Connect with us

Interview

George Orwell: Saya tahu pada akhirnya harus duduk dan menulis buku

mm

Published

on

Pada usia 30 tahun seorang akan mengambil keputusan penting atau bahkan terpenting dalam hidupnya, memilih menjadi bos dan menikmati kesenangan mengendalikan banyak orang, atau menjalani hidup yang nyaris abadi dalam ritme sama sebagai pekerja loyal meski pun jengah.

Pilihan lain adalah duduk dan menulis buku, mengutuk dirinya sendiri tanpa pernah berpikir untuk meninggalkan tugasnya—menulis.

Tentu tidak sekaku dan seluruhnya demikian, tapi paling tidak demikian lah babak mental yang mendera seorang novelis George Orwell sebelum akhirnya, pada usia 30 tahun, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan yang digeluti lima tahun sebelumnya yaitu sebagai Polisi Kerajaan India di Burma, lalu mulai menulis.

Pekerjaannya sebagai polisi Kerajaan India dan kemiskinan serta banyak kegagalan lain dalam hidupnya, kelak akan menguatkan intuisi alamiahnya untuk membenci otoritas (kekuasaan) dan menaruh perhatian lebih pada kelas pekerja, kelak hal itu akan banyak terlihat semangatanya dalam novelnya yang mashur “Animal Farm”.

Ia merasa sudah waktunya mengambil keputusan atau tidak sama sekali. Ia lantas menyelesaikan novel lengkapnya yang pertama: Burmuse Day. Tentu saja, dia sendiri mengakui novel itu sudah ia persiapkan cukup lama, bahkan sejak ia masih berusia belasan.

George Orwell

Pada usia lima atau enam tahun, demikian menurut Orwell Sendiri, “Saya menyadari saat itu, dan saya tahu masanya akan tiba; cepat atau lambat, saya harus duduk dan mulai menulis buku. Saya tidak boleh membunuh bakat alamaiah yang saya tahu telah mengandungnya sejak belia”, demikian pengakuannya.

Bukan hal mudah, bahkan seperti sebuah hal konyol, andaikan saja di usia 30 tahun, seorang berhenti dari kehidupannya sehari-hari dan memutuskan untuk menulis buku, Orwell sendiri dalam salah satu esainya tentang bagaimana menulis, ia menyatakan “Menulis buku itu mengerikan, perjuangan yang meletihkan, seperti sakit berkepanjangan. Seorang tak akan pernah berusaha menciptakan sesuatu jika tidak didorong oleh setan-setan yang dapat melawan atau memahami.”

Pertanyaannya adalah implus atau motif apa yang melatari, seperti halnya Orwell, memilih duduk dan menulis buku? Motif politik? Implus historis? Kesenangan estetis? Atau semuanya?

Sabiq Carebesth* dari Galeri Buku Jakarta mewawancari Orwell secara imajiner ihwal bagaimana mengarang dan dunia menulis yang disebutnya mengerikan dan menyakitkan–bahkan pada akhirnya sia-sia itu. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Ini sederhana saja tampaknya, saya ingin bertanya seperti banyak orang menanyakan dengan konstan dan ringan pada sejawatnya yang penulis buku—kenapa Anda menulis?

GEORGE ORWELL

Saya telah menulis dalam sebuah esai dan saya pikir Anda pun telah membacanya, bahwa bagi saya seorang menulis, termasuk saya, paling tidak karena beberapa motif yang terus menerus menderu menjadi implus dalam pikiran. Egoisme, dalam bahasa yang mudah berupa implus untuk menjadi terkenal, tampak pintar, atau untuk dikenang setelah meninggal—itu selalu akan menjadi motif yang besar, meski hal itu menempatkan seseorang dalam kedewasaan yang semu sekedar untuk membalas hinaan atau sakit hati pada usaia kanak-kanak, adalah motif besar yang implusnya nyaris datang tanpa jeda pada masa-masa yang menentukan. Motif lainnya saya katakan adalah, antusiasme estetis. Persepsi tentang keindahan di dunia luar, dalam kata-kata dan susunan yang teratur. Rasa senang yang mencul dalam rima dan matra bahasa, dalam hasrat membagi yang sepatutnya dikenang… dan yang lain tentu saja adalah motif tentang tujuan politisdalam artinya yang paling luas. Suatu dorongan untuk menempatkan dunia dalam urutan pasti atau mengubah gagasan orang lain tentang ragam masyarakat.  

INTERVIEWER

Mari kita bicara motif anda, yang paling kuat dan mempengaruhi karangan anda?

GEORGE ORWELL

Saya rasa bahkan saya tidak bisa menjawab dengan pasti, bisa jadi bahwa semua motif itu terakumulasi dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan lingkungan ketika penulis itu hidup. Hanya saja bagi saya, tak ada buku yang sama sekali bebas dari bias politik. Bahkan pendapat yang mengatakan bahwa seni tak bersinggungan sedikit pun dengan politik adalah sikap politik itu sendiri. Dan tahukah, bila saya menengok kembali karya saya, saya merasa kekurangan tujuan politis sehingga saya merasa seperti hanya menulis buku-buku yang tak bernyawa dan terpisah-pisah, penuh kalimat tanpa makna, kata-kata dekoratif, dan biasanya omong kosong.

INTERVIEWER

Tapi banyak orang bahkan menilai Anda, sebut saja dengan menulis novel Animal Farm, tampak begitu politis, dan bukankah buku tersebut memberi dampak yang luar biasa besar?

GEORGE ORWELL

Animal Farm adalah buku pertama yang saya coba dengan penuh kesadaran tentang apa yang harus saya lakukan, memadukan tujuan politis dengan tujuan artistik. Memang buku itu memliki semangat untuk mengkritik kehidupan publik pada masanya—dan saya menulisnya setelah tujuah tahun sebelumnya tidak menulis novel. Tapi pada masa itu saya tahu saya ingin menulis sesegara mungkin. Saya rasa itu bentuk kegagalan, tapi wajar, pada dasarnya semua buku adalah kegagalan—tetapi bedanya Animal Farm, saya menulisnya dengan kesadaran pasti apa yang ingin saya tulis.

INTERVIEWER

Jadi bukankah itu novel yang kuat motif politisnya?

GEORGE ORWELL

Saya tidak ingin mengatakan itu sebagai impresi final. Pada dasarnya, semua penulis itu sia-sia, mementingkan diri sendiri, dan malas, serta pada motif mereka yang paling dasar, adalah benar-benar misteri. Jadi saya pun tak dapat mengatakan dengan pasti, meski jika anda memaksa, saya tetap tak bisa mengatakan dengan pasti mana motif yang paling kuat. Tapi saya bisa katakana bahwa buku sebaiknya memiliki motif politis.

INTERVIEWER

Animal Farm

Mari kita andaikan bahwa penulis perlu memiliki motif politis, sekaligus estetis, bagaimana pengalaman Anda terkait hal itu?

GEORGE ORWELL

Apa yang ingin saya lakukan saat itu adalah, membuat tulisan politis yang masuk ke ranah seni. Titik pijak saya selalu dari sikap partisan, rasa ketidakadilan sosial. Jadi saat saya duduk untuk mulai menulis, saya tak berkata pada diri sendiri “Saya akan membuat karya seni”, tapi saya menulisnya karena begitu banyak dusta yang ingin saya ungkap. Namun kemudian saya pun sadar saya tidak bisa bekerja menulis buku, atau bahkan artikel panjang untuk majalah, jika tanpa pengalaman estetis. Jadi saya katakana akhirnya saya tak bisa membuang salah satunya, bahwa karya sastra bagaimana pun ditulis sebagai karya “pamflet” ia tetap tidak akan sepenuhnya menjadi seuatu propaganda. Tugas penulis saya rasa adalah mendamaikan suka dan benci, non individual, aktivitas publik yang mendasar dan mandarah daging, yang pada masa sekarang menyerang kita semua.

INTERVIEWER

Baiklah, mari kita bicara hal yang lebih ringan dari porses kreatif Anda, kapan pertama kali anda menulis dan merasa pada akhirnya harus (menjadi) penulis?

GEORGE ORWELL

Saat saya berusia lima atau enam tahun, saya benar-benar telah menyadari keinginan itu, bahwa cepat atau lambat, pada akhirnya saya akan duduk dan menulis buku. Selama 24 tahun usia saya mencoba melepaskan pikiran itu, tapi nyatanya pikiran itu terus mengisi benak saya. Saya harus katakana bahwa sampai usia 8 tahun saya nyaris tak pernah melihat ayah saya, dua saudara (adik dan kakak) saya masing-masing dari kami berbeda lima tahun usianya. Untuk alasan ini dan itu, saya menjadi pribadi yang penyendiri. Di sekolah saya merasa disepelakan dan hal itu, atau entah karena hasrat saya untuk menulis lebih besar, saya benar-benar gagal dalam pergaulan sosial. Saya menulis puisi pertama saya pada usia lima tahun. Saya mendiktekan dan ibu saya menulisnya, jadi saya merasa ibu saya saja yang mengerti dunia menulis saya. Saya terus menulis buku harian sejak usia lima tahun dan pada usia enam belas tahun saya benar-benar tak bisa melepaskan diri dari rasa nikmat menjelajahi kata-kata, termasuk suara dan asosiasi kata-kata. Saya jatuh cinta dan rasanya mustahil membebaskan diri dari hal itu.

INTERVIEWER

Rasa nikmat menulis—meski begitu meletihkan dan bukan dunia yang bisa dikatakan dunia yang mujur? Lalu apa pesan Anda untuk para penulis setelah Anda, mengingat menulis bukan dunia yang mudah bahkan cenderung sakit?

GEORGE ORWELL

Saya melihat pada kurun usaia tertentu, katakanlah usia 30 an, seorang melepaskan individualitasnya, dia berhadapan dengan dunia eksternal yang tak terhindarkan—memimpin orang lain atau menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan yang menjemukan. Namun, saya percaya, selalu ada orang-orang berbakat yang jumlahnya sedikit, orang-orang yang dengan sengaja membiarkan hidupnya berlangsung hingga akhir, dan para penulis berada di tempat ini. Para penulis yang serius, saya katakan demikian, memiliki kesombongan yang lebih menyeluruh dan egois dibanding para jurnalis, walau mereka kurang tertarik dengan uang. (SC)

*) Sabiq Carebesth, disarikan dari esai utama George Orwell “Mengapa Saya Menulis” dan esai lainnya dalam “Orwell, A Collection of Essays” (Penguin Book, 1970)

 

Interview

Octavio Paz, Puisi Panjang dan tanda (resmi) perpuisian

mm

Published

on

Dia salah satu penyair Meksiko terbesar, bahkan salah satu yang terbesar dan otoriatif yang dimiliki dunia perpuisian modern. Alam pikiran dan pengalamannya mengembara melampaui ruang dan waktu, secara fisik dan juga metafisik—ia Octavio Paz,  seorang yang sukses sebagai penyair, juga dalam karirnya sebagai diplomat untuk negaranya.

Menjelajah peradaban Amerika sebagai salah satu korp diplomatik Meksiko pada 1941-1945, mengembara ke India juga sebagai duta besar negaranya dari 1962-1968—seni dan filsafat timur pun diserapnya. Sebagai warga negara selatan ia memahami sosialisme dan ‘budaya’ revolusi meski ia juga tak gentar mengkritik realisme-sosialis dalam medan kasustraan; ia tinggal dan menyerap paham kapitalisme ala Amerika selama tinggal di sana—dan ia pun tak kalah galaknya dalam melabrak cara pandang kebudayaan dan sastra Amerika yang selalu berbau Anglocentrik.

Kesastrawannya memang tiidak terburu-buru, meski ia telah menulis dan mempelajari puisi sejak masih muda belia, namun ia baru menandai kesastrawannya dalam terbitan kumpulan sajaknya pada tahun 1949. Setahun kemudian, ia menerbitkan esai tentang Meksiko “Labirin Kesunyian” (1950) yang lantas diterjemahkan ke hampir semua bahasa Eropa. Kedalaman visi pengetahuan dan ketegasan sikap politiknya tak diragukan, ia mengundurkan diri menjadi diplomat negara untuk India sebagai bentuk protes atas pembantain brutal yang dilakukan negaranya pada kaum pelajar di Mexico City. Ia mendirikan majalah kebudayaan yang pedas dalam kritik, Plural, (1971), Vuelta (1976)—kedunya dibredel penguasa.

Berkat kerja nyata dan siasat kebudayaan yang dikerjakannya dalam membela kemanusiaan ia diganjar berbaai penghargaan, dan yang paling bergengsi tentu saja adalah beroleh Nobel Sastra pada 1990. Pada 19 April 1998 Paz wafat karena kanker.

Sebelum meninggalnya karena kanker, dunia mencatat tujuh esai Paz paling monumental tentang sastra, dunia kita hingga relasinya dengan revolusi yang demamnya melanda bangsa-bangsa di dunia pada masa hidupnya. Tujuh esai yang lantas bertajuk “The Other Voice” tersebut merupakan “investasi” pemikirannya sejak esai pertama yang ditulisnya pada 1941—berisi pandangan meditatif Paz yang dimulai dari permenungannya tentang dunia puisi dari romantisme hingga simbolisme dan gerakan avant Grade. Salah astu pertanyaan terpenting esai tersebut adalah pertanyaan yang ia ajukan sendiri: “Dimana kira-kira tempat puisi pada waktu yang akan datang?”

Meski dimulai dari permenungan tentang puisi, buku “The Other Voice”, sebagaimana dicatat Helen Lane dalam pengantar untuk buku tersebut, berbicara juga tentang kondisi masyarakat kontemporer, filsafat, ideologi, revolusi dan tentang Paz sendiri, diri sang penyair—seorang modernis dan dan visioner. Seorang pemikir yang terus reasah-gelisah dan prihatin namun optimis terhadap perkembangan zaman.

Dalam tulisan berbentuk interview imajiner ini, penulis hanya akan meringkas pemikiran Paz tentang dunia puisi—atau dari sudut pandang puisi-penyair atas realitas dunia kontemporer (dalam bagian kedua interview). Ringkasan jawaban Paz secara utuh bisa didapati dalam bukunya “The Other Voice” (Suara Lain):

INTERVIEWER

Apa Puisi buat Anda, atau bagaimana ungkapan itu (puisi) memiliki artinya bagi Anda?

OCTAVIO PAZ

Pertama izinkan saya mengutip Antonio Machado untuk menjawab pertanyaan tersebut, Machado menulis: “Sejarah yang hidup dinyanyikan dengan memadahkan alun nadanya”.

Saya mulai menulis puisi pada waktu masih muda belia dan sejak itu pula saya membayangkan tentang bagaimana menulisnya. Puisi adalah suatu pekerjaan yang paling ambigu: suatu tugas dan sebuah misteri, suatu masa lalu dan suatu sakramen, sebuah profesi, dan suatu hasrat atau nafsu.

Saya ingin katakan hal itu pada mulanya seperti sebuah meditasi (barangkali kata itu lebih tepat karena keserampangannya, untuk menyebutnya sebagai suatu penyimpangan yang tidak beraturan) tentang perbedaan-perbedaan besar puitik dan pengalaman manusia: kesunyian, komuni, communion. Saya melihat hal itu dalam personifikasi dua orang penyair yang saya baca dengan penuh gairah; Quevedo dan Saint Jhon the Cross dalam buku karya mereka Lagrimas de un penitente dan Cantico spiritual.

INTERVIEWER

Dalam beberapa esai yang Anda tulis, anda tampak mengagumi puisi panjang dan memberi penilian tinggi atasnya ketimbang puisi pendek. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan hal tersebut?

OCTAVIO PAZ

Saya mambahas secara khusus mengenai “extensive poem”, puisi panjang—di mana itu adalah bentuk puitik yang telah memperoleh nasib baik dalam abad XX. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa puisi-puisi modern yang terbaik adalah puisi-puisi yang panjang. Sebaliknya malah lebih mendekati kebenaran: intensitas dari puisi yang terdiri dari atas tiga atau empat baris sering mampu menembus tembok waktu. Tetapi, puisi panjang—yang ditulis oleh T.S. Eliot, Saint John Perse, dan Juan Ramon Jimenez, saya berikan tiga contoh yang terkenal—merupakan ekspresi era kita, dan telah meninggalkan jejaknya tentang hal itu.

Jadi dapat dikatakan bahwa extensive poem adalah sebuah puisi yang panjang. Selama dalam pengertian itu kata-kata datang berurutan satu sama lain, suatu puisi yang ekstensif dengan demikian bisa berarti sebuah puisi yang terdiri dari banyak baris dan pembacaanya membutuhkan waktu tertentu. Ruang dan waktu.

INTERVIEWER

Namun berapa panjang sebuah puisi dapat dipandang sebagai sebuah puisi ekstentif? Terdiri dari berapa banyak baris?

OCTAVIO PAZ

Mahabharata terdiri lebih dari dua ratus ribu sajak, sementara bagi orang Jepang, sau Uta—sebagai puisi panjang—terdiri dari tiga puluh sampai empat puluh sajak; Soledades karya Gongora berisi dua ribu sajak; Primero Sueno karya Sor Juana Ines de la Cruz kira-kira seribu sajak dan Divina Comedia karya Dante terdiri dari lima belas ribu sajak. Sebaliknya puisi The Waste Land hanya terdiri dari empat ratus tiga puluh empat sajak. Jadi dalam hal ini panjang pendek adalah realtif. Ia berupa istilah yang bersifat variable bebas, tidak tetap. Jumlah persajakan (verses) bukan masalah sama sekali, kita membutuhkan factor-faktor lain untuk menjelaskan hal ini.

Saya ambil Paul Valery yang pernah berkata bahwa sebuah puisi panjang, merupakan mengembangan dari suatu ekslamasi, suatu seruan. Yakni suatu formula singkat dan jelas namun toh masih membutuhkan suatu pengembangan. Dalam puisi pendek awal dan akhir berpadu, menyatu hingga jarang kita dapati pengembangan apa pun. Awal dan akhir dengan gamblang dapat dibedakan, terang, jelas, setiap persajakannya memiliki fisiogno-minnya sendiri-sendiri tetapi pada waktu yang bersamaan semuanya tak dapat dipisahkan. Pada puisi panjang, bagian-bagiannya bersifat nyaris otonom, benar-benar ada seagai bagian-bagian (dari keseluruhan). Contohnya, episode Paolo dan Francesca daam Inferno karya Dante, atau episode Dante dan Matilda pada ahkhir penggambarannya melewati purgatory.

INTERVIEWER

Mari kita detailkan, inti dari pembeda puisi panjang dan puisi pendek, dan mengapa ada cenderung pada yang pertama?

OCTAVIO PAZ

Perpuisian ditentukan oleh prinsip keanekaan dalam kesatuan yang bersifat ganda. Dalam puisi-puisi yang pendek, keanekaan dikorbankan demi kesatuan; pada puisi-puisi panjang, puisi itu mencapai kesempurnaan sebagai puisi tanpa mengorbankan atau merusak kesatuan (unity). Jadi, boleh dibilang, pada puisi panjang kita bukan hanya menemukan perpanjangan atau perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang relatif, tetapi juga keanekaan yang maksimum.

Tambahan lagi, puisi ekstensif memenuhi persyaratan ganda lain yang rapat hubungannya dengan hukum keanekaan dalam kesatuan: pengulangan dan kejutan. Pengulangan merupakan prinsip utama dalam perpuisian. Matra dan aksen-aksennya, rima (rhyme), julukan (epithet) dalam karya-karya Homerus dan penyair-penyair lainnya; frase dan insiden berulang seperti motif-motif musical yang tersedia sebagai tanda-tanda untuk memberi tekanan pada kesinambungan. Perbedaan lain yang lebih besar lagi adalah jeda atau penghentian, pergantian, penemuan—singkatnya, ketakterdugaan.

Bila kita reduksi sampai ke bentuk paling sederhana dan esensial, puisi adalah sebuah madah, alias nyanyian. Nyanyian bukanlah suatu diskursus atau penjelasan. Pada puisi pendek, latar belakang dan hampir semua keadaan yang mengitarinya, yang merupakan sebab atau objek nyanyian, dihilangkan atau diabaikan. Yang saya maksud adalah: pada gilirannya nyanyian menjadi cerita, dan akhirnya cerita menjadi nyanyian—seperti dalam puisi ekstensif.

INTERVIEWER

Ada yang hendak Anda tambahkan lagi?

OCTAVIO PAZ

Sebuah puisi ekstensif harus memuaskan suatu kebutuhan rangkap: keanekaan dalam kesatuan dan kombinasi dari pengulangan dan kejutan. Hal itu mengembangkan dan bukan sekedar mengakumulasi.

Sebutlah dalam Soledades saya tidak menemukan pengembangan, melainkan hanya akumulasi—yang seringkali membosankan dan bertele-tele dari fragmen dan detil-detilnya. Soledades adalah suatu tatahan potongan-potongan yang memang indah tapi tidak berarti. Puisi-puisi itu tidak memiliki aksi, taka da cerita, dan dipenuhi dengan penjelasan tambahan yang panjang dan berbelit-belit serta pemakain kata yang terlalu banyak yang sebenarnya tidak perlu.

Anda harus memahami hal ini; apakah kita membaca sebuah puisi dengan penuh gairah? Antusiasme—hiruk pikuk dan kegila-gilaan yang bersifat ketuhanan—merupakan tanda (resmi) perpuisian. (*)

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor in chief Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Italo Calvino: Sebuah Memoar

mm

Published

on

featured image by https://www.telegraph.co.uk

Aku dan Italo Calvino berbagi lanskap: daerah pesisir Italia dari Genoa hingga Menton, di perbatasan Prancis. Kami berbagi bebatuan yang jatuh dengan curam menuju laut, bukit-bukit yang diselimuti oleh cemara dan pohon-pohon zaitun, rumpun tanaman berbunga kuning di musim dingin, buah-buah pertama dari truk perkebunan dan bunga-bunga dari biji yang bermekaran, kepiting-kepiting, kue paskah-dan kemudian, tepat di belakang pohon-pohon zaitun, petak-petak tanah liat yang tandus dan deretan pegunungan Appenini yang misterius. Dan segera setelah kami melewati gerbang-gerbang kota, di situlah gunung Fasce, petak-petak kecil di bukit-bukit berbatu yang gersang dimana para petani (pensiunan kapten kapal, para pelaut, para mandor kapal yang sudah tua tetapi juga pengacara-pengacara yang dipulangkan dari Argentina) membuat bangunan kecil, dengan dinding-dinding batu yang kering, mengambil air dari yang tak diketahui entah darimana sumbernya, dan kemudian, sebagai hobi, menanam sedikit tomat, buncis dan labu. Semuanya dalam jumlah kecil, terbatas, diambil dari sumber yang minim, melalui kecerdasan yang diasah oleh kekurangan sumber daya.

Aku dan Calvino sama-sama memiliki beberapa bidang tanah itu-miliknya, kukira lebih besar-dan berkali-kali ketika kami masih muda, kami berbincang tentang satu sudut di Liguria itu dengan kecintaan yang dimiliki seseorang untuk rumahnya. Tidaklah mungkin untuk memahami Calvino tanpa membayangkan lanskap ini, kecintaan untuk hal-hal kecil ini. Itu adalah kekayaan sesungguhnya yang dia miliki. Secara bertahap, setelah tahun-tahun berlalu, dia semakin menyukai cerpen, sajak prosa, perumpaan moral, kisah metafisik, caprice, miniatur, exvoto. Mungkin “bentuk-bentuk kecil” itu-dari Petrarch hingga Operette Morali karya Leopardi-telah mengkonstitusi esensi dari kecerdasan luar biasa orang Italia ini: digambarkan dengan tajam, terkonsentrasi, abstrak, terealisasikan dengan penghematan paling canggih dari sumber-sumber yang ada dan berlimpah gaung makna. Seperti penyair besar Persia, yang mengkonstruksi syair-syair luar biasa dengan memasangkan bersama kisah-kisah kecil yang tak terlihat, Calvino telah mempelajari seni menjalin plot cerita dan refleksinya; “bentuk-bentuk kecil” itu menerangi satu sama lain, menawarkan kiasan-kiasan dan perspektif dan tidak tetap, rancangan-rancangan bangunan yang tak terhingga. Aku tidak tahu apa yang mungkin akan dia tulis di masa depan yang sirna itu, tapi aku selalu membayangkan bahwa dengan kelenturan dan kecerdasan tangannya, menggunakan batu-batuan kecil berwarna miliknya, dia mungkin saja menggubah kisah-kisah kosmogoni dan kosmologi.

*

Ketika aku bertemu dengannya dia berusia dua puluh empat tahun, dan kapanpun aku berpikir tentangnya sebagaimana dia waktu itu, aku tersenyum. Dia menawan. Dia berjalan menelusuri jalan-jalan Turin yang kelabu, berpakaian seperti seorang imigran dari Haiti atau Santo Domingo dengan sandal dan sweter-sweter berwarna di pertengahan musim gugur atau pada awal musim dingin. Dia pemalu, seperti seorang bocah laki-laki dari daerah yang baru saja pindah ke kota besar. Dia memiliki kecenderungan inferioritas yang didorong oleh kehidupan keluarga yang eksentrik; dari waktu ke waktu kejengkelannya, sebuah perubahan retoris nada dalam suaranya seperti mengejek, gerakan tangannya mengingatkan pada sebuah fakta bahwa dia bukan termasuk orang Liguria asli Eugeno Montale tetapi merupakan bagian dari orang-orang Liguria yang penggila mitologi, periang, tukang gosip dan ahli kebatinan di bagian pesisir yang lain.  Apa yang membuatku terpesona dari segala hal adalah kecepatan dan keringanannya. Dia memiliki tatapan yang segar dan luar biasa tajam, pikiran yang tangkas, kecintaan pada garis lurus, sebuah kemampuan yang elegan sebagai seorang pengarah gaya. Tinggal di Turin, yang menggambarkan dirinya sendiri stoic dan geometris, dia telah membuatkan dirinya sendiri sebuah baju zirah stoic, dan dari balik lapisan baja ini, yang digosok hingga bersinar, dia mengamati pertunjukkan besar di bumi, selalu dari suatu kemiringan, atau dari ketinggian burung yang bersenandung dan hutan lebat yang suatu kali pernah menyelimuti Eropa.

Italo Calvino

Dia sangat lucu. Banyak kesempatan aku tertawa dengannya. Banyak pula kesempatan dimana aku dengan perasaan kasih menertawakannya. Dia seringkali jatuh cinta, atau berpikir bahwa dia jatuh cinta, atau berpura-pura untuk jatuh cinta. Hampir selalu, mengikutsertakan diri mereka sendiri, putri-putri Bogus yang mengajarinya tentang tatakrama yang baik (meskipun tatakramanya sudah lebih baik dari mereka), memaksanya untuk pergi ke restoran-restoran mahal dan meminum Veuve Cloquot meskipun dia miskin dan kikir. Dia mengagumi mereka dan menderita setiap kali mendengar tentang kemewahan, kebenaran-kebenaran yang berputar turun dari atas. Hingga suatu hari dia mengerti bahwa dia telah menyia-nyiakan hatinya dan waktunya dan secara tiba-tiba dia melarikan diri. Dia tiba di Roma dengan aura yang ketakutan di matanya, menginap di hotel-hotel yang tidak dikenal, tidak memberikan nomor teleponnya kepada siapa pun….sementara para putri dari Bogus mengejarnya ke penjuru Italia dengan sebuah pistol di tas tangannya, membacakan keras-keras kepada rekan-rekannya dalam nada mendengkur seperti seekor merpati yang tertohok tiga ribu surat cinta yang dituliskan untuknya.

 Aku selalu penasaran apakah Calvino memiliki perasaan. Sudah pasti dia adalah salah satu lelaki paling setia yang kukenal-setia pada teman-temannya dan pada penerbit yang terkadang tidak pantas menerima kesetiannya. Dia tidak pernah senang membicarakan psikologi. Karakter-karakter orang dan penggambaran tidak menarik baginya.

Penilaiannya pada orang lain ksar dan singkat saja: mereka pintar atau bodoh, menulis buku-buku bagus atau buku-buku jelek; segalanya hal di dalam novel yang menjadikannya penting atau konflik psikologis tidak menarik minatnya. Dia tidak mempercayai emosi; dalam kekacaubalauan hati manusia selalu ada sesuatu yang mungkin mengenai dan melukainya. Aku yakin bahwa terkadang dia berpikir untuk menukar jantung-organ yang kasar itu-dengan hal lain yang akan dia temukan melalui investigasi-investigasi cerdiknya, sebuah organ yang tak kalah bergairah dan murni, tetapi terbuat dari bahan kristal, seumpama sebuah kebenaran matematika.

Aku juga penasaran apakah dibalik kernyit dalam yang bergalur-galur di antara alisnya dia memiliki sebuah ego. Aku tidak pernah mengenal orang lain yang begitu tidak agresif dalam kesehariannya. Dia selalu mencoba untuk membenarkan, untuk memahami, untuk menetralkan sindiran-sindiran. Selama masa-masa pendewasaan dengan penuh kebijaksanaan, elegan dan meremehkan dia seperti menghilang dari dunia seolah “Aku” telah mengusirnya. Dalam buku terakhirnya dia mengungkapkan sebuah kepanikan yang hampir obsesif tentang keberadaan; sementara dia mencoba melipatgandakan dirinya bagaikan tokoh dalam dongeng, dia melarikan diri dari dirinya sendiri. Bilamana, sesekali dia terlihat seperti mempertahankan ke”Aku”annya, itu   arena dia telah mengambil risiko kehilangan dirinya sendiri dalam labirin cermin-cermin. Pada akhirnya, sebagaimana yang terjadi pada banyak penulis-penulis besar, dia menjadi mahluk kolektif-jenis yang menerima apapun; tak pasti, kebingungan, gelisah, rentan terhadap pengaruh sekecil apapun dari sekelilingnya, dibuat bingung oleh dinding-dinding rumahnya, dan bermacam refleksi: penguasa dari kerajaan yang hanya terdiri dari bayangan-bayangan.

Saat pertama kali aku bertemu Calvino, dia mengenal sedikit buku. Pada masa itu orang-orang mulai membaca Robert Musil, Nabokov, Dylan Thomas, Carlo Emilio Gadda, Boris Pasternak: bunga terakhir dari perkembangan literature Barat. Calvino tidak menyukai Musil, Nabokov, Gadda, tidak juga Dr. Zhivago atau pun Under Milk Wood. Seperti Jendral Stumm von Bordwehr, dia merasakan keberadaan musuh dimana pun: bahaya dari kekosongan, labirin itu, lautan objektivitas;

dia mempelajari banyak garis pertempuran, manuver-manuver pertahanan dan pengepungan, menggali parit-parit, memasang pagar kawat berduri, menyebarkan prajurit-prajuritnya yang lemah dalam seragam dan topi kecil berwarna. Aku menjadi terganggu dengannya. Tetapi aku keliru. Calvino bukan seorang kritikus. Dia tidak dalam kewajiban apa pun untuk menjadi objektif tentang siapapun. Tugas utamanya hanya untuk mempertahankan dunianya yang sangat menyenangkan yang terbuat dari kertas tisu dan cahaya-cahaya lembut.

Apa yang terjadi setelahnya aku tak yakin bagaimana cara untuk menceritakannya kembali. Dalam beberapa tahun penulis kecil menawan yang telah membayangkan “Our Anchestors” menjadi pembawa narasi utama Italia di abad dua puluh yang akan datang. Ini merupakan metamorfosis yang panjang yang berjalan hampir tak disadari, dalam lobaratorium khayalan dari literatur eksperimental. Bacaannya menjadi semakin dewasa. Sekarang dia membaca Musil dan Paul Valery-tepatnya buku-buku yang sewaktu muda dia benci-dan Petrarch, Kafka, Proust, Eugenio Montale, yang pada suatu masa, dengan terdistraksi dan tak mau ambil pusing, dia lewati. Semua yang dia baca, bahkan hal-hal yang paling tidak berhubungan, memasuki aliran darahnya. Pada saat ini dia semata-mata literatur; seorang sastrawan sebagaimana layaknya seorang yag beriman atau seorang pebisnis, dan meskipun begitu dengan kewajaran yang sama layaknya pohon-pohon cemara yang tinggi di halaman rumahnya menghisap nutrisi dari tanah dan menyebarkannya kesuluruh cabang yang ada pada dirinya.

Lanskapnya berubah. Jika saat dia tinggal di Paris dia seperti seorang alien, atau di Roma seperti tamu, saat ini rumah sesungguhnya baginya adalah rumpun cemara di Roccamare, dekat Castiglione della Pecasia, yang dalam cara pandang tertentu merupakan pengulangan dari lanskap alam Liguria di masa mudanya. Disini pun, semuanya serba terbatas; sebidang pasir terserak diantara dua daratan yang menjorok ke laut, serumpun cemara, sebuah taman kecil dimana semuanya terlihat seperti dibuat dalam skala lebih kecil. Dia menulis di tempat yang tinggi di rumahnya, sebuah ruang kerja yang kecil yang dapat dicapai dengan sebuah tangga kecil yang sangat berbahaya, bagaikan dalam sebuah aerial kandang ayam atau sarang merpati. Dibawah kakinya, istrinya berbincang dengan teman-temannya atau para pembantu rumah tangga. Tukang antar barang datang dan pergi, teman-teman tiba; dia terus saja menulis, terbenam dalam kebisingan kehidupan, menjaga rumah itu seperti seekor bangau. Meskipun dia tak pernah mengatakan tidak untuk hal apapun, pada saat ini dia sudah sangat dalam menjauhkan dirinya dari realitas, terbungkus dalam dunianya yang terbuat dari bayangan-bayangan lemah. Di antara dirinya dan orang lain, dia menempatkan isitinya; istrinya dharapkan dapat memberitahunya tentang semua hal; seperti apa wajah-wajah orang lain, apa yang terjadi di rumpun-rumpun cemara, bayangan-bayangan yang dihasilkan pepohonan, wewangian apa yang menyebrangi padang rumput, apa rasa dari makanan-makanan itu, bunyi-bunyian musik. Di atas sana seperti seekor lebah dia menerima madu yang dikumpulkan oleh istrinya dan menyimpannya di dalam sarang halus di pikirannya.

 Pikirannya menjadi yang paling kompleks, membungkus, pikiran paling berliku-liku yang pernah dimiliki oleh penulis Italia manapun. Menulis, bagi Calvino, berarti menggerakkan ide-ide-karena, seperti Proust mengatakan, mengutip Leonardo, literatur adalah sebuah persoalan mental.

Akan tetapi jatuh pada sebuah ide terasa seperti mencelupkan diri ke dalam sebuah jurang yang amat dalam, sebuah kekuatan merusak yang tak terhingga. Setiap kali dia lari dari bahaya perasaan kewalahan. Tak ada apapun yang pasti-hanya sebuah hipotesis dalam pencarian makna: sebuah hipotesis yang berkembang menjadi dugaan-dugaan baru, kemungkinan lebih jauh yang seringkali berakhir pada ketidakmungkinan. Jika pada suatu masa dia menyukai kekeraskepalaan pikiran yang tertutup yang dimiliki garis lurus, sekarang dia memilih jalinan-jalinan-berbelit-belit, garis-garis bercabang. Dulu ritmenya padat dan penuh petualangan; sekarang menjadi lambat, berhati-hati, begitu cermat, dihapus, ditambahkan, diubah sedikit-sedikit, berlawanan. Setiap tema bercabang dalam keanekaragaman yang berlimpah mengikuti gaung-gaung yang tak pernah berakhir.

Betapa sederhana motivasi intelektual masa mudanya, ketika dia percaya dalam permainan kejam pertentangan-pertentangan, harus muncul dihadapannya! Sekarang dia terobsesi dengan ketidakterbatasan ganda, yang kecil tak berhingga dan yang besar tak berhingga yang merusak semua pemikiran… jalinan tak terelakkan dari setiap persetujuan dengan setiap sanggahan; relasi yang tak terpisahkan antara segala hal dan hubungan-hubungan antara relasi-relasi itu-refleksi yang panjang atas gema yang kompleks hingga semua kata-kata dan tindakan dibangkitkan. Calvino merasa dia berada di tepi khayalan, dalam vertigo, ketidakmungkinan untuk menulis dan berbicara. Dia tidak pernah menjadi penulis yang tragis, dan sekarang dia menemukan bahwa tagedi sesungguhnya dalam literatur bukan terletak pada gairahnya, melainkan pada ekploitasi pikiran. Sangat tragis mungkin, kematian Anna Karenina di stasiun kereta di Obiralovka, itu tidak ada bandingannya dengan tragedi ketidakterbatasan yang ganda. Seperti semua seniman yang ahli dia selalu merasa bangga untuk mengetahu motif-motif dan tahapan-tahapan literaturnya. Tapi tepatnya saat ini, sebagaimana dia menuliskan “hal-hal mental,” ide-ide membawanya ke tempat-tempat yang baru baginya, dan pada masa-masa itu memenuhinya dengan kengerian.

Lalu, dengan begitu cepat, tahun-tahun terakhir tiba di hutan cemara. Memalingkan dirinya dari semua ide-ide umum, Calvino merasa puas untuk merenungi segulung ombak, setumpuk rumput di taman, seekor burung yang bernyanyi; perenungan atas hal-hal sederhana ini membangkitkan dalam dirinya sebuah kebingungan yang begitu radikal hingga mencegahnya merasakan emosi, membagikan sebuah ide, memahami bentuk dari sebuah objek, untuk hanya dapat mengatakan: “Benda ini adalah,” atau “Aku ada.”

Mungkinkah-aku menanyakan diriku sendiri-sudah tidak ada lagi apapun; dia telah secara diam-diam lenyap tanpa kita menyadarinya.

Musim panas terakhirnya begitu berat. Dia sedang menuliskan kuliah-kuliahnya tentang Amerika (yang kemudian dikumpulkan dalam The Uses of Literature), sebuah buku yang paling indah, warisan dalam seni puisi di akhir abad ini, dimana literarur kuno dan modern saling merefleksikan masing-masing dalam sebuah cermin jernih. Dia tidak dalam suasana hati yang baik. Dia berpikir bahwa dia menyia-nyiakan waktunya. Dia seorang penulis, dia harus memberi bentuk pada lusinan cerita yang bergumul di dalam kepalanya, bukan merefleksikan literatur. Dia tak lagi keluar dari rumah. Tersembunyi dalam sarang burungnya yang tinggi, dia tak pernah lagi berenang di laut.

Hari pertama di bulan Desember tahun 1985, kuliah-kuliahnya hampir selesai dikerjakan, meskipun baginya hal itu sudah menjadi milik waktu yang telah lampau. Selama hari-hari terakhir itu aku menemuinya dua kali. Dia lembut, penuh kasih saying, menghibur, nyaris bahagia. Dia bahkan mencium pipi istriku-betapa jarangnya bibir Ligurian yang abstrak dan penyendiri itu membengkok untuk menyentuh pipi seorang teman! Aku pergi tidur dengan penuh kegembiraan.

Tak ada alasan untuk ketakutan atas apa yang akan terjadi. Mr. Palomar merupakan sebuah kisah seperti semua yang bagi mereka literatur adalah sebuah persoalan mental. Calvino berpikir bawa setiap bukunya haruslah sebuah proyek baru yang akan memaksakan pada dunia sebuah bentuk yang tak terduga. Dia pernah menghidupi proyek ahli astronom khayalannya begitu dalam. Dia telah menanggalkannya, dan sekarang seraya dia kembali kerumah pada malam hari tak diragukan dia sedang berpikir tentang bentuk-bentuk khayalan lain yang akan dia hidupi untuk beberapa waktu.

Salah satu karya terbaik Italo Calvino, Invisible Cities pernah diterjemahkan dalam “Kota-Kota Imajiner” dan diterbitkan ke dalam bahasa indonesia oleh Fresh Book (Jakarta: 2006) pimpinan Savic Ali.

Tapi kemudian tidak ada apa-apa lagi…hanya kejatuhannya ke tanah, ambulan yang berpacu ke Siena, rumah sakit yang mengerikan dimana aku sudah menyaksikan kematian-kematian yang lain, wajah-wajah cemas para dokter, operasi yang tak berguna, pemeriksaan yang sia-sia, penantian, kepala yang diperban, kuburan kecil di atas lautan di Castiglione. Sautu pagi untuk menenangkan kami, para dokter mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik-sakit Italo merupakan sebuah cacat otak bawaan; dia seharusnya sudah mati di usia dua puluh lima atau paling lama tiga puluh tahun. Pikirkan tentang waktu yang telah dia peroleh. Pikirkan tentang buku-buku yang telah dia tulis dengan kegesitan petani-pelayarnya, ditempa di sepanjang petak-petak tanah liat yang gersang.

Betapa bijaksana dia telah mencuri waktu-satu-satunya kekayaan yang berharga- dari dewa-dewa yang bermain-main dengan kita. Aku katakan pada diriku sendiri, mungkin sekali dia pun tak tahu bahwa dia rapuh. Dia telah menghindari kerapuhannya dengan kesabaran, karya, kebijaksanaan, dan bantuan si penyihir yang mentransformasi kerapuhan menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi kerapuhan: literatur.

Aku tidak pernah bermimpi. Dua tahun kemudian Italo datang padaku di dalam mimpi. Dahinya masih diperban, tetapi senyumnya merupakan senyum yang bercahaya di malam terakhir. Dia mengatakan, “Kau tahu itu semua adalah kesalahan. Para dokter tidak mengerti. Aku tidak mati.” Dan dia terkesan ingin mengungkapkan sebuah rahasia padaku-sebah rahasia kecil yang tak berarti yang mestinya kukomunikasikan dengan beberapa teman. Arti dari mimpi itu sangat jelas: Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah mati. Tetapi mimpi itu memberitahukan hal lain; hal itu adalah-bagaimana aku bisa keliru? -sebuah pesan dari ladang-ladang Elysian. Dikatakan bahwa yang tragis itu bukanlah bentuk esensial dari dunia, dan bahwa tak pernah ada tragedi yang sebenar-benarnya. Dibalik itu ada selubung lain, lalu selubung lainnya, dan kemudian selubung lainnya lagi, dan permainan bentuk-bentuk yang menipu ini dimana banyak cahaya-cahaya dan bayangan-bayangan berjalinan adalah satu-satunya hal yang kita tahu.

___________________

*) Diterjemahkan dari naskah Bahasa Inggris oleh Pietro Citati. Naskah asli berbahasa Italia ditulis oleh Raymond Rosental. | terjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh Marlina Sophiana. Editor Sabiq Carebesth

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending