Connect with us

Buku

Frankenstein Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

mm

Published

on

Pengantar Redaksi: Sebelumnya Redaksi Galeri Buku Jakarta telah menayangkan tulisan “Frankenstein, Hermeneutika dan Science Fiction”, tulisan berikut adalah bagian ke II dari tulisan tersebut di atas. Frankenstein; atau, The Modern Prometheus secara umum dikenal sebagai Frankenstein adalah sebuah novel gothik karya penulis Mary Shelley yang berkebangsaan Inggris

_____________________________________________

Frankenstein (1818) karya Mary Shelley merupakan salah satu dari novel klasik yang terus diterbitkan dari waktu ke waktu. Karena cukup populer, orang-orang setidaknya pernah mendengar judul novel yang juga sempat diadaptasi menjadi beberapa film tersebut. Ketika misalnya bertanya pada orang-orang mengenai kesan terhadap judul “Frankenstein”, kebanyakan akan berkata bahwa itu adalah nama makhluk yang mengerikan atau itu adalah cerita horror. Sebelum saya belajar filsafat dan juga hermeneutika, ketika saya membaca novel Frankenstein, saya justru menemukan kekeliruan dari anggapan umum terhadapnya. Yaitu, bahwa Frankenstein bukan nama makhluk yang mengerikan itu melainkan nama panjang dari orang yang menciptakannya, sementara makhluk itu tak bernama dan sering disebut “demon”, “monster”, “wretch”, dan kata gantinya “it”. Kemudian, sensasi yang saya dapatkan dari cerita Frankenstein adalah itu bukan cerita horror seperti film-film horror yang sempat marak di bioskop, tetapi kalaupun horror, itu merupakan horror dan mengerikan yang merupakan konsekuensi dari tindakan yang kurang dipikirkan secara bijak, dan bukannya merasa ketakutan justru saya merasa sedih. Agaknya cerita tersebut ada hubungannya dengan kemanusiaan, pengetahuan, agama, dan moralitas. Untuk tugas akhir ini saya berupaya meninjau novel Frankenstein untuk menelaahnya terutama dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida dan hermeneutika faktisitas Heidegger.

  • Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

Science fiction yang merupakan genre fiksi spekulatif yang berhubungan dengan imajinasi konsep-konsep ilmu pengetahuan dan teknologi sering digunakan untuk melampaui sekaligus berkontemplasi mengenai ilmu pengetahuan, tentang berbagai kemungkinan dan berbagai dampaknya. Di abad ke-18 dan ke-19, ada kepercayaan umum bahwa para ilmuwan sedang mencoba menemukan esensi kehidupan dan mencari tahu apa yang membuat organisme dapat hidup. Konsep-konsep seperti kehidupan abadi di dunia, elixir of life, dan yang semacam itu mengisi percakapan sehari-hari dan menginspirasi penyelidikan ilmiah. Novel Frankenstein dengan tema yang serupa dapat dipandang sebagai salah satu literatur awal yang memiliki tema science fiction.

Contoh positif dalam kegiatan di ilmu pengetahuan misalnya Newton dan gravitasi yang tidak sengaja ditemukannya. Sementara contoh negatif dalam kegiatan di ilmu pengetahuan misalnya Einstein dan atomic bomb yang tidak sengaja ditemukan kearah sana ketika ia menelaah tentang neutron dan kelanjutan teori relativitas. Sudah merupakan hal yang diketahui sejak lama bahwa ilmu pengetahuan itu dapat digunakan untuk tujuan baik dan tujuan yang buruk, tergantung dari maksud para ilmuwannya. Tetapi kadang, para ilmuwan yang cukup pintar untuk melakukan berbagai eksperimen canggih itu ironisnya, seperti Frankenstein, tidak sadar, tidak waspada, malah tidak cukup pintar untuk berpikir lebih lanjut atas dampak dari hasil karyanya. Maksud mereka mungkin baik dalam pikirannya sendiri, untuk kebesaran diri, untuk kebaruan, tetapi hasilnya malah buruk untuk hasil ciptaannya seperti makhluk itu sendiri dan juga untuk sekelilingnya.

Baca juga: Pancasila dan Jalan Tengah Keindonesiaan

Baca juga: Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

 

  • Tuhan, Adam, dan Hawa

Frankenstein dapat dibandingkan dengan Tuhan tetapi juga Adam dan Hawa, sementara itu, Makhluk Tak Bernama dapat dibandingkan dengan Adam dan Hawa. Dengan bekerja dan menghidupkan sesuatu, Frankenstein seakan bekerja bukan dengan ilmu pengetahuan lagi, dan hal itu melawan bukan hanya aturan masyarakat tetapi juga melawan aturan Tuhan. Secara serupa, Adam dan Hawa juga bertindak melawan aturan Tuhan dengan memakan buah terlarang. Frankenstein, seperti Adam dan Hawa, ia ingin dan berupaya untuk memiliki pengetahuan yang hanya ditujukan untuk Tuhan yang Maha Pencipta. Tapi, Frankenstein yang berusaha menciptakan karyanya dengan indah ia tak sadar bahwa ia gagal hingga sudah terlambat. Lalu, Frankenstein meninggalkan dan menghina karyanya sendiri. Sementara itu, serupa dengan Adam dan Hawa yang diusir oleh penciptanya ke dunia, Makhluk Tak Bernama itu diusir oleh penciptanya ke dunia dimana tidak ada seorang pun menerima dan memahaminya. Bedanya, Adam dan Hawa mengetahui kesalahannya, sementara Makhluk Tak Bernama itu tidak mengetahui kesalahannya atau mungkin tidak memiliki kesalahan apapun untuk diusir. Kemudian sama seperti Adam yang meminta pasangan yang serupa dengannya pada Tuhan, Makhluk Tak Bernama juga meminta pasangan yang sama mengerikan dengannya pada Frankenstein, bedanya, yang satu dikabulkan, yang satunya tidak. (Bagian ini menunjukkan kecenderungan ke hirarki metafisis yang entah Mary Shelley sengaja dan sadari, atau malah penafsiran yang cenderung ke arah sana.)

  • Moralitas dan Kepedulian Dimulai dengan Berpikir dan Merasa

Keterbukaan akan pengalaman merupakan awal yang penting untuk memungkinkan seseorang agar dapat mengenal dan memahami sesuatu. Dialog dan komunikasi menjadi medium untuk pengalaman antar subjek sehingga satu sama lain dapat mengenal dan memahami lebih baik. Dengan berpikir dan merasa, seseorang dapat mempertimbangkan dan menjelaskan baik atau tidaknya suatu perbuatan. Dalam cerita Frankenstein, Makhluk Tak Bernama itu langsung ditolak dan diserang oleh semua manusia yang ditemuinya. Mereka semua mencerminkan ketidakterbukaan pandangan untuk mengenal dan memahami sesuatu yang lain daripada mereka. Kemudian, dialog dan komunikasi antara Frankenstein dan Makhluk Tak Bernama walaupun tidak membuat Frankenstein mengenal dan memahami makhluk itu dengan lebih baik, setidaknya berguna untuk memberikan pandangan pada para pembaca. Meskipun makhluk itu jelek, mengerikan, dan menyeramkan, ia merupakan karakter satu-satunya dalam cerita yang terus berpikir dan merasa dengan kritis dan refleksif. Ia karakter yang selalu memikirkan permasalahan baik dan buruk, meskipun pada akhirnya kalah pada sisi gelap kehidupan. (*)

*) Karina Andjani, Pianis, saat ini tengah menyelesaikan studi di negeri kincir angin, Belanda.

___________________

 

Referensi

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London.

Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta.

Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta.

Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta.

Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham.

Buku

Oligarki dan Monopoli dalam Ekonomi Politik Indonesia Paska Reformasi

mm

Published

on

Indonesia pasca reformasi selalu diidentikkan dengan negara yang sedang menikmati demokratisasi dengan kekuatan masyarakat sipil yang kuat untuk menentang otoritarianisme. Banyak teori-teori barat konvensional yang menganggap Indonesia telah menjadi negara yang matang dalam berdemokrasi dan patut di contoh oleh negara lain di dunia ketiga. Teori-teori tentang masyarakat sipil di Indonesia ternyata tidak dapat menjawab mengapa setelah reformasi kondisi perpoolitikan nasional tidak banyak yang berubah?  Mengapa elit-elit Orde Baru yang dulunya sangat tidak demokratis kemudian berubah menjadi seorang demokrat yang baik dan menjadi elit penting dalam mengurus kebijakan Negara? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dijawab oleh Prof. Vedi Hadiz dalam bukunya ini.

Prof. Vedi dengan jeli menunujukkan kelemahan-kelemahan tesis masyarakat sipil yang selama ini diagung-agungkan oleh politisi, dan akademisi di Indonesia yang tidak memperhatikan dialektika kekuaaan ekonnomi-politik dan hanya bersaandar pada bangunan kokoh kebebasan berekspresi dan berbicara.

Di dalam buku ini Prof. Vedi dengan terang-terangan menunjukkan bahwa masyarakat sipil di Indonesia itu terdiri dari banyak kepentingan ekonomi-politik yang bersaing untuk mendapatkan kue dari kekuasaan politik para elit oligarki. Tumbuh suburnya milisi-milisi sipil yang dibentuk oleh elit lama yang menyerang berbagai kelompok masyarakat sipil yang bersandar pada kebebasan berekspresi, menunjukkan dinamika politik Indonesia yang sangat rumit bila hanya dijelaskan dengan teori-teori demokratisasi konvensional.

Elit-elit Orde Baru dengan cepat mere-orgaisasikan dirinya dan beradaptasi dengan sistem yng berubah untuk tetap berkuasa dan menggunakan kemampuan ekonomi-politiknya untuk membangun jaringan-jarngan kekuasaan baru di pelbagai lembaga Negara dan pemerintah daerah. Otonomi daerah yang dirancang sedemikian rupa untuk meuwujudkan kesejahteraan sosial masyarakat ternyata direbut oleh kelompok orang kaya/elit oligarki yang membangun kekuatan partai politik untuk memonopoli kekuasaan.

Pentingnya buku ini untuk di baca oleh akademisi dan ilmuan sosial adalah gejala menguatnya faksi oligarki di Negara yang demokratis. Prof. Vedi sendiri menganalisis dengan tajam dan didukung dengan data yang akurat dalam mengungkapkan siapa saja orang-orang kaya di Indonesia yang memonopoli kekuasaan politik dan ekonomi di Indonesia.

Judul Buku: Dinamika Kekuasaan Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto Tahun Terbit: 2005 Penerbit: LP3ES Penulis: Vedi R. Hadiz Tebal Halaman: 331 halaman

Tesis oligarki sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Prof. Jefrey Winters dan Prof. Richard Robison. Keduanya bersepakat bahwa para oligark di Indonesia dengan jeli memanfaatkan era Reformasi untuk menguasai sumber daya alam di indonesia melalui kebijakan-kebijakan politik yang dibaut melalui instrument partai politik.

Sementara Prof. Vedi lebih jauh menganalisa terkait pelbagai kepentingan-kepentiingan masyarakat sipil Indonesia yang saling bertarung satu sama lain karena ingin mendapatkan akses untuk mendekat ke faksi oligark. Situasi politik Indonesia saat ini pasca aksi 212 pada tahun 2016 yang lalu bisa membuat kita memikirkan ulang mengapa pada saat reformasi milisi-milisi sipil ini tumbuh subur di tengah iklim demokratis? Anehnya mereka mendapatkan banyak sponsor dari elit politik yang menduduki kekuasaan yang strategis. Sebut saja Fadli Zon dan Fahri Hamzah keduanya adalah elit partainya masing-masing, mengapa mereka bisa bergabung dan berkolaborasi dengan organisasi sipil yang cenderung konservatif untuk melawan kekuasaan?

Namun disinilah kekurangan analisa politik kontemporer di Indonesia – selalu saja disebut bahwa kelompok oposisi dan kelompok pemerintah padahal sebenarnya tidak ada seperti itu. Tapi mengapa pada saat momen tertentu faksi oposisi dan pemerintah bisa saling bekerjasama untuk memuluskan agenda bersama? Disitulah buku dari Prof. Vedi dapat membuka dengan lebar apa yang tidak diketahui masyarakat awam mengenai elit oligarki di Indonesia dan jaringan kekuasaannya. Indonesia pasca reformasi adalah Negara yang sedang diperebutkan oleh kepentingan ekonomi-politik faksi oligarki.

Bagaimana dengan perkembangan masyarakat sipil di Indonesia? Sejak tahun 1967-1998, Indonesia mengalami periode terburuk dalam berdemokrasi dan hal itu merupakan akibat dari kuatnya faksi oligarki dan miiter mencengkram kehidupan masyarakkat sipil. Akhirnya buku ini sangat menarik untuk dibaca dan diulas lebih dalam oleh akademisi yang konsen terhadap persoalan ekonomi dan poliik di Indonesia. Kelebihan buku ini adalah dengan jujur dan vulgar memberikan wacana alternatif terkait teori politik kontemporer yang menjelaskan Indonesia pasca reformasi.  (*)

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

Continue Reading

Buku

Frankenstein, Hermeneutika dan Science Fiction

mm

Published

on

Meninjau Novel Frankenstein dengan Hermeneutika Dekonstruksi dan Hermeneutika Faktisitas (bagian I)

Karina Andjani *)

  1. Pengantar

Frankenstein (1818) karya Mary Shelley merupakan salah satu dari novel klasik yang terus diterbitkan dari waktu ke waktu. Karena cukup populer, orang-orang setidaknya pernah mendengar judul novel yang juga sempat diadaptasi menjadi beberapa film tersebut. Ketika misalnya bertanya pada orang-orang mengenai kesan terhadap judul “Frankenstein”, kebanyakan akan berkata bahwa itu adalah nama makhluk yang mengerikan atau itu adalah cerita horror. Sebelum saya belajar filsafat dan juga hermeneutika, ketika saya membaca novel Frankenstein, saya justru menemukan kekeliruan dari anggapan umum terhadapnya. Yaitu, bahwa Frankenstein bukan nama makhluk yang mengerikan itu melainkan nama panjang dari orang yang menciptakannya, sementara makhluk itu tak bernama dan sering disebut “demon”, “monster”, “wretch”, dan kata gantinya “it”. Kemudian, sensasi yang saya dapatkan dari cerita Frankenstein adalah itu bukan cerita horror seperti film-film horror yang sempat marak di bioskop, tetapi kalaupun horror, itu merupakan horror dan mengerikan yang merupakan konsekuensi dari tindakan yang kurang dipikirkan secara bijak, dan bukannya merasa ketakutan justru saya merasa sedih. Agaknya cerita tersebut ada hubungannya dengan kemanusiaan, pengetahuan, agama, dan moralitas. Untuk tugas akhir ini saya berupaya meninjau novel Frankenstein untuk menelaahnya terutama dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida dan hermeneutika faktisitas Heidegger.

 

  1. Rangkuman Cerita

Victor Frankenstein lahir dari keluarga terhormat dan sejahtera di Genevese.[1] Ketika ia berumur lima tahun, orangtuanya pesiar ke Italia dan tidak sengaja mengadopsi anak perempuan cantik yang bernama Elizabeth Lavenza, yang diharapkan ibunya akan menjadi teman hidup Frankenstein. Ia kemudian memiliki dua adik laki-laki dan memiliki sahabat bernama Henry Clerval. Ketika remaja, Frankenstein sangat tertarik pada filsafat alam, kemudian setelah menyaksikan hujan badai luar biasa yang petirnya menghancurkan pohon ek, ia terkejut dan memutuskan mencari yang lebih luar biasa dari itu semua.

Ketika berumur tujuh belas tahun, ibunya meninggal karena demam berdarah dan setelahnya Frankestein mulai menjadi pelajar di universitas Ingolstadt dengan fokus filsafat alam. Tetapi sesungguhnya Frankenstein tidak puas dan lebih tertarik pada alkimia dan kimia, ia banyak membaca buku ilmu pengetahuan kuno, tentang elixir of life, dan ia sangat tertarik pada proses kehidupan semua makhluk hidup entah dengan darah, nafas, atau keajaiban. Ia kemudian memiliki tujuan untuk dapat menjadi pelopor cara baru untuk menjelajahi kekuatan yang tidak diketahui sebelumnya dan menyingkap misteri terdalam mengenai penciptaan dan terobsesi dengan gagasan menciptakan kehidupan spesies baru dan menjadi pencipta.

Selama dua tahun, Frankenstein rajin bekerja dan rutin mengunjungi rumah mayat untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang kemudian disambungnya sedikit demi sedikit dan ia bekerja untuk proyeknya, tetapi ketika selesai, ia begitu kecewa dan ngeri karena sadar bahwa hasil kerjanya sangat mengerikan. Makhluk yang diciptakannya jauh dari konsep keindahan; tubuh makhluk itu besar karena merupakan kumpulan beberapa anggota tubuh yang sama, kulit kuning jarangnya hampir tidak menutupi otot dan arteri, matanya berair, bibirnya hitam, dan kepala berambut hitam serta gigi putih bersihnya malah menjadi kontras yang menambah kengerian. Ketika Frankenstein tertidur lelah, makhluk itu ternyata berhasil hidup dan ingin menyapanya, tetapi malah Frankenstein yang ketakutan malah kabur darinya.

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London

Makhluk Tak Bernama itu memulai hidupnya dengan rasa kecewa karena ditolak penciptanya, tetapi ia juga takjub pada sensasi inderawi yang bekerja secara bersamaan. Ia kemudian hidup luntang-lantung kesana kemari karena ia selalu diusir, ditolak, dengan kekerasan dari setiap manusia yang ditemuinya, manusia takut padanya dan menyerangnya dengan jahat sementara ia juga menjadi takut dengan manusia yang jahat padanya. Ia mencoba bertahan hidup, mengatasi rasa lapar, dingin, dan merana, dan bertanya-tanya mengapa ia hidup dengan kehidupan seperti itu, karena bahkan ia tidak meminta untuk hidup.

Setelah beberapa kali diusir, ia menemukan kolong pondokan sebuah keluarga pedesaan dan tinggal disana diam-diam untuk kemudian pada waktu yang lama. Untuk makan, ia awalnya mengambil makanan mereka tetapi setelah mengamati bahwa ternyata mereka juga sedang kesulitan dan kekurangan makanan sehingga dua orang muda akan mengalah untuk seorang laki-laki tua yang buta, ia tersentuh dan malah diam-diam membantu mencari makanan dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka juga. Ia senang ketika melihat ekspresi dua manusia itu melihat kumpulan makanan dan kayu bakar yang diberikannya untuk mereka. Selama diam-diam tinggal bersama mereka, ia mulai punya harapan baik lagi tentang manusia.

Secara perlahan tapi pasti, ia diam-diam belajar bahasa dari mereka, belajar sastra dan dongeng dari yang mereka bacakan, asal-usul keluarga mereka, konsep baik dan buruk, dan ia mulai belajar konsep keluarga, sesuatu yang juga ia tidak miliki. Setelah lama mengumpulkan niat, ia mencoba untuk menghadirkan diri pada keluarga tempatnya menumpang itu, yang sekarang anggota keluarganya bertambah satu. Awalnya ia menunjukkan diri pada bapak tua yang buta ketika anak-anaknya dan pacar anaknya sedang pergi. Bapak tua yang buta itu tentu menerimanya dengan senang hati seperti menerima tamu saja, tetapi ketika orang-orang yang muda pulang lagi ke rumah, reaksi mereka kacau, ada yang kabur, ada yang pingsan, dan ia diserang oleh yang laki-laki. Makhluk Tak Bernama kemudian melarikan diri ke hutan, dan dalam perjalanannya ia sempat menolong seorang perempuan yang tercebur di sungai, tetapi ketika menggendong perempuan itu ia malah diserang orang-orang yang salah sangka padanya, ia dipanah dan ditembak, ia begitu terluka karena lagi-lagi ia menerima kebencian dan serangan dari ketulusan dan kebaikan hatinya. Ia akhirnya memutuskan untuk benci selamanya pada umat manusia. Dalam perjalanannya kemudian, secara kebetulan ia bertemu dengan adik Frankenstein, yang kemudian dibunuhnya, lalu perhatiannya terarah untuk membuat hidup Frankenstein menderita. Ia kemudian bertanggung jawab untuk banyak kematian di sekeliling Frankenstein termasuk kematian adiknya, pengasuh adiknya, sahabatnya, Elizabeth, dan ayahnya yang mati karena sedih, tetapi ia sesungguhnya tidak merasa damai dengan segala perbuatannya itu. Sebagai penutup cerita, Frankenstein yang mengejar Makhluk Tak Bernama itu ke kutub utara menjadi sakit fisik dan psikis, ia menceritakan kisahnya pada kapten kapal laut bernama Robert Walton, termasuk cerita dari sudut pandang makhluk itu yang diceritakan padanya saat mereka bertemu setelah kematian adiknya. Frankenstein kemudian sekarat dan ketika ia mati, Makhluk Tak Bernama itu menghampirinya, merenungi hidupnya dan kesalahannya kembali dengan Walton yang mendengar dan menyaksikannya. Sesudahnya, ia lompat dari kabin kapal, dibawa ombak, lalu menghilang dalam jarak dan kegelapan.

Baca juga: Pancasila dan Jalan Tengah Keindonesiaan

Baca juga: Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

  1. Hermeneutika Dekonstruksi Derrida

Derrida terinspirasi oleh linguistik Saussure namun ia mengkritisi ketidakstabilan bahasa, ia juga mengkritisi kecenderungan metafisika Barat ke logosentris dan fonosentris. Mengadopsi cara Heidegger yang melakukan penyilangan kata Being, Derrida menggunakan konsep sous rature dengan menuliskan kata lalu memberi tanda silang karena menurutnya kata tidaklah akurat dan tidak memadai dalam menggambarkan realitas, maka kata tersebut diberi tanda silang, tetapi karena berguna, kata tersebut dibiarkan juga tetap terbaca.[2] Berbeda dengan teori Saussure, menurut Derrida signified (penanda) tidak berkaitan dengan signifier (petanda). Ia melihat tanda sebagai struktur perbedaan dalam artian sebagian darinya selalu tidak di sana dan sebagian yang lain selalu bukan yang itu. Bila melihat kamus, suatu tanda akan merujuk ke tanda yang lain dan seterusnya. Penanda terus berubah menjadi petanda, dan sebaliknya. Sehingga, makna dari suatu kata bukanlah sesuatu yang jelas dan identik dengan dirinya sendiri, melainkan terus bergerak sepanjang mata rantai penanda dan pada konteks yang berbeda yang juga tidak dapat dipahami begitu saja tanpa jaringan konsep dari kata-kata tersebut dan kata-kata lainnya. Tidak hanya ketiadaan makna yang dikhawatirkan, tetapi juga ketidakutuhan subjek yang berbahasa, sebab bahasa bukan diciptakan olehnya, tetapi tidak mungkin melepaskan diri darinya sebab bahasa adalah yang paling mungkin digunakan olehnya untuk mengemukakan gagasan dan makna sehingga keseluruhan gagasan bahwa subjek merupakan entitas yang utuh dan stabil juga berubah menjadi sekedar ilusi.[3]

Dengan différance yang harus dipahami sebagai yang mendahului pemisahan antara “deffering” sebagai penangguhan dan “differing” sebagai pembedaan, kata tersebut mengisyaratkan dan mengandung arti dua momen sekaligus, yaitu temporalisasi dan spesialisasi.[4] Sehingga différance dapat menunjukkan bahwa bahasa selalu bersifat hirarkis dan dikotomis dengan kecenderungan mendorong, melawan, dan memperbedakan kata-kata lain, sehingga makna bersifat metaforis dan asosiatif, tidak referensial maupun logis dan manusia seakan terperangkap dalam sistem tersebut dengan hanya mampu mengetahui segala sesuatunya sesuai dengan ketersediaan penjelasan sistem-sistem mengenai realitas.

Shelley, Mary. (1818)

Filsafat Barat mengasumsikan terdapat esensi, atau kebenaran yang berperan sebagai dasar semua keyakinan, maka dari itu ada kecenderungan dan kerinduan pada penanda transendental yang menghubungkan atau berkaitan dengan petanda misalnya Tuhan, roh, dst. Masing-masing konsep tersebut berperan sebagai dasar sistem pemikiran dan membentuk poros yang menjadi pusat tanda-tanda lainnya. Terdapat tanda-tanda lain yang dikaitkan dengan penanda-penanda tersebut seperti misalnya kebaikan, kebebasan, dst. Dapat dikatakan bahwa agar makna-makna itu mungkin, tanda-tanda lain harus ada terlebih dulu. Pembahasan mengenai asal-usul juga berarah untuk melihat tujuan makna, dan melihat dari tujuan atau telosnya merupakan cara mengorganisasi makna dalam hirarki penandaan. Kata-kata atheist dan theist misalnya menunjukkan bahwa kata-kata tersebut bergantung satu sama lain misalnya sebelum ada kata atheist, harus lebih dulu ada kata theist, dan menunjukkan kecenderungan hirarkis dalam bahasa terlebih dengan adanya kecenderungan menomorsatukan penanda transendental apalagi yang berkaitan dengan Tuhan, sehingga kata theist akan langsung diposisikan lebih tinggi daripada atheist. Kecenderungan filsafat Barat mengasumsikan esensi dan prinsip mendasar juga disebut Derrida sebagai kecenderungan metafisis, dan prinsip dasar itu sering dilalui secara sederhana dengan jalan pintas seperti dengan dikotomi, melakukan oposisi biner pada konsep, seperti subjek dan objek, tulisan dan ujaran, dll. Menurut Derrida, hasrat pada pusat dan tekanan otoritas juga berpengaruh pada kecenderungan hirarkis dan dikotomis bahasa. Oposisi konseptual yang sering digunakan untuk mengorganisir diskursus malah membuat hubungan-hubungan mendasar menjadi salah, (misalnya dikotomi theist dan atheist atau laki-laki dan perempuan dst.) maka oposisi biner yang biasa digunakan dan melestarikan metafisika seperti itu harus dipersoalkan dan didekonstruksi.

Namun dipengaruhi gagasan Freudian antara kesadaran dan ketidaksadaran yang saling tarik menarik, pertentangan bahasa itu saling membutuhkan dan saling menunjuk satu sama lain. Dengan dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem seperti itu, dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan seseorang akan menyadari bahwa terdapat banyak hal yang disembunyikan dan banyak penafsiran yang jauh lebih luas bila melihat hal-hal yang disembunyikan, dan mungkin memang segala sesuatunya seperti pengetahuan, kebenaran, keyakinan itu adalah konstruksi manusia sendiri.

 

  • Memunculkan yang Lain

Tujuan dekonstruksi antara lain, pertama menawarkan cara mengidentifikasi kontradiksi dalam teks sehingga memperoleh kesadaran lebih tinggi akan adanya bentuk-bentuk inkonsistensi dalam teks, misalnya pemilihan kata, penyusunan kalimat, cara memilih representasi, dan kecenderungan ideologis secara sadar atau tidak sudah memberikan kesan tertentu pada teks. [5] Kedua, memberlakukan teks, konteks, dan tradisi sebagai sarana yang mampu membuka kemungkinan baru untuk perubahan melalui hubungan yang tidak mungkin.[6] Ketiga, dekonstruksi membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan melihat cara-cara bagaimana pengalaman ditentukan oleh ideologi yang tidak kita sadari karena sudah dibangun dan menyatu dalam bahasa.[7] Keempat, dekonstruksi dianggap berhasil bila mampu mengubah suatu teks menjadi asing bagi para pembaca yang sudah menganggapnya familiar, dan menyingkap makna-makna yang terpinggirkan.[8] Aspirasi utama dekonstruksi adalah menyingkap makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan, atau disembunyikan.[9] Hal itu dapat dilakukan dengan menangguhkan dikotomi atau oposisi biner dan hirarki.

Dekonstruksi Derrida hanya mungkin bila pembaca tidak percaya begitu saja kepada kepenuhan makna suatu teks. Maka, dekonstruksi mengusik secara cermat kekuatan-kekuatan yang menentukan pemaknaan di dalam teks itu sendiri. Artinya, dekonstruksi membaca suatu teks untuk melihat bagaimana teks tersebut mengonstruksi pusatnya, sistem kebenaran dan maknanya, serta pertentangannya. Setiap teks menciptakan dunianya sendiri, dengan istilah-istilah dan premis-premisnya sendiri.[10]

Dengan semangat penangguhan, mengenai makna, maka menyimpulkan yang berarti memutuskan seharusnya tidak dilakukan karena tindakan memahami tidak pernah dipastikan dengan adanya penangguhan atas kemungkinan-kemungkinan lain.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Dekonstruksi

Dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem. Dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan setelah menyingkap yang tersembunyi, seseorang akan menyadari bahwa banyak penafsiran yang jauh lebih luas dari itu. Terlihat bahwa masyarakat terjebak atau diatur  misalnya oleh konsep indah dan jelek, dan dengan demikian Makhluk Tak Bernama langsung ditolak dan diserang oleh setiap manusia yang ditemuinya. Mereka tak bertanya lebih lanjut dan langsung bertindak sesuai kerangka yang berlaku. Mereka tak ingin menyingkap dan mengetahui lebih lanjut tentang Makhluk Tak Bernama yang padahal tadinya berhati baik dan lembut.

Kemudian posisi protagonis dan antagonis dari novel Frankenstein dapat ditelaah juga. Protagonis sering diartikan sebagai pemeran utama atau pemeran pusat dari suatu cerita, sementara antagonis sering dipahami sebagai musuh, saingan, lawan, dari karakter protagonis,  dari bahasa Yunani antagonistēs  anti-(“against”) dan agonizesthai (“to contend for a prize”). Dipahami juga bahwa antagonis merepresentasikan hambatan dan ancaman pada karakter protagonis dengan kehadirannya dan tindakannya.

Sifat hirarkis dan dikotomis yang melekat dengan bahasa dan wacana di masyarakat seperti misalnya subjek dan objek, pencipta dan karyanya, manusia dan non-manusia, indah dan jelek, akan membuat pembaca terarah untuk berpikir bahwa Frankenstein secara hirarkis lebih tinggi daripada Makhluk Tak Bernama, bahwa Frankenstein adalah protagonis sementara Makhluk Tak Bernama adalah antagonis. Tetapi, sesuai dengan berbagai tujuan dekonstruksi yang ditulis sebelumnya, suatu teks selalu terbuka untuk penafsiran baru, kontradiksi harus identifikasi, dan dekonstruksi akan dianggap berhasil bila mampu mengubah teks menjadi asing bagi pembaca yang sudah familiar dengannya, maka harus dilakukan penafsiran lagi pada teks Frankenstein. Pertama, hirarki dan dikotomi antara Frankenstein dan Makhluk Tak Bernama yang sering disebut monster, setan, bedebah, dan berbagai kata negatif lainnya, harus dibalik menjadi Makhluk Tak Bernama dan Frankenstein, pembalikan itu membantu untuk memahami dengan cara baru dan selanjutnya hal itu mungkin dapat ditiadakan juga, sebab dengan interseksionalitas, dipahami bahwa ada sangat banyak aspek dalam diri seseorang, bahwa dirinya itu berlapis. Ia adalah a, tetapi juga b, c, d, e, dan seterusnya.

Kemudian, dengan minat dan kepedulian untuk memunculkan yang lain, maka dapat dianggap Makhluk Tak Bernama adalah protagonis, sementara Frankenstein yang merupakan sumber penderitaan dan hambatan hidupnya adalah antagonis dari cerita itu. Mungkin bila diterbitkan dengan interpretasi baru, judul novel itu juga dapat diganti dari Frankenstein menjadi Makhluk Tak Bernama, sebab Makhluk Tak Bernama itu bahkan sempat berkata,

“By the virtues that I once possessed, I demand this from you. Hear my tale…”[11]

 

  1. Heidegger dan Hermeneutika

Heidegger merupakan salah satu filsuf penting dalam sejarah filsafat abad ke-20, dengan bukunya Being and Time yang sering disebut sebagai salah satu karya filosofis terpenting, ia mengemukakan kekayaan gagasan yang melingkupi metafisika, ontologi, filsafat bahasa, fenomenologi, eksistensialisme, dan tentunya hermeneutika dengan memulai dari menelaah hal penting mendasar yang menurutnya luput dipertanyakan filsafat selama ini yaitu persoalan mengenai makna being. Ia mencoba memahami being dari metafisika seperti menelaah kembali berbagai substansi being dari Aristoteles dan Descartes dan merumuskan bahwa being merupakan proses dari becoming dan dengannya menolak gagasan Aristotelian mengenai esensi manusia yang tetap dan merumuskan modus being antara lain Dasein, faktisitas, presence-at-hand, dan readiness-at-hand dan dengannya menolak juga gagasan Cartesian tentang tipe substansi res cogitans, dan res extensa. Ia juga mencoba memahami being dari filsafat bahasa Dun Scotus, bahwa kategori realitas tidak dapat ditarik begitu saja dari realitas seperti kata Aristoteles, melainkan diterapkan oleh manusia, sehingga persoalan being juga merupakan hubungan struktur bahasa yang menyediakan konsep untuk memahami struktur realitas, dengan menyadari bahasa itu sangat penting untuk menyingkap being, ia bahkan mengatakan bahwa language is the house of being.

Kemudian dengan mencari makna being dan cara mendapatkannya dari pengalaman dan bahasa, pemikirannya juga dapat disebut sebagai hermeneutika. Baik fenomenologi maupun eksistensialisme tidak dapat melepaskan kaitan antara subjek dan objek. Dengan memandang makna being yang ditentukan dari judgment dan keterarahan dalam pengalaman, ia juga menggunakan analisa fenomenologi. Lalu Heidegger juga percaya bahwa cara terbaik untuk memahami being adalah dengan melihat dan mempertanyakan pada diri manusia sendiri, pemikirannya seringkali disebut juga dengan eksistensialisme dengan merumuskan pembedaan Dasein sebagai being yang bereksistensi, menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dan dengan refleksi memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik.

 

  • Hermeneutika Faktisitas

Tidak seperti filsuf sebelum zamannya yaitu Schleiermacher dan Dilthey yang merumuskan hermeneutika dengan nuansa metode seni memahami, pada Schleiermacher untuk menangkap maksud pengarang sementara pada Dilthey untuk sesuatu yang lebih luas tentang karya tersebut dan banyak aspek lainnya, bagi Heidegger, hermeneutika bukan konsep intelektual melainkan konsep praktis, hermeneutika adalah sesuatu yang lebih luas dan mendalam yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan cara hidup seseorang, dan memahami bukan sesuatu yang bersifat kognitif tetapi bahkan bersifat pra-kognitif.

Pada tahun 1923, Heidegger memberikan kuliah berjudul “Ontology – The Hermenutics of Facticity dimana ia menjelaskan peranan hermeneutika dalam filsafatnya, yang memuncak dalam karyanya Being and Time (1927). Ontologi merupakan studi mengenai being, dan berkenaan dengan kuliahnya, Heidegger mengatakan bahwa being harus dapat diselidiki dengan bahasa. Awalnya, Heidegger menunjuk dua masalah utama dari ontologi yaitu prasangka bahwa makna dari being hanya dapat ditentukan dari menelaah objek yang objektif dan tidak mempertimbangkan kemungkinan lain tentangnya. Kedua, turunan dari masalah pertama, ontologi jadi tidak mempertimbangkan manusia untuk ditelaah. Lalu dengan faktisitas, Heidegger memaksudkannya sebagai modus partikular being. Dasein (“da” = “there” dan “sein” = “to be”) maksudnya adalah “being there” atau berada di sana, yang merupakan modus manusia untuk berada di dunia. Semua manusia memiliki modus tersebut, tetapi yang benar-benar dimiliki dan membedakan satu manusia dengan manusia lainnya adalah caranya berada di dunia. Berada di dunia bisa dijalani dengan kesadaran dan kewaspadaan akan kehidupan, atau sama sekali tidak dijalani dengan keduanya.[12]

Berada di dunia bagi Heidegger bukan hanya berada sebagai objek pasif saja, tetapi bagaimana seseorang hidup atau menghidupi hidupnya. Dasein merupakan makhluk hidup yang aktif dengan kehidupannya. Faktis berarti segala artikulasi tentang modusnya sebagai Dasein, yaitu ekspresi, artikulasi, dan pemahaman dirinya sendiri sebagai being merupakan bagian dari faktisitas[13] yaitu kenyataan eksistensial sebagai Dasein. Makna menurut Heidegger dijumpai dengan pengalaman hidup itu sendiri, sementara kebenaran menurutnya merupakan penyingkapan yang terjadi di dalam atau melalui pengalaman hidup itu sendiri, bukan melalui penilaian dari subjek terhadap objek.[14] Pemahaman eksistensial merujuk pada cara Dasein memahami dirinya dalam modus being, tidak hanya dirinya, Dasein juga memahami hal-hal lain dan manusia lainnya (other things and other human beings).[15] Dengan kata lain, sebelum merumuskan ontologi, seseorang harus dapat menjawab makna being secara keseluruhan.

Dalam Being and Time, terdapat drama Dasein yang terlempar ke dunia ini. Ia berada di dalam dunia dan hal itu membuatnya mengalami kecemasan eksistensial. Memahami merupakan momen yang sama primordialnya dengan kecemasan itu, sehingga ada dua hal yang diandaikan disana yaitu pertama, keterlemparan itu ada sebelum ada perbedaan subjek dan objek dalam pengetahuan, sehingga memahami bukan tindakan kognitif ala Cartesian, merupakan tindakan pra-kognitif. Kedua, sebagai konsekuensinya memahami bukan merupakan alat untuk mengetahui dunia, melainkan keterbukaan Dasein terhadap dunia dan kemungkinan-kemungkinannya untuk berada dalam dunia.[16]

Hermeneutika Heidegger disebut hermeneutik faktisitas karena baginya memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan dalam dirinya sebagai manusia. Memahami bukan merupakan sesuatu yang dimiliki, tetapi merupakan cara bereksistensi. Berada di dunia tidak lain kecuali merupakan berupaya memahami. Menjadi manusia adalah menjadi makhluk hermeneutis yang terus mencoba memahami diri dan sekelilingnya dengan berbagai cara.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Faktisitas

Makhluk Tak Bernama terlempar ke dunia. Ia tidak meminta untuk hidup, ia tidak dapat memilih fisiknya, ia tidak dapat memilih tempat ia lahir, bagaimanapun ia ada begitu saja di dunia ini. Ia bingung, merana karena ketubuhannya dan perasannya, ia cemas, tetapi tetap menjalani hidupnya. Ia berada di dalam dunia, menyadari keterlemparannya, kemudian berupaya untuk memahami dunia dan dirinya sebagai caranya berada. Ia juga menyadari keberadaannya melalui keterikatannya dan keterlibatannya dengan dunia dan being lainnya. Makhluk yang dibentuk dari berbagai tubuh manusia itu memiliki perasaan dan pikiran yang sangat peka untuk berhubungan dengan being-being lain.

“They often, I believe, suffered the pangs of hunger very poignantly, especially the two younger cottagers; for several times they placed food before the old man when they reserved none for themselves.”

“This trait of kindness moved me sensibly. I had been accustomed, during the night to steal a part of their store for my own consumption; but when I found that in doing this I inflicted pain on the cottagers, I abstained, and satisfied myself with berries, nuts, and roots, which I gathered from a neighbouring wood.”

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”

“I remember the first time that I did this the young woman, when she opened the door in the morning, appeared greatly astonished on seeing a great pile of wood on the outside. She uttered some words in a loud voice, and the youth joined her, who also expressed surprise. I observed, with pleasure, that he did not go to the forest that day, but spent it in repairing the cottage and cultivating the garden.

“By degrees I made a discovery of still greater moment. I found that these people possessed a method of communicating their experience and feelings to one another by articulate sounds. I perceived that the words they spoke sometimes produced pleasure or pain, smiles or sadness, in the minds and countenances of the hearers. This was indeed a godlike science, and I ardently desired to become acquainted with it.” [17]

Ia mampu menjarak, mengatasi dirinya dan hal-hal yang mengungkung dirinya, dan ia selalu merefleksikan dengan sadar hal-hal yang dari dirinya dan sekelilingnya bahkan dimulai dari sensasi, perasaan, hingga pikirannya.

“No distinct ideas occupied my mind; all was confused. I felt light, and hunger, and thirst, and darkness; innumerable sounds rung in my ears, and on all sides various scents saluted me: the only object that I could distinguish was the bright moon, and I fixed my eyes on that with pleasure.”[18]

Keterlibatannya dengan dunia, meskipun seringnya negatif dan menyakitkannya, tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia terus mencoba memahami dunia dan being lainnya. Ia bahkan mempertanyakan kebahagiaan orang-orang lainnya.

“They were not entirely happy. The young man and his companion often went apart, and appeared to weep. I saw no cause for their unhappiness; but I was deeply affected by it. If such lovely creatures were miserable, it was less strange that I, an imperfect and solitary being, should be wretched. Yet why were these gentle beings unhappy? They possessed a delightful house (for such it was in my eyes) and every luxury; they had a fire to warm them when chill, and delicious viands when hungry; they were dressed in excellent clothes; and, still more, they enjoyed one another’s company and speech, interchanging each day looks of affection and kindness. What did their tears imply? Did they really express pain? I was at first unable to solve these questions; but perpetual attention and time explained to me many appearances which were at first enigmatic.”[19]

Ia mencoba untuk berkomunikasi dan terus menunjukkan kebaikan hatinya pada orang-orang lain.

“How can I move thee? Will no entreaties cause thee to turn a favourable eye upon thy creature, who implores thy goodness and compassion? Believe me, Frankenstein: I was benevolent; my soul glowed with love and humanity: but am I not alone, miserably alone? You, my creator, abhor me; what hope can I gather from your fellow-creatures, who owe me nothing? they spurn and hate me. The desert mountains and dreary glaciers are my refuge.”[20]

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”[21]

“I was scarcely hid, when a young girl came running towards the spot where I was concealed, laughing, as if she ran from some one in sport. She continued her course along the precipitous sides of the river, when suddenly her foot slipt, and she fell into the rapid stream. I rushed from my hiding-place; and, with extreme labour from the force of the current, saved her, and dragged her to shore. She was senseless; and I endeavoured by every means in my power to restore animation, when I was suddenly interrupted by the approach of rustic.”[22]

Namun lama-lama setelah ia terus disakiti oleh berbagai manusia yang dijumpainya karena mereka langsung hanya menilainya dari keburukan rupanya, ia memutuskan kesia-siaannya dan berpihak tidak lagi pada kebaikan, melainkan pada kejahatan, dan bersumpah terus membenci dan membalas dendam pada umat manusia.

“This was then the reward of my benevolence! I had saved a human being from destruction, and as a recompense, I now writhed under the miserable pain of a wound, which shattered the flesh and bone. The feelings of kindness and gentleness which I had entertained but a few moments before gave place to hellish rage and gnashing of teeth. Inflamed by pain, I vowed eternal hatred and vengeance to all mankind.”[23]

Tetapi, bahkan setelah bersumpah jahat demikian dan sungguhan melakukan perbuatan jahatnya, makhluk itu tetap mencoba untuk berbuat baik lebih dahulu.

“Suddenly as I gazed on him, an idea seized me that this little creature was unprejudiced, and had lived too short a time to have imbibed a horror of deformity. If, therefore, I could seize him and educate him as my companion and friend, I should not be so desolate in this peopled earth.”[24]

Dan setelah ia melakukan perbuatan jahatnya, ia tidak merasa puas melainkan merasa semakin merana.

“A frightful selfishness hurried me on, while my heart was poisoned with remorse. Think you that the groans of Clerval were music to my ears? My heart was fashioned to be susceptible of love and sympathy; and when wrenched by misery to vice and hatred it did not endure the violence of the change without torture such as you cannot even imagine.”[25]

Tetapi perasaan merana karena kesalahannya itu dengan cepat berubah menjadi hasrat untuk membalas dendam lagi.

“After the murder of Clerval I returned to Switzerland heartbroken and overcome. I pitied Frankenstein; my pity amounted to horror: I abhorred myself. But when I discovered that he, the author at once of my existence and of its unspeakable torments, dared to hope for happiness; that while he accumulated wretchedness and despair upon me he sought his own enjoyment in feelings and passions from the indulgence of which I was forever barred, then impotent envy and bitter indignation filled me with an insatiable thirst for vengeance.”[26]

Makhluk itu terus merenungkan kembali hidupnya, perbuatannya, harapannya, dan dampaknya atas dirinya.

“Once I falsely hoped to meet with beings who, pardoning my outward form, would love me for the excellent qualities which I was capable of unfolding. I was nourished with high thoughts of honour and devotion. But now crime has degraded me beneath the meanest animal. No guilt, no mischief, no malignity, no misery, can be found comparable to mine. When I run over the frightful catalogue of my sins, I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness. But it is even so; the fallen angel becomes a malignant devil. Yet even that enemy of God and man had friends and associates in his desolation; I am alone.”[27]

Makhluk Tak Bernama merepresentasikan hermeneutika faktisitas bahwa memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan merupakan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan. Makhluk Tak Berrnama itu bagaikan Dasein sebagai being yang bereksistensi. Ia menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, awalnya ia cemas tetapi akhirnya menerimanya (I shall die and what I now feel will be extinct. Soon these burning miseries will be extinct.)[28] dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dalam narasi ini dan dengan refleksi ia memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik meskipun ia pada akhirnya memiliki masalah dengan moralitas dan jatuh pada kegelapan. Tetapi masalah moralitas dan perubahan tindakannya itu mencerminkan gambaran manusia yang suatu saat bisa berbuat sangat baik dan pada saat lain bisa berbuat sangat buruk.

“I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness.”[29]

Dibandingkan dengan makhluk tak bernama itu, Heideggerian mungkin akan menyebut Frankenstein tidak otentik karena menjalani hidupnya dengan tidak refleksif. Ia bekerja selama dua tahun untuk proyeknya, tetapi tidak berpikir matang dan bahkan tidak menyadari perbuatannya hingga selesai. Ia begitu mengagungkan dirinya sebagai subjek pencipta, sementara ciptaannya baginya hanya merupakan objek yang hina. Ia memiliki tujuan hidup yang besar untuk menjadi pelopor dan pencipta, tetapi ia tidak memiliki rasa tanggung jawab atas hasil karyanya, ia tidak memikirkan bagaimana rasanya menjadi makhluk tak bernama itu, dan segala yang dipikirkannya terus berfokus untuk kenyamanan dan keuntungan dirinya. Pada akhirnya, ia merasa bersalah tetapi dalam artian sempit karena kebahagiaannya terenggut olehnya karena hasil karyanya sendiri.

*) Karina Andjani, Pianis, saat ini tengah menyelesaikan studi di negeri kincir angin, Belanda.

**) Baca kelanjutan kajian ini dalam artikel : Frankenstein Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

___________________

 

Referensi

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London.

Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta.

Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta.

Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta.

Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham.

 

 

[1] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 21. Sepanjang bagian dua ini, saya merangkum dari buku tersebut.

[2] Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta. Hal: 46.

[3] Ibid. Hal: 48-49.

[4] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 289.

[5] Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 134.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid. Hal: 135.

[9] Ibid. Hal: 133.

[10] Ibid. Hal: 136.

[11] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 87.

[12] Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham. Hal: 52.

[13] Ibid. Hal: 53.

[14] Ibid. Hal: 54.

[15] Ibid. Hal: 60.

[16] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 110.

[17] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal:  97.

[18] Ibid. Hal: 90.

[19] Ibid. Hal: 96-97.

[20] Ibid. Hal: 87.

[21] Ibid. Hal: 97.

[22] Ibid. Hal: 123.

[23] Ibid.

[24] Ibid. Hal: 124.

[25] Ibid. Hal: 198.

[26] Ibid. Hal: 198-199.

[27] Ibid. Hal: 199-200.

[28] Ibid. Hal: 201.

[29] Ibid. Hal: 199-200.

Continue Reading

Buku

Menuju (Kematian) Demokrasi?

mm

Published

on

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena system yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

“Comprehensive, enlightening, and terrifyingly timely.” —New York Times Book Review | “Cool and persuasive… How Democracies Die comes at exactly the right moment.” —The Washington Post _____ Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3 Harga : Rp.245.000,-

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan untuk paham yang mengutamakan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yang merupakan dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Menurut mereka, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu cara saja SARA tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi dictator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Menjaga Demokrasi

Lantas, bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan.

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

___________________

Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.tv

Continue Reading

Classic Prose

Trending