Connect with us

Buku

Frankenstein, Hermeneutika dan Science Fiction

mm

Published

on

Meninjau Novel Frankenstein dengan Hermeneutika Dekonstruksi dan Hermeneutika Faktisitas (bagian I)

Karina Andjani *)

  1. Pengantar

Frankenstein (1818) karya Mary Shelley merupakan salah satu dari novel klasik yang terus diterbitkan dari waktu ke waktu. Karena cukup populer, orang-orang setidaknya pernah mendengar judul novel yang juga sempat diadaptasi menjadi beberapa film tersebut. Ketika misalnya bertanya pada orang-orang mengenai kesan terhadap judul “Frankenstein”, kebanyakan akan berkata bahwa itu adalah nama makhluk yang mengerikan atau itu adalah cerita horror. Sebelum saya belajar filsafat dan juga hermeneutika, ketika saya membaca novel Frankenstein, saya justru menemukan kekeliruan dari anggapan umum terhadapnya. Yaitu, bahwa Frankenstein bukan nama makhluk yang mengerikan itu melainkan nama panjang dari orang yang menciptakannya, sementara makhluk itu tak bernama dan sering disebut “demon”, “monster”, “wretch”, dan kata gantinya “it”. Kemudian, sensasi yang saya dapatkan dari cerita Frankenstein adalah itu bukan cerita horror seperti film-film horror yang sempat marak di bioskop, tetapi kalaupun horror, itu merupakan horror dan mengerikan yang merupakan konsekuensi dari tindakan yang kurang dipikirkan secara bijak, dan bukannya merasa ketakutan justru saya merasa sedih. Agaknya cerita tersebut ada hubungannya dengan kemanusiaan, pengetahuan, agama, dan moralitas. Untuk tugas akhir ini saya berupaya meninjau novel Frankenstein untuk menelaahnya terutama dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida dan hermeneutika faktisitas Heidegger.

 

  1. Rangkuman Cerita

Victor Frankenstein lahir dari keluarga terhormat dan sejahtera di Genevese.[1] Ketika ia berumur lima tahun, orangtuanya pesiar ke Italia dan tidak sengaja mengadopsi anak perempuan cantik yang bernama Elizabeth Lavenza, yang diharapkan ibunya akan menjadi teman hidup Frankenstein. Ia kemudian memiliki dua adik laki-laki dan memiliki sahabat bernama Henry Clerval. Ketika remaja, Frankenstein sangat tertarik pada filsafat alam, kemudian setelah menyaksikan hujan badai luar biasa yang petirnya menghancurkan pohon ek, ia terkejut dan memutuskan mencari yang lebih luar biasa dari itu semua.

Ketika berumur tujuh belas tahun, ibunya meninggal karena demam berdarah dan setelahnya Frankestein mulai menjadi pelajar di universitas Ingolstadt dengan fokus filsafat alam. Tetapi sesungguhnya Frankenstein tidak puas dan lebih tertarik pada alkimia dan kimia, ia banyak membaca buku ilmu pengetahuan kuno, tentang elixir of life, dan ia sangat tertarik pada proses kehidupan semua makhluk hidup entah dengan darah, nafas, atau keajaiban. Ia kemudian memiliki tujuan untuk dapat menjadi pelopor cara baru untuk menjelajahi kekuatan yang tidak diketahui sebelumnya dan menyingkap misteri terdalam mengenai penciptaan dan terobsesi dengan gagasan menciptakan kehidupan spesies baru dan menjadi pencipta.

Selama dua tahun, Frankenstein rajin bekerja dan rutin mengunjungi rumah mayat untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang kemudian disambungnya sedikit demi sedikit dan ia bekerja untuk proyeknya, tetapi ketika selesai, ia begitu kecewa dan ngeri karena sadar bahwa hasil kerjanya sangat mengerikan. Makhluk yang diciptakannya jauh dari konsep keindahan; tubuh makhluk itu besar karena merupakan kumpulan beberapa anggota tubuh yang sama, kulit kuning jarangnya hampir tidak menutupi otot dan arteri, matanya berair, bibirnya hitam, dan kepala berambut hitam serta gigi putih bersihnya malah menjadi kontras yang menambah kengerian. Ketika Frankenstein tertidur lelah, makhluk itu ternyata berhasil hidup dan ingin menyapanya, tetapi malah Frankenstein yang ketakutan malah kabur darinya.

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London

Makhluk Tak Bernama itu memulai hidupnya dengan rasa kecewa karena ditolak penciptanya, tetapi ia juga takjub pada sensasi inderawi yang bekerja secara bersamaan. Ia kemudian hidup luntang-lantung kesana kemari karena ia selalu diusir, ditolak, dengan kekerasan dari setiap manusia yang ditemuinya, manusia takut padanya dan menyerangnya dengan jahat sementara ia juga menjadi takut dengan manusia yang jahat padanya. Ia mencoba bertahan hidup, mengatasi rasa lapar, dingin, dan merana, dan bertanya-tanya mengapa ia hidup dengan kehidupan seperti itu, karena bahkan ia tidak meminta untuk hidup.

Setelah beberapa kali diusir, ia menemukan kolong pondokan sebuah keluarga pedesaan dan tinggal disana diam-diam untuk kemudian pada waktu yang lama. Untuk makan, ia awalnya mengambil makanan mereka tetapi setelah mengamati bahwa ternyata mereka juga sedang kesulitan dan kekurangan makanan sehingga dua orang muda akan mengalah untuk seorang laki-laki tua yang buta, ia tersentuh dan malah diam-diam membantu mencari makanan dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka juga. Ia senang ketika melihat ekspresi dua manusia itu melihat kumpulan makanan dan kayu bakar yang diberikannya untuk mereka. Selama diam-diam tinggal bersama mereka, ia mulai punya harapan baik lagi tentang manusia.

Secara perlahan tapi pasti, ia diam-diam belajar bahasa dari mereka, belajar sastra dan dongeng dari yang mereka bacakan, asal-usul keluarga mereka, konsep baik dan buruk, dan ia mulai belajar konsep keluarga, sesuatu yang juga ia tidak miliki. Setelah lama mengumpulkan niat, ia mencoba untuk menghadirkan diri pada keluarga tempatnya menumpang itu, yang sekarang anggota keluarganya bertambah satu. Awalnya ia menunjukkan diri pada bapak tua yang buta ketika anak-anaknya dan pacar anaknya sedang pergi. Bapak tua yang buta itu tentu menerimanya dengan senang hati seperti menerima tamu saja, tetapi ketika orang-orang yang muda pulang lagi ke rumah, reaksi mereka kacau, ada yang kabur, ada yang pingsan, dan ia diserang oleh yang laki-laki. Makhluk Tak Bernama kemudian melarikan diri ke hutan, dan dalam perjalanannya ia sempat menolong seorang perempuan yang tercebur di sungai, tetapi ketika menggendong perempuan itu ia malah diserang orang-orang yang salah sangka padanya, ia dipanah dan ditembak, ia begitu terluka karena lagi-lagi ia menerima kebencian dan serangan dari ketulusan dan kebaikan hatinya. Ia akhirnya memutuskan untuk benci selamanya pada umat manusia. Dalam perjalanannya kemudian, secara kebetulan ia bertemu dengan adik Frankenstein, yang kemudian dibunuhnya, lalu perhatiannya terarah untuk membuat hidup Frankenstein menderita. Ia kemudian bertanggung jawab untuk banyak kematian di sekeliling Frankenstein termasuk kematian adiknya, pengasuh adiknya, sahabatnya, Elizabeth, dan ayahnya yang mati karena sedih, tetapi ia sesungguhnya tidak merasa damai dengan segala perbuatannya itu. Sebagai penutup cerita, Frankenstein yang mengejar Makhluk Tak Bernama itu ke kutub utara menjadi sakit fisik dan psikis, ia menceritakan kisahnya pada kapten kapal laut bernama Robert Walton, termasuk cerita dari sudut pandang makhluk itu yang diceritakan padanya saat mereka bertemu setelah kematian adiknya. Frankenstein kemudian sekarat dan ketika ia mati, Makhluk Tak Bernama itu menghampirinya, merenungi hidupnya dan kesalahannya kembali dengan Walton yang mendengar dan menyaksikannya. Sesudahnya, ia lompat dari kabin kapal, dibawa ombak, lalu menghilang dalam jarak dan kegelapan.

Baca juga: Pancasila dan Jalan Tengah Keindonesiaan

Baca juga: Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

  1. Hermeneutika Dekonstruksi Derrida

Derrida terinspirasi oleh linguistik Saussure namun ia mengkritisi ketidakstabilan bahasa, ia juga mengkritisi kecenderungan metafisika Barat ke logosentris dan fonosentris. Mengadopsi cara Heidegger yang melakukan penyilangan kata Being, Derrida menggunakan konsep sous rature dengan menuliskan kata lalu memberi tanda silang karena menurutnya kata tidaklah akurat dan tidak memadai dalam menggambarkan realitas, maka kata tersebut diberi tanda silang, tetapi karena berguna, kata tersebut dibiarkan juga tetap terbaca.[2] Berbeda dengan teori Saussure, menurut Derrida signified (penanda) tidak berkaitan dengan signifier (petanda). Ia melihat tanda sebagai struktur perbedaan dalam artian sebagian darinya selalu tidak di sana dan sebagian yang lain selalu bukan yang itu. Bila melihat kamus, suatu tanda akan merujuk ke tanda yang lain dan seterusnya. Penanda terus berubah menjadi petanda, dan sebaliknya. Sehingga, makna dari suatu kata bukanlah sesuatu yang jelas dan identik dengan dirinya sendiri, melainkan terus bergerak sepanjang mata rantai penanda dan pada konteks yang berbeda yang juga tidak dapat dipahami begitu saja tanpa jaringan konsep dari kata-kata tersebut dan kata-kata lainnya. Tidak hanya ketiadaan makna yang dikhawatirkan, tetapi juga ketidakutuhan subjek yang berbahasa, sebab bahasa bukan diciptakan olehnya, tetapi tidak mungkin melepaskan diri darinya sebab bahasa adalah yang paling mungkin digunakan olehnya untuk mengemukakan gagasan dan makna sehingga keseluruhan gagasan bahwa subjek merupakan entitas yang utuh dan stabil juga berubah menjadi sekedar ilusi.[3]

Dengan différance yang harus dipahami sebagai yang mendahului pemisahan antara “deffering” sebagai penangguhan dan “differing” sebagai pembedaan, kata tersebut mengisyaratkan dan mengandung arti dua momen sekaligus, yaitu temporalisasi dan spesialisasi.[4] Sehingga différance dapat menunjukkan bahwa bahasa selalu bersifat hirarkis dan dikotomis dengan kecenderungan mendorong, melawan, dan memperbedakan kata-kata lain, sehingga makna bersifat metaforis dan asosiatif, tidak referensial maupun logis dan manusia seakan terperangkap dalam sistem tersebut dengan hanya mampu mengetahui segala sesuatunya sesuai dengan ketersediaan penjelasan sistem-sistem mengenai realitas.

Shelley, Mary. (1818)

Filsafat Barat mengasumsikan terdapat esensi, atau kebenaran yang berperan sebagai dasar semua keyakinan, maka dari itu ada kecenderungan dan kerinduan pada penanda transendental yang menghubungkan atau berkaitan dengan petanda misalnya Tuhan, roh, dst. Masing-masing konsep tersebut berperan sebagai dasar sistem pemikiran dan membentuk poros yang menjadi pusat tanda-tanda lainnya. Terdapat tanda-tanda lain yang dikaitkan dengan penanda-penanda tersebut seperti misalnya kebaikan, kebebasan, dst. Dapat dikatakan bahwa agar makna-makna itu mungkin, tanda-tanda lain harus ada terlebih dulu. Pembahasan mengenai asal-usul juga berarah untuk melihat tujuan makna, dan melihat dari tujuan atau telosnya merupakan cara mengorganisasi makna dalam hirarki penandaan. Kata-kata atheist dan theist misalnya menunjukkan bahwa kata-kata tersebut bergantung satu sama lain misalnya sebelum ada kata atheist, harus lebih dulu ada kata theist, dan menunjukkan kecenderungan hirarkis dalam bahasa terlebih dengan adanya kecenderungan menomorsatukan penanda transendental apalagi yang berkaitan dengan Tuhan, sehingga kata theist akan langsung diposisikan lebih tinggi daripada atheist. Kecenderungan filsafat Barat mengasumsikan esensi dan prinsip mendasar juga disebut Derrida sebagai kecenderungan metafisis, dan prinsip dasar itu sering dilalui secara sederhana dengan jalan pintas seperti dengan dikotomi, melakukan oposisi biner pada konsep, seperti subjek dan objek, tulisan dan ujaran, dll. Menurut Derrida, hasrat pada pusat dan tekanan otoritas juga berpengaruh pada kecenderungan hirarkis dan dikotomis bahasa. Oposisi konseptual yang sering digunakan untuk mengorganisir diskursus malah membuat hubungan-hubungan mendasar menjadi salah, (misalnya dikotomi theist dan atheist atau laki-laki dan perempuan dst.) maka oposisi biner yang biasa digunakan dan melestarikan metafisika seperti itu harus dipersoalkan dan didekonstruksi.

Namun dipengaruhi gagasan Freudian antara kesadaran dan ketidaksadaran yang saling tarik menarik, pertentangan bahasa itu saling membutuhkan dan saling menunjuk satu sama lain. Dengan dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem seperti itu, dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan seseorang akan menyadari bahwa terdapat banyak hal yang disembunyikan dan banyak penafsiran yang jauh lebih luas bila melihat hal-hal yang disembunyikan, dan mungkin memang segala sesuatunya seperti pengetahuan, kebenaran, keyakinan itu adalah konstruksi manusia sendiri.

 

  • Memunculkan yang Lain

Tujuan dekonstruksi antara lain, pertama menawarkan cara mengidentifikasi kontradiksi dalam teks sehingga memperoleh kesadaran lebih tinggi akan adanya bentuk-bentuk inkonsistensi dalam teks, misalnya pemilihan kata, penyusunan kalimat, cara memilih representasi, dan kecenderungan ideologis secara sadar atau tidak sudah memberikan kesan tertentu pada teks. [5] Kedua, memberlakukan teks, konteks, dan tradisi sebagai sarana yang mampu membuka kemungkinan baru untuk perubahan melalui hubungan yang tidak mungkin.[6] Ketiga, dekonstruksi membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan melihat cara-cara bagaimana pengalaman ditentukan oleh ideologi yang tidak kita sadari karena sudah dibangun dan menyatu dalam bahasa.[7] Keempat, dekonstruksi dianggap berhasil bila mampu mengubah suatu teks menjadi asing bagi para pembaca yang sudah menganggapnya familiar, dan menyingkap makna-makna yang terpinggirkan.[8] Aspirasi utama dekonstruksi adalah menyingkap makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan, atau disembunyikan.[9] Hal itu dapat dilakukan dengan menangguhkan dikotomi atau oposisi biner dan hirarki.

Dekonstruksi Derrida hanya mungkin bila pembaca tidak percaya begitu saja kepada kepenuhan makna suatu teks. Maka, dekonstruksi mengusik secara cermat kekuatan-kekuatan yang menentukan pemaknaan di dalam teks itu sendiri. Artinya, dekonstruksi membaca suatu teks untuk melihat bagaimana teks tersebut mengonstruksi pusatnya, sistem kebenaran dan maknanya, serta pertentangannya. Setiap teks menciptakan dunianya sendiri, dengan istilah-istilah dan premis-premisnya sendiri.[10]

Dengan semangat penangguhan, mengenai makna, maka menyimpulkan yang berarti memutuskan seharusnya tidak dilakukan karena tindakan memahami tidak pernah dipastikan dengan adanya penangguhan atas kemungkinan-kemungkinan lain.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Dekonstruksi

Dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem. Dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan setelah menyingkap yang tersembunyi, seseorang akan menyadari bahwa banyak penafsiran yang jauh lebih luas dari itu. Terlihat bahwa masyarakat terjebak atau diatur  misalnya oleh konsep indah dan jelek, dan dengan demikian Makhluk Tak Bernama langsung ditolak dan diserang oleh setiap manusia yang ditemuinya. Mereka tak bertanya lebih lanjut dan langsung bertindak sesuai kerangka yang berlaku. Mereka tak ingin menyingkap dan mengetahui lebih lanjut tentang Makhluk Tak Bernama yang padahal tadinya berhati baik dan lembut.

Kemudian posisi protagonis dan antagonis dari novel Frankenstein dapat ditelaah juga. Protagonis sering diartikan sebagai pemeran utama atau pemeran pusat dari suatu cerita, sementara antagonis sering dipahami sebagai musuh, saingan, lawan, dari karakter protagonis,  dari bahasa Yunani antagonistēs  anti-(“against”) dan agonizesthai (“to contend for a prize”). Dipahami juga bahwa antagonis merepresentasikan hambatan dan ancaman pada karakter protagonis dengan kehadirannya dan tindakannya.

Sifat hirarkis dan dikotomis yang melekat dengan bahasa dan wacana di masyarakat seperti misalnya subjek dan objek, pencipta dan karyanya, manusia dan non-manusia, indah dan jelek, akan membuat pembaca terarah untuk berpikir bahwa Frankenstein secara hirarkis lebih tinggi daripada Makhluk Tak Bernama, bahwa Frankenstein adalah protagonis sementara Makhluk Tak Bernama adalah antagonis. Tetapi, sesuai dengan berbagai tujuan dekonstruksi yang ditulis sebelumnya, suatu teks selalu terbuka untuk penafsiran baru, kontradiksi harus identifikasi, dan dekonstruksi akan dianggap berhasil bila mampu mengubah teks menjadi asing bagi pembaca yang sudah familiar dengannya, maka harus dilakukan penafsiran lagi pada teks Frankenstein. Pertama, hirarki dan dikotomi antara Frankenstein dan Makhluk Tak Bernama yang sering disebut monster, setan, bedebah, dan berbagai kata negatif lainnya, harus dibalik menjadi Makhluk Tak Bernama dan Frankenstein, pembalikan itu membantu untuk memahami dengan cara baru dan selanjutnya hal itu mungkin dapat ditiadakan juga, sebab dengan interseksionalitas, dipahami bahwa ada sangat banyak aspek dalam diri seseorang, bahwa dirinya itu berlapis. Ia adalah a, tetapi juga b, c, d, e, dan seterusnya.

Kemudian, dengan minat dan kepedulian untuk memunculkan yang lain, maka dapat dianggap Makhluk Tak Bernama adalah protagonis, sementara Frankenstein yang merupakan sumber penderitaan dan hambatan hidupnya adalah antagonis dari cerita itu. Mungkin bila diterbitkan dengan interpretasi baru, judul novel itu juga dapat diganti dari Frankenstein menjadi Makhluk Tak Bernama, sebab Makhluk Tak Bernama itu bahkan sempat berkata,

“By the virtues that I once possessed, I demand this from you. Hear my tale…”[11]

 

  1. Heidegger dan Hermeneutika

Heidegger merupakan salah satu filsuf penting dalam sejarah filsafat abad ke-20, dengan bukunya Being and Time yang sering disebut sebagai salah satu karya filosofis terpenting, ia mengemukakan kekayaan gagasan yang melingkupi metafisika, ontologi, filsafat bahasa, fenomenologi, eksistensialisme, dan tentunya hermeneutika dengan memulai dari menelaah hal penting mendasar yang menurutnya luput dipertanyakan filsafat selama ini yaitu persoalan mengenai makna being. Ia mencoba memahami being dari metafisika seperti menelaah kembali berbagai substansi being dari Aristoteles dan Descartes dan merumuskan bahwa being merupakan proses dari becoming dan dengannya menolak gagasan Aristotelian mengenai esensi manusia yang tetap dan merumuskan modus being antara lain Dasein, faktisitas, presence-at-hand, dan readiness-at-hand dan dengannya menolak juga gagasan Cartesian tentang tipe substansi res cogitans, dan res extensa. Ia juga mencoba memahami being dari filsafat bahasa Dun Scotus, bahwa kategori realitas tidak dapat ditarik begitu saja dari realitas seperti kata Aristoteles, melainkan diterapkan oleh manusia, sehingga persoalan being juga merupakan hubungan struktur bahasa yang menyediakan konsep untuk memahami struktur realitas, dengan menyadari bahasa itu sangat penting untuk menyingkap being, ia bahkan mengatakan bahwa language is the house of being.

Kemudian dengan mencari makna being dan cara mendapatkannya dari pengalaman dan bahasa, pemikirannya juga dapat disebut sebagai hermeneutika. Baik fenomenologi maupun eksistensialisme tidak dapat melepaskan kaitan antara subjek dan objek. Dengan memandang makna being yang ditentukan dari judgment dan keterarahan dalam pengalaman, ia juga menggunakan analisa fenomenologi. Lalu Heidegger juga percaya bahwa cara terbaik untuk memahami being adalah dengan melihat dan mempertanyakan pada diri manusia sendiri, pemikirannya seringkali disebut juga dengan eksistensialisme dengan merumuskan pembedaan Dasein sebagai being yang bereksistensi, menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dan dengan refleksi memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik.

 

  • Hermeneutika Faktisitas

Tidak seperti filsuf sebelum zamannya yaitu Schleiermacher dan Dilthey yang merumuskan hermeneutika dengan nuansa metode seni memahami, pada Schleiermacher untuk menangkap maksud pengarang sementara pada Dilthey untuk sesuatu yang lebih luas tentang karya tersebut dan banyak aspek lainnya, bagi Heidegger, hermeneutika bukan konsep intelektual melainkan konsep praktis, hermeneutika adalah sesuatu yang lebih luas dan mendalam yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan cara hidup seseorang, dan memahami bukan sesuatu yang bersifat kognitif tetapi bahkan bersifat pra-kognitif.

Pada tahun 1923, Heidegger memberikan kuliah berjudul “Ontology – The Hermenutics of Facticity dimana ia menjelaskan peranan hermeneutika dalam filsafatnya, yang memuncak dalam karyanya Being and Time (1927). Ontologi merupakan studi mengenai being, dan berkenaan dengan kuliahnya, Heidegger mengatakan bahwa being harus dapat diselidiki dengan bahasa. Awalnya, Heidegger menunjuk dua masalah utama dari ontologi yaitu prasangka bahwa makna dari being hanya dapat ditentukan dari menelaah objek yang objektif dan tidak mempertimbangkan kemungkinan lain tentangnya. Kedua, turunan dari masalah pertama, ontologi jadi tidak mempertimbangkan manusia untuk ditelaah. Lalu dengan faktisitas, Heidegger memaksudkannya sebagai modus partikular being. Dasein (“da” = “there” dan “sein” = “to be”) maksudnya adalah “being there” atau berada di sana, yang merupakan modus manusia untuk berada di dunia. Semua manusia memiliki modus tersebut, tetapi yang benar-benar dimiliki dan membedakan satu manusia dengan manusia lainnya adalah caranya berada di dunia. Berada di dunia bisa dijalani dengan kesadaran dan kewaspadaan akan kehidupan, atau sama sekali tidak dijalani dengan keduanya.[12]

Berada di dunia bagi Heidegger bukan hanya berada sebagai objek pasif saja, tetapi bagaimana seseorang hidup atau menghidupi hidupnya. Dasein merupakan makhluk hidup yang aktif dengan kehidupannya. Faktis berarti segala artikulasi tentang modusnya sebagai Dasein, yaitu ekspresi, artikulasi, dan pemahaman dirinya sendiri sebagai being merupakan bagian dari faktisitas[13] yaitu kenyataan eksistensial sebagai Dasein. Makna menurut Heidegger dijumpai dengan pengalaman hidup itu sendiri, sementara kebenaran menurutnya merupakan penyingkapan yang terjadi di dalam atau melalui pengalaman hidup itu sendiri, bukan melalui penilaian dari subjek terhadap objek.[14] Pemahaman eksistensial merujuk pada cara Dasein memahami dirinya dalam modus being, tidak hanya dirinya, Dasein juga memahami hal-hal lain dan manusia lainnya (other things and other human beings).[15] Dengan kata lain, sebelum merumuskan ontologi, seseorang harus dapat menjawab makna being secara keseluruhan.

Dalam Being and Time, terdapat drama Dasein yang terlempar ke dunia ini. Ia berada di dalam dunia dan hal itu membuatnya mengalami kecemasan eksistensial. Memahami merupakan momen yang sama primordialnya dengan kecemasan itu, sehingga ada dua hal yang diandaikan disana yaitu pertama, keterlemparan itu ada sebelum ada perbedaan subjek dan objek dalam pengetahuan, sehingga memahami bukan tindakan kognitif ala Cartesian, merupakan tindakan pra-kognitif. Kedua, sebagai konsekuensinya memahami bukan merupakan alat untuk mengetahui dunia, melainkan keterbukaan Dasein terhadap dunia dan kemungkinan-kemungkinannya untuk berada dalam dunia.[16]

Hermeneutika Heidegger disebut hermeneutik faktisitas karena baginya memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan dalam dirinya sebagai manusia. Memahami bukan merupakan sesuatu yang dimiliki, tetapi merupakan cara bereksistensi. Berada di dunia tidak lain kecuali merupakan berupaya memahami. Menjadi manusia adalah menjadi makhluk hermeneutis yang terus mencoba memahami diri dan sekelilingnya dengan berbagai cara.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Faktisitas

Makhluk Tak Bernama terlempar ke dunia. Ia tidak meminta untuk hidup, ia tidak dapat memilih fisiknya, ia tidak dapat memilih tempat ia lahir, bagaimanapun ia ada begitu saja di dunia ini. Ia bingung, merana karena ketubuhannya dan perasannya, ia cemas, tetapi tetap menjalani hidupnya. Ia berada di dalam dunia, menyadari keterlemparannya, kemudian berupaya untuk memahami dunia dan dirinya sebagai caranya berada. Ia juga menyadari keberadaannya melalui keterikatannya dan keterlibatannya dengan dunia dan being lainnya. Makhluk yang dibentuk dari berbagai tubuh manusia itu memiliki perasaan dan pikiran yang sangat peka untuk berhubungan dengan being-being lain.

“They often, I believe, suffered the pangs of hunger very poignantly, especially the two younger cottagers; for several times they placed food before the old man when they reserved none for themselves.”

“This trait of kindness moved me sensibly. I had been accustomed, during the night to steal a part of their store for my own consumption; but when I found that in doing this I inflicted pain on the cottagers, I abstained, and satisfied myself with berries, nuts, and roots, which I gathered from a neighbouring wood.”

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”

“I remember the first time that I did this the young woman, when she opened the door in the morning, appeared greatly astonished on seeing a great pile of wood on the outside. She uttered some words in a loud voice, and the youth joined her, who also expressed surprise. I observed, with pleasure, that he did not go to the forest that day, but spent it in repairing the cottage and cultivating the garden.

“By degrees I made a discovery of still greater moment. I found that these people possessed a method of communicating their experience and feelings to one another by articulate sounds. I perceived that the words they spoke sometimes produced pleasure or pain, smiles or sadness, in the minds and countenances of the hearers. This was indeed a godlike science, and I ardently desired to become acquainted with it.” [17]

Ia mampu menjarak, mengatasi dirinya dan hal-hal yang mengungkung dirinya, dan ia selalu merefleksikan dengan sadar hal-hal yang dari dirinya dan sekelilingnya bahkan dimulai dari sensasi, perasaan, hingga pikirannya.

“No distinct ideas occupied my mind; all was confused. I felt light, and hunger, and thirst, and darkness; innumerable sounds rung in my ears, and on all sides various scents saluted me: the only object that I could distinguish was the bright moon, and I fixed my eyes on that with pleasure.”[18]

Keterlibatannya dengan dunia, meskipun seringnya negatif dan menyakitkannya, tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia terus mencoba memahami dunia dan being lainnya. Ia bahkan mempertanyakan kebahagiaan orang-orang lainnya.

“They were not entirely happy. The young man and his companion often went apart, and appeared to weep. I saw no cause for their unhappiness; but I was deeply affected by it. If such lovely creatures were miserable, it was less strange that I, an imperfect and solitary being, should be wretched. Yet why were these gentle beings unhappy? They possessed a delightful house (for such it was in my eyes) and every luxury; they had a fire to warm them when chill, and delicious viands when hungry; they were dressed in excellent clothes; and, still more, they enjoyed one another’s company and speech, interchanging each day looks of affection and kindness. What did their tears imply? Did they really express pain? I was at first unable to solve these questions; but perpetual attention and time explained to me many appearances which were at first enigmatic.”[19]

Ia mencoba untuk berkomunikasi dan terus menunjukkan kebaikan hatinya pada orang-orang lain.

“How can I move thee? Will no entreaties cause thee to turn a favourable eye upon thy creature, who implores thy goodness and compassion? Believe me, Frankenstein: I was benevolent; my soul glowed with love and humanity: but am I not alone, miserably alone? You, my creator, abhor me; what hope can I gather from your fellow-creatures, who owe me nothing? they spurn and hate me. The desert mountains and dreary glaciers are my refuge.”[20]

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”[21]

“I was scarcely hid, when a young girl came running towards the spot where I was concealed, laughing, as if she ran from some one in sport. She continued her course along the precipitous sides of the river, when suddenly her foot slipt, and she fell into the rapid stream. I rushed from my hiding-place; and, with extreme labour from the force of the current, saved her, and dragged her to shore. She was senseless; and I endeavoured by every means in my power to restore animation, when I was suddenly interrupted by the approach of rustic.”[22]

Namun lama-lama setelah ia terus disakiti oleh berbagai manusia yang dijumpainya karena mereka langsung hanya menilainya dari keburukan rupanya, ia memutuskan kesia-siaannya dan berpihak tidak lagi pada kebaikan, melainkan pada kejahatan, dan bersumpah terus membenci dan membalas dendam pada umat manusia.

“This was then the reward of my benevolence! I had saved a human being from destruction, and as a recompense, I now writhed under the miserable pain of a wound, which shattered the flesh and bone. The feelings of kindness and gentleness which I had entertained but a few moments before gave place to hellish rage and gnashing of teeth. Inflamed by pain, I vowed eternal hatred and vengeance to all mankind.”[23]

Tetapi, bahkan setelah bersumpah jahat demikian dan sungguhan melakukan perbuatan jahatnya, makhluk itu tetap mencoba untuk berbuat baik lebih dahulu.

“Suddenly as I gazed on him, an idea seized me that this little creature was unprejudiced, and had lived too short a time to have imbibed a horror of deformity. If, therefore, I could seize him and educate him as my companion and friend, I should not be so desolate in this peopled earth.”[24]

Dan setelah ia melakukan perbuatan jahatnya, ia tidak merasa puas melainkan merasa semakin merana.

“A frightful selfishness hurried me on, while my heart was poisoned with remorse. Think you that the groans of Clerval were music to my ears? My heart was fashioned to be susceptible of love and sympathy; and when wrenched by misery to vice and hatred it did not endure the violence of the change without torture such as you cannot even imagine.”[25]

Tetapi perasaan merana karena kesalahannya itu dengan cepat berubah menjadi hasrat untuk membalas dendam lagi.

“After the murder of Clerval I returned to Switzerland heartbroken and overcome. I pitied Frankenstein; my pity amounted to horror: I abhorred myself. But when I discovered that he, the author at once of my existence and of its unspeakable torments, dared to hope for happiness; that while he accumulated wretchedness and despair upon me he sought his own enjoyment in feelings and passions from the indulgence of which I was forever barred, then impotent envy and bitter indignation filled me with an insatiable thirst for vengeance.”[26]

Makhluk itu terus merenungkan kembali hidupnya, perbuatannya, harapannya, dan dampaknya atas dirinya.

“Once I falsely hoped to meet with beings who, pardoning my outward form, would love me for the excellent qualities which I was capable of unfolding. I was nourished with high thoughts of honour and devotion. But now crime has degraded me beneath the meanest animal. No guilt, no mischief, no malignity, no misery, can be found comparable to mine. When I run over the frightful catalogue of my sins, I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness. But it is even so; the fallen angel becomes a malignant devil. Yet even that enemy of God and man had friends and associates in his desolation; I am alone.”[27]

Makhluk Tak Bernama merepresentasikan hermeneutika faktisitas bahwa memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan merupakan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan. Makhluk Tak Berrnama itu bagaikan Dasein sebagai being yang bereksistensi. Ia menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, awalnya ia cemas tetapi akhirnya menerimanya (I shall die and what I now feel will be extinct. Soon these burning miseries will be extinct.)[28] dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dalam narasi ini dan dengan refleksi ia memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik meskipun ia pada akhirnya memiliki masalah dengan moralitas dan jatuh pada kegelapan. Tetapi masalah moralitas dan perubahan tindakannya itu mencerminkan gambaran manusia yang suatu saat bisa berbuat sangat baik dan pada saat lain bisa berbuat sangat buruk.

“I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness.”[29]

Dibandingkan dengan makhluk tak bernama itu, Heideggerian mungkin akan menyebut Frankenstein tidak otentik karena menjalani hidupnya dengan tidak refleksif. Ia bekerja selama dua tahun untuk proyeknya, tetapi tidak berpikir matang dan bahkan tidak menyadari perbuatannya hingga selesai. Ia begitu mengagungkan dirinya sebagai subjek pencipta, sementara ciptaannya baginya hanya merupakan objek yang hina. Ia memiliki tujuan hidup yang besar untuk menjadi pelopor dan pencipta, tetapi ia tidak memiliki rasa tanggung jawab atas hasil karyanya, ia tidak memikirkan bagaimana rasanya menjadi makhluk tak bernama itu, dan segala yang dipikirkannya terus berfokus untuk kenyamanan dan keuntungan dirinya. Pada akhirnya, ia merasa bersalah tetapi dalam artian sempit karena kebahagiaannya terenggut olehnya karena hasil karyanya sendiri.

*) Karina Andjani, Pianis, saat ini tengah menyelesaikan studi di negeri kincir angin, Belanda.

**) Baca kelanjutan kajian ini dalam artikel : Frankenstein Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

___________________

 

Referensi

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London.

Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta.

Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta.

Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta.

Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham.

 

 

[1] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 21. Sepanjang bagian dua ini, saya merangkum dari buku tersebut.

[2] Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta. Hal: 46.

[3] Ibid. Hal: 48-49.

[4] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 289.

[5] Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 134.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid. Hal: 135.

[9] Ibid. Hal: 133.

[10] Ibid. Hal: 136.

[11] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 87.

[12] Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham. Hal: 52.

[13] Ibid. Hal: 53.

[14] Ibid. Hal: 54.

[15] Ibid. Hal: 60.

[16] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 110.

[17] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal:  97.

[18] Ibid. Hal: 90.

[19] Ibid. Hal: 96-97.

[20] Ibid. Hal: 87.

[21] Ibid. Hal: 97.

[22] Ibid. Hal: 123.

[23] Ibid.

[24] Ibid. Hal: 124.

[25] Ibid. Hal: 198.

[26] Ibid. Hal: 198-199.

[27] Ibid. Hal: 199-200.

[28] Ibid. Hal: 201.

[29] Ibid. Hal: 199-200.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Afrizal Malna: Puisi Sabiq, tik-tok dinamika dualisme dari identitas yang tak pernah lengkap dan tuntas

mm

Published

on

Oleh Afrizal Malna

Buku kumpulan puisi Sabiq Carebesth ini dilengkapi dengan epilog yang ditulis Sabiq. Di dalamnya dijembrengkan pantulan utama kenapa buku puisi ini ditulis dan berapa lama waktu yang digunakan untuk menulisnya.

SAMSARA DUKA
By Sabiq Carebesth
ISBN 978-623-93949-0-5


Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Eksprsionisme semcam itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisi “Samsara Duka”. Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. Pada dunia senirupa hal semacam itu tampak misalnya pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.
Afrizal Malna—Penyair

__
Berisi 32 sajak dalam desain buku full colour 82 halaman. Buku ini akan dirilis pada pekan pertama September 2020

Dalam platform supermarket di sekitar kita (di kota-kota besar), ada kebiasaan ruang kasir tidak hanya berfungsi sebagai tempat membayar barang yang kita beli. Beberapa produk masih ikut didisplay di sekitar meja kasir. Salah satu di antaranya adalah buku catatan berwarna merah. Sabiq mengambil buku ini, warna dan baunya alih-alih menjadi pemicu utama untuknya mengambil keputusan pasti untuk menulis buku puisi ini, dan Sabiq menyelesaikannya dalam waktu satu minggu dengan judul buku: Samsara Duka. Bagaimana “warna” dan “bau” memberi aura spesifik dan membawanya untuk menulis.

Epilog itu merupakan catatan penting untuk mengerti bahwa asal-usul sebuah karya bisa sangat tidak terduga. Mengingatkan novelis Haruki Murakami yang tiba-tiba mendadak memutuskan bahwa dirinya akan menjadi seorang novelis setelah menonton sebuah pertandingan baseball. Tidak ada hubungan langsung antara baseball dengan novel, atau bau kertas dengan puisi. Peristiwa ini adalah sebuah saat di suatu tempat di mana sesuatu, apa pun itu, tiba-tiba membuat kita tercerahkan. Atau membuat kita “menemukan sesuatu yang hilang”, walau kita tidak tahu apa “yang hilang” itu.

Beberapa orang di antara kita, atau banyak orang, merasa tumbuh sebagai “identitas yang tidak lengkap”. Kemudian ada konsep pasangan “perempuan dan lelaki” atau konsep “persahabatan”. Kita merasa lengkap bersama seseorang yang kita cintai atau bersama seorang sahabat. Ketika salah satu di antaranya putus, kerangka “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu terkesan definitif, kerja metafornya berhenti.

Dalam kumpulan puisi Sabiq ini, proposisi “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu diposisikan dalam beberapa kategori: perempuan dan lelaki, tubuh dan jiwa, rumah dan jalan, cahaya dan bayangan, kopi dan gelasnya, buku dan pedagang buku yang semuanya berelasi untuk saling melengkapi, bahkan “malam yang tidak punya maghrib dan subuh”:

Perjalanan tanpa maksud

Tanpa timur dan barat

Magrib dan subuhnya

Adalah dunia asing bagi malam

Sebutir debu tak jadi sejarah

Hingga ia menjadi badai

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Dalam kutipan di atas, tema yang diluncurkan Sabiq berada dalam spektrum “badai di antara debu dan sejarah”. Kerja metafor dalam kutipan puisi ini tampak tuntas, tidak menyisakan pertanyaan yang tak perlu.

Selamat jalan

Bungkuskan segelas kopiku

Yang penghabisan—

Konsep “yang hilang” juga dituntaskan sebagai “perpisahan”. Momen kreatif kadang mengungkapkan sebuah drama di mana seseorang berada dalam momen “menemukan”, “tercerahkan” kemudian kembali “berlalu”. Lingkaran ini tepat berada dalam doktrin “samsara” dari korpus filsafat India di sekitar Hindu, Budha maupun Jainisme sebagai pusaran spiritual yang kompleks dialami manusia. Dalam konsep ini berlangsung siklus reinkarnasi, karma, pelepasan dan pembebasan ke konsep immaterial. Tetapi apakah kumpulan puisi ini tentang sebuah kisah patah hati dalam hubungan percintaan? Tunggu dulu. Sebentar.

Sabiq menyelesaikan karyanya dalam waktu sepekan. Sebuah durasi yang bisa menjadi perbincangan antara “kerja panjang” atau “kerja singkat” dalam berkarya. Kerja panjang mengandaikan proses produksi dengan ketelitian pada setiap matarantainya dari A hingga Z. Mungkin juga berlangsung proses evaluasi atas sebuah karya sebelum diluncurkan ke publik, mempertimbangkannya berdasarkan beberapa tantangan baru yang dihadapkan ke karya, bahkan mengintervensinya secara brutal untuk menguji puisi yang kita buat.

Kerja singkat, seperti yang dilakukan Sabiq, umumnya mengandaikan keserentakan antara padat, spontan dan intens. Seingat saya, Putu Wijaya juga berada dalam metode kerja seperti ini. Bahkan mungkin editing tidak perlu. Editing membuat nafas karya menjadi tidak lagi organik, terasa artifisial, lebih tepat menjadi kerja studio atau pabrik dengan berbagai prosedur produksi yang harus dilalui. Bahkan salah ketik bisa dilihat sebagai tubuh-organik puisi.

SABIQ CAREBESTH
Lahir Pada 10 Agustus 1985. Pernah Sebentar Merupakan Penulis Lepas/ Kolumnis Untuk Beberapa Koran Dan Media Nasional. Merupakan Pendiri Dan Editor Utama Untuk Laman Galeribukujakarta. Com. Buku Kumpulan Sajaknya Terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012) Dan “Seperti Para Penyair” (2017). Saat Ini Tinggal Di Antara Kota-Kota Itu, Duduk Mengeja Waktu Di Kafe Kafe Itu.

Dalam kerja singkat, ketiganya (padat, spontan dan intens) masih dijadikan metode maupun konsep penulisan yang tetap digunakan hingga kini dan terbuka untuk dikembangkan para penulis. Ketiganya juga bisa dikaitkan dengan denyut nafas maupun jantung yang bekerja konstan dan intens dalam tubuh kita, bahwa menulis mengikuti mekanisme biologis tubuh kita. Dan seperti meditasi, pusat mekanisme biologis ini sering dilihat pada gerak nafas yang konstan. Dalam kerja sastra, biasanya terkait langsung dengan genre Haiku dalam tradisi puisi Jepang: puisi sebagai satu tarikan nafas.

Pacu kuda jiwa sejauh jalan

Sabiq tentu tidak memaksudkan puisinya sebagai Haiku. Puisinya bagian dari kegelisahan manusia modern yang traumatik atas bahasa, dan karena itu menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Api, gunung, jiwa, tuak, mabuk, badai, tali ikatan, pilihan kata-kata ini dapat kita temukan dalam salah satu bait puisi Sabiq Carebesth:

Api unggun di gunung jiwa padamkan

Tenggak tuak hidup hingga mabuk

Biar kepayang biar badai menerjang

Kita bertahan atau lepas tali ikatan

Baris itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisinya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Umumnya disebut sebagai ekspresionisme. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Ujaran (produk narasi dalam puisi) mendapatkan bentuknya melalui bagaimana pengujar menempatkan hubungan-hubungan dalam puisinya.

Puisi-puisi karya Charles Baudelaire, naskah teater atau cerpen August Streindberg maupun para penyair sufi, sering digunakan sebagai rujukan untuk ekspresionisme. Penyair seolah-olah menjelajahi bahasa melalui jiwa, bukan melalui tubuh. Dalam senirupa misalnya tampak pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.

Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. “Tik-Tok” merupakan platform internet yang muncul dalam media sosial berbasis video. Platform ini seperti pantun yang bekerja dalam prinsip-prinsip visual medium video. Pelaku masuk ke dalam dinding templete yang sudah tersedia dalam aplikasi yang digunakan. Para tiktokker (sebutan untuk kalangan pemakai Tik-Tok) bekerja baik melalui instagram, FB maupun youtube. Tradisi ini pada puisi bisa kita temukan dalam praktik pantun maupun rima di mana puisi diproduksi melalui dinamika persamaan bunyi pada kata, terutama melalui elemen bunyi huruf vokal.

Sekujur tubuhku telah

Membebani sukmaku yang lara

Nafas ini menenggelamkan

Rinduku yang lagut, sungguh

Aku ingin pulang ke rumah

Di mana rumahku, Mas?

Sudah dikubur—begitu jauh

Kenapa aku harus di sini

Di atas ranjang aneh

Birahiku telah mati—untukmu

Bagaimana kau akan

Bercumbu dengan kematian?

Kebutuhan atas rujukan leksikal agar puisi tetap terhubung dengan wilayah aposteriori yang bisa dialami, membawa Sabiq melakukan personifikasi tik-tok melalui representasi “perempuan dan lelaki, rumah dan kubur”. Pointnya berada pada kebutuhan menggemakan hubungan aktif antara kehidupan dan kematian, atau membuat hubungan indeksikal antara kehidupan dan kematian. Pada sebagian besar puisinya, kerja personifikasi ini menjadi bagian dari konstruksi gender pada umumnya: perempuan dan elemen-elemen performativitas di sekitar lipstik, celana dalam, punggung dan telanjang.

Kematian, kehidupan, cinta, birahi, dendam, maupun duka merupakan lingkaran utama yang berkelindan dalam puisi-puisinya:

Berkilat luka-luka masa lalu

Bagai belati dari timur

Dikubur pasir gurun

Terik tanpa musim

Berabad luka berabad duka

Berabad-abad dusta

Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar untuk melihat apakah kumpulan ini memang berbicara tentang putusnya hubungan cinta perempuan dan lelaki. Samsara dan duka di sini menjadi tidak terpisahkan antara “yang-menggerakkan” dan “yang-digerakan”. Duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi.

Dalam gelap kulihat bayang dukamu

Sekali itu kutahu

Dukamu bukan lagi tentangku

Gelap tetap digunakan sebagai setting agar duka seolah-olah bisa dilihat bahkan hanya sebagai bayangan. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan: Sejak itu dukamu— Bukan lagi sajak-sajakku. Dan melepasnya kembali: Kita menua dan tak sengaja menderita.

Bukan kesimpulan. Melainkan kilas balik: Sabiq melihat buku catatan dengan kertas berwarna merah dengan bau khas dijual di meja kasir sebuah supermarket. Buku dengan kertas kosong itu memang memprovokasi untuk menuliskan sesuatu di atasnya. Kertas itu memprovokasi “identitas yang tidak lengkap” sebelum menuliskan sesuatu di dalamnya.

Dalam kumpulan puisi Sabiq itu, tetap tertinggal sebuah pertanyaan: di manakah tersisa warna merah dan bau khas dari kertas itu? Dan saya menutup pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban ini, terutama dalam konteks dinamika identitas yang tidak lengkap dan tidak pernah tuntas dengan kutipan puisi Sabiq ini:

Yang tak kau tahu kekasihku

Bahwa aku tak tahu siapa aku

Meski saban waktu

Kutimang jiwaku

Surabaya, 11 Mei 2020

POSTER: SAMSARA DUKA–Printed on acid-free book paper with full colour, in a limited edition, available exclusively from Galeri Buku Jakarta, with all proceeds going to support the galeribukujakarta.com
Continue Reading

Buku

The Alchemist: Mimpi adalah Nasib, Nasib adalah Mimpi

mm

Published

on

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman….

Oleh: Faris Ibrahim *)

Seperti bertemu kenalan di perjalanan. Rasanya tidak ada kebetulan yang paling memuaskan selain pertemuan yang seperti itu; seakan segenap alam semesta bersatu membantu kita untuk saling bertemu. Itulah yang saya rasakan saat membaca The Alchemist: kemujuran. Kemujuran pemula seorang yang baru pertama kali membaca karya Paulo Coelho, kemudian berpapasan dengan seorang kenalan. Santiago namanya, membaca kisahnya seperti bertemu teman seperjalanan.

The Alchemist by Paulo Coelho continues to change the lives of its readers forever. With more than two million copies sold around the world, The Alchemist has established itself as a modern classic, universally admired.
Paulo Coelho’s masterpiece tells the magical story of Santiago, an Andalusian shepherd boy who yearns to travel in search of a worldly treasure as extravagant as any ever found.
The story of the treasures Santiago finds along the way teaches us, as only a few stories can, about the essential wisdom of listening to our hearts, learning to read the omens strewn along life’s path, and, above all, following our dreams.

Tepatnya di karavan, saat Santiago bilang: “aku mau ke Mesir,” saat itulah saya tahu, bahwa Paulo Coelho mempertemukan kami secara kebetulan di jalan. Setelah berjabat tangan, alangkah senangnya berbincang tentang mimpi yang sama- sama kami yakini: kemilau harta di (negeri) piramida. Jauh memang, untungnya ada sang Alkemis yang menuntun kami ke sana, buntungnya kami juga jadi bertemu dengan pedagang kristal di pasar Tangier.

Ituloh pedagang yang bilang: “piramida- piramida itu hanyalah tumpukan batu. Kamu dapat membuatnya di halaman rumahmu.”Agaknya saat mendengar ungkapan itulah, saya, kamu, dan kita semua bertemu secara kebetulan dengan Santiago. Mungkin piramida tidaklah jadi mimpi kita bersama, namun kita sama karena sama- sama bermimpi, dan dalam meraih mimpi, pastilah kita akan berpapasan dengan pedagang kristal, yang meremehkan mimpi kita.

Sang pedagang tentu tidak melakukan itu semata- mata karena membenci kita. Ia hanya membenci dirinya sendiri yang punya mimpi berhaji ke Makkah, namun tak sanggup menutup toko kristalnya. “Dia harus memilih antara apa yang dia telah menjadi terbiasa dengannya dan apa yang ingin dimilikinya,” sebagai pemimpi, kita pasti pernah mengalami apa yang Santiago dan pedagang kristal itu lalui: tarik menarik antara zona nyaman dan hasrat untuk meraih impian.

Kenyamanan dan impian, di antara persimpangan itulah kadangkala sebagian kita berpisah dengan Santiago, lebih memilih jalan hidup si pedagang kristal: “tak pernah pergi ke Mekkah, dan hanya menjalani hidupnya dengan menginginkan hal itu.” Itulah dusta terbesar yang dimaksud oleh pak tua Melchizedek sang raja Salem: ketika kita menyerah dengan mimpi, kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri, dan hidup lalu dikendalikan oleh nasib.

Nasib, satu kata yang seringkali jadi alasan paling mutakhir untuk bertahan dalam kenyamanan, ialah yang kadangkala menggoda Santiago dan kita semua untuk bertahan dengan gembalaan, berakhir jadi saudagar kristal, menikah dengan Fatimah, hidup nyaman sebagai penasehat para tetua di gurun.

Nasib kadangkala salah terjemah jadi pelarian, padahal nasib seharusnya senada dengan suara hati yang selalu menyeru kita untuk pergi meraih mimpi.

Sebab hati tidak pernah berkhianat, di tengah gurun keraguan kadang kala kita lupa kenyataan yang satu itu. Sang Alkemis padahal berkuda bersama dengan kita, begitu dekat, namun terkadang nasehatnya begitu jauh dari telinga kita: “ingatlah bahwa di mana pun hatimu berada, di sanalah akan kau temukan hartamu.”  Hati adalah kompas para pemimpi, ialah yang mengenalkan kita pada tanda- tanda sang pencipta yang menggiring kita pada piramida mimpi kita semua.

Hatilah yang membuat kita terus berjalan bersama kafilah sang pemimpi ke sana. Domba- domba, kristal yang berkilau, dan Fatimah yang jelita, itu semua juga harta, namun benar kata sang Alkemis: “tapi tak satu pun dari itu semua yang berasal dari piramida.” Itu semua tak sebanding dengan mimpi yang kita terbangun karena memikirkannya, susah tidur karena belum juga mewujudkannya. Pemimpi sejati tidak akan pernah tawar- menawar untuk mewujudkan mimpinya.

Di tengah perjalanan, kita selalu bisa pulang ke Andalusia, Indonesia, kapan pun kita mau, namun begitu mimpi adalah nasib, nasib adalah mimpi, kalau cita- cita untuk tiba di (negeri) piramida belum terwujud, kita belum bisa menyebutnya nasib, pantang pulang sebelum datang; karena hati para pemimpi sejati selalu mendambakan langit, tidak pernah sedikit pun terbesit keinginan untuk jatuh di antara bintang- bintang, lalu dengan menyedihkan menyebutnya sebagai nasib. (*)

*) Faris Ibrahim, sekarang mahasiswa jurusan Akidah- Filsafat di Universitas al- Azhar, Kairo. Penulis buku Diary Azhari. Aktif di kajian pemikiran al- Hikmah PCIM Mesir, kuliah pemikiran Islam di IIIT (International Institute  of Islamic Thought) Zamalek, dan lulus dari WISE (Worldview of Islam Series) tahun 2019.

Continue Reading

Buku

Keniscayaan Meruang(i)

mm

Published

on

Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Kita meruangi ruang secara spasial dan esensial atau guna dan citra, seperti pernah dibentangkan rohaniawan, arsitek, dan penulis Y.B. Mangunwijaya dalam pengantar buku Pengantar Fisika Bangunan (2000). Pengaturan elemen-elemen dasar arsitektural dibangun berbarengan dengan citra atau pantulan jiwa primordial seseorang meruangi. Ruang-ruang yang dibangun tidak berhenti untuk memenuhi tugas fungsional. Penghuninya menentukan seberapa emosional laku meruang diciptakan.


Judul: Mengaduk Ruang: Tafsir Merakyat atas Bangunan | Penulis: Rifai Asyhari | Penerbit: Hatopma | Cetak : Pertama, Oktober 2019 | Tebal: xviii+122 halaman

Begitu bangunan selesai dirancang seorang arsitek atau perancang paling amatir sekalipun dan diwujudkan oleh para tukang, penghuni barangkali adalah pihak paling otoritatif membentangkan pengalaman meruang. Inilah yang dilakukan oleh Rifai Asyhari lewat buku kumpulan esai Mengaduk Ruang: Tafsir Kerakyatan atas Bangunan (2019). Setidaknya dari penuturan ke penuturan yang kentara menonjolkan penghadiran raga diri, Rifai juga membawa pembaca untuk seolah saat ini juga menghadapi bentangan arsitektural. Rifai menempatkan mata pada sekat, tembok, lantai, atap, seng, tanah, udara, kepengapan, kelonggaran, himpitan, jarak, atau kelegaan.

Kita cerap, “Ukuran tiap kamar hanya 3×3.5 meter. Cukup kecil, cukup buat selonjor atau berbaring seorang manusia dewasa. Setiap kamar dipisahkan dinding tripleks yang tipis. Penghuni kos terbiasa mendengar dengkuran halus seorang yang tidur lebih dulu […] Selain dinding tripleks, lantainya tak dipasangi kramik. Hanya lantai semen berlapis plastik. Tidak ada kamar mandi khusus anak kos selain sebuah kamar mandi yang digunakan secara bersamaan oleh keluarga sang pemilik dan anak kos,” (hal. 5). Di esai pertama berjudul “Rasanya Tinggal di Kos Termurah Se-Yogyakarta”, Rifai cukup percaya diri mengajukan kos sebagai ruang spasial yang “dikuasai”, menautkan dengan harga, nilai guna, dan peristiwa para penghuninya.

Namun meski Rifai tidak mengungkapkan secara tersurat dan frontal, kos termurah se-Yogyakarta di Nologaten yang sedemikian sederhana itu, sebenarnya menghadapi hal tidak sederhana. Ada kekuatan pertumbuhan properti di luar dinding batako. “Di sekitar lokasi indekosku, terdapat dua hotel yang ramai dikunjungi orang dari pelbagai daerah. Nologaten makin ramai dan maju. Namun, cerita tentang sepasang orangtua yang kesulitan membangun sebuah rumah kecil nyatanya masih ada,” begitu keniscayaan pertarungan ruang industrial dan rumah saling dinegasikan Rifai. Hotel hanya salah satunya saat komersialisme begitu kuat mempengaruhi pertumbuhan bangunan.

Sebagai efeknya, Rifai memang tidak menampik bahwa kos memang “sebatas untuk tidur” bagi para penghuni yang berstatus mahasiswa mahasiswa semester atas. Mobilitas berkegiatan di luar ruang kos sempit dan sering kurang nyaman cenderung menonjolkan nilai guna daripada citra. Karena sering kos tidak dipersepsikan sebagai rumah, ia tidak dipersiapkan menjadi ruang transisi ke hal-hal lebih emosional.

Bahkan di esai berjudul “Mengingat Rumah dari Episode Kepulangan yang Singkat”, ada perasaan dilematis justru saat Rifai membentangkan peta ingatan masa kecil sekaligus penghadiran masa dewasa atas jalan, pemandangan, ruang-ruang (dalam) rumah, kolam ikan, atau halaman. Pulang ke Jawar, Wonosobo, seperti berpindah ke keterasingan. Kepulangan demi meruang itu cukup sebagai episode “mampir” daripada “singgah” karena perpindahan geografis sekaligus pergantian ruang desa ke kota. Momentum yang diakui Rifai, “Bagiku, mengingat rumah berarti mengingat masa kecil. Kenanganku di Jawar berhenti pada usia 11 tahun. Setelah itu, hanya episode-episode kepulangan dalam jeda yang singkat.”

Namun dari jeda singkat ini, kita bisa menyepakati bahwa kepulangan tidak hanya berarti memulangkan raga, tapi juga emosionalitas yang pernah bertumbuh dalam lipatan arsitektural ataupun peristiwa komunal manusianya. Rifai mengatakan, “Meski jarang kusambangi, itu tetap rumahku. Sejauh apa pun aku pergi, alamat rumah itulah satu-satunya yang kutuju.”

Kerakyatan

Sejak kecil, kita sepertinya kurang diajari cara mempersepsikan diri di hadapan ruang. Kita lebih dituntut untuk tahu fungsi-manfaat suatu tempat. Seringnya, tempat-tempat begitu berjarak dari kehidupan personal kita, apalagi bukan milik kita. Seberapa lama seseorang “mendiami” suatu tempat, ia belum tentu merasa memiliki “meruangi”. “Kerakyatan” yang menjadi istilah kelihatan sepele tapi cukup sakral di judul buku, terutama tidak dihadirkan untuk menunjukkan kelemahan secara ekonomi. Istilah mengalihkan dari kesan monopolistik bahwa arsitektur dalam bentuk secara material, perasaan, sekaligus keilmuan cenderung menjadi hak arsitek, kaum perkotaan pembaca majalah lifestyle dan desain interior, atau mahasiswa arsitektur.  

Bisa jadi, obrolan arsitektur di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Yogyakarta, bersama Anas Hidayat, dosen jurusan Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual UPN “Veteran” Surabaya di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, menjadikan salah satu pondasi menafsir secara  kerakyatan. Setidaknya sebelum bermimpi memiliki rumah, Rifai percaya untuk terlibat membicarakan tukang, modal, arsitektur berwawasan lingkungan, alienasi ruang perkotaan, atau hunian alternatif. Rifai mencatat, “Setiap individu sebaiknya menafsir karya arsitektur dengan bebas. Meski pemahamannya mungkin berbeda jauh dengan maksud arsitek. Dengan memahami secara bebas, karya arsitektur akan kian beragam dan tidak monoton” (hal. 58).

Pengalaman kerakyatan dipilih Rifai memang cenderung membuat gaya penuturan menjadi lempeng. Boleh dikatakan Rifai sangat percaya pada tafsir yang mendasari subjudul otoritatifnya. Tapi setidaknya paling kuat tampak dalam dua esai enerjik berjudul “Peradaban yang Kebingungan” dan “Wastu Citra: Melampaui Urusan Teknis Arsitektur”, Rifai tidak hanya bertungkus lumus dengan apa yang dilihat dan diruanginya. Masih tetap secara kerakyatan, ada upaya turut dalam polemik tata ruang dan lingkungan yang terjadi sejak masa 70-an ataupun jati diri arsitektur lokal ke-Nusantaraan yang mendapat momentumnya sejak masa kolonial serta begitu dipikirkan oleh Y.B. Mangunwijaya. 

Lantas, pengalaman meruangi “Imajinasi Ruang Rumah Mikro” semacam melengkapi peradaban ruang yang kebingungan di tengah bersikap pada alam. Rifai menjumpai rumah mikro atau rumi yang ditawarkan oleh Studio Akanoma rintisan arsitek muda Bandung, Yu Sing, yang tidak hanya menawarkan hunian alternatif bagi masyarakat perkotaan, tapi juga cara membangun sekaligus menghuni yang berusaha tidak melukai ekologi.

Percayalah, sebelum memasuki ruang-ruang dinamis rumi, kita turut merasakan suguhan paha kambing dan ayam berbumbu rahasia yang menyambut Rifai saat bertandang. Kembali pada cara kerakyatan, Rifai meruangi, “Detail ruangan rumi benar-benar diperhatikan. Aku tidak menganggap rumi seperti garasi yang gelap meski berukuran sama. Banyak laci dan ruang kecil untuk menyimpan barang. Kamar mandinya yang memanjang seluas 1×2.5 meter terasa sangat nyaman. Satu sisi untuk toilet. Sisi lainnya shower dan wastafel. Bersih dan sejuk. Jenis kamar mandi yang memungkinkanmu untuk melamun atau memikirkan persoalan hidup” (hal. 97).

Setiap yang ditangkap mata Rifai adalah upaya memenangkan raga dan emosionalitas meruang dengan merdeka dan merakyat. Memang, perkara memiliki rumah misalnya, tidak hanya dibangun dari impian atau rencana. Betapa Kita membutuhkan material untuk mewujudkan setiap elemen arsitektural mewujud. Rifai telah memulainya dengan mengaduk cara mempersepsikan dan alternatif-alternatif arsitektural bertaut dengan masalah finansial dan ekologi. 

Suatu sepele nan penting, Mengaduk Ruang sedikit mematahkan pakem bahwa buku bertema arsitektur harus mewah dan (sebaiknya) mahal. Begitu pun hunian kita di masa depan.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending