Connect with us
George Orwell George Orwell

Essay

George Orwell: Mengapa Saya Menulis

mm

Published

on

Dari kecil, barangkali sejak berumur lima atau enam tahun, saya sudah tahu bahwa apabila sudah dewasa saya akan menjadi seorang penulis. Antara umur sekitar 17 hingga 24 tahun saya coba membuang pikiran ini jauh-jauh, tetapi saya sadar dengan berbuat begitu saya sebenarnya telah mengingkari bakat alami saya. Dan, cepat atau lambat, nantinya saya harus juga menetap di satu tempat dan menulis buku.

Saya anak nomor tengah dari tiga bersaudara, tetapi ada selisih umur lima tahun antara saya dan kakak saya, dan antara saya dengan adik saya. Saya boleh dikatakan tidak pernah melihat wajah ayah saya sebelum saya berumur delapan tahun. Karena ini dan sebab-sebab lain, saya merasa agak sepi, dan diwaktu kecil itu sudah memiliki perangai yang tidak menyenangkan yang membuat saya tidak disukai semasa sekolah.

Saya memiliki kebiasaan yang lazim dijumpai pada anak-anak yang kesepian: suka mengada-ada dan berkhayal bercakap-cakap dengan seseorang dan saya kira sejak dari semula ambisi saya menjadi penulis bercampur-aduk dengan perasaan terkucil dan tidak dihargai. Saya tahu bahwa saya mahir bermain dengan kata-kata dan kuat menghadapi kenyataan pahit, dan saya merasa ini menciptakan suatu dunia pribadi untuk saya sendiri tempat saya menebus kegagalan saya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, berjilid-jilid tulisan yaitu – sungguh-sungguh diniatkan – yang saya hasilkan selama masa kecil dan masa remaja saya tidak akan cukup mengisi setengah lusin halaman. Syair saya yang pertama ketika saya berumur empat atau lima tahun, ibu saya menuliskan apa yang saya ucapkan. Saya tidak ingat lagi apa-apa mengenai syair itu, kecuali di situ ada kata-kata seekor harimau dan harimau ini “bergigi seperti kursi” – ungkapan yang cukup bagus, tetapi saya kira syair itu jiplakkan syair Blake “Harimau, Harimau.”  Pada umur sebelas tahun, ketika perang 1914 – 1918 pecah, saya membuat sebuah syair perjuangan, yang dimuat dalam surat kabar setempat, dan dua tahun kemudian sebuah syair lagi, waktu Kitchener meninggal. Sekali-sekali, ketika saya sudah agak besar lagi, saya coba menulis “syair alam” – dan biasanya tidak pernah selesai – dalam gaya Georgia. Juga saya coba, dua kali menulis cerita pendek – gagal total. Itulah semuanya tulisan yang benar-benar saya letakkan di atas kertas selama tahun-tahun itu.

Tetapi, saya sedikit banyaknya selama waktu itu dapat dikatakan ada terlibat dalam kegiatan sastra. Pertama-tama, ada tulisan-tulisan kodian yang dapat saya hasilkan dalam waktu singkat, dengan mudah tetapi tanpa nikmat untuk saya sendiri. Di samping pekerjaan rumah dari sekolah, saya juga menulis vers d’occasion, sajak-sajak lucu; cepatnya ini mengherankan saya sendiri sekarang – pada umur empat belas tahun saya menulis sebuah sandiwara lengkap bersajak, meniru-niru Aristophanes, dalam sekitar satu pekan – dan membantu menyunting majalah sekolah, cetak cobanya maupun naskahnya. Majalah ini bahan tertawaan yang paling mengibakan hati yang dapat dibayangkan orang, dan saya tidak bersedia lagi bersusah-susah dengannya dibandingkan dengan jika saya harus menulis untuk selama lima belas tahun atau lebih, saya sibuk dengan kegiatan sastra yang corak sangat lain: Saya mengarang “kisah” bersambung mengenai diri saya sendiri, semacam buku harian, tetapi hanya dalam pikiran. Saya kira ini kebiasaan yang umum ditemui pada anak-anak dan remaja. Semasa kecil sering saya berkhayal, misalnya, Robin Hood, dan membayangkan diri saya pahlawan dengan berbagai petualangan yang menggetarkan hati. Tetapi tidak lama kemudian “kisah” ini tidak lagi bersifat memuja-muja diri dan makin banyak bersikap deskripsi apa yang sedang saya kerjakan dan hal-hal yang saya saksikan semata-mata. Selama beberapa menit setiap kali, hal-hal yang saya saksikan semata-mata. Selama beberapa menit setiap kali, hal-hal seperti ini berkejaran dalam benak saya: “Didorongnya pintu kamar itu sampai terbuka, lalu ia masuk. Cahaya matahari yang menerobos tirai jendela jatuh miring ke atas meja; di atas ini sebuah kotak api-api, setengah terbuka, dan sebuah botol tinta duduk bersanding. Tangan kanan dalam saku ia memintas ke luar jendela. Di bawah sana, di jalan, seekor kucing belang mengejar-ngejar sehelai daun kering,” dan sebagainya, dan sebagainya. Kebiasaan ini berjala terus sampai saya berumur sekitar dua puluh tahun, sampai dengan tahun-tahun ini saya masih di luar dunia sastra. Meski saya harus mencari, dan terus berusaha mencari, kata-kata yang tepat, bagi saya untuk menyusun deskripsi ini boleh dikatakan hampir di luar kemauan saya, seakan-akan ada dorongan dari luar. “Kisah” saya itu, saya kira, pasti mencerminkan berbagai gaya penulis pujaan saya dalam berbagai zaman tetapi sepanjang ingatan saya hal itu selalu mengandung kualitas deskripsi yang jernih.

Ketika berumur enam belas tahun saya tiba-tiba menemukan nikmat kata-kata semata-mata, yaitu bunyi dan rangkaian kata-kata. Baris-baris dari Paradise Lost,

Dan ia dengan kesulitan dan segala upaya
Maju terus: dengan kesulitan dan upaya, ia,
Yang tidak lagi tampak begitu indah sekarang bagi saya, menggugah hati saya; dan ejaan “iaa” untuk “ia” menambah nikmat yang saya rasa di masa itu. Mengenai keharusan menggambarkan segala-galanya secermat mungkin, hal ini sudah saya kuasai. Jadi jelas buku macam apa yang akan saya tulis, sepanjang dapat dikatakan saya dapat menentukan hal ini, waktu itu. Saya ingin menulis novel-novel yang panjang dengan akhir yang menyedihkan, penuh dengan gambaran mendetail dan ungkapan menakjubkan, dan juga penuh dengan kalimat retoris, yang kata-kata tertentu digunakan semata-mata demi bunyinya. Buku saya yang pertama, Burmese Days, ditulis pada waktu saya berumur tiga puluh tahun tetapi sudah direka-reka jauh sebelumnya, sebenarnya sejenis tulisan yang saya terangkan di atas.

Saya berikan semua latar belakang ini karena saya tidak yakin kita dapat menilai dorongan hati seorang penulis tanpa mengetahui kehidupan semasa kecil. Pokok tulisannya akan ditentukan zaman masa ia hidup – setidak-tidaknya ini berlaku untuk zaman-zaman yang resah dan penuh perubahan seperti zaman kita ini – tetapi jauh sebelum ia mulai menulis ia sudah menyerap sikap emosi tertentu, dan dari sini ia tidak akan pernah dapat melepaskan diri. Jelas, tugasnyalah mengendalikan emosinya dan menghindarkan diri dari kebutuhan pada suatu tahap yang belum matang, atau suatu sikap berkeras kepala. Tetapi jika ia sepenuhnya terlepas dari pengaruh-pengaruh kehidupan masa kecilnya, itu berarti ia telah membunuh gerak hatinya untuk menulis. Kalau kita kesampingkan kebutuhan untuk mencari makan, saya pikir ada empat macam dorongan utama yang menggerakkan orang untuk menulis, setidak-tidaknya adalah hal menulis prosa. Semua dorongan ini dijumpai pada setiap penulis, masing-masing paduan memiliki keanekaan, dan paduannya dalam warna dari waktu ke waktu, menurut suasana kehidupan yang sedang dihadapinya. Keempat dorongan ini adalah:

  1. Kepentingan diri sendiri semata-mata. Keinginan dianggap pintar, dibicarakan orang sesudah mati, membalas dendam terhadap mereka yang meremehkan kita semasa kita remaja, dan sebagainya, dan sebagainya. Di samping ditemukan pada penulis, cirri ini ditemukan pula pada ilmuwan, seniman, orang politik, ahli hukum, perwira, usahawan – pendeknya, seluruh lapisan atas umat manusia. Setelah mencapai umur sekitar tiga puluh tahun mereka umumnya mengesampingkan ambisi pribadi masing-masing – bahkan sebenarnya banyak yang tidak tahu lagi arti-arti menjadi manusia pribadi – dan hidup terutama untuk orang lain, atau tertindas bebas hidup sehari-hari. Tetapi ada pula sekelompok kecil orang, yang berbakat dan berkemauan keras, dan bertekad menjalankan kehidupan mereka sendiri sampai terakhir, penulis termasuk dalam kelompok ini. Penulis yang bersungguh-sungguh, menurut pendapat saya, umumnya lebih besar keakuan dan rasa bangga dirinya dibandingkan dengan wartawan; kalau mereka tidak terlalu mementingkan uang.
  2. Kegairahan estetika. Kemauan terlihat keindahan di dunia luar, atau dalam kata-kata dan rangkaiannya yang tertentu. Kenikmatan dalam jaringan suatu bunyi dengan bunyi lainnya, dalam kekuatan suatu prosa yang baik atau ritme dari sebuah cerita yang baik. Keinginan berbagi dengan orang lain atau penghayatan atas pengalaman yang dipandang seseorang bernilai dan tidak patut dibiarkan berlalu begitu saja. Dorongan estetika ini pada sebagian besar penulis sangat lemah, tetapi seorang penulis selebaran atau seorang penulis buku pelajaran pun menyukai kata-kata dan ungkapan-ungkapan kesayangan, yang menariknya karena alasan-alasan yang bersifat di luar kegunaan ungkapan yang bersangkutan; atau mungkin ia sangat cerewet mengenai tata huruf, lebar tepi kertas, dan sebagainya. Setingkat di atas buku pedoman lalu lintas kereta api tidak ada buku yang bebas dari pertimbangan-pertimbangan estetika.
  3. Dorongan sejarah. Keinginan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya mencari fakta yang sesungguhnya menyimpannya untuk kepentingan generasi mendatang.
  4. Tujuan politik – “politik” dalam arti seluas-luasnya. Keinginan mendorong dunia ke suatu arah tertentu, mengubah pandangan orang lain mengenai macam masyarakat yang seharusnya mereka kejar dan bentuk. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa tidak ada buku yang benar-benar bebas dari prasangka politik. Pandangan bahwa seni jangan ikut-ikutan berpolitik, inipun merupakan suatu sikap politik.

Dapat kita saksikan bagaimana berbagai dorongan ini saling bertempur dan pasang-surut dari suatu orang ke yang lain dan dari waktu ke waktu. Secara ilmiah –“alamiah” di sini berarti keadaan yang kita capai waktu kita mulai dewasa – dalam diri saya ketiga dorongan pertama di atas mengalahkan dorongan yang ke empat. Dalam masa damai, buku-buku yang saya hasilkan mungkin bersifat tulisan berbunga-bunga dan deskriptif belaka, dan saya mungkin tidak akan menyadari macam kesetiaan politik saya. Dalam kenyataan, saya terpaksa menjadi semacam penulis selebaran. Pertama kali saya selama lima tahun melakukan pekerjaan yang tidak sesuai bagi diriku (anggota Kepolisian Kerajaan untuk India, di Burma), dan kemudian saya hidup melarat dan dirundung perasaan telah gagal dalam hidup . ini menyebabkan rasa benci saya, yang naluriah, terhadap penguasa bertambah besar dan membuat saya sadar untuk pertama kalinya bahwa kelas pekerja itu ada, dan pekerjaan saya di Burma itu membuat saya dapat memahami hakekat imperialisme; tetapi semua pengalaman ini belum cukup untuk mendorong saya pada orientasi politik yang pasti. Kemudian datang Hitler, perang saudara Spanyol, dan sebagainya. Pada akhir tahun 1935, dan saya tetap belum mencapai keputusan yang tegas. Saya ingat sebuah sajak yang saya tulis pada waktu itu, untuk mengungkapkan dilemma yang saya hadapi:

Saya ungkin sebenarnya dapat menjadi pendeta bahagia
Dua ratus tahun yang lalu
Dan berkhotbah mengenai hari kiamat
Dan memandangi pohon kenari saya tumbuh;

Tetapi sayang, dilahirkan di zaman busuk,
Saya tak mengenyam tempat teduh menyenangkan itu,
Karena kumis sudah tumbuh di atas bibir saya
Dan semua pendeta bercukur rapi.

Dan kemudian lagi keadaan sedang baik,
Kita mudah sekali dibuat senang,
Kita timang sampai terlena pikiran gundah kita,
Di bawah rindangnya pepohonan.

Semua kedunguan berani kumiliki,
Keriaan sekarang kita sembunyikan;
Burung pipit di dahan pohon appel
Dapat membuat musuh-musuhku gemetar

Tetapi perut gadis-gadis dan apricot,
Ikan di sungai berteduh,
Kuda, itik yang terbang di waktu fajar,
Semua ini sebuah mimpi.

Sekarang terlarang bermimpi lagi;
Kita punting atau sekap keriaan kita;
Kuda dibuat dari baja
Dan manusia kecil gemuk menunggangnya.

Saya cacing yang tak pernah telentang,
Orang Kebiri tanpa harem;
Antara pendeta dan komisar
Saya mengembara seperti Eugene Aram;

Dan sang komisar sedang meramal nasib saya
Sementara radio berbunyi,
Tetapi sang pendeta sudah menjanjikan sebuah Austin Tujuh,
Karena Smith? Apakah Jones? Apakah Kamu?
Perang sudara Spanyol dan kejadian lain tahun 1936-1837 tahun yang menentukan dan sejak itu saya tahu di maa saya berdiri. Setiap baris kalimat dalam karya saya yang saya tulis sejak 1936 ditulis, langsung atau tidak langsung, untuk melawan totaliterisme dan mendukung sosialisme berdasarkan demokrasi, menurut pengertian saya. Bagi saya tidak masuk akal, dalam zaman kita ini, kalau ada orang yang berpikir bahwa kita dapat menghindar dan tidak menulis mengenai hal-hal seperti ini. Semua orang menulis tentang hal-hal ini dengan caranya masing-masing. Ini pada dasarnya menyangkut ke mana seseorang memihak dan aa pendekatan yang digunakan. Dan semakin sadar seseorang akan sikap politiknya, semakin besar kemungkinannya ia mampu mengambil tindakan politik tanpa mengorbankan nilai-nilai estetikanya dan integritas intelektualnya.

Keinginan saya yang paling besar selama sepuluh tahun terakhir ini adalah mengembangkan kegiatan penulisan dari yang politis menjadi seni. Titik tolak saya selalu sikap memihak, perasaan tidak ada keadilan. Kalau saya duduk menulis sebuah buku, tidak saya katakan pada diri saya, “Saya akan menciptakan sebuah karya seni.” Saya menulis karena ada kepalsuan yang hendak saya singkapkan, atau suatu fakta yang ingin saya bawa ke tengah perhatian masyarakat, dan tujuan saya pada mulanya adalah mencari perhatian. Tetapi saya tidak bisa menulis sebuah buku, atau bahkan sebuah karangan untuk majalah sekalipun, jika kegiatan ini tidak merupakan suatu pengalaman estetis. Siapa saja yang bersedia memeriksa buah karya saya akan segera melihat bahwa tulisan saya yang sekalipun bersifat semata-mata propaganda mengandung hal-hal yang akan dianggap oleh seorang politisi tidak relevan. Saya tidak bisa, dan tidak mau, membuang habis pandangan hidup saya, yang saya peroleh di waktu kecil. Selama saya masih hidup dan sehat saya akan tetap menyukai gaya prosa, mencintai muka bumi, dan menimba kesenangan pada benda-benda padat dan serpih-serpih informasi yang tidak berguna. Tidak ada gunanya saya mencoba menekan sifat saya ini. Yang perlu saya lakukan, saya harus menyelaraskan apa yang sudah mendarah daging saya sukai dan tidak berpijak pada prakarsa perorangan, yang dipaksakan zaman kita sekarang ini pada kita semua.

Ini tidak mudah. Timbul masalah susunan kalimat dan masalah bahasa, dan masalah kebenaran. Izinkan saya memberikan sebuah contoh saja mengenai kesulitan yang timbul. Buku saya mengenai perang saudara di Spanyol, Homage to Catalonia, jelas sekali buku politik, tetapi ditulis dengan mempertahankan suatu jarak dan menurut suatu bentuk tertentu. Di dalamnya saya coba dengan sekuat tenaga mengungkapkan seluruh kebenaran tanpa melanggar citra sastra saya. Tetapi buku ini antara lain terdiri dari sebuah bab yang panjang, penuh dengan kutipan-kutipan dari surat kabar dan semacamnya, membela pengikut-pengikut Trotsky yang dituduh bersekongkol hendak menggulingkan Franco. Bab semacam ini antara lain, yang tidak menarik lagi setelah satu dua tahun bagi orang awam, jelas akan merusak buku ini. Seorang kritikus yang saya hormati membacakan pada saya sebuah ulasan. “Mengapa Anda masukkan semua itu?” katanya. “Buku yang seharusnya bagus itu sekarang menjadi sekedar laporan berita.” Apa yang dikatakan benar, tetapi saya tidak bisa berbuat lain. Saya tahu betul – dan di Inggris hanya segelintir yang boleh tahu – bahwa orang yang tidak bersalah diseret ke pengadilan berdasarkan tuduhan palsu. Buku itu tidak akan pernah lahir, seandainya saya tidak gusar sekali akan hal ini.

Masalah ini muncul lagi, dalam bentuk lain. Masalah bahasa lebih pelik dan akan makan waktu kalau dibahas. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tahun-tahun terakhir ini saya selalu berusaha menulis lebih persis dan mengurangi bahasa berbunga-bunga. Menurut pengalaman saya, biasanya pada waktu kita akhirnya berhasil menyempurnakan suatu gaya menulis, kita selalu sudah tidak membutuhkannya lagi. Dalam Animal Farm saya coba, untuk pertama kalinya, dengan penuh kesadaran akan segala apa yang saya lakukan, memadu tujuan politik dengan tujuan seni menjadi kesatuan yang utuh. Sudah tujuh tahun saya tidak menulis buku, tetapi saya berharap dapat mulai menulis sebuah dalam waktu dekat ini. Buku ini jelas akan gagal, setiap buku pasti gagal, tetapi saya tahu pasti buku macam apa ayang akan saya tulis.

Kalau saya membaca kembali satu dua halaman terakhir, saya lihat ada kesan seolah-olah jika saya menulis terdorong sepenuhnya oleh keinginan mengabdi pada kepentingan umum. Saya tidak ingin orang mendapat kesan ini. Semua penulis ingin dipuji, mementingkan diri sendiri dan malas, dan di lapis terbawah dorongan-dorongan mereka adalah misteri. Menulis buku ialah pekerjaan yang tidak menyenangkan dan melelahkan, seperti pergumulan panjang dengan suatu penyakit ganas. Orang jangan sekali-kali terjun ke bidang ini,kalau tidak didorong semacam dorongan setan yang tidak dapat ditolak ataupun dipahami. Dorongan ingin mungkin saja tidak lain dari sejenis naluri yang membuat seseorang bayi berteriak, kalau ia menginginkan perhatian. Namun harus diakui pula bahwa orang tidak akan pernah dapat menghasilkan tulisan yang menarik dibaca, jika ia tidak terus menerus berjuang melenyapkan kepribadiannya. Prosa yang baik seperti kaca jendela. Saya tidak dapat mengatakan dengan pasti mana dari dorongan-dorongan saya yang terkuat, tetapi saya tahu mana yang pantas diikuti. Dan kalau saya membalik-balik kembali hasil karya saya, saya lihat bahwa tanpa kecuali tulisan saya tidak mengandung tujuan politik, sehingga saya temukan tulisan yang beku dan sarat oleh kalimat retoris, sehingga kalimat tiada bermakna, penuh kata penghias dan ocehan belaka. (copyrigth @galeribukujakarta, 2015)

Continue Reading

Essay

Relasi Perempuan dan Laki-Laki dalam Film Posesif

mm

Published

on

Adipati Dolken dan Putri Marino terbilang apik dalam memerankan karakter dalam film Posesif. Keduanya dipasangkan sebagai kekasih yang menjalani roman percintaan pada masa putih abu-abu. Adipati didapuk menjadi tokoh Yudhis Ibrahim, sedangkan Putri bermain sebagai Lala Anindita. Cinta yang terbangun antara Yudhis dan Lala bukan semata-mata cinta monyet anak SMA. Bumbu-bumbu relasi gender terbingkai dalam cerita yang berlatar di kota metropolitan, Jakarta. Setting waktu yang diambil menggambarkan zaman sekarang. Bisa dikatakan film ini adalah cerminan kejadian pada era kids zaman now.

Lala dikisahkan baru saja memenangkan penghargaan dalam Pekan Olahraga Nasional mewakili provinsi DKI Jakarta. Ia merupakan atlet lompat indah yang membanggakan. Yudhis sendiri merupakan murid baru di sekolah Lala. Pertemuan Lala dan Yudhis dimulai di lorong sekolah. Alur cerita di babak awal masih mudah ditebak. Lala dan Yudhis terjebak dalam hubungan pacaran anak remaja. Fase ini adalah pengalaman pacaran pertama kali bagi Lala.

Rupanya, film ini tidak mengumbar cinta menye-menye yang penuh drama kegalauan layaknya tren dalam ftv. Cinta yang dialami tokoh utama dalam film ini menemukan liku yang menantang. Penulis naskah piawai membawa penonton untuk merasa dekat dengan problem yang dihadapi Lala dan Yudhis. Isu yang diangkat sarat dengan fenomena yang memang lumrah dijumpai di masyarakat, yakni ketimpangan gender.

Yudhis pelan-pelan mulai menampakkan tabiat aslinya. Ia adalah sosok cowok yang sangat khawatir terhadap pasangannya. Kekhawatirannya tersebut sudah dalam tahap berlebihan. Statusnya yang masih dalam tahap pacar, sudah berani melarang-larang Lala untuk menghentikan aktivitas latihan lompat indah. Padahal, menekuni lompat indah merupakan cita-cita yang didamba dan dielu-elukan di keluarga Lala. Lala menuruti permintaan Yudhis, karena ia terpanggil menjadi atlet bukan dari kehendak hati.

Ketika Lala sudah meninggalkan atribut atletnya demi menemani Yudhis, perangai Yudhis justru semakin memburuk. Temperamen Yudhis yang kasar semakin membuat jalinan asmara yang dijalaninya bersama Lala menjadi tidak sehat. Yudhis hanya menginginkan Lala selalu berada di sampingnya. Ia tidak memperbolehkan Lala intens berinteraksi dengan teman-temannya. Rasa cemburu tingkat tinggi menguasai pikiran Yudhis setiap kali ada teman yang perhatian ke Lala. Hari-hari Lala kian tidak karuan. Ia mulai terkekang dan sulit melepaskan diri. Sebab Yudhis pandai mengombang-ambingkan perasaan Lala. Seusai bertengkar dan menyakiti Lala dengan tindak kekerasan seperti mencekik dan menjambak, Yudhis selalu memasang tampang memelas dan merengek minta maaf. Penonton lalu digiring pada suguhan relasi perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi tekanan batin yang menimpa kedua tokoh sentral tersebut.

Gender, Cinta, dan Ketakutan

Komunikasi yang tercipta di antara Yudhis dan Lala menandakan adanya cinta yang tumbuh. Keduanya akan rela dan berani melakukan apapun demi pasangannya. Apa yang dilakoni Lala dan Yudhis juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Knapp, Ellis, dan Williams (1980). Penelitian tersebut mengungkap, kebaikan pasangan akan lebih besar bobotnya, sementara kesalahan yang dibuat pasangan tidak akan dianggap oleh mereka yang tengah dimabuk cinta.

Panggilan sayang yang dilontarkan Lala dan Yudhis semakin mempertegas hubungan special di antara keduanya. Mereka juga menciptakan dan menggunakan idiom personal, kata-kata, frasa, dan gestur yang membawa makna hanya untuk hubungan tertentu.  Unsur-unsur tersebut mengantarkan penonton kepada pemahaman bahwa keduanya memiliki bahasa spesial yang menandakan ikatan mereka (Hopper, Knapp dan Scott 1981).

Relasi interpersonal yang dibangun Lala dan Yudhis menerapkan teori pertukaran sosial. Ketika pasangan memasuki relasi interpersonal yang menggunakan model pertukaran sosial, maka konflik yang timbul berasal dari ketidakseimbangan antara input dan outputyang didapat. Maksudnya di sini adalah apabila seseorang mencurahkan seluruh hidupnya kepada pasangan namun pasangan hanya bersikap cuek tanpa ada balasan yang setimpal hal ini rawan berujung konflik.

Yudhis tergolong dalam tipe cinta mania. Ia begitu tergila-gila dengan pasangannya. Tergila-gila dikarakteristikan dengan ketinggian ekstrem dan kerendahan ekstrem. Pecinta yang tergila-gila mencintai berlebihan dan pada waktu yang sama sangat khawatir kehilangan cintanya. Ketakutan ini sering mencegah pencinta yang tergila-gila mengalami penurunan rasa suka yang mungkin timbul dalam suatu hubungan. Dengan sedikit provokasi, pencinta yang tergila-gila kemungkinan berpengalaman untuk cemburu secara berlebihan. Yudhis bahkan meneror Lala dengan pesan pendek, telepon, hingga menanyakan keberadaan Lala ke temannya. Padahal Lala sudah izin bermain dengan teman-temannya. Yudhis berlebihan dalam menanggapi Lala yang tidak ada kabar.

Pencintayang tergila-gila itu obsesif (tergila-gila); pencinta yang tergila-gila harus menguasai/memiliki pasangannya seutuhnya secara sempurna. Sebaliknya, pencinta yang tergila-gila berharap untuk dimiliki, dicintai secara berlebihan. Pencinta yang tergila-gila adalah bayangan pribadi yang kasihan, melihat kemampuan berkembang hanya dari cinta; harga diri datang dari dicintai daripada perasaan puas yang timbul dari dalam diri. Karena cinta itu sangat penting, tanda bahaya di sebuah hubungan seringkali diabaikan; pencinta yang tergila-gila percaya bahwa jika ada cinta, kemudian lainnya itu bukan masalah.

Yudhis juga mengombinasikan tipe cinta mania dengan eros. Para penganut cinta eros ini sangat memperhatikan daya tarik fisik orang yang dicintai. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap orang yang dicintainya tersebut. Rasa cinta yang dimilikinya itu berdasarkan daya tarik fisik pada saat pertama jumpa. Cinta eros ini menggebu dan berani mengambil risiko. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka menganggap penting ciuman dan pelukan.

Pernyataan-pernyataan yang disebutkan sebelumnya terwakili oleh kenekatan Yudhis melaser saingan Lala dalam lompat indah. Yudhis juga sama sekali tidak takut ketika sengaja menyerempet motor yang dikendarai teman cowok, sahabat Lala. Semua itu dengan dalih demi memperjuangkan cintanya ke Lala. Dia takut Lala direbut orang lain. Yudhis juga sangat mendewakan sentuhan dalam hubungannya dengan Lala. Adegan itu tergambar ketika ia lancang menyelinap masuk kamar Lala dengan kunci curian. Ia menciumi Lala.

Rupanya, ada faktor keluarga yang menyebabkan Yudhis bertingkah psikopat dalam merajut hubungan dengan Lala. Yudhis menjadi korban atas ketidakharmonisan hubungan sang ayah dan sang ibu. Sang ayah meninggalkan Yudhis dan ibunya sejak kecil. Ibunya menyimpan trauma. Ibunya memiliki emosi yang meledak-ledak dan selalu memaksakan kehendaknya ke Yudhis. Yudhis tidak punya kuasa untuk melawan sebab sang ibu adalah tipe yang ringan tangan, suka memukulinya. Meskipun setelah itu, sang ibu meminta maaf dan menyesal. Begitu terus dan berulang. Menurut ibunya, tidak ada orang yang memahami Yudhis selain ibunya. Rupanya sikap buruk itu turun ke Yudhis.

Lala yang terlalu tunduk pada Yudhis adalah akibat dari tekanan yang selama ini ia peroleh dari sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar kepada Lala untuk dapat meneruskan prestasi sang ibu yang telah meninggal, sebagai atlet lompat indah kenamaan. Lala juga berniat membantu Yudhis melepaskan diri dari jerat siksaan sang mama. Lala percaya, cinta bisa mengatasi semua masalah. Lala ingin Yudhis berubah, sebab ia tahu, Yudhis aslinya baik.

Apa yang menimpa Lala dan Yudhis bisa dijelaskan melalui feminism psikoanalitis. Pandangan ini berpatokan bahwa pengalaman seksualitas masa kanak-kanak hingga dewa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mula lahirnya ketidaksetaraan gender. Laki-laki memandang dirinya sebagai maskulin, perempuan menganggap ia sebagai feminim. Masyarakat puun menilai demikian. Maskulinitas menduduki posisi superior, sedangkan feminism diletakkan sebagai inferior (Tong, 2006:190). Itulah yang membuat Lala mendengarkan perkataan Ega, sahabatnya. Ega melarang Lala putus dari Yudhis karena melepaskan Yudhis membuat rugi Lala. Mencari pacar setampan Yudhis tidak mudah.

Feminisme psikoanalitis turut menyoal tahapan oedipal yang dilalui anak-anak. Anak laki-laki mengerti bahwa ia dan ibunya tidak sama secara fisik. Perbedaan itu melatari timbulnya masalah. Anak laki-laki lalu terdorong mencari kekuasaan lewat identifikasi dirinya dengan laki-laki yakni ayahnya. Anak laki-laki tahu bahwa ia harus bebas dari ketergantungan terhadap ibunya. Sedangkan Yudhis mungkin tidak mendapati itu, sebab sang ayah pergi dan menelantarkannya.

Tahapan oedipal yang dijalani anak perempuan merumuskan hasil bahwa simboisis ibu dengan anak perempuan akan berkurang kekuatannya. Hasrat itu dialihkan kepada otonomi dan kemandirian yang dilambangkan lewat sang ayah. Lala tercurahi kemandirian yang terlalu besar sebab sang ibu telah meninggal. Ayahnyalah yang bertugas mengawal perkembangan Lala. Sang ayah bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

Lala dan Yudhis sama-sama korban atas pincangnya kasih sayang dari orang tua. Keluarga mereka sama-sama penganut prinsip protektif. Tipe ini umumnya condong dalam konformitas yang tinggi namun minim percakapan. Ada banyak peraturan yang harus ditaati anak namun tanpa adanya komunikasi. Orang tua merasa tidak ada gunanya berdiskusi apapun dengan anak. Anak dianggap tidak perlu tahu apa yang orang tua putuskan.

Film ini menampar penonton dengan cara meramu cinta, gender, cita-cita, dan ketakutan dalam satu paduan. Ada pelajaran yang bisa dipetik yakni cinta tidak mesti harus membahas untung rugi. Boleh berkorban untuk cinta asal tetap rasional. Selamat menertawakan diri atau pasangan yang posesif! (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

 

 

 

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Essay

Ingatan, Sejarah, dan Mitos

mm

Published

on

Taufik Abdullah*)

Mengapakah demikian mudah suara saya menaik dan bergetar menahan marah, ketika beberapa orang mahasiswa dengan nada yang sinis menanyakan fungsi perayaan 50 tahun Kemerdekaan? Mula-mula memang saya bisa menjawab dengan tenang tentang makna simbolik dari perayaan ini. Bergaya sebagai seorang guru yang baik, saya menerangkan bahwa dalam usaha melangkah ke depan – ke masa yang tanpa peta itu – kita perlu juga sekali-sekali merenung dan mengingat lagi hasrat dan tekad yang pernah dipatrikan serta langkah-langkah yang telah diayunkan. Akan tetapi ketika seorang mahasiswa, lagi-lagi dengan suara sinis, malahan cenderung sarkastik, dengan gaya seorang oposan, berkomentar, “oh, sekedar merenung saja!” hampir saja kesabaran saya hilang. Suara saya menaik. Akan tetapi untunglah, kenakalan asli saya segera tampil dan saya pun bisa menjadikan jawabannya yang diiringi humor. Maka, semakin sadarlah saya bahwa saya bukan seorang pendidikan. Begitu mudah saya terkena provokasi.

Belum lama peristiwa itu terjadi. Baru beberapa hari berselang. Kalau saya pikir-pikir kembali peristiwa itu saya rasa tak pantas suara saya menaik dan bergetar menahan marah. Apa salahnya kalau hal yang dianggap “hebat” itu sekali-kali dihadapkan pada kesangsian akan keabsahannya? Bukankah dinamika dunia ilmu praktis ditentukan oleh letupan-letupan kesangsian terhadap apa yang telah diangap benar? Para mahasiswa itu memang memperlakukan saya sebagai seorang ilmuwan yang diharapkan dapat menjawab masalah keilmuan. Kebetulan saja masalah keilmuan itu, kali ini berkisar di sekitar perayaan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi, apa salahnya?

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada pertanyaan mahasiswa yang sinis itu, tetapi pada diri saya. Saya pikir hal ini juga dirasakan sebagian mereka yang sebaya dengan saya dan yang lebih tua daripada saya. Seperti yang dialami mereka juga Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Naional bagi saya bukanlah sesuatu “yang ada di sana,” yang dengan mudah bisa dilihat secara objektif, tanpa melibatkan perasaan. Saya tak mengatakan bahwa saya ikut ke medan perang menyambung nyawa demi tanah air dan saya pun tak bisa berbicara bahwa saya, dengan berbagai cara, ikut membantu perjuangan kita. Sama sekali tidak. Akan tetapi bagaimanakah saya bisa melupakan kesedihan yang saya rasakan karena tak bisa ikut melompat-lompat dan bersorak-sorak, seperti anak-anak lain ketika ulang tahun pertama proklamasi dirayakan di kota kecil saya? Baru beberapa hari sebelumnya saya dikhitan. Babagaimana pula saya tak akan ingat akan kegembiraan saya ikut berlari-lari di belakang para pemuda yang membawa Sutan Sjahrir di atas bahu mereka, ketika mantan Perdana Menteri itu berkunjung ke kota saya? Atau, melupakan perasaan yang mencekam ketika melihat mayat seorang pejuang yang tewas, setelah sebelumnya patroli tentara Belanda menembaki sekolah saya. Berbagai slide kenangan kadang-kadang tampil bergantian, jika saja gugatan terhadap masa lalu itu datang. Memang Revolusi Nasional bagi saya bukanlah “something out there” tetapi adalah sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Tak bisa saya mengelak kehadirannya. Betapa pun mungkin saya ingin melupakannya, atau bisa juga, mengubah bentuknya yang sesuai dengan hasrat saya sekarang. Ia adalah kenangan saya. Ia adalah ingatan saya. Ia adalah bagian dari subjektivisme saya, betapa pun mungkin saya ingin menyembunyikannya. Saya pun tak bisa pula bersembunyi dari ingatan ini. Entah kalau amnesia telah menghidapi diri saya.

Jadi, suara saya yang menaik dan bergetar menahan marah semoga bisa juga dimaafkan. Mungkin para mahasiswa itu hanya bermaksud bertanya tentang sejarah yang konon objektif – “ sesuatu yang ada di sana,” di kelampauan – tetapi saya rasakan sebagai gugatan terhadap ingatan saya yang subjektif dan yang merupakan bagian dari kehadiran saya. Atau, barangkali pula mereka hanya menyangsikan keabsahan sebuah initos yang dirasakan semakin bercorak hegemonik. Bisa jadi demikian halnya, tetapi, mana mereka tahu bahwa yang langsung terkena adalah ingatan saya yang pribadi, bebas, dan otentik. Mereka mahasiswa itu, tak bisa mempertanyakan, apalagi menggugat, ingatan saya, yang riil pada diri dan kesendirian saya ini.

Harus saya akui, bahwa dalam suasana peringatan dan perayaan yang ketiganya – ingatan, yang pribadi sejarah, yang dihasilkan oleh pencarian akademis yang kritis, dan mitos, yang tumbuh dari sebuah corak keprihatinan atau kepentingan (entah kultural, kekuasaan, atau ideologi) – bisa saja bercampur baur menjadi satu lagi, di manakah sesungguhnya batas ketiganya? Bukankah sejarah bisa juga dianggap sebagai “rekaman ingatan kolektif” dan ingatan atau kenangan mungkin juga diperlukan sebagai “sejarah yang dialami sendiri”.

Dan mitos? Mitos boleh juga dianggap sebagai peristiwa “sejarah” yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.

Hanya saja, pencampuradukan dari ketiga kategori ini dengan mudah dapat menyebabkan kita kehilangan makna yang sesungguhnya dari peringatan peristiwa dramatis yang telah mengubah corak kehadiran kita sebagai bangsa itu. Sejarah tidaklah ada dengan sendirinya.  Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam, melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu. Bisa jadi sejarah adalah sebuah hasil yang sejujur mungkin ingin merekam dan “merekonstruksi” ingatan, baik yang kolektif maupun yang pribadi, tetapi mungkin juga sejarah bermaksud “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, di mana, dan bila) yang telah terkibur impitan zaman. Sejarah adalah hasil yang didapatkan dengan sengaja ketika berbagai pertanyaan tentang masa lalu telah dirumuskan. Kalau demikian, bukankah “sejarah” sesungguhnya sangat ditentukan oleh jenis pertanyaan yang telah dirumuskan? Memang, demikian halnya dan inilah unsur yang paling subjektif dalam sejarah. Maka, dapat jugalah dibayangkan bahwa pertanyaan itu bukan saja beranjak dari rasa ingin tahu belaka, tetapi dapat pula dirangsang oleh kepentingan tertentu, apa pun mungkin coraknya.

Betapapun kejujuran adalah landasannya yang paling esensial, sejarah mau tak mau bersifat selektif. Tak semua kebenaran atau kenyataan historis bisa dan perlu dikatakan. Hanyalah yang penting dan yang relevan saja yang perlu dilukiskan. Kalau demikian, herankah kita karena yang sifatnya selektif ini, sejarah bisa juga memantulkan kisah atau pesan yang mempunyai tingkat penting dan relevan yang berbeda-beda? Bukan itu saja, tingkat penting dan relevan itu bisa pula ditentukan oleh golongan sosial yang berbeda-beda pula. Fungsi sosial sejarah malah ditentukan oleh pemahaman terhadap kisah dan pesan itu. Mungkin karena itulah, saya kira, pernah ada yang berkata,

“Sejarah tak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar dariapdanya”. Jadi kitalah – kita yang menghadapkan diri pada kisah sejarah – yang merupakan unsur yang aktif.

Begitulah, kadang-kadang kisah dan pesan tertentu kita perbesar-besar karena memberikan sesuatu yang bersifat integratif, inspiratif, atau apa saja yang dianggap berfaedah. Kadang-kadang kisah tertentu kita ulang-ulang, malah kita peringati dan kita rayakan, dengan berbagai macam corak ritual dan seremoni. Dari kisah tersebut kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, pemilihan kisah atau pesan itu terjadi dalam proses kompetisi. Ketika pilihan akhirnya ditentukan, maka hal itu adalah akibat dari proses hegemonisasi yang telah dimenangkan. Dalam sistem kenegaraan yang sangat ideologis, seperti negara kita ini, sudah bisa dipahami bahwa kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi melakukan hegemoni makna terhadap sejarah dan simbol. Dengan berbagai sistem rujukan dan informasi, serta pemakaian sistem kekuasaan, maka semakin membesarlah bentukan hasil pilihan itu dan semakin jauhlah ia dari sejarah yang pernah menghasilkannya. Analisis akademis mengatakan bahwa pilihan itu telah berubah menjadi sebuah mitos. Kalau ini telah terjadi, sejarah hampir tak berdaya untuk menuntutnya kembali ke pangkuannya – ke pangkuan dunia yang kritis dan “obyektif”. Mitos pun telah menjadi “realitas – sejarah”. Hanya saja ia bukan sesuatu yang “out there”, yang dingin dan yang telah berlalu, tetapi sesuatu yang ada “di sini”, hangat dan bagian dari kehidupan sosial. Kredibilitas mitos pun semakin menaik jika ia mendapat dukungan, apalagi kalau berawal dari ingatan, kolektif ataupun individual. Didukung oleh kecenderungan teologis, yang menjadikan situasi hari kini sebagai pembenaran dari keabsahan gambaran hari lalu, mitos pun semakin kokoh berdiri. Dengan begini, maka sistem hegemoni pun telah membentuk masa lalu berdasarkan skenario kepentingan hari kini.

Semua ikatan sosial memerlukan mitos, karena ia mengajukan jawaban bagi kemungkinan terdapatnya ketimpangan antara realitas dengan logika, memberi suasana kredibilitas bagi keberlakuan tata yang berlaku dan bisa pula merupakan unsur integratif yang diperlukan. Kalau saya tak salah, adalah Ernest Renan, yang mengatakan bahwa kehadiran “bangsa”, yang bermula dari “keinginan untuk hidup bersama”, bisa berlanjut jika komunitas itu bersedia “mengingat banyak hal” dan “melupakan hal”. Mengingat dan melupakan yang selektif inilah yang melahirkan mitos. Hanya saja seleksi yang hegemonik tidaklah sekedar berusaha menjauhkan kita dari sejarah yang dingin dan kritis, tetapi juga mengingkari keabsahan ingatan sendiri yang pribadi dan otentik.

Peristiwa besar, seperti Revolusi Nasional dan Perang Kemerdekaan kita, adalah lahan pengalaman yang dengan tajam menancapkan kehadirannya dalam ingatan, pribadi dan kolektif. Peristiwa ini adalah pula “sesuatu yang ada di sana”, yang bisa memberikan kisah tentang pergumulan sebuah bangsa mempertahankan kehadiranna dan kegelisahan manusia menghadapi hari-hari tanpa kepastian, selain harapan yang tak kunjung padam. Kekinian kita yang dihasilkannya – sebuah bangsa yang dulu berjuang kini telah mempunyai negara yang berdaulat – menjadikannya pula sebuah sumber inspirasi bagi tumbuhnya mitos.

Mitos bermain dalam wilayah publik. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kehadirannya membayangkan suasana integratif. Perayaan dan peringatan bisa pula dilihat sebagai peneguhan dari keberlakuan mitos. Dalam suasana perayaan – sebuah karnaval – siapa pun akan terlarut di dalamnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan kadang-kadang tertanyakan juga. “Siapakah yang menentukan corak mitos itu?” Kini, saya sadar, jangan-jangan pertanyaan sarkastis dan sinis dari mahasiswa yang saya ceritakan itu adalah pantulan dari penolakan mereka terhadap mitos integratif yang mereka anggap sebagai sesuatu yang hegemonik. Mungkin, demikianlah halnya tetapi andaipun bukan, mitos yang memperlihatkan wajahnya dalam wilayah publik, tidak saja mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperteguh keakraban sosial dan sejarah, melainkan juga, dapat menjauhkan kita dari ingatan kita yang pribadi, murni, dan otentik. Yang tampil adalah wajah publik, bukan diri kita dalam kesendirian dan kepolosan yang tak bisa ditutupi.

Karena itulah saya kira pada saat kita mensyukuri kemerdekaan tanah air kita, semestinyalah kita menggali lagi ingatan yang pribadi dan otentik itu. Pengalaman apakah yang pernah dipatrikan ketika perjuangan dimasuki dan di saat antusiasme kemerdekaan dirasakan? Ingatan adalah penghadapan kita dengan kesendirian kita. Ia tak membiarkan kita untuk bertopeng dalam segala macam kepura-puraan. Dalam ingatan yang murni pribadi ini kita pun bisa mengingat dan mengenang kembali tangisan ibu yang meratapi kepergian abadi anak tercinta atau derai air mata sang istri melepas suami ke medan perang. Untuk apa? Kita mungkin bisa membohongi publik, tetapi tak bisa menghindar dari ingatan sendiri.

Kita rayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, tetapi kita gali lagi ingatan dan kenangan dengan segala kepolosan yang hanya mungkin tampil dalam kesendirian kita masing-masing. Dalam kesendirian kita dengan ingatan ini, langkah yang telah diayunkan bisa dinilai lagi dan niat yang pernah dipatrikan dalam diri tinjauan kembali. Masihkah idealisme dan pengorbanan yang dipancarkan Proklamasi dan Revolusi Nasional menyinari kehidupan kita bernegara? Ataukah sesuatu yang lain – yang dulu tak terimpikan, malah dinista sebagai penyimpangan – telah menyelinap dalam kehidupan kita? Hanya ingatan kita dalam kesendirian kita masing-masing yang bisa menjawab. (*)

____________________________________

*)Taufik Abdullah lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Januari 1936, adalah ahli peneliti utama pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ia lulus dari Jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (drs., 1961) dan Cornell University (M.A., 1967; Ph.D., 1970). Sejak  April 2000 ia menjadi ketua LIPI. Tulisan-tulisannya diterbitkan di dalam dan luar negeri; di antaranya “Adat dan Islam; An Examination of Conflicty in Minangkabau Indonesia” (1966); “Modernization in the Minangkabau World West Sumatra” dalam Claire Holt, et.al., (eds.); Culture and Politics in Indonesia (1972); Sejarah Lokal di Indonesia (1979, 1985); Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia (1987) ; “Islam and the Formation of Tradition in Indonesia A Comparative Perspective”, Itinerario (1989). Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi editor serta konsultan majalah Prisma, anggota dewan redaksi jurnal Sejarah, editor Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia. Pengalaman akademiknya dimulai dengan menjadi asisten pengajar Sejarah barat (1959-61) di Universitas Gadjah Mada, Fulbright Visiting Professor di University Wisconsin (1975), Post-Doctoral Fellow di University of Chicago (1977), Visiting Professor di Cornell University (1985), University of Kyoto (1989-90), Australian National University 91990), Mc Gill University, Montreal (1991-92) dan Thammasat University (1997). Aktivitas profesionalnya antara lain menjadi Member of Council for the Study of Malay Culture UNESCO (1971), Presiden International Association of Historians of Asia (IAHA) (1996-98); Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Pusat (dari 1995), Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1974-1978), anggota KITLV (1968-1978). Dari lembaga yang disebut terakhir ia juga memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan.

Sumber: Taufik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, Satya Historika, Bandung, 2001.

***

Continue Reading

Classic Prose

Trending