© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #5

Dalam gelap itu si lelaki tua merasakan pagi yang tiba dan sambil mendayung didengarnya suara bergetar ikan terbang yang melesat dari air dan desis sayap-sayapnya yang kaku ketika ikan-ikan itu melayang menembus kegelapan. Ia senang pada ikan terbang sebab ikan-ikan itu sahabat-sahabat karibnya di samudra. Ia suka kasihan kepada burung-burung, terutama sekali burung laut yang berbulu hitam dan nampak lembut yang senantiasa terbang dan mencari-cari dan hampir tak pernah mendapat apapun, dan ia berpikir, “Burung-burung itu hidupnya lebih berat dari hidup kita kecuali burung rampok dan burung-burung yang besar dan kuat. Kenapa burung-burung diciptakan begitu lembut dan indah seperti misalnya burung layang-layang laut sedangkan samudra kadang teramat kejam? Laut memang baik hati dan indah. Tetapi ia bisa sangat kejam dan itu tiba-tiba saja datangnya sedangkan burung-burung yang terbang, menukik ke air dan berburu, dengan suara lirih dan sedih adalah terlalu lembut untuk laut.”

Ia selalu menganggap laut sebagai el mar yakni nama yang diberikan orang-orang dalam bahasa Spanyol kalau mereka mencintainya. Kadang-kadang mereka yang mencitainya suka mencaci-makinya tetapi semua itu diucapkan seperti kepada seorang perempuan. Beberapa nelayan yang lebih muda, yang menggunakan pelampung pada tali pancingnya dan yang memiliki perahu motor – yang dibeli dengan uang hasil penjualan hati ikan hiu – menyebut laut sebagai el mar yakni berjenis laki-laki. Mereka itu menganggap laut sebagai saingan atau medan atau bahkan sebagai musuh. Tetapi lelaki tua itu selalu menganggapnya sebagai perempuan atau sebagai sesuatu yang memberi atau menyimpan anugerah besar, dan kalaupun laut menjadi buas atau jahat itu karena terpaksa saja. Bulan berpengaruh atas perangainya seperti halnya atas perempuan, pikir lelaki tua itu.

Ia mendayung dengan tenang tanpa banyak mengeluarkan tenaga sebab perahunya melaju dengan kecepatan teratur dan permukaan samudra datar saja, hanya di sana sini atur berpusing. Ia biarkan saja arus membantunya mendayung dan ketika hari mulai terang ia sadar bahwa sudah berada jauh, lebih jauh dari apa yang diharapkannya pada jam begini.

Sudah kujelajahi lubuk-lubuk itu selama seminggu dan hasilnya nihil, pikirnya. Hari ini akan kukitari tempat di mana jenis-jenis bonita dan albacore berkeliaran dan barangkali ada seekor ikan besar bersamanya.

Sebelum hari semasekali terang ia sudah memasang umpan-umpannya dan menghanyut ikut arus. Umpan pertama sedalam empat puluh depa. Yang kedua sedalam tujuh puluh depa sedangkan umpan ketiga seratus depa dan keempat seratus dua puluh lima depa. Setiap umpan tergantung, kepalanya di bawah, dan tangkai pancing tersembunyi di dalamnya, terikat erat-erat, dan segala bagian yang menonjol dari pancing itu – lengkungannya dan matanya – tersembunyi dalam ikan-ikan sardin yang segar. Setiap sardin ditusuk dengan pancing pada kedua matanya sehingga sardin-sardin yang bergantungan di pancing itu bentuknya seperti separoh kalung. Seluruh bagian pancing itu pasti sedap baunya dan enak rasanya bagi ikan besar yang mendekatinya.

Anak laki-laki itu telah memberinya dua ekor ikan tuna kecil yang masih segar, yang juga disebut albacore, dan keduanya tergantung bagai batu duga pada tali yang seratus dan seratus dua puluh lima depa sedangkan pada kedua tali yang lain dipasangnya masing-masing ikan pelari biru dan ikan kelasi kuning yang sebelumnya pernah digunakan; tetapi kedua ikan itu masih baik keadaannya dan kecuali itu sardin-sardin segar membantu memancarkan bau sedap dan daya tarik. Setiap tali, yang kelilingnya setebal pensil besar, dikolongkan pada kayu apung hijau sehingga setiap kali umpan tersentuh atau termakan ikan kayu itu masuk ke air, dan untuk se tiap kali tersedia dua gulung tali cadangan yang masing-masing empat puluh depa panjangnya yang masih juga bisa diikatkan pada  gulungan-gulungan tali cadangan lain sehingga, kalau mampu, seekor ikan bisa melarikan pancing sampai sepanjang lebih dari tiga ratus depa.

Tiga buah kayu apung di samping perahu nampak masuk air dan lelaki itu terus mendayung dengan tenang menjaga agar tali-tali tetap lurus dan mencapai kedalaman yang semestinya. Hari mulai terang dan setiap saat matahari akan muncul.

Matahari bangkit perlahan dari laut dan lelaki tua itu melihat perahu-perahu lain berpencar di seberang arus, jauh di sana dekat pantai. Matahari semakin terang dan cahayanya menyusur permukaan laut dan kemudian, ketika hari makin tinggi, laut yang datang itu memantulkan cahaya itu ke matanya sehingga terasa pedih dan ia terus mendayung tanpa menatap pantulan itu. Ia memandang ke bawah menyaksikan tali-tali pancingnya yang menyusup jauh kedalam kegelapan air. Ia berusaha sungguh agar tali-talinya kencang supaya setiap umpan siap menunggu ditempat yang tepat dalam kegelapan arus di mana si lelaki itu mengharapkan adanya ikan. Orang lain biasanya membiarkan saja tali-talinya terhanyut arus sehingga kadang-kadang tali yang dianggap mencapai seratus depa di bawah permukaan laut sesungguhnya hanya enam puluh depa saja.

Tetapi aku selalu menjaga agar tali-tali itu tepat pada tempatnya, pikirnya. Hanya saja tak ada untung padaku. Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada untung. Tetapi aku lebih suka berusaha untuk tepat. Lalu kalau untung itu datang kita sudah sepenuhnya siap.

Matahari telah dua jam mendaki lebih tinggi dan matanya tidak lagi merasa sangat pedih kalau menatap ke arah timur. Hanya tiga buah perahu yang kelihatan sekarang dan mereka pun berada jauh di bawah sana dekat pantai.

Selamanya matahari pagi menyakitkan mataku, pikirnya. Namun mataku masih tetap tajam. Malam hari aku masih menatap kedepan tanpa merasa buta. Pada malam hari bahkan lebih tajam pandanganku. Tetapi pada pagi hari pedih sekali rasanya.

Tepat pada saat itu nampak seekor burung kapal perang dengan sayap-sayapnya yang hitam berputar-putar dilangit tepat di atas kepala si tua. Ia mendadak menukik, dua belah sayapnya miring, dan kemudian terbang berputar-putar kembali.

“Ia mendapat sesuatu,” teriak lelaki tua itu. “Ia tidak hanya melihatnya.”

Didayungnya perahunya pelan dan teratur ke arah tempat burung itu membuat lingkaran. Ia tidak tergesa dan menjaga agar tali-tali pancingnya tetap lencang. Tetapi ia agak mempercepat perahunya hanyut di arus sehingga ia masih bisa memancing dengan cermat meskipun agak lebih cepat dari kalau seandainya tidak ada burung yang memberinya petunjuk.

Burung itu terbang lebih tinggi lagi untuk kemudian membuat lingkaran di udara, sayap-sayapnya tak bergerak. Mendadak ia menukik dan lelaki tua itu menyaksikan seekor ikan terbang tersembul di permukaan air dan berenang sekuat tenaga.

“Dalfin,” teriak lelaki tua itu. “Ikan dalfin besar.” Ia masukkan dayung kedalam perahu dan mengambil tali kecil dari bawah haluan. Tali itu berujung kawat dan sebuah kail yang berukuran sedang dan ia pasang seekor sardin sebagai umpan. Dicemplungkannya kail itu ke dalam air dan kemudian diikatkannya talinya pada sebuah gelangan di buritan. Setelah itu ia pasang lagi umpan pada tali yang lain yang dibiarkannya tetap tergulung di haluan. Ia mulai lagi mendayung dan menyaksikan burung hitam bersayap panjang yang sekarang sedang sibuk di dekat permukaan air.

Burung itu menyelam lagi sambil memiringkan sayap-sayapnya dan kemudian mengibas-ngibaskannya dengan galak namun sia-sia ketika mengikuti ikan terbang itu. Lelaki tua itu melihat permukaan air menggembung karena ikan-ikan dalfin yang memburu mangsanya yang berusaha lepas. Dalfin-dalfin itu menembus air di bawah mangsanya dan siap untuk menerkam setiap saat ikan-ikan kecil itu turun. Sekelompok dalfin, pikirnya. Mereka menyebar luas dan ikan terbang itu hampir tak mungkin lepas. Burung itu pun sia-sia saja. Ikan-ikan terbang itu terlalu besar baginya dan mereka bergerak teramat cepat.

Disaksikannya ikan-ikan terbang itu berulang kali muncul di permukaan dan si burung yang sia-sia tingkahnya. Kelompok dalfin itu lepas dariku, pikiranya. Mereka bergerak terlalu cepat dan jauh. Tetapi barangkali ada yang tersesat dan ikan besarku ada diantara mereka. Ikan besarku pasti ada entah di mana.

Bersambung..

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT