Connect with us

Uncategorized

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #2

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #2

Merekapun duduk di Teras dan banyak di antara para nelayan yang ada disana mengejek lelaki tua itu dan ia tidak marah. Yang lain, yang lebih tua, memandang ke arahnya dan merasa kasihan. Tetapi mereka tidak memperlihatkan perasaan itu dan bercakap-cakap dengan sopan tentang arus dan lubuk laut tempat menghanyutkan pancing-pancing mereka dan tentang cuaca yang selalu cerah dan tentang apa saja yang telah mereka saksikan. Para nelayan yang hari itu beruntung telah berada di darat dan telah menyembelih ikan cucut mereka dan membawanya terbujur diatas dua lembar papan yang setiap ujungnya diangkat oleh dua orang yang berjalan terhuyung ke arah gudang ikan dimana mereka menunggu truk es yang akan menangkut mereka ke pasar di Havana. Para nelayan yang berhasil menangkap ikan hiu telah membawa perolehan mereka ke perusahaan hiu yang terletak di seberang teluk, dan disana ikan-ikan itu diangkat dengan kerekan dan katrol, hatinya dikeluarkan, siripnya dipotong dan kulitnya dikelupas dan dagingnya diiris-iris menjadi lempengan untuk digarami.

Kalau angin bertiup dari arah timur tercium bau dari perusahaan hiu itu melewati pelabuhan; tetapi hari itu baunya tidak tajam sebab angin telah berbalik ke arah utara lalu berhenti, dan suasana di Teras terasa nyaman dan cerah.

“Santiago,” kata anak laki-laki itu.

“Ya,” sahut si lelaki tua. Tangannya menggenggam gelas dan ia sedang melamunkan tahun-tahun lampau.

“Bolehkan aku pergi membeli sardin untukmu buat besok?”

“Jangaan. Pergilah main baseball saja. Aku masih kuat mendayung dan Rogelio yang akan menebarkan jala.”

“Aku ingin ikut. Kalau tak boleh ikut ke laut denganmu aku ingin membantumu dengan cara lain.”

“Kau telah mentraktirku,” Kata lelaki tua itu. “Kau telah dewasa sekarang.”

“Berapa umurku waktu pertama kali kaubawa ke laut?”

“Lima, dan kau nyaris celaka ketika kuangkat ikan yang masih terlalu buas yang hampir saja menghancurkan perahuku berkeping-keping. Ingat kau?”

“Kuingat ekornya membentur-bentur dan perahu retak dan suara-suara pukulanmu yang gaduh. Ku ingat kau melemparkanku ke haluan tempat gulungan tali yang masih basah dan kurasakan seluruh perahu bergetar dan kau mengamuk memukuli ikan itu bagai membacok-bacok batang pohon dan bau darah yang segar tercium di sekelilingku.”

“Kau betul-betul mengingatnya atau hanya karena pernah kuceritakan hal itu padamu?”

“Kuingat segala yang pernah terjadi sejak pertama kali kita bersama ke laut.”

Lelaki tua itu menatapnya dengan mata yang masak oleh terik matahari, yang yakin dan penuh rasa sayang.

“Kalau saja kau ini anakku sendiri kubawa kau besok mengadu untung,” katanya. “Tetapi kau milik ayah dan ibumu dan kau sudah ikut perahu yang nasibnya baik.”

“Kubelikan sardin itu ya? Aku juga tahu tempat orang menjual empat ekor umpan.”

“Aku masih punya sisa umpan hari ini. Kutaruh diatas garam dalam kotak.”

“Biar kubelikan empat ekor umpan yang masih segar.”

“Satu saja,” kata lelaki tua itu. Harapan dan keyakinannya tidak pernah layu. Malah sekarang menjadi segar seperti ketika angin lembut bertiup.

“Dua,” kata lelaki itu.

“Baiklah: dua,” kata lelaki tua itu. “Kau tidak mencurinya, bukan?”

“Inginnya begitu,” jawab anak laki-laki itu. “Tetapi yang ini kubeli.”

“Terima kasih,” kata lelaki tua itu. Pikirannya terlalu sederhana untuk mempertanyakan kapan ia berendah hati. Tetapi ia tahu bahwa ia telah berendah hati dan ia tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang aib dan tidak menyebabkannya kehilangan harga diri.

“Besok hari bagus kalau arus begini,” katanya.

“Rencanamu mau ke mana?” tanya anak itu.

“Pergi sampai jauh dan kembali kalau angin berganti arah. Aku akan turun sebelum matahari terbit.”

“Nanti kucoba mengajaknya turun sampai jauh.,” kata anak itu. “Dan kalau kau berhasil mendapat ikan yang sungguh besar kami bisa menolongnya.”

“Ia tidak suka bekerja sampai jauh.”

“Memang,” kata anak itu. “Tetapi aku bisa melihat sesuatu yang ia tak mampu melihatnya seperti misalnya seekor buruh yang sedang cari makan dan akan kuajak dia berburu dalfin sampai jauh ke laut.”

“Apakah matanya sudah begitu buruk?”

“Hampir buta.”

“Aneh,” kata lelaki tua itu. “Ia tak pernah berburu kura-kura. Padahal itulah yang merusakkan mata.”

“Tetapi kau berburu kura-kura bertahun-tahun lamanya di lepas Pantai Nyamuk dan penglihatanmu masih tajam.”

“Akupun suka heran tentang diriku sendiri.”

“Tetapi apakah kini kau masih merasa cukup kuat untuk menghadapi ikan yang betul-betul besar?”

“Ya. Dan aku punya banyak akal.”

“Kita bawa pulang perlengkapan itu sekarang,” kata anak itu. “Supaya bisa kuurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin.”

Merekapun mengambil alat-alat itu dari perahu. Lelaki tua itu memanggul tiang perahu di pundaknya dan anak itu menjinjing kotak dengan gulungan tali coklat yang kekar, kait kecil dan kait besar serta tangkainya. Kotak yang berisi umpan ada di bawah buritan, juga tongkat yang dipergunakan untuk memukuli ikan besar waktu dihela ke sisi perahu. Tidak ada seorangpun yang mau mencuri milik lelaki tua itu namun layar serta tali-tali itu lebih baik di bawa pulang sebab kalau kena embun bisa rusak dan, walaupun lelaki tua itu yakin bahwa penduduk setempat tidak akan mencuri barang-barang miliknya, lelaki itu menganggap bahwa kait adalah godaan yang tak perlu ditinggal di perahu.

Mereka berdua berjalan menuju gubuk lelaki tua itu dan masuk lewat pintunya yang terbuka. Lelaki tua itu menyandarkan tiang yang terbungkus layar itu ke dinding dan si anak menaruh kotak dan perlengkapan lainnya di sampingnya. Tiang perahu itu hampir sama panjangnya dengan sebuah bilik gubuk itu. Gubuk itu terbuat dari mancung pohon palma yang keras yang disebut guano; ada sebuah dipan untuk tidur, sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah sudut di lantai tanah tempat memasak dengan arang. Sebuah gambar berwarna Hati Suci Yesus dan sebuah gambar Perawan Cobre ditempelkan di dinding-dinding coklat yang terbuat dari lembaran-lembaran guano yang seratnya sangat kuat. Gambar-gambar itu adalah peninggalan istrinya. Dahulu ada pula gambar istrinya yang berwarna di dinding tetapi ia telah mencopotnya sebab ia merasa kesepian kalau menatapnya dan sekarang disimpan dalam rak di bawah bajunya yang bersih.

“Apa yang akan kaumakan?” tanya anak itu.

“Sepanci nasi kuning dan ikan. Kau ingin makan?”

“Tidak. Aku akan makan di rumah. Boleh kubuatkan api?”

“Tidak usah. Biar nanti kubuat sendiri. Atau biar kumakan nasi dingin saja.”

“Boleh kuurus jala itu?”

“Tentu saja.”

Sesungguhnya tiada lagi jala itu dan anak laki-laki itu ingat ketika mereka menjualnya. Tetapi mereka suka berhayal setiap hari. Juga tidak ada panci nasi kuning dan ikan dan anak itu juga tahu.

“Delapan puluh lima adalah angka beruntung.” Kata laki-laki tua itu. “Senangkah kau kalau aku berhasil mendapat seekor yang beratnya lebih dari seribu pon?”

“Aku akan mengurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin. Kau duduk saja di ambang pintu biar kena sinar matahari.”

“Baiklah. Aku punya koran kemarin dan ingin kubaca tentang pertandingan baseball itu.”

Anak laki-laki itu tidak tahu apakah koran kemarin itu juga hanya hayalan saja. Tetapi lelaki tua itu mengambilnya dari bawah dipan.

“Pedrico yang memberikan koran ini padaku di bodega,” katanya menjelaskan.

“Aku kembali nanti kalau sudah mendapatkan sardin. Biar kusimpan nanti punya kita bersama-sama dalam es dan besok kita bagi dua. Ceritakan padaku tentang baseball itu kalau aku sudah balik.”

Yankees itu tak bisa kalah.”

“Tetapi aku takut pada Indians dari Cleveland itu.”

“Percayalah pada Yankees anak muda. Ingat saja DiMaggio yang agung.”

“Aku takut pada Tigers dari Detroit dan Indians dari Cleveland.”

“Hati-hati saja, atau kau bahkan juga takut pada Reds dari Cincinnati dan White Sox dari Chicago.”

“Baca saja dan ceritakan padaku kalau aku balik nanti.”

“Bagaimana kalau kita membeli lotre yang buntutnya delapan puluh lima? Besok hari yang ke delapan puluh lima?

“Boleh saja,” kata anak laki-laki itu. “Tetapi bagaimana tentang nomor delapan puluh tujuh yang menjadi rekormu itu?”

“Itu tak akan berulang. Bisakah kau mencari nomor delapan puluh lima?”

“Bisa nanti kupesan selembar.”

“Selembar utuh. Dua setengah dolar. Pinjam uangnya kepada siapa?”

“Itu soal mudah. Aku selalu berhasil pinjam uang dua setengah dolar saja.”

“Mungkin akupun bisa. Tetapi kuusahakan untuk tidak pernah pinjam uang. Mula-mula kau hanya pinjam. Nantinya ngemis.”

“Hangatkan dirimu sahabat,” kata anak itu. “Ingat bahwa ini bulan September.”

“Bulan yang banjir ikan-ikan besar,” kata si lelaki tua. “Setiap orang bisa menjadi nelayan di bulan Mei.”

“Aku pergi mencari sardin,” kata anak itu.

Ketika anak laki-laki itu kembali lelaki tua itu tertidur di kursi dan matahari sudah terbenam. Ia mengambil selimut militer yang sudah tua itu dari dipan dan menaruhnya disandaran kursi menutupi pundak lelaki tua itu. Kedua pundak itu nampak aneh, lehernya juga masih kuat dan kerut-merutnya tidak begitu kentara kalau lelaki tua itu tidur dan kepalanya tergantung ke depan. Kemejanya penuh tambalan sehingga nampaknya seperti layar dan tambalan-tambalan itu sudah luntur menjadi bermacam-macam warna kena sinar matahari. Kepala lelaki itu sudah begitu tua dan kalau sepasang matanya terpejam kelihatan wajahnya tidak berjiwa lagi. Koran itu terbuka di atas lutut dan tangannya menindihnya sehingga tidak terjatuh oleh angin sore. Kakinya telanjang.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Keika Aku Melihatmu Mati

mm

Published

on

Oleh Mena Oktariyana

Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Ali, selain melihat seseorang meregang nyawa di hadapannya. Malam itu, dia menyaksikan sendiri adiknya, Mono, tersiksa menghadapi sakaratul maut. Dilihatnya si Mono mengerang kesakitan dengan tubuh yang terus saja menggeliat di atas tempat tidurnya. Ali mendengar suara keluar dari kerongkongan adiknya, bagaikan orang yang sedang tercekik. Berulang kali dia membisikan ayat-ayat suci di telinganya sambil terus memegangi tubuhnya yang bergetar hebat itu. Dan, ketika getaran dan erangan itu berhenti, Mono sudah terbujur kaku dengan mulut dan mata yang terbuka lebar. Hawa di kamar itu seketika berubah menjadi begitu dingin menusuk. Malaikat maut seperti datang menghujani kamar itu dengan kegelapan dan kedinginan. Hujan dan petir di luar pun seperti bersekongkol untuk mengiringi kepergian adiknya. Ali menutup mata dan mulut Mono dengan tangannya yang gemetar. Dia ingin menangis, tapi tak bisa menangis. Ketakutan yang dia rasakan malam itu telah mengalahkan air matanya.

            Pintu rumah dibuka. Santi, istri Mono datang dengan kondisi basah kuyup sambil membawa kantong kresek yang berisi obat-obatan untuk suaminya.

            “Sial, sial, hujan lebat! basah semua bajuku ini. Tahu begini kan tadi aku bawa payung,” ucap Santi kesal.

            Dia menaruh obat-obatan itu di atas meja makan. Kemudian dia membuka pintu kamar dimana suaminya sedang terbaring, ditemani Ali yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Karena dia tidak berani masuk ke dalam kamar dengan kondisinya yang basah kuyup, dia pun akhirnya menutup pintu kamar itu kembali dan berjalan menuju kamar mandi.

            “Ali, Al!” seru Santi dari balik kamar mandi. “Kamu kalo mau pulang, pulang saja ya. Aku sudah di rumah ini. Takutnya kamu kemalaman, nanti enggak dapat bus kamu.” lanjutnya sambil asik menggosok-gosok tubuhnya yang kotor dengan sabun. 

            “Makasih ya sudah mau nengokin si Mono. Aku tuh seneng, masih ada yang mau peduli sama saudara sendiri, tidak seperti saudara-saudaraku. Waktu aku kecelakan motor bulan kemarin, hemmm boro boro pada nengokin. Dikatain bego iya, gara-gara enggak becus bawa motor.”

            Beberapa saat kemudian, Santi keluar dari kamar mandi sambil mengusuk-ngusuk rambut basahnya menggunakan handuk. Lalu dia menuju kamar untuk mengambil sisir.

            “Loh, kok kamu masih disini? aku kira sudah pulang,” ucap Santi yang terkejut melihat Ali masih ada di kamar. “Ya sudah lah nanti aja kamu pulangnya, toh masih hujan juga di luar.” dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur.

Dia membuka kulkas untuk melihat apa kira-kira yang bisa dia masak saat hujan deras begini. Tidak ada yang lebih enak selain makan sesuatu yang berkuah panas dan pedas saat hujan, pikirnya. Oleh karena itu dia mengambil sebungkus kwetiau kemasan, dua butir telur, sebungkus bakso, cabai, dan segala bumbu yang dia perlukan untuk memasak kwetiau kuah kesukaannya.

“Al, aku buatin kwetiau ya, kamu harus makan dulu sebelum pulang,” ucapnya sambil sibuk menyiapkan bumbu. “Oh iya Al, nanti tolong kamu bawa ya, pisang kepoknya. Pisang itu kesukaan istrimu. Di kebon belakang masih banyak, tadinya sih mau aku jual di pasar. Tapi, gimana ya, semenjak Mono sakit aku jadi susah buat ngapa-ngapain. Belum lagi kalau dia kambuh kejang-kejangnya. Repot lah pokoknya, aku tidak bisa tinggal dia lama-lama. Mau ngapain saja jadi susah.” ucapnya kesal.

Dua mangkuk kwetiau itu pun sudah siap untuk dihidangkan. Dengan perut keroncongan Santi membawanya ke meja makan.

“Al, makan dulu Al, sudah matang nih!” seru Santi kepada Ali yang masih berada di kamar.

Perutnya yang sudah lapar dari tadi, membuatnya langsung menyantap satu mangkuk besar kwetiau miliknya tanpa menunggu Ali. Dan sampai habis satu mangkuk kwetiau itu, Ali tidak juga datang ke meja makan.

“Ini orang kok dipanggilin nggak nyaut nyaut dari tadi, tidur apa gimana?” tanya Santi pada dirinya sendiri.

Lantas Santi membawakan satu mangkuk kwetiau untuk Ali itu ke dalam kamar. “Kamu aku panggil daritadi kok enggak jawab-jawab, nih dimakan,” katanya sambil memberikan semangkuk kwetiau kepada Ali. Namun Ali hanya terdiam sambil menangis.

“Lah, kenapa kamu nangis? tanya Santi bingung.

Dia melihat ke arah Mono yang dipikirnya sedang tertidur lelap. Dia hanya terdiam sambil melihat tubuh suaminya yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar, dia jatuh terduduk dan semangkuk kwetiau itu berserakan di lantai. Ali segera bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menenangkan adik iparnya. Sadar suaminya telah mati, Santi menangis begitu hebat sambil berteriak memanggil-manggi suaminya.

Beberapa saat kemudian, tangisan itu berubah menjadi suara tawa yang menakutkan. Dilihatnya Santi sedang tertawa cekikikan sambil mengusap air matanya. Ali terkejut dan bingung. Dia tahu bahwa banyak orang menjadi gila karena ditinggal mati orang yang mereka cintai. Tapi, apa mungkin Santi bisa gila secepat ini, ucapnya dalam hati.

“Aku bebas! Aku bebas! sudah lama aku ingin dia mati!” teriak Santi sambil terus tertawa cekikikan.

Continue Reading

Buku

Keniscayaan Meruang(i)

mm

Published

on

Setyaningsih, Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Kita meruangi ruang secara spasial dan esensial atau guna dan citra, seperti pernah dibentangkan rohaniawan, arsitek, dan penulis Y.B. Mangunwijaya dalam pengantar buku Pengantar Fisika Bangunan (2000). Pengaturan elemen-elemen dasar arsitektural dibangun berbarengan dengan citra atau pantulan jiwa primordial seseorang meruangi. Ruang-ruang yang dibangun tidak berhenti untuk memenuhi tugas fungsional. Penghuninya menentukan seberapa emosional laku meruang diciptakan.


Judul: Mengaduk Ruang: Tafsir Merakyat atas Bangunan | Penulis: Rifai Asyhari | Penerbit: Hatopma | Cetak : Pertama, Oktober 2019 | Tebal: xviii+122 halaman

Begitu bangunan selesai dirancang seorang arsitek atau perancang paling amatir sekalipun dan diwujudkan oleh para tukang, penghuni barangkali adalah pihak paling otoritatif membentangkan pengalaman meruang. Inilah yang dilakukan oleh Rifai Asyhari lewat buku kumpulan esai Mengaduk Ruang: Tafsir Kerakyatan atas Bangunan (2019). Setidaknya dari penuturan ke penuturan yang kentara menonjolkan penghadiran raga diri, Rifai juga membawa pembaca untuk seolah saat ini juga menghadapi bentangan arsitektural. Rifai menempatkan mata pada sekat, tembok, lantai, atap, seng, tanah, udara, kepengapan, kelonggaran, himpitan, jarak, atau kelegaan.

Kita cerap, “Ukuran tiap kamar hanya 3×3.5 meter. Cukup kecil, cukup buat selonjor atau berbaring seorang manusia dewasa. Setiap kamar dipisahkan dinding tripleks yang tipis. Penghuni kos terbiasa mendengar dengkuran halus seorang yang tidur lebih dulu […] Selain dinding tripleks, lantainya tak dipasangi kramik. Hanya lantai semen berlapis plastik. Tidak ada kamar mandi khusus anak kos selain sebuah kamar mandi yang digunakan secara bersamaan oleh keluarga sang pemilik dan anak kos,” (hal. 5). Di esai pertama berjudul “Rasanya Tinggal di Kos Termurah Se-Yogyakarta”, Rifai cukup percaya diri mengajukan kos sebagai ruang spasial yang “dikuasai”, menautkan dengan harga, nilai guna, dan peristiwa para penghuninya.

Namun meski Rifai tidak mengungkapkan secara tersurat dan frontal, kos termurah se-Yogyakarta di Nologaten yang sedemikian sederhana itu, sebenarnya menghadapi hal tidak sederhana. Ada kekuatan pertumbuhan properti di luar dinding batako. “Di sekitar lokasi indekosku, terdapat dua hotel yang ramai dikunjungi orang dari pelbagai daerah. Nologaten makin ramai dan maju. Namun, cerita tentang sepasang orangtua yang kesulitan membangun sebuah rumah kecil nyatanya masih ada,” begitu keniscayaan pertarungan ruang industrial dan rumah saling dinegasikan Rifai. Hotel hanya salah satunya saat komersialisme begitu kuat mempengaruhi pertumbuhan bangunan.

Sebagai efeknya, Rifai memang tidak menampik bahwa kos memang “sebatas untuk tidur” bagi para penghuni yang berstatus mahasiswa mahasiswa semester atas. Mobilitas berkegiatan di luar ruang kos sempit dan sering kurang nyaman cenderung menonjolkan nilai guna daripada citra. Karena sering kos tidak dipersepsikan sebagai rumah, ia tidak dipersiapkan menjadi ruang transisi ke hal-hal lebih emosional.

Bahkan di esai berjudul “Mengingat Rumah dari Episode Kepulangan yang Singkat”, ada perasaan dilematis justru saat Rifai membentangkan peta ingatan masa kecil sekaligus penghadiran masa dewasa atas jalan, pemandangan, ruang-ruang (dalam) rumah, kolam ikan, atau halaman. Pulang ke Jawar, Wonosobo, seperti berpindah ke keterasingan. Kepulangan demi meruang itu cukup sebagai episode “mampir” daripada “singgah” karena perpindahan geografis sekaligus pergantian ruang desa ke kota. Momentum yang diakui Rifai, “Bagiku, mengingat rumah berarti mengingat masa kecil. Kenanganku di Jawar berhenti pada usia 11 tahun. Setelah itu, hanya episode-episode kepulangan dalam jeda yang singkat.”

Namun dari jeda singkat ini, kita bisa menyepakati bahwa kepulangan tidak hanya berarti memulangkan raga, tapi juga emosionalitas yang pernah bertumbuh dalam lipatan arsitektural ataupun peristiwa komunal manusianya. Rifai mengatakan, “Meski jarang kusambangi, itu tetap rumahku. Sejauh apa pun aku pergi, alamat rumah itulah satu-satunya yang kutuju.”

Kerakyatan

Sejak kecil, kita sepertinya kurang diajari cara mempersepsikan diri di hadapan ruang. Kita lebih dituntut untuk tahu fungsi-manfaat suatu tempat. Seringnya, tempat-tempat begitu berjarak dari kehidupan personal kita, apalagi bukan milik kita. Seberapa lama seseorang “mendiami” suatu tempat, ia belum tentu merasa memiliki “meruangi”. “Kerakyatan” yang menjadi istilah kelihatan sepele tapi cukup sakral di judul buku, terutama tidak dihadirkan untuk menunjukkan kelemahan secara ekonomi. Istilah mengalihkan dari kesan monopolistik bahwa arsitektur dalam bentuk secara material, perasaan, sekaligus keilmuan cenderung menjadi hak arsitek, kaum perkotaan pembaca majalah lifestyle dan desain interior, atau mahasiswa arsitektur.  

Bisa jadi, obrolan arsitektur di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, Yogyakarta, bersama Anas Hidayat, dosen jurusan Arsitektur dan Desain Komunikasi Visual UPN “Veteran” Surabaya di Galeri Lorong, Tirtonirmolo, menjadikan salah satu pondasi menafsir secara  kerakyatan. Setidaknya sebelum bermimpi memiliki rumah, Rifai percaya untuk terlibat membicarakan tukang, modal, arsitektur berwawasan lingkungan, alienasi ruang perkotaan, atau hunian alternatif. Rifai mencatat, “Setiap individu sebaiknya menafsir karya arsitektur dengan bebas. Meski pemahamannya mungkin berbeda jauh dengan maksud arsitek. Dengan memahami secara bebas, karya arsitektur akan kian beragam dan tidak monoton” (hal. 58).

Pengalaman kerakyatan dipilih Rifai memang cenderung membuat gaya penuturan menjadi lempeng. Boleh dikatakan Rifai sangat percaya pada tafsir yang mendasari subjudul otoritatifnya. Tapi setidaknya paling kuat tampak dalam dua esai enerjik berjudul “Peradaban yang Kebingungan” dan “Wastu Citra: Melampaui Urusan Teknis Arsitektur”, Rifai tidak hanya bertungkus lumus dengan apa yang dilihat dan diruanginya. Masih tetap secara kerakyatan, ada upaya turut dalam polemik tata ruang dan lingkungan yang terjadi sejak masa 70-an ataupun jati diri arsitektur lokal ke-Nusantaraan yang mendapat momentumnya sejak masa kolonial serta begitu dipikirkan oleh Y.B. Mangunwijaya. 

Lantas, pengalaman meruangi “Imajinasi Ruang Rumah Mikro” semacam melengkapi peradaban ruang yang kebingungan di tengah bersikap pada alam. Rifai menjumpai rumah mikro atau rumi yang ditawarkan oleh Studio Akanoma rintisan arsitek muda Bandung, Yu Sing, yang tidak hanya menawarkan hunian alternatif bagi masyarakat perkotaan, tapi juga cara membangun sekaligus menghuni yang berusaha tidak melukai ekologi.

Percayalah, sebelum memasuki ruang-ruang dinamis rumi, kita turut merasakan suguhan paha kambing dan ayam berbumbu rahasia yang menyambut Rifai saat bertandang. Kembali pada cara kerakyatan, Rifai meruangi, “Detail ruangan rumi benar-benar diperhatikan. Aku tidak menganggap rumi seperti garasi yang gelap meski berukuran sama. Banyak laci dan ruang kecil untuk menyimpan barang. Kamar mandinya yang memanjang seluas 1×2.5 meter terasa sangat nyaman. Satu sisi untuk toilet. Sisi lainnya shower dan wastafel. Bersih dan sejuk. Jenis kamar mandi yang memungkinkanmu untuk melamun atau memikirkan persoalan hidup” (hal. 97).

Setiap yang ditangkap mata Rifai adalah upaya memenangkan raga dan emosionalitas meruang dengan merdeka dan merakyat. Memang, perkara memiliki rumah misalnya, tidak hanya dibangun dari impian atau rencana. Betapa Kita membutuhkan material untuk mewujudkan setiap elemen arsitektural mewujud. Rifai telah memulainya dengan mengaduk cara mempersepsikan dan alternatif-alternatif arsitektural bertaut dengan masalah finansial dan ekologi. 

Suatu sepele nan penting, Mengaduk Ruang sedikit mematahkan pakem bahwa buku bertema arsitektur harus mewah dan (sebaiknya) mahal. Begitu pun hunian kita di masa depan.

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending