Connect with us

Article

Gelora Cinta Chairil Anwar Pada Pacarnya, Mirat

mm

Published

on

Chairil Anwar adalah bagian tak terpisahkan dari terbentuknya identitas Indonesia. Intisari pernah memuat cerita –cerita eksklusif tentang penyari Indonesia paling tersohor itu, yang dituturkan oleh kawan dekat, istri, dan kekasihnya. Catatan berikut ditulis berdasarkan penuturan Sumirat, lebih dari 30 tahun lalu, tentang hubungannya dengan Chairil Anwar. Kehadiran sumirat dalam kehdiupan chairil, menghasilkan sajak-sajak lembut dan bernada rawan, tidak meradang menerjang seperti yang selama ini menjadi citra sang “binatang jalang”

Salah satu sajak Chairil Anwar terindah adalah Mirat Muda, Chairil Muda, yang ditulis pada tahun kematiannya, yakni 1949. Sajak itu disebut-sebut sebagai penggambaran seksualitas dalam kedekatannya dengan maut, yang berarti juga seksualitas sebagai dorongan daya hidup yang masih terus menyala-nyala sampai maut merenggut.

Berikut sajak itu selengkapnya:

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah

Menatap lama ke dalam pandangnya

Coba memisah matanya menantang yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil; dan bertanya: Adakah, adakah kau selalu mesra dan aku bagimu indah!

Mirat raba urut Chairil, raba dada

Dan tahulah dia kini, bisa katakan dan tunjukkan dengan pasti di mana menghidup jiwa, menghembus nyawa

Liang jiwa-nyawa saling berganti. Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati; hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas

Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras, menuntut tinggi tidak setapak berjarak dengan mati

 

Dengan sajak ini, terbukti bahwa erotisisme dan seksualitas yang terbuka tidak harus berarti pornografi, dan kehadiran sajak ini menepis anggapan sebagian peneliti, bahwa sastrawa Indonesia selalu bersikap malu-malu kucing untuk menggauli seks dalam karya-karyanya tentu komentar semacam itu dilontarkan sebelum Saman terbit. Tapi bahkan sebelu roman yang ditulis Ayu Utami itu memancing perbincangan hangat, antar lain karena eksplorasi seksualitas di dalamnya, pernyataan itu sudah terbanta oleh sajak Mirat Muda, Chairil Muda.

Sajak ini ditulis tahun 1949, namun dibubuhi keterangan: di pegunungan 1943- tampaknya boleh diandaikan bahwa Chairil sudah mengenal Mirat tahun itu. Berdasarkan data bahwa Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada tahun 1946k dan mendapat putri Evawani Alissa pada 1947, adalah suatu kenyataan bahwa Chairil terkenang-kenang kepada seorang perempuan dari masa lajangnya setelah berkeluarga. Jika sajak-sajaknya ditelusuri, setidak-tidaknya masih dua sajak lagi menyebut nama Mirat, yakni Sajak Putih (1944), yang dalam surat kepada HB Jassin beranotasi: Buat Tunangannku Mirat; dan Dengan mirat (1946), yang dalam kumpulan sajak Deru campur debu diubah judulnya menjadi orang berdua.

Siapakah Mirat? Seperti apakah Mirat? Jawabannya terdapat dalam majalah Intisari edisi Juni 1971, melalui laporan pengarang Purnawan Tjondronagoro: “CRIL, Penyair yang Kukagumi Sebagaimana yang Dikisahkan Mbakyu Sumirat.” Jadi, Mirat ini adalah Mbakyu Sumirat. Perhatikan bagaiman Purnawan menggambarkannya: “Ketika kami bertemu muka, aku memperoleh kesan betapa perempuan yang lembut tapi keras hati ini, seorang yang mempunyai pribadi menarik.”

Purnawan menemuinya ketika perempuan yang disebutkanya menarik itu berusia 48. Berarti ketika Chairil mengenalnya pada 1943, ia masih 20 tahun, dan boleh dibayangkan bagaimana pesonanya terhadap seorang penyair muda yang serba sensitif dan menyala-nyala. Seorang gadis 20 tahun pada masa sebelum Indonesia merdeka, memandang Chairil Anwar yang berusia 21 tahun. Apakah yang terjadi? Purnawan menuliskan kembali kenangan Mirat.

“Cril, demikian aku selalu memanggilnya, adalah seorang yang aneh sejak pertemuan kami pertama kali di Cilincing. Ketika itu Cril duduk bersandar ke sebatang pohon, membaca buku tebal. Mula-mula tiada menjadi perhatianku, tapi beberapa kali melewatinya, melihat dia tekun membaca tanpa peduli sekelilingnya, benar-benar membuatku heran. Aneh, pikirku, orang-orang bersenang-senang di sini, tapi dia lebih tenggelam dalam bukunya. Siapakah dia?”

Mirat dan keluarganya sedang berpiknik ke Pantai Cilincing, tempat rekreasi masa itu. Sikap Chairil yang begitu cuek rupanya menjerat hati Mirat, sehingga “dalam perjalanan pulang, pikiranku tiada lepas dari dia, kukhayalkan apa yang sedang bermain dalam angannya, kenapa sikapnya masa bodoh dan tidak peduli. Ya, aku jadi tertarik.”

Mirat adalah perempuan yang belajar melukis kepada S. Sudjojono maupun Affandi. Namun pembelajarannya kali ini terganggu: “Juga di waktu aku melukis, tampangnya sering kali menggangu diriku.”

Celakanya, tanda Tanya di kepala Mirat mendapat jawaban tak terduga. Beberapa minggu setelah periwsitwa Cilincing, seorang saudara Mirat bertanya:

“Masih ingat orang yang kita jumpai di Cilincing, yang kau anggap aneh itu?”

“Ya, kenapa?”

Mirat mengaku, saat itu jantungnya berdegup, dan ia bertanya sendiri dalam hati: “Ya, kenapa perasaanku jadi bergelora?”

“Dia kena perkara, dituduh mencuri. Tadi pagi sdiang pengadilan memutuskan hukuman denda. Dia tidak berduit. Jadi harus menjalani hukuman. Aku teringat kau, jadi kutebus saja. Besok sore dia mau singgah kemari.”

Begitulah, malam dilalui Mirat dengan gelisah. Tak terbayangkan oleh Mirat bahwa lelaki eksentrik yang menganggu pikirannya itu akan muncul di rumahnya.

Tapi kemudian segalanya makin jelas.

Nama: Chairil Anwar

Pekerjaan: Penyair.

Penghasilan: Tidak tetap.

Namun Curriculum Vitae seperti itu bukan alangan bagi Mirat untuk semakin mengangguminya: “suaranya bersemangat, daya khayalnya kuat bukan main. Aku benar-benar tertarik padanya.”

Maka kedua insan itu pun bergaul, kadang-kadang nonton, makan di restoran, dengan sebuan catatan: “Sekali-sekali saja Cril membayar, aku tahu dia tidak berduit.” Catatan lain: “Pakaiannya? Kalau tidak salah, hanya dua setel. Dia seorang yang rapi berpakaian, tidak pernah tampak lusuh, selalu bersih dan seperti selalu kena setrika. Cril seorang yang malas mandi, tapi keringatnya tidak berbau.”

Peristiwa selanjutnya semakin tipikal bagi siapa pun yang berpacaran dengan Charil Anwar: “Dan dibawanya tumpukan kertasnya yang berisi hasil karya sastranya. Kami berdiskusi, sulit untuk mengalahkan atau membelokkan kemauannya. Dia seorang yang terlampau yakin kepada dirinya sendiri, tegas dan berani.”

Ujung-ujungnya: “kukagumi dirinya sepenuh hatiku.” Betapa tidak akan terbuai jika Chairil “mengurus” Mirat seperti berikut? “Aku senang, karena Cril sering kali mengawaniku melukis. Dia membaca sajak-sajak yang habis dibuatnya dan aku mendengarkan deklamasinya sambil melukis.”

Tak heran jika Mirat berpendapat: “Sungguh ideal kehidupan kami, sungguh menyenangkan.”

Ideal bagi Mirat, tapi nyatanya tidak begitu bagi orang tuanya. Suatu ketika ia dipanggil pulang ke Paron, suatu dusun terpencil di Madiun, Jawa Timur, dan ia pun berangkat meninggalkan Cril yang kurindukan. Charil berjanji akan menyusul dan memang ditepatinya. Apa boleh buat, agaknya pertemuan dengan Chairil yang pasti tidak akan mencari muka itu semakin menyakinkan penolakan orang tua Mirat. Menurut Mirat, adik-adiknya memandang Chairil dengna sinis. “Ya, tak dapat kusalahkan” pikir Mirat. “Seorang asing tanpa pekerjaan dating untuk melamarku.”

“anak cari kerja dulu yang baik dan tetap, nanti kita bicarakan lagi,” ujar Ayah Mirat yang sangat bisa dimaklumi oleh Mirat yang sementara itu masih berpendapat: “Tapi daya Tarik Cril benar-benar kuat dan melekat. Dia adalah idaman hatiku.”

Surat-surat Chairi Anwar kepada HB Jassin pada bulan Maret 1944, sebagian berasal dari: d/a Yth. R.M. Djojosepoetro, Paron – mungkinkah itu ayahanda Sumirat itu? Seperti biasa, Chairil tidak pernah menyerah: “Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal di kemudian, karena aku akan sanggup membuktikan, bahwa karya-karyaku itu bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa Mirat, aku akan terus berjuang untuk memberikan bukti.”

Meskipun begitu, jika sajak Dengan Mirat dibaca kembali, walau baru diselesaikannya tahun 1946, sebetulnya terlihat juga keraguan Chairil Anwar:

Kamar ini jadi sarang penghabisan

Di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau rakit hitam

‘kan terdamparkah

atau terserah

pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau mengikut juga bayangan itu

 

Chairil dan Mirat abadi dalam sajak, tapi mereka tidak pernah berhasil menikah. Setelah kejadian itu, Chairil pamit dengan uang saku ayah Mirat, karena memang tidak punya uang sepeser pun. Cril (tentu dengan ejaan masa lalu dibaca Sril) pergi meninggalkan setumpuk berkas yang menjadi kenangan Sumirat. Ia masih kembali lagi menengok Sumirat, di mana keduanya berboncengan naik sepeda melihat-lihat sawah keliling desa, sambil berdiskusi dengan berapi-api tentang sajak-sajak karyanya, warna-warna lukisan Sumirat, maupun masa depan negeri yang kelak bernama Indonesia. Penindasan Jepang telah semakin menyalakan semangat pemberontakannya.

Setelah itu mereka tidak bertemu lagi. Mereka saling berkirim surat, dan menurut Mirat, “Sajak-sajaknya banyak yang tertuju kepadaku.” Namun perang kemerdekaan yang merambah Desa Paron telah membakar kopor berisi buku-buku dan berkas tulisan Chairil Anwar yang disimpang Mirat. “Hanya beberapa catatan memori dan sajak saja yang dapat kuselamatkan, sisanya habis menjadi abu bersama rumah kami.”

Mirat atau Sumirat, kemudian mendengar semuanya tentang Chairil. Bagaimana ia menikah, punya anak, dan mati muda – serta tentu saja bagaimana namanya menjadi besar: “Kini Cril tiada lagi. Cril, penyair yang sepanjang hidupku kukagi dan dambakan, sebagai seorang penyair besar dari zamannya. Dia benar, Cril membuktikan dirinya orang besar, seperti yang selalu dikatakannya kepadaku. Dia meninggalkan seorang istri dan anak perempuan. Ingin aku bisa menjumpai mereka, bagaimanapun aku pernah mengenal baik dengan almarhum.”

Penyair Indonesia paling terkenal itu dilahirkan 26 Juli 1922 di Medan, dan meninggal 28 April 1949 di Jakarta karena sakit parah. Riwayat hidupnya yg singkat mewakili citra romantic seniman bohemian yang mati dalam kemiskinan, meski semenjang jenazahnya masih di CBZ (kini RS Tjipto Mangunkoesoemo) pun sudah ribuan orang menengoknya, seperti diceritakan Asjari Rahman dalam Intisari September 1971. Hari meninggalnya selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Berikut ini adalah sebuah sajak yang ditujukan kepada Mirat, yang memperlihatkan riak maupun gelombang dalam jiwa seorang Chairil:

Sajak Putih

(Buat tunanganku Mirat)

 

bersandar pada sari warna pelangi

kau depanku bertudung sutra senja

di hitam matamu kembang mawar dan melati

harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

meriak muka air kolam jiwa

dan dalam dadaku memerdu lagu

menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita Mati dating tidak membelah …

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku …

 

*Seno Gumira Ajidarma, berdasarkan tulisan Purnawa Tjondronagoro, “Cril, Penyari yang Kukagumi Sebagaimana yang Dikisahkan Mbakyu Sumirat”, dalam Intisari Juni 1971. Featured Imaga By http://baltyra.com/ Kurnia Effendi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Editor's Choice

11 Penggambaran Paling Realistis tentang Gangguan Jiwa dalam Novel

mm

Published

on

Terdapat tradisi besar tentang gangguan jiwa dalam karya fiksi. Penulis era Victoria senang menyembunyikan perempuan gila di atas sebuah Menara atau loteng, dimana dia dapat perlahan-lahan mengupas wallpaper dari dindingnya atau merintih dan mengerang dengan tidak terkendali sehingga membuat takut para governess muda yang berusaha tidur di lantai bawah. Kemudian, buku-buku akan memperkenalkan pembaca pada perawat-perawat jahat, pemaksaan lobotomi, dan upaya yang ceroboh dalam terapi kejut listrik. Tak perlu dijelaskan, gangguan jiwa memang lebih tidak dipahami pada masa lampau dibandingkan dengan saat ini.

Beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan dalam cara pengobatan gangguan jiwa dan bagaimana hal itu digambarkan dalam literatur. Karakter diizinkan untuk turun dari loteng dan menceritakan kisah mereka sendiri. Dalam memoar, pengarang membagi pengalaman-pengalaman mereka dalam catatan-catatan kasar dari sudut pandang orang pertama. Girl, Interrupted, Prozac Nation, dan Running with Scissors hanyalah beberapa contoh – lihatlah daftar dalam link ini 20 Greatest Memoirs of Mental Illness untuk mendapatkan lebih banyak rujukan.

11 novel yang tercantum dibawah ini juga berbicara dengan sangat jujur mengenai gangguan jiwa. Terkadang selubung fiksi mengizinkan para pengarang untuk mencerikan kisah-kisah yang bahkan lebih nyata-mereka dapat menulis tanpa mengkhawatirkan reputasinya sendiri atau reaksi-reaksi dari anggota keluarga. Buku-buku mereka memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang gangguan jiwa dan cara kita berhadapan dengan gangguan jiwa dalam kebudayaan kita. Mereka juga melakukan apa yang semua literatur besar harus lalkukjan-membiarkan kita untuk mengenal dan peduli pada karakter-karakter selayaknya manusia.

Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf (1925)

Satu hari dalam hidup Clarrisa Dalloway, seorang wanita kelas atas Inggris. Melalui karakter Septimus, seorang veteran perang dunia pertama yang mengalami gangguan paska trauma perang, buku ini mengkritisi perlakuan terhadap penyakit kejiwaan. Woolf menggunakan perjuangannya sendiri dengan gangguan bipolar untuk mengisi karakter Septimus.

Tender is the Night karya F. Scott Fitzgerald (1934)

Scott Fitzgerald menulis novel ini ketika istrinya, Zelda, sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan skizofrenia. Dikisahkan di Riviera Prancis pada tahun 1920an, Tender is the Night adalah sebuah cerita tentang psikoanalis Dick Diver dan istrinya Nicole…. Yang kebetulan juga menjadi pasiennya.

The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger (1951)

Hikayat yang jujur tentang ketidakpuasan masa muda, The Catcher in the Rye masih laku terjual sekitar 250.000 kopi per tahun. Holden Caulfield, pahlawan muda kita, pertama kali muncul dalam sebuah cerita pendek tahun 1945 dalam majalah Collier dengan judul “I;m Crazy.”

The Bell Jar karya Sylvia Plath (1963)

Awalnya dipublikasikan dibawah nama samaran, The Bell Jar merupakan catatan semi-autobiografi dari depresi klinis yang dialami sendiri oleh Plath, sebuah sensasi yang ia deskripsikan sebagai berikut: “Dimanapun aku duduk-di atas dek sebuah kapal atau di kafe di jalan-jalan Paris atau Bangkok-aku akna duduk dibawah tudung gelas yang sama, terkukus dalam udaraku sendiri yang masam.”

I Never Promised You a Rose Garden karya Joanne Greenberg (nama pena: Hannah Green) (1964)

Deborah Blau didiagnosa dengan skizofenia paranoid, menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa. Kisahnya selaras dengan pengalaman-pengalaman pengarangnya, dan dokter dalam ceritanya didasarkan pada dokternya di dunia nyata, seorang psikiater German, Frieda Fromm-Reichmann.

Disturbing the Peace karya Richard Yates (1975)

Novel semi-autobiografi ini menceritakan kisah John C. Wilder, seorang perkerja periklanan berubah menjadi penulis skenario yang menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa dan menderita (seperti halnya Yates) delusi-delusi dikarenakan allkohol.

Ordinary People karya Judith Guest (1976)

Conrad mencoba bunuh diri setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, sehingga orangtuanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dengan bantuan dari psikiater, Conrad memeriksa depresinya dan mencoba untuk memahami kebekuan hubungannya dengan ibunya. Film adaptasi dari Ordinary People, diperankan oleh Mary Tyler Moore memenangkan Academy Award untuk film terbaik tahun 1980.

She’s Come Undone karya Wally Lamb (1992)

Delores Price perlahan-lahan menguraikan kekusutannya setelah berurusan dengan kejadian traumatis sebagai seorang remaja. Sebagai seorang perempuan berusia 20an, dia menghabiskan bertahun-tahun di sebuah institusi setelah sebuah upaya bunuh diri. Dia pada akhirnya berhenti terapi dan berusaha untuk membangun kembali hidupnya dengan caranya sendiri. Lamb kembali menulis tentang gangguan jiwa dalam buku selanjutnya, I Know This Much is True.

 The Hours karya Michael Cunning (1998)

Terinspirasi dari buku pertama dalam daftar kita, Mrs. Dalloway, kisahnya menampakkan satu hari di dalam hidup tiga wanita berbeda zaman, termasuk Virginia Woolf sendiri. The Hours memenangkan Pullitzer Prize untuk karya fiksi di tahun 1999.

The Passion of Alice karya Stephanie Grant (1998)

Salah satu novel yang kurang dikenal dari daftar ini, The Passion of Alice merupakan sebuah potret tangguh yang menyentuh tentang seorang perempuan berusia 25 tahun yang dimasukkan ke sebuah klinik gangguan makan setelah dia hampir mati dikarenakan gagal jantung.

The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides (2011)

Leonard, salah satu karakter utama dalam novel ini, hidup dengan depresi manik yang mempengaruhi pekerjaannya, persahabatannya, dan hubungan percintaannya. Di dalam sebuah wawancara dengan Slate, Eugenides membungkam rumor bahwa Leonard dibuat berdasarkan David Foster Wallace.

——————————————-

Diterjemahkan editor bahasa Galeri Buku Jakarta, Marlina Sophiana, dari 11 of the Most Realistic Portrayals of Mental Illness in Novels by Rebecca Kelley. Pertama kali ditayangkan di www.bustle.com, 13 May 2014.

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending