Connect with us

Milenia

Es Kopi di Cikini

mm

Published

on

Di Kawasan Cikini, resto dan kafe “Bakoel Koffee” adalah tempat menikmati kopi favorit saya. Ada beberapa kafe lain mengapit kafe ini, tapi Bakoel Koffie paling istimewa buat saya. Soal selera tentu sifatnya subjektif, Anda juga tentu punya pilihan bebrbeda.

Di Bakoel Koffie, saya terutama paling menyukai sajian es kopinya, seakan-akan setiap kali perpaduan kopi arabika dan robusta yang difermentasi dalam proses yang “rahasia” itu mengaliri tenggorokan, dahaga saya luluh, kerontang batin saya seperti disiram oleh kenangan yang manis sekaligus telah menjadi jauh.

Dalam anganan sederhana bahkan saya berani bilang, cara mudah bahagia di kota ini bukanlah hal rumit, cukup bagi saya, bila bisa punya kesempatan untuk duduk di kafe ini menikmati segelas es kopinya (cold brew) sepekan sekali atau lebih sering.

Tentu bukan sekedar karena es kopinya enak, tapi dinding-dinding kafe yang tua, kursi dan ornamen kafe yang dipastikan menyimpan begitu banyak cerita, menggelar atmosfir jakarta yang lain, pemandangan jalan Cikini dari jendela kaca besarnya, kita melihat jalanan Jakarta yang hangat dan terasa akrab, mengingat kehadiran para seniman dan sastrawan yang dulu mudah kita dapati di Cikini, semua itu memberi saya perasaan bergaiarah dan kejernihan pikiran.

Kita seakan terasuki oleh orang-orang kreatif yang pernah duduk di kafe ini, melewati jalan-jalan sepanjang Cikini, betapa mengesankan semua itu. Seolah-olah berjalan-jalan ke Cikini atau duduk di kafe Bakoel Koffie adalah impian setiap orang dengan keinginan memulung inspirasi dan kejernihan pikiran. Meski hal itu seriang hanya mudah dalam kata-kata. Kenyataanya kita kerap duduk menghabiskan uang dan tak membawa pulang apa pun. Bisa jadi seni kadang memang perayaan kesia-siaan. Tetapi tidak benar-benar sia-sia. Selalu ambigu antara daya kehilangan dan spirit akan kebaruan mencipta. Entahlah..

*

Pada tahun-tahun yang lalu, Cikini bukan hanya nama jalan, Cikini adalah kiblat, ke mana mata memandang, ia akan menemukan kecantikan; orang-orang yang melintas, gedung, jalanan, lampu-lampu; kita seakan bermimpi bisa bertemu dengan para seniman beken yang selama itu bagi banyak orang cuma tahu karena membaca karyanya yang mengesankan. Di Cikini seolah mereka berujar; lihat dan temui saya di Cikini, bukan di tempat lain!

Tapi waktu berlalu, nama-nama seperti Afrizal, Rendra, Seno Gumira, Radhar Panca Dahana, Ahmad Tohari, kian ditelan zaman. Sementara generasi sesudahnya, generasi kita—telah memasuki abad baru keramaian bernama sosial media. Pelan tapi pasti hal itu mempengaruhi cara pandang, cara kerja, juga persepsi tentang romantika lama Cikini. Dan tentu saja, menemukan ruang baru selain Cikini.

Sosial media telah melahirkan artis-artis baru, seniman dan penulis baru yang segera populer sebagai “tokoh”. Usia karya mereka tak seberapa lama dan tidak akan menandingi daya klasik karya-karya lama sebelum era komunikasi disesaki oleh arketip individual seperti sekarang ini—tapi tidak dengan sosoknya sebagai tokoh atau artis baru. Sebagai sosok—tokoh—Ia terus eksis jauh melebihi usia karya itu sendiri, bahkan tak sedikit yang jadi kecanduan akan eksistensi (maya) semacam itu. Sehingga tidak heran banyak yang lupa bertahan pada proses kreatif menghasilkan karya-karya berkelas, lantaran “pokok” seringkali sudah tak lebih penting dari “tokoh”nya.

Tidak ada yang salah dengan  keadaan semacam itu karena memang barangkali seoarang seniman hidup di zamannya; seberapa pun ia menolak menjadi bagian ia tak akan pernah bisa berpaling dari zamannya. Seni untuk zamannya, di dalam zamannya.

Maka Cikini yang dulu terutama dikenal dengan kawasan Taman Ismail Marzuki dengan aura bohemiannya, kini mulai ditinggalkan. Jejak mereka dihapus dengan alih fungsi tempat dan ruang. Pojokan tempat para seniman menempa diri atau sebagian lain memang hanya pemalas yang menghindari hidup—kini tergusur dari tempatnya.

Sementara para penontonnya, yang datang untuk menonton pagelaran hidup gaya lama, segera kecewa; tak ada lagi hal nyentrik yang dulu mereka anggap menggairahkan. Ya, hal itu terdengar sama anehnya bahwa orang-orang sebenarnya prihatin atas dirinya sendiri lantaran mereka datang sebagai pribadi resah yang butuh melihat dunia lain sambil secara ironis kerap menganggap para seniman lama itu adalah tontonan nyentrik kalau bukan aneh—orang-orang dari zaman purba! Sementara eksistensi dan nasib para seniman sendiri siapa peduli?

Taman Ismail Marzuki berganti rupa, ia sekarang seakan menjadi tempat di mana orang-orang datang untuk membeli dahaga intelektualitas; supaya terkesan paham seni, sesuatu yang sepantasnya dimiliki kelas menengah berkelas? Sekarang Cikini seperti tidak lebih dari itu. Pagelaran dihelat bukan lagi sebagai gelanggang dan siasat kebudayaan, melainkan tontotan yang dipersembahkan sebagai hiburan kaum berduit.

*

Sehari-hari, bertambah hari, TIM mulai pudar aura artistiknya. Orang-orang datang hanya saat ada tontonan atau pementasan teater atau pameran seni rupa—jika tidak ada, mereka datang untuk menonton bioskop, makan, lalu pulang.

Anda tahu bagaimana mereka datang meanonton? Turun dari mobil-mobil mewah dengan pakain mahal, duduk menonton, dan yang terpenting berfoto dengan semua penanda seni yang ada lalu pulang dan mencari waktu luang mengunggah di sosial media. Eksistensi TIM dan semua sisa aktifitas kreatifnya telah dipindahkan ke dalam individualitas berupa akun sosial media masing-masing pengunjungnya, dan kerap hal itu memang semu dan maya belaka.

Pada hari lain ketika tidak ada agenda pertunjukan, TIM adalah bangunan tua yang tampak membeku. Tak ada yang datang berkunjung baik penonton mau pun seniman dan artisnya.

Keramaian telah bergeser ke jalanan Cikini Raya, persis di sebelah gerbang TIM, di mana kafe-kafe berjajar dan orang-orang duduk untuk begitu banyak kepentingan; bisnis, politik, dan seni? Saya benar-benar tidak berani menakar eksistensinya.

Saya sendiri kerap duduk di antara kafe-kafenya, karena suka es kopinya, kenangannya; tapi jelas saya tak mungkin melakukannya setiap hari karena membutuhkan uang tidak sedikit untuk berada di antara tempat-tempat ini saban hari. Saya sadar untuk bisa duduk di sini setiap hari mustahil hanya dengan mengandalkan kerja menulis artikel, esai atau sajak-sajak—Itu jauh dari cukup.

Kadang saya membayangkan, mungkin satu waktu, Cikini indah bukan lagi karena ia merupakan gelangang dan siasat bagi kebudayaan kita, melainkan karena segelas es kopinya seharga hampir 35 ribu beserta pajak restonya. Segelas es kopi yang hanya berumur 15 menit untuk meleleh sebelum habis direguk dan kita akan merasa tidak lagi punya hak duduk kecuali memesan segelas lagi…

Oh Cikini… Bagi sebagian orang kau memendam kenangan, mereka berjuang untuk datang berziarah, mengunjungi nisan kebudayaanmu sambil menabur bunga-bunga masa silam. Sampai nanti tiba tak seorang pun meangingat riwayatmu. Tergantikan oleh cerita baru, generasi yang baru, sajian yang baru… dalam segelas es kopi di Cikini…(*)

*Sabiq Carebesth, Penyuka Es Kopi, penulis buku “Seperti Para Penyair” (2017)

Continue Reading

Milenia

Keindonesiaan di Semangkuk Mi Instan

mm

Published

on

Warung-warung bertabur mi instan dengan olahan konvensional atau futuristik, mengukuhkan keniscayaan hidup masih lempeng sejahtera di atas sepiring mi instan. Goreng, berkuah, atau nyemek adalah pilihan menyatukan warga Indonesia sebagai pengudap mi instan di setiap peristiwa selalu berbau keakraban, kehangatan, semangat, atau penebus lelah. Namun, mi instan juga bisa berarti kejelataan atau kemiskinan. Sebentuk narasi dari hidup yang irit dari kebisaan menyantap sajian kemapanan.

Media Indonesia (26 November 2017) menampilkan salah satu kafe yang diberi nama Warunk Upnormal di Mangga Besar, Jakarta Barat, sebagai penyuguh 35 olahan menu mi instan lewat proses riset sebelumnya. Di sini, mi instan sanggup bersanding dengan roti, pisang bakar, jus, es krim, atau kopi. Olahan mi instan juga mengajak aneka menu lokal seperti tongkol balado, sambal matah, seblak, dan jengkol sebagai kolaborator utama. Kolaborasi menghasilkan cita rasa lokal nan nasionalis dan sanggup berkompetisi secara global. Wah!

Seturut dengan penamaan yang memilih “warunk” daripada “warung” tentu menyampaikan pesan kemudaan dan kegaulan. Mi tidak lagi cukup disajikan di warung tenda, kantin gubug, hik, atau warung sayur. Meski namanya “warunk” dengan pelafalan tetap “warung”, visualitas harus berwujud kafe atau restoran alternatif kekinian dengan sentuhan jiwa muda, mulai dari pilihan perangkat duduk, alat makan, interior bangunan, warna, atau penataan. Ruang dan benda meningkatkan strata sosial mi instan dari makanan di kala kepepet atau makanan “sumbangan” menjadi sajian berkelas bagi segala kelas sosial pengudap makanan. Ibarat pemakan mi instan biasanya anak kuliahan atau kos yang kehabisan uang saku dan beras, kini pengudap mi beralih ke anak gaul yang sengaja mau menyantap dengan mengabaikan petuah agung gizi dan kesehatan.

Kalau kita mendapati iklan-iklan di televisi atau media cetak, mi instan nyaris selalu berhasil membawa pesan keindonesiaan atau kenusantaraan. Mi instan mengadopsi nilai lokal kekayaan rasa makanan. Apa pun agama dan suku, makannya tetap mi instan! Narasi keindonesiaan dibangun senada dengan lagu promosi yang memukau, tidak militeristik, dan lembut. Selain berwawasan nusantara, iklan lain tampil menyampaikan gairah optimisme menjalani hidup atau kenikmatan berjeda dari bingar kesibukan. Ingat saja iklan mi instan bertokoh Nicholas Saputra yang menyantap semangkuk mi instan kuah di suatu tempat berhawa dingin sembari mata menerawang ke (mungkin) tanah air Indonesia. Gerrr!

Melawan

Di novel Laut Bercerita (2017) garapan Leila S. Chudori, mi instan dijuluki makanan penuh dosa dan para pengudapnya mahasiswa-mahasiswa aktivis 1998. Mi instan tidak hanya ada sebagai penandas rasa lapar atau kere. Mi instanlah yang mengantarkan para kaum muda anti Orde Baru berani mengudap kematian. Hari-hari bergairah oleh diskusi politik, aksi-aksi pendampingan masyarakat, kebersamaan-persahabatan, gelora asmara, harapan kebebasan bagi Indonesia, dan bahkan teror tangan-tangan penguasa, menyajikan mi instan selalu sebagai penghangat dan pengakrab.

Kita cerap potongan cerita yang membuat hidung pembaca mekar dari jarak beberapa meter sekalipun. Tokoh Laut memang memilih abai pada bumbu kemasan demi mencipta rasa yang mahasadis, “ Tentu saja menolak makanan penuh dosa ini. Mas Laut mengeluarkan ulekan ibu dari lemari bawah, menggerus dua buah cabe besar, satu cabe keriting, lima cabe rawit, dua suing bawang putih, dan tiga suing bawang merah, sedikit terasi bakar, garam, dan dua tetas minyak jelantah. Dengan semangat dia menguleknya di bawah tatapan Alex dan aku yang penuh liur karena sambal itu adalah kunci segalanya. Mi instan sudah masak. Kami segera saja menikmati kuah mi kuah dengan kaldu ayam buatan Mas Laut yang kemudian dicampur kornet dan dikupyur dengan bawang goreng dan sambal rawit…oh segera saja membakar lidah.”

Kaum muda pelengser Orde Baru yang akhirnya dihilangkan nyawa dan jasad tentu tidak sempat menyaksikan bahwa sekitar 9 tahun kemudian, mi instan kecintaan mereka merayakan hari jadi ke-45. Kompas (23 Oktober 2017) menampilkan wawancara dengan direktur salah satu mi instan beken di Indonesia yang pertama lahir di Ancol pada 1972 dengan rasa kaldu ayam.

Telah 45 tahun sang mi instan menyelami cita rasa makanan nusantara, menemani segala lapisan manusia berperistiwa. Perusahaan terus berinovasi meluncurkan produk baru nan nasionalis dan berhasil mewabahkan doyan mi ke luar negeri. Memang kedigdayaan mi instan berhasil mengadopsi keragaman makanan Indonesia dalam satu rupa. Hanya dengan membeli mi instan dan mengolahnya secara sederhana atau tanpa perlu daging asli, kita sanggup mengudap kari ayam, rendang, soto, bakso, sate, pecel, lombok ijo, gulai, atau tengkleng. Lidah mengelana dari daerah ke daerah di nusantara.

Dari sepiring mi instan, kita diperkenankan menyeruput Indonesia yang hangat, akrab, dan kekeluargaan. Sulur-sulur mi instan berbumbu mantap menalikan rasa persatuan dan cinta tanah air lintas geografi, suku, dan bangsa tanpa perlu mengangkat senjata, baris-berbaris, atau segala bentuk invasi bergaya militeristik. Sungguh, mi instan telah berhasil membawa pesan keindonesiaan dan keragaman, perannya bisa menyaingi para aktivis kekinian pembawa pesan perdamaian para tokoh kebangsaan atau lembaga-lembaga kajian yang menggaungkan pesan multikulturalisme. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Milenia

Melestarikan Cagar Budaya, Melestarikan Kemanusiaan

mm

Published

on

Suatu hari, Mandra tampak duduk di sebuah beranda rumah milik keluarga Sabeni. Raut wajahnya murung; kepalanya ditekuk ke bawah; sesekali matanya menerawang kosong. Rupanya, Mandra sedang memikirkan uang hasil narik oplet yang pada hari itu nilainya jauh dari target storan. Ya,  setiap harinya Mandra selalu memberikan uang hasil narik oplet kepada Mpok Lela yang merupakan kakak kandungnya dan juga istri dari almarhum Babe Sabeni.

Mandra pun berpikir bagaimana caranya agar uang hasil narik oplet bisa memenuhi target storan. Akhirnya, terbesit di pikirannya untuk menjual sebuah radio butut miliknya yang merupakan kenang-kenangan dari mantan kekasihnya yang bernama Munaroh. Baru saja Mandra hendak melangkah untuk menjual radio itu, Mas Karyo—yang  saat itu duduk di dekatnya—bersicepat  menghalangi langkahnya.

“Eh. eh mau kemana?” ujar Mas Karyo.

“Gue mau jual aja tuh radio gue. Gue gak enak ame  Mpok Lela kalau sampai storan oplet kurang,” jawab Mandra.

“Lho lho lho, mbok yo apa-apa itu dipikirkan dulu, toh. Radio itu, kan, satu-satunya kenang-kenangan dari  kekasihmu dulu, si Munaroh. Mosok iya mau kamu jual gitu aja. Apa kamu tega ngebuang satu-satunya kenangan dari si Munaroh dulu?” timpal Mas Karyo.

Mandra yang dulu sangat menyayangi Munaroh itu,  tampak tersentak dengan peringatan dari Mas Karyo. Sejenak ia terdiam; menekurkan kepalanya.

“Iye juga, ya…” jawab Mandra datar.

“Nah, kan, apa aku bilang, makannya jangan buru-buru. Segala sesuatu itu harus dipikirkan dulu matang-matang,” tambah Mas Karyo.

***

Agaknya kita sudah bisa menebak, cuplikan adegan di atas diambil dari sebuah sinetron yang melegenda di Indonesia, yang tayang menghiasi layar kaca pada medio 1990an bernama Si Doel Anak Sekolahan. Adegan itu saya tuliskan karena menyiratkan sebuah pesan yang berkaitan dengan hal yang akan saya bahas: mengenai betapa pentingnya kita untuk menghargai dan melestarikan cagar budaya—baik itu benda maupun bangunan warisan sejarah.

Hal ini menjadi penting, terlebih di tengah suasana maraknya isu pembangunan infrastruktur yang mengakibatkan penggusuran di berbagai tempat di Indonesia seperti saat ini.  Karena, dalam penggusuran, yang menjadi korban bukan saja para warga yang huniannya hancur diterjang ekskavator, melainkan juga berbagai bangunan bersejarah yang ada di kawasan penggusuran itu pun turut menjadi korban.

Kita bisa mengambil contoh nyata dari kasus yang terjadi baru-baru ini terjadi di Kota Depok. Di sana, sebuah bangunan bersejarah bernama Rumah Cimanggis terancam tergusur akibat pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia. Parahnya lagi, salah seorang panitia dari proyek pembangunan itu mengaku bahwa aparat pemerintah setempat tidak memberikan informasi terkait nilai historis rumah tersebut.

Padahal dahulu, bangunan tersebut merupakan rumah singgah salah satu Gubernur VOC bernama Petrus Albertus van Der Parra. Hingga saat ini pun, Rumah Cimanggis sebenarnya masih menjadi tujuan study tour pelajar dan masyarakat umum  yang ingin mengetahui sejarahnya.

Selain kasus Rumah Cimanggis, pada 2016 pun situs bersejarah ada yang  telah  menjadi korban penggusuran. Adalah sebuah benteng bernama Bastion Zeeburg yang rusak pada saat Pemprov DKI Jakarta melakukan penggusuran di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Tembok Bastion Zeeburg tersebut padahal merupakan sejarah  awal benteng Kota Batavia. Akibat terjangan buldoser, situs bersejarah tersebut harus mengalami kerusakan.

Penghancuran atau pengrusakan situs bersejarah, jelas merupakan tindakan melawan hukum. Karena kelestariannya dilindungi oleh Undang-undang. Seperti oleh UU No. 11 tahun 2010 mengenai Cagar Budaya,

Tapi, terlepas dari hal itu, memang apa perlunya kita melestarikan benda atau bangunan bersejarah?

Kita bisa belajar dari kisah Mandra yang saya paparkan di awal tulisan, ketika ia mengurungkan niatnya untuk  menjual radio pemberian dari mantan kekasihnya.  Radio tersebut adalah satu-satunya benda yang dapat dijadikan Mandra untuk mengawetkan kenangan kisah cintanya dulu bersama Munaroh.

Bagi Mandra yang dahulu melakoni dan merasakan langsung setiap denyut momen bersama Munaroh ditemani radio itu, tentunya kehadiran radio tersebut menjadi sangat penting baginya. Radio tersebut menjadi benda yang memiliki nilai historis  bagi Mandra. Menjual radio itu, sama saja dengan menjual dan menghilangkan segenap kenangannya bersama Munaroh.

Jadi, melestarikan bangunan bersejarah itu sesederhana kita menyimpan dan merawat baik-baik barang kenang-kenangan dari orang terkasih, atau dari mereka yang pernah hadir di hidup kita dengan membawa kesan yang sangat mendalam.

Ditambah lagi, seperti kata Andrew Jones dalam bukunya  Memory and Material Culture (2007), “Human memory is fragile and finite.” Ingatan manusia itu mudah hancur dan terbatas. Kendati manusia bisa melakukan proses mengingat, akan tetapi proses mengingat itu kerap kali tidak sempurna dalam memutar ulang setiap kejadian atau kisah di masa lalunya.

Oleh karena itu, manusia selalu butuh suatu alat  yang dapat membantu mereka agar dapat mengingat dengan lebih baik. Benda  dan  bangunan bersejarah adalah salah dua dari alat itu.

Bangunan bersejarah sangat berperan dalam menjaga memori kolektif sebuah masyarakat.  Bahkan bisa dibilang bangunan bersejarah merupakan sebentuk monumen ingatan untuk banyak orang.  Menghancurkannya, sama saja dengan merampas dan merenggut kenangan dan ingatan banyak orang. Ketika ingatan dari banyak orang sudah terenggut, maka kita akan sangat mungkin menjadi pribadi yang tak pernah bisa belajar dari masa lalu sebagai salah satu usaha kita  dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Selain berperan dalam menjaga ingatan bersama, bangunan memiliki nilai sejarah pun bisa berperan lebih jauh dari itu; salah satunya dapat menjadi media yang membantu seseorang menemukan kembali sisi kemanusiaannya.

Sebagaimana di awal saya membuka tulisan ini dengan penggalan kisah, saya pun akan menutup tulisan ini dengan fragmen kisah dari cerita yang lain; yakni dari fragmen yang termaktub dalam novel The Plague karya Albert Camus. Penggalan kisah ini, akan menunjukkan bagaimana sebuah bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi seseorang, mampu membangkitkan kembali nurani kemanusiaan orang tersebut.

Tersebutlah seorang pria bernama Gonzales yang tinggal di kota Oran. Awalnya Gonzales berkarir sebagai pesepakbola. Namun semua berubah ketika wabah sampar menerjang kota tersebut. Akibat dari serangan wabah itu, banyak warga Oran yang harus meregang nyawa.

Gonzales pun mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai pesepakbola. Ia kali ini menjadi seorang pedagang gelap yang sibuk memperkaya diri sedangkan orang-orang di sekitarnya banyak yang menderita akibat wabah.

Kala wabah semakin sulit terbendung, dikisahkan pemerintah setempat memutuskan untuk mengisolasi para penderita sampar di sebuah stadion sepak bola di Kota Oran. Ketika tahu bahwa para penderita sampar diungsikan ke stadion—tempat yang sangat memiliki nilai historis bagi Gonzales semasa dirinya menjadi pesepakbola—ia pun mulai tergerak untuk membantu mereka. Ia lalu memutuskan untuk turut menjadi sukarelawan di tempat pengungsian itu.

Ketika ia tiba di stadion, memulai tugasnya sebagai sukarelawan, ia kembali teringat dengan masa-masanya sebagai pesepakbola dulu. Ia menengadahkan kepalanya ke atas sambil mengenang bahwa pada jam-jam itu biasanya ia sedang berganti pakaian di ruang ganti; mendengarkan riuh rendah nyanyian suporter; menghirup aroma jeruk yang dibagikan ketika jeda pertandingan.

Dari pasase itu, kita bisa melihat bagaimana stadion—bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi Gonzales—dapat membantu dirinya menemukan kembali sisi kemanusiaannya. Gonzales yang awalnya hanya ongkang-ongkang kaki menikmati kekayaannya dari hasil berdagang gelap, akhirnya mampu meninggalkan profesi itu dan memulai tugas barunya sebagai sukarelawan ketika tahu bahwa para korban penderita sampar diungsikan ke stadion. Di titik itulah Gonzales menemukan kembali sisi humanisnya.

Apa yang dialami oleh Gonzales, sangat mungkin dapat terjadi di kehidupan nyata. Namun, bagaimana hal itu bisa terjadi kalau benda-benda dan bangunan bersejarah itu sudah terlebih dulu dihancurkan atau digusur. (*)

 

*) Rio Rizky Pangestu: Aktif menulis esai mengenai sosial, budaya, dan sepak bola di beberapa media daring, peminat sejarah. Saat ini tinggal di Bandung. Twitter: @riorpangestu

Continue Reading

Milenia

Tradisi Puisi “Imagism”: Mencari yang Konkrit, Menyepuh yang Abstrak

mm

Published

on

Kelompok penyair Imagism  (gambar, visual—bukan dalam makna “imajinasi”/ “Imagination“) berbeda dengan kelompok penyair romantik. Yang terakhir disebut adalah lebih pendahulu. Kelompok penyair pertama, ‘terkesan’ menjadi konservatif dan tradisional pada awal abad 20—persisnya ketika semua seni dipolitisasi dan dipancarkan oleh revolusi—dengan slogan dan abstraksi-abstraksi. Kelompok penyair imagism (imajis)  ini kembali pada tradisi Yunani klasik, tradisi Roma, dan Prancis abad 15 untuk menyusun semacam “manifesto” yang mengungkapkan prinsip-prinsip kerja puitis mereka.

F.S. Flint adalah penulis esai utama gagasan puisi imagism (imaji) ini, meski kemudian Ezra Pound mengklaim bahwa dia, Hilda Doolittle dan suaminya, Richard Aldington, telah lebih dulu menuliskan gagasan tentang aliran puisi imagism ini.

Pada kesimpulan umumnya ada tiga standar yang dengannya puisi (imajis) harus diadili yaitu: (1) Perlakuan langsung terhadap “sesuatu”, apakah subjektif atau objektif, (2) Sama sekali tidak menggunakan kata yang tidak berkontribusi pada presentasi (citra), (3) Seperti tentang ritme: untuk menyusun urutan frase musik, tidak berurutan dari metronom.

Agaknya tiga rumusan tersebut terlalu “mengawang” khususnya bagi mereka yang kurang akrab dengan peristilahan dalam teknis dan teori penulisan puisi. Pembaca membutuhkan konsep lebih deskriptif terkait aturan dan model kerja puisi imajis ini. Aturan main yang dibutuhkan dalam detail puisi seperti pemilihan kata, aturan bahasa, matra dan rima. Ezra Pound sepertinya menyadari hal tersebut dan dia menyusun presentasi lebih detail untuk menjelaskan prinsip-prinsip puisi ala para penyair imagist seperti dirinya dan F.S. Flint.

Beberapa artikel tentang aliran imagism ini—jika tidak salah dan karena gegabah menyimpulkan, penulis ingin menyebut inti dari konsentrasi puisi imajis ini adalah: citra.

Catatan F.S. Flint dalam “A Few Don’ts by an Imagiste,”–“Sedikit Larangan oleh Imagiste,” yang hasil akhirnya juga ditandatangani oleh Ezra Pound sendiri, memulai dengan sebuah definisi berikut:

“Citra ‘adalah sesuatu yang menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam sekejap waktu—secara konstan.”

Inilah tujuan utama  para penyair imajis—untuk membuat puisi yang memusatkan perhatian semua penyair pada komunikasi citra. Untuk menyaring pernyataan puitis menjadi gambar daripada menggunakan perangkat puitis seperti matra bahasa dan sajak-keprosaan untuk mengesankan sulit dalam menghias narasi. Seperti dikatakan Pound, “Lebih baik menyajikan satu gambar dalam seumur hidup daripada menghasilkan berjilid-jilid karya (antologi)”.

Untuk sampai pada konsentrasi “citra” di dalam menghasilkan puisi imajis, saran Ezra Pound berikut akan terdengar akrab bagi mereka yang telah membaca kaidah menulis puisi atau menekuni dunia puisi:

  • Potong puisi sampai ke tulang dan hilangkan setiap kata yang tidak perlu – “jangan gunakan kata yang tidak berguna dalam keutuhan puisi, jangan gunakan kata sifat, yang itu tidak mengungkapkan sesuatu pun… Gunakan ornamen atau hiasan yang bagus. “
  • Jadikan semuanya konkret dan khusus – “takutlah pada terjerumus dalam abstraksi”
  • Jangan mencoba membuat puisi dengan menghias prosa atau memotongnya menjadi garis puitis – “Jangan menceritakan kembali dalam puisi yang biasa-biasa saja apa yang telah dilakukan dengan sajak-prosa yang baik. Jangan berpikir ada orang yang cerdas yang akan tertipu saat Anda mencoba mengelak dari semua kesulitan seni prosa dengan cara memotong komposisi.”
  • Pelajarilah alat musik puisi untuk menggunakannya dengan keterampilan dan kehalusan, tanpa mengubah suara alam, gambar dan makna bahasa – “Biarkan orang tua mengetahui penyatuan dan ungkapan, sajak langsung dan tertunda, sederhana dan polifonik, seperti yang diharapkan musisi. tahu keharmonisan dan tandingan dan semua hal kecil dari keahliannya … struktur ritmis Anda seharusnya tidak menghancurkan bentuk kata-kata atau suara alami atau maknanya. “

“Manifesto” gerakan imagism  dan Antologinya

Antologi pertama penyair imagism, “Des Imagistes,” diedit oleh Ezra Pound dan diterbitkan pada tahun 1914, menampilkan puisi oleh Pound, Doolittle dan Aldington, serta Flint, Skipwith Cannell, Amy Lowell, William Carlos Williams, James Joyce, Ford Madox Ford, Allen ke atas dan John Cournos. Merekalah para aktor utama aliran puisi imagism ini.

Pada saat buku “Des Imagistes” terbit, Lowell (Amy Lowell)telah melangkah ke dalam peran “promotor” gagasan imagism—dan Pound, khawatir bahwa antusiasmenya akan memperluas gerakan di luar pernyataannya yang ketat, sehingga dikhawatirkan aliran imagism beralih dari apa yang sekarang dijuluki “Amygism” atau “Vortisisme.” Meski demikian Lowell kemudian menjabat sebagai editor serangkaian antologi, “Beberapa Penyair Imagist,” pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Dalam kata pengantar antologi yang pertama, Amy Lowell menawarkan garis besar prinsip-prinsip (puisi) imagism-nya:

  • “Untuk menggunakan bahasa ucapan umum tapi selalu menggunakan kata yang tepat, bukan kata yang hampir pasti, dan bukan dekoratif saja.”
  • “Untuk menciptakan ritme baru – sebagai ungkapan suasana hati yang baru – dan tidak menyalin ritme lama, yang hanya menggemakan suasana hati lama. Kami tidak menekankan ‘puisi bebas’ sebagai satu-satunya metode penulisan puisi. Kami memperjuangkannya seperti sebuah prinsip kebebasan. Kami percaya bahwa individualitas seorang penyair mungkin lebih baik diekspresikan dalam puisi bebas daripada bentuk konvensional. Dalam puisi, irama baru berarti sebuah gagasan baru.”
  • “… bukan hal buruk di dalam seni untuk menulis dengan baik tentang masa lalu. Kami percaya dengan penuh semangat nilai artistik kehidupan modern, tapi kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang begitu membosankan dan juga tidak kuno untuk misalnya menulis tentang pesawat terbang tahun 1911. “
  • “Untuk menyajikan sebuah gambar (maka namanya: ‘imagist’). Kami bukan sekolah pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberi keterangan secara tepat dan tidak sesuai dengan generalitas yang kabur, betapapun luar biasa dan nyaring. Kami menentang penyair kosmik, yang tampak bagi kita seperti tengah menghindari kesulitan nyata dari seni. “
  • “Untuk menghasilkan puisi yang keras dan jernih, tidak kabur atau menjadi tidak pasti.”
  • “Akhirnya, kebanyakan dari kita percaya bahwa konsentrasi adalah inti dari puisi.”

Dalam sejarahnya volume ketiga adalah publikasi terakhir dari para penyair imagism—namun pengaruh dari gerakan para penyair imajis ini dapat ditelusuri dalam banyak jenis puisi sesudahnya pada abad ke-20, dari puisi bebas hingga ritmis (sajak)sampai penyair bahasa (keprosaan).

Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis—lihat terutama pada puisi “Hujan Bulan Juni”. (*)

*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth, dari berbagai sumber bacaan dan artikel. Makalah ini hanya bersifat catatan ringan dan pengantar saja. Demi mengisi ‘kekosongan’ waktu menjelang libur tahun baru 2017.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending