© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #7

Ia tidak ingat lagi kapan ia mulai suka berbicara keras kalau sendirian. Waktu muda dulu ia suka menyanyi kalau sedang sendiri dan kadang ia juga menyanyi kalau malam-malam sendirian berjaga dalam perahu kuran-kuran. Barangkali ia suka berbicara keras sendirian semenjak ditinggalkan anak itu. Tetapi ia sudah tidak ingat lagi. Biasanya mereka berdua bercakap hanya kalau perlu saja selama masih di laut. Mereka biasanya bercakap waktu malam atau kalau diancam topan. Membungkam diri di laut adalah kebajikan dan lelaki tua itu selalu beranggapan begitu dan menghormati hal itu. Tetapi kini ia suka menyatakan pikirannya dengan suara keras berulang kali sebab tidak ada orang lain yang akan terganggu.

“Kalau orang lain mendengarku berbicara keras mereka pasti menganggapku sudah gila,” katanya dengan keras. “Tetapi aku tak peduli sebab aku tidak gila. Dan mereka yang kaya punya radio di perahu yang bisa bercakap pada mereka dan bercerita tentang baseball.”

Kini bukan saatnya buat bicara tentang baseball, pikirnya. Kini adalah saat untuk hanya memikirkan satu hal. Hidupku ini. Mungkin ada seekor yang besar di antara kelompok itu, pikirnya. Aku hanya menangkap seekor yang tersesat diantara ikan-ikan albacore yang sedang cari makan. Tetapi ikan itu berada di kejauhan sana dan bergerak sangat cepat. Hari ini segala yang nampak di permukaan bergerak cepat sekali ke arah barat-laut. Apakah memang sudah waktunya? Ataukah merupakan suatu pertanda cuaca yang tak kukenal?

Kini tak bisa dilihatnya lagi hijau daratan, tinggal puncak-puncak perbukitan biru yang nampak keputih-putihan seolah-olah tertutup salju dan awan yang kelihatan seperti gunung-gunung salju yang menjulang. Laut nampak gelap sekali dan cahaya menjelmakan prisma-prisma di air. Warna-warni cercah-cercah kotoran laut itu tak ada lagi karena matahari sudah tinggi dan lelaki tua itu tinggal menyaksikan prisma-prisma yang luas dan dalam di air biru dan tali-tali kailnya menyusup jauh ke dalam air yang satu mil dalamnya.

Ikan-ikan tuna itu tak nampak lagi. Para nelayan biasa menyebut tuna untuk segala macam ikan jenis itu dan baru membeda-bedakan namanya kalau akan menjual atau memperdagangkannya sebagai umpan. Kini matahari sudah terik dan menyengat tengkuk lelaki tua itu, terasa butir-butir keringat meluncur di punggungnya sementara ia mendayung.

Aku bisa menghanyut saja dan tidur dan mengikatkan tali di jari kaki supaya bisa terbangun, pikirnya. Tetapi hari ini genap delapan puluh lima hari dan aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Tepat pada waktu ia memperhatikan tali-talinya dengan cermat, nampak salah sebuah tongkat hijau itu masuk ke dalam air.

“Ya,” katanya. “Ya,” dan diletakkannya dayung dalam perahu tanpa bersuara. Diraihnya tali pancing itu dan dipegangnya dengan lembut di antara telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Tak ada terasa tarikan dan ia pegang saja tali itu dengan lembut. Kemudian terasa ada yang menariknya. Kali ini tarikan itu tidak tetas, dan lelaki tua itu tahu persis apa maknanya. Seratus depa jauh di bawah sana seekor ikan cucut sedang mencucuki sardin yang membungkus ujung dan tangkai kail yang mencuat dari kepala ikan tuna kecil itu.

Lelaki tua itu memegang talinya dengan sangat lembut, dan dengan tangan kiri dilepaskannya kolongan yang melilit tongkat hijau itu. Kini tali itu bebas meluncur di antara jemarinya tanpa menimbulkan kecurigaan si ikan.

Ikan yang jauh di sana itu, pasti sangat gendut di bulan ini, pikiranya. Makan saja umpan-umpan itu, ikan. Makan saja. Ayohlah makan saja. Betapa segarnya umpan-umpan itu dan kau berada di air dingin enam ratus kaki dalamnya dalam gelap. Sekali lagi berbeloklah dalam kegelapan itu dan kembalilah untuk menyantap umpan-umpan.

Terasa sebuah tarikan lembut yang disusul dengan tarikan yang lebih tegas ketika mestinya kepala sardin itu agak sulit dilepaskan dari kail. Kemudian tak terasa apa-apa lagi.

“Ayolah,” teriak lelaki tua itu. “Berbeloklah lagi. Cium saja baunya. Membangkitkan selera, bukan? Makan saja umpan-umpan itu, dan sehabisnya masih juga ada seekor tuna. Keras dan dingin dan memikat. Jangan malu-malu, ikan. Makan saja.”

Iapun menunggu sambil memegang tali pancing itu dengan telunjuk dan ibu jari sambil juga mengawasi tali-tali pancingnya yang lain barangkali ikan itu bergerak ke atas barangkali ke bawah. Kemudian terasa kembali tarikan yang lembut itu.

“Ia akan melahapnya,” kata lelaki tua itu keras-keras. “Tuhan menolongnya agar ia melahapnya.”

Tetapi ikan itu tidak memakannya. Ia telah pergi dan lelaki tua itu tidak merasakan apapun.

“Tak mungkin ia pergi,” katanya. “Yesus tahu ia tidak pergi. Ia sedang membelok. Barangkali ia pernah kena kail dan ingat akan hal itu.”

Kemudian terasa sentuhan lembut pada talinya itu dan ia merasa gembira.

“Ia tadi hanya membelok untuk kembali,” katanya. “Ia akan memakannya.”

Ia merasa gembira merasakan sentuhan lembut itu dan kemudian dirasakannya sesuatu yang keras dan teramat berat. Itula bobot si ikan dan dibiarkannya saja talinya terulur ke bawah, terus, terus, sampai habis gulungan cadangan yang pertama. Ia masih bisa merasakan bobot ikan itu meskipun jemarinya hampir tak menekan tali yang meluncur di sela-selanya dengan lembut.

“Betapa besar ikan itu,” katanya. “kail itu di sebelah sisi mulutnya dan ia menariknya pergi.”

Kemudian ia akan membalik dan menelannya, pikirnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata itu sebab tahu bahwa kalau hal baik itu dikatakan mungkin malah tidak terjadi. Ia tahu betapa besar ikan itu dan dibayangkannya sedang bergerak dalam gelap dengan ikan tuna menyilang di mulutnya. Pada saat itu dirasakannya si ikan berhenti bergerak tetapi bobotnya masih terasa. Kemudian terasa semakin berat dan diulurnya tali lebih panjang lagi. Sejenak ditekankannya jemari lebih keras pada tali itu dan terasa beratnya bertambah dan terus bergerak ke bawah.

“Telah kena sekarang,” katanya. “Biar saja ia menelannya dulu.”

Dibiarkannya tali itu meluncur terus di antara jemari sementara tangan kirinya meraih ujung dua gulungan tali cadangan dan mengikatkannya pada ujung dua gulungan tali cadangan yang lain. Sekarang ia siap. Ada cadangan tiga gulungan tali masing-masing empat puluh depa panjangnya, di samping tali yang sedang terulur.

“Telan lebih lama lagi,” katanya. “Telan semuanya.”

Telanlah bulat-bulat sehingga ujung kail itu menusuk jantungmu dan membunuhmu, pikirnya. Naiklah ke permukaan tanpa rewel biar kutusukkan kait ini ke tubuhmu. Nah, kau siap? Sudah cukup puaskah kau bersantap?

“Sekarang!” katanya keras-keras sambil menyendal tali itu dengan kedua belah tangan, berhasil ditariknya sampai satu yar dan kemudian disendalnya lagi berulang kali, dua belah tanganya diayunkan bergantian, dengan seluruh tenaga.

Tak terjadi apapun. Si ikan dengan tenang bergerak pergi dan lelaki tua itu tak berhasil menariknya ke atas seincipun. Talinya kekar dan sengaja dipintal untuk memancing ikan besar-besar dan lelaki itu melilitkannya di punggung begitu erat sehingga bepercikan butir-butir keringatnya. Kemudian mulai terdengar suara lembut recik air yang tersibak tali dan lelaki itu tetap menahannya, disangkutkannya dirinya pada bangku perahu dan tubuhnya doyong menahan tarikan itu. Perahu itu mulai bergerak pelahan-lahan menuju barat-laut.

Bersambung…

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT