Connect with us

Interview

Gabriel Garcia Márquez: Sastra dan Jurnalisme Kita

mm

Published

on

Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Geram dengan apa yang dia lihat melanda jurnalisme di Amerika Latin, Gabriel Garcia Márquez, peraih Hadiah Nobel lewat novel One Hundred Years of Solitude, yang juga mantan reporter koran, pada Maret 1995 memulai gerakan “sekolah tanpa dinding”–Fondasi Jurnalisme Ibero-Amerika Baru. Tujuannya, menyegarkan kembali jurnalisme di kawasan itu lewat workshop keliling. Dia yakin bahwa yang selama ini diajarkan dan dipraktikkan perlu diperbaiki; dan dia mengeluhkan para jurnalis yang lebih tertarik untuk memburu breaking news–dengan kebanggaan dan privilese yang diberikan oleh selembar kartu pers—daripada mengasah kreativitas dan etika. Mereka membanggakan diri bisa membaca keseluruhan isi sebuah dokumen rahasia, tapi tulisan mereka penuh dengan kesalahan tata bahasa serta ejaan, dan tidak punya kedalaman. “Mereka abai terhadap pijakan bahwa artikel terbaik bukanlah yang paling dahulu memberitakan sebuah kejadian, tapi yang penyajiannya paling baik,” dia menuliskan kata-kata inagurasinya.

Garcia Márquez mengkritisi cara berbagai universitas dan penerbit media di Amerika Latin memperlakukan profesi ini–yang dia sebut sebagai pekerjaan paling baik di dunia. Tak sepakat dengan sikap kalangan kampus bahwa jurnalis bukanlah seniman, Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Dengan dukungan dari UNESCO, yayasan Garcia Márquez–yang berbasis di Barrangquilla, Kolombia—selama kurang dari dua tahun mengorganisasikan dua puluh delapan workshop yang dihadiri tiga ratus dua puluh jurnalis. Tema lokakarya-lokakarya itu: pengajaran tentang teknik-teknik naratif reportase di media cetak, radio, dan televisi hingga berbagai diskusi tentang etika, kebebasan pers, peliputan di tempat berbahaya, dan tantangan-tantangan teknologi baru yang menghadang profesi ini. Pelatihan dalam workshop diberikan para profesional yang cakap dan ditujukan untuk jurnalis dari angkatan yang lebih muda, lebih disukai yang di bawah 30 tahun, dengan pengalaman lapangan setidaknya tiga tahun. Kendati berbasis di Kolombia, workshop itu juga dilaksanakan di Ekuador, Venezuela, Meksiko, dan Spanyol. Bagian utama dari kurikulum yang dimiliki yayasan ini adalah workshop tiga hari yang dipimpin langsung oleh Gabriel Garcia Márquez tentang reportase.

Sebagai jurnalis yang menulis tentang Amerika Latin dalam bahasa Inggris, aku mendaftar dan diterima untuk mengikuti workshop-nya yang kelima. Saking girangnya bakal bertemu dengannya, aku –yang biasanya tukang telat dalam segala hal—menjadi peserta yang datang paling awal di Pusat Kebudayaan Spanyol di Cartagena, Kolombia, sebuah bangunan berlantai dua yang direnovasi dengan indah, dihiasi tanaman begonia merah dan air mancur di selasarnya, yang dimiliki oleh pemerintah Spanyol. Latar ini sudah sangat pas. Cartagena adalah rumah bagi Garcia Márquez, dan banyak tokoh-tokoh dalam karya fiksinya berseliweran di jalanan beton kerikil di seputaran area kolonial kota ini. Di situlah, beberapa blok dari Pusat Kebudayaan Spanyol, di alun-alun Katedral, Florentina Ariza mengamati cara berjalan Fermina Daza, si remaja sekolah menengah itu, yang tak lagi seperti sebelumnya. Sierva Maria los Todos, bocah sebelas tahun yang rambutnya terus tumbuh setelah meninggal, tinggal di Biara Santa Clara yang letaknya tak jauh dari situ. Berhampiran dengan tembok-tembok yang melindungi Cartagena dari para bajak laut Inggris, rumah Garcia Márquez terletak sangat dekat dengan biara itu –yang sekarang berubah menjadi hotel bintang lima di mana para tamunya bisa leluasa memandangi rumah sang penulis. “Bikin malu saja,” kata seorang tamu hotel kepadaku. “Saya bisa melihat dia sarapan setiap pagi. Akhirnya saya tutup saja tirainya.”

Senin, 8 April 1996, pukul 09.00 malam

Aku adalah satu di antara dua belas jurnalis yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval. Kami sangat hening, laksana sekumpulan murid sekolah Jesuit yang menunggu pelajaran dimulai. Gabriel Garcia Márquez membuka pintu dan masuk, memandangi kami dengan tatapan usil, seolah tahu betapa gugupnya kami. Garcia Márquez –banyak dipanggil dengan Gabo—berpakaian serba putih. Di pantai Karibia Kolombia, para pria memang sering mengenakan pakaian serba putih, bahkan sampai sepatu-sepatu mereka. Dia mengucapkan selamat pagi, dan seketika kami berdiri, membungkuk, dan secara bersamaan mengucapkan: “Buenos dias, profesor.”

*

Itu adalah prolog dari naskah panjang Silviana Paternoso yang ditulis pada Musim Dingin 1996 untuk kerja-kerja sastra dan jurnalisme Marquez. Artikel lengkapnya hampir 20 halaman sedang dikerjakan oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta untuk terbir bersama artikel lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan tahun ini.

Dan tahukah Anda..

Para presiden, menteri, politisi, penerbit koran, dan pemimpin gerilya berkonsultasi dengannya, berkirim surat kepadanya, mengajaknya bertemu. Apa pun yang dia katakan, tentang subjek apa saja, selalu menjadi headline. Tahun lalu, sekelompok gerilyawan di Kolombia menculik saudara kandung seorang mantan presiden. Tuntutan mereka adalah agar Garcia Márquez mau menjadi presiden. Dalam surat tuntutannya, mereka menulis: “Nobel, selamatkan tanah airmu.”Buat kami orang Kolombia, menyebut Garcia Márquez dengan nama panggilan Gabo berarti membuat sukses yang dia raih lebih dekat kepada kami, dan–layaknya sebuah keluarga yang bangga—menjadikan kehebatan dia sebagai milik kami. Di sebuah wilayah yang carut-marut oleh aksi kekerasan, kemiskinan, penyelundupan narkoba, dan korupsi, dia adalah putra kebanggaan yang bisa dipamer-pamerkan–bahkan oleh mereka yang tak menyetujui kedekatannya dengan Fidel Castro.

Di Barranquilla, kampung halaman kami, kota tempat dia bekerja sebagai reporter pada 1950 dan bertemu dengan bakal istrinya, Mercedes, su mujer de siempre, namanya benar-benar melekat. Dia bukan saja dipanggil Gabo melainakan Gabito–panggilan akrab oleh para orangtua, kekasih, atau sahabat kepada kesayangan mereka.

Namanya disebut oleh para peserta berbagai kontes kecantikan sesering nama Paus. Jawaban para kontestan pun repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Márquez. Siapa yang paling Anda kagumi? Ayah, Paus, dan Garcia Márquez. Siapa sosok yang Anda ingin temui? Garcia Márquez dan Paus. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para jurnalis Amerika Latin, jawabannya bisa jadi sama–mungkin tanpa ada Paus-nya. Buat kami, para jurnalis Amerika Latin yang berada di tahap awal karier kami, dia adalah tokoh panutan. Kami suka berucap bahwa dia sebelum menjadi novelis adalah seorang jurnalis. Dia sendiri bilang, dia tak pernah berhenti menjadi wartawan.

*

Sementara itu menjadi pendongeng, Gabo katakan, adalah bawaan dari lahir, bukan dibentuk. “Seperti penyanyi, menjadi pencerita itu sesuatu yang diberikan oleh alam kepadamu. Tak bisa dipelajari. Soal teknik iya memang bisa dipelajari, tapi bisa menyampaikan sebuah cerita itu berhubungan dengan sesuatu yang Anda bawa dari lahir. Mudah untuk membedakan antara pencerita yang baik dan buruk: mintalah mereka bercerita tentang film terakhir yang mereka lihat.”

Lalu dia memberikan penekanan, “Yang paling sulit adalah menyadari bahwa diri Anda bukan pencerita yang baik lalu punya keberanian untuk melupakannya dan mengerjakan sesuatu yang lain.” Cesar Romero belakangan bilang kepadaku bahwa dari semua statemen Gabo, inilah yang paling menohok buatnya.

Dia memberikan contoh, Beberapa saat setelah dia menerima Hadiah Nobel, seorang jurnalis muda di Madrid menghampirinya ketika dia hendak keluar dari hotel, untuk meminta wawancara. Gabo, yang tak suka diwawancara, pun menolaknya, tapi mengundangnya untuk ikut dengan dia serta istrinya selama seharian. “Dia menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kami berbelanja, istri saya menawar-nawar barang, kami makan siang, kami berjalan, kami bebincang-bincang; dia bersama kami di mana-mana.” Ketika mereka kembali ke hotel dan Gabo hendak mengatakan sampai jumpa, dia memintanya untuk wawancara. “Saya bilang kepadanya, dia mesti pindah pekerjaan,” kata Gabo. “Dia kan sudah punya bahan tulisan lengkap, dia sudah mereportase.”

Dia melanjutkan dengan bicara tentang perbedaan antara wawancara dan reportase–kesalahan pengertian yang senantiasa dilakukan para jurnalis.  “Wawancara dalam jurnalisme cetak selalu berupa dialog antara si jurnalis dan seseorang yang mengungkapkan sesuatu atau berpendapat tentang sebuah kejadian. Reportase adalah rekonstruksi sebuah kejadian yang dilakukan dengan sangat cermat dan jujur.

*
Kami rasa begitu kaya dan begitu banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan tentu saja kami merasa buku “Memikirkan Kata” benar-benar layak anda nantikan dan miliki ! 🙂

Interview

Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Menghisap Bahasa

mm

Published

on

Yogyakarta, saat itu mungkin tahun 2004 atau 2005, di kamar kos teman saya di daerah Papringan, menjelang petang teman saya datang, kemudian dengan antusiasme yang mencolok menyeru pada saya “Ada puisi, lucu ! coba baca!”

Dia menyodorkan saya koran Kompas, hanya beberapa lembar, halaman-halamannya sudah lusuh dan tidak utuh. Saya tidak tahu dia memungut di mana, yang pasti bukan beli karena harga koran itu mahal saat itu, dan juga hanya ia bawa separuhnya. Dan tentu saja itu koran edisi beberapa hari atau beberapa pekan yang lalu atau mungkin tahun lalu..

Saya malas, saat itu bahkan saya bukan pembaca rutin halaman Puisi harian kompas, saya tidak menyukai puisi. Teman saya memaksa, dengan mambacakan kutipan puisi “lucu” tadi dengan cergas seingat bait yang ada dalam benaknya; “Celananya pas, paksah celananya?”. Saya merespon biasa saja, “Maksudnya, Bung..” katanya lebih antusias, “Paskah—perayaan paskah ditakoni Yesus celananya pas tidak?”

Oh sialan! Dibuat lucu begitu bab agama! Saya lekas merasa tertarik karenanya. Saya pun duduk dan membaca sendiri puisi itu—puisi berjudul “Celana Ibu”.

Begitulah ingatan saya pada penyair Joko Pinurbo atau yang kini akrab dengan sapaan “Jokpin” mudah dibentangkan; puisinya lucu !

Lucu memang idiom konyol bagi sebagian orang, tapi banyak dari kita juga paham, hanya orang dengan kapasitas intelektual tertentu bisa menghasilkan hal lucu—terlebih dalam wahana yang memang bukan komedi seperti halnya puisi.

Jokpin dan puisi-puisinya memang tidak bisa disebut sebagai “puisi lucu” atau “penyair yang lucu”—jelas itu salah besar lebih-lebih jika dipahami secara literal saja. Puisi Jokpin bagaimana pun kaya dengan bobot yang bahkan memendam tragedi manusia yang sublim; sosoknya juga tak ada penampakan seorang yang lucu, garis pipinya kaku, matanya tajam, malah lebih terkesan seperti seorang perenung yang memikirkan terlalu banyak untuk diketetahui muasal atau realitas asalinya—seperti seorang filsuf. Hanya saja dia menuangkannnya dalam sajak dan puisi.

Subjektifitas yang demikian menuntun rasa ingin tahu saya, apa dan bagaimana laki-laki kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu sebagai penyair. Sesederhanakah hal itu seperti penampilannya sehari-hari? Saya ingin tahu bagaimana dia menghasilkan puisi, bagaimana dia menulis dan dengan dunia seperti apa dia menghimpun peluru untuk untuk ditembakkan ke dunia kita melalui puisi-puisinya itu.

Dalam proses kreatifnya berpuluh tahun hingga kini, Joko Pinurbo telah diganjar berbagai penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta. Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, juga Tokoh sastra versi majalah TEMPO. Dan yang terpenting adalah penghargaan dari pembaca berupa rasa hormat dan menjadi penyair penting zaman ini bagi begitu banyak pembaca dan penikmat sastra indonesia.

Saya tak terkecuali, sebagai penikmat puisi, saya memupuk rasa penasaran untuk bertanya pada sang penyair tentang dunianya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk keperluan penerbitan buku “Memikirkan Kata” ini, dan itu terbalas dengan antusiasme! Tentu hal itu suatu keberuntungan, mengingat bagaimana sibuknya ia sekarang, harus membagi waktu dengan keinginannya untuk terus tinggal dalam ruang batin kreatifnya tapi dunia kini meminta waktunya lebih banyak, untuk mengisi kelas menulis, diskusi, bedah buku, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya ajukan kepadanya.

Dan Berikut wawancara dengan penyair yang bagi saya, seperti seorang yang tak pernah lelah menghisap bahasa dari kebakaran yang melanda rumahnya.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Dan menulis Puisi?

Saya tertarik menulis sejak di bangku SMA. Awalnya karena suka membaca. Kebetulan koleksi perpustakaan sekolah/asrama saya mengagumkan. Banyak koleksi bacaan sastra yang bagus-bagus. yang membuat saya tergerak untuk belajar menulis. Di samping itu, tradisi penerbitan majalah di sekolah/asrama saya juga sangat hidup. Saya beruntung tumbuh di sekolah/asrama yang budaya baca dan budaya tulisnya berkembang subur.

Kapan pertama kali puisi-puisi anda dipublikasikan media?

Akhir tahun 1970-an. Tahun 1978 kalau tak salah. Saat di SMA puisi saya sudah dimuat di media (majalah) luar.

Bagaimana Anda menulis? Dengan pensil atau perangkat seperti laptop?

Pada mulanya dengan bolpoin, lalu dengan mesin ketik, lalu dengan komputer (PC), dan terakhir dengan laptop.

Apakah Integritas struktural dan nada sangat penting

dalam puisi-puisi Anda? Atau lebih bebas?

Tentu. Saya termasuk penulis yang sangat memperhatikan ketertiban dan keteraturan berbahasa. Koherensi dan logika, misalnya, sangat penting.

Meskipun banyak puisi saya yang cair dan “bebas”, saya tetap menjaga nada dan irama supaya kata-kata mengalir lancar dan enak.

Apakah anda membuat draft pertama dan banyak draft untuk satu buah puisi sampai Anda mengatakan “ya, ini final” dan mempublikasikannya?

Pada mulanya adalah draf, kemudian disunting puluhan kali sampai tersusun bentuk yang “final”. Bagian terberat dan menyita waktu adalah penyuntingan.

Apakah secara bombastis anda pernah atau bahkan seriang marah tentang titik koma yang digunakan secara buruk?

Sering. Saya sangat memperhatikan gramatika dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Titik koma pun tak luput dari perhatian saya karena bisa menentukan logika dan makna.

Dengan penyair siapa Anda pernah duduk santai dan berbicara  apa saja kemudian anda mengenang dari satu dua obrolan yang sangat penting meskipun tampak remeh?

Saya pernah duduk santai dan mengobrol dengan banyak penyair: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, dan banyak lainnya. Salah satu yang paling saya kenang adalah pembicaraan tentang akik dengan Acep. Kebetulan Acep penggemar dan kolektor akik. Dia mengumpamakan pekerjaan mengolah dan mengasah kata seperti menggosok batu akik sedemikian rupa sampai diperoleh sebutir akik yang halus, cemerlang dan memancarkan “aura”. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian.

Apakah mungkin untuk mengajar seseorang, atau belajar, bagaimana menulis dengan baik?

Sangat mungkin. Banyak hal teknis yang bisa dipelajari, dilatihkan,  dan “diajarkan”. Menulis toh bukan klenik atau ilmu gaib.

Ngomong-ngomong, pernah dengar afrizal mengatakan berhenti menulis puisi? Atau pertanyaanya apakah penyair bisa dan bijak pada titik tertentu memutuskan berhenti menulis puisi? Anda Punya rencana berhenti menulis puisi?

Saya pernah dengar itu. Kenyataannya, sampai saat ini Afrizal masih menulis dan masih terus bereksplorasi. Memang ada kalanya seorang penulis merasa jenuh dan bingung harus menulis apa dan bagaimana lagi. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Tak ada cara lain selain bahwa seorang penulis harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Biasanya, setelah membaca karya orang lain, motivasi itu akan hidup kembali.

Bisakah Anda menggambarkan hari rutin Anda? Bagaimana Anda menghabiskan hari?

Tak ada yang istimewa dengan hari-hari saya. Saya menjalani hidup seperti manusia (dan warga negara) pada umumnya. Yang pasti, setiap hari saya pasti bergaul dengan kata-kata—antara lain untuk menjaga hubungan batin dengan kata-kata.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya orang yang “gampangan”. Saya tidak punya kiat dan ritual khusus untuk itu. Cukup dengan kopi/teh dan rokok.

Apa saran menulis terbaik yang pernah anda terima? Dari siapa dan bagaimana ceritanya?

Saran terbaik saya terima dari Aristoteles: “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.” Saya mengalami sendiri bagaimana bersabar, berjuang, dan berjerih payah untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Setiap kali menulis saya memperlakukan diri saya sedang belajar dan berlatih menulis.

Buku-buku yang paling anda gemari dan dalam benak anda sangat penting karena memberi pondasi bagi karya-karya Anda?

Injil, karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Anthony de Mello, Carlos Maria Dominguez.

Yang terakhir, 1 judul puisi milik anda yang paling berkesan bagi anda pribadi?

Ha-ha-ha…. Sulit. Enggak nemu.

Continue Reading

Interview

Jacinda Ardern, Keberanian dan Kemanusiaan yang Dibutuhkan Zaman Kita

mm

Published

on

Keamanan berarti bebas dari ketakukan akan kekerasan. Tetapi itu juga berarti bebas dari ketakutan atas sentimen-sentimen rasis dan kebencian yang menciptakan tempat bagi kekerasan untuk tumbuh. Dan setiap orang dari kita mampu mengubahnya.

And that is why you will never hear me mention his name. He is a terrorist. He is a criminal. He is an extremist. But he will, when I speak, be nameless. And to others I implore you: speak the names of those who were lost, rather than name of the man who took them. He may have sought notoriety, but we in New Zealand will give him nothing. Not even his name.

[.. A] nd in this role, I wanted to speak directly to the families. We cannot know your grief, but we can walk with you at every stage. We can. And we will, surround you with aroha, manaakitanga and all that makes us, us. Our hearts are heavy but our spirit is strong.

Dua paragraf tersebut adalah Pidato resmi Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (37) atas tragedi Christchurch yang menyebabkan banyak korban dari komunitas Muslim di negaranya. Kita seketika mendengar suara yang sungguh manampilkan empati sekaligus keberanian, ketabahan sekaligus ketulusan. Dan terutama kekuatan seorang pemimpin—perempuan pemimpin.

Pidato yang lirih tapi suaranya menggema ke seluruh dunia dan menyadarkan, seharunya, banyak manusia untuk mengutuk terror dalam bentuk apa pun, mengakhiri kebencian dan segala yang melemahkan kemanusiaan kita. Ia sungguh layak memimpin sebuah bangsa dengan 200 etnis dan lebih dari 160 bahasa di dalamnya—bangsa yang mengucapkan selamat datang dan membuka pintu lebar untuk orang lain—dan kini akan tertutup rapat bagi mereka yang datang dengan kebencian dan membawa ketakutan; saya benar-benar kagum padanya sebagai manusia dan terutama sebagai seorang perempuan.

Keberanianannya menyala di tengah banyak opini minor tentang perempuan dan pemimpin atau inetelektual perempuan yang kerap dipandang rentan. Matanya memperlihatkan betapa kuat dan sama dengan siapa saja dari para pemberani yang jiwanya bebas memabela kemanusian, kebenaran dan cinta kasih. Seorang yang beriman dan memahami nilai kemanusiaan.

Lihat matanya yang tabah, ketabahan yang juga sama dengan keberanian, dia bicara dengan hatinya—We can. And we will, surround you with aroha, manaakitanga and all that makes us, us. Our hearts are heavy but our spirit is strong—Dunia memang mudah menghancurkan kita, tapi mestinya kita belajar, untuk memiliki hati yang lapang dan kuat, yang dipenuhi empati dan pandangan jernih pada cinta kasih sesama, harus ditegakkan dengan kokoh dan masing-masing kita belajar, harus belajar untuk memiliki hati dan ketabahan juga keberanian semacam itu.

Kita telah lama berada dalam habitat moral dan psikologis yang cenderung menganggap mereka tidak memiliki keberanian lebih dari lelaki, tidak ada nyali untuk bicara tentang kebenaran dan berdiri tegap melawan teror dan kebencian yang kini makin menghawatirkan.

Sekarang kita sadar kita butuh lebih banyak pemimpin dan intelektual perempuan untuk membesarakan hati peradaban dari krisis kepedulian atau bahkan (krisis) sikap pemberani yang tengah melanda dunia kita secara global sebab egoisme identitas dari ketimpangan ekonomi yang terus kita sembunyikan.

Dan berikut adalag pidato lengkap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, seharusnya kita terinspirasi dan bertambah keberanian untuk menjadi tulus dan menyayangi sesama:

 

Al salam Alaikum

Damai bagimu. Dan damai bagi kita semua.

Jumat tengah hari yang sunyi itu menjadi hari terkelam kita. Tetapi bagi para keluarga mereka, lebih daripada itu. Itu adalah hari di mana kegiatan ibadah yang sederhana-mempraktikkan keyakinan dan agama mereka sebagai muslim-berujung pada kehilangan orang-orang terkasih.

Orang-orang terkasih itu merupakan saudara laki-laki, para ayah, dan anak-anak.

Mereka warga New Zealand. Mereka adalah kita. Dan karena mereka adalah kita, kita sebagai sebuah bangsa, kita menangisinya.

Kita mengemban beban kepedulian yang besar terhadap mereka. Dan tuan dewan, kita punya banyak sekali yang harus dikatakan dan harus dilakukan.

Dan dalam peran ini, saya ingin berbicara langsung kepada para keluarga. Kami tidak bisa memahami kesedihanmu seutuhnya, tapi kami akan berjalan bersamamu dalam tiap langkah. Kita bisa. Dan kami akan mengelilingimu dengan aroha, manaakitanga dan segala yang membuat kita satu. Hati kita bersedih tetapi jiwa kita kuat.

*

Seorang pemuda 28 tahun-seorang warga Australia-telah dituntut dengan satu dakwaan pembunuhan. Tuntutan lain akan menyusul. Dia akan menghadapi seluruh kekuatan hukum New Zealand. Keluarga para korban akan mendapatkan keadilan.

Dia mengincar banyak hal dengan aksi terornya, tapi satu di antaranya adalah ketenaran.

Dan itulah mengapa anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya. Dia seorang teroris. Seorang kriminal. Seorang radikal. Tetapi dia, ketika saya bicara, tak bernama. Dan kepada kalian semua saya menghimbau anda: sebut nama-nama mereka yang menjadi korban, ketimbang dia yang mengambil nyawa mereka. Dia mungkin menginginkan ketenaran, tetapi kita di New Zealand tidak akan memberinya apa-apa. Tidak bahkan namanya.

*

Saya telah ucapkan berulang kali tuan dewan, kita adalah sebuah bangsa dengan 200 etnis, 160 bahasa. Kita membuka pintu bagi bangsa lain dan menyambutnya. Dan satu-satunya hal yang harus berubah usai kejadian Jumat itu adalah bahwa pintu ini harus ditutup bagi mereka yang mengamini kebencian dan ketakutan.

Benar, pelaku yang melakukan tindakan itu tidak berasal dari sini. Dia tidak dibesarkan di sini. Dia tidak menemukan ideologinya di sini, akan tetapi itu tidak berarti bahwa pandangan hidup yang sama tidak ada di sini.

Saya yakin bahwa sebagai sebuah bangsa, kita ingin menyediakan segala kenyamanan yang bisa kita tawarkan bagi komunitae Muslim kita di saat-saat terkelam ini. Dan itu benar. Tumpukan bunga di depan pintu-pintu masjid di seluruh negeri, nyanyian-nyanyian spontan di luar gerbangnya. Itu semua merupakan cara mengekspresikan luapan cinta dan empati. Namun kita ingin bertindak lebih jauh.

Kita ingin setiap orang di komunitas ini juga merasa aman. Keamanan berarti bebas dari ketakukan akan kekerasan. Tetapi itu juga berarti bebas dari ketakutan atas sentimen-sentimen rasis dan kebencian yang menciptakan tempat bagi kekerasan untuk tumbuh. Dan setiap orang dari kita mampu mengubahnya.

Mari kita nyatakan duka mereka sebagaimana mereka melakukannya.

Mari kita dukung mereka saat mereka berkumpul kembali untuk berdoa.

Kita adalah satu, mereka adalah kita.

Perdana Menteri Jacinda Ardern

Continue Reading

Interview

Percakapan dengan TS Eliot

mm

Published

on

The British Library_T S Eliot by Lady Ottoline Morrell © The estate of Lady Ottoline Morrell. Creative Commons Non-Commercial Licence.

Sejak menikah dengan Eliot, Haig-Wood kerap frustasi. Depresinya memengaruhi kehidupan Eliot yang juga mulai merasa kecewa dengan dunia sekitarnya. Rasa terasing dari kehidupan inilah yang mendorongnya untuk menulis puisi terkenalnya The Waste Land yang berisikan respon atas dekadensi zaman. Ia menunjukkan puisi ini kepada Ezra Pound yang memangkasnya menjadi sepertiga dari bentuk asli. Kebetulan ia menganggap Ezra Pound sebagai “Il miglior fabbro”, “Ahli Besar”. Selama tinggal di London, ia menjadi Direktur Faber and Faber, dan berselingkuh dengan sekretaris muda berusia 32 tahun, Nona Esme Valerie Fletcher.

From Conversations with TS Eliot 

A rare and unpublished conversation with T S Eliot (1888-1965) by Prof Shiv K Kumar (1921-2017)

Thomas Stearns Eliot lahir pada 26 September 1888, di St. Louis, Missouri. Mulanya ia bersekolah di Smith Academy. Di sekolah itu, ia mulai menulis puisi pada usia 14 tahun, dengan bimbingan Edward Fitzgerald, yang dikenal karena menerjemahkan Rubaiyat karya Omar Khayyam. Namun karena tidak puas, ia menghancurkan karya-karyanya (salah satunya puisi pertamanya berjudul “A Fable for Feasters”). Ia juga sempat menulis beberapa cerita pendek, termasuk “The Man Who Was King”. Lantas pergi ke Milton Academy di Massachusetts.

Setelah bekerja di Harvard sebagai asisten filsuf, ia pergi ke Paris dan belajar filsafat pada Henri Bergson di Sorbonne. Selepas merampungkan studi di Paris, ia kembali ke Harvard kemudian belajar filsafat India dan bahasa Sanskerta. Ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Merton College, Oxford, Inggris. Selama tinggal di Inggris, ia bertemu seorang gadis muda Inggris, Vivienne Haig-Wood, lantas keduanya menikah. Mereka tinggal di sebuah flat di London, tempat ia bertemu dengan Bertrand Russell yang kemudian berselingkuh dengan istrinya.

Sejak menikah dengan Eliot, Haig-Wood kerap frustasi. Depresinya memengaruhi kehidupan Eliot yang juga mulai merasa kecewa dengan dunia sekitarnya. Rasa terasing dari kehidupan inilah yang mendorongnya untuk menulis puisi terkenalnya The Waste Land yang berisikan respon atas dekadensi zaman. Ia menunjukkan puisi ini kepada Ezra Pound yang memangkasnya menjadi sepertiga dari bentuk asli. Kebetulan ia menganggap Ezra Pound sebagai “Il miglior fabbro”, “Ahli Besar”. Selama tinggal di London, ia menjadi Direktur Faber and Faber, dan berselingkuh dengan sekretaris muda berusia 32 tahun, Nona Esme Valerie Fletcher. Mereka menikah diam-diam ketika Elliot berusia 68 tahun. Sebuah plakat dinding memperingatinya dengan kutipan dari puisinya “East Coker”: “In my beginning is my end. In my end is my beginning”. Selama tinggal di Inggris, ia memperoleh kewarganegaraan dari negara itu. Ia merasa terhormat dengan Order of Merit, Légion d’Honneur, dan kemudian memperoleh anugerah Nobel Sastra pada 1948. Koleksi puisinya, termasuk The Love Song of J Alfred Prufrock, The Waste Land dan Four Quartets. Beberapa naskah lakon yang dapat disebutkan: Murder in the Cathedral, The Family Reunion, The Cocktail Party, The Confidential Clerk danThe Elder Statesman. Naskah kritiknya di antaranya adalah Collected Essays.

Eliot meninggal karena emfisema (pembengkakan jaringan dalam tubuh karena adanya udara) di London pada 4 Januari 1965 pada usia 76. Eliot adalah penyair bagi kalangan terpelajar, bukan pembaca awam. Tak heran, “The Lemon Squeezer School of Criticism”, (meminjam istilah Eliot), berkembang maju dengan sederet catatan kaki pada puisinya, khususnya The Waste Land yang memiliki catatan kaki panjang. Pembaca terpelajar lebih tertarik untuk merujuk ke sumber-sumber seperti The Tibetan Book of The Dead, The Brihadaranyaka Upanishad, The Dhammapada dan St. Augustine’s Confessions. Sangat sedikit pembaca yang membaca puisinya secara langsung.

Saya tertarik kepada Eliot karena hubungannya dengan India. Saya mengetahui Eliot belajar bahasa Sanskerta di Oxford, kemudian filsafat di Sorbonne Paris yang memiliki professor filsafat Bergson. Karena itu saya menulis surat untuknya, menanyakan apakah konsep waktu dalam The Four Quartets dipengaruhi oleh filsuf ini. Saya terkesan dengan responnya yang cepat, namun tertarik dengan caranya berbicara dengan saya.

Ketika mengamati surat itu dengan cermat, saya membayangkan Eliot sebagai laki-laki berkerah putih dengan pola pikir kolonial yang menyebut setiap wartawan sebagai Esquire, tuan yang terhormat, bukan Tuan. Saya paham, Eliot adalah penulis yang tidak ingin egonya dilemahkan oleh referensi apapun tentang dirinya yang dipengaruhi Bergson. Saat mengakui ia murid Bergson, ia menambahkan bahwa ia telah melampaui pengaruhnya.

Ia mengatakan jejak Bergson harus diambil dalam alam bawah sadar. Lalu saya bertanya-tanya, mengapa ia mengawali buku The Four Quartets dengan kutipan dari Heraclitus: “Kau tak bisa melangkah ke sungai yang sama kedua kalinya, karena air mengalir.”

Ini merupakan kredo sentral dari filsafat Bergson yang melihat kehidupan sebagai “le flux ininterrompu”, mengalir tanpa henti. Ia menekankan bahwa kehidupan manusia adalah proses, bukan keadaan. Dengan kata lain, semua manusia terperangkap dalam proses berkelanjutan untuk menjadi.

Saya menulis surat kepadanya, untuk membuat janji bertemu. Ia membalas, mengundang saya untuk minum teh di kantornya di Faber and Faber. Sesampainya di sana, saya mendapati gedung berlantai tiga dan kantor Eliot berada di lantai dua. Dengan amat gugup, saya mengetuk pintu, dan suara ramah menyambut, “Masuk, Tuan Kumar.”

Eliot duduk di belakang meja mahoni besar. Saya mendapati seorang laki-laki berusia di akhir lima puluhan, dengan rambut rapi, kemeja kaku dan dasi merah. Ia mengulurkan tangan kanan dan berkata, “Selamat datang.” Saya berdiri di sana, kewalahan dengan laki-laki yang sangat ingin saya temui. Setelah saya duduk di kursi, kami mengobrol.

“Sebagai awalan, bukankan saya sudah menjawab pertanyaanmu lewat surat soal pengaruh Bergson?” Eliot bertanya.

Ya, tuan, benar,” jawab saya. Saya memperhatikan mejanya yang teratur rapi dengan setumpuk berkas di sisi kiri dan berkas lainnya di sisi kanan.

Usai jeda, saya melanjutkan, “Bagaimana bisa Anda menjadi direktur penerbit sementara pada dasarnya Anda penulis kreatif?”

Ia menjawab sambil tersenyum, “Saya harus mencari nafkah. Tulisan tak cukup membuat saya untuk terus lanjut.” (FN, SC)

*) Selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta, Mei-Juni 2019.

 

Continue Reading

Trending