Connect with us

COLUMN & IDEAS

Ciri Khas Etika Politik Peter L. Berger

mm

Published

on

Ciri Khas Etika Politik Peter L. Berger[1]

Oleh: Johannes Miller

 Etika politik ini juga tidak mengenal suatu pemecahan jitu dan definitif untuk masalah-masalah yang dihadapi. Keadaan penderitaan harus diperbaiki tetap dan langkah demi langkah. Maka dari itu, pembangunan selalu berupa suatu proses terus-menerus yang tak kunjung habisnya. Dibelakang pengertian ini terdapat kesadaran realistis bahwa penderitaan manusiawi kiranya tak pernah bisa diatasi secara tuntas dan penuh, sekurang-kurangnya menurut batas-batas jangkauan penglihatan kita. Malahan harus diakui bahwa usaha-usaha kita sungguhpun beritikad baik, tak jarang secara tak terduga melahirkan penderitaan dalam bentuk baru. Kesadaran ini tentu saja tidak boleh dijadikan dalih untuk berlepas tangan, melainkan justru memungkinkan kritik dan koreksi yang tetap dan cepat terhadap segala usaha membangun.

  1. Pendekatan etika politik yang diajukan dalam Pyramids of Sacrifice didasari oleh suatu filsafat manusia atau pengertian antropologis yang sungguh memusatkan segala perhatian pada manusia seutuhnya yang konkret dan nyata. Titik pangkal dan ukuran penilaian seluruh uraian Berger adalah manusia yang menderita, baik dalam masa lampau maupun dewasa ini, karena kebutuhan-kebutuhan fisik, psikis, kognitif, dan sosial dikorbankan demi tujuan-tujuan lain. Manusia yang diperalatkan oleh kepentingan ideologis dan politis. Implikasi dari pengertian antropologis ini adalah imperatif etis bahwa manusialah yang selalu harus menjadi pusat dan tujuan, subyek dan pengemban dari segala usaha pembangunan.
  2. Dengan demikian, etika politik tersebut memang bercorak “ realistis-utopis“. Segala cita-cita untuk yang melayang-layang dan didengung-dengungkan saja dielakkan. Cita-cita yang sering begitu luhur sehingga dijadikan dalih untuk tidak berbuat apa-apa. Ataupun sebaliknya, cita-cita yang tak jarang begitu dimutlakkan dan di”mitos”kan sehingga hanya bisa diwujudkan dengan paksaan dalam suatu sistem politik totaliter, di mana elite yang berkuasa sebagai “barisan depan” (vanguard)) memperbudak manusia demi cita-cita tersebut. Bagi manusia yang lemah tak ada tempat dalam sistem itu. Lain sekali pendekatan Berger yang bertitik tolak dari kenyataan penderitaan dan bercita-cita memperbaiki nasib orang yang menderita itu sedapat mungkin. Suatu utopia yang justru ditemukan dalam realitas.[2] Suatu realisme yang barangkali bahkan bisa disebut rendah hati.
  3. Dalam etika politik semacam itu, perbuatan nyata dan pelaksanaan (praxis) merupakan faktor yang sangat strategis. Yang akhirnya menentukan ialah keterlibatan dan tindakan yang konkret-praktis untuk mengurangi dan mencegah penderitaan manusia sekarang ini. Pengertian tentang praxis ini mempunyai bobotnya sendiri. Tindakan-tindakan praktis sering dipandang sebagai pengeterapan dari teori ataupun pelaksanaan dari apa yang direncanakan lebih dahulu. Namun, pandangan itu kurang tepat. Baik teori maupun perencanaan tak mungkin mengantisipasi segala sesuatu yang dihadapi dan perlu ditangani dalam kenyataan. Sekalipun kedua faktor ini mempunyai  fungsi penting sebagai kerangka acuan, namun praxis tak pernah bisa diturunkan secara langsung dari situ. Tindakan-tindakan praktis selalu harus ditanggapi pada tantangan-tantangan penderitaan yang baru nampak kalau usaha-usaha untuk mengatasi penderitaan itu sudah sedang dijalankan. Justru disini menjadi kentara bahwa manusia sendirilah yang harus berperan sebagai subyek dan pengemban segala pembangunan. Dengan perkataan lain, peranan khusus dari praxis merupakan suatu tuntutan etis-politis yang didasari oleh analisis sosiologis.
  4. Etika politik ini juga tidak mengenal suatu pemecahan jitu dan definitif untuk masalah-masalah yang dihadapi. Keadaan penderitaan harus diperbaiki tetap dan langkah demi langkah. Maka dari itu, pembangunan selalu berupa suatu proses terus-menerus yang tak kunjung habisnya. Dibelakang pengertian ini terdapat kesadaran realistis bahwa penderitaan manusiawi kiranya tak pernah bisa diatasi secara tuntas dan penuh, sekurang-kurangnya menurut batas-batas jangkauan penglihatan kita. Malahan harus diakui bahwa usaha-usaha kita sungguhpun beritikad baik, tak jarang secara tak terduga melahirkan penderitaan dalam bentuk baru. Kesadaran ini tentu saja tidak boleh dijadikan dalih untuk berlepas tangan, melainkan justru memungkinkan kritik dan koreksi yang tetap dan cepat terhadap segala usaha membangun.
  5. Pendekatan etika politik ini bercorak universal , dalam arti kata bahwa penderitaan atau “biaya-biaya manusiawi” merupakan ukuran penilaian yang berlaku dalam setiap kebudayaan dan oleh karena itu tidak terikat akan salah satu kebudayaan tertentu. Paling tidak dalam arti paling dasarlah ini, etika manusia bercorak tunggal dan tak terbagikan. Dengan demikian, dua bahaya yang dielakkan. Di satu pihak, bahaya relativisme kebudayaan atau nilai dalam bentuk mutlak yang menolak adanya unsur budaya yang berlaku secara universal. Di pihak lain, bahaya etnosentrisme yang mengartikan proses pembangunan secara berat sebelah sebagai tiruan pula perkembangan di salah satu kebudayaan atau negara yang dipandang sebagai model. Namun demikian, universalisme ini tidak berarti bahwa keanekaragaman dan keunikan masing-masing lingkaran kebudayaan harus dikorbankan. Justru sebaliknya diandaikan bahwa setiap bangsa dan negara harus mencari jalan pembangunan sendiri, dalam usahanya untuk menanggulangi segala penderitaan konkret yang dihadapinya.
  6. Dengan mengandalkan kriterium “biaya-biaya manusiawi” sebagai ukuran penilaian universal, maka akan menjadi kentara bahwa setiap kebudayaan bersifat ambivalen atau bermuka dua. Sebab dalam setiap kebudayaan terdapat unsur yang menghambat dan unsur yang membantu pembebasan manusia dari penderitaan. Hal itu telah dibahas sehubungan dengan peranan tradisi di negara-negara berkembang, yang di satu pihak memiliki nilai dan fungsi tak tergantikan, tetapi di pihak lain juga tidak boleh dimutlakkan atau dianggap tahu. Begitu pula, kriterium yang sama memungkinkan kritik yang cukup tajam terhadap perkembangan di negara-negara industri, yang di satu pihak memang sangat berhasil, tetapi di pihak lain juga melahirkan banyak penderitaan baru, seperti umpamanya nampak dalam hal perusakan lingkungan alam atau dalam gejala kesepian dan isolasi, yang mencekam kehidupan.
  7. Dalam pendekatan etika politik yang diajukan Berger sungguh-sungguh ada tempat bagi agama, dipandang dari beberapa sudut. Titik pangkal dan pusat seluruh etika itu adalah manusia seutuhnya dengan segala dimensinya, tak terkecualikan dimensi religius-transendental. Hal itu paling nampak berkenaan dengan hak manusia atas suatu dunia yang bermakna. Selain tradisi pada umumnya, faktor agamalah yang sangat berperan dalam mengartikan dan mengarahkan dan dengan demikian memberi makna pada kehidupan manusia, lebih-lebih di negara-negara berkembang. Dengan lain kata, agama bagaimanapun juga tidak boleh diremehkan begitu saja, sebagaimana ditandaskan oleh Berger pada banyak kesempatan lain juga.[3] Lagi pula, paling tidak semua agama besar yang bercorak universal mengajar bahwa manusia sebagai puncak pencitpaan tidak boleh dikorbankan begitu saja dan bahwa ia ditugaskan untuk meringankan penderitaan sesamanya. Jadi dari sudut isi ajaran agama-agama itu, juga terdapat keserasian dengan pendirian Berger. Malah bisa dikatakan bahwa tuntutan etis yang paling dasariah ini sekaligus merupakan ukuran untuk menilai bentuk-bentuk dan kegiatan-kegiatan konkret masing-masing agama. Jadi, suatu titik tolak untuk suatu bentuk kritik agama yang wajar, mengingat bahwa agama-agamapun bisa baik merintangi maupun mendorong pembebasan manusia dari penderitaan.
  8. Akhirnya, ukuran penilaian “biaya-biaya manusiawi” memungkinkan pula kesepakatan yang agak luas tentang tujuan dan sasaran-sasaran pembangunan. Kesepakatan itu sulit tercapai lewat suatu pendekatan positif. Konsensus dasariah semacam itu sangat penting dan bermanfaat buat segala usaha dan kebijaksanaan politik pembangunan, yang berhasil tidaknya sangat tergantung pada kesepakahaman dan kerja sama dari sebanyak mungkin orang.

Para Perempuan pejuang Agraria dari Kendeng dalam aksi protes mempertahankan Hak Agrarianya (2015)

Perwujudan dalam Kebijaksanaan Politik

  1. Hak-hak asasi manusia, yang akhir-akhir ini banyak disoroti lagi,[4]kiranya boleh dipandang sebagai salah satu penjabaran dari etika politik Berger. Hak-hak asasi itu sebaiknya jangan dilihat sebagai sejumlah tuntutan yang dirumuskan secara apriori atau diturunkan dari suatu teori atau filsafat tertentu. Dari sudut munculnya, hak-hak asasi itu kiranya lebih tetap dimengerti sebagai reaksi umat manusia atas sejarahnya bersama, yang merupakan suatu sejarah penderitaan korban-korban manusia yang tak terbilang jumlahnya. Dari situ timbul hasrat kuat bersama untuk menghentikan segala pemerkosaan manusia dan menyatakan dengan tegas apa yang menjadi hak setiap orang. Dengan perkataan lain, hak-hak asasi tersebut sebaiknya ditafsirkan menurut pola “dialektika negatif” sebagai imperatif-imperatis “jangan”. Dalam arti itu, hak-hak asasi manusia merupakan tuntutan-tuntutan universal dan bukan hasil buah pemikiran liberal di Barat.
  2. Di antara pendekatan-pendekatan pembangunan, model “kebutuhan-kebutuhan pokok”, yang sekarang ini semakin menonjol sebagai pengganti model-model lama,[5] kiranya paling searah dan sesuai dengan pendekatan Berger. Sebab model itu pun bertitik tolak dari apa yang kurang ada, padahal sangat perlu untuk hidup secara manusiawi, yaitu kebutuhan-kebutuhan pokok. Istilah kebutuhan saja sudah bernada negatif dalam arti bahwa istilah itu menunjuk pada kekosongan tertentu. Begitu pula, manusia konkret yang merupakan pusat perhatian model itu dan bukan suatu teori yang abstrak. Meskipun masih membutuhkan banyak pemikiran dan pengolahan lebih lanjut, namun pendekatan itu kiranya boleh dianggap suatu perwujudan dari gagasan-gagasan Berger.
  3. Dalam tesis kedua puluh satu dan kedua puluh dua, sehubungan dengan proses peralihan yang melanda seluruh dunia dewasa ini. Berger sangat menekankan perlunya suatu kerangka institusional-struktural yang sesuai dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi dan dengan demikian bisa menjamin kelangsungan hidup masyarakat modern.[6] Tuntutan itu menyangkut faktor yang sangat atau bahkan paling menentukan sehubungan dengan setiap kebijaksanaan politik, lebih-lebih di Dunia Ketiga, walaupun sering justru diabaikan. Sebab faktor tersebut merupakan mata rantai utama dalam perwujudan tujuan pembangunan ke dalam suatu kebijaksanaan politik yang sampai pada sasarannya. Kenyataan institutional-struktural masyarakat adalah bagaikan sebuah  prisma yang menentukan dan dengan demikian juga bisa membelokkan arah dari setiap tindakan pembangunan. Tak jarang dialami bahwa tujuan suatu program sangat tepat, tetapi hasilnya justru sebaliknya. Misalnya sehubungan dengan suatu politik pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan baik produksi maupun pendapatan para petani, tetapi dalam kenyataannya malah berakibat bahwa kesenjangan antara golongan kaya (petani bertanah luas, lurah, pedagang) dan rakyat biasa di desa (petani gurem, buruh tani) semakin besar. Keganjilan itu disebabkan terutama oleh suatu struktur institusional yang tidak adil dan sudah usang, seperti nampak, umpamanya, dalam pembagian milik tanah yang tidak merata, mekanisme panenan dan pemasaran yang dikuasai oleh sekelompok kecil, taraf pendidikan dan dengan demikian juga kesempatan informasi yang sangat berbeda, dan sebagainya. Kalau struktur institusional itu tidak dijadikan bagian integral dari kebijaksanaan politik, maka tak ada harapan bahwa “biaya-biaya manusiawi” dalam pembangunan bisa ditekan sampai serendah mungkin. Justru sektor tradisional dalam masyarakat dan dengan demikian massa rakyat yang tak berdaya selalu akan menjadi korban yang harus melunasi biaya tersebut.[7] Itulah kenyataan yang sekarang dibahas sebagai “kemiskinan struktural” ataupun “kemiskinan institusional”. Kunci buat pembangunan yang berwajah manusiawi kiranya ditemukan disini.

Kesimpulan

Buku Pyramids of Sacrifice tidak menyajikan suatu teori pembangunan yang baru. Apalagi suatu teori yang menyeluruh dan difinitif. Itulah juga bukan maksudnya. Maksud Berger ialah mengundang si pembaca untuk menaruh lebih banyak perhatian pada masalah-masalah etis-politis yang mau tak mau  tersirat dalam setiap usaha pembangunan, mulai dari proyek yang paling kecil sampai pada kebijaksanaan politik tingkat nasional maupun internasional. Dengan uraiannya yang sangat cermat dan masuk akal, Berger ingin mengajak si pembaca untuk betul-betul memperhitungkan “biaya-biaya manusiawi” dalam perubahan sosial raksasa yang sedang berlangsung di Dunia Ketiga. Sebab ukuran penilaian itu dengan segala segi dan dimensinya merupakan satu ujian bagi kesungguhan niat menjalankan pembangunan yang berwajah manusiawi.

Mengamati proses pembanguan di Indonesia yang mencita-citakan “Pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan Pembangunan seluruh masyarakat Indonesia”, namun dalam kenyataannya juga tidak luput dari “biaya-biaya manusiawi”, sebagaimana bisa dibaca tiap hari dalam koran, ajakan Berger itu memang sangat mengena. Uraian bukunya melontarkan banyak pertanyaan yang menunggu jawaban; Apakah ilmu-ilmu sosial sudah cukup memikirkan masalah premis-premis nilai? Apakah dalam politik pembangunan juga terdapat “mitos-mitos” yang perlu dibongkar? Siapa yang harus menanggung “biaya-biaya manusiawi”? Apakah hak atas makna terjamin dalam proses modernisasi yang sedang berlangsung? Sejauh mana politik pembangunan sudah memberi cukup kesempatan bagi “partisipasi kognitif”? Sejauh mana kenyataan institusional-struktural sudah sungguh mulai diubah, mengingat perubahan semacam itu mau tak mau menyentuh kepentingan-kepentingan lapisan elite yang tidak mudah akan melepaskan kekayaan dan kuasanya? Apakah sudah diandalkan suatu etika politik pembangunan yang tidak mengawang, melainkan berakar pada penderitaan orang-orang kecil? Moga-moga buku karangan Berger ini menjadi bahan bacaan dan pertimbangan bagi sebanyak mungkin politisi, pejabat pemerintah, cendekiawan, mahasiswa, dan pemuka masyarakat lain. (*)

Jakarta, Mei 1980.

 

[1] Pertama kali diterbitkan dalam edisi Indonesia, Agustus 1982 (Prisma, LP3ES).

[2] Apa yang lazim disebut utopianisme mempunyai sejarah yang cukup lama dan diartikan secara sangat berbeda-beda. Bandingkan: G. Kateb, “Utopias and Utopianism”, IESS,op, cit., vol.16. 26-271.

[3] P.I. Berger, The Social Reality of Religion, (Harmondsworth: Penguin Books, 1973): id., Arumour of Angels: Modern Society and the Rediscovery of The Supernatural, (Harmondswort: Penguin Books, 1971).

[4] Prisma VIII (1979), No. 12 “Wajah Hak Asasi”, hal.2-37, 49-56.

[5] K. Gunadi, “Strategi Pembangunan dan Kebutuhan Pokok Manusia”, dalam Prisma IV (1977), No. 11, hal. 3-12; Dorodjatun Kuntjoro Jakti, “Mau ke Mana kita dengan Pembangunan Ekonomi Ini?”, dalam Prisma VII (1978), No. 10, hal. 10-15; Soedjatmoko, “Berbagai implikasi Kebijaksanaan Nasional dari Model kebutuhan Dasar”, dalam ibid,., hal. 50-79.

[6] Bandingkan pula: P.I. Berger/R.J. Neuhaus, To Empower People: The Role of Mediating Structures in Public Policy,  (Washington, D.C: American Enterprise Institute for Public:; Policy Research, 1977).

[7] Bandingkan a.l.: W.I. Coolier/Soentoro/Gunawan Wiradi/Makali, “Sistem Tebasan, Bibit Unggul dan Pembaharuan Desa di Jawa”, dalam: Prisma III (1974), No. 6, hal. 13-30; id., “Masalah Pangan, Pengangguran, dan Gerakan Penghijauan di Pedesaan jawa”, dalam Prisma VII (1978), No. 1, hal. 20-35; Prisma VIII (1979), No. 9 “Mencari Hak Rakyat atas Tanah”, hal. 2-62.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Panduan Menjadi Absurdis

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth

Camus tidak dalam rangka melakukan pengadilan pengatahuan mau pun metode perolehan pengetahuan untuk membangun filsafatnya. Lain dari umumnya karakter filsafat (barat) modern yang terus bertumpu pada kritik dan dialektika, katakan seperti istilah dipakai penulis Argentina Jorge Luis Borges, bahwa setiap pengarang memiliki pendahulunya sendiri—Albert Camus menempatkan kritik dan uji materi pengetahuan para pendahulunya hanya pada batas ia menemukan contoh sekaligus penyangkalan yang mungkin baginya untuk menerangkan ihwal absurditas.

Hal itu dimulai dari keyakinan tentang abusrditas itu sendiri—bahwa Camus sama ambigunya dalam menempatkan posisi dirinya; di satu sisi ia adalah penggagas dan pengujar genuine gagasan absurd, di satu sisi ia mengambil jarak dari kerangka absurditas yang dibangunnya untuk memastikan ia keluar sebagai pemenang tunggal; sebagai abusurdis sesungguhnya—keyakinannya itu bertumpu pada dua fakta pokok tentang absurditas yaitu: ambiguitas-paradoks dan keseimbangan untuk berdiri-di antara.

Ambiguitas yang sekilugus inheren dalam paradoksalnya itu adalah pandangannya bahwa absurditas tidak terletak pada salah satu faktor antara manusia dengan rasionalitasnya atau dunia dengan bobot kemustahilannya yang sukar diterima oleh penalaran logis rasionalitas manusia.

Abusrditas berada pada batas keduanya dan bukan pada salah satunya. Sehingga tidak tepat untuk misalnya bertanya “yang absurd manusianya; atau dunia?” dalam pengandaian itu Camus telah menempatkan waktu sebagai yang kini dan di sini, waktu yang hadir dan siap dihadapi sebagai yang semata-mata konkrit, tidak ada kemungkinan nanti dan apa saja yang menarik ke dalam ketidaktahuan untuk dipahami nalar rasional sebagaimana hal itu telah berganti wilayah ke dalam waktu yang mistis dan transenden. Tak soal apakah orang menyebut hal itu agama, Tuhan, harapan, atau semacam itu. Ia hanya menyadari kemungkinan untuk melibati waktu yang kini dan di sini; yang datang untuk memintanya merangkul keseluruhannya termasuk bahwa ketidakmungkinan untuk memahami semuanya adalah realitas itu sendiri dan manusia tidak sebaiknya menyerah pada batas semacam itu, sebaliknya ia mesti memberontak—dengan apa caranya dan batas pengertiannya akan saya bahas lebih pada artikel lain—tetapi sementara untuk dikatakan bahwa pemberontakan itu adalah satu-satunya kemungkinan yang menempatkan eksistensi manusia pada dirinya sendiri dan dirinya sendiri itulah dengan segala kemungkinan tindakan yang bisa membuatnya terlibat di antara rasionalitasnya dan dunia yang mengutuknya, sebagai satu-satunya realitas. Dan demikianlah ia menerimanya sebagai suatu bentuk pemberontakan. Pemberontakan dengan mengatakan “ya” pada segala yang datang kini di sini dan untuk sekarang merupakan satu-satunya cara mengada yang mungkin dan bisa dibenarkan dalam nalar absurditas yang dibangun oleh Camus.

Nalar absurditas Camus ditegakkan dengan keseimbangan manusia untuk tidak perlu terburu-buru atau malah tidak perlu sama sekali mengambil kesimpulan, penegasan, nafsu menerangkan dan ihwal pemuncakan semacam itu sebagaimana hasrat pada penganut Hegelian untuk menemukan keutuhan atas semua seolah lompatan-lompatan kemungkinan realitas bisa ditakar secara anonim. Bahwa jika suatu menemukan faktor pendorongnya ia otomatis melompat ke sesuatu yang berbeda dengan pada saat sama mengugurkan kemungkinan sebelumnya dan kebaruan akan sampai pada puncak realitas utuh yang bentuknya—hanya menunggu dipenuhi oleh penemuan faktor-faktor penggeraknya.

Keseimbangan untuk tetap berada di dalam paradoks dan karenanya memunculkan realitas diri yang ambigu yang dijadikan pondasi membangun kerangka absurditas ala Camus, olehnya dimaknai sebagai hukuman—terkadang—tetapi pada saat bersamaan juga seperti berkah. Dinamika absurdis ditandai oleh kemampuan konsistensinya untuk menerima ambiguitas semacam itu, bahwa memang demikianlah dunia tetapi tidak demikian, soliter sekaligus solider, dan lagi pula, apa yang didapat dari upaya terburu-buru untuk menyimpulkan atau untuk memahamkan diri tentang realitas jika ternyata; realitas itu tak memiliki kesimpulan untuk dimaknai dan dicarikan alternatifnya kecuali di sini, sekarang dan sebagaimana ia melingkupi manusia dalam penalaran rasional seklaigus kemustahilannya.

Pada kerangka upaya pemaknaan filsafati Kierkegerad dan Leon Chestov kita akan menemukan bagaimana Camus menguji kerangka absurditasnya. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri, itu hanya pada tahapan untuk mengatakan dan menemukan tentang prinsip-prinsip paradoksal dan keseimbangan yang dituntut dari absurdis sejati, dan baik Kierkegerad mau pun Leon Chestov menunjukkan kegagalannya—terutama karena nafsu keduanya untuk membuat kesimpulan akhir sebagai upaya penjelas pemikiran akan makna kehidupan.

Pada Kierkegerad kegagalan ditunjukkan Camus oleh kepastian akhir Kierkegerad untuk justeru di titik ia mendapati dunia ini absurd dan penalaran atasnya runtuh, ia justeru menemukan dan membebankan pada salah satu faktornya yaitu kehidupan itu sendiri. Sehingga kepasrahan harus dihadirkan karena ketidaksampain nalar memahami kekosongan makna kehidupan. Dan penyerahan pada kekosongan menempatkannya pada bentuk final transendensi iman Kristiani yang dianutnya.

Sementara pada Chestov Camus menunjukkan betapa filsuf Rusia itu hampir saja menjadi absurdis sejati, tetapi ia terjebak justeru di titik di mana seperti kata Camus sendiri “Ketika Chestov mencurahkan seluruh nafsunya untuk membuyarkan rasionalisme Spinoza dan betapa kesal ia pada Hegel, ia Justeru menarik kesimpulan mengenai kesia-siaan segala nalar. Ia melakukan pembalikan yang wajar tetapi tidak sah, ia kembali ke keunggulan hal irasional—dan katakanlah ia menjadi amat bersemangat menyanggah rasionalisme Aristotelian.”

Born November 7th, 1913 in Algeria son of French ‘pied-noir’ settlers Camus grew up in poverty in the proletarian neighbourhood of Belcourt in Algiers. His natural talent was spotted by teacher Louis Germain who helped the young Camus win a high school scholarship. Camus would later dedicate his 1957 Nobel Prize acceptance speech to Germain. While at school Camus developed a love of football and played well in goal. He wanted to play professionally but tuberculosis, a disease that would plague him for life, ended these dreams.

Maka demikianlah bahwa Leon Chestov yang hampir saja, dengan keyakinan pada awal pemikirannya bahwa “nalar tidak ada gunanya, tetapi ada sesuatu nun di luar nalar. Bagi jiwa absurd, nalar adalah sia-sia, dan di luar nalar tidak ada sesuatu apa pun.” Bagi Camus persepsi semacam itu bisa dibenarkan dalam membangun logika absurd, sedikit lagi adalah hakikat absurd. Bahwa bagi Camus sendiri “absurditas hanya mempunyai nilai dalam suatu keseimbangan, absurditas terutama berada dalam perbandingan dan sama sekali bukan dalam masing-masing dari unsur perbandingan itu”.

Namun Chestov justeru meletakkan seluruh bobot absurditas pada salah satu unsurnya dan menghancurkan keseimbangannya. Kehauasan untuk mengerti, kerinduan pada yang mutlak, hasrat membuat segalanya menjadi jelas—padahal kita telah tahu hal semacam itu mustahil; nalar selalu efektif tapi pada saat sama irasionalitas senantiasa muncul kembali. Dan hasrat besar untuk menjelaskan dengan mutlak yang dilakukan Chestov maunpun Kierkegerad telah menempatkan keduanya dalam kacamata seorang juri yaitu Camus sendiri dengan buku pedoman “menjadi absurdis sejati” di tangannya—dan keduanya gagal menjadi seorang absurdis sejati.

Tetapi sementara ini penting untuk menutup artikel ini dengan kutipan dari Camus sendiri tentang buku pedoman yang dipegangnya: “Dapat saja dikira bahwa di sini saya mengabaikan masalahnya yang hakiki, yakni masalah iman. Tetapi saya tidak menelaah filsafat Kierkegerad, Chestov, atau lebih jauh lagi Husserl; saya hanya  meminjam sebuah tema dari mereka, dan saya menelaah apakah akibat-akibatnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di depan (bunuh diri filosofis). Masalahnya hanyalah bertahan pada satu persoalan.

Apa persoalan terpenting dalam filsafat makna dalam gagasan Camus? Anda tentu sudah mendengarnya. (*)

Jakarta, 18 Mei 2020

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Terbang dan Hinggap

mm

Published

on

Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Hanna Heath, tokoh dalam novel berjudul People of the Book (2015) gubahan Geraldine Brooks. Pakar buku kuno atau ia memilih sebutan konservator untuk buku-buku berusia ratusan tahun bakal bergulat dengan seribu penasaran saat mengurusi naskah. Sekian hal perlahan terjawab tapi ada sisa-sisa sulit terjawab. Mustahil. Kerja di bentangan waktu tanpa ada tanda-tanda jelas untuk selesai atau sampai. Sekian hal dipelajari dan dipahami. Sekian hal harus diajukan ke orang-orang memiliki kepakaran. Di hadapan buku kuno, ia bukan pelamun tapi pencari jawaban-jawaban secuil, setengah, utuh, atau berantakan.

Ia pun wajib mengerti binatang dan geografi. Pada kitab-kitab kuno, binatang adalah unsur, tak cuma kulit-penjilidan. Keberadaan naskah atau kitab terbaca dan tersimpan memungkinkan disinggahi binatang-binatang kecil: tampak atau sulit terlihat mata. Hal-hal mengejutkan lazim mengiringi kesejarahan naskah kuno, melintasi waktu dan berpindah tempat. Benda itu disentuh, dipegang, dibuka sekian orang memiliki beragam misi. Cara membaca kitab dan posisi raga pembaca di suatu tempat turut menentukan “keterlibatan” atau “kehadiran” sekian binatang. Hanna Heath memastikan ada sekian binatang. Kutu buku itu tentu.

Pada suatu penasaran, Hanna Heath menemui Amalie Sutter. Tokoh tekun melakukan studi biologi evolusioner. Kedatangan Hanna Heath untuk “pemastian” sisa atau jejak binatang terdapat di naskah kuno. Mereka berada di laboratorium dan bercakap. Imajinasi menggenapi temuan-temuan melalui tata cara ilmiah. Keseriusan mengarah ke kupu-kupu meski “sejenak” diragukan. Laci ditarik Amalie Sutter dipandangi bersama Hanna Heath. Di situ, tatanan rapi kupu-kupu “dikekalkan”. Geraldine Brooks membahasakan: “Kupu-kupu itu cantik dalam cara yang halus dan lirih.” Dua orang memandangi kupu-kupu di raihan jawaban, melampaui takjub dan pengetahuan sudah termiliki.

Amalie berkata: “Bukan kupu-kupu paling semarak di dunia, dari segi apa pun. Tapi digandrungi kolektor. Mungkin, karena mendapatkannya harus mendaki gunung dulu.” Kupu-kupu itu hidup di pegunungan tinggi, di tempat terjal berbatu. Hanna Heath belum pasti menerima itu jawaban untuk jejak binatang di naskah kuno. Arah ke pembuktian terdengar dari omongan Amalie: “Naskahmu itu, Hanna, apakah pernah menempuh perjalanan ke Pegunungan Alpen?” Jawaban tak mudah. Kitab atau naskah kuno biasa bergerak ke pelbagai tempat di hitungan waktu ratusan tahun dan peristiwa-peristiwa sebagai album sejarah. Kita tak mengikuti ikhtiar mereka menjawab dan membuktikan. Kita menandai saja ada ingatan buku dan kupu-kupu di Eropa. Novel itu rumit. Kita membaca perlahan tanpa memiliki jeda lama untuk berimajinasi dan “memandangi” kupu-kupu. Edisi memberi pujian “tertutupi” oleh sekian persekongkolan berpusat pada naskah kuno.

Kita tinggalkan kupu-kupu di novel gubahan peraih Pulitzer Prize. Kita ingin bersahaja dengan menikmati kupu-kupu di Indonesia. Menikmati dalam puisi. Kupu-kupu itu berada di buku berjudul Batu Ibu (2019) garapan Warih Wisatsana. Di puisi berjudul “Tarianmu”, kita di alur imajinasi kupu-kupu: Bayangkan/ panggung ini sebuah taman/ seekor ulat pucat/ menjelma kupu-kupu/ menjelma dirimu/ melayang anggun seringan angin. Kupu-kupu itu metafora. Pembaca memasuki cerita tubuh dan tari. Pengimajinasian ke babak-babak perubahan, menempatkan kupu-kupu pada “kemenjadian” dan “ibarat”.

Pada dua bait menjelang akhir puisi, terbaca: Kelak semusim semi lagi/ kupu-kupu akan menghampiri/ setelah letih merenungi/ wangi diri yang pergi// Kupu-kupu melepas sayapnya/ seolah ruh pasrah/ berpisah dari tubuh/ melayang bening di udara/ menyentuh luluh mula cahaya/ menyempurnakan yang mahatiada. Puisi ingin bermisteri, menuntun pembaca ke lakon manusia dan tari dalam kesakralan dan penafsiran raga. Puisi bersahaja, mengisahkan kupu-kupu di “tarian”. Kupu-kupu bukan terpokok tapi menetapkan petunjuk. Kita tentu tak cukup dengan sebuah puisi bila ingin mengerti kupu-kupu.

Pada masa lalu, Nusantara menjadi tempat pilihan bagi orang-orang asing mencari dan menulis kupu-kupu. Wallace datang dari negara jauh. Pengembaraan ke hutan-hutan, menemu tetumbuhan dan binatang. Ia terpukau kupu-kupu. Ia melihat sebagai “ilmuwan”, bukan pujangga. Wallace memiliki pengalaman membaca sastra, termasuk novel berjudul Max Havelaar. Kedatangan ke Nusantara tak bermaksud menggubah puisi atau novel tapi mengerti “asal” dan album “sejarah” terbaca dari flora-fauna. Ia memilih menulis surat-surat dikirimkan ke Eropa. Ia pun mengirim surat ke Darwin. Wallace menulis buku “pengetahuan” dalam bentuk laporan berselera sastra. Kita “ahli waris” diperkenankan menengok Nusantara masa lalu dengan membaca halaman-halaman tentang kupu-kupu. Binatang tercatat dan terjelaskan dalam buku berjudul Kepulauan Nusantara: Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam (Komunoitas Bambu, 2019) susunan Alfred Russel Wallace.

Pada pengembaraan di Sumatra, 1861-1862, ia bahagia bertemu kupu-kupu. Di Lobo Raman, ia salah jadwal kunjungan tapi ditebus dengan pencarian dan pencatatan kupu-kupu. Wallace menulis: “Saya banyak menemukan kupu-kupu yang langka dan indah.” Lekaslah ia mencatat rinci, bukan menata kata menjadi puisi! Kallima paralekta, jenis kupu-kupu diinginkan tapi sulit ditangkap. Ia telah mendapat sekian kupu-kupu tapi ada kegagalan mendapat kupu-kupu “dikagumi”. Pengakuan Wallace: “Saya sering mengendap-endap ke tempat persembunyiannya, tetapi ia kemudian akan terbang dan menghilang di tempat yang sama. Beberapa kali saya hanya cukup beruntung bisa melihat dengan saksama di tempat kupu-kupu itu hinggap.” Ia mungkin sebal dan gemas. Memandang kupu-kupu, peristiwa masih mungkin membahagiakan. Kita tak hidup di masa lalu. Wallace mengajak kita turut di “pengalaman” memasuki hutan-hutan memiliki khazanah kupu-kupu mustahil semua tercatat dan dikoleksi untuk dipamerkan ke mata Eropa. Di Sulawesi, Wallace juga sibuk berurusan dengan kupu-kupu. Kita mengandaikan Wallace adalah novelis. Kita bakal mendapat warisan novel “menggetarkan”, bercerita kupu-kupu seabad lalu.

Kini, kita menantikan saja ada para pengarang Indonesia menekuni buku garapan Wallace dan melakukan kunjungan-kunjungan ke pelbagai tempat. Mereka melacak dan melakukan pembuktian mengacu data-data Wallace. Pengalaman dan pengembaraan bertema kupu-kupu mungkin menjadi seratusan puisi dan novel-novel penting. Gubahan sastra itu “bekal” melakukan penginsafan atas perdagangan kupu-kupu. Di lagu, kupu-kupu itu masih merdu untuk mengasuh bocah: “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang…” Kini, kita masih kekurangan puisi, cerita pendek, dan novel untuk bercerita nasib kupu-kupu di Indonesia, dari masa ke masa.

Kita membaca National Geographic-Indonesia edisi September 2018, memiliki judul utama: “Penangkapan Kupu-kupu: Keruhnya Perdagangan si Sayap Elok Nusantara.” Matthew Teague menulis laporan kemolekan kupu-kupu di Sulawesi dan nasib sial ditanggung kupu-kupu akibat perdagangan demi nafkah. Ia mengingatkan: “Peraturan Indonesia yang mengatur penangkapan, penjualan, dan ekspor kupu-kupu, rumit dan penuh pengecualian. Hal ini memungkinkan spesies yang terancam punah dibiakkan untuk kepentingan komersial, untuk dibeli dan dijual dalam keadaan tertentu.” Kupu-kupu itu incaran para kolektor di pelbagai negara. Para pengarang di Indonesia belum merasa perlu menjadikan kupu-kupu adalah puisi atau cerita. Mereka belum mau menjadi “kolektor” menghidupkan, tandingan dari pamrih komersial.

Sejak ratusan tahun lalu, orang-orang Eropa bersaing memiliki predikat sebagai kolektor kupu-kupu. Orang-orang Jepang juga memiliki perhatian serius mengoleksi kupu-kupu. Pasar kupu-kupu terus membesar dan bergerak menjauh dari “pesona-pesona” masa lalu saat kupu-kupu itu “mengindahkan” Nusantara. Kita juga diingatkan dengan ketekunan Vladimir Nabokov dalam “berburu” kupu-kupu meski tak menghasilkan novel memukau terbaca oleh umat sastra di dunia. Kita menunggu saja kemunculan pengarang Indonesia serius bercerita kupu-kupu.  Begitu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending