan dan menggunakan kata-kata yang tidak sulit dicerna, metafora yang masuk akal, alegori yang baik. Itu pekerjaan saya. Saya harus menyampaikan cerita dengan hati-hati dan bahasa yang jelas.

Mana yang lebih penting menurut Anda, paragraf pembuka atau ending cerita?

Saya punya kecenderungan mengakhiri novel atau cerita saya dengan ending ambigu. Tapi itu natural bagi saya. Coba saja baca karya-karya Raymond Chandler. Bukunya juga tidak pernah memberikan ending yang konklusif. Dia mungkin menunjukkan bahwa Si A adalah pembunuh yang dicari-cari, tapi sebagai pembaca saya tidak peduli siapa tokoh pembunuhnya. Ada satu episode yang menarik ketika Howard Hawks [sutradara] mengadaptasi buku Raymond Chandler yang berjudul The Big Sleep untuk jadi film layar lebar. Howard tidak mengerti siapa yang membunuh karakter supir dalam buku The Big Sleep, maka ia menghubungi Raymond untuk menanyakan hal tersebut. Jawaban Raymond, “Itu tidak penting!” Hal yang sama juga saya rasakan sebagai pembaca. Ending konklusif itu tak ada artinya. Saya tidak peduli siapa tokoh pembunuh dalam buku The Brothers Karamazov [karya Fyodor Dostoyevsky]. Saat menulis, saya juga tak pernah mau tahu siapa pelaku kejahatan dalam cerita saya. Saya menempatkan diri di level yang sama dengan pembaca. Di awal cerita, saya tidak tahu bagaimana cerita itu akan berakhir atau apa yang akan terjadi di halaman-halaman berikutnya. Bila saya membuka cerita dengan kasus pembunuhan, saya tidak langsung tahu siapa pembunuhnya. Saya justru menuliskan cerita tersebut untuk mengetahui siapa pembunuhnya. Kalau saya sudah tahu sejak awal siapa pembunuhnya, maka tak ada gunanya lagi cerita itu ditulis.

Sebagai penulis Anda memiliki jadwal kerja khusus dan teratur?

Menulis buku sama seperti bermimpi dalam keadaan terjaga. Kalau kita bermimpi dalam tidur, kita tidak akan bisa mengendalikan mimpi itu. Saat menulis buku, kita terjaga; kita bisa memilih waktu, kondisi, semuanya. Setiap pagi saya menulis selama empat, lima, enam jam; lalu saya berhenti. Saya akan melanjutkan tulisan saya keesokan harinya. Saat saya menulis novel, saya selalu bangun pukul empat pagi dan bekerja selama lima sampai enam jam. Di sore hari, saya jogging sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh 1500 meter (atau melakukan keduanya). Lantas saya menghabiskan waktu membaca atau mendengarkan musik. Saya tidur pukul sembilan malam. Setiap hari saya melakukan hal ini secara rutin. Pola ini adalah hal yang penting bagi saya. Karena dengan rutinitas seperti ini saya bisa mengkodisikan pikiran saya untuk selalu fokus. Jangan kira ini hal mudah. Menetapkan rutinitas yang sama—tanpa jeda—selama enam bulan berturut-turut atau setahun penuh butuh kekuatan mental dan fisik. Oleh sebab itu, menulis sama seperti latihan daya tahan. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan sensitivitas artistik.

Sebagaian besar penulis cerita akan menulis bebas pada awalnya sebelum merevisi tulisannya sampai merasa benar-benar telah jadi. Anda demikian juga?

Saya pekerja keras. Saya selalu berkonsentrasi dalam mengerjakan tulisan saya. Setiap karya yang saya tulis biasanya harus dipoles dan direvisi sebanyak empat, lima kali. Lumrahnya saya butuh enam bulan untuk menulis draf pertama setiap novel, lalu tujuh atau delapan bulan setelahnya saya habiskan merevisi. Draf pertama selalu berantakan. Saya harus merivisi lagi dan lagi.

Beri kami rahasia psikologi yang melatari tokoh-tokoh utama dalam cerita Anda?

Protaginis saya cenderung terperangkap dalam dunia spiritual dan dunia nyata. Di dunia spiritual, tokoh wanita—atau pria—yang saya tulis cenderung pendiam, cerdas dan rendah hati. Di dunia realistis, tokoh wanita saya cenderung aktif, komikal dan positif. Mereka punya selera humor. Pikiran protagonis saya juga cenderung terbelah antara dua dunia dan mereka selalu bingung saat harus memilih. Saya rasa itu pola yang terus muncul dalam karya-karya saya. Terlebih di novel Hard-Boiled Wonderland di mana pikiran si protagonis benar-benar terbelah dua. Di novel Norwegian Wood juga begitu—ada dua gadis dan si protagonis tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Begitu terus dari awal sampai akhir.

Baik untuk yang terakhir, apa hal paling penting dalam sebuah karya cerita?

Narasi. Narasi sangat penting dalam praktik menulis buku. Saya tidak peduli soal teori. Saya tidak peduli soal kosa kata. Bagi saya yang terpenting adalah apakah narasinya bagus atau tidak.

_________________________

Akhirnya tidak ada yang sempurna tak terkecuali dalam dunia menulis. Yang ada adalah disiplin dan kerja keras. Anda akan berhenti atau kembali duduk dan mulai menyelesaikan karya Anda? Seperti kata Murakami, sama halnya dengan keputus asaan, taka da yang sempurna, “There’s no such thing as perfect writing, just like there’s no such thing as perfect despair.” (GBJ/ SC).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Kesusastraan Rusia Dan Maxim Gorky Di Mata Soesilo Toer

mm

Published

on

“Tradisi kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual”.

Begitulah komentar Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba yang juga merupakan adik kesayangan sastrawan besar indonesia (alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lalu apa pandangannya dengan sastra realisme? Ia menuturkan kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis.

Tentu saja ia juga mengajukan pendapat penting tentang proses kreatif dan kesadaran yang terbangun dalam diri dan karya-karya kakaknya Pramoednya, ia menyebut Pram Menerima karyanya sebagai realisme sosialis, namun demikian Soesilo menuturkan Pram dalam gaya menulis banyak belajar pada Multatuli dan Hemingway.

“Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”.

Bagaimana pendapatnya tentang dunia sastra, politik dan kemanusiaan lebih luas? Simak wawancara berikut yang dikerjakan oleh Ladinata Jabarti dan kawan-kawan, selengkapnya:

Bagaimana karakter kesusastraan Rusia menurut Pak Soesilo sebagai pengelola Pataba?

Kalau zaman saya itu ‘kan sedang populernya realisme sosialis, jadi buku-bukunya Dostoyevsky itu tidak dianjurkan untuk dibaca karena berbau pesimisme. Tapi belakangan, semua boleh dibaca, nggak ada batasan. Kalau di sini (Indonesia) ‘kan Bumi Manusia dilarang, dianggap mengandung ajaran marxisme-leninisme, kalau di sana (Rusia) nggak ada.

Saya membaca Multatuli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, yang bahkan Lenin memberi komentar untuk buku itu. Saya membeli buku itu di pinggir jalan. Buku-buku yang di pinggir jalan dan di toko besar itu isinya sama. Orang-orang Rusia sangat menghargai buku. Di mana-mana, misalnya di bus, mereka membaca buku atau koran. Kalau sedang istirahat juga rata-rata buku yang dipegang. Jadi (tradisi) kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual.

Kesusastraan Rusia yang bersangkutan dengan Maxim Gorky, bagaimana (Maxim Gorky) menurut Bapak?

Gorky menganggap sastra Rusia itu harus melihat kepada rakyat. Yang utama bagi mereka kalau secara perabadan, peradaban dari yang pertama, taruhlah perbudakan sampai yang terakhir, kapitalisme-imperialisme terbentuk dengan sendirinya. Dari sana kemudian lahir berbagai teori seperti Adam Smith, Malthus, jadi fakta menghasilkan teori. Peristiwa dulu, baru timbul teori. Nah ini oleh Marx dan Lenin dibalik: teori menciptakan fakta. Mereka jalan seperti di dalam lubang hitamnya Hawking. Walaupun disebut sebagai ajaran ilmiah, tapi tetap utopia, berjalan di dalam gelap. Jadi kalau menurut saya, nantinya, kalau terjadi perubahan setelah imperialisme itu nggak mesti sosialisme atau komunisme. Apa saja namanya, yang penting terjadi perubahan lanjutan yang melawan kapitalisme maupun imperialisme. Dan akan terjadi perubahan dengan sendirinya secara alami. Bagi saya, fakta dulu baru teori.

Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba

Soal realisme sosialis Gorky, itu bagaimana?

Kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis. Seperti (contohnya) Kuprin itu ‘kan banyak menulis kejelekan-kejelekan di masyarakat, itu masih realisme sosial. Tapi kalau sudah campur tangan seperti bukunya Gorky Mother atau Mat’ (dalam bahasa Rusia)”, itu ‘kan tokohnya, Pavel, tadinya peminum seperti ayahnya. Anak-bapak itu peminum berat, yang ditindas adalah ibunya. Nah, suatu kali anak ini punya kesadaran, “orang tua saya kok saya perlakukan seperti budak.” Dalam buku itu sudah masuk campur tangan negara, karena dia pegawai di pabrik (yang berkaitan dengan pemerintah). Dilibatkannya unsur-unsur negara di dalam karya, itu sudah masuk realisme sosialis, bedanya di situ.

Dalam Cinta Pertama, Maxim Gorky memiliki semacam prinsip dalam kesusastraan. Pandangan dunia Gorky sangat kuat, seperti juga dalam Mother yang (digambarkan) begitu kuat. Menurut Bapak, apa yang membuat Gorky jadi sedemikian tangguh dalam berprinsip dan berkesusastraan?

Gorky itu ‘kan menderita waktu kecil, nama sebenarnya Aleksey Peshkov, Peshkov itu artinya pasir atau debu. Kemudian Gorky itu artinya getir, pahit. Dia merasa kuat karena pengalamannya banyak. Ditinggal ibunya, ditinggal ayahnya. Ia menjadi kuat karena pengalaman hidupnya sendiri. Luntang-lantung keliling Rusia selama lima tahun. Gorky pernah mencoba bunuh diri, tapi gagal. Maka dari itu ia pernah istirahat di Italia untuk menyembuhkan luka tembaknya, sambil menulis cerita anak-anak. Gorky menjadi kuat karena proses hidup yang dijalaninya begitu.

Kenali hidup sendiri. Dari mana Anda bisa kuat? Semakin besar dan berat penderitaan Anda, semakin berat Anda merenung. Bukan berputus asa, tapi merenung. Makanya setiap hinaan yang saya terima (pun) saya pakai sebagai kekuatan.

Lalu bagaimana pada akhirnya Gorky menjadi beraliran realisme sosialis?

Pada awalnya realisme sosial. Setelah terjun ke dunia politik baru kemudian menjadi realisme sosialis, walaupun ia bukan anggota partai komunis. Ia hanya mendukung pembangunan negara sosialis dan mengerti tujuan sosialisme itu untuk apa.

Pramoedya (Ananta Toer) terlihat sekali terpengaruh Maxim Gorky…

(Dia) Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”. Berkarya disimbolkan oleh Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Nah, saya, saya ikuti lagi, “supaya Anda hidup, harus bekerja”.

Bagaimana realisme sosialis Gorky itu bagi Pak Soesilo?

Saya membaca buku dia, tapi ya saya bukan seorang sastrawan yang dari mula kepengin jadi sastrawan, hanya suka membaca saja. Gorky tidak seberapa memengaruhi pemikiran saya, karena saya sudah bandingkan dengan yang lain-lain, kebetulan pendidikan saya cukup ada, sehingga tidak begitu tergila-gila terhadap sesuatu.

Pada saat Bapak kuliah di Rusia (berkisar pada tahun 60-an), bagaimana nama Gorky dalam ingatan masyarakat ketika itu?

Di sana itu Gorky bacaannya para tokoh muda sosialis, diwajibkan untuk mahasiswa Rusia, apa lagi untuk institute yang berkaitan dengan sastra. Tapi secara umum itu dianggap sebagai bacaan standar untuk semua anak sekolah.

_________________________________

*) Team Pewancara:

Ladinata Jabarti

Mochamad Luqman Hakim

Randolph Jordan

Muhammad Yunus Musthofa

Firmansyah

**) Wawancara penuh mengenai diri Soesilo Toer Ph.D, M.Sc (sebagai Direktur Perpustakaan Pataba), Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky. Kami mengambil penggalan wawancara mengenai Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky.

Setelah salat asar dan magrib, dengan sajadah yang dipinjamkan oleh keluarga Toer, di dalam perpustakaan,  setelah juga menyantap sate Blora, yang ditraktir oleh seorang kawan baik, yang pernah bekerja di Athan di Moskow, dan sekarang menjadi Lurah Pojokwatu, Pak Suwondo, wawancara dilakukan dengan dikawani oleh Benee Santoso, pemilik Penerbitan Pataba Press, putra tunggal dari Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc.

Continue Reading

Editor's Choice

Simone de Beauvoir: “Mengapa Saya Seorang Feminis”

mm

Published

on

Di dalam Novel Simone de Beauvoir pada tahun 1945 berjudul The Blood of Others, si narator, Jean Blomart, bercerita tentang reaksi teman masa kecilnya Marcel ketika mendengar kata “Revolusi”:

Itu tidak masuk akal, mencoba untuk mengubah segalanya di dunia atau pun di dalam hidup; banyak hal yang cukup buruk sekali pun tidak dicampur. Segala sesuatu yang hati dan pikirannya telah mengutuk atas apapun yang telah ia pertahankan—ayahnya, pernikahan, kapitalisme. Karena salah satu letak kesalahannya tidak hanya dari sebuah institusi, tetapi dari dalam diri kita sendiri (mengada). Kita harus merenung di sebuah sudut dan membuat diri kita sekecil mungkin. Lebih baik untuk menerima segala sesuatu daripada membuat sebuah usaha tapi gagal, bahwa kita telah ditakdirkan dari awal untuk menghadapi kegagalan.

Fatalisme ketakutan dari Marcel merepresentasikan segala sesuatu yang De Beauvoir kutuk di dalam tulisannya, terutama dalam studi dasarnya pada tahun 1949, The Second Sex, yang sering digunakan sebagai teks dasar feminisme di gelombang kedua. De Beauvoir menolak gagasan bahwa perempuan ditundukkan secara alami di dalam sejarah—“di kedalaman diri kita”. Sebaliknya, Analisa De Beauvoir menyalahkan lembaga institusi yang dibela oleh Marcell: Patriarki, pernikahan, eksplioitasi kapitalisme.

Simone de Beauvoir, tampak menulis di dekat jendela kamarnya di paris, 1952. Image by: gisele-freund.

Dalam wawancara dengan jurnalis Perancis Jean-Louis Servan-Schreiber di tahun 1975—Mengapa aku feminis—De Beauvoir mengambil ide-ide dari The Second Sex, dimana Servan-Schreiber menyebut pentingnya sebuah “referensi ideologis” untuk kaum feminis. Seperti halnya “Capital” Marx untuk kaum komunis. Dia bertanya kepada De Beauvior tentang salah satu kutipan yang sering dikutip: “One is not born a woman, one becomes one.” Jawabannya menunjukkan seberapa jauh seorang Simone de Beauvoir sebagai seorang Pasca Anti Esensialisme modern, dan kemudian seberapa jauh seorang pemikir feminis berhutang atas gagasannya sendiri.

“Ya, formula tersebut merupakan dasar dari semua teori… itu artinya sangat sederhana, bahwa menjadi seorang perempuan bukan sebagai takdir yang alami. Hal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Tidak ada tujuan, baik secara biologi dan psikologi yang menjelaskan bahwa perempuan sebagai…bayi perempuan yang diproduksi untuk menjadi seorang perempuan.”

Tidak bisa dipungkiri jika memang ada perbedaan biologis, namun De Beauvoir menolak gagasan tentang perbedaan seks yang dinilai sudah cukup membenarkan hirarki berbasis status gender dan kekuatan sosial. Status kelas nomor dua bagi perempuan, dia berargumen, adalah hasil dari proses sejarah yang panjang; bahkan jika lembaga tidak lagi sengaja menghilangkan kekuasaan perempuan, mereka masih berniat untuk mempertahankan kekuasaan laki-laki secara historis.

Hampir 40 tahun setelah wawancara ini—setelah  lebih dari 60 tahun sejak diterbitkannya The Second Sex – perdebatan De Beauvoir mendorong kita untuk mulai merasakan kegusaran, yang akan terus berlangsung dan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Meskipun Servan-Schreiber menyebut feminisme sebagai “rising force” atau diartikan sebagai meningkatnya kekuatan yang menjanjikan adanya perubahan besar, namun orang-orang bertanya apakah De Beauvoir, yang meninggal dunia pada 1986, akan cemas dengan nasib perempuan di berbagai belahan dunia saat ini. Tapi sekali lagi, tidak seperti karakter Marcel, De Beauvoir adalah seorang pejuang, ia bukanlah seorang “penakut yang berdiri di pojok ruangan” dan menyerah.

Servan-Shreiber mengatakan bahwa De Beauvoir “selalu menolak, hingga tahun ini, untuk muncul di TV”, tapi ia keliru. Pada tahun 1967, De Beauvoir muncul dengan pasangannya Jean Paul Sartre pada sebuah program Televisi Perancis-Kanada bernama Dossiers. Anda tentu mengerti arti peristiwa ini? (*)

—————————-

Diterjemahkan oleh Gui Susan dari Simone de Beauvoir Explains “Why I’m a Feminist” in a Rare TV Interview (1975). Dieditori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Editor's Choice

Satu-satunya Rekaman Virginia Woolf yang Bertahan

mm

Published

on

kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya.—Virginia Woolf

“Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris pada dasarnya penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang, berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menuliskannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.”

Begitulah rekaman dengan Virginia Woolf dimulai, pertama kali disiarkan oleh BBC pada 29 April 1937 sebagai bagian dari sebuah seri yang berjudul Words Fail Me. Hanya delapan menit dari rekaman aslinya yang tersisa dan ini diyakini sebagai satu-satunya rekaman yang bertahan dari penulis Inggris ini.

Untuk menandai ulangtahun kematian Woolf yang ke-75, BBC Culture dan BBC Britain telah mempersiapkan sebuah animasi untuk rekamannya, yang mana juga dijadikan sebuah esai dengan judul Craftmanship dan dipublikasikan sebagai bagian dari koleksi The Death of the Moth, and Other Essays. Pelukis animasi Phoebe Halstead terinspirasi oleh Woodcuts yang ditulis oleh saudari dari Woolf, Vanessa Bell untuk Hogarth Press.

Kami telah mengedit rekamannya hingga menjadi dua menit saja; transkrip utuhnya disertakan dibawah ini. Rekaman ini adalah sebuah petunjuk tentang bagaimana Woolf melihat kegiatan kepenulisan sekaligus sebuah kesempatan yang unik untuk mendengar suaranya.

“Kata-kata,” dia menyimpulkan, “menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Transkrip rekaman Virginia Woolf yang dipublikasikan BBC pada 1937:

Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris secara alami penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menulisakannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.

Sebagai contoh kata “incarnadine” yang sangat indah – siapa yang dapat menggunakannya tanpa harus mengingat “multitudinous seas?” Pada zaman dulu tentu saja ketika bahasa Inggris merupakan bahasa yang baru, penulis dapat menemukan kata-kata baru dan menggunakannya.

Pada masa sekarang cukup mudah untuk menemukan kata-kata baru-mereka bermekaran di bibir bilamana kita melihat sesuatu yang baru atau merasakan sebuah sensasi yang baru—tapi kita tidak dapat menggunakannya karena bahasa adalah hal yang begitu kuno. Anda tidak bisa menggunakan sebuah kata baru dalam bahasa yang kuno karena sesuatu yang sangat jelas namun juga sebuah fakta misterius bahwa:

Sebuah kata bukanlah entitas tunggal dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari kata-kata lain. Kata tidak akan benar-benar menjadi sebuah kata sampai ia menjadi bagian dari sebuah kalimat.

Kata-kata saling meliliki satu sama lain, meskipun tentu saja hanya seorang penulis besar yang tahu bahwa kata “incarnadine” dimiliki oleh “multitudinous sea”. Menggabungkan kata-kata baru dengan kata-kata lama adalah kesalahan fatal dalam konstitusi kalimatnya. Untuk dapat menggunakan kata-kata baru secara tepat kau harus menemukan sebuah bahasa baru; dan meski tiada keraguan bahwa kita akan sampai kesana, hal itu bukan merupakan tugas kita saat ini. Tugas kita adalah untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan bahasa Inggris sebagaimana adanya. Bagaimana kita bisa menggabungkan kata-kata lama di dalam aturan-aturan baru sehingga mereka bertahan, agar mereka menciptakan keindahan, agar mereka menceritakan kebenaran? Itulah pertanyaannya.

Dan orang yang dapat menjawab pertanyaan itu layak mendapatkan segala simbol keagungan yang bisa ditawarkan dunia ini. Pikirkan seberapa pentingnya jika Anda dapat mengajar, jika seorang dapat mempelajari hal ini; seni penulisan.

Virginia Woolf bersama ayahnya Sir Leslie Stephen/ Getty Image

Mengapa, tiap-tiap buku, tiap-tiap surat kabar akan memberitahukan kebenaran, meciptakan keindahan. Akan tetapi akan tampak bahwa ada rintangan di perjalanan, beberapa gangguan dalam pengajaran kata-kata. Meskipun pada saat ini setidaknya 100 profesor sedang mengajar literatur dari masa lampau, setidaknya seribu kritikus meninjau literatur masa kini, dan beratus-ratus pemuda dan pemudi melewati ujian literatur bahasa Inggris dengan nilai yang sangat baik, tetap saja ada pertanyaan mendasar: apakah kita menulis dengan lebih baik, apakah kita membaca dengan lebih baik ketimbang saat kita membaca dan menulis 400 tahun yang lalu ketika kita tidak menerima kuliah, tidak dikritik, tidak dididik? Apakah literatur Georgia kita merupakan tambalan bagi literatur zaman Elizabeth?

Lalu dimana kita harus menempatkan kesalahan itu? Bukan pada professor kita; bukan pada peninjau kita; bukan pada penulis-penulis kita; tetapi kata-kata. Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar. Tentu saja Anda bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus.

Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. JIka seorang inigin membuktikannya, coba bayangkan seberapa sering pada saat-saat emosional ketika kita sangat membutuhkan kata-kata kita tak menemukan apapun. Meskipun begitu, kamus itu ada; ada dalam benak kita setengah juta kata-kata, semua dalam urutan alpabet.

Akan tetapi dapatkah kita menggunakannya? Tidak, karena kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. Perhatikan kembali pada kamus. Disana tanpa keraguan terhampar pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih indah dari pertunjukkan Antony dan Cleopatra; puisi-puisi yang lebih memikat dari Ode to a Nightingale; novel-novel dimana selain Pride and Prejudice atau David Copperfield adalah kecerobohan yang parah dari para amatir. Ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang menemukan kata-kata yang tepat dan menempatkannya pada urutan yang tepat. Tetapi kita tidak dapat melakukannya karena mereka tidak hidup di dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Dan bagaimana mereka hidup di dalam pikiran? Dengan aneh dan beraneka ragam, selayaknya hidup manusia, dengan bertolak ke segala arah, dengan jatuh cinta, dan menyatu bersama. Benar adanya bahwa mereka lebih sedikit terikat dengan perayaan dan konvensi sebagaimana kita manusia. Kata-kata agung kerajaan menyatukan diri dengan kata-kata orang biasa. Kata-kata dalam bahasa Inggris kawin dengan kata-kata dalam bahasa Prancis, kata-kata dalam bahasa Jerman, kata-kata dalam bahasa India, kata-kata dalam bahasa Negro, jika mereka mempunyai sebuah ketertarikan. Tentu saja, semakin jarang kita menyelami masa lalu dari bahasa Ibu, bahasa Inggris kesayangan kita, itu akan lebih baik bagi reputasinya. Karena dia telah jauh mengembara.

Untuk itu menetapkan hukum apapun bagi pengembaraan yang tak tergantikan itu adalah hal yang lebih buruk dari kesia-siaan. Beberapa aturan tatabahasa dan ejaan yang tak penting adalah satu-satunya batasan yang bisa kita kenakan padanya. Satu-satunya yang bisa kita katakan tentangnya, selagi kita memandangnya dengan tajam melalui tepian gua besar yang dalam, gelap dan hanya sesekali diterangi tempat dimana mereka tinggal—di pikiran—apa yang bisa kita katakan tentangnya adalah bahwa tampaknya mereka menginginkan manusia untuk berpikir, dan merasa sebelum menggunakannya, bukan berpikir dan merasa tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lain.

Virginia Woolf, London_1939/ getty image

Mereka sangat sensitif, mudah sekali dibuat sadar akan dirinya. Mereka tidak suka kemurnian dan ketidakmurniannya didiskusikan. Jika Anda memulai sebuah perkumpulan untuk Bahasa Inggris Murni, mereka akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan memulai yang lain untuk bahasa Inggris tidak murni—sebab itu kekerasan yang tidak alamiah dari ungkapan yang lebih modern; itu adalah sebuah protes melawan puritan. Mereka juga sangat demokratis; mereka percaya bahwa satu kata sama baiknya dengan yang lain; kata-kata yang tak terdidik sama baiknya dengan kata-kata yang terdidik, kata-kata yang tak terolah selayaknya kata-kata yang terolah, tidak ada peringkat atau pangkat dalam perkumpulan mereka.

Tak juga mereka senang dinaikkan dalam tulisan dan diperiksa secara terpisah. Mereka melekat bersama, dalam kalimat-kalimat, dalam paragraf-paragraf, terkadang untuk seluruh halaman dalam satu waktu. Mereka benci menjadi berguna; mereka benci menghasilkan uang; mereka benci dikuliahi di muka umum. Singkatnya mereka membenci segala hal yang melekatkan mereka pada satu makna atau membatasi mereka dengan sikap tertentu, karena merupakan sifat dasar mereka untuk berubah.

Mungkin itu adalah keanenah mereka yang paling mencolok—kebutuhan mereka akan perubahan. Ini dikarenakan kebenaran yang ingin mereka tangkap mempunyai banyak sisi, dan mereka menyampaikannya dengan menjadikan diri mereka sendiri mempunyai banyak sisi, bergerak ke arah sini, lalu ke sana. Apa yang bermakna satu hal bagi seseorang, memiliki makna yang berbeda bagi orang lain; mereka tak terjelaskan dalam satu generasi, sederhana seperti ujung tombak bagi generasi berikutnya. Dan karena kompleksitas inilah mereka bertahan.

Mungkin salah satu alasan mengapa saat ini kita tidak memiliki seorang penulis puisi yang, novelis atau kritikus tulisan yang besar adalah karena kita menolak kebebasan dari kata-kata. Kita menempelkan mereka pada satu makna, makna yang membuat kita mengejar kereta, makna yang membuat kita lulus ujian. Dan ketika kata-kata ditempelkan ke suatu tempat, mereka melipat sayapnya dan mati.

Terakhir dan dengan sangat berempati, kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya;

tapi mereka juga ingin  kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…. Bahwa jeda diberikan, bahwa selubung kegelapan diturunkan, untuk menggoda kata-kata agar menyatu dalam salah satu perkawinan yang singkat itu, yang mana merupakan gambaran sempurna dan menghasilkan keindahan yang abadi. Tapi tidak- tak satu pun hal itu akan terjadi malam ini. Anak-anak malang itu sedang kehilangan kendali; tidak ingin menolong orang lain; tak patuh; tolol. Apa yang sedang mereka gumamkan itu? “Waktu sudah habis! Diam!”

————————————

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari BBC Culture—The Only Surviving Recording of Virginia Woolf— By Fiona Macdonald. Dieditori oleh Sabiq Carebesth. Hak Cipta Terjemahan pada Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Classic Prose

Trending