Connect with us
Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #3 Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #3

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #3

mm

Published

on

Ketika anak laki-laki itu kembali lelaki tua itu tertidur di kursi dan matahari sudah terbenam. Ia mengambil selimut militer yang sudah tua itu dari dipan dan menaruhnya disandaran kursi menutupi pundak lelaki tua itu. Kedua pundak itu nampak aneh, lehernya juga masih kuat dan kerut-merutnya tidak begitu kentara kalau lelaki tua itu tidur dan kepalanya tergantung ke depan. Kemejanya penuh tambalan sehingga nampaknya seperti layar dan tambalan-tambalan itu sudah luntur menjadi bermacam-macam warna kena sinar matahari. Kepala lelaki itu sudah begitu tua dan kalau sepasang matanya terpejam kelihatan wajahnya tidak berjiwa lagi. Koran itu terbuka di atas lutut dan tangannya menindihnya sehingga tidak terjatuh oleh angin sore. Kakinya telanjang.

 

Anak laki-laki itu meninggalkannya lagi dan ketika ia kembali untuk kedua kalinya lelaki tua itu masih juga tidur.

“Bangun pak tua,” seru anak itu sambil menyentuh lutut lelaki tua itu.

Lelaki tua itu membuka mata dan beberapa saat lamanya ia masih dalam perjalanan dari negeri mimpi. Kemudian ia tersenyum.

“Apa yang kaubawa?” tanyanya.

“Makan malam,” kata anak itu. “Kita berdua akan makan malam.”

“Aku tidak begitu lapar.”

“Ayolah makan. Kau tak bsia kerja tanpa  makan.”

“Aku sudah makan,” lelaki tua itu bangkit mengambil koran dan melipatnya. Lalu ia mulai melipat selimut.

“Pakai saja selimut itu,” kata anak itu. “ Selama aku masih hidup takkan kubiarkan kau kerja tanpa makan.”

“Kalau begitu semoga kau panjang umur supaya bisa mengurus dirimu sendiri.” Kata si lelaki tua. “Apa saja yang akan kita makan?”

“Kedelai dan nasi, pisang goreng dan daging rebus.”

Makanan itu telah dibawanya dari Teras dalam sebuah panci yang bersekat. Pisau, garpu dan sendok masing-masing dua pasang terbungkus serbet kertas dimasukkan ke dalam kantung celananya.

“Siapa yang memberimu makanan ini?”

“Martin Pemiliknya.”

“Nanti kuucapkan terima kasih kepadanya.”

“Tak usah,” kata anak itu. “Aku sudah mengucapkannya.”

“Nanti kuberi dia daging perut ikan besar,” kata lelaki tua itu. “Apakah dia memberi kita makanan lebih dari sekali ini?”

“Kukira begitu.”

“Kalau begitu aku harus memberinya lebih dari sekedar daging perut. Ia rupayanya sangat memikirkan kita.”

“Iapun memberi dua bir.”

“Aku suka yang dalam kaleng.”

“Ya aku tahu. Tapi ini yang dalam botol, bir Hatuey, dan kukembalikan botol-botolnya.”

“Kau anak baik,” kata lelaki tua itu. “kita makan sekarang?”

“Sudah sejak tadi kuajak kau,” anak itu menjawab dengan sopan. “Aku tak akan membuka panci ini sebelum kau siap.”

“Sekarang aku siap,” kata lelaki tua itu. “Tinggal membasuh tangan saja aku tadi.”

Di mana pula kau mencuci tangan, pikir anak itu. Sumber air kampung ini letaknya di sebelah sana melewati dua jalan. Seharusnya kuambilkan air untuknya tadi, pikir anak itu, dan sabun serta handuk baru. Kenapa pula aku tak berpikir sejauh itu? Aku harus membelikannya sehelai baju lagi dan sebuah jaket musim dingin dan sepatu dan selembar selimut.

“Enak sekali daging rebusmu ini,” kata lelaki tua itu.

“Ceritanya tentang baseball itu sekarang,” anak itu meminta.

“Seperti kukatakan Yankees menjadi jago Perkumpulan Amerika,” kata si tua itu dengan gembira.

“Mereka kalah hari ini” anak itu memberitahu.

“Tidak apa. DiMaggio yang agung kembali seperti sedia kala.”

“Ada pemain-pemain masyhur lain dalam regu itu.”

“Tentu. Tetapi ia jagonya. Dalam perkumpulan lain yang mengadakan pertandingan, antara Brooklyn dan Philadelphia aku mestinya memilih Brooklyn. Tetapi kemudian aku ingat Diek Sister dan pukulan-pukulan mautnya.”

“Pukulan-pukulan itu tak ada taranya. Belum pernah kulihat orang lain memukul bola sejauh itu.”

“Kau masih ingat ketika ia suka datang ke Teras? Aku ingin mengajaknya mancing tetapi aku takut mengatakannya. Lalu kuminta kau mengatakan padanya tetapi kaupun takut-takut.”

“Kuingat itu. Kita salah. Mestinya ia sudah mancing bersama kita. Dan akan menjadi kenang-kenangan kita selama hidup.”

“Aku ingin mengajak DiMaggio yang agung itu untuk mancing.” Kata lelaki tua itu. “Orang bilang ayahnya seorang nelayan. Barangkali dulunya ia juga miskin seperti kita ini, dan menerima ajakan kita.”

“Ayah Sisler yang masyhur itu tidakk pernah miskin dan dia, si ayah, menjadi pemain perkumpulan-perkumpulan ternama ketima kasih seumurku,”

“Ketika aku seumurmu aku bekerja pada sebuah kapal yang cukup perlengkapannya berlayar ke Agrika dan aku pernah menyaksikan singa-singa di sepanjang pantai pada waktu malam.”

“Kau pernah bercerita tentang itu padaku.”

“Kita cerita tentang Afrika atau tentang baseball?”

“Tentang baseball sajalah,” kata anak itu. “Ceritakan tentang John J. MacGraw yang masyhur itu.” Huruf J itu ia ucapkan Jota.

“Dulu ia juga kadang-kadang datang ke Teras. Tetapi wataknya sabar, bicaranya tak sopan, kalau mabuk sukar dikendalikan. Kecuali baseball ia juga pecandu kuda. Setidaknya di sakunya selalu terdapat daftar nama kuda dan ia sering terdengar menyebut-nyebut nama-nama kuda kalau sedang telpon.”

“Ia adalah seorang manager yang baik,” kata anak itu. “Ayah bilang ia manager terbaik.”

“Itu karena ia paling sering datang ke mari,” kata lelaki tua itu. “Seandainya Durocher terus datang kemari setiap tahun ayahmu pasti mengira ialah yang terbaik.”

“Sebetulnya, siapakah manager terbaik, Luque atau Mike Gonzales?”

“Sama saja kukira.”

“Dan nelayan terbaik adalah kau.”

“Tidak. Aku tahu orang-orang lain lebih baik.”

Que’va,” kata anak itu. “Banyak nelayan yang trampil dan beberapa yang betul-betul baik. Tetapi hanya kau disini.

“Terima kasih. Kau membuatku bahagia. Moga-moga tidak akan ada ikan besar yang akan membuktikan bahwa anggapan kita keliru.”

“Tak akan ada ikan yang mampu berbuat begitu selama kau masih sekuat apa yang kaukatakan sendiri.”

“Barangkali aku tidak lagi kuat seperti anggapanku sendiri,” kata lelaki tua itu. “Tetapi aku mengetahui banyak akal dan punya keteguhan hati.”

“Sebaiknya kau tidur saja sekarang supaya segar kalau bagun besok pagi. Akan kukembalikan barang-barang ini ke Teras.”

“Baiklah, selamat malam. Kubangunkan kau besok.”

“Kaulah jam bekerku,” kata anak itu.

“Umurkulah jam bekerku,” kata si tua. “Kubangunkan kau besok tepat pada waktunya.”

“Aku tak suka ia membangunkanku. Aku malu dan merasa rendah karenanya.”

“Aku tahu.”

“Selamat mimpi indah, sobat.”

Anak laki-laki itu pergi. Tadi mereka berdua makan tanpa ada lampu di meja dan lelaki tua itu melepaskan celana lalu bersiap tidur dalam gelap. Celana itu digulungnya untuk bantal, koran untuk ganjal di dalamnya. Ia menyuruk dalam selimut dan tidur di atas koran-koran tua yang menutup per-per dipannya.

Bersambung..

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #7

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #7

Ia tidak ingat lagi kapan ia mulai suka berbicara keras kalau sendirian. Waktu muda dulu ia suka menyanyi kalau sedang sendiri dan kadang ia juga menyanyi kalau malam-malam sendirian berjaga dalam perahu kuran-kuran. Barangkali ia suka berbicara keras sendirian semenjak ditinggalkan anak itu. Tetapi ia sudah tidak ingat lagi. Biasanya mereka berdua bercakap hanya kalau perlu saja selama masih di laut. Mereka biasanya bercakap waktu malam atau kalau diancam topan. Membungkam diri di laut adalah kebajikan dan lelaki tua itu selalu beranggapan begitu dan menghormati hal itu. Tetapi kini ia suka menyatakan pikirannya dengan suara keras berulang kali sebab tidak ada orang lain yang akan terganggu.

“Kalau orang lain mendengarku berbicara keras mereka pasti menganggapku sudah gila,” katanya dengan keras. “Tetapi aku tak peduli sebab aku tidak gila. Dan mereka yang kaya punya radio di perahu yang bisa bercakap pada mereka dan bercerita tentang baseball.”

Kini bukan saatnya buat bicara tentang baseball, pikirnya. Kini adalah saat untuk hanya memikirkan satu hal. Hidupku ini. Mungkin ada seekor yang besar di antara kelompok itu, pikirnya. Aku hanya menangkap seekor yang tersesat diantara ikan-ikan albacore yang sedang cari makan. Tetapi ikan itu berada di kejauhan sana dan bergerak sangat cepat. Hari ini segala yang nampak di permukaan bergerak cepat sekali ke arah barat-laut. Apakah memang sudah waktunya? Ataukah merupakan suatu pertanda cuaca yang tak kukenal?

Kini tak bisa dilihatnya lagi hijau daratan, tinggal puncak-puncak perbukitan biru yang nampak keputih-putihan seolah-olah tertutup salju dan awan yang kelihatan seperti gunung-gunung salju yang menjulang. Laut nampak gelap sekali dan cahaya menjelmakan prisma-prisma di air. Warna-warni cercah-cercah kotoran laut itu tak ada lagi karena matahari sudah tinggi dan lelaki tua itu tinggal menyaksikan prisma-prisma yang luas dan dalam di air biru dan tali-tali kailnya menyusup jauh ke dalam air yang satu mil dalamnya.

Ikan-ikan tuna itu tak nampak lagi. Para nelayan biasa menyebut tuna untuk segala macam ikan jenis itu dan baru membeda-bedakan namanya kalau akan menjual atau memperdagangkannya sebagai umpan. Kini matahari sudah terik dan menyengat tengkuk lelaki tua itu, terasa butir-butir keringat meluncur di punggungnya sementara ia mendayung.

Aku bisa menghanyut saja dan tidur dan mengikatkan tali di jari kaki supaya bisa terbangun, pikirnya. Tetapi hari ini genap delapan puluh lima hari dan aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Tepat pada waktu ia memperhatikan tali-talinya dengan cermat, nampak salah sebuah tongkat hijau itu masuk ke dalam air.

“Ya,” katanya. “Ya,” dan diletakkannya dayung dalam perahu tanpa bersuara. Diraihnya tali pancing itu dan dipegangnya dengan lembut di antara telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Tak ada terasa tarikan dan ia pegang saja tali itu dengan lembut. Kemudian terasa ada yang menariknya. Kali ini tarikan itu tidak tetas, dan lelaki tua itu tahu persis apa maknanya. Seratus depa jauh di bawah sana seekor ikan cucut sedang mencucuki sardin yang membungkus ujung dan tangkai kail yang mencuat dari kepala ikan tuna kecil itu.

Lelaki tua itu memegang talinya dengan sangat lembut, dan dengan tangan kiri dilepaskannya kolongan yang melilit tongkat hijau itu. Kini tali itu bebas meluncur di antara jemarinya tanpa menimbulkan kecurigaan si ikan.

Ikan yang jauh di sana itu, pasti sangat gendut di bulan ini, pikiranya. Makan saja umpan-umpan itu, ikan. Makan saja. Ayohlah makan saja. Betapa segarnya umpan-umpan itu dan kau berada di air dingin enam ratus kaki dalamnya dalam gelap. Sekali lagi berbeloklah dalam kegelapan itu dan kembalilah untuk menyantap umpan-umpan.

Terasa sebuah tarikan lembut yang disusul dengan tarikan yang lebih tegas ketika mestinya kepala sardin itu agak sulit dilepaskan dari kail. Kemudian tak terasa apa-apa lagi.

“Ayolah,” teriak lelaki tua itu. “Berbeloklah lagi. Cium saja baunya. Membangkitkan selera, bukan? Makan saja umpan-umpan itu, dan sehabisnya masih juga ada seekor tuna. Keras dan dingin dan memikat. Jangan malu-malu, ikan. Makan saja.”

Iapun menunggu sambil memegang tali pancing itu dengan telunjuk dan ibu jari sambil juga mengawasi tali-tali pancingnya yang lain barangkali ikan itu bergerak ke atas barangkali ke bawah. Kemudian terasa kembali tarikan yang lembut itu.

“Ia akan melahapnya,” kata lelaki tua itu keras-keras. “Tuhan menolongnya agar ia melahapnya.”

Tetapi ikan itu tidak memakannya. Ia telah pergi dan lelaki tua itu tidak merasakan apapun.

“Tak mungkin ia pergi,” katanya. “Yesus tahu ia tidak pergi. Ia sedang membelok. Barangkali ia pernah kena kail dan ingat akan hal itu.”

Kemudian terasa sentuhan lembut pada talinya itu dan ia merasa gembira.

“Ia tadi hanya membelok untuk kembali,” katanya. “Ia akan memakannya.”

Ia merasa gembira merasakan sentuhan lembut itu dan kemudian dirasakannya sesuatu yang keras dan teramat berat. Itula bobot si ikan dan dibiarkannya saja talinya terulur ke bawah, terus, terus, sampai habis gulungan cadangan yang pertama. Ia masih bisa merasakan bobot ikan itu meskipun jemarinya hampir tak menekan tali yang meluncur di sela-selanya dengan lembut.

“Betapa besar ikan itu,” katanya. “kail itu di sebelah sisi mulutnya dan ia menariknya pergi.”

Kemudian ia akan membalik dan menelannya, pikirnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata itu sebab tahu bahwa kalau hal baik itu dikatakan mungkin malah tidak terjadi. Ia tahu betapa besar ikan itu dan dibayangkannya sedang bergerak dalam gelap dengan ikan tuna menyilang di mulutnya. Pada saat itu dirasakannya si ikan berhenti bergerak tetapi bobotnya masih terasa. Kemudian terasa semakin berat dan diulurnya tali lebih panjang lagi. Sejenak ditekankannya jemari lebih keras pada tali itu dan terasa beratnya bertambah dan terus bergerak ke bawah.

“Telah kena sekarang,” katanya. “Biar saja ia menelannya dulu.”

Dibiarkannya tali itu meluncur terus di antara jemari sementara tangan kirinya meraih ujung dua gulungan tali cadangan dan mengikatkannya pada ujung dua gulungan tali cadangan yang lain. Sekarang ia siap. Ada cadangan tiga gulungan tali masing-masing empat puluh depa panjangnya, di samping tali yang sedang terulur.

“Telan lebih lama lagi,” katanya. “Telan semuanya.”

Telanlah bulat-bulat sehingga ujung kail itu menusuk jantungmu dan membunuhmu, pikirnya. Naiklah ke permukaan tanpa rewel biar kutusukkan kait ini ke tubuhmu. Nah, kau siap? Sudah cukup puaskah kau bersantap?

“Sekarang!” katanya keras-keras sambil menyendal tali itu dengan kedua belah tangan, berhasil ditariknya sampai satu yar dan kemudian disendalnya lagi berulang kali, dua belah tanganya diayunkan bergantian, dengan seluruh tenaga.

Tak terjadi apapun. Si ikan dengan tenang bergerak pergi dan lelaki tua itu tak berhasil menariknya ke atas seincipun. Talinya kekar dan sengaja dipintal untuk memancing ikan besar-besar dan lelaki itu melilitkannya di punggung begitu erat sehingga bepercikan butir-butir keringatnya. Kemudian mulai terdengar suara lembut recik air yang tersibak tali dan lelaki itu tetap menahannya, disangkutkannya dirinya pada bangku perahu dan tubuhnya doyong menahan tarikan itu. Perahu itu mulai bergerak pelahan-lahan menuju barat-laut.

Bersambung…

Continue Reading

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #6

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #6

Awan di atas daratan nampak bangkit bagaikan gemunung dan pantai hanyalah sebuah garis hijau panjang dengan perbukitan biru-kelabu di belakangnya. Kini air berwarna biru tua, begitu pekat sehingga hampir ungu. Dilihatnya warna merah kotoran-kotoran lembut yang terkumpul di permukaan air dan cahaya matahari yang nampak aneh. Ia jaga terus agar tali-tali kailnya tetap lencang ke bawah sampai tak nampak jauh dalam air dan ia sangat senang melihat begitu banyak kotoran mengambang di permukaan sebab menandakan adanya ikan. Cahaya aneh yang diciptakan matahari di air – kini setelah matahari tinggi – menandakan cuaca cerah, begitu pula bentuk awan yang diatas daratan sana. Tetapi kini burung itu hampir hilang dari pandangan dan tak ada yang nampak di permukaan air kecuali cerah-cerah lumut Sargasso yang kuning memutih karena matahari dan gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis yang ungu, kemilau dan likat, yang mengambang dekat perahu. Ia mengapung lincah, satu yar di belakangnya diikuti oleh gelembung lain dengan serabut lembut yang panjang dan ungu.

Agua mala,” kata lelaki tua itu. “Lonte kau.”

Dari tempat ia mengayuh nampak olehnya ikan kecil-kecil yang warnanya seperti serabut lembut itu, berenang di antara serabut ungu itu dan di bawah bayangan gelembung yang mengapung hanyut itu. Ikan kecil-kecil itu kebal akan racunnya. Tetapi orang tidak dan kalau ada serabut lembut melekat likat dan ungu di tali pancing sementara lelaki tua itu sedang mengela ikan, maka lengannya akan merasa gatal-gatal penuh bintik-bintik seperti kena racun pohon ivy dan oak. Tetapi racun agua mala ini lebih cepat terasa dan pedihnya seperti pukulan cambuk.

Gelembung lumut yang kemilau itu nampak indah. Tetapi gelembung lumut adalah hal yang paling palsu di laut dan lelaki tua itu senang kalau kura-kura itu mula-mula melihatnya, lalu mendekatinya dari depan, memejamkan matanya supaya sepenuhnya terlindung dan akhirnya melahap gelembung-gelembung itu dengan serabut-serabutnya. Lelaki tua itu senang melihat kura-kura melahapnya dan kalau sedang berjalan di pantai sehabis angin ribut ia suka menginjak kura-kura itu dan ia senang mendengar suara si kura-kura bila terinjak oleh kakinya yang sekeras tanduk.

Ia senang kepada kura-kura hijau dan jenis paruh rajawali yang gagah dan cepat geraknya serta tinggi harganya, dan ia sayang-sayang benci kepada jenis kepala-besar yang kulitnya berlapis warna kuning, yang jenaka caranya kawin, dan yang suka melahap gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis dengan mata pejam.

Tak ada pikirannya yang aneh-aneh tentang kura-kura meskipun ia pernah bertahun-tahun bekerja dalam perahu kura-kura. Ia menaruh belas kepada kura-kura, bahkan kepada jenis punggung-kopor yang panjangnya sama dengan perahunya dan beratnya satu ton. Kebanyakan orang bersikap dingin saja terhadap kura-kura sebab jantung kura-kura masih juga hangat meski setelah beberapa jam disembelih dan dipotong-potong. Jantungku seperti jantungnya dan tangan serta kakiku seperti tangan dan kakinya juga, pikir lelaki tua itu. Ia suka makan telurnya yang putih itu untuk menambah tenaga. Ia makan telur kura-kura sepanjang bulan Mei supaya bisa kuat menangkap ikan besar dalam bulan-bulan September dan Oktober.

Ia juga suka minum secangkir minyak ikan hiu tiap hari disebuah gubuk tempat sejumlah nelayan menyimpan peralatan. Minyak ikan itu disimpan dalam sebuah tong besar dan tersedia bagi siapa saja yang membutuhkannya. Kebanyakan nelayn tak suka akan baunya. Tetapi itu tak lebih buruk dari bangun pagi bersama-sama mereka dan di samping itu juga baik untuk mengobati rasa dingin dan linu-linu dan juga berkhasiat bagi mata.

Lelaki tua itu menengadah dan kini dilihatnya burung itu berputar-putar lagi.

“Ia melihat ikan,” teriaknya. Tidak ada seekor ikan terbangpun muncul di permukaan air, ikan-ikan umpannya juga tidak cerai-berai. Tetapi ketika lelaki tua itu asyik memandang, seekor ikan tuna meloncat ke udara, membalik dan – dengan menjungkir – terjun ke dalam air. Ikan tuna itu memancarkan warna perak di cahaya matahari dan ketika ia sudah menyelam, yang lain-lain bermunculan ke udara dan berloncatan ke segenap penjuru, mengaduk air dan melompat jauh memburu ikan-ikan umpan itu. Ikan-ikan tuna itu mengitari dan menyerang umpan-umpan itu.

Kalau ikan-ikan itu tak bergerak terlalu cepat aku akan bisa mencapainya, pikir lelaki tua itu; disaksikannya ikan-ikan itu mengaduk air sampai memutih dan si burung kini menukik dan menyelam menangkap ikan-ikan umpan yang terdesak ke permukaan dalam hiruk pikuk itu.

“Burung itu menolongku,” kata lelaki itu. Tepat pada saat itu terasa di kakinya tali pancing yang diburitan menegang, lalu ia lepaskan dayung dan dirasakannya getar tarikan ikan tuna itu ketika ia pegang tali erat-erat dan mulai menariknya. Semakin terasa getaran itu ketika ia memungut tali dan menyaksikan punggung biru dan tubuh kuning si ikan dalam air sebelum ditarik lewat samping ke dalam perahu. Ikan itu terbujur di buritan, padat dan seperti peluruh bentukan sementara tenaga hidupnya semakin habis karena ekornya yang rapih bergerak-gerak cepat memukul-mukul dinding perahu. Lelaki tua itu memukul kepalanya supaya tidak terlampau lama sekarat lalu meyepak tubuhnya yang masih bergeletar di naung buritan.

Albacore,” serunya. “Umpan yang bagus. Beratnya sepuluh pon.”

Bersambung….

Continue Reading

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #5

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #5

Dalam gelap itu si lelaki tua merasakan pagi yang tiba dan sambil mendayung didengarnya suara bergetar ikan terbang yang melesat dari air dan desis sayap-sayapnya yang kaku ketika ikan-ikan itu melayang menembus kegelapan. Ia senang pada ikan terbang sebab ikan-ikan itu sahabat-sahabat karibnya di samudra. Ia suka kasihan kepada burung-burung, terutama sekali burung laut yang berbulu hitam dan nampak lembut yang senantiasa terbang dan mencari-cari dan hampir tak pernah mendapat apapun, dan ia berpikir, “Burung-burung itu hidupnya lebih berat dari hidup kita kecuali burung rampok dan burung-burung yang besar dan kuat. Kenapa burung-burung diciptakan begitu lembut dan indah seperti misalnya burung layang-layang laut sedangkan samudra kadang teramat kejam? Laut memang baik hati dan indah. Tetapi ia bisa sangat kejam dan itu tiba-tiba saja datangnya sedangkan burung-burung yang terbang, menukik ke air dan berburu, dengan suara lirih dan sedih adalah terlalu lembut untuk laut.”

Ia selalu menganggap laut sebagai el mar yakni nama yang diberikan orang-orang dalam bahasa Spanyol kalau mereka mencintainya. Kadang-kadang mereka yang mencitainya suka mencaci-makinya tetapi semua itu diucapkan seperti kepada seorang perempuan. Beberapa nelayan yang lebih muda, yang menggunakan pelampung pada tali pancingnya dan yang memiliki perahu motor – yang dibeli dengan uang hasil penjualan hati ikan hiu – menyebut laut sebagai el mar yakni berjenis laki-laki. Mereka itu menganggap laut sebagai saingan atau medan atau bahkan sebagai musuh. Tetapi lelaki tua itu selalu menganggapnya sebagai perempuan atau sebagai sesuatu yang memberi atau menyimpan anugerah besar, dan kalaupun laut menjadi buas atau jahat itu karena terpaksa saja. Bulan berpengaruh atas perangainya seperti halnya atas perempuan, pikir lelaki tua itu.

Ia mendayung dengan tenang tanpa banyak mengeluarkan tenaga sebab perahunya melaju dengan kecepatan teratur dan permukaan samudra datar saja, hanya di sana sini atur berpusing. Ia biarkan saja arus membantunya mendayung dan ketika hari mulai terang ia sadar bahwa sudah berada jauh, lebih jauh dari apa yang diharapkannya pada jam begini.

Sudah kujelajahi lubuk-lubuk itu selama seminggu dan hasilnya nihil, pikirnya. Hari ini akan kukitari tempat di mana jenis-jenis bonita dan albacore berkeliaran dan barangkali ada seekor ikan besar bersamanya.

Sebelum hari semasekali terang ia sudah memasang umpan-umpannya dan menghanyut ikut arus. Umpan pertama sedalam empat puluh depa. Yang kedua sedalam tujuh puluh depa sedangkan umpan ketiga seratus depa dan keempat seratus dua puluh lima depa. Setiap umpan tergantung, kepalanya di bawah, dan tangkai pancing tersembunyi di dalamnya, terikat erat-erat, dan segala bagian yang menonjol dari pancing itu – lengkungannya dan matanya – tersembunyi dalam ikan-ikan sardin yang segar. Setiap sardin ditusuk dengan pancing pada kedua matanya sehingga sardin-sardin yang bergantungan di pancing itu bentuknya seperti separoh kalung. Seluruh bagian pancing itu pasti sedap baunya dan enak rasanya bagi ikan besar yang mendekatinya.

Anak laki-laki itu telah memberinya dua ekor ikan tuna kecil yang masih segar, yang juga disebut albacore, dan keduanya tergantung bagai batu duga pada tali yang seratus dan seratus dua puluh lima depa sedangkan pada kedua tali yang lain dipasangnya masing-masing ikan pelari biru dan ikan kelasi kuning yang sebelumnya pernah digunakan; tetapi kedua ikan itu masih baik keadaannya dan kecuali itu sardin-sardin segar membantu memancarkan bau sedap dan daya tarik. Setiap tali, yang kelilingnya setebal pensil besar, dikolongkan pada kayu apung hijau sehingga setiap kali umpan tersentuh atau termakan ikan kayu itu masuk ke air, dan untuk se tiap kali tersedia dua gulung tali cadangan yang masing-masing empat puluh depa panjangnya yang masih juga bisa diikatkan pada  gulungan-gulungan tali cadangan lain sehingga, kalau mampu, seekor ikan bisa melarikan pancing sampai sepanjang lebih dari tiga ratus depa.

Tiga buah kayu apung di samping perahu nampak masuk air dan lelaki itu terus mendayung dengan tenang menjaga agar tali-tali tetap lurus dan mencapai kedalaman yang semestinya. Hari mulai terang dan setiap saat matahari akan muncul.

Matahari bangkit perlahan dari laut dan lelaki tua itu melihat perahu-perahu lain berpencar di seberang arus, jauh di sana dekat pantai. Matahari semakin terang dan cahayanya menyusur permukaan laut dan kemudian, ketika hari makin tinggi, laut yang datang itu memantulkan cahaya itu ke matanya sehingga terasa pedih dan ia terus mendayung tanpa menatap pantulan itu. Ia memandang ke bawah menyaksikan tali-tali pancingnya yang menyusup jauh kedalam kegelapan air. Ia berusaha sungguh agar tali-talinya kencang supaya setiap umpan siap menunggu ditempat yang tepat dalam kegelapan arus di mana si lelaki itu mengharapkan adanya ikan. Orang lain biasanya membiarkan saja tali-talinya terhanyut arus sehingga kadang-kadang tali yang dianggap mencapai seratus depa di bawah permukaan laut sesungguhnya hanya enam puluh depa saja.

Tetapi aku selalu menjaga agar tali-tali itu tepat pada tempatnya, pikirnya. Hanya saja tak ada untung padaku. Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada untung. Tetapi aku lebih suka berusaha untuk tepat. Lalu kalau untung itu datang kita sudah sepenuhnya siap.

Matahari telah dua jam mendaki lebih tinggi dan matanya tidak lagi merasa sangat pedih kalau menatap ke arah timur. Hanya tiga buah perahu yang kelihatan sekarang dan mereka pun berada jauh di bawah sana dekat pantai.

Selamanya matahari pagi menyakitkan mataku, pikirnya. Namun mataku masih tetap tajam. Malam hari aku masih menatap kedepan tanpa merasa buta. Pada malam hari bahkan lebih tajam pandanganku. Tetapi pada pagi hari pedih sekali rasanya.

Tepat pada saat itu nampak seekor burung kapal perang dengan sayap-sayapnya yang hitam berputar-putar dilangit tepat di atas kepala si tua. Ia mendadak menukik, dua belah sayapnya miring, dan kemudian terbang berputar-putar kembali.

“Ia mendapat sesuatu,” teriak lelaki tua itu. “Ia tidak hanya melihatnya.”

Didayungnya perahunya pelan dan teratur ke arah tempat burung itu membuat lingkaran. Ia tidak tergesa dan menjaga agar tali-tali pancingnya tetap lencang. Tetapi ia agak mempercepat perahunya hanyut di arus sehingga ia masih bisa memancing dengan cermat meskipun agak lebih cepat dari kalau seandainya tidak ada burung yang memberinya petunjuk.

Burung itu terbang lebih tinggi lagi untuk kemudian membuat lingkaran di udara, sayap-sayapnya tak bergerak. Mendadak ia menukik dan lelaki tua itu menyaksikan seekor ikan terbang tersembul di permukaan air dan berenang sekuat tenaga.

“Dalfin,” teriak lelaki tua itu. “Ikan dalfin besar.” Ia masukkan dayung kedalam perahu dan mengambil tali kecil dari bawah haluan. Tali itu berujung kawat dan sebuah kail yang berukuran sedang dan ia pasang seekor sardin sebagai umpan. Dicemplungkannya kail itu ke dalam air dan kemudian diikatkannya talinya pada sebuah gelangan di buritan. Setelah itu ia pasang lagi umpan pada tali yang lain yang dibiarkannya tetap tergulung di haluan. Ia mulai lagi mendayung dan menyaksikan burung hitam bersayap panjang yang sekarang sedang sibuk di dekat permukaan air.

Burung itu menyelam lagi sambil memiringkan sayap-sayapnya dan kemudian mengibas-ngibaskannya dengan galak namun sia-sia ketika mengikuti ikan terbang itu. Lelaki tua itu melihat permukaan air menggembung karena ikan-ikan dalfin yang memburu mangsanya yang berusaha lepas. Dalfin-dalfin itu menembus air di bawah mangsanya dan siap untuk menerkam setiap saat ikan-ikan kecil itu turun. Sekelompok dalfin, pikirnya. Mereka menyebar luas dan ikan terbang itu hampir tak mungkin lepas. Burung itu pun sia-sia saja. Ikan-ikan terbang itu terlalu besar baginya dan mereka bergerak teramat cepat.

Disaksikannya ikan-ikan terbang itu berulang kali muncul di permukaan dan si burung yang sia-sia tingkahnya. Kelompok dalfin itu lepas dariku, pikiranya. Mereka bergerak terlalu cepat dan jauh. Tetapi barangkali ada yang tersesat dan ikan besarku ada diantara mereka. Ikan besarku pasti ada entah di mana.

Bersambung..

Continue Reading

Trending