Connect with us

The Culture

Evolusi Blazer yang Kian Fleksibel

mm

Published

on

evolusi blazer

Ketika Coco Chanel dan Jean Patou memperkenalkan busana bergaya androgini tahun 1920-an, blazer muncul menjadi salah satu pilihan bagi kaum perempuan. Seiring zaman, blazer kian fleksibel dalam teknik padu padan sekaligus menjadi elemen busana lintas jender.

Pasca-Perang Dunia I menjadi masa bagi kaum perempuan memasuki era kebebasan, yang juga tecermin dalam tren mode ketika itu. Penampilan androgini, yang serba praktis, mulai digemari kaum perempuan ketika itu. Penampilan perempuan pada masa itu dimotivasi oleh hasrat kebebasan dalam menikmati hidup setelah perang yang menjemukan. Perempuan pun mulai tampil dengan potongan rambut pendek, merokok, serta mengenakan blazer, jumper, celana panjang, dan rok yang memperlihatkan betis.

Blazer dalam perkembangannya kemudian menjadi kelengkapan busana perempuan pekerja yang cukup esensial. Di tahun 1980-an, blazer mencerminkan perempuan yang mandiri, berkarier, dan penuh ambisi. Perangkat shoulder pad atau bantalan bahu pada blazer yang memberi siluet gagah pun menjadi penting.

Ketika itu, setelan blazer dengan bantalan bahu menjadi power-dressing yang mencerminkan ambisi dan kekuatan perempuan di dunia korporasi. Blazer dengan bantalan bahu memberi pesan intimidatif tentang kuatnya hasrat kaum perempuan keluar dari dunia domestik dan turut berperan dalam dunia kerja yang sebelumnya didominasi kaum lelaki. Di tahun 1980-an itu, setelan perempuan dengan bantalan bahu kian populer berkat serial televisi Dynasty yang menampilkan perempuan-perempuan berambisi.

Seperti diulas dalam buku 100 Ideas That Changed Fashion (Harriet Worsley, 2011), bantalan bahu sebelum tahun 1930-an hanya dikenakan oleh kaum pria. Namun, pada 1931, desainer Elsa Schiaparelli memperkenalkan setelan blazer untuk perempuan dengan bantalan bahu yang lebar.

Seiring zaman, blazer yang sejatinya berfungsi sebagai rangkapan luar terus berevolusi. Blazer tak lagi melulu identik dengan dunia korporasi. Kini, padu padan blazer dengan busana kasual kian umum dijumpai. Kesan yang timbul terangkum dalam istilah yang sering kita dengar sebagai smart casual. Istilah itu secara bebas dapat diartikan sebagai penampilan yang santai, tetapi elegan.

Dahulu, blazer umumnya tampil dengan warna-warna solid yang gelap ataupun kalem. Kini, desain blazer tampil lebih meriah, beragam motif dan beragam warna, termasuk warna-warna neon yang terang. Potongan blazer pun lebih beragam, mulai dari yang ekstra longgar hingga potongan yang pas dan mempertegas siluet lekuk tubuh.

”Boyfriend blazer”

Blazer di masa kini ternyata mampu melebur dengan gaya street style yang penuh semangat kebebasan. Selebritas Hollywood tampak beberapa kali mempertontonkan penampilan ala street style dengan blazer. Rihanna, misalnya, mengenakan blazer abu-abu berukuran ekstra longgar di bawah pinggul dan bahu struktural yang dipadukan dengan kaus longgar bergambar wajah Karl Lagerfeld serta celana jins superpendek. Rihanna tampak beberapa kali berpenampilan seperti ini dengan blazer ekstra longgar alias kedodoran (oversized) dan celana pendek.

Blazer oversized demikian merupakan salah satu dari tren busana boyfriend fashion, yakni busana oversized yang seolah-olah pinjaman dari teman laki-laki. Dengan ukuran ekstra longgar itu Rihanna seperti ingin menyeimbangkan kesan urakan dalam balutan blazer sehingga memberi tampilan keseluruhan yang lebih berkelas.

Sementara Diane Kruger mengkreasikan blazernya dalam tampilan yang chic. Mantan model asal Jerman ini mengenakan blazer biru bermotif polkadot putih dengan celana jins berpotongan pensil yang digulung di bagian bawah. Sepatu datar dan topi bundar menjadi aksen yang mempermanis tampilannya.

Lain lagi dengan Miranda Kerr. Blazer bermotif bunga hitam-putih dari Stella Mc Cartney menjadi pilihannya. Miranda memadukan blazer berpotongan di bawah pinggul itu dengan dalaman kaus hitam, celana jins berpotongan skinny, dan sepatu datar. Miranda juga pernah terlihat mengenakan boyfriend blazer berwarna kecoklatan dari desainer Charlotte Ronson berpadu dengan rok mini.

Berbeda dengan era gaya androgini di tahun 1920-an, tren boyfriend fashion yang merebak sejak sekitar 2009 bagaimanapun tampak tetap berupaya menyisipkan feminitas. Hal itu tampak dari cara mengenakan blazer kedodoran, yakni dengan menggulung lengan hingga sebatas siku sehingga memperlihatkan sebagian tangan yang ramping dan feminin. Nuansa kedodoran yang disarankan pun cukup satu ukuran di atas ukuran si perempuan.

Dari tiga penampilan selebritas tersebut, sehelai blazer bisa memberikan kesan yang berbeda-beda tergantung pada padu padan yang diberlakukan. Variasi blazer dan kesan yang ditimbulkan juga tergantung pada model potongan, panjang-pendek blazer, dan potongan pada bahu, baik dengan bantalan maupun tanpa bantalan. Sehelai blazer mampu menyulap tampilan yang biasa-biasa saja—seperti kaus dan jins—menjadi lebih istimewa.

Boleh dibilang, blazer pun tak mengenal batasan usia pemakai. Karakter blazer yang kian egaliter membuatnya senantiasa sukses dipadupadankan dengan beragam elemen busana lainnya. Bawahan ataupun dalaman untuk blazer juga tak mengenal pantangan, mulai dari celana panjang, celana pendek, legging, jins dengan berbagai potongan, rok mini, rok panjang, gaun, kemeja, hingga kaus oblong.

Blazer menjadi elemen busana yang signifikan dalam mendongkrak keseluruhan penampilan secara kilat. Eksistensi blazer dalam dunia mode terus berevolusi meniti zaman. Dari yang semula menyimpan semangat independensi kaum perempuan, kini, menjadi elemen busana yang egaliter dengan fleksibilitas tinggi. Bahkan, dengan pasangan pria, perempuan kini boleh saja bertukar blazer.

Blazer barangkali telah menjadi penanda zaman yang kian ramah pada ranah mode lintas jender alias unisex. (Sarie Febriane/Kompas)

Continue Reading
Advertisement

The Culture

10 Buku Teratas Tentang Awal Yang Baru

mm

Published

on

Ilustrasi Karya Amalia/ Hak Cipta pada Galeri Buku Jakarta

by Jaclyn Moriarty

Dari Virginia Woolf hingga Lorrie Moore dan Diana Wynne Jones, awal yang baru memberikan sumber inspirasi yang tak ada habisnya untuk fiksi

Malam itu saya bermimpi hari itu adalah hari terakhir saya di SMA. Saya sedang mengumpulkan buku-buku sekolah ketika sesuatu menarik perhatian saya: daun selada, terbaring di karpet. Sempurna! Piker saya, saya mengambilnya dan membungkusnya. Sekarang saya tidak akan kelaparan di universitas tahun depan! Saya terbangun masih dengan perasaan bangga.

Sejak mimpi itu, saya berpikir tentang bagaimana pendidikan sangat rapi mengatur kehidupan menjadi akhir dan awal. Anda menyelesaikan satu segmen, mengambil liburan musim panas, dan melangkah ke segmen berikutnya – gugup, bersemangat – dan lebih lengkap, jika Anda memiliki penglihatan seperti saya, dengan segenggam daun selada yang membusuk. Tapi kehidupan orang dewasa lebih kacau. Ada banyak potensi awal – pekerjaan, pasangan, perubahan pola makan, tetapi tidak ada yang menyusun jadwalnya. Perubahan cenderung dilemparkan ke arah Anda, atau bergantung pada usaha Anda sendiri.

Dalam novel saya Gravity Is the Thing, perubahan ada yang datang dan ada yang dipilih oleh Abigail, pemilik-manajer Happiness Cafe. Ketika Abigail masih remaja, saudara laki-lakinya menghilang. Di waktu yang sama, melalui pos dia mulai menerima bagian dari buku menolong-diri yang berjudul The Guidebook. Sekarang, 20 tahun kemudian, dia diundang ke retret untuk mempelajari “kebenaran” tentang The Guidebook.

Absennya kakak dari Abigail merupakan inti kisahnya. Kehilangan orang yang dicintai adalah kehilangan yang sangat traumatis karena mereka tidak sepenuhnya hilang. Setiap saat, orang tersebut dapat datang kembali. Tidak ada akhir, jadi tidak akan ada awal yang baru: hidup tanpa orang yang dicintai tidak dapat mulai. Dalam Gravity, saya ingin menggali janji-janji industri menolong-diri dalam konteks kehilangan yang ambigu seperti ini: seperti halnya harapan, menolong-diri bisa bersifat transformatif dan destruktif.

Awalnya, gagasan memilih 10 buku tentang permulaan baru membuat saya khawatir. Kemudian saya menyadari bahwa semua novel setidaknya memiliki satu krisis, penemuan atau transformasi, dan masing-masing memicu awal yang baru. Maka, pada intinya, ini adalah daftar buku yang cukup istimewa bagi saya (bukan yang paling istimewa, kalau itu adalah buku saudara perempuan saya, Liane dan Nicola) atau yang telah membentuk saya sebagai penulis atau sebagai manusia yang dibentuk untuk menangkap cahaya.

1. Cocaine Blues oleh Kerry Greenwood
Phryne Fisher, seksi, centil dan baru tiba di Melbourne, Australia, memutuskan untuk menjadi seorang detektif swasta. Ini adalah buku pertama dari sebuah seri yang merupakan eskapisme murni, cerdas, jenaka, masing-masing buku mempertajam buku sebelumnya. Saya membaca buku ini di kamar mandi, dengan cokelat, setiap kali saya khawatir atau sedih, dan semuanya langsung menjadi lebih baik.

2. Case Histories oleh Kate Atkinson
Dengan caranya sendiri, Jackson Brodie sama karismatiknya, seksinya dan mampunya seperti Phryne Fisher. Case Histories, buku pertama dari cerita Brodie, membuatnya memulai karir barunya sebagai detektif swasta. Saya membaca ini bertahun-tahun yang lalu, di kereta antara Toronto dan Montreal, tepat setelah keguguran, dan saya menangis di hampir setiap halamannya. Persis seperti yang saya butuhkan. Saya sudah mengagumi Kate Atkinson sebelumnya, tetapi saat itulah saya jatuh cinta pada prosanya yang kuat dan penuh semangat.

3. In the Mood oleh Laura Bloom
Bertempat di Sydney pada tahun 1946, In the Mood menggambarkan pasangan muda yang berusaha memulai kembali pernikahan mereka setelah sang suami kembali dari perang. Tulisan Bloom sangat indah, dan pembedahannya yang teliti tentang suatu hubungan yang dirusak oleh rahasia dan trauma mengingatkan kita pada Henry James (tanpa sub-klausa yang berlebihan). Saya selalu tertarik dengan novel-novel seperti ini yang melihat ranah domestik seserius yang seharusnya.

4. Lenny’s Book of Everything oleh Karen Foxlee
Setiap orang harus membaca buku anak-anak yang berlatar tahun 1970-an ini. Adik Lenny, Davy, lahir “enam hari setelah Neil Armstrong mengambil langkahnya yang terkenal itu dan semua orang masih gila dengan demam bulan”. Tetapi ibu Lenny memiliki “perasaan yang gelap” tentang Davy, perasaan “sebesar langit yang tersimpan di dalam bidal”. Davy mulai tumbuh, dan tidak berhenti, sehingga dimulailah bertahun-tahun kunjungan ke dokter dan rumah sakit, kekhawatiran dan harapan. Kebaikan tetangga, distraksi Burrell’s Build-It-at-Home Encyclopedia, pesona juara Davy dan tekad Lenny, melengkapi kisah mendalam tentang kehilangan dan kekuatan transformatifnya. Buku ini akan membuat Anda menangis.

5. Self-Help oleh Lorrie Moore
Sebagian besar cerita dalam koleksi ini mengeksplorasi berbagai jenis awal baru: bagaimana menjadi “perempuan lain”, bagaimana menjadi anak dari orang tua yang baru saja bercerai. Dalam judul singkat “Bagaimana”, kita belajar bagaimana memulai hubungan cinta yang ditakdirkan untuk hancur: “Mulailah dengan menemuinya di kelas, di bar, di pasar barang bekas.” Prosa Moore puitis, tajam dan sangat lucu. Ketika Anda berpikir tidak ada yang baru untuk dikatakan tentang sebuah hubungan, Moore membuka lapisan baru dan mengacaukan Anda dengan wawasannya.

6. Chrestomanci oleh Diana Wynne Jones
Saya biasanya menulis untuk anak muda sehingga saya sering membaca buku anak-anak. Cerita favorit saya lucu, otentik secara emosional dan mengandung keajaiban praktis. Buku-buku Wynne Jones, seperti buku-buku Ellen Raskin dan Sally Gardner, membuat jiwa saya bernapas lega. Buku-buku Chrestomanci berlatar pada dunia yang paralel dengan dunia kita, dan menampilkan protagonis yang menemukan kemampuan magis mereka dan mulai bertualang untuk mengembangkannya. Christopher Chant muncul tepat pada waktunya, menawarkan solusi elegan untuk masalah yang tampaknya tak terselesaikan.

7. Dear Mrs Bird oleh AJ Pearce
Sebuah komik menyenangkan tentang kisah persahabatan dan cinta yang dilatari oleh pemandangan London yang suram selama periode blitz, novel ini secara sensitif menyampaikan bagaimana kehidupan, bahkan dalam tragedi dan kesedihan, dapat menjadi lucu dan penuh harapan. Emmeline Lake secara tidak sengaja mengambil pekerjaan baru mengetik untuk seorang kolumnis saran di sebuah majalah perempuan di London, 1941, yang menjawab berbagai macam subjek di luar batas. Menentang instruksi yang diberikan padanya, Emmeline mulai menjawabnya sendiri.

8. Eleanor Oliphant Is Completely Fine oleh Gail Honeyman
Saya membaca novel ini di pesawat dan novel ini membuat saya sering tertawa dan lebih sering menangis. Eleanor, hampir 30 tahun, telah menjalani kehidupan yang presisi, terjaga, dan menyendiri, menguatkan dirinya melalui kecanduan dan rutinitas. Kemudian seorang penyanyi berjalan ke atas panggung, dan Eleanor langsung jatuh cinta: “Dia berkobar … aku duduk di ujung kursiku, sedikit lebih dekat. Akhirnya. Saya menemukannya.” Suatu keajaiban humor dan kekecewaan, Eleanor Oliphant mengungkapkan bagaimana persahabatan baru dapat mulai mengungkap trauma yang terpendam di dalam diri kita.

9. Dark Emu oleh Bruce Pascoe
Sebuah buku tentang permulaan baru yang menghentikan napas saya dan mendorong saya ke samping. Buku ini merupakan studi yang menggali awal kolonialisme Australia. Ini mengumpulkan bukti kuat bahwa Penduduk Asli Australia bukan, sebagaimana narasi sejarah yang berlaku mempertahankan – dan seperti yang disyaratkan oleh hukum terra nullius – pengumpul pemburu nomaden, tetapi telah membangun pertanian dan menetap.

10. The Waves oleh Virginia Woolf
Novel ini dibuka dengan sekelompok anak-anak yang memulai perjalanan hidup mereka, dan mereka membimbing kita sampai usia tua dan kematian mereka dalam enam kisah indah, orang pertama. Saya membacanya di SMA dan itu adalah pertemuan pertama saya dengan bahasa yang sangat indah. Novel itu liris, inventif, reflektif dan terus menggali tanpa henti dalam mengejar kebenaran.

__

ed: Affan Firmansyah/ Sabiq Carebesth

Continue Reading

The Culture

Terbingkai Foto

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Tatkala Tuhan menciptakan manusia sebagai bentuk kuasa paling maha, manusia menciptakan teknologi foto untuk menandinginya. Kita akhirnya melihat di mana-mana, kedigdayaan foto mengabadikan raga-raga meski nyawa telah kembali ke pangkuan Tuhan. Wajah-wajah tetap terbingkai meski usia merenta. Manusia ingin mengawetkan usia dan menunda kematian. Aneka ekspresi dibekukan seolah tiada lagi pertemuan esok hari. Orang-orang dibuat tidak saling mengingat hanya dengan kata, tatapan, senyuman, jabat tangan, suara percakapan, atau ingatan meski samar-samar.

Nyaris bersamaan, Disney-Pixar meluncurkan buku sekaligus film berjudul Coco (Lee Unkrich, 2017). Berlatar peristiwa peringatan orang mati atau Dia de Los Muertos di Meksiko, foto jadi kunci mempertautkan orang-orang di Dunia Hidup dan orang-orang mati di Dunia Arwah. Setiap perayaan Dia de Los Muertos, para keluarga yang masih hidup meletakkan foto-foto anggota keluarga yang meninggal di ruang ofrenda (pengingat) agar para arwah bisa menyeberang dan pulang menjenguk keluarga. Tanpa foto, mereka tidak bisa datang. Para arwah yang tidak dipajang fotonya, berarti perlahan dilupakan dan dilenyapkan dalam ikatan keluarga.

Tokoh utama anak di film Coco, Miguel Rivera, memiliki tugas mahaberat. Miguel harus membawa foto kakek canggah, Hector, dari dunia para arwah ke dunia orang hidup dan memasangnya di ruang ofrenda agar Hector tidak mengalami kematian kedua: sirna dan tuntas dilupakan dari perigi ingatan keluarga yang masih hidup. Selama beberapa generasi, Hector dilupakan karena meninggalkan istri dan anak untuk bermusik bagi dunia. Tindakan ini membuahkan kutukan dilupakan dan tidak dimaafkan. Akhir yang mengharukan bahwa Coco sebagai anak dan generasi terakhir yang mengingat Papa Hector justru kembali merasakan kehadiran Hector dalam lagu Ingat Aku. Lirik lagu, kata-kata, mengembalikan kenangan, menggerakkan tangan-tangan keriput, dan membuat mulut renta Coco bersenandung sebelum sesobek foto.

Foto memasuki wilayah manusia dari yang sakral sampai profan. Ia disimpan di tempat paling usang sampai termewah. Di pelbagai zaman, foto itu sepertinya lebih hakiki menggantikan patung, relief, gambar gores tangan, atau benda-benda yang mewadahi memori visual atas narasi beragama, berkebudayaan, atau berpolitik di pelbagai peradaban. Lydia Kieven (2014) sempat melakukan penelusuran figur bertopi di relief candi masa Majapahit. Fungsi religius candi-candi Majapahit di Jawa Timur tampak dari patung-patung dewa yang menempati bilik-bilik candi. Merasakan keberadaan dewata sebagai peristiwa transendetal, tetap harus diwakili oleh patung yang mewakili rupa dan berkesan amat manusiawi. Termasuk relief-relief indah yang dipahatkan di candi, menjadi jalan bagi para peziarah menyatu dengan Yang Maha Kuasa atau penghubung ke masa lalu jati dirinya.

Keluarga Terbingkai

Sekarang, kita menyaksikan zaman yang keterlaluan sering membingkai keluarga dalam foto, mengalbumkan perasaan dalam sekali klik, dan memaku ekspresi dalam pose yang tidak lagi takut, terkejut, seolah mati seketika cahaya-suara menyerang. Sejak pembentukan keluarga baru atau membangun rumah tangga, keluarga tidak akan sah menjadi keluarga sebelum memiliki foto. Istilah “foto keluarga” setara pentingnya dengan anak, nasi, nafkah, pekerjaan, ataupun rumah. Terkadang, foto keluarga yang tampak sumringah justru ampuh dipakai untuk memanipulasi keretakan, kekoyakan, dan penderitaan emosional berkeluarga.

Di masa 80-an, majalah Femina sempat merawat foto-foto “tempo doeloe” kiriman pembaca untuk dipasang di halaman “Dari pembaca”. Redaksi mengatakan, “Bila Anda memiliki foto-foto nostalgia dari nenek-nenek 50-an tahun yang lalu (syukur-syukur kalau ada ratusan tahun yang lalu), kami gembira untuk memuatnya. Jangan lupa ceritakan isi foto tersebut: busana dan perlengkapannya, peristiwa pemotretan pada waktu itu, dan lain-lain. Sebaiknya foto tersebut Anda reproduksi dulu, copynya saja kirimkan pada kami.” Redaksi tidak ingin foto hanya sekadar jadi foto, tapi memiliki cerita. Dilihat dari usia foto, ada kesan kemewahan berfoto pada masa itu. Foto keluarga hanya dimiliki oleh keluarga kulit putih, Indo, bangsawan pribumi, atau kalangan pegawai negeri. Tidak banyak keluarga di Hindia Belanda yang bisa sengaja mengabadikan keluarga dan pelbagai momentum dalam selembar foto.

Femina edisi 10 Agustus 1982, memuat foto lawas bertahun 1918 keluarga kakek-nenek, kiriman Sjarief Chalik dari Jakarta Selatan. Foto berlatar di Lampung menampilkan keluarga berbusana serba putih. Kakek mengenakan setelan Barat lengkap berdasi kupu-kupu, nenek tabah dalam balutan kebaya serta jarik, dan Ibu Sjarief-bersaudara seturut dengan kakek dalam balutan busana Eropa. Kita cerap potongan cerita Sjarief, “Saya memang sengaja tidak menyebut nama keluarga, sebab bukan tokoh nasional ataupun orang terkenal. Kakek saya adalah orang biasa saja dari kalangan pegawai negeri, walaupun pernah berjasa karena membuat jalan yang menghubungkan Tarutung dan Sibolga.” Foto bercerita sejarah keluarga dan ada sebagai warisan klasik. Pengirim foto tidak selalu pernah mengalami pertemuan secara ragawi dengan beberapa sosok di dalam foto. Mereka hanya ditalikan oleh darah atau trah.

Masuknya teknologi kamera ke gawai, benda teknologis paling sering dipegang beberapa dekade terakhir, membuat orang-orang mudah diajak gila-gilaan berfoto secara selfie atau wefie. Kamera nyaris tidak terpisahkan untuk mengabadikan momentum keluarga liburan, makan, sekolah, wisuda, nonton, ngantor, arisan, tidur, bermain, dan bahkan beribadah. Foto bisa diproduksi sekaligus dimusnahkan setiap detik, tidak lagi dibingkai dalam pigura mewah atau album konvensional yang tersimpan sebagai kenangan langka nan penting. Media sosial telah menjadi album mahahidup, mengunggah kembali foto-foto yang bahkan telah dilupakan para pemiliknya. Foto-foto lekas berunjuk dan bertarung menunjukkan siapa yang paling berhasil (pura-pura) bahagia. Sungguh banyak foto, tapi cukup sering tidak berbicara apapun.

Continue Reading

The Culture

Populisme dan Infrastruktur Sosial Yang Kita Butuhkan

mm

Published

on

Pada tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.

___

Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018).

Beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya polpulisme di Barat dan banyak belahan dunia lainnya: ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari imigrasi dan berita palsu, dan beberapa hal lain di antaranya. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin luput adalah kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul. Jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain—dalam beberapa kasus tembok betulan—mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018).

Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, khususnya di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Dalam Program Inisiatif Open Future,The Economist mempublikasikan kutipan dari bukunya tentang bagaimana pengaruh desain bangunan-bangunan universitas terhadap etos mahasiswa dan komunitas yang lebih luas. Publikasi tersebut dilanjutkan dengan dengan wawancara singkat dengan Klinenberg terkait infrastruktur di abad 21, dan khususnya tentang perpustakaan. Berikut selengkapnya:

The Economist

Apa yang dimaksud infrastruktur sosial?

Eric Klinenberg

Infrastruktur sosial adalah sekumpulan sarana-sarana fisik yang membentuk interaksi kita. Infrastruktur sosial yang paling demokratis dan mudah dijangkau adalah sarana-sarana publik klasik, seperti perpustakaan-perpustakaan, sekolah-sekolah, taman-taman, dan arena bermain. Tempat-tempat organisasi-organisasi komunitas dan perkumpulan komersial dapat menjadi infrastruktur sosial, akan tetapi jika bentuknya eksklusif, hal semacam itu cenderung menumbuhkan perpecahan dengan mempromosikan solidaritas keanggotaan dibandingkan kesejahteraan kolektif.

The Economist

Bisakah Anda hubungkan populisme dan pertentangan etos demokrasi dengan berkurangnya infrastruktur sosial? Sebaliknya, apakah infrastruktur sosial yang lebih baik dapat membantu kemajuan politik?

Eric Klinenberg

Ruang-ruang bersama memberi kita kesempatan untuk mengenali kesamamaan-kesamaan kita dan membangun rasa saling menghargai. Aktivitas-aktivitas bersama, baik di tempat-tempat pertemuan umum, atau gedung perkumpulan, memfasilitasi solodaritas, bahkan antar kelompok-kelompok berbeda. Buk, Saya bercerita tentang Kakek buyut saya yang seorang Yahudi, berpindah dari Prague ke Chicago di tahun 1890 dan segera menyadari bahwa berpartisipasi dalam demokrasi Amerika berarti belajar untuk hidup dan bekerja sama dengan anggota-anggota kelompok etnis yang belum pernah dia temui di Eropa. Dalam beberapa dekade terakhir, kita telah mencabut pondasi yang memungkinkan kerja sama ini. Kita telah membangun masyarakat yang makin kompetitif dan tersegmentasi, dan kondisi-kondisi tersebut merawat bentuk berbahaya dari populisme yang berkembang sekarang.

The Economist

Apakah jenis infrastruktur sosial yang dibutuhkan dalam era digital kini berbeda dengan yang dibutuhkan di masa lalu?

Eric Klinenberg

Pada 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.

Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta.

Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infrastruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.

The Economis

Apa cara terbaik yang bisa pemerintah lakukan untuk mendukung terbentuknya infrastruktur sosial? Apa mereka harus membangun dan merawatnya, atau mendorong sektor swasta untuk menyediakannya? Perlukah semacam pelaku philantropi baru untuk membangun “places for the people” yang baru?

Eric Klinenberg

Kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur social seperti di Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya.

Tetapi kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Saat ini, Saya takut kita menuju ke arah yang sama, memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan kita, apakah itu berkaitan dengan hutang pelajar atau infratruktur sosial.

Sayangnya, philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

The Economist

Negara mana yang menyediakan infrastruktur sosial dengan baik? Dari mana dunia lainnya bisa belajar?

Eric Klinenberg

Saya seringkali menunjuk Belanda sebagai pelopor dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investasi keamanan ekologis juga meningkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial alih alih menjadi arena perang keterburu-buruan antar semua.

The Economist

Saya ingin menggali lebih banyak terkait infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung. Ada hal yang lebih mendalam di sini. Apakah itu?

Eric Klinenberg

Saya kira jawabannya berkaitan erat dengan diskusi Saya soal perpustakaan. Perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan diprogram. Perpustakaan sangat inklusif. Mereka diatur oleh profesional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnisitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali. Tetapi, Saya khawatir bahwa menelantarkan perpustakaan-perpustakaan kita justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, jutaan dolar dipotong dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup, masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak ornag itu?

The Economist

Benar sekali. Akan tetapi di era digital di mana informasi dapat berada di berbagai tempat di waktu yang sama dan orang-orang dapat berorganisasi secara online, apakah kita benar-benar membutuhkan bentuk fisik dari infrastruktur sosial itu atau perpustakaan? Saat aku menanyakan in di awal, Anda menegur Mark Zuckerberg atas kegagalannya. Dan dia merupakan target yang mudah. Tapi apa hal baik yang dilakukan infrastruktur sosial digital? Bisakah Anda bayangkan akan terlihat seperti apa infrastruktur sosial di abad 21 ini?

Eric Klinenberg

Saya tidak perlu membanyangkan infrastruktur sosial abad 21. Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam—pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemuan komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan.

Eric Klinenberg

Jika kamu berada di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, masyarakat memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik. Jadi, Saya tak akan dengan mudah menyerah dalam perjuanagan demi infrastruktur sosial yang lebih baik. Dan para milenial, yang mempergunakan perpustakaan lebih sering dari generasi-generasi lainnya—lihatlah Pew data—mereka akan mendukungku. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending