Connect with us

Milenia

Drama Korea, Instrumen Pengajaran dan Dosen

mm

Published

on

Sebagai salah satu produk budaya populer, Korean wave fever atau demam budaya Korea menjadi salah satu idola beberapa tahun belakangan ini. Salah satu dari produk budaya pop Korea adalah drama. Banyaknya web fanbase menyajikan kemudahan bagi para penggemar untuk mendapatkan drama-drama laris Korea baik yang lama maupun yang paling baru.

Episodenya yang tidak terlalu panjang dilengkapi dengan jalan cerita dan visual yang apik tak jarang membuat banyak orang rela begadang menghabiskan 16-20 episode ceritanya. Jika banyak yang bertanya manfaat menonton drama Korea, jawabannya ya sebagai tayangan hiburan. Meskipun masih banyak yang membandingkan drama Korea yang katanya kalah kelas dari serial Amerika, saya sendiri masih berpendapat bahwa keduanya memiliki genre dan nuansa yang berbeda. Jadi tetap saja, beda karya beda nuansa yang didapat.

Nah, berkaitan dengan pengalaman saya sebagai tenaga pengajar, belakangan saya menemukan bahwa drama-drama Korea inilah yang menjadi jembatan masa antara saya dan para mahasiswa zaman now dalam membahas beberapa materi perkuliahan di kelas.

Beberapa kali saya tergelitik dengan suasana perkuliahan Introduction to Literature di program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Mahasiswa saya, terutama yang perempuan, tampak lebih mudah memberikan contoh karya sastra dengan rujukan drama Korea populer.

Ketika pembahasan tentang genre tragi-comedy dalam drama. Karena mayoritas mahasiswa yang masih duduk di semester 3 jarang menonton pementasan drama, saya persilakan mereka memberi contoh dari karya film atau novel. Tragi-comedy sendiri adalah drama yang menyuguhkan tragedi dan komedi dalam satu karya, dimana tokoh utamanya berakhir menyedihkan tetapi jalan ceritanya dibumbui unsur-unsur komedi. Beberapa mahasiswi kompak memberikan contoh drama Korea berjudul 49 Days. Diskusi bisa berjalan karena dosennya juga ternyata pernah mengikuti drama tersebut sampai trenyuh dengan jalan cerita 49 Days dimana karakter utamanya, Yoon Ji Hyun pada akhirnya meninggal setelah koma selama 49 hari dan arwahnya mencari air mata orang-orang yang tulus mencintainya. Perjalanan arwah Yoon Ji Hyun inilah yang diwarnai dengan beberapa nuansa komedi. Yah meskipun tidak 100% mewakili tragi-comedy dalam drama.

Pengalaman lain adalah ketika kelas kami membahas mengenai jenis tokoh dalam karya sastra. Terdapat satu jenis tokoh yang asing bagi para mahasiswa, yaitu stock characters atau borrowed archetype. Saya memberikan contoh dengan menggambarkan karakter nenek tua berhidung panjang dengan pakaian serba hitam dan membawa tongkat sapu. Ketika mahasiswa ditanya karakter apa itu, dengan mudah mereka menjawab witch atau penyihir. Pun begitu ketika saya gambarkan seorang pria muda berwajah tampan dengan jubah mewah dan mahkota di kepala, mahasiswa menjawab prince atau pangeran. Ketika mereka mulai memahami apa itu stock character, beberapa mahasiswi pun mengangkat tangan dan bertanya, “Tapi Miss, zaman sekarang penyihirnya cantik. Goblin, malaikat pencabut nyawa, sama aliennya ganteng dan kaya. Jadi bagaimana, Miss?”. Nah, kembali saya disuguhkan dengan perkuliahan aktif ala mahasiswa zaman now. Barangkali, kalau dosennya bukan penggemar drakor, jembatan masa tidak akan tercipta karena dosennya gagal paham dengan pendapat para mahasiswa.

Mendengar pendapat mahasiswi ini, saya pun teringat meme tentang expectation VS reality karakter-karakter baku (archetype) menyeramkan yang justru digambarkan sebagai sosok tampan, cantik, maupun kaya di drama Korea. Dari topik-topik spontan ini pula tercipta diskusi aktif dan nyambung antara saya dengan mahasiswa. Pergeseran stock character memang banyak terjadi di drama Korea yang sering mengangkat tema fantasi. Penyihir yang dalam karakter bakunya merupakan sosok jahat buruk rupa digambarkan sebagai sosok cantik dalam drama The Bride of Habaek meskipun sisi jahatnya tetap dipertahankan.

Sementara itu, drama sukses Goblin membuat para penontonnya terpana dengan ekspektasi yang tadinya membayangkan sosok buruk rupa dan jahat ternyata ditampilkan berbeda 180 derajat, yakni sosok tampan nan kaya dan penuh pesona (aduh ketahuan fans Gong Yoo). Goblin juga menampilkan sosok malaikat pencabut nyawa yang terlampau tampan dan stylish meskipun kudet masalah teknologi, sedikit berbeda dari malaikat pencabut nyawa dalam drama 49 Days yang apa-apa kembali ke smartphone. Selain itu, sosok alien yang berwajah aneh digambarkan sebagai lelaki sempurna dalam drama My Love from the Star.

            Hal yang sama juga terjadi di perkuliahan Subtitling saat saya memberikan teori mengenai emotional subtitle. Terus terang, saya kesulitan mencari contoh subtitle jenis ini untuk ditampilkan kepada mahasiswa. Namun, ide justru datang dari mahasiswa dengan memberikan contoh fansub Running Man, sebuah variety show populer asal Korea.

Kembali saya bersyukur karena saya pernah menjadi fans setia Running Man saat kuliah S2 dulu. Beruntunglah masih ada beberapa file acara ini di laptop saya dan kemudian saya putar di kelas sebagai contoh. Dan memang benar, beberapa style dalam fansub acara ini menggunakan emotional subtitle dan menambah nuansa komedi acara ini.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa toh tidak semua mahasiswa di kelas saya merupakan penggemar drama atau variety show asal Korea. Beberapa dari mereka juga penggemar serial-serial Amerika seperti Game of Thrones dan The Walking Dead, dan banyak film-film Hollywood. Yang justru sulit adalah menemukan mahasiswa yang hobi membaca karya sastra maupun textbook dalam bahasa Inggris. Mereka beralasan selalu malas membuka kamus ketika bertemu dengan kosakata yang sulit.

Namun, saya selalu yakin bahwa belajar itu sebuah proses. Mengikuti perkembangan zaman dengan mencoba mengikuti apa yang mereka sukai bisa menjadi jembatan masa yang perlahan akan menggiring mereka kepada topik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Salah satu rekan saya pernah berpesan bahwa teaching is an art, mengajar itu seni. Dibutuhkan bumbu agar suasana kelas menjadi hidup sehingga mahasiswa jatuh cinta pada apa yang mereka pelajari. Nah, kalau saya sih sebagai pengajar, kebetulan saja punya hobi yang sama dengan beberapa mahasiswi zaman now. Lumayanlah, sebagai hiburan tiap akhir pekan sambil mencari apa yang bisa diangkat sebagai bumbu perkuliahan. (*)

*) Ikke Dewi Pratama, M.Hum.vPengajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta

 

Continue Reading

Milenia

Bagaimana Menjadi Diri Sendiri Menurut Carl Jung ?

mm

Published

on

Akhir-akhir ini saat duduk ngopi di kafe, banyak sejawat bertanya kepada saya, “aku kudu piye?” (aku harus bagaimana), yang pas saya jadi apa? Memang pertanyaan itu sejatinya hanya muqaddimah untuk melangsungkan obrolan yang lebih publik sifatnya seperti soal politik, komunitas, atau dunia objektif kita. Akan tetapi pertanyaan itu pada akhirnya mengusik juga untuk dijawab.

Untuk menjawabnya saya membuka buku babon Carl Gustav Jung—kebetulan saya pernah membaca lama pemikiran Jung (dan juga Erich Formm) saat dalam upaya menulis untuk sebuah jurnal tentang analisis psikologis tokoh rekaan dalam karya Pram dan NH. Dini, jadi kemudian saya pikir meresume pemikiran Jung terkait individuasi bisa memberi jalan lapang (meski bukan jawaban konkrit) dari pertanyaan aku kudu piye atau sebaiknya saya menjadi apa dan harus kepiye?

Maka tulisan ini pun merupakan resume saja dari pemikiran genuine Carl Jung dan tidak memuat sama sekali opini atau pandangan saya–dan memang saya hanya pembaca buku dan  bukan psikolog. Berikut saya ihtisarkan:

Dalam teorinya, Jung membagi psyche (jiwa) menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah ego yang di identifikasi sebagai alam sadar. Bagian kedua, yang terkait erat dengan yang pertama, adalah alam bawah sadar personal, yang mencakup segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari.

Alam bawah sadar personal adalah apa yang seperti dipahami banyak orang yaitu mencakup kenangan-kenangan yang dapat dibawa ke dalam sadar dengan mudah serta kenangan-kenangan tertentu yang ditekan karena alasan-alasan tertentu. Tetapi alam bawah sadar ini tidak mencakup insting-insting sebagaimana yang dipahami Freud.

Kemudian Jung menambah satu bagian lain yang membuat teorinya berbeda, yaitu alam bawah sadar kolektif atau yang biasa disebut dengan “warisan psikis”.

Alam bawah sadar kolektif adalah tumpukan pengalaman kita sebagai spesies, semacam pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir. Akan tetapi pengalaman ini tidak bisa kita sadari secara langsung. Ia memengaruhi segenap pengalaman dan perilaku kita, khususnya yang berbentuk perasaan, tetapi hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui pengaruh-pengaruh yang ia timbulkan.

 

Individuasi

“Induviduasi” (menjadi diri sendiri) kemudian berarti sebagai jalan unik yang harus ditempuh oleh setiap orang agar dapat mewujud atau mengembangkan kepribadiannya yang asli.

Dengan proses individuasi, pertanyaan, “siapa saya” atau lebih tepat, “Siapa saya selain dari ego yang sadar”. (hal ini berarti: selain dari apa yang sudah saya ketahui tentang diri saya sendiri, terlaksana juga ucapan ini; ‘jadilah dirimu sendiri dengan seluruh adamu yang sebenarnya’= you have to become your own truly self (Rogers) /werde, wer du eigenlich schon bist) keinginan menjadi utuh hanya dapat diwujudkan dalam suatu kehidupan yang unik dan pribadiah.

Menurut Jung, individuasi dapat diterjemahkan sebagai proses menjadi diri sendiri (werselbsttung) atau realisasi diri (selbstverwirklichung). “saya menggunakan istilah individuasi untuk menamakan proses yang dialami oleh seorang pribadi menuju menjadi individu yang psikologis; yaitu satu kesatuan atau keseluruhan yang tak terbagi dan terpisah dari yang lain “(The Archetipe and The Colective Unconsciousness, Coll. Works, Vol. 9, hlm. 275) atau: “Individuasi berarti proses menjadi manusia yang cuma satu dan homogen. Dan sejauh ketakterbagian mencakup keunikan yang paling dalam, paling dasar dan tidak dapat dibandingkan, maka ia juga mengandung proses menajadi diri sendiri.

Kesimpulannya, pada permulaan manusia belum memiliki dirinya yang sudah terwujud. Tetapi perlahan-lahan dirinya itu harus diwujudkan dalam kehidupannya yang unik.

Proses inviduasi atau menjadi diri sendiri itu selalu disertai rasa sakit dan beban psikis sebab pada permulaan proses itu, orang merasa sepi, sunyi, dan terpisah dari orang lain. Hasil pertama dari perkembangan kepribadian ialah bahwa individu itu menyadari diri sebagai pribadi yang khas, yang lain, yang orisinal. Dan itu berarti bahwa individu itu harus melepaskan diri dari massa yang anonym dan tak sadar.

Inviduasi berarti berani menerima kesunyian. Dan memang tidak ada penyesuaian—betapa pun penyesuaian itu baik dan kuat, dengan lingkungan sosial, dan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan status sosial tertentu yang dapat menghindari kesunyian individu.

Itulah rasa sunyi seorang yang matang dan kreatif. Orang tidak lagi ditentukan lagi oleh sifat konformistis terhadap ketentuan-ketentuan kolektif. Ia juga tidak lagi merupakan satu bagian kecil saja dari massa anonim.

Kesunyian itu merupakan sisi belakang yang mutlak harus ada. Kesunyian itu juga merupakan tugas etis untuk setia pada irama batin dan jalan nasib yang unik. Setiap orang harus secara positif menerima irama batin dan jalan nasibnya. Dengan demikian orang itu akan memperoleh keseluruhan pribadi. (*)

*) Sabiq Carebesth, pecinta kopi, dan masih berupaya menjadi penyair.

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Classic Prose

Trending