Connect with us

Article

Hamka

mm

Published

on

Hamka adalah seorang  sastrawan Indonesia. Selain sebagai sastrawan, ia juga dikenal sebagai  ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Hamka adalah singkatan dari nama lengkapnya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Dalam dunia kepengarangan, Hamka juga kadang-kadang menggunakan nama samaran, yaitu A.S. Hamid, Indra Maha, dan Abu Zaki. Hamka lahir pada tanggal 16 Februari 1908, di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah Dr. Haji Abdul karim Amrullah, seorang ulama Islam yang sangat terkenal di Sumatera  dan pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang , sedangkan ibunya  adalah  Siti Shafiyah Tanjung.  Perceraian orang tuanya menyebabkan Hamka sudah harus berpisah dengan ibunya pada saat usianya baru menginjak enam tahun.

Hamka mulai bersekolah  pada usia tujuh tahun di sekolah  dasar di Padang Panjang.  Konon, karena nakalnya. ia tidak tamat dari sekolah itu. Akan tetapi, ia mendapat pelajaran agama dan mengaji. Dalam kurun waktu tujuh tahun (1916—1923) Hamka berhasil menamatkan pendidikan agamanya dari dua tempat, yaitu Diniyah School dan Sumatera Thawalib (milik ayahnya). Sekolah yang didirikan oleh ayah Hamka itu menerapkan metode belajar-mengajar  seperti metode yang digunakan di sekolah-sekolah agama di Mesir. Bahkan, buku-buku dan kurikulumnya pun disesuaikan dengan buku-buku dan kurikulum yang digunakan di sekolah Al-Azhar, Mesir. Gelar doktor ayahnya memang berasal dari sekolah Al-Azhar, Mesir.

Selain rajin membaca buku-buku agama, Hamka juga suka membaca buku-buku sastra, seperti kaba, pantun, petatah-petitih, dan cerita rakyat Minangkabau. Pengalamannya membaca buku-buku sastra itulah sebagai cikal-bakal yang kelak menjadikannya sebagai sastrawan besar.

Untuk  meningkatkan pengetahuannya, pada tahun 1924 Hamka merantau ke Pulau Jawa. Mula-mula ia ke Yogyakarta, Surabaya, lalu Pekalongan. Ia mempelajari pergerakan Islam yang pada waktu itu sedang bergelora. Selama di Pulau Jawa, Hamka mendapat pengetahuan tentang pergerakan Islam dari H.O.S. Cokroaminoto, H. Fachruddin, R.M. Suryopranoto, Dan St. Mansyur.
Hamka hanya setahun tinggal di Pulau Jawa. Pada tahun 1925 ia kembali ke Padang Panjang dan mulai mencoba menjadi seorang pengarang. Hasilnya lahir setahun kemudian, sebuah novel berbahasa Minangkabau yang berjudul Si Sabariah (1926).

Pada tahun 1927 Hamka berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia tinggal selama enam bulan di kota itu. Selama enam bulan itu, ia berkesempatan mengasah kemampuannya berbahasa Arab juga mendapatkan pengalaman yang menjadi inspirasi yang sangat kuat baginya dalam menciptakan novel pertamanya (dalam bahasa Indonesia) yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Saat berada di Mekkah itu, ia berstatus sebagai koresponden harian Pelita Andalas.

Pada tanggal 5 April 1929 Hamka menikah dengan Siti Raham binti Endah Sutan. Siti Raham adalah anak dari salah seorang saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya itu, ia dikaruniai sebelas orang anak, yaitu Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, ia menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Hj. Siti Khadijah.

Banyak sekali pekerjaan yang sudah dilakoni Hamka di sepanjang hidupnya, dan dalam berbagai bidang pula. Hamka sudah menjadi seorang wartawan sejak tahun 1920-an dari beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Hamka juga bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang (1927), kemudian mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuainya (1928). Pada tahun 1928 itu juga ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubalig ke Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana, Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal dan menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah al-Mahdi di sana. Pada tahun 1934, bersama dengan M. Yunan Nasution di Medan, ia memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Pada majalah itulah untuk pertama kalinya ia memperkenalkan nama Hamka.

Pada tahun 1945 Hamka kembali ke Padang Panjang dan dipercayakan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin. Kesempatan itu digunakannya untuk menyalurkan kemampuannya menulis dan lahirlah beberapa tulisannya, antara lain, Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Dari Lembah Cita-Cita. Pada tahun 1949 Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang menuju Jakarta. Di Jakarta, ia menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Pada tahun 1950 ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya dan melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab. Setelah kembali dari kunjungan itu, ia menulis beberapa novel, antara lain, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Kemudian, ia juga menulis otobiografinya, Kenang-Kenangan Hidup (1951).

Pada tahun 1959 Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian, pada tanggal 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan. Ia juga memperoleh gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo. Selanjutnya, pada tanggal 26 Juli 1975, Musyawarah Alim Ulama seluruh Indonesia melantik Hamka sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, ia memangku jabatan itu sampai tahun 1981.

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahirannya berbahasa Arab, ia dapat meneliti karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah, seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui kemampuannya berbahasa Arab itu juga, ia meneliti karya sastrawan Perancis, Inggris, dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.

Belakangan, ia mendapat sebutan Buya (berasal dari bahasa Arab, abi atau abuya, yang berarti ayahku), sebuah panggilan yang ditujukan untuk seseorang yang dihormati. Ia juga  dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011, pada tanggal 9 November 2011.

Hamka meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun, dan dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. (*)

Diolah dari sumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. © Badan Bahasa, Kemdikbud.

Continue Reading

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Blog Pembaca

Kuliah dan Keharusan untuk Menulis

mm

Published

on

Oleh: Juma’

Kisah menulis ini akan saya mulai dengan dua ungkapan “provokatif” dan cukup membuat saya punya keberanian untuk merantau. Pertama, “hidup yang tak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”. Ungkapan Fredrich Schiller memberi gairah hidup dalam diri saya untuk tidak pernah gentar dengan gelombang hidup. Hidup bukan dengan menghindari gelombang, tetapi menari di tengah badai. Kedua, “merantaulah. Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)”. Ungkapan Imam Syafi’ie menjadi motivasi untuk mengarungi samudera rantau guna menuntut ilmu.

Ungkapan pertama, akhirnya menjadi populer ketika saya berada di Rantau, tepatnya sejak saya memutuskan untuk mondok di Pondok Kutub, Caben Yogyakarta. Ungkapan ini sering diucapkan senior di pondok untuk memotivasi kami yang baru mondok

Perjalanan rantau saya (mungkin) tidak akan pernah terjadi tanpa motivasi untuk hidup dari dunia kepenulisan. Motivasi kuliah dengan “iming-iming” menulis di sebuah pondok bernama Pondok Kutub (Pesantren Hasyim Asy’ari) yang didirikan oleh (alm.) Gus Zainal Arifin Thaha. Ya, perjalanan rantau saya tidak lepas dari motivasi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi dengan “pertaruhan” hidup mandiri dari menulis. Saya pun berangkat ke Jogja untuk mondok di Kutub. Pondok Kutub mengajarkan saya dan para santrinya untuk menulis di koran dan bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai kuliah. Keinginan untuk melanjutkan kuliah berbarengan dengan “iming-iming” hidup mandiri dengan menulis.

Pendiri pondok, Gus Zainal Arifin Thaha “mengharamkan” santrinya untuk meminta kiriman pada orang tua jika hanya untuk kebutuhan makan. Dari sinilah, perjalanan belajar menulis saya tekuni di Jogja. Perkenalan saya dengan dunia tulis menulis diawali dengan seringnya membaca tulisan kakak senior yang sudah kuliah di Jogja. Namanya, Rahbini. Saya sering disuruh membaca resensinya yang dimuat di koran.

Ketika sampai di Jogja pun, saya langsung ditantang menulis resensi. Saya diberikan buku baru untuk dibaca. Waktu itu, saya diberi waktu sekitar 3-5 hari untuk membaca buku, mencatat point yang ingin ditulis, lalu menuliskan resensi buku.

            Ketika resensi yang saya tulis selesai, saya mengirimkan tulisan saya ke koran lokal di Jogja, Kedaulatan Rakyat (KR). Setiap hari minggu, tulisan resensi yang sudah saya kirim selalu saya cek keberadaannya; dimuat atau tidak.

Sembari menunggu, saya terus belajar menulis; mulai resensi hingga opini dan esai. Setiap minggu, saya selalu mengirimkan tulisan baik dalam bentuk opini, esai atau resensi.

Ketika memasuki minggu kelima, saya dikejutkan dengan gurauan anak-anak pondok bahwa resensi saya dimuat di koran KR. Saya sangat terkejut. Saya bersujud syukur dan merasa tidak percaya jika tulisan saya dimuat di KR. Saya terkejut, karena itu tulisan pertama saya. Tantangan dari kakak senior saya berhasil saya lewati dengan dimuatnya tulisan saya. tentu, Rasa bangga dan tak percaya menggelatui saya selama semingguan. Waktu itu tahun 2007, honor resensi 50.000 sudah cukup membuat saya sangat bahagia. Apalagi ditambah saya mendapatkan dua buku dari penerbit. Saya pun langsung meminta Buku Sejarah Umat Manusia karya Arnold J. Toynbee.

Kehidupan di Pondok Kutub menuntut saya untuk terus berjuang dan berkarya. Saya diharuskan untuk membaca buku dan membaca karya teman yang dimuat, membaca koran untuk mendapatkan inspirasi ide agar bisa dituliskan ke media massa. Rasanya, tiada hari tanpa membaca dan menulis. Setiap hari, kami diajarkan untuk menulis, minimal satu karya; bisa esai, opini atau resensi. Selain itu, pondok memfasilitasi kami dengan kajian rutin; kajian editorial; mengkaji tema-tema aktual di media massa; kajian sastra; berupa bedah karya puisi atau cerpen teman-teman pondok dan kajian tokoh yang mengkaji pemikiran tokoh-tokoh yang dianggap dapat membantu teman-teman mengembangkan ide di kepenulisan.

Di Pondok Kutub, kami selalu diberikan motivasi dengan petuah guru kami: “lebih baik bertidak walau pun sedikit, daripada terjebak angan-angan ingin berbuat banyak”. Adigium ini begitu kuat memotivasi kami untuk terus belajar, membaca dan menulis. Kami diajarkan untuk hidup mandiri dengan menulis atau berjualan koran di perempatan jalan. Berjualan koran di perempatan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari; makan dan rokok.

Aktifitas belajar dan diskusi dunia literasi di Pondok Sastra Kutub, Yogyakara. (getty image/ sastra kutub)

Guna menumbuhkan semangat menulis bagi teman-teman baru atau lama, pondok Kutub memberlakukan sebuah aturan tak tertulis bahwa setiap karya yang dimuat, harus difoto kopi dan ditempel di dinding. Menempel karya di dinding bertujuan agar kami (yang belum dimuat) terus berlomba-lomba menulis, tentu saja tidak lupa membaca. Bahkan, senior kami di Pondok Kutub akan membully kami secara halus, jika tulisan kami tidak pernah dimuat. Kami dibully dengan pertanyaan yang sangat halus; “mana tulisanmu?” pertanyaan ini menjurus pada kami yang pernah dimuat, tetapi lama tak dimuat lagi atau bagi kami yang memang belum pernah dimuat sama sekali.

Disinilah, saya mengalami masa yang cukup pahit dalam kepenulisan. Paska dimuat resensi pertama kali di Kedaulatan Rakyat, selama hampir 3 bulan, tulisan saya tidak pernah dimuat lagi di koran. Selama kurun waktu itu, perasaan pesimis dan frustasi menghampiri saya. Padahal, setiap minggu saya pasti mengirim tulisan, untuk rubrik resensi dan opini. Saya berkesimpulan, mungkin tulisan pertama yang dimuat, lebih karena berbau keberuntungan, bukan karena kualitas tulisan saya yang bagus.

Dalam kurun hampir 3 bulan tulisan yang tidak pernah dimuat, saya terus belajar menulis, membaca karya orang dan minta dieditkan pada senior. Terakhir, saya ingin mengutip pesan Gus Zainal Arifin Thaha (alm) yang sering dituturkan senior saya; “bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama orang-orang yang rajin membaca. Dan janganlah anggap dirimu berhasil kalau belum memberikan manfaat bagi orang lain. Serta janganlah kalian meninggal sebelum banyak malahirkan karya.” Dari sini, saya tak pernah berhenti membaca dan menulis.

*Juma’, Santri Kutub, Alumni UIN Sunan Kalijaga, tertarik pada tema-tema Sejarah. twitter: _jdPutra.

Continue Reading

Classic Prose

Trending