Connect with us

COFFEESOPHIA

Di Waktu Waktu Di Tempat Tempat

mm

Published

on

Kepada K,

1/

[di waktu waktu—tentang anak gadis kepada bapaknya]

Lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut milikmu. Kau tahu, terlalu terang untuk petangku yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kubuat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba menyepuhnya jadi lautan dan sampanku terbuat dari ingatan pada pohon-pohon laban milik bapak—lalu entah dari mana angin membawakan aroma laut milikmu ke dinding-dinding kafe ini, mengecat tembok dan atap langitnya dengan warna keheningan dan debur jiwa yang jauh, kabut dan mendung yang mengeja dirinya sendiri sebagai kemarin. Tetapi sekali petang kita telah melihat jemari seperti jemariku atau mungkin jemarimu; menunggu untuk meraih nasibmu mungkin nasibku; ada mata yang tertunduk pada jiwanya sendiri untuk memberi segala dari kelembutan, lalu seperti buih yang membelai kaki mungilmu, seakan angin terjatuh dari hampanya, seketika terasa seperti benda beku bernama masa silam; ia membawakan kerinduan abadi laut pada segala yang tak mungkin dipeluknya sendiri. Burung-burung mungil yang mencari waktu mengucup bibir ombak, mengungsi dari kedinginan yang membekukan, dari puncak-puncaknya musim kesunyian, tetapi burung-burung tak pernah ikan untuk istirah di ranjang lautan meski keluasan dan rindunya tanpa jeda. Apa kau tahu kerinduan abadi milik lauatan? Ia telah mengeja dan menunggu berabad, memadahkan samsara pada burung-burung waktu, meski tak sekali saja memeluk; malam selalu mengganti segala rekah warna pipinya, matanya yang biru, lekuk lehernya yang pasang, tetapi subuh mengirim padanya nasib tentang musim yang kehilangan.

Tetapi para perindu senantiasa menuju, kepada kabut dingin miliknya, yang menempel di pipi seorang gadis yang bocah; tengah menatap laut miliknya sendiri—di depan kerinduan abadinya pada cintanya yang repih lalu perlahan menjai buih sebelum menyatu dengan keluasan abadi. Tahukah kau apa rasanya menjadi laut?  

Meski tiap waktu debur meski tiap waktu luas meski setiap hening cintanya menenun jelma kejauhan; tak sekali-kali membuatnya gentar, tapi kerinduannya telah jadi abadi; tak pernah jadi subuh atau senja, tidak warna terang di kafe-kafe—

Lalu seorang penyair menulis sajak tentang pipi kekasihnya; rona sukma yang kanak-kanak dihadapan rindu jiwanya yang gelombang, jika saja ia bisa pergi melewati segala jauh dan ujung dari semua batas, ia hanya ingin sekali lagi menjulurkan jarinya, melihat senyum itu dan memberitahu jiwanya yang kini jelita, jiwanya yang baru saja mengira; cinta mengajarinya keheningan, jiwa yang jiwa, petang yang melagut, malam yang doa, pagi yang kerap—seperti lelap aroma wangi rambut itu; melelapkan hasrat batinnya yang bocah.

Sekali malam akan digambarnya, segala rindu—tentang surat –surat yang ditulis untuknya, sebagai keluasan sebagai debur sebagai biru lautan sebagai cahaya keemasan; sebagai jendela sebagai jalan-jalan dan kembang rekah atau apa saja untuk memberitahu jiwa kanak-kanaknya; lautan tak pernah sama bagi mereka yang tak memahami sesekali seorang penyair tak menulis sajak tentang kekosongan dan kabut subuh, atau benda benda di atap matanya yang terbakar—ia penyair, menggaris batas bagi  keheningan.

Sekali ini pada petang yang aneh, aku mendengar nyanyianmu yang biasanya, selalu seperti seorang ayah yang tak pernah mengira anak gadisnya akan menyukai senja yang dilukis penyair di pipi kekasihnya.

2/

[di tempat-tempat—tentang penyair kepada kekasihnya]

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu, di manakah tempatmu? Aku kini di bawah lampu-lampu kafe dengan cahaya aneh jika saja kau tahu—lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut yang kau kira pipiku; lampunya berwana seperti warna laut milikku. Selalu terlalu terang untuk petang milikmu yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kau buat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba dan menyepuhnya jadi lautan—yang senantiasa kau kira seperti pipiku.

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu; aku kini menemu soreku yang kukira seperti warna asing atau terkadang itu seperti tatapan matamu padaku saat itu, kau tidak akan mengira bahwa aku telah menjadi sepertimu juga, menatap pada segala apa sebagai kebisuan yang lagut dan masih bertanya apa yang ingin dikenangkan padamu bila pada waktuku aku tak menemu jalan kembali pada subuhmu.

Tapi tahukah kau bahwa saban waktu menjadi aneh, selalu kukenangkan cahaya matamu, tatapanmu selalu saja memuncak dan tak persis kupahami kecuali cintamu pada segala yang kau cari sebagai jiwa, segala yang duka dari segala yang rindu; tetapi dukamu tak pernah suatu kehilangan abadi, aku tahu itu adalah cinta yang maha pada segala yang kau kira sejati. Tetapi apa yang sejati? Kita sama tak pernah memahami atau tidak akan, kita hanya tahu sekali waktu kita ingin memeluk diri kita sendiri, membebaskan dari segala meski tak pernah habis segala rindu pada segala yang hening dan pada larut di mana batin kita seperti menangis sementara malam menjelang seperti warna tanpa nama di atas kanvas yang pasir di gerimis yang sejanak meluruhkan lagi gambar yang kubuat tentangmu atau tentang pendar cahaya matamu yang subuh, ombak yang bedebur di sekujur rambutmu, selalu saja tak cukup padaku untuk sekali waktu kukenangkan pagimu yang mengantuk, malammu yang terlalu lelah mengeja dirimu sendiri, lalu kau menatapku dengan kebisuan yang tak pernah sungguh-sungguh kupahami—tetapi seperti yang kau telah mengira, aku adalah pahat sukmamu, inilah jadinya aku sekarang, selalu merindumu dan jauh, selalu tak memahami kesejatian yang kau cari, tetapi sepertimu, aku tahu kan kupahat hidup dari hidupku, sebagai gugusan cahaya atau sebagai pagi dengan bantal tidur yang kukira kau menyebalah padaku meski kutahu saban petangku menjadi ingatan padamu, masih terus kukira kebun bunga itu memekarkan wangi aroma rambutmu, kebun bunga di punggung rapuhmu yang memahat batu-batu yang kau kira kabut mendung dan kau singkap kelambu kelamnya agar menjadi aku.

Kau tahu aku kini di bawah lampu lampu berwarna aneh dengan segalas kopi dan seorang asing yang mengira aku lukisan tanpa warna dengan matanya menatapku sebagai gadis kecil dengan pipi yang senja atau rambutku yang malam dengan keheningan serupa tiap kali aku mengeja rambutmu yang malam waktu itu. Apa itu kau?

Kini biar kupahat bebatuan itu menjadi kali-kali dalam jiwaku sendiri, kau tahu ia akan mengalir sampai juga padamu. Aku ingin sepanjang malam ini mengeja langit dan melihatmu menatapaku, tapi segelas kopi pesananku datang, dan aku masih gadis kecilmu yang dulu, hanya saja kau tahu, aku mungkin akan mengerti sekarang, kenapa kadang kau tertidur terlalu larut hanya untuk melihatku lelap—diam diam merindukanku meski aku menyebalah di antara bantal tidur dan sajakmu yang laut. (*)

30 November 2020

SABIQ CAREBESTH pecinta puisi, editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Free Newsletter “The Red Ocean” –Bibliophile Project by Galeri Buku Jakarta

mm

Published

on

Editor’s note:

BIBLIOPHILE PROJECT

Benar, ini adalah sekadar proyek pecinta buku: rupa upaya pecinta buku dalam mengekpresikan kecintaan tanpa sayaratnya kepada buku-buku, kepada pengetahuan dan mungkin—jika saja tidak perlu dianggap berlebihan;bentuk mencintai pada peradaban kemanusiaan kita, dengan cara kecil dan sangat sederhana, terutama di musim pandemi seperti sekarang ini.

Dalam ruang dan waktu pandemi yang menelan sebagian; jatuh dalam sakit lalu meninggal, terpuruk dalam rasa kebosanan dan kesulitan dalam gerak ekonomisnya—tetapi dari semuanya seakan terasa, kota-kota, waktu waktu, ruang ruang, serasa tenggelam dalam atmosfir isolatif. Tetapi demikian,  jiwa—makanan untuknya; sastra, seni dan pengetahuan mestinya memampukan kita keluar dari kesia-siaan isolatif semacam itu. Malahan menjadi suatu latihan dan kematangan, penemuan lebih dini dari proses individuasi sekaligus pemakanaan dalam sifatnya yang kontingen yang dibutuhkan pada kehidupan, pada sekeliling, kepada diri dan kemanusiaan kita bersama.

The Red Ocean, Vol I, Cover. | Klik tautan untuk mengunduh secara gratis.

Sekali lagi, narasi demikian adalah prolog dari harapan yang sejujurnya memang subjektif, dari mana “The Red Ocean” edisi perdana ini akhirnya selesai dikerjakakan dan bisa menemui calon pembacanya dengan artikel utama dari ihtiyar Jorge Luis Borges menahan laju frustasi diri pada penulis pemula, juga suatu bentuk kritik buku yang menggugah dari The New York Times (1927) atas “To the Lighthouse” karya Virginia Woolf, dan kembali kepada dunia kita yang kini, untuk sekali lagi meyakini: Dunia adalah milik mereka yang membentuknya. Sekalipun situasi kini serba tidak menentu, tidak diragukan lagi bahwa setiap generasi baru menghasilkan lebih seperti apa yang dicapai oleh anak-anak—Potret faktual seperti ditujukan Angelina Jolie, kontributor editor TIME sekaligus utusan khusus Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi—dengan Kid of the Year majalah TIME, Gitanjali Rao.

FREE NEWSLETTER

Pada teknisnya, The Red Ocean adalah tabloid ditujukan khususnya untuk para pembeli buku di toko buku kecil yang kami kalola: Book Coffee and More. Tetapi secara umum juga ditujukan untuk pembaca Galeri Buku Jakarta dan publik luas secara gratis.

Selama ini Galeri Buku Jakarta / www.galeribukujakarta.com mengetengahkan tulisan penting dan mendalam juga kolom dan komentar ahli tentang berita dan politik, ekonomi dan sains, serta budaya pop dan seni, bersama dengan dosis dari publikasi puisi dan cerita pendek juga kajian bukunya yang khas. Kami selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Apa yang kami kerjakan penuh keterbatasan, sehingga memiliki lubang hitam dalam intensitas, kapasitas dan kecakapan kelolanya, tetapi kami memastikan untuk mengupayakan kebaruan tema, kedalaman dan detail, dan visi artistik yang penuh tanpa melihat batas kapasitas financial yang terbatas. Sebab lebih dari ukuran dan perkiraan, apa yang kami lakukan adalah apa yang mungkin dilakukan oleh pecinta kepada buku buku dan seni—sebagai kehidupan.  

Setiap minggu selama lebih dari enam tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan.

Tentu saja kami berharap dukungan, dan  jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi Pelindung, Pendukung dengan menjadi donatur untuk kerja kerja kami di Galeri Buku Jakarta termasuk dalam mengelola The Red Ocean yang kami proyeksikan bisa terbit dua bulan sekali.

Bagi saya pribadi, dan tampaknya mewakili spirit kerja setiap individu yang secara sukarela meluangkan waktu dan focus untuk project literature di Galeri Buku Jakarta bahwa—Mencintai buku-buku tak pernah hal mudah, tapi itu seribu persen lebih baik ketimbang tidak ada satu hal pun di muka bumi ini yang bisa dicintai tanpa syarat seperti halnya buku-buku. Tanpa cinta jenis jenis itu saya sendiri tidak persis  tahu caranya bertahan merasai kehidupan ini dan untuk mencintai kemanusiaan.

Pengetahuan sebagaimana kemanusiaan mengandaikan keluasan, kedalaman dan akhirnya ketenangan. Itu suatu objektifikasi metaforik dari lautan (ocean), sebagai harapan pada kedalaman isi, keluasan daya jangkaunya untuk dibaca, dan akhirnya memberikan ketenagan bagi pembaca yang menyediakan diri untuk menyelami. Lagi pula sumber omega untuk otak banyak dikandung ikan di laut. Jadilah nama dan penanda dalam logo “The Red Ocean” merujuk pada konstruksi tanda demkian. Pada kisahan lain, tak persis tahu kroniknya, tetapi barangkali, itu ihwal kenapa pusat peradaban pada masa lalu dibangun berada di titik lajur garis lautan—perpustakaan Alexandria misalnya  (The Great Library of Alexandria/ Iskandariyya) berada di kota metropolis-laut Mediterranean.

Pada akhirnya, semoga bermanfaat dan bisa cukup daya untuk merilis edisi-edisi berikutnya—dan tetap gratis.

Salam hormat,

Sabiq Carebestheditor, founder Galeri Buku Jakarta

Free Newsletter “The Red Ocean” –Bibliophile Project by Galeri Buku Jakarta (Click the link to download)

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Siapa yang Membutuhkan Penyair?

mm

Published

on

Jorge Luis Borges *)

Dunia penyair dan penulis adalah sesuatu yang aneh. Chesterton berkata, “Hanya satu hal yang dibutuhkan—semuanya.” Bagi seorang penulis ini segalanya lebih dari sekedar kata yang mencakup; itu literal. Itu berarti kepala, untuk pengalaman manusia yang esensial. Misalnya, seorang penulis membutuhkan kesepian dan dia mendapatkan bagiannya. Dia membutuhkan cinta, dia dibagikan cinta, dan juga ada yang ia tidak bagikan. Dia membutuhkan persahabatan. Padahal, dia membutuhkan alam semesta. Menjadi seorang penulis, dalam arti tertentu, menjadi pemimpi— menjalani semacam kehidupan ganda.

Saya menerbitkan buku pertama saya, “Fervor de Buenos Aires” pada 1923. Buku ini tidak memuji Buenos Aires; sebaliknya, saya mencoba mengungkapkan perasaan saya tentang kota saya. Saya tahu bahwa saya kemudian membutuhkan banyak hal, karena meskipun di rumah saya hidup dalam suasana sastra— ayah saya adalah seorang sastrawan— tetap saja, itu tidak cukup. Saya membutuhkan sesuatu yang lebih, yang akhirnya saya temukan dalam persahabatan dan percakapan sastra.

Artikel ini terlampir dalam publikasi Newsletter “The Red Ocean”–merupakan free newsletter dari toko buku “Book Coffee and More” sebagai official store dan dikuratori oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta. Newsletter ini akan dirilis pada februari 2021, edisi digitalnya dapat diunduh secara gratis.

Apa yang harus diberikan universitas yang hebat kepada penulis muda adalah: percakapan, diskusi, seni menyetujui, dan yang mungkin paling penting, seni untuk tidak setuju. Dari semua itu, mungkin ada saatnya pengarang muda ini merasa bisa mengubah emosinya menjadi puisi. Dia harus mulai, tentu saja, dengan meniru penulis yang dia suka. Beginilah cara penulis menjadi dirinya sendiri melalui kehilangan dirinya sendiri— cara hidup ganda yang aneh, hidup dalam realitas sebanyak yang bisa dan pada saat yang sama hidup dalam realitas lain itu, yang harus ia ciptakan, realitas dari mimpinya.

Ini adalah tujuan penting dari program penulisan di Fakultas Seni Universitas Columbia. Saya berbicara atas nama banyak pria dan wanita muda di Columbia yang berjuang untuk menjadi penulis, yang belum menemukan suara mereka sendiri. Saya baru-baru ini menghabiskan dua minggu di tempat ini, memberi kuliah di hadapan penulis mahasiswa yang bersemangat. Saya dapat melihat apa arti lokakarya ini bagi mereka; Saya bisa melihat betapa pentingnya mereka untuk kemajuan sastra. Di negeri saya sendiri, tidak ada kesempatan seperti itu yang diberikan kepada kaum muda.

Mari kita pikirkan penyair yang masih tanpa nama, penulis yang masih tanpa nama, yang harus disatukan dan dijaga bersama. Saya yakin itu adalah tugas kita untuk membantu para dermawan masa depan ini untuk mencapai penemuan akhir dari diri mereka sendiri yang menghasilkan literatur yang hebat. Sastra bukan sekadar permainan kata-kata; yang penting adalah apa yang tidak diucapkan, atau apa yang mungkin terbaca tapi tersirat. Jika bukan karena perasaan terdalam ini, sastra tidak lebih dari permainan, dan kita semua tahu bahwa itu bisa lebih dari itu.

Free Newsletter “The Red Ocean” –Bibliophile Project by Galeri Buku Jakarta (Click the link to download)

Kita semua memiliki kesenangan pembaca, tetapi penulis juga memiliki kesenangan dan tugas menulis. Ini bukan hanya pengalaman yang aneh, tapi juga pengalaman yang berharga. Kami berhutang kepada semua penulis muda kesempatan untuk berkumpul, menyetujui atau tidak setuju, dan akhirnya mencapai seni menulis. (*)

___

*) Jorge Luis Borges, penulis Argentina, mengadaptasi artikel ini dari sambutannya di Sekolah Seni Universitas Columbia. | Diterjemahkan oleh Virdika R Utama untuk Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Virginia Woolf: Madame De Sévigné

mm

Published

on

By Virginia Woolf | Penerjemah: Lika Fuaddah

Penulis surat ini merupakan wanita yang hebat, kuat dan produktif. Jika dia hidup sezaman dengan kita mungkin akan menjadi salah satu novelis hebat. Sosoknya akan mengambil ruang dalam kesadaran pembaca yang masih hidup sebagai seorang tokoh. Tapi lebih sulit menentukan posisi tokoh tersebut dalam di suatu era daripada meringkas banyak posisi orang sezamannya. 

Hal itu terjadi sebagian karena dia menciptakan keberadaannya, bukan dalam drama atau puisi, tetapi dalam huruf – sentuhan demi sentuhan, dengan pengulangan, mengumpulkan detail-detail keseharian yang sepele, menuliskan apa yang kepalanya bicarakan.

Jadi, empat belas jilid surat-suratnya melingkupi ruang terbuka yang luas. Salah satunya seperti

hutan besar; wahana saling silang dengan bayangan cabang yang rumit, sosok berkeliaran di lembah, berpindah dari matahari ke bayangan, hilang dari pandangan, muncul kembali, tetapi tidak pernah duduk diam untuk membentuk kelompok.

Jadi kita hidup dalam kehadirannya seolah-olah dia benar-benar masih hidup. Dia terus berbicara, kita setengah mendengarkan. Lalu sesuatu yang dia katakan membangunkan kita. Seiring waktu sesuai persepsi indera, kita juga mulai membangun karakternya, sehingga

karakter itu tumbuh dan berubah tak ada habisnya, layaknya manusia hidup sejati.

Tentu saja ini salah satu kualitas yang dimiliki semua penulis surat, termasuk Madame de Sévigné yang diberkati bakat alami. Keistimewaannya itu menjadikannya lebih bertalenta daripada Walpole si brilian atau Gray si pendiam dan pemalu. Mungkin dalam jangka waktu yang lebih lama, kita akan mengenalnya lebih mendalam lagi dari yang sudah pernah kita kenal sebelumnya. Kita akan tenggelam jauh ke dalam dirinya, naluri menang atas akal dan membimbing kita untuk merasakan apa yang dia rasakan. Itu akan membuatnya senang, lalu dia terjun  bebas ke dalam kesedihan. 

Madame de Sévigné memiliki jangkauan yang luas dipenuhi banyak ruang lingkup serta keragaman lainnya. Semua tampak menghasilkan kesenangan, kenikmatan, dan mengenyangkan renungannya. Dia memiliki hasrat yang kuat sehingga tidak ada yang mengejutkannya. Dia menyerap segala ilmu dari apa pun yang ada di hadapannya. 

Dia seorang intelektual yang cepat mengikuti kecerdasan La Rochefoucauld, untuk menikmati diskriminasi tajam dari Madame de La Fayette. Dia punya tempat tersendiri dalam buku, sehingga Josephus atau Pascal atau romansa panjang yang absurd pada saat itu tidak dibaca olehnya sebanyak yang ada di pikirannya. Ayat-ayat mereka, cerita mereka keluar dari bibirnya seiring dengan yang ada di pikirannya sendiri. Tapi ada kepekaan dalam dirinya yang meningkatkan hasrat yang teramat kuat untuk banyak hal. Tentu saja ditampilkan pada yang paling ekstrim, yang paling tidak rasional, dalam cinta untuk putrinya. Dia mencintainya laiknya pria tua mencintai nyonya muda. Itu adalah gairah yang melenceng dan tidak wajar. Akibatnya, dia menuai banyak penghinaan yang kadang membuatnya malu pada diri sendiri.

Karena, dari sudut pandang putrinya, perlakuan itu sungguh melelahkan, memalukan menjadi objek dari emosi yang begitu kuat; dan dia tidak selalu bisa menanggapinya. Dia takut ibunya membuat citranya konyol di mata teman-temannya. Putrinya juga merasa bahwa dia tidak seperti yang dibayangkan ibunya. Dia berbeda; lebih dingin, lebih teliti, dan bukan sosok yang begitu kuat. Sang ibu menutup mata pada fakta nyata tentang putrinya dan mabuk pemujaan kepada seorang anak yang tidak pernah ada.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda. Virginia Woolf adalah seorang novelis Inggris yang dianggap salah satu tokoh terbesar sastra modernis dari abad 20. Walaupun ia seringkali disebut sebagai seorang feminis, ia menyangkal julukan tersebut karena ia merasa itu menunjukkan suatu obsesi. Lebih dari sekadar penulis perempuan, Woolf—dia adalah seorang kritikus yang ganas.

Dia dipaksa untuk menegaskan identitasnya sendiri. Dulu tak terelakkan bahwa Madame de Sévigné, dengan kepekaannya yang semakin memburuk, harus merasa sakit hati.  

Oleh karena itu, kadang-kadang Madame de Sévigné menangis. Putrinya tidak mencintainya. Itu adalah pikiran yang begitu pahit, dan ketakutan yang begitu abadi serta mendalam, bahwa hidup telah kehilangan nikmatnya; dia meminta bantuan kepada orang bijak, kepada penyair untuk menghiburnya; dan merefleksikan kesedihan atas kesia-siaan hidup; serta bagaimana kematian akan datang.

Kemudian, dia juga gelisah tak masuk akal dibayangi pikiran bahwa suratnya belum sampai ke putrinya. Lalu dia menyadari dirinya begitu menggelikan dan membuat teman-temannya bosan dengan obsesi ini. Yang lebih buruk, dia telah membuat putrinya bosan. Dan kemudian saat

tetesan pahit telah jatuh, gelembung ledakan vitalitas yang kuat naik membumbung tak tertahankan. Dari kenikmatan cepat yang tak tertahankan itu muncul kesenangan alami untuk hidup, seolah-olah secara naluriah dia memperbaiki kegagalannya dengan mengibaskan semua bulunya; dan membuat semua sisi gemerlapan.

Dia merontokkan kesuraman dirinya; mengolok-olok “les D’Hacquevilles “; mengumpulkan gosip-gosip; berita terbaru dari Raja dan Madame de Maintenon; bagaimana Charles jatuh cinta; bagaimana Mademoiselle de Plessis yang konyol menjadi bodoh lagi; dia telah menghibur dirinya sendiri bersama gadis sederhana yang menakjubkan yang tinggal di ujung taman – la petite personne – dengan cerita tentang raja dan negara, dari semua dunia agung yang pernah dia tinggali dan dikenalinya dengan baik. 

Akhirnya, Madame de Sévigné untuk sesaat terhibur dan meyakini cinta putrinya. Dia membiarkan dirinya rileks; dan membuang semua yang tersembunyi dengan memberi tahu putrinya betapa tidak ada apa-apa di dunia ini yang dapat membuatnya bahagia layaknya kesendirian. Dia merasa paling bahagia jika berada sendirian di negara ini. Dia suka mengembara sendirian ke hutan, pergi sendirian di malam hari, dan bersembunyi dari penggoda-penggoda jalanan. Dia suka berjalan di antara pepohonan sambil merenung. Dia menikmati bercakap-cakap dengan tukang kebun sekaligus hobi menanam. Dia mengagumi tarian gadis gipsy, seperti tarian putrinya sendiri, tapi tentu saja tidak seindah itu.

Melalui kata-kata tertulis, Madame de Sévigné hidup. Tapi sekarang dan nanti dengan

gema suaranya di telinga kita dan naik turun ritmenya dalam diri kita, kita menjadi sadar akan kemunculan beberapa kalimat yang tiba-tiba menyeruak. Mendadak membicarakan musim semi, atau tentang tetangga desa, sesuatu muncul dalam sekejap. Hal ini menyadarkan kita, bahwa kita sedang disapa oleh salah satu nyonya besar seni pidato.

Kemudian kita mendengarkan sebentar, secara sadar dan bertanya-tanya: apakah dia berusaha membuat kita mengikuti setiap kata dari cerita si juru masak yang bunuh diri karena hidangan ikan tak datang tepat waktu saat pesta makan malam kerajaan; atau adegan pembuatan jerami; atau anekdot dari pelayan yang dipecatnya secara mendadak dan penuh amarah; bagaimana dia mencapai ketertiban ini, kesempurnaan komposisi ini? Apakah dia mempraktikkan seninya? Kelihatannya tidak. Apakah dia menyunting dan merobek teks-teks yang dirasa salah? Tidak ada buktinya. Dia mengatakan berulang kali bahwa dia menulis suratnya sembari berbicara. Dia memulai yang satu saat dia mengirimkan yang lain; ada halaman kertas di meja dan dia mengisinya di sela-sela waktu dengan kegemarannya yang lain. Orang-orang menyela; pelayan datang untuk pesanan. Dia menghibur dan terkendali bersama teman-temannya. 

Tampaknya dia dijiwai dengan akal sehat, pada zaman dia hidup, oleh perusahaan tempat dia bekerja – kebijaksanaan La Rochefoucauld,  percakapan Madame de La Fayette, dengan mendengarkan drama Racine, membaca Montaigne, Rabelais, atau Pascal; mungkin dengan khotbah, mungkin juga dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Coulanges. Dia pasti menyerap begitu banyak hal tanpa disadarinya, seketika saat dia mengambil pena, semua mengalir begitu saja seiring hukum yang telah dipelajarinya dengan hati.

Marie de Rabutin tampaknya lahir dalam kelompok di mana elemen-elemennya tercampur dengan begitu kaya dan bahagia sehingga mengeluarkan kebajikannya alih-alih menentangnya. Dia dibantu, bukan digagalkan. Tidak ada yang membuatnya bingung atau layu. Pertentangan apa yang dia hadapi hanya cukup untuk mengkonfirmasi penilaiannya karena dia sangat sadar akan kebodohan, sifat buruk, dan pretensi. Dia terlahir sebagai kritikus yang penilaiannya demikian alami bawaan sejak lahir, tanpa diragukan lagi. 

Dia selalu merujuk kesannya pada standar – tingkatkan ketajaman, kedalaman, dan komedi yang membuat pernyataan spontan itu begitu mencerahkan. Tidak ada yang naif tentangnya. Dia sama sekali bukan penonton biasa. Prinsip-prinsip jatuh dari penanya. Dia menyimpulkan dan menilai dengan sangat mudah. Dia telah mewarisi standar dan menerimanya tanpa bersusah payah.

Dia adalah pewaris tradisi, yang menjaga dan memberi proporsi. Kegembiraan, warna, obrolan, banyak gerakan tokoh di latar depan memiliki latar belakang. Di Les Rocher selalu ada Paris dan lapangan luas; di Paris ada Les Rochers, dengan kesendiriannya, pepohonannya, dan para petani.  Dan di balik ini semua ada kebajikan, keyakinan, serta kematian. Itu semua memberinya rasa aman dan membuatnya bebas berlabuh, menjelajah, menikmati segalanya. Dia masuk dengan sepenuh hati ke dalam segudang humor, keanehan , dan kesenangan dari ladangnya yang subur.

Dia berjalan lewat dengan langkah bebasnya yang megah dari Paris ke Brittany dari Brittany ke seluruh Prancis. Dia tinggal bersama teman-temannya di jalan dan dikunjungi oleh teman -teman karibnya. Di mana pun dia berada, dia langsung menarik cinta dari beberapa laki-laki atau perempuan; atau kekaguman  dari sepupunya yang tidak menyenangkan Bussy Rabutin, yang tidak tinggal diam dengan segala ketidaksetujuannya, namun harus yakin akan pendapatnya yang baik.

Orang-orang yang terkenal dan yang brilian juga ingin ditemani olehnya, karena dia adalah bagian dari dunia mereka; dan selalu memiliki tempat dalam obrolan seru. Ada sesuatu yang bijaksana, agung, dan waras tentangnya yang menarik kepercayaan putranya sendiri, Charles. 

Impulsif dan tak berperasaan adalah kelemahannya yang mempesona dirinya sendiri, Charles merawatnya dengan kesabaran penuh saat dia mengalami demam rematik. Dia menertawakannya kelemahan Charles dan mengetahui kegagalannya. Dia toleran dan blak-blakan; tidak perlu ada yang disembunyikan darinya; dia tahu semua yang perlu diketahui manusia dan gairahnya.

Jadi dia menjelajahi dunia, dan mengirimkan surat-suratnya, berseri-seri dan bersinar dengan semua lalu lintas yang beragam dari satu ujung titik di Prancis ke titik lainnya, dua kali seminggu. Saat keempat belas jilid dibuka dan penuh dengan cerita selama 20 tahun, tampaknya dunia ini cukup besar untuk menampung semuanya. Inilah taman yang telah digali oleh Eropa selama berabad-abad; tempat di mana begitu banyak generasi telah mencurahkan darah mereka; ini dia akhirnya dibuahi dan berbunga.

Dan bunganya bukanlah bunga-bunga yang langka dan penyendiri seperti  orang-orang hebat, dengan puisi mereka, serta penaklukannya. Bunga-bunga di taman ini adalah seluruh masyarakat, pria dan wanita dewasa yang tumbuh dalam harmoni, masing-masing memberikan sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Sebagai buktinya, surat-surat Madame de Sévigné sering dibagikan oleh penulis lain; sekarang putranya lah yang mengambil pena itu; Abbé menambahkan paragrafnya; bahkan gadis sederhana – la petite personne – tidak takut untuk berbicara dihalaman yang sama. Jadi, bulan Mei 1678 di Les Rochers di Brittany bergema menjadi suara yang berbeda. Ada kicauan burung; Pilois yang sedang menanam tanaman; Madame de Sévigné menjelajahi hutan sendirian; putrinya menghibur politisi di Provence; tidak terlalu jauh ada Monsieur de Rochefoucauld berdiskusi dengan Madame de La Fayette untuk meringkas kata-katanya yang penting saja; Racine menyelesaikan permainan yang segera akan mereka dengarkan bersama; dan setelah itu mendiskusikannya dengan Raja dan wanita yang mereka mereka sebut Quanto.

Suara-suara itu berbaur; mereka semua berbicara bersama di taman pada tahun 1678. Tapi apa yang telah terjadi di luaran? (*)
___

Pembaca yang baik, Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Mengembangkan penalaran dan menghadirkan kedalaman dalam pengertiannya yang filosofis. Setiap minggu selama lebih dari 6 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi pendukung keberadaan laman ini dengan berkontribusi mengirim artikel / penerjemahan yang sesuai visi kami ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com cc sabiqcarebesth@gmail.com

Continue Reading

Trending