Connect with us

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Continue Reading

Cerpen

Anton Chekhov: Oh! Masyarakat

mm

Published

on

Karya: Anton Pavlovich Chekhov[1] (1885) | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

“Baiklah, cukup sudah aku minum-minum! Tidak… t-ti-dak akan aku tergiur lagi. Saatnya ambil kendali, aku harus bangkit dan bekerja… Tentunya kau senang mendapat gaji, jadi kau harus bekerja dengan jujur, tulus, teliti, tanpa peduli tidur dan kenyamanan. Mesin membuat segalanya mudah. Kau mendapat gaji secara cuma-cuma, kawanku – itu bukan hal baik… bukan hal baik bagaimanapun juga…”

Setelah menceramahi dirinya sendiri, Podtyagin, Kepala Pengumpul Tiket, mulai tergerak hatinya untuk kembali bekerja. Kala itu sudah lewat pukul 01.00 dini hari, walaupun begitu, ia membangunkan pengumpul tiket lainnya dan bersama mereka naik dan turun gerbong kereta, memeriksa tiket.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” ia terus berteriak, begitu lihainya merobek kertas dengan alat pemotong.

Sosok-sosok yang mengantuk, terselimuti senja gerbong kereta api, tersentak, menggelengkan kepala, dan menyerahkan tiket mereka.

“M-m-m-mohon T-t-t-iketnya…!” Podtyagin berbicara pada penumpang kelas dua, pria ramping, kurus kering, yang terbungkus mantel berbulu dan tikar dan dikelilingi bantal. “Mohon tiketnya!”

Si pria kurus kering tak memberikan jawaban. Ia benar-benar terlelap. Kepala Pengumpul Tiket itu menyentuh pundaknya dan mengulang perkataan dengan tidak sabar: “M-m-mohon t-t-tiketnya!”

Si penumpang tersentak, membuka matanya, memandang Podtyagin dengan gelisah.

“Apa? … Siapa? … Eh?”

“Anda ditanya dengan bahasa yang sederhana: m-m-mohon t-t-tiketnya! Jika Anda berkenan!”

“Ya Tuhan!” erang si pria kurus, menunjukkan wajah sedihnya. “Yang benar saja! Saya menderita rematik…. Sudah tiga malam saya tidak tidur! Saya baru saja minum morfin supaya bisa tidur, dan Anda… dengan tiket Anda! Anda tidak kenal ampun, tidak manusiawi! Kalau saja Anda tahu betapa sulitnya saya supaya bisa tidur maka Anda tidak akan mengganggu saya hanya untuk hal yang tidak masuk akal… Tak kenal ampun, ini kejam! Dan apa yang Anda inginkan dengan tiket saya! Perbuatan Anda sungguh bodoh!”

Podytagin mempertimbangkan apakah harus membalas ucapan tersebut atau tidak – dan memutuskan untuk membalasnya.

“Jangan berteriak di sini! Ini bukan bar!”

“Tidak, bahkan di bar, orang-orang lebih manusiawi…” kata si penumpang sambil terbatuk. “Mungkin Anda akan membiarkan saya tidur di lain waktu! Luar biasa: Saya telah bepergian ke luar negeri, ke semua tempat, dan tidak ada yang menagih tiket saya di sana, tapi sekarang Anda menagih lagi dan lagi, seperti sedang dikejar setan….”

“Nah, harusnya Anda pergi saja ke luar negeri jika benar-benar suka di sana.”

“Itu bodoh, Tuan! Ya! Tidak hanya membunuh penumpang dengan asap dan kesesakan dan udara dingin, mereka juga ingin mencekik kami dengan birokrasi yang sulit, terkutuklah semua ini! Anda harus menagih tiket itu pula! Ya ampun, antusias sekali! Kalau bukan karena kepentingan perusahaan – setengah penumpang bisa bepergian tanpa tiket!”

“Dengar baik-baik, Tuan!” teriak Podtyagin, marah. “Jika Anda tidak berhenti berteriak dan mengganggu masyarakat, saya berhak mengeluarkan Anda di stasiun berikutnya dan melaporkan kejadian ini!”

“Ini memuakkan!” seru ‘masyarakat’, naik pitam. “Menganiaya seorang invalid! Dengar dan pedulilah sedikit!”

“Tapi pria itu sendiri juga kasar!” kata Podtyagin, sedikit takut. “Bagus sekali… saya tidak akan menagih tiketnya… seperti yang Anda mau… Hanya, tentu saja, seperti yang Anda ketahui dengan baik, sudah tugas saya untuk melakukannya… Jika itu bukan tugas saya, maka tentu saja… Anda bisa tanya kepala stasiun… tanyakan siapa pun yang Anda mau…”

Podtyagin mengangkat bahunya dan berjalan menjauhi si invalid. Awalnya ia merasa dirugikan dan agak terluka hatinya, lalu, setelah melewati dua atau tiga gerbong, ia mulai merasa gelisah.

“Sebenarnya tidak perlu membangunkan si invalid,” pikirnya, “meskipun itu bukan salahku… Mereka pikir aku melakukannya tanpa alasan, tanpa tujuan. Mereka tidak tahu aku terikat kewajiban… kalau mereka tidak percaya, aku bisa bawa kepala stasiun untuk bertemu mereka.”

Stasiun. Kereta berhenti setiap lima menit. Sebelum bel ketiga[2] berbunyi, Podtyagin memasuki gerbong kelas dua yang sama. Kepala stasiun mengikuti di belakangnya.

“Laki-laki ini,” mulai Podtyagin, “menyatakan bahwa saya tidak memiliki hak untuk meminta tiketnya dan… dan dia merasa tersinggung. Saya mohon pada Anda, Pak Kepala Stasiun, untuk menjelaskan padanya… Apakah saya menagih tiket menurut peraturan atau untuk menyenangkan diri saya sendiri? Tuan,” Podtyagin memanggil lelaki kurus itu, “Tuan! Anda bisa tanya kepala stasiun sekarang jika Anda tidak percaya ucapan saya.”

Si invalid terkejut seperti baru saja disengat, membuka mata, dan dengan wajah sedihnya ia tenggelam di kursinya.

“Ya Tuhan! Saya baru saja minum puyer dan terlelap barang sekejap ketika ia sekarang mulai lagi… lagi! Saya mohon kasihanilah saya!”

“Anda bisa tanya kepala stasiun… apakah saya punya hak untuk menagih tiket Anda atau tidak.”

“Benar-benar keterlaluan! Ambil tiketnya, ambil! Saya bersedia membayar lima kali lipat jika Anda membiarkan saya mati dalam damai! Tak pernahkah Anda sakit? Dasar orang tak punya hati!”

“Ini adalah penganiayaan!” Seorang pria berbaju militer naik pitam. “Saya rasa tidak ada penjelasan lain dari kekeraskepalaan Anda ini.”

“Jatuhkan tiketnya…” ucap si kepala stasiun, memberengut dan menarik lengan baju Podtyagin.

Podtyagin mengangkat bahu dan berjalan perlahan melewati kepala stasiun.

“Tidak untuk menyenangkan hati mereka!” pikirnya, kebingungan. “Demi ia lah saya membawa kepala stasiun kemari, agar ia bisa paham dan lebih tenang, dan ia… mengumpat!”

Stasiun lainnya. Kereta berhenti sepuluh menit. Sebelum bunyi bel kedua, saat Podtyagin sedang berdiri di bar makanan dan minuman, meminum air soda, dua pria menghampirinya, seorang berpakaian seperti insinyur, dan seorang lainnya mengenakan mantel militer.

“Dengar, petugas pengumpul tiket!” seru si insinyur, mengalamatkan Podtyagin. “Perlakuanmu terhadap penumpang invalid membuat muak semua orang yang menyaksikannya. Nama saya Puzitsky; saya seorang insinyur, dan pria di sebelah saya ini seorang kolonel. Jika Anda tidak meminta maaf kepada penumpang tadi, kami harus mengadukan hal ini kepada kepala lalu lintas yang juga adalah teman kami.”

“Tuan-tuan sekalian! Mengapa tentunya saya… mengapa tentunya Anda…” Podtyagin diserang kepanikan.

“Kami tidak mau dengar penjelasan apa pun. Tapi kami peringatkan Anda, jika Anda tidak meminta maaf, kami harus memastikan keadilan berlaku pada penumpang tadi.”

“Tentu saya… saya akan minta maaf, pastinya… saya pastikan…”

Satu setengah jam setelahnya, Podtyagin yang sedang memikirkan ucapan permintaan maaf yang akan meyakinkan si penumpang tanpa merendahkan harga dirinya, berjalan menuju gerbong. “Tuan,” ia berkata pada si invalid. “Dengar, Tuan…”

Si invalid terkejut dan melompat: “Apa?”

“Saya… bagaimana ya? … Anda tidak seharusnya merasa tersinggung…”

“Argh! Air…” ucap si invalid megap-megap, mencengkeram dadanya. “Saya baru saja minum dosis ketiga morfin, jatuh tertidur, dan… lagi! Oh Tuhanku! Kapan siksaan ini akan berhenti!”

“Saya hanya… Anda harus memaafkan…”

“Oh! . . . Turunkan saya di stasiun berikutnya! Saya tak tahan lagi… saya… saya sekarat…”

“Benar-benar jahat, menjijikkan!” seru ‘masyarakat’, muak. “Enyahlah! Kau harus bertanggung jawab atas penyiksaan yang kau lakukan. Enyah dari sini!”

Podtyagin melambaikan tangannya berputus asa, mendesau, dan pergi keluar gerbong. Ia menghampiri kompartemen[3] pegawai kereta, duduk di meja, kelelahan, dan mengeluh:

“Oh, masyarakat! Tak ada gunanya menyenangkan mereka! Tak ada gunanya bekerja dan melakukan yang terbaik! Karenanya orang jadi tergerak untuk minum-minum dan bersumpah-serapah… Kalau kau tidak mengerjakan apapun – mereka marah, kalau kau mulai mengerjakan tugasmu, mereka juga marah. Lebih baik minum-minum daripada memikirkannya!”

Podtyagin menenggak habis sebotol minuman keras saat itu juga dan tidak mau lagi memikirkan pekerjaan, kewajiban, dan kejujuran! (*)

_____________________________

[1] Karya ini pertama kali dipublikasikan di Rusia pada 30 November 1885. Versi bahasa Inggris berjudul Oh! The Public diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris oleh Constance Garnett. Teks sumber berasal dari http://www.eldritchpress.org/ac/jr/

[2] Penumpang kereta diberikan 3 bel peringatan: bel pertama (1 kali denting) menandakan 15 menit sebelum keberangkatan, bel kedua (2 kali denting) menandakan 5 menit sebelum keberangkatan, dan bel ketiga (3 denting) dibunyikan saat kereta meninggalkan stasiun.

[3] Ruang terpisah di kereta.

Continue Reading

Cerpen

Dia Yang Menyimpan Batu Di Kepalanya

mm

Published

on

Dia menjatuhkan segelas teh pahit yang terhidang di meja, pagi itu. Di beranda, kursi-kursi rotan masih terbalik. Hanya satu kursi yang baru tegak di samping meja, menampung segelas teh. Ia kebingungan harus melap bekas tumpahan itu dengan apa. Lantaran takut dimarahi, ia segera ke dapur untuk membuat teh baru. Lalu terdengar suara memanggil namanya. Suara tersebut datang dari belakang rumah. Ia sibakan gorden jendela kayu yang menghadap langsung ke aliran irigasi sawah.

Ternyata seorang lelaki sedang jongkok menghadap tepat ke pintu jendela kamarnya. “apa kamu sudah makan pagi ini, Re?” tanya pria itu sambil menyeringai. Lantaran gegas, ia tutup kembali jendela dengan bau busuk setengah masuk ke dapur. “gila, itu sarapan pagi paling harum.” Umpatnya sambil terus menuangkan teh bubuk. Setelah itu ia kembali ke beranda. Ia harus membuat meja dan properti lain terlihat seperti sebelum ia menumpahkan air dari gelas sampai berkeping. Kemudian ia berlekas menuju kamar, mencoba untuk tidur lagi dengan harapan, jika terjadi sesuatu tentu ia tidak akan tertuduh.

            Baru saja ia terbaring di atas kasur, terdengar kembali suara gelas jatuh. Tapi diiringi umpatan kasar. Hasratnya berburu antara keluar dan bersembunyi dalam selimut tebal. Takut sudah berdatangan, dadanya berdebar deras, memompa perdetik detak jarum jam yang tergantung. Umpatan terus seliweran menggema menyelinap ke telinganya. Kadang terdengar jelas, kadang kurang jelas, “…tek” umpatnya terus mengalir.

Setelah beberapa waktu berlalu, suara itu tiba-tiba hilang, dan langkah kaki terdengar menuju kamarnya. Posisinya tersudut. Meski tidurpun, jika pria itu ingin membangunkannya, tentu saja ia tidak akan bisa mengelak, begitu mungkin pikirannya. Sambil terus berpura-pura tidur ia buka jendela. Kemudian ia bangun dan bangkit dari tidur, lalu ia buka pintu kamar yang masih menyimpan takut. Terlihat pria itu marah-marah, tentu saja ia harus terus berpura-pura seperti bangun tidur. Sembari mengusap kedua matanya, ia pun bertanya, “ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut?” tanyanya seolah-olah setengah sadar, lantaran baru bangun tidur.

 ***

            Pagi itu burung-burung sewiliran mengitari halaman rumah Kare dengan suara kicau semeraut. Setelah pertengkaran pagi itu, Kare tidak lagi bersapaan selama beberapa minggu dengan pria itu. Ia tidak menghitung sudah berapa lama ia tidak menyapa pria itu. Kentara membuat suasana di rumah menjadi tidak terasa nyaman. Mereka saling melarikan diri entah kemana. Meski mereka berdua sangat dibutuhkan para wanita yang berada di rumah. Tapi apalah hendak dikata, mereka lebih mementingkan keras kepala masing-masing, ketimbang kesejahteraan rumah.

Wanita yang harus ia jaga pertama adalah orang tua bagi Kare dan ibu dari anak-anak pria itu. Hampir setiap hari mereka berselisi tanpa bersapaan. Walau setiap pagi Kare harus menunggu pria itu bangun untuk sekedar menanti uang jajan. Tidak ada lagi pamitan atau salam layaknya dua orang anak dan ayah. Padahal malam sebelum kejadian pagi itu, mereka berdua baru saja menyelesaikan sangkar ayam yang akan dijual di pasar minggu. Malam itu mereka begitu bahagia karena sudah lebih satu bulan mereka bekerja untuk menyelesaikan sepuluh sangkar ayam untuk dapat dijual.

Sudah jelas malam itu adalah hari dimana mereka akur dan tertawa dengan bahasan kuno khas pria itu: cerita Abu Nawas anak kampung yang datang ke kota. Pun rencana-rencana untuk membuat sangkar-sangkar dengan bentuk baru, agar pelanggan tidak bosan dan peternak ayam aduan terus memesan buatan mereka. Pria itu menyadari Kare adalah anak yang keras kepala. Anak yang tidak bisa diatur-atur hidupnya, apalagi untuk sebuah urusan kebiasaan.

Pria itu mengetahui tabiat Kare setiap bangun pagi. Sudah sembilan belas tahun pria itu harus mengurus tabiat Kare. Tabiat yang setiap bangun pagi Kare adalah berlari ke beranda rumah sambil kejang-kejang. Kemudian selalu bangun dengan sesuatu yang pecah atau patah. Dahulu sekali, tangan Kare pernah patah, lantara pagi itu ia kejang-kejang setelah memanjat pohon yang ada di halaman rumah. Begitulah keadaan rumah setiap pagi.

Saban hari ada saja yang membuat rumah riuh dengan keadaan itu. Jikapun tidak ada pagi yang semeraut di beranda rumah. Sudah pasti di dalam rumah terjadinya. Jika di ruang tamu tidak ada juga, sudah pasti di kamarnya telah terjadi geliat kejang-kejang yang sengit. Itu adalah salah satu alasan kenapa kamar Kare tidak lagi diletakkan lemari atau semacam properti yang bisa pecah atau patah.

Kare menyadari tabiat buruknya, itu sebabnya ia selalu menyuruh pria itu menggembok kamarnya dari luar. Tapi karena pagi itu terjadi sesuatu hal yang mungkin Kare tidak ingin mengingatnya, pria itu harus membiarkan tabiat Kare diurus oleh wanita-wanita yang ada di rumah. Mulai dari ibu sampai saudara perempuannya yang ada harus teliti setiap malam; menutup pintu jedela kamar, menggembok kamar, juga tidak meletakkan apapun yang bisah pecah dan patah di kamar Kare.

***

            Mereka terus terperangkap dalam labirin kemarahan. Sepanjang hari berganti terus memupuk kebencian dan kecewa. Kare berpikir keras untuk mencari kesalahan-kesalahan yang diperbuat pria itu. Sampai ia terus membenci dan tidak akan mengingatnya bahwa ia pernah bahagia bersama pria itu, barangkali itu pikir Kare. Sebab sudah sangat lama ia tidak melakukan pekerjaan membuat sangkar. Pria itu harus bekerja sendiri. Kadang dibantu oleh perempuan-perempuan yang ada di rumah. Memang, kadang pria itu emosian jika pertolongan yang diberikan tidak sesuai keinginannya, ia akan marah. Tidak jarang juga ia mengumpat dengan carut yang jelas.

Tentu saja dapat dilihat oleh Kare, karena setiap hari pria itu harus berjuang sendiri membuat sangkar. Tidak jarang bambu-bambu yang sudah diraut akhirnya patah ketika dirangkai menjadi bundar. Perihal membuat sangkar tidak semua orang dapat melakukannya. Sebab ada sisi ketelitian dan kesabaran. Itulah yang biasanya dilengkapi Kare, pria itu bersemangat dan Kare sabar mengikutinya. Berbanding dengan perempuan-perempuan yang membantunya setelah Kare tidak mau lagi membantunya. Mereka tidak sabar untuk menyelesaikan pertololongannya, sedangkan pertolongannya hanya semakin membuat pria itu kerepotan setia saat mengajarkan cara memegang bambu yang baik, cara menjalin rotan dan lain-lain.

Pria itu juga mencoba untuk membuat variasi baru yang pernah direncanakan bersama Kare. Meski banyak aral, mulai dari susahnya mencari bambu serta rotan—pun mengangkat peralatan tersebut untuk dibawa pulang. Pria itu harus berjuang sendiri, setiap hari. Untuk mengumpulkan bahan tersebut, pria itu harus memakan waktu seminggu. Biasanya itu dilakukan berdua dengan Kare hanya tiga hari. “Matilah, akhirnya kau merasakan betapa pentingnya aku, bukan.” ucap Kare lirih sambil menengok pria itu kesusahan membawa bahan membuat sangkar.

Kare memerhatikan pria itu berusaha keras untuk membuat variasi baru. Biasanya ia membuat sangkar ayam, sekarang ia mencoba membuat sangkar burung. Tentu sangkar burung memiliki kesulitan yang berdeda. Selain telaten, juga buruh kesabaran yang lebih. Kare masih mengitip kerja pria itu, setiap sore Kare selalu berdiam di balik pintu hanya untuk menyaksikan kesusahan pria itu. Sambil bernyanyi ia seolah-olah menikmati hidup tanpa membantu siapapun.

Berbeda sekali dengan pria itu. Ia menyadari bahwa ia adalah pria yang sangat emosional ketika menyangkut fokus dalam bekerja. Tapi karena pagi itu emosinya begitu meluap bagai letusan gunung berapi, membuat hubungannya dengan Kare menjadi tidak harmonis. Menyebabkan pekerjaannya menjadi lalai dan keuangan rumah juga berdampak buruk. Begitulah syukur Kare tidak harus membantu pria itu lagi, pikirnya.

Dia yang saling menyimpan batu di kepalanya. Dia yang menaruh dendam kesumat sampai benar-benar kata sapa lupa bertadang. Kare memilih untuk menyimpan dendam, sedangkan pria itu menunggu Kare menerima keadaan. Lantas, tidak semua situasi dapat dikendalikan seperti sedia kala lagi. Begitulah keadaan ketika hati sudah dicampuri rasa kecewa berkecamuk. Pria itu selalu menantikan kedatangan Kare saat ingin mengerjakan sangkar, namun tetap nihil. Kare terus bersikeras dengan hatinya, tanpa melihat sesuatu yang bahaya sudah mengerogoti hatinya. Kemudian melupakan sebuah kebaikan yang dirasakan dalam kehidupan barunya tanpa tabiat lama.

____

            Pagi itu memang merubah segala hal tentang kehidupan Kare, mulai dari perempuan-perempuan di rumah dan pria yang tidak pernah lagi disapa Kare. Lantara pagi itu membuat segala hal tentang pria itu hilang seketika dan berbalik menjadi kumpulan zat yang membatu di kepalanya. Seketika Kare harus mengingat pagi itu lagi, agar ia terus bisa membenci pria itu. Sampai mati, sampai benar-benar tidak ada lagi hubungan antara mereka.

“begitulah pagi yang selalu mereka banggakan. Dengan rintik rinai juga burung-burung pipit berterbangan.” Perempuan-perempuan di rumah itu selalu mengumpat setiap pagi. Hampir setiap pagi yang tidak ada lagi suara benda pecah dan patah. Barangkali begitulah sebuah pengorbanan pria itu.

Pengorbanan yang berujung benci dan berakibatkan sesal yang tak kunjung usai nantinya. “anak jalang, tidak tahu apa-apa, bodoh!!!” terus terngiang sampai ke seluruh sendi yang ada di tubuh Kare. “kadang, hal paling gila harus dilakukan untuk menyelamatkan ketidakwarasan di masa selanjutnya. Pria itu berangkat dengan sesal—serta syukur yang dideritanya.

Mereka yang menyimpan batu di kepalanya, yang terus melahirkan anak-anak kerikil lainnya. Mereka yang menyimpan dendam di kepalanya, akan terus diramu menjadi benci dan kecewa. Mereka yang menaruh benih di kepalanya, tidak selalu berbuah baik dan keburukan. Mereka yang terus-terusan memupuk banyak hal di kepalanya, maka bersedialah menerima segala hal tentang yang disimpannya. Mereka yang terus menunggu lantaran sebuah kesalahan, terimalah sesal diakhir nanti. (*)

Arif Purnama Putra, berasal dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni di STKIP PGRI Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting.” Pernah tergabung dalam Antologi 20 Cerpen terbaik lomba PCINU-Maroko, 100 The Competition ASEAN Poem 2017 DEMA FTIK-IAIN Purwokerto “Requiem Tiada Henti”. Karya pernah dimuat beberapa media, seperti Haluan, Minggu Pagi, Singgalang dan beberapa lainnya.

 

 

 

Continue Reading

Trending