Connect with us

Interview

Gabriel Garcia Márquez: Sastra dan Jurnalisme Kita

mm

Published

on

Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Geram dengan apa yang dia lihat melanda jurnalisme di Amerika Latin, Gabriel Garcia Márquez, peraih Hadiah Nobel lewat novel One Hundred Years of Solitude, yang juga mantan reporter koran, pada Maret 1995 memulai gerakan “sekolah tanpa dinding”–Fondasi Jurnalisme Ibero-Amerika Baru. Tujuannya, menyegarkan kembali jurnalisme di kawasan itu lewat workshop keliling. Dia yakin bahwa yang selama ini diajarkan dan dipraktikkan perlu diperbaiki; dan dia mengeluhkan para jurnalis yang lebih tertarik untuk memburu breaking news–dengan kebanggaan dan privilese yang diberikan oleh selembar kartu pers—daripada mengasah kreativitas dan etika. Mereka membanggakan diri bisa membaca keseluruhan isi sebuah dokumen rahasia, tapi tulisan mereka penuh dengan kesalahan tata bahasa serta ejaan, dan tidak punya kedalaman. “Mereka abai terhadap pijakan bahwa artikel terbaik bukanlah yang paling dahulu memberitakan sebuah kejadian, tapi yang penyajiannya paling baik,” dia menuliskan kata-kata inagurasinya.

Garcia Márquez mengkritisi cara berbagai universitas dan penerbit media di Amerika Latin memperlakukan profesi ini–yang dia sebut sebagai pekerjaan paling baik di dunia. Tak sepakat dengan sikap kalangan kampus bahwa jurnalis bukanlah seniman, Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Dengan dukungan dari UNESCO, yayasan Garcia Márquez–yang berbasis di Barrangquilla, Kolombia—selama kurang dari dua tahun mengorganisasikan dua puluh delapan workshop yang dihadiri tiga ratus dua puluh jurnalis. Tema lokakarya-lokakarya itu: pengajaran tentang teknik-teknik naratif reportase di media cetak, radio, dan televisi hingga berbagai diskusi tentang etika, kebebasan pers, peliputan di tempat berbahaya, dan tantangan-tantangan teknologi baru yang menghadang profesi ini. Pelatihan dalam workshop diberikan para profesional yang cakap dan ditujukan untuk jurnalis dari angkatan yang lebih muda, lebih disukai yang di bawah 30 tahun, dengan pengalaman lapangan setidaknya tiga tahun. Kendati berbasis di Kolombia, workshop itu juga dilaksanakan di Ekuador, Venezuela, Meksiko, dan Spanyol. Bagian utama dari kurikulum yang dimiliki yayasan ini adalah workshop tiga hari yang dipimpin langsung oleh Gabriel Garcia Márquez tentang reportase.

Sebagai jurnalis yang menulis tentang Amerika Latin dalam bahasa Inggris, aku mendaftar dan diterima untuk mengikuti workshop-nya yang kelima. Saking girangnya bakal bertemu dengannya, aku –yang biasanya tukang telat dalam segala hal—menjadi peserta yang datang paling awal di Pusat Kebudayaan Spanyol di Cartagena, Kolombia, sebuah bangunan berlantai dua yang direnovasi dengan indah, dihiasi tanaman begonia merah dan air mancur di selasarnya, yang dimiliki oleh pemerintah Spanyol. Latar ini sudah sangat pas. Cartagena adalah rumah bagi Garcia Márquez, dan banyak tokoh-tokoh dalam karya fiksinya berseliweran di jalanan beton kerikil di seputaran area kolonial kota ini. Di situlah, beberapa blok dari Pusat Kebudayaan Spanyol, di alun-alun Katedral, Florentina Ariza mengamati cara berjalan Fermina Daza, si remaja sekolah menengah itu, yang tak lagi seperti sebelumnya. Sierva Maria los Todos, bocah sebelas tahun yang rambutnya terus tumbuh setelah meninggal, tinggal di Biara Santa Clara yang letaknya tak jauh dari situ. Berhampiran dengan tembok-tembok yang melindungi Cartagena dari para bajak laut Inggris, rumah Garcia Márquez terletak sangat dekat dengan biara itu –yang sekarang berubah menjadi hotel bintang lima di mana para tamunya bisa leluasa memandangi rumah sang penulis. “Bikin malu saja,” kata seorang tamu hotel kepadaku. “Saya bisa melihat dia sarapan setiap pagi. Akhirnya saya tutup saja tirainya.”

Senin, 8 April 1996, pukul 09.00 malam

Aku adalah satu di antara dua belas jurnalis yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval. Kami sangat hening, laksana sekumpulan murid sekolah Jesuit yang menunggu pelajaran dimulai. Gabriel Garcia Márquez membuka pintu dan masuk, memandangi kami dengan tatapan usil, seolah tahu betapa gugupnya kami. Garcia Márquez –banyak dipanggil dengan Gabo—berpakaian serba putih. Di pantai Karibia Kolombia, para pria memang sering mengenakan pakaian serba putih, bahkan sampai sepatu-sepatu mereka. Dia mengucapkan selamat pagi, dan seketika kami berdiri, membungkuk, dan secara bersamaan mengucapkan: “Buenos dias, profesor.”

*

Itu adalah prolog dari naskah panjang Silviana Paternoso yang ditulis pada Musim Dingin 1996 untuk kerja-kerja sastra dan jurnalisme Marquez. Artikel lengkapnya hampir 20 halaman sedang dikerjakan oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta untuk terbir bersama artikel lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan tahun ini.

Dan tahukah Anda..

Para presiden, menteri, politisi, penerbit koran, dan pemimpin gerilya berkonsultasi dengannya, berkirim surat kepadanya, mengajaknya bertemu. Apa pun yang dia katakan, tentang subjek apa saja, selalu menjadi headline. Tahun lalu, sekelompok gerilyawan di Kolombia menculik saudara kandung seorang mantan presiden. Tuntutan mereka adalah agar Garcia Márquez mau menjadi presiden. Dalam surat tuntutannya, mereka menulis: “Nobel, selamatkan tanah airmu.”Buat kami orang Kolombia, menyebut Garcia Márquez dengan nama panggilan Gabo berarti membuat sukses yang dia raih lebih dekat kepada kami, dan–layaknya sebuah keluarga yang bangga—menjadikan kehebatan dia sebagai milik kami. Di sebuah wilayah yang carut-marut oleh aksi kekerasan, kemiskinan, penyelundupan narkoba, dan korupsi, dia adalah putra kebanggaan yang bisa dipamer-pamerkan–bahkan oleh mereka yang tak menyetujui kedekatannya dengan Fidel Castro.

Di Barranquilla, kampung halaman kami, kota tempat dia bekerja sebagai reporter pada 1950 dan bertemu dengan bakal istrinya, Mercedes, su mujer de siempre, namanya benar-benar melekat. Dia bukan saja dipanggil Gabo melainakan Gabito–panggilan akrab oleh para orangtua, kekasih, atau sahabat kepada kesayangan mereka.

Namanya disebut oleh para peserta berbagai kontes kecantikan sesering nama Paus. Jawaban para kontestan pun repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Márquez. Siapa yang paling Anda kagumi? Ayah, Paus, dan Garcia Márquez. Siapa sosok yang Anda ingin temui? Garcia Márquez dan Paus. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para jurnalis Amerika Latin, jawabannya bisa jadi sama–mungkin tanpa ada Paus-nya. Buat kami, para jurnalis Amerika Latin yang berada di tahap awal karier kami, dia adalah tokoh panutan. Kami suka berucap bahwa dia sebelum menjadi novelis adalah seorang jurnalis. Dia sendiri bilang, dia tak pernah berhenti menjadi wartawan.

*

Sementara itu menjadi pendongeng, Gabo katakan, adalah bawaan dari lahir, bukan dibentuk. “Seperti penyanyi, menjadi pencerita itu sesuatu yang diberikan oleh alam kepadamu. Tak bisa dipelajari. Soal teknik iya memang bisa dipelajari, tapi bisa menyampaikan sebuah cerita itu berhubungan dengan sesuatu yang Anda bawa dari lahir. Mudah untuk membedakan antara pencerita yang baik dan buruk: mintalah mereka bercerita tentang film terakhir yang mereka lihat.”

Lalu dia memberikan penekanan, “Yang paling sulit adalah menyadari bahwa diri Anda bukan pencerita yang baik lalu punya keberanian untuk melupakannya dan mengerjakan sesuatu yang lain.” Cesar Romero belakangan bilang kepadaku bahwa dari semua statemen Gabo, inilah yang paling menohok buatnya.

Dia memberikan contoh, Beberapa saat setelah dia menerima Hadiah Nobel, seorang jurnalis muda di Madrid menghampirinya ketika dia hendak keluar dari hotel, untuk meminta wawancara. Gabo, yang tak suka diwawancara, pun menolaknya, tapi mengundangnya untuk ikut dengan dia serta istrinya selama seharian. “Dia menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kami berbelanja, istri saya menawar-nawar barang, kami makan siang, kami berjalan, kami bebincang-bincang; dia bersama kami di mana-mana.” Ketika mereka kembali ke hotel dan Gabo hendak mengatakan sampai jumpa, dia memintanya untuk wawancara. “Saya bilang kepadanya, dia mesti pindah pekerjaan,” kata Gabo. “Dia kan sudah punya bahan tulisan lengkap, dia sudah mereportase.”

Dia melanjutkan dengan bicara tentang perbedaan antara wawancara dan reportase–kesalahan pengertian yang senantiasa dilakukan para jurnalis.  “Wawancara dalam jurnalisme cetak selalu berupa dialog antara si jurnalis dan seseorang yang mengungkapkan sesuatu atau berpendapat tentang sebuah kejadian. Reportase adalah rekonstruksi sebuah kejadian yang dilakukan dengan sangat cermat dan jujur.

*
Kami rasa begitu kaya dan begitu banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan tentu saja kami merasa buku “Memikirkan Kata” benar-benar layak anda nantikan dan miliki ! 🙂

Interview

Chairil Anwar dan Hal-ihwal yang Tak Tergenggam

mm

Published

on

Karya-karya Marsman, Perron, dan Slauerhoff dilahapnya. Sajak-sajak Auden, Cornford, Rilke diarunginya. Bahasa Belanda dan Perancisnya fasih dan terpuji. Buku-buku filsafat tak lepas dari kesehariannya. Saban hari ia bergelimang kesadaran puitik, hingga hidupnya terhisap jauh ke dalamnya. Ia tak punya waktu mengurus Hapsah, istrinya. Tak ada uang untuk menafkahi keluarganya, hingga dalam sebuah pertengkaran, ia angkat kaki dari rumah istrinya dengan membawa buku-buku koleksinya. Apa arti semua itu?

Damhuri Muhammad *) 

Puncak pendakian kepenyairan Chairil Anwar (1922-1949) adalah keberanian mendeklarasikan “keakuan”  dalam realitas “kekitaan” yang sepanjang waktu dijaga ketat oleh tentara, bahkan hingga naik-turun detak jantungnya di malam buta. Di tangan Chairillah bermulanya kesadaran eksistensial dari subyek otonom dan otentik bernama; manusia Indonesia. Aku yang mandiri. Aku yang tiada bakal tergoda, apalagi terbeli. Aku yang “haram-jadah” berkompromi apalagi berdamai dengan kawanan maling yang masih leluasa menggeledah rumah sendiri.

Dalam tarikh dan riwayat yang singkat, Chairil mengerahkan segenap tenaga dan stamina, menyelam hingga ceruk-ceruk paling dalam, menikam hingga hulu belati ikut terbenam, guna merengkuh semesta keakuan yang bebas, keakuan yang menerabas tebing-tebing paling cadas, keakuan yang tegas; Kalau sampai waktuku/Kumau tak seorang kan merayu/Tidak juga kau. Demikianlah sajak yang menghembuskan energi pembebasan, gairah yang mendidih, tapi sekaligus  membersitkan ketakutan tak terkira, di jaman ketika setiap liang keliaran dipasung dan dikekang rapat-rapat oleh kedigdayaan kuasa Jepang.

Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang/Luka dan bisa kubawa berlari/berlari. “Binatang jalang? Apa saudara ini jago-jagoan begitu. Saudara bisa celaka sendiri, saudara bisa mati digebukin orang,” begitu ungkapan kegamangan Rosihan Anwar, selepas mendengar sajak itu dideklamasikan oleh Chairil. Seperti petir di siang bolong, bagai ledakan mahadahsyat yang menggempur labirin kesunyian. Sebelum itu, tak ada yang berani secadas Chairil, tak ada yang bernyali tegak berkacak pinggang di hadapan kekuasaan Jepang yang sedemikian menakutkan.

Peristiwa itu berlangsung di sebuah ruangan di Pusat Kebudayaan Jepang, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Keimin Bunka Sidosho. Lembaga yang dibentuk Jepang pada 1 April 1943, guna mendukung kekuasaannya di tanah jajahan baru. Armijn Pane, Sutomo Djauhar Arifin, Usmar Ismail, Inu Kertapati, dan Amal Hamzah adalah para seniman yang berkhidmat di bagian kesusastraan lembaga itu. Secara rutin mereka menggelar diskusi dan deklamasi sajak. Hari itu dideklamasikan sajak penyair Pujangga Baru: Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Sanusi Pane. Tak lama berselang, seseorang tampil berdiri dengan rasa percaya diri yang tak tanggung-tanggung. Tanpa beban ia mengatakan, sajak-sajak itu sudah usang.  Lekas ia mengambil kapur tulis dan mulai menuliskan sajak yang ia hapal di luar kepala. Ia menulis sambil mengiringinya dengan bacaan suara penuh, hingga para hadirin ternganga. Entah karena takut pada Jepang, entah karena sungguh-sungguh terpesona. Itulah sajak yang kini dikenal sebagai Aku. Sajak yang paling popular dalam khazanah sastra Indonesia, paling banyak dibaca dan dibacakan, paling banyak dikaji-dipelajari, dan sudah menjadi artefak yang tiada lekang dimakan waktu. Dan, laki-laki yang tegak berkacak pinggang itu bernama Chairil Anwar.

Chairil adalah personalitas yang terbelah. Ia punya sajak Aku, yang telah menjadi suluh di kerak malam, yang membangkitkan ketangguhan dalam situasi ketika racun berada di reguk pertama/membusuk rabu terasa di dada/tenggelam darah dalam nanah, tapi Chairil juga mendedahkan Cemara Menderai  Sampai  Jauh. Sajak yang mengandung kepasrahan pada hidup yang rapuh. Hidup yang hanya menunda kekalahan, sebagaimana kekalahannya dalam menaklukkan Ida, Sumirat, dan Hapsah. Tiga dari beberapa perempuan yang ia kekalkan dalam sajak-sajaknya. Tiga perempuan yang mungkin pernah berada di tangannya, tapi tak sungguh-sungguh ada dalam genggamannya. Ida adalah sosok perempuan yang melambungkan imaji Chairil, tapi dalam kenyataan Ida tidaklah mungkin terjangkau. “Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak karuan itu?” kata Ida pada HB Jassin suatu ketika. Beruntung Jassin tidak tega menyampaikan sinisme Ida itu pada Chairil. Jassin tahu persis, betapa Chairil memuja kecantikan dan kecerdasan Ida, bagai memuja berhala yang tiada cacatnya.

Ida Nasution adalah mahasiswi sastra Universitas Indonesia. Takdir dan Jassin memujinya sebagai penulis esai dan kritik yang cemerlang. Bersama Miriam Budiardjo¾yang kelak menjadi guru besar Ilmu Politik UI¾ Ida pernah bekerja di kantor bahasa bentukan Jepang yang dikelola Sutan Takdir. Di kantor itulah para sastrawan kerap datang untuk berkumpul, berolok-olok, atau berbincang serius. Dan, Chairil sudah menjadi binatang jalang yang mengganggu ketenangan di kantor itu. Ida penerjemah yang baik. Bukan kebetulan, ia menerjemahkan Les Conquerent Andre Gide menjadi Sang Pemenang dan dimuat di majalah Pembangunan. Chairil menerjemahkan karya Gide yang lain, Le Retour de l’Enfant Prodigue menjadi Pulang Dia Si Anak Hilang, dimuat Pujangga Baru, September 1948.

Charil Anwar, Getty Image/ Majalah TEMPO

Bagi Chairil, Ida adalah nama menjulang tinggi. Nama yang menggelisahkan. Bahaya yang lekas pudar. Menurut catatan Hasan Aspahani (2015)¾penulis buku Biografi Chairil Anwar¾bersama Ida, Chairil seakan kembali menjadi lelaki 17 tahun. Menikmati kembali kegembiraan polos sepasang anak remaja, bersepeda bergandengan, berkejar-kejaran, menghidupi jalan-jalan Batavia. Cinta yang sesaat membutakan. Keduanya tak peduli pada apa-apa. Tak menghiraukan apapun kesulitan. Biar hujan datang. Kita mandi-basahkan diri. Tahu pasti sebentar kering lagi.

Namun, cinta Chairil bertepuk sebelah tangan. Rindu Chairil adalah rindu yang meregang seorang diri. Pada 1948 Ida hilang jejak. Ia terakhir kali diketahui dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Sejak itu tak ada lagi kabar Ida. Dan jauh sebelum itu, Chairil telah pasrah dan melupakannya; kita musti bercerai, sebelum kicau murai berderai. Inilah pula yang terjadi dalam asmara Chairil dengan Sumirat. Boleh jadi Mirat pernah “dimilikinya,” tapi lagi-lagi tidak bisa jatuh ke dalam genggamannya. Hidup yang luntang-lantung, pekerjaan yang serampangan, penghasilan yang tak tentu, membuat ayahanda Mirat menolak kehadiran Chairil. “Orang selalu salah sangka, tapi mereka akan menyesal nanti. Aku akan sanggup membuktikan bahwa karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa, Mirat. Aku akan terus berjuang untuk memberi bukti,” janji Chairil sebelum berpisah dengan Mirat. Apalah daya Chairil, Mirat akhirnya menikah dengan seorang dokter tentara. Pada 1948, Chairil menyelesaikan sajak terakhir untuk Miratnya, dan setahun kemudian ia meninggal dunia.

Tidaklah berlebihan kiranya bila Ida menuding Chairil sebagai “manusia tak karuan.” Gaya hidupnya bohemian tulen. Kelimpasingan bila sudah melihat perempuan cantik. Pembangkang kelas berat. Bukan hanya pada Jepang, tapi juga pada HB Jassin yang tak henti-henti membela sajak-sajaknya di meja redaksi Panji Pustaka, pada Sutan Takdir Alisjahbana, pada siapa saja yang sekiranya menghambat laju kencang kepenyairannya, bahkan tak segan-segan memasang namanya pada sajak yang sebenarnya disadur dari karya penyair barat yang dikaguminya.

Chairil adalah juga pencuri buku yang sangat terlatih. Dalam sekejap ia bisa mengelabui petugas kasir toko buku. Ia bisa melenggang dengan santai di hadapan kasir, dengan buku yang sudah berpindah ke dalam bajunya. Itu ia lakukan berkali-kali, dan tak sekalipun tertangkap tangan. Konon, penyair Sitor Situmorang pernah diajari Chairil cara mendapatkan buku-buku terbaik dari toko tanpa harus melalui meja kasir alias mencuri. Atas dasar kelihaian itu, Mochtar Lubis tak pernah ragu meminjamkan uang padanya, sebab Chairil akan membayar utang-utang itu dengan buku-buku hasil mencuri.

Karya-karya Marsman, Perron, dan Slauerhoff dilahapnya. Sajak-sajak Auden, Cornford, Rilke diarunginya. Bahasa Belanda dan Perancisnya fasih dan terpuji. Buku-buku filsafat tak lepas dari kesehariannya. Saban hari ia bergelimang kesadaran puitik, hingga hidupnya terhisap jauh ke dalamnya. Ia tak punya waktu mengurus Hapsah, istrinya. Tak ada uang untuk menafkahi keluarganya, hingga dalam sebuah pertengkaran, ia angkat kaki dari rumah istrinya dengan membawa buku-buku koleksinya. Chairil meninggalkan Evawani, putri semata wayangnya yang baru berusia 1 tahun. Pendek kata, ia telah mengorbankan hidupnya sebagai laki-laki biasa, sebagai bapak, sebagai suami. Chairil adalah sebuah anomali di jaman yang sedemikian payah.

Suatu hari Chairil menunduk dan menyadari betapa cinta platonik pada Sumirat telah kandas di tengah jalan. Perempuan pujaan yang mustahil dapat digenggam. Betapa keluarga kecilnya bersama Hapsah dan Evawani telah dirampas oleh birahi kepenyairannya yang meluap-luap. Betapa tubuhnya makin tak terurus, badannya yang makin kurus. Tiba-tiba muncul semangatnya untuk mengumpulkan sajak-sajak yang berserakan guna diterbitkan. Chairil berniat menikahi istrinya kembali dan bersama-sama membesarkan Evawani. Ia rindu Ketan Srikaya bikinan Hapsah. Royalti dari buku itu ia niatkan untuk menebus kembali perkawinannya yang berantakan. Namun, saat itu pula penyakit parah menyerangnya. Hanya dalam hitungan hari, meriang yang melanda, membuat sekujur tubuhnya hampir membeku. Muntah darah tak sudah-sudah, hingga pada 28 April 1949 ajal datang merenggutnya.

Chairil tak sempat menyaksikan bukunya terbit, apalagi menerima royalti. Ia tak pernah merasakan betapa karya-karyanya dikaji dan dikenang hingga kini. Chairil tak pernah bisa pulang pada Hapsah, pada Evawani, dua perempuan terakhir dalam tarikh singkatnya. Chairil mati muda, dalam usia 27 tahun, tapi nyala dan tenaga hidup dalam sajak-sajaknya tiada mungkin padam. Dalam genggaman kesadaran kita, Chairil akan terus hidup, melebihi 1000 tahun usia yang dulu pernah didambakannya… (*)

__________

*) Damhuri Muhammad, Cerpenis, Esais. Tinggal di Jakarta

 

 

 

 

 

Continue Reading

Interview

Gabriel Márquez dalam Labirin Sastra dan Imajinasi

mm

Published

on

“Saya menyukai metode Faulkner, tetapi saya tidak menyukai kenyataan bahwa ia harus menentukan setiap karakter; Saya pikir karakter harus mengidentifikasi dirinya dalam perjalanan monolog. Model kedua adalah “Mrs. Dalloway”, meskipun saya menyadari bahwa teknik monolog interior dalam karya Virginia Woolf membutuhkan pelatihan sastra yang luar biasa, yang tidak saya miliki saat itu.” –Gabriel García Márquez.

Wawancara dengan Gabriel García Márquez (1980) | MARCH ISSUE, The Harvard Advocate—by Adam Nossiter and Rodrigo Garcia 
(p) Virdika Rizky Utama |  (e) Sabiq Carebesth

________

Gabriel García Márquez lahir di Kolombia pada 1928. Nyaris tidak seorang pun menulis kritik atau menanggapi No One Written to the Colonel and Others Stories saat diterbitkan di Amerika pada 1968. Diikuti One Hundred Years of Solitudei pada 1970—dengan perasaan keharusan menulis One Hundred Years of Solitude agar karya sebelumnya dibaca; ia melanjutkan Leaf Storm dan Other Stories pada 1972; The Autumn of the Patriarch pada 1976; Erendira Innocent dan Other Stories pada  1978; dan In Evil Hour pada 1979.

Apa pengaruh kerja jurnalistik Márquez pada karya fiksi khususnya novel-novel karangannya? Bagaimana ia melihat “cerita rakyat” disematkan kritikus pada unsur kemiripan dalam novel-novelnya—sementara dia sendiri melihat cerita rakyat sebagai hal yang kolonial dan merendahkan, yang berujung di area pariwisata, suatu komersialisasi? Bagaimana Faulkner dan Virginia Woolf mmengaruhi monolog dalam sastranya? Mengapa Juan Rulfo dari Meksiko—penulis yang paling sedikit menulis—menjadi pengarang dalam urutan pertama daftar pengarang yang paling dikagumi García Márquez? Bagaimana fakta sehari-hari dalam masyarakat dan dunia imaji berkelindan dalam benak kepangarannya—menjadikannya sebagai pengarang “realisme magis” paling tersohor sampai hari ini?

Dalam wawancara yang direncanakan dan dikerjakan oleh Adam Nossiterm, berlangsung pada 2 Desember 1979, sebagian pertanyaan itu terjawab dengan gamblang dan konstan. Ini adalah transkrip langsung dari bahasa Spanyol; dan pewawancara berterima kasih kepada Rodrigo Garcia untuk jasa baiknya sebagai penerjemah.

______

INTERVIEWER:

Saya mulai dengan bertanya bagaimana Anda mulai menulis.

García Márquez:

Dengan menggambar.

INTERVIEWER:

Dengan menggambar?

García Márquez:

Ketika saya masih sangat kecil, sebelum saya bisa membaca atau menulis, saya akan menggambar cerita dalam kartun.

INTERVIEWER:

Anda kemudian melanjutkan dan menjadi jurnalis. Bagaimana Anda merasa dunia jurnalisme memengaruhi tulisan Anda?

García Márquez:

Saya pikir itu adalah kegiatan yang saling melengkapi. Bekerja dalam jurnalisme setiap hari membuat Anda kehilangan dan kehilangan rasa takut yang Anda miliki terhadap penulisan, pada awal ketika Anda mulai melakukan jurnalisme atau fiksi. Kemudian Anda sampai pada titik di mana jurnalisme telah melakukan hal itu: memungkinkan Anda untuk terbiasa menulis, dengan mudah dan setiap hari. Dan kemudian fiksi memberi Anda ide untuk jurnalisme Anda. Jadi mereka adalah kegiatan yang saling melengkapi. Dan, yang sangat penting, jurnalisme adalah cara hidup, untuk menghasilkan uang saat menulis. Dalam jangka panjang, fiksi telah memungkinkan saya untuk meningkatkan kualitas sastra dari pekerjaan jurnalistik saya, dan jurnalisme telah membantu saya untuk mengetahui peristiwa sehari-hari, atau kehidupan sehari-hari, yang membantu fiksi saya. Dengan waktu, sastra dan jurnalisme—yang sejauh ini merupakan kegiatan paralel—dengan waktu mereka akan bertemu. Saat ini saya sedang mencari sintesis, mirip dengan apa yang dilakukan Truman Capote dengan In Cold Blood. Itu hanyalah sebuah contoh; Saya tidak menganggapnya sebagai pengaruh. Hal yang ideal saat ini adalah menemukan sebuah peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang dapat saya tangani dari sudut pandang sastra, untuk membuktikan bahwa ada sedikit perbedaan, kesenjangan yang sangat kecil, antara jurnalisme dan sastra. Juga untuk membuktikan bahwa peristiwa setiap hari, realitas itu memiliki nilai sastra yang sama dengan, misalnya, puisi.

INTERVIEWER:

Apakah itu yang sebenarnya sedang Anda kerjakan sekarang?

 

García Márquez:

Saat ini saya masih belum menemukan acara untuk dikerjakan. Jadi yang saya lakukan adalah menulis cerita pendek berdasarkan pengalaman nyata orang Amerika Latin yang tinggal di Eropa. Saya berurusan dengan peristiwa-peristiwa ini, pengalaman-pengalaman ini bukan dari sudut pandang jurnalistik, atau sebagai memoar, tetapi hanya dari sudut pandang sastra, memberi mereka nilai sastra. Dalam semua kasus, di semua buku saya, di seluruh pekerjaan saya, saya dapat menunjukkan bahwa tidak ada satu baris pun, tidak satu kalimat pun, yang tidak didasarkan pada kehidupan nyata. Saya menganggap masalah besar saya adalah karena saya kurang imajinasi. Jika hidup tidak memberi saya fakta, saya tidak dapat menemukannya. Saya benar-benar mau dan mampu membuktikan bahwa, baris demi baris, kalimat demi kalimat, di setiap buku saya. Jika saya punya waktu, saya akan mempertimbangkan untuk menulis buku dalam bentuk memoar, berbicara tentang asal-usul setiap fakta dan petualangan dalam buku-buku saya. Buku ini akan membuat saya mengolok-olok semua kritik dan analis dari buku-buku saya, yang mengemukakan fakta-fakta yang tidak ada hubungannya dengan apa yang ditulis.

INTERVIEWER:

Bagaimana popularitas luar biasa One Hundred Years of Solitude memengaruhi tulisan Anda? Saya pikir ada jeda tertentu di sana: Autumns of the Patriarch sangat berbeda dalam gaya dan tema.

 

García Márquez:

Apakah Anda tahu Leaf Storm?

INTERVIEWER:

Ya.

 

García Márquez:

Saya tidak yakin apakah orang-orang memperhatikan hal ini, tetapi saya merasa ada hubungan yang sangat dekat antara Leaf Storm dan The Autumn of the Patriarch, buku pertama dan terakhir saya. Banyak yang telah mengatakan bahwa One Hundred Years of Solitude adalah puncak, klimaks, dari semua buku yang datang sebelumnya. Saya merasa bahwa puncak dari pekerjaan saya sejauh ini adalah The Autumn of the Patriarch. Buku yang saya cari sejak awal adalah The Autumn of the Patriarch. Saya bahkan telah memulai The Autumn of the Patriarch sebelum One Hundred Years of Solitude, tetapi saya menemukan ada semacam tembok, sesuatu yang menghentikan saya untuk benar-benar masuk ke dalam buku. Hal yang menghentikan saya adalah One Hundred Years of Solitude. Saya mendapat kesan bahwa setiap buku adalah magang untuk buku berikutnya. Ada perkembangan dari buku ke buku—tetapi ini merupakan perkembangan yang bisa satu arah atau arah lainnya. Sebenarnya bukan kemajuan, tetapi penyelidikan, yang berlangsung dari buku ke buku. Dalam tanda kurung, dalam proses penyelidikan dan evolusi saya sendiri, saya percaya bahwa satu buku adalah yang terbaik dari semuanya, dan itu adalah No One Written to the Colonel. Kadang saya katakan, dengan bercanda, tetapi saya percaya, bahwa saya harus menulis One Hundred Years of Solitude sehingga orang akan membaca No One Writes to the Colonel.

Dan sehubungan dengan perubahan gaya antara One Hundred Years of Solitude dan The Autumn of the Patriarch, saya merasa mudah karena dua alasan—tidak, tiga alasan. Pertama-tama, ada relaksasi yang diciptakan oleh saya yang telah menulis One Hundred Years of Solitude. Saya tidak terlalu takut dengan petualangan sastra. Kedua, The Autumn of the Patriarch adalah buku yang sangat mahal untuk ditulis. Saya menulis selama tujuh tahun, nyaris setiap hari. Pada hari-hari keberuntungan, saya dapat menyelesaikan tiga baris dengan cara yang saya sukai. Jadi sebenarnya One Hundred Years of Solitude membiayai The Autumn of the Patriarch. Alasan ketiga untuk pendekatan yang berbeda dalam The Autumn of the Patriarch adalah karena tema tersebut menuntutnya. Ditulis dengan cara yang agak linier dari One Hundred Years of Solitude atau buku-buku lainnya, The Autumn of the Patriarch akan berubah menjadi cerita lain tentang seorang diktator. Itu akan menjadi cerita yang sangat panjang, dan jauh lebih membosankan daripada yang sebenarnya. Semua sumber daya sastra yang saya gunakan dalam The Autumn of the Patriarch, di antaranya adalah pelanggaran tata bahasa Spanyol yang mencolok, memungkinkan saya untuk mengatakan lebih banyak dalam ruang yang lebih singkat dan menembus lebih dalam ke dalam semua aspek buku ini, karena Anda tidak langsung turun ke bawah seperti dalam lift, tetapi dalam semacam spiral.

Hubungan antara Leaf Storm dan The Autumn of the Patriarch adalah bahwa keduanya pada dasarnya memiliki tema yang sama: mereka berdua adalah monolog di sekitar mayat. Ketika saya menulis Leaf Storm. Saya memiliki sedikit pengalaman sastra, pengalaman menulis. Saya ingin menemukan cara menceritakan kisah yang terjadi dalam diri seseorang. Saat itu saya hanya menemukan dua model untuk membantu saya dalam hal ini. Salah satunya adalah “Faulkner’s As I Lay Dying”. Buku ini adalah serangkaian monolog, di mana setiap monolog didahului dengan nama karakternya. Saya menyukai metode Faulkner, tetapi saya tidak menyukai kenyataan bahwa ia harus menentukan setiap karakter; Saya pikir karakter harus mengidentifikasi dirinya dalam perjalanan monolog. Model kedua adalah “Mrs. Dalloway”, meskipun saya menyadari bahwa teknik monolog interior dalam karya Virginia Woolf membutuhkan pelatihan sastra yang luar biasa, yang tidak saya miliki saat itu.

Saya menemukan kompromi antara dua model ini, formula untuk monolog yang memungkinkan Anda mengenali karakter tanpa harus diberi nama. Itu tentu saja merupakan batasan, karena untuk menghindari kebingungan saya harus berurusan dengan hanya tiga karakter. Saya memilih seorang lelaki tua, yang suaranya dapat dikenali karena dia sudah tua, putrinya, yang suaranya mudah dikenali. Memadukan monolog-monolog ini dan memimpin pembaca berkeliling, itulah pendekatan saya dalam menyusun novel.

Dua puluh lima tahun kemudian, dengan lima buku di belakangku, dan dengan keamanan dari setiap sudut pandang yang diberikan One Hundred Years of Solitude kepadaku, aku bisa terjun ke dalam petualangan Musim Gugur Sang Patriark tanpa takut mematahkan kepalaku. Ini adalah monolog berganda, yang tidak lagi penting siapa yang berbicara. Itu tiba pada apa yang saya cari selama dua puluh tahun, yang merupakan monolog sosial. Apa yang dibicarakan dalam buku adalah seluruh masyarakat; semua orang. Mereka hanya menyampaikan kata-kata dari satu ke yang lain: tidak masalah siapa yang berbicara.

 INTERVIEWER:

Yang cocok dengan subjek, karena sebagian besar novel politik?

García Márquez:

Saya merasakan tema seperti itu tidak dapat diperlakukan dengan cara lain. Saya tentu saja, dapat memberi tahu Anda tentang formula lain yang saya miliki untuk The Autumn dan Patriarch, yang tidak saya gunakan?

INTERVIEWER:

Silakan lakukan.

García Márquez:

Bertahun-tahun sebelum One Hundred Years of Solitude, saya mulai menulis The Autumn of the Patriarch sebagai monolog tunggal yang sangat panjang, sebagai monolog tunggal, sebagai diktator ketika ia diadili. Baris pertama buku ini adalah “Sebelum kita mulai, lepaskan lampu-lampu itu dari sini!” Monolog itu memungkinkan saya menjelajahi seluruh kehidupan diktator, tetapi ada banyak masalah. Pertama, saya hanya tunduk pada satu sudut pandang—sudut pandang diktator. Saya juga tunduk pada gaya diktator, dan yang terburuk, pada tingkat budaya diktator, yang sangat rendah, seperti yang dimiliki oleh semua diktator. Jadi tentu saja itu tidak berhasil bagi saya, karena saya tidak begitu tertarik pada apa yang dipikirkan oleh diktator seperti pada apa yang dipikirkan oleh seluruh masyarakat di bawah diktator.

INTERVIEWER:

Apa yang ada dalam sejarah Amerika Latin, apakah Anda merasa, yang cocok dengan transmutasi sastra? Semua pekerjaan Anda diatur secara khusus dalam pengalaman Amerika Latin, namun mereka telah populer secara internasional. Untuk apa Anda menghubungkannya?

García Márquez:

Saya adalah musuh dari semua spekulasi teoretis. Apa yang menakjubkan tentang kritik adalah bagaimana dari satu titik, yang mereka nyatakan sebagai titik awal, mereka menarik segala macam kesimpulan. Misalnya, para kritikus memberi tahu saya bahwa buku-buku saya memiliki nilai universal. Fakta bahwa buku-buku itu sangat populer di seluruh dunia mungkin membuktikan hal ini. Tetapi jika suatu hari saya menyadari mengapa buku-buku saya populer secara internasional, saya tidak akan dapat terus menulis, atau saya harus terus menulis karena alasan komersial semata. Saya merasa bahwa pekerjaan sastra harus dilakukan dengan jujur ​​dan untuk menulis dengan jujur, Anda harus memiliki zona bawah sadar yang tidak diketahui.

Hemingway berbicara tentang apa yang disebutnya gunung es, karena di atas air Anda hanya dapat melihat sepersepuluh gunung es, tetapi kesepuluh itu ada di sana hanya karena sisa lainnya di bawahnya, memegangnya. Bahkan jika saya dapat mengeksplorasi apa saja faktor tidak sadar dalam pekerjaan saya, saya tidak akan melakukannya. Saya merasa ada sesuatu yang intuitif yang menyumbang popularitas saya. Ketika seorang penulis menulis tentang hal-hal yang benar-benar terjadi pada orang, maka orang di seluruh dunia ingin mendengar tentang mereka, terlepas dari budaya, ras, atau bahasa. Saya merasa bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta, bahwa dialah satu-satunya yang penting. Saya ingat membaca, ketika saya masih sangat muda, sebuah wawancara dengan Faulkner di mana dia mengatakan bahwa dia percaya manusia tidak bisa dihancurkan. Pada waktu itu saya tidak mengerti apa yang dia maksud, tetapi sekarang saya yakin dia benar. Ketika Anda berpikir mengenai individu, Anda menyadari bahwa individu itu berakhir dengan kematian, tetapi jika Anda berpikir mengenai spesies, Anda menyadari bahwa spesies itu abadi. Keyakinan ini jelas mengarah pada keyakinan politik dan juga mengarah pada keyakinan sastra dan siapa pun yang memiliki keyakinan ini dapat menulis sastra yang bernilai universal.

INTERVIEWER:

Apakah buku-buku Anda—saya tahu Anda mengatakan itu didasarkan pada kenyataan—apakah dipengaruhi oleh cerita rakyat dan dongeng dalam struktur—setidaknya ada kemiripan.

García Márquez:

Bukan cerita rakyat. Cerita rakyat adalah kata yang dibaptis dengan buruk. Seharusnya tidak digunakan seperti itu. Cerita rakyat adalah kata yang digunakan oleh Inggris untuk menggambarkan manifestasi orang lain, budaya lain, yang mungkin bukan manifestasi orang-orang itu sama sekali. Itu berakhir di pariwisata. Saya lebih suka tidak berbicara tentang cerita rakyat sama sekali. Dengan legenda populer, ini berbeda. Pengaruh asli saya, sebenarnya, berasal dari legenda populer. Setiap legenda populer telah memiliki evolusi sastra, dan itu menggabungkan dua realitas. Semua buku saya memiliki sumber mereka dalam kenyataan, tetapi pasti melalui legenda populer itu. Saya tidak tahu apakah itu kenyataan atau tidak bahwa orang mati kadang-kadang keluar dari kuburan mereka, tetapi itu adalah kenyataan yang orang percaya. Jadi yang menarik minat saya bukanlah apakah itu terjadi, tetapi kenyataan bahwa beberapa orang percaya itu terjadi. Dan jika Anda menambahkan keyakinan ini, Anda dapat menciptakan alam semesta yang sama sekali baru.

INTERVIEWER:

Jadi perbedaan antara cerita rakyat dan legenda adalah bahwa cerita rakyat memiliki unsur merendahkan?

García Márquez:

Lebih buruk dari itu, komersialisasi.

Continue Reading

Interview

Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

mm

Published

on

Adania Shibli / Spesial

Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

“Sebuah wawancara dengan pengarang ‘We Are All Equally Far from Love’”

(p) Marlina Sophiana (e) Sabiq Carebesth

 

Gaya khas Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema. Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.

We Are All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas berlebih-lebihan.

Kepelikan yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

Jose Garcia 

Apakah itu merupakan keputusan yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu? Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?

Adania Shibli

Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi oleh liputan media yang terus-menerus.

Sebagai contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya, peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.

Kemudian di dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu. Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain, kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.

Jose Garcia

Bagaimana tanah air dan kebangsaan membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?

Adania Shibli

Sebagai orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.

Jose Garcia

Touch dan We Are All Equally Far from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat. Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen. Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela. Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter perempuan-dalam karya Anda?

Adania Shibli

Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.

Di dalam novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya. Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi, tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu, berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di wajahnya.

Saya tidak mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.

Jose Garcia

Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan kesunyian yang pekat itu dengan aksi?

Adania Shibli

Anda bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.

Jose Garcia

Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?

Adania Shibli

Kita terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.

Jose Garcia

Ini membawa saya pada karya cerita pendek Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?

Adania Shibli

itu sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat kemudian hari.

Baca Juga: Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

Jose Garcia

Saya menduga panggilan telpon itu sangat mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi biasa saja” itu?

Adania Shibli

Adakah yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.

Saya selalu menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki, trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.

Tahun ini saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5. Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci. Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.

Jose Garcia

Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja” itu sebagai mekanisme pertahanan diri?

Adania Shibli

Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri. Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.

Jose Garcia

Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model “jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah sama saja?

Adania Shibli

Bagi saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi. Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini. Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh oleh pemilu. (*)

Diterjemahkan dari “Adania Shibli on Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending