Connect with us

COFFEESOPHIA

Dari Warga Menjadi Warganet: Para Penggemar K-pop dan Masyarakat Jejaring

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Revolusi industri yang paling pertama terjadi di Eropa dan menjungkir balikkan, atau menghancurkan (disrupt), keadaan masyarakat pada zamannya. Pada mulanya, barang-barang (goods) dihasilkan oleh pengrajin yang memang telah bergelut dengan apa yang ia kerjakan sedari dulu – kursi kayu dibuat oleh tukang kayu, sepatu dibuat oleh tukang sepatu, dan semacamnya –, kemunculan dari alat-alat produksi pabrik memungkinkan segala sesuatu dihasilkan secara massal dan, dengan demikian, para pengrajin ahli kehilangan pekerjaanya: mereka dituntut untuk beralih profesi sebagai buruh pabrik.

Kedua, tanda tangan (signature) dari barang-barang yang dihasilkan oleh para pengrajin, kemudian, terhilang, karena segala sesuatu diciptakan secara massal tanpa diketahui yang memproduksinya – lantas, kata Marx, ada satu bentuk alienasi terhadap manusia yang, sejatinya, adalah homo faber. Selain kedua hal tersebut, masih ada beragam lagi dampak-dampak dari Revolusi Industri yang pertama, terkait institusi keluarga, peran anak, arti pendidikan, dan semacamnya. Meski begitu, poin dari tulisan ini adalah bahwa keterguncangan dari masyarakat adalah sesuatu yang mengikut dari suatu peristiwa revolusi.

            Pada abad kedua puluh, secara khusus abad kedua puluh satu, peradaban manusia kembali dipertemukan dengan revolusi industri, atau teknologi lainnya, yang disebut sebagai revolusi industri 4.0. Jauh melampaui revolusi-revolusi teknologi lainnya, mengutip Floridi (2009: 229), tidak ada satu masa di mana manusia diperhadapkan kecepatan dan kekuatan teknologi dan perubahan sosial. Layaknya, kincir di abad pertengahan, jam mekanik di abad modern, dan mesin uap dan kereta api di abad industri, komputer adalah simbol dari pada zaman ini: teknologi informasi komputasional. Kalau dahulu revolusi industri pertama berhasil menghasilkan barang secara massal, sekarang informasi bisa dihasilkan secara massal – bahkan, kebanjiran. Kalau dahulu institusi keluarga diguncang, sekarang bukan semata institusi keluarga saja, melainkan seluruh kenyataan sosial yang ada – dari warga, menuju warganet, atau from citizen to netizen.

            Kehidupan bersosialisasi yang tadinya didefinisikan oleh pertemuan tatap muka antara satu subjek dengan subjek lainnya, diubah dengan pertemuan antara layar dengan layar lainnya (from screen to screen) yang, lebih jauh lagi, terasa sedemikian nyatanya di masa pandemi covid-19. Pergeseran makna akan yang sosial dari tatap muka ke tatap layar dan, lebih jauh lagi, bukan sekedar bertatap layar, tetapi juga, kejadian-kejadian revolusi industri 4.0 yang ada, menjadikan satu bentuk masyarakat yang baru, yaitu masyarakat jejaring (network society).

Masyarakat jejaring adalah masyarakat yang struktur sosialnya dibentuk oleh jejaring yang ditenagai oleh informasi mikroelektronik dan teknologi komunikasi (Castells, 2009: 4). Dengan demikian, jejaring informasi adalah ontologi dari masyarakat jejaring itu sendiri sebagai warganet. Apa yang ada di dalam jejaring bukan semata jejaring-jejaring informasi, melainkan kenyataan itu sendiri – sebuah realitas virtual –, mengutip Baudrillard, sebuah hiperrealitas.

            Membayangkan bahwa masyarakat jejaring yang, berarti, terhubung dengan berbagai informasi, dan bahkan kebanjiran akan informasi, maka inklusivitas adalah sebuah kefaktaan. Terjadi desentralisasi informasi, bahwa pengetahuan tidak harus menjadi privilese bagi sebagian kelompok, tetapi adalah milik setiap orang – layaknya peristiwa Reformasi Gereja yang juga mendesentralisasi akses terhadap Alkitab yang dimiliki hanya oleh para petinggi Gereja. Dengan demikian, perlawanan terhadap pemerintah, sebagai sosok, atau subjek, yang merepresentasikan sentralisasi dan represifitas dapat secara efektif dilawan oleh masyarakat jejaring.

Di dalam Networks of Outrage and Hope, Castells menunjukkan berbagai gerakan sosial yang terjadi di dalam jejaring misal, demokratisasi yang terjadi di Timur Tengah yang dimulai di Tunisia, atau Revolusi Melati, atau gerakan Occupy Wallstreet, adalah kegerakan yang tersebar di dunia yang terhubung dengan internet nirkabel dan ditandai dengan adanya penyebaran gambar dan ide secara cepat dan viral (Castells, 2015: 2).

            Secara lebih eksplisit, solidaritas masyarakat jejaring terasa lebih jauh lagi di dalam akun-akun media sosial yang dimiliki oleh para penggemar K-pop yang ditandai dengan penggunaan foto profil aktris atau aktor Korea – umumnya, anonim, atau, paling tidak, enggan menampilkan wajah aslinya. Satu perisitwa menarik adalah ketika terjadi bermunculannya video porno yang mirip seorang aktris berinisial G yang, entah bagaimana, menjadi kata kunci yang paling banyak dicari dan dirujuk di Twitter. Sebagai suatu upaya melawan revenge porn yang ditujukan kepada Gisel, para penggemar K-pop dengan sengaja mencuit nama dari aktris tersebut, disertai oleh hashtag, meski begitu menautkan video-video dari foto, atau video, dari aktor dan aktris yang mereka sukai, sehingga usaha pencarian yang dilakukan orang-orang akan sia-sia – bukan menemukan Gisel, melainkan foto dan video dari aktris dan aktor K-pop. Bukan hanya sekali, sewaktu kemunculan dari buzzer, para pendengung, berusaha menciptakan hoaks mengenai Bintang Emon, seorang pelawak yang vokal terhadap isu-isu politis, para penggemar K-pop juga melakukan apa yang mereka lakukan di dalam peristiwa penyebaran revenge porn terhadap G: menampilkan foto dan video aktris atau aktor K-pop sambil mencuit Bintang Emon.

            Bukan hanya isu-isu yang berkaitan dengan figur publik, terutama aktor dan aktris tertentu, tetapi juga sebuah upaya perlawanan terhadap pemimpin otoriter yang, bagi sebagian orang, cenderung fasis yaitu Donald Trump. Acara kampanye Donald Trump di Tulsa, Oklahoma pada Sabtu “diganggu” oleh para penggemar K-pop. Ketua kampanye bagi tim Donald Trump mencuit di Twitter bahwa ada lebih dari satu juta tiket telah dipesan. Tetapi nyatanya menurut pemadam kebakaran setempat, hanya 6.200 orang yang datang. Ternyata, para penggemar K-pop yang ada di Amerika Serikat menggunakan TikTok, sebuah aplikasi media sosial, untuk menggerakkan massa membeli tiket kampanye Donald Trump dan, pada saat yang bersamaan, untuk tidak menghadirinya. Tentu, Donald Trump, dan tim, marah besar dan telah dipermalukan oleh para penggemar K-pop. Juga isu-isu politik lainnya seperti #ReformasiDikorusi di Indonesia, dan semacamnya.

            Perlu diingat bahwa para penggemar K-pop tersebut tidak pernah bertemu, atau, sangat mungkin, tidak mengenal antara satu dengan yang lainnya, meski begitu solidaritas yang ada di antara mereka seakan kelompok yang pernah berkumpul, bercengkrama, secara langsung. Masyarakat di dalam jejaring, warganet, adalah pengejahwantahan dari demokrasi itu sendiri – sebagai upaya perlawanan terhadap fasisme, otoritarianisme, dan sentralisasi informasi dari pemerintah. Gerakan sosial melalui jejaring, kata Castells, akan meningkatkan kemungkinan bagi manusia untuk mempelajari apa artinya hidup bersama (2015: 316).

Daftar Pustaka

Castells, M. (2009). The Network Society: A Cross-cultural Perspective. UK: Edward Elgar Publishing Limited

_________. (2015). Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. UK: Polity Press

Floridi, L. (2009). Information Technology. Jan Kyrre Berg Olsen, Stig Andur Pedersen, &Vincent F. Hendricks (Eds.) Blackwell Companions to Philosophy: A Companion to the Philosophy of Technology. UK: Willey-Blackwell

N. N. (2020, Jun 25). Ketika Penggemar K-Pop dan TikTok Guncang Donald Trump. Republika. https://republika.co.id/berita/qcdg7r5215000/ketika-penggemar-kpop-dan-tiktok-guncang-donald-trump

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Reforma Agraria Beberapa Negara: Merefleksikan Basis Bagi Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Pedesaan

mm

Published

on

By Gunawan Wiradi / (penyunting) Sabiq Carebesth *)

Pada umumnya memang dipercayai bahwa negara yang ”maju” adalah negara industri, dan karenanya secara konvensional lalu didalilkan bahwa masyarakat ’agraris’ harus diubah menjadi masyarakat industri. Namun kenyataannya, masyarakat yang begitu ”maju” seperti Amerika Serikat pun disitu masih banyak petani kecil dan penyakap, walaupun ciri hubungan produksinya tidak lagi bercorak ”agraris” klasik. Artinya, mengubah masyarakat agraris tidak harus berarti memarginalkan pertanian. Sebab, secara awam, bodoh-bodohan saja, seandainya tidak ada lagi kegiatan pertanian pangan, dan semua negara di dunia menjadi negara industri, manusia mau makan apa ? Kecuali, barangkali 500 tahun lagi semua menjadi austronout, hidup melayang diangkasa dengan makanan odol, entah dibuat dari apa. Tidak perlu rumah, dan tak memerlukan tanah.


Buku “Transformasi Agraria dan Transisi Agraris” ini meski diandaikan dalam tajuk “untuk pemula” namun dalam perjalanan teksnya yang berkisar dari: “Apa itu Reforma Agraria” hingga pada pemahaman konsepsi “Transformasi dan Transisi Agraris”—rupanya telah memancing perhatian luas di lingkungan akademisi, politisi, pengusaha, mau pun rezim penguasa, tak terkecuali juga para pemikir dan pemerhati mau pun penggerak reforma agrarian itu sendiri.

Daya pikatnya terutama bukan pada analisis akademisnya semata, tapi pada aura politis yang ditimbulkan, karena pandangan dan pemikiran politik agraria Gunawan Wiradi berhasil menunjukan dengan lebih terang adanya ketidakadilan agraria, kesalah-pemahaman dan bahkan terkadang malah salah tafsir mengenai apa dan siapa agraria dan politik agraria di Indonesia itu sendiri.
 
Buku ini diharapkan bukan hanya untuk menjadi fundamental pemikiran politik agraria bagi pemula, tapi juga untuk memulai kembali gerak dan daya dongkrak upaya reforma agraria di indonesia.
 
-Sabiq Carebesth, Penyunting.

Kegiatan manusia penyedia pangan adalah di pedesaan tempat pangan dihasilkan. Namun bencana kurang pangan biasanya terjadi di pedesaan, dan bukan di kota-kota. Karena itu, pertanyaannya ”…mengapa masih saja ada ratusan ribu orang laki-laki dan wanita yang menggarap tanah di Asia, Afrika, Amerika latin, yang telah menabur benih, memanen hasil, menggembala ternak.. mati kelaparan karena kurang pangan ? Mengapa, sementara mereka mati kelaparan orang-orang (di kota) yang tidak menghasilkan pangan tetap hidup?” (Piere Spitz, 1979). Menurut Spitz bencana kurang pangan, apapun sebabnya, mencerminkan bekerjanya sistem sosial ekonomi yang salah, yang kurang menguntungkan bagi anggota miskin masyarakat. Ini harus dirubah ! Dan dalam masyarakat agraris landasan dasar bagi struktur sosial ekonomi yang harus diubah adalah struktur distribusi pemilikan, penguasaan dan penggunaan  tanah, melalui Reforma Agraria.

Seorang pejabat tinggi di Indonesia pernah mengatakan bahwa ”Indonesia sudah 50 tahun merdeka, namun mengapa suasana kehidupan masyarakat pedesaan kita rasanya kok sama saja?” Pernyataan ini benar adanya. Pelaksanaan ”pembangunan” selama Orde Baru rasanya seperti mubajir. Struktur sosial ekonomi pedesaan masih kurang lebih sama. Transisi agraris belum terjadi, karena Orde Baru tidak meletakkan Reforma Agraria sebagai basis pembangunan. Bahkan hasil-hasil ”land reform” yang pernah dicapai dalam masa sebelumnya (bagaimanapun kecil hasil itu), justru dijungkirbalikkan, dan isyu ”land reform” ditabukan. Itulah sebabnya sekalipun kita pernah melancarkan ”lndreform”, dalam tabel terlampir Indonesia termasuk ke dalam kelompok negara-negara dengan kategori ”land reform without social transition” (Rehman Sobhan, 1994).

Karena itu maka revitalisasi pertanian, menurut pendapat saya harus dimulai dengan mengagendakan Reforma Agraria. Perbandingan antar negara melakukan kebijakan reforma agraria berikut ini bisa menjadi bahan refleksi:

Reforma Agraria (Ra) : Perbandingan Antar  Negara

Membuat telaah komparatif RA antar negara itu bukan hal yang mudah. Bukan saja diperlukan penguasaan literatur yang luas, tapi juga idealnya, orang perlu melihat lapangan disejumlah negara. Penglihatan sekilas saja ini mungkin untuk dapat menakar kriteria dalam pelaksanaanya. Kriteria yang penulis maksudkan dalam bentuknya:  Landasan normatif (atau ideologi/filosofi); model RA yang dilaksanakan; sifat operasinya (radikal, moderat, atau lunak bertahap); tujuannya; hasilnya (diukur dari tujuan itu).

Pada umumnya, tujuan mendasar dari RA adalah menuju transformasi masyarakat. Ke arah mana tranformasi ditujukan tergantung dari landasan ideologi (filosofinya). Kita tahu bahwa transformasi masyarakat itu adalah suatu proses perubahan yang selalu melalui proses peralihan (inilah yang dimaksud dengan (”agrarian transition”), sebelum masyarakat itu berubah strukturnya secara final. Dalam sejarah dapat dicatat bahwa dibeberapa negara, hasil transformasi itu tidak konsisten dengan landasan normatifnya, karena dalam masa transisi, prosesnya menjadi menyimpang. Dalam hubungan ini, ada beberapa negara yang ada baiknya kita ulas sepintas saja secara khusus karena merupakan kasus-kasus yang menarik:

Uni Soviet

Rusia, sejak sebelum menjadi negara komunis, merupakan salah satu diantara sedikit negara yang telah memiliki data keagrariaan yang lengkap dan rinci. Namun di luar anggapan orang awam ternyata begitu selesai revolusi 1917, Rusia yang menjadi negara Uni-Soviet, tidak melakukan land reform gaya sosialis, melainkan justru melakukan ”reform” yang memberi ciri jalan kapitalisme (dikenal sebagai NEP-New Economic Policy). Barulah dua belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1929, dilancarkan reform agraria model kolektivisasi besar-besaran. Sebelum revolusi memang sudah pernah ada reform, yang dikenal sesuai dengan nama pencetusnya yaitu Stolypin Reform. Substansi NEP adalah menjungkirbalikkan substansi Stolypin Reform (Untuk uraian yang lebih rinci, lihat, G. Wiradi, 2000: 45-48).

Yugoslavia

Begitu selesai perang dunia kedua, maka sejak awal 1950-an kedua negara itu melakukan: ”land reform”. Bedanya, Italia melakukan itu untuk melawan komunisme, karena itu model ”reform” nya adalah ingin menciptakan satuan-satuan usahatani keluarga, model ”family farm” di Amerika. Tapi untuk itu, pemerintah memberikan fasilitas penuh mengenai apa saja. Apa yang terjadi?. Karena fasilitas penuh itulah maka hasilnya, justru merupakan satuan usahatani luas, mirip ”usahatani negara” (State Farm). Tujuannya mengubah ”buruh tani” menjadi ”petani mandiri” walaupun satuannya kecil-kecil. Tapi yang terjadi sebaliknya. Mereka seolah-olah lalu menjadi ”buruh tani” negara. Di Yugoslavia terjadi yang sebaliknya. Negara ini dikenal sebagai negara komunis yang ”nakal”, artinya, membebaskan diri dari kendali induk komunis Soviet-Rusia. Yugo ingin menunjukkan kepada dunia Barat bahwa melalui kolektivisasi pertanian Yugo akan mampu meningkatkan kehidupan masyarakat tani. Petani-petani kecil diubah menjadi ”buruh tani”, dari satuan usahatani negara. Namun karena kolektivisasi dilakukan dengan ”evolusioner”, maka yang terjadi kemudian adalah, sebaliknya, yaitu justru tercipta, masyarakat tani seperti yang dicita-citakan oleh Italia (Russell King, 1977).

Iran

Iran melakukan ”landreform” secara bertahap. Dimulai tahun 1962. Sasarannya bukan tunakisma, tapi penggarap, penyewa dan penyakap. Batas luas maksimum adalah satu desa (bisa ratusan hektar). Dalam tahap kedua, batas itu diturunkan menjadi 20-100 ha (tergantung kondisi tanahnya). Jika pada tahap pertama para tuan tanah yang dipangkas tanah kelebihannya diberi kompensasi dengan uang cash sebesar 10-20%, dari nilainya dan sisanya dicicil setiap tahun, maka pada tahap kedua kompensasi itu berupa lima opsi (pilihan) : (1) Tanah kelebihan dari batas maksimum itu harus dijual kepada penyewa/ penyakapnya atau; (2) Tanah tersebut disewakan kepada penyewanya selama 30 tahun atau; (3) Membeli ”hak sewa” kepada penyewanya atau; (4) Membagi tanah kelebihan itu dengan para penyewa/penyakapnya berdasarkan rasio pembagian seperti yang lazim dalam ”bagi/hasil”, atau; (5) Menjadikan tanah tersebut satuan usaha kerjasama dengan bekas penyewa/penyakapnya.

Terus terang, karena berbagai keterbatasan, uraian tersebut diatas jelas tidak lengkap, dan mungkin terkesan bahwa susunannya tidak sistematis. Walaupun demikian, mudah-mudahan pokok substansinya dapat berguna menambah wawasan. Dari peristiwa di beberapa negara tersebut, hal bisa digaris bawahi terutama landasan filosofi/normatif itu akan menentukan corak model RA yang direncanakan, tujuannya, serta sifat operasinya.

Kembali ke awalnya yang pokok, jika kita tidak ingin bahwa masalah agraria akan tetap tinggal sebagai wacana, dan harus segera di agendakan, dari mana kita mulai?. Ada dua hal yang ingin dikemukakan di sini, untuk menjawab pertanyaan itu.

Pertama, bagaimana pun juga kita harus mulai dari sikap, pandangan, komitmen politik, dan kesiapan pimpinan nasional (siapapun dia). Pimpinan nasional perlu memahami berbagai ”peta” (peta sosial, peta politik domestik maupun internasional, peta ekonomi, peta keagrariaan, dll.). Melalui berbagai ”peta” itulah, pimpinan nasional diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai alternatif, ke arah mana bangsa dan negara kita ini hendak dibawa. Untuk itu, pimpinan perlu menguasai substansi masing-masing alternatif itu, agar mampu mengambil pilihan. Pada gilirannya, dengan penguasaan itu, dia akan mampu menjelaskan kepada rakyat mengapa pilihan pada alternatif tertentu itu diambil. Sebab setiap pilihan selalu mengandung resiko, dan menuntut pengorbanan. Jika ada kesanggupan dan kemampuan mengenai semua itu, dan menjelaskan kepada rakyat secara masuk akal, maka, semoga, rakyat dan kita semua bersedia memberikan pengorbanan. Pilihan-pilihan itu antara lain mengenai pandangan: RA yang a’priori pro pasar, ataukah a’priori anti pasar; ataukah pro rakyat tapi tidak a’priori anti pasar ?; tanah dianggap sebagai komoditi komersial atau dianggap sebagai basis kesejahteraan rakyat banyak ?; Kita ingin meningkatkan ”pertumbuhan dengan pemerataan”, ataukah ”pertumbuhan melalui pemerataan” ? Dalil ”tetesan kebawah”, ataukah dalil ”kedaulatan pangan” ? ; Mengandalkan tanaman ekspor dan perkebunan besar, ataukah mengandalkan ketahanan dan keberlanjutan swasembada pangan yang atas dasar ini akan tercipta daya beli domestik yang meningkat dan merata ? Atau dalam kriteria ideologi klasik, ingin melalui jalur transisi agraria yang berciri kapitalistik, atau yang sosialistik, atau yang neo-populisitik ? Ataukah yang bagaimana ?

Dalam kondisi krisis multi dimensi ini, secara sosial-psikologis, rakyat selalu akan mengharapkan dan membutuhkan pimpinan nasional berciri tiga T, yaitu Tegas sikapnya, Teguh pandangannya, dan Tangkas tindaknya.

Kedua, menyangkut langkah konkrit agar masalah Reforma Agraria tak hanya tinggal sebagai wacana, hal ini harus dipertimbangkan, Pertama: bahwa sekalipun berbagai pra-syarat RA mungkin belum tersedia, namun sikap terhadap pilihan alternatif harus segera dilakukan. Kedua: Segera setelah pilihan diambil, maka semua perundangan (peraturan yang selama ini simpang-siur perlu ”moratorium”, dan dirumuskan aturan peralihan yang sesuai dengan pilihan itu, apapun pilihannya Aturan Peralihan harus sederhana tapi jelas arahnya. Ketiga: RA harus segera diagendakan. Artinya, harus dibuat ”Grand Design” mengenai jangka waktunya, macam langkahnya, tahapannya, kelembagaannya, dll. Dan Keeampat: begitu selesai ”Grand Design” itu, maka segera di ”enforce”, laksanakan !

Demikianlah RA yang bersifat ”fairly drastic” dan ”fixed in time”, yang bertujuan agar struktur akses rakyat terhadap sumber-sumber agraria menjadi serasi, itulah yang oleh Christodoulou dianggap RA yang ”genuine”. (*)

*) Artikel akan terbit dalam Buku ”Transformasi Agraria dan Transisi Agraria” Karya Pemikir Politik Agraria Dr. HC. Gunawan Wiradi  (Galeri Buku Jakarta: Maret, 2021)

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Di Waktu Waktu Di Tempat Tempat

mm

Published

on

Kepada K,

1/

[di waktu waktu—tentang anak gadis kepada bapaknya]

Lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut milikmu. Kau tahu, terlalu terang untuk petangku yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kubuat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba menyepuhnya jadi lautan dan sampanku terbuat dari ingatan pada pohon-pohon laban milik bapak—lalu entah dari mana angin membawakan aroma laut milikmu ke dinding-dinding kafe ini, mengecat tembok dan atap langitnya dengan warna keheningan dan debur jiwa yang jauh, kabut dan mendung yang mengeja dirinya sendiri sebagai kemarin. Tetapi sekali petang kita telah melihat jemari seperti jemariku atau mungkin jemarimu; menunggu untuk meraih nasibmu mungkin nasibku; ada mata yang tertunduk pada jiwanya sendiri untuk memberi segala dari kelembutan, lalu seperti buih yang membelai kaki mungilmu, seakan angin terjatuh dari hampanya, seketika terasa seperti benda beku bernama masa silam; ia membawakan kerinduan abadi laut pada segala yang tak mungkin dipeluknya sendiri. Burung-burung mungil yang mencari waktu mengucup bibir ombak, mengungsi dari kedinginan yang membekukan, dari puncak-puncaknya musim kesunyian, tetapi burung-burung tak pernah ikan untuk istirah di ranjang lautan meski keluasan dan rindunya tanpa jeda. Apa kau tahu kerinduan abadi milik lauatan? Ia telah mengeja dan menunggu berabad, memadahkan samsara pada burung-burung waktu, meski tak sekali saja memeluk; malam selalu mengganti segala rekah warna pipinya, matanya yang biru, lekuk lehernya yang pasang, tetapi subuh mengirim padanya nasib tentang musim yang kehilangan.

Tetapi para perindu senantiasa menuju, kepada kabut dingin miliknya, yang menempel di pipi seorang gadis yang bocah; tengah menatap laut miliknya sendiri—di depan kerinduan abadinya pada cintanya yang repih lalu perlahan menjai buih sebelum menyatu dengan keluasan abadi. Tahukah kau apa rasanya menjadi laut?  

Meski tiap waktu debur meski tiap waktu luas meski setiap hening cintanya menenun jelma kejauhan; tak sekali-kali membuatnya gentar, tapi kerinduannya telah jadi abadi; tak pernah jadi subuh atau senja, tidak warna terang di kafe-kafe—

Lalu seorang penyair menulis sajak tentang pipi kekasihnya; rona sukma yang kanak-kanak dihadapan rindu jiwanya yang gelombang, jika saja ia bisa pergi melewati segala jauh dan ujung dari semua batas, ia hanya ingin sekali lagi menjulurkan jarinya, melihat senyum itu dan memberitahu jiwanya yang kini jelita, jiwanya yang baru saja mengira; cinta mengajarinya keheningan, jiwa yang jiwa, petang yang melagut, malam yang doa, pagi yang kerap—seperti lelap aroma wangi rambut itu; melelapkan hasrat batinnya yang bocah.

Sekali malam akan digambarnya, segala rindu—tentang surat –surat yang ditulis untuknya, sebagai keluasan sebagai debur sebagai biru lautan sebagai cahaya keemasan; sebagai jendela sebagai jalan-jalan dan kembang rekah atau apa saja untuk memberitahu jiwa kanak-kanaknya; lautan tak pernah sama bagi mereka yang tak memahami sesekali seorang penyair tak menulis sajak tentang kekosongan dan kabut subuh, atau benda benda di atap matanya yang terbakar—ia penyair, menggaris batas bagi  keheningan.

Sekali ini pada petang yang aneh, aku mendengar nyanyianmu yang biasanya, selalu seperti seorang ayah yang tak pernah mengira anak gadisnya akan menyukai senja yang dilukis penyair di pipi kekasihnya.

2/

[di tempat-tempat—tentang penyair kepada kekasihnya]

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu, di manakah tempatmu? Aku kini di bawah lampu-lampu kafe dengan cahaya aneh jika saja kau tahu—lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut yang kau kira pipiku; lampunya berwana seperti warna laut milikku. Selalu terlalu terang untuk petang milikmu yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kau buat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba dan menyepuhnya jadi lautan—yang senantiasa kau kira seperti pipiku.

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu; aku kini menemu soreku yang kukira seperti warna asing atau terkadang itu seperti tatapan matamu padaku saat itu, kau tidak akan mengira bahwa aku telah menjadi sepertimu juga, menatap pada segala apa sebagai kebisuan yang lagut dan masih bertanya apa yang ingin dikenangkan padamu bila pada waktuku aku tak menemu jalan kembali pada subuhmu.

Tapi tahukah kau bahwa saban waktu menjadi aneh, selalu kukenangkan cahaya matamu, tatapanmu selalu saja memuncak dan tak persis kupahami kecuali cintamu pada segala yang kau cari sebagai jiwa, segala yang duka dari segala yang rindu; tetapi dukamu tak pernah suatu kehilangan abadi, aku tahu itu adalah cinta yang maha pada segala yang kau kira sejati. Tetapi apa yang sejati? Kita sama tak pernah memahami atau tidak akan, kita hanya tahu sekali waktu kita ingin memeluk diri kita sendiri, membebaskan dari segala meski tak pernah habis segala rindu pada segala yang hening dan pada larut di mana batin kita seperti menangis sementara malam menjelang seperti warna tanpa nama di atas kanvas yang pasir di gerimis yang sejanak meluruhkan lagi gambar yang kubuat tentangmu atau tentang pendar cahaya matamu yang subuh, ombak yang bedebur di sekujur rambutmu, selalu saja tak cukup padaku untuk sekali waktu kukenangkan pagimu yang mengantuk, malammu yang terlalu lelah mengeja dirimu sendiri, lalu kau menatapku dengan kebisuan yang tak pernah sungguh-sungguh kupahami—tetapi seperti yang kau telah mengira, aku adalah pahat sukmamu, inilah jadinya aku sekarang, selalu merindumu dan jauh, selalu tak memahami kesejatian yang kau cari, tetapi sepertimu, aku tahu kan kupahat hidup dari hidupku, sebagai gugusan cahaya atau sebagai pagi dengan bantal tidur yang kukira kau menyebalah padaku meski kutahu saban petangku menjadi ingatan padamu, masih terus kukira kebun bunga itu memekarkan wangi aroma rambutmu, kebun bunga di punggung rapuhmu yang memahat batu-batu yang kau kira kabut mendung dan kau singkap kelambu kelamnya agar menjadi aku.

Kau tahu aku kini di bawah lampu lampu berwarna aneh dengan segalas kopi dan seorang asing yang mengira aku lukisan tanpa warna dengan matanya menatapku sebagai gadis kecil dengan pipi yang senja atau rambutku yang malam dengan keheningan serupa tiap kali aku mengeja rambutmu yang malam waktu itu. Apa itu kau?

Kini biar kupahat bebatuan itu menjadi kali-kali dalam jiwaku sendiri, kau tahu ia akan mengalir sampai juga padamu. Aku ingin sepanjang malam ini mengeja langit dan melihatmu menatapaku, tapi segelas kopi pesananku datang, dan aku masih gadis kecilmu yang dulu, hanya saja kau tahu, aku mungkin akan mengerti sekarang, kenapa kadang kau tertidur terlalu larut hanya untuk melihatku lelap—diam diam merindukanku meski aku menyebalah di antara bantal tidur dan sajakmu yang laut. (*)

30 November 2020

SABIQ CAREBESTH pecinta puisi, editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

6 Rahasia Kebahagiaan Hidup

mm

Published

on

From 6 Secrets to a Happier Life by EMMA SEPPÄLÄ | The following story is excerpted from TIME’s special edition, The Science of Happiness.

by EMMA SEPPÄLÄ | penerjemah Mitha Pricilia

Meskipun kamu adalah seorang desainer web, guru, petugas kebakaran atau perwira tentara, kamu dianjurkan untuk tetap mencentang hal-hal yang perlu kamu kerjakan, mengumpulkan keberhasilanmu dan fokus akan usaha di masa depan. Akan selalu ada sesuatu yang membuat kamu lebih maju di dalam pekerjaan; sebuah pekerjaan tambahan atau tanggung jawab yang dapat kamu ambil, mengambil pembelajaran yang bisa kamu kerjakan untuk mendapatkan promosi atau mempunyai investasi yang bisa kamu gunakan sewaktu-waktu. Akan selalu ada kolega kantor yang membuat kamu bekerja lebih lama, menunjukan kalau kamu seharusnya bisa berkerja lebih banyak. Dan membuat kamu bekerja lebih lagi untuk mencapai tujuan mu, atau sekedar mengejar hal-hal yang perlu kamu kerjakan di dalam daftar ambisiusmu.

Kenapa? Karena kamu hidup dengan anggapan sebuah teori yang mengatakan bahwa jika kamu ingin sukses, kamu harus terus meneruskan pekerjaan hingga selesai dan segera beralih dan melanjutkan tujuan lain secepat mungkin. Pikiran kamu selalu berada dalam pekerjaan selanjutnya, pencapaian selanjutnya, dan siapa pribadi yang harus kamu ajak berbicara. Selama proses tersebut, kamu mengorbankan rasa hadir dalam keadaan sekarang, menahan rasa negatif yang dirasakan dan stres yang berlebihan, dimana kamu percaya bahwa semua ini akan terbayarkan. Akibatnya, kamu terjebak dalam kecanduan kerja yang membuatmu panik dan cemas. Kamu mungkin sekarang sedang bertanya pada diri kamu sendiri, “Apa yang sekarang saya lakukan untuk membantu meraih tujuan masa depan saya?” Jika sekarang kamu tidak bertanya hal tersebut pada dirimu, mungkin manajer, pasangan, atau teman kantor kamu sedang menanyakan hal tersbut. Dan jika jawabannya “tidak ada”, kamu akan merasa bersalah. Dan dengan demikian kamu tetap perlu melanjutkan sesuatu untuk memperbaiki diri kamu.


6 Secrets to a Happier Life by EMMA SEPPÄLÄ
 
In The Happiness Track, founder of Fulfillment Daily and science director of the Center for Compassion and Altruism Research and Education at Stanford University Emma Seppälä draws upon the latest scientific research on resilience, willpower, compassion, positive stress, creativity, and mindfulness to reveal the connection between happiness and success, and how to achieve both. Featuring practical strategies we can use in our daily lives, The Happiness Track will show you the fulfilling, rewarding, and anxiety-free life that is within your reach.

Kamu terjebak dalam keharusan untuk meneruskan pencapaian, selalu ….

Kamu belum sempat menyelesaikan satu pekerjaan sebelum pikiran kamu sudah berada pada pekerjaan selanjutnya. Kamu berkerja keras untuk membersihkan daftar tugas mu dan kemudian saat itu juga mengisi kembali daftar tersebut. Kamu mungkin sedang mengerjakan sebuah presentasi atau artikel, namun pikiran mu sudah berada dalam topik yang ingin kamu kerjaan selanjutnya. Walau sedang di rumah, ketika kamu sedang mencuci piring, namun pikiranmu sudah membuat daftar pekerjaan yang ingin kamu selesaikan.

Kecenderungan untuk fokus akan penyelesaian pekerjaan, betul, ini bukan masuk dalam kategori negatif – pencapaian adalah hal yang bagus! Namun ketika semua orang memeriahkan pandangan akan setiap menit itu adalah sebuah peluang untuk meraih sebuah pencapaian dan kemudian terus melanjutkannya, kamu terjebak akan sebuah prespektif tersebut dan tidak bisa berhenti untuk bertanya apakah hal ini baik untuk dirimu atau tidak. Dan bisa jadi kamu membanggakan dirimu akan kemauanmu sendiri.

Namun masalah datang ketika kita tetap menunda kebahagiaan kita yang menyerupai menyelesaikan banyak pekerjaan yang kemudian membuat kita bahagia kemudian – atau yang sebagaimana anggapan kita. Proses penundaan ini bisa berlangsung hingga selamanya, menjadi gila bekerja, dimana akan merusak kesuksesaan dan kebahagiaan yang selama ini kita cari.

Alasan dibalik kenapa kita sangat terikat dengan menyelesaikan pekerjaan adalah karena kita percaya bahwa ada sebuah hasil dari sebuah pencapaian – sebuah penghargaan atau tabungan yang lebih besar – pastinya akan membawa kepada hasil yang terbesar yaitu: kebahagiaan. Namun ternyata tidak. Kita memiliki ilusi terhadap sukses, ketenaran, uang – isi bagian kosong- yang kita kejar akan memberikan kita sebuah kepuasaan yang abadi. Kita sering berharap jika kita akan merasa bahagia ketika kita mendapatkan proyek ini dan itu. Sebagai contoh, kamu mungkin akan berpikir jika kamu bekerja seperti orang gila, kamu akan mendapatkan kenaikan pangkat yang kamu kehendaki dengan bayaran yang besar, dimana akan meredakan kegelisahan finansial di rumah., dan ketika kegelisahan itu hilang.. kamu akan bahagia. Namun ada masalah utama dengan selalu mencoba menyelesaikan sesuatu dan fokus akan hal selanjutnya: lakukan hal tersebut mencegah kamu untuk menjadi sukses seperti yang kamu inginkan dan mendatangkan malapetaka pada badan dan pikiran. Mungkin dari luar kita terlihat kita mempunyai semua itu, tapi dari dalam, kita sangat kelelahan, tidak menampilkan tingkat tertingi kita, dan merasa sengsara.

Secara paradoks, memperlambat dan mencoba fokus akan apa yang terjadi sekarang di depan mata kamu – hadir di saat itu juga daripada selalu memiliki pikiran untuk melakukan suatu hal selanjutnya akan membuat kamu lebih sukses. Ekspresi seperti “hidup saat ini” atau “carpe diem” terdengar klise, namun illmu pengatuan mendukung hal tersebut dengan baik. Penelitian menunjukan bahwa hadir pada saat ini – daripada fokus untuk terus melakukan apa selanjutnya – membuat kamu lebih produktif dan bahagia, bahkan, memberikan kamu sebuah kualitas yang dimiliki banyak orang-orang sukses miliki namun susah dipahami: kharisma.

Mengingat tuntutan jaman sekarang dan penyebaran teknologi, kamu pasti pernah satu kali merasakan pengalaman berbagai tuntutan pribadi dan profesional: kamu mungkin sedang di dalam pertemuan di kantor namun kamu juga sekaligus melihat pesan yang masuk dari tunanganmu, yang membutuhkan tumpangan untuk pulang ke rumah, atau kamu sedang menyelesaikan sebuah dokumen kerja sambil menanti-nantikan email dari klien secepat mungkin. Beberapa tempat kerja mengharapkan kamu untuk mengutamakan pesan masuk sepanjang hari. Walaupun ada kepentingan penting muncul, keterampilan mengerjakan pekerjaan ganda menjadi sebuah jalan dalam hidup. Kamu menjadi terbiasa mengecek telepon selagi bekerja, selagi menghabiskan waktu Bersama keluarga, dan bahkan ketika berada di gym dan selagi liburan.

Mengerjakan pekerjaan ganda bukannya membantu kita untuk mencapai banyak hal lebih cepat, sebenarnya membuat kita mengerjakan banyak hal dengan tidak baik. Ketika kamu mempertunjukan sebuah pekerjaan individu tanpa ada pembagian perhatian, kamu dapat mencapai sesuatu lebih efisien dan cepat sambil menikmati proses tersebut.

Ketika kita terjebak dalam mengerjakaan pekerjaan ganda atau disibukkan dengan hal selanjutnya yang kita harus garis di daftar tugas, bukan hanya membahayakan keterampilan kita, kita bisa membahayakan kesejahteraan diri. Ada satu penelitian menemukan, ketika banyak orang mulai terlibat dalam mediasi pekerjaan ganda (dari proses tulisan ke pesan elektronik), semakin kecendrungan tinggi tingkat kecemasan dan depresi. Jika kamu secara terus-menerus berada di dalam berbagai aturan, itu hanya membuat kamu secara natural merasa lebih stress dan kewalahan.

Di sisi lain, penelitian menunjukan, secara keseluruhan kita sangat menikmati aktifitas tersebut. Selain itu, untuk menjadi hadir sepenuhnya di waktu sekarang membuat kita untuk menyerap produktifitas yang sangat lengkap. Pikirkan waktu dimana kamu menghadapi sebuah proyek yang membuat kamu ketakutan. Kamu tahu itu membutuhkan banyak usaha; mungkin kamu tetap mengabaikannya. Begitu kamu mulai, meskipun – didorong oleh tenggat waktu- kamu menjadi sibuk dan pekerjaan proyek itu berjalan. Kamu menemukan suatu kenyataan bahwa kamu menikmati proses tersebut. Kamu menjadi sepenuhnya fokus dan produktif dengan tugas di tangan kamu. Daripada menjadi stress mengenai masa depan dan memiliki perhatian yang menarikmu dalam berbagai tujuan, kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan kamu bahagia.

EMMA SEPPÄLÄ, Ph.D. is the author of The Happiness Track: How to Apply the Science of Happiness to Accelerate Your Success and Science Director of Stanford University’s Center for Compassion and Altruism Research and Education. She also teaches at Yale University and consults with the Yale Center for Emotional Intelligence. She founded Fulfillment Daily and a frequent contributor to Harvard Business Review and Psychology Today.

Menurut sebuah penelitian dari 5.000 orang yang dibuat dari seorang psikolog Matthew Kilingsworth dan Daniel Gilbert dari Universitas Harvard, orang dewasa menghabiskan 50% dari waktunya untuk berada di situasi sekarang. Di sisi lain, secara mental, setengahnya kita berada di tempat lain. Selain itu, untuk mengukur pengembaraan pikiran seseorang, para ilmuwan mengumpulkan informasi mengenai tingkat kebahagian. Mereka menemukan bahwa ketika sedang berada di momen sekarang, kita berada dalam kebahagiaan, apapun yang sedang kita kerjakan. Di sisi lain, walaupun kita sedang terikat di aktifitas yang sering kita temukan tidak mengenakan, kamu dapat lebih bahagia ketika kamu 100% mengkonsumsi aktifitas tersebut dibandingkan ketika kamu berpikir mengenai hal ketika sedang mengerjakan hal tersebut.

Kenapa keadaan saat ini membuat kita bahagia? Karena kita penuh mengalami hal-hal yang sedang berlangsung di sekitar kita. Daripada terjebak dalam perlombaan untuk mencapai banyak hal dengan cepat, kita pelan-pelan dan benar-benar bersama orang-orang saat itu, tenggelam dalam ide-ide yang sedang didiskusikan dan sepenuhnya terikat di proyek tersebut.

Dengan berada di keadaan sekarang, kamu memasuki keadaan dimana alur akan menjadi lebih produktif dan menjadikan kamu lebih karismatik, membuat orang-orang disekelilingimu merasa dipahami, dan didukung. Kamu akan memiliki hubungan yang baik, dimana salah satu prediktor terbesar akan kesuksesan dan kebahagiaan.

1.    Bawa Pikiranmu Kedalam Waktu Sekarang

Membawa pikiranmu kembali pada waktu sekarang akan terlihat menakutkan. Namun harus dihadapi – itu tidak akan mudah untuk membatalkan kebiasaan yang kamu miliki selama bertahun-tahun. Langkah pertama adalah kesadaran.

Ketika kamu sadar bahwa pikiranmu akan menuju ke masa depan-orientasikan pikiranmu, kamu dapat memilih untuk tidak mengikuti kereta pikiranmu-sebagai gantinya, kamu dapat menyenggol pikiranmu untuk kembali ke waktu sekarang. Misalkan kamu sedang bekerja di mejamu, bermain bersama anakmu atau sedang makan malam dengan tunanganmu, kamu sadar pikiranmu sedang berada di tempat lain. Tentu saja, ini bukan hal pertama ketika pikiranmu mengembara dari waktu sekarang, namun ketika kamu secara sadar observasi pola ini, ini dapat menjadi sedikit menganggumu. Kamu mungkin dapat memiliki pikiran seperti, “wow, disini saya bersama orang yang ku sayangi dan aku tidak dapat fokus kepada mereka sama sekali.” Namun kesadaran adalah kunci pertama.

Coba untuk reorientasi perhatian penuhmu pada apa yang sedang terjadi di depanmu. Latihan ini tidak akan mudah pada pertama kali, seperti melatih otot, kamu dapat memperkuat kemampuanmu untuk tetap berada di waktu sekarang seperti mengulang terus latihan tersebut. Seperti mempelajari sebuah olahraga, butuh latihan. Jadi dengan mengikuti lima pelatihan, dan ketika melakukan itu secara bertahap, dapat membantu mu untuk berada di waktu sekarang lebih mudah.

2.    Merasakan Kecepatan Teknologi

Salah satu olahraga terhebat sekarang ini dan memberikan kebahagiaan ialah menghabiskan setengah hari atau satu hari penuh dengan teknologi tercepat, ideal di alam, tanpa jadwal. Dan yang berarti tanpa waktu layar. Sama sekali. Biarkan pikiranmu istirahat dan santai. Ambil berjalan tanpa tujuan. Merenungkan langit. Mungkin pada awalnya, kamu akan merasakan cemas dan gelisah karena kamu tidak biasa untuk tidak melakukan apa-apa. Ini hanya sebuah fase. Pikiran kita butuh waktu untuk menetap. Kamu dapat belajar untuk melemaskan pikiranmu. Kualitas hidupmu dan pekerjaan bergantung kepada itu.

Menjadi ambisius dan memiliki tujuan itu penting. Untuk dapat benar-benar mencapai tujuan dalam kemampuanmu yang terbaik, sebaiknya, kamu harus mencoba untuk berada di waktu sekarang. Berada di waktu sekarang membuat kamu menemukan rasa terpenuhi di situasi saat itu, sementara di sisi lain, daripada berada di masa depan yang jauh, setelah kamu sudah mencapai banyak hal dan mengerjakan semua tugas kamu yang berada di daftar.

Ketika kamu pelan-pelan dan 100% fokus pada tugas yang sedang kamu kerjakan atau sedang bersama orang, dan semua hal akan menjadi lebih cerita, bahkan ketika yang dikerjakan adalah hal yang tidak biasa. Kebahagiaan tersebut berubah dan mengarah dirimu pada kinerja yang lebih baik, menjadi lebih produktif, menjadi karismatik dan membangun hubungan yang lebih baik.  

3.    Cobalah sebaik mungkin untuk secara sadar berada pada waktu sekarang

Mulai dengan olahraga selama 10 menit. Contoh, jika kamu sedang menyelesaikan presentasi menggunakan Power Point atau sedang mengisi pembayaran pajak, kamu dapat memberikan pengelaman pada dirimu sendiri dengan memberikan perhatian penuh dan lihat hasilnya. Gunakan kegiatan ini untuk kesempatan kamu dalam melatih perhatianmu. Kamu mungkin akan menemukan bahwa, kamu mulai menyukai itu. Perhatikan bagaimana rasa gatal pada tanganmu ketika perhatianmu terganggu untuk ingin berlesancar di internet atau memeriksa telepon genggammu dan latih fokusmu.

Diluar dari pekerjaan, ambil waktu untuk melihat matahari terbenam, menyisir peliharaanmu atau berbelanja tanpa mengetik pesan, berbicara di telepon atau menyibukkan diri kamu dengan rencana lain di waktu yang sama. Semakin kamu berlatih untuk berada di waktu sekarang dengan aktifitas kamu, semakin kamu membuat diri kamu terbiasa dengan hadir di waktu sekarang. Ini bukan tentang, seberapa cepat kamu memotong sayuran atau seberapa cepat kamu dapat menyiapkan makan malah di waktu bersamaan. Ini mengenai memotong itu sendiri: temukan kenikmatan dalam memotong sayuran secara rata, sebagai contoh. Perhatikan setiap detailnya. (*)

Artikel Lengkapnya akan rilis dalam edisi kedua Book Coffee and More Magazine Vol II “Melawan Upaya Upaya Penyederhanaan”

___

From the book The Happiness Track: How to Apply the Science of Happiness to Accelerate Your Success, by Emma Seppälä, Ph.D. Copyright © 2016 by Emma Seppälä. Published by arrangement with HarperOne, an imprint of HarperCollins Publishers. | SEPPÄLÄ | The following story is excerpted from TIME’s special edition, The Science of Happiness.

Continue Reading

Trending