Connect with us

Puisi

Dalam Tungku Waktu Sajak-Sajak Membakarku

mm

Published

on

I

Angin dari ujung waktu

Menyergapku—oleng aku

Oleh hampa

Luruh dalam waktu

 

Hanya dentang lonceng

Membawaku pada segala berlalu

Jembatan fana yang menghubungkan derita

 

Dalam sendiri kini kupagut

Cinta yang maha…

 

Lagu-lagu mengalun

Menghilangkan bahasa

Dari tiap jengkal sisa jiwa

Hanya bunyi-bunyi tersunyi

Menyergapku dalam ria tanpa umpama

 

Dewa-dewa dan dewi-dewi

Menaburkan daun-daun asmara

Membungkus sukmaku yang telanjang

Aku beringsut seakan tenggelam

Dalam lautan paling jauh

 

II

 

Kutunggu kapal-kapal berlabuh

Kapal-kapal kekosongan

Yang tersesat dari dermaga

Didorong angin dari ujung waktu

Buat menyusulku kembali

Menjemputku pada derita sehari-hari

 

O betapa takut sukmaku

Terdampar dalam riuh kota

Yang dindingnya terbuat dari sajak palsu

Dari para penyair yang sibuk

Memantaskan diri dalam bianglala

Sementara lampu-lampu kota

Telah jadi kesepian

Ditinggalkan para penyair

Dilupakan para pelacur kota

Entah ke mana mereka…

 

Aku sendiri telah lupa

Cara bicara dengan lampu-lampu kota

Sejak berumah dalam dingin AC

Gorden-gorden dirapatkan

Jendela dimatikan

Tak serintik pun lembab hujan

Dapat kujadikan kanvas

Untuk melukis kehilanganku

 

III

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Telah berganti menjadi gambar belaka

Maka dengan kepedihan kumakamkan

Rembulan dan gemintang dalam pikiranku

Kutaburi dengan kembang kemuakkan

Aku terjatuh pada rasa iba

Pada hasrat manusia kota

 

Seperti air terjun gemuruh dimataku

Sukmaku terlempar

Dalam pusaran keriuhan

Beserta segenap omong kosong

Yang tak satu kembang pun

Tumbuh mekar karenanya

IV

 

Dari sunyi ke sepi

Orang-orang berlari

Aku tertinggal sendiri

Duduk di kursi sunyi

Ragu buat turut berlari

Menuju entah

 

V

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Kuhunus sajakku

Jika mungkin kan kubelah sunyi

Yang ditinggalkan penyair musim

 

Kesunyian adalah buah anggur

Atau kursi dari kayu eboni

Di malam perjamuan, atau

Lampu-lampu di jembatan New York

Atau sedu bocah kecil

Yang mengira ibunya pergi dengan terluka

 

Tapi taka da kesunyian di New York

Tak ada sunyi dalam perjamuan

Atau dalam anggur khayalan

Yang telah berganti menjadi sorgum—

Tak ada kesunyian dalam tangis bocah lelaki

yang kalah main gundu

Kesunyian telah dibawa lari

Oleh Don Quixote—

Tapi bukan oleh kudanya.

 

“Kesunyian selalu berlari sendirian

Membelah lautan terjauh

Dalam bola mata para pecinta

Yang ratapnya menjelma kuda-kuda

Dan rindunya menerbangkan rajawali

Ke dalam ruh orang-orang terhukum

Mesti menanggung ganti

Dari tiap jengkal jantung Prometheus.”

 

VI

 

Aku sudah menunggu tiga hari

Ketika langit hilang warna

Pucat seperti kesunyian yang terabaikan

Tapi kulihat rambutmu berwarna kemerahan

 

Kukira… tapi itu telah jauh sekali

Aku tak ingin mengatakannya

Tapi coba lihat dalam jiwaku

Segala telah kukuburkan hari ini

Kau yang membunuh segala yang kanak-kanak

Dan aku dalam kegugupan

Menghadapi surga dan neraka tanpa perjanjian

 

VII

 

Lalu pada punggungmu kurebahkan amarahku

Kota-kota marah—atau memendamnya

Di antara omong kosong dan lampu malam

Siapa begitu perduli pada lukanya jiwa?

 

Kita terbenam pada segelas kopi

Terisi penuh oleh dendam

Tapi ada kekasih jiwaku

Mengajakku pulang dari rasa muak

 

Tapi sungguh aku ingin pergi

Menyusuri sungai dalam belantara sepi

Seolah di sana kita telah pergi begitu jauh

Seolah kita kelana dalam dunia kabut

Di mana batu-batu berlumut

Dan harimau paling ganas—

Sama mengadu tentang kesunyiannya

 

Tapi aku hanya tergolek dalam kamarku

Menunggu subuh yang dingin

Subuh yang suci—berumur hanya sejenak

Dari deru pertama kereta;

Segera memboyong derita dari peraduan

Melemparkan setiap orang ke dalam

Ruang-ruang paling terasing

Untuk kembali membisu

menahan derita sendiri-sendiri—

Seperti subuh yang suci.

 

VIII

 

Kini seakan dermaga terbelah cahaya pertama

Seekor burung tergagap dari ingatan-ingatan

Tentang wadag nun jauh

 

Aku menepi dari tengah gelombang

Dengan perahu yang terbuat dari sajak derita:

 

“Kita telah terkutuk wahai penyair,

Siapa masih peduli pada burung-burung?

Juga pada penyair?

Kita lelah memeluk gelombang

Menerjang malam hanya untuk

Kesunyian yang asing—

Tapi orang-orang lelap

Mengubur dunianya sendiri

Hanya untuk berlari, mengejar kereta pagi

Atau berebut saling melewati

Untuk sampai pada segala benda-benda

Mereka tak mengerti omong kosong

Atau merayakan kesia-siaan, lantaran

Mereka tak punya impian apa pun

Kecuali gaji bulanan, yang segera berganti rupa

Menjadi hiburan atau kepandiran.”

 

O betapa pandir para penyair?

Mengira surga seperti taman paling sepi

Bagi hasrat yang berlari

 

O malam yang lain kembali

Seakan kita terjebak lagi

Dalam keterpisahan yang jauh

Kita duduk lagi, lalu berusaha

Menggambar kengerian

Kengerian yang rapuh

Kerapuhan yang halus

Seperti aroma kopi;

Lalu segala jadi sepi;

Seperti angin dingin kala subuh suci.

 

IX

 

Dari lembah-lembah Merapi dalam ingatanku

Kabut dan dingin;

Orang-orang bicara pada rumput dan ranting

Pada sepi dan anjing

Mereka bicara pada diri sendiri

Seakan Tuhan tengah

Menatap dari balik kabut, menjelmakan

Dingin dan juga sepi—

 

Tak ada lagu-lagu atau balada

Segala yang hidup, hidup dalam sunyi,

Cahaya mentari adalah waktu

Senja berwarna merah tomat

Adalah penanda musim bercinta

Bagi lelaki renta dan perempuan senja usia;

Keduanya duduk menghadap tungku

Api membakar; kayu membakar

Jiwa-jiwa terbakar

Mereka dalam batas-batas terdekat

Dari kehidupan dan juga kematian—

Cinta begitu dingin

Asmara alangkah hangatnya

 

Sementara gelap telah menjadi gelap

Aku menghisap sebatang rokok

Seketika menjadi seonggok dingin

Membeku, aku menjadi kabut menjadi dingin;

Aku mencari lembah di antara bayangan dadamu

Seketika seakan dingin dan api

Tiada berbeda, dalam dadaku

Kehilangan-kehilangan membakarku.

 

Aku telah berlalu dan tak pernah kembali lagi

Kabut dan dingin, tungku api dan rindu yang purba

Tarian debu dan ranting-ranting

Kesunyian di antara hutan jati dan

Sungai paling sunyi—kubawa serta

Kupikul di pundakku: seperuh kesedihan

separuh tarian paling ceria, seakan tida beda

Bagi hidup yang terus menjauh…

 

X

 

Di depanku kini segelas kopi

Atau tuak—

Setiap kali hanya membenamkan

Ingatan yang kureguk

Di antara lagu-lagu disko atau

Bunyi klakson yang menghancurkan

Setiap kesunyian—

Lagu-lagu tentang waktu

Yang tak bisa kumengerti

Aku duduk sendiri;

mencarimu dalam kabut di dadaku

Lalu kutemukan kau

Di antara waktu; kita duduk bersama

Di antara lampu-lampu yang kau sukai

Segelas air putih dan gelak tawa

Aku memastikan diri, bahwa

Kau akan juga mengajakku pulang

Sebab jika tidak aku akan lagi

Terpelanting dalam kabut dan dingin

Tertinggal sendiri—tersesat di antara

Belukar rasa bosan dan sungai-sungai

Yang hanya berupa bayangan:

 

Lelaki tua dan perempuan senja usia itu

Memandangku kembali dari kejauhan

Seperti bayangan-bayangan atau hanya ingatan;

“Setiap jiwa memendam lukanya;

Seorang memilih pergi, yang lain tinggal

Itulah kenapa kita menyalakan tungku

Sendiri-sendiri membakar kengerian

Sebab hanya dalam sunyi

Luka-luka menjadi kembang

Yang mekar dalam kabut dan dingin

Sisanya sepi…”

 

Kabut menelan hamparan cerita

Habis juga pandangku

Kunyalakan sebatang rokok

Meraih tanganmu yang dingin

Sepanjang jalan di Jakarta

Tak ada kabut dan dingin

Lalu kupandangi bola matamu

Aku tersesat lagi…

 

Sabiq Carebesth | Kalibata, 10-14 Juni 2016

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Cerita Pedagang Buku

mm

Published

on

Dia telah memimimpikannya begitu lama sejak ia tahu kata-kata telah membuat kekasihnya jatuh cinta; tidak ada impian lainnya, ia hanya ingin berkisah tentang hari-harinya bersama kata-kata—di sanalah dunia sungguh-sungguh nyata, dengan kemurnian yang entah di mana orang-orang dalam kata-kata menjelmakan dirinya yang asli sekalian sunyi; berkisah tentang diri mereka sendiri yang mengurung diri di kamar pengap dalam jiwanya yang lagut; tanpa bekal tidak juga tujuan. Sungai-sungai, gurun, senja dan lautnya, membeku dalam kamarnya; di dalam kata-kata miliknya, orang-orang itu memendam rindu; mengubur cinta dan lukanya; tentang seseorang yang mereka mengira sebagai surga; tetapi lantas seperti surga—Ia tak pernah nyata meski ada.

Kehadiran demi kehilangan berlaku sebagai peristiwa beku. Hingga jendela kamarnya terbuka dan di luar sana tak ada sesiapa, maka ia bertanya: apakah ini kehidupan? Tapi ia telah memimpikan sejak begitu lama: sejak kakasihnya mencintai kata-kata. Dan ia  telah mengira betapa bahaya cinta yang melarung di atas sampan kata-kata; ia rapuh dan terbelah, sekali akan terbakar dan seluruh luruh, jadi abu, hening dalam kedalaman sunyi laut mati. Asapnya akan mengepul perlahan; memadamkan nyala kerinduan yang dulu menghangatkan. Sungguh malang saat segala tak ingin dikenang; tapi kata-kata rupanya tidak terbakar atau hancur, sebab ia tinggal jauh di dinding kalbu, yang terbuat dari waktu; dilekatkan oleh sunyi yang saban pagi kembali tetapi setiap kali meresmikan diri sebagai masa lalu. Lalu suatu pagi ia berhenti mencintai kata-kata.

Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor. Sajak ‘Cerita Pedagang Buku’ akan terbit dalam kumpulan sajak terbarunya ‘Samsara Duka’ (Galeri Buku Jakarta, Juni-Juli 2020). Penyair Afrizal Malna dalam prolog untuk Samsara Duka menulis: “Puisi Sabiq Carebesth menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis.
Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan”.

Semua kata-kata menjadi sama saja, mengaduh dalam peperangan sunyi tentang dirinya sendiri—untuk memenangi nama-nama dari keterbelahan antara waktu dan nafsu—dan ia berhenti menghunus senjata; ia hanya ingin menjadi pedagang buku.

Seorang yang serupa kekasihnya dahulu menghampiri; “Sudah berapa petang kau menungguku? Apa aku seperti kekasihmu dahulu? Untuk apa menunggu bahkan bila kini aku datang padamu; aku tetap bukan kekasihmu yang dulu?”.

Sekali waktu aku hanya ingin kau tahu—jika saja kau adalah kekasihku yang dulu—bahwa cinta telah merebahkan bayanganmu; kaku dalam kalbuku, dan dengan itu aku menunggu. Tahu kau sekarang bahwa aku tak pernah benar-benar menunggu—sebab kepergianmu tak pernah nyata bagiku. Pergilah jika kau masih juga tak memahami segala yang kucari dalam dirimu; cintaku sendiri. Di mana kita telah memilih dari yang lain kala itu, jiwa kita pada petang hari itu jika saja kau ingat, kau tahu betapa indah untuk tahu bahwa jiwa kita dimiliki, dan ada seorang yang menanti? Meski saban pagi tak pernah lagi kudapati tubuhmu yang sunyi dengan gaun tidur warna tanah basah—tak pernah lagi kau di ranjang lusuhku; tubuhmu yang ayu, nafasmu yang ragu, birahimu yang ngilu, lelap dalam rapuh—tetapi dulu, semua itu milikku.

Sekali malam kita sudahi, segala yang tak lagi sanggup kita miliki; meski kutahu tatapan itu dulu dan kini selalu untukku. Saban malam kau cari bayangku, kau peluk luka dukaku, jiwaku menyelinap di antara payudaramu; tempat abadi jiwaku yang kanak-kanak. Oh Tuhan, sudah berapa abad waktu membeku—kini di halaman terakhir bukuku; kutuliskan sekali lagi nama kekasihku dan namaku—sejak kali itu aku tak menulis apa-apa lagi.

Kini aku hanya pedagang buku, saban petang kularungkan buku-buku kegemaranmu, di telan gelombang, hanyut bersama ombak biru. Apa kau terima paket buku-buku itu? Selalu kutulis nama dan alamatmu: gadis jelitaku—di tengah laut biru di dalam mimpiku.  

Sabiq Carebesth

30 April 2020

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi H.P. Lovecraft

mm

Published

on

Misteri Hidup

Hidup! O, Hidup!

H.P. Lovecraft lahir di Providence, Amerika Serikat 20 Agustus 1890. Seorang penulis horor, fantasi dan fiksi ilmiah. Kredo dari Lovecraft adalah apa yang ia sebut sebagai “cosmicism” atau “horor kosmis”, gagasan bahwa kehidupan tidak dapat dipahami oleh akal manusia dan alam semesta bermusuhan dengan kepentingan umat manusia. Karyanya The Call of Cthulhu telah menjadi rujukan horor modern oleh berbagai penulis dunia dan telah diangkat ke berbagai produk budaya populer seperti komik, film dan serial televisi.

Apalah arti dari pertunjukan indah yang berpendar?

Apakah ingatan itu cepat berlalu?

Ia yang telah mati adalah kunci Kehidupan—

hilang sudah tanda, dalamnya liang kubur

Manusia adalah nafas, dan Hidup adalah api;

Kelahiran adalah kematian, dan paduan suara telah bungkam.

Peraslah keabadian jantung duniawi!

airmata dari utas tua

Hidup! O, Hidup!

Rumah

Ini adalah hunian yang dikelilingi hutan

          dekat dengan bukit-bukit,

     Di mana dahan pohon mengatakan

          Legenda ajaib yang sakit;

     Kayu terlalu tua

          Bahwa mereka bernapas dari kematian,

     Merayapi tanaman merambat, pucat dan dingin,

          Tumbuh dengan keganjilan;

Dan tak ada yang tahu nektar yang mereka sesap itu dari kebun lembap dan berlumpur

     Di kebun itu tumbuh

          bunga mekar yang alami,

     Bertukar pucat dengan tangkap

          wewangian di udara;

     Rupanya matahari sore

          Dengan sinar merah yang bersinar

     Sedang menenun warna buram

          Pada pandangan ganjil,

Dan pada aroma bunga-bunga itu berpendar hari-hari yang tak terhitung jumlahnya.

     Deretan rerumputan melambai

          Di teras dan halaman,

     Kenangan yang redup

          Dari hal-hal yang telah raib;

     Batu-batu jalan

          terhampar dan basah,

     Serta ruh garib mengintai

          saat matahari merah telah terbenam,

Ruh itu disesaki gambar samar yang akan ia segera lupakan.

     Di bulan Juni yang hangat

          Aku bertahan dengan itu semua,

     Saat terpaan surya di siang hari

          Berdenyutlah masa muda

     Rupanya aku menggigil kedinginan,

          Tebersit oleh kilauan,

     Pada sebuah gambar, kubuka gulungannya—

          Terpancarlah rupa usiaku

Menatap waktu sebelum kilat itu keluar dari malam-malamku yang berlimpah.

Arkade

-dengan kepala terangkat

O beri aku kehidupan di desa,

      Tanpa rintangan, bebas, dan jelita;

Tempat di mana semua seni berkembang,

      Grove Court dan Christopher Street.

Aku muak dengan kebiasaan lama,

      Dan kritik yang tak membangun,

Jadi bernyanyilah untuk ruang yang lapang,

      Biar estetikus bekerja dengan bebas.

Di sini setiap penyair adalah seorang jenius,

      Dan para seniman seperti Raphaels,

Lalu di atas atap Patchin Place

      Bakat-bakat itu terdiam dan merenung.

Sebuah Kota

Dahulu begitu cerah dan indah,

          Kota Cahaya itu;

     Sebuah wahyu ditangguhkan

          Di kedalaman malam;

Sebuah kawasan penuh keajaiban dan kemuliaan, di mana kuil-kuilnya seterang pualam.

     Aku ingat musimnya

          Terbit di pandanganku;

     Zaman edan tak beralasan,

          Hari-hari yang menumpulkan otak

Saat musim dingin berjubah putih dan pucat pasi, datang untuk menyiksa dan menggila.

  Lebih indah dari bukit Sion

          Memancar di langit,

     Ketika sinar Orion

          Menggelapkan mataku,

Tidur jadi dipenuhi memori kelam dan berlalu begitu saja.

 Di rumah mewah nan megah

          Dengan ukiran indah,

     Suasana tenang dan teduh

          Di sudut beranda,

Sekeliling taman harum dan keajaiban mekar di sana.

     Bulevar itu memikatku

          Pada lanskap luhur;

     Meyakinkanku dan membusur

          Pada suatu waktu

Aku berkelana dengan penuh kegembiraan dan bersukacita dalam damai.

Dari kejauhan, di alun-alun itu terpampang

          Patung-patung;

     Berjanggut panjang, berwibawa,

          Makam seorang lelaki di sebuah zaman—

Rupanya patung itu rapuh dan janggut pada wajahnya kian hancur.

     Di kota yang berkilauan itu

          Aku tak melihat manusia;

     Tapi itu fantastis, dan bersahabat

          Pada himpunan kenangan,

Dapat bertahan di alun-alun, dan menatapnya dengan penuh kekaguman.

     Aku menemukan bara yang mulai redup

          Bersinar dalam pikiranku,

     Dan berupaya keras mengingat

          Keabadian di masa lampau;

Untuk menjelajah tanpa batas, dan menuju masa lalu yang lepas dari kurungan

     Lalu peringatan menggetarkan itu

          Buat jiwaku menyatu

     Bagai pagi yang merisaukan

          Terbit spektrum kemerahan,

Dan dalam kegugupan aku melayang lewat dongeng mencekam yang terlupa dan hilang.

Ketika Menerima Gambar Angsa

Angsa yang melankolis dengan anggun termenung

Merapati makam delman yang tak beruntung;

Di kawanan rerumputan, pepohonan poplar menangis,

Kuncen dengan sabar merawat makam yang basah.

Seandainya kubisa, haruskah aku menggugat

Bapa surgawi, atau Yang Maha Mulia,

Ketika pernah berkibar begitu tinggi, lalu terempas jauh ke dalam

Menyambut Cygnus yang berduka dengan persembahan!

Kawanan burung dengan dungu masih berhamburan di udara

Merintih perih untuk terus menyanyikan sebuah ode.

Matahari Terbenam

Hari-hari tak berawan datang semakin dekat;

      Keagungan kencana mengendap di ladang;

Lintuh, mencuri bayangan dengan nyaman

      Untuk menenangkan daratan dan lautan.

Dan dalam pelita yang luhur, lembut dan permai,

      Ada jiwa yang jelita, kebahagiaan yang megah;

Melepaskan silau tengah hari, pemandangan nan indah

      Kian berkat dan rahmat di bumi dan langit.

Tak lama pelita paling luhur itu memahkotai masa mudaku,

      Atau kilau paling terang merawat belukar itu,

Senja mengental, dan nampak adegan kilat

      Meninggalkan kenangan akan sucinya cinta!

____

Referensi dan Biodata

1. Misteri Hidup diterjemahkan dari Life’s Mystery

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p353.aspx

2. Rumah diterjemahkan dari The House

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p181.aspx

3. Arkade diterjemahkan dari Arcadia

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p337.aspx

4. Sebuah Kota diterjemahkan dari The City

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p184.aspx

5. Ketika Menerima Gambar Angsa diterjemahkan dari On Receiving a Picture of Swans

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p051.aspx

6. Matahari Terbenam diterjemahkan dari Sunset

Sumber: http://www.hplovecraft.com/writings/texts/poetry/p124.aspx

Selain dari tautan tersebut, puisi-puisi tersebut juga terdapat di buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) yang dikumpulkan dan disunting oleh S. T. Joshi.

Penerjemah:

Galeh Pramudianto, kelahiran 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari buku To a Dreamer: Best Poems of H. P. Lovecraft (Necronomicon Press: 2019) by S. T. Joshi oleh Galeh Pramudianto. Ia bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya “Asteroid dari Namamu” (2019) menerima beasiswa penerjemahan dari Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud.

Continue Reading

Puisi

Sabiq Carebesth: Samsara Duka

mm

Published

on

Kirab malam dengan panji-panji hitam di malam larut dan hujan dengan lolongan serigala berusia berabad yang terkutuk oleh nasibnya sendiri sebagai penjaga gerbang sunyi antara malam dan larut; onggokan jiwanya telah melihat cahaya dan mentari terindah yang tak mungkin lagi jadi bagiannya.  Ia telah tahu ke mana kembara—hanya berujung laut mati bagi matanya: ia telah tahu kelana hanya memperpanjang usia duka—tetapi tinggal tiada siapa juga datang—tidak duka tidak cintanya yang dulu, waktu telah memasungnya sebagai tugu peradaban dalam lalu lalang keriuhan. O hendak bagaimana ia tuju lautan dalam jiwanya? Embun dan kabut, terik dan sunyi tak akan menjelmakan apa-apa, sungai-sungai kering, danau-danau bisu, dan gunung-gunung hanya lintasan beku, sedang malam penuh rembulan; dan tak satu lagu pun dapat dikenang. Jiwanya akan mati sebagai penjaga malam dengan lolongan timur dan barat yang gemanya menari-narikan angin, dan pohon-pohon purba sama birunya dengan lumut-lumut waktu yang tak lagi bisa ditakar; usia kerinduan yang telah jadi abadi dalam kefanaan saban hari; begitulah akhir cerita semua cinta sejati; membenam dalam kepurbaan, menjadi langit dan gemintang, perjalanan dan duka cinta, genangan kenangan tentang ranum bibir belia, dan pipi merah jambu yang terbakar terik mentari pertama di laut timur, atau payudara yang bercahaya atau botol-botol bir di redup hotel-hotel, jendela kereta, tempat-tempat dan kesunyian yang tak sempat dikunjungi atau apa saja dalam segala rupa samsara yang tak mungkin dimiliki kecuali dukanya; atau segala rupa panji-panji hitam waktu yang tak mungkin diulang Kembali; sebagai gelak tawa atau percumbuan penuh duka yang mengantar kita ke puncak kekosongan. (*)

__

Jakarta, 28 April 2020

Sabiq Carebesth

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending