Connect with us

Pemikiran

Fenomenologi Persepsi Merleau-Ponty

mm

Published

on

Precis “The ‘Sensation’ as a Unit of Experience”

Di dalam bab ini Merleau-Ponty ingin mengemukakan sensasi sebagai hal pertama yang harus diperhatikan dalam investigasi terhadap persepsi. Dia mengkritik bahwa analisa tradisional tentang fenomenologi yang telah melupakan fenomenologi persepsi. Hal yang biasa kita ketahui adalah persepsi direduksi kepada ‘elemen’ yang membuatnya. Ponty  memberikan alasan bahwa ‘sensasi’ di dalam teori dilihat tidak sebagai pengalaman deskriptif. Maka setiap justifikasi yang menggunakan ‘sensasi’ pantas untuk dipertanyakan. Dalam bab ini Ponty membahas tentang ‘sensasi murni’, ‘impresi sederhana’ dan ‘kualitas indrawi’ yang biasa dipahami sebagai hal umum dalam memahami persepsi. Pemahaman ini ditawarkan oleh cabang ilmu pengetahuan fisiologi dan dipopulerkan oleh psikologi. Masing-masing cabang ilmu pengetahuan yang membahas tentang persepsi ini mempunyai berbagai kesulitan di dalamnya.

Persepsi sebagai Sensasi Murni dan Data Sensasi sebagai Kualitas yang mempunyai makna

Di dalam analisa tradisional, persepsi dipandang sebagai sensasi. Sesuatu yang saya alami dan terpengaruh di dalamnya (PP 3)[1].  Sensasi bisa dikenali dan harus dicari di dalam bagian dari setiap isi yang memenuhi syarat keterberian persepsi. Tetapi hal ini tidak memberikan pertanyaan apa-apa kenapa kita merasa terjustifikasi di dalam teori yang membedakan pengalaman lapisan ‘impresi’ (PP 4). Ponty mengajak kita untuk membayangkan potongan putih di dalam latar yang seragam. Semua titik di dalam potongan tersebut mempunyai fungsi yang sama, yang kemudian membentuk dirinya menjadi ’potongan’. Warna potongan menjadi intense, dimana pinggir menjadi ‘bagiannya’. Masing-masing bagian muncul di dalam ekspektasi melebihi isinya, dan persepsi dasar ini telah terberi makna (PP 4). Ini adalah makna dasar dari fenomena persepsi dimana tanpanya fenomena tidak bisa dikatakan sebagai persepsi sama sekali (PP 4). Ponty mengkritik posisi yang menggambarkan sensasi sebagai impresi murni ini dan melihat bahwa merasakan (sentir) adalah suatu kualitas. Kualitas ini bukanlah elemen kesadaran tetapi properti terhadap objek (PP 5). Kualitas ini sangat kaya dan misterius sebagai suatu objek. Warna, hanya bisa kita pahami ketika dia melekat kepada ukuran tertentu dan tidak bisa kita mengerti apabila terpisah dari objek. Analisa kemudian menemukan masing-masing makna kualitas yang ada di dalamnya. ‘Kualitas murni’ akan membatasi kepada sensasi murni. Apa yang selama ini dikatakan sebagai bukti dari sensasi bukanlah berdasarkan testimoni atas kesadaran, tapi lebih kepada prasangka. Psikologis menyebutnya sebagai “pengalaman error” (PP 5) yang berarti kita mempercayai bahwa kita mengetahui sesuatu sebagaimana dia berada di dalam dirinya sendiri di dalam pengalaman kita terhadapnya. Hal ini membuat dua kesalahan mengenai persepsi: pertama adalah membuat kualitas menjadi elemen kesadaran, padahal kenyataannya dia adalah objek dari kesadaran yang kedua adalah berfikir bahwa makna pada tingkatan kualitas miliki secara penuh ditentukan dan dibangun (PP 6).

Ponty mengemukakan analisa mengenai field of vision dan ilusi optik Muller-Lyer’s untuk membuktikan pengalaman hidup. Dua buah garis yang terdapat di dalam contoh ilusi optik Muller-Lyer’s memperlihatkan panjang yang sama sekaligus tidak sama. Pertanyaan ini hanya bisa muncul di dalam dunia objektif (PP 6). Di dalam dunia objektif ini, persepsi menampilkan kepada kita ketidakpastian dan makna yang samar-samar. Ada banyak pandangan yang tidak jelas, seperti contoh pemandangan pada saat kabut, tapi kita selalu mengatakan bahwa tidak ada pandangan yang benar yang ada di dalam dirinya tidak jelas (PP 7). Objek menurut pandangan psikologis tidak pernah bersifat ambigu, tapi hanya karena keabaian kita. Tidak ada bukti yang diberikan oleh kesadaran. Tidak lebih dari hipotesa pelengkap yang berevolusi untuk menyelamatkan prasangka terhadap dunia objektif (PP 7).

Dua makna sensasi ini; sensasi murni dan sense data (kualitas dengan makna) mendasarkan kepada objek yang diterima. Ponty menegaskan bahwa pendekatan yang diambil dalam mendamaikan antara persepsi dan apa yang sebenarnya dialami. Diantara keduanya tidak ada penolakan yang utama.

Fisiologi

Fisiologi yang dianggap sebagai suatu ranah tertinggi mengalami kesulitan yang sama dengan psikologi. Posisinya adalah menggunakan persepsi sebagai stimulus fisik berdasarkan indrawi. Persepsi secara fisiologi dimulai dengan mengenali jalan anatomi yang mengarah kepada penerimaan melalui transmisi terbatas kepada stasiun perekam (PP 8). Maka ada keterhubungan antara stimulus dan persepsi dasar atau yang disebut sebagai hipotesis konstan.

Hipotesis konstan ini tidak sesuai dengan data kesadaran yang para psikologis terima sebagai suatu teori. Ponty memberikan berbagai contoh mengenai hal ini. Ketika merah dan hijau ditampilkan secara bersamaan, dia akan menghasilkan warna abu-abu. Ini memperlihatkan bahwa kombinasi tengah dari stimuli bisa secara cepat menampilkan sensasi yang berbeda dari stimuli objektif dimana mengarah kepada ekspektasi kita (PP 9). Pada tahap pengindraan yang belum sempurna ini, ada kerjasama antara bagian parsial stimuli dan sistem motor sensorik yang mengatur setiap definisi dari proses saraf sebagai transmisi sederhana dari pesan yang terberikan (PP 10).

Kemudian Ponty menjelaskan bahwa kemudian tidak ada lagi definisi psikologis untuk sensasi karena tindakan fisiologis mengikuti hukum biologis dan psikologis. Apabila dianalisa lebih dekat, dua jenis fungsi ini saling melingkupi satu sama lain (PP 11). Psikologi dan fisiologi kemudian tidak lagi menjadi dua pengetahuan yang paralel, tapi dua catatan tindakan;  yang pertama konkrit dan yang kedua abstrak. Ini membutuhkan perubahan tindakan baik psikologis maupun fisiologis. Kejadian dasar telah ditanamkan makna, dan fungsi yang lebih tinggi akan membawa being menjadi modus eksistensi yang lebih terintegrasi atau adaptasi yang lebih valid dengan menggunakan dan mensublimasi operasi subordinat (11).

Ilmu pengetahuan hanya sukses dalam membangun kemiripan subjetivitas; dia mengenalkan sensasi dimana pengalaman memperlihatkan pola yang berarti. Dia berusaha membangun pengetahuan sebagai elemen yang bisa dijeleaskan baik itu ditransformasikan maupun dirubah. Untuk memahami persepsi kita harus mengatasi tindakan objektif (objective attitude) dan kembali kepada pengalaman pra-objektif seperti yang dicontohkan oleh ‘pemikiran primitif’. Pemikiran primitif disini telah digambarkan sebagai sesuatu yang hanya bisa dapat dimengerti oleh orang-orang primitif, yang pernyataan dan interpretasi sosiologisnya berhubungan dengan pengumpulan pengalaman yang mereka coba untuk terjemahkan (PP 14).

Tanggapan

Ponty menjelaskan bagaimana sensasi sebagai langkah awal terhadap investigasi persepsi. Ini lebih mudah dipahami karena menarik sesuatu dari pemahaman yang kita familiar dengannya. Dengan mengandaikan adanya sensasi ini, Ponty sadar sepenuhnya atas tubuh sebagai subyek pengalaman yang berkesadaran. Baik persepsi yang kita alami langsung maupun yang sudah dilekati makna di dalam pengetahuan yang dimaknai sebagai tindakan objektif. Hal ini mengakibatkan diri kita sendiri tidak menjadi bagian dari dunia yang kita pelajari, membuat kita secara objektif terpisah dari dunia dan hanya sebagai penonton. (*)

*Rika Febriani, Mahasiswa Paska Sarjana STF Driyarkara

[1] Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, trans. Colin Smith (London and New York: Routledge, 2002), hal.3. Acuan selanjutnya dalam makalah ini ditulis dengan PP diikuti dengan nomor halaman.

 

Continue Reading

Pemikiran

Rasionalisme dalam Keheningan Rousseau dan Rumi

mm

Published

on

Di era modernisme dewasa ini, penting bagi kita merefleksikan kembali hakikat hidup: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan alam tempat kita tinggal. Dari Abad Pencerahan hingga era modernisme ini yang melahirkan sains, teknologi, dan industri ternyata menyimpan sisi yang memprihatinkan. Sebab, perkembangan itu pada akhirnya menyebabkan terjadinya dehumanisasi: perilaku manusia yang begitu kompleks–menjerumus ke arah reduksi. Manusia tak ubahnya seperti mesin yang berjalan. Sebagaimana yang dikatakan Thomas Hobbes, manusia ibarat mesin berakal

Ironisnya, cara berpikir rasional dan logis yang sedemikian kompleks tidak dibarengi dengan kepekaan emosi dan perasaan, menyebabkan manusia menjadi makhluk yang rasional. Akibatnya, kita memandang manusia seperti mesin-mesin yang berjalan yang digerakan oleh akal (rasio) belaka–nihil kepekaan emosi dan perasaan-perasaannya. Keadaan semacam itu sejatinya dapat mengkikis moralitas. Seperti persaingan dalam aspek sosio-politik, ekonomi, dan kebudayaan yang menyebabkan manusia yang satu ingin mengusai manusia lainnya atau dalam istilah Hobbes disebut homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Maka, sangat relevan bagi kita untuk kembali merefleksikan pemikiran Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Sebagaimana kita ketahui, Rousseau adalah seorang filosof Abad Pencerahan yang menolak rasionalisme Perancis Abad 18. Ia beranggapan rasionalisme bukan satu-satunya energi untuk membangun tatanan “dunia baru” yang lebih baik. Sebaliknya, Rousseau memilih mengutamakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya daripada penalaran logika dan rasionalitas semata. Rousseau juga mempunyai posisi unik dalam pemikiran filsafat politik Barat. Rousseau adalah seorang filosof yang sulit diklasifikasi. Misalnya, apakah Rousseau seorang pendukung liberal, totalitarian, indiviualisme, atau kolektivisme? Namun, posisi Rousseau yang unik menjadi wajar karena tokoh ini menjangkau pelbagai spektrum intelektual yang luas. Misalnya, Macfarlane (dalam Ahmad Suhelmi: 2001) menyebutkan Rousseau sebagai tokoh yang melahirkan gagasan individualisme ekstrem meskipun di sisi lain ia pembela mati-matian kolektivisme.

Terlepas dari posisi intelektual Rousseau itu, ia merupakan peletak dasar era romantisme sebagai lawan dari rasionalisme. Rousseau mengkritik pengkultusan terhadap akal (rasio). Pendewaan terhadap akal hanya akan membuat manusia kehilangn fitrahnya sebagai makhluk perasa (la sensibilite) yang mengedepankan emosi daripada akal (rasio). Menurutnya, manusia yang mendewakan akal budi tanpa menyertakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan-perasaannya seperti jasad tanpa ruh.

Seorang romantis seperti Rousseau akan sangat mudah tergores hatinya jika melihat kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan yang dialami oleh masyarakatnya. Dalam hal ini romanitsme Rousseau jelas menolak hiruk-pikuk kebisingan kehidupan modernitas, industrialisasi, dan ekspansi kapitalisme yang hanya akan merusak tatanan kehidupan dan alam tradisional. Rasioanalisme dan modernisme juga akan merenggut manusia dari sifat alamiyahnya, manusia dalam peradaban modern menyebabkan manusia terasing dari kehidupannya sendiri. Peradaban modern telah menodai kesucian alam dan menjadi penyebab ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik di antar manusia. Barangkali hanya segelintir orang saja dari kita yang merindukan aroma hutan; merindukan burung-burung bernyanyi. Watak kapitalisme telah mengepung kehidupan modern. Bukan hanya “menginvasi” kota, melainkan hingga masuk jauh ke tengah hutan dan teluk pantai: pembakaran hutan dan reklamasi teluk pantai Jakarta demi kalkulasi keuntungan bisnis salah satunya. Dengan demikian, pemikiran romantisme Rousseau adalah antitesis dari rasionalisme dan modernisme (pembentuk pemberontakan intelektual Abada Pencerahan).

Jauh sebelum Rousseau meletakan gagasannya dalam era romantisme yang mengutamakan kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaannya di Eropa abad 18-an, khususnya bagi aliran romantisme (kesusastraan) Eropa. Seorang ulama sekaligus penyair mashur sudah terlebih dahulu menolak mengkultuskan atau mendewakan kekuatan akal; ia adalah Jalaluddin Rumi (1207-1273). Rumi melalui puisi-puisinya yang mashur itu bukan hanya berisi perihal cinta illahiyyah–Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, melainkan juga kritik terdahap pendewaan terhadap akal. Baginya, pemahaman atas dunia hanya mungkin di dapat melalui jalan cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik atau indera.

Keberadaan Rumi seperti oase di tengah padang gurun bagi manusia yang kering akan ajaran-ajaran tauhid. Rumi hadir lakasana sang fajar yang menyingsing di antara pekat kabut-kabut awan untuk menerangi gelapnya jiwa. Sebagaimana kita ketahui Rumi mengorek moralitas manusia yang mengalami dekadensi. Rumi menjadi sosok kontraproduktif bagi mereka yang mendewakan rasionalitas tetapi kering spiritualitas. Sebagaimana sejarah mencatat bahwa Rumi hidup di zaman Mu’tazilah, sebuah madzab Islam yang menjunjung tinggi kekuatan akal (rasio). Bagi Rumi pemahaman akal untuk membongkar “keberadaan” “sesuatu yang tersembunyi” hanya akan sia-sia. Bahakan lebih dari itu, pendewaan terhadap akal hanya akan melemahkan iman seseorang. Pada akhirnya sesuatu yang bersifat “ghaib” (metafisika) tidak akan mudah dipercayainya. Sebab, segala sesuatu yang tidak dapat dipahami, dicerna, dan dibuktikan keberadaannya oleh akal tidak akan dipercaya sebagai sesuatu kebenaran yang eksak.

Bila Rousseau adalah inisiator gerakan romanitisme (sastra) di Eropa, maka Rumi adalah guru spiritual filsafat cinta. Hakikat cinta, pun sama dalam pemikiran Rousseau yang hanya dapat dipahami oleh kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasan-perasaannya. Jalan cinta itu pula yang menghantarkan kerinduan Rumi pada Illahiyah. Sebagimana yang ditulis dalam syair-syairnya: Dia adalah orang yang mempunyai ketiadaan/ saya mencintainya dan saya mengaguminya/ saya memilih jalannya dan saya memalingkan muka ke jalannya.

Di era modernisme yang berkiblat pada sains, teknologi, dan industri penting bagi kita untuk kembali mengasah kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan untuk merawat sendi-sendi kehidupan. Kendati perubahan adalah sifat alamiah yang tidak dapat dicegah, namun bukan berarti perubahan itu justru mengarah pada sesuatu yang bersifat destruktif. Jika Aristoteles meyakini hanya manusia yang “berpolitik” yang membedakan antara manusia dengan binatang. Maka dalam analogis lainnya, hanya kepekaan emosi, kehalusan jiwa dan perasaan yang dapat membedakan manusia dengan mesin. Hanya dengan pendekatan itu pula yang dapat menjadikan manusia hidup sebagai manusia, bukan sebagai mesin-mesin yang berjalan. (*)

*) Ade Mulyono, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya dimuat di beberapa media cetak dan internet. Saat ini tinggal di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Continue Reading

Pemikiran

The Author Function (1969)

mm

Published

on

French philosopher Michel FOUCAULT at home.

— Foucault, Michel “The Author Function.” Excerpt from “What is an Author?” Translation D.F. Bouchard and S. Simon, In Language, Counter-Memory, Practice, 124-127. Cornell University Press, 1977.

In dealing with the “author” as a function of discourse, we must consider the characteristics of a discourse that support this use and determine its differences from other discourses. If we limit our remarks only to those books or texts with authors, we can isolate four different features.

First, they are objects of appropriation; the form of property they have become is of a particular type whose legal codification was accomplished some years ago. It is important to notice, as well, that its status as property is historically secondary to the penal code controlling its appropriation. Speeches and books were assigned real authors, other than mythical or important religious figures, only when the author became subject to punishment and to the extent that his discourse was considered transgressive. In our culture and undoubtably in others as well discourse was not originally a thing, a product, or a possession, but an action situated in a bipolar field of sacred and profane, lawful and unlawful, religious and blasphemous. It was a gesture charged with risks before it became a possession caught in a circuit of property values. But it was at the moment when a system of ownership and strict copyright rules were established (toward the end of the eighteenth and beginning of the nineteenth century) that the transgressive properties always intrinsic to the act of writing became the forceful imperative of literature. It is as if the author, at the moment he was accepted into the social order of property which governs our culture, was compensating for his new status by reviving the older bipolar field of discourse in a systematic practice of transgression and by restoring the danger of writing which, on another side, had been conferred the benefits of property.

Secondly, the “author-function” is not universal or constant in all discourse. Even within our civilization, the same types of texts have not always required authors; there was a time when those texts which we now call “literary” (stories, folk tales, epics and tragedies) were accepted, circulated and valorized without any questions about the identity of their author. Their anonymity was ignored because their real or supposed age was a sufficient guarantee of their authenticity. Text, however, that we now call “scientific” (dealing with cosmology and the heavens, medicine or illness, the natural sciences or geography) were only considered truthful during the Middle Ages if the name of the author was indicated. Statements on the order of “Hippocrates said…” or “Pliny tells us that…” were not merely formulas for an argument based on authority; they marked a proven discourse. In the seventeenth and eighteenth centuries, a totally new conception was developed when scientific texts were accepted on their own merits and positioned within an anonymous and coherent conceptual system of established truths and methods of verification. Authentication no longer required reference to the individual who had produced them; the role of the author disappeared as an index of truthfulness and, where it remained as an inventor’s name, it was merely to denote a specific theorem or proposition, a strange effect, a property, a body, a group of elements, or a pathological syndrome.

At the same time, however, “literary” discourse was acceptable only if it carried an author’s name; every text of poetry or fiction was obliged to state its author and the date, place, and circumstance of its writing. The meaning and value attributed to the text depended upon this information. If by accident or design a text was presented anonymously, every effort was made to locate its author. Literary anonymity was of interest only as a puzzle to be solved as, in our day, literary works are totally dominated by the sovereignty of the author. (Undoubtedly, these remarks are far too categorical. Criticism has been concerned for some time now with aspects of a text not fully dependent upon the notion of an individual creator; studies of genre or the analysis of recurring textual motifs and their variations from a norm ther than author. Furthermore, where in mathematics the author has become little more than a handy reference for a particular theorem or group of propositions, the reference to an author in biology or medicine, or to the date of his research has a substantially different bearing. This latter reference, more than simply indicating the source of information, attests to the “reliability” of the evidence, since it entails an appreciation of the techniques and experimental materials available at a given time and in a particular laboratory).

The third point concerning this “author-function” is that it is not formed spontaneously through the simple attribution of a discourse to an individual. It results from a complex operation whose purpose is to construct the rational entity we call an author. Undoubtedly, this construction is assigned a “realistic” dimension as we speak of an individual’s “profundity” or “creative” power, his intentions or the original inspiration manifested in writing. Nevertheless, these aspect of an individual, which we designate as an author (or which comprise an individual as an author), are projections, in terms always more or less psychological, of our way of handling texts: in the comparisons we make, the traits we extract as pertinent, the continuities we assign, or the exclusions we practice. In addition, all these operations vary according to the period and the form of discourse concerned. A “philosopher” and a “poet” are not constructed in the same manner; and the author of an eighteenth-century novel was formed differently from the modern novelist.

___________

Since 1998, Foucault.info has been providing free access to a large selection of texts. All texts by Michel Foucault for educational purpose, under fair use of the Berne Convention.

foucault.info | Michel Foucault, Info.
Page last updated on Saturday, 22nd February 1969 — Paris

 

Continue Reading

Pemikiran

Postmodernisme: Kritik Timur terhadap Barat?

mm

Published

on

Melalui sastra dan film diskursus entitas “Timur” (Indonesia bagian Timur) sebenarnya dimunculkan untuk menginterupsi arogansi terhadap hegemoni  “Barat” (Indonesia bagian Barat). Kendati “Timur” harus menelanjangi dirinya sendiri dan menjadi bahan “lelucon” dalam sebuah “teater” di masyarakat luas. Secara tidak langsung upaya semacam itu adalah bentuk kritik “Timur” terhadap “Barat”.

Saat kita mengucapkan kata “Timur” selalu dikonotasikan dengan “sesuatu yang inferior” dan diasosiasikan sebagai kehidupan yang terbelakang; pendidikan, ekonomi, dan sosio-politiknya. Seakan-akan “Timur” adalah gumpalan-gumpalan komunal yang tidak tersentuh oleh tangan modernitas “Barat”. Seakan-akan “Timur” tidak disinari matahari pengetahuan: gelap-gulita. Seakan-akan “Timur” hanyalah pelengkap demografi dan antropologi kebudayaan (nusantara) kita.

Sebab, kehidupan spesies manusia di “Barat” yang dipenuhi gilang-gemilang modernitas telah menjadi antitesis dari kehidupan spesies manusia di “Timur”. Dengan kata lain, jika “Barat” melahirkan modernisme, maka “Timur” adalah antitesis dari “Barat” yang melahirkan postmodernisme. “Barat” adalah lambang kemajuan di masa depan dan “Timur” sebaliknya: distopia.

Melalui kebudayaan: sastra khususnya, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, “Timur” adalah surga kecil yang dieksploitasi: alam dan manusianya. “Timur” adalah adalah sekumpulan anak-anak kecil yang menelanjangi dirinya untuk ditertawakan kehidupan modernisme. Hanya dengan cara itu, “Timur” dapat mengkritik “Barat”. Dengan mempertontonkan kebodohan, keluguan, dan keterbelakangan, “Timur” membuka diri untuk dilihat mata khalayak, bahkan dunia, hanya supaya kita dapat merenungkan kembali apa yang dinamakan ketidakadilan.

Telah kita saksikan bersama-sama melalui sastra dan film, selalu dikisahkan kehidupan “Timur” yang menguras emosi dan air mata. Semisal Lintang tokoh dalam novel Laskar Pelangi yang berlatar di Belitung adalah anak remaja jenius. Seluruh soal matematika bisa dijawabnya tanpa dengan alat bantu, ia menghitungnya dengan “kecepatan cahaya”. Namun, karena faktor ekonomi Lintang gagal menjadi ahli matematika. Pada akhirnya, ia menjadi manusia yang hidupnya “nomal” saja: mencari makan, beranak-pinak, dan mati. Sebagaimana kebanyakan antropologi manusia “Timur” pada umumnya. Kritik yang sama pada film: Denias, Cahaya dari Timur, Di Timur Matahari, hingga Atambua semuanya seragam: kritik ketidakadilan dan keterbelakangan.

Kritik postmodernisme

Hegemoni (modernisme) corak kebudayaan “Barat” terhadap “Timur” menyebabkan dehumanisasi. Postmodernisme lahir karena kegagalan modernisme “Barat” dalam mengangkat martabat manusia. Bagi postmodernisme, paham modernisme yang didewakan dan ilmu pengetahuan yang dikultuskan di “Barat”, gagal membawa kehidupan yang lebih baik secara menyeluruh (ekstensif) dan eudemian demi tercapainya keadilan sosial (social justice). Karena pada kenyataannya, pascakolonial hingga postmodernisme menjadi haluan bagi penuntut keadilan sosial (social justice), “Timur” tidak selangkah pun bergeser dari nasibnya: apa yang disebut dengan “keterbelakangan”.

Dalam perspektif postmodernisme; “Timur” menuntut pembangunan manusia dalam konteks “ekstensif”. Sebab, selama ini kita hanya dapat melihat, bukan dengan memahami. Persoalan utama “Timur” bukan terletak pada nihilnya infrastrukturnya, melainkan persoalan itu berpusat pada manusianya. Demi apa pemerintah terus-menerus melayani perusahaan freeport? Dalam satu sisi yang lain pemerintah gagal melayani masyarakat di tanah freeport itu berdiri untuk mengeruk, mengangkat, dan membawa emas, perak, tembaga setiap hari masuk ke kantong-kantong pribadinya.

            Yang terjadi selama ini ialah “Barat” sibuk membangun benda mati: infrastruktur apa yang disebut dengan akivitas ekonomi. Akan tetapi, “Barat” lupa tidak membangun peradaban harkat manusia “Timur”, yakni membangun konstruksi berpikirnya. Ringkasnya, “Barat” memuntahkan demagogi bukan pedadogi. Akibatnya, dalam pelbagai hal, pikiran manusia “Timur” selalu terbelakang dan tertinggal.

Karena selama ini yang membekas di kepala, “Barat” diasosiasikan dengan kemajuan dan pembangunan dalam pelbagai hal. Tidak terkecuali membangun dan mengeksploitasi alam yang ada di “Timur”. Apakah hal itu dilakukan untuk kemajuan manusia “Timur?” tentu tidak, melainkan cinta diri yang mendorong lahirnya ambisi untuk meraih segala kejayaan hidup yang hedonistik dan materialistik. Baginya, “Timur” adalah lahan subur “tak bertuan”. Bukan karena tidak ada pemiliknya, melainkan di tempat itu nihil logika, nir-nalar: keterbelakangan akan ilmu pengetahuan. Itulah warisan pikiran “picik” kolonialisme. Dengan demikian, masyarakat “Timur” hanyalah lampiran dalam pembuatan undang-undang.

Selama ini kita abai pada “Timur”, bahkan cenderung tak peduli atas segala kesengsaraannya. Baik dalam pendidikan, ekonomi, politik, terlebih kesehatannya. Masih segar dalam ingatan kolektif kita, di “Timur” puluhan anak terjangkit gizi buruk. Di Jakarta, isu  lapar tersebut justru menjadi komoditas politik, di mana mata kamera mengintai dan mempertontonkannya. Ironisnya kebudayaan filantropi tidak lagi membekas pada diri kita sebagai manusia budaya.

Sudah 73 tahun Bangsa Indonesia merdeka, akan tetapi di wilayah “Timur” Indonesia masih dijajah “keterbelakangan”, yakni  dalam aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosio-politiknya. Ada jalan konstitusi yang belum atau barangkali lupa dibangun oleh pemerintah. Sebuah jalan yang akan menghantarkan manusia meraih harkat dan martabatnya. Padahal, konstitusi mengamanatkan pemerintah wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena “keterbelakangan” adalah asbabun nuzul adanya “penjajahan”.

Detik ini telah kita saksikan bersama di mana gugus pengetahuan, gagasan, argumen diletakan di atas meja perundingan tentang siapa pemilik sah “gunung emas”. Bila “Timur” harus menjalani nasibnya yang “hitam”, maka saya ingin meminjam filsafat Stoa: “Timur” adalah anjing yang diseret kereta. “Anjing” diibaratkan sebagai manusia dan “kereta” sebagai takdir. Pertanyaannya, apakah “anjing” tersebut akan selamanya seirama berlari mengikuti laju kereta dengan sukacita sebagai titik kulminasi karena hegemoni “Barat” yang superior terhadap “Timur” yang inferior. (*)

*) Ade Mulono: Mahasiswa sastra dan sekolah feminisme.

Continue Reading

Classic Prose

Trending