© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Eksperimen Sastra Penghancur Nalar

Judul : Kiat Sukses Hancur Lebur | Penulis: Martin Suryajaya | Penerbit: Banana

|Cetakan: Pertama, Agustus 2016| Tebal: 216 hlm; 14 x 20,5 cm

ISBN: 978-979-107954-9

Apa jadinya jika Martin Suryajaya yang biasa menulis buku-buku “berat” macam Materialisme Dialektis (2012), Asal-Usul Kekayaan (2013) dan Sejarah Estetika (2016) memutuskan untuk menulis novel? Apakah Martin akan mengarang cerita bermuatan filosofis, seperti Ziarah (1969) karya Iwan Simatupang misalnya? Atau Martin malah mengalami kesulitan merangkai cerita oleh karena terbiasa menulis teks-teks akademis? Sudahlah, tidak perlu menambah pertanyaan lebih banyak lagi. Semua terjawab dengan terbitnya karya fiksi pertama Martin, Kiat Sukses Hancur Lebur (2016). Konon, naskah Kiat Sukses Hancur Lebur ditemukan pada suatu malam di tahun 2019 (hlm. 9). Lho, ini kan masih tahun 2016?

Kita lalu dibikin tambah bingung di bab pertama, penulis menyebut bahwa buku terbagi ke dalam 764.129 bab, sementara di daftar isi hanya tertera 8 bab. Penjudulan bab-bab buku ini cukup menarik. Bab pertama saja sudah aneh, Menjadi Pribadi Sukses Berkepala Tiga. Sekilas, kita teringat puisi Ia dan Pohon (2016) karya Norman Erikson Pasaribu: ia mencintai kawannya itu; ia ingin membawa kawannya itu/ ke gereja, dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di/ hadapan tuhan yang bercabang tiga. Apakah pribadi sukses berkepala tiga ala Martin bernuansa religius-teologis seperti halnya puisi Norman? Agak susah diterima sih.

Kita pun susah menerima buku ini sebagai novel tatkala sampai ke bab 2 dan bab 3, lantaran terlalu berlimpahan bagan dan tabel, plus catatan kaki yang menyebalkan. Tapi sebetulnya sudah ada peringatan dari editor sejak awal, buku Martin ini diniatkan sebagai “novel” atau paling tidak “semacam novel” (hlm. 13). Untuk sementara waktu, jika masih di bab-bab awal, kita bolehlah menganggap buku ini “semacam novel”. Tapi, nanti di bab-bab terakhir, “novel” akan semakin terasa. Hanya saja alurnya memang tak jelas, tokoh dan latar berloncatan ke sana kemari, bahkan untuk menunjuk satu kalimat yang waras saja sulit. Terlalu banyak absurditas, sampai-sampai mengalahkan Albert Camus yang Bapak Absurd itu sendiri!

Gagasan yang hendak Martin sampaikan, kalau memang ada, sebetulnya menarik. Martin memilih tendensi keprofesian masa kini sebagai tema besarnya. Di sekujur buku, bertebaran teori, hukum, atau prinsip yang konyol dan mengada-ada terkait manajemen bisnis, akuntansi, pemrogaman komputer, resep sukses tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), budi daya lele, etika hidup di apartemen, serta yang paling menyebalkan: cara gampang memakai baju. Barangkali Martin, sebagai seorang akademisi, mulai gelisah dengan maraknya obsesi wirausaha di kampus. Mahasiswa hari ini lebih merasa keren kalau sudah berwirausaha, berbisnis, bukannya menjalankan laku-laku intelektual. Ah, memangnya laku intelektual bisa bikin kaya?

Bagi beberapa orang, menulis karya fiksi menjadi semacam katarsis untuk sejenak melarikan diri dari aktivitas yang biasa digeluti. Sebut saja Dono, yang dikenal sebagai pelawak bersama Kasino dan Indro (plus Nanu dan Rudy Badil, awalnya) di Warkop DKI, ia menulis satu buku kumpulan humor, tiga novel, serta sebuah novelet humor. Tampaknya Martin juga demikian, lewat buku Kiat Sukses Hancur Lebur ia meluapkan berbagai hal yang tidak tertampung oleh teks-teks akademis. Dalam karya fiksinya ini, Martin leluasa membuat pelesetan nama-nama dan judul-judul buku di daftar pustaka novelnya. Novel kok pakai daftar pustaka segala? Biarkan sajalah.

Martin memelesetkan nama-nama filsuf yang tentu saja sudah tak asing baginya. Misalnya, Edmund Husserl jadi Edmund Buser, atau Emmanuel Levinas jadi Emmanuel Leviathan. Ia pun iseng menambahkan nama-nama pemain sepakbola sebagai penulis kedua, sebut saja: C.A. van Peursen dan R. van Persie, atau Didier Eribon dan Didier Drogba. Judul buku juga dipelesetkan: Sein und Zeit menjadi Sein und Shit, dan Catatan Seorang Demonstran jadi Catatan Seorang Demonstran Seksi, mengadopsi judul buku puisi Binhad Nurrohmat. Namun, buku paling keren di daftar pustaka tetap karya Tuhan YME berjudul Bagaimana Kata-kata Saya Berulangkali Disalahpahami, Bagaimana Saya Sibuk Mengklarifikasi dan Bagaimana Saya Akhirnya Mengikhlaskannya (2004).

Mengingat status Martin sebagai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013, kita dapat memaklumi keputusannya menulis novel yang tak lazim tersebut. Jika Martin menulis novel secara konvensional alias biasa-biasa saja, tentu ia bakal berlimpah kritik, dan toh ia pun belum tentu lebih baik ketimbang sastrawan konvensional lainnya. Maka, Kiat Sukses Hancur Lebur barangkali adalah wujud fiksional terbaik dari karya-karya Martin. Sebelum bertemu Kiat Sukses Hancur Lebur, percayalah, kita merasa hidup ini baik-baik belaka. Namun, tidak usah sampai menyebut karya Martin sebagai genre baru sastra Indonesia, itu terlalu berlebihan dan tak perlu, cukuplah menyebutnya karya fiksi khas Martin. Kita tinggal menanti saja, apakah Martin akan melanjutkan pengebaraan fiksionalnya atau berhenti di buku ini dan menyibukkan diri dalam teks-teks akademis kembali? Entahlah. (*)

___________________________

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Peminat kajian budaya populer dan pengelola Bukulah!

Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT