Connect with us
George Orwell George Orwell

Kolom

George Orwell: Mengapa Saya Menulis

mm

Published

on

Dari kecil, barangkali sejak berumur lima atau enam tahun, saya sudah tahu bahwa apabila sudah dewasa saya akan menjadi seorang penulis. Antara umur sekitar 17 hingga 24 tahun saya coba membuang pikiran ini jauh-jauh, tetapi saya sadar dengan berbuat begitu saya sebenarnya telah mengingkari bakat alami saya. Dan, cepat atau lambat, nantinya saya harus juga menetap di satu tempat dan menulis buku.

Saya anak nomor tengah dari tiga bersaudara, tetapi ada selisih umur lima tahun antara saya dan kakak saya, dan antara saya dengan adik saya. Saya boleh dikatakan tidak pernah melihat wajah ayah saya sebelum saya berumur delapan tahun. Karena ini dan sebab-sebab lain, saya merasa agak sepi, dan diwaktu kecil itu sudah memiliki perangai yang tidak menyenangkan yang membuat saya tidak disukai semasa sekolah.

Saya memiliki kebiasaan yang lazim dijumpai pada anak-anak yang kesepian: suka mengada-ada dan berkhayal bercakap-cakap dengan seseorang dan saya kira sejak dari semula ambisi saya menjadi penulis bercampur-aduk dengan perasaan terkucil dan tidak dihargai. Saya tahu bahwa saya mahir bermain dengan kata-kata dan kuat menghadapi kenyataan pahit, dan saya merasa ini menciptakan suatu dunia pribadi untuk saya sendiri tempat saya menebus kegagalan saya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, berjilid-jilid tulisan yaitu – sungguh-sungguh diniatkan – yang saya hasilkan selama masa kecil dan masa remaja saya tidak akan cukup mengisi setengah lusin halaman. Syair saya yang pertama ketika saya berumur empat atau lima tahun, ibu saya menuliskan apa yang saya ucapkan. Saya tidak ingat lagi apa-apa mengenai syair itu, kecuali di situ ada kata-kata seekor harimau dan harimau ini “bergigi seperti kursi” – ungkapan yang cukup bagus, tetapi saya kira syair itu jiplakkan syair Blake “Harimau, Harimau.”  Pada umur sebelas tahun, ketika perang 1914 – 1918 pecah, saya membuat sebuah syair perjuangan, yang dimuat dalam surat kabar setempat, dan dua tahun kemudian sebuah syair lagi, waktu Kitchener meninggal. Sekali-sekali, ketika saya sudah agak besar lagi, saya coba menulis “syair alam” – dan biasanya tidak pernah selesai – dalam gaya Georgia. Juga saya coba, dua kali menulis cerita pendek – gagal total. Itulah semuanya tulisan yang benar-benar saya letakkan di atas kertas selama tahun-tahun itu.

Tetapi, saya sedikit banyaknya selama waktu itu dapat dikatakan ada terlibat dalam kegiatan sastra. Pertama-tama, ada tulisan-tulisan kodian yang dapat saya hasilkan dalam waktu singkat, dengan mudah tetapi tanpa nikmat untuk saya sendiri. Di samping pekerjaan rumah dari sekolah, saya juga menulis vers d’occasion, sajak-sajak lucu; cepatnya ini mengherankan saya sendiri sekarang – pada umur empat belas tahun saya menulis sebuah sandiwara lengkap bersajak, meniru-niru Aristophanes, dalam sekitar satu pekan – dan membantu menyunting majalah sekolah, cetak cobanya maupun naskahnya. Majalah ini bahan tertawaan yang paling mengibakan hati yang dapat dibayangkan orang, dan saya tidak bersedia lagi bersusah-susah dengannya dibandingkan dengan jika saya harus menulis untuk selama lima belas tahun atau lebih, saya sibuk dengan kegiatan sastra yang corak sangat lain: Saya mengarang “kisah” bersambung mengenai diri saya sendiri, semacam buku harian, tetapi hanya dalam pikiran. Saya kira ini kebiasaan yang umum ditemui pada anak-anak dan remaja. Semasa kecil sering saya berkhayal, misalnya, Robin Hood, dan membayangkan diri saya pahlawan dengan berbagai petualangan yang menggetarkan hati. Tetapi tidak lama kemudian “kisah” ini tidak lagi bersifat memuja-muja diri dan makin banyak bersikap deskripsi apa yang sedang saya kerjakan dan hal-hal yang saya saksikan semata-mata. Selama beberapa menit setiap kali, hal-hal yang saya saksikan semata-mata. Selama beberapa menit setiap kali, hal-hal seperti ini berkejaran dalam benak saya: “Didorongnya pintu kamar itu sampai terbuka, lalu ia masuk. Cahaya matahari yang menerobos tirai jendela jatuh miring ke atas meja; di atas ini sebuah kotak api-api, setengah terbuka, dan sebuah botol tinta duduk bersanding. Tangan kanan dalam saku ia memintas ke luar jendela. Di bawah sana, di jalan, seekor kucing belang mengejar-ngejar sehelai daun kering,” dan sebagainya, dan sebagainya. Kebiasaan ini berjala terus sampai saya berumur sekitar dua puluh tahun, sampai dengan tahun-tahun ini saya masih di luar dunia sastra. Meski saya harus mencari, dan terus berusaha mencari, kata-kata yang tepat, bagi saya untuk menyusun deskripsi ini boleh dikatakan hampir di luar kemauan saya, seakan-akan ada dorongan dari luar. “Kisah” saya itu, saya kira, pasti mencerminkan berbagai gaya penulis pujaan saya dalam berbagai zaman tetapi sepanjang ingatan saya hal itu selalu mengandung kualitas deskripsi yang jernih.

Ketika berumur enam belas tahun saya tiba-tiba menemukan nikmat kata-kata semata-mata, yaitu bunyi dan rangkaian kata-kata. Baris-baris dari Paradise Lost,

Dan ia dengan kesulitan dan segala upaya
Maju terus: dengan kesulitan dan upaya, ia,
Yang tidak lagi tampak begitu indah sekarang bagi saya, menggugah hati saya; dan ejaan “iaa” untuk “ia” menambah nikmat yang saya rasa di masa itu. Mengenai keharusan menggambarkan segala-galanya secermat mungkin, hal ini sudah saya kuasai. Jadi jelas buku macam apa yang akan saya tulis, sepanjang dapat dikatakan saya dapat menentukan hal ini, waktu itu. Saya ingin menulis novel-novel yang panjang dengan akhir yang menyedihkan, penuh dengan gambaran mendetail dan ungkapan menakjubkan, dan juga penuh dengan kalimat retoris, yang kata-kata tertentu digunakan semata-mata demi bunyinya. Buku saya yang pertama, Burmese Days, ditulis pada waktu saya berumur tiga puluh tahun tetapi sudah direka-reka jauh sebelumnya, sebenarnya sejenis tulisan yang saya terangkan di atas.

Saya berikan semua latar belakang ini karena saya tidak yakin kita dapat menilai dorongan hati seorang penulis tanpa mengetahui kehidupan semasa kecil. Pokok tulisannya akan ditentukan zaman masa ia hidup – setidak-tidaknya ini berlaku untuk zaman-zaman yang resah dan penuh perubahan seperti zaman kita ini – tetapi jauh sebelum ia mulai menulis ia sudah menyerap sikap emosi tertentu, dan dari sini ia tidak akan pernah dapat melepaskan diri. Jelas, tugasnyalah mengendalikan emosinya dan menghindarkan diri dari kebutuhan pada suatu tahap yang belum matang, atau suatu sikap berkeras kepala. Tetapi jika ia sepenuhnya terlepas dari pengaruh-pengaruh kehidupan masa kecilnya, itu berarti ia telah membunuh gerak hatinya untuk menulis. Kalau kita kesampingkan kebutuhan untuk mencari makan, saya pikir ada empat macam dorongan utama yang menggerakkan orang untuk menulis, setidak-tidaknya adalah hal menulis prosa. Semua dorongan ini dijumpai pada setiap penulis, masing-masing paduan memiliki keanekaan, dan paduannya dalam warna dari waktu ke waktu, menurut suasana kehidupan yang sedang dihadapinya. Keempat dorongan ini adalah:

  1. Kepentingan diri sendiri semata-mata. Keinginan dianggap pintar, dibicarakan orang sesudah mati, membalas dendam terhadap mereka yang meremehkan kita semasa kita remaja, dan sebagainya, dan sebagainya. Di samping ditemukan pada penulis, cirri ini ditemukan pula pada ilmuwan, seniman, orang politik, ahli hukum, perwira, usahawan – pendeknya, seluruh lapisan atas umat manusia. Setelah mencapai umur sekitar tiga puluh tahun mereka umumnya mengesampingkan ambisi pribadi masing-masing – bahkan sebenarnya banyak yang tidak tahu lagi arti-arti menjadi manusia pribadi – dan hidup terutama untuk orang lain, atau tertindas bebas hidup sehari-hari. Tetapi ada pula sekelompok kecil orang, yang berbakat dan berkemauan keras, dan bertekad menjalankan kehidupan mereka sendiri sampai terakhir, penulis termasuk dalam kelompok ini. Penulis yang bersungguh-sungguh, menurut pendapat saya, umumnya lebih besar keakuan dan rasa bangga dirinya dibandingkan dengan wartawan; kalau mereka tidak terlalu mementingkan uang.
  2. Kegairahan estetika. Kemauan terlihat keindahan di dunia luar, atau dalam kata-kata dan rangkaiannya yang tertentu. Kenikmatan dalam jaringan suatu bunyi dengan bunyi lainnya, dalam kekuatan suatu prosa yang baik atau ritme dari sebuah cerita yang baik. Keinginan berbagi dengan orang lain atau penghayatan atas pengalaman yang dipandang seseorang bernilai dan tidak patut dibiarkan berlalu begitu saja. Dorongan estetika ini pada sebagian besar penulis sangat lemah, tetapi seorang penulis selebaran atau seorang penulis buku pelajaran pun menyukai kata-kata dan ungkapan-ungkapan kesayangan, yang menariknya karena alasan-alasan yang bersifat di luar kegunaan ungkapan yang bersangkutan; atau mungkin ia sangat cerewet mengenai tata huruf, lebar tepi kertas, dan sebagainya. Setingkat di atas buku pedoman lalu lintas kereta api tidak ada buku yang bebas dari pertimbangan-pertimbangan estetika.
  3. Dorongan sejarah. Keinginan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya mencari fakta yang sesungguhnya menyimpannya untuk kepentingan generasi mendatang.
  4. Tujuan politik – “politik” dalam arti seluas-luasnya. Keinginan mendorong dunia ke suatu arah tertentu, mengubah pandangan orang lain mengenai macam masyarakat yang seharusnya mereka kejar dan bentuk. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa tidak ada buku yang benar-benar bebas dari prasangka politik. Pandangan bahwa seni jangan ikut-ikutan berpolitik, inipun merupakan suatu sikap politik.

Dapat kita saksikan bagaimana berbagai dorongan ini saling bertempur dan pasang-surut dari suatu orang ke yang lain dan dari waktu ke waktu. Secara ilmiah –“alamiah” di sini berarti keadaan yang kita capai waktu kita mulai dewasa – dalam diri saya ketiga dorongan pertama di atas mengalahkan dorongan yang ke empat. Dalam masa damai, buku-buku yang saya hasilkan mungkin bersifat tulisan berbunga-bunga dan deskriptif belaka, dan saya mungkin tidak akan menyadari macam kesetiaan politik saya. Dalam kenyataan, saya terpaksa menjadi semacam penulis selebaran. Pertama kali saya selama lima tahun melakukan pekerjaan yang tidak sesuai bagi diriku (anggota Kepolisian Kerajaan untuk India, di Burma), dan kemudian saya hidup melarat dan dirundung perasaan telah gagal dalam hidup . ini menyebabkan rasa benci saya, yang naluriah, terhadap penguasa bertambah besar dan membuat saya sadar untuk pertama kalinya bahwa kelas pekerja itu ada, dan pekerjaan saya di Burma itu membuat saya dapat memahami hakekat imperialisme; tetapi semua pengalaman ini belum cukup untuk mendorong saya pada orientasi politik yang pasti. Kemudian datang Hitler, perang saudara Spanyol, dan sebagainya. Pada akhir tahun 1935, dan saya tetap belum mencapai keputusan yang tegas. Saya ingat sebuah sajak yang saya tulis pada waktu itu, untuk mengungkapkan dilemma yang saya hadapi:

Saya ungkin sebenarnya dapat menjadi pendeta bahagia
Dua ratus tahun yang lalu
Dan berkhotbah mengenai hari kiamat
Dan memandangi pohon kenari saya tumbuh;

Tetapi sayang, dilahirkan di zaman busuk,
Saya tak mengenyam tempat teduh menyenangkan itu,
Karena kumis sudah tumbuh di atas bibir saya
Dan semua pendeta bercukur rapi.

Dan kemudian lagi keadaan sedang baik,
Kita mudah sekali dibuat senang,
Kita timang sampai terlena pikiran gundah kita,
Di bawah rindangnya pepohonan.

Semua kedunguan berani kumiliki,
Keriaan sekarang kita sembunyikan;
Burung pipit di dahan pohon appel
Dapat membuat musuh-musuhku gemetar

Tetapi perut gadis-gadis dan apricot,
Ikan di sungai berteduh,
Kuda, itik yang terbang di waktu fajar,
Semua ini sebuah mimpi.

Sekarang terlarang bermimpi lagi;
Kita punting atau sekap keriaan kita;
Kuda dibuat dari baja
Dan manusia kecil gemuk menunggangnya.

Saya cacing yang tak pernah telentang,
Orang Kebiri tanpa harem;
Antara pendeta dan komisar
Saya mengembara seperti Eugene Aram;

Dan sang komisar sedang meramal nasib saya
Sementara radio berbunyi,
Tetapi sang pendeta sudah menjanjikan sebuah Austin Tujuh,
Karena Smith? Apakah Jones? Apakah Kamu?
Perang sudara Spanyol dan kejadian lain tahun 1936-1837 tahun yang menentukan dan sejak itu saya tahu di maa saya berdiri. Setiap baris kalimat dalam karya saya yang saya tulis sejak 1936 ditulis, langsung atau tidak langsung, untuk melawan totaliterisme dan mendukung sosialisme berdasarkan demokrasi, menurut pengertian saya. Bagi saya tidak masuk akal, dalam zaman kita ini, kalau ada orang yang berpikir bahwa kita dapat menghindar dan tidak menulis mengenai hal-hal seperti ini. Semua orang menulis tentang hal-hal ini dengan caranya masing-masing. Ini pada dasarnya menyangkut ke mana seseorang memihak dan aa pendekatan yang digunakan. Dan semakin sadar seseorang akan sikap politiknya, semakin besar kemungkinannya ia mampu mengambil tindakan politik tanpa mengorbankan nilai-nilai estetikanya dan integritas intelektualnya.

Keinginan saya yang paling besar selama sepuluh tahun terakhir ini adalah mengembangkan kegiatan penulisan dari yang politis menjadi seni. Titik tolak saya selalu sikap memihak, perasaan tidak ada keadilan. Kalau saya duduk menulis sebuah buku, tidak saya katakan pada diri saya, “Saya akan menciptakan sebuah karya seni.” Saya menulis karena ada kepalsuan yang hendak saya singkapkan, atau suatu fakta yang ingin saya bawa ke tengah perhatian masyarakat, dan tujuan saya pada mulanya adalah mencari perhatian. Tetapi saya tidak bisa menulis sebuah buku, atau bahkan sebuah karangan untuk majalah sekalipun, jika kegiatan ini tidak merupakan suatu pengalaman estetis. Siapa saja yang bersedia memeriksa buah karya saya akan segera melihat bahwa tulisan saya yang sekalipun bersifat semata-mata propaganda mengandung hal-hal yang akan dianggap oleh seorang politisi tidak relevan. Saya tidak bisa, dan tidak mau, membuang habis pandangan hidup saya, yang saya peroleh di waktu kecil. Selama saya masih hidup dan sehat saya akan tetap menyukai gaya prosa, mencintai muka bumi, dan menimba kesenangan pada benda-benda padat dan serpih-serpih informasi yang tidak berguna. Tidak ada gunanya saya mencoba menekan sifat saya ini. Yang perlu saya lakukan, saya harus menyelaraskan apa yang sudah mendarah daging saya sukai dan tidak berpijak pada prakarsa perorangan, yang dipaksakan zaman kita sekarang ini pada kita semua.

Ini tidak mudah. Timbul masalah susunan kalimat dan masalah bahasa, dan masalah kebenaran. Izinkan saya memberikan sebuah contoh saja mengenai kesulitan yang timbul. Buku saya mengenai perang saudara di Spanyol, Homage to Catalonia, jelas sekali buku politik, tetapi ditulis dengan mempertahankan suatu jarak dan menurut suatu bentuk tertentu. Di dalamnya saya coba dengan sekuat tenaga mengungkapkan seluruh kebenaran tanpa melanggar citra sastra saya. Tetapi buku ini antara lain terdiri dari sebuah bab yang panjang, penuh dengan kutipan-kutipan dari surat kabar dan semacamnya, membela pengikut-pengikut Trotsky yang dituduh bersekongkol hendak menggulingkan Franco. Bab semacam ini antara lain, yang tidak menarik lagi setelah satu dua tahun bagi orang awam, jelas akan merusak buku ini. Seorang kritikus yang saya hormati membacakan pada saya sebuah ulasan. “Mengapa Anda masukkan semua itu?” katanya. “Buku yang seharusnya bagus itu sekarang menjadi sekedar laporan berita.” Apa yang dikatakan benar, tetapi saya tidak bisa berbuat lain. Saya tahu betul – dan di Inggris hanya segelintir yang boleh tahu – bahwa orang yang tidak bersalah diseret ke pengadilan berdasarkan tuduhan palsu. Buku itu tidak akan pernah lahir, seandainya saya tidak gusar sekali akan hal ini.

Masalah ini muncul lagi, dalam bentuk lain. Masalah bahasa lebih pelik dan akan makan waktu kalau dibahas. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tahun-tahun terakhir ini saya selalu berusaha menulis lebih persis dan mengurangi bahasa berbunga-bunga. Menurut pengalaman saya, biasanya pada waktu kita akhirnya berhasil menyempurnakan suatu gaya menulis, kita selalu sudah tidak membutuhkannya lagi. Dalam Animal Farm saya coba, untuk pertama kalinya, dengan penuh kesadaran akan segala apa yang saya lakukan, memadu tujuan politik dengan tujuan seni menjadi kesatuan yang utuh. Sudah tujuh tahun saya tidak menulis buku, tetapi saya berharap dapat mulai menulis sebuah dalam waktu dekat ini. Buku ini jelas akan gagal, setiap buku pasti gagal, tetapi saya tahu pasti buku macam apa ayang akan saya tulis.

Kalau saya membaca kembali satu dua halaman terakhir, saya lihat ada kesan seolah-olah jika saya menulis terdorong sepenuhnya oleh keinginan mengabdi pada kepentingan umum. Saya tidak ingin orang mendapat kesan ini. Semua penulis ingin dipuji, mementingkan diri sendiri dan malas, dan di lapis terbawah dorongan-dorongan mereka adalah misteri. Menulis buku ialah pekerjaan yang tidak menyenangkan dan melelahkan, seperti pergumulan panjang dengan suatu penyakit ganas. Orang jangan sekali-kali terjun ke bidang ini,kalau tidak didorong semacam dorongan setan yang tidak dapat ditolak ataupun dipahami. Dorongan ingin mungkin saja tidak lain dari sejenis naluri yang membuat seseorang bayi berteriak, kalau ia menginginkan perhatian. Namun harus diakui pula bahwa orang tidak akan pernah dapat menghasilkan tulisan yang menarik dibaca, jika ia tidak terus menerus berjuang melenyapkan kepribadiannya. Prosa yang baik seperti kaca jendela. Saya tidak dapat mengatakan dengan pasti mana dari dorongan-dorongan saya yang terkuat, tetapi saya tahu mana yang pantas diikuti. Dan kalau saya membalik-balik kembali hasil karya saya, saya lihat bahwa tanpa kecuali tulisan saya tidak mengandung tujuan politik, sehingga saya temukan tulisan yang beku dan sarat oleh kalimat retoris, sehingga kalimat tiada bermakna, penuh kata penghias dan ocehan belaka. (copyrigth @galeribukujakarta, 2015)

Continue Reading

Kolom

Merefleksikan 20 Tahun Reformasi

mm

Published

on

Oleh: Sugeng Bahagijo | Direktur Infid 

Tahun 2018 Indonesia memasuki usia 20 tahun sejak reformasi 1998. Tanpa banyak disadari, 20 tahun masa reformasi, Indonesia sedang merambah perubahan-perubahan sosial yang disebut sebagai “large scale social change”. Sebuah perubahan sosial berskala besar.

Perubahan skala luas penting dicatat untuk bahan berpikir: (a) sejauh mana capaian 20 tahun reformasi; (b) untuk merawat dan memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia dari berbagai godaan dan pengaruh masa lalu, yang masih kuat. Hal ini agar Indonesia tidak ditawan oleh hantu masa Lalu.

Perubahan luas ini berbeda dengan perubahan operasional dan level kelembagaan. Perubahan skala luas ditandai bukan saja perubahan kuantitatif (sarana dan institusi), juga kualitatif (nilai-nilai, asumsi-asumsi). Disebut perubahan-sosial skala raksasa karena kebijakan atau langkah itu melampaui atau menembus batas terakhir yang ada. Juga karena dampaknya (positif) sangat signifikan pada tatanan sosial dan nilai-nilai sosial (menjadi lebih baik).

Lima perubahan luas

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Setidaknya ada lima contoh perubahan skala luas yang layak disebut. Baru-baru ini, Menakertrans Hanif Dhakiri mengumumkan bahwa pemerintah akan meluncurkan dua skema kebijakan untuk mendukung angkatan kerja dan pasar kerja Indonesia. Program itu adalah tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dan skill development fund (SDF)—dana khusus untuk memperluas kesempatan pelatihan dan pemagangan bagi semua warga dan angkatan kerja.

Ini merupakan terobosan untuk bisa setara dengan negara maju dan negara tetangga sebaya, dan lebih menjanjikan ketimbang sistem jaminan sosial yang ada sekarang. Juga karena negara-negara tetangga lain sudah memilikinya: Thailand dan Vietnam untuk tunjangan pengangguran; Malaysia dan Singapura untuk SDF.

Perubahan skala luas juga dilansir Menteri Keuangan. Dalam pidatonya di Washngton DC, Oktober 2017, Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia akan mempelajari sistem jaminan sosial baru, yaitu universal basic income atau tunjangan pendapatan warga. Ini untuk mengimbangi trend lenyapnya tenaga kerja manusia akibat perkembangan teknologi-otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan.

Sebelumnya, pemerintahan Jokowi-JK memulai perubahan skala luas dengan melansir kebijakan dana desa atas dasar UU Desa. Dengan 30 persen angkatan kerja berada di desa, maka dana desa menjadi super penting. Kebijakan ini contoh perubahan skala luas. Tanda-tanda perubahan luasnya dapat ditilik dari: (a) membalik arah alokasi belanja dari perkotaan ke pedesaan; (b) menempatkan warga desa pinggiran sebagai subjek dan aktor pembangunan.

Perubahan skala luas lain adalah mengakhiri sistem politik terpusat dengan otonomi daerah dan desentralisasi kuasa ke kabupaten/kota. Dengan sistem ini terbukalah peluang bagi putra-putri terbaik dari luar Jakarta untuk jadi pemimpin di level provinsi dan nasional. Warga tidak akan mengetahui kualitas kepemimpinan Jokowi, Risma, Suyoto, Ridwan Kamil dan lainnya jika Indonesia tak punya sistem otonomi daerah.

Yang terakhir tetapi tidak kalah penting adalah pelembagaan dan kodifikasi hak asasi manusia dalam sistem hukum Indonesia. Dengan demikian kedudukan dan nasib warga jadi prioritas utama. HAM akhirnya juga menjiwai UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2004 dan UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2011, yang berjanji akan menjangkau dan melindungi “semua warga”. Sistem ini sangat jauh berbeda dengan sistem terdahulu, yang hanya melayani melindungi pekerja dan aparatur negara.

Sejarah

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perubahan skala luas bukanlah baru. Jika hari ini kita memiliki jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan), meski belum 100 persen warga tercakup, kita berutang ide besar ini kepada Thomas Paine.

Karena dia (Agrarian Justice) sudah mengusulkan jaminan sosial untuk warga. Paine menolak ide penghapusan hak milik pribadi dan UU Kemiskinan di Inggris yang menimbulkan stigma bagi penerimanya. Gagasan Paine juga menjadi cara memastikan setiap warga memiliki aset di tengah sistem tanah yang sudah menjadi milik pribadi

Dalam sejarah, kita juga mengenal perubahan skala luas lain yang menjadi landasan bagi HAM modern: (i) penghapusan sistem perbudakan, dimulai di Inggris lalu merambat ke Amerika Serikat dan dunia; (ii) hak memilih untuk semua warga, tidak hanya untuk yang kaya dan laki-laki.

Dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan skala luas ini yang akhirnya berembus juga ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Hindia Belanda) dan ikut memberikan andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Intinya, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh diabaikan atau dihilangkan atas nama apapun dan oleh siapapun. Seperti tertuang di sila kedua Pancasila, Kemanusian yang adil dan beradab: artinya, kemanusia menjadi keutamaan dalam pemerintahan dan dalam relasi di masyarakat, lepas dari latar belakang, etnis, agama dan suku, termasuk di tanah jajahan Belanda.

Perkembangan dunia

Indonesia tak sendiri. Berbagai negara juga berlomba menemukan dan melaksanakan perubahan skala luas. Karena setiap zaman melahirkan perkembangan sendiri. Perubahan iklim terbukti membuat frekuensi dan dampak bencana alam semakin besar di seluruh dunia. Energi kotor (batubara, minyak) menjadi biang penyebabnya. Maka, perlu ditemukan energi bersih dan lestari.

Itulah sebabnya, baru-baru ini, Pemerintah Norwegia mengumumkan akan menggelar penelitian dan uji coba energi listrik. Ditargetkan pesawat komersial bersumber listrik jadi dominan dalam 5-10 tahun ke depan. Ini artinya, maju satu langkah sesudah mobil listrik yang dikomersialkan oleh Tesla Motor.

Perkembangan teknologi seperti internet, otomatisasi, robot, memperluas kesenjangan antara pekerja ber-skill tinggi dengan skill rendah, antara pekerja dan yang menganggur. Akibatnya, ketimpangan pendapatan dan kekayaan meningkat. Maka, perlu ditemukan cara memperkecil ketimpangan ekonomi (pendapatan dan kekayaan).

Barangkali itulah sebabnya para pionir sekaligus superkaya seperti Zukerberg (Facebook) dan Elon Musk (Tesla) menyuarakan dukungannya pada sistem jaminan sosial baru: universal basic income, maju satu langkah ketimbang sistem tunai bersyarat-PKH (conditional cash transfer). Sebuah langkah untuk mengimbangi laju pesat teknologi yang berpotensi menghilangkan tenaga kerja manusia.(*)

*) Sugeng Bahagijo, Direktur Infid 

 

 

Continue Reading

Kolom

Menangkal Berhala Hoaks Transaksional

mm

Published

on

J. Kristiadi | Kolumnis Politik Kompas | Peneliti Senior CSIS *)

Ramalan kecanggihan teknologi sejalan dengan naluri hasrat manusia untuk berinterkasi sehingga kehidupan di bumi lebih harmoni di huni karena orang bebas bicara dan bertukar  gagasan, ternyata hanya ilusi. Sejarah membuktikan sebaliknya, sejak diketemukan mesin cetak yang memermudah penyebaran informasi, bukan hanya gagasan sehat yang diperdebatkan, tetapi pidato dan berita beracun  bernuansa dan terang-terangan menebarkan kebencian karena alasan perbedaan terhadap suku, ras, agama, keyakinan, membahana pula.  Misalnya, perseteruan antara Kekristnan dan Kekatolikan abad pertengahan, berujung  “Perang Agama ” antara penganut Agama katolik dan Kristen Protestan selama kurang lebih tiga dekade yang mengkibatkan puluhan ribu manusia kehilangan nyawa. Tragedi semacam itu dalam skala yang berbeda terjadi  sepanjang sejarah, dan semakin mudah terulang karena dipicu oleh kecagihan tekonologi.  (Nial Ferguson, The False Prophecy of Hyperconnection, How to Survive The Networked Age, Forein Affairs, September/October 2017). Selain factor teknologi, alasan lain yang lebih fundamental dan fenomena ” homopily”, gejala kecenderungan manusia mempunyai naluri mencari teman yang mempunyai kepentingan, ide dan karakter  yang sama. Relasi yang homopilik semakin mudah kalau di dasarkan atas sentiment primordial dan karakter yang sama. Ibaratnya, burung akan bergerombol dengan jenis burung yang sama. Ungkapan populernya, birds of  a  feather flock together”.

Mengingat ancaman bahaya tuturan kebencian dapat menghancurkan negara, bangsa serta peradaban, maka akun semacam Seracen yang pengelolanya menjual kebencian dan permusuhan demi seonggok rupiah harus di berantas seakar-akarnya. Pengalaman kompetisi politik, khususnya sejak Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nampaknya semakin memicu para pemilik modal untuk memfasilitasi mereka yang merindukan belaian nikmat kuasa mewujudkan impiannya. Para pembiak kekuasaan meramu menu campuran kekuatan uang dan rasa permusuhan merupakan jalan lapang untuk mengakumulasi capital.   Sementara itu para politisi yang berhasil meraih  kedudukan dapat di salah gunakan untuk memupuk modal sehingga mereka juga akan menjadi bandar politik transaksional, bukan lagi peminta-minta kekuasaan.

Berhala Hoaks Transaksional bila di biarkan dapat dipastikan akan mengikis habis secara sitematis dan bengis pilar-pilar fundamental bangsa dan negara. Mereka dengan agresif meyakinkan public dengan mengeksploitasi perbedaan kodrati dan pasti akan menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi.  Oleh sebab itu tidak mengherankan banyak negara buyar karena hasrat nafsu yang membakar nalar tidak dapat dikendalikan karena  sudah terlalu liar. Berhala politik tansaksional semakin fatal bagi tatanan hidup normal karena nilai moral ditukar asal dibayar seuai hasil tawar nenawar. Mereka mengejar sampai martabat pudar karena nafsu kuasa tidak dapat dikontrol oleh nalar serta kedap terhadap ajar.

Maka sangat tepat Presiden dan Ketua Mejelis  Permusyawaratan rakyat ( MPR) kompak menunjukan kegeraman mereka terhadap  SERACEN ( Kompas, senin, 27 Agust 2017). Demikian pula respon Menteri Komunikasi dan Informatika yang  memberikan peringatan keras terhadap pengelola Facebook, Twitter, Google agar hengkang dari Rapublik Indonesia bilamana tidak memperhatikan kemanan nasional,   patut di apresiasi. Momentum kemistri tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi politik mengingat kompetisi politik massif Pilkada serentak 2018 dan Pilpres tahun 2019 amat mudah meruntuhkan  iman politik para politisi yang sangat rentan terhadap belaian nikmat kuasa.

Megingat laga politik sudah akan dimulai kurang dari setahun lagi, maka diperlukan beberapa kebijakan urgensi sebagai berikut. Pertama,  Menteri Komunikasi dan informasi melakukakn koordinasi dengan lembaga terkait memonitor ketat perusahaan (penyedia/operator) media sosial dan bagaimana mereka  merespon laporan mengenai ujaran kebencian dan permusuhan. Sebaiknya respon harus segera dilakukan, real time, agar tidak terlanjur menyebar lebih luas lagi. Kedua, edukasi literasi digital kepada masyarakat, khususnya
para imigran digital ( Digital Immigrants), komponen masyarakat yang lahir sebelum era teknologi digital. Lawannya,  Digital Native (Natif Digital), mereka yang sejak kecil ibaratnya menghabiskan waktunya menggunakan komputer, video gamems, vide kamera, hand phone, dan mainan digital lainnya. ( Digital Natives, Digital Immigrants; Marc Prensky,  On the Horizon (MCB University Press, Vol. 9 No. 5 October 2001).

Ketiga, kampanye besar-besaran dan terorganisir melawan Hoaks transaksional. Sekedar contoh penangkalan terhadap Hoaks dilakukan oleh The Council Of Europe ( Dewan  Eropa) memprakarsai kampanye Gerakan tidak bertutur Kebencian ( No Hate Speech Movement) dengan target generasi muda ; Aktifis Blogger di Myamar, Nay Phone, mengampanyekan “ Bicara tentang  Bunga (Flower Speech) utuk melawan tuturan  kebencian.

Perjuagan menangkal berhala Hoaks Transaksional pasti berhasil. Modal utama antara lain temuan Survei SMRC tentang NKRI DAN ISIS PENILAIAN MASSA PUBLIK NASIONAL bulan Mei 2017 antara lain menegaskan. Pertama, Orang Indonesia hampir semuanya bangga menjadi warga RI. Hampir semuanya menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan mempertahankan NKRI. Namun semua itu harus disertai dengan niat politik dan strategi yag tepat serta tegak lurus mengacu kepada Pancasila. (*)

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Classic Prose

Trending