Connect with us

Philoshopia

Genetika Myriad dalam Analisa Revolusi Pengetahuan Kuhn

mm

Published

on

Asososiasi Patologi Molekular bersama dengan berbagai asosiasi medis lainnya, dokter dan pasien menggugat US Patent dan Trademark Office (USPTO) dan Myriad Genetics terkait dengan paten genetik manusia. Paten menyangkut gen BRCA1 dan BRCA2 dan beberapa jenis mutasi gen yang mengindikasikan resiko kanker payudara. Gugatan juga mempermasalahkan beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosa screening gen tersebut. Myriad berargumentasi bahwa sekalinya gen diisolasi, dan kemudian dapat dibedakan dari jenis gen lannya, maka dengan begitu bisa dipatenkan. Dengan mematenkan gen tersebut, Myriad mempunyai kontrol ekslusif terhadap diagnosa test dan riset ilmu pengetahuan lebih lanjut terhadap gen BRCA.

Beberapa ilmuwan, masyarakat yang menandatangani petisi tersebut berargumentasi bahwa mematenkan gen tersebut telah melanggar §101 Undang-Undang Paten di Amerika Serikat karena gen adalah produk alamiah. Maka persoalan apakah gen dapat dipatenkan atau tidak kemudian berkembang menjadi permasalahan filosofis, ilmu pengetahuan dan masalah kebijakan, tidak hanya semata pertanyaan hukum. Di sisi lain, permasalahan paten adalah siapa yang berhak memprivatisasi kesehatan, menjadi hak yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya. Dampak pertanyaan ini berlanjut kepada masyarakat yang adil dan fungsi ekonomi yang baik, bagaimana ketidakadilan membentuk sistem politik, hukum dan kesehatan di dalam masyarakat kita.

Namun, di dalam paper ini hanya akan membahas bagaimana kasus Myriad dapat menghambat berkembangnya revolusi pengetahuan di dalam masyarakat. Di satu sisi, penemuan gen oleh Myriad ini adalah suatu pencapaian dari pengetahuan modern, tetapi ketika hal tersebut dipatenkan, tentunya akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Keuntungan social yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat dengan adanya penemuan tersebut harus dihalangi demi keuntungan perusahaan.

Paper ini akan menggunakan teori dari Thomas Kuhn tentang “Revolutionary of Scientific Revolution.” Pembahasan tidak akan meluas kepada permasalahan metodologi riset penemuan gen (screening terhadap gen dan diagnosa metodologi) dan masalah hukum apakah Undang-Undang membolehkan mematenkan gen manusia? Oleh karena itu saya hanya menggunakan analisa mengenai Kuhn dibatasi bagaimana revolusi ilmu pengetahuan dapat dimungkinkan dan rezim paten telah menghalangi hal tersebut.

Thomas Kuhn dan Revolusi Pengetahuan

Kuhn di dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1962) menjelaskan tentang karakter ilmu pengetahuan yang baik terdiri dari lima kriteria:

  1. Teori haruslah akurat: di dalam domainnya, dan menimbulkan teori hasil dari eksperimen sebelumnya dan observasi.
  2. Teori haruslah konsisten, tidak hanya di dalam dirinya sendiri, tapi juga berhubungan dengan teori lainnya yang diterima dan diaplikasikan yang berhubungan dengan aspek alamiah.
  3. Mempunyai cakupan yang luas, konsekuensi teori haruslah meluas mengatasi observasi partikular, hukum, atau subteori yang dirancang untuk dapat menjelaskan.
  4. Teori haruslah sederhana, menjembatani susunan terhadap fenomena dimana di dalamnya absen.
  5. Teori haruslah terbuka terhadap riset selanjutnya. Dia harus menyingkap fenomena baru atau menghubungkan antar fenomena yang sudah diketahui namun sebelumnya belum terungkap.

Kelima standar kriteria ini adalah untuk mengevaluasi kelayakan suatu teori. Standar ini memainkan peranan yang penting bagi para ilmuwan, ketika mereka harus memilih antara teori yang sudah ada dan kompetitor selanjutnya. Bersama dengan yang lainnya mereka menyediakan dasar teori pilihan yang dapat dibagi.

Kuhn mengklaim bahwa prosedur ilmuwan digunakan untuk mengembangkan pengetahuan bukanlah aturan umum yang tepat untuk mengkritik teori. Teori adalah rangkaian prosedur dan asumsi yang saling berhubungan yang sangat komplek dan tajam. Teori hanya bisa dipelajari melalui pemahaman contoh partikular pencapaian scientific dan melakukan riset ilmu pengetahuan dimana kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari berdasarkan contoh-contoh. Jika kita berusaha mengartikulasikan apa yang membimbing riset sebagai aturan umum yang tepat, kita akan menghasilkan hukum yang sederhana dimana tidak akan mengarah kepada pengetahuan lebih lanjut. Asumsi dan prosedur yang mendasari ilmuwan mempelajarinya tidak mencukupi untuk mempertahankan dasar yang dibagi dan standar fundamental. Mereka membentuk penalaran dan persepsi di dalam disiplin ilmu, sehingga tidak ada fundamental yang muncul. [1]

Kuhn juga berargumentasi bahwa progress revolusi pengetahuan tidak bisa muncul berdasarkan standar yang sama. Aspek fundamental dari teori lama harus ditinggalkan, yang berarti teori lama tidak bisa secara benar dikatakan benar. Gambaran metafisika yang mendasari teori baru secara keseluruhan berbeda dengan teori lama.

Di dalam pandangan Kuhn, pengetahuan dibangun melalui beberapa tahap: pertama adalah tahap pra-paradigma dimana ada perbedaan mendasar antara teori dan penemuan atas fakta acak yang tidak diikuti oleh berbagai macam prosedur yang ada. Pada beberapa poin, ada yang berubah dan ada persetujuan yang menjadi contoh dan beberapa diantaranya harus diikuti. Asumsi dasar yang mendasari bahwa pekerjaan secara luas dapat diterima; dan lebih penting, cara mengerjakan riset secara luas ditiru. Pada era ini, Kuhn mengatakan bahwa paradigma tertentu mendominasi era ilmu pengetahuan. Sementara paradigma mendominasi, asumsi dasar pada jantung paradigma dipertanyakan. Kegiatan tersebut dinamakan sebagai normal science. Hal yang penting yang terjadi ketika pekerjaan membentuk normal science yang terdiri dari berbagai macam masalah dipecahkan melalui contoh tindakan. Hal lainnya juga muncul. Pengetahuan faktual terakumulasi dan menjadi semakin tajam. Inovasi teknologi dihasilkan. Sesudah itu, berbagai masalah yang tidak terselesaikan muncul, banyak diantaranya, di dalam asumsi komunitas ilmuwan itu sendiri. Kuhn menyebut kegagalan untuk memecahkan masalah sebagai anomaly. Ketika anomaly berlipat ganda, dan beberapa diantaranya dilihat sebagai sesuatu yang penting, pengetahuan di era tersebut memasuki periode krisis. Krisis dapat dipecahkan ketika paradigma baru menggantikan paradigm lama. Kebanyakan hasil kerja para ilmuwan muncul selama periode pengetahuan normal.

Sebelum masa itu, ada banyak perselisihan terhadap hal fundamental, dan juga terhadap hal-hal acak dan pengumpulan informasi tanpa arah. Sebagai hasilnya, banyak pekerjaan yang dihasilkan di dalam fase pra-paradigma menjadi tidak berguna dalam menyelesaikan masalah penting atau bahkan di dalam akumulasi fakta baru. Di dalam periode normal science yang mengikutinya, banyak masalah yang diselesaikan berdasarkan akurasi keluasan. Sebagai contoh, dengan melihat apa yang terjadi sesudah revolusi mekanik Newton. Newton telah menghasilkan teori fisika dasar yang diaplikasikan ke dalam rangkaian persoalan. Sekarang banyak teori yang membutuhkan detail teori tersebut yang diaplikasikan kedalam berbagai macam persoalan. Persamaannya tidak jelas dan butuh untuk diinterpretasikan dalam aplikasi persoalan lebih lanjut. Misalnya: prediksi atas garis edar planet. Planet baru ditemukan dengan memperhatikan anomali di dalam garis edar planet yang sudah diketahui.

Banyak dari laporan ini kelihatannya bisa sesuai dengan gambaran perkembangan pengetahuan sebelumnya, jika laporan yang lama dimodifikasi. Tetapi Kuhn berfikir hal tersebut tidak akan sesuai jika kita mengerti secara keseluruhan apa yang terlibat di dalam paradigma dan mempelajari apa yang terjadi di dalam revolusi ilmu pengetahuan. Maka langkah-langkah yang harus diperhatikan di dalam revolusi pengetahuan adalah:

Pertama, di dalam revolusi pengetahuan, ilmuwan terkemuka yang bekerja di dalam paradigma lama dan baru tidak akan mampu meraih persetujuan secara rasional atas kesuperioran paradigma baru. Kelompok tradisional ilmuwan yang ingin tetap pada paradigma baru akan membangun, kelompok lama yang secara tipikal terbiasa dengan paradigma lama dalam waktu cukup lama. Mereka akan mampu memberi alasan yang benar atas keputusan mereka, sebaik alasan yang dipahami dibawah paradigma lama. Juga ada kelompok ilmuwan pemberontak, secara tipikal mereka terdiri dari anggota yang lebih muda yang pemikirannya tidak dibatasi oleh paradigma lama, yang mampu memberikan alasan yang baik untuk perubahan terhadap paradigma baru. Alasan tersebut akan  berhubungan dengan fakta yang banyak diketahui bahwa padigma lama mempunyai masalah yang serius, dan mereka akan menggunakan kriteria paradigma baru untuk mengkritik teori yang dibangun dibawah paradigma lama sebagai yang tidak sempurna. Menurut Kuhn, konflik tersebut secara rasional tidak bisa diselesaikan. Dia hanya akan bisa diselesaikan secara non-rasional melalui  pengunduran diri atau kematian dari anggota lama  dan kegagalannya dalam menarik penganut baru dari paradigma lama.

Kedua adalah teori yang diformulasikan dibawah paradigma baru seringkali cukup berbeda dari teori lama. Teori lama tidak secara masuk akal diajarkan menjadi perkiraan dari teori baru. Alasan mengapa mereka secara radikal berbeda bahwa asumsi ontologis yang mendasari teori baru cukup berbeda dari apa yang mendasari teori lama. Kuhn menyebutnya sebagai yang tidak terbandingkan (incommensurable). Ini berarti bahwa ketika perubahan paradigma muncul, kita tidak bisa secara legitimate berbicara mengenai pertumbuhan pengetahuan. Dalam hal ini, Kuhn memberikan contoh mengenai hubungan antara teori mekanika Newton dan teori relativitas Einstein. Keduanya muncul dalam penggunaaan konsep yang sama seperti: massa, kecepatan dan waktu.  Prediksi yang dihasilkan oleh dua teori tersebut adalah sama ketika teori diaplikasikan kepada objek benda yang bergerak pada kecepatan rendah. Hanya ketika mereka diaplikasikan kepada objek yang berkecepatan tinggilah prediksi dari dua teori ini  berbeda secara signifikan. Menurut Kuhn, mekanika Newton memiliki ontologi implisit yang secara radikal berbeda dari teori Einstein, jadi ini merujuk kepada dua hal yang berbeda.  Setiap penjelasan di dalam dua teori tersebut adalah sesuatu yang berbeda. Perbedaan tersebut berarti jika teori Einstein benar, maka teori mekanika Newton tidak secara kira-kira benar karena ontologi teori Einstein keluar dari eksistensi dari hal yang diisyaratkan di dalam mekanika Newton. Jika teori Einstein benar, mekanika Newton telah gagal dirujuk, jadi tidak bisa kira-kira secara benar. Secara sama, jika term mekanika Newton diambil untuk merujuk kepada sesuatu, maka itu tidak bisa dirujuk kepada entitas dari teori Einstein.[2]

Walaupun pandangan Kuhn mengenai pembangunan pengetahuan berbeda dari gambaran sebelumnya, dia tidak bermaksud melawan relativisme-pandangan yang melihat bahwa manfaat dari teori ilmu alam bergantung semata-mata terhadap kriteria dimana paradigma internal dari apa yang dikritisi. Akan ada persamaan dan keberlanjutan antara pardigma dan akan ada beberapa kriteria untuk mengkritisi teori yang dibagi bersama. Paradigma baru tidak berasal dari ruang hampa udara dan  pengikut dari masing-masing paradigma mempunyai kehidupan luar dimana mereka menggunakan asumsi dan kebiasaan lain. Kuhn mengatakan bahwa pengikut dari kedua paradigma tidak akan mampu menyelesaikan perselisihannya dengan menggunakan kriteria penggunaan pemilihan teori yang lebih sederhana dibandingkan yang rumit. Karena mereka membuat ranking dan menginterpretasikan berbagai kriteria dari yang terbaik secara berbeda. Hal ini berarti jika Kuhn tidak terikat terhadap relativisme, dia terikat kepada klaim bahwa tidak ada pertumbuhan pengetahuan yang muncul selama revolusi pengetahuan. Tapi, dia tidak menolak kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan ketika disiplin telah melewati beberapa revolusi pengetahuan. Pengetahuan tidak menggantikan teori dengan teori lain yang mendekati kebenaran; tapi kemajuan karena, paradigma telah sukses terhadap yang lainnya, para ilmuwan memecahkan lebih banyak masalah, menghasilkan prediksi yang lebih sukses dan merubah akurasi prediksi mereka. Orang yang mengamati dari luar paradigma bisa memberi alasan bahwa ada perkembangan karena kebanyakan masalah yang berusaha dipecahkan oleh para ilmuwan merupakan “secara langsung ditampilkan oleh alam, dan semua yang mempengaruhi alam secara tidak langsung” (Kuhn, 1970c: 263-4).

Ada dua hal yang ditegaskan oleh Kuhn di dalam revolusi pengetahuan: [3]

  1. Ini adalah dua pandangan yang sangat berbeda terhadap ide tradisional dari pertumbuhan pengetahuan kumulatif, karena perubahan paradigma atau revolusi pengetahuan membutuhkan perubahan di dalam teori pengetahuan secara keseluruhan.
  2. Revolusi dapat terjadi ketika paradigma baru sudah tersedia, dan juga terjadi ketika ilmuwan mampu mengartikulasikan gambaran baru kepada koleganya.

Paten dan Terhambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Riset menunjukkan[4] bagaimana paten terhadap gen sebenarnya dapat mengurangi produksi atas pengetahuan baru, karena hal yang terpenting bagi terciptanya pengetahuan baru adalah pengetahuan sebelumnya, dan paten telah menghalangi akses terhadap hal tersebut. Pengetahuan bukanlah ditujukan untuk mencapai keuntungan, seperti yang diinginkan oleh perusahaan besar, tapi adalah pencapaian terhadap transformasi pengetahuan itu sendiri.

Amerika dan berbagai Negara Maju lainnya menekan rezim hak kekayaan intelektual di seluruh dunia. Rezim tersebut membatasi akses Negara miskin dan berkembang terhadap pengetahuan yang mereka butuhkan untuk pembangunan. Tidak hanya Negara yang membatasi patennya, tetapi juga berbagai organisasi multilateral seperti World Trade Organization (WTO) mempunyai system yang disebut dengan Trade Related Intelectual Property Rights (TRIPS). Ketidakseimbangan di dalam rezim hak kekayaan intelektual menghaslkan inefisiensi-termasuk monopoli keuntungan dan telah gagal memaksimalkan penggunaan pengetahuan yang menghalangi inovasi.

Paten telah mengakibatkan harga untuk mendiagnosa menjadi sangat tinggi. Test gen biasanya dapat dibayar dengan biaya rendah. Seseorang dapat melakukan test 20.000 gennya dengan harga sekitar $1,000, bahkan bisa lebih murah untuk spesifikasi patologi tertentu. Sementara itu, Myriad akan mengenakan sekitar $4,000 terhadap dua gen kanker tersebut.[5] Kalangan ilmuwan menyatakan bahwa tidak ada hal khusus tentang metode yang dipakai oleh Myriad, dia hanya test gen sederhana yang dipunyai oleh perusahaan, dan dilakukan berdasarkan data yang tidak tersedia untuk umum diakibatkan oleh paten.

Sementara itu, jika gen tersebut tidak dipatenkan maka akan tercipta kompetisi yang terbangun dengan baik dan tentunya test gen yang lebih murah. Kita dapat mempunyai pasar yang kompetitif yang memungkinkan terciptanya inovasi. Semua pengetahuan berdasarkan pengetahuan sebelumnya, dan dengan tidak adanya pengetahuan sebelumnya, maka inovasi tidak akan mungkin terjadi. Penemuan yang diklaim oleh Myriad menggunakan teknologi dan ide yang berasal dan dibangun oleh yang lain. Maka dengan tidak adanya pengetahuan yang tidak tersedia untuk umum, sebenarnya Myriad tidak bisa menemukan gen tersebut.

Motivasi penemuan di dalam ilmu pengetahuan tidak pernah untuk mengejar laba. Penemuan besar seperti: laser, komputer, internet dan lain sebagainya berasal dari keingintahuan dan kebutuhan akan  pengetahuan atau mungkin dengan tujuan lain seperti: memudahkan kehidupan manusia. Memang ada penelitian yang dibiayai oleh pemerintah, foundation, donor dan sebagainya, tetapi kemudian penelitian tersebut digunakan dan diberikan bebas kepada masyarakat. Sistem paten tidak bekerja di dalam kerangka tersebut. Sistem paten melalui rezim hak kekayaan intelektual hanya akan menghentikan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan. (*)

*) Rika Febriani, Mahasiswa Paska Sarjana STF Driyarkara

____

Daftar Pustaka
Couvalis, George, The Philosophy of Science;  Science & Objectivity, Sage Publications, London, 1997
Ladyman, James, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002
Kuhn, Thomas, The Structure of Scientific Revolution, 1962
Referensi Internet
http://www.project-syndicate.org/commentary/the-myriad-problems-of-intellectual-property-by-joseph-e–stiglitz
http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/07/14/how-intellectual-property-reinforces-inequality/?smid=tw-share&_r=0
[1] George Couvalis, The Philosophy of Science;  Science & Objectivity, Sage Publications, London, 1997, Hal.89
[2] Ibid, hal.89
[3] James Ladyman, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002.  hal.103
[4] http://www.project-syndicate.org/commentary/the-myriad-problems-of-intellectual-property-by-joseph-e–stiglitz
diakses pada 2 Januari 2014
[5] http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/07/14/how-intellectual-property-reinforces-inequality/?smid=tw-share&_r=0

 

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Kajian

Jacques Derrida dan Dekonstruksi Anti Marxis?

mm

Published

on

Belum lama ini, Jacques Derrida memperluas lingkup karyanya saat buku karangannya tentang Marx terbit. Ia mengatakan bahwa filsafat dekonstruksinya tidak bisa secara sederhana dikatakan sebagai anti-Marxis. Maka, sekarang ini, ada yang menunggu-nunggu untuk melihat apakah ada unsur politik dalam gramatologi Derrida.

Derrida, seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure (re d’Ulm) di Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada akhir tahun 1965 saat ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris, Critique.[1] Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang mungkin paling terkenal, yiatu Of Grammatology.

Ada sejumlah kecenderungan penting yang mendasari pendekatan Derrida pada filsafat, dan lebih khusus lagi, pada tradisi pemikiran Barat. Yang pertama adalah pemkiran untuk bercermin pada tradisi pemikiran Barat dan mengurangi ketergantungan tradisi ini pada logika identitas. Logika identitas diturunkan dari karya Aristoteles, dan, seperti kata Bertrand Russell, terdiri atas unsur-unsur pokok berikut:

  1. Hukum identitas: “Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.”
  2. Hukum kontradiksi: “Sesuatu tidak bisa serentak menjadi ada dan tiada.”
  3. Hukum tidaknya yang berada di tengah: “Antara ada dan tiada tidak boleh ada apa pun juga.”[2]

“Hukum-hukum” pikiran ini tidak hanya mengandaikan adanya suatu koherensi logis, mereka juga mengarah ke sesuatu yang mendalam dan mencirikan tradisi yang terkait dengan suatu realitas pokok – asal usul – yang merujuk hukum-hukum ini. Untuk memelihara koherensi logisnya, asal usul ini haruslah “sederhana” (yaitu bebas dari kontradiksi), homogen (berupa substansi dan keteraturan yang sama), sesuai dengan dirinya sendiri (yaitu berada terpisah dan berbeda dari segala pengantaran, sadar akan dirinya sendiri tanpa ada kesenjangan antara asal usul dengan kesadaran). Jelas bahwa “hukum-hukum” ini menghendaki dikesampingkannya ciri-ciri tertentu seperti: kerumitan, pengantaran, dan perbedaan – singkatnya ciri-ciri yang memunculkan “ketidakmurnian”, atau kerumitan. Proses pengesampingan ini berlangsung dalam tataran umum, metafisis, di mana di dalamnya dilembagakan satu keseluruhan sistem konsep (yang terindra-yang terpikirkan; ideal-nyata; internal-eksternal; fiksi-kebenaran; alam-kultur; lisan-tulisan; keaktifan-kepasifan, dan sebagainya) yang mengendalikan proses pemikiran yang berlangsung di Barat.

Melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai “dekonstruksi”. Derrida memulai penelitian mendasar pada bentuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum-hukum identitas. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis – seperti yang ada dalam filsafat Rousseau berikut ini.

Suatu ketika Rousseau berpendapat bahwa kita harus mendengarkan suara alam. Alam ini identik dengan dirinya sendiri, suatu kumpulan yang tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akan tetapi, ia juga menunjuk pada kenyataan bahwa kadang-kadang dalam alam itu terdapat kekurangan – sebagaimana halnya seorang ibu tidak bisa memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Sekarang ini keadaan berkekurangan dilihat sebagai yang umum terdapat di alam, jika bukan sebagai karakteristiknya yang paling umum. Oleh sebab itu, Derrida menunjukkan bahwa alam yang menurut Rousseau itu “cukup-diri” ternyata juga berkekurangan.[3] Keadaan berkekurangan ini malah mengganggu kecukupan diri alam itu sendiri – yaitu identitasnya, atau seperti kata Derrida, kehadiran dirinya. Kecukupan diri alam hanya bisa dipenuhi bila kekurangan ini bisa ditutup. Walaupun begitu, agar logika identitas bisa dipertahankan, kalaupun alam memerlukan penambahan ia juga tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri (identik dengan dirinya). Ini karena kecukupan diri dan kekurangan adalah dua hal yang paling bertentangan: salah satu bisa menjadi landasan identitas, tetapi bukan kedua-duanya bila kontradiksi ingin dihindari. Ketidakmurnian identitas, atau dilemahkannya eksistensi diri ini tidak bisa dihindarkan karena, pada umumnya setiap asal usul yang tampaknya “sederhana” mungkin saja datang dari yang bukan asal usul. Manusia memerlukan pengantaran kesadaran, atau cermin bahasa, untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia; akan tetapi, pengantaran atau cermin (ketidakmurnian) ini harus disingkirkan dari proses perolehan pengetahuan. Kedua hal itu memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, tetapi tidak termasuk di dalam proses itu. Jika demikian halnya, seperti pada filsafat kaum fenomenologis, maka semua ini (kesadaran, subjektivitas, bahasa) menjadi setara dengan sejnis keberadaan yang identik dengan dirinya.

Proses “dekonstruksi” yang meninjau dasar-dasar pemikiran Barat modern tidak dilakukan dengan harapan agar paradoks atau kontradiksi ini juga tidak mengklaim bahwa ia bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mendasari tradisi ini dan membentuk suatu sistem yang berlandaskan pada pemahamannya sendiri. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa di sini terpaksa digunakan konsep-konsep yang sebenarnya tidak bisa dipertahankan dalam kerangka klaim yang dibuatnya untuk itu. Singkatnya, ia juga (paling tidak untuk sementara) harus mendukung klaim-klaim ini.

Secara filosofis, dorongan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hukum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi, kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru. Pengertian tentang perbedaan, atau differance, mungkin mengarah kepada kecenderungan kedua yang tampak dalam karya Derrida – yang terkait erat dengan keinginan untuk terus memelihara kreativitas dalam filsafat.

Differance adalah istilah yang diusulkan Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa sturkturalis. Bila Saussure bersusah payah dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa dalam bentuknya yang paling umum bahasa bisa dipahami sebagai suatu sistem perbedaan, “tanpa isitilah positif”, maka Derrida melihat bahwa implikasi penuh dari konsep ini tidak dipahami baik oleh kaum strukturalis kontemporer maupun Saussure sendiri. Perbedaan tanpa istilah positif menghendaki secara tak langsung bahwa dimensi bahasa ini harus tetap tidak bisa dikonsepkan. Pada Derrida, perbedaan menjadi prototipe dari hal-hal yang tetap berada di luar lingkup pemikiran metafisis Barat karena kondisi kemungkinan pemikiran ini. Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang berbicara tentang segala perbedaan. Sebagai contoh, kita katakan bahwa “x” (yang memiliki kualitas tertentu) berbeda dari “y” (yang memiliki kualtias lain), dan yang biasanya kita maksudkan adalah bahwa di sini dimungkinkan untuk mengungkapkan segala kualitas yang mengakibatkan segala perbedaan ini. Walaupun begitu, ini sebenarnya memberikan pemahaman positif terhadap perbedaan – yang menghendaki bahwa ia bisa berbentuk suatu gejala – sehingga hal ini bukanlah merupakan perbedaan yang dinyatakan Saussure, yaitu yang secara efektif tidak bisa dikonsepkan. Oleh sebab itu, menjadi jelaslah alasan pertama neologisme Derrida: ia ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; ia juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer) – dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (defferer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). Differance mengingatkan kita pada sekumpulan istilah yang berkembang dalam karya Derrida di mana strukturnya mutlak bersifat ganda: pharmakon (baik racun maupun obat); supplement (baik surplus maupun tambahan yang diperlukan); hymen (baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam).

Pembenaran lain untuk neologisme Derrida juga datang dari teori bahasa Saussure. Menurut Saussure, tulisan itu bersifat sekunder bila dibandingkan dengan wicara yang diucapkan oleh semua anggota komunitas bahasa. Bagi Saussure, tulisan itu bahkan merupakan suara bentuk bahasa yang “cacat bentuk” dalam pengertian bahwa (melalui tata bahasa) ia dianggap menjadi representasi sejati darinya, sedangkan Saussure menfklaimbahwa pada kenyataannya esensi bahasa terkandung didalam wicara yang dijalani, yang selalu berubah. Derrida mempertanyakan perbedaan ini, karena dalam perbedaan, ia melihat bahwa baik Saussure maupun kaum strukturalis (bdk. Levi-Strauss) meninjau bahasa tulisan dengan menggunakan pengertian tulisan seperti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu yang berusaha mengabaikan segala kerumitan. Oleh sebab itu, tulisan dianggap sebagai yang sepenuhnya bersifat grafis, yang mungkin bisa membantu ingatan, namun dibandingkan wicara ia tetap bersifat sekunder; secara mendasar ia dianggap fonetik, dan mewakili suara dari bahasa. Wicara itu sendiri dianggap lebih dekat dengan pikrian, yang berarti pada emosi, gagasan, dan kehendak si pembicara. Oleh sebab itu, sebagai primer dan yang lebih asli, wicara dipertentangkan dengan tulisan yang bersifat sekunder dan representatif. Sebagai seorang gramatologis (teoretisi tentang tulisan) Derrida berusaha menunjukkan bahwa pembedaan ini tidak bisa bertahan. Sebagai contoh, istilah differance itu sendiri memiliki unsur grafis yang tak tereduksi lagi, yang tidak bisa diamati pada tataran suara. Selain itu, klaim yang mengatakan bahwa tulisan fonetik itu seluruhnya bersifat fonetik, atau wicara itu seluruhnya terkait dengan pendengaran menjadi dipertanyakan saat tanda baca yang sepenuhnya bersifat rafis muncul, bersama dengan saat diam (spasi) dalam wicara yang tidak bisa terwakili.

Entah bagaimanapun, seluruh oeuvre Derrida merupakan suatu penjelajah bentuk tulisan dalam pengertiannya yang paling luas sebagai suatu differance. Sampai pada titik tulisan itu mencakup unsur-unsur piktografik, ideografik, dan fonetik, tulisan memang tidak identik dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tulisan itu selalu tidak murni, dan dengan demikian menantang pengertian tentang identitas, dan akhirnya pengertian tentang asal usul sebagai sesuatu yang “sederhana”. Hal ini bisa seluruhnya ada atau tidak ada, tetapi ini adalah jejak dari penghapusannya dalam upaya mengejar transparansi. Lebih dari itu, di satu sisi tulisan itu lebih “asli” daripada bentuk fenomenalnya. Tulisan sebagai jejak, tanda, grafen menjadi prasyarat bagi semua bentuk fenomental. Pengertian inilah yang secara implisit terdapat dalam salah satu bab Of grammatalogy yang berjudul “The end of the book and the beginning of writing”. Bab ini menunjukkan bahwa dalam pengertiannya yang ketat, tulisan itu bersifat semu, bukan fenomenal; ia bukan apa yang dihasilkannya, melainkan yang memungkinkan dihasilkannya sesuatu. Ia membangkitkan seluruh medan sibernetika, matematika teoretis, dan teori informasi.[4]

Dalam perenungan tentang tema-tema keksusastraan, seni dan psikoanalisis, seperti juga tema-tema fislafat sejarah, salah satu strategi Derrida adalah menampakkan “ketidakmurnian” tulisan (dan identitas apa pun). Derrida sering berupaya memberikan pembenaran secara filosofis dengan menerapkan strategi retoris, grafis, dan puitis (seperti pada Glas, atau The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond) sehingga menyadarkan para pembaca akan kaburnya perbatasan antara disiplin (seperti filsafat dan sastra), dan materi-subjek (seperti karya tulis/filsafat dan autobiografi). Dalam presentasi pertamanya di Sorbonne pada tahun 1968 yang membahas difference secara lebih luas dan mendalam, seorang hadirin yang kritis mengatakan, meskipun dengan penuh penyesalan, “Dalam karya Anda, ungkapan itu begitu penting sehingga perhatian pendengar terus-menerus terpecah dan terarah, di satu sisi kepada cara Anda berbicara, dan di sisi lain kepada hal yang ingin Anda katakan.”

Derrida kemudian menjawab hal ini dengan mengatakan, “Saya berusaha menempatkan diri saya pada satu titik di mana hal yang ditandakan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah dari penandanya.”[5]

Petunjuk yang mengatakan tentang tidak mungkinnya memisahkan secara ketat dimensi puitis-serta-retoris naskah (tataran penanda) dari “kandungan” pesan atau makna (tataran yang ditandakan) adalah gerakan yang paling penting dan kontroversial dalam seluruh eksplorasi yang dilakukan Derrida. Meskipun beberapa kritikus sastra Amerika cukup tertarik pada strategi ini, ada yang berpikir sampai sejauh mana sang filsuf mampu mengendalikan strategi ini (secara sadar). Jika perbatasan disiplin dan genre sebenarnya adalah konvensi dengan sejarah tertentu – yaitu, bila mereka dibangun berdasar semacam keyakinan – di sini ada kemungkinan besar untuk merusaknya. Maka yang kemudian dirusak sebenarnya adalah prinsip kerja yang relatif rapuh, bukan suatu prinsip pokok yang sangat mendasar. Dalam karya Laclau (yang diilhami oleh Derrida) tentang teori politik, kerapuhan identitas inilah yang tampaknya memberikan kesegaran baru pada politik. Karena identitas adalah hasil bentukan dan bukan yang paling dasar, mereka pasti rapuh, tetapi tidak kurang penting.

Dari sudut “Yang Lain”, karya Derrida membuka suatu kreativitas baru yang olehnya minat terhadap tulisan sebagai gramatologi memiliki dampak praktis. Di sini kita ingat Derrida pernah menunjukkan bahwa landasan prinsip-prinsip metafisis itu rapuh dan sangat mendua. Karena ia memiliki identitas yang tetap, maka apa yang benar dan “sesuai” (seperti kata benda nama diri), akhirnya akan memunculkan suatu dekonstruksi dari yang “sesuai” ini (misalnya, sebuah nama tidak hanya menunjuk ke suatu objek atau pribadi yang sederhana, “nyata”, atau fenomenal; karena ia juga memiliki dimensi retoris yang memungkinkan adanya permainan kata). Bila sebuah nama diri ditunjukkan sebagai yang “tidak” sesuai, muncullah “tulisan” dalam pengertian Derrida. Nama penyair Prancis, F. Ponge (yang dalam sebuah esai terkenal Derrida diubah menjadi eponge [spon]), menjadi sumber tulisan filosofis yang kreatif dan kritis. Dalam bahasa Inggris, agar muncul serangkaian asosiasi yang “tidak tepat” (improper), kita hanya perlu memikirkan Wordsworth dan “joy” (kegembiraan) dalam nama Jocye. Melalui permainan kata, anagram, etimologi, atau berbagai ciri diakritis (ingat “joy” pada Joyce), nama diri bisa dikaitkan dengan berbagai sistem konsep, gagasan, atau kata-kata (termasuk yang ada dalam bahasa lain). Selain itu Derrida sebenarnya mengaitkan nama diri dengan berbagai jenis citra (imaji) dan suara sehingga, dari satu sudut pandang, naskah rujukan tampak memiliki hubungan yang sangat sedikit dengan naskah yang diulas (lihat perlakuannya terhadap karya Jean Genet dalam Glas; atau esai Signeponge tentang karya Francis Ponge). Sebenarnya, bila kritik sastra tradisional cenderung mencari kebenaran (baik itu semantik, puitis, maupun ideologis) pada naskah sastra yang ditulis sesamanya, dan kemudian menerapkan peranan sekunder dan terhormat saat berhadapan dengan “keunggulan” naskah tersbut, Deriida malah mengubah naskah “primer” menjadi sumber ilham dan kreativitas baru. Sekarang ini para kritikus/pembaca tidak lagi hanya melakukan penafsiran (yang memang tidak pernah sepenuhnya demikian), tetapi bahkan menjadi “penulis”.

Selain itu, bila akal sehat cenderung mengandaikan bahwa keberulangan kurang lebih merupakan kualitas bahasa yang bersifat kebetulan, sehingga kata, frase, kalimat, dan sebagainya bisa diulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda, maka sebenarnya ini adalah kualitas yang menurut Derrida memisahkan tataran penanda dengan yang ditandakan. Oleh sebab itu, jika makna itu terkait dengan konteks, maka dalam kaitannya dengan struktur bahasa, tidak akan ada konteks yang tepat untuk memberikan bukti pada makna akhir. Seperti dikatakan Jonathan Culler, konteks itu tak terbatas. Perdebatan Derrida dengan filsuf Amerika, John R. Searl tentang teori “perfomatif” dari J.L. Austin adalah persis tentang hal ini. Bila Austin berupaya untuk membuat perfomasi yang sesuai (melakukan sesuatu dengan mengatakannya – seperti saat membuat janji) bergantung pada realisasinya dalam konteks yang tepat oleh pelaku yang tepat, maka perfomasi yang tidak sesuai – seperti saat sseseroang mengucapkan “saya mau” di luar upacara perkawinan, atau saat rapat dibuka oleh orang yang salah – tidak bisa dihapuskan dari bahasa. Derrida menegaskan, hal ini terjadi karena ketidaksesuaian terkandung di dalam struktur perfomatif itu sendiri: kualitas keberulangan berati bahwa bahasa – termasuk tanda tangan – bisa dipakai oleh siapa pun pada setiap saat. Oleh sebab itu, keberulangan mensyaratkan kemungkinan adanya tanda tangan yang dipalsukan.

Singkatnya, pencarian filosofis Derrida ini mengklaim untuk melakukan dekonstruksi terhadap semboyan-semboyan yang dipakai secara luas baik dalam dunia akademik maupun dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu tidak netral; di dalamnya terdapat berbagai pra-anggapan dan asumsi kultural dari keseluruhan tradisi. Pada saat yang sama, penataan ulang secara kritis pada landasan filsofis dari tradisi ini, mungkin secara tak terduga, menghasilkan suatu penekanan baru terhadap otonomi individu dan kreativitas peneliti/filsuf/pembaca. Mungkin unsur yang bersifat anti-populis tetapi juga anti-Platonis dalam gramatologi adalah sumbangan Derrida yang paling penting bagi pemikiran zaman sesudah perang. (*)

[1] Lihat Jacques Derrida, ‘De Ia grammatologie (I), Critique, 223 (Desember 1965), hlm. 1016-1042; dan ‘De la grammatologie (II)’, Critique, 224 (Januari 1966), hlm. 23-53.

[2] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, London, New York, Oxford University Press, dicetak ulang tahun 1973, hlm. 40.

[3] Jacques Derrida, Of Grammatology, diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, Baltimore dan london, Johns Hopkins University Press, 1976, hlm. 145.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] David Wood dan Robert Bernasconi (ed.), Derrida and Differance’, Evanston, Northwestern University Press, 1988, hlm. 88.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending