Connect with us

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending