Connect with us

Milenia

Es Kopi di Cikini

mm

Published

on

Di Kawasan Cikini, resto dan kafe “Bakoel Koffee” adalah tempat menikmati kopi favorit saya. Ada beberapa kafe lain mengapit kafe ini, tapi Bakoel Koffie paling istimewa buat saya. Soal selera tentu sifatnya subjektif, Anda juga tentu punya pilihan bebrbeda.

Di Bakoel Koffie, saya terutama paling menyukai sajian es kopinya, seakan-akan setiap kali perpaduan kopi arabika dan robusta yang difermentasi dalam proses yang “rahasia” itu mengaliri tenggorokan, dahaga saya luluh, kerontang batin saya seperti disiram oleh kenangan yang manis sekaligus telah menjadi jauh.

Dalam anganan sederhana bahkan saya berani bilang, cara mudah bahagia di kota ini bukanlah hal rumit, cukup bagi saya, bila bisa punya kesempatan untuk duduk di kafe ini menikmati segelas es kopinya (cold brew) sepekan sekali atau lebih sering.

Tentu bukan sekedar karena es kopinya enak, tapi dinding-dinding kafe yang tua, kursi dan ornamen kafe yang dipastikan menyimpan begitu banyak cerita, menggelar atmosfir jakarta yang lain, pemandangan jalan Cikini dari jendela kaca besarnya, kita melihat jalanan Jakarta yang hangat dan terasa akrab, mengingat kehadiran para seniman dan sastrawan yang dulu mudah kita dapati di Cikini, semua itu memberi saya perasaan bergaiarah dan kejernihan pikiran.

Kita seakan terasuki oleh orang-orang kreatif yang pernah duduk di kafe ini, melewati jalan-jalan sepanjang Cikini, betapa mengesankan semua itu. Seolah-olah berjalan-jalan ke Cikini atau duduk di kafe Bakoel Koffie adalah impian setiap orang dengan keinginan memulung inspirasi dan kejernihan pikiran. Meski hal itu seriang hanya mudah dalam kata-kata. Kenyataanya kita kerap duduk menghabiskan uang dan tak membawa pulang apa pun. Bisa jadi seni kadang memang perayaan kesia-siaan. Tetapi tidak benar-benar sia-sia. Selalu ambigu antara daya kehilangan dan spirit akan kebaruan mencipta. Entahlah..

*

Pada tahun-tahun yang lalu, Cikini bukan hanya nama jalan, Cikini adalah kiblat, ke mana mata memandang, ia akan menemukan kecantikan; orang-orang yang melintas, gedung, jalanan, lampu-lampu; kita seakan bermimpi bisa bertemu dengan para seniman beken yang selama itu bagi banyak orang cuma tahu karena membaca karyanya yang mengesankan. Di Cikini seolah mereka berujar; lihat dan temui saya di Cikini, bukan di tempat lain!

Tapi waktu berlalu, nama-nama seperti Afrizal, Rendra, Seno Gumira, Radhar Panca Dahana, Ahmad Tohari, kian ditelan zaman. Sementara generasi sesudahnya, generasi kita—telah memasuki abad baru keramaian bernama sosial media. Pelan tapi pasti hal itu mempengaruhi cara pandang, cara kerja, juga persepsi tentang romantika lama Cikini. Dan tentu saja, menemukan ruang baru selain Cikini.

Sosial media telah melahirkan artis-artis baru, seniman dan penulis baru yang segera populer sebagai “tokoh”. Usia karya mereka tak seberapa lama dan tidak akan menandingi daya klasik karya-karya lama sebelum era komunikasi disesaki oleh arketip individual seperti sekarang ini—tapi tidak dengan sosoknya sebagai tokoh atau artis baru. Sebagai sosok—tokoh—Ia terus eksis jauh melebihi usia karya itu sendiri, bahkan tak sedikit yang jadi kecanduan akan eksistensi (maya) semacam itu. Sehingga tidak heran banyak yang lupa bertahan pada proses kreatif menghasilkan karya-karya berkelas, lantaran “pokok” seringkali sudah tak lebih penting dari “tokoh”nya.

Tidak ada yang salah dengan  keadaan semacam itu karena memang barangkali seoarang seniman hidup di zamannya; seberapa pun ia menolak menjadi bagian ia tak akan pernah bisa berpaling dari zamannya. Seni untuk zamannya, di dalam zamannya.

Maka Cikini yang dulu terutama dikenal dengan kawasan Taman Ismail Marzuki dengan aura bohemiannya, kini mulai ditinggalkan. Jejak mereka dihapus dengan alih fungsi tempat dan ruang. Pojokan tempat para seniman menempa diri atau sebagian lain memang hanya pemalas yang menghindari hidup—kini tergusur dari tempatnya.

Sementara para penontonnya, yang datang untuk menonton pagelaran hidup gaya lama, segera kecewa; tak ada lagi hal nyentrik yang dulu mereka anggap menggairahkan. Ya, hal itu terdengar sama anehnya bahwa orang-orang sebenarnya prihatin atas dirinya sendiri lantaran mereka datang sebagai pribadi resah yang butuh melihat dunia lain sambil secara ironis kerap menganggap para seniman lama itu adalah tontonan nyentrik kalau bukan aneh—orang-orang dari zaman purba! Sementara eksistensi dan nasib para seniman sendiri siapa peduli?

Taman Ismail Marzuki berganti rupa, ia sekarang seakan menjadi tempat di mana orang-orang datang untuk membeli dahaga intelektualitas; supaya terkesan paham seni, sesuatu yang sepantasnya dimiliki kelas menengah berkelas? Sekarang Cikini seperti tidak lebih dari itu. Pagelaran dihelat bukan lagi sebagai gelanggang dan siasat kebudayaan, melainkan tontotan yang dipersembahkan sebagai hiburan kaum berduit.

*

Sehari-hari, bertambah hari, TIM mulai pudar aura artistiknya. Orang-orang datang hanya saat ada tontonan atau pementasan teater atau pameran seni rupa—jika tidak ada, mereka datang untuk menonton bioskop, makan, lalu pulang.

Anda tahu bagaimana mereka datang meanonton? Turun dari mobil-mobil mewah dengan pakain mahal, duduk menonton, dan yang terpenting berfoto dengan semua penanda seni yang ada lalu pulang dan mencari waktu luang mengunggah di sosial media. Eksistensi TIM dan semua sisa aktifitas kreatifnya telah dipindahkan ke dalam individualitas berupa akun sosial media masing-masing pengunjungnya, dan kerap hal itu memang semu dan maya belaka.

Pada hari lain ketika tidak ada agenda pertunjukan, TIM adalah bangunan tua yang tampak membeku. Tak ada yang datang berkunjung baik penonton mau pun seniman dan artisnya.

Keramaian telah bergeser ke jalanan Cikini Raya, persis di sebelah gerbang TIM, di mana kafe-kafe berjajar dan orang-orang duduk untuk begitu banyak kepentingan; bisnis, politik, dan seni? Saya benar-benar tidak berani menakar eksistensinya.

Saya sendiri kerap duduk di antara kafe-kafenya, karena suka es kopinya, kenangannya; tapi jelas saya tak mungkin melakukannya setiap hari karena membutuhkan uang tidak sedikit untuk berada di antara tempat-tempat ini saban hari. Saya sadar untuk bisa duduk di sini setiap hari mustahil hanya dengan mengandalkan kerja menulis artikel, esai atau sajak-sajak—Itu jauh dari cukup.

Kadang saya membayangkan, mungkin satu waktu, Cikini indah bukan lagi karena ia merupakan gelangang dan siasat bagi kebudayaan kita, melainkan karena segelas es kopinya seharga hampir 35 ribu beserta pajak restonya. Segelas es kopi yang hanya berumur 15 menit untuk meleleh sebelum habis direguk dan kita akan merasa tidak lagi punya hak duduk kecuali memesan segelas lagi…

Oh Cikini… Bagi sebagian orang kau memendam kenangan, mereka berjuang untuk datang berziarah, mengunjungi nisan kebudayaanmu sambil menabur bunga-bunga masa silam. Sampai nanti tiba tak seorang pun meangingat riwayatmu. Tergantikan oleh cerita baru, generasi yang baru, sajian yang baru… dalam segelas es kopi di Cikini…(*)

*Sabiq Carebesth, Penyuka Es Kopi, penulis buku “Seperti Para Penyair” (2017)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Milenia

Tips Menulis Prosa Dari Ernest Hemingway

mm

Published

on

Siapa yang tak mengenal dan belum membaca novel klasik—tapi selalu terasa aktual karena pembacanya yang tak pernah habis:The Oldman and the Sea karangan Ernest Hemingway? Hampir semua penikmat sastra khususnya novel dipastikan telah membaca novel tersebut. Novel yang juga membawanya menadapatkan Nobel Sastra dan menjadikannya salah satu novelis legendaris paling dikagumi. Tak terkecuali dari teknik bercerita yang ia miliki.

Hemingway adalah novelis dengan teknik bercerita yang efektif serta permainan karakter yang menarik. Dalam buku Hemingway: On Writing kita bisa mengambil beberapa pesan dan tuntutan untuk menulis efektif dan menarik. Berikut 6 (enam) di antara penuntun penting menulis prosa dari Hemingway yang layak kita renungkan:

  • “Semua penulis amatir selalu jatuh cinta pada kisah-kisah epik.”
  • “Hal tersulit yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah menuliskan prosa tentang manusia dengan sejujur-jujurnya. Pertama, kalian harus tahu subyek yang hendak diceritakan; lalu kalian harus tahu caranya menulis. Dua-duanya butuh latihan seumur hidup.”
  • “Semua buku berkualitas itu memiliki sifat yang sama: setelah Anda selesai membacanya, maka Anda akan merasa seolah semua yang terjadi di dalam buku itu telah terjadi pada Anda; dan semua pengalaman yang tertera di dalamnya menjadi pengalaman Anda juga—termasuk yang baik dan buruk; kegirangan, penyesalan dan kesedihan; serta orang-orang, tempat dan cuaca disana.”
  • “Tulisan yang berkualitas akan selalu membuat Anda bertanya-tanya tentang proses kreatifnya. Tak peduli seberapa sering Anda membaca tulisan itu, Anda takkan pernah menemukan jawabannya. Hal itu dikarenakan semua tulisan yang berkualitas selalu mengandung misteri; dan misteri itu takkan pernah bisa dipecahkan. Misteri itu akan terus berlanjut. Setiap kali Anda membaca tulisan itu, Anda akan selalu melihat atau mempelajari hal-hal baru yang tidak Anda temui sebelumnya.”
  • “Bagian terbaik dari sebuah buku biasanya berasal dari sesuatu yang tak sengaja didengar oleh si penulis atau kehancuran dari seluruh hidup si penulis—dan keduanya sama-sama efektif.”
  • “Berkah paling penting bagi seorang penulis adalah indera pencium kebohongan, kemunafikan serta kepura-puraan. Ini adalah radar bagi si penulis; dan semua penulis-penulis hebat dunia memilikinya.”

Apa yang terpenting? Barangkali pertama-tama untuk menjadi penulis baik Anda harus mulai belajar menulis sejujur-jujurnya. Anda yang sepanjang hidup telah mencoba menulis tentu memahami konteksnya. Selamat menulis para penulis ! (*)

Continue Reading

Inspirasi

Tennessee Williams: Dari Mana Ide itu datang?

mm

Published

on

Proses dimana ide untuk pertunjukkan datang padaku selalu merupakan sesuatu yang tak dapat kugambarkan dengan tepat. Sebuah pertunjukkan terlihat mewujud begitu saja, seperti sesuatu yang aneh dan muncul tiba-tiba hal itu menjadi semakin jelas dan semakin jelas dan semakin jelas. Idenya sangat samar pada awalnya, seperti pada kasus Streetcar, yang muncul setelah Menagerie. Aku tahu-tahu saja mempunyai penglihatan tentang seorang perempuan di penghujung masa mudanya. Dia sedang duduk di atas sebuah kursi sendirian di samping sebuah jendela dengan cahaya bulan mengalir jatuh pada wajahnya yang muram, dan dia kemudian berdiri di samping seorang lelaki yang akan dinikahinya.

Aku yakin aku sedang memikirkan saudara perempuanku karena dia benar-benar jatuh cinta dengan seorang lelaki muda di International Shoe Company yang memacarinya. Lelaki itu sangatlah tampan, dan saudara perempuanku sedalam-dalamnya mencintai lelaki itu. Kapan pun telepon berdering, dia hampir pingsan. Dia akan berpikir lelaki itu yang menelpon untuk mengajaknya berkencan, kau mengerti?

Mereka bertemu setiap malam, dan suatu hari dia tidak menelpon lagi. Itulah saat pertama Rose mulai mengalami sebuah kemerosotan mental. Dari penglihatan itu Streescar berevolusi. Aku menyebutnya, pada saat itu, Blanche’s Chair in the Moon, yang merupakan judul yang sangat jelek. Tapi dari gambaran itulah, kau paham, tentang seorang perempuan duduk di samping jendela, begitulah Streetcar datang padaku.

*) Tennessee Williams, (lahir di Columbus, Mississippi, Amerika Serikat, 26 Maret 1911 – meninggal di New York City, New York, 25 Februari 1983 pada umur 71 tahun) merupakan seorang sastrawan asal Amerika Serikat. Kariernya sebagai sastrawan dimulai pada tahun 1930 sampai akhir hayatnya pada tahun 1983. Selama waktu itu, ia telah menghasilkan banyak karya, antara lain novel, cerita pendek, dan skenario film, serta drama teater.

Continue Reading

Classic Prose

Trending