Connect with us

Cerpen

Gelang Emas

mm

Published

on

Naguib Mahfouz*

Hussein menyadari bahwa pekerjaan yang didapatnya, yang telah membuatnya berkorban banyak, tak diperoleh dengan mudah. Dia telah menghabiskan waktu tiga bulan penuh dalam penantian dan nyaris putus asa, berkali-kali mengunjungi vila Ahmed Bey Yousri dan kantor Departemen Pendidikan. Lewat proses panjang, Bey akhirnya memberi tahu bahwa dia telah mengatur agar dia ditempatkan sebagai juru tulis di sebuah sekolah menengah di Tanta dan mengawali masa tugasnya pada awal Oktober.

Anak muda itu merasa senang, seperti juga keluarganya, namun kegembiraan mereka dinodai oleh kepahitan. Samira telah menunggu dengan sabar penempatan ini, bersengsaraan. Tetapi penempatan di sebuah kota yang jauh mengecewakan harapan ini. Perjalanan puteranya dari Kairo dan biaya hidup di Tanta akan menyita biaya. Di samping itu, di permukaan cakrawala muncul bayangan menakutkan sebuah perpisahan yang belum siap mereka hadapi. Rasa sedih membuatnya bertanya-tanya akan nasib yang membuatnya mesti berpisah dengan anak lelaki yang tak pernah menyusahkannya. Dalam diri anak itu ia melihat bayangan dirinya sendiri. Bersama Hussein dia merasa nyaman dan tenang, hal yang tak ditemuinya pada anak-anaknya yang lain. Sebetulnya dia bukanlah favoritnya, kesayangannya adalah sibandel Hassanein. Tapi pada saat-saat tertentu, Hussein merupakan bagian paling berharga dalam hidupnya.

Hussein belum pernah meninggalkan keluarganya walau sehari pun, dan kesedihannya atas perpisahan itu amat dalam. Perasaannya terbagi antara keterikatan terhadap keluarga dan harapan untuk meringankan beban mereka. Dia sering membayangkan dapat mengembalikan Nefisa ke tempatnya semula, seorang wanita terhormat di rumahnya segera setelah dia menerima gaji pertamanya. Tapi dia merasa impiannya mengabur gaji pertamanya. Tapi dia merasa impiannya mengabur di udara. Besok dia akan meninggalkan keluarganya dalam keadaan menyedihkan.

Ini, barangkali, menjadi alasan baginya untuk sekali lagi menemui Ahmed Bey Yousri, memohon padanya untuk menggunakan pengaruhnya agar dia bisa tetap berada di Kairo. Tapi rupanya Bey telah bosan dengannya; katanya, keinginannya terlalu sulit dipenuhi saat ini. Tanpa uang untuk hidup di Tanta sampai saat menerima gaji pertama bulan depan, Hussein menghadapi masalah baru. Bagaimana caranya dia dapat memperoleh uang? Dia menimbang-nimbang untuk meminta pada Nefisa, nmaun kakaknya itu selalu memberikan seluruh penghasilannya yang terbatas pada ibunya, menyisakan nyaris tak sepeser pun untuk dirinya sendiri. Bahkan, kalaupun perabotan rumah yang masih tersisa dijual, tetap saja tak mencukupi kebutuhannya.

Lalu setelah berpikir panjang, disimpulkannya bahwa satu-satunya yang bisa menolongnya adalah Hassan. Ibunya setuju dan yakin Hassan mampu membantu. Untuk pertama kalinya, ia memberi Hussein alamat abangnya itu. Dia pergi ke Jalan Clot Bey dan mencari letak lorong Gandab. Di awal perjalanannya, hatinya dipenuhi harapan. Pelan-pelan harapan itu  memudar menjadi kecemasan hingga akhirnya dia bertanya-tanya apakah Hassan bisa menolongnya, dan apakah dia akan kehilangan pekerjaan itu hanya karena kegagalannya mendapatkan beberapa pound.

Ketika akhirnya dia berhasil menemukan lorong yang dimaksud, suasana hatinya telah diliputi perasaan pesimis. Lorong itu sempit dan berliku dengan rumah-rumah berdempetan di kedua sisinya. Udara dipenuhi bau ikan goreng, tampak orang-orang bergerombol dan bermain kartu, terdengar pula gema suara pedagang menawarkan dagangannya dengan bahasa campur aduk dengan istilah kasar, suara batuk, dan orang berdahak yang meludahkannya ke tepi jalan. Permukaan tanah yang diselimuti debu, sampah sayuran, dan bangkai hewan itu agak menanjak sehingga lorong itu seolah-olah dibangun di atas bukit. Hussein menuju rumah bernomor tujuh belas, sebuah rumah kuno bertingkat dua. Begitu sempitnya sehingga lebih mirip menara. Tak jauh dari tempat itu duduk seorang perempuan berjualan kacang-kacangan dan buah kurma. Dengan ragu-ragu, dia memasuki rumah itu. Saat menaiki tangga berbentuk spiral yang tak ada pegangannya, hidungnya diserang aroma menusuk. Sesampainya di tingkat dua, dia mengetuk pintu. Dengan keras dan sedikit putus asa, dia mengetuk pintu sampai tangannya terasa sakit. Dalam keputusasaannya dia berdiri di situ, tak tahu mesti berbuat apa. Saat hampir beranjak pergi, didengarnya sebuah suara kasar berteriak marah, “Siapa jahanam yang mengetuk pintu sepagi ini?”

Jantung Hussein berdentam senang. Menjawab suara itu, yang dikenalinya sebagai suara abangnya, dia berkata, “Ini aku, Hussein!”

“Hussein!” Suara itu terdengar heran. Lalu Hussein mendengar suara sebuah benda berat digeser. Saat pintu terbuka, dilihatnya Hassan, rambutnya acak-acakan dan matanya sembab kemerahan. Mengulurkan tangan untuk menyalami saudaranya, Hassan memekik setengah kaget, “Hussein! Selamat datang. Masuklah. Kuharap bukan musibah yang membawamu ke sini. Ada apa?”

Agak bingung, Hussein masuk. Segera hidungnya mencium bau dupa, aroma yang berbeda dengan bau menusuk yang tadi tercium. Dia berada di sebuah lorong gelap yang menghubungkan dua ruangan. Yang satu di sebelah kanan pintu, satu lagi di sebelah kiri. Tersenyum minta maaf pada abangnya, Hussein berkata, “Apa aku datang terlalu pagi? Sekarang sudah jam sebelas.” Hassan menyeringai. “Aku biasa bangun siang. Penyanyi bekerja malam hari dan tidur siang hari,” katanya sambil tertawa. “Tapi sebelumnya, ceritakan padaku, bagaimana kabar keluarga kita?”

“Syukurlah, mereka baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?”

Mengajak adiknya masuk ke ruangan di sebelah kanan, Hassan menjawab, “Syukur pada Allah, semuanya baik-baik saja.”

Mereka memasuki sebuah ruangan kecil yang nyaris tersekat menjadi dua bagian, yang satu berisi sebuah tempat tidur, yang lainnya berisi lemari dengan sebuah sofa terletak di dekat dinding bagian dalam. Tergantung di atas sofa itu sebuah potret besar Hassan bersama seorang perempuan berkulit amat gelap bertubuh sintal yang melendot manja di bahunya, tangan perempuan itu melingkari leher abangnya. Pandangan Hussein terpaku pada perempuan itu, keheranannya memancing perhatian abangnya.

“Ada apa?” Tanya Hassan tertawa.

“Kamu sudah menikah, Bang?” Tanya Hussein naïf.

Seraya menyilakan Hussein duduk di sofa, Hassan melompat ke atas ranjang dan bersila di situ. “Hampir,” jawabnya.

“Kalian bertunangan?”

“Tak menikah dan tidak bertunangan.”

“Apa maksudnya?”

“Maksudku hubungan jenis ketiga!”

Dengan tercengang adiknya itu menatap Hassan penuh keheranan. Lalu dia tersenyum tiba-tiba. Wajahnya tersipu malu. Hassan tertawa nyaring menyaksikannya.

“Bahkan tanpa surat nikah pun dia sudah menjadi istriku dalan segala hal,” katanya enteng.

“Kamu sedang sendirian sekarang?” tanya Hussein khawatir.

Hassan mengangguk dan melengkuh keras seperti seekor keledai.

“Kamu tak akan bilang apa-apa soal ini kan,” katanya memperingatkan.

“Tentu saja.”

“Aku tak mau melukai perasaan keluargaku, itu saja. Ngomong-ngomong kamu pernah bercinta dengan perempuan?” tanya Hassan seraya tertawa.

Dengan tersipu-sipu anak muda itu menggelengkan kepala.

“Itu lebih baik buatmu,” katanya. “Jika suatu hari kamu menikah,” tambahnya, “datanglah padaku dan akan kuberikan padamu saran-saran yang menakjubkan.”

“Aku belum berpikir soal pernikahan, kamu tahu sendiri,” Hussein berkata tenang.

Hassan berpindah tempat. “Oh, ya! Ngomong-ngomong bagaimana kabar terakhir usahamu mencari kerja?”

Hussein merasa gembira karena merasa mendapat jalan untuk mengutarakan maksudnya.

“Aku kemari untuk menyampaikan kabar padamu bahwa aku telah dijanjikan pekerjaan sebagai juru tulis di sebuah sekolah menengah di Tanta dan aku akan mulai bekerja tanggal satu Oktober,” katanya.

“Kamu akan pergi ke Tanta?” tanya Hassan heran. “Apa gunanya bagi ibu kalau kamu pergi ke Tanta?”

“Sedikit berguna. Habis bagaimana lagi?”

“Itu nasib buruk namanya. Itulah hasil bersekolah!”

Untuk mengatasi kebingungannya, Hussein tersenyum. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, dia berkata, “Aku mesti berangkat akhir September. Seperti kamu tahu, gaji pegawai negeri baru akan dibayar setelah sebulan.”

Hassan sadar arah pembicaraan adiknya sebelum Hussein selesai bicara, namun dia berusaha tak memperlihatkan itu pada wajahnya.

“Berapa gaji yang akan kamu terima?” tanyanya.

“Tujuh pound.”

“Betapa bodoh ibu susah-susah menyekolahkanmu! Dan kamu pasti tak punya satu milliem pun untuk ongkos perjalanan dan biaya hidup di sana sampai ujung Oktober bukan?”

Hussein meringis tak berdaya, canggung oeh rasa malu dan kebingungan yang disebabkan situasi ini, seolah-olah dia sedang minta bantuan pada seorang asing. Sementara itu benak Hassan terus berputar, ia terdiam dengan pandangan mata tertuju pada adiknya. Hussein datang di saat yang tidak tepat. Aku perlu uang. Tapi aku tak yakin kapan akan mendapatkannya. Kini aku sedang bokek berat. Bajingan! Aku tak mungkin bilang apa adanya, biarpun neraka membinasakan kami. Dia amat membutuhkan uang itu dan harus mendapatkannya. Masa depan keluarga kami tergantung pada beberapa pound ini. Sesungguhnya, dia tak butuh terlalu banyak, hanya seharga beberapa ons hasnish. Dalam waktu seminggu, seorang pemuda ceroboh akan menghabiskan uang sebanyak itu untuk main perempuan di Darb Tiab. Sana’a bisa mengatasinya sendirian. Aku tak terlalu peduli soal itu. Aku mesti menolong Hussein. Tapi bagaimana caranya? Kenapa dia baru datang sekarang? Ah, sampai kapan keluargaku akan terus menerus kecewa padaku? Terdiam, dia terus menatap saudaranya hingga Hussein merasa takut dan waswas. Tiba-tiba Hassan beranjak dari tempat tidur. Dia menuju lemari, lalu membuka sebuah laci. Setelah mengaduk-aduk isi laci itu sejenak, dia kembali ke ranjang. Tangannya memegang empat buah gelang emas. Disorongkannya benda itu pada adiknya.

“Ambil gelang ini dan jual semuanya, berapapun harganya,” katanya terburu-buru.

Tangan Hussein terasa kaku, matanya terbelalak, ia merasa tak enak dan gelisah. “Apa ini? Milik siap gelang itu?” teriaknya seolah-olah tertuju pada dirinya sendiri.

Merasa terganggu oleh kegelisahan adiknya, Hassan berujar pendek, “Itu gelang emas milik Sana’a, istriku’!”

“Tapi apa hakku mengambilnya?”

“Abangmu memberikannya padamu. Kamu tak ada urusan dengan pemiliknya.”

Gelisah, Hussein bertanya-tanya dengan galau, hidup macam apakah yang dijalani abangnya?

“Aku tak bisa menerimanya. Tak adakah jalan lain?”

Unjuk harga diri ini membuat Hassan naik pitam.

“Kalau kamu sekuno itu, tinggalkan saja benda itu. Aku tak punya apa-apa lagi buatmu,” katanya ketus.

Pada awalnya Hussein mengira kakaknya main-main. Tapi mengamati kesungguhan wajahnya, dia merasa gelisah. Gelang milik seorang perempuan! Dan perempuan macam apa? Pikirnya. Ini tak mungkin terjadi dan tak bisa dipercaya. Aku tak pernah membayangkan hal ini bahkan dalam mimpi buruk sekalipun. Jika aku melakukan hal ini, bagaimana aku bisa menghormati diriku sendiri setelahnya? Mestikah kutolak gelang itu? Jika itu yang kulakukan, apa yang mesti kukerjaka? Dia tak punya uang lagi. Aku mesti mempercayainya. Apa jadinya jika aku melepaskan pekerjaan itu? Aku tak bisa menolak. Tapi aku juga tak bisa menerima! Dia terus terombang-ambing, tak bisa mengambil keputusan. Hanya ada satu hal yang layak mendapat kutukan, pikirnya. Hidup ini. Ya, kehidupan dan nasib, dan kedua orangtua yang telah membawaku kedunia ini. Ayahku yang dulu senang bermain dengan dawai-dawai kecapi! Tiba-tiba dia merasa diperingatkan. Terkutuklah aku! Berani-beraninya aku berpikir seperti itu! Bayangan jenazahnya masih tercetak jelas dalam ingatanku. Semoga Allah mengasihinya. Dia tak patut dipersalahkan. Kami semua bagaikan ayam, mengais-ngais makanan di antara kotoran. Betapa menjijikkan! Biarlah aku menolak. Tapi untuk bertahan hidup kami mesti menerimanya. Tak seorang pun aku mengetahui hal  ini! Dia menunggu keputusanku. Menerima atau binasa! Aku akan menganggapnya sebagai utang yang akan kulunasi suatu saat nanti. Aku jujur, akan kubayar utangku. Jika aku tak menolaknya, aku tak berhak menyebut diriku seorang yang jujur. Aku kelaparan. Jujur tapi lapar. Dan aku tak akan menolak. Persetan dengan hidup ini! Kini kusadari apa yang membuat abangku menjalani hidup seperti itu. Keluarga kami musnah dan hidup memang kejam. Aku mesti membuat keputusan sebelum kepalaku meledak. Seperti ayam….

“Bagaimana?” terdengar suara Hassan.

Terpaku, Hussein menatap abangnya, suara Hassan membuatnya gugup. Hassan masih menggenggam gelang itu di tangannya. Dengan menundukkan pandangannya, Hussein berkata kemalu-maluan, “Terima kasih atas kebaikanmu. Aku menerimanya. Kumohon kamu menghitungnya sebagai pinjaman, nanti akan kubayar.”

“Terimalah sebagai hadiah. Jangan lupa, bilang pada ibu bahwa aku meminjam uang itu dari Tuan Ali Sabri.”

Perkataan Hassan yang menyebut-nyebut ibu mereka membangkitkan kegundahan Hussein, membekaskan kepedihan yang dalam. Saat dia mengambil benda itu dan mengantonginya rasa masygulnya bertambah.

“Maaf telah mengganggumu. Lebih baik aku segera pergi agar kamu bisa melanjutkan tidur siangmu,” kata Hussein.

Hassan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, menyalami adiknya sebagai tanda perpisahan.

“Semoga Tuhan melindungimu. Salamku untuk semua dan bilang pada ibu aku akan segera mengunjunginya,” ujar Hassan.

Dengan perasaan tertekan, Hussein meninggalkan rumah itu. Seraya menuruni tangga yang tak ada pegangannya, dia terserap dalam lamunannya, tak ambil peduli pada aroma menusuk yang menyerang hidungnya. (*)

*Naguib Mahfouz adalah seorang novelis Mesir yang mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra pada tahun 1988. Naguib Mahfouz dilahirkan di daerah Gamaliya di Kairo.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending